Langsung ke konten utama

Rahasia Seorang Istri 6


"Bapakkk… Farid pulang !! teriak anak kecil di dalam rumah pak Parno.

"Mass… Dimana mass ? teriak Fitri istri Heri.

"Eee… Bentar dek mas lagi di kamar mandi. teriak Heri dari dalam kamar mandi.

"Ssstttt diam yahh !! Heri meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

"Mas takut.. aku menyudutkan tubuhku di balik pintu kamar mandi.

"Iyaa… diam nanti ketahuan loh.. bisik Heri pelan sambil melirik keluar dari celah pintu kamar mandi rumah pak Parno.

"Mas tinggal dulu ya ce.. Heri memakai baju dan handuknya lalu membuka pintu kamar mandi dan keluar.

"Iya cepetan.. rengekku cemas.

Mas Heri berlalu meninggalkanku bersembunyi di kamar mandi. Aku terjebak untuk kedua kalinya di rumah pak Parno. Kemarin aku terjebak karena kedatangan mas Heri dan istrinya. Kini aku terjebak karena kedatangan pak Parno dan anaknya Fitri.

"Sini kamu tak lama terdengar suara pak Parno sepertinya membawa Heri lagi ke belakang.

"Eehh… iya pak… kenapa pakk ? jawab Heri terbata.

"Mana amoy itu ? tanya pak Parno.

"Amoy mana pak ? jawab Heri.

"Udahhh… ngaku aja sama bapak… mobilnya ada di depan. ucap pak Parno.

"Bapak udah tiga hari loh nahan ngentot gara-gara kamu. Ehh malah kamu duluan yang ngentot !! pak Parno menampar Heri dengan suara plak.

"Ee…ee… maaf pak ndak gitu lohhh.. terdengar suara Heri merintih.

"Sini pak.. terdengar suara Heri.

"Tak lama terdengar ketukan pintu kamar mandi dari luar.

"Tok..tok.. buka ce.. suara pak Parno memanggil.

"Ehh… iya pak aku pun membuka pengait pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalaku.

Seketika pak Parno langsung masuk dan memelukku.

"Mhhh….mhhhh suara mulutku yang tertutup karena langsung disambar oleh bibir pak Parno.

"Bapak kangen ngentotin ce Nely. Kontol bapak udah gak tahan bisik pak Parno sambil menatap wajahku.

"Ehh… pakh hanya itu yang keluar dari bibirku dan aku melirik ke arah Heri yang sedang melihat kami berdua.

"Hahaha…. Kalian sudah ngentot ya rupanya tawa pak Parno sambil melihat Heri.

"Eee…lohh sama bapak masih malu, kita kan udah sering juga ngentot ce Nely" pak parno langsung mencium ku kembali.

"Mmhhhh….. slurppp.." kali ini bibirku sedikit ku buka namun kudiamkan, lidah pak parno kubiarkan pak parno menjelajah bibirku.

Kulirik ke Heri sambil menerima hisapan pak parno pada bibirku, terlihat Heri hanya mematung di pintu kamar mandi melihat apa yang kami lakukan.

"Ahhh…….. gelihh pak" seketika pak parno langsung menjilati leherku yang putih mulus dan berkeringat karna panasnya kamar mandi saat itu.

"Mhhh…. slurpp… kulit yang selalu bikin bapak sangek, mulus, putihh… mhhh" racau pak parno sambil menjilati setiap inci kulit leherku.

"Pakhhh…pakhhh…." Kutepuk-tepuk pelan pundaknya sambil menahan desahku.

Pak parno melihat wajahku dan kulirik ke arah Heri yang mematung dari tadi melihat kami berdua.

"Hahaha…. Menantu gak tau diri ya begini, kenapa kamu sangek juga toh ?" Tanya pak parno pada Heri.

"Eee…. Eeh pak" sambil Heri menggaruk kepala belakangnya.

"Yaudah yok bertiga haha" tawa pak parno.

"Ehhh… bertiga ?" Seketika aku terkejut.

"Haha iyaaa… nanti kontol bapak sama kontol menantu bapak masuk ke lubang memek ce Nely" tawa pak parno sambil memegang penisnya dari luar celananya.

"Jangan pak, Nely gak mau, Nely gak pernah" kugelengkan kepalaku sambil menatap pak parno.

"Tenang… nanti ce Nely kami bikin puas yahh" pak parno merapatkan tubuhnya ke badanku dan aku pun tersender ke dinding kamar mandi.

"Sini her" perintah pak parno.

Seketika Heri masuk dan langsung meremas payudaraku dan pak parno langsung mencium bibirku.

"Aahhhhh……. Slurpp …. Mmhhhhh…." Desahku tertahan oleh bibir pak parno yang langsung memasukan lidahnya dalam bibirku.

"Mmmhhhhh…… aahhhhh……" terasa Heri langsung menyedot payudaraku dan tangan pak parno juga meremas payudaraku.

"Ihhh… gelihh… mhhhh….." seketika nafsuku langsung naik ke ubun-ubun di rangsang oleh dua orang laki-laki sekaligus.

"Slurppp… nenennya enak kali pakhh" racau Heri yang terus menyedot-nyedot payudaraku.

Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku menahan desahku yang tak tertahan akibat perlakuan orang tua dan menantu yang sedang menjamah tubuhku di kamar mandi.

"Maassss…. Maasss heriii ?" Terdengar suara Fitri memanggil Heri.

"Eh …. Pak.." aku langsung memeluk pak parno ketakutan.

"Her… kamu urus dulu si Fitri, bawa dia keluar dari rumah" perintah pak parno sambil berbisik.

"Nggih pak" angguk Heri.

"Mhhh …." tiba-tiba Heri meremas payudaraku, kukerutkan keningku merasa kesal di saat seperti ini masih saja berani menjamah payudaraku.

"Ehh iya dek, mas tadi lagi buang air hehe" terdengar suara Heri berbicara pada Fitri dari kamar mandi.

"Pantes kok berisik bener ya mas" ucap Fitri.

"Bapak kemana ya, kok tiba-tiba ngilang mas, perasaan tadi ada" timpal Fitri.

"Mungkin lagi keluar dek beli rokok, oh iya kamu ktnya mau kerumah teman kecil mu, yuk mas anter" ucap Heri sepertinya dia mengajak Fitri menjauh dari kamar mandi.

"Hmmmm… hampir saja pak" bisikku pelan saat tidak mendengar suara mereka lagi.

"yuk lanjut ce, kontol bapak udah kangen hehe" tawa pak parno sambil menurunkan celana dasar yang dia pakai malam itu.

"Pak parno mesumin Nely terus…tapi Nely gak berani bertiga, takut" rengekku pada pak parno.

"Takut lemes yaa hihi" bisik pak parno sambil tertawa

"Ihhh….. bukann…. Takut aja, gak pernah pak" ku remas lengan pak parno karna kesal.

"Mhh… ce nelyh nikmatin ajah" bisik pak parno di telingaku.

"Gelihhh… pakhhh…mmmhhh" seketika ku peluk pak parno.

"Nantihh puasinhh kita berdua yahh" bisik pak parno lagi.

"MmMhhhhhh..nelyh gak mauhh… pakkhhh…." Desahku mulai terdengar lagi saat pak parno memancing birahiku naik.

"Yuk ke kamar bapak" pak parno melepas bibirnya pada leherku.

Aku hanya menganggukkan kepala, tatapanku sudah sayu, nafsuku sudah naik sampai ke otak ku ingin segera di puaskan oleh pak parno.


Pak parno menarik tanganku keluar dari kamar mandi dan kuikuti langkahnya dari belakang, seketika pak parno mengintip ke ruang tamu rumahnya.

"Aman, pintu sudah di kunci Heri" ujar pak parno sambil menarikku kembali ke kamar.

"Pak, jangan bertiga yahh… sendiri aja, Nely gak mau" rengekku saat sudah berada di kamar pak parno.

"Gak…gakk….yaudah kita aja yahh… yok hisap kontol bapak ce" pak parno langsung membuka celana dasarnya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang.

"Gak mauu.. Nely gak mau hisap kalau bertiga" rengekku.

Pak parno lalu duduk di ranjang dan mengangkang, penisnya tergantung bebas menunggu untuk ku servis dengan mulutku.

"Sini sayang, tengok kontol bapak udah siap masuk ke memek ce Nely haha" tangan pak parno terlihat mengurut penisnya sendiri.

"Iihhh……" kuhentakkan kaki ku kesal lalu aku berjongkok di antara paha pak parno. Kugenggam penis itu lalu ku elus dengan lembut.

"Pak bulunya lebat ya, Nely geli lihatnya" komentarku pada penis pak parno.

"Pak.. ada airnya hihi" ku tempelkan telunjuk ku pada lubang penis pak parno terlihat cairan itu menempel di jariku.

"Auhhh… ngiluuu ce" lenguh pak parno.

Aku tersenyum melihat pak parno lalu ku jilat kepala penis pak parno dan kulihat lagi ekspresi nya yang memejamkan mata menahan nikmat.

"Hihi…" ketawaku geli melihat pak parno.

"Ouhhhh…. Cehh…" lenguh pak parno lagi.

Kujilati kepala penis itu hingga ke bawah sampai ke pangkal testis nya, terlihat penis pak parno basah sejalur dengan jilatan ku tadi.

"Ahhhh…… mulut amoy emang mantep… bini orang kok doyan kontol" racau pak parno langsung membuatku kesal.

Ku jilat lagi pinggir-pinggirnya sesekali ku kecup kepala penis pak parno lalu kumasukkan kepala penisnya ke mulutku kusedot hingga pipi ku rasanya kempot.

"Bangsaatttt….. udah pintar banget nyepongnyaa ce Nelyhh… ouhh…." Pak parno lalu menjambak rambut ku dan mendorong penisnya masuk melesak ke dalam mulutku.

"Mmmhhhhhhhh………." Aku yang terkejut kehabisan nafas saat penis itu menyentuh pangkal kerongkongan ku, kupukul-pukul paha pak parno namun pak parno terus menahan kepalaku.

"Aahhhhhh……. Eehekkk…. Ehekkkk…." Aku menarik nafas sekuatnya dan terbatuk saat pak parno melepas penisnya dari mulutku.

"Aahhh…. Nely kehabisan nafas tau pakhhh" kucubit paha pak parno karna kesal akibat perlakuannya tadi.

"Hahaha abis mulut ce Nely enak banget, kontol bapak gak tahan" tawa pak parno.

"Cklek" tiba-tiba pintu terbuka.

"Mas Heri ?" Kaget ku saat ku paling kan wajah kebelakang.

"Mana Fitri ?" Tanya pak parno.

"Tadi tak ajak ke rumah temennya pak, terus alasan heri mau pulang ada yang ketinggalan hehe" tawa Heri sambil melihatku yang sedang berjongkok di antara dua paha pak parno.

