By : ohmygoodboy
Aku perempuan Chindo dengan kulit kuning langsat yang mulus. Tubuhku ramping tapi payudara penuh dan pinggul bulat. Aku tahu setiap kali aku berjalan di lorong kantor semua mata pria mengikuti langkahku. Hak tinggi berdetak di lantai dan napasku sedikit bergetar karena aku sadar mereka memandang.
Aku sudah menjadi istri dan ibu dari dua anak kecil. Hidupku terlihat sempurna dari luar. Rumah nyaman suami pekerja keras dan dua anak kecil yang memanggil Mama setiap hari. Tapi setiap pagi aku bangun dengan tubuh yang haus. Jantungku berdegup liar dan hasratku tak pernah benar-benar terpuaskan. Suamiku terlalu lurus. Seks baginya hanya rutinitas biasa. Gerakannya hambar selesai cepat lalu pelukan dingin tanpa api tanpa permainan dan tanpa fantasi sama sekali.
Aku butuh lebih dari itu. Dulu waktu muda aku pernah liar sekali. Tubuhku bukan milik satu lelaki saja. Suamiku tak akan pernah mengerti kenapa kadang hanya dengan tatapan tajam dari rekan kerja pria atau bisikan pelan di telingaku vaginaku langsung berdenyut kuat. Celana dalamku basah meski belum disentuh sama sekali. Aku tidak mencari siapa-siapa tapi mereka selalu datang mendekat. Mungkin karena caraku berjalan yang membuat paha mulusku bergesek pelan di balik rok pensil. Mungkin karena mataku yang bisa terlihat polos tapi sekaligus mengundang bahaya. Atau mungkin karena suara lembutku yang suka menggelitik telinga mereka saat berbicara.
Aku hanya diam menahan gairah itu sambil tetap tersenyum sopan. Tapi di dalam tubuhku sudah mendidih. Liang kewanitaanku berdenyut pelan menanti sesuatu yang kasar dan brutal yang tak pernah kudapatkan di rumah. Dan aku tahu suatu saat hasrat ini akan mencari jalan keluar entah dengan siapa.
Aku suka pagi di kantor bukan karena kopi tapi karena saat aku masuk ruang direktur tanpa mengetuk mata Pak Dimas langsung jatuh ke pahaku. Hari ini aku pakai kemeja putih paling tipis bra hitam tembus pandang dan puting sengaja kubuat keras sebelum masuk jadi aku tahu celananya pasti sudah mulai sempit sejak detik pertama dia melihatku.
"Ada yang bisa saya bantu pak ? Tanyaku manis sambil duduk di depan meja dan kaki kusilangkan pelan.
Dia menatap dadaku dengan mata berlama-lama. “Kamu tahu aku suka laporan diserahkan langsung dengan cara spesialmu.”
Aku berdiri lalu mengunci pintu sampai terdengar klik dan mulai membuka kancing kemeja satu per satu. Udara AC langsung menampar kulitku jadi bra dan celana dalam hitam tipis saja yang menutupi tubuhku sementara stocking masih menempel ketat di paha dan sepatu hak tinggi belum kulepas. Aku naik ke pangkuannya dan tubuhnya sudah terasa panas di bawahku sementara tegangannya menekan keras di antara pahaku. Tangannya menyentuh paha lalu makin naik makin berani sementara mulutku mendesah kecil di telinganya. “Pak Diana haus pagi ini…
Napasnya jadi berat dan tangannya meremas payudaraku yang penuh sementara jari-jarinya kasar menggenggam dan memijat dengan kekuatan. Lidah dan kumisnya menggelitik leherku sehingga aku menggeliat. “Kamu binal sekali hari ini Diana” bisiknya. Bibirnya mulai mencium bibirku panas dan basah lidah kami bertaut dan aku mengerang kecil sementara pinggulku sudah bergoyang di atas pahanya.
Bra kubuka lalu payudara dan puting muda menegang langsung jadi mainan mulutnya dijilat diisap dan digigit pelan sampai aku nyaris menjerit. “Pak keras banget jangan berhenti” desahku sambil menggigit bibir. Tangannya semakin dalam masuk ke celana dalamku dan menemukan memekku yang sudah becek dari tadi sehingga suara slrk slrk menggema di antara desahanku dan tarikan napasnya yang makin liar. “Baru disentuh dikit aja sudah banjir ya Diana” ejeknya. Aku hanya mendesah manja. “Diana suka Pak mainin lebih keras plis…
Dua jari tebalnya masuk sekaligus lalu mengocok memekku dengan kasar sehingga suara kecapan makin liar sementara putingku ditarik dan dicubit bergantian. Aku menahan jeritan mataku menutup dan puncak klimaks tiba-tiba menghantam tubuhku melengkung di pangkuannya sementara cairan muncrat deras dari memekku membasahi tangan dan pahanya.
“Ahh ahh Pak aku keluar” erangku dengan dada naik turun dan pinggulku bergetar.
