By : Analconda13
“Hati-hati ya Lin. Hidup dipulau terpencil itu gak mudah. Apa apa serba sulit.. selain itu orang orangnya juga belum tentu baik semua. Kata Mamaku lewat telepon tadi sore.
Aku hanya tersenyum kecil sambil membayangkan diriku bekerja keras menangani kasus-kasus menarik dan pulang dengan penilaian sempurna. Malam ini aku tidur dengan perasaan aneh sedikit takut pada kesunyian pulau yang akan kuhadapi tapi juga ada getar kecil harapan bahwa ini akan menjadi petualangan yang mengubah hidupku.
Aku tiba di pulau setelah perjalanan yang melelahkan hampir dua hari penuh. Pesawat kecil yang bergoyang-goyang di udara turbulen dilanjutkan feri kayu yang lambat dan berbau solar membuat perutku mual sepanjang jalan. Begitu kakiku menyentuh dermaga kayu reyot angin laut yang panas dan lembab langsung menyambutku sambil membawa aroma garam dan ikan kering. Rumah sakitnya ternyata lebih kecil dari yang kubayangkan yaitu sebuah bangunan beton dua lantai yang sudah agak kusam dikelilingi pepohonan kelapa dan semak belukar. Hanya ada sekitar dua puluh tempat tidur listrik sering mati dan air bersih kadang harus diambil dari sumur. Kepala rumah sakit menyambutku singkat lalu langsung menyerahkanku pada dokter senior yang akan membimbingku selama tiga bulan ke depan.
"Kamu.. Angelina Setiawan kan ? Tanya seorang dokter senior.
Aku mendongak dan melihat dr. Reza Kurniawan berdiri di depanku. Ia tinggi dengan bahu lebar kulit sawo matang dan usia sekitar akhir tiga puluhan. Rahangnya tegas dan matanya tajam seolah bisa membaca pikiranku. Jas dokternya agak longgar tapi aku bisa melihat otot lengannya yang kuat saat ia menyilangkan tangan.
“Saya Reza. Di sini saya yang paling senior. Lebih baik kamu ikut saya sekarang. Saya akan tunjukkan kamar untuk peserta koas yang baru datang dipulau ini. Kata dokter Reza.
Aku mengangguk patuh sambil merasa agak kecil di hadapannya. Kamar yang diberikan sangat sederhana hanya ada tempat tidur sempit lemari kecil dan kamar mandi bersama di ujung koridor. Malam pertama berlalu biasa saja. Reza memperkenalkanku pada rutinitas rumah sakit yaitu ronde pagi pasien rawat inap yang kebanyakan kasus malaria dan kecelakaan laut serta jadwal jaga malam. Ia tegas tapi tetap profesional. Kadang aku merasa tatapannya agak lama saat aku membungkuk mengisi catatan medis tapi aku mengira itu hanya perasaanku saja.
Hari ketiga adalah saat semuanya mulai berubah. Malam itu badai besar datang. Angin menderu kencang. Listrik padam total dan ruang UGD hanya diterangi lampu darurat yang redup. Seorang pasien laki-laki paruh baya datang dengan perdarahan hebat akibat luka tusuk. Aku panik. Dalam kegelapan dan tekanan aku salah hitung dosis obat pembeku darah dan memasang infus di tempat yang keliru. Pasien itu hampir kehilangan nyawa. Dokter Reza datang tepat waktu lalu mengambil alih dengan tangan dingin dan sigap. Ia menyelamatkan pasien itu tapi aku melihat rahangnya mengeras saat ia menatapku.
Setelah pasien stabil dan badai mereda menjelang subuh dr. Reza memanggilku ke ruangannya yang kecil di belakang UGD. Pintu lansung ditutup. Diruangan yang sunyi itu hanya ada kami berdua.
“Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan Angelina ? kata Reza. Suaranya rendah hampir berbisik tapi ada nada dingin yang membuat bulu kudukku berdiri.