"Aman kan ? Tar dia nyusulin balik lagi" tanya pak parno.

"Aman pak, boleh Heri gabung pak hehe" tawa Heri sambil menutup pintu kamar pak parno.

"Boleh ce Nely ?" Tanya pak parno padaku.

Kutatap pak parno lalu kugelengkan kepalaku, aku sedikit berdiri dan bersimpuh pada perut pak parno, kupeluk pinggang nya menandakan aku tidak mau.

"Boleh katanya her, sini haha" tawa pak parno.

Tiba-tiba Heri langsung meremas bongkahan pantatku yang sedikit menungging, kulihat kebelakang Heri menurunkan wajahnya sejajar dengan pantatku.

"Wihh…. Nemu dimana amoy gini pak, memeknya mulus bener" ujar Heri memuji vaginaku yang terlihat dari celah pantatku.

"Haha, dia ini ibu dari anak sekolah tempat bapak kerja dulu pas jadi satpam" pak parno mengelus punggung mulusku yang mulai basah oleh keringat.

Aku hanya bisa memejamkan mata, kupeluk pinggang pak parno kubiarkan jemari mereka bergerilya menjamah setiap inci kulit mulusku.

"Gk bisa satu-satu ya pak ?" Kutatap wajah pak parno sayu.

"Hehe Kenapa ce ?" Tanya pak parno yang jemarinya sudah meremas bongkahan payudaraku.

"Mhhh…… nelyhh malu" nafasku mulai berat ketika Heri mulai mengelus kemaluanku dan jemari pak parno meremas-remas payudaraku.

"Haha jangan malu, nnti kita puasin ce Nely yaa" pak parno tak henti-hentinya menjamah punggung ku dan tangan satunya sudah meremas payudara ku bahkan putingku di pilinnya.

"Ouuuhhhhh……….." seketika aku mendesah dan kulihat kebelakang Heri sudah menjilati vaginaku dari belakang, bahkan lubang anusku di sedot-sedot nya.

"Aahhhhhh….. gelihhh….. mhhhhhh…." Pantatku semakin menungging mengikuti jilatan Heri.

"Hahaha baru di jilat aja udah sangek ni amoy her" tawa pak parno.

"Ahhh…. Memeknya harum bener pak, pantatnya empot, enak di jilat" Heri menjilat lubang vaginaku dan ke lubang anusku hingga terasa basah.

"Hisap ce ?" Pak parno memerintahkan ku untuk menghisap kembali penisnya.

Mataku sayu melirik ke wajah pak parno menandakan nafsuku sudah memuncak.

"Mmhhhh………." Nafasku tertahan saat penis itu masuk dalam mulutku, desahku akibat jilatan Heri pada vaginaku tertahan oleh penis pak parno .

"Ahhhh….. mantap bener mulut amoy, bini orang lagi haha" pak parno menguraikan rambut ku dan menggenggamnya kesamping.

Terlihat lah tubuhku yang sudah telanjang sedang menjilati penis pak parno dan di pantatku sedang ada Heri yang sibuk menjilati lubang vagina dan anusku.

"Glokkk…glok….glokkk …" kupercepat hisapanku pada penis pak parno. Kini aku sudah tidak sadar lagi bahwa sudah di jamah oleh dua orang lelaki.

"Ahhhh……. Gelihhh….. ouhhhhh" mulutku mengadah ke atas seiring sedotan Heri yang semakin cepat pada vaginaku, terasa jarinya juga menusuk-nusuk vaginaku.

Tanganku mengocok penis pak parno dan pak parno menurunkan wajahnya dan langsung ku sambut dengan ciumanku.

"Mmhhhh ….. slurppp …. Mmmhhhhh" kusedot-sedot bibir pak parno dan lidahnya dengan kuat ku sedot hingga terlihat tertarik keluar.

Liur pak parno pun jatuh ke wajahku kemudian di jilati juga olehnya, pipiku basah oleh liur pak parno dan jilatannya di seluruh wajahku.

"Plak…plak…plak…plak…." Terdengar peraduan jari Heri yang mengobok-obok vaginaku dengan pantatku.

"Ahhhh….. gelihh… mauhh pipishhh ouhhhhhh" aku mengadah, mulutku terbuka kulihat ke belakang Heri yang berada di samping ku mengobok-obok vaginaku dengan jarinya.

Payudaraku di remas kuat oleh kedua jemari mereka, pak parno yang kanan dan Heri yang sebelah kiri. Aku tak sanggup lagi menahan nikmat yang kurasakan.

"Sreeettt….sreettt….sreettt" kali ini aku mengeluarkan air kencing yang menyemprot deras dan berceceran di lantai.

Tubuhku ambruk di atas paha pak parno, penisnya di sebelah pipiku pun kuhiraukan. Tubuhku rasanya melayang entah cairan apa yang barusan keluar tapi rasanya begitu enak sampai tubuhku lemas tak berdaya.

"Heri sini ya pegangin tangannya bapak mau ngentot memeknya dulu" pak parno berdiri mengangkat kedua pundakku.

"Mhhh…. Bentar pakhh… Nely lemashh" ujarku yang tak berdaya disuruh pak parno berdiri.

"Haha jangan kasih ampun pak" tawa Heri yang kini sudah berpindah ke hadapanku, entah kapan dia membuka celana nya sehingga penisnya menggantung tegak.

"Siniii ce" pak parno mengangkat pinggulku kini aku berdiri, didorongnya punggung ku sehingga kini aku memeluk Heri untuk menahan tubuhku.

"Bapak masukin ya" pak parno menggesek penisnya di lubang vaginaku yang basah.

"Ahhhhh…… pakhhh….." desahku saat penis itu menerobos pelan masuk ke dalam vaginaku.

"Anjingggg rapet banget" erang pak parno.

"Plak …." Di tamparnya bongkahan pantatku sehingga meninggalkan bekas merah.

"Awhhhh sakithhh pakhh…." Desahku menahan sakit menerima tamparan pak parno pada pantatku namun di kalahkan oleh rasa nikmat penisnya dalam vaginaku.

"Hisap dong ce, masak kontol mas di diamin" Heri mengarahkan penisnya ke wajahku dan menampar kannya di pipiku.

Langsung ku genggam penis Heri dan ku kocok pelan. Tubuhku mulai terguncang ke depan namun tertahan oleh tubuh Heri.

"Ahhh….ahhhh….. slurppp….." desahku dan langsung kumasukan penis Heri ke mulutku.

"Mmmhhhhh….mhhhhh….." desahku tertahan oleh penis Heri.

Kini posisi ku berdiri menungging sambil menghisap penis Heri, hentakan pak parno pada vaginaku membuat mulutku memasukkan seluruh penis Heri ke mulutku.

"Plak….plakk…..plak….." suara peraduan pantatku dan paha pak parno yang dengan cepat menggenjot vaginaku.

"Aahhhh…bangsatthh kalianhhh berduahh" racauku saat kulepas penis Heri dari mulutku.

"Hahaha nikmat kan ce Nely ?" Tawa Heri melihat diriku yang kenikmatan di genjot pak parno.

"Hisap ni kontol, kok di lepasin" Heri menampar kan penisnya ke pipiku.

"Aahhh…. Sabarhhh massshhh… ouhhhh….slurpp…." Langsung kumasukan lagi penis Heri ke mulutku.

"Hahaha, amoy doyan kontol ni her.. ahh… memeknya empot bener.." dengan cepat pak parno menggenjot vaginaku.

"Aahhh… iya ni pakhh… mulutnya aja empot bener nyepong kontol Heri" aku terus melanjutkan menghisap penis Heri saat mereka membicarakan tubuhku.

"Kita hamilin aja gimana her haha" tawa pak parno.

"Emmhhhhh….." lenguhku sambil kugelengkan kepalaku namun penis Heri tidak lepas dari mulutku.

"Haha iya katanya pak" Heri menguraikan rambut ku kesamping.

"Ahhhh…. Janganhhh… ouhhh…." Kulepas penis Heri dari mulutku.

Pak parno menarik pinggulku ke arah ranjangnya dan diikuti Heri yang tidak melepaskan penisnya dari mulutku.

Kini pak parno duduk di ranjang seketika aku di pangkunya, dinaikkannya pahaku kiri dan kanan di atas pahanya, Namun penisnya di lepasnya dari vaginaku.

"Ahhh….. pakhhh….. kokhh di lepashh…" desahku manja dan menatap Heri sayu.

"wadhhh gak boleh di lepas her kontol bapak ahah" tawa pak parno mendengar ucapan ku barusan.

"Ihhhh….. pakhh…." Kucubit paha pak parno kesal karna mengerjai ku.

"Her ambilin handbody Fitri" perintah pak parno.

"Ehh .. utk apa pak ?" Tanyaku heran.

"Udah tenang aja ce hehe" tawa pak parno, aku kini berada di atas pangkuan pak parno. Aku membelakangi nya dan jemarinya dari tadi tak hentinya meremas payudaraku.

"Pakhhhh…… gelihh putingghh nelyhh mhhh…" desahku sambil menggigit bibir bawahku.

"Ini pak" datanglah Heri membawa sebotol handbody.

"Kamu olesin ke boolnya ya" perintah pak parno.

"Eh .. pak.. jangan disitu… ihhh" aku berusaha berontak namun tubuhku di peluknya sehingga tidak bisa menghindar.

"Hahah kenapa ce, kan udah pernah tohh" tawa pak parno.

"Bener pak udah pernah di perawanin boolnya ?" Tanya Heri

"Haha udah ngecroot dua kali di dalam her, empot bener" ujar pak parno

Heri mengoleskan handbody nya ke lubang anusku bahkan jarinya di masukan ke dalam memasukan handbody.

"Ahhhh…..gelihhh mashhh…." Desahku saat jemari Heri mengoleskan handbody ke anusku.

"Udah her" perintah pak parno, Heri kemudian melemparkan handbody itu ke lantai.

"Arahin dong ce" perintah pak parno.

"Ihhh…. Nelyhh malu pakhh…" aku menutup mataku namun tanganku di arahkan pak parno memegang penisnya.

Lalu ku genggam penis pak parno dan mulai kuarahkan ke anusku. Pak parno mendorong pinggulnya naik perlahan menekan penis itu masuk ke anusku.

"Wihhh…. Ngejepit gitu boolnya pak" Heri memperhatikan penis pak parno yang perlahan masuk ke dalam anusku.

"Ahhhhkkkk….. pelan pakhhh…" desahku manja dan aku menggigit bibirku menahan sakit dan nikmat.

"Ahhhhkkkk…. Sakithhh……" saat penis itu hampir seluruhnya masuk ke dalam anusku.

Walaupun sudah pernah masuk namun masih terasa sakit anusku saat di terobos oleh penis pak parno.

