Langsung ke konten utama

Rahasia Seorang Istri 4


Kulihat ibu yang gak sengaja ku tabrak kemarin masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kulihat dirinya sudah sadar namun kepalanya masih di perban dan infus masih tertanam di urat nadinya, kulihat lehernya tertahan oleh bantalan yang menggulung agar kepalanya tidak banyak bergerak.

"Dia cedera otak, jadi kepalanya belum boleh banyak bergerak ce" terang pak parno sambil memperhatikan ibu itu.

"Eeee… ibu ini siapanya pak parno ? Tanyaku bingung belum hubungan pak parno dengan ibu yang ku tabrak beberapa hari yang lalu.

"Ini istri pak parno ce" terang pak parno.

"Morina Fanely Tan" ucap pak parno menyebut sebuah nama.

"Itu nama ce Nely ?" Tanya pak parno sambil melihat sebuah nama yang tertulis di atas ranjang istrinya.

Ya mungkin rumah sakit ini menulis namaku karna pada saat mengisi administrasi aku tidak tau nama ibu itu dan aku lah yang bertanggung jawab atas kondisi ibu itu yaitu istri pak parno.

"Maaf pak, aku gak sengaja waktu itu, emang aku lalai bawa mobilnya jadi nya gak sengaja nabrak istri pak parno" terangku menjelaskan kejadian waktu itu, ini semua pun karna pak parno.

"Habis melihat kejadian di toilet lama sekolah aku panik dan kalut pak, aku juga hampir di perkosa sama Agus satpam baru, ini kan salah mu juga pak" gumamku dalam hati tapi aku gak mau menjelaskan hal itu karna takut ketahuan kalau aku mengintip persetubuhan nya denga ce Jesica.

"Yaudah gapapa ce, namanya musibah toh? Terus makasih ya udah bawa istri bapak ke sini, ini pasti mahal ya ce rumah sakitnya ?" Ucap pak parno sambil berdiri mengangkat kursi dan meletakkan nya di sebelahnya.

Aku duduk di samping ranjang istri pak parno, di sebelahku pun pak parno duduk. Kami berdua menatap istri pak parno yang terbujur berbaring di rawat dirumah sakit.
Sejenak kami terdiam, tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirku maupun bibir pak parno, rasanya canggung karna beberapa hari yang lalu obrolan ku dengan pak parno melalui WA, ketika pak parno menggoda ku dan aku mengirim selfie *******. Sepertinya pak parno pun memikirkan hal itu nampak dirinya tersenyum kepada ku, bibir hitamnya mengembang seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikan namun tertahan karna ada istri yang terbaring di depannya.

"Gimana keadaanya Bu ?" Tanyaku memecah suasana saat itu, Nampak ibu itu hanya diam, hanya matanya yang melihat ke arahku.

"Istri saya belum bisa bicara ce, kata dokter akibat pendarahan di otaknya dan ada beberapa saraf di tubuhnya yang masih belum sembuh, jadi beberapa fungsi tubuhnya gak bisa di gunain" terang pak parno menjelaskan kondisi keadaan istrinya.

" Ya ampun, jadi kayak lumpuh gitu ya pak ?" Aku menjadi kasihan akibat diriku istri pak parno jadi lumpuh. Ku genggam tangan istri pak parno merasakan penderitaan yang di alami istri pak parno karna ku.

"Ehhhh ….." aku terkejut karna tiba-tiba tangan pak parno berada di paha mulusku.

Kupalingkan wajahku ke arah pak parno, keningku kukerutkan dan kugelengkan kepalaku.

"Jangghh…." Suaraku tertahan sambil menatap mata pak parno, berusaha agar pak parno jangan melakukan itu di depan istrinya, terasa telapak tangan pak parno yang kasar mulai mengelus paha mulusku.

"Jadi ce Nely ini anaknya sekolah di tempat bapak kerja buk" terang pak parno pada istrinya, sementara telapak tangannya masih mengelus paha mulusku kadang sedikit di remasnya.

Aku hanya memejamkan mata gak tau apa yang mau aku lakukan saat itu, karna takut kalau apa yang di lakukan pak parno dilihat oleh istrinya.

"Cuma ce Nely ini yang ramah sama bapak, yang lain mah cuek cuma anggap bapak satpam yang gak guna doang haha iya gak ce ?" Tawa pak parno menjelaskan sementara tangannya makin intens mengelus pahaku hingga rok yang ku pakai sedikit naik ke atas ulah pak parno yang mengarah kan telapak tangannya ke arah celana dalam ku mencari vaginaku.

"Mmhhh…. Ah… iya pak" suara ku parau karna rangsangan dari jemari pak parno hanya itu yang keluar dari mulutku karna kini rasa geli menjalar di tubuhku oleh perlakuan pak parno.

Kurapatkan kedua pahaku ketika terasa jari kasar pak parno menyentuh celana dalamku, tangan pak parno kini terjepit di kedua pahaku. Kulihat lagi pak parno sambil menggelengkan kepala, nampak raut wajahku sudah di kuasai oleh nafsu membuat pak parno merasa menang atas tubuhku. pak parno tersenyum kearah ku. senyum pak parno mesum, senyum yang seakan ingin segera menerkam seluruh tubuhku.

"Mmmhhhhh……" aku mendesah ketika jari telunjuk pak parno menekan ke vaginaku dari luar celana dalamku, kugigit bibir bawahku dan kupejamkan mataku, sekilas kulihat mata istri pak parno melihat ke arahku.

"Kenapa ce ?" Tanya pak parno seperti mengejekku.

"Ahh.. awas ya pak, udah beraninya meraba pahaku di depan istri bapak, malah pura-pura bodoh lagi" cetusku dalam hati kesal karna ulah pak parno.

Aku langsung bangkit dari tempat dudukku, gak mau keadaan ini berlanjut karna kepalaku sudah sakit karna nafsu sudah berada di ubun-ubunku.

"Baiklah Bu, saya pamit dulu ya, semoga cepat sembuh ya Bu, saya akan sering-sering datang kesini Bu, sekali lagi maaf ya Bu karna kelalaian saya ibu jadi seperti ini" ucapku menundukkan sedikit badanku dan kulihat pak parno tajam karna masih kesal akibat perlakuannya barusan.

"Bapak antar ce Nely dulu ya buk" izin pak parno pada istrinya untuk mengantarkan ku kedepan, kulihat mata istri pak parno hanya menatap kami berdua.

Kulangkahkan kaki ku keluar dari kamar rumah sakit itu, pak parno mengikuti ku di belakang mengantarku keluar.

"Udah Gilak ya pak ? Kalau di lihat istri bapak gimana ?" Gerutuku ketika berada di depan pintu kamar istri pak parno, kulihat sekeliling orang melihat ke arahku karna suaraku saat itu agak keras.

"Ngobrol di tempat lain aja yok ce, gak enak tu di lihatin orang" jawab pak parno melihat sekeliling nya karna beberapa orang juga melihat kami berdua.

Aku tidak menjawab dan melangkahkan kakiku pergi dari situ, aku menuju ke parkiran dan pak parno mengikutiku di belakang ke arah mobilku, ku buka pintu mobilku dan pak parno pun ikut masuk ke dalam mobilku. Sejenak aku terdiam, pak parno pun diam duduk di sebelahku.

Aku menarik nafas dalam ku pandang pak parno di sebelah, kulihat dia juga melihatku. Mata kami bertemu, pak parno menatapku dalam, aku seketika menundukkan wajahku karna malu di tatap pak parno seperti itu. Jantung ku pun berdegup kencang antara nafsu dan malu bertumpuk jadi satu.

"Bapak mau ngomong apa ?" Tanyaku memecah keheningan antara aku dan pak parno di dalam mobil.

"Ee… bapak sayang sama ce neli, bapak suka" ucap pak parno langsung tangannya menggenggam tanganku, aku tidak menghindar membiarkan tangan pak parno menggenggam telapak tanganku.

"Terus ?" Tanyaku kembali wajahku kuangkat dan ku tatap wajah pak parno.

"Bapak mau ce neli jadi pacar pak parno" ucap pak parno mengelus kan jempolnya pada jemariku yang mulus.

"Eemmmm… gak bisa pak, aku udah punya suami" jawabku sambil menunduk.

"Bisa, kita bisa kok pacaran di belakang suami Cece dan istri bapak" terang pak parno memaksaku mau untuk menjadi pacarnya, menyelingkuhi suamiku dengan pak parno yang seharusnya pak parno ini bukan lagi pantas menjadi pacar melainkan ayahku tapi saat ini pak parno malah memintaku menjadi kekasihnya.

Aku hanya diam, saat itu aku gak tau mau ngomong apa. Pikiranku kalut, Hendri yang selama ini sempurna bagiku. Dia selalu menyayangiku, perhatian bahkan bertanggung jawab membahagiakan aku dan anak-anakku.


"Ce neli ?" Pak parno mengelus kepalaku, tangannya sudah berada di atas kepalaku dan wajahnya di dekatkan ke arahku.

"Mhhh……mhhh…." Seketika pak parno mendorong lembut kepalaku dan langsung melumat bibirku, bibirku langsung terbuka menerima lidah pak parno yang menerobos rongga mulutku.

"Sluurppp …slurppp….ahhh…." Terdengar suara mulut kami beradu saling melumat, aku pun tanpa bisa mengendalikan tubuhku ikut memainkan lidahku mengikuti irama lidah pak parno yang menari-nari di dalam mulutku. Lidahku di sedot-sedot oleh pak parno dan terasa liur kami bercampur dan menetes ke daguku hingga ada yang jatuh ke baju yang aku pakai hari itu.

Pak parno melepas kan lumayannya dan memandangku, aku mengelap air liur yang berceceran di daguku. Tatapanku sayu menatap pak parno nafasku pun terengah menahan nafsu birahi yang sudah menjalar di darahku.

"Mau jadi pacar bapak ?" Tanya pak parno sambil menatapku dalam, tangannya memegang kedua pundakku.

Aku hanya menganggukan kepala dan tertunduk malu, mengapa aku menjawab mau. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, aku lupa bahwa aku seorang istri, harusnya aku bisa menjaga kehormatan ku bukannya malah berselingkuh dengan seorang mantan satpam di sekolah anakku.

"Mmhhhh…..sluurppp …" tiba-tiba pak parno langsung melahap bibirku, kini tanganku merangkul kepala pak parno. Pak parno pun meremas payudara ku dari luar bajuku, remasan kasar pak parno langsung menaikkan nafsuku ke ubun-ubun.

"Pakhhh…. Stopphhh…mhhh" desahku berusaha melepaskan cumbuannya.

"Kenapa ce ?" Tanya pak parno melepas bibirnya dari bibirku.

"Takut, banyak orang" ucapku pelan menunduk malu.

Pak parno melihat sekitar parkiran emang sedang ramai orang, ada beberapa petugas parkir yang mengatur parkir dan beberapa pedagang yang jualan minuman serta orang-orang yang berjalan dengan kesibukan mereka seperti kegiatan biasanya di area parkir rumah sakit.

"Kerumah bapak yok" ajak pak parno untuk kerumahnya, ya aku tau apa maksut pak parno, bahwa dia segera ingin merasakan kenikmatan dari tubuhku.

Aku hanya mengangguk menjawab ajakan pak parno, aku gak tau lagi apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Sebentar ya bapak lihat istri bapak dulu, sambil bapak izin dulu" ucap pak parno sambil mengelus pipiku dan ku balas dengan mengangguk.

Kutatap cermin di dalam mobilku, kulihat diriku kini. Hari ini adalah dimana aku mencoreng pernikahanku dengan Hendri, memiliki hubungan dengan pria lain. Pria itu juga sepantasnya jadi ayahku bukan nya seperti ini, malah aku berselingkuh dengannya.

Hendri adalah suami idaman setiap istri, dia gak pernah sekalipun terlihat mau di dekati oleh wanita lain bahkan perhatian nya tidak pernah luput terhadap diriku. Sebagai seorang istri aku cukup bahagia dinikahi oleh Hendri. Namun entahlah saat ini aku sudah buta oleh nafsu birahi.

Tak lama terdengar pintu terbuka dan masuklah pak parno duduk di mobil.

"Yuk sayang" ucap pak parno sambil tersenyum

"Eh ?" Aku hanya kebingungan, canggung dengan sebutan sayang pak parno.

"Boleh dong bapak panggil sayang, kan kita sudah sah haha" tawa pak parno, aku hanya menggelengkan kepala dan terlihat sedikit tersenyum di bibirku karna geli di panggil sayang oleh pak parno.

Kuarahkan mobilku menuju kerumah pak parno, di sepanjang jalan pak parno banyak menceritakan kehidupan nya mulai dia pindah ke kotaku dan bagaimana lika-liku hidupnya, namun tangannya tidak lepas dari mengelus pahaku di sepanjang perjalana. Aku hanya mendiamkan nya saja berlaku seenaknya pada tubuhku bahkan aku menikmati elusan jemari kasar pak parno di pahaku.

"Jangan di elus terus pak aku gak fokus ni bawa mobil, nanti nabrak lagi" komentar ku pada perlakuan pak parno yang sedari tadi mengelus paha mulusku.

"Abis paha Cece mulus banget, kulitnya halus, boleh dong bapak pegang kan udah jadi pacar hihi" tawa pak parno merasa bebas memperlakukan apapun terhadap tubuhku.

"Huuuu… enak aja, masih bini orang ini" ledekku sambil menjulurkan lidah.

"Dirumah iya bini orang, kalau sama pak parno Cece milik bapak hahaha" tawa pak parno senang.

"Dasar… tua-tua mesum, aku gak mau orang lain tau ya pak, ini rahasia kita pak"
Tekanku kalau hubungan ini harus di jaga antara aku dan pak parno.

Ternyata rumah pak parno dekat dengan pos di tempat Sukri sering nongkrong, mobilku melewati pos itu dan kulihat ternyata ada Sukri disitu sedang main domino bersama teman-teman nya, namun dia tidak melihat mobilku lewat karna sibuk bermain dan tertawa bersama teman nya.

Sampailah aku di sebuah perkarangan rumah kosong, ku arahkan mobilku di bawah batang besar.

"Parkir disini aja ce, rumah bapak masuk ke dalam, mobil gak bisa masuk" terang pak parno dan langsung membuka pintu mobil.

"Yuk" ajak pak parno berjalan ke dalam gang kecil.

Ramai anak-anak bermain dan ada beberapa ibu-ibu yang beraktifitas.

"Nah ini rumah bapak" pak parno berjalan ke pintu rumah dan langsung meraih kunci untuk membuka pintu rumahnya.

"Sini masuk ce neli" pak parno meraih tanganku untuk masuk kerumahnya, pak parno terlihat menjulurkan kepalanya keluar melihat kiri kanan, mungkin memantau apakah ada orang yang melihatnya membawaku masuk kerumahnya.

"Gak ada orang pak ?" Tanyaku, melihat sekeliling rumah pak parno. Rumah pak parno ini tergolong kecil, cuma sepetak dengan dua buah kamar dan jika kulihat lurus kebelakang langsung terlihat dapur dan kamar mandi.

"Bapak cuma tinggal berdua dengan istri bapak, anak bapak sudah nikah , tinggal di luar kota" terang pak parno

"Sini ce" pak parno menarik lenganku ke arah sofa,lantas aku mengikuti nya.

Pak parno duduk di sofa dan di tariknya tubuhku sehingga aku tiba-tiba kini sudah duduk di pangkuan pak parno. Tangannya berada di kedua bongkahan pantatku, tangannya menyampingkan poni ku di tatapnya mataku dan tanpa perintah dari pak parno aku langsung mencium bibirnya.

Nafsu sudah menguasaiku dari mobil tadi akibat perlakuan pak parno terhadap tubuhku.

"Mmhhh….slurpp….. slurpp…" ku hisap bibir pak parno dan nampak pak parno mengimbangi permainan bibirku. Kami saling beradu lidah kadang lidahku di sedotnya dan kadang aku pun menyedot lidah pak parno.

Pantatku di remasnya dan punggung ku di elus oleh pak parno, dadaku membusung ke depan dan pantatku menungging. Aku tidak pernah di posisi ini sebelumnya bahkan dengan Hendri hanya melakukan layaknya hubungan biasa, aku di bawah dan dia diatas dan Hendri langsung keluar dengan posisi itu.

Kini bajuku di angkat pak parno dan di lemparkannya entah kemana, tatapan ku sayu menatap pak parno. Kini aku sudah bertelanjang hanya bra ku yang menahan kedua payudaraku kemudian pak parno menarik pengaitnya dan melepas bra ku, di lemparkannya ke samping.

Aku kembali mencium pak parno kini dengan bebas pak parno mengelus punggung mulusku.

"mmhhh…..slurppp…..ahhhh" nafasku mulai berat menandakan nafsuku sudah naik.

"Ouhhhhh…." Kepalaku mengadah ke atas ketika bibir pak parno menyedot putingku. Lalu ku tatap pak parno yang dengan rakus melahap payudaraku.

"Susumu gede juga ya ce" komentar pak parno terhadap payudaraku.

"Emmhhh… wangi.. slurpp…" racau pak parno langsung melahap payudaraku kiri dan kanan. Pak parno memelintir putingku yang kiri sementara kepalanya menyedot-nyedot putingku sebelah kanan.

Aku hanya bisa menatap sayu apa yang pak parno lakukan, sambil memeluk kepala pak parno seakan tidak boleh kepala itu lepas dari payudara ku.

"Ahhhh….. pakhhh… jangan di merahin…" desahku parau ketika pak parno mencupang di atas payudaraku yang kanan.

"Hehe maaf sayang, abis tetek Cece gemesin, Gilak ni tetek enak bener kenyal, besar" puji pak parno pada payudaraku.

"Iyahhh…. Tapi jangan di merahin…. Ahhh…. Nanti suami ku curiga gimana…ouhhhh" desahku padahal aku kesal pak parno meninggalkan bekas cupangannya di tubuhku.

"Mhhh… biarin…mmhhh…. Ini tanda kalau ce neli sah jadi milik pak parno..mmhhh" ucap pak parno sambil menyedot kedua putingku kiri dan kanan.

Aku hanya menggeleng kan kepala menahan nikmat yang di berikan pak parno. Tiba-tiba pak parno membaringkan tubuhku di sofa dan langsung menjilati payudaraku kemudian ke leher. Tak seinci kulit putihku lepas dari jilatan pak parno, dari payudara leher kini basah oleh liur pak parno.

"Ouhhhhh…. Geli pak….ahhhhh" desahku menerima rangsangan jilatan bibir pak parno.

Pak parno kembali melumat bibirku dan mengangkat kedua tanganku ke atas, ketiakku pun di jilati oleh pak parno.

"Iihhhh…. Gelii… ahhh…." Tubuhku menggelinjang ketika pak parno menjilati ketiak mulusku.

Terasa cairan cintaku mulai keluar membasahi vaginaku, sementara pak parno terus menjilati ketiakku, terasa basah kini ketiakku oleh liur pak parno. Jilatan pak parno turun dari ketiak ke payudara, di sedotnya kembali payudara ku. Terasa di gigit kecil puting payudara ku.

"Ohhhhhh…… " lenguhku panjang, mataku sayu menatap perlakuan pak parno, jemariku hanya meremas rambut pak parno mengikuti kemana arah kepala itu pergi menjilati setiap inci kulit mulusku.

Jilatan pak parno turus ke perutku kemudian lubang pusarku di jilatnya, terasa perutku sedikit terangkat menerima jilatan pak parno di pusarku.

"Ahhh…. Geli pakk… jangan disitu… ihhh" aku tak kuat menahan geli ketika lidah pak parno menggelitik pusarku.

Jilatan pak parno turun ke arah vaginaku, vaginaku masih tertutup oleh celana dalam. Kaki ku pun terbuka lebar menanti datangnya pak parno pada vaginaku.

"Hmmmm…. Wangi" ujar pak parno mencium aroma vaginaku.

"Gak salah bapak selama ini membayangkan memek Ce neli hihi" tawa pak parno sambil menarik celana dalam ku.

Badanku pun terangkat memberikan jalan pak parno membuka celana dalamku. Pak parno pun dengan sigap membuka bajunya dan celana dasar yang dia gunakan hari itu dan langsung membuka celana dalamnya.

Nampak bergantung penis pak parno yang sudah tegak maksimal.

"Besar pak, ini yang sudah membuat ce Jesica mau selingkuh dengan pak parno dan sekarang aku pun mengikuti nya" gumamku dalam hati.

Pak parno bertekuk lutut di antara kedua pahaku, jilatannya kini mengalir di pahaku yang kiri dan kanan. Kini semakin dalam hingga pinggir-pinggir vaginaku

"Aaaahhhhhh…. Gelihh pakhh….." lenguhku panjang menerima jilatan pak parno.

"Memek Cece mulus banget" ucap pak parno sambil jemarinya mengelus permukaan vaginaku.

Aku hanya menatapnya sayu sambil mengigit bibir bawahku.

"Boleh bapak jilat sayang ?" Tanya pak parno, jarinya terus menggosok ke atas ke bawah vaginaku.

Aku hanya membalas dengan anggukan kepala mengizinkan pak parno berbuat sesuka hatinya pada vaginaku.

"Aaahhhhhhh……." Desahku panjang ketika lidah kasar itu mulai menjilat vaginaku, terasa lidah itu dengan cepat menggelitik vaginaku. Kini cairan cintaku bercampur dengan liur pak parno.

Pak parno membuka lebar kedua pahaku, dia terus menyedot bahkan lidahnya di tusukan sedalam-dalamnya ke vaginaku, pantatku seakan terangkat saat lidah pak parno menyedot klitoris ku.

"Ahhh… geli pak….ouhhh… aku gak kuat…ouhhh" tubuhku menggelinjang menerima perlakuan pak parno.

"Pakhhh… mau pipishhh…" seketika dorongan cairan sudah terasa hendak meledak keluar dari vaginaku.

Seketika pak parno semakin cepat memainkan lidahnya, menyedot dan kadang di gigitnya klitoris ku.

"Aahhhh….ahhhh….ahhh ampunnhhh" desahku semakin kuat, badanku pun terangkat.

"Sreett…srettt …srettt…" kini menyemburlah cairan cintaku di mulut pak parno, pak parno tanpa rasa jijik sekalipun menyedot abis cairan itu.

"Udah pakhhh…ahh… jorok…." Desahku menolak pak parno menhisap seluruh cairan cintaku.

"Hahaha, enak kali ce memeknya, wangi, bapak suka memek ce neli" tawa pak parno. Kulihat sayu bibir pak parno berlumuran liur dan cairan di pipi, dagu dan bibirnya.

"Duduk ce" perintah pak parno sambil menarik lenganku untuk duduk.

"Bentar pak.. lemes…" jawabku karna badanku terasa melayang menikmati orgasme dari jilatan pak parno pada vaginaku.

"Jilatin punya bapak" perintah pak parno yang sudah mengangkang duduk di sofa. Penisnya menggantung menunggu aku untuk menghisapnya.

Seketika aku berjongkok di lantai dan ku arahkan tubuhku di antara kedua paha pak parno. Kugenggam penis itu dan mulai ku naikan ke atas dan ke bawah oleh jemariku.

Terasa bau selangkangan pak parno menyerbak ke hidung ku, bau Yang sebenarnya aku tidak suka namun karna nafsu ku aku jadi tidak menghiraukan bau itu. Ku lirik ke arah pak parno nampak pak parno tersenyum ke arahku, rambutku pun di uraikannya dan di genggamnya ke samping.

Bibir ku pun mulai menjilat penis pak parno, kujilati batang itu dari bawah ke atas. Terasa asin penis pak parno mungkin karna keringat yang menempel disitu dan cairan yang keluar dari lubang penis pak parno pun terasa asin.

Penis itu kini sudah berlumuran air liurku, masih kujilat pinggir-pinggirnya dari bawah hingga ke atas. Jemari ku gak sanggup menggenggam seluruh penis pak parno yang sudah tegak maksimal.

"Hisaphh sayang" perintah pak parno yang masih menggenggam rambutku, wajahku bebas dilihat pak parno yang sedang menjilati penisnya.

Mulai kubuka mulutku dan penis itu masuk ke mulutku inci demi inci namun ketika sampai di pangkal kerongkongan ku rasanya sudah mentok padahal sudah ku masukan sedalam-dalamnya.

"Ouhhh… nikmat sekali mulut Cece" racau pak parno yang semakin menaikan nafsu ku untuk memberikan kenikmatan kepada penis pak parno.

"Terushhh…" perintah pak parno.

seakan menuruti perintahnya aku menyedot penis itu dan menaik turunkan kepalaku, terasa penis pak parno dilidahku dan lidahku pun ku mainkan menggelitik penisnya di dalam mulutku.

"Anjinggg… pintar sekali sayhh… ahh nyepong nya" kulihat pak parno mendesah membuat semangat ku pun semakin menjadi menaik turunkan kepalaku.

Pak parno masih menggenggam rambutku, kulirik mataku ke wajahnya nampak pak parno memperhatikan ku dengan tatapan sayu.

"Ahhhh……." Tarik nafasku panjang ketika penis itu kulepas dari mulutku.

Pak parno mengangkat kedua tubuhku melalui ketiakku dan mengarahkanku menaiki tubuhnya.

Aku pun kini membuka kedua pahaku dan menduduki tubuh pak parno, nampak pak parno mengarahkan penisnya ke arah lubang vaginaku.

"Ahhhhh…… pelanhhh pakhhh.." desahku ketika aku sedikit demi sedikit menurunkan tubuhku. Nampak penis itu sedikit demi sedikit tertelan masuk ke dalam lubang kenikmatan ku.

"Sempit banget ce…ahh…" racau pak parno.

Aku hanya menutup mataku menikmati setiap inci penis pak parno yang masuk, terasa vaginaku kini penuh dan penis itu mentok menyentuh rahimku.

"Blesss.." penis pak parno kini sudah sepenuhnya masuk ke dalam vaginaku. Kutatap sayu wajah pak parno dan pak parno pun senyum kepadaku.

"Anjinggg,.... Bisa ngeremas juga memek Cece" ujar pak parno merasakan kenikmatan di vaginaku.

Kubusungkan payudaraku yang langsung di sambut pak parno dan dengan rakus kini pak parno menyedot-nyedot kedua putingku kiri dan kanan.

Tangan pak parno kini meremas kedua bongkahan pantatku dan memaju mundurkan tubuh ku. Terasa penis itu menggesek vaginaku.

"Ahhhhhh …… ahhhh….." desahku manja ketika semua rangsangan yang pak parno berikan.

Aku tidak tau apa yang harus kulakukan karna tidak pernah selama berhubungan badan aku berada di posisi ini, namun pak parno dengan sigap mendorong maju mundur tubuhku melalui remasan nya pada pantatku.

Di ruangan rumah pak parno hari itu aku sudah menyerahkan tubuhku untuk di genjot dinikmati oleh pak parno, nampak keringat kami sudah mengucur seiring keluar masuk penis pak parno pada vaginaku.

Diangkatnya tubuhku yang masih berada di pangkuannya dan di baringkan ya di sofa. Pak parno mengangkat kedua kakiku dan di letakannya di kedua pundak nya. Pak parno sedikit berjongkok dan memasukan penisnya kembali ke vaginaku.

"Ahhhh….. ahhhhh… Cece sekarang punya bapak yaa, memek ini cuma punya bapak" racau pak parno saat mulai menggenjot vaginaku.

"Aahhhh….ouhhhh pakhhh…." Aku hanya mengangguk menatap pak parno, sudah tidak tau lagi apa yang pak parno bicarakan yang ada hanya rasa gatal pada vaginaku.

"Plakk…plakk…plak…plak…." Bunyi peradua paha pak parno dengan pahaku.

Tempo yang di mainkan pak parno kini cukup cepat sehingga aku hanya bisa mendesah, jemariku meremas ujung sofa dan terlihat payudara ku naik turun mengikuti genjot an pak parno. Keringat pak parno menetes jatuh di atas payudara ku dan tubuhku bercampur dengan keringat ku.

Jeri pak parno meraih kedua bongkahan payudara ku dan langsung reflek tanganku menggenggam tangannya.

"Pakkhhhh… geli pakhhh…ouhhhh" desahku manja membuat pak parno semakin semangat menggenjot ku.

"Enakhh ce…?" Tanya pak parno sambil menatapku, aku hanya mengangguk kan kepala

"Ahhhh…. Pak mau pipishhh lagi pakkhhhh ouhhhh" geli pada vaginaku semakin terasa dan ada sebuah dorongan cairan yang akan keluar dan terasa genjotan pak parno semakin cepat.

Kini pak parno memeluk ku dan kubalas dengan memeluk pak parno, kepalaku kuarahkan ke kuping pak parno dan mencium pipi nya.

"Ahhh … pak gelihh neli mau pipishhh ahhhh…" bisiku di telinga pak parno.

"Sreettt…sreettt…." Orgasme kedua ku pun datang.

Pahaku kulingkarkan di pinggang pak parno, jariku tak sengaja mencakar punggung pak parno karna tak kuasa menahan kenikmatan yang kudapat. Kupeluk erat pak parno dan pak parno pun memelukku erat..

"Ahhhh…..ahhhh….mhhh… cup…" aku mengatur nafas sesekali kucium pipi pak parno dan pundaknya yang sedang memelukku.

"Ahhh…. Jepitan memek ce neli emang mantep, terasa kontol bapak di remas-remas di dalam" bisik pak parno di kupingku.

Aku hanya diam, mataku terpejam dan tubuhku terasa melayang entah kemana merasakan kenikmatan yang pak parno berikan.

Pak parno mulai memaju mundurkan pantatnya lagi sambil masih memeluk ku erat. Terasa leherku yang sudah penuh keringat di jilat oleh pak parno dan pak parno turun menjilati payudaraku Lalu memeluk ku lagi dan menggenjot penisnya di vaginaku dengan tempo cepat.

"Ahhhh…..ahhhh…. Pakkhhhh…" desahku manja mulai keluar saat nafsu sudah muncul lagi di ubun-ubun ku.

"Tubuh pak parno emang tua tapi kenapa tenaganya seperti kuda gak ada habisnya" gumamku dalam hati, Seketika aku memeluknya erat lagi.

"Ahhh .. ahhh… Koko gak ada ngentot Cece kayak gini kan" racau pak parno di kupingku

"Eeh… ahhh pakhhh… terushhh ouhhh" kuanggukan kepalaku, aku tidak tau lagi apa yang pak parno bicarakan yang ada di otak ku hanya rasa gatal pada vaginaku yang ingin di Garuk oleh penis pak parno.

"Kontol Koko kecil kan" racau pak parno kembali di telingaku.

"Ahhhh…..iyaaa pakhhh…." Aku pun menjawab dengan suaraku yang mendesah manja.

"Mana enak kontol bapak apa punya Koko ?" birahi ku semakin meningkat seiring racauan pak parno menghina suamiku Hendri

"Ahhh….. gak tauuhhh pakk… ouhh…" aku gak mau merendah kan suamiku didepan pak parno.

Jemariku mencakar punggung pak parno seiring birahiku yang meningkat oleh genjotan penis pak parno yang semakin kencang.

"Plakk…..plakk… plakk…" bunyi peraduan kami semakin kuat terdengar seisi rumah. Aku gak tau apakah suara desahan ku terdengar sampai keluar yang kutahu saat ini hanya ingin mencapai puncak kenikmatan bersama pak parno.

"Jawabbhhh…." Desah pak parno di kupingku.

"Ahhhh…..ahhhh…. Iyahhh pakk" desahku manja menjawab pertanyaan pak parno.

"Iya apahhh…." Desak pak parno.

"Aahhhh…. Enakhhh… punyahh.. pak parno… uhhhhh terushh pak… ahhh" aku semakin menggila menerima genjotan pak parno.

"Bapak keluar di dalam ya" bisik pak parno

"Ehh…..aahhh.. janganhhh… jangannhhh di dalamhhh…" aku menggeleng kan kepala menolak kalau rahimku di siram oleh sperma pak parno. Namun pelukanku semakin erat pada tubuhnya.

"Mau pipishh… lagi pakhhh…ouhhh" seketika pahaku melingkar di pinggang pak parno.

"Barenghh…" bisik pak parno yang semakin erat memeluk ku.

"Tapihh janganhhh di ahhh… dalamhhh pakhhh..ahhh .." racauku gak jelas.

Kini pak parno tidak menjawab, dia hanya fokus menggenjot vaginaku, kini semakin cepat tubuhku seakan terguncang menerima genjotan pak parno dan seketika pak parno mencabut penisnya dan berdiri di atas kedua payudaraku.

Pak parno menembak kan sperma nya di atas payudara ku dan ada beberapa yang melesat ke wajahku. Aku pun menggelinjang seperti terkena setrum listrik terasa juga cairan cintaku yang seketika keluar.

Pak parno ambruk di atas tubuhku, aku memeluk pak parno dan mengusap rambutnya.

"Ahhh….. lemashhh pakk…" desahku masih mengatur nafas.

"Bapak juga… ahh…" balas pak parno wajahnya di benamkan di samping leherku.

Tubuh kami basah oleh keringat kami berdua dan sperma pak parno yang berceceran di atas badanku. Kami sama-sama memejamkan mata dan mengatur nafas. Kami terbaring di atas sofa rumah pak parno, sama-sama terdiam menikmati puncak orgasme kami berdua.

"Ce neli ?" Bisik pak parno

"Iya pak ?" Jawabku, kubuka mataku dan kulihat langit-langit rumah pak parno.

"Cece milik bapak ya, Cece gak boleh selingkuh" jawab pak parno menaikan badannya dan menatap wajahku.

"Ihhhh… apaan sih pak, aku punya laki lohh" jawabku sambil menatap pak parno.

"Haha tapi sekarang kita pacaran ya" tawa pak parno gemas melihat ku.

"Iya deh iya" jawabku mengiyakan kata-kata pak parno.

Tiba-tiba pak parno mencium bibirku dan langsung kusambut ciuman pak parno, kubalas permainan lidah pak parno yang berada di rongga mulutku.


(Gambar hanya mulustrasi)

Pak parno kembali mengangkat kepalanya dan menatapku kembali.

"Ngentot dengan Cece enak, memek Cece nikmat" puji pak parno sambil tersenyum.

"Iihhhh… apaan sih pak" langsung ku cubit lengan pak parno

"Aww…. Sakit hahaha" tawa pak parno menerima cubitanku.

"Panggil bapak sayang dong kalau kita udah pacaran" perintah pak parno.

"Ihhhh gak mau" sambil kujulurkan lidahku mengejek pak parno.

"Kok gak mau ?" Tanya pak parno

"Iyaaaa sayang…." Desahku manja kepada pak parno menuruti perintahnya.

"Hahahaha" pak parno tertawa dan langsung mencium bibirku lagi dan kubalas ciuman pak parno.

Di ruangan itu kami saling cumbu, aku gak berfikir lagi statusku sebagai istri orang dan sudah selingkuh dengan bapak yang seharusnya menjadi ayahku.

"Suamiku Hendri, anakku Nico dan velin maafin mami ya mami bukan ibu yang baik" ucapku dalam hati, pak parno masih mencumbuku dan aku masih membalas lumatan pak parno pada bibirku.

"Jam berapa ini pak ?" Tanyaku melepas cumbuan pak parno

"Eee … itu jam 12 siang sayang" jawab pak parno sambil menunjuk jam dinding.

"Udah ya pak, aku jemput Nico sama velin dulu" ujarku sambil menatap pak parno.

"Gak mau, kamu disini aja sayang bapak masih pengen" jawab pak parno menahan tubuhku di pelukannya.

"Jangan pak, aku harus jemput Nico sama velin, besok aku kesini lagi" tanganku sambil mendorong tubuh pak parno.

"Panggil bapak sayang" ucap pak parno senyum kepadaku.

"Iyaaaa sayang…" jawabku manja

"Cup…" aku mengecup bibir pak parno

Seketika pak parno bangkit dan aku pun mencari pakaianku yang berserakan di lantai.

Kulihat pak parno masih bersender di sofa memperhatikan ku memakai kembali pakaianku, dia terus menatap tubuh indahku lalu tiba-tiba pak parno bangkit dan kembali menciumku.

"Ahhh …. Slurppp .." aku pun membalas ciuman pak parno.

"Ahhh… udah pakhhh" pelan kudorong tubuh pak parno

"Nanti Nico sama velin nungguin nih" ujarku sambil memakai bra ku kembali yang tadi terhalang karna tiba-tiba pak parno menciumku.

"Hehehe… Cece nafsuin" tawa pak parno

"Ingat ya pak, ini rasahia kita, aku gak mau orang lain tau" tekanku ke pak parno untuk menjaga rahasia hubunganku dengannya

"Cukup kita yang tau kalau kita ada hubungan di belakang suamiku dan istri pak parno" timpalku menekankan kembali tentang hubungan kami.

"Iya sayang, tenang bapak jaga rahasia" jawab pak parno.

Aku sudah rapi kembali dan bersiap meninggalkan rumah pak parno, pak parno masih duduk di sofa dengan masih bertelanjang belum menggunakan pakaian, kulihat tubuh pak parno yang sudah keriput namun tenaganya saat menggenjot vaginaku tadi tak bisa kubayangkan lagi.

"Nely duluan ya pak, nanti Nely wa kalau sudah sampai" ucapku menutup pintu rumah pak parno. Kulihat kiri kanan tidak ada orang dan bergegas aku meninggalkan rumah pak parno.

Sesampainya di dalam mobil kulihat jam tangan sudah hampir jam 1 siang, kutarik nafas dalam-dalam membayangkan apa yang sudah kulakukan barusan dengan pak parno. Hampir 2 jam pak parno menggenjot tubuhku dan aku beberapa kali orgasme oleh penis pak parno.

Kutatap wajahku di cermin, wajah yang sudah kotor dengan mencoreng pernikahanku dengan Hendri, laki-laki yang berusaha membahagiakan aku istrinya namun aku malah selingkuh dengan lelaki mantan satpam sekolah anakkku.

Aku tidak tau apa yang selanjutnya terjadi pada hari-hariku yang jelas aku menikmati sentuhan bahkan tusukan penis orang lain dalam vaginaku.

"Fiuhhhh….." dengan satu hembusan nafas panjang ku arahkan kaca di mobil ke arah yang lain, aku benci menatap wajahku sendiri yang sudah menghianati suamiku dan keluarga kecil ku.

Hilang kendali.

Terasa pegal-pegal pahaku setelah melakukan persetubuhan hebat dirumah pak parno siang tadi. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, mataku ku pejamkan terbayang senyum pak parno saat menggagahi ku. Sekilas aku tersenyum sendiri membayangkan kini aku pacaran sama pak parno.

"Neli… neli… bodoh banget sih mau aja di rayu sama bapak-bapak tua, sampai tubuhmu di serahkan gitu aja" gumamku dalam hati.

"Kenapa mi senyum-senyum" tegur Hendri

"Eh… eng.. enggak Pi, mami cuma ingat waktu awal kita nikah hihi" tawaku berbohong kepada Hendri, tentunya bukan itu yang aku pikirkan melainkan penis lelaki lain yang sudah mengobok vaginaku siang tadi.

"Oh iya ya haha, dulu waktu belum lahir Nico sama velin sering jalan-jalan. Sekarang kita udah gak pernah lagi ya mi" ujar Hendri sambil membaringkan tubuhnya di sampingku.

"Sini mi peluk" Hendri mengulurkan tangannya dan aku langsung berbaring di dada Hendri,badanku di peluknya dan lenganku seketika di elusnya.

"Hehe iyaa, papi sih sibuk banget di toko" timpalku

"Yaa kan papi sibuk cari uang untuk bahagiain kamu mi. Nico sama velin juga udah makin gede, mau sekolah, papi kan harus nyari uang untuk masa depan mereka" Hendri semakin erat memelukku, terasa begitu tulus suamiku ini mencintaiku.

"Maaf Pi, aku bukan orang yang pantas papi bahagiain, mami udah membiarkan tubuh mami di nikmati oleh orang lain" seketika aku memeluk erat-erat tubuh Hendri.

"Yaudah besok papi cari waktu kita liburan ya" Hendri langsung menatap wajahku dan dengan sekejap mencium bibirku.

Dengan cepat Hendri memasukan jemarinya ke dalam tangtop ku dan meremas payudara ku. Seketika aku langsung ingat cupangan pak parno di payudaraku yang belum menghilang.

"Pi… besok aja ya, mami belum fit" kudorong tubuh Hendri pelan menolak untuk melakukan kewajiban ku sebagai istri malam itu.

"Mami masih sakit ya, yaudah kita langsung istirahat aja ya mi" sambil menyamping kan poniku dan mengecup keningku.

"Ehh iya Pi, makasih ya" ucapku sambil tersenyum. Begitu perhatian nya suamiku, andai saja dia tau kalau aku sudah melukai hatinya, menghancurkan harga dirinya dengan selingkuh dengan orang lain.

"Maaf ya Pi, mami harusnya melakukan kewajiban mami, malah orang yang menikmati tubuh mami, malah mami memberikan vagina mami untuk orang lain yang seharusnya untuk papi" gumamku dalam lamunan, tubuhku masih di peluk oleh Hendri terdengar dengkurnya halus bertanda Hendri sudah tertidur.

Kemudian ku angkat tubuhku duduk di ranjang, kulihat suamiku sudah tertidur pulas. Kugerai rambut ku lalu kemudian kuikat sehingga menampilkan leher mulusku, lalu kuraih hp ku yang ada di atas meja samping ranjang ku, Kulihat dari WA pak parno masuk.

"Udah tidur sayang ?" Isi pesan pak parno.

"Belum pak" aku membalas pesan dari pak parno.

"Pak besok kalau WA jangan manggil sayang ya, nanti dilihat suamiku loh" ku kirim pesan lagi ke pak parno.

Belum ada balasan dari pak parno, kemudian aku bangkit lalu bersender di pinggir ranjang sambil membuka YouTube. Tak berapa lama masuk balasan dari WA pak parno.

"Hehe abis kangen ce" balas pak parno sambil mengirim emot cium

"Kangen..kangen.. nnti di baca suamiku gimana" balasku ketus.

"Hehe iya maaf, jadi besok bapak kalau mau WA gmna ?" Tanya pak parno, sejenak ku fikirkan bagaimana supaya pak parno menghubungi ku tapi jangan sampai mencurigakan.

"Kirim P aja gpp pak, nanti ku balas kok" balasku.

"kalau pesan begitu kan gak tau maksut pak parno apa jadi ya seperti biasa aja" gumamku dalam hati

"Kok P ce, kalau N boleh gak ?" Balas pak parno.

"Kok N pak ?" Tanyaku heran apa sih maksut pak parno

"N itu ngentot yuk hahaha" balas pak parno sambil mengirim emot tertawa.

"Ihhh… dasar mesum ya pak parno, tadi siang udah loh padahal" balas ku kesal namun bibirku tersenyum gemas melihat pak parno mesum kepadaku.

Aku tersadar ulah pak parno yang meninggalkan bekas cupang di atas payudaraku, kemudian kubuka baju kaos ku kini tinggallah aku memakai tangtop.
Kuambil foto selfie lalu kukirim ke pak parno.

"Ni lihat…ulah bapak aku jadi gak bisa di ajak begituan sama lakiku" balasku kesal karna gara-gara cupangan pak parno.

"Begituan apaan ce ? Ngentot ? Hahaha" pak parno kembali menggoda ku dengan kata-kata joroknya.

"Eeeee… iya itu" balasku bingung menyebut kata-kata itu karna gak pernah aku menyebut kan kata vulgar seperti itu.

"Hahahaha……" balas pak parno hanya tertawa

"Iiii…… ketawa lagi" pak parno malam itu membuatku kesal namun entah mengapa aku senyum-senyum sendiri.

"Hahahaha yaaa bagus dong, berarti memek Cece cuma pak parno yang boleh masukin pakai kontol bapak" balas pak parno, obrolan pak parno sudah tidak pakai filter lagi.

"Iiihhh… apaan sih pak, aku ada laki loh…" balasku sampai mengirim emot mengejek.

"Hahaha… gak apa punya lagi, tapi bapak bebas ngentot ce neli hihi" pak parno semakin menggoda ku malam itu.

"Dasar mesum…fikirannya pak parno itu ya cuma mau itu aja" balas ku ketus

"Itu apa ce hahaha ?" Balas Pak parno nampak menggoda ku.

"Itu yang bapak bilang tadi…iihhhh" kesalku pak parno seperti mempermainkan ku.

"Sebut dong hahaha" balas pak parno.

"Gak mau weekkk" balas ku sambil mengirim emot mengejek.

"Eh udah ya pak.. suamiku bangun, jangan di balas lagi" tiba-tiba Hendri bangun dari tidurnya dan melihatku yang duduk di pinggir ranjang.

"Belum tidur mi ?" Tanya Hendri parau mungkin karna masih mengantuk.

"Ee…. Iya Pi, ni mau tidur tadi mami gak bisa tidur" aku langsung meletakkan hp di meja lalu masuk ke dalam selimut.

Keesokkan harinya aku bangun pagi-pagi, kebetulan hari itu adalah hari Minggu sehingga anak-anak pada gak sekolah tapi aku berniat untuk menjenguk istri pak parno dirumah sakit namun aku bingung mau cari alasan apa ke suamiku.

"Ah.. iya aku ajak Nico sama velin" ucapku sambil berjalan ke kamar anakku.

"Nicoo….. velinn…. Yok bangun temanin mami" ucapku membangun kan kedua anakku yang masih tertidur pulas.

"Ngantuk mi…. Mau ngapain sih…kan hari Minggu " ucap Nico anaku yang malas-malasan bangun.

"Koko temanin mami ya, kita jalan-jalan" ucapku mengelus kepala anakku.

"Yuk cepetan" aku segera menggendong velin dan memandikan kedua anakku.

Entah kenapa pagi itu aku memakai baju yang terbilang minim menampilkan sedikit belahan payudara ku, sebenarnya biasa saja aku memakai baju seperti ini, tapi karna aku akan bertemu pak parno perasaanku sedikit berdebar.

toko terlihat ramai pembeli. Hendri sepertinya sibuk mencatat nota pembelian pelanggan, nampak juga om Flores sedang mengangkat beberapa sak semen ke dalam mobil pick up.

"Pi… mami ajak anak-anak jalan ya" ujarku berdiri di depan meja Hendri

"Eh… tumben pagi-pagi udah mau jalan aja mi" Hendri menatapku memperhatikan penampilan ku.

"Iya mumpung Nico sama velin libur Pi…" ucapku mencari alasan.

"Ohhh… yaudah hati-hati ya mi, sini Nico velin papi cium dulu" Hendri mendekat ke anakku lalu mencium kening mereka berdua dan terakhir mencium keningku.

Kulihat om Flores memperhatikan kami, kulirik om Flores dan om Flores melemparkan senyum kepadaku.

"Yaudah mami pergi dulu ya Pi" berlalu meninggalkan Hendri.

"Awas ce nenennya tumpah" ucap om Flores saat aku melewati nya.

"Huss…. Mata nya kemana sih om, malah ngeliatin bini orang" ketus ku ke om Flores

"Haha abis seger banget tetek Cece boleh gak om cicip lagi" terlihat Mata om Flores tak lepas dari belahan payudara ku.

"Gak boleh… wekkk" ejekku mengeluarkan lidah mengejek om Flores.

Lalu ku tinggalkan om Flores
"dalam otak ku pasti bangun tuh penisnya" senyumku geli membayangkan penis om Flores

"Mi… katanya mau jalan-jalan kok ke rumah sakit sih" ujar Nico saat mobilku ku parkiran rumah sakit.

"Bentar ya sayang, mami mau jenguk teman mami dulu, yuk kita turun" aku keluar dari mobil di susul oleh kedua anakku.

"Permisi…." Aku membuka pintu ruangan di mana tempat istri pak parno di rawat.

Namun tidak ada jawaban, ternyata pak parno tidak ada di kamar itu hanya terlihat istrinya yang terbaring menatap layar telivisi yang sedang hidup.

Kuletakkan beberapa makanan dan buah yang kubawa di meja lalu kuraih ponselku.

"Dimana pak ?" Ku kirim pesan WA ke pak parno menanyakan keberadaan pak parno.

Namun cukup lama tak ada balasan dari pak parno, beberapa kali kulihat hp ku namun belum ada balasan.

"Ayo mi.. ayo mi…. Kita pergi" rengek kedua anakku sepertinya sudah tak betah di ruangan itu.

"Duhhh…. Mana sih pak parno" gumamku dalam hati.

"Bentar ya sayang" ucapku menenangkan kedua anakku.

Tak berapa lama masuklah pesan dari pak parno.
"Bapak lagi ngopi ce, di warung. Cece dimana ?" Balas pak parno.

"Fiuhh.. baru di bales" gumamku.

"Di kamar istri bapak, lagi jenguk" balasku memberitahu keberadaan ku

"Kesini aja ce, kopi bapak masih banyak sayang di tinggal hehe" balas pak parno menyuruhku datang ketempat nya.

"Gak bisa pak, aku bawa anak-anak" balasku sedikit kesal karna pak parno malah gak mau kesini. Namun pak parno tidak membalas WA dariku lagi.

"Yaudah aku kesana" ku kirim pesan ke pak parno bahwa aku akan menyusul kesitu.

"Nico… velin… tunggu sini bentar ya, mami mau ke depan" ucapku menyuruh kedua anakku menunggu di ruangan tempat istri pak parno itu di rawat.

"Gak mau… gak mau…." Rengek mereka berdua sambil bergelantungan di kedua tanganku.

"Bentar kok… janji" aku melepaskan kedua tangan anakku.

"Tunggu ya, jangan nakal" ucapku lalu berlalu meninggalkan kedua anakku di kamar itu.

Kulirik kiri dan kanan mencari di mana letaknya kantin rumah sakit itu. Setelah berjalan mengitari rumah sakit lalu terlihatlah bacaan kantin, kulangkahkan kaki ku menuju kanti. Terlihat ramai kantin pada pagi itu ada beberapa bapak-bapak yang ngopi dan sarapan.

Kupandangi sekeliling dan nampaklah pak parno sedang merokok. Orang-orang pada melihat ku apalagi bapak-bapak dengan tatapan ke belahan payudaraku seakan mau melahap isi payudara ku yang masih tertutup oleh baju yang kupakai pagi itu.

"Pak…. Ngapain sih disini, aku nunggu dari tadi" ucapku ketus saat kududukan kedua pantatku di sebelah pak parno.

"Haha… ngopi sayang biar juosss" pak parno sambil tertawa dan mengisap rokok yang menempel di kedua jarinya.

"Wihhh mantep bener pak, bini bapak ya" ucap seorang bapak-bapak yang duduk di depan pak parno.

"Hahaha iyaaa bini muda gue nih, manja bener gak mau ditinggal" tawa pak parno membanggakan dirinya di depan bapak itu.

Seketika kucubit telapak tangan pak parno sambil mengerutkan keningku menatap pak parno kesal pak parno tertawa menatapku.

"Kasih resepnya dong pak hahaha" tawa bapak itu sambil melirik-lirik belahan payudaraku.

"Satu aja pak, bisa buat dia jerit-jerit di ranjang hahaha" pak parno tertawa bersama bapak itu.

"Sial….. awas ya pak parno, bisanya ngomongin aku dengan orang lain" aku hanya melipatkan tangan ku di dada membuat kedua payudaraku terangkat keatas sehingga belahan payudara semakin terlihat.

Kulihat bapak yang di depan pak parno melirik-lirik belahan payudaraku.
"Rasain Lu… ya.. nelen ludah kan lu sekarang" gerutuku sambil melihat bapak itu menelan ludah memperhatikan belahan payudaraku.

"Yuk ah pak.. anak-anak di dalam loh" aku berdiri dari tempat duduk menarik tangan pak parno, kulihat mata bapak itu tak lepas dari payudaraku.

"Hahahah tu kann… udah ngajakin aja pak" tawa pak parno yang mengikuti tarikan tanganku.

"Hahahaha boleh pak saya bantuin kalau gak kuat" celoteh bapak itu.

"Ntar, kalau di izinin yak hahah" tawa pak parno sambil meninggalkan bapak itu mengikuti tarikan tanganku.

"Sabar dong sayang…. Udah gak tahan ya.." ucap pak parno di belakang ku. Aku hanya diam terus menarik tangan pak parno karna masih kesal dengannya.

Aku terus berjalan ke arah kamar istri pak parno di rawat.
"Ehh….." tiba-tiba tanganku di tarik pak parno ketika kami melewati toilet umum.

"Pak…pak… jangan…" aku menarik tanganku namun kalah kuat oleh tarikan pak parno.

Pak parno langsung menarikku menuju toilet ujung aku tanpa perlawanan langsung mengikutinya. Kemudian pak parno langsung mengunci pintu toilet itu.

"Emmh……pakhhh…..mmhhh" Pak parno langsung mencium bibirku, terasa bau rokok dari hembusan nafas pak parno.

"Sluurppp….slurppp…" pak parno membasahi bibirku dengan liurnya.

"Ouhhh… pakh…. Janganhhh" aku menolak karna takut ketahuan di tempat seperti ini melakukan nya dengan pak parno.

"Bapak gak tahan sayang" pak parno terus mencumbuku.

Nafsuku kian naik saat pak parno terus mencumbuku, kini aku mulai membalas sedotan bibir pak parno pada bibirku, kulilitkan lidahku di lidah pak parno membalas serangan nya pada rongga mulutku.

"Mmhhh……ouhhhh….pakhh…." Kini aku memeluk pak parno dan terasa tangan pak parno sudah menjelajahi bongkahan pantatku.

Terasa pak parno meremas-remas kedua pantatku, bibirnya terus menerus menerobos bibirku. Air liur kami bercecer hingga ada yang jatuh ke leherku dan belahan payudaraku.

"Ahh…..pakhhh…. Gelihh…" pak parno sepertinya tidak rela liurnya jatuh ke belahan payudaraku di sedotnya belahan payudaraku hingga leher dan langsung mencium bibirku kembali.

Aku langsung menangkap bibir pak parno dengan bibir ku, kusedot juga bibir pak parno. nafasnya yang bau rokok sudah tak ku hiraukan kini yang ada hanya nafsu di otakku.

"Pakhhh… cukuphh…" kudorong sedikit badan pak parno.

"Ahh..kenpah.. ce ?" Ucap pak parno terengah-engah.

"Ahh…anakku nunggu pakh.." aku pun terengah menarik nafas diruangan sempit itu aku harus berbagi nafas dengan pak parno.

"Hisap punya bapak ya" pak parno langsung membuka kancing celananya dan mengeluarkan penisnya yang besar dan tegak maksimal.

"Bentar aja ya pak" kutatap mata pak parno lalu perlahan kuturunkan badanku, aku berjongkok di hadapan selangkangan pak parno.

Di hadapanku menggantung penis pak parno yang bersiap untuk menerobos rongga mulutku. Kuraih penis itu dengan jemariku dan ku elus pelan.

"Ahhh…. Tangan Cece lembut banget" kulihat ke atas pak parno mendesah menerima elusan jemariku.

Kulemparkan senyum ke pak parno lalu ku majukan kepalaku, ku kecup kepala penis pak parno dan kujulurkan lidahku menjilat lubang penis pak parno. Terasa asin cairan yang keluar dari lubang penis pak parno namun kuteruskan menjilat, rasa itu masih terasa asing di bibirku.

"Ahhh…. Mantep bener bibir Cece, nyepongnya makin pinter" racau pak parno ketika kumasukan penis itu ke mulutku, kulirik ke atas pak parno menatapku yang sedang memanjakan penisnya dengan lidahku.

Kumasukan dalam-dalam penis pak parno terasa menyentuh ujung kerongkongan ku lalu kulepas.

"Ahhhhhhh……" aku menarik nafas dalam-dalam lalu kulirik lagi pak parno.

"Anjingggg….. udah pintar aja nyepongnya sayang" ujar pak parno keenakan menerima hisapan bibirku.

"Bentar…bentar…" tiba-tiba pak parno meludah ke bawah mengenai penisnya dan tanganku yang saat itu menggenggam penis pak parno.

Lalu aku kumasukan lagi kemulutku penis itu bersama air liur pak parno yang menempel di penisnya.

"Glokk…glok….glokk…" suara mulutku tertahan oleh penis pak parno, kepala ku maju mundur menghisap penis pak parno sementara tanganku mengocok batang nya.

Tangan pak parno meremas rambutku dan terasa dia juga mendorong kepalaku maju mundur. Terasa semerbak bau penis pak parno dihidungku namun tak kuhiraukan lagi.

Entah mengapa nafsuku naik saat menghisap penis pak parno, kuhisap kuat-kuat penis itu.

"Aaaaahhh… bangsatt… enak banget… anjing" pak parno meracau tak jelas saat penis itu aku sedot kuat.

Terasa liur berjatuhan kelantai dari bibirku bahkan ada yang berceceran ke payudaraku, tanganku makin cepat mengocok penis pak parno,


(Gambar hanya mulustrasi ya suhu)

kini lidahku ku tempelkan di kepala penis pak parno. Aku sambil melirik ke atas, kulihat pak parno mengadah ke atas merasakan sensasi menikmati perlakuan ku pada penisnya.

"Ahhh… bapak mau crottt… ouhhh…" tiba-tiba pak parno memasukan penisnya kemulutku hingga kerongkongan ku.

"Mmmhhhhhhh….." desahku tertahan menerima perlakuan kasar pak parno dan terasa semburan spermanya di kerongkongan ku. Mungkin ada sekitar empat atau lima kali penis itu menyembur di kerongkongan ku.

Aku mendorong paha pak parno namun kepalaku di tahan oleh tangan pak parno, rasa ingin muntah yang aku rasakan kini merasakan sperma itu di rongga mulutku bahkan ada yang masuk tertelan.

"Ahh…..bangsatt…. Anjinggg… mulut Cece enak" racau pak parno melepas penisnya dari bibirku.

"Uhukk…uhukk…." Seketika aku terbatuk dan menumpahkan sebisanya sperma pak parno yang berada di mulutku.

"Akhhh… cuih…" aku keluarkan ludahku membuang semua sperma itu keluar.

"Apaan sih pak… ngapa di keluarin di mulutku" ucapku kesal masih berjongkok menatap pak parno.

"Hehe abis mulut Cece gak ada duanya enak banget ce" puji pak parno sambil memasukan penisnya kembali ke dalam celananya dan menaikan resleting nya.

Tubuhku diangkatnya lalu pak parno mencumbu bibirku kembali yang langsung kubalas menyedot-nyedot bibir pak parno.

"Makasih sayang" ucap pak parno menatapku sayu, aku hanya tersenyum.

"Udah yok pak, anakku di kamar istri bapak loh" ucapku sambil merapikan rambut dan pakaianku, ku lap leher dan payudaraku membersihkannya dari liur ku dan liur pak parno.

Pak parno membuka kunci toilet di keluarkanya kepalanya.
"Aman" ucap pak parno.

"Yuk keluar" pak parno menarik tanganku dan kami keluar dari toilet itu.

Kutarik nafasku dalam-dalam, membayangkan kejadian di toilet tadi. Bagaimana bisa aku berbuat mesum dengan pak parno di toilet umum, untungnya tidak ada orang yang datang saat itu.

"Miiii….. lama banget" gerutu anakku kesal saat aku masuk ke ruangan istri pak parno di rawat.

"Maaf sayang mami tadi nyari bapak ini, ingatkan siapa dia ?" Tanya ku kepada anakku.

"Bapak satpam sekolah kan mi ?" Jawab velin anakku.

"Betul velin, ini pak parno yang sering bantuin mami parkir" kataku sambil berjongkok di depan anakku sambil tersenyum.

"Sama bantuin mami velin parkirin tongkat bapak haha" sambung pak parno sambil tertawa

"Eh…. Apaan sih pak jangan gitu dong di depan anakku" ucapku kesal dengan celotehan pak parno.

Kulihat mata istri pak parno hanya melihat ke arah kami,entah dia mengerti atau tidak yang jelas aku sedikit kesal dengan ucapan pak parno barusan.

Kami berbincang-bincang di ruangan itu, nampak anakku terbaring di kasur jaga pak parno, sepertinya dia mengantuk menungguku di ruangan itu.

"Pak… sepertinya anakku ngantuk tu, aku pulang ya" ucapku kepada pak parno.

"Yah kok pulang, bapak masih pengen… ehh kangen haha" tawa pak parno

"Eh.. pak di denger istri bapak nanti" ucapku pelan berbisik.

"Haha kalau denger pun gak bakal ngmng lah ce, kan dia gak bisa ngmng" ujar pak parno

Kulihat istri pak parno hanya menggerakkan matanya melihat ke arah kami.

"Terus bapak maunya gimana ?" Tanyaku.

"Di Deket sini ada hotel murah, yuk ce" pak parno mengajakku untuk ke sebuah hotel.

"Hah… terus anakku gimana pak ?" Aku bingung, gak mungkin aku mengajak anakku masuk bersama pak parno ke hotel.

"Tinggal disini aja sayang, tidur juga tu mereka" pak parno melihat anakku yang tertidur di ranjang tunggu pak parno.

Aku terdiam, aku gak mungkin meninggalkan anakku disini. Nanti kalau mereka bangun gimana, pasti dia nyariin aku.

"Ayok, nnti keburu bangun tu anak Cece" pak parno segera bangkit mengangkat tangan ku untuk mengikuti nya.

Kaki ku melangkah keluar mengikuti pak parno, saat keluar kamar kulihat lagi ke dalam melihat anakku yang tertidur pulas dan kulihat istri pak parno, matanya hanya menatapku.

"Hmmmmm……." Kutarik nafas dalam-dalam.

"Maafin mami sayang" kututup pintu kamar tempat istri pak parno di rawat, kuikuti langkah pak parno menuju parkiran.

"Dimana mobil Cece ?" Tanya pak parno melihat sekitar.

"Disitu pak" kemudian aku melangkah ke arah mobilku di parkiran.

Sampailah aku di dalam mobil dan pak parno duduk di sampingku, kupejamkan mataku sambil menarik nafas dalam.

"Kenapa sayang ?" Ucap pak parno sambil mengelus tanganku.

"Aku takut pak" ujarku membiarkan jemari kasar pak parno mengelus tanganku.

"Gapapa, bentar aja kok" ucap pak parno menenangkan ku.

"Hmmmm……"ku tarik nafas dalam sekali lagi lalu ku starter mobilku berjalan meninggalkan rumah sakit, meninggalkan anakku di rumah sakit itu bersama istri pak parno.

Tibalah kami di sebuah hotel kecil, hotel itu gak jauh dari rumah sakit itu. Jaraknya hanya sekitar 10 menitan. Kulihat pak parno berjalan ke arah mobilku setelah memesan sebuah kamar.

"Yuk ce turun" ujak pak parno sambil memegang kunci kamar, hotel itu sepertinya masih menggunakan kunci karna beda dengan hotel berbintang yang di berikan kartu untuk akses masuk.

Aku berjalan di belakang pak parno, kulihat beberapa tukang bersih-bersih hotel dan receptionist memperhatikanku. Ya aku adalah seorang wanita muda, keturunan Chinese sedang mengikuti lelaki tua masuk ke dalam sebuah kamar.

"Anjing mantep bener tu cewek bor" ucap seorang petugas bersih-bersih kamar.

"Gila ya, tu tua Bangka pake ilmu apa bisa Bawak tuh cewek ke kamar" samar-samar terdengar petugas bersih-bersih membicarakan kami saat aku melewati kamar yang sedang mereka bersihkan.

Kamar yang di pesan pak parno terletak di ujung, kulihat pak parno memutar kunci pintu kamar dan membuka kamar itu.

"Masuk ce" tawar pak parno lalu aku melangkah masuk ke kamar disusul pak parno yang langsung mengunci pintu kamar.

Kulihat sekitar kamar itu, kamar itu memiliki satu buah kipas dan tempat tidur kayu dan hanya ada tv 21 inch di kamar itu.

"Ehhh….. pakhh…." Tiba-tiba tubuhku di peluk pak parno dari belakang. Jemarinya langsung meremas payudara ku.

"Ahhh…. Pakhh…" desahku menerima remasan pak parno pada payudaraku.

Nafsuku seketika naik menerima rangsangan dari pak parno, tubuhku di didorong pak parno hingga menempel ke tembok.

Kini aku menempel di tembok membelakangi pak parno, kupejamkan mataku menunggu apa yang akan di lakukan pak parno, ternyata pak parno membuka seluruh pakaiannya.

Kini pak parno telanjang bulat, di balikanya tubuhku, lalu kurangkul pak parno yang langsung melahap bibirku. Cumbuanku memanas, karna sudah menahan nafsu dari toilet umum tadi ku hisap lidah pak parno hingga keluar dan kusedot-sedot lidah itu.

Pak parno mengangkat kedua tanganku sambil membuka kancing ku satu persatu hingga terbukalah bajuku menampilkan isi di baliknya yaitu payudara indahku yang akan segera dinikmati oleh bapak satpam mantan sekolah anakku yang seharusnya tidak aku berikan keindahan tubuhku pada pak parno.

"Ouhhhh…. Pakhhh…. Slurppp…" ciumanku mengganas menjilati bibir pak parno bahkan saat ini aku yang lebih agresif menjilati bibir pak parno, jemari pak parno pun sudah meremas-remas payudaraku dari luar braku.

"Ohhh….ahhh….ahh…." Terdengar nafasku tersengal kehabisan nafas bercumbu dengan pak parno, tatapan ku sudah sayu menandakan nafsu birahi sudah berada di ubun-ubun ku.

Kuloloskan bajuku dan kubuka celanaku hingga kini tubuhku sudah telanjang hanya bra dan celana dalam yang masih tertempel di tubuhku.

Kupeluk tubuh pak parno lalu langsung kucium lagi bibirnya, pak parno pun membalas sambil meremas kedua bongkahan pantatku.

"Ahhh…. Pakhhh… gelihh ouhhh" desahku yang kini memeluk pak parno, kepalaku berada di pundak pak parno, kugigit pindah itu lalu kujulurkan lidahku menjilati leher pak parno dan menjilati kupingnya.

Entah belajar dari mana aku kini sudah tidak ada rasa malu lagi dalam menjilati pak parno.

"Genjothh nelyhh pakhhh" bisiku di kuping pak parno sambil memberikan desahan manjaku di kuping pak parno.

"Ouhhh… apahh cehh" pak parno pun mendesah menerima perlakuan ku.

"Entothh nelyhh ahhh…" kubisikan lagi di kuping pak parno sambil memberikan desahan manja.

Pak parno seketika mengangkat tubuhku.
"Wowww pak.. ahaha" tawaku terkejut ketika tubuhku di gendong pak parno, kurangkulkan pahaku di pinggang pak parno.

"Badan boleh tua, kalau tenaga bapak masih muda" ujar pak parno memuji dirinya.

"Ahhh…. Iyahhh… bapakhh kuathh" desahku kembali dikuping pak parno.

"Haha boleh bapak genjot bini Ko Hendri" tanya pak parno.

Kutatap pak parno yang masih menggendongku, sambil kugigit bibir bawahku. Kuanggukan kepalaku sambil menatap pak parno sayu.

Pak parno membaringkan ku di atas kasur, lalu dengan sigap dia menjilati leherku.

"Ihhhh…… gelihh pakhh.." desahku mengadah ke atas menerima jilatan pak parno pada leherku.

Leherku yang putih mulus sudah basah oleh liur pak parno, jemariku meremas kepala pak parno, kepalaku mengadah ke atas memberikan akses seluasnya untuk pak parno menjelajah di leherku.

"Pakhhh…. Ahhh…." Hanya desahan yang keluar dari bibirku menerima rangsangan dari jilatan pak parno.

Kuangkat badanku saat pak parno melepaskan pengait bra ku, kini terpampang lah kedua payudaraku bebas di hadapan pak parno.

"Hummmhhh…." Suara bibir pak parno melahap payudaraku, rasanya ingin di telan seluruh payudara ku oleh pak parno.

"Pakhhhhh…… ouhhhhh." Kutatap pak parno sayu yang sedang melahap kedua payudaraku, kiri dan kanan jarinya memelintir ujung pentil ku.
Badanku terangkat seiring sedotan pak parno pada pentil payudara ku.

Jilatan pak parno mengalir ke atas dan langsung mencari bibirku, langsung kutangkap bibir pak parno dan kusedot-sedot lidahnya.

"Sluurppp ….. sluurppp… cuihhh…" terasa pak parno meludahkan ludahnya kemulutku.

"Pakhhhh…" kutatap pak parno yang meludahkan liur nya.

"Telan" ucap pak parno pelan.

Kuanggukan kepalaku lalu menelan air liur pak parno itu, lalu tubuhku di balikanya, kini aku tengkurap.

Pak parno menjilati tengkukku hingga ke leher belakang.
Tubuhku di peluk pak parno dari belakang lalu kupingku di jilati oleh pak parno.

"Ahhh … pakhhh…. Gelihhh… ouhhh" desahku menahan geli karna kupingku di sedot-sedot pak parno.

Jilatan pak parno menjalar ke punggung ku lalu naik lagi ke atas hingga ke tengkukku. Akal sehatku sudah hilang kini nafsu sudah benar-benar menguasai tubuhku.

Pantatku pun menungging karna rasa gatal pada vaginaku.

"Plak ……" pak parno menampar bongkahan pantatku

"Ouhhhhh……" seketika aku mengerang.

"Plak ..plak…..plak…" berkali kali pantatku di tampar pak parno.

Lalu dengan sekali tarik celana dalamku sudah lolos dari bongkahan pantatku. Terasa pak parno meregangkan kedua bongkahan pantatku.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Ni memek mulus banget, bikin bapak kangen terus" puji pak parno sambil mengoleskan jarinya.

"Ouuuhhhhh……"lenguhku terasa di masukan nya jari pak parno ke lubang vaginaku.

Kemudian pak parno menjilati jarinya dan memasukannya lagi
"Ouhhh pakkhhhh….. enakhh…." Desahku manja, kepalaku kubenamkam ke bantal menahan kenikmatan tusukan jari pak parno pada vaginaku.

Pak parno memeluk ku sementara jarinya masih mengobok-obok vaginaku, ku sambar bibir pak parno yang menjilati ku dari belakang.

"Pakhhh…." Desahku manja.

"Iya sayang ?" Jawab pak parno menatapku yang sedang kenikmatan di vaginaku saat di obok-obok oleh jari pak parno.

"Terushhh…. Mau pipishhh…. Ouhhhhh" desahku merasakan aku akan orgasme oleh jari pak parno.

Kurasakan jari pak parno semakin cepat mengobok vaginaku.
"Plok…plok…plok….plokk" bunyi peraduan tangan pak parno dengan bongkahan pantatku.

"Ihh…ihhh… iyahh… ahhhh.." seketika pantatku terangkat ke atas.

"Ahhhhhhh……….." desahku panjang seketika tubuhku lemas terbaring tengkurap di ranjang hotel saat itu.

Tanpa menunggu ku bernafas pak parno membalikan tubuhku, lalu membuka kedua pahaku. Kini penis pak parno bersiap memasuki liang kenikmatanku, di gosoknya penis itu atas dan bawah.

"Ahhhhhhh…. Pakhhh…." Desahku manja dijahilin pak parno seperti itu.

"Kenapa ce ?" Tanya pak parno mengejekku.

"Jangannhhh di gituinhh ouhhhh…" desah ku manja ketika pak parno mendorong kepalanya masuk lalu di tariknya lagi.

Seketika kukerutkan keningku kesal dengan pak parno
"Ihhhh….. pakhh…" ku cubit tangan pak parno.

"Hahahaha…. Kenapa sayang ?" Tanya pak parno menatapku seperti mengejek karna ulahnya hanya menggesekkan penisnya dan memasukannya sedikit.

"Aahhh…….. masukinhhh…" desahku panjang seketika setelah aku mengucapkan itu pak parno langsung menusuk penis nya dalam-dalam.

"Ouuhhhhh………" lenguhku panjang, kutatap pak parno sayu memandang ku. Kucubit lengannya.

"Hahaha kenapa ce, kok bapak di cubit" tawa pak parno menatapku mesum.

"Bapakhhh… jahathhh…" desahku manja menatap pak parno sayu.

"Hahahaha anjing memek Cece sempit banget padahal udah pernah bapak sodok" terasa kedutan penis pak parno pada vaginaku.

"Ahhhhhhhh……." Desahku ketika pak parno menghentakkan penisnya dalam-dalam.

"Apa rasanya ce Nely ?" Tanya pak parno saat aku merasakan kenikmatan.

"Ahhh….." aku hanya mendesah saat pak parno mulai menggenjot penisnya.

"Enak ce ?" Pak parno membuka pahaku lebar-lebar dan mempercepat genjotan nya.


(Gambar hanya mulustrasi)

Kutatap pak parno sayu sambil mengangguk kan kepala, lalu kugigit bibir bawah ku.
"Ahhh…anjing, memek amoy enak banget" racau pak parno saat menggenjot vaginaku.

"Plak…plakk…..plak…." Bunyi peraduan paha ku dan paha pak parno yang semakin cepat saat pak parno menggenjot penisnya dalam-dalam.

Keringat pak parno berjatuhan di payudara dan perutku, karna kami lupa menghidupkan kipas, terasa basah seluruh tubuhku oleh genjotan pak parno saat ini.

Tiba-tiba pak parno mengangkat badanku dan kini aku berada di pangkuannya. Kupeluk kepala pak parno sehingga payudara ku menempel di wajahnya.
Seketika pak parno langsung menyedot putingku.

"Aahhhh….. pakh…. Enakhhh" desahku di kuping pak parno.

"Slurppp …. Slurppp…." Suara pak parno menjilati payudara ku yang penuh keringat.

Ku maju mundurkan pantatku menggenjot penis pak parno yang tertanam di vaginaku.
"Hahaha udah pintarhh cehh" pak parno meremas bongkahan pantatku sambil menjilati payudaraku.

"Eehhh…..enakhh pakhhh" desahku memeluk pak parno erat sambil mendesah manja di kupingnya.

"Apa yang enakhhh" ucap pak parno sambil menggigit putingku.

"Ahhhh….. punyahh bapakhhh" desahku menggigit kuping pak parno, jemariku pun mencakar punggung pak parno tidak tahan merasakan kenikmatan yang kurasakan saat ini.

"Punya bapakh apa namanyahh… ahhhh." Racau pak parno saat aku mempercepat pantatku maju mundur di pangkuan pak parno.


(Gambar hanya mulustrasi)

Semakin erat ku peluk pak parno semakin terasa ada dorongan cairan yang hendak keluar dari vaginaku.

"Kontolhhhh…. Pakhhh…." Desahku mencakar punggung pak parno.

"Ahhhh……ahhhh….pakhhhh…. Mau pipishhh gelihhh ouhhhh" racauku tanpa sadar aku menggerakkan pinggulku semakin cepat karna sebentar lagi akan ada orgasme yang datang, kepalaku mengadah ke atas dan menggantunglah payudaraku di hadapan wajah pak parno.

"Aahhhhhhhhhh……." Satu desahan panjang menandakan orgasme ku datang, kudorong tubuh pak parno kupeluk pak parno kuat dan pak parno pun memelukku erat.

Di elusnya punggung ku yang penuh keringat oleh pak parno, tubuhku kini tak berdaya lagi di pelukan pak parno, entah apa yang akan dilakukan nya terserah aku tidak peduli. Aku tak bisa lagi berfikir otakku rasanya membeku dan tubuhku melayang.

Pak parno mendiamkan tubuhku menikmati orgasme kedua yang kudapat.
"Enak ce ?" Tanya pak parno berbisik

"Eeh… pakhhh enak…. Hahh..hahh.." desahku sambil menarik nafas.

"Bapak belum keluar ?" Tanyaku menatap wajahnya.

"Hehe ya belum lah.. sayang" tawa pak parno sambil menyamping kan poniku.

"Ahhh… Nely udah gak kuat pakkhhh…" kurebahkan kepalaku di dada pak parno.

Tiba-tiba tubuhku di dorong nya kesamping lalu badanku di baliknya. Kini posisiku tengkurap, aku sudah pasrah apa yang akan dilakukan pak parno.

Pak parno memelukku dari belakang, lalu tangannya menjalar mencari payudaraku. Keringat kamipun menyatu membasahi tubuh kami berdua.

Terasa pak parno mengarahkan penisnya ke lubang vaginaku dari belakang.
"Mhhhhhh……" desahku tertahan oleh kasur karna wajahku kubenamkam ke kasur.

"Plok ..plokk…plokk …" terdengar suara peraduan pantatku dan paha pak parno yang mulai menggenjot vaginaku.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Ahhh…… ahhhh….pakhhh…" desahku mulai terdengar kembali saat pak parno dengan kasar menggenjot vaginaku dari belakang.

Kugenggam telapak tangan pak parno dan pak parno mencari-cari bibirku yang langsung kutangkap, kini kami berciuman posisi pak parno menggenjot ku dari belakang.

"Mmmhhhh….ahhhh…mmhhhh…." Terdengar desahku tertahan oleh ciuman pak parno. Kasur ini pun basah oleh keringat kami dan bunyi ranjang kayu ini seperti mau patah karna kuatnya genjotan pak parno.

Kurapatkan pahaku menjepit penis pak parno, kini pak parno membenamkan wajahnya di leherku sambil menjilati keringat ku.

"Ahhhhhhhh pakhhh….ahhhh" desahku keras, kamar hotel yang di pesan pak parno itu kini penuh oleh desah an kenikmatan ku.

"Di dalamhhh yahhh" bisik pak parno di kupingku.

"Ahhh .. gakhhh pakh… gak mauhhh ahhhh" aku berusaha menggeleng dan menatap pak parno sayu.

"Bapakhhh… mau punya anakhh dari ce Nely ahh" racau pak parno.

"Janganhh pakhhh… ahhh… jangannhh di dalamhhh…." Desahku menolak pak parno menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku, namun tanganku erat menggenggam tangan pak parno.

"Plokk ..plakk. …plak…..plak…." Pak parno semakin cepat menggenjot vagina ku dan kini dia memeluk ku erat dari belakang wajah kami bertemu namun hanya desahan yang kami keluarkan.

"Ahhh…bapakhh keluarhh bapakhhh keluarhhh…" semakin cepat genjotannya, tubuh ku seperti terhantam kedepan oleh genjotan pak parno.

"Di luarhhh…… ahhh……di luarhhh" seketika pak parno mengangkat pantatnya dan menyemprotkan spermanya di atas pantatku. Tubuhku pun mengejang mendapatkan orgasme ketiga kalinya oleh penis pak parno.

"Ouhh…bangsattt … enakhh ahhh…." Terasa sperma itu membasahi pantatku lalu mengalir ke pahaku karna kena keringat.

Pak parno terhempas di sebelahku dan tangannya berada di punggung mulusku, di elusnya punggung ku yang basah oleh keringat, aku hanya bisa menatap pak parno sayu.

Kami pun tertidur, aku lupa bahwa ada anakku yang menunggu di rumah sakit. Aku seakan tidak peduli, yang kurasakan saat ini sisa kenikmatan saat aku mendapatkan tiga kali orgasme, tubuhku terasa melayang dan tulangku terasa lolos dari tubuhku.

Aku terbangun hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, aku tersentak. Kulihat pak parno tertidur juga di sebelahku, aku langsung teringat anakku yang tinggal dirumah sakit.

Kupergi ke kamar mandi membersihkan sperma yang menempel dan mencuci vaginaku, kubasahkan tubuhku dengan air karena rasa lengket akibat keringatku dan keringat pak parno.

"Pak..pak… bangun pak…." Ku goyangkan tubuh pak parno.

"Emmmmm…. Apa ?" Gumam pak parno matanya tidak terbuka hanya bibirnya yang berbicara.

"Ayok pulang, anakku dirumah sakit" ucapku masih menggoyangkan tubuh pak parno.

"Emmmmm…. Tar aja" pak parno masih belum bangun.

"Duhhh gimana ini" seketika aku panik, memikirkan anakku, apa yang dilakukan nya dirumah sakit, apakah anakku sudah bangun.

"Ouhhhh semoga aja belum" gumamku.

"Ayolah pak…. bangun…." Ku goyangkan lagi tubuh pak parno namun dia hanya mengganti posisi tidur nya kesamping.

"Yaudah deh pak" aku mengambil tasku dan mengeluarkan uang 300 ribu.

"Aku tinggal ya pak, ini nanti naik ojek aja" ujarku meletakkan uang di sebelah pak parno.

Aku bergegas keluar dari kamar hotel itu, kulirik kiri kanan sepi gak ada orang.
Ketika melewati receptionis aku di tegur oleh bapak-bapak penjaga.

"Eh .. udah pulang aja ce, enak ya tadi ?" Ucapnya pada ku.

Kulihat bapak itu, lalu aku kembali berjalan gak memperdulikan kata-kata nya.

"Maafin mami Nico….velin…" gumamku dalam hati lalu aku bergegas meninggalkan hotel itu.

Kulangkahkan kaki ku menuju kamar tempat istri pak parno dirawat. Ku buka pintu kamar dan kulihat Nico masih tertidur, namun velin tengar terduduk menangis di samping Nico.

"Maafin mami sayang maaf" ucapku langsung memeluk velin.

"Mami jahat… mami ninggalin velin" tangis velin dalam pelukanku.

"Maaf mami tadi pergi terus mobil mami tiba-tiba rusak, yuk kita pulang" ujarku sambil memeluk anakku erat-erat

"Nico yuk bangun sayang kita pulang yuk" kubangunkan Nico anakku, seketika dia duduk dan mengucek matanya.

"Gak jadi jalan-jalam mi ?" Kata Nico masih menahan kantuknya sambil menguap.

"Kita pulang aja yuk, kasian tuh kamu masih ngantuk" lalu kugendong velin dan ku genggam tangan Nico anakku.

"Buk kami permisi ya" ucapku kepada istri pak parno.

Istri pak parno hanya menatapku sepertinya ada yang mau di ucapkan ya tapi tertahan karna mulutnya tidak bisa bicara.

Kututup pintu kamar istri pak parno lalu kulangkahkan kakiku ke mobil diikuti Nico di belakang.
"Fiuhhh…, maaf ya velin, jangan nangis ya, nanti kita beli Boba ya" aku membujuk anakku agar berhenti menangis

Kulihat Nico seperti kebingungan karna tidak tau bahwa aku tadi meninggalkan mereka untuk pergi bersama pak parno ke hotel.
"Maafin mami sayang" ucapku dalam hati, kutatap kedua mata anakku lalu tak terasa air mataku jatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Pengantin Brutal 5

Sheryl Budak Napsu Gurunya

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Aplikasi XBang Oriental 2

Rahasia Seorang Istri

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Majikanku Kena Rampok

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku