Langsung ke konten utama

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

By : Analconda13

Namaku Poniman seorang pria perantau dari sebuah kampung kecil di lereng gunung yang terjal. Kebanyakan penduduk desa dikampungku sangat miskin dan kesulitan air bersih sehingga banyak generasi muda yang memilih untuk merantau ke kota lain. Aku adalah salah satunya. Bermodalkan nekat aku pun merantau ke Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan serta penghidupan yang lebih baik. Berharap aku bisa membantu kesulitan keluargaku dikampung setelah sukses nanti. Tapi apa daya kehidupan di kota besar tak semudah yang kubayangkan.
Beberapa bulan tinggal dikota aku belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Hingga suatu hari ketika aku sedang duduk melamun dipinggir jalan tiba tiba aku melihat sepasang suami istri keturunan tionghoa yang hendak masuk kedalam restoran. Tak lama kemudian aku lihat ada dua orang pria mengendarai sepeda motor berhenti didekat mobil mewah tsb lalu dengan cepat memecahkan kaca samping mobil dan berusaha mengambil barang berharga yang ada didalamnya. Karena melihat tindakan kriminal ini maka aku pun langsung bertindak dan menghampiri kedua pria berjaket hitam tsb. 

Aku berdiri tegap di pinggir jalan yang ramai itu. Jantungku berdegup kencang seperti genderang perang di kampung. Udara sore Surabaya terasa panas dan lengket di kulitku. Bercampur bau asap knalpot motor dan gorengan dari pedagang kaki lima di dekat situ. Mataku yang biasa memandang lereng gunung terjal kini terkunci pada dua pria bermasker yang baru saja memecahkan kaca samping mobil mewah hitam mengkilap itu. 

"Hei! Berhenti kalian! teriakku keras. 

Suaraku yang biasa memanggil kerbau di sawah bergema di trotoar. Salah satu dari mereka yang tinggi dan kurus dengan jaket hitam lusuh langsung menoleh. Matanya liar di balik masker kain. 

"Minggir luh.. bocah kampung !! Ini bukan urusan lu !! bentaknya sambil tangannya merogoh ke dalam mobil lewat kaca yang sudah berantakan. Temannya yang lebih gemuk dan memegang linggis besi langsung berbalik menghadapku. 

"Lu mau mati ya bangsat?! Tanpa pikir panjang aku maju selangkah. Tubuhku yang tegap dari bertahun-tahun mengangkut kayu bakar dan bekerja di ladang memberiku keberanian. Aku bukan petarung MMA tapi di kampung sering kali masalah diselesaikan dengan tinju. Penjahat gemuk itu menyerang duluan. Ia ayunkan linggis besinya ke kepalaku dengan ganas. Aku menunduk cepat angin besi itu lewat tepat di atas rambutku. Bau keringat dan alkohol dari badannya menyengat hidungku. Langsung aku balas dengan pukulan keras ke perutnya. Buk !! Ia terhuyung mundur napasnya tersengal-sengal sambil memegang perut. Anjir !! sakit bangsat !!

Teman kurusnya langsung menyerang dari samping. Tendangannya mengenai pinggangku keras. Rasa nyeri menjalar ke tulang rusukku seperti ditendang kuda liar. Aku meringis tapi kutahan. Di kampung aku pernah jatuh dari tebing saat cari air ini belum seberapa. Aku cepat meraih lengannya memelintirnya kuat-kuat sampai terdengar bunyi sendi yang berderit. 

"Akkhh.. Lepas! Lepas! teriaknya sambil meronta. Dengan tenaga penuh aku dorong tubuhnya ke lantai trotoar. Brak! Ia membentur beton keras dan ambruk sambil memegang bahunya yang kesakitan. Penjahat gemuk yang sudah agak pulih kembali menyerang. Kali ini ia lempar linggisnya ke arahku. Aku menghindar tapi ujung besi itu sempat menggores lengan kiriku. Darah hangat langsung mengalir perih dan lengket. Rasa marahku meledak. Aku maju dan hantarkan tinju kananku tepat ke rahangnya. Krak! Kepalanya tersentak keras ke belakang. Kakinya goyah. Aku tidak kasih kesempatan. Aku tendang kakinya hingga ia roboh ke aspal. Lalu aku duduk di atas dadanya dan hantam wajahnya bertubi-tubi cukup untuk membuatnya tak berdaya bukan untuk membunuh. 

Napasku terengah-engah keringat bercucuran di dahi. Dua penjahat itu kini tergeletak lemas. Yang kurus mencoba bangkit tapi langsung ambruk lagi sambil mengaduh. Yang gemuk hanya terbatuk-batuk dengan mulut berdarah. Aku berdiri pelan lengan kiriku masih berdarah. Sekitarku orang-orang yang tadinya menjauh mulai berkerumun. Ada yang bertepuk tangan ada yang merekam dengan HP. Tak lama kemudian pasangan suami istri Tionghoa yang mobilnya hampir dirampok mendekat dengan wajah pucat ketakutan. Pria paruh baya itu langsung memegang bahuku. 

"Terima kasih Mas… Terima kasih banyak. Kalau bukan karena kamu.. kami bisa kehilangan segalanya katanya dengan suara bergetar dan logat yang kental. 

Istrinya wanita cantik berumur sekitar 40-an matanya berkaca-kaca. Kamu terluka ya… Darahnya banyak banget nih. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. 

Aku hanya tersenyum tipis meski seluruh tubuhku terasa sakit. Tidak apa-apa Bu. Saya biasa begini di kampung. Yang penting harta Bapak dan Ibu yang ada didalam mobil bisa selamat.

 Tak lama kemudian sirine polisi terdengar mendekat. Beberapa saksi sudah menelepon. Dua penjahat itu diborgol dengan mudah sambil mengumpat pelan. Seorang polisi mendekatiku dan mencatat keteranganku. Mas berani sekali. Jarang ada yang mau turun tangan sekarang katanya sambil menepuk bahuku.

Aku mengusap darah di lenganku dengan ujung kaos yang sudah kotor. Pandanganku tertuju ke langit sore Surabaya yang mulai jingga. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah aksi nekatku ini akan membawa berkah atau justru masalah baru. Aku masih berdiri di pinggir jalan ketika pasangan suami istri itu bersikeras membawaku sendiri ke rumah sakit terdekat. Bapak Hartono memegang lenganku dengan hati-hati sambil berkata Tidak boleh ditunda Mas. Lukamu harus segera diobati. Ibu Hartono juga ikut turun wajahnya masih pucat tapi penuh kepedulian. Mereka tidak memanggil sopir mereka sendiri yang mengemudikan mobil mewah itu ke sebuah klinik swasta yang bersih dan modern di daerah Surabaya barat. 

Di dalam mobil yang dingin ber-AC lengan kiriku dibalut kain bersih sementara. Perihnya masih terasa tapi aku berusaha menahan. Sepanjang perjalanan Bapak Hartono berulang kali mengucapkan terima kasih suaranya penuh rasa syukur. Sesampainya di klinik dokter membersihkan luka goresan crowbar itu memberi suntik tetanus obat antibiotik dan membalutnya dengan rapi. Untungnya tidak terlalu dalam hanya butuh beberapa jahitan kecil. Sepanjang proses itu Bapak Hartono dan Ibu Hartono menunggu di ruang tunggu sambil sesekali menjenguk. Setelah selesai kami duduk bertiga di ruang tunggu yang nyaman. Bapak Hartono pria paruh baya berpostur tegap dengan rambut sedikit memutih memegang tanganku dengan kedua tangannya. Suaranya serius dan penuh emosi. Poniman hari ini kamu menyelamatkan kami. Bukan hanya mobil. Di dalam tas itu ada uang tunai lebih dari tiga ratus juta rupiah yang baru kami ambil dari bank untuk keperluan bisnis. Kalau kamu tidak turun tangan tadi semuanya pasti hilang. Kami tidak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih. Kamu pahlawan kami. Aku terdiam sesaat. Angka itu terasa sangat besar di telingaku. Aku hanya mengangguk pelan Saya cuma melakukan yang seharusnya Pak. Saya tidak tahan melihat orang jahat. 

