Pagi itu aku bangun. Kulihat jam menunjukkan pukul 09:30, seketika aku tersentak.
"Ya ampun kesiangan" namun rasanya kepalaku sakit dan aku menutup mukaku pakai kedua tangan, badanku terasa panas pagi itu sepertinya kondisi badan ku sakit, terasa pegal dan pusing.
Aku berusaha berjalan sempoyongan keluar kamar menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi aku menatap wajahku, wajah yang berdosa. Aku sudah membiarkan penis lain masuk ke dalam vaginaku, andai Hendri tau apa yang akan terjadi pada diriku, pasti aku di bunuhnya atau minimal aku di usir dan di ceraikan ya lalu bagaimana nasib Nico dan velin. Apakah aku bisa hidup tanpa kedua buah hatiku "maafin mami sayang… hiksss…" seketika aku meneteskan air mata.
Penyesalan emang datang terakhir walaupun aku menikmati setiap genjotan dan cumbuan Sukri kmren tapi hatiku terasa sakit. Bisa saja kmren aku teriak tapi kenapa aku sebagai istri malah menikmati hal itu.
"tidak… cukup, itu terakhir dan tidak boleh terjadi lagi" gumamku sambil melihat wajahku di kaca dengan penuh benci terhadap diriku sendiri.
Aku kemudian mencuci muka dan turun ke bawah menemui Hendri.
"Pi Nico sama velin sekolah ? Siapa yg antar ?" Tanyaku pada Hendri. Terlihat Hendri sedang duduk di tokonya sedang menulis beberapa nota pembelian barang.
"Udah tadi papi antar, mami sepertinya sakit jadi sengaja gak di bangunin" ucap Hendri sambil menulis di buku nota tanpa melihat ke arahku. Aku semakin sedih karna telah mengecewakan suami sebaik Hendri, lelaki yang bertanggung jawab dan berusaha membahagiakan ku tapi malah aku kecewakan dengan memberikan tubuhku ke kuli bangunan.
"Mami kemaren kemana ?" Hendri melihat ke arahku.
"Eee…kee.. itu Pi pergi dengan ce Jesica, kebetulan dia ajak jalan ke mall" ucapku berbohong.
"Tumben, biasanya mami gak pernah mau kalau pergi sama Jesica" ucap Hendri masih melihat ku sepertinya dia menebak aku sedang menyembunyikan sesuatu
"Bener Pi, kmren pas abis ketemu di sekolah dia ajak jalan-jalan sambil curhat ktnya lagi ada masalah sama ko Aseng lakinya" terangku mencari alasan untuk berbohong.
"andai saja papi tau kalau kemaren mami lagi di kostan sama kuli bangunan, bersetubuh layaknya kita di ranjang Pi, apa yang bakal kamu lakuin Pi?" Gumamku dalam hati membayangkan apa yang akan terjadi kalau suamiku tau apa yang sudah aku lakukan.
"Oh yaudah, lain kali ngomong mi, di cariin hp gak diangkat. Takutnya kamu kenapa-kenapa" jelas Hendri sambil melanjutkan kerjaannya.
"Iya Pi maaf" balaskub
mataku masih menatap Hendri, betapa baik aku di berikan suami. Istri mana yang tidak bersyukur mendapatkan suami seperti Hendri, selama ini tidak pernah Hendri terlihat dekat atau ada tanda-tanda untuk selingkuh dengan wanita lain. Lantas aku sudah tidur bersama kuli bangunan yang dari kata pantas saja masih jauh, derajat ku mungkin beda dengan si Sukri. Aku adalah keturunan China, ekonomi ku pun tercukupi dari usaha toko bangunan Hendri yang terbilang cukup maju. Aku juga mempunyai dua orang anak Nico dan velin, kenapa aku jadi begini. fikiran dan hatiku berkecamuk, dalam hatiku aku sangat mencintai keluarga ku namun ada hal aneh yang aku rasakan yang aku sendiri tidak mengerti.
"Eh nanti biar papi yang jemput Nico sama velin, nanti bantu jaga toko ya" ucap Hendri
"Eh iya Pi" ujarku yang terkejut dari lamunanku.
"Mami ke kamar dulu ya Pi, nanti mami turun" langkah ku langsung meninggalkan Hendri.
Setibanya di kamar aku duduk di pinggir ranjang, kuraih handphone ku yang di meja. Kulihat ada WA dari pak parno.
"P" kulihat isi WA pak parno. Wa itu sudah masuk dari tadi malam namun belum sempat terbuka.
"Emmm…. Pak parno, ngapain sih dia WA" gumamku
"Iya ada apa pak ?" Membalas WA pak parno, cukup lama WA ku belum di balas oleh pak parno. Kulirik lagi WA nya namun masih belum bertanda biru, kuletakkan hpku lagi lalu aku berbaring merebahkan tubuhku. Masih terasa pusing kepalaku dan badanku terasa pegal-pegal sehabis bersetubuh dengan Sukri.
