By : Erva
"Tunggu !! ujarku pada suara yang memanggilku. Tanpa menoleh ke sumber suara itu aku terus fokus membaca apa yang tampil di layar laptopku.
Ada keheningan yang terjadi di ruanganku. Ruanganku tidaklah besar, ukurannya hanya 3x2 meter. Hanya ada mejaku, dua kursi tamu, kursi miliku dan sofa serta sebuah lemari kabinet dan rak pajangan yang memajang beberapa foto, lego yang sudah dirakit, dan beberapa penghargaan dari perusahaan. Keheningan terjadi selama 3 menit dan tamuku hanya berdiri tidak berani untuk duduk karena tidak kupersilahkan duduk.
"Oke, kenapa ?" tanyaku. Aku menolehkan wajahku dan melihat Vanya ada di sana berdiri. Vanya adalah perempuan berusia 27 tahun, setahun lebih tua daripadaku. Wajahnya cukup oriental walau dia indo campuran chinese dan jawa. Dia adalah salah satu rekan kerjaku di kantor. Bagian keuangan. Ia mengenakan blazer hitam, kemeja biru muda dan rok sepan hitam serta stoking putih dan pump berwarna hitam juga. Kulihat ada arloji berwarna keperakan di tangan kanannya dan gelang manik-manik berwarna hitam. Tidak ada cincin yang menghiasi jarinya, tapi ada anting sedernaha berwarna perak dengan kalung perak juga. Rambut anya panjang tapi saat itu rambutnya dicepol ke atas. Penampilannya berbeda denganku yang menggunakan summer dress pink muda yang cantik dengan kerah agak rendah sehingga belahan dadaku terlihat menyembul karena aku menggunakan Push Bra.
"Ini Bu, laporan yang ibu minta" ujarnya memberikan suatu laporan ke mejaku. Sebuah amplop coklat yang cukup tebal. Walaupun Vanya lebih tua dariku tapi jabatanku lebih tinggi darinya.
"Oke akan kulihat nanti." ujarku.
Seperti hari lainnya aku banyak bekerja seorang diri di ruang kerjaku. Ketika jam makan siang, sebuah ketukan terdengar lagi di pintuku.
"masuk," ujarku
Vanya dan seorang perempuan lain bernama Zahra masuk ke ruanganku.
Zahra memakai hijab berwarna hijau salem dengan baju berwarna peach krem salem. Ada ikat pinggang coklat kemerahan di baju terusannya yang panjang. Dan dia menggunakan celana bahan berwarna putih dan sepatu hitam.
"Mau makan bareng Bu ?" tanya Vanya "kita mau ke saladstop. Biasanya bu Erva suka tiitp kalo salad stop." ujarnya
Aku memandang mereka dan berpikir sejenak. "Boleh" ujarku
"Omega 3 Baby seperti biasa ?" tanya Vanya.
"Iya. Terima kasih Vanya." Aku mengeluarkan uang 150 ribu dan menyerahkannya kepada Vanya. "Titip ya."
Kemudian aku kembali sibuk dengan laptopku. ada beberapa hal yang harus kubaca dan kubereskan. Aku memang tidak selalu sesibuk ini, biasanya aku kadang suka ikut Vanya, Zahra ataupun teman-teman kerjaku yang lain untuk ikut makan siang. kadang kami makan di warteg yang murah juga sesekali. Tapi malam ini aku ada meeting dan harus menyelesaikan materi presentasi pentingku.
Tanpa terasa tiba-tiba waktu sudah menunjukan jam 13:00 dan Vanya kembali mengetuk pintuku. "Masuk" ujarku.
Vanya masuk "Ini punya Bu Erva," ujarnya sambil meletakan kantong kertas dan juga kembalian dari uang yang kutitipkan.
"Makasih," ujarku tanpa menoleh ke arahnya.
Kemudian aku mendengar Vanya berjalan keluar ruangan dan meninggalkanku sendirian kembali.
-----
"Jadi dengan begitu ROI-nya akan kembali dalam 6 bulan." ujarku menjelaskan.
Lawan bicaraku Lauren adalah anak dari keluarga Pras yang memiliki gossip-gossip miring. Perusahaan mereka besar dan ada dimana-mana mulai dari yang legal seperti bisnis barang branded sampai ke pijat plus-plus kelas atas. Pada kesempatan ini Lauren meminta kantorku untuk membantunya dalam bisnis tempat minum di Jakarta Selatan.
"Ini sudah best practice yang banyak dilakukan oleh banyak resto dan cafe. Ini cukup standar dan tidak sulit. Untuk training kami juga bisa bantu dan saya sendiri bisa membantu untuk sistem financenya termasuk pembukuan gandanya." ujarku lagi meyakinkan.
Di meja kami ada Lauren, sahabatnya Jessica, dan atasanku Mr.K. Malam itu Lauren menggunakan gaun pendek berwarna jingga dengan tas Hermes Birkin oranye. Jessica menggunakan gaun pendek biru yang terlihat lebih simple menutupi tubuhnya yang lebih berkesan kurus dibanding tubuh Lauren yang sangat terawat. Wajah Lauren tampak innocent dan seperti sangat baik, agak kontras dengan wajah Jessica yang tirus dan terkesan genit serta nakal.
Mr.K atasanku menggunakan kemeja tosca muda dan blazer abu dengan celana panjang coklat. Mr.K tampak muda dengan usia yang bisa dibilang hampir 40 tapi masih tampak seperti usia 27-28. "Jadi gini Ren, Jess,.... Erva ini salah satu promising star di perusahaan kita. Dia pintar dan detil serta salah satu yang paling pintar untuk menggunakan budget efisien. Kamu bisa percaya dia. Saya jamin pasti memuaskan." ujar Mr.K mempromosikan aku.
"Untuk marketingnya ?" tanya Jessie
"Ada beberapa teknik yang bisa dicoba dan dipertimbangkan. Untuk target Niche seperti ini, kita bisa adakan grand opening mengundang influencer dan media. Tempat yang didekor untuk instagramable dan juga harga yang kompetitif di awal. Membangun komuniti dulu agar menjadi tempat santai favorit terlebih dahulu. Kita juga bisa buat video tentang bartender cantik yang membuat minuman di tempat kita dan juga mengilusikan banyak wanita cantik di tempat kita. Image-image tersebut butuh dibangun perlahan dan konsisten. Kita perlu bicara tentang persona target market kita dan membangun brand image kita serta membangun emosi pada brand agar brand tempat kita menjadi lebih baik daripada tempat minum lain. Edge apa saja yang kita miliki." ujarku lagi memberikan ide.
"Apa dengan begitu saja berhasil ?"
"Ide itu murah, tapi eksekusi yang mahal." ujarku. "Apa yang membedakan restoran kita dengan restoran lain adalah pelayanan dan eksekusi di lapangannya. Pelayanan kita ahrus sangat terstandarisasi dan SDM kita harus yang terbaik. Melayani dengan hati dan mengerti hospitality dan juga profesional." ujarku.
"Menjanjikan sih" ujar Lauren pada mr. K
"Lu sih sombong banget, gw minta lu yang pegang lu kasih ke anak buah lu. Tapi gw sekarang ngerti kenapa." ujar Lauren lagi ke Mr.K. kulihat keduanya sudah cukup akrab dan mungkin teman lama. Mr.K Sempat bilang dia kenal baik dengan kakaknya Lauren yang paling sulung jadi mereka cukup akrab walau usia mereka terpaut belasan tahun.
"Gw sibuk Ren. Kalo dipegang gw ntar malah gak ke-handle. Erva ini masa depan perusahaan gw koq. Dia pintar cantik dan bisa handle dari project yang budgetnya minim juga. Kalo yang budget besar sih semua juga bisa pegang."
"Loe sih rakus maunya budget gede doank" ujar Lauren mengomentari.
"Hahahha..... gw udah tua. Yang tantangan dan menarik udah urusan yang muda kayak Erva dan Lauren lah yang ngerjain. Gw kerjain project yang stabil aja." ujar Mr. K sambil tertawa. "Oke, gw tinggalkan kalian bertiga deh. Gw kudu ketemu anak gw juga di rumah. Dia suka nunggu papanya." ujar Mr.K sambil berdiri dari kursinya.
"Bill on me, K" ujar Lauren.
"Ok then, next round on me yah." ujar K. "Titip Erva ya" Mr. K pun segera pergi meninggalkan kami ber3 di restoran mewah itu.
"Erva punya pacar ?" tanya Lauren kepadaku.
"Belum," ujarku "Kalau kak Lauren ?"
"Ah kita kan seumuran," ujar Lauren "Panggil nama aja. Aku sih udah ada tunangan." ujar Lauren.
"Udah jangan ngomongin cowok, sensitif dikit apa ama yang jomblo" ujar Jessica komplain.
"Iya deh sorry Jess." ujar Lauren yang tertawa. "Makanya jangan kebanyakan milih"
"Yeeee kalo gak milih mah banyak yang mau ama gw. Minimal naek Bentley lah kalo mo jadi cowok gw" ujar Jess.
"Percuma kalo naek Bentley tapi beliin hermes aja pelit. Yang penting bisa kasih loe jajan gede aja," ujar Lauren.
Aku hanya ikut tersenyum saja mendengar pembicaraan mereka.
"Kita ke tempat pijet bokap lu deh," ujar Jessie mengajak Lauren.
"Loe mau dipijet ama perek ?"
"Ya udha ke hotel aja cari Spa. Kan gw mau gratisan. Gak ada cowok yang bayarin ngespa."
"Yee enak amat mau gratis. Kalo temen gw semua macam lu sih bisa bangkrut" ujar Lauren tertawa. "Ke klub yang joinan bokap gw aja yuk ? Mau ?"
"Oh klub malem kinky yang super mahal itu ya ?" ujar Jess mempertimbangkan "Nani deh, gw pengen yang dipijet dan relax" ujar Jess
"Ke Spa di hotel aja yuk. Kalo di Bandung sih spa-nya Padma Hotel asyik banget loh" ujarku.
"Kamu juga suka spa ?" tanya Lauren
"Kadang aja" ujarku.
"Kalo di jakarta harus ke tempat langganannya Jess, dia suka banget di,...."
dan obrolan kamipun berlanjut sampai setengah jam berikutnya ngobrolin spa, salon, dan perawatan kecantikan. Dan kami akhirnya malam itu juga pergi ke Spa langganan Jess untuk menikmati malam itu di spa dan Lauren open kamar di hotel tersebut untuk kita bertiga istirahat di sana dan menikmati indahnya malam sambil buka wine. Curhat tentang cowok dari Jess dan banyak hal menarik lainnya.
Sejak hari itu, Lauren dan Jess cukup sering mengajakku main mulai dari spa di hotel, mengunjungi panti pijat keluarga Prasyang sebetulnya khusus pria. Tapi karena Lauren kita bisa ikutan dipijat yang sedikit nakal dan juga menikmati kegilaan-kegilaan crazy rich jakarta karena ada Jess dan Lauren. Jess sendiri dari keluarga kaya yang jauh diatas level keluargaku. Aku hanya satu-satunya yang kekayaannya mungkin secuil dari pada kedua temanku ini. Tapi karena bisnis Lauren dan Jess yang lumayan berkembang ketika aku masuk membantu managemennya semakin baik, maka kedua gadis itu memberiku bonus besar dengan syarat bonusnya dipakai untuk berfoya-foya bersama mereka. Kami biasanya main dan bergila-gila di hari biasa karena weekend Lauren sibuk dengan tunangannya. Jess sibuk mencari pacar dan sering kali mengajakku tapi aku selalu beralasan pulang ke Bandung ketemu orang tuaku. Padahal setiap jumat aku harus ke tempat tuan F dan disiksa bagai pelacur murahan. Tidak ada yang tahu betapa menyedihkannya kehidupan emosiku yang roller coaster.
Senin sampai kamis aku adalah Consultant yang bermain bersama para sosialita kaya, sebuah kehidupan yang didambakan oleh kebanyakan perempuan yang bukan dari golongan crazy rich. Punya penghasilan cukup besar dan menikmati kehidupan crazy rich. Tapi tiap jumat aku akan telanjang di depan tuan F dan disiksa di kantor dan gudangnya setiap weekend kecuali ketika aku sedang haid barulah aku bisa ikut pergi menemani Jess.
"Lu mau kemana pagi-pagi gini Va ?" tanya Lauren yang terbangun ketika aku sedang mengenakan berdandan di meja rias. Aku menggunakan dress pendek yang tidak ketat serta atasannya berupa halter dengan belahan rendah berwarna hijau muda. Kugerai rambutku yang hitam legam dan lurus. Aku kemudian mengambil coat coklat khaki yang tergantung di dekat pintu kamar hotel.
Kulihat Jess masih tertidur pulas dengan lingerienya yang berwarna pink muda. Lauren sendiri menggunakan lingerie putih. Lauren mengucek-ucek matanya dan memandangku dengan arwah yang masih belum terkumpul. Kami menginap di salah satu hotel bintang lima di Jakarta malam itu. Semalam sebelumnya Jess mau ditemani ngobrol-ngobrol dan minum-minum lalu Jess membuka kamar dan aku dipaksa untuk menginap juga di hotel sambil dia curhat masalah keluarga yang menurutku remeh temeh. Kami bertiga mabuk dan tertidur di kamar ini dan aku terbangun jam 8 pagi dengan kepanikan.
"Aku harus ke kantor, bekerja membanting tulang. memangnya aku putri kaya seperti kalian" ujarku bercanda.
"Sepagi ini ? Ini hari jumat ya ?" tanya Lauren
"iya, ini jumat...." kataku datar.
"oh malam ke Bandung ?"
"Iya kayak biasa,..." ujarku lagi-lagi dengan nada datar.
"Ke sini donk sebentar...~~~" Lauren memanggilku manja.
"Udah telat nih,.." protesku.
"Hei aku ini klienmu.... sini nurut... ntar gw gak mau bayar perusahaan lu loh," ancamnya sambil bercanda.
Akhirnya aku mengalah dan bergerak mendekati Lauren. Dia menyibakan rokku memperlihatkan celana dalam pink yang kukenakan. Aku kaget dan ia menarik celana dalamku dengan sekali tarikan memperlihatkan vaginaku yang botak tanpa rambut.
"Wow... u are shaven..." ujar Lauren tertawa.
"Apaan sih !" aku segera memukul tangan Lauren dan menaikan kembali celana dalam yang senada dengan bra straplessku. "Ini pelecehan !" makiku.
"Lu ninggalin kita duluan, harusnya dihukum gak boleh pake celana dalam seharian !" ujar Lauren
"lu masih mabok... sana tidur dulu yang bener !" ujarku kesal sambil memakai coat yang panjang yang ada di tanganku dan meninggalkan Lauren. Kemudian aku dengan cuek meninggalkan Lauren yang bernyanyi-nyanyi riang.
Aku segera sampai di kantor menggunakan grab-car. Aku memiliki mobil tapi memang aku jarang gunakan karena malas menyetir. Selain malas menyetir, sejak aku bermain dengan Lauren dan Jessica yang suka menculikku secara paksa, aku memutuskan untuk tidak menggunakan mobilku jika tidak terpaksa.
