Langsung ke konten utama

Hukuman Les Privat 3


Beberapa hari setelah kejadian di gudang perpustakaan aku masih merasa tubuhku agak lemas setiap kali mengingatnya. Pagi itu aku berangkat ke sekolah seperti biasa dengan seragam SMP yang rapi. Rambutku diikat kuncir kuda sederhana dan kacamata tipis masih bertengger di hidungku. Sepanjang pelajaran aku sulit fokus karena bayangan Dika dan pria tua itu terus muncul di kepalaku.

Saat bel pulang berbunyi aku langsung membereskan buku dan keluar kelas. Begitu sampai di gerbang sekolah aku melihat Kak Dika sudah menunggu dengan motornya. Dia tersenyum tipis sambil melambai. Aku mendekat dengan langkah pelan karena kakiku masih terasa agak goyah.

"Ayo naik Fan. Hari ini kita bakal belajar di tempat yang berbeda. Katanya sambil menyerahkan helm cadangan.

Aku mengangguk pelan lalu naik ke belakang motornya. Tanganku memeluk pinggang Dika dengan agak erat. Motor mulai melaju meninggalkan area sekolah. Angin sore terasa sejuk di wajahku tapi dadaku justru berdebar lebih kencang. Kami tidak lama di jalan karena Dika langsung membelok ke sebuah warung kopi kecil yang berada di pinggir jalan dekat sekolah. Warung itu biasa dipakai nongkrong oleh beberapa sopir angkot dan pekerja harian. Tempatnya sederhana dengan meja-meja kayu panjang dan kursi plastik. Beberapa orang sudah duduk di sana sambil minum kopi dan merokok.

Dika memarkir motor di samping warung kopi lalu mengajakku turun. Kami masuk dan duduk di meja pojok yang agak terpisah dari yang lain. Aku masih memakai seragam lengkap dengan rok biru tua yang panjangnya sampai lutut. Beberapa sopir angkot melirik ke arahku sekilas tapi lalu kembali ke obrolan mereka. Dika memesan dua gelas es teh manis dan sepiring gorengan.

"Kamu masih ingat aturan kita kan fan.. ? katanya pelan sambil menatapku tajam.

Aku mengangguk kecil sambil menunduk. 
"Iya Kak.. Kalau salah harus dihukum.

Dia tersenyum tipis lalu menyodorkan buku catatan yang dibawanya. "Sekarang coba kamu kerjain soal nomor satu dulu. Kalau salah ada hukumannya seperti biasa. 

Aku mulai mengerjakan soal itu dengan tangan yang agak gemetar. Suasana warung cukup ramai dengan suara obrolan sopir angkot dan bunyi gelas yang berdenting. Aku berusaha fokus tapi pikiranku terus melayang ke kejadian sebelumnya. Jawabanku untuk soal pertama ternyata salah. Dika menyandarkan punggungnya lalu berbisik rendah.

"Salah fan !! Buka satu kancing baju seragammu sekarang. Katanya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Aku menelan ludah keras lalu melirik ke kanan dan kiri. Beberapa meja dari kami ada tiga orang sopir angkot yang sedang tertawa sambil minum kopi. Dengan tangan gemetar aku membuka kancing paling atas baju putihku. Celah kecil di dadaku langsung terlihat samar. Dika mengangguk pelan seolah puas.

"Sekarang kita coba lanjut soal nomor dua. katanya lagi.

Aku mencoba mengerjakan soal berikutnya tapi konsentrasiku semakin buyar. Jawaban kedua juga salah. Kali ini Dika menyuruhku membuka kancing kedua. Dadaku yang tertutup bra tipis mulai lebih jelas terlihat dari celah seragam. Aku merasa wajahku panas dan napasku mulai tidak teratur. Beberapa sopir angkot sesekali melirik ke arah meja kami tapi sepertinya mereka belum curiga apa-apa.

Dika terus memberi soal demi soal. Setiap kali aku salah dia menyuruhku membuka kancing berikutnya hingga akhirnya hampir semua kancing baju seragamku terbuka. Seragamku sekarang hanya tertutup longgar dan celah di bagian dada terlihat cukup lebar. Aku berusaha menutupinya dengan tangan tapi Dika melarang pelan.

"Jangan ditutup. Kamu harus jalani hukumanmu. Katanya sambil tersenyum tipis.

Salah satu sopir angkot yang duduk tidak jauh dari kami mulai memperhatikan lebih lama. Dia pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan kulit gelap dan badan kekar. Namanya Pak Joko kalau tidak salah karena aku pernah dengar teman-temannya memanggil begitu. Dia melirik ke arah dadaku yang terbuka lalu berbisik something ke teman-temannya. Beberapa orang lain ikut melirik.

Dika sepertinya sengaja membiarkan situasi itu berlangsung. Dia menyodorkan soal berikutnya yang lebih sulit. Aku gagal lagi menjawabnya. Kali ini dia tidak menyuruh membuka kancing melainkan berbisik di telingaku.

"Sekarang angkat rokmu sedikit di bawah meja. Biarkan aku sentuh. Katanya rendah.

Aku menggigit bibir lalu perlahan mengangkat rok seragamku hingga ke paha. Tangan Dika langsung menyusup ke bawah meja dan menyentuh paha mulusku. Jemarinya merayap naik pelan hingga menyentuh celana dalamku. Aku menahan napas dan berusaha tetap diam meski tubuhku mulai bergetar. Pak Joko dan teman-temannya semakin sering melirik ke arah kami.

Dika terus menggerakkan jarinya di balik rokku sambil aku berpura-pura mengerjakan soal. Sensasi itu membuat lendir kawin mulai keluar dan membasahi celana dalamku. Aku mencoba menahan desah tapi napasku sudah mulai pendek-pendek. Pak Joko akhirnya berdiri lalu mendekati meja kami dengan senyum lebar.

"Eh.. Deek... ini anaknya siapa sih ? Cakep banget. Mukanya kaya boneka cina.. tanya Pak Joko sambil menatapku dari atas ke bawah.

Dika tersenyum santai. "Ini Fania murid les private saya Pak. Katanya dia bosan kalau belajar dirumahnya terus makanya aku ajak belajar disini.

Pak Joko tertawa kecil lalu duduk di kursi sebelahku tanpa diminta. "Les privat kok sampe buka buka baju segala sih.. kalau begitu caranya mah bapak juga mau tuh jadi gurunya. Hehe..