Dia tertawa dan jari-jarinya penuh cairanku. “Baru diginiin aja udah tumpah dasar lonte kecil.” Aku julurkan lidah lalu menjilati jemarinya. “Diana haus Pak sekarang kasih kontolnya…”
“Heh !! jongkok hisap punya Bapak sekarang !! perintahnya.
Aku langsung turun ke lantai, mulutku menelan batang keras itu, lidahku mengelus dari pangkal sampai kepala, air liur mengalir deras. “Aahh… bagus, Diana… sedot lebih dalam…,” katanya. Aku mengulum, mengisap, menelan, kepala ditekan makin dalam sampai penisnya menyentuh kerongkonganku. Air mataku mengalir, “slrp… slrp…,” suara mulutku penuh liur dan cairan.
“Tahan, jangan mundur… aku mau muncrat di mulutmu, telan semuanya…” Dia menegang, lalu meletuskan sperma panas ke tenggorokanku. Aku menelan rakus, sisa sperma kulap bibir dan kujilat perlahan sambil menatap matanya.
“Bagus, pelacur kecil…,” gumamnya, membelai rambutku.
Ketukan di pintu tiba-tiba mengagetkan. “Buka, Diana! Siapa bodoh yang ganggu kita?” bentaknya.
Aku berjalan telanjang menuju pintu sambil tubuh masih gemetar hebat dan cairan kental menetes pelan di paha mulusku. Kubuka pintu sedikit saja lalu Bram satpam muda yang sering mengintip aku dari kejauhan berdiri membeku di depan dengan mata membelalak lebar. Aku tersenyum nakal sambil membiarkan seluruh tubuhku terpampang jelas di hadapannya.
“Mau masuk sebentar Mas?” pancingku lembut sambil berbalik perlahan memamerkan bokong bulat dan payudara yang masih tegang.
Wajah Bram langsung memerah hebat matanya susah lepas tapi tubuhnya kaku karena ketakutan. “Nanti saja Bu saya… saya kembali lagi nanti…” katanya terbata-bata lalu buru-buru berbalik dan pergi terbirit-birit meninggalkan koridor.
Aku menutup pintu pelan lalu kembali ke pelukan Pak Dimas yang napasnya sudah berat sekali dan matanya menatapku penuh nafsu bercampur rasa cemburu membara. Aku langsung duduk di pangkuannya sambil bibirku menyapu pelan telinganya. “Kalau Bapak kesal lepasin saja amarah di tubuh aku. Bikin aku nggak bisa jalan hari ini Pak…
Tangannya langsung mencengkeram pinggangku kuat lalu mengangkat tubuhku dan membantingku keras ke atas meja. Map-map berhamburan pena berguling ke lantai. Aku terbuka lebar pahaku dibuka paksa oleh tangannya yang kasar sementara tangan satunya menahan kedua pergelangan tanganku di atas kepala sehingga tubuhku benar-benar tak bisa bergerak. Aku hanya bisa menatap matanya yang panas dan penuh kuasa.
Lidahnya menyusuri leherku perlahan lalu menggigit keras puting susu kiriku sampai aku menjerit tertahan. “Kamu diem… rasain balasannya sekarang,” bisiknya serak penuh ancaman. Tangannya menepuk paha dalamku keras lalu menjepit lututku lebar-lebar di atas meja. Kemaluan aku terbuka sepenuhnya basah dan berdenyut sementara dia menekan batang kerasnya pelan dulu lalu menghujam dalam sekali ke liang kewanitaanku yang sudah licin penuh lendir kawin.
Aku menjerit pelan napas tersengal-sengal lalu mulutku langsung ditutup telapak tangannya. “Ssst… kamu cuma mainanku hari ini,” katanya tegas sambil goyangannya langsung jadi keras dan brutal. Meja bergetar hebat suara tubuh kami saling menghantam terdengar jelas “plak… plak… slrp… slrp…”
Puting susuku dicubit keras dan pantatku ditampar berulang kali sampai memerah. Aku menggeliat makin liar tubuh bergetar hebat. “Siapa milikmu hah?” bentaknya kasar.
“Bapak… hanya Bapak…” bisikku tercekik penuh kepasrahan.
Goyangannya semakin liar aku kehilangan kendali sepenuhnya puncak klimaks meledak lagi tubuhku melengkung keras cairan membanjiri meja dan paha. Aku hanya bisa terengah lemas tapi puas luar biasa.
Tanganku diikat cepat dengan dasi sutra miliknya pinggulku dipegang erat sehingga aku tak bisa lari dan memang tak mau lari. Setiap hentakan membuatku menjerit isak bercampur desah liar mataku memohon tapi tubuhku justru menahan gelombang nikmat yang tak henti-henti. Napasnya makin memburu ia menatapku seperti binatang buas. “Bapak keluarkan di dalam aku… aku suka Pak banjiri memek aku…” bisikku lemah penuh harap.
Tubuhnya menegang keras penisnya menghujam lebih dalam lagi lalu semburan panas memenuhi vaginaku penuh. Aku menggeliat hebat klimaks bersamaan aku menjerit panjang tubuh gemetar hebat cairannya memenuhi dalamku menetes ke paha dan meja. Aku hanya bisa tersenyum puas dan liar.