Kami pun berbincang lebih lama. Mereka bertanya asal-usurku. Aku ceritakan semuanya dengan jujur dari kampung kecil di lereng gunung yang miskin kesulitan air bersih merantau ke Surabaya dengan modal nekat hingga sampai sekarang belum punya pekerjaan tetap dan tinggal mengontrak kamar sempit yang hampir habis uangnya. Bapak Hartono dan Ibu Hartono saling pandang sejenak. Kemudian Bapak Hartono berbicara lagi nada suaranya mantap. 

Poniman kami punya usaha angkutan bus mewah antar kota. Armada kami melayani rute Surabaya ke berbagai kota besar di Jawa dan luar Jawa. Saya lihat kamu orang yang bertanggung jawab berani dan kuat. Kalau kamu mau kami tawarkan pekerjaan sebagai sopir pribadi saya dan istri. Kadang juga membantu mengantar bus jika diperlukan. Gaji pokoknya lumayan besar ditambah tunjangan makan kesehatan dan bonus kinerja. Yang lebih penting kamu boleh tinggal di rumah kami. Ada paviliun belakang yang kosong bersih dan nyaman. Bukan cuma kamar ada kamar mandi sendiri ruang kecil dan kamu bisa makan bersama kami kalau mau. Aku terpana. Rumah besar dan mewah? Pekerjaan sopir yang stabil di perusahaan bus mewah? Ini seperti mimpi yang tiba-tiba jadi nyata. Selama ini di Surabaya aku hanya tidur di kamar kontrakan sempit dengan atap bocor dan tiap hari gelisah mencari kerja serabutan.

Pak… Bu… ini serius? tanyaku pelan suaraku agak bergetar. Saya bisa nyetir sudah biasa bawa mobil pick-up di kampung dan pernah bantu sopir angkot. Tapi saya tidak punya pengalaman sopir mewah atau bus besar. Ibu Hartono tersenyum lembut dan menyentuh lengan Ibu. Kami percaya sama kamu Poniman. Besok saja kamu pindah ke rumah kami. Urusan kontrakanmu biar kami yang bereskan besok pagi. Yang penting kamu istirahat dulu malam ini lukamu jangan sampai infeksi. Malam itu mereka mengantarku kembali ke kontrakan dengan mobil mereka sendiri. Saat mobil mewah itu berhenti di depan gang sempit tetangga-tetangga keluar melongo melihat. 

Aku cepat mengemasi barang-barangku yang sedikit baju lusuh tas ransel tua dan sedikit peralahan mandi lalu ikut mereka pergi. Sekarang aku duduk di paviliun belakang rumah mereka yang luas di daerah perumahan elite Surabaya. AC menyala pelan kasur empuk di bawah tubuhku dan luka di lenganku masih terasa perih meski sudah dibalut. Hatiku penuh haru dan harapan baru yang besar. Aku masih duduk di paviliun belakang yang nyaman itu mencoba mencerna semua kejadian hari ini. Luka di lenganku terasa lebih baik setelah diobati tapi pikiranku belum tenang. 

Rumah keluarga Hartono ini benar-benar besar seperti rumah orang kaya di sinetron yang dulu sering kulihat di warung kopi kampung. Halamannya luas ada taman kecil dengan kolam ikan dan garasi yang muat beberapa mobil mewah plus bus perusahaan. Malam itu setelah mandi dan berganti baju bersih meski bajuku yang paling bagus masih terlihat lusuh Bapak Hartono memanggilku ke ruang makan utama. Poniman ayo makan malam bersama. Kenalan dulu sama keluarga. Aku berjalan agak gugup mengikuti beliau. Ruang makan itu mewah lampu kristal menyala terang meka jangan panjang dari kayu jati. Ibu Hartono sudah duduk di ujung meja tersenyum ramah. Lalu aku melihat tiga gadis yang duduk di sebelahnya. Yang paling tua duduk paling dekat dengan Ibu. Ia cantik dengan rambut panjang terurai rapi berpakaian sederhana tapi terlihat mahal.

Angela

"Ini Angela anak pertama kami kata Bapak Hartono bangga. Sudah lulus kuliah desain fashion di Jakarta. Sekarang dia punya butik pakaian mewah sendiri di Surabaya sekaligus jadi desainer. Banyak selebriti dan orang kaya yang pesan baju darinya. Angela menatapku dengan mata yang tajam tapi ramah. Ia tersenyum tipis dan mengangguk. Hai Mas Poniman. Terima kasih ya sudah menolong Papa dan Mama tadi. Kamu berani sekali. Suaranya halus sopan dan ada aura percaya diri yang kuat. Aku langsung tahu dia perempuan karir yang sukses.

Di sebelah Angela duduk gadis yang lebih muda mungkin sekitar 17 atau 18 tahun. Wajahnya sangat cantik kulit putih bersih rambutnya digerai dengan poni yang manis. Tubuhnya paling semok di antara ketiganya lekuk pinggang dan pinggulnya terlihat jelas meski dia memakai kaos rumah yang longgar. Matanya besar dan ekspresif. Ini Sella kata Ibu Hartono. Anak kedua sudah kelas 3 SMA sebentar lagi ujian akhir dan lulus. Sella suka olahraga renang dan di sekolah suka ikut kegiatan basket juga kadang bantu desain baju di butik. Dia suka main game dan nonton drama Korea di malam hari. Sella paling pendiam dan pemalu di antara ketiganya.

Sella

Sella tersenyum lebar padaku pipinya sedikit merona. Wah Mas Poniman pahlawan ya hari ini? Keren banget ceritanya dari Papa tadi. Lukanya gimana? Sakit nggak? Suaranya manis ada nada genit yang ringan tapi tidak berlebihan. Aku merasa agat canggung tapi balas tersenyum. Dan yang paling kecil duduk di sebelah Sella masih terlihat polos dengan seragam SMP yang belum diganti. Rambutnya dikuncir dua wajahnya imut seperti boneka. Ini Alena adik bungsu kami kata Bapak Hartono sambil mengacak rambutnya pelan. Masih kelas 3 SMP paling manja dan suka main HP.

Alena

Alena langsung nyengir lebar. Mas Poniman mau tinggal di paviliun belakang ya? Yang dekat kolam renang itu ? Hati hati loh mas. Kata mbok Minah.. Kalau malam malam suka ada yang iseng ketuk pintunya.. Ledeknya sambil bercanda.

Makan malam berlangsung hangat. Mereka banyak bertanya tentang kampungku kehidupan di lereng gunung dan bagaimana aku bisa seberani itu tadi siang. Aku cerita secukupnya merasa seperti orang baru yang tiba-tiba masuk ke dunia yang sangat berbeda. Angela lebih banyak diam tapi sesekali memberi komentar bijak. Sella lebih pemalu dan kadang suka melirikku entah apa yang ada dalam pikirannya.

Alena paling manja terus bertanya macam-macam. Setelah makan Bapak Hartono bilang Besok pagi kamu mulai kerja ya Poniman. Pagi-pagi antar saya ke kantor perusahaan bus lalu siang mungkin antar Ibu atau Angela ke butik. Pelan-pelan kamu belajar rute dan kendaraan kami. Yang penting jujur dan bertanggung jawab. Malam itu aku kembali ke paviliun dengan perasaan campur aduk. Senang gugup dan ada sedikit haru. Keluarga ini ramah tapi aku sadar posisiku di sini adalah karyawan meski mereka memperlakukanku seperti keluarga. Apalagi dengan tiga anak gadis yang cantik dan berbeda kepribadian itu aku harus menjaga sikap sebaik mungkin. 

Aku sudah bekerja beberapa bulan di keluarga Hartono. Rutinitasku berjalan biasa saja bahkan nyaman. Pagi-pagi antar Bapak Hartono ke kantor perusahaan angkutan bus mewahnya siang kadang antar Ibu Hartono ke pasar atau Angela ke butiknya sore sering nunggu Sella pulang sekolah atau Alena dari les. Mereka memperlakukanku baik gajiku dibayar tepat waktu makan gratis dan paviliun belakang sudah terasa seperti rumah sendiri. Aku bahkan sudah mulai akrab dengan ketiga anak gadis itu. Angela selalu sopan dan sibuz dengan desainnya Alena cerewet minta diantar-jemput sementara Sella sering melirik dan tersenyum manis setiap bertemu. Tapi malam itu semuanya berubah. Hari sudah larut hampir pukul sepuluh malam. Bapak Hartono bilang ada meeting penting dengan mitra bisnis di kantor perusahaan jadi aku menunggu di parkiran depan sambil duduk di mobil. Bosan menunggu aku iseng keluar dan jalan-jalan ke belakang bangunan kantor. 

Di sana ada pool bus yang luas lapangan tanah yang dikelilingi pagar tinggi dan lampu sorot. Puluhan bus mewah milik perusahaan terparkir rapi dalam barisan mengkilap di bawah cahaya lampu. Bau oli dan ban karet tercium samar. Mataku tertarik pada satu bus di ujung barisan. Lampu dalam kabin penumpangnya masih menyala terang padahal seharusnya semua bus sudah mati lampu malam-malam begini. Dari kejauhan aku mendengar suara ramai tawa perempuan suara obrolan dan seperti musik pelan. Ada juga suva laki-laki yang tertawa keras. Rasa penasaran menggerakkan kakiku. Aku mendekat pelan-pelan sepatu kakiku tidak berbunyi di tanah. Bus itu adalah tipe sleeper bus mewah tinggi dan panjang dengan kaca gelap dan gorden tebal di jendelanya. Aku memanjat pelan-pelan ke anak tangga pintu depan yang sedikit terbuka. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ini bukan urusanku tapi rasa ingin tahuku lebih besar.

Dari sela tirai gorden jendela samping yang agak terbuka, aku mengintip ke dalam. Yang kulihat membuat mataku membelalak.

Di dalam bus, kursi-kursi bagian depan sudah dilipat atau digeser, menciptakan ruang yang lebih luas. Lampu kabin dimatikan sebagian, hanya menyisakan lampu temaram berwarna merah muda yang romantis. Ada tiga orang di sana. Dua pria yang tidak kukenal — satu bertubuh sedang berpakaian rapi seperti karyawan kantor, yang lain lebih muda dan bertato di lengan. Dan yang paling mencengangkan…

Di dalam bus lampu kabin dimatikan sebagian hanya menyisakan lampu temaram. Ada tiga orang di sana. Dua pria yang tidak kukenal satu bertubuh sedang berpakaian rapi seperti karyawan kantor yang lain lebih muda dan bertato di lengan. Dan yang paling mencengangkan… Sella. Anak kedua Bapak Hartono gadis SMA yang cantik dan paling semok itu sedang duduk di pangkuan pria yang bertato. Rok seragam sekolahnya sudah naik sampai pinggang memperlihatkan paha putihnya yang mulus dan montok. Blusnya terbuka beberapa kancing bra hitamnya terlihat jelas. Pria itu sedang menciumi lehernya sambil tangannya meraba pinggul Sella dengan bebas. Sella terlihat ketakutan hingga suaranya parau dan agak mendesah sementara tangannya dipaksa memeluk leher pria itu.

Di sebelah mereka pria yang lebih tua sedang menuang minuman dari botol yang kelihatan mahal ke gelas plastik. Ini malam yang enak Sell. Bus papa lo emang paling nyaman buat begini katanya sambil tertawa. Sella menggigit bibirnya wajahnya merah tapi terlihat menikmati. Pelan-pelan dong kalau ketahuan Papa habis aku. Aku membeku di tempat. Napasku tertahan. Ini benar-benar tak biasa. Sella yang kukenal sebagai gadis manja dan genit ternyata sedang melakukan hal seperti ini di dalam bus milik ayahnya sendiri dengan tiga pria yang jelas bukan pacarnya yang biasa. 

Tangan pria bertato itu semakin berani merayap ke atas menyentuh bagian buah dada Sella. Gadis itu mendesah pelan tubuhnya yang semok bergoyang pelan mengikuti gerakan pria itu. Aku mundur selangkah dan tercengang. Harusnya aku langsung pergi tapi kakiku seperti terpaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melapor ke Bapak Hartono? Diam saja? Atau… Aku membeku di tangga bus mata masih menempel di sela gorden. 

Tiba-tiba ada suara langkah berat di belakangku. Eh.. bang ? Ngapain lu di sini malam-malam? Aku tersentak. Tiga sopir bus perusahaan berdiri di belakangku sudah pakai seragam perusahaan tapi kancingnya agak acak-acakan. Mereka tersenyum lebar seolah sudah biasa dengan pemandangan ini. Salah satu yang paling tua tubuhnya besar dan berkumis tebal menepuk bahuku. 

Kalau mau ikutan masuk aja Mas. Mumpung sepi. Aku menelan ludah keras. Sebelum sempat menjawab dua orang lainnya sudah menarik lenganku masuk ke dalam bus. Pintu ditutup dan dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang membuat bulu kudukku berdiri. Di dalam suasana langsung terasa pengap. Sella masih duduk di pangkuan pria bertato itu roknya sudah naik tinggi wajahnya memerah begitu melihatku. Dua pria tadi langsung tertawa. 

"Mumpung Bapaknya lagi sibuk meeting di kantor. Kita pake dulu aja anak gadisnya yang semok ini haha! kata salah satu sopir sambil melepas jaketnya. 

Sella menunduk tangannya mencoba menutup blusnya yang sudah terbuka. Matanya berkaca-kaca saat melihatku. Mas Poniman… Aku berdiri kaku jantung berdegup kencang. Non Sella kenapa bisa begini? Sella menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Suaranya pelan hampir bergetar. Maaf Mas aku terpaksa harus nurut sama mereka. Kalau nggak foto-foto telanjangku bakal disebarin ke teman-teman di sekolah bahkan ke grup WA keluarga.

Usut punya usut cerita yang keluar dari padaku membuat darahku mendidih. Dulu sopir pribadi keluarga yang lama sebelum aku sengaja menaruh obat tidur ke dalam botol minuman Sella yang sempat tertinggal di mobil. Saat pulah sekolah Sella tertidur pulas. Sopir itu membawa mobil ke tempat sepi menelanjanginya memotret dari berbagai sudut merekam video lalu mengancamnya. Setelah itu dia membagikan akses foto dan video tersebut ke beberapa sopir lain di pool ini. Mereka bergantian memanfaatkan situasi itu terutama saat ada kesempatan seperti malam ini di bus yang jarang dipakai. Dan ancaman itu membuatnya terjebak.

Pria bertato menarik Sella lebih dekat ke pangkuannya lagi tangannya merayap di paha gadis itu. Udah lah Mas. Ikutan aja. Non Sella ini enak semok dan sekarang sudah biasa. Bapak Hartono nggak akan tahu. Ketiga sopir itu sudah mulai mendekat suasana di dalam bus semakin panas dan tegang. Aku berdiri di antara mereka kepala penuh. Tangan kananku mengepal kuat. Apa yang akan aku lakukan sekarang Poniman? Aku berdiri di lorong sempit bus itu napasku tersengal. Pandangan mataku tertuju pada Sella yang masih duduk di pangkuan pria bertato roknya naik tinggi blusnya terbuka dan tubuhnya yang semok terlihat jelas di bawah cahaya lampu temaram merah muda. Sesaat aku tergiur. 

Darah panas mengalir deras di tubuhku. Sudah berbulan-bulan aku tinggal di rumah itu melihat Sella yang cantik dan montok setiap hari senyumnya yang manja pinggulnya yang bergoyang saat berjalan. Kesempatan ini terasa terlalu menggoda. Tapi tiba-tiba jiwa pahlawanku yang dulu menghajar dan dua penjahat di pinggir jalan Surabaya meronta keras di dada. Aku ingat kampung ingat susahnya hidup ingat bagaimana aku merantau untuk jadi orang baik dan membantu keluarga. 

"Tidak bisa. Tidak seperti ini. Lepaskan Non Sella! hardikku keras suaraku menggema di dalam bus. Kalian semua brengsek! Ini anak bos kalian sendiri! Kalau Bapak Hartono tahu habis kalian! Tiga sopir bus itu malah tertawa lebar. Yang berkumis tebal menyeringai sinis. Udah gak usah sok jadi pahlawan lagi Mas Poniman. Lo cuma sopir pribadi. Ini urusan kami di pool. Non Sella sudah biasa kok. 

Pria bertato menarik pinggul Sella lebih erat ke pangkuannya sambil tertawa. Bener. Dia suka juga cuma pura-pura takut. Amarahku meledak. Aku langsung maju selangkah dan menghantamkan tinju keras ke wajah sopir yang paling dekat denganku — yang bertubuh sedang. Buk! Kepalanya tersentak darah mengalir dari hidungnya. Anjing! umpatnya. Langsung kekacauan terjadi. Karena lorong bus sempit kursi-kursi di kanan kiri membatasi gerakanku. 

Mereka mengeroyokku bertiga sekaligus. Satu orang memukul perutku dari depan satu lagi memukul punggungku dari belakang dengan keras. Plak! Plak! Aku balas pukul tapi ruang gerakku terlalu sempit. Tendanganku mengenai kaki salah satu tapi tinju dari belakang mendarat di kepalaku. Kepalaku pusing berat pandanganku berkunang-kunang. Aku mencoba berbalik tapi siku seseorang menghantam tulang rusukku. Rasa sakit menjalar tajam.

Mas Poniman! teriak Sella ketakutan dari belakang suaraku bergetar. Aku masih berusaha berdiri menghantam lagi satu pukulan yang mengenai dagu sopir berkumis. Tapi mereka terlalu banyak. Pukulan bertubi-tubi dari belakang membuat lututku goyah. Dunia berputar. Aku merasakan darah hangat mengalir dari bibirku yang pecah. Akhirnya satu pukulan keras di belakang kepalaku membuat segalanya gelar sejenak. Tubuhku ambruk ke lantai bus yang dingin dan sedikit lengket. Aku jatuh tersungkur hampir pingsan. Napasku tersengal-sengal seluruh tubuh terasa remuk. 

Aku mencoba bangkit dengan tangan tapi kaki seseorang menginjat punggungku menekanku ke lantai. Goblok. Sok hero padahal lo juga cuma karyawan ejek salah satu dari mereka sambil tertawa kasar. Dari sudut mataku yang kabur aku melihat Sella berdiri wajahnya pucat ketakutan sambil memegangi blusnya yang terbuka. Matanya menatapku dengan campuran rasa bersalah dan harap. Kepalaku berdenyut-denyut sakit. 

Aku tergeletak di lantai bus dikelilingi empat orang dewasa yang sekarang tertawa dan kembali mendekati Sella. Aku merasakan tangan-tangan kasar menarik kerahku dari belakang. Tubuhku yang sudah lemah akibat pukulan-pukulan tadi dipaksa berdiri dengan kasar. Kedua tanganku dipiting ke belakang oleh seorang pria bertubuh sangat besar seperti King Kong. Lengan sebesar paha orang biasa ototnya keras dan penuh urat. Belakangan aku tahu namanya Bahar salah satu sopir senior di pool bus yang paling ditakuti. Jangan macem-macem lagi kampungan geram Bahar di telingaku sambil memelintir lenganku lebih keras. 

Rasa sakit menjalar ke bahu dan punggungku yang sudah memar. Aku menggeram kesakitan tapi tak bisa bergerak leluasa di lorong bus yang sempit itu. Di depanku Sella diseret paksa oleh dua sopir lainnya. Wajahnya pucat matanya berkaca-kaca penuh ketakutan dan malu. Blusnya masih terbuka bra hitamnya terlihat dan rok seragamnya sudah naik sampai pinggang memperlihatkan celana dalam berwarna merah muda yang ketat membungkus pinggul dan paha montoknya. Mas tolong bisiknya pelan suaranya bergetar. Tapi mereka tak peduli. Pria bertato mendorong bahu Sella kuat-kuat hingga gadis itu berlutut di depanku tepat di hadapan selangkanganku. Lututnya yang putih dan mulus menyentuh lantai bus yang dingin. Buka celananya Non. Kerjain sopir baru ini perintah salah satu sopir sambil menjambak rambut Sella pelan tapi tegas. 

Sella menggigit bibirnya keras air mata mulai mengalir di pipinya. Tangannya yang gemetar meraih pinggang celanaku. Dengan gerakan pelan dan enggan ia membuka kancing celanaku lalu menarik resletingnya ke bawah. Tangan Bahar yang memitingku dari belakang membuatku tak bisa menoluk. Udara dingin AC bus menyentuh kulitku saat celana dan celana dalamku diturunkan hingga ke paha. Penisku yang sudah setengah tegang karena adrenalin dan godaan visual tadi kini terpapar di depan wajah Sella. Bagus sekarang kocok kata pria bertato sambil tertawa pelan. Sella menatap ke atas ke arahku sebentar matanya penuh permintaan maaf dan rasa malu yang mendalam. 

Tangan kanannya yang lembut dan hangat meraih batang penisku dengan ragu. Jari-jarinya yang halus membungkusnya perlahan lalu mulai menggerakkan naik-turun dengan gerakan pelan yang terpaksa. Aku menggigit gigi merasakan sensasi hangat dan lembut dari telapak tangan Sella. Meski dalam situasi paksaan seperti ini tubuhku bereaksi secara alami. Penisku semakin mengeras di genggaman tangannya urat-uratnya menonjol. Sella mengocoknya dengan gerakan yang semakin teratur meski air mata nya terus jatuh. Lebih cepat Non. Jangan cuma mainin doang ejek Bahar dari belakang sambil menekan lenganku lebih kuat.

Sella menurut dengan terisak pelan. Tangan kirinya ikut memegang sekarang kedua tangannya bekerja mengocok penisku yang sudah keras penuh. Gerakannya naik turun kadang ibu jarinya mengusap kepala yang sensitif membuatku tanpa sadar mendesah pelan. Tubuh semoknya yang berlutut di depanku dada yang naik-turun karena napas tersengal dan wajah cantiknya yang basah air mata semuanya menciptakan pemandangan yang sangat kontras dan menggoda. 

Para pria di sekitar kami tertawa dan memberi komentar kasar menunggu giliran mereka. Aku merasa marah jijik tapi juga ada gelombang kenikmatan yang sulit kutahan di bawah sana. Aku masih terpaku kedua tanganku dipiting kuat di belakang oleh Bahar yang kekar seperti King Kong. Tubuhku sakit di mana-mana akibat pukulan tadi tapi sensasi hangat dan lembut dari tangan Sella yang mengocok penisku membuat kepalaku semakin pusing campuran antara amarah malu dan kenikmatan yang tak diinginkan. Sella masih berlutut di depanku wajahnya basah air mata bibirnya gemetar. 

Tangan lembutnya terus bergerak naik-turun di batangku yang sudah keras penuh. Tiba-tiba pria bertato menyeringai lebar dan menjambak rambut Sella pelan dari belakang. Udah cukup tangannya. Sekarang lumat Non. Keluarin lidahmu yang manis itu. Sella menggeleng pelan suaranya parau karena menangis. Tolong jangan. Jangan macem-macem bentak Bahar sambil memelintir lenganku lebih keras sampai aku meringis. Lakukan atau besok foto-fotomu nyebar ke seluruh grup sekolah dan teman-temanmu. Dengan wajah penuh rasa malu yang mendalam Sella mendekatkan wajahnya. Napasnya yang hangat menyapu kepala penisku yang sudah basah oleh cairan pra-ejakulasi. Ia membuka bibir merah mudanya perlahan lalu mengulum ujungnya. Sensasi basah hangat dan lembut langsung menyerangku. Lidahnya yang panas menyentuh kepala sensitif itu berputar pelan secara terpaksa. 