Tiba-tiba Heri mengangkat pahaku dan kini penis pak parno tertanam di vaginaku, sementara dia menggenggam penisnya dan mengarahkannya ke lubang vaginaku.

"Emmhhh….mhhhh…. Janganhhh mashhh…" kugelengkan kepalaku membayangkan dua penis masuk ke dalam dua lubangku secara bersamaan.

"Aahhhhh……." Desahku panjang saat penis Heri mulai masuk sedikit demi sedikit ke dalam vaginaku.

"Ahhhh….. mantap bener ni memek, bisa remas-remas gitu… bangsatthhh" racau Heri menerima jepitan pada vaginaku.

"Ahhh…. Ahhh… ahhh…. Gelihh …." Desahku saat Heri mulai menggoyangkan pinggulnya

"Apa yang geli ce ?" Tanya Heri

"Ihhhh…. Ituuhhh… ahhh…" desahku menggelinjang saat Heri menggoyangkan pinggulnya dengan tempo sedang.

Terasa penis Heri keluar masuk di vaginaku sementara penis pak parno ikut bergoyang di dalam anusku mengikuti genjotan Heri. Aku serasa melayang tak tau dimana merasakan kenikmatan perlakuan mereka.

Jemari pak parno tak hentinya meremas payudara ku dari belakang, putingku serasa di pelintir-pelintir oleh pak parno.

"Haha itu apa ?" Tawa Heri melihat tubuhku menggelinjang keenakan.

"Mmemekkhhh nelyhhh gelihh ahhhh…." Kugelengkan kedua kepalaku menahan nikmat.

"Pakhh…. Mau pipishh lagihhh ouhhhh" seketika genjotan Heri semakin kuat terasa penis pak parno dan penis Heri keluar masuk kedua lubang ku.

"Aahhhhhhhhhh………." Seketika tubuhku ambruk menimpa tubuh pak parno, seketika pak parno memelukku dari belakang.

"Sreettt…..srettt…..sreettt…." Terasa semburan cairan cintaku membasahi penis Heri yang masih tertancap, pantatku terangkat.

"Stopphhh…. Ahhh lemashhh….. tungguhhhh masshh…." Heri ternyata tidak mengendurkan genjotan penisnya.

"Hajar terusss herr…. Sampe memeknyaa koyak hahaha" tawa pak parno memelukku dari belakang sambil meremas payudaraku.

"Ahhh…. Bangsatthhh kalianhhh berduahh… nelyhhh lemashh pakhh… ampunnhhh" aku hanya bisa mengadah, mata ku terpejam terus di genjot Heri sementara penis pak parno keluar masuk dalam vaginaku.

Kedua lelaki itu sibuk menikmati penisnya masing-masing dalam lubangku, aku hanya bisa terpejam tak tau lagi diriku dimana. Kesadaran ku terasa melayang ke awang-awang. Aku tidak di beri ampun oleh mereka saat mencapai orgasme mereka terus saja menggejot kedua lubangku.

"Glokkk…glok….." suara mulutku saat pak parno memasukan jarinya ke mulutku, tapi anehnya aku malah menghisap jari pak parno dan kujilati jarinya.

"Ahhhh………." Desahku saat Heri mencabut penisnya dari vaginaku.

Kubuka mataku lalu Heri mengangkat kedua tanganku dan kuikuti saja mau Heri, ternyata Heri membalikan tubuhku. Kini aku berhadapan langsung dengan pak parno dan pak parno langsung mengarahkan penisnya ke vaginaku.

Kupalingkan wajahku kebelakang kulihat Heri menusuk perlahan kelubang anusku.

"Boleh di masukin ce?" Tanya Heri.

Kuanggukan kepalaku lalu aku memeluk tubuh pak parno yang berada di bawahku, aku bersiap menerima sodokan penis Heri yang akan masuk ke dalam lubang pantatku.

"Engghhhh….." kugigit pundak pak parno saat penis itu masuk dan terasa tangan pak parno.

"Enakh ce ?" Bisik pak parno memelukku, bibirnya berbisik di dekat telinga ku.

"Eehh… pakhhh… enakhh… ahhhh" desahku ketika Heri menusuk penisnya dalam-dalam ke lubang pantatku.

Kuremas kedua sprei kasur pak parno menahan nikmat penetrasi kedua penis itu masuk.

"Pakhhh……" desahku di telinga pak parno

"Iyaaa ce kenapa ?" Pak parno memelukku erat sementara pantatku menungging tengah di genjot oleh Heri.

"Enakhh… pakhh… nelyhh… ouhh…. Nelyhhh gak tahannnhhh" racauku sambil memeluk pak parno erat.

"Hahaha… suka ya di entot ce" tawa Heri sambil meremas bongkahan pantatku.

"Ehhh …. Suka pakhh…. Enakhh…." Kujilati leher pak parno.

"Hhaha lihat her, ce Nely udah ketagihan sama kontol" tawa pak parno.

"Plak….plak…." Pantatku di tampar oleh Heri.

"Haha kontol lakinya kecil kali pak, mangkanya Minta di sodok sama kontol kita" tawa Heri semakin kuat menggenjot ku.

"Ahhh…… janganhhh sebuthhh suamihh mashh…" namun pelukku kuat pada tubuh pak parno.

"Hahaha tapi emang iya kannn… kontol kita enak kan" tawa Heri.

"Mhhh….. iyahhh enakhh…." Desahku terasa aku akan mendapatkan orgasme kedua kalinya.

"Pakhhh…… nelyhhhh ahhhh….. mauuhhhh" tiba-tiba tubuhku mengejang mendapatkan orgasme kedua.

Pantatku yang tadi menungging kini tak dapat lagi kutahan, aku hanya terbaring lemas di pelukan pak parno, penis Heri terlepas dari lubang pantatku.

Tiba-tiba tubuhku di balikan pak parno dan pahaku di buka lebar di letakannya di pundak pak parno dan dengan arahan tanganya pak parno langsung memasukan penisnya.

Aku hanya terbaring terlentang di atas ranjang pak parno, tanganku terbuka dan tubuhku lemas tak berdaya lagi, namun vaginaku masih di genjot oleh pak parno dengan tempo cepat.

Nampak payudara ku ikut terguncang oleh genjotan pak parno dan Heri kini telah berada di sebelahku. Mengarahkan penisnya ke mulutku dan dengan sekejap langsung masuk ke dalam mulutku.

Aku tak tau lagi apa yang terjadi , kubiarkan penis mereka memasuki lubang vagina dan mulutku.

"Glokk…glokk…glok…." Suara penis Heri dalam mulutku.

Ku pukul-pukul lemas paha Heri karna saat ini aku kehabisan nafas.

"Mmhhhh……mhhh…..ahhhhh…" kutarik nafas dalam-dalam saat penis itu terlepas dari mulutku dan Heri dengan cepat memasukan nya lagi.

"Plakk…plak…plak….plak…." Suara hentakan paha pak parno dan pahaku terdengar.

"Ahhhh….. mau keluarrhhhh..grrhhh" erang pak parno semakin cepat genjotannya.

"Ehh… pakhhh… di luarhhh…." Seketika aku panik melepaskan penis heri mulutku namun dengan cepat kepalaku ditarik Heri dan memasukan penisnya ke mulutku lagi.

"Mmmhhhhh…….mhhhhh….." kugelengkan kepalaku dan ku goyangkan pahaku agar pak parno melepas kan penisnya.

"Aargggghhh amoy bangsatthhh enakkhhhh" Dengan sekali hentakan kuat pak parno menyemprotkan spermanya dalam vaginaku.

Pak parno mendiamkan penisnya dalam vaginaku menahan semua spermanya masuk ke dalam. Sementara Heri terus menggenjot mulutku.

"Mmhhh…..mhhhh……" kugelengkan kepalaku agar pak parno segera mencabut penisnya.

"Haha gimana pak, rasanya ngecrot dalam memek amoy ?" Tawa Heri yang menahan kepalaku agar tidak melepas penisnya.

"Ahhhh….. gila her, mantap bener dah ni memek" pak parno menarik penisnya perlahan dan keluarlah sisa sperma mengikuti penis pak parno yang tercabut.

"Ahhhhh…… pak… kok di dalam…. Nanti Nely hamil gimana …. Ihh…. Pakkk" aku mengorek vaginaku dengan jariku mengeluarkan semua sperma yang sudah masuk.

"Kalau hamil ya anak bapak dong ce haha" tawa pak parno sambil terduduk di lantai dia tersungkur lemas menyandar di tembok kamar.

"Ihhh…. Gak mauu… Nely gak mau sampe punya anak pak, kan cuma ngentot aja gak sampai di keluarin di dalam" kesalku menatap pak parno, banyak sekali terasa sperma yang keluar di dalam vaginaku.

"Haha bapak udah gak tahan ce, memek ce Nely enak" pak parno menatap kami berdua, Heri yang berada di sebelahku langsung mendorong tubuhku hingga tengkurap.

"Mas ngecrot di bool ce Nely aja yahh, boleh kanan hehe" seketika di tekannya penisnya masuk ke dalam lubang pantatku.

"Ouhhhhh………" aku mendesah panjang kaki ku tercepit rapat sementara pantatku sedikit menungging.

"Plokk….plokk….plokk….." suara hentakan paha Heri dan pantatku dengan cepat Heri menggenjot lubang anusku.

Aku hanya memejamkan mata dan meremas sprei yang sudah terbuka dari kasurnya.

"Ahahhh…ahhh .. pelanhh…." Desahku saat nafsuku kini naik.

"Aahhh…. Gak bisa pelan ngentot amoy begini" racau Heri.

"Ahhh…..gelihh…. Mau pipishhh ahhh…" seketika aku akan mendapatkan orgasme yang ketiga.

"Aahhhh…. Masshhh nelyhh keluarhhh ouhhhh" lenguhku panjang dan pantatku terasa mengejang menjepit penis Heri.

Heri terus menggenjot pantatku, aku tak tau lagi di mana saat itu. Rasanya tubuh ku melayang dan seakan mau pingsan melayani dua orang lelaki menantu dan mertua.

"Pingsan pak ?" Ujar Heri, itu suara terakhir yang kudengar dan sepertinya aku benar benar pingsan.

Kubuka mataku, samar-samar kulihat sekitar ruangan yang berantakan. Tidak ada lagi pak parno dan Heri di kamar itu lalu aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 06:30.

"Ya ampun.. anakku" aku tersentak mengingat velin dan Nico sekolah hari ini.

"Ahhh……." Aku duduk terasa sakit semua badanku akibat persetubuhan kami bertiga, pahaku terasa lemas dan kulihat lagi vaginaku terlihat ada sperma yang sudah mengering.

"Gimana kalau aku hamil…. Apa yang akan kukatakan kalau nanti kalau dia lahir berkulit hitam tidak seperti keturunan ku.." gumamku sambil melamun.

