By : Analconda13
Namaku Deden. Aku seorang pria pribumi berbadan kekar yang berusia 49 tahun. Meski sudah hampir kepala lima namun kondisi tubuhku masih tergolong prima sehingga aku masih mampu bekerja dengan baik secara fisik. Sudah lama aku bekerja sebagai kuli di sebuah toko perabotan rumah tangga yang terletak di kawasan pecinan lama. Menurutku suasana di sana sangat berbeda dari tempat lainnya. Deretan bangunan tua bergaya klasik oriental masih terlihat berdiri rapi di pinggir jalan setapak yang sempit.
Kawasan itu dikelilingi oleh masyarakat Tionghoa yang masih sangat kuat menjunjung tradisinya. Toko tempatku bekerja letaknya memang agak jauh dari pusat keramaian pecinan. Lokasinya berada di dalam gang yang hanya bisa dilalui satu mobil saja. Karena itu pembeli yang datang pun hanya orang tertentu saja yang sudah mengetahui keberadaan toko tsb. Toko perabotan rumah tangga ini diberi nama Sinar Baru dan dikelola oleh pasangan lansia Tionghoa bernama Koh Aliong dan istrinya. Keduanya sangat giat dalam bekerja. Konon katanya toko ini sudah dikelola selama tiga generasi dan uniknya masih berdiri hingga saat ini. Toko Sinar Baru dibuka dari pagi hari sampai pukul 7 malam karena rumah tua dua lantai itu memang didesain menyatu langsung dengan toko yang ada di bagian depannya.
Kekagumanku pada keluarga tionghoa tsb bukan hanya pada etos kerja yang luar biasa giat dan selalu hidup sederhana. Aku juga mengagumi kedua pasangan lansia Tionghoa itu yang mempunyai tiga anak gadis yang begitu cantik jelita. Putri mereka yang paling besar Sherla sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di salah satu perumahan elite di pesisir pantai Jakarta.
![]() |
| Sherla |
Putri kedua keluarga chindo kolot itu bernama Caroline yang saat ini sudah hampir lulus kuliah. Dia cantik.. modis dan seksi namun terkesan sombong serta sering memandang rendah karyawan pribumi seperti diriku yang dianggap tak pernah punya masa depan. Sikap Caroline kuakui memang agak keras kepala dan tak pernah mau jika disuruh membantu jaga toko orangtuanya karena hal itu dianggap memalukan dan menurunkan gengsinya sebagai gadis chindo modern yang selalu berpenampilan modis dan terkadang sok kaya. Tapi hal ini juga perlu dimaklumi karena gadis itu memang memiliki seorang kekasih tampan yang entah dikenalnya darimana.. yang katanya termasuk dalam salah satu crazy rich terkenal dikota metropolitan ini yang nantinya akan membawa gadis itu pada kehidupan serba mewah seperti cicinya yang sudah dinikahi pria chindo kaya.
![]() |
| Caroline |
Kalau mau dibilang.. kehidupan koh Aliong dan keluarganya memang sangat beruntung karena meskipun selama ini hidup dalam tekanan ekonomi yang berat namun putri mereka bisa mendapatkan pasangan hidup dari keluarga chindo kelas atas yang hidupnya tak pernah kekurangan secara ekonomi.
| Sedangkan putri ketiga pasangan lansia itu bernama Livi atau lebih sering dipanggil Ching Ching oleh keluarganya. Berbeda dari kakaknya yang agak sombong dan judes Livi lebih hangat kepada orang lain termasuk pegawai pribumi rendahan seperti diriku. Sikapnya manja dan sangat kekanak-kanakan meskipun sudah masuk SMA tahun ini. Wajahnya cantik imut dan menggemaskan selain itu senyumnya juga manis sekali sehingga setiap orang yang memandangnya tidak akan pernah bosan. Tubuh Livi termasuk tinggi dan langsing seperti kedua cicinya dengan kulit putih mulus khas gadis chinese pecinan yang selalu bikin orang penasaran.. Rambut panjangnya yang hampir sepinggang juga membuatnya semakin mempesona. |
![]() |
| Livi / Ching Ching |
Sebenarnya aku sudah kenal gadis itu sejak dia masih kecil. Dulu aku sering ditugaskan oleh koh Aliong untuk mengantar-jemputnya pergi sekolah sehingga lama kelamaan gadis chindo yang manis itu menjadi sangat akrab denganku.
Ayah mereka Koh Aliong memiliki sikap keras dan tegas. Sering memerintah dengan nada tinggi kepada pegawai toko sehingga kadang membuatku sakit hati dengan perlakuan itu. Rasa kesal itu makin tak terkendali ketika aku dimarahi dengan kata kata kasar di depan pelanggan karena salah mengambil barang di gudang yang membuat rasa sakit hatiku semakin memuncak saja. Kemudian saat sedang santai aku mulai berpikir untuk membalas dendam semua perlakuan ini. Bukan hanya kepada pria tua itu tapi juga pada keluarganya. Aku mau mereka bertekuk lutut di hadapanku meskipun aku belum tahu bagaimana cara mewujudkannya. Rasa hormat yang selama ini kujaga selama bekerja puluhan tahun di toko tersebut kini perlahan mulai hancur dan tergantikan oleh rasa dendam yang memuncak.
Perubahan Sikap Livi
Suatu hari seperti biasanya. Livi baru saja pulang dari sekolah dan disuruh menggantikan papanya menjaga toko sebentar. Dia duduk dibelakang meja kayu tua sambil memainkan hpnya. Bila kuperhatikan.. belakangan ini sikap Livi memang agak berubah. Gadis belia yang dulunya manja dan kekanakan kini lebih pendiam dan nampak gelisah. Hingga akhirnya akupun mencoba mencari tahu penyebabnya.
"Non. Kalau bapak perhatiin.. belakangan ini sikap non Livi kok agak berbeda dari biasanya ya..
"Berbeda gimana pak.. perasaan.. sikap aku masih sama kayak dulu deh..
"Yah beda aja. Soalnya bapak kan udah kenal non Livi dari kecil. Yang bapak tau.. selama ini non itu kan orangnya ceria banget dan selalu manja. Tapi akhir akhir ini non malah keliatan lebih pendiam gitu. kataku yang masih penasaran.
Harus kuakui sifat Livi memang sangat manja. Bukan hanya kepada kedua orangtuanya saja tapi juga kepadaku sebagai pegawai toko senior yang sudah lama mengenalnya. Dulu waktu masih sekolah SD dia sering merengek padaku ketika minta dibelikan mainan atau sekedar jajan makanan didepan sekolahnya. Karena Livi sudah kuanggap seperti anakku sendiri maka aku pun tak segan membelikannya jajanan dengan uang pribadiku tanpas sepengetahuan orang tuanya. Karena aku tahu orang tua Livi sangat pelit dan jarang mau memenuhi keinginan putrinya tsb. Sifat Ayah Livi yang keras dan tegas jarang mau memanjakannya. Dia lebih sibuk berdagang dan mencari uang sebanyak banyaknya sehingga Livi jadi lebih dekat denganku dalam segala hal termasuk perasaan dan masalah pribadinya.
Awalnya Livi tak mau bercerita tentang masalahnya namun pelan pelan aku terus mendesaknya hingga akhirnya dia mau menceritakannya masalahnya.
"Ohh.. jadi gitu.. ya.. gara gara non baca cerita dewasa itu.. makanya non jadi pendiam kayak gini. Tadi bapak kira non abis kena bully sama teman temannya disekolah.
"Iya pak.. tapi bapak jangan kasih tau siapa siapa ya soal ini.. aku malu pak kalau sampe ketahuan orang apalagi papa mama dan ciciku.
"Udah non tenang aja.. daridulu non kan tau.. kalau bapak udah anggap non Livi seperti anak bapak sendiri. Jadi bapak gak mungkinlah membongkar aib non didepan orang lain.
"Iya pak.. makasih banget bapak udah mau dengerin curhatan aku.. soalnya aku gak tahu harus cerita sama siapa lagi. Soalnya cuma bapak yang ngertiin aku selama ini. Papa selalu sibuk cari uang ditoko. Mama sibuk bikin pesanan kue orang. Jadi aku mau cerita sama siapa lagi kalau ada masalah kayak gini.
"Mending gitu non. Kalau punya masalah pribadi emang gak boleh dipendam soalnya nanti bisa bikin non stress dan mengganggu kegiatan belajar non disekolah.
"Iya sih.. aku juga merasa lega banget kalau abis curhat masalah ini ke bapak.. tapi pakk.. gak tau kenapa.. aku kok jadi sering merasa bersalah kalau abis baca cerita erotis kayak gitu apalagi aku juga sering banget ngebayangin kejadiannya.
"Udah non soal itu mah gak usah dipikirin. Dan juga non gak perlu sampai merasa bersalah segala. Menurut bapak.. Kalau perempuan mau beranjak dewasa emang kayak gitu.. Pelan pelan mulai suka sama hal mesum kayak gitu. Itu namanya masa pubertas kalau gak salah.. Cuma yang namanya perempuan kan lebih tertutup soal gituan. Gak kayak anak lelaki.. hehe..
"Jadi menurut bapak. Perasaanku yang kayak gini tuh wajar ya.. tapi aku agak takut pak.. soalnya aku lebih tertarik baca cerita yang ceweknya kayak dipaksa gitu. Sebenarnya itu wajar gak sih pak.
"Ya emang kurang wajar sih. Soalnya kalau cewek kan biasanya suka sama hubungan seks yang lembut dan romantis. Tapi kalau non punya fantasi yang berbeda. ya.. gak masalah juga sih.. soalnya bapak pernah dengar ada amoy pecinan daerah sini yang anak gadisnya pemilik kedai bakmi katanya sampe rela digangbang sama pegawai minimarket cuma karena punya fantasi kayak non gitu loh..
"Hah.. ?!! Yang bener pak.. ? Soalnya aku pernah baca cerita yang mirip kejadian itu. Emang itu beneran terjadi ya.. ternyata ngeri juga ya pak.. kalau sampe punya fantasi gak wajar kayak gitu.. kok aku jadi takut ya mau baca cerita dewasa kayak gitu lagi.
"Gak usah takut non. Tiap orang kan pasti punya napsu.. yang namanya napsu itu non apalagi napsu seks. Makin ditekan malah makin meledek ledak loh.. jadi kalau menurut bapak biarin aja fantasi non mengalir seperti air. Yang penting non masih bisa mengendalikannya. Gak asal ngewe sembarangan kayak anak gadisnya pemilik kedai bakmi dipecinan itu. Hehe..
Setelah curhat padaku dihari itu. Gairah Livi bukannya mereda tapi malah makin menjadi jadi. Gairah liar dan rasa penasaran akan seks liar dengan pria pribumi makin memuncak dalam dirinya. Aku tahu ini dan aku ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Disaat Livi sedang menjaga toko sendirian aku pun makin sering mengajak ngobrol tentang hal mesum seperti ini bahkan akupun sering memintanya menonton video bokep gangbang yang membuatnya makin penasaran.
Beberapa hari kemudian.
Sore menjelang malam. Toko sudah hampir tutup dan pelanggan sudah sepi. Toko Aliong sudah mulai sepi setelah jam 6 sore. koh Aliong dan istrinya sudah naik kelantai dua rumah tua tsb meninggalkan Livi yang duduk sendirian di balik meja kayu tua itu. Suasana toko makin terasa sunyi, hanya ada suara kipas angin kecil yang berdengung pelan dan aroma kayu jati lama yang masih menguap dari lemari barang.
Livi memainkan HP-nya dengan jari-jari yang agak gemetar. Wajahnya yang imut—kulit putih halus, mata besar yang biasanya berbinar ceria—kini terlihat lebih redup, rambut panjangnya yang hampir sepinggang tergerai di atas bahu seperti tirai sutra. Dia masih memakai rok pendek abu-abu yang pas di pinggul, rok yang katanya “modis” buat anak SMA, tapi di sini terlihat membuatnya terlihat lebih kecil dan rapuh.
Aku berdiri di depan meja, sambil pura-pura mengurut kaki yang pegal setelah seharian mengangkat kardus berat. Tapi mataku sudah tak bisa lepas dari gadis itu.
"Non.. mumpung toko lagi sepi. Bapak pengen nunjukin sesuatu nih sama non.. tapi non jangan kaget yaa dan jangan cerita kesiapa siapa. hehe..
"Loh.. Emangnya bapak mau nunjukin apaan sih. Kok kayak rahasia gitu.. sahut Livi yang wajah manisnya terlihat penasaran.
"Itu loh non.. rekaman video mesum anak gadisnya pemilik kedai bakmi yang lagi dientot sama pribumi. Katanya waktu itu non kepengen liat.. hehe..
"Aahh.. jadi beneran nih bapak punya videonya ? coba sini pak kasih liat aku..
"Non beneran mau liat videonya ? nanti abis liat takutnya non malah kepengen lagi.. kan bapak juga yang repot.. udaahh non gak usah liat yaa.. Ledekku untuk memancing sifat manja dan kenakakan Livi yang selama ini membuatku gemas.
Aangggh... Sini pak.. cepat kasih liat aku. Aku pengen liat.. waktu itu kata bapak kan anak gadis kayak aku boleh nonton film bokep biar cepat dewasa.. rengeknya manja sambil mencoba mendekat dan merebut hpku.
Livi langsung meraih HP-ku dengan kedua tangan kecilnya, wajahnya merah padam. Aku tersenyum puas, tapi aku tak langsung kasih.
"Jadi beneran nih non kepengen nonton videonya ? Tapi non nontonnya gak boleh sendirian ya.. soalnya bahaya kalau nonton sendirian..
"Loh emang bahaya kenapa pak.. diam diam aku juga udah pernah nonton film gituan beberapa kali kok..
"Wah.. ternyata non Livi nakal juga ya.. mukanya lugu dan sifatnya kekanak kanakan tapi diam diam suka nonton film gituan.. nanti kalau papa non sampe tahu bisa bahaya loh..
Nggak lah pak.. kan aku nontonnya diam diam kalau lagi dikamar atau ditoko pas papa lagi nggak ada.. jadi aman lah..
"Ya udah kalau gitu. Bapak akan kasih liat non buat nonton videonya tapi syaratnya non harus nontonnya sambil ditemani sama bapak ya..
Iikkhh.. kenapa harus ditemani sih.. kan aku bisa nonton sendiri. Ayo pak cepat kirimin videonya ke hp aku.. rengek Livi manja.
"Bukannya apa apa non. Masalahnya non Livi kan masih dibawah umur. Tahun ini aja baru masuk sekolah SMA. Kalau sampe non salah paham dengan adegan videonya nanti non bisa kebablasan kayak anak gadisnya pemilik kedai bakmi itu loh.. yang akhirnya malah diperbudak sama pegawai minimarketnya.. dientot massal sama banyak lelaki sekaligus loh.. pokoknya udah kayak perek gratisan deh..
"Ya udah bapak boleh temenin aku nonton.. sini cepat kasih liat aku videonya..
Aku langsung memutar video itu. Adegan persetubuhan brutal terjadi disebuah minimarket. Beberapa pria pribumi yang masih memakai seragam kerjanya terlihat bergiliran menggauli seorang gadis amoy berkulit putih dan berwajah innocent. Mereka menggenjot kasar di berbagai sudut minimarket bahkan diikat pada rak barang yang ada. Suara desahan yang dipaksa. Jeritan kecil. Dan dentuman barang yang jatuh terdengar jelas dari speaker HP. Livi langsung terdiam. Matanya membesar. Napasnya mulai tersengal. Wajahnya memerah bukan karena malu biasa. Tapi karena rasa hangat yang naik pelan di dadanya. Aku bisa lihat tangannya gemetar semakin kuat memegang HP. Kakinya saling gesekan di bawah meja. Rok pendek seragam sekolahnya sudah agak naik karena posisinya. Memperlihatkan paha amoynya yang begitu putih dan mulus.
"Gimana non.. bagus gak filmnya.. ? Tanyaku berpura pura padahal aku sudah tau reaksinya yang sangat antusias saat menonton video mesum tsb.
"Bagus banget pak.. adegannya keliatan nyata dan gak dibuat buat.. gak kayak film bokep yang suka aku tonton diinternet.. keliatan banget settingannya.. Sahut Livi sambil membandingkan dengan beberapa video mesum yang dulu pernah ditontonnya secara diam diam tanpa sepengetahuan ortunya.
"Yah jelas beda lah non.. ini kan video rekaman asli.. jadi amoynya beneran digangbang gitu.. tuh liat kontol pegawai minimarketnya aja keliatan jelas waktu ngobrak abrik memek amoynya.. Ucapku.
"Iya pakk.. adegannya hot banget ya.. kok si cicinya mau ya pak.. digangbang sama banyak pegawai minimarket kayak gitu.. Padahal cicinya cantik banget tuh dan keliatan masih innocent banget..
"Yah namanya juga udah sange berat non.. apapun bakal dia dilakuin buat muasin napsunya.. malah sampe rela digangbang kayak lonte cina murahan gitu..
"Iya aku juga sampai bingung pak.. gimana ceritanya ya.. si Cici sampe mau nyerahin dirinya kayak gitu.. apa mungkin gara gara diperas pakai foto telanjang kayak cerita yang ada di film bokep itu.. Kata Livi
"Kalau soal itu mah bapak kurang paham non.. soalnya bapak dapet video ini juga kan dari teman bapak yang kerja jadi tukang parkir didepan minimarketnya. Hehe..
Setelah menonton video mesum itu Livi bukannya puas malah semakin penasaran dan blingsatan. Meskipun dia berusaha untuk menutupi sikapnya namun sebagai seorang lelaki berpengalaman akupun bisa menebaknya.
"Kayaknya non juga kepengen banget ya digituin sama cowok cowok pribumi ?bisikku pelan di telinganya, napasku hangat.
Livi langsung membantah dengan suara kecil yang manja seperti biasa.
"Nn.. ngak kok pak.. kata siapa aku kepengen.. bapak sok tahu aakh.. "Udahlah non gak usah pura pura lagi sama bapak.. muka non aja udah keliatan pengen gitu waktu nonton videonya. Kalau seandainya non jujur. Bapak bisa kok ajarin non pelan pelan cara ngewe yang bener biar non gak penasaran terus.
Wajah Livi memerah ketika aku menyindirnya. Dia berusaha terus menyangkal kalau dirinya hanya sekedar penasaran untuk menonton video tsb. Tapi aku tak menyerah dan terus mendesaknya agar mengaku.
"Nggg.. gimana ya.. sebenarnya aku emang kepengen tapi aku takut pak.. aku kan belum pernah.. sakit gak pak kalau lagi digituin ? "Nah gitu dong jujur aja sama bapak. Awalnya sih emang rada sakit gitu. Kan namanya juga masih perawan.. Tapi sakitnya beda loh..
"Beda gimana pak... "Ya beda. Sakitnya.. sakit nikmat.. lama lama malah gak berasa sakit lagi cuma rasa nikmatnya aja.. dijamin kalau udah ngerasain non bakalan ketagihan deh. Kayak amoy yang ada di rekaman video itu. "Bapak bisaan aja.. Tapi kalau seandainya aku pengen nyoba juga mau nyoba sama siapa ? Aku kan belum punya pacar.. Apalagi tiap pulang sekolah aku gak pernah kemana mana dan selalu disuruh jaga toko kayak gini. "Yah coba sama bapak lah.. nanti bapak ajarin cara ngewe yang nikmat biar gak sakit.. kita main ditoko aja. Belajar pelan pelan dulu sampai non bener bener udah yakin mau nyoba baru bapak masukin punya bapak kedalam.
Livi menggigit bibirnya kuat-kuat. Mata besarnya berkaca-kaca tapi penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya memerah sampai ke leher dan napasnya mulai pendek-pendek. Rok abu-abunya sudah basah total di bagian dalam sehingga kain tipisnya menempel di paha mulusnya sementara payudaranya yang montok naik turun cepat di balik kemeja putih sekolah.
“Gimana non.. apa perlu kita coba sekarang aja.. mumpung toko lagi sepi dan papa mama non udah naik keatas semua. Livi hanya diam saja dan tak berani berkata apa-apa. Mungkin karena rasa malu yang besar. Gadis itu seolah ingin memberikan lampu hijau padaku lewat anggukan pelan kepalanya. Aku tersenyum puas lalu duduk di sampingnya. Livi menunduk malu ketika tangan kasarku perlahan menggenggam tangannya yang kecil. “Gitu dong non… kalau non ching ching jujur sama bapak. Bapak suka banget. Jadi nanti bapak ajarin pelan-pelan ya. Bapak janji gak akan sakit. Malah akan enak banget. Aku terus meyakinkan dirinya agar mau mencoba perbuatan terlarang tsb. Setelah bener bener yakin kemudian aku berjalan kedepan toko dan menutup semua pintunya rapat rapat. Aku kembali duduk dikursi kayu lalu menyuruh Livi duduk dipangkuanku.
"Ayo non duduk sini.. kita coba sekarang aja..
Kemudian aku memegang pinggang rampingnya dan membimbingnya duduk di pangkuanku menghadap ke arahku. Paha mulusnya kini terbuka lebar di atas kedua pahaku yang kekar. Payudaranya yang montok menempel hangat di dada bidangku. Aku merasakan kehangatan liang kewanitaannya yang masih tertutup celana tipis tepat di atas kejantanan yang sudah mengeras.
Aku menarik Livi lebih dekat lagi. Tubuh rampingnya masih gemetar pelan di pangkuanku. Payudaranya yang montok naik-turun cepat di balik kemeja putih sekolahnya yang sudah agak kusut. Aku tersenyum tipis dan melihat mata sipitnya yang berkaca-kaca penuh penasaran dan sedikit takut. Campuran yang bikin gairahku makin meledak. Livi menggigit bibirnya lagi. kali ini lebih lembut tapi aku tahu dia sedang berusaha menahan desahan. Aku mengangkat dagunya pelan dengan jari telunjukku. Seakan-akan memaksa matanya bertemu dengan tatapan mataku.
"Non.. Jujur aja.. dari dulu bapak tuh suka banget liatin amoy yang mukanya masih polos dan senyumnya manis kayak non Livi loh.. bisikku rendah dan suaraku terdengar serak karena hasrat yang tak tertahankan.
"Maksudnya.. suka gimana pak.. jadi selama ini diam diam bapak suka menyimpan hasrat sama aku dong..