Aku masuk ke dalam kantorku, menggunakan lift dan masuk ke suite kantorku di gedung perkantoran itu. beberapa satpam menyapaku tapi aku hanya memberikan anggukan kecil. Jika kalian membayangkan aku berjalan membawa tas merk dan membawa starbuck, maka biar kupertegas aku tidak membeli kopi karena aku memang tidak minum kopi. Dan aku menggunakan tas tanpa merk. Siapa yang tidak suka tas mewah ? Aku masih sanggup sebetulnya membeli tas yang puluhan juta tapi aku selalu merasa pelacur macam aku tidak cocok menggunakannya. Aku punya tiga tas mewah sih tapi hanya kugunakan sesekali saja. Selebihnya aku menggunakan tas murah yang aku suka modelnya. Karena kalau hujan tasnya bisa kupakai melindungi kepalaku dan kalo rusak tinggal buang dan beli lagi. kalo tas mahal... bisa sakit hati kalo sampai rusak.
Aku menggunakan coatku sehingga tidak terlihat jika di dalamnya aku menggunakan dress pendek yang seksi. Hari itu tidak banyak yang terjadi, aku masuk ke ruanganku, mengadakan meeting bersama beberapa staff termasuk Vanya dan Zahra dan beberapa staff lainnya yang kebanyakan cowok. Aku datang ke kantor jam 9 dan aku sudah harus berangkat kembali jam 10:30 menuju tuan F.
Jam 10:30 aku sudah berdiri di lobby gedung menunggu taksi online untuk menuju pergudangan tuan F. Gedung pergudangan milik tuan F berada di daerah pergudangan dan tuan F memiliki gedung tersendiri yang sudah dirombaknya sehingga memiliki kantor dan ruang penyimpanan.
Aku menggunakan taksi online memasuki daerah pergudangan, satpam melirik kepadaku dan dengan jelas mengenaliku. Seluruh satpam kompleks sudah pernah memakaiku karena aku sering gagal memenuhi kuota kerja paksa-ku di hari sabtu sehingga walaupun mereka bergiliran semua sudah pernah mencicipiku di sabtu sore.
Aku tidak tahu nama mereka karena terlalu banyak tapi kulihat namanya "Rudi" di seragamnya. Dia mengoceh dan tidak mengijinkan taksi online masuk dengan alasan tidak ada stiker.
"Kan tamu pa ?" ujarku.
"Non ini aturan baru. Non turun aja, biar saya yang anterin non ke tempat yang non mau. Sekarang harus begitu non," ujarnya dengan pandangan genit. "Udah non turun aja... daripada nanti...." dia memperlihatkan handphonenya yang aku tahu jelas pasti menyimpan foto telanjangku.
"I-iya... ya sudah gapapa pak," ujarku pada supir taksi onlineku dan aku segera turun dari taksi onlineku dan mempersilahkan si supir segera pergi.
Hari itu giliran Rudi dan Umet yang berjaga di post.
Rudi adalah satpam gemuk buncit berkumis dengan hidung bulat dan muka mesum. Sedangkan umet hitam dan kerempeng dengan muka rata yang tampak menyedihkan, Umet juga memiliki kumis lele.
Aku turun, aku sudah hanya memakai dressku saja, coatku sengaja kutinggal di kantorku. karena belahan halter dress hijau salemku rendah, maka jelas terlihat bra warna peach muda yang kukenakan. Kedua mata satpam itu memandang terus ke braku.
Biasanya mereka tidak menggangguku dan membiarkan grabku masuk ke dalam. Tapi karena sudah hampir 2 bulan terakhir ini aku berhasil bekerja dengan baik saat hari sabtu, maka tuan F sudah tidak lagi memberikanku ke anak kampung dan satpam kompleks seperti saat awal-awal aku dipaksa bekerja paksa tiap sabtu. apalagi sejak aku banyak bergaul dengan Lauren dan Jessie, hukumanku dan tindakan tuan F kepadaku mulai berubah dan hanya dia dan para klien yang menggunakanku. Mungkin karena sudah tidak dapet jatah para satpam ini langsung mengincarku.
"Lonte Erva, lu gak pantes pake baju, jadi gimana kalo kita bawa lu ke gedung tuan F kayak anjing aja ?" ujarnya.
"Jangan tuan-tuan... ini masih siang. Dan banyak orang. ini bukan hari sabtu yang gak ada orang selain tuan-tuan. Sebentar lagi abanyak perkerja dari kompleks gedung yang akan keluar ke masjid untuk jumatan." ujarku ketakutan mendengar rencana kedua supir ini. Aku memang sudah sering diperkosa satpam dan staff-staff tuan F tapi para staff yang memperkosaku adalah staff lantai 3 yang merupakan staff kantoran. Staff kuli dan gudang serta supir-supir truk tidak pernah memakaiku sebelumnya. Satpam-satpam juga sudah cukup lama tidak menggunakanku karena kerja paksaku di hari sabtu selalu beres belakangan ini sesuai kuota.
"Bodo amat, lu siapa ? lu kan cuma lonte !" uajr Umet menimpaliku yang membuatku diam seribu bahasa. "Cepet buka baju loe !" bentak Rudi.
"Tuan, pls pake aku sepuasnya di dalam pos bapak aja. Setelah itu lepaskan aku. Budak Erva ini akan melayani Pa Rudi dan pa Umet... pls..."
"Gak usah ngebantah !" Umet langsung menggampar pipiku. "Buka ! cepet buka atau gw sobek-sobe baju loe sampe gak bisa dipake lagi dan loe bebas jalan keliaran sampe ke gedung tuan F di paling pojok belakang !" bentar Umat
"Kalau lu nurut, sampe depan gedung loe boleh pake lagi baju loe !" ujar Rudi berjanji.
Aku hanya bisa menghela nafas. Setelah beberapa minggu aku merasa egoku terus di boost, apalagi aku bermain bersama Lauren dan Jessica membuatku merasa sangat sulit untuk bisa melakukan ini. Tapi aku tahu jati diriku yang sebenarnya hanyalah lonte murahan. Aku menanggalkan dressku di post satpam lalu melepas bra dan celana dalam peachku dan memasukannya ke tasku. Aku kemudian merangkak seperti anjing dan menanti Rudi dan Umet yang segera menggerayangiku dan memakaiku.
umet yang tidak tahan langsung memaksaku mengoral penisnya sedangkan Rudi langsung melakukan doggy style kepadaku sehingga aku telanjang dan melayani dua penis satpam di siang hari yang bolong di dalam pos mereka.
Keduanya dengan semangat menggarapku sambil terus meledekku. "Non udah lama gak dipake ya ?"
"Non jangan banyak ngebantah ya, inget non tuh cuma lonte murahan ! kalo abang bilang buka ya buka jangan bikin abang marah lagi ya," ujar Umet
"Pake lidahnya yang bener non." ujarnya lagi
Aku menggunakan lidahku berusaha menyenangkan ahti kedua pemerkosaku ini. Tubuhku jadi semakin panas dan harga diriku yang sedang tinggi-tingginya seperti terlempar lagi ke tempat biasanya. Di akhir sesi pertama umet memaksaku menelan semua spermanya, sedangnya Rudi membuang spermanya di dalam rahimku. Aku tidak peduli lagi, aku pernah cek bahwa rahimku memiliki masalah dan akan sangat sulit untuk punya anak. Menurut dokter aku bahkan tidak akan punya anak tanpa treatment yang tepat. Aku memang dilahirkan untuk jadi lonte sepertinya.
Setelah mereka memuncratkan spermanya, kini mereka bertukar peran. Aku digenjot oleh Umet dan Rudi memaksaku mengulum penisnya. Kemudian Rudi menembakan spermanya ke wajah dan rambutku sedangkan Umet memuntahkan spermanya ke dalam rahimku juga. "Gw bikin lu hamil biar punya anak lonte juga kayak mamanya !" uajr Umet merendahkanku.
"Hehehe... enak juga isepan lu" ujar Rudi.
"Sekarang yuk kita bawa lu ke tuan F. eh ngapain lu ?" tanya Rudi ketiak aku mengangkat tanganku ke wajahku yang penuh sperma.
"gak usah lu bersihin muka peju lu. Biar semua orang bisa liat muka loe yang penuh peju !" bentaknya sehingga aku otomatis menurunkan tanganku dan bersiap di posisi merangkak. Kemudian mereka memakaikan rantai ke leherku dan menggembok leherku lalu mulai menarik rantai itu dan aku merangkak dengan wajah penuh sperma sehingga aku sulit melihat.
"Kamu merangkak ya sampai ke sana. Ini tasnya aku yang bawain !" ujar Umet membawa tasku. "kalo kamu salah aku akan pukul kamu pake pentungan" ujarnya kejam.
Akhirnya aku hanya bisa mengintip sedikit-sedikit karena mukaku penuh sperma yang menjijikan. Jika aku merangkak lamban Umet tidak rabu menghantam pantat dan vaginaku dengan pentungannya. Bahkan jika dipukul, sperma dalah vaginaku tumpah keluar dan sangat memalukan. Jika ia kesal karena aku lama, tanpa segan-segan ia menusukan tongkatnya ke dalam vaginaku hingga aku menjerit kesakitan.
ini sungguh meamlukan berjalan seperti anjing di siang hari dan sebentar lagi jam jumatan. para kuli dari komplek pergudangan bisa kelaur kapan saja dan menghabisi aku yang telanjang dan merangkak seperti anjing. Tapi mungkin aku akan baik-baik saja karena aku digiring oleh 2 satpam. Tapi tidak mungkin tidak ada yang melihatku.
Bahkan aku merasa kehinaan ini sudah sampai puncaknya. Aku melihat kucing liar berjalan di sampingku dan menatapku sehingga membuat air mataku ini tidak bisa berhenti mengalir. Sekolah di luar negeri dan bekerja sebagai business consultant di firma yang cukup dikenal dan kini merangkak seperti anjing di jalanan. bahkan pelacur saja diperlakukan jauh lebih baik dari aku. Tapi aku hanyalah budak dan aku dalam ketelanjanganku berjalan dengan kehinaan yang penuh dan perasaan yang hancur lebur.
"Wih siang-siang ini !" jerit seorang di seberang jalan yag keluar dari bangunan ruko pergudangan. Aku menoleh dan ada 4 orang kuli berdiri menyorakiku sambil mengeluarkan HP.
Umet dan Rudi hanya tertawa melihat kuli-kuli yang kaget da terkejut melihat cewek putih telanjang merangkak seperti anjing.
"Lonte darimana ?" tanya salah satu kuli.
"Ada Deh !" ujar Umet tertawa.
"Bagi donk !"
"Sabar nanti kebagian ! minta ijin bos besar yang punya lonte dulu." ujar Rudi ketawa enteng.
Aku malu setengah mati dan beberapa kali beberapa orang melihatku. Ada juga yang mau jumatan dan kaget serta jijik melihatku. Beberapa mobil melewatiku, ada satu dua mobil yang menurunkan kaca dan mengomentariku. Ada 3 truk besar dan 2 mobil biasa yang sempat melewati perjalanan memalukan itu. Sebelum sampai ke gedung tuan F, ada sekelompok orang yang mendekatiku dengan berani.
"Nah, lonte, anjing kalo ketemu harus kasih salam. jilat sepatu mereka !" perintah Umet.
Aku dengan hati hancur menjilati sepatu butut 3 orang kuli asing. Salah satu dari mereka mengeluarkan penisnya yang sudah tegang.
"Tuh, kamu jilatin dan servis bang Ari ya !" ujar Umet.
Aku memandang penis hitam bang Ari yang berbulu dan berbau tidak enak. Kuli ini mungkin kerinagtan dan sekarang dalam keadaan bau menyodorkan penisnya yang besar ke mulutku. Mencium abunya saja aku ingin muntah. Aku mencoba membuka sedikit mulutku dan langsung saja penis itu menyosor masuk ke mulutku. Dalam hatiku aku berusaha agar tidak muntah. Hanya terus berdoa selama wajahku masih penuh dengan sperma.
"Kamu servis bang Ari sampe keluar ya, udah keluar pejunya kamu tahan ya di mulut lacur kamu sampe kamu ke tempat tuan F" perintah Umet sadis.
Aku hanya bisa pasrah dan berharap penghinaan ini akan segera berakhir. Ketika bang Ari memuntahkan spermanya dari penis hitamnya aku tersedak dan berusaha untuk tidak memuntahkan atau menelan peju asin yang menjijikan itu dari mulutku.
"Kalo ditelan atau dimuntahkan, kita bakal keliling cari anjing liar sampe ketemu dan ngisi mulut kamu lagi pake sperma anjing liar. Ngerti ?" ujar Umet.
"Wih, makasih bos, diservis Lonte siang-siang gini !" Si kuli Ari tos-tosan sama Umet dan Rudi, kedua temennya asyik maenin puting dan vaginaku. "Yuk cau ah !" ujar bang ari mengajak dua temannya pergi setelah mereka mengambil wefie denganku yang mulutnya penuh sperma bang Ari.
Aku kembali digiring oleh Umet dan Rudi. Hampir setengah kilo aku merangkak seperti anjing di jalanan aspal. Aku tidak merangkak menggunakan lututku karena takut terluka. tanganku saja sudah luka-luka dan lecet-lecet ketika aku sudah sampai di depan gedung milik tuan F. Aku dan kedua satpam diam di samping gedung. Aku memandang gedung itu dengan tatapan sedih.
Ya Tuhan ! ini aku baru sampai ke tempat neraka ini, biasaya penyiksaanku baru akan mulai ketika masuk ke gedung ini, bukan dimulai dari depan kompleks. Kenapa aku semakin terhina seperti ini ?
"Lonte buang pejunya bang Ari di sini !"
Mendengar kata 'buang' aku sangat senang karena kupikir mereka akan menyuruhku menelannya. Aku segera memuntahkan sperma di mulutku ke lantai. "Uhuk....cuh......cuh...." aku segera ingin membersihkan mulutkud ari sisa-sisa sperma.
Aku masih di posisi menyedihkan seperti anjing telanjang dengan wajah penuh sperma yang sudah mengering. Dalam ketelanjangan yang hina itu aku menatap ke gumpalan sperma yang ada di lantai di depanku.
Aku seperti mendapat tamparan keras memandang sperma di lantai, "jilati sperma itu dan telan sampai bersih !" bentak Umet. Ini ketiga kalinya umet meneriaki hal itu. Sehina itukah diriku ? rasanya hati ini begitu terhina dan berikutnya sebuah tendangan mendarat ke dadaku dari sepatu Umet. "Cepet !" kemudian satpam kejam itu menginjak kepalaku dan menarik rambutku membuatku menangis
""iya tuan... ampun... ampun..."
aku menjulurkan lidahku dan mulai menjilati sperma yang baru saja kumuntahkan dari mulutku di lantai trotoar di depan gudang penyiksaanku. "Sluurppp....slurrrp..." aku hanya menahannya agar aku tidak muntah. menelan sedikit demi sedikit penderitaan pahitku yang baru akan dimulai.