Aku berusaha bangkit dari tempat tidur dan mencari pakaianku. Namun kulihat sekitar tidak ada sehelai pun pakaian ku di kamar pak parno dan seketika aku ingat kalau aku awalnya bersetubuh dengan Heri di kamarnya .

Kulangkahkan kaki ku dan terasa sakit kedua lubangku habis di genjot oleh Heri dan pak parno.
Aku melangkah tertatih membuka pintu kamar pak parno dan kulirik keluar ternyata rumah sedang sepi.

Aku bertelanjang bulat menuju kamar Fitri anak pak parno, kulihat kamar itu sedikit terbuka dan kubuka perlahan sepertinya tidak ada orang. Terlihat bajuku berserakan di kamar Fitri, ku pungut satu persatu.

Setelah kupakai bajuku aku merogoh tasku dan kulihat ponselku, ada 30 kali panggilan dari Hendri.
Terlihat pesan WAnya sudah masuk sekitar 40 kali.

"Kalau sudah gak mau jadi istri ngomong, bisa saya ceraikan kamu, anak di tinggal di sekolah sampai jam 4 baru kujemput… kamu pakai otak gak sih jadi orang tua" Hendri sepertinya emosi karna aku tidak menjemput velin dan Nico.

Kulangkahkan kaki ku keluar rumah dan di ruang tamu kulihat Heri yang sedang merokok.
"Ehh… udah sadar ya ce" senyum Heri.

"Duduk dulu" Heri menepuk sofa yang sedang ia duduki, lalu kulangkahkan kaki ku duduk di sebelah Heri.

"Kemana orang mas ?" Lirikku di sekitar.

"Mm… fiuhhh" Heri menghembuskan rokoknya ke arahku.

"Uhukk…uhukk…. Mas asepnya" sambil ku lambaikan tangan menghalau asap rokok Heri.

"Heheh makasih yaaa.. mas tadi enak banget bisa ngentot ce Nely" Heri tiba-tiba merangkul pundakku. aku tidak menarik tubuhku, kudiamkan lengan Heri yang sudah merangkul ku.

"Hemmm…" hanya itu ku jawab perkataan Heri.

"Tadi Fitri pulang, terus dia bilang mau bawa Fitri ke rumah temannya, biar gak lihat ce Nely ada disini" terang Heri sambil mencium-cium pundakku.

"Ohhh… gitu…" ku lirik Heri yang mulai menjilati pundakku.

"Mhhh…. Udah ya masshhh" ku dorong sedikit tubuh Heri saat dia mulai menjilat ke arah leherku.

"Heheh makasih yaaa… mas gak pernah kebayang bisa ngentotin amoy kayak ce Nely" ujar Heri sambil mengelus lenganku.

"Emang apa bedanya dengan Fitri ? Kan dia juga masih muda" ujarku.

"Bedalah, dari warna kulit ce Nely yang putih lembut, memek Cece sempit apalagi tu jepitan bool ce Nely, bikin mas gak tahan" ucap Heri memuji seluruh tubuhku.

"Terus tadi Nely pingsan mas keluarin dimana ?" Tanyaku penasaran dimana Heri mengeluarkan spermanya.

"Di dalam bool ce Nely hehe" jawab Heri sambil mendekat kan wajahnya ke wajahku.

"Eehhh… udah mass… aku gak mau lagi hari ini, badanku sakit semua" kudorong tubuh Heri menjauh.

"Hehe iyaaaaaa, kapan ya mas bisa ngentot ce Nely lagi ?" Tanya Heri kulihat dia memperhatikan tubuhku dari atas sampe ke bawah.

"Gak boleh lagi, itu terakhir wekk" kujulurkan lidahku mengejek Heri.

"Jangan gitu lahh… mas boleh ya lagi ngentotin ce Nely" Heri mendekat kembali dan merangkul pundakku.

"Enggakkk hihi, ngentot aja dgn bini mas" tawaku kecil.

"Hemmm…. Sesudah ngentot in ce Nely mas rasanya gak selera lagi dengan Fitri" ujar Heri menggaruk kepalanya.

"Huuuu dasar…. Mesum" kucubit pinggul Heri.

"Aw…aw… sakit haha" Heri menghindari tanganku.

"Tapi mas Heri besok balik ke kampung ce" ucap Heri menunduk lesu.

"Lohh… bagus dong, kan bisa balik kerja lagi" ujarku.

"Iyaa… tapi mas butuh uang buat pulang, kemarin juga kesini minjam sama bos, ini tadi mau minjam lagi malah mau di pecat ktnya kalau gak balik besok" terang Heri tertunduk lesu.

"Terus ada uangnya mau pulang ke kampung ?" Tanyaku melihat wajah Heri.

"Belum ada ce" jawab Heri.

"Emmm… butuh berapa emang ?" Kulihat wajah Heri menoleh padaku.

"5 juta ce, sekalian balikin pinjaman kemarin" jawab Heri menatapku sayu.

"Boleh pakai uang Nely, tapi gak ada cash" aku lihat Heri kasihan.

"E… ada ini ATM, beneran ce Nely mau kasih pinjam" jawab Heri terbata.

"Berapa rekening nya ?" Tanyaku sambil membuka mbanking ku.

"Bentar ce…" Heri berlalu ke kamar.

Tak lama Heri keluar membawa buku tabungan nya.

"704* *** **** ***31" Heri menyebutkan nomor rekeningnya.

"Sudah Nely transfer ya 6 juta" jawabku menyimpan ponsel kembali ke dalam tas.

Heri tiba-tiba memelukku dan mencium bibirku.

"Mmhhhhh…..mhhh……" kubalas ciuman Heri.

"Sluurpp….. mhhh……ah…..udah masshhh" kudorong tubuh Heri.

"Makasih yaaa…. Udah dapat ngentot di kasih pinjam uang" ujar Heri girang.

"Anterin Nely keluar yuk, Nely mau pulang" ucapku sambil berdiri dari sofa

"Awwww…." Seketika Heri menampar pantat ku.

"Ihhh…. Kurang ajar ya" ku cubit lengan Heri kesal.

"Pantat yang gak pernah mas lupain hehe" Heri meremas bokongku dan aku pun berjalan diikuti Heri yang terus meremas pantatku.

"Mmmhhh…. Udah ah masssh" ketika sampai di pintu depan Heri masih meremas pantatku.

"Hehe pantat ce Nely lembut" ucapnya Heri tersenyum.

"Yeee… tadi kan udah masukin" aku berjalan meninggalkan rumah pak parno diikuti Heri berjalan ke arah mobilku.

"Mas sampai sini aja ya" aku menyuruh Heri berhenti.

Tiba-tiba Heri meremas payudara ku, di dalam gang sempit itu aku tersender di tembok gang sedang di remas-remas payudara ku oleh Heri.

"Ehh… mashhh… nantihh nampakhh orang… ahhhh" Heri mencium bibirku dan meremas payudaraku.

"Hihi hati-hati ya ce" tawa Heri berjalan meninggalkan ku.

"Ahhh…. Gila tu orang gak lihat tempat lagi" ku rapikan bajuku yang sedikit terbuka akibat remasan Heri.

Aku terdiam duduk di dalam mobil. Ku pandangi lampu mobil yang menyorot ke dalam semak-semak di parkiran mobil.

"Hmmmm…. Aku gak mungkin pulang, pasti aku ribut sama Hendri kalau pulang" gumamku dalam hati.

"Tapi kemana aku pergi, maafin mami Pi… mami sudah lupa siapa diri mami…" aku menatap kaca mobil.

"Pi… akankah mami hamil anaknya pak parno…kalau iya bagaimana nasib mami, apakah mami akan papi ceraikan" hatiku berkecamuk mengingat pak parno sudah menumpahkan spermanya dalam vaginaku.

"Hmmmm….." kutarik nafas dalam-dalam

Aku mengambil ponselku dalam tas ku cari kontak ce Jesica dan langsung ku telpon.

"Haloo…. Ce Jesica" ucapku saat tersambung dengan ce Jesica

"Iyaa kenapa Nely ?" Tanya ce Jesica

"boleh Nely numpang tidur di rumah cece ?" Tanyaku , aku tidak berani pulang kerumah hari itu karna selain tubuhku yang lelah aku belum siap menghadapi emosi Hendri.

"Ohh…. Iya boleh, Cece tunggu ya dirumah" jawab ce Jesica

"Iya ce, bye" kututup ponselku dan ku arahkan mobil ku kerumah ce Jesica







Part 12 : Dingin dan hampa

Terlihat ce Jesica membuka pagar rumahnya dan ku arahkan mobilku ke parkiran.

"Hy nel.. abis dari mana tumben mampir kesini ?" Ce Jesica berdiri di samping pintu mobilku dan aku segera keluar dan langsung memeluk ce Jesica.

"Hikss… hikss….. ce jess… hiksss " aku sesegukan sambil memeluk ce Jesica erat, Terasa ce Jesica mengusap punggung ku menenangkan aku yang sedang menangis.

"Yuk.. masuk dulu… tenangin diri dulu yaa" ce Jesica memegang kedua pundakku dan aku hanya bisa tertunduk lesu sambil sesekali sesegukan.

Aku masih terdiam di ruang tamu ce Jesica. Kepalaku pusing karna tenagaku seharian habis di kuras oleh dua penis lelaki dan di satu sisi aku memikirkan Hendri yang sedang emosi terhadap ku karna aku tidak menjemput anakku di sekolah hari ini. Tugas seorang ibu dan istri bahkan anakku aku lupakan karna sedang di hajar oleh penis pak parno dan Heri. Wajar Hendri marah dan emosi karna tidak ada suami yg menerima seorang istri yang sudah selingkuh dengan lelaki lain bahkan yang berbeda kasta dan ras denganku.

Apa yang harus aku katakan pada Hendri, kuangkat kepalaku yang tadinya tertunduk dan kulihat di depanku duduk ce Jesica yang sedari tadi menatapku.

"Kamu ada masalah nel ?" Ucap ce Jesica memecah suasana malam itu.

"Nely ribut sama ko Hendri" jawabku lirih.

"Kalau boleh cerita sama Cece aja gpp nel, masalahnya apa ?" Ce Jesica beranjak menuju kulkas dan mengambil sebotol bir dan menuangkannya ke dalam gelas.

"Ini di minum dulu biar lebih relax" ce Jesica menaruh segelas bir.

"Hikss… hikss… Nely sudah hancur ce.. hiksss" seketika aku terisak dan meneteskan air mataku kembali.

Ce Jesica seketika beranjak kesebalahku dan langsung memeluk pundakku, sambil mengusapkan tangannya mencoba menenangkan ku.