"Ya kurang lebih begitulah non.. untung aja bapak termasuk orang yang pinter menahan diri. Kalau orang lain yang kerja disini mah. Pasti udah dari dulu kali non ching ching diperkosa sama dia.. apalagi non Caroline tuh yang sering mengundang birahi pake baju seksi.. gak kebayang deh bakal dijadiin apa sama orang itu.. kataku.
"Ikhh.. bapak kok ngomongnya kayak gitu sih.. kayaknya bapak napsu banget ya sama aku dan ciciku.. emangnya semua lelaki pribumi suka berpikir yang nggak nggak sama cewek chinese kayak gitu ya.. kalau bener kan serem banget pak.. soalnya nanti kalau ada yang khilaf yang ada aku dan ciciku bisa diculik sama mereka.
"Yah kalau mereka sampe berbuat nekat kayak gitu mah gak bisa disalahin juga dong non.. lagian mana ada sih lelaki pribumi yang tahan kalau udah ngeliatin badan amoy yang putih mulus dan pake baju seksi kayak gitu. Makanya non.. waktu jaman kerusuhan dulu kan banyak tuh amoy amoy yang digilir sama perusuh waktu rumah dan tokonya kena jarah. Yaa.. salah sendiri kenapa punya badan kelewat mulus dan suka ngundang pake baju seksi ditempat umum.
Pengakuan ini membuat aku lega sekaligus membuat Livi terpana karena gadis itu tak pernah menyangka kalau selama ini kuli tokonya menyimpan hasrat terpendam pada semua anak majikannya.
"Iikh.. pak Deden ternyata diam diam mengerikan juga ya.. kok bisa bisanya punya pikiran mesum kayak gitu sama anak majikan sendiri. Terus diantara kami bertiga kira kira siapa yang paling sering dijadiin bacolan sama bapak ? Pancing Livi yang semakin terbawa suasana.
"Semuanya sering non.. tergantung mood bapak aja lagi pengen bacolin yang mana. Kalau non ching ching mah sering bapak bayangin lagi bapak ewe didalam toko sendiri. Kalau non Sherla sering bapak bayangin lagi dientot sama sopir pribadinya yang hitam dan brewokan itu.
"Terus kalau ci Caroline suka dibayangin kayak gimana pak.. Tanya Livi yang semakin antusias mendengar pengakuanku.
"Hmm.. kalau non Caroline mah agak beda dikit sih non.. soalnya non Caroline kan seksi banget badannya. Jadi cocok buat difantasiin yang agak brutal gitu..
"Agak brutal gimana maksudnya pak ? Kok aku jadi penasaran ya.. kira kira lelaki pribumi kayak bapak suka berkhayal kayak apa tentang cici Caroline..
"Fantasi bapak sama non Caroline mah agak ngeri non.. kalau bapak ceritain takutnya non Livi malah ketakutan sama bapak.. mending gak usah bapak kasih tau aja ya non..
"Aakkhh.. bapak kok main rahasia rahasiaan segala sama aku. Padahal aku aja udah ceritain semuanya ke bapak. Itu semua karena aku udah merasa nyaman banget sama bapak. Malah kadang aku ngerasa lebih nyaman cerita ke bapak daripada ke papaku sendiri.
"Iya dah non. Bapak ceritain sekarang. Tapi non jangan kaget ya dengernya.
"Ya udah langsung ceritain aja pak.. aku udah gak sabar nih pengen denger..
"Gini non. Sebenarnya selama ini bapak tuh suka berkhayal yang agak brutal ke non Caroline. Bapak seringnya ngebayangin kalau cici non yang napsuin itu lagi kejebak ditengah kerusuhan. Bayangin cici non yang lagi pake baju seksi diseret dari dalam mobil.. ditelanjangi dan disorakin rasis sama massa perusuh terus digangbang sama puluhan orang ditengah jalan. Uuukhh.. kalau udah berkhayal kayak gitu mah bapak bisa coli sampe berkali kali tuh non..
Setelah saling membuka rahasia dan hasrat terpendam yang ada dalam diri kami berdua kemudian aku mengajak Livi untuk berbuat lebih nekat.
"Ya udah non.. daripada kita cuma cerita gak jelas yang ujung ujungnya bikin sange doang.. gimana kalau kita langsung praktekin aja khayalan kita masing masing. Hehe.. kataku
"Iikh kalau gitu mah enak dibapak gak enak di akunya dong.. lagian aku kan masih perawan. Masa aku harus berikan semuanya ke bapak..
"Yah nggak gitu juga non.. bapak emang enak tapi non juga kan ikut enak juga.. daripada non cuma maen sama tangan sendiri dan bikin tambah penasaran kan mending belajar langsung sama ahlinya.. hehe..
Setelah mati matian membujuk dan mempengaruhi Livi akhirnya gadis manja itu luluh juga dan birahinya semakin meledak ledak setelah kupancing dengan berbagai macam cerita yang membakar birahi.
"Sebelum kita lanjutin ke praktek yang lebih hot.. gimana kalau non latihan cipokan dulu sama bapak.. soalnya kalau udah biasa cipokannya nanti soal ngewe mah bakalan bisa dengan sendirinya non.
Livi hanya mengangguk pelan sekali, matanya menatapku dengan campuran malu dan gairah yang samar.
Iiiiiya pak.. ajarin akuuu.. gumamnya hampir tak terdengar dan suaranya gemetar.
Aku segera mendekatkan wajahku. Hidungku menyentuh hidungnya dulu. Napasku yang memburu bercampur dengan napasnya yang pendek-pendek. Perlahan bibirku yang kasar menyentuh bibirnya yang lembut dan basah. Awalnya hanya sentuhan ringan seperti ciuman pertama yang lembut. Livi tersentak kecil. Tubuhnya menegang sebentar. Tapi aku menahan diri. Aku menciumnya lebih dalam perlahan. Lidahku menjilat bibirnya pelan. Aku merasakan kelembapan yang semakin basah di antara selangkangannya. Kelembutan bibir Livi langsung bikin aku ingin semakin dalam. Tapi sengaja aku tahan. Pelan-pelan seperti yang aku janjikan. Tangan kiriku masih di belakang leher Livi. Jari-jariku mengusap lehernya yang putih halus. Sementara tangan kananku merayap lagi. Naik dari pinggangnya naik ke bawah kemeja putih sekolahnya. Kain tipisnya sudah sangat basah di bagian dalam. Jari-jariku menekan pelan di atas kulit mulus perut Livi. Aku merasakan otot perutnya yang sedikit berkedut karena gugup. Aku naik lebih tinggi. Aku meremas lembut payudaranya yang montok dari balik baju seragam sekolah. Jempolku mengusap putingnya yang sudah mengeras di balik bahan tipis. Payudara Livi terasa hangat dan mantap di telapak tanganku. Putingnya langsung mengeras saat aku usap pelan.
"Cewek tuh biasanya paling gak tahan kalau udah dicipokin sambil digerayangi badannya kayak gini non.. apalagi amoy seumuran non ching ching gini kan sedang sensitif sensitifnya sama sentuhan lelaki.
"Iyaaa paak… ternyata enak banget ya diginiin sama lelaki.. uuhhh... Livi melenguh kecil. Suaranya pecah. Kepalanya miring ke samping sambil menggigit bibir lagi kuat-kuat. Matanya berkaca-kaca lagi. Tapi kali ini ada sedikit kelegaan bercampur nikmat. Napasnya semakin menderu. Dada montoknya naik-turun lebih cepat di pangkuanku.
Mulutku terpisah dari bibirnya sebentar. Hanya untuk melihat wajahnya yang memerah sampai leher dan dada. Bibirku yang basah karena ciuman kita masih menempel di sudut bibir Livi.
"Gimana rasanya non ? Enak kan ciuman kayak gini ? hehe..
"Iiyaa paak... Enak.. tapi aku malu pakk...
"Kalau masih malu mah wajar non. Namanya juga baru pertama kali nyoba.. nanti kalau udah sering mah yang ada bukan malu lagi non tapi napsu.. hehe.. ya udah kalau enak gimana kalau kita coba ulangi lagi.. tapi kali ini cipokannya harus lebih lama dan non harus ikut menikmati ya..
"Aku mah terserah bapak aja.. soalnya aku gak ngerti apa apa soal ginian pakk.. Kata Livi sambil matanya menatapku malu malu sementara tangannya malah mencengkram kerah bajuku lebih erat.
Aku tersenyum lebar melihat wajah Livi yang sudah memerah total. Tubuh rampingnya yang hangat masih duduk manja di pangkuanku. Rok abu-abunya naik sampai ke pangkal paha sehingga memperlihatkan kulit putih mulus yang berkilau karena keringat tipis. Payudaranya yang montok dan kencang menekan dada bidangku dengan ritme napas yang semakin cepat.
“Bagus… Livi sayang.. bisikku serak sambil mengusap punggungnya pelan dari atas kemeja putih sekolah yang sudah agak terbuka satu kancingnya. “Kalau non sudah serahin semuanya ke bapak berarti kita lanjut ya… pelan-pelan seperti janji bapak.
Livi hanya mengangguk kecil. Matanya yang besar dan berkaca-kaca menatap ke bawah. Dia malu tapi jelas penuh rasa ingin tahu yang membara. Tangan kecilnya masih mencengkeram kerah bajuku erat seolah takut jatuh dari pangkuanku.
Aku kembali mendekatkan wajahku lalu menciumnya lagi. Kali ini lebih dalam. Lidahku menyusup lembut di antara bibirnya yang lembut dan basah. Livi tersentak tapi tak menolak. Setelah beberapa detik dia mulai mencoba membalas ciumanku dengan kikuk. Lidahnya menyentuh lidahku pelan seperti anak kucing yang sedang belajar. Rasa manis bibirnya bercampur dengan sedikit rasa permen karet yang tadi dia kunyah sehingga membuatku semakin bergairah.
Tangan kananku yang tadi meremas payudaranya kini lebih berani. Aku membuka satu kancing lagi kemejanya lalu menyusupkan tangan ke dalam. Kulit perutnya yang halus dan rata terasa panas di telapak tanganku. Naik lebih tinggi aku menemukan bra tipis berwarna putih yang membungkus payudaranya yang montok. Jari-jariku menyelinap ke dalam bra lalu langsung meremas lembut daging payudaranya yang kenyal. Puting susunya sudah sangat mengeras kecil tapi tegang seperti batu kecil.
“Uhh… Pak… geli…” keluh Livi di sela ciuman kami.
“Geli atau enak non?” tanyaku sambil menggigit pelan bibir bawahnya.
“…Enak… tapi malu pak…” jawabnya hampir tak terdengar.
Aku tersenyum lalu terus meremas payudaranya bergantian. Kadang aku memilin puting susunya pelan dengan jempol dan telunjuk. Tubuh Livi mulai bergerak-geliat di pangkuanku. Pinggulnya yang ramping tanpa sadar menggesek-gesek kejantanan yang sudah sangat keras di balik celana kerjaku. Aku bisa merasakan panas dan kelembapan dari liang kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam tipis. Sudah sangat basah hingga membasahi kain roknya.
Aku perlahan menurunkan tangan kiriku ke paha mulusnya. Jari-jariku menyusuri kulit dalam pahanya yang halus. Semakin naik keatas mendekati selangkangannya semakin terasa hangat dan lembab. Ketika jemariku menyentuh bagian luar celana dalamnya yang sudah basah kuyup Livi langsung mengejang kecil.
“Ahh! Pak… di situ… erangnya manja sambil menyembunyikan wajahnya di leherku.
"Basah banget non… kayaknya non ching ching udah kepengen banget ya... bisikku di telinganya sambil mengusap pelan kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Aku merasakan kontur kemaluannya yang mungil dan montok sudah menegang karena gairah.
Livi hanya mengangguk malu di samping leherku. Napasnya terdengar berat dan cepat. Aku terus mengusapnya dengan gerakan melingkar pelan. Sesekali aku menekan titik kecil di bagian atas kemaluannya yang membuat tubuhnya tersentak beberapa kali.
“Non mau gak kalau bapak buka celananya sekarang ? Soalnya kalau tertutup celana dalem gini sensasi nikmatnya jadi kurang berasa non.. Tanyaku lembut sambil menciumi leher putihnya yang harum khas gadis amoy.
Livi diam sebentar lalu dengan suara kecil yang gemetar.
"Iya pak… buka aja kalau bapak mau.. tapi bukanya pelan-pelan aja ya… soalnya aku.. masih.. takut…
"Gak usah takut non.. awalnya semua cewek juga bilang begitu.. tapi kalau udah kena dijamah sama tangan lelaki pasti bakalan ketagihan..
"Iyaaa.. terserah bapak ajaa.. nnghh.. soalnya daridulu aku juga penasaran. Pengen tau gimana rasanya kalau punyaku disentuh sama laki laki.. pasti rasanya beda banget kan pakk.. dibanding aku sentuh pakai tangan sendiri.. Sahut Livi yang semakin berani dan terbuka tentang fantasi liarnya.
"Ya jelas bedalah non.. apalagi kalau yang nyentuhnya lelaki pribumi yang berpengalaman seperti bapak.. dijamin nanti non bakalan minta dijamah terus deh..
Aku mengangkat pinggulnya sedikit dengan kedua tangan lalu menurunkan celana dalamnya pelan hingga ke lutut. Udara dingin langsung menyentuh kemaluannya yang sudah telanjang dan basah mengkilap. Bulu halusnya yang tipis dan rapi hampir tak terlihat karena kulitnya yang sangat putih.
Jari tengahku langsung menyentuh bibir kemaluannya yang licin dan hangat. Aku mengusap naik-turun pelan. Sesekali aku menyentuh klitoris kecilnya yang sudah tegang. Livi mulai mendesah lebih keras. Pinggulnya bergerak pelan mengikuti gerakan jariku.
“Enak ya non ? tanyaku sambil mencium telinganya.
“Enak pak… rasanya agak geli.. waktu disentuh sama tangan bapak.. tapi enak banget… jawabnya dengan suara manja yang sudah agak parau.
"Ya pasti enaklah non.. ini kan salah satu titik paling sensitif ditubuh perempuan.. malah ada perempuan yang sampai muncrat loh cuma karena dimainin giniannya..
Aku tak mau membuang waktu kemudian Aku memasukkan ujung jari tengahku perlahan ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit dan hangat. Hanya sampai buku jari tangan pertama. Uuuhh.. Livi langsung mengejang kuat. Tangannya yang putih dan halus mencengkeram bahuku.
“Sakit gak non ? tanyaku khawatir tapi tetap menggerakkan jari pelan.
“Sedikit… tapi… lanjut pak… rengeknya.
Aku terus memainkan jari di dalam vagina sambil ibu jariku mengusap klitorisnya. Lama kelamaan tubuh Livi semakin bergairah. Aaakkkhhh.. terusssinn pakk.. Desahannya semakin sering dan lendir vaginanya semakin banyak membasahi telapak tanganku.
Saat itu kami berdua masih di kursi kayu tua di belakang meja toko. Lampu yang temaram dan pintu depan sudah terkunci rapat. Suasana sunyi hanya dipecah oleh desahan manja Livi dan suara basah jari yang bermain di kemaluannya.
Aku terus memainkan jari di dalam memek Livi yang semakin basah dan licin sambil menciumi lehernya yang putih. Tubuhnya sudah gemetar hebat di pangkuanku.
Paak.. sssshh.. enaaakk bangettt.. Ching Ching suka banget diginiin.. Desahannya manja dan putus-putus. Napasnya hangat memburu di telingaku. Aku tahu dia sudah terbakar gairah yang luar biasa.
"Yaa udah.. sekarang ching ching berdiri dulu ya.. bapak mau ajarin gimana caranya memuaskan laki laki.. bisikku serak sambil mengangkat pinggul rampingnya pelan dari pangkuanku.
Perlahan Livi berdiri dengan kaki agak gemetar. Rok seragam abu-abunya sudah naik ke pinggang dan celana dalamnya masih tergantung di lutut. Wajahnya merah padam. Mata sipitnya berkaca-kaca penuh nafsu dan malu. Payudaranya yang montok naik-turun cepat di balik seragam putih sekolah yang sudah terbuka dua kancingnya. Aku ikut berdiri lalu memegang bahunya dengan lembut tapi tegas.
"Sekarang coba berlutut di lantai non. Di depan bapak. Seperti budak yang mau dihukum sama tuannya..
Livi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dia ragu sebentar tapi gairah yang sudah membara membuatnya patuh. Dengan gerakan manja dan kikuk gadis chindo sekolahan itu berlutut di lantai keramik toko yang agak dingin. Rambut panjangnya yang hitam legam dan terawat tergerai dibelakang pundak. Wajah orientalnya yang manis dan imut kini tepat berada di depan selangkanganku. Aku yang dalam posisi berdiri menatapnya dari atas sambil mengusap rambutnya pelan.
“Perempuan itu belum bisa dibilang dewasa kalau belum bisa memuaskan laki-laki Ching Ching. Sekarang bapak mau ajarin kamu caranya memuaskan lelaki. Biar nanti non bisa bikin cowoknya bahagia… dan ketagihan.
"Emangnya kalau cowok gak puas itu gak bahagia ya pak.. ? Tanya Livi dengan ekspresi wajahnya yang kelihatan polos.
"Ya iyalah.. salah satu tujuan lelaki punya pasangan kan emang buat dipake untuk muasin napsunya.. kalau nggak puas mah buat apa juga punya pasangan..
"Iya bener juga ya.. kalau cowok puas nanti dia akan setia sama pasangannya kan pak. Berarti kalau cowok yang suka selingkuh itu gak puas sama pasangannya dong..
"Bener sekali non.. logikanya begini. Kalau lelaki udah puas sama pasangannya ngapain juga dia pake selingkuh segala. Toh semuanya udah dia dapatkan dirumah sama pasangannya. Nah ngomong ngomong soal muasin pasangan mah kayaknya cici non si Caroline itu yang paling pinter hehe..
"Kok bapak bisa nebak kayak gitu. Emangnya Ci Caroline punya kelebihan apa sampe bapak nebak kayak gitu..
"Soal itu mah gak usah ditanya lagi non.. bapak ini kan udah punya banyak pengalaman sama perempuan. Nah menurut bapak perempuan itu apalagi amoy emang secara alamiahnya napsunya udah diatas rata rata.. apalagi amoy yang suka berpenampilan seksi dan mukanya napsuin kayak non Caroline.. itu mah udah gak bakalan salah lagi. Amoy kayak gitu pasti jago muasin lelaki diatas ranjang.. nah sekarang tinggal lelakinya aja bisa muasin balik perempuannya gak.. kalau gak puas ya nanti perempuannya yang akan selingkuh. Hehe..
'Oohh ternyata gitu yaa pak.. pantesan sekarang banyak lelaki dan perempuan suka selingkuh.. rupanya mereka gak puas sama pasangannya ya..
"Bener banget non..
Livi menatap ke atas dengan mata besarnya yang polos tapi sudah penuh api. Suaranya kecil dan gemetar.
"Ya udah kalau emang gitu. Bapak ajarin aku caranya puasin lelaki ya.. pokoknya aku mau belajar… aku gak mau pasanganku nanti sampe selingkuh..
"Nah itu baru bener.. kalau kata orang mah mencegah lebih baik daripada mengobati.. pokoknya nanti kalau non udah punya pacar atau suami mending turutin aja semua keinginan dan fantasinya.. biar dia puas dan gak bakalan mau selingkuh lagi.. kalau misal dia minta gaya yang aneh aneh waktu ngewe ya turutin aja. Non.. biar sama sama puas nantinya.
"Iya pakk.. aku pasti bakalan inget baik baik pesan bapak.. tapi sekarang tolong ajarin aku dulu.. Sahut Livi yang makin penasaran dan otaknya mulai terkontaminasi virus mesum dariku.
Aku tersenyum puas. Tangan kasarku memegang dagunya lembut lalu mengarahkan wajahnya lebih dekat.
“Buka celana bapak dulu non. Pelan-pelan.”
Dengan jari-jari halus yang masih agak gemetar Livi meraih resleting celana kerjaku. Dia menariknya turun perlahan. Bunyi resleting yang pelan terdengar jelas di toko yang sunyi. Kemudian dia menurunkan celana dalamku hingga ke paha. Kontolku yang sudah sangat keras dan tegang langsung melompat keluar lalu berdiri tegak di depan wajahnya yang cantik. Ujungnya sudah basah oleh precum yang bening.
Livi terbelalak. Napasnya tersengal.
"Ikkhh.. punya bapak kok gede banget sih.. ini mah jauh lebih gede dari yang suka aku tonton di film bokep. Gumamnya pelan hampir tak percaya.
"Gak usah heran begitu non.. ukuran kontol pribumi emang rata rata segede gini non. Itu sebabnya banyak amoy amoy diluar sana yang pengen banget nyicipin produk lokal. Minimal sekali seumur hidupnya.. hehe..
“Pegang dulu non. Pakai tanganmu yang lembut itu.”
Livi mengangguk malu. Tangan kanannya yang kecil dan halus naik perlahan lalu melingkar di batang kontolku. Kulitnya yang dingin dan lembut kontras sekali dengan kehangatan dan kekerasan kontolku. Dia mulai mengocoknya pelan ke atas-bawah. Gerakannya masih kikuk tapi penuh rasa ingin tahu.
“Gini pak?” tanyanya manja sambil menatap ke atas mencari persetujuan.
“Iya… bagus… lebih erat sedikit non. Naik-turun seperti itu… ya seperti itu” erangku pelan saat tangannya yang halus mulai mengocok lebih ritmis.
Jari-jarinya yang lentik membungkus batangku dengan sempurna. Kadang ibu jarinya tanpa sengaja mengusap kepala kontolku yang sensitif sehingga membuatku mendesah. Livi terlihat semakin berani. Dia menggunakan kedua tangannya sekarang. Satu mengocok batang dan satu lagi memainkan buah zakarku yang berat dengan lembut.
“Enak pak?” tanyanya dengan suara polos yang manja. Wajahnya memerah melihat kontolku yang semakin berdenyut di tangannya.
“Enak banget Ching Ching… tangan non lembut sekali. Teruskan ya… pelan-pelan dulu biar bapak ajarin cara yang bikin laki-laki gila.
Aku mengusap rambutnya sambil menikmati sensasi tangan halus gadis manja ini yang sedang belajar memuaskan aku. Cairan bening semakin banyak keluar dari ujung kontolku sehingga membasahi jari-jarinya dan membuat gerakannya semakin licin dan enak.
Livi terus mengocok dengan penuh perhatian. Matanya tak lepas dari kontolku. Napasnya semakin berat dan lututnya bergeser sedikit di lantai seolah memeknya yang masih basah juga semakin terangsang hanya dengan memuaskan aku.
Aku menatap Livi yang berlutut di lantai kayu tua toko dengan rambut panjangnya yang tergerai indah. Wajah imutnya yang memerah masih menatap kontolku yang keras dan berdenyut di depan hidungnya. Tangan halusnya terus mengocok pelan dengan gerakan yang semakin teratur.
“Bagus sekali non… sekarang coba pakai mulutmu ya Ching Ching” bisikku serak sambil mengusap pipinya dengan ibu jari. “Buka mulutmu pelan-pelan lalu jilat dulu ujungnya.
Livi menggigit bibirnya sebentar. Matanya yang besar penuh rasa malu dan penasaran yang membara. Dia mengangguk kecil lalu mendekatkan wajahnya. Bibir merah mudanya yang lembut terbuka perlahan. Lidah kecilnya yang pink menyembul keluar lalu menyentuh ujung kontolku yang sudah basah oleh precum.
“Uhh…” erangku pelan saat lidah hangatnya menyentuh kepala kontolku.
Livi menjilat pelan seperti sedang mencicipi es krim. Lidahnya berputar di sekitar kepala yang sensitif. Rasanya lembut dan basah sehingga membuat kontolku semakin tegang. Dia melakukannya dengan hati-hati. Matanya sesekali melirik ke atas mencari reaksiku.
“Gitu… enak non. Sekarang masukkan ke dalam mulutmu… pelan-pelan ya jangan pakai gigi” aku membimbingnya sambil memegang rambutnya dengan lembut.
Livi membuka mulutnya lebih lebar. Bibirnya yang hangat dan basah melingkari kepala kontolku lalu perlahan menelannya masuk. Hanya separuh dulu karena ukurannya yang besar membuatnya agak kesulitan. Mulutnya terasa sempit hangat dan sangat basah. Lidahnya bergerak kikuk di bawah batangku.
“Mmmhh…” gumamnya dengan mulut penuh. Suaranya teredam sehingga getaran itu membuat sensasi yang luar biasa.
Aku mendesah panjang. Tanganku mengusap rambut panjangnya yang halus.
“Bagus… hisap pelan-pelan non… naik turun seperti tadi waktu pakai tangan tapi pakai mulut.
Livi mulai bergerak kepalanya naik-turun dengan gerakan pelan dan ragu. Bibirnya yang lembut menggesek batang kontolku setiap kali dia turun. Lidahnya menekan di bagian bawah. Air liurnya mulai menetes dari sudut mulutnya karena masih belum terbiasa sehingga membuat semuanya semakin licin dan panas.
Aku melihat wajahnya yang cantik. Mata besarnya agak berkaca-kaca. Pipinya menggembung karena kontolku dan rambut panjangnya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Rok abu-abunya masih naik ke pinggang sehingga memperlihatkan memeknya yang telanjang dan masih basah mengkilap dari permainan jari tadi.
“Lebih dalam sedikit Ching Ching… tarik napas lewat hidung ya” aku membimbingnya sambil mendorong pinggulku pelan ke depan.
Livi berusaha menelan lebih dalam. Kontolku masuk sampai hampir separuh batangnya. Tenggorokannya yang sempit menggigit ujungnya sehingga membuatnya tersedak kecil.
“Ughh… mmhh!” suaranya teredam. Air mata kecil keluar di sudut matanya tapi dia tidak mundur. Malah tangan kecilnya memegang pangkal kontolku yang belum masuk lalu mengocoknya selaras dengan gerakan mulutnya.
Aku mulai mendesah lebih keras. Pinggulku bergerak pelan mengikuti irama mulutnya yang manja. Sensasi lidahnya yang polos tapi antusias bibirnya yang mengisap lembut dan air liurnya yang melimpah membuat kenikmatan naik dengan cepat.
“Enak sekali non… mulutmu panas banget… Ching Ching pintar belajarnya” pujiku sambil mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
Livi semakin bersemangat mendengar pujianku. Gerakannya mulai lebih berani sehingga kepalanya naik-turun lebih cepat meski masih pelan. Sesekali dia mengeluarkan kontolku untuk menarik napas lalu lidahnya menjilat sepanjang batang dan langsung memasukkannya lagi. Suara basah slurp slurp pelan terdengar di toko yang sunyi bercampur dengan desahanku dan erangan manja Livi.
Payudaranya yang montok bergoyang-goyang di balik kemeja setiap kali dia bergerak. Aku meraih satu tanganku ke bawah lalu meremas payudaranya sambil dia terus mengisap. Puting susunya masih keras dan sentuhanku membuatnya mendesah lebih keras di sekitar kontolku.
“Teruskan ya non… bapak hampir gak tahan… tapi kita pelan-pelan dulu bapak mau nikmatin lama-lama” kataku dengan suara parau.
Livi mengangguk kecil tanpa melepaskan mulutnya. Matanya menatapku penuh dedikasi seperti murid yang sedang belajar dengan sungguh-sungguh.
Aku sedang menikmati sensasi hangat dan basah mulut Livi yang semakin terampil. Kepalanya naik-turun pelan di pangkal kontolku. Bibirnya mengisap dengan lembut sambil lidahnya berputar di bagian bawah batang. Suara slurp slurp yang pelan dan basah memenuhi toko yang sunyi. Tanganku memegang rambut panjangnya yang halus lalu membimbing gerakannya tanpa memaksa.
Tiba-tiba tok tok tok.
Suara langkah pelan dari tangga kayu lantai dua terdengar samar diikuti suara Mama Livi yang memanggil dari atas.
“Livi sudah mau jam 7 malam. Jangan lupa tutup tokonya ya… Papa sama Mama mau istirahat dulu.
Suara mama Livi terdengar biasa saja tapi kami berdua langsung panik. Tubuh Livi menegang hebat. Matanya yang besar membelalak ketakutan dan mulutnya masih penuh dengan kontolku. Aku juga merasakan jantungku berdegup kencang. Kalau ketahuan habis sudah semuanya.
Aku cepat menyentuh bahu Livi lalu memberi isyarat agar dia menjawab. Dengan kontolku masih di dalam mulutnya Livi menarik kepalanya mundur pelan hingga hanya ujungnya yang tersisa di bibirnya. Dia menarik napas cepat lalu menyahut dengan suara yang berusaha dibuat biasa meski agak parau dan gemetar.
“Iyaaa Maa… sebentar lagi… aku lagi… lagi beresin barang di bawah!”
Suara Livi masih manja seperti biasa tapi ada getaran yang hampir tak terkontrol. Dari lantai dua terdengar jawaban mama-nya.
“Ya sudah cepat ya Nak. Jangan lama-lama.”
Langkah kaki itu menjauh lagi naik ke lantai dua. Kami berdua diam sebentar lalu saling pandang dengan napas tersengal. Wajah Livi merah padam campuran malu takut dan gairah yang masih membara. Air liurnya menetes dari sudut bibirnya ke dagu.
“Gila… hampir aja ketahuan. Bisikku serak sambil tersenyum nakal.
Livi semakin bersemangat. Dia langsung mendekatkan wajahnya kembali tanpa menunggu perintah lagi. Bibirnya yang basah dan panas kembali melingkari kontolku kali ini dengan lebih rakus meski masih pelan-pelan. Mungkin adrenalin karena hampir ketahuan justru membuatnya semakin terangsang.
“Mmhh… slurp…
Dia mengulum lebih dalam sekarang. Kepalanya bergerak naik-turun dengan irama yang lebih mantap. Lidahnya menekan kuat di urat-urat batangku setiap kali dia turun. Tangannya yang halus memegang pangkal kontolku lalu mengocok selaras dengan gerakan mulutnya. Sesekali dia menatap ke atas. Mata besarnya berkaca-kaca karena usaha menahan tenggorokan yang penuh tapi dia tidak berhenti.
Aku mendesah pelan sambil menggigit bibir. Aku berusaha menahan suara agar tidak terdengar sampai lantai dua.
“Ching Ching… berani sekali non… masih berani lanjut meski mama di atas” bisikku sambil mengusap rambutnya penuh kekaguman.
Livi hanya menggumam tanpa melepaskan mulutnya.
“Mmmhh… hahh…
Getaran suaranya membuat getaran nikmat menjalar di seluruh kontolku. Dia semakin dalam sehingga hampir separuh batangku masuk ke mulut hangatnya yang sempit. Air liurnya melimpah lalu menetes ke lantai kayu dan membasahi tangannya yang sedang mengocok pangkalnya.
Payudaranya yang montok bergoyang-goyang liar di balik seragam sekolah setiap kali kepalanya bergerak. Roknya masih terangkat tinggi sehingga memperlihatkan memeknya yang telanjang dan semakin basah. Aku bisa melihat cairannya menetes pelan ke lantai karena terangsang luar biasa.
Sensasi mulut Livi yang manja ditambah ketegangan karena takut ketahuan mama-nya membuat kenikmatan naik dengan sangat cepat. Kontolku berdenyut-denyut di dalam mulutnya sehingga semakin keras dan panas.
Aku memegang rambutnya lebih erat tapi tetap lembut. Pinggulku bergerak pelan maju-mundur mengikuti iramanya.
“Enak sekali non… mulutmu enak banget… teruskan ya… pelan-pelan…
Livi makin bergairah meski napasnya tersengal-sengal melalui hidung. Dia berusaha menelan lebih dalam lagi sehingga tenggorokannya menggigit ujung kontolku dengan ritme yang membuat kakiku hampir lemas.
Aku menarik kontolku perlahan dari mulut Livi yang basah dan penuh air liur. Bibirnya yang merah membengkak sedikit dan napasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca penuh gairah yang sudah tak tertahankan.
“Bangun non… sekarang bapak mau baringkan kamu di meja” bisikku serak sambil mengangkat tubuh rampingnya dengan mudah.
Meja kayu kecil di belakang kasir toko itu cukup panjang untuk satu orang. Aku membersihkan beberapa nota dan pulpen dengan tangan cepat lalu membaringkan Livi telentang di atasnya. Punggungnya menyentuh permukaan kayu yang dingin sehingga membuatnya menggigil kecil. Kedua kakinya menjuntai ke bawah dan rok abu-abunya sudah terangkat total ke pinggang sehingga memperlihatkan memeknya yang telanjang merah muda basah mengkilap dan masih menetes cairan bening.
Livi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia malu luar biasa.
“Pak… malu… lampunya masih nyala… rengeknya manja tapi pinggulnya justru bergerak pelan seolah mengundang.
Aku berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka lebar lalu membungkuk di atas tubuhnya.
“Gak apa-apa… biar bapak bisa liat semuanya dengan jelas” kataku sambil tersenyum nakal.
Aku mulai mencumbunya lagi. Bibirku langsung melumat bibirnya dalam-dalam. Lidahku menyusup masuk lalu menari dengan lidahnya yang manja. Ciuman kali ini lebih panas dan rakus. Livi mendesah di dalam mulutku dan tangannya mencengkeram bahuku. Aku menghisap lidahnya pelan lalu menggigit bibir bawahnya lembut.
Tangan kananku merayap ke kemeja putihnya yang sudah terbuka. Aku membuka semua kancingnya hingga payudaranya yang montok dan kencang terbebas. Bra tipisnya aku dorong ke atas sehingga payudara putih halusnya dengan puting susu kecil yang sudah tegang mengeras terpapar di depanku.
Aku turunkan kepalaku lalu langsung menyedot puting kirinya dengan rakus. Lidahku berputar di sekitarnya. Sesekali aku gigit pelan dan hisap kuat.
“Ahh… Pak… enak… uuuhh… Livi melengkungkan punggungnya, mendorong payudaranya lebih masuk ke mulutku. Tangannya memegang kepalaku, meremas rambutku.
Aku pindah ke puting kanannya lalu meremas payudara satunya dengan tangan kasar sambil menghisap dan menjilat bergantian. Payudaranya terasa kenyal dan hangat di mulutku. Livi semakin mendesah keras meski dia berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar ke lantai dua.
“Ahh… Pak… enak… uuuhh…” Livi melengkungkan punggungnya sehingga mendorong payudaranya lebih masuk ke mulutku. Tangannya memegang kepalaku lalu meremas rambutku.
Setelah puas dengan payudaranya aku turun lebih rendah. Aku menciumi perut rata yang halus lalu turun ke bawah perut. Aku menarik kedua kakinya lebih lebar lalu meletakkan telapak kakinya di pinggir meja sehingga memeknya terbuka sempurna di depan wajahku.
Aroma manis dan hangat memek perawan yang basah kuyup langsung memenuhi hidungku. Bibir memeknya yang mungil dan montok sudah merah dan mengkilap.
Aku menjulurkan lidahku lalu menjilat pelan dari bawah ke atas sehingga menyapu seluruh celahnya.
“AAHHH!! Pak…!” Livi menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Tubuhnya mengejang hebat.
Aku tidak berhenti. Lidahku menjilat dengan ritme pelan tapi pasti. Naik turun di sepanjang celahnya sesekali menyentuh klitoris kecil yang sudah tegang. Lalu aku menyedot klitorisnya lembut dan lidahku berputar cepat di sana.
Livi menggeliat-geliat di atas meja. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku jarinya memutih. Pinggulnya naik-turun tanpa kendali sehingga mendesak memeknya ke wajahku.
“Pak… enak… aneh… panas… ahh… jangan di situ terus… uuuhhh!!”
Aku memasukkan lidahku ke dalam lubangnya yang sempit lalu menjilat dinding dalamnya yang basah dan panas. Kemudian aku ganti lagi ke klitorisnya lalu menjilat lebih cepat sambil memasukkan satu jari tengahku perlahan ke dalam memeknya dan menggerakkannya keluar-masuk.
Gerakan Livi semakin liar. Napasnya tersengal-sengal dan suaranya semakin tinggi meski ditekan. Paha dalamnya menjepit kepalaku pelan.
“Pak… aku… aku rasanya mau… mau keluar… aaahhh… pak…!!
Aku semakin intens. Lidahku menari cepat di klitorisnya dan dua jariku sekarang menggenjot memeknya dengan ritme stabil sambil membengkok ke atas mencari titik sensitifnya.
Tubuh Livi menegang total. Pinggulnya terangkat tinggi dari meja dan paha mulusnya bergetar hebat.
“Iyaaa… Pak… aku… AKU KELUAR!!! Aaaahhhhhh!!”
Livi klimaks dengan hebat di atas meja toko. Memeknya berdenyut-denyut kuat di sekitar jariku lalu menyemburkan cairan hangat yang membasahi mulutku janggutku dan permukaan meja kayu. Tubuhnya kejang-kejang beberapa detik. Matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar tanpa suara karena kenikmatan yang meluap.
Aku terus menjilat pelan sampai getarannya mereda lalu naik lagi ke atas tubuhnya. Wajah Livi sudah sangat memerah. Keringat menetes di dahinya dan rambut panjangnya acak-acakan. Matanya setengah terpejam dan napasnya masih tersengal.
“Gimana non… enak?” tanyaku sambil menciumi bibirnya yang basah lalu memberinya merasakan rasa cairannya sendiri.
Livi hanya mengangguk lemah. Suaranya parau.
“Enak banget pak… aku… aku belum pernah ngerasain yang kayak gini… badanku masih gemeteran…
Aku berdiri tegap di depan meja kayu kecil itu. Posisiku berada tepat di antara kedua kaki Livi yang terbuka lebar. Tubuh rampingnya terbaring telentang di atas meja. Punggungnya menempel di permukaan kayu dingin. Rok abu-abunya terangkat total ke pinggang dan kedua kakinya menjuntai ke bawah tanpa menyentuh lantai. Payudaranya yang montok naik-turun cepat karena napasnya yang tersengal.
Aku memegang kontolku yang sudah sangat keras dan licin oleh campuran air liurnya serta cairan memeknya. Dengan satu tangan memegang pinggul ramping Livi agar posisinya stabil aku mengusap-usapkan kepala kontolku di celah memeknya yang basah kuyup.
“Nah… kalau udah basah kayak gini jadi lebih gampang masukin non… gak terlalu sakit juga. Hehe…” kataku sambil tersenyum nakal, suaraku serak penuh hasrat.
Livi menatap ke bawah dengan mata besar yang penuh gugup. “Pelan-pelan ya Pak… aku takut…” rengeknya manja, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih.
Aku mendorong pinggulku ke depan perlahan. Kepala kontolku yang besar menekan bibir memeknya yang mungil dan merah muda. Karena posisiku berdiri, sudutnya lebih pas untuk menekan masuk, tapi tetap sulit karena Livi masih perawan dan lubangnya sangat sempit.
“Uhh…” erangku saat ujungnya masuk sedikit, lalu meleset keluar karena tekanan ototnya yang kencang.
Aku coba lagi. Menggesek naik-turun pelan di celahnya untuk melumasi lebih banyak, lalu menekan lagi. Berkali-kali ujung kontolku masuk sedikit lalu meleset keluar, membuat Livi menggelinjang dan mendesah kesakitan bercampur geli.
“Ahh… pak… pelan… rasanya penuh tapi… susah masuknya…” keluh Livi sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Paha mulusnya bergetar di kedua sisi pinggangku.
Aku memegang kedua pahanya lebih erat, membukanya lebih lebar. Lalu aku dorong lagi dengan tekanan yang lebih mantap. Akhirnya kepala kontolku berhasil masuk sepenuhnya dengan bunyi basah kecil “plop
“Aaahhh!! Pak… sakit… besar sekali…” Livi meringis, tubuhnya menegang hebat di atas meja. Air mata kecil mengalir di sudut matanya, tapi memeknya semakin banyak mengeluarkan cairan hangat yang membasahi batang kontolku.
Aku berhenti sejenak, hanya membiarkan kepalanya berada di dalam sambil mengusap klitorisnya dengan ibu jari. “Tenang non… tarik napas… bapak pelan-pelan. Lihat, kepalanya udah masuk semua.”
Livi mengangguk lemah, napasnya tersengal. Perlahan aku mulai mendorong lagi, senti demi senti. Karena posisiku berdiri, aku bisa mengontrol tekanan dengan baik. Batang kontolku yang tebal perlahan meregang dinding memeknya yang sempit dan panas. Setiap kali mendorong lebih dalam, Livi mendesah panjang, campuran antara sakit dan kenikmatan yang mulai muncul.
“Hhngg… pak… aku penuh… rasanya… aneh… tapi… jangan berhenti…” gumamnya dengan suara parau.
Aku terus mendorong pelan-pelan hingga hampir separuh batangku masuk. Memek Livi menggigit kuat sekali, licin dan sangat panas. Aku mundur sedikit lalu dorong lagi, mengulang gerakan pendek untuk membiasakannya.
Wajah Livi sudah sangat memerah, rambut panjangnya acak-acakan di atas meja, payudaranya bergoyang-goyang setiap kali pinggulku bergerak. Suara basah dari pertemuan tubuh kami terdengar pelan di toko yang sunyi.
Aku berdiri tegap di antara kedua kaki Livi yang terbuka lebar, pinggulku sejajar dengan meja kayu kecil itu. Kontolku yang sudah sangat keras dan licin oleh cairannya masih setengah masuk ke dalam memeknya yang sempit. Aku memegang kedua pahanya yang mulus dan putih dengan tangan kasarku, menjaga posisinya tetap stabil agar tidak bergeser di meja.
“Tenang ya Ching Ching… bapak dorong pelan-pelan lagi,” bisikku serak sambil mengusap paha dalamnya dengan ibu jari.
Livi mengangguk lemah, matanya setengah terpejam, bibirnya menggigit kuat-kuat. “Iya pak… pelan… aku masih ngerasa penuh banget…
Aku mundur sedikit hingga hanya kepala kontolku yang tersisa di dalam, lalu mendorong kembali ke depan dengan tekanan yang lebih mantap. Sentimeter demi sentimeter batangku yang tebal masuk lebih dalam. Dinding memek Livi yang panas dan kenyal meregang maksimal menggigitku, seolah menolak tapi juga menyambut dengan cairan yang semakin melimpah.
“Ahh… hhngg… pak… besar… pelan pak…” erang Livi manja. Tubuhnya mengejang kecil di atas meja, payudaranya yang montok bergoyang-goyang pelan mengikuti setiap dorongan. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu hingga buku jarinya memutih.
Aku berhenti sejenak setiap kali masuk lebih dalam, memberinya waktu menyesuaikan. Sensasinya luar biasa — memeknya sangat sempit, panas seperti tungku, dan licin sekali. Setiap kali aku dorong, terdengar suara basah pelan “schlup… schlup…” yang kecil tapi jelas di toko yang sunyi.
“Uhh… non… memekmu enak banget… sempit sekali… masih perawan beneran,” desahku sambil menatap wajahnya yang memerah hebat.
Perlahan, setelah beberapa kali dorongan pendek dan sabar, akhirnya hampir seluruh batang kontolku masuk. Hanya tersisa sedikit di luar. Livi mendesah panjang, napasnya tersengal-sengal.
“Aaahhh… pak… aku penuh… rasanya… perutku penuh… sakit tapi… enak juga…” gumamnya dengan suara parau, air mata tipis mengalir di sudut matanya.
Aku membungkuk sedikit ke depan tanpa mencabut kontolku, menciumi bibirnya lagi dengan lembut. Lidahku melumat bibirnya yang basah, sementara tangan kananku meremas payudaranya pelan. Putingnya masih keras dan sensitif. Aku mulai menggerakkan pinggulku dengan gerakan sangat pelan — keluar masuk hanya beberapa senti dulu, membiasakan memeknya dengan ukuranku.
Livi mulai mendesah di setiap dorongan. Awalnya masih ada nada kesakitan, tapi lama-lama desahannya berubah menjadi manja dan penuh kenikmatan. Pinggulnya yang ramping mulai bergerak pelan mengikuti iramaku, seolah tubuhnya sudah mulai lapar akan lebih.
“Enak non?” tanyaku sambil mengusap klitorisnya dengan ibu jari tanpa berhenti menggerakkan pinggul.
“Iya pak… enak… pelan-pelan aja dulu… aaahh… lebih dalam dikit boleh…” rengeknya manja, matanya yang besar sekarang penuh kabut gairah.
Aku tersenyum puas dan mulai menambah kedalaman gerakan sedikit demi sedikit. Kontolku keluar-masuk lebih panjang sekarang, suara basah semakin jelas. Cairan Livi melimpah, membasahi batang kontolku, bola-bolaku, dan bahkan menetes ke lantai kayu di bawah meja.
Rambut panjangnya tergerai acak-acakan di atas meja, wajah imutnya basah oleh keringat, dan bibirnya terus mengeluarkan desahan kecil yang manja setiap kali aku dorong hingga pangkal.
Suasana toko semakin panas meski AC masih menyala pelan. Hanya ada suara napas kami berdua, desahan Livi, dan bunyi pertemuan tubuh yang basah.
Aku semakin bersemangat melihat Livi yang sudah mulai menikmati. Desahannya yang manja dan tubuhnya yang mulai bergerak mengikuti iramaku membuat darahku mendidih.
Aku mempercepat gerakan pinggulku secara perlahan. Dorongan yang tadinya pendek dan hati-hati kini menjadi lebih panjang dan cepat. Kontolku keluar-masuk memeknya dengan irama yang semakin stabil, suara basah “plok… plok… plok…” mulai terdengar lebih jelas dan cepat di dalam toko yang sunyi.
Livi mendesah lebih keras, “Ahh… pak… semakin cepat… aaahh!
Aku memegang kedua kakinya yang mulus, lalu mengangkatnya tinggi dan meletakkannya di atas kedua pundakku yang kekar. Posisi ini membuat pinggul Livi terangkat sedikit dari meja, memeknya terbuka lebih lebar dan sudut penetrasiku semakin dalam. Kontolku bisa masuk hampir seluruhnya sekarang dengan setiap dorongan.
“Uhh… non… dalam banget gini…” erangku serak.
Dengan posisi kakinya di pundakku, aku mulai menggenjotnya lebih cepat. Pinggulku bergerak maju-mundur dengan ritme yang semakin intens. Setiap kali kontolku masuk hingga pangkal, bola-bolaku menepuk pelan bibir memeknya yang basah. Memek Livi semakin licin, cairannya melimpah membasahi batang kontolku dan menetes ke lantai.
Tangan kananku dan kiriku langsung meraih payudaranya yang montok dan bergoyang-goyang liar karena hantaman pinggulku. Aku meremas keduanya dengan kuat, menekan daging kenyal itu di antara jari-jariku. Jempolku memilin putingnya yang sudah sangat keras dan tegang.
“Aaahhh… Pak… dadaku… enak… remas lagi pak… uuuhhh!!” Livi hampir menjerit manja, suaranya pecah-pecah karena kenikmatan. Tubuhnya yang ramping terguncang-guncang di atas meja kayu setiap kali aku menghantam dalam.
Aku meremas payudaranya lebih rakus, kadang menarik putingnya pelan sambil terus menggenjot memeknya dengan cepat. Posisi kakinya di pundakku membuat kontolku menyentuh titik paling dalam setiap kali masuk. Livi semakin liar, pinggulnya berusaha mendongak mengikuti hantamanku meski posisinya terbatas.
“Ching Ching… memekmu enak sekali… semakin cepat bapak genjot, semakin basah non…” kataku sambil napasku tersengal, tanganku tak henti meremas dan memilin buah dadanya yang putih dan montok.
Livi hanya bisa mendesah dan merengek, “Iya pak… enak… lebih cepat lagi… aaahh… aku rasanya mau keluar lagi pak… hhngg!!”
Gerakan pinggulku semakin cepat dan kuat. Suara benturan tubuh kami semakin keras dan basah. Payudaranya terasa semakin panas dan kenyal di telapak tanganku. Keringat mulai menetes di dada bidangku dan di tubuh Livi yang sudah mengkilap.
Memeknya semakin berdenyut-denyut menggigit kontolku, seolah ingin menahan setiap kali aku keluar dan menyambut rakus setiap kali aku masuk dalam.
Aku terus menggenjot Livi dengan irama cepat dan kuat, kontolku keluar-masuk memeknya yang sudah sangat licin dan longgar karena basah kuyup. Kedua kakinya masih bertumpu di pundakku, payudaranya bergoyang liar di bawah remasan tanganku yang kasar.
Desahan Livi semakin keras dan putus-putus, “Aaahh… pak… dalam… enak sekali… aku mau keluar lagi pak… hhngg!!
Sensasi vaginanya yang berdenyut-denyut meremas kontolku semakin kuat. Aku merasakan kenikmatan naik dengan cepat di bagian bawah tulang punggungku. Buah zakarku menegang dan kontolku berdenyut-denyut hebat di dalamnya.
"Aaaaahh… non… bapak hampir keluar… erangku serak, gerakan pinggulku semakin cepat dan kasar.
Dengan sisa kendali yang ada, aku menarik kontolku keluar sepenuhnya dari memek Livi dengan bunyi “plop” yang basah. Kontolku yang merah dan mengkilap berdenyut-denyut di udara, hampir meledak.
Livi mengeluh kecewa, pinggulnya masih bergerak pelan mencari kontolku. “Pak… kenapa berhenti… aku sudah hampir…
Aku tersenyum nakal sambil menepuk pelan paha mulusnya.
"Sekarang kita coba ngewe pake cara yang lebih kasar.. bapak pengen cobain genjot non ching ching dari belakang..
Aku menarik tubuh Livi turun dari meja dengan mudah. Aku membalikkan tubuhnya hingga telungkup di atas meja kayu tua itu. Payudaranya yang montok tertekan ke permukaan meja yang dingin, membuatnya mendesah kecil. Kedua kakinya menapak di lantai kayu, pinggulnya terangkat tinggi, dan memeknya yang merah serta basah mengkilap terpapar sempurna dari belakang.
Rambut panjang Livi tergerai acak-acakan di punggung dan meja. Rok seragam sekolah abu-abunya sudah tergulung kusut total di pinggangnya. Aku berdiri di belakang gadis chindo itu sambil mencengkram kuat pinggul rampingnya dengan kedua tanganku yang kekar.
"Tahan ya non.. bapak mau masukin sekarang..
Tanpa banyak bicara lagi aku mengarahkan kontolku yang masih sangat keras ke liang vaginanya yang sudah basah sekali lalu mendorong masuk dengan satu gerakan kuat hingga pangkal.
“Aaahhh!! Pak… berasaaa.. daaalem banget masuknya.. uhh !! Livi menjerit manja, tubuhnya maju ke depan karena hantaman itu.
"Iya non.. kalau pake gaya ini emang paling nikmat.. kontol bapak bener bener bisa mentok sampe ke ujung..
Aku langsung memegang kedua pundaknya dari belakang sebagai pegangan. Dengan posisi ini, aku mulai menggenjotnya secara kasar dan cepat. Pinggulku menghantam bokongnya yang putih dan kenyal dengan bunyi “plak… plak… plak… yang keras dan cepat memecwh keheningan didalam toko yang sudah tutup.
Setiap hantaman keras dari kontolku membuat tubuh Livi terguncang-guncang di atas meja. Payudaranya bergesekan kasar dengan permukaan meja kayu. Aku menarik pundaknya ke belakang agar pinggulnya tetap terangkat tinggi, membuat sodokan kontolku bisa masuk sangat dalam setiap kali.
“Enak non?! Sekarang bapak mau genjot lebih kasar lagi yaa.. kayak yang di video itu… kataku sambil terus menghantamnya tanpa ampun. Tangan kiriku masih memegang pundaknya kuat, tangan kananku sesekali menepuk bokongnya pelan hingga memerah.
Livi hanya bisa mendesah dan merengek liar.. Iya pak… uuhhh.. mulai berasa enak sekarang… aaahh… dalem banget masuknyaa… uuunghh.. lebih keras lagi pak… hhngg… memekku… penuh semua… uhh !!
Harus kuakui suara erangan gadis itu cukup keras namun beruntung dilantai dua rumah papanya Livi sedang memutar lagu Mandarin jadul dengan volume yang lumayan kencang sehingga bisa menyamarkan suara persetubuhan kami berdua ditoko ini.
Semakin lama gerakan pinggulku semakin brutal. Kontolku keluar-masuk dengan cepat dan dalam, bola-bolaku menepuk klitorisnya setiap kali aku masuk hingga pangkal. Lendir kawin Livi muncrat-muncrat kecil setiap hantaman, membasahi lantai dan paha kami berdua.
Masih belum puas kemudian rambut panjangnya aku tarik pelan ke belakang dengan satu tangan, membuat punggungnya melengkung indah. Aku terus menggenjotnya tanpa henti, suara benturan tubuh dan desahan Livi memenuhi toko yang temaram.
Aku semakin yakin dengan dugaanku. Ternyata benar — semakin kasar aku mempermainkan Livi, semakin hebat dia terangsang. Gadis manja yang biasanya imut dan kekanak-kanakan ini justru berubah liar di bawah hantaman kasar dariku.
“Pak… aaahh!! Enak… kasar banget… memekku… enak sekali pak!!” Livi meracau keenakan tanpa kendali. Suaranya sudah tidak lagi pelan dan malu-malu, melainkan penuh nafsu yang meledak-ledak. Tubuh rampingnya terguncang hebat setiap kali pinggulku menghantam bokongnya dari belakang dengan keras.
Aku tersenyum puas dan langsung menambah kekuatan. Aku menjambak rambut panjangnya yang hitam legam dengan tangan kiri, menariknya ke belakang hingga punggung Livi melengkung indah. Kepalanya terdongak, leher putihnya teregang, dan mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan liar.
“Uhh… non ching ching.. ternyata suka dikasarin juga ya... Bener bener amoy nakal ya kamu.. desahku serak sambil terus menggenjotnya lebih kasar.
Plak! Plak! Plak! Plak!
Suara benturan pinggulku ke pantatnya semakin keras dan cepat. Kontolku menghunjam kemaluannya hingga pangkal dengan brutal, keluar-masuk dengan cepat dan kuat. Setiap hantaman membuat memek Livi menyembur cairan bening yang makin banyak.
Livi semakin meracau, “Iya pak… suka… aaahh!! Lebih keras pak… genjot Livi… hhngg!! Aku… aku suka kasar… uhh!! Rambutku… tarik lagi pak!!
Erangannya semakin keras dan nyaring, hampir tidak terkontrol. Aku khawatir suaranya akan terdengar sampai lantai dua. Dengan cepat, tangan kananku aku geser dari pinggulnya ke mulut Livi. Aku bekap mulutnya kuat tapi tidak sampai menyakitinya, menahan erangannya yang liar.
“Mmmhh!! Mmmhhh!!” Livi mendesah tertahan di telapak tanganku. Matanya terpejam rapat, air mata kenikmatan mengalir di pipinya.
Aku genjot sekuat tenaga sekarang. Kedua kakiku menapak kuat di lantai, pinggulku bergerak seperti piston mesin. Kontolku menghantam memeknya dengan kasar dan dalam, bola-bolaku menepuk klitorisnya setiap kali masuk hingga pangkal. Tangan kiriku masih menjambak rambutnya kuat, menarik kepalanya ke belakang, sementara tangan kananku membekap mulutnya rapat.
**Plak plak plak plak plak!
Bunyi hantaman kasar memenuhi toko. Meja kayu tua itu bergoyang-goyang mengikuti irama brutal kami. Bokong Livi sudah memerah karena hantaman berulang. Memeknya berdenyut-denyut hebat menggigit kontolku, semakin licin dan panas.
Livi menggeleng-gelengkan kepalanya di bawah bekapanku, tubuhnya kejang-kejang. Dia meracau tertahan di telapak tanganku, “Mmmhh!! Mmm… keluar… aku mau keluar lagi pak… mmmhhh!!
Aku tidak mengurangi kecepatan sama sekali. Malah semakin ganas. Aku menarik rambutnya lebih kuat sambil menggenjot sekuat tenaga, kontolku menghunjam titik paling dalam berulang kali.
Tubuh Livi menegang total. Paha dalamnya bergetar hebat, memeknya menyembur cairan hangat yang menyiram batang kontolku.
Aku terus menggenjot Livi dengan kasar dari belakang. Tangan kiriku menjambak rambut panjangnya dan tangan kananku membekap mulutnya rapat. Kontolku menghantam memeknya tanpa ampun sehingga suara plak plak plak yang keras dan basah memenuhi toko.
Tiba-tiba suara Mama Livi memanggil lagi dari lantai dua kali ini lebih jelas dan agak penasaran. Langkah kaki samar terdengar mendekati tangga.
“Livi...! Toko sudah ditutup belum? Kenapa kamu belum naik ke atas?
Kami berdua langsung tegang. Tubuh Livi mengejang hebat di bawahku dan memeknya berdenyut kuat menggigit kontolku karena campuran ketakutan dan gairah yang semakin liar.
Aku tidak berhenti sama sekali. Malah aku menarik rambutnya lebih kuat dan menekan bekapanku lebih rapat di mulutnya. Dengan suara rendah dan serak aku bisik di telinganya.
“Jawab... pelan-pelan... jangan sampai suaramu gemetar.
Livi mengangguk lemah di bawah bekapanku. Aku sedikit melonggarkan tangan di mulutnya agar dia bisa bicara.
Dengan suara manja yang berusaha dibuat biasa tapi agak parau dan tersengal karena kontolku masih menghunjam pelan di dalamnya Livi menyahut ke atas.
“Iyaaa Maaaa... bentar lagi... sudah hampir selesai nih... aku lagi... lagi beresin barang yang berantakan... Nanti kalau sudah beres aku langsung naik ke atas!
Jawaban Livi terdengar cukup meyakinkan meski ada getaran di ujung kalimatnya. Dari lantai dua terdengar Mama menjawab.
“Ya sudah cepat ya Nak. Jangan main HP terus di bawah.
Langkah kaki itu kembali menjauh.
Begitu suara mama menghilang aku langsung meledak dalam nafsu. Aku menjambak rambut Livi lebih kuat hingga kepalanya terdongak dan tangan kananku kembali membekap mulutnya rapat-rapat.
“Sekarang bapak genjot lebih keras non... desisku ganas.
Aku menggenjot Livi sekuat tenaga. Pinggulku bergerak brutal sehingga kontolku menghunjam memeknya dari belakang dengan kekuatan penuh. Setiap hantaman membuat tubuh Livi terdorong maju ke meja dan payudaranya bergesekan kasar di permukaan kayu.
Plak plak plak plak plak.
Bunyi benturan sangat keras. Memek Livi sudah sangat basah hingga cairannya muncrat-muncrat setiap kali kontolku masuk hingga pangkal. Aku menarik rambutnya seperti tali kekang sambil terus menghantamnya tanpa henti.
“Mmmhhh!!! Mmmhh!!! Mmmhhh!!!” Livi meracau liar di bawah bekapanku. Suaranya tertahan tapi tubuhnya menggila. Pinggulnya mendongak ke belakang menyambut setiap hantaman kasarku.
Aku semakin ganas. Tangan kiriku menjambak rambutnya kuat dan tangan kananku menekan mulutnya. Pinggulku bergerak seperti binatang sehingga kontolku mengobrak-abrik memeknya yang sudah longgar dan sangat licin.
Livi semakin tidak terkendali. Tubuhnya menegang hebat dan paha dalamnya bergetar hebat. Memeknya berdenyut-denyut kuat menggigit kontolku.
“Mmmhhh!!! Mmm...!!!” erangannya tertahan semakin tinggi.
Beberapa detik kemudian Livi klimaks lagi dengan hebat. Tubuhnya kejang-kejang hebat di atas meja sehingga memeknya menyembur cairan hangat yang menyiram kontolku dan paha kami. Lututnya hampir goyah tapi aku terus menggenjotnya tanpa mengurangi kecepatan sehingga memperpanjang orgasmenya yang kedua ini.
Livi menggeleng-gelengkan kepalanya di bawah bekapanku. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya.
Aku masih menggenjot Livi dengan kasar dari belakang. Kontolku menghujam vaginanya yang sudah banjir lendir kawin setelah klimaksnya yang kedua. Tubuhnya lemas gemetar di atas meja tapi kemaluannya masih berdenyut-denyut rakus meremas batangku.
Tanpa mencabut kontolku aku mengangkat sebelah kaki kirinya yang mulus tinggi-tinggi lalu meletakkannya di atas meja. Posisi ini membuat pantat Livi terangkat lebih tinggi sehingga memeknya terbuka sangat lebar dan sudut penetrasiku menjadi jauh lebih dalam. Kakinya yang satu tetap menapak di lantai sementara yang satu lagi aku tahan kuat di atas meja.
“Uhh… posisi ini enak banget non… erangku serak.
Dengan posisi baru ini aku bisa menghunjam lebih dalam dan lebih brutal. Kontolku masuk hingga pangkal setiap kali sehingga ujungnya menyentuh titik paling dalam di perut Livi.
Livi yang biasanya manja dan kekanak-kanakan itu kini benar-benar berubah. Dia sekarang mirip seekor anjing betina yang sedang birahi. Punggungnya melengkung bokongnya mendongak tinggi menyambut hantaman rambut panjangnya acak-acakan dan mulutnya mengeluarkan erangan tertahan yang liar di bawah bekapanku.
“Aaahh… pak… kaki aku… hhngg… dalam banget… memekku mau robek… uhh!!” racaunya tertahan di telapak tanganku.
Aku menahan kaki kirinya kuat-kuat di atas meja agar posisinya tetap terbuka lebar. Tangan kiriku masih menjambak rambutnya dan tangan kananku membekap mulutnya lebih rapat. Pinggulku bergerak kasar dan ganas sehingga menghantam bokongnya dengan kekuatan penuh.
Plak plak plak plak plak...
Bunyi hantaman semakin keras dan cepat. Setiap kali kontolku masuk hingga pangkal bola-bolaku menepuk klitorisnya dengan keras. Memek Livi mengeluarkan suara basah schlup schlup schlup.. yang menggairahkan. Lendir kawinnya muncrat-muncrat lagi setiap hantaman sehingga membasahi paha kami dan lantai di bawah.
“Gini… mirip anjing betina kan non? Ching Ching yang manja sekarang lagi ngaceng berat kayak jalang…” bisikku ganas di telinganya sambil terus menggenjot tanpa ampun.
Livi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Erangannya tertahan menjadi “Mmmhhh!!! Mmmhhh!!!” dan tubuhnya terguncang hebat. Kakinya yang aku tahan di atas meja bergetar hebat tapi aku tidak mengendurkan pegangan sedikit pun. Posisi ini membuat kontolku semakin dalam seolah menusuk rahimnya.
Aku semakin terangsang hebat melihat pemandangan di depanku. Livi telungkup di meja dengan satu kaki diangkat tinggi bokong putihnya memerah karena hantaman memeknya yang merah mengkilap menggigit kontolku rakus dan rambut panjangnya yang aku tarik seperti tali kekang.
Gerakan pinggulku semakin cepat dan kuat. Kenikmatan naik dengan sangat cepat di pangkal kontolku. Bola-bolaku menegang dan kontolku berdenyut-denyut hebat di dalam memeknya yang panas dan licin.
“Uhh… non… bapak mau keluar… aahh… memekmu nikmat sekaliii.. desahku parau.
Aku genjot sekuat tenaga sambil menahan kaki Livi tetap di posisi itu. Hantaman terakhir-terakhirku sangat brutal sehingga tubuh meja bergoyang keras.
Akhirnya aku klimaks dengan hebat.
“Aaarrghh!!!
Kontolku berdenyut kuat di dalam memek Livi lalu menyemburkan sperma panas dan kental langsung ke dalam rahimnya. Jet demi jet keluar dengan kuat sehingga memenuhi dalam memeknya yang sudah penuh. Aku terus menghunjam pelan sambil mengeluarkan seluruh spermaku lalu menikmati denyutan memek Livi yang masih bergetar di sekitar kontolku.
Livi juga mengejang lagi sehingga klimaks ringan ketiga karena merasakan semburan hangat di dalamnya. Tubuhnya lemas total di atas meja dan napasnya tersengal-sengal di bawah bekapanku.
Aku masih menahan kakinya di posisi itu beberapa saat. Kontolku tetap tertanam dalam sambil menyemburkan sisa-sisa sperma.
Aku masih tertanam dalam di memek Livi beberapa saat sambil menikmati denyutan terakhir orgasme kami berdua. Sperma panasku memenuhi dalam dirinya hingga meluber sedikit keluar dari celah memeknya yang masih menggigit kontolku.
Perlahan aku mencabut kontolku yang masih setengah keras. Cairan putih kental campur cairan Livi langsung menetes deras ke lantai kayu toko. Livi masih telungkup lemas di atas meja napasnya tersengal-sengal tubuhnya gemetar hebat dan kakinya yang satu masih aku letakkan di meja.
Aku cepat membereskan diri. Aku menarik celana dalam dan celana kerjaku ke atas lalu merapikan baju. Livi bangun pelan-pelan dengan susah payah. Wajahnya merah padam rambut panjangnya acak-acakan kemeja putihnya kusut dan basah keringat rok abu-abunya masih terangkat di pinggang.
Aku membantu dia berdiri lalu merapikan pakaiannya. Aku membersihkan cairan yang menetes di pahanya dengan tisu dari meja kasir. Livi hanya diam malu matanya menunduk tapi sesekali melirikku dengan pandangan yang masih penuh gairah dan malu bercampur.
Setelah cukup rapi aku memegang dagunya lembut lalu menatap matanya yang besar.
“Kalau non mau lain kali bapak bisa ajarin cara ngewe yang lebih nikmat lagi. Banyak macamnya Ching Ching… Tapi jangan sampai papa mama non tahu ya. Ini rahasia kita berdua.
Livi menggigit bibir bawahnya. Wajahnya semakin merah. Dia mengangguk pelan dan suaranya kecil serta manja seperti biasa.
“Iya pak… rahasia… aku gak akan bilang siapa-siapa…
Aku tersenyum puas lalu mengecup keningnya sekilas dan berjalan ke pintu toko. Sebelum keluar aku menoleh sekali lagi. Livi masih berdiri di belakang meja sambil merapikan rambutnya dan kakinya agak goyah.
Aku keluar dari toko menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan menyusuri gang sempit Pecinan Lama yang sudah gelap. Udara malam terasa sejuk di kulitku yang masih panas. Kamar kontrakanku yang sederhana letaknya hanya beberapa rumah saja dari toko rumah tua itu.
Sepanjang jalan pikiranku masih penuh dengan bayangan tubuh Livi yang telungkup di meja erangannya yang manja dan memeknya yang sempit tadi. Rasa dendam yang dulu ada pada keluarga Pak Aliong kini bercampur dengan kepuasan dan nafsu yang baru saja terpuaskan.
Sesampainya di kamar kontrakan aku langsung mandi air dingin lalu membersihkan sisa-sisa cairan Livi yang masih menempel di tubuhku. Sambil berbaring di kasur tipis aku tersenyum sendiri. Malam ini baru permulaan.




Ajaran sesat yg menguntungkan deden hahahaha
BalasHapus