"Iya pak katanya disini agak gerah makanya buka baju dikit biar gak keringetan. Jawab Dika sekenanya.

"Kalau bapak perhatian si non ini kayaknya pinter pinter bodoh ya.. soalnya daritadi bapak perhatiin salah mulu kalau lagi menjawab soal.

"Iya pak.. bapak tau aja. Makanya orangtuanya minta bantuan saya untuk ngajarin dia belajar. Kata orangtuanya sih kalau dia lagi nakal dan gak mau belajar boleh dikasih hukuman. 

"Waduh apa gak kasian kalau amoy imut kayak boneka gini harus dihukum.. kalau bapak punya anak kayak gini mah pasti bakal bapak manjain terus dirumah. Bapak pangku sambil ciumin pundak dan remesin teteknya dari belakang. Pasti bakalan amoynya bakalan senang banget kalau dimanjain kayak gitu. Hehe..

"Hehe.. bapak bisa aja.. masa diremesin teteknya sih. Kan teteknya aja belum berkembang maksimal pak.. ukurannya aja masih segede pentil mangga. Tapi omongan bapak emang bener juga. Amoy imut kayak gini sayang banget kalau dihukum dengan cara dipukul. Makanya saya kasih hukuman yang enak enak aja. 

"Justru mangga pentil itu yang paling enak buat dirujak dek.. asem dan bikin badan jadi seger. Apalagi kalau pentilnya sambil dikenyotin.. uuhh pasti mantap banget tuh rasanya. Kata Pak Joko.

Aku langsung menunduk malu dan mencoba menutup baju seragam sekolahku tapi Dika memegang tanganku pelan agar tidak bergerak. Pak Joko semakin berani. Tangannya menyentuh bahuku lalu turun ke lengan seragamku.

"Wah kalau soal yang enak enak mah bapak paling jagonya tuh. Kalau gitu bapak boleh dong ikutan kasih hukuman buat muridmu ini. Bapak jamin kalau udah dikasih hukuman. Muridmu pasti bakalan tambah semangat belajarnya. katanya dengan suara serak sambil tersenyum lebar.

Dika melirikku sebentar lalu mengangguk. "Boleh Pak. Tapi Fania harus nurut ya.

Pak Joko langsung meraih tanganku dan meletakkannya di pahanya sendiri. "Bagus. Sekarang buka kancing yang tersisa Fan. Biar Pak Joko bisa lihat lebih jelas.

Aku menelan ludah lalu dengan tangan gemetar membuka kancing terakhir. Seragamku sekarang benar-benar terbuka lebar dan payudaraku yang masih tertutup bra tipis terpampang jelas. Pak Joko mendesis pelan sambil menatap buah dadaku dengan penuh napsu.

"Putih banget badannya.. mukanya juga imut kayak maenan boneka cina.. Gumamnya sambil tangannya langsung meremas payudaraku dari atas bra.

Aku menggeliat kecil dan mendesis pelan. "Uhh... Jangan paak.. 

Dika hanya duduk diam sambil memperhatikan dengan mata yang sudah penuh gairah. Pak Joko semakin berani. Dia menarik tali bra-ku ke bawah hingga  payudaraku terbebas. Jemarinya langsung mencubit puting susuku pelan lalu meremas buah dadaku dengan kasar. Sensasi itu membuat tubuhku panas dan kemaluanku semakin basah.

Beberapa sopir angkot lain mulai mendekat ke meja kami karena penasaran. Suasana warung yang tadinya biasa saja sekarang terasa semakin panas dan tegang. Pak Joko menarik kursiku lebih dekat ke dia lalu tangannya menyusup ke bawah rokku.

"Ternyata boneka cinanya bisa basah juga.. 
katanya sambil tersenyum puas. Jemarinya meraba liang kewanitaanku dari luar celana dalam lalu menekan lembut.

Aku meremas ujung meja dan menggigit bibir agar tidak mengerang keras. "Ahh... Jangan Pak...
Dika ikut mendekat dan berbisik di telingaku. "Nikmati saja fan. Anggap aja ini bagian dari hukumanmu hari ini.

Pak Joko menarik celana dalamku ke samping lalu memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam liang kewanitaanku yang sudah licin oleh lendir kawin. Gerakannya cepat dan kasar membuat tubuhku menggeliat di kursi plastik. Aku menahan napas dan tubuhku bergetar hebat.

Beberapa sopir angkot lain sekarang sudah mengelilingi meja kami. Mereka menonton dengan mata lapar sambil sesekali mengusap celana mereka sendiri yang mulai menonjol. Pak Joko terus memompa jarinya di dalam kemaluanku sambil meremas payudaraku dengan tangan satunya.

Aku sudah tidak bisa menahan desah lagi. "Uhhh... ahh... Udahh Pak... Tolong brentii..

"Nikmatin aja fan.. jangan ditolak.. nanti juga kamu bakal keenakan kayak di perpustakaan.

Dia justru menambah kecepatan jarinya hingga tubuhku melonjak kecil di kursi. Gelombang nikmat mulai menumpuk di perutku. Dika memegang bahuku dari samping agar aku tetap duduk tegak. Beberapa tangan lain mulai menyentuh paha mulusku dan meraba payudaraku secara bergantian.

"Aaakkkh.. udaaahh.. please brenttii paaak.. aduhhh.. ssshhh..

Suasana warung kopi yang biasanya ramai obrolan sekarang hanya dipenuhi suara desahanku yang tertahan dan napas berat para pria di sekitarku. Pak Joko tersenyum lebar sambil terus menggenjot kemaluanku dengan jarinya.

"Baru dikobelin pake jari aja udah kelojotan nih bonek cinanya.. gimana kalau lubang nya dijejelin kontol.. hehe.. katanya serak penuh nafsu.

Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil tubuhku terus bergetar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya di warung kopi yang terbuka ini. Pak Joko tersenyum lebar sambil menarik tubuhku bangun dari kursi. Tangannya yang kasar memegang pinggangku erat lalu membawaku ke kursi kayu panjang di pojok warung kopi. Kursi itu cukup lebar dan agak tersembunyi di belakang meja panjang meski masih terlihat dari beberapa arah. Beberapa sopir angkot lain ikut berdiri dan mendekat untuk menonton dengan mata penuh gairah.


Dia duduk lebih dulu di kursi kayu itu lalu menarikku ke pangkuannya menghadap ke depan. Rok seragam biru tuaku langsung tersingkap tinggi hingga naik ke pinggang. Celana dalamku sudah ditarik ke samping sejak tadi sehingga kemaluanku terbuka lebar. Pak Joko membuka resleting celananya dengan cepat lalu mengeluarkan batangnya yang sudah keras dan tebal.

"Naik sini non... duduk di pangkuan bapak.  katanya serak sambil memegang pinggangku dan menuntun tubuhku turun.

Aku menggigit bibir keras lalu perlahan menurunkan tubuhku. Batang Pak Joko yang panas dan tebal langsung menyentuh bibir kemaluanku lalu perlahan menghujam masuk dari bawah. Rasa penuh dan panas langsung memenuhi liang kewanitaanku hingga aku mendesis pelan. "Uhhh...

Tubuhku sekarang benar-benar duduk di pangkuannya dengan batangnya tertanam dalam. Rok seragamku terangkat tinggi sampai ke pinggang sehingga siapa saja yang melihat dari depan bisa melihat persatuan tubuh kami. Pak Joko memeluk pinggangku erat dari belakang lalu mulai menggerakkan pinggulnya pelan. Batangnya memompa naik turun di dalam kemaluanku dengan irama yang mantap.

Dika duduk di depan kami di meja yang sama lalu menyodorkan buku catatan dan pensil. "Sekarang lanjut kerjain soal nomor tiga fan. Kak Dika mau liat kamu kerjain soal sambil diginiin sama si bapak.

Aku mencoba memegang pensil dengan tangan gemetar sementara tubuhku naik turun pelan mengikuti gerakan Pak Joko. Batangnya terus menghujam masuk keluar liang kewanitaanku membuat lendir kawin semakin banyak keluar dan membasahi paha mulusku. Napasku sudah mulai tersengal dan susah fokus ke soal di depan.

Jawabanku untuk soal itu salah. Pak Joko langsung meraih buah dadaku dari belakang dengan kedua tangannya lalu meremasnya kasar. Jemarinya mencubit puting susuku dan memelintirnya kuat. "Jawabannya salah lagi... Terima hukumannya..

"Aaahhh... sakit Pak... uhhh!" jeritku tertahan tapi cukup keras hingga beberapa sopir angkot yang menonton ikut mendesis puas.

Puting susuku terasa panas dan perih karena dipelintir kasar tapi sensasi itu justru membuat liang kewanitaanku semakin mencengkeram batang Pak Joko. Dia semakin cepat memompa dari bawah sambil terus meremas payudaraku. Rokku yang naik ke pinggang bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan. Dika menyodorkan soal berikutnya dengan senyum tipis. "Soal nomor empat. Kerjain dengan benar ya.

Aku berusaha menulis jawaban tapi tubuhku terus terguncang karena batang Pak Joko yang menggenjot kemaluanku dengan irama semakin cepat. Lendir kawin terus mengalir keluar dan membuat suara basah setiap kali batangnya masuk keluar. Jawabanku lagi-lagi salah.

Pak Joko tertawa serak lalu meremas buah dadaku lebih brutal. Jemarinya memelintir puting susuku ke kiri dan ke kanan dengan keras sampai aku tidak bisa menahan jeritan. "Aaaahhh...! Kak... Pak... pelan... Pelaann.. uhhhnn... sakit sekali!

"Haha.. ternyaya enak juga maenin puting boneka cina.. Bisa ngeluarin suara desahan kalau diplintir putingnya.

Tubuhku menggeliat hebat di pangkuannya sementara batangnya terus menghujam dalam-dalam. Setiap kali aku menjerit liang kewanitaanku justru semakin basah dan mencengkeram kejantanan Pak Joko lebih erat. Beberapa sopir angkot lain sudah mengeluarkan batang mereka sendiri dan mengocoknya pelan sambil menonton.

Dika terus memberi soal demi soal. Tiap kali jawabanku salah Pak Joko akan meremas payudaraku kasar dan memelintir puting susuku hingga aku menjerit-jerit. "Aaahh... uhhh... salah lagi... maaf Pak... ahhh!

Napasku semakin pendek-pendek. Tubuhku penuh keringat dan rok seragamku sudah basah oleh lendir kawin yang menetes ke kursi kayu. Pak Joko semakin brutal memompa batangnya dari bawah membuat tubuhku naik turun dengan cepat di pangkuannya. Setiap hentakan membuat buah dadaku bergoyang liar dan puting susuku semakin merah karena terus dipelintir. Salah satu sopir angkot mendekat lalu ikut meremas payudaraku yang satunya sambil terkekeh. "Enak ya Fan... diginiin sambil belajar.

Aku hanya bisa melenguh dan menjerit kecil setiap kali hukuman datang. "Uhhh... aaahhh... Kak Dika... soalnya susah sekali....

Dika tersenyum sambil menyodorkan soal baru. "Terus kerjain Fan. Kalau salah lagi hukumannya akan lebih kasar.

Pak Joko semakin kencang menggenjot kemaluanku dari bawah. Batangnya menghujam sampai ke dasar liang kewanitaanku berulang kali. Aku berusaha menulis jawaban tapi tanganku gemetar hebat dan mataku sering terpejam karena kenikmatan bercampur rasa perih di puting susuku. Setiap kali jawaban salah jeritanku semakin nyaring memenuhi pojok warung kopi.

Tubuhku terus bergoyang di pangkuan Pak Joko sementara rok seragamku tetap tersingkap tinggi ke pinggang. Batangnya yang tebal terus memompa tanpa henti membuat lendir kawinku semakin banjir. Aku tahu ini masih jauh dari selesai dan semakin banyak orang yang memperhatikan kami di warung itu.

Aku menarik napas panjang sambil mencoba fokus ke soal berikutnya meski tubuhku sudah gemetar hebat menanti hukuman selanjutnya.

Pak Joko masih memompa batangnya di dalam kemaluanku dengan irama yang kuat meski napasnya sudah mulai tersengal. Dia belum mencapai klimaks. Tiba-tiba dia memeluk pinggangku erat lalu berhenti gerakannya. Batangnya masih tertanam dalam di liang kewanitaanku yang basah oleh lendir kawin.

"Sudah cukup dulu Fan. Sekarang giliran temen Pak Joko" katanya serak sambil mengangkat tubuhku pelan hingga batangnya keluar dengan suara basah.