"Maksut Nely ?... Hancur gimana ?" Tanya ce Jesica

"Nely gak tau mau cerita ke siapa lagi ce…" aku merebahkan kepalaku di pundak ce Jesica

"Nely boleh cerita sama Cece, Cece gak akan cerita ke siapapun, kalau ada yang bisa Cece bantu buat Nely pasti Cece bantu" ucap ce Jesica menenangkan ku.

"Makasih ya ce, Nely sudah gak tau lagi harga diri Nely dimana.. hikss…." Aku tersedu, ce Jesica hanya diam sambil terus mengusap pundakku untuk menenangkan ku.

"Nely selingkuh… hiksss…."tak terasa Air mataku menetes.

"Hah ?? Selingkuh ? Kok bisa, sama siapa Nely ??" Ce Jesica terkejut dengan apa yang aku katakan.

"Pak parno… hikss…" aku hanya menyebutkan nama pak parno.

Malam itu aku menceritakan semua yang sudah terjadi dan ce Jesica dengan tenang mendengarkan semua apa yang aku katakan, hingga aku merasa sedikit lega karna ada yang bisa menjadi tempat curahan apa yang aku rasakan.

"Yahhh… gitulah nel, suami Nely sama dgn suami Cece, ngentot cuma mikirin peju nya aja keluar, dia gak mikir kalau kita tu juga butuh di puasin" terlihat ce Jesica sudah mabuk.

"Tapi Nely gak mau cerai dengan ko Hendri ce, Nely sayang sama ko Hendri dan anak2 Nely" ujarku sambil menatap langit-langit ruang tamu rumah ce Jesica

"Nely cuma minta di puasin sama kontol2 itu ce, tapi saat di entot mereka Nely gak ada perasaan apa2 ce…." Aku sudah tidak sadar lagi dengan ucapan ku hanya ingin mengeluarkan apa yang aku rasakan.

"Nely berhak di puasin, tubuh kita milik kita, kita udah kasih utk suami tapi dia gak bisa puasin tubuh kita, kita gak salah di entot laki2 kasar itu nel" racau ce Jesica

"Toh mereka juga senang kan bisa ngentot kita gratis, jadi gak ada yang di rugiin dong" timpal ce Jesica

Kami bercerita lepas sambil meminum bir yang bergeletakan di atas meja, apa yang di rasakan ce Jesica sama dengan apa yang aku rasakan jadi dia sangat mengerti posisi ku saat ini.

"Yaudah Nely sementara tinggal disini yah.. anggap aja rumah sendiri, Cece juga sendiri kok dirumah ini" ce Jesica berdiri nampak tubuhnya linglung karna mabuk

"Yok Cece antar ke kamar" ce Jesica berlalu dan menuju sebuah kamar.

Aku dengan tubuh linglung dan kepala sakit mengikuti ce Jesica dan langsung menghempaskan tubuhku di kasur karna lelah seharian habis di genjot oleh dua lelaki di rumah pak parno tadi, kupejamkan mata karna merasa pusing, terdengar samar suara ce Jesica menelepon.

"Halo.. Hendri ya ?"
"Emmm… Nely disini"
"Lu tenang aja ya… gak usah kebawa emosi dulu, ntar Cece jelasin"

Dan tak lama mendengar percakapan ce Jesica yang sepertinya dengan Hendri suamiku aku tertidur.

Kubuka mataku, kulihat sekitar kamar dan berusaha membangkitkan kesadaran ku. Terasa pegal-pegal seluruh badanku terutama pahaku mungkin karna persetubuhan dengan pak parno dan si menantunya. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 10 lewat. Kuraih tas ku yang ada di meja dan kulihat handphone ku. Ada beberapa pesan masuk dari Hendri dan ada juga dari pak parno.

"Gw tunggu lu pulang, biar kita slsaikan masalah ini, kalau mau cerai kita cerai skrg" isi pesan Hendri

Pesan itu hanya kubaca dan aku tidak berfikir Hendri akan seperti ini bahkan belum mendengar penjelasan ku dia langsung akan menceraikan ku. kubuka pesan selanjutnya dari ce Jesica

"Cece ke sekolah dulu, kalau mau makan bikin aja sendiri yah.. bahan2 ada di kulkas" isi pesan ce Jesica dan kubuka pesan selanjutnya dari pak parno

"Ce gak kerumah ? Bapak mau ngentotin Cece lagi hehe" isi pesan pak parno.

"Hemmm…. Gara-gara bapak nih.. aku lagi bermasalah dengan suami" gumamku dalam hati

"Besok yah pak, Nely capek, gara-gara ini juga Nely lagi bermasalah sama suami" aku balas pesan pak parno.

Kuletakkan handphone dan aku berjalan keluar kamar mandi, terasa badanku lengket karna dari kmren belum mandi dan lelehan sperma kedua lelaki yang menikmati tubuhku kemaren masih terasa.

Apa yang harus aku bilang sama ko Hendri, apa kabar Niko dan velin. Bagaimana kalau Hendri benar-benar mau minta cerai.
"Mami kangen kalian nak" hanya itu Yang ada dalam hatiku saat ini.

Tak lama terdengar suara mobil ce Jesica datang, aku pun berjalan membuka pintu.

"Hy Nel, udah makan ?" Sapa ce Jesica setelah turun dari mobil.

"Udah ce, tadi Nely masak" balasku

"Yaudah deh, yuk masuk" ce Jesica berjalan masuk ke dalam rumah dan kuikuti di belakang.


Setelah makan malam kami duduk di sofa ruang tamu.

"Ce jes tadi kerumah ya ?" Tanyaku

"Hmm iya nel" jawab ce Jesica namun nampak wajahnya sedikit datar.

"Apa kata ko Hendri ce ?" Tanyaku penasaran.

"Ya awalnya dia mau ceraikan kamu nel" jawab ce jes

"Terus terus ce" aku semakin penasaran

"Cece bilang kalau kamu sayang sama dia, Cece bisa yakinin ko Hendri kalau kamu gak main-main di belakang dia" jawab ce Jesica

"Syukurlah… hmmmm" aku menarik nafas panjang

"Tapi….." ce Jesica menghentikan perkataan nya

"Tapi apa ce ?" Tanyaku heran

"Ee… gak ada nel, hehe kamu masih mau sama pak parno haha ?" Tawa ce Jesica

Seketika wajahku memerah karna pertanyaan ce Jesica, wajar sih kalau aku malu karna ce Jesica sudah tau hubungan gelap ku dengan lelaki tua kasar yang seharusnya tidak mungkin bahkan bisa menikmati tubuhku ini.

"Eee…." Aku menggaruk kepala.

"Hahaha ngapain malu sih sama ce jes" ce Jesica semakin tertawa melihatku

"Gak dulu ce, Nely takut ketahuan" aku menundukkan kepala

"Lohh… menurut Cece sih nikmatin aja nel, tapi kamu harus pinter simpan rahasia haha" ce Jesica mendekatkan duduknya ke arahku

"Eee.. maksut ce jes ?" Aku menatapnya serius

"Yaa… kamu suka di entot pak parno ?" Tanya ce Jesica

"Eee… itu… " aku terbata menjawabnya

"Haha mangkanya pinter simpan rahasia, gak kayak ce jes dulu, ketahuan kan sama ko Aseng" terang ce Jesica karna dia juga selingkuh dengan lelaki kasar dan sampai sekarang menikmati nya.

"Eee.. boleh tanya ce ?" Tanyaku sambil melihat ke arah ce Jesica

"Boleh" jawab ce Jesica sambil tersenyum

"Udah dengan siapa aja ce ?" Tanyaku kembali

"Hahah… siapa aja ya… Agus, terus si bujang satpam komplek, ee… dulu sih pernah sama tukang parkir di pasar, dan … hahaha" terang ce Jesica dengan perkataannya yang terputus di sambut dengan tertawa


" Dan apa ce ?" Tanyaku heran


"Tapi kamu jangan cemburu haha" tawa ce Jesica

"Hahaha ya gaklah ce, dengan siapa lagi ?" Tanyaku penasaran

"Pak parno hahaha…" ce Jesica menjawab sambil tertawa melihatku

"Yeee ngapain cemburu in dia ce, ya ampun udah pengalaman ya ternyata haha" aku pun tertawa mendengar pengakuan ce Jesica

Tak lama terdengar suara bel rumah ce Jesica berbunyi.

"Eh ada orang.. ntar ya Cece ke depan dulu" ce Jesica berdiri dan menuju pintu depan.

Sekitar 5 menit ku tunggu akhirnya aku penasaran siapa yang datang. Namun terdengar samar-samar seperti suara Hendri

"Lu sabar dikit lah.. ngapain nyusul kesini" terdengar suara jesica

"Anak-anak jes, mau ketemu sama maminya" terdengar suara Hendri

"Mamii….." seketika velin dan Nico berlari ke arahku yang berdiri di hadapan mereka. Aku berjongkok dan segera memeluk mereka berdua. Kulihat wajah Hendri datar melihat ku

"Kalian baik-baik aja sayang" tanyaku sambil mengusap kepala mereka dan mencium pipi velin


"Mii…. Ayo pulang… hiksss…" tangis anakku seketika pecah

"Iyaa… sayang…ntar yahh" aku berdiri dan berjalan ke arah Hendri

"Anak-anak kangen sama lu, mau pulang gak ?" Hendri berbicara namun terlihat sangat datar

Aku hanya terdiam dan menatap ce jesica dan Jesica seketika menganggukan kepalanya bertanda menyuruhku untuk pulang kerumah.

"Nely pulang ya ce" aku pun perlahan berjalan keluar rumah dan menuju ke mobilku. Kulihat ce Jesica menatapku dari depan pintu rumahnya, aku melempar kan senyum dan mengusap air mata yang menetes di pipiku.

Akhirnya kami pun tiba dirumah dan Hendri tetap saja datar tanpa sepatah katapun dari tadi berbicara kepada ku

"Sayang masuk kamar dulu ya, papi mau ngmng sama mami" Hendri menyuruh kedua anakku untuk masuk ke kamar.


"Mulai hari ini kamu gak boleh keluar rumah, anak-anak biar om Flores yang antar jemput. Sini kunci mobil, mulai sekarang mobil gak boleh dipake lagi" Hendri berbicara datar dan sifat nya berubah.

Hendri berlalu begitu saja meninggalkan ku, aku hanya terdiam dan menangis malam itu karna perubahan sifat Hendri.

sejak saat itu aku tidak pernah keluar rumah, bahkan pergi ke tempat yang dekat saja dia selalu curiga

Sudah 2 bulan aku mengalami kondisi seperti ini, bahkan Hendri tidak pernah menyentuh ku sama sekali dan itu lah membuat aku rindu sama pak parno, rindu bagaimana dia memperlakukan ku di ranjang. Rindu bagaimana dia membuatku orgasme berkali-kali.

Aku ambil handphone ku dan ku cari wa pak parno

"Semoga saja masih aktif" gumamku

"Gimana kabarnya pak ?" Ku kirim pesan wa ke pak parno dan tak berapa lama langsung di balas dengan pak parno

"Akhirnya Ce Nely hbngi bapak juga. Bapak sehat, Nely gmn ?" Balas pak parno

"Nely sehat pak hehe" balas ku sambil memberikan emot senyum

"Wih senyum2 haha, Ndak kangen bapak ?" Balas pak parno

"Gak tau haha, bapak gak kangen Nely ?" Balasku sambil tersenyum membalas wa pak parno

"kangen tenan ce, apalagi sama itu hihi" balas pak parno sambil mengirimkan emot tertawa

"Itu apa hayoo?" Ku kirim emot ejek ke pak parno


"Memek ce Nely, nenen nya juga hihi" balas pak parno


"Huuu… dasar tua-tua mesum, itu aja ? haha " balasku tertawa

"Semuanya deh, mau bapak sodok keras-keras tu memek hahaha" pak parno membalas dengan semangat wa yang obrolannya semakin memanas


"Aww… ahhh… jangan pak.. geli… hihii" entahlah, kenapa aku merasa bahagia lagi di mesumin oleh pak parno, seketika terasa hangat di vaginaku, mungkin karna sudah lama nafusuku tidak naik seperti ini.


"Bapak kontoloin memek Nely, dari belakang hihi" balas pak parno lagi

"Ouhhh… pak jangan, Nely gak kuat" balasku yang menahan nafsuku yang telah menguasai otakku.

"Ayok sini ce, biar bapak bisa ngentotin ce Nely" balas pak parno

"Gak bisa pak, Nely gak di kasih mobil lagi, terus kalau Nely pergi sebentar aja suami Nely curiga" balasku sambil mengirimkan emot sedih

"Nanti ya Nely cari cara biar bisa keluar" balasku lagi

"Bapak jemput aja gimana ?" Balas pak parno

"Gak usah pak, dirumah lagi panas suasananya, nanti yah. Ada waktunya hehe" aku sebenarnya ingin saat ini kerumah pak parno dan menuntaskan nafusuku

Aku kemudian membuka bajuku dan mengambil foto payudara ku yang masih terbungkus bra, lalu ku kirimkan ke pak parno.

"Ini aja ya dulu buat bapak hehe" aku tersenyum sesudah mengirimkan fotoku pada pak parno, ada perasaan bahagia ketika pak parno melihat tubuhku.

"Aduhhh…aduh… bapak mau coli rasanya ngeliat nenen Nely" balas pak parno

Aku pun tertawa melihat tingkah pak parno

"Hihi jangan di buang pak, mending buat Nely " ku kirim lagi 1 foto ******* ke pak parno

"Walahhh… ngocok beneran ini bapak, nanti bapak sedot kuat-kuat nenen Nely bapak jilatin sampai puas…" balas pak parno

"Ahhh…. Geli pak… jangan di gituin…" balasku sambil tertawa geli

Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk

"Pak udah ya ada yang datang, jangan balas lagi" seketika ku hapus pesan pak parno dan dengan segera kubuka pintu kamar.

"Eh om Flores, ada apa ?" Tanyaku membuka pintu kamar

"Eee…. Itu… tet.." om Flores menunjuk ke payudaraku


"Ya ampun… " aku lupa memakai baju kembali dan dengan segera kututp pintu namun di tahan om Flores


Om Flores dengan sigap masuk dan menutup pintu dan langsung memelukku dari belakang

"Ehh .. om nanti di lihat ko Hendri" aku berusaha melepaskan pelukan om Flores namun karna badannya yang besar tidak kuat aku melawannya.

"Ahhh….bentar aja ce.. mmhhh" om Flores dengan cepat menjilati pundak dan telingaku dan berbisik di telingaku, terasa nafasnya yang menderu membuat nafsuku naik.

"Mmhh… ahhhh …. Iyahhh… tapi ada ahhh… ko Hendri…" aku hanya menikmati jilatan om Flores pada leher dan sekitaran kuping dan pundakku

"Omhhh…. Ouhh… gelihh… ahhh…" desahku tak tertahan menikmati perlakuan om Flores

"Cium omhh.." om Flores seketika membalikkan tubuhku dan dengan sekali lahap mulut kamu sudah saling mencumbu.

Mungkin karna sudah 2 bulan aku tidak di sentuh sehingga aku kini tidak perduli lagi dengan siapa aku di perlakukan seperti ini, yang ada kini aku hanya ingin nafusuku di puaskan


"Mmhhh…. Sllrppp… omhhh…." Lengan ku bergelantungan di leher om Flores dan lengan hitam kasar om Flores berada di pinggang ku menekan kuat ke arah tubuhnya

"Ommmmm……, lama banget manggil Nely" terdengar teriakan dari lantai 1

"Ahhh…. Udah ce, nanti lagi ya, ada suara Koko, tadi ktnya Cece di suruh kebawah"

Om Flores menyeka bibirnya yang basah oleh liur kami dan segera keluar dari kamarku

Aku memundurkan langkahku dan kuhempaskan bokongku di kasur lalu kutarik nafas dalam-dalam dan menyeka mulutku yang berlepotan air liur om Flores.

Kepalaku sakit karna nafsuku sudah di ubun-ubun ingin segera di tuntaskan.

Hancurnya harga diri keluarga

Aku berjalan menuruni tangga dengan wajah tertunduk lesu, selama 2 bulan ini hanya sepatah dua patah kata yang keluar dari bibir Hendri. Suamiku sudah asing bagiku, bukan seperti Hendri yang aku kenal dulu. Sudah beribu maaf aku ucapkan tapi hatinya tetap keras dan tentu aku masih merahasiakan hubungan ku dengan pak parno di belakang nya.

"Ada apa Pi ?" Tanyaku pelan saat berada di toko.

"Lu jaga toko, gw mau pergi ke acara nikahan ko awi" ucap Hendri datar

"Ee… iya Pi…" aku jawab dengan nada pelan karna gak tau apa yang mau aku katakan lagi pada Hendri.

"Eh pi… mami mau bakso" ucapku memancing komunikasi yang baik. Namun Hendri berlalu tanpa berkata sepatah katapun.

"Hmmmm…. Pii… kapan bisa balik kayak dulu sih" aku duduk di kursi kasir yang biasa di duduki oleh Hendri.

Siang itu begitu sepi, setelah 30 menitan aku duduk sambil bermain handphone. tak berapa lama lewat om Flores, matanya tak lepas dari tubuhku seperti ingin menerkam seluruh tubuhku, tapi dia hanya berlalu dan ketika mau sampai gudang dia kembali lagi dan kini duduk di depanku.

"Ce…" suaranya sedikit pelan seperti agak berbisik.

"Apa om..?" Jawabku singkat

"Ayok hehe" cengir om Flores terlihatlah giginya yang kuning dan kumisnya yang tebal terangkat.

"Ayok kemana ?" Aku meletakkan handphone dan menatapnya

"Gudang aja yok" jawab om Flores pelan

"Hah… ? Ngapain" aku mengerutkan keningku

"Ngapain lagi, ngentot lah hehe" om Flores langsung menggenggam tangan ku, nampak tangannya yang hitam menutupi tanganku yang putih.

"Ee… tapi.. nanti ada orang datang gimana" aneh aku tidak berteriak atau melawan untuk melayani nafsu om Flores

"Kita tutup aja ya hehe" om Flores melepaskan tanganku dan berjalan ke gerbang toko depan dan menariknya menutupnya dari dalam.

Setelah toko tertutup om Flores langsung menghampiri ku dan langsung merangkul pundakku. Bibirnya di dekatkan ke leher dekat telinga ku

"Ayok…mmhh… om mauhh hajar memekhh ce nelyhh" cengir om Flores dan berbisik di kumpungku sambil mencium pipiku

"Ahhh… udahhh di kuncii omhh"ujarku sambil melihat ke gerbang depan

"Amanhh… cuphh" om Flores mengecup leherku kembali

"Ahhhh….gelihh…" vaginaku terasa hangat setelah om Flores menciumi leherku

"Nico sama velin mana ?" Tanya om Flores

"Tidur dikamarnya" jawabku menatap om Flores

Seketika tanganku langsung di tarik ke dalam gudang dan dengan tergesa-gesa aku mengikuti langkah om Flores.

Setibanya di dalam gudang om Flores langsung menerkam bibirku dan payudaraku langsung di remas dari luar bajuku.

"Ahhhh…..ommhhh… pelanhhh…. ahhh…" aku seketika mendesah mendapat serangan tiba-tiba dari om Flores

"Sluurppp… slurppp… ngentotinnhhh bini ko Hendri mana bisa pelanhh" racau om Flores sambil menjilati leherku yang mulus dan mulai berkeringat karna panasnya hawa gudang

"Aahhh.. keringat ce Nely enakhh.. gurihh… " om Flores menyapu seluruh keringat di leher ku dengan lidahnya

"Aahhhh… pelanhhh omhh…. Gelihh… ihhh" aku mendongkak kepala ku ke atas searah jilatan om Flores pada leher putihku, jemariku meremas-remas rambut keriting om Flores

"Ahhhh… mantaphh.. bolehkan bini ko Hendri om pake memeknya hehe" om Flores nyengir di depanku,

aku hanya mengangguk pelan tanpa berkata-kata.

"Hahaha bini lu ngasih izin ko" tawa om Flores keras

"Buka baju dong ce" om Flores mendekatkan wajahnya ke leherku kembali sambil menjilat ya

"Aahhhh… awass minggirhhh dulu…mhhh" aku mendorong tubuh om Flores sedikit

"Jangan diliatin" ketusku pada om Flores

"Lah kenapa ce ?" Tanya om Flores yang juga membuka baju dan langsung dengan celana jeans pendek nya, terpampang lah langsung penis besar Hitam berurat om Flores

"Malu, sana jangan liatin" aku menutup kedua payudaraku setelah selesai membuka semua pakaianku

"Hahaha mau ngentot kok malu" om Flores langsung menyosor ke kedua puting payudara ku

"Ihhh…. Sakhhittt…. Pelanhhh… ahhhh" om Flores menggigit gemas kedua putingku dan sepertinya mengecapnya hingga bercak merah di sekeliling payudaraku.

"Ahhh…. Janghhannn di gigithhh" om Flores menggigit dan menariknya hingga nampak payudaraku tertarik mengikuti sedotan bibir om Flores

"Ahhh…. Mantap bener ni tetek ce" dengan liar om Flores membasahi seluruh area payudaraku

"Punya om di anggurin nih ?" Tanya om Flores yang mengarahkan tanganku ke arah penisnya dan dengan sigap ku genggam penis itu yang tidak penuh jemari ku menggenggamnya

"Aahhh.. mantap bener baru di kocok pakai tangan, apalagi masuk ke memek ce Nely " racau om Flores

Seketika badanku di putar balik oleh om Flores dan aku reflek Manahan tubuhku menghadap tembok

"Plakk…plakk…" suara tamparan pada kedua bongkahan pantatku

"Awwwwhhh…. Sakkiittthh" perih rasanya pantatku abis di tampar oleh om Flores

"Plak…plakk …plak…" kini dengan tempo cepat om Flores menampar kiri dan kanan membuat pantatku semakin menungging

"Hahaha udah basah ya ce" wajah om Flores ternyata sudah berada di kedua bongkahan pantatku

"Eee…jangannhh di liatinhh om..malu"

"Ahhhhhhh………." Seketika kepalaku mendongkak ke atas bibirku aku gigit ternyata om Flores langsung melahap lubang vaginaku dan lubang anus ku dari belakang.

Rasanya mau melayang tubuhku merasakan sensasi kenikmatan yang di lakukan oleh laki-laki kasar seperti om Flores ini, terasa selangkangan ku dan pantatku basah bercampur keringat dan air liur om Flores

"Aahhh… memekhh bini ko Hendri emang wangi…slurpppp" dia terus menusuk-nusuk lidahnya ke dalam lubang vaginaku

Aku hanya mampu memejamkan mata menahan kenikmatan ini, pinggulku semakin menunggit mengikuti alur jilatan om Flores

"Aaakkkkhhhhh……" seketika aku berteriak karna dengan keras om Flores langsung menghentakkan penisnya ke dalam vaginaku

"Ahhhh…… kenapahhh gak pelanhh pelanhhh… ouhhhhh " aku menatap om Flores sayu karna kesal dengan perlakuannya


"Hahaha memek ce Nely emang enak di kasarin" tawa om Flores

"Om genjot yahh" om Flores bersiap memegang pinggul ku untuk menggenjot penisnya dalam vaginaku

"Aahhh…. Pelanhh omhhh…." Aku menggigit bibir bawahku dan menatap om Flores sayu memancing gairah om Flores untuk berlaku kasar terhadap tubuhku

"Anjing…. Muka Cece bikin om sangek" racau om Flores sambil menggenjot kuat vaginaku

"Plakk…plakk…plak…."

"Ahhhh…aahhh…ahhhh" bunyi peraduan pantatku dan pinggul om Flores beserta suara desahanku memenuhi ruangan gudang hari itu.

"Plokk….plokkk ..plokk…."

"Aahhhkkkk……..rasain ni Hendri kontol om ngobok-ngobok memek bini lu ahhh…." Om Flores dengan tempo cepat menghujamkan penisnya dan seketika pinggulku di lepasnya sehingga aku tersungkur ke depan

"Ahhhhhhh….. ampunhhhh….. aahhhhh" aku menarik nafas dalam-dalam karna sedari tadi tidak di beri ampun oleh om Flores dengan menggenjot penisnya dengan cepat ke vaginaku

"Gak ada ampun haha om mau bikin ce Nely lemas" sambil mengangkat tubuhku om Flores mendirikan ku berhadapan dengannya

"Mmmhhhh….. slurppp…" bibirku di lahapnya dan lidahku disedot-sedot hingga bibir dan daguku kini basah dengan air liur om Flores . Kaki ku yang satu diangkatnya dan om Flores menghujamkan kembali penisnya

Aku hanya bisa menggelengkan kepala kiri kanan, lenganku bergayut di leher om Flores menahan tubuhku agar tidak jatuh

"Aaahhhhh ….. gelihhh….. " aku mendesah sekuatnya di dalam gudang karna menikmati sodokan om Flores

Seketika om Flores menghentikan genjotannya, aku menatapnya satu menandakan kesal karna lagi merasakan puncak kenikmatan om Flores menghentikan sodokannya.

"Ommhhh.." aku menggigit bibir bawahku menatapnya sayu

"Enak punya om apa suami Cece ?" Tanya om Flores sambil menatap wajahku yang memerah dan mataku yang sayu

"Ihhhh….. janghannnhh gitu ahhhh" aku berusaha menyembunyikan wajahku karna malu

"Jawab, kalau gak om gak mulai ni" ancam om Flores

"Punya omhhh… ahhhh…. Slurpppp……" aku langsung menyambar bibir om Flores aku sudah tidak tau lagi aku dengan siapa bercumbu di gudang tempat suamiku meletakkan barang tokonya

"Hahaha….."

"Sini" om Flores tertawa dan tiba-tiba dia melepaskan penisnya dan duduk di atas susunan semen dan dia langsung mengarahkan tubuhku membelakangi nya

Payudaraku di remasnya kuat dari belakang dan penis itu dengan sigap masuk ke dalam lubang vaginaku

"Ahhhh….. enakhh…..terusshhh" om Flores mulai menggenjot vaginaku, tanganku di tarik kebelakang agar om Flores dapat dengan maksimal menggenjot vaginaku

"Mamiiiiiii……….." tiba-tiba kami di kejutkan dengan velin yang sudah berdiri di pintu gudang melihat ke arah kami

"Ahhh….. velinhh…. Lepashhh ommhh… ahhh.." aku berusaha melepaskan tubuhku dari pelukan om Flores dari belakang namun pingggulku di tahan om Flores

"Ahhh…. Lepashhhh…mhhh…" aku berusaha memukul-mukul tangan om Flores namun tenaganya begitu kuat memelukku

"Mamiii….. mamii kenapaaaa…." Teriak velin

"Omm lepashh… ada velinn " aku melirik ke belakang menyuruh om Flores melepaskan tubuhku

"Hahaha enak aja, om belum keluar " tawa om Flores

"Ahahhhh….. janghhh ahhh….."

"Velinhhh…. Pergii sayhhh ahhhh" om Flores kini menggenjot ku dengan tempo cepat

"Ahhhh… ommhhh lepashhh…."

"Velinhhh ke kamhhharr dulu sayhhangghhh… ouhhhh…" suara ku terputus karna menahan desahan akibat genjotan om Flores

"Plok…plok…plok …" bunyi peraduan pantatku dan paha om Flores pun terdengar kuat di gudang itu

Velin tiba-tiba berlari dari pintu gudang entah kemana, seketika om Flores menghentikan genjotannya

"Ahh… omhh.. gilaaa yahhh bangsathh itu anak ku"

"Kurang ajar…." Aku memukul lengan om Flores yang memperlakukan ku di depan velin anakku

"Hahaha…. Biarin…biar dia tau maminya lagi menikmati kontol om hehe" om Flores seketika membalikkan tubuhku dan langsung mengangkat tubuhku di pangkuannya

Kini aku berada di atas pangkuan om Flores yang duduk di atas sak semen

Cucuran keringat sudah membasahi badan kami berdua

"Cepat selesaikan om" aku menatapnya

"Heheh bentar lagi ce, om belum puashh…" om Flores mulai memaju mundurkan tubuhku dengan menekan bongkahan pantatku

"Ahhh…. Ahhhh…..cepathhh omhhh" desahanku mulai terdengar seiring dengan goyangan penisnya pada vaginaku

"Mamiiiii……. Mamiiiii….. ngapain…" teriak Nico, ternyata Nico dan velin kini berdiri di depan pintu gudang

"Ahhhh….. velhhinnhh… nicohhh ahhh…"

"Pergihhh….. janghhann disitu… ahhh" aku mengayunkan tanganku menyuruh mereka pergi sementara om Flores gak memperdulikan mereka

Om Flores tetap menggenjo vaginaku dengan cepat

"Ahhh…. Ahh…. Omhh… anakku ahhhh" aku menatap mata om Flores sayu

"Hahaha… ahhh…. Biarinhhh… maminya om entot…. Mhhhh…. Slurppp " seketika om Flores melahap payudaraku yang menggantung tepat di wajahnya

"Ahhhhahhhh…… nelyhhh keluarhhh….." aku melolong panjang seiring genjotan om Flores yang semakin cepat dan gigitan pada puting payudara ku

"Miiii…….om Flores lepasin mamiiiii….." teriak mereka berdua yang menyaksikan ibunya sedang melakukan persetubuhan dengan anak buah papinya.

Aku hanya menatap mereka sayu karna tidak tau apa yang harus ku perbuat,

"Cepethhh keluarinhh omhhh" aku menatap om Flores kembali dan seketika tubuhku di angkat om Flores dan aku di baringkan di atas tumpukan semen

"Ommm… lepasinnn mamiiiii….."

"Mamiiii…… hiksss……" mereka masih berteriak melihatku sementara tangis velin sudah pecah

"Bentar… om lagi buat dedek untuk kalian hahaha" sambil mengarahkan penisnya ke arah vaginaku

Aku hanya mampu menutup mulutku dengan tangan dan melihat ke arah kedua anakku yang menyaksikan persetubuhan ku dengan om flores. Sesuatu yang seharusnya tidak di perlihatkan oleh orang tua pada anaknya bahkan ini dengan kuli pekerja kasar papi nya sendiri. Seketika air mataku menetes merasakan kondisi saat ini.

"Aaahhhh…. Mantaphhh….." om Flores melesatkan penisnya ke vaginaku, kakiku di bukanya lebar-lebar

"Miii….. udahhh…..miiiii….." mereka masih berteriak di depan pintu gudang

Kepalaku mengadah ke atas karna menerima penetrasi penis om Flores yang sangat cepat saat menggenjot vaginaku

"Mmmhhhh….mhhhh…aahhhh…." Aku menahan desahanku sambil menatap om Flores

Sementara tanganku masih mengayun menyuruh mereka pergi agar tidak menyaksikan persetubuhan ini.

"Plakk…plakk ..plakk …" om Flores semakin cepat mengayunkan penisnya

"Aahhh….di dalamhh yahh…." Racau om Flores

"Eeeehhh…ahhh… janghhh…." Aku menggeleng namun pinggulku semakin terangkat ke atas menerima sodokan om Flores, desakan orgasme ku pun semakin terasa terdorong keluar.

"Aaakkkkhhhhh……" dengan satu lolongan panjang om Flores menumpahkan spermanya ke dalam rahimku dan tubuhku pun bergetar karna merasakan orgasme bersamaan dengan om Flores

Terasa hangat rahimku di tumpahi sperma dan tubuhku terasa lemas, basah karna keringat dan air liur om Flores. Om Flores mendiamkan penisnya di dalam vaginaku terasa kedutan penisnya di dinding vaginaku.

Mataku tertutup erat sementara nafasku tak karuan merasakan orgasme hebat bersamaan dengan om Flores dan perlahan om Flores menarik penisnya keluar. Terasa lelehan sperma mengalir di pahaku jatuh ke atas tumpukan semen.