Ku ingat-ingat lagi kejadian kemarin, cumbuan kasarnya dan teringat lagi berapa kali aku orgasme oleh perlakuan Sukri terhadap tubuhku, dadaku terasa berdegup kencang dan kugesekkan pahaku. Kulihat kebawah pahaku yang putih mulus, terbayang Sukri yang berada di tengah pahaku kemarin, Sukri yang mengobok-obok vaginaku dengan penisnya.
"Hmmmm ….. cukup" ucapku menggeleng kan kepala dan kuarahkan tubuhku ke samping sambil memeluk guling, kupejamkan mataku menghilangkan semua pikiran tentang kejadian kemarin.
"Ting" terdengar hpku berbunyi.
"Apa kabar ce neli ?" Pesan WA yang masuk dari pak parno.
"Baik pak, bapak apa kabar ? Kerja dimana sekarang ?" Tanyaku seolah-olah tidak tau kalau pak Sukri sebenarnya sudah di berhentikan dari sekolah dan semua tentang kejadian di sekolah waktu itu.
"Kok tau bapak gak kerja di sekolah lagi ce ?" Balas pak Sukri.
"Iya abis gak pernah lihat lagi di sekolah, yang ada cuma satpam baru pak" balasku
"Iya bapak di pecat, katanya bapak gak produktif lagi di sekolah, suka duduk-duduk aja, terus udah tua juga katanya, jadi di suruh istirahat deh sama ce Jesica. Padahal kan bapak masih kuat, badan aja nih keriput kalau tenaga mah di suruh ngapain aja hayok hahaha" terang pak parno sambil mengelak kalau dirinya sudah emang benar-benar tua.
"Bener sih kamu udah tua pak, tapi tenaga ? Ah… iya tenaga utk mencicipi tubuh ce Jesica kan pak?" Gumamku dalam hati menanggapi ucapan pak parno.
"Pake gak ngaku lagi pak udah tua hihihi" membalas WA pak parno, entah kenapa aku senyum-senyum sendiri ngobrol dgn pak parno.
"Yeee…. Gak percaya, mau tak bukti kan ?" Balas pak parno seakan tidak mau di katakan dirinya tua.
"Emang mau buktiin apaa hah… ? Lihat tu kulit bapak udah keriput, tandanya udah tua hahaha" balasku menantang pak parno.
"Bapak gendong mau ? Hahaha" balas pak parno.
"Mau di gendong kemana pak ?" Balasku sambil senyum-senyum sendiri.
"Ke kasur hihi" balas pak pak parno tanpa basa-basi lagi.
"Huuuu… enak aja bawa ke kasur, bini orang ni main bawa bawa aja hahaha" balasku sambil mengirimkan emot mengejek.
"Yaaa…. Kalau laki nya gak tau kan gak apa-apa hahaha" balas pak parno
"Kalau tau ?" Balasku
"Rahasia dong jangan sampe tau hahaha" balas pak Sukri seperti mendapat lampu hijau dariku.
"Gak deh pak, takut hihi" balasku menahan agar obrolan ini hanya sebagai candaan.
"Tenang, bapak bisa jaga rahasia haha kapan kita bisa ke kasur ? Ehh .. maksut bapak ketemu haha" balas pak parno terus merayu ku untuk bisa di ajak tidur layaknya aku dan Hendri.
Tiba-tiba aku langsung duduk dan membuka kamera hp ku, kuambil beberapa foto selfie dan kupilih salah satu foto yang menurutku seksi.
"Sekarang" membalas WA pak parno sambil mengirimkan foto selfie tersebut.
"Sini kalau berani kerumah hihi" ku kirimkan pesan menantang kembali ke pak parno, Aku senyum-senyum setelah merasa menggoda pak parno.
"Waduhh….. jgn disitu dong, nnti tau Koko bahaya" balas pak parno
"Huuu…. Beraninya rayu istri orang doang kesini gak ada mental nya pak hihi" balasku tertawa membaca WA pak parno.
"Cklekk" tiba-tiba pintu kamar terbuka
"Lagi chat sama siapa mi, kok senyum-senyum sendiri ?" Tanya Hendri yang tiba-tiba masuk kamar dan memperhatikan ku.
"Eh .. gak Pi, ini lagi chat sama ce Jesica, kemarin ada cerita lucu jadi kami bahas lagi hehe" ucapku berbohong pada Hendri, padahal aku lagi chat sama pak parno mantan satpam sekolah Nico dan velin.
"Maaf Pi, mami bohong terus sama papi,maaf ya pihh" hatiku terasa sakit ketika membohongi Hendri, padahal Hendri adalah orang yang bertanggung jawab dan selalu membahagiakan ku.
"Kenapa neli, kenapa ? sekarang kamu mau aja di goda lelaki lain" gumamku dalam hati, kupandang Hendri yang sedang mengganti pakaian.
"Cup…, masih sakit ya mi ?" Tiba-tiba Hendri mengecup keningku dan meletakan telapak tangannya di keningku.
"Masih Pi sedikit, mau jemput Nico sama velin ya Pi ?" Ucapku sambil berdiri dari tempat tidur.
"Iya bantu lihatin toko bawah dulu ya, gapapa kan ?" Tanya Hendri
"Okey Pi, mami ke bawah ya.. muah…" sambil aku mencium pipi Hendri.
"Yakin ya, kalau kamu masih sakit yaudah papi tutup toko aja ni ?" Tanya Hendri khawatir kalau aku gak sanggup.
"Yakin Pi, hati-hati yahhh" ucapku berjalan keluar kamar dan turun ke toko.
Siang itu toko bangunan sedang sepi, jadi aku hanya santai duduk sambil menonton tv. Kulihat para kuli yang kerja pun tidak ada, mungkin mereka sedang tidur di ruko sebelah tempat om Flores tinggal. Emang biasanya ruko itu jadi tempat istirahat para kuli yang kerja di toko ku.
"Siang, ce mau beli cat warna ini ada ?" Tiba-tiba datang seorang pelanggan di tokoku.
"Bentar ya Cece cek dulu" ucapku membuka buku toko yang di buat Hendri, mengecek stock yang tersedia di toko.
"Ada nih mau beli berapa mas ?" Tanyaku
"2 kaleng yg 1 kg ya" ucap pelanggan tersebut.
Kulirik sekitar, mana sih yang mau di suruh ambil ni, Kuli kok pada ngulang ya. "Dasar kuli pemalas gak ada suamiku kerjannya tidur aja, Awas aja nanti ku kasih tau Hendri " gumamku kesal karna gak ada yang bisa aku suruh ambil cat ke gudang.
"Emmm…. Bentar ya mas saya ambilin dulu" sambil berlalu berjalan ke gudang untuk mengambil pesanan pelanggan tersebut.
"Duh dimana ya…, nah ini dia rak-rak cat"
Ada 3 baris cat yang tersusun di rak tersebut.
"Warna abu-abu…emmmm di bawah gak ada" gumamku menelusuri susunan cat yang berada di baris bawah.
"Di tengah… gak ada, Nah ini dia ternyata"
Akhirnya kutemukan cat yang ku cari ternyata ada di baris paling atas.
Ku jinjit kan kakiku karna emang sedikit agak tinggi untuk meraih cat tersebut.
Saat kaleng cat tersebut sudah ku pegang ,tiba-tiba ada telapak tangan kasar yang ikut meraih cat itu dan telapak tangannya mencengkram kaleng cat itu beserta tangan ku.
Ternyata itu adalah om Flores yang berusaha menolong, terasa tubuh om Flores merapatkan tubuhnya ke badan ku dari belakang.
"Awas ce jatuh" ucap om Flores seperti berbisik di dekat kupingku, reflek rasa geli menjalar di tubuhku.
"Ahh…..ehhh…." Terdengar deru nafasku agak memberat.
"Sini om bantu ce" ucap om Flores kembali namun kali ini dia benar berbisik di kupingku, tangannya mencengkram tanganku yang masih memegang kaleng cat yang di atas. Dengan posisi seperti ini terasa dada om Flores yang menempel di punggung ku, om Flores semakin merapat tubuhnya tanpa ada jarak lagi dengan punggung ku.
"Ehhh……mhhh…mhhh" tanpa sengaja aku menggigit bibir bawahku merasakan geli karna deru nafas om Flores pada kupingku dan tengkukku.
Namun bukannya menurunkan cat tersebut kini tangan om Flores langsung berada di payudaraku, jemarinya yang kasar hitam meremas-remasnya dari luar. Seketika refleks aku merasakan geli dan nafsuku seketika naik. Tanganku yang sebelah masih tertahan di atas menegang kaleng cat.
"Eh… om ngapain.. ahhh…" seketika aku memberontak namun tenagaku tidak berdaya menghadapi om Flores, tubuhnya yang besar dengan mudahnya menahan tubuhku.
"Jangan berisik ce, nanti pelanggan di depan dengar" ucap om Flores berbisik di kupingku.
"Mhhh...Omh mau ngapain,jangan kurang ajarh ahhh…." Nafsuku kian naik menerima perlakuan om Flores yang merangsang tubuhku, tangannya begitu kasar dan rasanya puting payudara ku mengeras seakan minta di perlakukan seperti yang di lakukan Sukri kemarin.
"Mmhhh… wangi…asin tapi enak haha" ucap om Flores seketika di jilat nya tengkuk ku hingga leher belakang dan berakhir di daun telingaku.
"Ouhhhhh…. Jangh…ahnnnhh" bulu tanganku seakan berdiri ketika leher belakangku jilat oleh lidah om Flores, geli rasanya dan terasa keringatku menetes karna ruangan gudang itu terasa panas.
"Lepashhh…lepashh… ouhhh…." Om Flores kembali menjilat belakang leherku, kini tangannya berada di kedua payudaraku. Tangan yang satu berhasil masuk ke dalam baju kaos yang ku pakai dan langsung meremas payudaraku.
Putingku di tekan dan di putar-putar oleh jari kasarnya. Akal sehatku seakan hilang, nafsuku langsung terasa di ubun-ubun, jari om Flores begitu kasar, payudaraku seakan memerah di remas dengan kasar oleh om Flores, lidahnya tak henti-hentinya menjilati pundak dan leher belakangku. Kepalaku mengadah ke atas dan menggeleng kekiri dan ke kanan.
"Ahhh……mmhhh…..ohh…mhhhh" kini hanya desahan yang keluar dari mulutku namun kutahan dengan menggigit bibir bawahku.
"Slurpp..slurppp… " suara lidah om Flores menjilati leherku
"Udah lama om sangek nengok Cece…slurpp.." bisiknya di kupingku
Aku hanya menggeleng merasakan geli di perlakukan seperti itu oleh om Flores.
Seketika om Flores membalikan badanku dan langsung mencium bibirku.
"Mhhh…..mhhhh…" desahku tertahan oleh bibir om Flores, bibirnya yang hitam khas orang timur langsung menyedot lidahku.
Bajuku diangkatnya di atas dadaku dan jemarinya yang kasar mengelus-elus punggubgku. Kulitku yang putih bertemu dengan kulit hitam om Flores, sesekali om Flores meremas bokongku dan aku terpaksa menjinjitkan kakiku, karna bokongku di remas dan tinggi om Flores yang memaksaku harus berjinjit untuk mengimbangi postur tubuhnya.
" Ahh…. Sudah… ouhhh…" om Flores terus melumat bibirku dan kini om Flores memeluk tubuhku merapatkan badan ku ke tubuhnya. Tangan nya berada di belakang kepalaku dan yang satunya berada di bokongku seakan aku tidak boleh melepaskan cumbuannya.
"Ce…. Ceee ?" Terdengar teriak pelanggan tadi memanggilku, Seketika kami tersentak dan sama-sama menoleh ke arah luar gudang.
"Sssttt…. Diam ya ce" ucap om Flores yang jarinya tengahnya di bibirku.
"Udah om, nanti ketahuan" ucapku cemas
"Udah gapapa, jangan berisik ya" tiba-tiba om Flores langsung mencumbuku lagi.
Ahh...Mm..mhhhhh….mhhhh…." Nafasku tertahan menerima ciuman om Flores yang tiba-tiba.
Sedari kapan om Flores menurunkan celana training nya kini penis om Flores menggantung bebas, terasa di balik celana penis om Flores menggesek-gesek dari luar.
Tiba-tiba badanku di dorong ke bawah dan kini wajahku berhadapan langsung dengan penis om Flores. Seketika aku terkejut penis ini begitu besar, mungkin 2 kali penis Sukri kemarin, warnanya sangat gelap dan bulunya tebal keriting, baunya sama seperti bau punya Sukri bahkan agak sedikit bau punya om Flores.
",Cepat hisap" perintah om Flores memegang penisnya dan menampar kannya di pipiku.
Aku menghadap ke atas dan menggeleng kan kepalaku, menandakan aku tidak mau melakukan itu. Namun om Flores menekan kan kepala penisnya ke mulutku yang mau tidak mau penis itu masuk sedikit demi sedikit ke mulutku.
Penis itu tidak muat masuk sepenuhnya hanya setengah nya saja yang dapat masuk, om Flores memaju mundurkan pantatnya dan tangannya menahan kepalaku
"glokk..glokk…glokkk…mhhh" suara mulutku saat penis itu menghujam rongga mulutku, penis om Flores terasa menyentuh ujung kerongkongan ku.
"Anjing, nikmat banget mulutmu ce" racau om Flores.
"Ahhh…….ahhh…..ahhhh" seketika aku menarik nafas sekuatnya ketika penis itu lepas dari mulut ku, hampir saja aku tidak dapat bernafas karna sesaknya penis om Flores di mulutku.
Tiba-tiba om Flores menghujamkan lagi penisnya ke mulutku "glokk….glokk…glok…glokk…" suara mulutku di Hujam penis om Flores , mataku terpejam aku tidak tau apa yang aku rasakan saat ini. Nafsuku seakan naik setiap penis itu melewati rongga mulutku.
"Mau cari apa mas ?" Tiba-tiba suara Hendri terdengar dari luar.
Tiba-tiba aku langsung melepas penis om Flores dan mengelap air liurku yang berceceran, kurapikan pakaianku dan bra ku yang terangkat.
"Duh gawat Koko datang" om Flores pun ikut cemas dengan kedatangan Hendri.
"Cepetan ambil cat itu" perintahku menyuruh om Flores menurunkan kaleng cat yang tadi di pesan pelanggan.
Aku langsung keluar gudang dan dengan perasaan takut menghampiri mereka.
"Eh udah pulang Pi, ini mas nya pesan cat warna abu-abu aku gak tau letaknya dimana" alasanku berbohong kepada Hendri dengan jantung yang berdegup kencang aku berusaha menenangkan hatiku, tiba-tiba om Flores keluar gudang membawa 1 kaleng cat pesanan pelanggan.
"Iya untung tadi om flores datang bantu nyariin, makasih ya om" ucapku mencari alasan.
"Kan pesan nya dua ce" ucap pelanggan tersebut kesal karna lama menunggu mungkin.
"Eh iya maaf, om ambil 1 lagi ya" perintahku kepada om Flores, om Flores langsung berjalan ke gudang mengambil kekurangan cat pesanan pelanggan.
"Udah nunggu lama, kurang pula" celoteh pelanggan itu.
"Maaf ya mas, istriku gak tau dimana letak barang-barang di toko" Hendri membelaku di depan pelanggan itu.
"Maaf Pi, bukannya mami lama tapi mami abis di perkosa. ahh.. bukan Pi, mami menikmati nya Pi, Itu bukan diperkosa" hatiku berkecamuk setelah apa yang terjadi di gudang barusan antara aku dan om Flores.
"Ini mas satu lagi catnya, maaf ya mas" ucap om Flores membawa 1 kaleng cat lagi dan langsung berlalu meninggalkan kami.
"Sekali lagi maaf ya mas, saya kasih discount ya untuk 2 kaleng cat ini" ucap Hendri sambil memberikan nota ke pelanggan itu.
"Ini mas uangnya, makasih ya ko" pelanggan itu langsung pergi
"Yaudah gapapa mi, emang mami gak tau kan letak nya dimana" ucap Hendri menenangkan ku.
"Iya Pi, maaf ya mami udah usaha nyari tadi" ucapku kembali berbohong kepada Hendri.
"Neli… neli.. kok jadi sering bohongin Hendri sih" sakit kepala ku memikirkan kejadian akhir-akhir ini.
"Yaudah mami istirahat gih, lihat tu mami keringatan gara-gara lama di gudang" ucap Hendri mengelap keringat di leherku.
"Ehhh.. iya Pi mami ke atas dulu ya" seketika aku menghindar karna tidak mau Hendri meneruskan tangannya di leherku, karna itu bukan saja keringat melainkan sudah bercampur liur om Flores yang tadi menjilati leherku.
"Yuk Nico, velin kita naik" aku menarik tangan kedua anakku dan segera meninggalkan Hendri.
Rahasia.
Keesokan harinya aku merasa canggung tinggal di rumahku sendiri. Aku merasa seperti orang lain, bukan karna perubahan sikap Hendri melainkan apa yang sudah kulakukan dengan om Flores di gudang.
Bahkan ketika mau ke toko aku urungkan jika ada om Flores, aku masih belum mau bertemu dengan nya. Aku malu dengan diriku menikmati tangan kasar itu menjamah setiap inci kulit mulusku, bahkan ketika penis om Flores masuk ke mulutku pun ada perasaan yang aneh, padahal terasa asin dan bau penis itu tapi kenapa aku tidak dapat menahan nafsu ketika penis itu menyodok-nyodok kerongkongan ku.
"Mi di panggil sama papi" velin anak ku yang bungsu datang saat aku sedang berbaring di kamar.
"Oh iya bentar ya dek" ucapku bangun dari tempat tidur dan bergegas turun ke bawah.
"Kenapa Pi ?" Tanya ku saat tiba di toko.
"Masih gak enak badan mi ? Mau makan apa ?" Tanya Hendri. Begitu perhatian nya suamiku, aku merasa bersalah atas apa yang aku lakukan.
"Masih Pi dikit, tapi udah mendingan kok, apa ya, mau soto Pi" balasku.
"Mami jaga bentar ya, papi belikan dulu. Yuk Adek ikut papi" ucap Hendri menggendong velin dan bergegas pergi untuk membeli makanan.
"Jangan lama-lama ya Pi, hati-hati di jalan" teriakku sambil melambaikan tangan.

Neli
"Fiuhhh…. Untung gak ada om Flores" aku menarik nafas dan duduk di kursi yang biasa Hendri dudukan di toko.
Tak berapa lama tiba-tiba datang lah om Flores, dia langsung duduk persis di depanku. Kami hanya terhalang oleh meja, dia melihatku dengan tatapan mesum dan di keluarkan ya senyumannya.
"Lanjutin yang kemarin yuk ce neli" tiba-tiba om Flores meraih tanganku yang ada di atas meja.
"Ih.. ngapain, ingat ya kemaren itu hanya keberuntungan om. Nanti lama-lama ku lapor Koko loh ya" gertakku karna kesal merasa tidak di hargai posisiku ini adalah istri dari bosnya, sementara dia adalah kuli yang jadi tukang angkut barang bangunan di toko ku.
Tiba-tiba om Flores pindah ke belakang kursiku, lalu dengan cepat dia memegang pundakku, om Flores mengurut ku pelan.
"Kalau sakit itu perlu di pijet ce kayak gini" om Flores menekan-nekan pundakku dan sesekali meraba leherku hingga ke pangkal payudara ku.
"Eh….om.. om lepas jangan, nanti nampak orang loh" aku seketika panik dan hendak berdiri namun di tahan oleh tangan kasar om Flores.
"Sssttt…. Nikmatin aja ce, om pinter loh mijit haha" om Flores melanjutkan pijetannya. Mulai dari pundakku hingga ujung leherku di pijet om Flores.
Namun sesekali om Flores bukan memijat dia hanya mengelus-elus leherku dan menggelitik kupingku menggunakan jari nya.
"Emmmhhhh…." Nafasku pun terasa berat dan kepalaku mengikuti jemari om Flores.
Terasa jemari kasar nya kini memasuki rongga bajuku dan mencari gundukan payudaraku dan dengan cepat dia meremas kuat payudara ku.
"Mmhhhhmmmm…., Eh om, janganhhh" seketika aku menggeleng kan kepala dan tanganku menahan jemari om Flores dari balik kaosku.
"Enak ce ? Disini rasanya kencang sekali ce butuh om remas biar rileks haha" tawa om Flores berhasil meletakkan jari kasarnya di payudaraku, terasa remasannya semakin kuat dan putingku pun di pilinnya dan di putar-putar oleh jari telunjuk dan jempolnya.
"Mhhhh…. Janganhh om, nanti dilihat orang.. ouhhh" kepalaku mengadah melihat om Flores yang wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku.
Aku menggelengkan kepala, mataku sayu menatap om Flores, jarinya semakin cepat memelintir puting payudara ku, terasa kini putingku mengeras.
"Ohhhh….. jangannh disinilah ahhh… nnti di lihat orang om..ahhh" kini suaraku parau karna nafsu sudah menjalar di tubuhku, terasa cairan keluar dari bibir vaginaku. Rasanya basah dan gatal, aku merapatkan kedua paha mulusku dan menggesek nya.
"Terus mau di mana ce ?" Tanya om Flores
"Ke gudang" jawabku langsung om Flores berhenti meremas payudara ku.
"Ayo cepat" tiba-tiba om Flores menarik tanganku dan berjalan ke arah gudang.
Setibanya di gudang om Flores langsung melumat bibirku. "Sluurppp….mmhhh…" aku yang terkejut mendapat perlakuan om Flores hanya bisa pasrah menerima cumbuannya, terasa aneh liur om Flores bercampur di mulutku namun bibir tebalnya mampu merangsang nafsuku.
"Ommh…. Tungguhhh… ouhhh" aku berusaha melepas bibirnya yang melumat bibirku.
"Kenapa ce ?" Jawab om Flores menatap wajahku, lengannya di pinggang ku merapatkan badan ku pada tubuhnya.
"Jangan bilang siapa-siapa ya om ?" Tatapku sayu pada om Flores.
"Iyaa.. om gak bilang siapa-siapa, ini rahasia kita" jawab om Flores terasa jemarinya mengelus punggungku dari bawah ke atas hingga jemarinya berada di belakang pundakku.
"Janji ?" Aku memastikan kalau ini akan jadi rahasia antara aku dan om Flores, seorang kuli yang bekerja di toko suamiku.
Aku tidak tau lagi siapa diriku, mengapa aku menyerahkan tubuhku untuk dinikmati oleh om Flores. Seorang kuli yang berbeda status denganku, aku adalah istri dari bosnya. Harusnya aku tidak sepantasnya melakukan ini.
"Janji sayang" bisik om Flores di kupingku.
"Ouhhhh……geli" seketika aku mendesah terangsang hebat oleh bisikan om Flores.
Terasa deru nafasnya menggelitik area sensitif ku.
Tiba-tiba om Flores menjilati leherku, nampak leherku basah oleh air liurnya, kepalaku hanya mampu mengadah berlawanan arah membuka leher ku untuk di jilati olehnya. Dagu leher hingga tengkuk ku tak luput dari jilatannya. Lenganku pun sudah bergayut di kepala om Flores, meremas rambutnya.
"Bini ko Hendri emang mantap, udah lama om mau ngentot dengan Ce neli haha" ucap om Flores setelah puas menjilati setiap inci kulitku yang mulus dan putih.
"Mhhh……." Aku hanya menggigit bibir bawahku menandakan aku juga tengah di kuasai oleh nafsu.
Tiba-tiba om Flores membalikan badanku dan aku seketika menyadar menghadap ke tembok, pantatku sedikit menungging dan dengan sekali tarik om Flores berhasil membuka jelanaku dan langsung dengan celana dalamnya.
Di elusnya pantatku yang mulus, sesekali om Flores meremasnya seperti gemas dengan pantatku.
"Gila… mantap bener nih pantat, gak salah om sange terus setiap ngelihat ce neli" puji om Flores terhadap tubuhku.
Aku hanya bisa memejamkan mataku menerima setiap perlakuan om Flores terhadap tubuhku, seketika om Flores menjilati lubang vaginaku dari belakang. Terasa lidah kasarnya mengorek-ngorek isi dalam vaginaku dan lidahnya juga sesekali mengarah ke anusku.
"Ouhhh geli ommmhhh… gelihhh" desahku menggelinjang menerima jilatan om Flores.
"Ahhh…. Ni memek gak ada baunya" ucap om Flores sambil meregangkan kedua bongkahan pantatku, memperlihatkan lubang vaginaku yang mulus tanpa bulu. Ya aku emang rajin mencukur dan merawat vaginaku.
"Boleh om masukin ?" Entah dari kapan penis om Flores sudah berada di pantatku, om Flores menamparkan penisnya ke pantatku.
Aku hanya melihat ke belakang, melihat penis om Flores yang besar "apa muat penis itu di vaginaku, ouhhh" otakku kini sudah tidak bisa memikirkan hal-hal waras lagi, nafsu sudah benar-benar menguasai ku.
"Pelan ya om, takut sakit soalnya besar" jawabku sambil melihat tangan om Flores yang mulai mengarahkan penisnya ke lubang vaginaku dari belakang.
Dengan posisi aku masih berdiri dan menungging kan pantatku aku melihat om Flores menggesek-gesek kan kepala penisnya di lubang vaginaku.
"Ughhhh……" desah ku tertahan dengan jemariku karna aku takut terdengar oleh orang.
"Ahhh…… pelanhhh…." Kurasakan penis itu mulai menusuk lubang vaginaku, terasa kepalanya masuk perlahan lalu di keluarkan lagi dengan om Flores lalu di dorongnya lagi hingga masuk seperempat nya.
"Ahhhhhh….. sakithhh… pelan omhh.." terasa bibir vaginaku terbuka sedikit lebar menelan penis om Flores yang ukurannya besar. Lebih besar dari ukuran penis Sukri yang dulu pernah memasuki vaginaku.
"Ni memek sempit banget anjing, gak pernah di entot Koko ya, kayak perawan aja lu ce" racau om Flores menerima jepitan vaginaku. Emang ukuran Hendri tidak ada apa-apanya dengan milik om Flores yang hitam besar berbulu, uratnya pun nampak di pinggir-pinggir penisnya.
"Aakkkkhhh…… sakithhh…." Teriakku ketika om Flores mendorong masuk seluruh penisnya ke dalam vaginaku, terasa sesak vagina ku di penuhi oleh penis om Flores.
"Bangsat bangsat… memek Ce neli bisa ngeremas juga rupanya" om Flores menikmati remasan yang dirasakan nya pada vaginaku.
Perlahan om Flores memaju mundurkan penis nya, tangannya menarik berada di pinggulku, om Flores memaju mundurkan penisnya dengan tempo pelan terasa cairanku membasahi setiap inci penis om Flores.
"Ahhh…. ouhh…. Omhhh…" desahku mulai keluar ketika om Flores dengan teratur mulai menggenjot vaginaku.
"Aaahhhhhkkkk….." desahku keras ketika om Flores menghentakkan penisnya dalam-dalam.
"Ssstttt… diam ce nnti kedengaran orang" om Flores menghentikan genjotannya dan menekan penisnya dalam-dalam
Aku melihat ke belakang dan menatapnya sayu sambil menutup mulutku, bibirku ku gigit agar desahanku tidak terdengar.
"Wajah Cece bikin nafsu aja sih" ucap om Flores memaju mundurkan penisnya.
"Ohhhh….ohhhh….mhhhh…" hanya desahan yang keluar dari mulutku yang tertahan oleh jemariku.
Aku tidak tau mengapa di setubuhi orang lain begitu nikmat, apalagi om Flores adalah anak buah suamiku, ini seharusnya tidak terjadi harusnya aku bisa menjaga kehormatan ku sebagai istri.
"Gelihh…ohhh…mau pipisshhh ommh…" aku tidak kuat lagi menahan orgasme dari sodokan penis om Flores.
Om Flores diam dan terus menggenjot vaginaku, sesekali jemarinya meraih payudaraku dan meremasnya.
"Plak…plak ..plak…." Bunyi peraduan paha om Flores dan pantatku terdengar di seisi gudang, desahanku pun terdengar di dalam gudang.
"Ihhh….ahhh…mhhh… aku pipishh ommh…" seketika tubuhku menggelinjang bagaikan kena sentrum. Aku mendapatkan orgasme ku dari penis om Flores, rasanya ingin ku jatuhkan tubuhku namun di tahan oleh om Flores.
Di diamkannya penisnya di dalam vaginaku yang sudah basah oleh cairan cintaku, keringat pun kini sudah membasahi seluruh tubuhku. Aku sudah lupa siapa diriku saat ini yang ada hanya kenikmatan dari setiap genjotan penis om Flores di vaginaku.
"Ouhhhh…..ahhh…." Desahku ketika om Flores mulai menggenjot kembali vaginaku.
"Haha enak mana dari punya Koko ce ?" Tawa om Flores memuji penisnya dan merendahkan suamiku Hendri.
Aku hanya menggeleng kan kepala dan terus menahan desahan, dalam hatiku aku tidak pernah merasakan nikmat di setubuhi oleh lelaki sejak aku menikah dengan Hendri, hanya om Flores lah dan Sukri yang sudah mencoba mencicipi vaginaku dan memuaskan rasa gatal yang mengalir di vaginaku.
"Mi…mi… ini sotonya… mami dimana ?" Terdengar suara velin memanggil dari luar
"Eh… omm.. Hendri udah sampe" seketika aku menarik tubuhku untuk melepaskan penisnya.
"Ahh…. Tunggu om belum keluar…" om Flores masih menahan pinggulku agar tidak melepaskan penisnya.
"Ouhh…sudahhh… nanti ketahuan.. ahh…" ucapku cemas karna om Flores masih menggenjot vaginaku.
"Mi… dimana mi ?" Terdengar suara Hendri memanggil dan langsung om Flores melepaskan penisnya
Akupun tersungkur di lantai, tak sanggup rasanya aku berdiri karna habis merasakan orgasme.
Om Flores dengan cepat memakai celananya dan keluar dari gudang
"Iya ko ? Nyari ce neli ya ?" Tanya om Flores
"Iya kemana ya Cece ? Tadi Koko suruh jaga toko" tanya Hendri bingung, aku hanya mengintip dari dalam gudang belum mau keluar takut Hendri curiga aku keluar dari gudang setelah om Flores keluar dari gudang dengan keadaan penuh keringat. Apa yang ada di benak Hendri kalau aku juga keluar dengan tubuh penuh keringat seperti ini.
"Duhhh… Pi, maafin mami, hikss…hiks…" seketika aku menangis menatap Hendri dari dalam gudang.
"apa mami sudah menghancurkan harga dirimu pi, dengan selingkuh sama anak buahmu yang seorang kuli" air mataku tak berhenti menetes.
"Tadi sih keluar katanya beli pulsa ko" ucap om Flores berbohong, seketika Hendri pergi ke depan toko dan melihat kiri kanan.
Nampak om Flores melirik ke arahku dan memberikan tanda agar aku keluar dari gudang, seketika aku perlahan keluar dan langsung menuju ke kamar.
"Lah kata om Flores beli pulsa mi ? Kok ada disini ?" Tiba-tiba Hendri masuk ke kamar dan merasa kebingungan.
"Iya Pi tadi mau beli pulsa, tapi tiba-tiba kepala mami sakit jadi mami naik ke atas, maaf ya Pi" ucap ku berbohong mencari alasan kepada Hendri.
Hendri mendekat ke arahku dan memegang keningku.
"Iya masih panas mi, yaudah kamu istirahat ya nanti papi suruh velin kesini anterin soto nya" ucap Hendri meninggalkan ku dikamar.
"Sebenarnya ini bukan panas dari tubuhku Pi, ini akibat aku di gudang dan keringat ini karena aku habis di setubuhi oleh om Flores" seketika aku melamun, rasa bersalah kembali muncul dalam hatiku. Istri macam apa aku yang tega mengkhianati suami sebaik dan sesempurna Hendri.
Keesokan hari nya aku beraktivitas seperti biasa, pagi-pagi Nico dan velin sudah siap olehku dan akan ku antar ke sekolah.
"Cup" mami pergi dulu ya Pi sambil mencium pipi Hendri.
"Ya hati-hati ya mi muah" Hendri pun mencium kening ku.
"Yuk Nico velin kita berangkat" aku pun meninggalkan Hendri sambil menenteng tas anakku.
Kulihat om Flores duduk di depan toko sambil minum kopi dan menghisap sebatang rokok. Dia tersenyum kearah ku, aku hanya menunduk dan berjalan cepat ke mobilku.
"Mau dong di cium hehe" tawa om Flores ketika aku lewat di samping nya
"Hus nanti anakku dengar loh" gerutu ku kesal.
"Hehe abis kemaren nanggung om belum keluar" ucap om Flores
"Keluarin aja sendiri wek" memeletkan lidahku sambil tersenyum. Lalu aku berlalu meninggalkan om Flores, dalam hatiku apa yang akan terjadi dirumah setelah apa yang aku lakukan dengan kuli anak buah Hendri.
Setelah mengantar kan Nico dan velin aku pergi kerumah sakit, sudah berapa hari aku tidak menjenguk ibu yang aku tabrak tempo hari.
Kemaren sempat ada suster menghubungi ku katanya sudah ada keluarganya datang, aku ingin datang dan meminta maaf karna kelalaianku aku jadi menyebabkan ibu itu harus di rawat dirumah sakit.
Setibanya dirumah sakit.
"Sus, ibu yang kecelakaan kmren di kamar berapa ya sekarang ?" Tanyaku kepada receptions rumah sakit
"Oh ibu Tami, sekarang di ruang raflesia nomor 3 ya Bu, kami dari pihak rumah sakit sudah menemukan keluarga beliau" terang suster kepadaku
"Baik sus, makasih banyak ya" ucapku lalu pergi meninggalkan receptionis
"Oh ini ruangan raflesia, nah itu kamar nomor 3" seketika aku menemukan ruangan yang aku cari.
"Permisi…." Ucapku saat membuka pintu kamar rumah sakit.
"Iya silahkan masuk" terdengar suara bapak-bapak menyambutku.
Namun tiba-tiba aku terkejut, betapa tidak ternyata di ruangan tersebut ada pak parno, di sebelahnya ada ibu-ibu yang aku tabrak kemarin.
"Pak parno ?" Ucapku terkejut.


Komentar
Posting Komentar