"sluurp.....sluuurp" setelah semua debu campur sperma habis kujilat di lantai kotor, Rudi menginjak kepalaku hingga pipiku menempel di lantai bekas-bekas sperma yang sudah kujilati. Air mataku langsung mengalir.
"Bilang apa ?"
"Terima kasih tuan telah memperlakukan saya sepatutnya" ujarku dengan harga diri yang sudah habis.
"Ya udah nih loe masuk sana..." Rudi melempar tasku dan melempar bajuku ke kepalaku. Mereka berbaik hati melepas kalung rantaiku juga.
Kedua satpam hanya tertawa melihatku berpakaian. Aku segera berpakaian sepenuhnya walaupun aku tahu bahwa selanjutnya aku akan ditelanjangi lagi. Tapi setidaknya saat aku masuk ke gedung para kuli gedung tidak melihatku dalam keadaan telanjang. Aku segera menggunakan celana dalam pink-ku kembali dan menggunakan bra straplessku yang juga berwarna pink. Aku menggunakan dressku halterku kembali dan dari dress tersebut terlihat jelas braku yang terpamer. Mukaku yang sudah kusut dan bekas sperma kering masih terlihat jelas. Aku berjalan dengan buru-buru masuk ke gedung taun F.
Satpam gedung yaitu Martin, seorang pria asal ambon dengan kulit hitam dan kumis walrus segera menyambutku. "Eh bu Erva, masuk bu ke pos saya dulu !" gertaknya.
Aku masuk mengikuti Martin. Dia menutup pintunya dan aku berdiri membusungkan dadaku menyilangkan tanganku di pinggang belakang dan melebarkan kakiku.
"Saya minta tanda pengenalnya ya....." ujar Martin sambil tangannya memelortkan celana dalamku. Ia kemudian meremas vaginaku beberapa saat sebelum ia maemasukan tangannya ke baju dressku untuk melepas braku. "Kamu mukanya itu bekas sperma kering ya ? Satpam depan minta jatah ya ? Ya udah kasih aku jatah juga ya, kalo gak aku gak kasih kamu kartu tamu dan kamu tahu kan kalo kamu telat ada hukuman dari Tuan F ?" ancamnya.
Aku hanya bisa pasrah dan berlutut kembali dan memberikan kuluman ke penisnya dan kuminum habis spermanya.
"Oh mulai sekarang ini jadi S.O.P ya." ujar Martin mengalungkan kartu visitor bertali ke kepalaku.
"Terima kasih tuan," ujarku berusaha ramah. Kemudian aku keluar ruangan pos kecil itu dan langsung berbelok ke pintu di sampingnya. Kugesekan kartuku ke tempat penerimaan kartu agar pintu terbuka dan aku masuk. Kulihat ada banyak kuli yang sedang sibuk beres-beres karena sebentar lagi jumatan. Suara bising dan udara panas langsung terasa disertai bau keringat. Aku bergerak menuju tangga dan langsung berjalan ke lantai tiga secepat yang aku bisa supaya tidak mencolok walau beberapa mata melihatku.
Semua staff di lantai tiga yang sudah sering menggunakanku menyeringai saat aku masuk dan berjalan melewati kubikal mereka menuju ruangan Tuan F.
Aku mengetuk pintu....... kemudian ada suara menyuruhku masuk dan aku segera berlutut dan merangkak masuk.... aku memandang tuan F ditemani seorang perempuan di sana. Aku tercengan melihatnya tidak percaya apa yang kulihat..
"Lama tak bertemu... Erva...." ujar perempuan berkemben hijau dengan celana jeans itu menatapku.
Aku menengadah dan rasa takut langsung menyelimutiku. Suri menatapku dengan kejam. Aku tidak percaya Suri ada di sini. Apa yang pelacur dari klub lakukan di sini ? Aku masih ingat bagaimana paku-paku payung senampan melukai payudaraku dan bagaimana ia berjanji pertemuan berikutnya akan memasukan kaktus ke dalam vaginaku. Ini mengerikan... aku langsung lemas seketika. (baca di page 1)
"Kamu terlambat hampir 20 menit loh !" ujar Suri mengembalikan kenyataan pahit yang harus aku hadapi.
"Setiap 10 detik 1 jepitan.... wah 6x20 loh. 120 jepitan bakal menghiasi tubuh lacurmu loh Erva." ujar Suri sambil berjalan mengitari aku yang berlutut beberapa langkah saja dari pintu masuk. Ketika Suri di belakangku kakinya langsung diletakan di belakang kepalaku dan dia menginjak kepalaku sampai aku tersungkur ke lantai dengan wajah mencium lantai. Sungguh sakit sekali.
"Buka baju dan terima hukumanmu lacur !" bentak Suri. Sambil menendangku dari samping seolah aku ini seonggok daging yang tidak bisa merasakan rasa sakit. Pinggang kiriku yang jadi sasarannya terasa perih tapi aku tidak bisa berteriak karena rasa takutku.
Entah kenapa rasa takut yang aku rasakan menyelimutiku dengan hebat sehingga jiwa budakku langsung menuruti perintah yang diberikan kepadaku.
Aku langsung dengan secepat kilat memelorotkan pakaianku lagi. Dalam sekejap aku sudah telanjang berlutut siap menerima neraka yang sesungguhnya. Aku juga langsung mengenakan kalung anjing merah yang sudah disiapkan tuan F.
"120 jepitan ya...." ujar tuan F yang menyaksikan dari mejanya sambil sibuk melirik kertas-kertas di mejanya. "Nona Suri yang akan menghukummu karena budak sepertimu memang tidak layak menghabiskan waktu gw," cemooh taun F kepadaku.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya tuan, semua karena..."
"SAYA GAK BUTUH ALESAN !!!" bentak tuan F.
"Maaf Tuan... " aku langsung menyembah tuan F.
"Suri, tambahkan 4 kali tendangan di vagina budak tolol itu!"
Suri tampak bahagia sedangkan aku langsung lemas. "Bilang apa kalau didisiplinkan ?" tanya Suri.
"Ter-terima kasih tuan F sudah mendisiplinkan budaknya yang bodoh dan mencari-cari alasan ini." ujarku merendahkan diriku.
"Ambi posisi, rengangkan kakimu !" perintah tuan F.
Aku dalam keadaan telanjang dan berlutut melebarkan kakiku agar vaginaku terbuka dan siap menjadi korban tendangan Suri. Suri segera berdiri di hadapanku dengan wajah sadisnya. Aku menaruh kedua tanganku dibelakang kepalaku dan menutup mataku siap-siap merasakan rasa sakit....
"JDUK !" tendangan pertama Suri di vaginaku langsung membuatku bergeliat dan membuka mulutku dengan keras. Aku ingin berteriak tapi karena rasa sakitnya aku tidak bisa berteriak, aku langsung jatuh dan tersungkur, kedua tanganku langsung memegang vaginaku yg ditendang Suri.
"Siapa yang mengjinkanmu memegang vagina dna mengaduh ?" Suri sudah menginjak kepalaku yang ada di lantai dengan high heelsnya. "Budak macam kamu gak menghitung dan berterima kasih ? yang tadi tidak dihitung, ambil posisimu dan kita ulangi !" bentak Suri sambil kakinya ditekan-tekan ke kepalaku.
"I-Iya nona...' ujarku pedih. Harga diriku sepertinya sudah hancur berkeping-keping. malam kemarin aku masih menikmati party bersama Lauren dan Jessie lalu menikmati spa mahal dan diperlakukan bagai ratu. hari ini aku lebih rendah dari anjing.
Aku kembali berlutut dengan vagina yang sepertinya sudah mulai membengkak karena tendangan pertama Suri. "Ucapkan terima kasih dan kalau kamu pegang vaginanya dengan tanganmu, dianggap gagal dan akan diulang dari awal ! Ngerti perek ?" bentak Suri.
"perek ini ngerti nona" ujarku ketakutan sambil menutup mataku dan mengingat apa yang ahrus kukatakan.
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "S-Satu !!!" aku menjerit keras dan hampir saja kedua tanganku mengusap vaginaku, tapi aku cepat-cepat mengurungkannya dan melanjutkan "Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "D-Dua!!!" aku menjerit keras kembali "Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "T-t.t.t. !!!" aku berusaha menjerit tapi lidahku kakukarena rasa sakit yang laur biasa...."T-t-tiga..." akhirnya ujarku yang berguling di lantai. Tapi aku berhasil tidak menyentuh vaginaku yang terasa seeprti hancur."T-t-t-Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
Baelum siap aku berdiri, dan masih berusaha bangkit karena aku terjatuh di tendangan ketiga...."JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras sebagai tendangan penutup. "E....e......!!!" aku terbelak tidak bisa berkata apa-apa. Pikiranku langsung blank dan digantikan rasa sakit yang luar biasa.
"E.....em......" aku berusaha mengucapkan empat tapi suaraku tidak bisa keluar.
"Empat....!" jeritku akhirnya. Sungguh mengerikan, ini baru mulai dan masih ada 120 jepitan yang akan menyiksaku. Aku masih terkapar di lantai ruangan tuan F sambil tanganku kini membelai Vaginaku yang terasa berdenyut karena sakit.
"Kembali ke posisimu !" perintah Suri sambil sekali lagi menendang vaginaku karena aku mengaduh-ngaduh terlalu lama. Aku kembali terbelak kaget karena rasa sakit yang kembali menghajar vaginaku. Aku hanya bisa pasrah tapi Suri dengan kejam menendang vaginaku berkali-kali lagi. "Cepat kembali ke posisimu Lacur !" bentaknya. dan aku tidak bisa bergerak menuruti perintahnya karena didera rasa sakit yangt erus meenrus tanpa rasa henti. Aku berusaha menjerit tapi tidak ada suara yang keluar. Karena rasa sakit yang keterlaluan aku sampai merasa tubuhku mengeluarkan endorphine untuk menghibur diriku yang trauma kesakitan.
"Cukup Suri !" tegas tuan F. "Biarkan budak gak berguna itu beristirahat sejenak." Tuan F menyelamatkanku dari kematian. Mungkin vaginaku sudah merasakan hampir 15 kali tendangan karena Suri terus menghajar vaginaku menyuruhku berdiri.
Aku hanya terisak menangis di lantai dengan rasa sakit yang menjadi-jadi di vaginaku. Setelah hampir 10 meenit baru akhirnya aku kembali berlutut dan siap menerima kenyataan pahit 120 jepitan yang akan dipukul dari tubuhku.
Setelah hampir 10 menit aku menangis di lantai dengan vagina yang berdenyut karena rasa perih perih, Suri menarik puting kananku memaksaku berdiri dengan kasarnya. Ia menyuruhku berlutut dan melemparkan 60 jepitan baju yang tersedia di depanku sementara aku amsih menangis tersedu-sedu karena meratapi ansib sialku.
"DIAM !" bentak Suri.
Aku masih terisak tapi berusaha terdiam dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun walau au sangat kesakitan dan sedih.
"Hanya ada 60 Jepitan jadi kita akan melakukan 2 kali session hukuman," gadis kejam itu menjelaskan. "Pasang ke 60 jepitan ini di sekitar wilayah dada dan vaginamu. Aku akan memukulnya satu persatu," ujarnya. "Setelah session ini kamu akan kembali memenuhi tubuh hinamu dengan jepitan dan aku akan membereskan hukuman ini. Kali ini aku berbaik hati aku tidak akan menyuruhmu menghitung, tapi di akhir kalau kamu tidak berterima kasih dan bersujud menyembahku, aku tidak akan berhenti memukulimu !" ancamnya
Satu demi satu jepitan aku jepitkan di dadaku. dimulai dari kedua putingku yang masing-masing kujepitkan penjepit, lalu sekitar wilayah dada dan juga vagina. Rasanya sungguh sakit dan memalukan memasangakan 60 jepitan ke area intimku dengan kedua tanganku dibawah perintah seorang pelacur. Satu demi satu kupasangkan dan akhirnya selesai sudah 60 jepitan itu terpasang sepenuhnya di tubuhku dan terfokus di sekitar dadaku dan juga vaginaku. Aku tahu ini akan sangat menyedihkan dan menyakitkan.
"ctar !!!...ctarrr...."
"Aaaarghhhhh........aaaa......" jeritanku menggema dari ruangan tuan F. Suri memukul jepit-jepit di tubuhku satu persatu dengan rotannya dan sesekali ia sengaja memukul meleset sehingga menghajar bagian tubuhku dan membuatku tambah kesakitan. Ia memukuliki sementara aku ahnay bisa berteriak, membusungkan dadaku untuk disiksa dan menangis dengan kedua tanganku di taruh di belakang kepala.
"Aaarghhh...." aku sudah tidak kuat dan terjatuh karena rasa sakitnya.... entah sudah 30 sekian pukulan yang menghajarku dan Suri tidak mau ambil pusing dan terus memukuliku tanpa henti walaupun aku sudah meringkuk di lantai dan menangis dan berteriak meminta waktu istirahat
"Nona Suri.... mohon.... aku mohon.... aaarghhh... Non....Non....Nona Suri...." aku berteriak mengaduh meminta belas kasihan padanya dan akhirnya ia berhenti memukuliki ketika sebuah jepitan terakhir lepas dari bibir vaginaku.
Aku menangis dan mengaduh kesakitan sedangkan tuan F melihatku dengan dingin. "Masih mau terlambat lagi ?" tanyanya dingin sambil menyodorkan kakinya ke depan wajahku.
Aku tahu apa yang diinginkan tuan kejamku. Aku mencium sepatunya dna menjawab "Ampun tuanku... budak ini tidak akan terlambat lagi,"
tuan F berjongkok dan menjambak rambutku dan menarik wajahku ke depan wajahnya. Ia meludahiku di wajahku. "Oke." ujarnya dingin "Lanjutkan Suri !" Ujarnya smabil mendorongku.
"ganti 60 jepitan sisanya dengan penjepit kertas." ujarnya.
"t-tuan....." ujarku hendak memprotes tapi ketika tuN F berbalik dan matanya memandangku aku langsung ciut. "T-terima kasih tuan telah mendisiplinkan budak yang patut disiksa ini..." aku menangis dan tidak dapat lagi embayangkan rasa sakitnya yang akan aku terima. Jepitan kertas lebih keras dan kadang membutuhkan beberapa pukulan untuk melepasnya ketika dijepitkan di tubuhku.
Suri kemudian mengaitkan rantai ke kalung anjingku. "kita akan keliling kantor untuk meminta penjepit kertas untuk mereka pasangkan di tubuhmu sebanyak 60 buah. di ruang ini hanya ada 6 penjepit kertas jadi nih pakailah dulu." ujar Suri menjatuhkan 6 buah penjepit kertas hitam di lantai depan aku terkapar.