“Kalau saya tidak menutupinya.. pasien itu mungkin akan mati. Kamu bisa di-drop out dari koas. Bahkan bisa dipenjara karena kelalaian medis. Kata Reza
Aku berdiri gemetar di depan mejanya dengan lutut lemas. Air mata mulai menggenang di mataku.
“Maafkan saya dokter… saya… saya tidak sengaja… waktu itu saya terlalu panik. Sahutku
Reza bangkit dari kursi lalu berjalan mendekat hingga aku bisa mencium aroma khas dan keringat pria dewasa dari tubuhnya. Tangan besarnya menyentuh daguku pelan dan memaksa aku mendongak menatap matanya.
“Di pulau ini sinyal susah. Tidak ada yang akan tahu kalau saya melaporkan ini atau tidak. Tapi… saya bisa tutup mulut. Asal kamu mau bayar utang nyawa itu. Kata Reza
Jantungku berdegup kencang. Aku merasakan campuran ketakutan dan sesuatu yang aneh yaitu panas yang mulai merayap di perutku saat jari telunjuknya menyusuri garis rahangku dengan lembut.
"Apa… apa yang dokter maksud ? Tanyaku dengan suara bergetar.
"Mulai malam ini kamu bukan lagi hanya dokter koas di sini. Kamu akan menjadi milik saya sepenuhnya. Kata Reza sambil tersenyum tipis dan menatapku dengan matanya yang tajam.
Aku berdiri membeku di depannya dengan napas tersengal pelan. Ruangan kecil itu terasa semakin sempit karena hanya diterangi lampu darurat yang redup dan suara angin badai masih menggema di luar jendela. Jari Reza masih menyentuh daguku dengan hangat dan kasar yang kontras dengan kulitku yang lembut. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yaitu campuran keringat pria dewasa sabun antiseptik rumah sakit dan sesuatu yang maskulin sehingga lututku semakin lemas.
"Dokter… jangan bercanda… Kataku dengan suara yang hampir hilang saat aku berbisik.
“Saya bisa… saya bisa kerja lebih keras. Saya bersedia jaga malam setiap hari dan membersihkan semua peralatan… kataku.
“Ssshh.. ucap Reza sambil meletakkan jempolnya di bibirku lalu menekannya pelan hingga bibir bawahku agak terbuka.
“Kamu pikir ini negosiasi? Kamu hampir membunuh pasien tadi. Satu kesalahan kecil di pulau ini bisa berarti nyawa. Dan saya yang menyelamatkannya. Jadi mulai sekarang kamu bayar dengan cara saya. Kata Reza
Matanya menelusuri wajahku lalu turun ke leher dan ke dada jas dokterku yang naik turun karena napas cepat. Aku merasa putingku mengeras tanpa izin di balik bra tipis dan itu membuatku malu sekali. Reza tersenyum tipis seolah tahu persis apa yang terjadi di tubuhku.
"Malam ini baru permulaan Angel.. Reza berkata pelan sambil mundur selangkah.
"Sekarang cepat lepaskan jas doktermu !! Kata Reza
Tangan ku gemetar saat membuka jas putih itu. Aku melipatnya lalu meletakkannya di kursi. Sekarang aku hanya memakai kemeja polo biru muda ketat dan rok span hitam yang sampai lutut yaitu pakaian standar koas. Reza duduk kembali di kursinya menyandarkan punggung dan mengamati aku seperti barang miliknya.
“Datang ke sini. Berdiri di antara kakiku. Kata Reza
Aku melangkah mendekat dengan ragu. Begitu berada di antara kedua paha kekarnya ia meraih pinggangku dengan kedua tangan lalu menarikku lebih dekat hingga perutku hampir menyentuh dadanya. Napasnya hangat di dadaku.
"Diam.. Letakan tanganmu dibelakang punggung. Kata Reza
Aku patuh meski air mata mulai mengalir pelan di pipiku. Reza mengangkat kemeja polo ku perlahan lalu menyingkap perut rata dan bra putih sederhana yang kukenakan. Ia tidak langsung menyentuh payudaraku. Ia hanya menatap lama lalu mengusapkan ibu jarinya di pinggir bra sambil mengelus kulit sensitif di sana. Sensasinya membuatku menggigit bibir keras agar tidak mengeluarkan suara.