"Ahhh anjing, mantap bener memek ce Nely, om sampai lemas" om Flores terduduk di lantai sambil menatap lelehan sperma yang keluar dari vaginaku

"Velin, Nico semoga Peju om nanti jadi adek buat kalian ya hahaha" tawa om Flores sambil berdiri mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai

Aku segera membalikan tubuhku membelakangi anakku, karna malu sudah di saksikan darah dagingku sendiri sedang bersetubuh dengan kuli anak buah suamiku.

"Mamiiii……" seketika velin dan Nico berlari ke arahku dan memelukku

"Ehh… sana velin, Nico jangan peluk mami, Mami lagi kotor" aku berusaha menjauhkan mereka dari tubuhku

"Mamiii…. Kenapa… mami ngapain…hikss" tangis velin terisak

"Mami gapapa sayang, kalian keluar dulu gih, tunggu mami di kamar ya" aku menyuruh mereka keluar dari gudang itu

"Ayok… Nico ajak velin ke kamar" suruhku pada anakku

"Iyaa mii…." Nico menggenggam tangan velin dan berjalan keluar dari gudang

Aku segera bangkit dan memakai pakaianku lalu.

"Bangsatttt…. Kurang ajarrr…. Bajingan….." aku memukul mukul tubuh om Flores namun dengan sigap om Flores memelukku dengan erat

"Lepasshh… anjinggg…. Brengsek lu" aku mengumpat sejadi-jadinya pada om Flores

"Lahhh tadi kita ngentot biasa aja, kenapa sayang" om Flores menjilati leherku

"Lepasshh…..lepasinnn" aku mendorong sekuat tenaga tubuh om Flores tapi tenagaku tidak cukup kuat melawan tenaganya

"Itu anak gw, jangan kurang ajar lu bajingan…" aku masih terus melepas kan pelukan om Flores

"Iyaaa tar Peju om jadi anak kita ya hehe" om Flores masih saja tertawa dengan apa yang terjadi padaku.

"Hiksss…. Hikss….." seketika aku menangis

"Udahhh… jangan ngamuk lagi ya ce…yang tadi enak kan…" om Flores mengusap pundakku

"Itu anak Nely om,hiksss…hiks… dia belum ngerti apa-apa hiksss" aku sesegukan menangis kesal dengan om Flores yang masih melanjutkan persetubuhan tadi di depan anak-anak Ku

"Abis nanggung, lagi enak-enak ngentot eh mereka datang, salah mereka sendiri" jawab om Flores seenaknya

Aku hanya terdiam, air mataku terus mengalir membasahi pipiku

"Udah jangan nangis, masak abis ngentot nangis haha" om Flores mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibir ku

Aku hanya diam ketika bibirku di jilati om Flores, lidahnya menerobos mulutku dan menyedot lidahku.

"Ahhh….. udah yok keluar, hehe om suka desahan Nely, buat om semangat genjot memek Nely" om Flores melepaskan pelukannya

"Besok boleh kan om ngentotin Nely lagi" ujar om Flores sambil meremas payudaraku

Aku hanya berdiri mematung tanpa sepatah katapun . Air mata masih mengalir di pipiku

"Om mau ngerokok dulu, toko om buka lagi ya" om Flores pergi meninggalkan ku sendiri di gudang

Aku pun berjalan lemas ke kamarku, pandangan ku kosong. Bukan masalah berhubungan dengan om Flores tadi, tapi bagaimana dengan Nico dan velin yang menyaksikan aku di setubuhi om Flores.

Kubersihkan tubuhku di kamar mandi dan segera mengganti baju dan langsung berjalan ke kamar Nico dan velin. Ketika pintu terbuka kulihat mereka saling termenung

"Nicooo.. velinn" ku dekati mereka

"Maafin mami ya" aku memeluk kedua anakku

"Mami tadi ngapain, mami di apain sama om Flores" ujar velin yang belum mengerti apa-apa

"Mami gak kenapa-kenapa kok, om Flores gak jahatin mami" ujarku sambil ku elus kedua kepala mereka

"Tapi mami kenapa teriak pas om Flores peluk mami, terus om Flores masukin tempat pipis nya ke tempat pipis mami" ujar velin polos

"Mami velin lihat kesakitan kan pas tempat pipisnya di masukin ke tempat pipis mami?" Cecar velin kembali sementara Nico hanya diam tertunduk lesu

"Gak sayang, mami gak kenapa-kenapa ini buktinya baik-baik aja" jawabku

"Velin, Nico mami mau kalian janji ya" ujarku sambil melihat ke arah mereka berdua dan seketika mereka melihat ku

"Kalian harus rahasiain ini dari siapapun dan kalau bisa kalian lupain apa yang kalian lihat tadi" aku menatap mata mereka berdua

"Kenapa gitu mi… kenapa gak bilang ke papi biar papi pukul om Flores" tanya Nico

"Jangan… kalau kalian sayang sama mami sama papi kalian harus janji" tekanku pada mereka

"Bisa ?" Tanyaku kembali

"Tapi mi…" Nico masih menyanggah ucapanku

"Nico kalau kalian sayang sama mami, jangan ceritain ini sama siapapun" aku mengusap rambut Nico dan berusaha meyakinkan nya

"Iyaa mi… Nico janji" ucap Nico lesu

"Velin ?" Tanyaku sambil kutatap matanya

"Iya mi velin juga janji" velin memelukku

"Maafin mami sayang, mami bukan ibu yang baik utk kalian" gumamku dalam hati

"Yaudah mami mau turun dulu ya ke bawah" aku berdiri dan berjalan meninggalkan mereka

Aku hanya berharap mereka bisa melupakan kejadian ini dan menjaga rahasia ini tanpa mengatakannya pada siapapun.

"Ehh…ce Nely udah cantik aja" om Flores duduk tepat di depan meja kasir

Aku terus berjalan dan duduk di meja kasir tempat biasa ko Hendri duduk saat menjaga toko

"Gimana anak ce Nely udah aman ?" Tanya om Flores

"Udah ya om, ini terakhir nely gak mau lagi kejadian seperti tadi" aku berbicara datar pada om Flores

"Yahhh…. Berarti gak boleh ngentotin ce Nely lagi ?" Tanyanya

"Gak…" aku jawab singkat

"Padahal om tadi udah buat ce Nely lemas loh… apa ce Nely gak suka di kasarin ya.. om bisa kok lembut hehe" om Flores menyengir tanpa merasa bersalah

Aku hanya terdiam dengan perkataan om Flores

"Tadi itu luar biasa om"

"Nely lemas sampai sekarang" ujarku dalam hatiku

"Duhhh…kalau di kasih kesempatan lagi om mau deh pelan-pelan hehe" ujar om Flores

"Tar deh ya… Nely masih gak suka om masih ngelanjutin pas ada Nico sama velin" ujarku pelan sambil menatap om Flores

"Hahaha berarti ce Nely suka kan" tawa om Flores

"Gak, kata siapa suka" aku memalingkan wajahku

"Hahaha dapat berapa kali tadi " om Flores sambil berjalan ke tempatku

"Eh ngapain kesini… sana aja nanti nampak orang" aku kaget dengan tindakan om Flores

"Mau remas tetek ce Nely aja" om Flores dari belakang langsung memasukan jemarinya ke dalam baju kaos yang ku pakai

"Lepas omm… lepass…. Nanti nampak orang .. ahhh…." Om Flores dengan kasar meremas payudaraku dengan kuat

"Hahaha dapat berapa kali tadi ?" Tanya om Flores sambil tertawa

"Ihhh…. Ahhh….. apaannhhh sih… ahhh…" om Flores dengan cepat memelintir putingku.

"Jawab dulu ce hahaha tawa om Flores.

"Iihhh… tighh.. tiga … ahhh aku langsung mendorong tangan om Flores keluar dari bajuku.

"Hahaha mantap Rambo, kerja bagus om Flores terlihat mengusap-usap penisnya dari luar celana jeans-nya.

"Sana… nanti ada orang gimana usirku menyuruh om Flores pergi.

"Hihii.. iyaaa… om Flores dengan cepat pindah kembali ke meja di depanku.

"Oh iya ce.. tanya om Flores.

"Kenapa lagi ? jawabku ketus.

"Rokok om habis. boleh pinjam uang hehe.. cengir om Flores sambil mengadahkan tangannya.

"Iihhh… udah merkosa malah minta uang ketusku sambil menepuk telapak tangan om Flores yang langsung dengan cepat om Flores menggenggam tanganku.

"Kulit ce Nely mulus dan putih. Om sangek terus kalau ngeliatin ce Nely. puji om Flores.

"Dasar lu tau aja ya nafsuan ketusku.

"Udah lepas, mau berapa tanyaku kembali.

"30 ribu ce hihi tawa om Flores sambil melepaskan tanganku.

"Nih 100 ribu, ambil aku menaruh uang seratus ribu di atas meja.

"Kalau gini om tiap hari siap genjot ce Nely, di kasih cepek haha tawa om Flores.

"Enak aja, itu terakhir wekk… udah sana pergi aku menjulurkan lidahku dan mengusir om Flores.

Om Flores dengan cepat berjalan keluar menuju ke arah warung untuk beli rokok.

"Fiuhhhh.. kuhela nafas panjang.

Ada rasa puas setelah mendapatkan sentuhan kasar lagi dari laki-laki selain ko Hendri.

"Mhhh…. Ommhhh vaginaku berdenyut membayangkan persetubuhan panas di dalam gudang tadi.

Aku terduduk lemas di kursi dan badanku terasa tidak berdaya sehabis dihajar habis-habisan oleh penis om Flores. Sesekali aku tersenyum membayangkan kenikmatan tadi.

"Pi… mami cuma mau penis besar dan di perlakukan kasar saat di setubuhi tapi hati mami dan cinta mami untuk papi. gumamku dalam hati.

Tersadar dari lamunanku datanglah mobil Hendri. Hendri turun membawa kantong berisi bakso namun tak berapa lama terlihat ce Jesica turun dari mobil Hendri.

"Bakso !! ucap Hendri singkat.

"Ada ce Jesica Pi ? tanyaku namun tidak dijawab oleh Hendri.

"Nely…. Apa kabar ce Jesica berlari kecil ke arahku.

"Sehat… Cece apa kabar kami pun berpelukan.

Namun saat berpelukan dia melihat bercak merah di punggungku.

"Habis ngentot ya ? bisik ce Jesica.

"Eh… gak kok.. sanggahku.

"Mainnya kasar banget sampe ninggalin cupangan hihi ce Jesica melepaskan pelukannya. Aku langsung melihat sekitar pundakku namun tetap tidak terlihat bekas cupangan dari om Flores.

"Itu di belakang leher hihi tawa ce Jesica kecil dan wajahku pun memerah malu lalu berusaha menutupinya dengan rambutku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Pengantin Brutal 5

Sheryl Budak Napsu Gurunya

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Aplikasi XBang Oriental 2

Rahasia Seorang Istri

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Majikanku Kena Rampok

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku