By : Analconda13
Setelah pensiun dari jabatan Bupati dua tahun lalu hidupku terasa hampa namun penuh kebebasan. Dulu saat masih menjabat aku sering bermain dengan pelacur kelas atas yang mahal. Mereka datang ke vila atau hotel mewah atas perintahku. Tubuh mereka halus dan patuh tapi lama kelamaan itu terasa biasa saja seperti transaksi rutin tanpa tantangan. Belakangan aku semakin tertarik dengan gadis-gadis Chindo yang sering tebar pesona di medsos. Kulit mereka putih mulus wajah eksotis dan tubuh ramping yang sengaja dipamerkan dengan pakaian ketat.
Aku mulai mencari cara untuk menaklukkan mereka bukan sekadar bayar sekali pakai melainkan membuat mereka bergantung. Aku ingin menguasai tubuh dan kehendak mereka sepenuhnya. Uang hasil korupsi bertahun-tahun yang kusimpan di berbagai rekening dan properti memberiku kekuasaan tanpa batas. Di usia 52 tahun tubuhku masih terjaga meski perut mulai membuncit dan hasratku semakin liar dan tak wajar.
Suatu malam saat aku scrolling Instagram dengan gelas whiskey di tangan aku menemukan Tasya. Ia mahasiswi semester 7 jurusan komunikasi keturunan Tionghoa dengan wajah cantik eksotis kulit putih mulus serta tubuh ramping. Ia selalu memakai crop top ketat dan rok pendek yang menonjolkan payudara montok serta bokong bulatnya. Aku langsung terpikat. Awalnya aku hanya like dan komentar halus lalu mengirim DM yang semakin intim. Tak butuh waktu lama ia setuju bertemu. Aku menjadi sugar daddy-nya dengan membayar kos mewahnya membeli tas Hermes sepatu Louboutin dan memberi uang bulanan yang membuat matanya berbinar. Baginya ini hanya transaksi biasa tetapi bagiku ini awal dari fantasi gelap yang selama ini kusimpan. Malam-malam pertama kami bersama berlangsung di sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat kota. Aku memesan suite paling mewah di lantai tertinggi dengan lampu temaram dan tempat tidur king-size yang luas. Tasya datang tepat waktu mengenakan crop top putih ketat yang menekan payudaranya hingga bentuknya sangat jelas serta rok denim pendek yang hanya menutupi separuh paha mulusnya. Kulit putihnya terlihat semakin cerah di bawah cahaya lampu. Ia tersenyum manis saat aku membukakan pintu tapi matanya menunjukkan sedikit gugup. Aku menyambutnya dengan pelukan lembut dan tanganku langsung meraba pinggang rampingnya yang terasa hangat. "Kamu semakin cantik Tasya" bisikku sambil mencium lehernya pelan. Kami duduk di sofa lalu aku menuangkan champagne untuknya. Setelah beberapa teguk ia mulai rileks. Aku menariknya ke pangkuanku dan mencium bibirnya yang lembut serta manis. Ciuman itu semakin dalam sementara lidahku menjelajahi mulutnya dan tanganku naik pelan ke bawah crop top-nya merasakan kulit perutnya yang halus.Akhirnya aku memutuskan waktunya sudah tiba. Aku mengajak Tasya ke vila mewahku di Puncak yang tertutup rapat dengan kolam renang pribadi serta kamar-kamar luas. "Ini pesta pribadi spesial buat kamu sayang. Ada teman-teman aku yang mau ketemu. Mereka baik-baik dan hadiahnya bisa sampai ratusan juta kalau kamu nurut malam ini" kataku sambil memeluk pinggangnya di mobil. Tasya sempat ragu dengan mata yang menunjukkan ketakutan tapi godaan uang yang sangat besar membuatnya akhirnya mengangguk pelan.
Malam itu saat kami masuk ke vila empat pria berusia lima puluh hingga enam puluhan tahun sudah menunggu di ruang tamu dengan minuman keras dan musik pelan. Mereka tersenyum lebar melihat Tasya yang memakai dress ketat hitam pendek. Wajah Tasya langsung memucat saat ia menyadari ini bukan pesta biasa. "Pak Harun ini apa?" tanyanya dengan suara bergetar sambil mencoba mundur ke arah pintu. Aku pegang lengannya pelan tapi tegas lalu bisik di telinganya "Kamu sudah direkam semua Tasya. Kalau kamu pergi sekarang rekaman itu bisa tersebar ke kampus dan keluargamu. Tapi kalau kamu patuh malam ini besok kamu bangun dengan rekening penuh dan semua ini selesai.
Tasya gemetar dengan air mata menggenang di matanya yang indah tapi ia tak berani lari. Aku tarik dia ke tengah ruangan dan lepaskan dress-nya perlahan di depan mereka semua. Tubuh rampingnya yang putih mulus terpapar sepenuhnya. Payudaranya yang montok dan kenyal serta bokongnya yang bulat membuat keempat pria itu langsung bergairah. Awalnya Tasya masih melawan pelan dengan mencoba menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangannya tapi Pak Budi dan Pak Slamet mendekat lalu meraba payudaranya dengan tangan kasar. Godaan uang puluhan juta yang dijanjikan di depan mata membuatnya mulai menyerah.
Akhirnya Tasya menyerah sepenuhnya di tengah ruangan itu. Pak Budi dan Pak Slamet mendekat lebih dekat lalu meremas payudaranya yang montok dengan tangan kasar. Jari mereka mencubit puting susu Tasya pelan-pelan hingga gadis itu mendesis kecil. Dua pengusaha lainnya juga ikut mendekat dan meraba paha mulus serta bokong bulatnya tanpa ragu. Tasya masih gemetar dengan air mata menggenang di matanya yang indah namun ia tak berani melawan lagi karena ancaman rekaman dan godaan uang yang besar. Mereka lalu membawa Tasya masuk ke kamar utama yang luas dan meletakkannya di atas tempat tidur king-size. Aku duduk di sofa sudut kamar sambil menyalakan kamera profesional untuk merekam semuanya. Pak Budi membuka paksa kedua kaki Tasya lebar-lebar lalu menunduk dan menjilat liang kewanitaannya dengan lidah yang kasar. Ia menjilat klitoris Tasya berulang kali hingga cairan mulai keluar membasahi mulutnya. "Memek Chindo ini cepat basah ya" umpat Pak Budi sambil tertawa kecil. Sementara itu Pak Slamet memegang kepala Tasya dan memasukkan batangnya yang keras ke mulut gadis itu lalu mulai menggenjotnya pelan tapi dalam. Tasya tersedak pelan namun tubuhnya mulai bereaksi dengan payudaranya yang naik turun karena napas yang memburu. Pak Budi kemudian bangkit dan mendorong batangnya yang tebal masuk ke liang kewanitaannya dengan satu hentakan kuat. Tasya mengerang panjang di sekeliling batang di mulutnya saat dinding sempitnya diregang paksa. Pak Budi mulai memompa dengan gerakan lambat tapi kuat sehingga bokong bulat Tasya bergoyang setiap kali ia menghujam.
Tasya masih terbaring telentang di atas tempat tidur king-size yang empuk. tubuh rampingnya yang putih mulus kini sepenuhnya terbuka tanpa busana. Kedua kakinya masih terbuka lebar oleh tangan Pak Budi yang kuat, sementara batang tebal pria paruh baya itu perlahan memompa masuk keluar dari liang kewanitaannya yang sempit dan basah. Setiap hentakan membuat payudara montok Tasya bergoyang-goyang indah, putingnya yang kecil dan pink sudah mengeras karena rangsangan. "Ahh... mmphh..." erangan Tasya teredam oleh batang Pak Slamet yang sedang menggenjot mulutnya dengan ritme pelan tapi dalam. Air liur gadis itu menetes dari sudut bibirnya yang merah, matanya yang indah masih berkaca-kaca air mata, tapi pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti irama Pak Budi tanpa sadar. Pak Budi tersenyum puas sambil memegang pinggul Tasya yang ramping, jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. "Sempit banget memeknya... masih kayak perawan ya," katanya sambil mempercepat sedikit gerakannya. Suara basah 'plok-plok' mulai terdengar jelas setiap kali pangkal batangnya menabrak bibir luar liang Tasya yang sudah membengkak. Ia menunduk sebentar, meludah ke klitoris Tasya lalu menggosokkannya dengan ibu jarinya yang kasar, membuat tubuh gadis itu mengejang keras. Sementara itu, Pak Harun dan Pak Joko — dua pengusaha lainnya — sudah melepas celana mereka. Batang mereka yang sudah tegang berdiri tegak, urat-uratnya menonjol karena gairah. Pak Harun mendekat ke sisi kiri Tasya, tangannya meremas payudara kiri gadis itu dengan kuat, mencubit putingnya hingga Tasya merintih di sekeliling batang Pak Slamet. Pak Joko mengambil sisi kanan, menjilat leher Tasya lalu turun ke payudara kanannya, mengisap putingnya dengan rakus. Aku duduk di sofa sudut kamar, kamera profesional di tripod terus merekam setiap sudut. Senyumku melebar melihat Tasya yang semula melawan kini mulai kehilangan kendali. Tubuhnya sudah berkeringat tipis, kulit putihnya mengkilap di bawah lampu kamar yang redup. Pak Slamet menarik batangnya keluar dari mulut Tasya dengan suara 'plop'. Benang liur panjang menghubungkan bibir gadis itu dengan kepala batangnya yang basah. Tasya langsung terbatuk-batuk, napasnya tersengal. "Tolong... pelan-pelan..." pintanya dengan suara lemah, tapi Pak Slamet hanya tertawa kecil lalu menampar pelan pipinya dengan batangnya yang licin. "Giliran aku yang dapet mulut manis ini," kata Pak Slamet sambil bergeser. Pak Budi masih setia memompa liang kewanitaannya dengan gerakan yang semakin kuat, bokong bulat Tasya terangkat sedikit setiap kali ia menghujam dalam. Pak Harun naik ke tempat tidur dan memegang kepala Tasya, memutar wajahnya ke arah batangnya yang agak bengkok tapi panjang. "Buka mulutnya sayang," perintahnya dengan suara berat. Tasya ragu sebentar, tapi saat Pak Budi memberikan satu hentakan keras yang membuatnya mengerang panjang, mulutnya terbuka otomatis. Pak Harun langsung mendorong batangnya masuk hingga separuh, merasakan lidah hangat Tasya di sekelilingnya. Sekarang Tasya benar-benar terisi di dua lubang sekaligus. Pak Budi di bawah, memompa memeknya dengan ritme stabil, sementara Pak Harun menggenjot mulutnya dengan pelan tapi dalam, sesekali mendorong hingga Tasya tersedak. Pak Joko dan Pak Slamet bergantian meremas payudaranya, mencubit putingnya, dan sesekali menjilat leher serta telinga Tasya yang memerah. Cairan Tasya sudah membasahi selangkangan Pak Budi dan seprai di bawahnya. Meski air matanya masih mengalir, pinggulnya kini mulai mendesak ke atas, seolah tubuhnya sudah menyerah pada kenikmatan yang dipaksakan itu. Pak Budi menarik batangnya keluar sebentar, memamerkan betapa basah dan mengkilapnya liang Tasya. "Lihat ini... memek Chindo emang paling enak," katanya sambil tertawa. Ia lalu membalik tubuh Tasya dengan bantuan yang lain hingga gadis itu sekarang posisi doggy style, bokong bulatnya terangkat tinggi, wajahnya menghadap ke arah Pak Harun yang masih ingin memakai mulutnya. Aku mencondongkan tubuh ke depan, menyesuaikan kamera agar menangkap ekspresi wajah Tasya dan setiap detail penetrasi.
Tasya kini berada dalam posisi doggy style di atas tempat tidur king-size, bokong bulatnya yang putih dan kenyal terangkat tinggi, sementara wajahnya ditekan ke arah pangkuan Pak Harun. Batang Pak Harun masih setengah masuk ke mulutnya, membuat pipinya agak menggembung. Pak Budi yang tadi memompa memeknya menarik diri, batangnya yang basah oleh cairan Tasya berkilau di bawah cahaya lampu. "Giliran kita yang lain dong," kata Pak Slamet dengan suara serak penuh nafsu. Ia langsung naik ke belakang Tasya, tangannya yang kasar meraba bokong bulat gadis itu sebelum menamparnya keras sekali. **Plak!** "Aahh!" Tasya menjerit tertahan karena tamparan itu, bokongnya langsung memerah meninggalkan bekas telapak tangan. Pak Slamet tidak memberi waktu, ia memegang pinggul ramping Tasya lalu mendorong batangnya yang tebal dan panjang masuk ke liang kewanitaannya yang sudah basah licin dalam satu hentakan kuat. "Ngghhh!!" Tasya mengerang panjang, tubuhnya maju ke depan hingga batang Pak Harun masuk lebih dalam ke mulutnya. Pak Slamet langsung mulai menggenjotnya kasar. Gerakannya tidak pelan lagi — ia menghujam dengan kuat dan cepat, setiap tabrakan pangkal batangnya ke bokong Tasya menimbulkan suara **plok-plok-plok** yang basah dan keras. **Plak! Plak! Plak!** Tamparan demi tamparan mendarat di bokong Tasya bergantian kiri dan kanan. Kulit putih mulusnya semakin merah membara. Setiap tamparan membuat dinding memek Tasya mengejang erat di sekeliling batang Pak Slamet. " Enak banget memeknya... sialan, sempit dan nyedot gini," geram Pak Slamet sambil terus menggenjot kasar. Tangan kirinya meraih rambut panjang Tasya, menjambaknya kuat ke belakang hingga leher gadis itu tertekuk. Wajah Tasya terangkat, air mata mengalir deras di pipinya yang memerah, sementara mulutnya masih penuh dengan batang Pak Harun. Pak Harun memanfaatkan posisi itu. Ia memegang kepala Tasya dengan kedua tangan dan mulai menggenjot mulutnya lebih dalam, mendorong batangnya hingga menyentuh tenggorokan gadis itu. "Hisap yang benar, Nak. Jangan cuma nangis," katanya sambil tertawa kecil. Pak Joko yang belum sabar mendekat ke samping, tangannya meremas payudara Tasya yang bergoyang-goyang liar karena hantaman Pak Slamet. Ia mencubit putingnya keras, memelintirnya pelan sambil menjilat leher Tasya yang berkeringat. Pak Slamet semakin ganas. Ia menarik rambut Tasya lebih kuat hingga punggung gadis itu melengkung indah, bokongnya terangkat lebih tinggi. Hentakannya semakin dalam dan brutal, batangnya keluar-masuk hampir seluruhnya setiap kali. Cairan Tasya menyembur sedikit setiap kali ia tarik keluar, membasahi paha dalam gadis itu dan selangkangan Pak Slamet. "Uh... uh... uh..." Tasya hanya bisa mengeluarkan suara erangan tercekat di setiap hentakan. Tubuhnya bergoyang seperti boneka di antara dua pria itu. Meski air matanya terus mengalir, pinggulnya mulai bergerak mundur menyambut hantaman Pak Slamet tanpa sadar. Setelah beberapa menit menggenjot kasar, Pak Slamet menarik batangnya keluar dengan suara basah. Ia menampar bokong Tasya sekali lagi yang sudah sangat merah, lalu bergeser memberi tempat. "Ganti aku," kata Pak Joko dengan mata penuh nafsu. Ia langsung menggantikan posisi di belakang Tasya. Batangnya sedikit lebih pendek tapi lebih tebal. Tanpa aba-aba, ia mendorong masuk keras ke memek Tasya yang sudah longgar dan basah sekali. **Plak! Plak! Plak!** Tamparan Pak Joko lebih keras dan cepat. Ia menjambak rambut Tasya dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang pinggul dan menariknya ke belakang setiap kali ia maju. Gerakannya liar, seperti binatang — cepat, kuat, dan tanpa ampun. Tasya menjerit di sekeliling batang Pak Harun. Tubuhnya gemetar hebat. Payudaranya bergoyang liar, keringat membasahi seluruh tubuhnya yang putih. Pak Harun akhirnya menarik batangnya keluar dari mulut Tasya, memberi gadis itu kesempatan untuk bernapas. Tasya langsung tersengal-sengal, ludah menetes dari mulutnya yang terbuka. "Tolong... aku capek... pelan saja..." pintanya dengan suara parau. Tapi Pak Joko hanya tertawa dan menjambak rambutnya lebih kuat. "Belum boleh capek sayang. Masih ada yang belum puas." Ia mempercepat genjotannya, batang tebalnya menghantam titik sensitif di dalam Tasya berulang kali. Sementara itu, Pak Budi dan Pak Slamet berdiri di samping, mengusap batang mereka yang masih keras sambil menunggu giliran berikutnya, sesekali menampar payudara Tasya atau meremas bokongnya yang sudah penuh bekas tamparan merah.
Tasya masih dalam posisi doggy style, bokongnya yang sudah merah bekas tamparan terangkat tinggi, tubuh rampingnya gemetar hebat. Pak Joko sedang menggenjotnya dengan kasar dari belakang, batang tebalnya keluar-masuk cepat dan dalam, setiap hantaman menghasilkan suara basah **plok-plok-plok** yang memenuhi kamar. **Plak! Plak! Plak!** Tamparan Pak Joko terus mendarat keras di bokong Tasya. Kulit putihnya kini dipenuhi bekas merah telapak tangan. Tangan kirinya menjambak rambut panjang Tasya kuat-kuat, menarik kepalanya ke belakang hingga punggung gadis itu melengkung sempurna. "Uh... uh... ahh!!" Tasya hanya bisa mengeluarkan erangan putus-putus. Air matanya masih mengalir, tapi pinggulnya kini bergerak mundur secara refleks menyambut setiap hantaman. Pak Joko mendengus kasar, gerakannya semakin cepat dan brutal. "Mau keluar nih... siap-siap ya!" Ia menjambak rambut Tasya lebih keras, menarik pinggulnya ke belakang dengan kedua tangan, lalu menghujam dalam-dalam beberapa kali terakhir sebelum tubuhnya mengejang. "Aaaahhh!!" Pak Joko mengerang panjang saat sperma panasnya menyembur deras ke dalam rahim Tasya. Jet demi jet tebal menyembur kuat, memenuhi dinding dalamnya yang sempit. Ia tetap menekan batangnya dalam hingga habis, lalu menariknya perlahan. Begitu keluar, sperma putih kental langsung meluber keluar dari memek Tasya yang sudah agak menganga, menetes tebal ke seprai. Pak Slamet langsung maju menggantikan. Ia menampar bokong Tasya yang sudah sangat merah dua kali keras, lalu mendorong batangnya yang masih keras masuk ke lubang yang penuh sperma Pak Joko. "Basah dan licin banget sekarang... enak.. geramnya. Ia mulai menggenjot kasar lagi, tangannya menjambak rambut Tasya sambil sesekali menampar pinggul dan bokongnya. Gerakannya cepat dan kuat, membuat sperma Pak Joko semakin teraduk dan keluar-masuk bersama batangnya. Tasya hanya bisa merintih lemah, tubuhnya bergoyang liar. Payudaranya bergantung dan bergoyang-goyang setiap kali Pak Slamet menghantam. Setelah hampir sepuluh menit menggenjot tanpa ampun, Pak Slamet akhirnya mendorong dalam-dalam dan klimaks. "Nghhh... terima ini!" Ia menahan pinggul Tasya kuat-kuat sambil menyemburkan sperma panasnya yang banyak ke dalam. Sperma baru bercampur dengan milik Pak Joko, membuat lubang Tasya semakin penuh. Saat ia tarik keluar, cairan putih kental langsung meluber deras, mengalir ke paha dalam Tasya yang gemetar. Pak Harun yang sudah tidak sabar langsung mengambil posisi. Ia meraih rambut Tasya, menariknya kasar hingga wajah gadis itu mendongak, lalu menampar bokongnya berkali-kali dengan keras. **Plak! Plak! Plak! Plak!** " Bokongnya udah merah semua, bagus," katanya sambil tertawa serak. Batangnya yang panjang dan agak bengkok masuk dengan mudah ke memek Tasya yang sudah sangat licin dan penuh sperma. Ia menggenjot dengan ritme dalam dan kuat, setiap hentakan membuat sperma yang sudah ada di dalam terdorong keluar.
Tasya menjerit kecil, suaranya sudah parau. Tubuhnya basah keringat, rambutnya acak-acakan karena dijambak terus. Pak Harun semakin ganas, tangannya menjambak rambut sambil tangan satunya meremas payudara Tasya dari bawah. Tak lama kemudian, Pak Harun mengerang keras dan menyemburkan sperma ketiganya ke dalam. Ia menekan batangnya sangat dalam saat klimaks, membuat perut Tasya sedikit membuncit karena tekanan. Saat ditarik, sperma tiga orang sudah meluber banyak, mengalir seperti sungai kecil di paha Tasya dan membasahi seprai. Terakhir, Pak Budi naik ke belakang. Ia menatap kemaluan Tasya yang sudah memar dan penuh sperma dengan senyum puas. "Kayaknya nih cina mesti diajarin cara muasin pribumi.. katanya. Ia menampar bokong Tasya yang sudah bengkak merah, lalu memasukkan kejantanannya dengan satu hentakan kuat.
Ia menggenjot paling kasar di antara semuanya. Tangan kanannya menjambak rambut Tasya kuat sekali, tangan kirinya memegang pinggul dan menariknya kasar setiap kali maju. Gerakannya liar, cepat, dan dalam. Sperma yang sudah ada di dalam Tasya menyembur keluar setiap kali batangnya masuk. "Terima semuanya, Tasya...!" Pak Budi mengerang. Ia menghujam bertubi-tubi sebelum akhirnya menekan pinggul Tasya sangat kuat ke belakang dan klimaks panjang. Sperma keempatnya menyembur deras, memenuhi ruang yang sudah penuh. Begitu ia tarik keluar, memek Tasya yang sempit tak mampu menahan semuanya. Sperma putih kental meluber banyak sekali, mengalir deras ke paha, lutut, dan seprai di bawahnya. Lubangnya terbuka sedikit, berkedut-kedut, dengan sperma terus keluar perlahan. Tasya ambruk ke depan, tubuhnya lemas total di atas tempat tidur. Napasnya tersengal-sengal, air mata masih mengalir pelan, bokong dan memeknya merah dan penuh bekas. Sperma empat pria itu terus meluber dari dalamnya, membentuk genangan kecil di seprai. Keempat pria itu tertawa puas sambil mengusap batang mereka yang masih setengah tegang, menatap Tasya yang sudah hancur lebur di depan mereka.



Komentar
Posting Komentar