“Sudah tenang Pak?” godaku sambil mencium pipinya pelan.
“Belum. Tubuhmu harus jadi pelampiasan sampai amarahku habis benar-benar,” katanya sambil tertawa rendah lalu mencubit bokongku keras matanya masih menatap liar.
Aku naik lagi ke pangkuannya dada kutempelkan ke wajahnya. “Baru sekali keluar Pak? Kontol Bapak masih keras banget tuh…” kukecup bibirnya pelan lalu menggigit bibir bawahnya lembut. “Ayo mainkan aku lagi Pak. Bawa aku ke kaca ke meja ke lantai. Aku haus Pak… aku pengen dimasukin berkali-kali…
Tangannya meraih leherku mencengkeram kuat. “Dasar pelacur kecil sengaja bikin aku gila ya?” Aku mengangguk lidah menjulur keluar. “Iya Pak aku pelacur yang harus dientot sampai bengkak sampai aku nangis minta ampun…”
Dia membalik tubuhku kasar lalu membantingku lagi ke meja. “Goyangin pantat kamu. Sekarang.”
Tanganku menggenggam ujung meja pantatku diangkat tinggi kontolnya menggesek memekku yang masih basah cairan menetes ke lantai suara “slrk… slrk…” terdengar jelas lalu “plak!” tamparan mendarat keras di bokongku. “Aku bakal keluarin lagi di dalam sampai kamu puas sampai memekmu bener-bener tumpah.”
“Aku cuma pelacur jalangmu Pak… isi terus Pak aku haus…” desisku manja sambil menggoyang pinggul.
Rambutku dicengkeram kepala ditarik ke belakang nafasnya panas di telingaku. “Suka diperlakukan kasar begini ya?”
“Aku sekretaris jalang Pak suka dientot sambil kerja…”
Tamparan lain mendarat di bokongku lebih keras. “Apa kamu? Bilang yang jelas!” bentaknya lagi.
“Aku pelacur murahan yang Bapak entot yang Bapak pake kapan saja di mana saja…” jawabku suara serak penuh birahi.
Dia tertawa rendah lalu mendudukkanku di meja pahaku dibuka paksa tubuhku gemetar hebat. “Pelacur kayak kamu nggak pantas pakai baju. Harus telanjang di kantor biar semua tahu kamu amoy doyan entot.”
Aku mengangguk payudara naik-turun cepat memek makin basah. “Ayo Pak… pakai lagi memek lonte ini. Di atas meja kursi lantai pun aku rela…”
Tanpa banyak bicara lagi dia memasukkan kontolnya keras dan dalam sekali tangan menekan leherku mata tak lepas dari mataku. Dia menggeram keras. “Pelacur jalang… aku keluarin di dalam kamu lagi biar kamu hamil…”
Aku memeluk tubuhnya erat. “Iya Pak isi aku tumpahin semuanya ke dalemku…”
Hari itu meja kerja jadi saksi bagaimana aku disetubuhi berulang kali klimaks meledak berkali-kali cairan membanjir suara kami memenuhi ruangan. Aku pulang ke rumah tubuh masih bergetar aroma sperma dan sisa cairan panas menempel di paha serta pakaian. Aku cuma tersenyum karena malam ini aku tahu aku akan tetap haus dan besok aku pasti kembali ke kantor serta kembali menjadi pelacur kecil milik Pak Dimas.
Part 2
Sudah larut malam ketika hujan deras membasahi atap-atap seng pabrik dan lorong-lorong sepi hanya diterangi lampu neon muram. Di kantor admin yang jendelanya tak tertutup tirai bayangan dua tubuh bergerak liar Diana masih mengenakan rok kerja setengah terbuka tubuhnya menegang di tepi meja rambut tergerai acak-acakan sementara Pak Dimas atasannya menindih dari belakang napasnya berat suara tubuh saling menghantam menyatu dengan derik kipas tua.
Di luar merapat ke tembok di bawah jendela seorang satpam tua gemuk berkulit hitam bernama Parjo menahan napas. Hujan membasahi bahu dan seragam satpamnya tapi ia tak peduli matanya menatap ke dalam melalui sela jendela yang sedikit terbuka jelas melihat lekuk tubuh Diana wajahnya memekik matanya setengah tertutup menikmati sentuhan tangan dan ciuman Pak Dimas. Di tangan Parjo HP tua merekam semuanya dari suara erangan rayuan kasar sampai nama Diana yang disebut Pak Dimas saat tubuh itu menegang di akhir klimaks.
Parjo mematung lama di bawah hujan nafas tercekat dada penuh dendam yang tiba-tiba terasa manis. Ia ingat hari-hari ketika Diana mempermalukannya di depan banyak orang memaki sebagai satpam malas menyuruhnya bersih-bersih kamar mandi menolak bicara sopan. Kini semua harga diri Parjo yang pernah diinjak-injak seolah terbalas lunas malam itu kali ini giliran Parjo yang memegang rahasia Diana.