Dengan sedih hati aku memasangkan 2 di putingku, 2 lagi di bibir vaginaku, 2 lagi kupasangkan di buah dada bagian bawah. "Merangkak anjing !" perintah Suri. Aku hanya bisa pasrah merangkak dan kemudian digiringlah aku ke luar ruangan tuan F. Seorang lulusan luar negeri satu-satunya di gedung itu malah tidak berpakaian dan merangkak seperti anjing digiring oleh pelacur dan berkeliling di lantai 3 ke apra staff untuk meminta jepitan kertas dan meminta para staff memasangkan jepitan kertas tersebut ke tubuhnya. Sungguh menyedihkannya diriku.
"Tuan Alex, bolehkah budak Erva ini meminta jepitan kertas. tolong tuan jepitkan di tubuh lacur hambanya ini,"
"Boleh tapi isep dulu ya kontol gw dan telen pejunya !" ujar Alex menyuruhku merangkak ke kolong mejanya. Aku tidak punya pilihan dan mengikuti kemauannya. Aku juga mengulumnya dan menelan spermanya yang dimuncratkan dimulutku. Rasanya sungguh terhina sekali. Alex hanya memberiku 3 jepitan.
Dengan cara yang sama juga aku mendapatkan 2 dari Tomi, 3 dari Aldi, 4 dari Gerald, 2 lagi dari Anton.
"Boleh kamu dapet jepitan tapi saya mau anal neng Erva ya," ujar Mudin si OB kantor yang memberikanku 7 jepitan kertas.
Para perempuan berbaik hati biasanya hanya memberikan aku jepitan dan sedikit mengejek tapi tidak menyiksaku. Kecuali Rina.....
"Nona Rina, bolehkah budak Erva ini meminta jepitan kertas. tolong nona jepitkan di tubuh lacur hambanya ini,"
"Boleh tapi kamu lepasin dulu itu semua jepitan yang udah nempel di badanmu. Nanti aku tambahin jepitanku." ujar Rina.
Aku dengan pasrah menurutinya. Mencabut satu demi satu jepitan kertas yang sudah menempel di badanku. Rasa sakitnya ketika darah kembali mengalir ke puting dan ke daerah yang sudah dijepit menyiksaku sehingga aku berteriak teriak dan Rina tampak dengan senang hati menikmati semua jeritanku.
"Oke, bilang ke kamera di HP saya kalo kamu adalah budak saya dan sembah saya. Oh sambil pengakuan ini kamu masukin heels saya ke memek lacur kamu." ujar Rina melempar sepatunya lalu mengarahkan HPnya kepadaku. Aku dengan sedih hati akhirnya bersujud menyembahnya dengan Suri masih berdiri di sampingku. Kemudian dengan hati hancur aku mengambil sepatu Rina yang tergeletak di depanku dan mencium sepatunya lalu menjilati ujungnya dan memasukan heels sepatu tersebut ke vaginaku. Dengan keadaan menyedihkan itu aku menatap ke arah kamera Rina dengan tatapan yang sangat menyedihkan. "Nona Rina, ijinkan budak cina kafir Erva ini melayani nona Rina. Siksa dan pergunakanlah budak ini sekehendak hati nona."
"Huahahhaha.... iya cukup Lonte !" ujar Rina menyimpan kembali HPnya kemudian dia memasangkan semua Jepitan kertas yang sudah dilepas kembali ke badanku menurut versinya. Sudah ada 56 jepitan yang terpasang. Tinggal 4 lagi. Akhirnya aku mendapatkan 4 jepitan terakhir dari Mudin si OB kantor tentunya dia kali ini memuncratkan spermanya di wajahku setelah habis-habisan menganal aku dan kuberikan blowjob kepadanya.
Suri tampak puas dan kembali menggiringku ke kantor tuan F untuk dipukuli kembali.
Suri dengan senang hati memukuliku yang menjerit dan menangis di ruangan tuan F. Aku bahkan orgasme karena rasa sakit dan jumlah pukulan yang terlalu banyak. Aku tidak tahu berapa banyak pukulan yang kuterima, mungkin hampir 100 pukulan menghantam jepitan-jepitan yang ada di tubuhku sehingga aku sudah sangat kesakitan dan pingsan beberapa kali. Beberapa jepitan sangat sulit dilepaskan dengan pukulan karena terlalu dalam tapi Suri sangat menikmati menyiksaku. Pukulan demi pukulan mendera aku dan akhirnya setelah aku pingsan untuk yang ketigatiga kalinya tuan F akhirnya melepaskan jepitan-epitan yang tidak lepas-lepas walau sudah dipukul beberapa kali. Sisa hanya 5 jepitan yang tidak bisa dilepas. Di perutku ada 1, di dada kiri bagian bawah, di puting kanan, di kedua bibir vaginaku. 5 Jepitan yang terlalu dalam menjepitnya itu tidak bisa dilepas dengan pukulan.
"Jadi kenapa kamu terlambat ?" tanya tuan F
"Budak Erva ini tadi dikerjain oleh satpam komplek, Umet dan Rudi...... budak ini dipaksa melayani mereka dan digiring telanjang ke tempat tuan sehingga ada banyak gangguan di jalanan dan budak ini harus melayani para kuli dari gudang lain yang kebetulan di jalanan dan......." ujarku bercerita kepedihan siang tadi yang tampaknya jadi tidak terlalu spesial jika dibandingkan siksaan dari Suri.
"Oh ! panggil Rudi dan Umet !" ujar tuan F di telepon kepada staffnya.
Aku hanya pasrah ketika Rudi dan Umet dipanggil masuk dan ditanyai tentang kejadian aku digiring mereka.
"Ya udah gini deh pa Rudi dan pa Umet. ini akan saya jadikan SOP. Mulai sekarang budak Erva ketika masuk kompleks pergudangan harus melapor kepada satpam yang bertugas dan tugas para Satpam untuk menggiring lonte anjing ini ke gudang saya. Tuan2 lucuti saja pakaiannya dan tidak usah dikembalikan. Tentang apa yang terjadi di jalan saya bebaskan kepada bapak-bapak. Ya jangan kelamaan aja, dia harus sudah sampai di ruangan ini jam 1 siang tepat." jelas tuan F
"T-tapi..." ujarku
"ini perintah ! Urusan kamu mau dateng jam 7 pagi dan ngelonte dulu di kompleks pergudangan sih. Pokoknya jam 1 harus sudah di kantor saya !" bentak tuan F. "jadi apa SOPnya ? perjelas ke saya !"
"Aku punya ide Tuan F" ujar Suri membisikan sesuatu ke telinga tuan F.
"Oh oke..... menarik. Oke untuk menapatkan kartu visitor, biasanya kamu menyerahkan pakaian dalammu ke satpam kan, tapi sekarang karena kamu gakan berpakaian saya akan membeli seeokor anjing penjaga dan kamu harus memuaskan anjing penjaga saya untuk mendapatkan kartu pengunjung. Bebas amu mau kulum ato kamu entot. Coba ulangi SOPmu dari depan !"
Aku hanya bisa menangis ketika mendengarnya. Tiba-tiba saja hari Jumatku akan semakin mengerikan. Bukan saja disiksa oleh tuan F dan staff kini aku harus diarak satpam di komples dalam keadaan telanjang seperti anjing dan kemudian harus memuaskan seekor anjing sebelum memulai neraka lainnya.Belum lagi pakaianku akan dirampas dan tidak dikembalikan. Apakah berikutnya aku akan datang dengan baju jelek saja supaya tinggal buang.
"CEPAT ULANGI !" bentak Suri sambil memukul payudaraku dengan rotan di tangannya.
"I-iya..." jeritku.
Aku kembali berlutut mengambil posisi dengan melebarkan kedua kakiku dan tanganku dibelakang kepala sebelum aku mengulang SOP memalukan yang akan menimpa diriku setiap jumat mulai sekarang.
"Saya Minerva Liong, mulai saat ini akan datang ke kompleks pergudangan lalu menyerahkan diri saya kepada satpam bertugas di depan kompleks perumahan. Satpam bebas melucuti dan merampas pakaian saya dan tidak akan dikembalikan lagi. Kemudian saya dalam keadaan telanjang akan digiring seperti anjing untuk diberikan ke tuan F. Di perjalanan saya bebas diperlakukan sekehendak satpam yang bertugas dan bebas untuk dipakai dan dilecehkan. Setelah sampai gudang tuan F saya akan memuaskan anjing penjaga untuk mendapatkan kartu visitor supaya saya bisa masuk ke gedung dan harus sudah sampai di ruangan tuan F sebelum jam 13:00WIB atau saya akan menerima hukuman seperti biasa."
"Ditambah mulai sekarang, kamu hanya boleh berlutut dan merangkak. Kamu hanya boleh berdiri dengan dua kaki kalau ada perintah dari orang lain. Jika tidak ada perintah kamu hanya boleh berlutut dan merangkak. Ngerti ?" tanya Tuan F
"Saya Minerva Liong hanya akan berlutut dan merangkak dan tidak akan pernah berdiri lagi di lingkungan pergudangan kecuali saya diperintahkan oleh orang yang melecehkan saya." ujarku lagi menambahkan. Lengkap sudah kehinaan yang akan terjadi setiap Jumat pada diriku.
Setelah itu, Rudi dan Umet keluar ruangan dan aku dipersilahkan untuk memberikan laporan pekerjaanku.
Tidak banyak yang dibahas karena kondisi sedang baik untuk perusahaan tuan F dan berikutnya adalah membahas efisiensi yang sudah cukup efisien dan juga marketing ke depan. Plan-plan dan ide kusampaikan dan selama presentasi, aku tetap telanjang dan sesekali Suri mencambukku sesuka hatinya.
"Jadi sampai kapital perusahaan ini naik kita hanya akn tetap bertahan dulu dan maintain kondisi ? berarti lu gak begitu banyak guna donk selama itu !" ujar tuan F.
"Nggak juga Tuan, budak ini masih merencakan pengembangan dan menganalisa pasar untuk menjaga dan memantain supaya dalam periode penabungan untuk menambah kapital ini kita tetap stabil."
"Bullshit lah ! ngeles aja. U gak guna. Kita bayar u mahal dan sekarang lu cuma jadi parasit."
"Nggak tuan, kan saya masih memantau dan mengefisien..."
"Udah gw gak mau denger lagi !" bentak tuan F.
"Sampe kapital kita segitu, tiap u ke sini u akan menghibur semua staff gudang gw ! biar harga gaji u pantes !"
"T-tuan F..." aku hanya pasrah.
-----
Suri menggiringku seperti anjing ke lantai 1 dalam keadaan telanjang. Tuan F berjalan dibelakang kami dan rasanya sangat memalukan melihat semua staff di lantai 3 melihatku dengan takjub ketika digiring keluar seperti anjing. Mereka semua memang sudah melihat bagaimana aku disiksa dan dipakai serta semua kebinalan dan kelacuranku. tapi kali ini aku digiring ke lantai 1 yang berisikan staff kuli kasar.
Di lantai 1 para kuli bangunan yang jumlahnya hampir mencapai 40 orang juga semua terkejut dan keheningan yang janggal terjadi memenuhi ruangan. Mereka berbisik dan diisyaratkan untuk berkumpul. Mereka berbisik-bisik dan Suri memaksaku naik ke salah satu kardus berisi barnag-barang yang masih terbungkus karung hijau.
"Nah, para staff sekalian !" tuan F mengumumkan.
"Kalian mungkin sudah sering liat perek seksi ini melewati kalian setiap jumat. Mungkin kalian juga sudah dengar desas desusnya dari Satpam kita pa Martin yang seringkali mengambil pakaian dalam pelacur ini. Mulai hari ini setiap jumat perek Erva akan masuk dan keluar dalam keadaan telanjang. Dia hanya boleh berlutut dan merangkak serta setiap sore seperti sekarang ini. Mulai jam 4 sore setelah dia beres untuk sesi konsultasi dengan saya di lantai 3, akan digiring ke lantai satu dan bebas dipergunakan oleh kalian semua sampai besok pagi. Tapi setelah jam 7 pagi tinggalkan perek ini. Terserah dia mau disiksa atau diperkosa tapi tolong jangan sampai mati dan jangan ada kerusakan yang permanen atau bikin cacat. Kalo dipukul dikit-dikit boleh koq." uajr tuan F menjelaskan.
Mendengar itu para staff kuli bersorak kegirangan.
"Ini SOP yang akan terjadi mulai sekarang," ujar Suri menjelaskan kepadaku sambil memberiku sebuah kertas yang isinya sangat menyedihkan. Sebuah pengakuan yang harus kubaca di depan para Kuli dan juga akan menjadi SOPku mulai minggu depan.
Aku yang satu-satunya lulusan luar negeri di gedung itu sekarang harus menyiksa dan mempermalukan diriku setiap Jumat. Apa yang akan Lauren dan Jessie rasakan kalau mereka tahu aku yang selama ini bermain di kelas atas bersama mereka setiap weekend diperlakukan seperti ini. Lebih rendah dari perek.
SOP yang aku harus jalani setiap jumat yang aku baru sadari adalah :
- Datang sepagi mungkin ke kompleks pergudangan.
- Dilucuti dan diperkosa dan mungkin disiksa oleh satpam yang bertugas di pos.
- Diarak berkeliling dalam keadaan telanjang oleh satpam. Walk of shame ini pasti akan mengudnag banyak pemerkosaan terhadap diriku.
- Memuaskan anjing penjaga untuk mendapatkan kartu tamu.
- Bertemu tuan F untuk memberikan laporan
- Mungkin beristirahat atau disiksa tuan F dan juga staff lantai 3 sampai jam 4 sore.
- Jam 4 sore aku akan melayani para kuli sampai pagi atau sampai mati.
Entah apa lagi kejutan yang tuan F punya untukku di hari sabtu tapi budak amcam aku hanya bisa pasrah terhadap nasib baruku yang semakin terpuruk ini.
"Saya Minerva Liong, konsultan di perusahaan ini. Saya Lulusan luar negeri"
"Jurusan ngentot ya kafir ?" tanya seorang kuli mencemooh
semua tertawa menertawai aku.
"Saya di hire di perusahaan ini untuk memajukan efisiensi di perusahaan. Saat ini karena pekerjaan saya sedang senggang dan saya sudah dibayar mahal, tuan F memerintahkan budaknya ini untuk melayani tuan-tuan semua setiap hari Jumat sore jam 4 sampai sabtu pagi. Silahkan tuan menggunakan saya sesuka hat tuan. Budak seperti saya tidak memiliki hak untuk menolak apapun. Tuan-tuan semua boleh pakai tubuh saya untuk kesenangan tuan-tuan tanpa batasan. Tuan-tuan boleh memperkosa mulut saya, memaksa saya menelan semua peju tuan-tuan. Tuan-tuan juga boleh menggunakan anus dan vagina saya untuk menyalurkan hasrat tuan-tuan.
Ada keheningan yang terjadi di ruanganku. Ruanganku tidaklah besar, ukurannya hanya 3x2 meter. Hanya ada mejaku, dua kursi tamu, kursi miliku dan sofa serta sebuah lemari kabinet dan rak pajangan yang memajang beberapa foto, lego yang sudah dirakit, dan beberapa penghargaan dari perusahaan. Keheningan terjadi selama 3 menit dan tamuku hanya berdiri tidak berani untuk duduk karena tidak kupersilahkan duduk.
"Oke, kenapa ?" tanyaku. Aku menolehkan wajahku dan melihat Vanya ada di sana berdiri. Vanya adalah perempuan berusia 27 tahun, setahun lebih tua daripadaku. Wajahnya cukup oriental walau dia indo campuran chinese dan jawa. Dia adalah salah satu rekan kerjaku di kantor. Bagian keuangan. Ia mengenakan blazer hitam, kemeja biru muda dan rok sepan hitam serta stoking putih dan pump berwarna hitam juga. Kulihat ada arloji berwarna keperakan di tangan kanannya dan gelang manik-manik berwarna hitam. Tidak ada cincin yang menghiasi jarinya, tapi ada anting sedernaha berwarna perak dengan kalung perak juga. Rambut anya panjang tapi saat itu rambutnya dicepol ke atas. Penampilannya berbeda denganku yang menggunakan summer dress pink muda yang cantik dengan kerah agak rendah sehingga belahan dadaku terlihat menyembul karena aku menggunakan Push Bra.
"Ini Bu, laporan yang ibu minta" ujarnya memberikan suatu laporan ke mejaku. Sebuah amplop coklat yang cukup tebal. Walaupun Vanya lebih tua dariku tapi jabatanku lebih tinggi darinya.
"Oke akan kulihat nanti." ujarku.
Seperti hari lainnya aku banyak bekerja seorang diri di ruang kerjaku. Ketika jam makan siang, sebuah ketukan terdengar lagi di pintuku.
"masuk," ujarku
Vanya dan seorang perempuan lain bernama Zahra masuk ke ruanganku.
Zahra memakai hijab berwarna hijau salem dengan baju berwarna peach krem salem. Ada ikat pinggang coklat kemerahan di baju terusannya yang panjang. Dan dia menggunakan celana bahan berwarna putih dan sepatu hitam.
"Mau makan bareng Bu ?" tanya Vanya "kita mau ke saladstop. Biasanya bu Erva suka tiitp kalo salad stop." ujarnya
Aku memandang mereka dan berpikir sejenak. "Boleh" ujarku
"Omega 3 Baby seperti biasa ?" tanya Vanya.
"Iya. Terima kasih Vanya." Aku mengeluarkan uang 150 ribu dan menyerahkannya kepada Vanya. "Titip ya."
Kemudian aku kembali sibuk dengan laptopku. ada beberapa hal yang harus kubaca dan kubereskan. Aku memang tidak selalu sesibuk ini, biasanya aku kadang suka ikut Vanya, Zahra ataupun teman-teman kerjaku yang lain untuk ikut makan siang. kadang kami makan di warteg yang murah juga sesekali. Tapi malam ini aku ada meeting dan harus menyelesaikan materi presentasi pentingku.
Tanpa terasa tiba-tiba waktu sudah menunjukan jam 13:00 dan Vanya kembali mengetuk pintuku. "Masuk" ujarku.
Vanya masuk "Ini punya Bu Erva," ujarnya sambil meletakan kantong kertas dan juga kembalian dari uang yang kutitipkan.
"Makasih," ujarku tanpa menoleh ke arahnya.
Kemudian aku mendengar Vanya berjalan keluar ruangan dan meninggalkanku sendirian kembali.
-----
"Jadi dengan begitu ROI-nya akan kembali dalam 6 bulan." ujarku menjelaskan.
Lawan bicaraku Lauren adalah anak dari keluarga Pras yang memiliki gossip-gossip miring. Perusahaan mereka besar dan ada dimana-mana mulai dari yang legal seperti bisnis barang branded sampai ke pijat plus-plus kelas atas. Pada kesempatan ini Lauren meminta kantorku untuk membantunya dalam bisnis tempat minum di Jakarta Selatan.
"Ini sudah best practice yang banyak dilakukan oleh banyak resto dan cafe. Ini cukup standar dan tidak sulit. Untuk training kami juga bisa bantu dan saya sendiri bisa membantu untuk sistem financenya termasuk pembukuan gandanya." ujarku lagi meyakinkan.
Di meja kami ada Lauren, sahabatnya Jessica, dan atasanku Mr.K. Malam itu Lauren menggunakan gaun pendek berwarna jingga dengan tas Hermes Birkin oranye. Jessica menggunakan gaun pendek biru yang terlihat lebih simple menutupi tubuhnya yang lebih berkesan kurus dibanding tubuh Lauren yang sangat terawat. Wajah Lauren tampak innocent dan seperti sangat baik, agak kontras dengan wajah Jessica yang tirus dan terkesan genit serta nakal.
Mr.K atasanku menggunakan kemeja tosca muda dan blazer abu dengan celana panjang coklat. Mr.K tampak muda dengan usia yang bisa dibilang hampir 40 tapi masih tampak seperti usia 27-28. "Jadi gini Ren, Jess,.... Erva ini salah satu promising star di perusahaan kita. Dia pintar dan detil serta salah satu yang paling pintar untuk menggunakan budget efisien. Kamu bisa percaya dia. Saya jamin pasti memuaskan." ujar Mr.K mempromosikan aku.
"Untuk marketingnya ?" tanya Jessie
"Ada beberapa teknik yang bisa dicoba dan dipertimbangkan. Untuk target Niche seperti ini, kita bisa adakan grand opening mengundang influencer dan media. Tempat yang didekor untuk instagramable dan juga harga yang kompetitif di awal. Membangun komuniti dulu agar menjadi tempat santai favorit terlebih dahulu. Kita juga bisa buat video tentang bartender cantik yang membuat minuman di tempat kita dan juga mengilusikan banyak wanita cantik di tempat kita. Image-image tersebut butuh dibangun perlahan dan konsisten. Kita perlu bicara tentang persona target market kita dan membangun brand image kita serta membangun emosi pada brand agar brand tempat kita menjadi lebih baik daripada tempat minum lain. Edge apa saja yang kita miliki." ujarku lagi memberikan ide.
"Apa dengan begitu saja berhasil ?"
"Ide itu murah, tapi eksekusi yang mahal." ujarku. "Apa yang membedakan restoran kita dengan restoran lain adalah pelayanan dan eksekusi di lapangannya. Pelayanan kita ahrus sangat terstandarisasi dan SDM kita harus yang terbaik. Melayani dengan hati dan mengerti hospitality dan juga profesional." ujarku.
"Menjanjikan sih" ujar Lauren pada mr. K
"Lu sih sombong banget, gw minta lu yang pegang lu kasih ke anak buah lu. Tapi gw sekarang ngerti kenapa." ujar Lauren lagi ke Mr.K. kulihat keduanya sudah cukup akrab dan mungkin teman lama. Mr.K Sempat bilang dia kenal baik dengan kakaknya Lauren yang paling sulung jadi mereka cukup akrab walau usia mereka terpaut belasan tahun.
"Gw sibuk Ren. Kalo dipegang gw ntar malah gak ke-handle. Erva ini masa depan perusahaan gw koq. Dia pintar cantik dan bisa handle dari project yang budgetnya minim juga. Kalo yang budget besar sih semua juga bisa pegang."
"Loe sih rakus maunya budget gede doank" ujar Lauren mengomentari.
"Hahahha..... gw udah tua. Yang tantangan dan menarik udah urusan yang muda kayak Erva dan Lauren lah yang ngerjain. Gw kerjain project yang stabil aja." ujar Mr. K sambil tertawa. "Oke, gw tinggalkan kalian bertiga deh. Gw kudu ketemu anak gw juga di rumah. Dia suka nunggu papanya." ujar Mr.K sambil berdiri dari kursinya.
"Bill on me, K" ujar Lauren.
"Ok then, next round on me yah." ujar K. "Titip Erva ya" Mr. K pun segera pergi meninggalkan kami ber3 di restoran mewah itu.
"Erva punya pacar ?" tanya Lauren kepadaku.
"Belum," ujarku "Kalau kak Lauren ?"
"Ah kita kan seumuran," ujar Lauren "Panggil nama aja. Aku sih udah ada tunangan." ujar Lauren.
"Udah jangan ngomongin cowok, sensitif dikit apa ama yang jomblo" ujar Jessica komplain.
"Iya deh sorry Jess." ujar Lauren yang tertawa. "Makanya jangan kebanyakan milih"
"Yeeee kalo gak milih mah banyak yang mau ama gw. Minimal naek Bentley lah kalo mo jadi cowok gw" ujar Jess.
"Percuma kalo naek Bentley tapi beliin hermes aja pelit. Yang penting bisa kasih loe jajan gede aja," ujar Lauren.
Aku hanya ikut tersenyum saja mendengar pembicaraan mereka.
"Kita ke tempat pijet bokap lu deh," ujar Jessie mengajak Lauren.
"Loe mau dipijet ama perek ?"
"Ya udha ke hotel aja cari Spa. Kan gw mau gratisan. Gak ada cowok yang bayarin ngespa."
"Yee enak amat mau gratis. Kalo temen gw semua macam lu sih bisa bangkrut" ujar Lauren tertawa. "Ke klub yang joinan bokap gw aja yuk ? Mau ?"
"Oh klub malem kinky yang super mahal itu ya ?" ujar Jess mempertimbangkan "Nani deh, gw pengen yang dipijet dan relax" ujar Jess
"Ke Spa di hotel aja yuk. Kalo di Bandung sih spa-nya Padma Hotel asyik banget loh" ujarku.
"Kamu juga suka spa ?" tanya Lauren
"Kadang aja" ujarku.
"Kalo di jakarta harus ke tempat langganannya Jess, dia suka banget di,...."
dan obrolan kamipun berlanjut sampai setengah jam berikutnya ngobrolin spa, salon, dan perawatan kecantikan. Dan kami akhirnya malam itu juga pergi ke Spa langganan Jess untuk menikmati malam itu di spa dan Lauren open kamar di hotel tersebut untuk kita bertiga istirahat di sana dan menikmati indahnya malam sambil buka wine. Curhat tentang cowok dari Jess dan banyak hal menarik lainnya.
Sejak hari itu, Lauren dan Jess cukup sering mengajakku main mulai dari spa di hotel, mengunjungi panti pijat keluarga Prasyang sebetulnya khusus pria. Tapi karena Lauren kita bisa ikutan dipijat yang sedikit nakal dan juga menikmati kegilaan-kegilaan crazy rich jakarta karena ada Jess dan Lauren. Jess sendiri dari keluarga kaya yang jauh diatas level keluargaku. Aku hanya satu-satunya yang kekayaannya mungkin secuil dari pada kedua temanku ini. Tapi karena bisnis Lauren dan Jess yang lumayan berkembang ketika aku masuk membantu managemennya semakin baik, maka kedua gadis itu memberiku bonus besar dengan syarat bonusnya dipakai untuk berfoya-foya bersama mereka. Kami biasanya main dan bergila-gila di hari biasa karena weekend Lauren sibuk dengan tunangannya. Jess sibuk mencari pacar dan sering kali mengajakku tapi aku selalu beralasan pulang ke Bandung ketemu orang tuaku. Padahal setiap jumat aku harus ke tempat tuan F dan disiksa bagai pelacur murahan. Tidak ada yang tahu betapa menyedihkannya kehidupan emosiku yang roller coaster.
Senin sampai kamis aku adalah Consultant yang bermain bersama para sosialita kaya, sebuah kehidupan yang didambakan oleh kebanyakan perempuan yang bukan dari golongan crazy rich. Punya penghasilan cukup besar dan menikmati kehidupan crazy rich. Tapi tiap jumat aku akan telanjang di depan tuan F dan disiksa di kantor dan gudangnya setiap weekend kecuali ketika aku sedang haid barulah aku bisa ikut pergi menemani Jess.
"Lu mau kemana pagi-pagi gini Va ?" tanya Lauren yang terbangun ketika aku sedang mengenakan berdandan di meja rias. Aku menggunakan dress pendek yang tidak ketat serta atasannya berupa halter dengan belahan rendah berwarna hijau muda. Kugerai rambutku yang hitam legam dan lurus. Aku kemudian mengambil coat coklat khaki yang tergantung di dekat pintu kamar hotel.
Kulihat Jess masih tertidur pulas dengan lingerienya yang berwarna pink muda. Lauren sendiri menggunakan lingerie putih. Lauren mengucek-ucek matanya dan memandangku dengan arwah yang masih belum terkumpul. Kami menginap di salah satu hotel bintang lima di Jakarta malam itu. Semalam sebelumnya Jess mau ditemani ngobrol-ngobrol dan minum-minum lalu Jess membuka kamar dan aku dipaksa untuk menginap juga di hotel sambil dia curhat masalah keluarga yang menurutku remeh temeh. Kami bertiga mabuk dan tertidur di kamar ini dan aku terbangun jam 8 pagi dengan kepanikan.
"Aku harus ke kantor, bekerja membanting tulang. memangnya aku putri kaya seperti kalian" ujarku bercanda.
"Sepagi ini ? Ini hari jumat ya ?" tanya Lauren
"iya, ini jumat...." kataku datar.
"oh malam ke Bandung ?"
"Iya kayak biasa,..." ujarku lagi-lagi dengan nada datar.
"Ke sini donk sebentar...~~~" Lauren memanggilku manja.
"Udah telat nih,.." protesku.
"Hei aku ini klienmu.... sini nurut... ntar gw gak mau bayar perusahaan lu loh," ancamnya sambil bercanda.
Akhirnya aku mengalah dan bergerak mendekati Lauren. Dia menyibakan rokku memperlihatkan celana dalam pink yang kukenakan. Aku kaget dan ia menarik celana dalamku dengan sekali tarikan memperlihatkan vaginaku yang botak tanpa rambut.
"Wow... u are shaven..." ujar Lauren tertawa.
"Apaan sih !" aku segera memukul tangan Lauren dan menaikan kembali celana dalam yang senada dengan bra straplessku. "Ini pelecehan !" makiku.
"Lu ninggalin kita duluan, harusnya dihukum gak boleh pake celana dalam seharian !" ujar Lauren
"lu masih mabok... sana tidur dulu yang bener !" ujarku kesal sambil memakai coat yang panjang yang ada di tanganku dan meninggalkan Lauren. Kemudian aku dengan cuek meninggalkan Lauren yang bernyanyi-nyanyi riang.
Aku segera sampai di kantor menggunakan grab-car. Aku memiliki mobil tapi memang aku jarang gunakan karena malas menyetir. Selain malas menyetir, sejak aku bermain dengan Lauren dan Jessica yang suka menculikku secara paksa, aku memutuskan untuk tidak menggunakan mobilku jika tidak terpaksa.
Aku masuk ke dalam kantorku, menggunakan lift dan masuk ke suite kantorku di gedung perkantoran itu. beberapa satpam menyapaku tapi aku hanya memberikan anggukan kecil. Jika kalian membayangkan aku berjalan membawa tas merk dan membawa starbuck, maka biar kupertegas aku tidak membeli kopi karena aku memang tidak minum kopi. Dan aku menggunakan tas tanpa merk. Siapa yang tidak suka tas mewah ? Aku masih sanggup sebetulnya membeli tas yang puluhan juta tapi aku selalu merasa pelacur macam aku tidak cocok menggunakannya. Aku punya tiga tas mewah sih tapi hanya kugunakan sesekali saja. Selebihnya aku menggunakan tas murah yang aku suka modelnya. Karena kalau hujan tasnya bisa kupakai melindungi kepalaku dan kalo rusak tinggal buang dan beli lagi. kalo tas mahal... bisa sakit hati kalo sampai rusak.
Aku menggunakan coatku sehingga tidak terlihat jika di dalamnya aku menggunakan dress pendek yang seksi. Hari itu tidak banyak yang terjadi, aku masuk ke ruanganku, mengadakan meeting bersama beberapa staff termasuk Vanya dan Zahra dan beberapa staff lainnya yang kebanyakan cowok. Aku datang ke kantor jam 9 dan aku sudah harus berangkat kembali jam 10:30 menuju tuan F.
Jam 10:30 aku sudah berdiri di lobby gedung menunggu taksi online untuk menuju pergudangan tuan F. Gedung pergudangan milik tuan F berada di daerah pergudangan dan tuan F memiliki gedung tersendiri yang sudah dirombaknya sehingga memiliki kantor dan ruang penyimpanan.
Aku menggunakan taksi online memasuki daerah pergudangan, satpam melirik kepadaku dan dengan jelas mengenaliku. Seluruh satpam kompleks sudah pernah memakaiku karena aku sering gagal memenuhi kuota kerja paksa-ku di hari sabtu sehingga walaupun mereka bergiliran semua sudah pernah mencicipiku di sabtu sore.
Aku tidak tahu nama mereka karena terlalu banyak tapi kulihat namanya "Rudi" di seragamnya. Dia mengoceh dan tidak mengijinkan taksi online masuk dengan alasan tidak ada stiker.
"Kan tamu pa ?" ujarku.
"Non ini aturan baru. Non turun aja, biar saya yang anterin non ke tempat yang non mau. Sekarang harus begitu non," ujarnya dengan pandangan genit. "Udah non turun aja... daripada nanti...." dia memperlihatkan handphonenya yang aku tahu jelas pasti menyimpan foto telanjangku.
"I-iya... ya sudah gapapa pak," ujarku pada supir taksi onlineku dan aku segera turun dari taksi onlineku dan mempersilahkan si supir segera pergi.
Hari itu giliran Rudi dan Umet yang berjaga di post.
Rudi adalah satpam gemuk buncit berkumis dengan hidung bulat dan muka mesum. Sedangkan umet hitam dan kerempeng dengan muka rata yang tampak menyedihkan, Umet juga memiliki kumis lele.
Aku turun, aku sudah hanya memakai dressku saja, coatku sengaja kutinggal di kantorku. karena belahan halter dress hijau salemku rendah, maka jelas terlihat bra warna peach muda yang kukenakan. Kedua mata satpam itu memandang terus ke braku.
Biasanya mereka tidak menggangguku dan membiarkan grabku masuk ke dalam. Tapi karena sudah hampir 2 bulan terakhir ini aku berhasil bekerja dengan baik saat hari sabtu, maka tuan F sudah tidak lagi memberikanku ke anak kampung dan satpam kompleks seperti saat awal-awal aku dipaksa bekerja paksa tiap sabtu. apalagi sejak aku banyak bergaul dengan Lauren dan Jessie, hukumanku dan tindakan tuan F kepadaku mulai berubah dan hanya dia dan para klien yang menggunakanku. Mungkin karena sudah tidak dapet jatah para satpam ini langsung mengincarku.
"Lonte Erva, lu gak pantes pake baju, jadi gimana kalo kita bawa lu ke gedung tuan F kayak anjing aja ?" ujarnya.
"Jangan tuan-tuan... ini masih siang. Dan banyak orang. ini bukan hari sabtu yang gak ada orang selain tuan-tuan. Sebentar lagi abanyak perkerja dari kompleks gedung yang akan keluar ke masjid untuk jumatan." ujarku ketakutan mendengar rencana kedua supir ini. Aku memang sudah sering diperkosa satpam dan staff-staff tuan F tapi para staff yang memperkosaku adalah staff lantai 3 yang merupakan staff kantoran. Staff kuli dan gudang serta supir-supir truk tidak pernah memakaiku sebelumnya. Satpam-satpam juga sudah cukup lama tidak menggunakanku karena kerja paksaku di hari sabtu selalu beres belakangan ini sesuai kuota.
"Bodo amat, lu siapa ? lu kan cuma lonte !" uajr Umet menimpaliku yang membuatku diam seribu bahasa. "Cepet buka baju loe !" bentak Rudi.
"Tuan, pls pake aku sepuasnya di dalam pos bapak aja. Setelah itu lepaskan aku. Budak Erva ini akan melayani Pa Rudi dan pa Umet... pls..."
"Gak usah ngebantah !" Umet langsung menggampar pipiku. "Buka ! cepet buka atau gw sobek-sobe baju loe sampe gak bisa dipake lagi dan loe bebas jalan keliaran sampe ke gedung tuan F di paling pojok belakang !" bentar Umat
"Kalau lu nurut, sampe depan gedung loe boleh pake lagi baju loe !" ujar Rudi berjanji.
Aku hanya bisa menghela nafas. Setelah beberapa minggu aku merasa egoku terus di boost, apalagi aku bermain bersama Lauren dan Jessica membuatku merasa sangat sulit untuk bisa melakukan ini. Tapi aku tahu jati diriku yang sebenarnya hanyalah lonte murahan. Aku menanggalkan dressku di post satpam lalu melepas bra dan celana dalam peachku dan memasukannya ke tasku. Aku kemudian merangkak seperti anjing dan menanti Rudi dan Umet yang segera menggerayangiku dan memakaiku.
umet yang tidak tahan langsung memaksaku mengoral penisnya sedangkan Rudi langsung melakukan doggy style kepadaku sehingga aku telanjang dan melayani dua penis satpam di siang hari yang bolong di dalam pos mereka.
Keduanya dengan semangat menggarapku sambil terus meledekku. "Non udah lama gak dipake ya ?"
"Non jangan banyak ngebantah ya, inget non tuh cuma lonte murahan ! kalo abang bilang buka ya buka jangan bikin abang marah lagi ya," ujar Umet
"Pake lidahnya yang bener non." ujarnya lagi
Aku menggunakan lidahku berusaha menyenangkan ahti kedua pemerkosaku ini. Tubuhku jadi semakin panas dan harga diriku yang sedang tinggi-tingginya seperti terlempar lagi ke tempat biasanya. Di akhir sesi pertama umet memaksaku menelan semua spermanya, sedangnya Rudi membuang spermanya di dalam rahimku. Aku tidak peduli lagi, aku pernah cek bahwa rahimku memiliki masalah dan akan sangat sulit untuk punya anak. Menurut dokter aku bahkan tidak akan punya anak tanpa treatment yang tepat. Aku memang dilahirkan untuk jadi lonte sepertinya.
Setelah mereka memuncratkan spermanya, kini mereka bertukar peran. Aku digenjot oleh Umet dan Rudi memaksaku mengulum penisnya. Kemudian Rudi menembakan spermanya ke wajah dan rambutku sedangkan Umet memuntahkan spermanya ke dalam rahimku juga. "Gw bikin lu hamil biar punya anak lonte juga kayak mamanya !" uajr Umet merendahkanku.
"Hehehe... enak juga isepan lu" ujar Rudi.
"Sekarang yuk kita bawa lu ke tuan F. eh ngapain lu ?" tanya Rudi ketiak aku mengangkat tanganku ke wajahku yang penuh sperma.
"gak usah lu bersihin muka peju lu. Biar semua orang bisa liat muka loe yang penuh peju !" bentaknya sehingga aku otomatis menurunkan tanganku dan bersiap di posisi merangkak. Kemudian mereka memakaikan rantai ke leherku dan menggembok leherku lalu mulai menarik rantai itu dan aku merangkak dengan wajah penuh sperma sehingga aku sulit melihat.
"Kamu merangkak ya sampai ke sana. Ini tasnya aku yang bawain !" ujar Umet membawa tasku. "kalo kamu salah aku akan pukul kamu pake pentungan" ujarnya kejam.
Akhirnya aku hanya bisa mengintip sedikit-sedikit karena mukaku penuh sperma yang menjijikan. Jika aku merangkak lamban Umet tidak rabu menghantam pantat dan vaginaku dengan pentungannya. Bahkan jika dipukul, sperma dalah vaginaku tumpah keluar dan sangat memalukan. Jika ia kesal karena aku lama, tanpa segan-segan ia menusukan tongkatnya ke dalam vaginaku hingga aku menjerit kesakitan.
ini sungguh meamlukan berjalan seperti anjing di siang hari dan sebentar lagi jam jumatan. para kuli dari komplek pergudangan bisa kelaur kapan saja dan menghabisi aku yang telanjang dan merangkak seperti anjing. Tapi mungkin aku akan baik-baik saja karena aku digiring oleh 2 satpam. Tapi tidak mungkin tidak ada yang melihatku.
Bahkan aku merasa kehinaan ini sudah sampai puncaknya. Aku melihat kucing liar berjalan di sampingku dan menatapku sehingga membuat air mataku ini tidak bisa berhenti mengalir. Sekolah di luar negeri dan bekerja sebagai business consultant di firma yang cukup dikenal dan kini merangkak seperti anjing di jalanan. bahkan pelacur saja diperlakukan jauh lebih baik dari aku. Tapi aku hanyalah budak dan aku dalam ketelanjanganku berjalan dengan kehinaan yang penuh dan perasaan yang hancur lebur.
"Wih siang-siang ini !" jerit seorang di seberang jalan yag keluar dari bangunan ruko pergudangan. Aku menoleh dan ada 4 orang kuli berdiri menyorakiku sambil mengeluarkan HP.
Umet dan Rudi hanya tertawa melihat kuli-kuli yang kaget da terkejut melihat cewek putih telanjang merangkak seperti anjing.
"Lonte darimana ?" tanya salah satu kuli.
"Ada Deh !" ujar Umet tertawa.
"Bagi donk !"
"Sabar nanti kebagian ! minta ijin bos besar yang punya lonte dulu." ujar Rudi ketawa enteng.
Aku malu setengah mati dan beberapa kali beberapa orang melihatku. Ada juga yang mau jumatan dan kaget serta jijik melihatku. Beberapa mobil melewatiku, ada satu dua mobil yang menurunkan kaca dan mengomentariku. Ada 3 truk besar dan 2 mobil biasa yang sempat melewati perjalanan memalukan itu. Sebelum sampai ke gedung tuan F, ada sekelompok orang yang mendekatiku dengan berani.
"Nah, lonte, anjing kalo ketemu harus kasih salam. jilat sepatu mereka !" perintah Umet.
Aku dengan hati hancur menjilati sepatu butut 3 orang kuli asing. Salah satu dari mereka mengeluarkan penisnya yang sudah tegang.
"Tuh, kamu jilatin dan servis bang Ari ya !" ujar Umet.
Aku memandang penis hitam bang Ari yang berbulu dan berbau tidak enak. Kuli ini mungkin kerinagtan dan sekarang dalam keadaan bau menyodorkan penisnya yang besar ke mulutku. Mencium abunya saja aku ingin muntah. Aku mencoba membuka sedikit mulutku dan langsung saja penis itu menyosor masuk ke mulutku. Dalam hatiku aku berusaha agar tidak muntah. Hanya terus berdoa selama wajahku masih penuh dengan sperma.
"Kamu servis bang Ari sampe keluar ya, udah keluar pejunya kamu tahan ya di mulut lacur kamu sampe kamu ke tempat tuan F" perintah Umet sadis.
Aku hanya bisa pasrah dan berharap penghinaan ini akan segera berakhir. Ketika bang Ari memuntahkan spermanya dari penis hitamnya aku tersedak dan berusaha untuk tidak memuntahkan atau menelan peju asin yang menjijikan itu dari mulutku.
"Kalo ditelan atau dimuntahkan, kita bakal keliling cari anjing liar sampe ketemu dan ngisi mulut kamu lagi pake sperma anjing liar. Ngerti ?" ujar Umet.
"Wih, makasih bos, diservis Lonte siang-siang gini !" Si kuli Ari tos-tosan sama Umet dan Rudi, kedua temennya asyik maenin puting dan vaginaku. "Yuk cau ah !" ujar bang ari mengajak dua temannya pergi setelah mereka mengambil wefie denganku yang mulutnya penuh sperma bang Ari.
Aku kembali digiring oleh Umet dan Rudi. Hampir setengah kilo aku merangkak seperti anjing di jalanan aspal. Aku tidak merangkak menggunakan lututku karena takut terluka. tanganku saja sudah luka-luka dan lecet-lecet ketika aku sudah sampai di depan gedung milik tuan F. Aku dan kedua satpam diam di samping gedung. Aku memandang gedung itu dengan tatapan sedih.
Ya Tuhan ! ini aku baru sampai ke tempat neraka ini, biasaya penyiksaanku baru akan mulai ketika masuk ke gedung ini, bukan dimulai dari depan kompleks. Kenapa aku semakin terhina seperti ini ?
"Lonte buang pejunya bang Ari di sini !"
Mendengar kata 'buang' aku sangat senang karena kupikir mereka akan menyuruhku menelannya. Aku segera memuntahkan sperma di mulutku ke lantai. "Uhuk....cuh......cuh...." aku segera ingin membersihkan mulutkud ari sisa-sisa sperma.
Aku masih di posisi menyedihkan seperti anjing telanjang dengan wajah penuh sperma yang sudah mengering. Dalam ketelanjangan yang hina itu aku menatap ke gumpalan sperma yang ada di lantai di depanku.
Aku seperti mendapat tamparan keras memandang sperma di lantai, "jilati sperma itu dan telan sampai bersih !" bentak Umet. Ini ketiga kalinya umet meneriaki hal itu. Sehina itukah diriku ? rasanya hati ini begitu terhina dan berikutnya sebuah tendangan mendarat ke dadaku dari sepatu Umet. "Cepet !" kemudian satpam kejam itu menginjak kepalaku dan menarik rambutku membuatku menangis
""iya tuan... ampun... ampun..."
aku menjulurkan lidahku dan mulai menjilati sperma yang baru saja kumuntahkan dari mulutku di lantai trotoar di depan gudang penyiksaanku. "Sluurppp....slurrrp..." aku hanya menahannya agar aku tidak muntah. menelan sedikit demi sedikit penderitaan pahitku yang baru akan dimulai.
"sluurp.....sluuurp" setelah semua debu campur sperma habis kujilat di lantai kotor, Rudi menginjak kepalaku hingga pipiku menempel di lantai bekas-bekas sperma yang sudah kujilati. Air mataku langsung mengalir.
"Bilang apa ?"
"Terima kasih tuan telah memperlakukan saya sepatutnya" ujarku dengan harga diri yang sudah habis.
"Ya udah nih loe masuk sana..." Rudi melempar tasku dan melempar bajuku ke kepalaku. Mereka berbaik hati melepas kalung rantaiku juga.
Kedua satpam hanya tertawa melihatku berpakaian. Aku segera berpakaian sepenuhnya walaupun aku tahu bahwa selanjutnya aku akan ditelanjangi lagi. Tapi setidaknya saat aku masuk ke gedung para kuli gedung tidak melihatku dalam keadaan telanjang. Aku segera menggunakan celana dalam pink-ku kembali dan menggunakan bra straplessku yang juga berwarna pink. Aku menggunakan dressku halterku kembali dan dari dress tersebut terlihat jelas braku yang terpamer. Mukaku yang sudah kusut dan bekas sperma kering masih terlihat jelas. Aku berjalan dengan buru-buru masuk ke gedung taun F.
Satpam gedung yaitu Martin, seorang pria asal ambon dengan kulit hitam dan kumis walrus segera menyambutku. "Eh bu Erva, masuk bu ke pos saya dulu !" gertaknya.
Aku masuk mengikuti Martin. Dia menutup pintunya dan aku berdiri membusungkan dadaku menyilangkan tanganku di pinggang belakang dan melebarkan kakiku.
"Saya minta tanda pengenalnya ya....." ujar Martin sambil tangannya memelortkan celana dalamku. Ia kemudian meremas vaginaku beberapa saat sebelum ia maemasukan tangannya ke baju dressku untuk melepas braku. "Kamu mukanya itu bekas sperma kering ya ? Satpam depan minta jatah ya ? Ya udah kasih aku jatah juga ya, kalo gak aku gak kasih kamu kartu tamu dan kamu tahu kan kalo kamu telat ada hukuman dari Tuan F ?" ancamnya.
Aku hanya bisa pasrah dan berlutut kembali dan memberikan kuluman ke penisnya dan kuminum habis spermanya.
"Oh mulai sekarang ini jadi S.O.P ya." ujar Martin mengalungkan kartu visitor bertali ke kepalaku.
"Terima kasih tuan," ujarku berusaha ramah. Kemudian aku keluar ruangan pos kecil itu dan langsung berbelok ke pintu di sampingnya. Kugesekan kartuku ke tempat penerimaan kartu agar pintu terbuka dan aku masuk. Kulihat ada banyak kuli yang sedang sibuk beres-beres karena sebentar lagi jumatan. Suara bising dan udara panas langsung terasa disertai bau keringat. Aku bergerak menuju tangga dan langsung berjalan ke lantai tiga secepat yang aku bisa supaya tidak mencolok walau beberapa mata melihatku.
Semua staff di lantai tiga yang sudah sering menggunakanku menyeringai saat aku masuk dan berjalan melewati kubikal mereka menuju ruangan Tuan F.
Aku mengetuk pintu....... kemudian ada suara menyuruhku masuk dan aku segera berlutut dan merangkak masuk.... aku memandang tuan F ditemani seorang perempuan di sana. Aku tercengan melihatnya tidak percaya apa yang kulihat..
"Lama tak bertemu... Erva...." ujar perempuan berkemben hijau dengan celana jeans itu menatapku.
Aku menengadah dan rasa takut langsung menyelimutiku. Suri menatapku dengan kejam. Aku tidak percaya Suri ada di sini. Apa yang pelacur dari klub lakukan di sini ? Aku masih ingat bagaimana paku-paku payung senampan melukai payudaraku dan bagaimana ia berjanji pertemuan berikutnya akan memasukan kaktus ke dalam vaginaku. Ini mengerikan... aku langsung lemas seketika. (baca di page 1)
"Kamu terlambat hampir 20 menit loh !" ujar Suri mengembalikan kenyataan pahit yang harus aku hadapi.
"Setiap 10 detik 1 jepitan.... wah 6x20 loh. 120 jepitan bakal menghiasi tubuh lacurmu loh Erva." ujar Suri sambil berjalan mengitari aku yang berlutut beberapa langkah saja dari pintu masuk. Ketika Suri di belakangku kakinya langsung diletakan di belakang kepalaku dan dia menginjak kepalaku sampai aku tersungkur ke lantai dengan wajah mencium lantai. Sungguh sakit sekali.
"Buka baju dan terima hukumanmu lacur !" bentak Suri. Sambil menendangku dari samping seolah aku ini seonggok daging yang tidak bisa merasakan rasa sakit. Pinggang kiriku yang jadi sasarannya terasa perih tapi aku tidak bisa berteriak karena rasa takutku.
Entah kenapa rasa takut yang aku rasakan menyelimutiku dengan hebat sehingga jiwa budakku langsung menuruti perintah yang diberikan kepadaku.
Aku langsung dengan secepat kilat memelorotkan pakaianku lagi. Dalam sekejap aku sudah telanjang berlutut siap menerima neraka yang sesungguhnya. Aku juga langsung mengenakan kalung anjing merah yang sudah disiapkan tuan F.
"120 jepitan ya...." ujar tuan F yang menyaksikan dari mejanya sambil sibuk melirik kertas-kertas di mejanya. "Nona Suri yang akan menghukummu karena budak sepertimu memang tidak layak menghabiskan waktu gw," cemooh taun F kepadaku.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya tuan, semua karena..."
"SAYA GAK BUTUH ALESAN !!!" bentak tuan F.
"Maaf Tuan... " aku langsung menyembah tuan F.
"Suri, tambahkan 4 kali tendangan di vagina budak tolol itu!"
Suri tampak bahagia sedangkan aku langsung lemas. "Bilang apa kalau didisiplinkan ?" tanya Suri.
"Ter-terima kasih tuan F sudah mendisiplinkan budaknya yang bodoh dan mencari-cari alasan ini." ujarku merendahkan diriku.
"Ambi posisi, rengangkan kakimu !" perintah tuan F.
Aku dalam keadaan telanjang dan berlutut melebarkan kakiku agar vaginaku terbuka dan siap menjadi korban tendangan Suri. Suri segera berdiri di hadapanku dengan wajah sadisnya. Aku menaruh kedua tanganku dibelakang kepalaku dan menutup mataku siap-siap merasakan rasa sakit....
"JDUK !" tendangan pertama Suri di vaginaku langsung membuatku bergeliat dan membuka mulutku dengan keras. Aku ingin berteriak tapi karena rasa sakitnya aku tidak bisa berteriak, aku langsung jatuh dan tersungkur, kedua tanganku langsung memegang vaginaku yg ditendang Suri.
"Siapa yang mengjinkanmu memegang vagina dna mengaduh ?" Suri sudah menginjak kepalaku yang ada di lantai dengan high heelsnya. "Budak macam kamu gak menghitung dan berterima kasih ? yang tadi tidak dihitung, ambil posisimu dan kita ulangi !" bentak Suri sambil kakinya ditekan-tekan ke kepalaku.
"I-Iya nona...' ujarku pedih. Harga diriku sepertinya sudah hancur berkeping-keping. malam kemarin aku masih menikmati party bersama Lauren dan Jessie lalu menikmati spa mahal dan diperlakukan bagai ratu. hari ini aku lebih rendah dari anjing.
Aku kembali berlutut dengan vagina yang sepertinya sudah mulai membengkak karena tendangan pertama Suri. "Ucapkan terima kasih dan kalau kamu pegang vaginanya dengan tanganmu, dianggap gagal dan akan diulang dari awal ! Ngerti perek ?" bentak Suri.
"perek ini ngerti nona" ujarku ketakutan sambil menutup mataku dan mengingat apa yang ahrus kukatakan.
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "S-Satu !!!" aku menjerit keras dan hampir saja kedua tanganku mengusap vaginaku, tapi aku cepat-cepat mengurungkannya dan melanjutkan "Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "D-Dua!!!" aku menjerit keras kembali "Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
"JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras. "T-t.t.t. !!!" aku berusaha menjerit tapi lidahku kakukarena rasa sakit yang laur biasa...."T-t-tiga..." akhirnya ujarku yang berguling di lantai. Tapi aku berhasil tidak menyentuh vaginaku yang terasa seeprti hancur."T-t-t-Terima kasih nona Suri mau mendisiplinkan budak hina ini"
Baelum siap aku berdiri, dan masih berusaha bangkit karena aku terjatuh di tendangan ketiga...."JDUK !" tendangan dari Suri kembali menghantam Vaginaku dengan keras sebagai tendangan penutup. "E....e......!!!" aku terbelak tidak bisa berkata apa-apa. Pikiranku langsung blank dan digantikan rasa sakit yang luar biasa.
"E.....em......" aku berusaha mengucapkan empat tapi suaraku tidak bisa keluar.
"Empat....!" jeritku akhirnya. Sungguh mengerikan, ini baru mulai dan masih ada 120 jepitan yang akan menyiksaku. Aku masih terkapar di lantai ruangan tuan F sambil tanganku kini membelai Vaginaku yang terasa berdenyut karena sakit.
"Kembali ke posisimu !" perintah Suri sambil sekali lagi menendang vaginaku karena aku mengaduh-ngaduh terlalu lama. Aku kembali terbelak kaget karena rasa sakit yang kembali menghajar vaginaku. Aku hanya bisa pasrah tapi Suri dengan kejam menendang vaginaku berkali-kali lagi. "Cepat kembali ke posisimu Lacur !" bentaknya. dan aku tidak bisa bergerak menuruti perintahnya karena didera rasa sakit yangt erus meenrus tanpa rasa henti. Aku berusaha menjerit tapi tidak ada suara yang keluar. Karena rasa sakit yang keterlaluan aku sampai merasa tubuhku mengeluarkan endorphine untuk menghibur diriku yang trauma kesakitan.
"Cukup Suri !" tegas tuan F. "Biarkan budak gak berguna itu beristirahat sejenak." Tuan F menyelamatkanku dari kematian. Mungkin vaginaku sudah merasakan hampir 15 kali tendangan karena Suri terus menghajar vaginaku menyuruhku berdiri.
Aku hanya terisak menangis di lantai dengan rasa sakit yang menjadi-jadi di vaginaku. Setelah hampir 10 meenit baru akhirnya aku kembali berlutut dan siap menerima kenyataan pahit 120 jepitan yang akan dipukul dari tubuhku.
Setelah hampir 10 menit aku menangis di lantai dengan vagina yang berdenyut karena rasa perih perih, Suri menarik puting kananku memaksaku berdiri dengan kasarnya. Ia menyuruhku berlutut dan melemparkan 60 jepitan baju yang tersedia di depanku sementara aku amsih menangis tersedu-sedu karena meratapi ansib sialku.
"DIAM !" bentak Suri.
Aku masih terisak tapi berusaha terdiam dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara apapun walau au sangat kesakitan dan sedih.
"Hanya ada 60 Jepitan jadi kita akan melakukan 2 kali session hukuman," gadis kejam itu menjelaskan. "Pasang ke 60 jepitan ini di sekitar wilayah dada dan vaginamu. Aku akan memukulnya satu persatu," ujarnya. "Setelah session ini kamu akan kembali memenuhi tubuh hinamu dengan jepitan dan aku akan membereskan hukuman ini. Kali ini aku berbaik hati aku tidak akan menyuruhmu menghitung, tapi di akhir kalau kamu tidak berterima kasih dan bersujud menyembahku, aku tidak akan berhenti memukulimu !" ancamnya
Satu demi satu jepitan aku jepitkan di dadaku. dimulai dari kedua putingku yang masing-masing kujepitkan penjepit, lalu sekitar wilayah dada dan juga vagina. Rasanya sungguh sakit dan memalukan memasangakan 60 jepitan ke area intimku dengan kedua tanganku dibawah perintah seorang pelacur. Satu demi satu kupasangkan dan akhirnya selesai sudah 60 jepitan itu terpasang sepenuhnya di tubuhku dan terfokus di sekitar dadaku dan juga vaginaku. Aku tahu ini akan sangat menyedihkan dan menyakitkan.
"ctar !!!...ctarrr...."
"Aaaarghhhhh........aaaa......" jeritanku menggema dari ruangan tuan F. Suri memukul jepit-jepit di tubuhku satu persatu dengan rotannya dan sesekali ia sengaja memukul meleset sehingga menghajar bagian tubuhku dan membuatku tambah kesakitan. Ia memukuliki sementara aku ahnay bisa berteriak, membusungkan dadaku untuk disiksa dan menangis dengan kedua tanganku di taruh di belakang kepala.
"Aaarghhh...." aku sudah tidak kuat dan terjatuh karena rasa sakitnya.... entah sudah 30 sekian pukulan yang menghajarku dan Suri tidak mau ambil pusing dan terus memukuliku tanpa henti walaupun aku sudah meringkuk di lantai dan menangis dan berteriak meminta waktu istirahat
"Nona Suri.... mohon.... aku mohon.... aaarghhh... Non....Non....Nona Suri...." aku berteriak mengaduh meminta belas kasihan padanya dan akhirnya ia berhenti memukuliki ketika sebuah jepitan terakhir lepas dari bibir vaginaku.
Aku menangis dan mengaduh kesakitan sedangkan tuan F melihatku dengan dingin. "Masih mau terlambat lagi ?" tanyanya dingin sambil menyodorkan kakinya ke depan wajahku.
Aku tahu apa yang diinginkan tuan kejamku. Aku mencium sepatunya dna menjawab "Ampun tuanku... budak ini tidak akan terlambat lagi,"
tuan F berjongkok dan menjambak rambutku dan menarik wajahku ke depan wajahnya. Ia meludahiku di wajahku. "Oke." ujarnya dingin "Lanjutkan Suri !" Ujarnya smabil mendorongku.
"ganti 60 jepitan sisanya dengan penjepit kertas." ujarnya.
"t-tuan....." ujarku hendak memprotes tapi ketika tuN F berbalik dan matanya memandangku aku langsung ciut. "T-terima kasih tuan telah mendisiplinkan budak yang patut disiksa ini..." aku menangis dan tidak dapat lagi embayangkan rasa sakitnya yang akan aku terima. Jepitan kertas lebih keras dan kadang membutuhkan beberapa pukulan untuk melepasnya ketika dijepitkan di tubuhku.
Suri kemudian mengaitkan rantai ke kalung anjingku. "kita akan keliling kantor untuk meminta penjepit kertas untuk mereka pasangkan di tubuhmu sebanyak 60 buah. di ruang ini hanya ada 6 penjepit kertas jadi nih pakailah dulu." ujar Suri menjatuhkan 6 buah penjepit kertas hitam di lantai depan aku terkapar.
Dengan sedih hati aku memasangkan 2 di putingku, 2 lagi di bibir vaginaku, 2 lagi kupasangkan di buah dada bagian bawah. "Merangkak anjing !" perintah Suri. Aku hanya bisa pasrah merangkak dan kemudian digiringlah aku ke luar ruangan tuan F. Seorang lulusan luar negeri satu-satunya di gedung itu malah tidak berpakaian dan merangkak seperti anjing digiring oleh pelacur dan berkeliling di lantai 3 ke apra staff untuk meminta jepitan kertas dan meminta para staff memasangkan jepitan kertas tersebut ke tubuhnya. Sungguh menyedihkannya diriku.
"Tuan Alex, bolehkah budak Erva ini meminta jepitan kertas. tolong tuan jepitkan di tubuh lacur hambanya ini,"
"Boleh tapi isep dulu ya kontol gw dan telen pejunya !" ujar Alex menyuruhku merangkak ke kolong mejanya. Aku tidak punya pilihan dan mengikuti kemauannya. Aku juga mengulumnya dan menelan spermanya yang dimuncratkan dimulutku. Rasanya sungguh terhina sekali. Alex hanya memberiku 3 jepitan.
Dengan cara yang sama juga aku mendapatkan 2 dari Tomi, 3 dari Aldi, 4 dari Gerald, 2 lagi dari Anton.
"Boleh kamu dapet jepitan tapi saya mau anal neng Erva ya," ujar Mudin si OB kantor yang memberikanku 7 jepitan kertas.
Para perempuan berbaik hati biasanya hanya memberikan aku jepitan dan sedikit mengejek tapi tidak menyiksaku. Kecuali Rina.....
"Nona Rina, bolehkah budak Erva ini meminta jepitan kertas. tolong nona jepitkan di tubuh lacur hambanya ini,"
"Boleh tapi kamu lepasin dulu itu semua jepitan yang udah nempel di badanmu. Nanti aku tambahin jepitanku." ujar Rina.
Aku dengan pasrah menurutinya. Mencabut satu demi satu jepitan kertas yang sudah menempel di badanku. Rasa sakitnya ketika darah kembali mengalir ke puting dan ke daerah yang sudah dijepit menyiksaku sehingga aku berteriak teriak dan Rina tampak dengan senang hati menikmati semua jeritanku.
"Oke, bilang ke kamera di HP saya kalo kamu adalah budak saya dan sembah saya. Oh sambil pengakuan ini kamu masukin heels saya ke memek lacur kamu." ujar Rina melempar sepatunya lalu mengarahkan HPnya kepadaku. Aku dengan sedih hati akhirnya bersujud menyembahnya dengan Suri masih berdiri di sampingku. Kemudian dengan hati hancur aku mengambil sepatu Rina yang tergeletak di depanku dan mencium sepatunya lalu menjilati ujungnya dan memasukan heels sepatu tersebut ke vaginaku. Dengan keadaan menyedihkan itu aku menatap ke arah kamera Rina dengan tatapan yang sangat menyedihkan. "Nona Rina, ijinkan budak cina kafir Erva ini melayani nona Rina. Siksa dan pergunakanlah budak ini sekehendak hati nona."
"Huahahhaha.... iya cukup Lonte !" ujar Rina menyimpan kembali HPnya kemudian dia memasangkan semua Jepitan kertas yang sudah dilepas kembali ke badanku menurut versinya. Sudah ada 56 jepitan yang terpasang. Tinggal 4 lagi. Akhirnya aku mendapatkan 4 jepitan terakhir dari Mudin si OB kantor tentunya dia kali ini memuncratkan spermanya di wajahku setelah habis-habisan menganal aku dan kuberikan blowjob kepadanya.
Suri tampak puas dan kembali menggiringku ke kantor tuan F untuk dipukuli kembali.
Suri dengan senang hati memukuliku yang menjerit dan menangis di ruangan tuan F. Aku bahkan orgasme karena rasa sakit dan jumlah pukulan yang terlalu banyak. Aku tidak tahu berapa banyak pukulan yang kuterima, mungkin hampir 100 pukulan menghantam jepitan-jepitan yang ada di tubuhku sehingga aku sudah sangat kesakitan dan pingsan beberapa kali. Beberapa jepitan sangat sulit dilepaskan dengan pukulan karena terlalu dalam tapi Suri sangat menikmati menyiksaku. Pukulan demi pukulan mendera aku dan akhirnya setelah aku pingsan untuk yang ketigatiga kalinya tuan F akhirnya melepaskan jepitan-epitan yang tidak lepas-lepas walau sudah dipukul beberapa kali. Sisa hanya 5 jepitan yang tidak bisa dilepas. Di perutku ada 1, di dada kiri bagian bawah, di puting kanan, di kedua bibir vaginaku. 5 Jepitan yang terlalu dalam menjepitnya itu tidak bisa dilepas dengan pukulan.
"Jadi kenapa kamu terlambat ?" tanya tuan F
"Budak Erva ini tadi dikerjain oleh satpam komplek, Umet dan Rudi...... budak ini dipaksa melayani mereka dan digiring telanjang ke tempat tuan sehingga ada banyak gangguan di jalanan dan budak ini harus melayani para kuli dari gudang lain yang kebetulan di jalanan dan......." ujarku bercerita kepedihan siang tadi yang tampaknya jadi tidak terlalu spesial jika dibandingkan siksaan dari Suri.
"Oh ! panggil Rudi dan Umet !" ujar tuan F di telepon kepada staffnya.
Aku hanya pasrah ketika Rudi dan Umet dipanggil masuk dan ditanyai tentang kejadian aku digiring mereka.
"Ya udah gini deh pa Rudi dan pa Umet. ini akan saya jadikan SOP. Mulai sekarang budak Erva ketika masuk kompleks pergudangan harus melapor kepada satpam yang bertugas dan tugas para Satpam untuk menggiring lonte anjing ini ke gudang saya. Tuan2 lucuti saja pakaiannya dan tidak usah dikembalikan. Tentang apa yang terjadi di jalan saya bebaskan kepada bapak-bapak. Ya jangan kelamaan aja, dia harus sudah sampai di ruangan ini jam 1 siang tepat." jelas tuan F
"T-tapi..." ujarku
"ini perintah ! Urusan kamu mau dateng jam 7 pagi dan ngelonte dulu di kompleks pergudangan sih. Pokoknya jam 1 harus sudah di kantor saya !" bentak tuan F. "jadi apa SOPnya ? perjelas ke saya !"
"Aku punya ide Tuan F" ujar Suri membisikan sesuatu ke telinga tuan F.
"Oh oke..... menarik. Oke untuk menapatkan kartu visitor, biasanya kamu menyerahkan pakaian dalammu ke satpam kan, tapi sekarang karena kamu gakan berpakaian saya akan membeli seeokor anjing penjaga dan kamu harus memuaskan anjing penjaga saya untuk mendapatkan kartu pengunjung. Bebas amu mau kulum ato kamu entot. Coba ulangi SOPmu dari depan !"
Aku hanya bisa menangis ketika mendengarnya. Tiba-tiba saja hari Jumatku akan semakin mengerikan. Bukan saja disiksa oleh tuan F dan staff kini aku harus diarak satpam di komples dalam keadaan telanjang seperti anjing dan kemudian harus memuaskan seekor anjing sebelum memulai neraka lainnya.Belum lagi pakaianku akan dirampas dan tidak dikembalikan. Apakah berikutnya aku akan datang dengan baju jelek saja supaya tinggal buang.
"CEPAT ULANGI !" bentak Suri sambil memukul payudaraku dengan rotan di tangannya.
"I-iya..." jeritku.
Aku kembali berlutut mengambil posisi dengan melebarkan kedua kakiku dan tanganku dibelakang kepala sebelum aku mengulang SOP memalukan yang akan menimpa diriku setiap jumat mulai sekarang.
"Saya Minerva Liong, mulai saat ini akan datang ke kompleks pergudangan lalu menyerahkan diri saya kepada satpam bertugas di depan kompleks perumahan. Satpam bebas melucuti dan merampas pakaian saya dan tidak akan dikembalikan lagi. Kemudian saya dalam keadaan telanjang akan digiring seperti anjing untuk diberikan ke tuan F. Di perjalanan saya bebas diperlakukan sekehendak satpam yang bertugas dan bebas untuk dipakai dan dilecehkan. Setelah sampai gudang tuan F saya akan memuaskan anjing penjaga untuk mendapatkan kartu visitor supaya saya bisa masuk ke gedung dan harus sudah sampai di ruangan tuan F sebelum jam 13:00WIB atau saya akan menerima hukuman seperti biasa."
"Ditambah mulai sekarang, kamu hanya boleh berlutut dan merangkak. Kamu hanya boleh berdiri dengan dua kaki kalau ada perintah dari orang lain. Jika tidak ada perintah kamu hanya boleh berlutut dan merangkak. Ngerti ?" tanya Tuan F
"Saya Minerva Liong hanya akan berlutut dan merangkak dan tidak akan pernah berdiri lagi di lingkungan pergudangan kecuali saya diperintahkan oleh orang yang melecehkan saya." ujarku lagi menambahkan. Lengkap sudah kehinaan yang akan terjadi setiap Jumat pada diriku.
Setelah itu, Rudi dan Umet keluar ruangan dan aku dipersilahkan untuk memberikan laporan pekerjaanku.
Tidak banyak yang dibahas karena kondisi sedang baik untuk perusahaan tuan F dan berikutnya adalah membahas efisiensi yang sudah cukup efisien dan juga marketing ke depan. Plan-plan dan ide kusampaikan dan selama presentasi, aku tetap telanjang dan sesekali Suri mencambukku sesuka hatinya.
"Jadi sampai kapital perusahaan ini naik kita hanya akn tetap bertahan dulu dan maintain kondisi ? berarti lu gak begitu banyak guna donk selama itu !" ujar tuan F.
"Nggak juga Tuan, budak ini masih merencakan pengembangan dan menganalisa pasar untuk menjaga dan memantain supaya dalam periode penabungan untuk menambah kapital ini kita tetap stabil."
"Bullshit lah ! ngeles aja. U gak guna. Kita bayar u mahal dan sekarang lu cuma jadi parasit."
"Nggak tuan, kan saya masih memantau dan mengefisien..."
"Udah gw gak mau denger lagi !" bentak tuan F.
"Sampe kapital kita segitu, tiap u ke sini u akan menghibur semua staff gudang gw ! biar harga gaji u pantes !"
"T-tuan F..." aku hanya pasrah.
-----
Suri menggiringku seperti anjing ke lantai 1 dalam keadaan telanjang. Tuan F berjalan dibelakang kami dan rasanya sangat memalukan melihat semua staff di lantai 3 melihatku dengan takjub ketika digiring keluar seperti anjing. Mereka semua memang sudah melihat bagaimana aku disiksa dan dipakai serta semua kebinalan dan kelacuranku. tapi kali ini aku digiring ke lantai 1 yang berisikan staff kuli kasar.
Di lantai 1 para kuli bangunan yang jumlahnya hampir mencapai 40 orang juga semua terkejut dan keheningan yang janggal terjadi memenuhi ruangan. Mereka berbisik dan diisyaratkan untuk berkumpul. Mereka berbisik-bisik dan Suri memaksaku naik ke salah satu kardus berisi barnag-barang yang masih terbungkus karung hijau.
"Nah, para staff sekalian !" tuan F mengumumkan.
"Kalian mungkin sudah sering liat perek seksi ini melewati kalian setiap jumat. Mungkin kalian juga sudah dengar desas desusnya dari Satpam kita pa Martin yang seringkali mengambil pakaian dalam pelacur ini. Mulai hari ini setiap jumat perek Erva akan masuk dan keluar dalam keadaan telanjang. Dia hanya boleh berlutut dan merangkak serta setiap sore seperti sekarang ini. Mulai jam 4 sore setelah dia beres untuk sesi konsultasi dengan saya di lantai 3, akan digiring ke lantai satu dan bebas dipergunakan oleh kalian semua sampai besok pagi. Tapi setelah jam 7 pagi tinggalkan perek ini. Terserah dia mau disiksa atau diperkosa tapi tolong jangan sampai mati dan jangan ada kerusakan yang permanen atau bikin cacat. Kalo dipukul dikit-dikit boleh koq." uajr tuan F menjelaskan.
Mendengar itu para staff kuli bersorak kegirangan.
"Ini SOP yang akan terjadi mulai sekarang," ujar Suri menjelaskan kepadaku sambil memberiku sebuah kertas yang isinya sangat menyedihkan. Sebuah pengakuan yang harus kubaca di depan para Kuli dan juga akan menjadi SOPku mulai minggu depan.
Aku yang satu-satunya lulusan luar negeri di gedung itu sekarang harus menyiksa dan mempermalukan diriku setiap Jumat. Apa yang akan Lauren dan Jessie rasakan kalau mereka tahu aku yang selama ini bermain di kelas atas bersama mereka setiap weekend diperlakukan seperti ini. Lebih rendah dari perek.
SOP yang aku harus jalani setiap jumat yang aku baru sadari adalah :
- Datang sepagi mungkin ke kompleks pergudangan.
- Dilucuti dan diperkosa dan mungkin disiksa oleh satpam yang bertugas di pos.
- Diarak berkeliling dalam keadaan telanjang oleh satpam. Walk of shame ini pasti akan mengudnag banyak pemerkosaan terhadap diriku.
- Memuaskan anjing penjaga untuk mendapatkan kartu tamu.
- Bertemu tuan F untuk memberikan laporan
- Mungkin beristirahat atau disiksa tuan F dan juga staff lantai 3 sampai jam 4 sore.
- Jam 4 sore aku akan melayani para kuli sampai pagi atau sampai mati.
Entah apa lagi kejutan yang tuan F punya untukku di hari sabtu tapi budak amcam aku hanya bisa pasrah terhadap nasib baruku yang semakin terpuruk ini.
"Saya Minerva Liong, konsultan di perusahaan ini. Saya Lulusan luar negeri"
"Jurusan ngentot ya kafir ?" tanya seorang kuli mencemooh
semua tertawa menertawai aku.
"Saya di hire di perusahaan ini untuk memajukan efisiensi di perusahaan. Saat ini karena pekerjaan saya sedang senggang dan saya sudah dibayar mahal, tuan F memerintahkan budaknya ini untuk melayani tuan-tuan semua setiap hari Jumat sore jam 4 sampai sabtu pagi. Silahkan tuan menggunakan saya sesuka hat tuan. Budak seperti saya tidak memiliki hak untuk menolak apapun. Tuan-tuan semua boleh pakai tubuh saya untuk kesenangan tuan-tuan tanpa batasan. Tuan-tuan boleh memperkosa mulut saya, memaksa saya menelan semua peju tuan-tuan. Tuan-tuan juga boleh menggunakan anus dan vagina saya untuk menyalurkan hasrat tuan-tuan.
Kedua dada saya ini untuk disakiti dan ditampar ataupun dicubit dan diremas sekehendak tuan-tuan. Jika saya berkata tidak dan ampun jangan hiraukan saya, perkosa saya lebih keras dan jika saya membandel paksa saya. Saya lonte gratisan memang sudah seharusnya diperlakukan seperti ini. Silahkan tuan-tuan menggunakan saya." ujarku pelan-pelan dengan air mata yang terus berurai. aku kemudian menyembah kumpulan kuli-kuli yang bersorak kegirangan. Dan kegelapanpun dimulai.

Komentar
Posting Komentar