"Putih sekali. Kulit amoy memang selalu halus begini ya… kata Reza
Kemudian ia menarik bra ku ke atas lalu melepaskan payudaraku yang langsung meloncat keluar dengan putingnya sudah mengeras karena udara dingin dan ketegangan. Reza menatapnya dengan lapar lalu meniupkan napas hangat ke salah satu puting. Aku menggelinjang dan pinggulku tanpa sadar maju sedikit.
"Jangan bergerak Angelina.. tegurnya tegas. Ini baru hukuman pertama.
Reza menjilat puting kiriku pelan sekali hanya dengan ujung lidahnya yang menyentuh. Sensasi listrik langsung menjalar ke bawah perutku. Aku menahan erangan di tenggorokan. Reza bergantian ke puting kanan lalu menjilat mengisap pelan dan menggigit ringan hingga aku terkesiap. Tangan besarnya memegang pinggangku kuat agar aku tetap berdiri di tempat. Aku bisa merasakan kebasahan mulai merembes di celana dalamku dan itu membuatku semakin malu. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya ia melepaskan putingku yang sudah basah dan bengkak lalu menurunkan bra dan kemejaku kembali.
“Malam ini sudah cukup. Kata Reza dengan suara serak.
“Besok malam kamu datang lagi ke sini setelah sele shift malam. Kalau kamu patuh saya akan terus tutup mulut soal kesalahan fatalmu tadi. Tapi kalau tidak… Kata Reza tersenyum dingin.
"Kamu akan tahu sendiri konsekuensinya. Ancamnya.
Aku mundur selangkah dengan kaki gemetar dan payudara masih terasa panas serta berdenyut. Air mata mengalir di pipiku tapi di antara kedua pahaku terasa sangat basah dan berdenyut denyut. Aku benci tubuhku sendiri yang bereaksi seperti ini.
“Ya Dokter… Jawabku dengan suara kecil yang hampir tak terdengar sementara Reza terlihat mengangguk puas.
“Bagus. Sekarang kamu boleh kembali ke kamar. Dan ingat.. tidak ada celana dalam besok di bawah rok koas mu. Itu perintah pertama. Kata Reza
Aku hampir tidak bisa tidur malam itu. Setiap kali memejamkan mata aku merasakan lidah Reza di putingku lagi yang hangat dan basah serta suaranya yang dalam saat bilang kamu milik saya. Pagi harinya aku bangun dengan tubuh lelah dan antara kedua pahaku masih terasa lengket. Aku berdiri di depan cermin kecil di kamar dengan tangan gemetar saat menarik rok span hitam koasku. Perintahnya masih bergema yaitu tidak ada celana dalam. Aku melepas celana dalam putih yang kukenakan lalu merasa sangat telanjang meski rokku panjang sampai lutut. Angin kecil dari jendela langsung menyapa area intimku yang licin dan membuatku menggigit bibir.
Sepanjang hari aku berusaha fokus bekerja. Saat bertugas shift pagi aku berjalan di samping dr. Reza mengunjungi pasien. Setiap kali aku membungkuk untuk memeriksa infus atau menulis catatan rokku terasa terlalu pendek dan terlalu longgar. Aku takut sekali kalau ada angin atau kalau aku bergerak terlalu lebar karena semuanya akan terlihat. Dr. Reza tahu itu. Beberapa kali ia tak sengaja menyentuh pinggangku saat memberi instruksi atau berdiri sangat dekat di belakangku hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Saat istirahat siang di ruang dokter ia berbisik di telingaku saat tidak ada orang lain.
“Bagus. Kamu patuh. Malam ini hadiahnya akan lebih besar. Kata Reza
Sore harinya aku sudah tegang sekali. Vaginaku terus basah seharian dan setiap langkah membuat bibir vaginaku bergesekan pelan sehingga klitorisku semakin sensitif. Aku malu sekali tapi tak bisa menyangkal bahwa tubuhku menanti malam itu dengan campuran ketakutan dan hasrat yang memalukan. Malamnya setelah tugas shift malam selesai dan rumah sakit mulai sepi aku mengetuk pintu ruangannya dengan jantung berdegup kencang.