Sella mulai menggerakkan kepalanya maju-mundur mengulum lebih dalam sedikit demi sedikit. Mulutnya yang sempit dan basah membungkus batangku dengan rapat suva kecup-kecup kecil terdengar di lorong bus yang pengap. Gitu enak kan Non ejek salah satu sopir sambil tertawa. Pura-pura sok jadi pahlawan lu Poniman. Padahal ngaceng juga keras banget di mulut anak bos sendiri haha. Mereka semua tertawa kasar. Bahar di belakangku ikut terkekeh lihat tuh kontolnya berdenyut-denyut di mulut Sella. Lo juga manusia biasa Mas. Jangan sok suci. Aku menggigit bibir hingga berdarah mencoba menahan desahan yang hampir keluar. Sensasi lidah Sella yang berputar di sekitar kepala penisku hisapan lembutnya dan panas mulutnya membuat lututku lemas. 

Tubuh semoknya yang berlutut di depanku dada yang naik-turun cepat dan rambutnya yang bergoyang setiap kepalanya maju mundur semuanya terlalu kuat. Sella mengulum lebih dalam hampir setengah batangku masuk ke dalam mulutnya yang hangat dan basah. Ia tersedak pelan air liurnya menetes di sepanjang batang tapi mereka memaksanya terus bergerak. Matanya sesekali melirik ke atasku penuh rasa bersalah dan permintaan maaf. Kenikmatan itu semakin membuncah meski hatiku memberontak keras. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Bahar masih memiting kedua tanganku kuat-kuat di belakang otot lengannya seperti besi. Tubuhku sudah memar-memar tapi sensasi di bawah sana semakin tak terkendali.

Sella yang masih berlutut di depanku dengan wajah basah air mata mulai mengulum lebih cepat. Kepalanya bergerak maju mundur dengan ritme yang lebih intens. Mulutnya yang hangat dan basah membungkus batang penisku rapat lidahnya berputar-putar di sekitar kepala sambil menghisap kuat. Slurp… slurp… Aku tak bisa menahan desahan keenakan yang keluar dari mulutku. Sensasi hisapan Sella yang kuat dan basah membuat pinggulku tanpa sadar maju sedikit. Setiap kali kepalanya maju hampir seluruh batangku masuk ke dalam mulutnya yang sempit ujungnya menyentuh tenggorokannya hingga ia tersedak pelan air liurnya menetes-netes ke lantai bus. 

Kadang ia melepaskan mulutnya sebentar napasnya tersengal lalu menjepit penisku yang sudah basah dan mengkilap dengan buah dadanya yang besar dan kenyal. Dada Sella yang semok dan putih itu ia tekan dari kanan-kiri menjepit batangku erat. Lalu ia menggerakkan tubuhnya naik-turun gesekan kulit dada yang lembut dan hangat itu membuat penisku semakin tegang keras dan berdenyut-denyut. Gitu bagus Non kata pria bertato sambil merekam dengan ponselnya lampu kamera menyala terang. Kulum terus sampe muncrat. Kalau nggak foto telanjang lu yang dulu gue sebarin ke semua grup WA temen-temen sekolah lu bahkan ke keluarga lu. 

Ancaman itu membuat Sella tersentak. Air matanya semakin deras tapi ia langsung menuruti. Ia kembali mengulum penisku dengan rakus yang terpaksa hisapannya semakin kuat dan cepat. Lidahnya menjilat urat-urut di bawah batangku sesekali ia menelan ludahnya sendiri yang bercampur cairanku. Bunyi kecup basah dan desahan kecil dari mulutnya memenuhi lorong bus. Aku mendesah lagi lebih keras. Ahh… Sella… Pinggulku bergetar. Kenikmatan itu sudah di ambang. 

Buah dadanya yang montok terus menjepit dan menggesek batangku setiap kali ia berganti gerakan membuat kepala penisku membengkak dan semakin sensitif. Para pria di sekitar kami tertawa puas. Bahar di belakangku berbisik kasar lihat tuh pahlawan kita sekarang lagi enak-enaknya dihisap anak bos. Sok suci banget dari tadi. Sella mengulum semakin dalam dan cepat matanya menatap ke atasku dengan pandangan yang hancur tapi tetap berusaha memuaskan. Dadanya yang besar bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepalanya. Aku merasakan orgasme mulai mendekat bola-bolaku menegang… Aku sudah tak kuasa menahan diri lagi. Rangsangan yang terus-menerus dari mulut Sella yang hangat dan basah membuat pikiranku kabur. Jiwa pahlawan yang tadi meronta keras kini tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang memabukkan. Tanpa sadar pinggulku mulai bergerak sendiri maju dan mundur pelan dulu lalu semakin kuat.

Aku menghentakkan pinggul ke depan mendorong penisku lebih dalam ke dalam mulut Sella yang masih berlutut di depanku seperti seorang budak seks. Kepalanya yang cantik terdorong ke belakang setiap kali aku menyodok. Uh… Sella… desahku parau suaraku sudah tidak seperti diriku sendiri. Sella tersedak air matanya mengalir deras tapi ia tak bisa mundur karena Bahar masih memiting tanganku dari belakang dan tubuhnya ditekan dari depan. Mulutnya yang penuh terasa semakin sempit dan basah setiap kali batangku masuk lebih dalam lidahnya tertekan di bawah urat-urat penisku. 

Salah satu sopir pria bertato tertawa puas dan maju. Ia meletakkan tangannya di belakang kepala Sella yang rambutnya sudah acak-acakan lalu mendorongnya kuat ke depan bersamaan dengan hentakan pinggulku. Deepthroat dia! Masukin semuanya! perintahnya kasar. Penisku masuk hingga pangkal ke dalam tenggorokan Sella. Hidungnya menempel di perutku bibirnya mengatup rapat di pangkal batangku. Ia tersedak hebat tenggorokannya berkontraksi dan memijat kepala penisku dengan ritme yang tak disengai. Air liurnya mengalir deras keluar dari sudut mulutnya menetes ke buah dadanya yang montok. Aku mendesah keras kenikmatan itu luar biasa. Ahh… sial… enak sekali… Pinggulkku terus menghentak lebih kuat dan cepat seolah-olah Sella benar-benar budak seks yang sedang melayaniku. 

Setiap kali aku tarik pinggul ke belakang hanya ujung yang tersisa di bibirnya lalu aku dorong lagi hingga masuk paling dalam. Pria bertato terus menekan kepala Sella dari belakang selama beberapa menit memaksanya tetap deepthroat. Sella meronta pelan tangannya mencengkeram paha kuat tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti ritme hentakanku. Suva basah gluck… gluck… gluck memenuhi seluruh bus bercampur dengan desahanku dan tawa kasar para sopir. Bahar di belakangku tertawa rendah. Lihat tuh… pahlawan kita sekarang lagi ngentot mulut anak bos sendiri. Sok suci dari tadi sekarang malah enak banget. Aku sudah benar-benar lupa diri. Hanya ada panas basah dan kenikmatan yang membara. Pinggulkku menghentak semakin liar menyetubuhi mulut Sella yang sudah penuh air liur dan air mata. 

Aku sudah benar-benar hilang kendali. Rangsangan yang membara membuat pinggulkku bergerak liar. Aku genjot mulut Sella lebih kuat dan cepat menghentakkan batangku masuk-keluar dengan kasar. Kepala Sella yang cantik ikut bergerak maju-mundur mengikuti irama hentakanku rambutnya yang acak-acakan bergoyang-goyang hebat. Setiap kali aku dorong ke depan penisku masuk hingga pangkal menyodok dalam ke tenggorokannya yang sempit dan panas.

Sella menghisap lebih kuat sekarang. Pipinya cekung karena ia mengisap sekuat tenaga lidahnya menekan urat-urat di bawah batangku. Mungkin ia berharap penderitaannya cepat selesai semakin cepat aku klimaks semakin cepat siksaan ini berakhir. Air liurnya mengalir deras keluar dari sudut mulotnya menetes ke buah dadanya yang montok dan bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan. Uh… ahh… Sella… sialan… enak banget… desahku parau suaraku sudah serak dan penuh nafsu. 

Pria bertato masih menekan kepala Sella dari belakang membantu mendorongnya lebih dalam setiap kali aku menyodok. Bahar di belakangku tertawa kasar sambil tetap memiting tanganku genjot aja Mas. Anak bos ini emang enak jadi pelampiasan. Aku semakin gila. Pinggulkku menghentak lebih cepat dan kuat seolah-olah sedang menggenjot vagina bukan mulut. Suva basah gluck gluck gluck gluck yang kencang memenuhi seluruh bus. Sella tersedak berulikali tenggorokannya berkontraksi hebat memijat kepala penisku membuat kenikmatan semakin memuncak. Akhirnya gelombang orgasme yang dahsyat datang dengan cepat. 

Aaaahhh…!! Aku melolong panjang suaraku menggema di dalam bus. Tubuhku menegang hebat. Pinggulkku mendorong dalam-dalam dan bergetar kuat saat klimaks menyembur deras ke dalam mulut dan tenggorokan Sella. Semburan demi semburan panas dan kental keluar dengan kuat. Sella tersedak hebat matanya melebar tapi ia tak bisa mundur karena kepalanya masih ditekan. Ia menelan sebanyak mungkin secara refleks tapi sebagian cairanku meluap keluar dari sudut mulotnya menetes ke dagu dan buah dadanya yang putih montok. Aku terus mendesah dan mengerang panjang sambil menyemburkan sisa-sisa sperma ke dalam mulotnya yang masih mengulum erat. Lututku lemas napasku tersengal-sengal keras. Sella akhirnya dilepaskan setelah aku selesai. Ia batuk-batuk wajahnya merah air mata bercampur air liur dan sisa sperma di dagunya. Ia menunduk dalam-dalam tubuhnya gemetar. Para sopir tertawa puas melihatku. Gimana Mas Pahlawan? Enak kan mulut anak bos? ejek Bahar sambil melepaskan pegangannya sedikit. Aku berdiri terengah-engah celana masih turun penisku masih setengah tegang dan basah oleh campuran air liur Sella dan spermaku sendiri. 

Aku masih terengah-engah tubuh lemas setelah klimaks tadi sperma dan air liur Sella masih menetes di lantai bus. Bahar akhirnya melepaskan pitingan di tanganku. Aku hampir jatuh tapi mereka tak memberiku waktu untuk bernapas. Dua orang langsung menyeret Sella kasar ke deretan kursi belakang bus mewah itu. Mereka mendorong tubuhnya yang montok hingga duduk di kursi panjang. Roknya sudah hilang entah ke mana celana dalam merah mudanya ditarkan paksa ke samping. Kedua pahanya yang putih mulus dan tebal dibuka lebar-lebar lututnya ditekuk hingga telapak kakinya menggantung di udara. Posisinya benar-benar terbuka dan rentan vagina Sella yang sudah basah terpapar jelas di bawah cahaya lampu temaram. Jangan… tolong… bisik Sella lemah suaranya serak karena mulutnya baru saja dipakai keras.

Tapi tak ada yang mendengar. Salah satu sopir yang bertubuh sedang dan berkumis langsung maju dengan celana sudah diturunkan. Kontolnya sudah keras tegak. Ia merangkak di antara paha Sella yang terbuka lebar memegang kedua pahanya yang gemuk itu dengan kasar lalu mendorong pinggulnya maju dengan satu hentakan kuat. Arghh!! Sella menjerit pelan tubuhnya tersentak keras. Sopir itu langsung menggenjotnya kasar tanpa pemanasan lebih lanjut. Bunyi plak plak plak yang keras dan basah langsung memenuhi bus. Setiap hentakan membuat tubuh Sella yang semok bergoyang-goyang hebat buah dadanya yang besar ikut bergoyang naik-turun di dalam bra yang sudah longgar. Enak juga memek anak bos geram sopir itu sambil menahan kedua paha Sella lebih kuat jari-jarinya meninggakan bekas merah di kulit putihnya. Ia menggenjot semakin cepat dan dalam kursi bus berderit mengikuti ritme kasarnya. 

Sella menggigit bibirnya kuat air mata terus mengalir. Tangan kecilnya mencengkeram kursi di samping tubuhnya berusaha menahan guncangan. Setiap kali kontol sopir itu masuk keluar suva basah dan erangan tertahan keluar dari mulotnya. Para sopir lainnya termasuk Bahar dan pria bertato berdiri mengelilingi sambil tertawa dan merekam dengan ponsel. Bahar menoleh ke arahku yang masih berdiri lemas dengan celana turun. Giliran lo lagi nanti Mas Pahlawan. Sekarang nikmati dulu pertunjukannya. Aku berdiri di lorong bus napasku masih tersengal melihat Sella yang sedang digenjot kasar di depan mataku. Ada campuran rasa bersalah amarah dan nafsu yang kembali bangkit melihat pemandangan itu. 

Aku masih berdiri lemas di lorong bus napas tersengal menyaksikan semuanya dengan kepala yang masih pusing. Pria yang pertama menggenjot Sella semakin cepat tubuhnya mengejang keras sambil mengerang panjang. Dengan beberapa hentakan kasar terakhir ia klimaks di dalam tubuh Sella menyemburkan cairannya dalam-dalam. Sella hanya bisa menggigit bibir air matanya terus mengalir tubuhnya gemetar hebat. Begitu pria itu mundur kontolnya masih menetes temannya pria bertato yang lebih muda dan bertubuh atletis langsung maju menggantikan. Ia menarik kedua pahanya lebih lebar lagi hingga hampir menyentuh dada gadis itu memposisikan diri di antara selangkangan yang sudah basah dan berantakan. Tanpa basa-basi ia mendorong kontolnya yang tebal dan keras masuk sekalimu hingga pangkal. 

Sella menjerit kecil Ahh… sakit… Pria itu langsung menggenjot dengan ritme kasar. Tangan kanannya naik ke leher Sella yang putih mulus lalu mencekiknya dengan kuat. Jari-jarinya menekan di sisi leher gadis itu membuat wajah Sella semakin merah. Memek si Non tambah peret aja nih katanya sambil tertawa sadis pinggulnya menghentak lebih keras dan dalam. Setiap kali ia mendorong bunyi plak plak plak plak yang keras dan basah bergema di bus. Tubuh Sella yang semok berguncang hebat buah dadanya melonjak-lonjak liar. 

Sella megap-megap kehabisan napas. Matanya melebar ketakutan mulotnya terbuka mencoba menghirup udara tapi cekikan di lehernya semakin kuat. Wajahnya memerah urat-urut di lehernya menonjol. Hhh… hhh… tolong… suaranya hanya keluar sebagai desisan lemah yang tersendat. Pria bertato itu malah semakin bersemangat. Ia menggenjot lebih keras dan cepat kontolnya keluar-masuk memek Sella yang semakin basah dan peret karena tekanan di lehernya. Enak banget… memeknya ngenceng gini… mau mati lo Non?

Tubuh Sella kejang-kejang pahanya gemetar hebat tangannya mencoba mencakar lengan pria itu tapi tak bertenaga. Napasnya semakin pendek matanya mulai berkunang-kunang. Namun pria itu terus menghentak tanpa ampun semakin dalam dan brutal. Akhirnya setelah beberapa menit yang terasa lama pria itu mengerang keras. Tubuhnya menegang pinggulnya menempel rapat di pangkal paha Sella sambil menyemburkan sperma panasnya berkali-kali ke dalam rahim gadis itu. Baru setelah itu ia melepaskan cekikan di leher Sella. 

Sella langsung tersengal-sengal hebat batuk-batuk menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil menangis tersedu. Lehernya memerah bekas jari air mata nya bercampur keringat. Pria bertato menarik kontolnya keluar dengan bunyi plop cairan putih kental langsung menetes dari memek Sella yang sudah merah dan bengkak. Mereka semua tertawa puas. Bahar menoleh ke arahku lagi dengan senyum lebar. Giliran lo lagi Mas Poniman. Atau mau nunggu Bahar yang kingkong ini dulu? Sella menatapku lemah dari kursi belakang wajahnya hancur tubuhnya penuh bekas dan cairan. Aku masih berdiri lemas di lorong bus menyaksikan semuanya dengan perasaan yang campur aduk. Bahar si King Kong bertubuh hitam besar maju dengan nafsu yang membara. Ia tidak duduk atau merangkak seperti yang sebelumnya. Sebaliknya ia berdiri tegap di depn kursi belakang kakinya kokoh menapak lantai bus. Dengan tangan besarnya Bahar menarik pinggul Sella ke pinggir kursi hingga pantat montoknya hampir meluncur keluar. 

Sella masih dalam posisi duduk punggungnya bersandar di kursi bus. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar mengangkang paha putihnya yang tebal dan mulus ditarik tinggi hingga lututnya hampir menyentuh dada. Memeknya yang sudah basah merah dan penuh cairan sperma pria-pria sebelumnya terpapar sempurna di depn Bahar. Bahar memegang kontolnya yang besar dan tebal dengan satu tangan lalu menggesekkannya sebentar di bibir memek Sella sebelum mendorong pinggulnya maju dengan kuat. Aaaahhh!! Sella menjerit keras saat kontol raksasa Bahar masuk sekalimu hingga pangkal dalam posisi ini. Karena ia duduk dan Bahar berdiri sudut penetrasi menjadi sangat dalam. Bahar langsung menggenjot dengan ritme berut dan kasar. 

Tubuhnya yang hitam pekat dan berotot menjulang di atas Sella yang putih montok kontras yang sangat mencolok. Setiap hentakan membuat tubuh Sella berguncang hebat di kursi. Buah dadanya yang besar melonjak-lonjak liar di dalam bra yang sudah longgar. Kedua kaki Sella yang mengangkang lebar semakin terbuka tumitnya hampir menyentuh bahu Bahar. Lama-kelamaan secara naluriah kedua kakinya naik dan melingkar di pinggang Bahar yang lebar seolah meminta disodok lebih dalam lagi. Aakkhh… sodok memekku lebih dalam lagi Bang…! racau Sella dengan suva parau dan penuh nafsu yang terpaksa. Matanya setengah terpejam pinggulnya mulai bergerak kecil mengikuti hentakan Bahar. Orgasmenya sudah semakin dekat.

Bahar tertawa kasar lihat tuh anak bos mulai minta sendiri. Tangan kanannya yang besar meraih leher Sella lalu mencekiknya kuat. Jari-jarinya mengunci leher putih itu dengan kuat sambil terus menggenjot kasar dan cepat. Plak! Plak! Plak! Plak! Bunyi benturan daging yang keras dan basah semakin kencang. Karena posisi berdiri setiap hentakan Bahar terasa lebih kuat dan dalam. Kontolnya yang besar keluar-masuk memek Sella dengan ganas cairan putih kental dari pria sebelumnya muncrat-muncrat keluar setiap kali ia menyodok. Sella megap-megap kehabisan napas karena cekikan tapi kakinya justru semakin erat melingkar di pinggawa Bahar menariknya lebih dalam. 

Tubuhnya kejang-kejang hebat memeknya mengenceng kuat di sekitar kontol Bahar. Aaahh… Bang… dalam… mau keluar…!! racau Sella lagi suaranya tersendat. Bahar menggenjot semakin brutal pinggulnya bergerak seperti palu besar. Akhirnya Sella mencapai klimaks yang kuat tubuhnya mengejang hebat cairannya menyembur membasahi kontol Bahar dan lantai bus. Hampir bersamaan Bahar menggerang seperti binatang dan menyemburkan sperma panasnya yang banyak dan kental jauh ke dalam rahim Sella. 

Setelah puas Bahar menarik kontolnya keluar dengan bunyi basah. Cairan putih kental langsung mengalir deras dari memek Sella yang terbuka lebar dan bengkak. Sella tergeletak lemas di kursi dengan kaki masih mengangkang napasnya tersengal-sengal tubuhnya penuh keringat dan bekas tangan. Bahar menoleh ke arahku sambil menyeka keringat kontolnya yang masih setengah tegang menetes-netes. Sekarang giliran lo Mas Poniman. Mau berdiri juga seperti gue atau mau posisi lain? Aku berdiri di lorong bus napasanku masih berat. Pemandangan Sella yang tergeletak lemas dengan kaki mengangkang lebar memeknya yang merah bengkak dan mengalirkan campuran sperma kental dari Bahar dan pria-pria sebelumnya membuat darahku kembali mendidih. Penisku yang tadi sempat lemas kini kembali berdiri tegang berdenyut-denyut keras ujungnya sudah basah lagi. Tanpa banyak bicara aku maju dengan langkah beringas. 

Aku menarik tubuh Sella yang lemas dan berkeringat itu membaliknya hingga ia berdiri menghadap deretan kursi belakang bus. Aku memaksa kedua tangannya bertumpu pada sandaran bangku di depannya sehingga tubuhnya menungging sempurna di hadapanku. Punggungnya yang putih mulus melengkung indah pinggul dan pantat montoknya terangkat tinggi memeknya terbuka lebar dan menetes-netes. Aku berdiri tepat di belakangnya memegang pinggul Sella yang lebar dan kenyal dengan kedua tangan. Tanpa pemanasan lagi aku dorong penisku yang sudah keras maksimal masuk ke dalam memeknya yang licin dan penuh cairan orang lain. Uhh… ahh!! Sella mengerang panjang tubuhnya tersentak ke depan.

Aku langsung genjot dia sambil berdiri pinggulkku menghentak kasar dan cepat dari belakang. Tangan kiriku berpegangan kuat pada pundaknya yang lembut tangan kananku mencengkeram pinggulnya. Setiap hentakan membuat pantat montok Sella bergoyang-goyang hebat benturan daging kami menghasilkan suva plak plak plak yang keras dan basah. Aku menunduk menciumi rambutnya yang acak-acakan dan wangi. Bau keringat campur parfum manisnya membuat nafsuku semakin liar. Lalu aku geser bibirku ke lehernya yang putih menggigit pelan tapi kuat di sana meninggalkan bekas merah. Sella menggigil dan mendesah Mas… ahh… Punggungnya yang licin seperti porselen dan berkilau karena keringat membuatku semakin gila. 

Aku menjilat punggungnya dari bawah ke atas dengan lidahku yang panas merasakan rasa asin keringat dan kehalusan kulitnya. Lidahku menelusuri tulang belakangnya sementara pinggulkku terus menghentak tanpa henti menyetubuhi memeknya yang semakin peret dan basah. Enak… memekmu enak sekali Sella… bisikku parau di telinganya sambil menggigit cuping telinganya. Aku genjot semakin kuat tubuhku menempel rapat di punggungnya. Tangan yang berpegangan di pundaknya aku gunakan untuk menarik tubuhnya ke belakang setiap kali aku menyodok ke depan membuat penisku masuk semakin dalam hingga pangkal. Sella hanya bisa mengerang dan mendesah tak karuan kakinya gemetar hebat menopang tubuhnya. Para sopir lainnya berdiri mengelilingi tertawa dan masih merekam. Bahar menyeringai lebar baru sekarang lo keluar binatangnya ya Mas Pahlawan. 

Aku tak peduli. Nafsu sudah menguasai sepenuhnya. Aku terus menggenjot Sella dari belakang dengan liar menciumi menggigit dan menjilat punggung putihnya yang indah sambil merasakan memeknya mengenceng di sekitar penisku. Aku makin buas mendengar erangan Sella yang parau dan putus-putus. Setiap desahan dan erangannya seperti bensin yang menyulut apa nafsuku yang sudah membara. Tanpa bisa kutahan lagi aku menarik tubuh montoknya kasar dari posisi menungging. Kedua tanganku mencengkeram pinggulnya yang lebar lalu kuseret dia turun ke lantai bus yang dingin. Dengan satu dorongan kuat aku hempaskan tubuhnya hingga telentang di lantai sempit lorong bus. 

Sella terbaring dengan napas tersengal rambutnya acak-acakan wajahnya merah dan tubuhnya penuh keringat serta bekas-bekas tangan. Kedua kakinya terbuka lebar secara otomatis. Aku langsung merangkak di atasnya memposisikan diri di antara paha montoknya yang gemetar. Dengan satu hentakan kasar aku tusukkan penisku yang sudah keras mengkilap kembali ke dalam memeknya yang licin dan penuh cairan.

Aaahhh!! Mas Poniman…! jerit Sella punggungnya melengkung ke atas. Aku langsung menggenjotnya dengan ganas di posisi missionary di lantai bus. Pinggulkku naik-turun dengan kuat dan cepat setiap sodokan menghantam dalam-dalam hingga pangkal. Bunyi plak plak plak plak yang basah dan kencang bergema di dalam bus. Karena nafsu yang sudah tak terkendali aku menampar payudaranya yang besar dan montok dengan telapak tangan. Plak! Plak! Buah dada Sella yang putih dan kenyal itu langsung memerah bekas tamparan. Aku tampar lagi dan lagi bergantian kiri dan kanan sambil terus menggenjot memeknya tanpa henti. 

Payudaranya bergoyang-goyang liar setiap kali tanganku mendarat meninggakan bekas merah yang semakin jelas di kulitnya yang halus. Enak… memekmu enak banget Sella! geramku sambil menampar payudaranya sekali lagi dengan agak keras. Sella meracau tak karuan tubuhnya bergoyang hebat di bawahku. Ahh… sakit… tapi… aaahh… lebih keras Mas…! Kedua tangannya mencengkeram punggungku kukunya menancap di kulitku. Kakinya melingkar di pinggawa ku seolah tak mau melepasku. Aku semakin buas pinggulkku menghentak lebih kasar kontolku keluar-masuk memeknya yang semakin peret dan basah. 

Tangan kiriku meremas dan menampar payudaranya yang sudah merah membara sementara tangan kananku menekan lehernya pelan. Suva erangannya wajahnya yang penuh air mata bercampur kenikmatan dan tubuh montoknya yang bergoyang di bawahku membuatku benar-benar lupa segalanya. Aku sedang asik menggenjot Sella dengan liar di lantai bus. 

Tubuh montoknya bergoyang hebat di bawahku payudaranya yang sudah merah bekas tamparan bergoyang-goyang setiap kali pinggulkku menghantam. Memeknya yang licin dan penuh cairan orang lain terasa semakin peret menggenggam penisku erat. Sella meracau tak karuan di bawahku kakinya melingkar erat di pinggawa ku. Uh… uh… Mas… lebih keras… erangnya parau. Aku semakin buas tanganku kembali menampar payudaranya yang montok plak! plak! sambil terus menyodok dalam-dalam. Tiba-tiba ponselku yang tergeletak di lantai bus berdering keras. Nada dering standar yang cukup nyaring memecah suasana panas di dalam bus. Salah satu sopir pria bertato tertawa kecil sambil mengambil ponsel itu dari lantai. Ia melirik layar lalu menyeringai lebar dan menyodorkannya padaku tanpa mematikan panggilan. Angkat Mas Pahlawan. Ini Bos Besar.

Aku terdiam sejenak pinggulkku masih setengah bergerak di dalam memek Sella. Dengan napas tersengal aku mengambil ponsel itu dengan tangan kiri sambil tangan kananku masih menekan dada Sella agar tetap diam. Aku menjawab panggilannya. Halo Pak… suaraku berusaha dibuat setenang mungkin meski masih agak parau. Poniman kamu di mana? Meeting sudah selesai. Antar saya pulang sekarang kata Bapak Hartono di seberang sana dengan nada biasa tidak curiga sama sekali. Saya tunggu di depan kantor. Ba… baik Pak. Saya segera ke depan jawabku cepat. 

Sella di bawahku membeku matanya melebar ketakutan mendengar suva ayahnya. Ia mencoba menutup mulotnya sendiri dengan tangan tapi tubuhnya masih gemetar karena penisku masih tertanam dalam-dalam di memeknya. Bapak Hartono tidak tahu sama sekali kalau putrinya sedang telentang telanjang di lantai bus belakang kantor sedang digenjot keras oleh sopir pribadinya sendiri bersama beberapa sopir bus lainnya. Aku menutup telepon. Suasana di dalam bus langsung tegang. Para sopir saling pandang ada yang tertawa pelan tapi agak gugup. Bahar menyeringai gimana Mas? Bos nunggu. Lo mau lanjutin dulu atau buru-buru ke depan? Penisku masih berdenyut keras di dalam tubuh Sella yang basah. 

Gadis itu menatapku dengan pandangan campur aduk takut malu dan masih ada sisa nafsu. Aku masih di atas Sella pinggulkku masih pelan-pelan bergerak ragu antara menyelesaikan atau segera pergi. Aku mendengar perintah Bapak Hartono di telepon tadi tapi nafsu yang sudah memuncak membuatku tak bisa berhenti begitu saja. Dengan napas tersengal aku menarik penisku keluar dari memek Sella yang sudah penuh cairan. Bunyi plop basah terdengar ketika kontolku yang mengkilap keluar diikuti aliran sperma dan cairan Sella yang menetes ke lantai bus. Tanpa kata-kata aku membalik tubuh montok Sella dengan kasar hingga ia menelungkup di lantai bus yang dingin. Payudaranya yang sudah merah bekas tamparan tertekan ke lantai pantatnya yang besar dan bulat terangkat tinggi. 

Aku langsung duduk di atas pahanya yang tebal dan kenyal menindihnya agar tak bisa bergerak. Kedua tanganku mencengkeram pinggulnya yang lebar kuat-kuat lalu aku dorong penisku yang masih keras maksimal masuk kembali ke memeknya dari belakang dengan satu hentakan brutal. Aaahhh!! Sella menjerit tertahan tubuhnya tersentak di bawahku. 

Aku langsung menggenjotnya dengan kasar dan cepat. Pinggulkku naik-turun seperti piston menghantam pantat montoknya tanpa ampun. Plak! Plak! Plak! Plak! Bunyi benturan daging yang keras dan basah memenuhi bus. Karena posisiku dudut di pahanya sudut penetrasi menjadi sangat dalam dan sempit. Kenceng… sialan… memekmu benar-benar enak geramku sambil terus menghentak semakin cepat. Kedua tanganku mencengkeram pinggul Sella lebih kuat jari-jariku meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Tubuh montoknya bergoyang-goyang hebat di bawah tindihanku pantatnya berguncang setiap kali kontolku masuk hingga pangkal. Sella hanya bisa mengerang dan meracau di lantai wajahnya tertekan ke samping. Mas… ahh… dalam…! Aku semakin liar. Hentakanku semakin cepat dan kasar kontolku keluar-masuk memeknya yang licin dan penuh cairan. Sensasi panas dan peret itu membuatku tak tahan lagi. 

Aaaahhhhh…!! Aku melolong panjang suaraku menggema di dalam bus. Tubuhku menegang hebat. Pinggulkku menempel rapat di pantat Sella sambil menyemburkan sperma panas dan kentalku dalam-dalam ke rahimnya berkali-kali. Semburan demi semburan keluar dengan kuat memenuhi memeknya yang sudah penuh. Para sopir bus langsung sorak-sorai dan tertawa keras. Wooo! Mantap Mas Poniman! Haha pahlawan kita akhirnya ikut main juga! Genjotnya ganas banget! Aku masih terengah-engah beberapa detik kontolku berdenyut di dalam tubuh Sella sebelum akhirnya kutarik keluar. Cairan putih kental langsung mengalir deras dari memeknya yang terbuka lebar. 

Tanpa banyak bicara aku buru-buru berdiri menarik celana dan merapikan pakaianku yang berantakan. Sella masih tergeletak lemas di lantai bus tubuhnya penuh cairan keringat dan bekas tamparan napasnya tersengal-sengal. Aku melirik Bahar dan yang lain. Jaga dia. Jangan sampai ketahuan siapa-siapa. Lalu aku cepat turun dari bus berjalan tergesa-gesa menuju parkiran depn kantor sambil berusaha menenangkan napas dan detak jantungku. Tubuhku masih terasa panas bau seks masih menempel di kulitku. Pak Hartono sudah menunggu di depn pintu masuk kantor wajahnya biasa saja tidak curiga apa-apa. Maaf lama Pak kataku sambil membukakan pintu mobil untuknya. Sambil menyetir pulang pikiranku kacau. Apa yang baru saja aku lakukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7

Draft Preman Tanah Abang

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Draft Budak Napsu Tetanggaku.

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Kuentot majikan cinaku yang sedang hamil

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Aksi Keji Komplotan Dul Petot

Draft Sugar Daddy Yang Brutal.