Tubuhku masih gemetar dan kakiku lemas. Seorang sopir angkot yang badannya gempal dan kulitnya gelap langsung mendekat. Namanya Pak Budi kalau tidak salah karena teman-temannya memanggil begitu. Badannya besar dan perutnya agak buncit tapi lengannya tebal penuh otot. Dia duduk di bangku kayu panjang yang sama lalu menarikku ke pangkuannya menghadap ke arah pintu keluar warung.

Aku duduk di atas pangkuannya dengan rok seragam yang masih tersingkap tinggi ke pinggang. Batang Pak Budi yang sudah keras dan agak pendek tapi sangat tebal langsung menyentuh bibir kemaluanku. Dia memegang pinggangku dengan tangan besarnya lalu menekan tubuhku turun perlahan. Batangnya menghujam masuk ke liang kewanitaanku dengan dorongan kuat hingga aku mendesis keras. "Uhhh... tebal sekali Pak...

Posisi kami menghadap pintu keluar sehingga aku bisa melihat jelas lalu lintas di jalan raya di depan warung. Motor dan mobil lewat bolak-balik di sore hari yang masih ramai. Siapa saja yang lewat di depan warung bisa melihat siluet tubuhku yang duduk di pangkuan Pak Budi dengan rok tersingkap tinggi. Aku merasa sangat terbuka dan gugup tapi tubuhku sudah terlalu basah untuk menolak.

Pak Budi mulai menggerakkan pinggulnya dari bawah. Batangnya yang tebal memompa naik turun di dalam kemaluanku dengan irama kasar. Setiap hentakan membuat tubuhku naik turun di pangkuannya dan buah dadaku yang masih terbuka bergoyang liar. "Enak ya Fan... dilihat orang lewat" bisiknya serak di telingaku sambil terus menggenjot.

Tiba-tiba seorang sopir angkot lain berdiri tepat di depanku. Dia pria bertubuh sedang dengan wajah agak kasar. Tangannya langsung menjambak rambutku yang diikat kuncir kuda lalu menarik kepalaku ke depan dengan kasar. Wajahku yang imut terpaksa merunduk ke arah kemaluannya yang sudah dikeluarkan dari celana. Batang penisnya yang panjang dan berurat ditepuk-tepukkan ke wajahku berulang kali. Suara tamparan kecil terdengar di pipiku dan hidungku.

"Buka mulutmu Fan... hisap batang Pak Anton sekarang" katanya tegas sambil menarik rambutku lebih keras.

Aku tidak sempat menjawab karena bibirku langsung dilumat buas olehnya. Lidahnya masuk kasar ke dalam mulutku dan menjelajah dengan rakus. Aku hanya bisa mendesah tertahan di sela ciumannya. "Mmmhh...

Setelah puas melumat bibirku dia menarik kepalaku lebih rendah lagi. Batang penisnya yang panas dan berbau kuat ditekan ke bibirku. Aku membuka mulut pelan lalu mulai menghisap ujungnya. Pak Anton mengerang pelan sambil menjambak rambutku lebih kuat dan mendorong pinggulnya maju. Batangnya masuk lebih dalam ke mulutku hingga hampir menyentuh tenggorokan.

Di bawah sana Pak Budi terus memompa batangnya yang tebal di liang kewanitaanku dengan irama brutal. Setiap kali dia menghentak tubuhku terdorong ke depan sehingga batang Pak Anton semakin dalam masuk ke mulutku. Aku terjebak di antara dua batang sekaligus. Mulutku penuh oleh kejantanan Pak Anton yang terus mendorong masuk keluar sementara kemaluanku digenjot habis-habisan oleh Pak Budi dari bawah.

Rok seragamku tetap tersingkap tinggi ke pinggang. Lendir kawinku mengalir deras membasahi batang Pak Budi dan kursi kayu di bawah kami. Aku menggeliat dan mendesis di sekitar batang yang ada di mulutku. "Mmmhh... uhhh...

Pak Anton menjambak rambutku lebih kasar lalu mulai menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dia benar-benar menyetubuhi mulutku dengan kasar. "Hisap lebih dalam Fan... bagus... ahh...

Pak Budi di bawah ikut menambah kecepatan. Tangannya meremas pinggangku kuat sambil batangnya menghujam dalam-dalam ke liang kewanitaanku. "Rapat sekali kemaluanmu Fan... enak banget...

Aku hanya bisa melenguh dan mengerang tertahan. Tubuhku terguncang hebat di antara keduanya. Dari posisi dudukku aku masih bisa melihat mobil dan motor yang lewat di jalan di depan warung. Beberapa pengendara melirik ke arah kami meski mungkin tidak jelas apa yang sedang terjadi. Sensasi ketakutan ketahuan justru membuat gairahku semakin tinggi.

Pak Anton terus menampar-namparkan batangnya ke wajahku setiap kali dia menariknya keluar lalu memasukkannya lagi ke mulutku dengan dorongan kuat. Air liurku menetes-netes ke dagu dan ke batangnya. Pak Budi di bawah terus menggenjot tanpa ampun membuat lendir kawinku semakin banjir.

Dika hanya duduk di samping sambil memperhatikan dengan mata penuh birahi. Dia sesekali menyodorkan soal baru meski aku sudah tidak bisa mengerjakannya dengan benar lagi.

Aku tahu ini masih akan berlanjut karena masih banyak sopir angkot yang menunggu giliran di sekitar kami. Tubuhku terus terguncang di pangkuan Pak Budi sementara mulutku dipenuhi batang Pak Anton yang kasar dan buas. Napasku tersengal-sengal dan seluruh tubuhku sudah basah oleh keringat dan lendir kawin.

Aku hanya bisa pasrah dan menikmati sensasi yang semakin liar di warung kopi sore itu.

Pak Anton akhirnya menarik batangnya keluar dari mulutku dengan suara basah. Air liurku menetes dari bibir ke dagu. Pak Budi di bawah masih memompa sebentar lalu ikut mengangkat tubuhku dari pangkuannya. Batangnya yang tebal keluar dari liang kewanitaanku meninggalkan rasa kosong dan lendir kawin yang menetes ke paha mulusku.

"Sekarang giliran Pak Sugi" kata Pak Budi sambil tersenyum lebar ke seorang sopir angkot lain yang badannya tinggi dan kurus tapi lengannya kuat.




Pak Sugi langsung mendekat. Dia menarikku ke bangku kayu panjang yang sama lalu menyuruhku berlutut di atasnya. Aku berlutut dengan kedua lutut menekan kayu yang keras. Badanku membungkuk ke depan dan kedua tanganku bertumpu pada meja di depanku. Rok seragamku yang sudah kusut tersingkap tinggi ke pinggang sehingga pantatku terbuka lebar ke belakang. Posisi ini membuat kemaluanku terpampang jelas dari belakang.

Pak Sugi berdiri tepat di belakangku. Kedua tangannya mencengkeram pundakku kuat-kuat hingga aku merasa tidak bisa bergerak. Batangnya yang panjang dan agak melengkung sudah keras sepenuhnya. Dia menggesekkan ujungnya di bibir kemaluanku sebentar lalu tanpa aba-aba menghujam batangnya masuk dengan satu dorongan keras.

"Aaaahhh...!" jeritku langsung lolos keras karena rasa penuh dan sakit bercampur nikmat yang tiba-tiba menusuk dalam

Batangnya menghujam sampai ke dasar liang kewanitaanku. Pak Sugi tidak memberi waktu untuk bernapas. Dia langsung memompa lebih cepat dan kasar. Setiap hentakan membuat tubuhku terdorong ke depan dan tanganku hampir lepas dari meja. Suara hentakan daging beradu keras terdengar jelas di pojok warung.

"Plaak! Plaak!" tangannya menampar pantatku bergantian dengan keras hingga kulit pantatku mulai memerah.

"Aaahh... sakit Pak... uhhh... kencang sekali!" jeritku lagi sambil tubuhku menggeliat di atas bangku kayu.

Dia semakin brutal. Pinggulnya menghantam pantatku berulang-ulang membuat rok seragamku yang tersingkap bergoyang liar. Lendir kawinku terus keluar dan membuat batangnya semakin licin sehingga gerakannya semakin cepat. Pak Sugi lalu menjambak rambut kuncir kudaku dari belakang dengan satu tangan. Kepalaku terpaksa mendongak ke atas hingga leherku tegang.

"Uhhh... aaahhh...!" desahku panjang menahan gelombang nikmat yang semakin kuat.

Saat itu dua orang sopir angkot lain ikut bergabung. Satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Mereka berdiri di samping meja sambil meraih buah dadaku yang bergoyang bebas. Tangan mereka meremas payudaraku dengan kasar dan rakus. Jemari yang kasar mencengkeram daging buah dadaku lalu menarik-narik puting susuku kuat-kuat.

"Aaahhh... putingku... uhhhnn... jangan ditarik kasar!" jeritku lagi sambil tubuhku bergetar hebat.

Pak Sugi di belakang tetap menggenjot tanpa henti. Batangnya menghujam masuk keluar liang kewanitaanku dengan irama brutal. Setiap kali dia menarik rambutku lebih keras kepalaku semakin mendongak dan desahanku semakin panjang. Dua tangan di samping terus meremas buah dadaku dan memilin puting susuku hingga terasa panas dan perih bercampur kenikmatan.

Salah satu dari mereka menarik puting susuku ke depan seperti sedang memerah susu. "Enak ya Fan... payudaramu putih dan kenyal sekali.

Tubuhku terguncang hebat di antara ketiga pria itu. Lututku gemetar di atas bangku kayu sementara tanganku berusaha bertumpu kuat di meja agar tidak roboh. Dari posisi mendongak aku masih bisa melihat lalu lintas di jalan depan warung yang masih ramai. Beberapa orang di motor melirik ke arah kami meski mungkin tidak jelas apa yang terjadi di dalam.

Pak Sugi mendesis serak di belakang. "Kemaluanmu semakin rapat Fan... enak banget diginiin.

Dia semakin cepat memompa batangnya. Hentakan demi hentakan membuat pantatku yang sudah merah semakin panas. Dua sopir di samping terus meremas dan menarik puting susuku bergantian hingga aku tidak bisa menahan jeritan dan desahan panjang.

"Aaaahhh... uhhh... aku... nggak kuat... ahhh!"

Aku menggeliat dan melengkungkan punggungku menahan sensasi yang datang bertubi-tubi. Lendir kawinku banjir keluar membasahi batang Pak Sugi dan menetes ke bangku kayu. Pak Sugi masih terus menggenjot kasar sambil menjambak rambutku lebih kuat. Dua tangan di samping tidak berhenti meremas buah dadaku dengan brutal.

Dika duduk tidak jauh dari kami sambil memperhatikan dengan mata penuh gairah. Dia sesekali tersenyum tipis seolah puas melihat aku semakin larut dalam hukuman sore itu.

Aku tahu masih banyak sopir angkot yang menunggu giliran selanjutnya. Tubuhku sudah basah oleh keringat dan lendir kawin sementara desahanku semakin sering lolos tanpa bisa kutahan lagi di warung kopi yang terbuka ini.

Pak Sugi semakin cepat menggenjot batangnya dari belakang. Hentakannya semakin kasar dan pendek-pendek. Tangannya yang menjambak rambut kuncir kudaku semakin kuat hingga kepalaku mendongak tinggi. Dua sopir di samping terus meremas buah dadaku dan menarik puting susuku dengan kasar.

"Uhhh... Fan... kakek mau keluar..." desis Pak Sugi serak.

Tubuhnya menegang keras lalu dia menghujam batangnya sedalam mungkin ke dalam liang kewanitaanku. Air mani yang panas menyembur keluar dan memenuhi rongga kemaluanku. Beberapa kali hentakan terakhir dia lepaskan sambil mengerang berat. Setelah itu dia menarik batangnya keluar perlahan. Sperma putih kental langsung mengalir keluar dari liang kewanitaanku dan menetes ke paha mulusku yang sudah basah.

Aku masih berlutut di atas bangku kayu dengan napas tersengal. Tubuhku gemetar dan pantatku terasa panas karena tamparan-tamparan tadi. Belum sempat aku bernapas lega tiga orang sopir angkot lain sudah mendekat dengan senyum lebar. Mereka bertiga langsung menggantikan posisi Pak Sugi tanpa memberi waktu istirahat.

Sopir pertama yang tinggi dan berkumis tebal berdiri di belakangku. Dia langsung mencengkeram pundakku kuat lalu menghujam batangnya masuk dengan satu dorongan keras. "Aaaahhh...!" jeritku lagi karena batangnya yang panjang langsung menusuk dalam.

Dia memompa dengan irama kasar yang sama seperti sebelumnya. Setiap hentakan membuat tubuhku terdorong ke depan dan tanganku bergetar di atas meja. Sesekali dia menampar pantatku keras hingga suara plaak plaak terdengar nyaring. "Enak ya Fan... digilir gini...

Sopir kedua dan ketiga berdiri di sisi kanan dan kiri meja. Mereka langsung meraih buah dadaku lalu meremasnya dengan brutal. Jemari mereka mencubit dan menarik puting susuku bergantian hingga aku menjerit-jerit. "Aaahhh... putingku... uhhhnn... sakit... ahhh!"

Ketiga pria itu menggilirku dengan gaya yang hampir sama. Sopir di belakang terus menghujam batangnya kuat-kuat ke liang kewanitaanku sementara dua orang di samping meremas payudaraku kasar dan menarik puting susuku. Tubuhku terguncang hebat di antara mereka. Rok seragamku tetap tersingkap tinggi ke pinggang dan lendir kawin bercampur sperma Pak Sugi terus menetes ke paha mulusku.

Sopir pertama di belakang akhirnya menegang dan menyemburkan air maninya dalam-dalam. Sperma panas memenuhi kemaluanku lagi. Begitu dia menarik keluar sperma langsung mengalir deras ke luar dan membasahi pahaku yang sudah lengket.

Langsung digantikan oleh sopir kedua yang berdiri di belakang. Dia menghujam batangnya tanpa ampun dan memompa dengan irama brutal. Tangannya menjambak rambutku dari belakang hingga kepalaku mendongak lagi. Dua sopir di samping tetap meremas buah dadaku dan memilin puting susuku kasar. Aku hanya bisa mendesah panjang dan menjerit setiap kali hentakan terlalu dalam.

"Uhhh... aaahhh... terlalu kasar... ahhh!

Sopir kedua juga klimaks setelah beberapa menit menggenjot kasar. Air maninya menyembur keluar dan menambah volume sperma yang sudah ada di dalam liang kewanitaanku. Saat dia mundur sperma putih kental mengalir deras keluar dari kemaluanku lalu menetes panjang di sepanjang paha mulusku hingga ke lutut.

Sopir ketiga langsung mengambil alih posisi di belakang. Batangnya menghujam masuk dengan dorongan kuat dan dia mulai memompa lebih cepat dari yang sebelumnya. Tangannya mencengkeram pinggangku erat sambil sesekali menampar pantatku yang sudah merah. Dua temannya di samping terus meremas payudaraku tanpa henti hingga buah dadaku terasa panas dan bengkak.

Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku menjerit dan mendesah. Tubuhku hanya bisa menggeliat dan melengkung di atas bangku kayu sementara sperma dari ketiga sopir itu bercampur di dalam kemaluanku. Setiap kali salah satu dari mereka klimaks sperma baru menyembur masuk lalu mengalir keluar lagi dan membasahi paha mulusku semakin tebal.

Ketiga sopir itu bergantian menghujam dan menyemburkan air mani mereka ke dalam tubuhku dengan gaya yang kasar dan tanpa ampun. Sperma mereka terus mengalir keluar dari liang kewanitaanku dan menetes-netes di paha mulusku yang putih hingga kulitku terlihat lengket dan basah oleh cairan putih kental itu.

Aku terengah-engah di atas bangku kayu dengan tubuh gemetar hebat. Rok seragamku kusut dan basah. Buah dadaku merah karena terus diremas dan puting susuku terasa perih. Sperma dari ketiga sopir itu masih mengalir pelan dari kemaluanku ke paha mulusku sementara napasku tersengal-sengal menanti apa yang akan terjadi selanjutnya di warung kopi sore itu.

Dika masih duduk di samping sambil memperhatikan dengan mata penuh birahi. Beberapa sopir angkot lain sudah siap mengantre untuk giliran berikutnya. Tubuhku sudah penuh oleh aroma tubuh pria-pria itu dan cairan mereka yang lengket di pahaku.

Beberapa saat kemudian setelah ketiga sopir itu selesai menyemburkan air mani mereka Dika dan Pak Joko menarik tubuhku yang sudah lemas dari bangku kayu. Sperma mereka masih mengalir pelan dari liang kewanitaanku dan membasahi paha mulusku yang lengket. Rok seragamku kusut parah dan baju putihku masih terbuka lebar sehingga buah dadaku terlihat merah karena remasan kasar.

"Ayo Fan kita lanjut di tempat yang lebih privat" kata Dika sambil memegang lenganku.

Mereka membawaku keluar warung kopi menuju sebuah mobil angkot yang diparkir tepat di samping warung. Mobil angkot itu sudah agak tua dengan cat hijau yang pudar. Pintu geser di samping terbuka lebar. Tiga orang sopir angkot lain yang sudah menunggu langsung naik ke dalam mobil bersama aku dan Dika. Pintu geser ditutup rapat tapi jendela samping tetap terbuka sedikit.

Di dalam angkot suasananya sempit dan panas. Kursi penumpang sudah dilipat sebagian sehingga ada ruang lebih luas di belakang. Bau bensin bercampur aroma keringat pria langsung tercium kuat.

Sopir pertama yang bertubuh kekar langsung menyuruhku berlutut di bangku angkot yang panjang. Aku berlutut dengan kedua lutut menekan jok yang sudah usang. Badanku membungkuk ke depan dan kepalaku didorong keluar melalui jendela geser yang terbuka. Leherku tepat berada di celah jendela. Sopir itu berdiri di belakangku di dalam mobil lalu mencengkeram pinggangku kuat.

Batangnya yang tebal langsung menghujam masuk ke liang kewanitaanku yang masih penuh sperma dari sebelumnya. "Aaaahhh...!" jeritku karena dorongan pertamanya sangat kasar.

Dia mulai memompa batangnya dengan irama brutal dari belakang. Setiap hentakan membuat tubuhku terdorong ke depan sehingga kepalaku semakin keluar jendela. Tangan kanannya lalu mendorong kaca jendela geser itu pelan hingga kaca menjepit leherku cukup erat. Aku merasa sesak napas tapi tidak bisa bergerak sama sekali. Kepalaku terjepit di jendela angkot sementara pantatku tetap berada di dalam mobil.

"Uhhh... aaahhh... leherku... Pak..." desahku terputus-putus.

Dia terus menggenjot kasar tanpa ampun. Batangnya menghujam dalam-dalam ke kemaluanku berulang kali. Suara hentakan daging basah terdengar jelas di dalam angkot yang sempit. Sperma dari sopir-sopir sebelumnya bercampur dengan lendir kawinku dan menetes ke jok angkot setiap kali batangnya keluar masuk.

Dua sopir lain yang berada di dalam angkot ikut mendekat. Satu duduk di samping kiri dan satu di samping kanan. Mereka meraih buah dadaku yang bergoyang liar lalu meremasnya kasar. Jemari mereka mencubit puting susuku dan menariknya kuat-kuat hingga aku menjerit tertahan karena leherku terjepit.

"Aaahhh... uhhhnn...

Sopir yang memompa dari belakang semakin cepat. Tangannya terus mendorong kaca jendela agar leherku semakin terjepit. Aku merasa kepalaku pusing karena sesak napas bercampur sensasi batangnya yang terus menghantam dasar liang kewanitaanku. Tubuhku menggeliat hebat tapi posisi terjepit membuatku hanya bisa pasrah.

Gelombang nikmat mulai menumpuk cepat di perutku. Liangan kewanitaanku semakin mencengkeram batangnya erat. Aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku bergetar hebat dan lututku lemas di atas jok angkot.

"Aaaahhh... aku... keluar... uhhhnn... aaahhh!!" jeritku panjang saat klimaks akhirnya datang dengan hebat.

Cairan kawinku menyembur keluar membasahi batang sopir itu dan jok angkot. Tubuhku menggeliat liar meski leherku masih terjepit kaca jendela. Sperma dari sebelumnya bercampur cairanku sendiri mengalir deras ke paha mulusku. Sopir di belakang mendesis puas dan terus memompa beberapa kali lagi sebelum dia juga menegang dan menyemburkan air maninya yang panas ke dalam kemaluanku.

Dia baru menarik batangnya keluar setelah puas. Sperma baru langsung mengalir keluar dari liang kewanitaanku dan menetes ke lantai angkot. Leherku masih terjepit kaca jendela sementara napasku tersengal-sengal dan tubuhku gemetar hebat karena klimaks yang baru saja melanda.

Dua sopir lain yang meremas buah dadaku tersenyum lebar. Mereka sudah siap menggantikan posisi untuk melanjutkan giliran mereka di dalam angkot yang sempit itu.

Aku masih berlutut lemas dengan kepala keluar jendela dan rok tersingkap tinggi. Sperma dari banyak pria sudah memenuhi pahaku yang lengket. Dika duduk di sudut angkot sambil memperhatikan dengan mata penuh birahi. Masih ada dua sopir lagi yang menunggu giliran di dalam mobil angkot sore itu.

Setelah klimaks yang hebat tadi tubuhku sudah sangat lemas. Dua sopir yang tersisa langsung menarikku masuk lebih dalam ke angkot. Mereka membaringkan aku telentang di lantai mobil yang terbuat dari plat besi dingin dan kotor. Debu dan pasir menempel di punggungku sehingga baju seragam putihku langsung kusut dan kotor. Rok seragam biru tuaku tersingkap tinggi hingga ke pinggang dan baju bagian atas masih terbuka lebar.

Salah satu sopir yang badannya paling besar langsung membuka kedua pahaku lebar-lebar hingga lututku hampir menyentuh lantai di kiri dan kanan. Dia berlutut di antara pahaku lalu memegang batangnya yang sudah keras dan tebal. Tanpa banyak kata dia menghujam penisnya kuat-kuat ke dalam liang kewanitaanku yang masih penuh sperma dari sebelumnya.

"Aaaahhh...!" jeritku keras karena dorongan pertamanya sangat dalam dan kasar.

Batangnya menghantam dasar kemaluanku berulang kali dengan irama brutal. Setiap hentakan membuat tubuhku bergeser di lantai besi yang keras. Punggungku terasa perih karena gesekan dengan plat besi kotor itu. Dia memompa sangat cepat dan kuat seolah ingin menghancurkan liang kewanitaanku.

Saat yang sama temannya yang lain mengangkang di atas wajahku. Dia memegang kepalaku dengan kedua tangan lalu menekankan batang penisnya yang panjang ke bibirku. "Buka mulutmu Fan... hisap kuat-kuat.

Aku tidak punya pilihan. Mulutku terbuka lebar dan penisnya langsung masuk dalam. Dia mulai memompa pinggulnya kasar ke dalam mulutku hingga ujungnya hampir menyentuh tenggorokanku. Air liurku langsung menetes-netes keluar dari sudut bibir karena gerakannya yang cepat dan dalam.

Keduanya memompaku dengan sangat kasar dari dua arah sekaligus. Sopir di bawah terus menghujam penisnya ke kemaluanku dengan hentakan keras yang membuat tubuhku naik turun di lantai besi. Sopir di atas wajahku menggenjot mulutku tanpa ampun seolah sedang menyetubuhi liang kewanitaanku. Tubuhku terjepit di antara keduanya dan hanya bisa bergoyang pasrah di lantai angkot yang sempit.

Dika duduk di kursi angkot sambil memegang smartphone-nya. Dia merekam semua kejadian itu dengan jelas. Layar ponselnya menghadap ke arahku sehingga aku bisa melihat lampu merah kecil yang berkedip menandakan sedang merekam. Matanya penuh gairah saat melihat tubuhku yang kotor dan digilir kasar.

"Uhhh... mmmhh... ahhh..." desahku tercekik di sekitar batang yang ada di mulutku.

Sopir di bawah semakin cepat memompa. Batangnya menghujam masuk keluar liang kewanitaanku dengan suara basah yang nyaring karena bercampur sperma dan lendir kawinku. Tangannya mencengkeram paha mulusku kuat hingga meninggalkan bekas merah. Sopir di atas juga semakin liar. Dia menekan kepalaku ke lantai besi sambil terus menggenjot mulutku dalam-dalam.

Beberapa menit kemudian sopir yang menghujam kemaluanku menegang keras. "Hhh... mau keluar...

Dia menghujam sedalam mungkin lalu menyemburkan air mani panasnya ke dalam rongga liang kewanitaanku. Semprotan demi semprotan membuat sperma baru bercampur dengan yang lama dan langsung meluber keluar saat dia menarik batangnya.

Begitu dia mundur. Sopir yang ada di wajahku langsung turun dan menggantikan posisinya di antara pahaku. Dia langsung menghujam batangnya yang sudah basah oleh air liurku ke kemaluanku dengan dorongan kuat. Sementara itu sopir pertama yang baru klimaks naik ke atas wajahku dan memaksaku menghisap batangnya yang masih menetes sperma.

Keduanya kembali memompaku kasar. Yang satu menghentak kemaluanku dengan brutal sementara yang lain menggenjot mulutku tanpa henti. Tubuhku bergeser-geser di lantai besi kotor karena kekuatan hentakan mereka. Baju seragamku semakin kusut dan kotor oleh debu dan sperma yang menetes.

Dika terus merekam dengan smartphone-nya tanpa berhenti. Sesekali dia mendekatkan kamera untuk mengambil close up wajahku yang penuh air liur dan kemaluanku yang sedang dihujam.

Tak lama kemudian kedua sopir itu hampir bersamaan mencapai klimaks. Sopir di kemaluanku menyemburkan air maninya dalam-dalam dengan erangan keras. Sopir di mulutku juga menegang lalu melepaskan sperma panasnya langsung ke dalam tenggorokanku hingga aku terbatuk-batuk dan sebagian sperma meluber keluar dari bibirku.

Mereka akhirnya mundur sambil tersenyum puas. Aku tergeletak lemas di lantai angkot yang kotor. Napasku tersengal-sengal. Sperma dari banyak pria mengalir deras dari liang kewanitaanku dan dari sudut bibirku. Baju seragamku kusut parah dan penuh noda. Paha mulusku lengket oleh cairan putih kental yang terus menetes.

Dika masih memegang smartphone-nya dengan senyum tipis di wajahnya. "Bagus sekali Fan... pelajaran hari ini sangat berkesan.

Di luar angkot lalu lintas sore masih ramai. Beberapa orang lewat di dekat mobil tapi tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di dalam angkot yang diparkir di samping warung kopi itu.

Aku masih terbaring lemas di lantai besi dengan tubuh penuh sperma dan baju seragam yang kotor. Tubuhku gemetar menanti apa yang akan Dika lakukan selanjutnya.

Setelah kedua sopir itu selesai klimaks dan menarik batang mereka keluar dari tubuhku suasana di dalam angkot menjadi hening sejenak. Aku tergeletak lemas di lantai besi yang kotor dengan napas tersengal-sengal. Sperma mereka masih mengalir pelan dari liang kewanitaanku dan dari sudut bibirku. Baju seragamku sudah kusut parah dan penuh noda debu serta cairan lengket.

Dika akhirnya mematikan rekaman di smartphone-nya lalu mendekat dan membantu aku bangun. Tubuhku masih gemetar dan kakiku lemas sekali sehingga dia harus memegang pinggangku erat agar aku tidak jatuh. Kami turun pelan dari angkot melalui pintu geser yang terbuka.

Beberapa sopir angkot yang tadi ikut bergiliran masih berdiri di sekitar mobil. Mereka tersenyum lebar sambil melihat ke arahku. Salah satu dari mereka mengeluarkan dompet lalu mengambil selembar uang lima ribu dan menyodorkannya padaku.

"Ini buat jajan di sekolah kamu dek... Biar tambah semangat belajar. Katanya sambil cengengesan.

Sopir lain ikut-ikutan mengeluarkan uang. Ada yang memberi dua ribu ada yang memberi lima ribu lagi. Mereka menyelipkan uang-uang itu ke tanganku yang masih gemetar sambil tertawa kecil dan saling pandang.

"Hehe.. anak pintar.. besok kalau mau les disini lagi jangan lupa kasih tau abang ya..
Kata salah satu dari mereka sambil mengelus rambutku.

Aku hanya bisa menunduk malu sambil menggenggam uang receh itu di tangan. Dika tersenyum tipis lalu memegang bahuku dan mengajakku menjauh dari angkot. Kami berjalan pelan kembali ke warung kopi. Aku merasa sangat lelah tapi ada rasa puas aneh yang masih tersisa di tubuhku.

Sebelum pulang aku minta Dika menunggu sebentar. Aku masuk ke toilet warung kopi yang kecil dan kumuh. Di dalam sana aku membersihkan tubuhku sebaik mungkin. Aku mencuci muka membersihkan sisa sperma di bibir dan dagu lalu mengusap paha mulusku yang lengket dengan tisu basah. Aku juga merapikan rok seragamku dan mengancingkan baju putihku kembali meski kainnya sudah kusut dan agak kotor. Rambut kuncir kudaku aku ikat ulang supaya tidak terlalu berantakan. Aku melihat pantulan diriku di cermin kecil yang retak. Wajahku masih merah dan mataku agak sayu karena kelelahan.

Setelah merasa cukup bersih aku keluar dari toilet. Dika sudah menunggu di depan warung sambil memegang helm. Kami naik ke motornya lalu dia mengantarku pulang. Sepanjang jalan aku memeluk pinggang Dika dari belakang dengan lemah. Angin sore terasa sejuk di wajahku tapi tubuhku masih terasa pegal di mana-mana. Sesampainya di depan rumah aku turun dari motor dengan hati-hati. Dika menatapku sebentar lalu tersenyum.

"Besok kita lanjut lagi ya Fan. Masih banyak hal yang kak Dika mau ajarin sama kamu. Katanya pelan.

Aku hanya mengangguk kecil tanpa banyak bicara. Aku masuk ke rumah dengan langkah pelan supaya mama tidak curiga. Tubuhku sangat lelah tapi ada perasaan puas yang aneh di dada. Aku langsung mandi air hangat lama sekali di kamar mandi lalu berganti baju rumah. Malam itu aku tidur lebih awal karena tenagaku benar-benar habis. Tapi di dalam hati aku tahu bahwa besok atau lusa Kak Dika pasti akan mengajakku lagi untuk "belajar" di tempat lain. Dan aku sudah tidak bisa menolak lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Barang Jarahan 3

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Nasib Fenny Yang Malang

Aplikasi XBang Oriental

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Hasrat Dibalik Rumah Mewah

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Draft Amarah Para Buruh 23