"Masuk. Kata Reza
Dr. Reza sudah duduk di kursi kerjanya dengan jas dokternya dibuka hanya memakai kaos polo hitam yang ketat di tubuh kekarnya. Ia tersenyum melihat wajahku yang merah.
"Tutup pintunya. Kunci. Lalu berdiri di depan meja. Perintah Reza
Aku patuh. Lampu ruangan hanya menyala redup. Reza bangkit lalu berjalan mengelilingiku seperti memeriksa barang. Tangan besarnya menyentuh rokku dari belakang dan mengangkatnya perlahan hingga pinggang. Udara dingin langsung menyapa bokong dan vaginaku yang sudah basah.
“Tidak pakai celana dalam… bagus sekali. Gumamnya puas. Jari telunjuknya menyusuri celah bokongku pelan lalu turun ke bibir vaginaku yang licin. Aku menggigil hebat saat ia menemukan betapa basahnya aku.
“Lihat ini… dokter amoy yang seksi ternyata suka diperlakukan kasar ya ? Kata Reza
Aku menggeleng pelan tapi suaraku keluar sebagai erangan kecil saat dua jarinya mengusap klitorisku perlahan. Ia bermain-main di sana mengelilingi dan menekan tapi tidak memasukkan jari. Sensasinya membuat kakiku gemetar.
"Pegang meja. Bokong ke belakang.. kata Reza
Aku membungkuk dengan kedua tangan memegang pinggir meja kayu. Reza mengangkat rokku sampai pinggang sepenuhnya lalu membiarkan bokong putihku terpapar. Aku mendengar gesekan resleting celananya. Lalu sesuatu yang panas tebal dan sangat keras menyentuh celah vaginaku dari belakang yaitu kepala kontolnya yang besar.
Ia menggesekkan pelan di sana membasahi batangnya dengan cairanku yang melimpah tapi belum memasukkan.
“Malam ini saya hanya mau dengar kamu minta. Ucap Reza
Bisiknya di telingaku sambil membungkuk dan dada bidangnya menempel di punggungku.
“Minta dengan sopan Angelina. Katakan apa yang kamu inginkan. Kata Reza
Aku menggigit bibir keras dengan air mata malu mengalir tapi hasrat di bawah perutku sudah tak tertahankan. Suaraku bergetar saat akhirnya keluar.
“Tolong… masukkan Dokter… kataku
Reza tertawa pelan dan puas. Ia menekan pinggulku lebih kuat lalu mendorong kepala kontolnya perlahan masuk ke dalam vaginaku yang sempit dan sangat basah. Aku mendesah panjang sambil merasakan betapa besar dan tebalnya ia meregangkan dinding vaginaku. Ia berhenti di tengah dan tidak langsung mendorong semuanya.
“Bagus. Sekarang katakan kamu milik siapa? Kata Reza
Aku hampir tak bisa bernapas saat Reza mendorong pinggulnya maju perlahan lalu memasukkan seluruh batang kontolnya yang tebal dan panjang ke dalam vaginaku yang basah sekali. Aku merasakan setiap inci-nya meregangkan dindingku memenuhi aku sampai penuh hingga pangkalnya menempel erat di bibir vaginaku. Desahanku keluar tanpa bisa kutahan panjang dan gemetar.
“Enak sekali… vaginamu sangat sempit dan panas. Kata Reza
Bisik Reza di telingaku sambil berhenti sejenak memberiku waktu menyesuaikan. Lalu ia mulai bergerak pelan tapi kuat keluar masuk dengan ritme yang dalam. Setiap dorongan membuat payudaraku bergoyang di balik kemeja dan suara basah percikan cairan kami terdengar memalukan di ruangan sunyi itu.
Setelah beberapa menit menyetubuhiku dari belakang sambil aku membungkuk di meja ia menarik kontolnya keluar sepenuhnya. Aku merasa kosong dan kecewa sesaat.
“Berdiri. Balik badan. Ucap Reza
Ia mengangkatku ke atas meja dengan mudah lalu membuka kedua kakiku lebar-lebar. Sekarang aku duduk menghadapnya dengan rok masih terangkat di pinggang. Reza memegang kontolnya yang mengkilap terkena lendir kawinku lalu memasukkannya lagi dalam satu dorongan kuat. Posisi ini lebih dalam. Aku memeluk lehernya tanpa sadar saat ia mulai menggoyang pinggulnya cepat menghantam titik sensitif di dalam kemaluanku berulang kali. Payudaraku bergoyang hebat. Ia menarik kemejaku ke atas menyingkap bra lalu mengisap putingku kuat sambil terus mengentotku tanpa ampun.
“Aaaahh… Doookter… daleemm bangeet.. lenguhku dengan suara sudah parau.
"Haha.. kamu baru tau ya.. kalau kontol pribumi bisa senikmat ini.. Reza tertawa serak. Ia mengangkat kedua kakiku dan meletakkannya di bahunya lalu membungkuk lebih dalam. Posisi ini membuat kontolnya menyentuh rahimku setiap kali mendorong. Aku hampir menjerit tapi ia menutup mulutku dengan ciuman kasar lidahnya menjelajahi mulutku sementara pinggulnya terus memompa cepat.
Tak lama kemudian ia menarikku turun dari meja lalu membalik tubuhku lagi. Ia menekuk badanku di kursi kerjanya sehingga aku membungkuk dengan kedua tangan bertumpu di sandaran kursi dan pantatku terangkat ke belakang. Kini aku berdiri dengan kedua kaki terbuka lebar. Reza berdiri di belakangku lalu mengangkat satu kakiku ke atas kursi sehingga vaginaku terbuka lebar dan mudah diakses. Posisiku sekarang benar-benar terbuka dan rentan dengan satu kaki menapak lantai dan satu kaki terangkat tinggi di kursi.
Reza memompa kemaluanku dengan kasar dari belakang. Tangan kirinya meremas payudaraku kuat-kuat sementara tangan kanannya menarik rambutku pelan hingga kepalaku mendongak. Ritme gerakannya semakin cepat dan suara benturan kulit kami memenuhi ruangan. Aku sudah tak peduli lagi siapa yang akan mendengar.
"Sekarang cepat katakan kamu adalah budak saya. Perintahnya sambil menampar pantatku pelan tapi menyengat.
“Aku… ahh… budak Dokter Reza… Jawabku sambil menangis kenikmatan.
Reza mendengus puas. Ia mempercepat gerakannya dengan kontolnya keluar masuk cepat dan kuat. Aku merasakan orgasme mendekat seperti gelombang besar. Tubuhku mengejang hebat vaginaku berdenyut kuat menggenggam kontolnya dan aku klimaks dengan jeritan tertahan yang pecah menjadi erangan panjang. Cairan hangatku menyembur keluar membasahi paha kami berdua.
Reza tidak berhenti. Ia terus menghantamku beberapa kali lagi sebelum akhirnya mendorong dalam-dalam dan meledak di dalamku. Aku merasakan semprotan hangat sperma kentalnya memenuhi rahimku berdenyut denyut kuat sambil ia mendesis namaku di telinga. Tubuhnya menindih punggungku dengan napasnya kasar dan panas di leherku.
Kami berdua terengah-engah lama sekali. Kontolnya masih berada di dalam vaginaku yang berdenyut dan sperma mulai menetes pelan ke lantai saat ia akhirnya mencabutnya. Reza mengusap bibir vaginaku yang bengkak dengan jarinya lalu memasukkan sperma yang keluar kembali ke dalam.
“Malam ini baru permulaan Angelina. Bisiknya sambil mencium tengkukku.
“Besok kamu akan belajar cara melayaniku dengan mulutmu yang cantik itu. Bisik Reza
Aku hanya bisa mengangguk lemah dengan tubuhku masih gemetar hebat pikiranku kosong dan vaginaku masih berdenyut penuh sisa orgasme serta sperma hangatnya.

Komentar
Posting Komentar