Malam itu juga Parjo pulang ke rumah kontrakan kecilnya di pinggiran kota pakaian basah dan bau lumpur. Di kamar sempit yang lampunya temaram ia menonton ulang video itu berkali-kali napas berat mata merah dendam dan nafsu bercampur di kepala. Setiap detik tubuh Diana yang terbuka suara erangan malu-malu membuat Parjo merasa paling berkuasa paling hidup.
Hujan mengguyur deras suara air menabrak genteng dan jalan setapak di depan rumah kecil Diana. Lampu-lampu tetangga mulai satu-satu dipadamkan hanya sisa cahaya kuning remang dari teras dan ruang tamu Diana tempat keluarganya bersiap istirahat setelah hari panjang. Suaminya sudah mengenakan kaos lusuh anak-anak mulai rewel minta ditemani masuk kamar.
Di luar di balik gerimis suara langkah berat mendekat terdengar ketukan keras di pintu pagar besi. Diana mengintip dengan hati tak enak di bawah terang lampu teras berdiri Parjo satpam tua pabrik yang tubuhnya basah oleh hujan rambut menempel di dahi seragam pabrik sudah agak kotor membawa map plastik murahan dan menggenggam HP tua di tangan kanan.
Diana bergidik ingin pura-pura tidak dengar tapi suaminya keburu bangkit mengambil payung kecil lalu membukakan pintu. “Pak Parjo malam-malam begini ada apa?”
Parjo berusaha ramah suara dibuat serendah mungkin. “Maaf Pak dapat titipan dari bagian security dokumen penting harus langsung ke Bu Diana katanya nggak boleh tunggu besok dari atasan juga…”
Matanya menatap Diana senyum tipis ada sorot kemenangan di balik wajah yang pura-pura bodoh.
Diana terpaksa memanggil Parjo masuk menghapus sisa keberanian di wajah. Aroma hujan bercampur bau keringat satpam tua itu langsung mengisi ruang tamu mungil mereka. Parjo menaruh map plastik di atas meja sambil mengelap wajah dengan lengan seragam meninggalkan bekas lumpur samar di pipi. Ia mengedarkan pandang sesekali mengintip ke arah kamar memastikan hanya Diana yang jadi sasarannya malam itu.
“Duduk aja Pak Parjo biar nggak masuk angin saya ke kamar dulu sama anak-anak ya Bu…” Suami Diana menyerahkan istri dan ruang tamunya tanpa curiga ia mencium pipi Diana sekilas lalu membawa kedua anak mereka ke kamar pintu tertutup. Hanya suara TV pelan dan hujan di luar jadi saksi.
Diana duduk berjarak satu sofa dari Parjo tubuhnya kaku napasnya pendek. Parjo tampak santai tubuh besar menjulur di atas kursi paha mengangkang lebar map plastik didorong ke tepi meja. Sesaat suasana benar-benar sunyi hanya denting air dari luar dan suara sandal suami Diana menjauh.
Parjo melirik ke arah Diana matanya menatap tajam lalu tersenyum lebar. “Maaf Bu Diana ganggu malam-malam gini ya namanya juga kerja tadi di kantor admin banyak yang lembur jadi baru sekarang bisa disampaikan.”
Diana mencoba bicara seramah mungkin. “Nggak apa-apa Pak ada apa memangnya?”
Parjo tidak langsung menjawab tangannya yang kasar dan berbau rokok itu membuka map plastik pura-pura mencari dokumen padahal yang dicari adalah momentum. Setelah sejenak dia mengeluarkan HP tua dari saku mengelap layar yang sedikit basah menyalakan lalu menatap Diana dengan senyum tipis penuh isyarat.
Suasana makin tegang Parjo menatap layar HP membuka sebuah file video lalu menaruh HP itu di atas meja layar menghadap ke Diana. Video langsung berputar suara berat Pak Dimas desahan Diana gambar jelas tubuh Diana di atas meja kantor pakaian setengah terbuka suara tubuh saling menghantam lampu neon putih semuanya terekam dari awal sampai akhir. Suara ruangan tiba-tiba hilang hanya desahan dari HP Parjo yang menggema di telinga Diana.
Diana langsung pucat matanya membelalak mulut tak bisa berkata apa-apa wajahnya kaku napas tertahan. Tangannya gemetar memandang Parjo dengan campuran ketakutan dan ketidakpercayaan. “Pak tolong jangan tolong hapus…” bisiknya pelan suara tercekat tubuhnya tiba-tiba terasa ringan hampir terangkat dari kursi.
Parjo hanya menyeringai wajahnya mendekat napas berat dan bau rokok memenuhi ruangan sempit. “Tenang aja Bu Parjo ngerti kadang orang punya rahasia sendiri tapi rahasia begini kan bahaya ya?”
Dalam kepanikan Diana tiba-tiba memberanikan diri menyambar HP itu dari atas meja sebelum Parjo bisa menahan jari-jarinya bergetar keras air mata sudah mengalir ia menekan tombol hapus berkali-kali membuka galeri menghapus video panas itu sampai hilang dari memori. Lalu dengan kemarahan bercampur putus asa Diana melempar HP itu ke dada Parjo air matanya meledak napasnya terengah mulut bergetar. “Sudah sudah nggak ada pergi dari rumah saya sekarang!”
Untuk sesaat Diana merasa menang seolah seluruh beban menghilang tapi Parjo hanya tersenyum lebar mengambil HP itu pelan-pelan mengusap layar lalu menatap Diana seperti melihat anak kecil yang baru saja gagal melakukan sesuatu yang besar.
“Ibu Diana pikir Parjo bego ya?” katanya pelan suaranya rendah lebih berbahaya daripada teriakan. “Video itu udah Parjo backup ke komputer udah Parjo copy ke flashdisk ke email satu klik aja bisa nyebar Bu mau ke grup WA pabrik mau ke suami Ibu mau ke atasan atau HR tinggal pilih.”
Diana langsung jatuh terduduk di sofa tangan menutup wajah bahu berguncang menahan isak matanya memohon suara tercekat. “Pak maaf saya mohon tolong jangan saya punya anak saya punya suami saya siap lakukan apa aja asal jangan sebar jangan hancurkan hidup saya…”
Parjo membiarkan Diana menangis sejenak lalu dengan tenang tubuh tambunnya maju mendekat membungkuk ke arah Diana bau keringat sabun murah dan rokok menempel kuat. “Tenang aja Bu Parjo nggak mau uang nggak mau ribet Parjo cuma minta satu Ibu nurut sama semua syarat Parjo jangan macam-macam jangan coba-coba lapor ke siapa pun.”
Tangannya menepuk bahu Diana kasar hangat menakutkan. “Ibu harus ngerti diri harus baik sama Parjo kalau Ibu pintar rahasia Ibu aman tapi kalau sekali aja Ibu bandel—” Parjo mengangkat HP jarinya menunjuk tombol share. “—hidup Ibu kelar Bu ngerti?”
Diana hanya bisa mengangguk air mata masih mengalir tubuhnya lemas seperti tak bertulang ia tahu malam itu hidupnya sudah bukan miliknya lagi ia benar-benar ada di bawah kuasa Parjo satpam tua yang dulu ia remehkan.
Diana masih tersedu di sofa matanya basah tubuh bergetar Parjo mendekat lagi menunduk napasnya kasar dan hangat menabrak pipi Diana ia menatap Diana seakan menelanjangi senyumnya penuh rasa bangga yang menjijikkan.
Diana masih terguncang air mata membasahi pipi tubuhnya membeku di sofa napas pendek-pendek daster tipis warna biru langit yang ia pakai menempel di kulit hanya menutupi tubuhnya sebatas paha kakinya dilipat ke arah dada berusaha menjaga jarak tapi Parjo makin dekat tubuh besar dan bau keringatnya memenuhi ruang tamu sempit itu.
“Tenang ya Bu jangan nangis terus nanti cantiknya hilang” bisik Parjo suara rendah kasar tangannya besar kasar dan hangat mulai menepuk-nepuk lembut bahu Diana lalu berpindah ke lengan mengelus pelan seolah menenangkan tapi makin lama makin turun ke sisi payudara lalu ke paha. “Santai aja Bu Parjo nggak bakal macem-macem asal Ibu nurut ya…”
Diana langsung menepis tangan Parjo bahunya menegang dada naik-turun. “Pak jangan tolong ada suami saya di kamar jangan di sini saya mohon…” Suaranya panik nyaris berbisik takut suaminya keluar dan melihat.
Parjo cuma nyengir matanya merah batang kontolnya jelas menonjol keras di balik celana satpam lusuhnya dari tadi tertahan ingin meledak. “Heh kalo nggak mau gampang Parjo bisa aja langsung panggil suami Ibu ke sini sekalian liatin videonya mau Bu?” Jemarinya mengarah ke HP pura-pura mau membuka file video panas itu lagi.
Diana langsung memohon suara lirih tercekat matanya basah. “Jangan jangan Pak saya mohon jangan bilang suami saya tolong…”
“Ya udah diem aja Parjo mau liat Ibu diem manis jangan teriak jangan banyak nolak” bisiknya serak mulutnya dekat di telinga Diana napas bau rokok panas menerpa kulit leher Diana yang terbuka.
“Bu Diana tau nggak Parjo tuh udah puluhan tahun kerja di pabrik sering liatin banyak perempuan cantik tapi yang kayak Ibu baru kali ini amoy beneran putih mulus badannya harum daster tipis Parjo nggak nyangka yang pertama kali bisa Parjo pegang kayak gini malah Bu Diana padahal di pabrik itu ada empat perempuan cakep dan salah satunya Bu Diana duh memang kapan lagi Parjo bisa deket sama amoy secantik dan seharum Ibu hoki banget Parjo malam ini…”
Tangan Parjo makin berani satu telapak kasar naik ke dada Diana menelusuri lekuk payudara di balik daster tipis meremas pelan lalu makin kuat mencari puting susu yang menegang karena dingin takut dan sisa adrenalin jari-jarinya mengelus puncak dada menggesek-gesek puting membuat daster tipis itu makin basah dan menempel. “Tetek Ibu empuk banget ya pantesan Pak Dimas betah amoy kayak gini siapa yang nggak ngiler…”
Diana menggigit bibir matanya menahan air mata tubuhnya bergetar dua tangannya menahan tangan Parjo agar tak naik lebih jauh tapi kekuatan satpam tua itu tak tertahankan. “Jangan Pak please jangan di sini…
Tangan Parjo turun ke paha mengelus paha putih Diana yang gemetar masuk di balik daster menyusup ke celana dalam renda tipis yang hanya jadi penghalang tipis bagi fantasi liar Parjo jari-jarinya menekan perlahan menggesek-gesek bagian paling sensitif membuat napas Diana makin pendek wajahnya merah karena malu dan rasa bersalah.
“Udah basah ya Bu baru dipegang dikit udah keluar gini…” bisik Parjo penuh kemenangan tangannya makin kasar menggesek-gesek celana dalam Diana hingga kainnya basah oleh lendir kawin. “Ibu bilang nggak mau tapi badannya nggak bisa bohong pelacur emang amoy kayak Bu Diana nih…”
Diana berusaha menahan erangan bibir digigit tubuh melengkung menahan getaran takut suara desahan terdengar sampai kamar setiap kali Parjo menggesek lebih kuat jemarinya masuk menembus lapisan tipis celana dalam membelai klitoris membuat Diana gemetar pinggulnya naik-turun perlahan.
“Pak tolong jangan kenceng-kenceng jangan ahhh…” suara Diana tercekat setengah menangis setengah mendesah suaranya makin tipis tubuhnya makin panas denyut di selangkangan tak tertahankan perlawanan di tangan melemah napasnya bergetar.
Parjo tertawa suara serak menindih suara hujan di luar. “Nggak usah sok kuat Bu Ibu udah basah begini pelacur beneran dari dulu pasti suka ya digituin satpam kayak Parjo heh jangan pura-pura jijik tetek memek sama aja semua lelaki pasti mau apalagi amoy kayak Bu Diana…”
Jari Parjo makin masuk mengocok pelan suara basah dari celana dalam Diana terdengar jelas daster terangkat sampai ke pinggang paha Diana terbuka lebar pantatnya menempel di sofa tangan menahan sandaran agar tak jatuh matanya terpejam kepala menoleh ke belakang menahan jeritan yang hampir pecah.
“Ayo Bu keluarkan aja Parjo suka liat perempuan binal kayak Ibu pasrah sama satpam tua ya ahh amoy memang dasarnya binal…”
Tubuh Diana akhirnya tak tahan seluruh sarafnya menegang tubuhnya melengkung cairan hangat membanjiri jari Parjo tubuhnya bergetar tapi suara erangan ditahan di tenggorokan hanya keluar dalam isakan pelan dan napas terputus-putus.
Cairan hangat tiba-tiba menyembur membasahi tangan Parjo membasahi celana dalam bahkan menetes ke lantai keramik di bawah sofa tubuh Diana melengkung hebat matanya membelalak pinggul terangkat erangan tertahan di tenggorokan cairan memancar deras suara muncrat terdengar keras mengotori daster tangan Parjo dan lantai.
“Wuih gila Bu Diana kayak anak kecil ngompol baru dimasukin pakai jari gini aja udah muncrat-muncrat emang ibu ga malu katanya suka bikin puas bos kok sama satpam tua malah becek dan muncrat begini hahaha…”
Diana benar-benar terhina wajahnya merah padam air mata mengalir ia tak mampu menahan tubuhnya sendiri seluruh otot melemas bagian bawah tubuhnya basah dan licin daster terangkat paha terbuka cairan menetes di mana-mana.
“Pelacur amoy kayak Bu Diana ini ternyata dalemnya kayak anak SMA baru main sama jari Parjo aja udah kayak ngompol di kasur Parjo yakin bos-bos di kantor nggak pernah liat Bu Diana becek segininya ya nggak pernah liat lonte amoy muncrat di lantai kayak gini malu dong Bu…”
Parjo menjilat sisa cairan di jarinya puas sambil menatap wajah Diana yang penuh malu dan keputusasaan. “Mulai sekarang Ibu harus inget ya pelacur cantik kayak Bu Diana cocoknya buat Parjo bukan buat bos-bos sok ganteng itu Ibu nggak bakal dapet sensasi kayak gini selain sama Parjo…”
Diana hanya bisa menangis pelan tangan menutup wajah tubuh gemetar penuh rasa malu jijik dan penghinaan malam itu harga dirinya sebagai perempuan kelas atas benar-benar diremukkan satpam tua dekil dan ia tahu Parjo tidak akan berhenti hanya sampai di sini.
Diana masih terisak di sofa, paha dan lantai di bawahnya basah oleh cairannya sendiri, wajah merah padam penuh malu. Parjo belum puas. Ia berdiri di depan Diana, tubuh besar menutupi cahaya lampu, tangan meraih pinggang celana satpam lusuh yang sudah menonjol keras sejak tadi.
"Nah, sekarang, giliran Ibu yang kerja. Amoy cantik kayak Ibu pasti jago ngelayanin, kan? Sana, jongkok. Ayo, buruan, daripada nanti Parjo manggil suami Ibu ke sini."
Diana menggigil ketakutan, menatap ke arah pintu kamar yang hanya berjarak beberapa meter. Suara TV masih samar, sesekali terdengar suara suaminya batuk di dalam. Tapi Parjo sudah menurunkan celananya, batang keras besar, hitam dan berurat, muncul dari balik celana dalam. Aroma tajam, keringat, dan sisa sabun murah memenuhi udara.
"Pak... jangan... takut ketahuan...," bisik Diana panik, tapi Parjo hanya menyeringai, satu tangan mendorong kepala Diana pelan ke bawah.
"Makanya, jangan lama-lama. Kalau Parjo nggak keluar sekarang, ya... bisa-bisa videonya jalan deh! Atau suami Ibu yang keluar lihat istrinya ngangkang di depan sofa
Tak ada pilihan. Diana berlutut di lantai, tangan gemetar, jantung berdegup kencang. Ia meraih batang Parjo, hangat dan berdenyut, lalu dengan perlahan membuka mulut, melingkari kepala penis Parjo dengan lidahnya, menahan napas menghadapi aroma keringat dan anyir yang menusuk hidung. Suara hujan di luar terasa jauh, waktu seolah melambat.
Diana mulai mengulum pelan, bibir mungil menutup kepala penis, lidahnya menjilati seluruh permukaan, mencoba melakukan semua skill yang dulu membuat bos-bosnya ketagihan. Ia menghisap pelan, lalu makin dalam, menahan refleks muntah, air mata menetes di sudut mata karena tekanan batang Parjo di tenggorokan.
"Anjrit... enak banget, Bu. Baru dihisap dikit udah mau meledak, lidah Ibu kayak pelacur beneran. Pantesan semua bos pada suka... amoy kayak gini, siapa yang nggak pengen dijilatin...
Sambil menikmati mulut Diana, Parjo tak berhenti menghina dan memuji. Tangannya meremas-remas payudara Diana dari balik daster, sesekali menjepit puting keras Diana di antara jari, lalu mengusap kepala Diana, menarik rambutnya, menahan agar mulut Diana tetap dalam.
"Ayo, lebih dalam... Parjo suka yang basah... Ibu harus bisa nelan semuanya... Gede kan batang Parjo? Lebih gede dari bos? Hahaha... pelacur kelas atas, eh, sekarang ngisep kontol satpam tua...
Diana menahan suara, matanya berair, air liur mengalir di sudut mulut, pinggul Parjo kadang maju mundur, menekan kepala Diana makin dalam, sampai batang besar itu benar-benar memenuhi mulut Diana, menekan tenggorokan.
Suara desahan Parjo makin berat, tangannya memegang kepala Diana erat-erat. "Awas ya, kalo sampe Parjo nggak keluar, bisa bahaya... cepat, amoy... telan semuanya!"
Diana mempercepat gerakan lidah dan sedotannya, menjilat batang Parjo dari pangkal ke ujung, memutar-mutar lidah di kepala penis, mulutnya penuh air liur dan sisa rasa asam. Parjo mendesah makin keras, tubuhnya menegang, lalu—
Seketika, cairan panas menyembur deras ke mulut Diana. Penis Parjo menegang keras, suara desahan membahana di ruang tamu, sementara Diana berusaha menarik kepala, namun semburan pertama sudah memenuhi mulutnya. Sisa cairan tumpah ke tangan, menetes ke lantai.
Diana buru-buru memuntahkan ke kedua telapak tangan, bergetar, ingin segera menghapus semua bekas. Tapi Parjo menahan tangan Diana, suara rendahnya membentak pelan, "Nggak boleh dibuang, ya ibu cantik... telan semuanya! Sekarang juga!"
Dengan air mata mengalir dan wajah penuh rasa malu, Diana terpaksa mengangkat kedua tangannya yang penuh cairan kental itu ke mulut, menelan perlahan, menahan mual dan jijik, menutup mulut agar suara tak keluar, sisa cairan masih terasa di lidah dan kerongkongan.
"Nah, gitu dong... pelacur kelas atas ternyata bisa juga nelan punya satpam... Parjo puas banget, Bu. Mulai sekarang, kalo Parjo dateng, Ibu harus siap, ngerti?"
Parjo menepuk pipi Diana, lalu dengan santai menarik celana ke atas, masih menyeringai puas.
Suasana ruang tamu sepi. Hanya suara hujan di luar, lampu temaram, dan napas Diana yang masih tersengal menahan tangis dan sisa malu. Parjo berdiri di hadapannya, tubuh besar menutup hampir seluruh cahaya, wajah puas, tangan kasar menggenggam HP—senjata yang kini mengendalikan seluruh hidup Diana.
Sebelum beranjak pergi, Parjo duduk kembali, menatap Diana yang masih terduduk lemas, daster tipisnya setengah terbuka, paha masih terlihat basah di bawah lampu kuning. Parjo mencondongkan tubuh, suaranya direndahkan, penuh tekanan.
"Dengerin, Bu. Mulai besok, ada syarat-syarat yang Ibu harus lakuin biar video itu nggak kemana-mana. Dengerin baik-baik ya, pelacur cantik..."
Diana menunduk, tangan gemetar, bibir digigit menahan isak. Parjo menyeringai, lalu mulai menyebut syarat satu per satu.
"Pertama... Besok, Ibu harus masuk pabrik tanpa bra, tanpa celana dalam. Pakai kemeja tipis atau crop top transparan, sama rok mini—pokoknya harus kelihatan belahan dada, pantat nongol dikit. Kancing atas jangan dikancingin, ngerti? Biar semua mata ngiler liatin Ibu. Dan sebelum kerja, wajib mampir ke pos satpam buat pemeriksaan khusus. Kalau Ibu nolak, gue bakal sebarin aib ibu kemana-mana"
Parjo melirik ke bawah, matanya menelusuri tubuh Diana, bibirnya basah. Diana menggeleng pelan, suara hampir tak terdengar. "Tolong... jangan... Pak..."
Parjo menepuk pantat Diana keras, membuat tubuhnya tersentak. "Nggak pake tolong! Kalo Ibu bandel, tahu akibatnya.
Kedua... tiap jam istirahat, Ibu harus kirim selfie mesum dari toilet. Minimal paha, kadang harus belahan dada, atau muka mesum kayak abis dientot. Kalau gue bilang video, Ibu harus rekam suara, bisikin Parjo pake suara manja... ngerti nggak, pelacur?"
Air mata Diana jatuh satu per satu, tangannya mencengkeram daster. Parjo lanjut, nada makin santai, seolah-olah hanya bicara soal kerjaan.
"Ketiga... tiap shift siang, Ibu mampir ke pos. Pijit Parjo, kasih makan siang, duduk di pangkuan Parjo beberapa menit, sambil ngomong manja, manggil 'Mas Parjo' meskipun ada orang. Ada supir, satpam lain, kuli? Gak masalah, Ibu harus tetap senyum dan biarin tangan Parjo main ke paha atau balik rok Ibu. Jangan keliatan panik, harus bisa jaga image, ibukan sekertartis kelas atas jadi harus jaga image kan hahaha..."
Wajah Diana makin merah, napasnya tersengal. Parjo makin menikmati melihat tubuh cantik itu remuk karena aib. Ia mengulurkan tangan, menyentuh paha Diana, mengelus perlahan, kadang menekan dengan ibu jari, menelusuri garis kulit yang mulus.
"Keempat... mulai besok, Ibu harus pakai sesuatu yang aku perintahin. Bisa jepitan di puting, pita merah di paha, atau bahkan vibrator kecil di memek. Atau stiker di bra, 'Milik Parjo'—khusus kalau gue bolehin bu Diana pake daleman. Sampai pulang kerja, jangan pernah lepas, kecuali Parjo bilang boleh.
Diana menggigit bibir, menahan suara, tubuhnya hampir membeku. Tapi Parjo belum selesai.
"Kelima... setiap hari, Ibu wajib ke kostan Parjo. Satu kali sehari, Ibu harus nyerahin badan buat Parjo, kayak pelacur yang butuh dikentot satpam dekil. Harus keliatan binal, jangan malu-malu. Kalo Ibu sok suci atau nggak mau, video langsung kirim ke suami sama grup kantor."
Parjo tertawa pelan, suara seraknya seperti cambuk. Ia membungkuk makin dekat ke wajah Diana, suaranya berubah jadi bisikan kasar, penuh penghinaan dan nafsu.
"Ngerti, Bu? Mulai sekarang, Ibu ini pelacur kecil Parjo. Gak usah acting-acting kelas atas, semua syarat tadi WAJIB dijalankan. Parjo pengen liat Bu Diana, salah satu cewek paling cantik di pabrik, jadi pelacur paling hina, paling penurut, paling becek... Biar semua tahu, amoy begini cuma pantas buat satpam kayak Parjo, bukan buat bos-bos songong."
Parjo berdiri, satu tangan menepuk pantat Diana, meremas keras, mengangkat daster sampai separuh bokong Diana terbuka. Ia mencubit, meremas, lalu berbisik di telinga, "Pantat Ibu mantap banget... kayak jelly, kayaknya cocok dipake Parjo tiap hari. Pantas bos-bos nggak bisa move on... sekarang, giliran Parjo yang nikmatin, ya?, soalnya kontol Parjo belum sempet nikmatin memek ibu malam ini"
Sebelum keluar, Parjo menatap Diana, senyumnya puas. "Jangan lupa, besok pagi siap-siap. Jangan buat Parjo marah. Kalo syarat-syarat tadi nggak dipatuhi, satu klik, hidup Ibu kelar."
Parjo melangkah ke pintu, meninggalkan ruang tamu yang penuh aroma aib dan air mata. Diana terduduk kaku, pantat masih terasa bekas cubitan, tubuhnya gemetar, kepalanya tertunduk menahan malu dan hina, tahu sejak malam itu, ia bukan siapa-siapa lagi—hanya milik dan mainan Parjo, satpam tua bau, seumur hidupnya.

.webp)
Komentar
Posting Komentar