Langsung ke konten utama

Rahasia Seorang Istri 5


Kututup pintu mobil, sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Kulihat Hendri sedang duduk menonton tv, kugendong velin yang masih menangis yang dari tadi tidak bisa diam.

"Velin kenapa nangis sayang" Hendri berdiri lalu segera berjalan ke arahku lalu menggendong velin.

"Hiks…hiks…. Mami jahat" tangis velin sambil mengusap matanya velin.

"Jahat kenapa mami sayang ?" Tanya Hendri sambil mengecup pipinya velin

"Velin di tinggal hikss…di tinggal sendiri di rumah sakit hiksss..hikss.." tangis velin pecah

Hendri seketika menatapku tajam, seperti sifat Hendri biasanya dia tidak pernah mau marah di depan anak-anak. Dulu ktnya dia takut mental anaknya down kalau dengar orang marah-marah.

"Yaudah velin sama Nico masuk kamar dulu ya, nanti papi beliin eskrim, velin jangan nangis lagi ya sayang" Hendri menurunkan velin dari gendongan nya dan mencium kening velin.

Aku hanya terdiam mematung saat itu, masih terasa sakit pahaku akibat di genjot oleh pak parno. Kutatap Hendri yang sepertinya marah emosi kepadaku karna membuat velin anakku menangis.

"Mi… ngapa velin sampe nangis gitu ? Kamu kemana sih ? Knp ninggalin anak di rumah sakit, kamu bukannya mau jalan-jalan terus kenapa sampai rumah sakit" cecar Hendri dengan berbagai pertanyaan, emosi Hendri sedikit naik karna dia emang paling gak suka kalau velin anaknya menangis.

Aku hanya terdiam, dalam hatiku merasa bersalah karna diajak pak parno ke hotel untuk saling memuaskan nafsu birahi kamiz Sampai melupakan velin dan Nico anakku yang tinggal sendiri di rumah sakit.

Kutatap wajah Hendri, nampak wajahnya tegang karna emosi kepadaku.
"Jawab ?" Terdengar suara Hendri sedikit mengeras.

"Maafin mami Pi.." aku menjawab sambil menundukkan kepalaku merasa bersalah.

"Kamu kemana tadi ?" Tanya Hendri kembali.

"Eee…. Tadi itu mami kerumah sakit Pi, jenguk teman mami istrinya kecelakaan" otakku terus berfikir mencari alasan untuk berbohong kepada Hendri.

"Terus kenapa velin dan velin kamu tinggal ?" Hendri terus mencerahku dengan pertanyaan.

"Ehh.. iya Pi, tadi mereka tidur di kamar tempat teman mami dirawat. Terus mami keluar ternyata ketemu teman mami disitu" jawabku bingung karna aku tidak tau mau kasih alasan apa ke Hendri.

"Terus kamu tinggal anak kita berdua di situ ?" Hendri seakan emosi mendengar jawabanku.

"Maaf Pi… hiksss…" seketika aku menangis terus di marahin Hendri. Bukannya karna di bentak tetapi karna merasa bersalah kepada anakku karna aku seorang ibu macam apa yang tega ninggalin anak sendiri demi tidur dengan lelaki lain.

Hendri berjalan ke arahku lalu langsung memelukku, aku menangis tersedu di pundak Hendri. Terasa tangan Hendri mengusap bagian belakang kepala ku.

"Maaf mi, papi terbawa emosi" ucap Hendri lembut sambil memelukku erat.

"Gak Pi, mami yang salah… hiksss… mami gak ngulangin lagi.. maaf… hikhhss…" tangisku pun pecah di pelukan Hendri.

Aku gak tau menggambarkan diriku bagaimana saat ini, Hendri begitu menyayangi ku tapi aku sudah mencoreng harga dirinya dan menusuknya dari belakang, dengan berselingkuh dengan pak parno.

"Yaudah mami ke atas gih, istirahat" Hendri melepas pelukannya dan memegang kedua pundakku sambil tersenyum.

Aku hanya menunduk sambil kuanggukan kepalaku, kemudian Hendri mencium keningku dan aku berlalu meninggalkan Hendri naik ke kamarku.

Malam itu aku duduk di kursi kamarku, kupandangi diriku di cermin. Timbul penyesalan terhadap apa yg aku lakukan selama ini, dimana harga diriku sebagai istri yang selingkuh dengan bapak-bapak mantan satpam sekolah anakku. Menghianati suami sebaik Hendri, suami yang bisa di bilang sudah sempurna untukku.

"Mi… belum tidur ?" Sapa Hendri ketika membuka pintu kamar

"Eh.. iya Pi, belum ni mami nungguin papi hehe" senyumku pada Hendri.

Langsung aku berdiri dan memeluk Hendri erat-erat. Kubenamkam wajahku di dada Hendri, kuucapkan maaf berkali-kali dalam hatiku saat memeluknya. Lalu kutatap Hendri dengan tatapan sayu, seketika Hendri mendaratkan ciumannya di bibirku.

"Mmmhhhh…." Ciuman Hendri lembut mengecup bibirku, berbeda dengan ciuman pak parno yang kasar. Bahkan lidahku terasa di sedot-sedot kuat oleh pak parno saat mencumbuku.

"Mami makin cantik aja hehe" puji Hendri menatap wajahku.

"Haha udah mulai gombal ya Pi" wajahku memerah di puji Hendri.

"Haha iya mi, gak nampak punya anak 2, kalau keluar sendiri pasti di bilang anak gadis" ucap Hendri sambil menyamping kan poniku

"Hmmm iyaaa Pi.. tapi maaf Pi.. mami sudah gak bisa menjaga tubuh mami utk papi, sudah ada 3 penis laki-laki lain yang pernah masuk Pi.." gumamku dalam hati.

Hendri mencium bibirku lembut. Namun entah kenapa dalam otakku terbayang ciuman pak parno yang kasar.

Langsung kulumat bibir Hendri seperti ciumanku sama pak parno kusedot-sedot lidah Hendri dan kujelajahi rongga bibir Hendri terasa liur ku menetes.

"Ouhhh…mihhh…." Hendri kelabakan menerima ciumanku yang kasar tak seperti biasanya aku hanya menerima sentuhan Hendri yang lembut.

Terasa liurku belepotan di bibir Hendri tanganku langsung kuarahkan ke penis Hendri, kumasukan jemariku ke dalam celana boxer yang Hendri gunakan malam itu.

"Ouhhhh……" Hendri mengerang kenikmatan dengan perlakuan jemariku pada penisnya. Selama ini aku tak pernah menyentuh Hendri seperti ini, kami ketika berhubungan badan hanya seperti biasa.

Kuciumi leher Hendri dan kujilati hingga kekupingnya, Hendri meraba punggung ku.

"Ouhhh…. Mi enakkhhh" suara Hendri mengerang kenikmatan oleh jilatanku.
Kubuka satu persatu kancing baju tidur Hendri dan ku keluarkan senyumku, senyum mesum yang biasanya ku berikan ke pak parno.

Kini ku berjongkok, aku berhadapan dengan penis Hendri yang masih terbungkus oleh celana boxernya, lalu dengan sekali tarikan kupelorotkan celananya. Terpampang lah penisnya di depan wajahku.

"Hmmmm… piii.. coba penis kamu sebesar pak parno atau om Flores , atau minimal seperti Sukri" gumamku dalam hati yang tiba-tiba terbayang ketiga penis pria yang pernah memasuki vaginaku.

Kugenggam penis Hendri yang bisa seluruh nya masuk dalam genggaman ku seketika terbayang penis pak parno yang pernah ku genggam, bahkan jariku gak muat untuk menggemgamnya.

"Ouhhhhh…. Miihh….. " lenguh Hendri saat jariku ku maju mundurkan kulihat wajah suamiku yang keenakan dengan perlakuanku.

Aku di tatap Hendri dengan sayu lalu kulemparkan senyum ke Hendri dan dengan sekali telan penis Hendri masuk seluruhnya ke mulutku.

"Ahhhhhh………" lenguh Hendri panjang saat penis itu masuk ke mulutku. Selama ini aku gak pernah melakukan ini kepada suamiku , biasanya kami hanya melakukan nya langsung tanpa ada oral atau pemanasan terlebih dahulu.

"Mi….belajarhh.. dimana ahh…" racau Hendri saat kumajukan kepalaku. Aku diam tidak menjawab kulanjutkan menghisap penis Hendri.

Namun hanya beberap menit kuhisap penis itu Hendri memegang kepalaku.

"Ahh…mii… mau keluarhh… ahhh…" racau Hendri dan benar Hendri langsung memuntahkan spermanya ke dalam mulutku.

Langsung kutarik mulutku dan kutumpah kan sperma Hendri ke tanganku. Kuludahkan semua sperma itu keluar.

"Ahhhh…….." Hendri melenguh panjang dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur.

Aku masih berjongkok dan menatapnya yang sudah terbaring lemas di kasur.
"Pi… mami mau di masukin..kok udah lemas aja sih…" gumamku kesal tapi aku masih merasa bersalah telah berselingkuh dengan pak parno.

"Sini mi baring" ajak Hendri untuk berbaring di sebelahnya dan aku pun berdiri dan mengambil tisu untuk mengelap sperma Hendri di mulut dan tanganku.

"Mi ? Belajar dimana yang barusan ?" Tanya Hendri saat aku berbaring di sebelahnya.

"Eh.. eee…. Gak ada Pi, mami cuma baca-baca artikel katanya kalau mau buat enak pasangan ya gitu Pi, masukin penis ke mulut mami. Gimana enak gak Pi ?" Ucapku senyum sambil melirik Hendri.

"Enak bener mi… kepala papi sampai melayang..ohhh.." Hendri hanya terbaring matanya masih terpejam.

"Pi…. ihhh kok tidur sih" gumamku melihat Hendri yang sepertinya sudah tertidur.

"Hmmmm….." kutarik nafasku dalam-dalam.

Kutatap langit-langit kamarku, kubayangkan apa yang sudah terjadi, di satu sisi aku bahagia mempunyai suami sebaik Hendri dan sayang kepada kedua anakku. Tapi kenapa tubuhku seakan ingin dinikmati lagi oleh penis-penis besar seperti punya pak parno, om Flores atau Sukri.


"Tidak aku tidak ingin keluargaku hancur karna nafsu" gumamku dalam hati.

"Cukup.." hatiku kini berontak, aku sudah beruntung hubungan ku tidak di ketahui oleh suamiku, mengingat velin menangis pagi tadi.

Kuraih hp ku yang terletak di atas meja, ada WA masuk dari pak parno.

"P" isi WA pak parno yang sudah 3 kali masuk, kemudian Pesan itu kubaca saja tanpa kubalas.

"Ce Nely udah tidur" masuk lagi WA pak parno Namun hanya kubaca, malam itu aku ingin menyudahi semua hubungan terlarang ku. Aku ingin kembali normal sebagai istri yang menjaga harga diri suaminya dengan tidak selingkuh dengan lelaki lain.

Sudah dua Minggu aku jalani hidupku dengan normal. Aku sebisa mungkin menghilangkan fikiranku terhadap pak parno, hingga suatu hari aku bertemu dengan ce Jesica di sekolah.

Pagi itu hujan sedang turun, ketika aku habis mengantarkan anakku masuk kelas aku melewati ruang kepala sekolah. kulihat ce Jesica menatap keluar jendela memandangi hujan yang turun.


(Ce Jesica)


(Nely)

"Pagi" ucapku mengetok pintu ruangan.

"Eh Nely, masuk-masuk nel" ce Jesica tersentak dari lamunannya.

"Hehe ngelamunin apa ce jes?" Tanyaku sambil berlalu masuk ke ruangan.

"Eh… gak ada kok, duduk Nely" ce Jesica mempersilahkan ku duduk.

"Kebetulan nih ada nely, kita minum ya" ce Jesica berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan 1 botol beer dan menuangkan kannya ke gelas.

"Silahkan Nely" ucap ce jesica sambil meletakkan segelas beer di depanku.

"Repot-repot banget ce, ada apa nih haha" sambil mengambil segelas beer itu dan meminumnya sedikit.

"Gimana kamu dgn Hendri baik ? Akur-akur aja dong hihi" ucap ce Jesica menanyakan hubungan ku dengan suami.

"Eh.. iya baik dong ce, gak ada masalah tuh hehe" jawabku sambil tersenyum ke ce Jesica

"Kalau ce jes gimana dengan ko Aseng ?" Tanyaku kembali.

Seketika ce Jesica terdiam dan menundukkan kepalanya. Kemudian dia mengambil segelas beer dan meminumnya.

"Eee…maaf ya Nely, Cece gak tau mau cerita sama siapa" nampak wajah ce Jesica memerah.

"Kenapa ce ? Gapapa kok cerita aja sama aku ce" ku genggam tangan ce Jesica, kutebak ini pasti karna pak parno.

"Cece lagi proses cerai nel, sama Koko" ujar ce Jesica tertunduk.

"Hah ? Kok bisa kenapa ce ?" Aku terkejut dengan perkataan ce Jesica.

"Kamu bisa jaga rahasia kan ? Cece percaya dengan Nely" seketika ce Jesica menatap wajahku dengan tatapan sayu.

"Bisa ce, aku gak cerita dengan siapa-siapa kok" ujarku meyakinkan ce Jesica

"Cece di ceraikan ko Aseng, karna kepergok selingkuh" ucap ce Jesica, lalu dia mengambil beer lagi dan menuangkan nya ke gelas yang kosong, lalu kuambil juga gelas beer itu dan ikut meminumnya.

"Kok bisa ce Jesica selingkuh ? Sama siapa ce ?" Ce Jesica ku cecar dgn pertanyaan. Sebenarnya aku sudah menebak kalau dia sudah selingkuh dengan pak parno, karna waktu itu aku sudah melihat apa yang mereka lakukan di toilet lama sekolah

"Ini rahasia ya Nely, kamu janji jangan cerita dengan siapa-siapa?" Ce Jesica kembali menatapku.

"Iya ce, Nely janji" jawabku

"Dengan Agus nel, satpam sekolah" ce Jesica menyebutkan nama Agus.

Dalam hatiku terkejut juga bukannya ce Jesica sudah selingkuh dengan pak parno kenapa dia ketahuan nya sama Agus.

"Ya ampun ce, kok bisa ce ? Cece kok mau sih nyerahin tubuh Cece ke Agus. dia kan satpam beda derajatnya dengan ce Jesica" ucapku bertanya karna penasaran kenapa dia bisa selingkuh dengan Agus.

"Hikss… iya sih nel, sekitar sebulan yang lalu" terisak ce Jesica menahan tangis.

"Bulan lalu ? Terus ?" Kutatap ce Jesica berharap dia meneruskan ceritanya.

"Iya waktu itu Cece balik ke sekolah karna baru sadar hp Cece ketinggalan di laci" ujar ce Jesica.

"Waktu itu sudah malam nel, Cece takut masuk ke sekolah dan minta temenin Agus masuk ke ruangan" ce Jesica kembali bercerita.

"Terus ?" Tanyaku.

"Iya terus pas di dalam, Agus ngerayu Cece, akhirnya Cece kemakan juga sama rayuannya Agus dan melakukannya disini" ujar ce Jesica.

"Cece nyerahin tubuh ce Jesica gitu aja ke Agus ?" Tanyaku, sejenak aku berfikir kalau aku juga seperti itu. Aku juga sama ce sudah nyerahin gitu aja tubuhku ke 3 orang laki-laki. Mereka juga sudah mengobok vaginaku dengan penis-penis mereka.

"Iyaa… bahkan waktu itu kami ngelakuinnya sampai tengah malam, sekitar jam 1 mungkin Cece pulang dari sini" ce Jesica kembali menegak beer dan menuangkan nya kembali lalu meminumnya lagi, sepertinya dia ingin mabuk untuk lebih leluasa bercerita.

"Sampai jam 1 ? Kenapa Cece mau sih kerayu gitu aja" tanyaku kembali penasaran dengan apa yang terjadi.

"Cece gak puasa Nely dengan ko Aseng" ucap ce Jesica sambil meminum segelas beer kembali.

"Hah ? Gak puas maksutnya ce ?" Aku terkejut dengan ucapan ce Jesica.

"Iya gak puas, ko Aseng kalau berhubungan badan selalu keluar cepat dan penisnya kecil, beda dengan punya Agus" sepertinya ce Jesica agak mabuk.

"Agus bisa muasin Cece, Cece gak perduli dia itu siapa tapi kontolnya luar biasa Nely, bisa buat Cece orgasme berkali-kali" ucapan ce Jesica gak terkontrol lagi.

Seketika aku berfikir Hendri juga seperti itu, bahkan kini aku hanya mengoralnya saja dia sudah keluar dan langsung tidur. Kadang juga memasukannya ke vaginaku cuma beberapa kali genjot langsung keluar dan langsung tidur. Seketika aku terbayang pak parno, betapa nikmat yang dia berikan pada tubuhku.

Aku bahkan bisa orgasme berkali-kali dengan penis pak parno dan terbayang juga penis om Flores yang besar hitam dan berurat, Bahkan aku pernah orgasme dengan penis om Flores.

"Ini juga salah ko Aseng nel, kenapa punya kontol kecil" malah ce Nely kini menyalahkan ko Aseng karna keadaan nya.

"Terus ce Jesica masih selingkuh dengan Agus ?" Tanyaku tentang hubungan nya

"Masih" jawab ce Jesica singkat.

"Cece gak bisa lepas dari kontol Agus nel, apa salah Cece mencari kenikmatan dari orang lain kalau kita gak bisa dapatin dari suami cece nel" Sambung ce Nely kembali.

Aku pun berpikir diriku sebenarnya sama dengan ce Jesica, Hendri gak bisa memuaskan ku bahkan aku baru tau apa rasanya orgasme dari penis Sukri, Bukan penis Hendr. Apa salah aku juga ingin merasakan kenikmatan yang sebenarnya kalau suamiku gak bisa memberikan lalu kudapat dari orang lain.

"Hmmmmmm" kutarik nafasku dalam-dalam.

"Terus kenapa bisa ketahuan ko Aseng ce ?" Tanyaku kepada ce Jesica

"Agus ingin memiliki Cece seutuhnya, dia mau tubuh Cece hanya untuk dia nel" ujar ce Jesica.

Dalam hatiku Agus sangat berbeda dengan pak parno, berarti selama ini pak parno adalah orang yang bisa menjaga rumah tanggaku. Dia juga paham status diriku adalah seorang istri, mungkin pak parno menjaga itu sehingga dia tidak mau merusak rumah tangga ku.

Aku tersenyum membayangkan pak parno, entah kenapa aku jadi ingat penisnya yang mengobok vaginaku. Desahanku saat mencapai orgasme bersama pak parno, entah kenapa aku jadi rindu sama pak parno.

"Agus memberikan video kami sedang ngentot ke ko Aseng nel" ce Jesica kembali meminum bir dan di teguknya hingga habis, sepertinya ce Jesica sudah mabuk saat itu.

"Ya ampun ce, tega bener Agus, padahal udah bersyukur bisa nyicipin tubuh ce Jesica. Ce Jesica cantik loh, dia cuma satpam aja kok bisa gitu sih" aku sedikit kesal dengan apa yang di lakukan Agus.

"Gak apa nel, biar tau rasa tu si Aseng karna gak bisa muasin Cece jadi Cece cari kepuasan dgn kontol orang haha" tawa ce Jesica sepertinya dia sudah mabuk sehingga dia meracau gak jelas pagi itu.

"Cece bener gak ada nyesal sedikitpun ?" Tanyaku pada ce Jesica

"Gak, malah Cece tergila-gila dgn kontol nel, kapan-kapan Nely harus cobain ya ngentot dengan orang lain selain suami Nely hihi" racau ce Jesica sambil menatapku tersenyum, nampak wajahnya memerah akibat pengaruh bir yg dia minum.

"Eh… coba ?" Jawabku gugup.

"Iyaaa… cobain ngentot dgn pekerja kasar atau kuli nel, mereka bisa buat kita orgasme berkali-kali, ahhh…. " Tiba-tiba ce Jesica mendesah mungkin dia sedang membayangkan penis Agus masuk ke vaginanya sehingga membuat nafsunya naik.

Kulihat ce Jesica seperti sudah mabuk berat. Dia bersandar di sofa dan matanya terpejam, kulirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 11, Ternyata lumayan lama aku ngobrol dengan ce Jesica.

"Ce Nely pulang dulu ya" aku berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan ce Jesica.

"Mau pulang ya Nely, makasih ya udah nemenin Cece curhat. Ingat ini rahasia kita ya jangan cerita ke siapa-siapa" ujar ce Jesica sambil memainkan ponselnya, sepertinya dia sedang mengetik pesan tapi entah untuk siapa aku gak tau.

"Iya cee… kapan-kapan Nely kesini lagi" lalu aku bergegas pergi meninggalkan ruangan ce Jesica.

Ketika aku berjalan keluar ruangan dari jauh nampak Agus berjalan ke arahku. Aku langsung melangkah kan kakiku pergi dan kulihat keruangan ce Jesica Agus masuk kesitu.

Ce Jesica ada benarnya, apa salah kita menikmati penis laki-laki lain kalau suami kita gak bisa memuaskan kita.

"Hmmmm….." kutarik nafas dalam-dalam dan pergi meninggalkan sekolah.

Di perjalanan otakku tidak karuan, sudah berapa lama aku tidak menghubungi pak parno. Apa kabar dia sekarang dan apa kabar istrinya yang sakit. Kurogoh tas ku dan mengambil ponsel ku, lalu kutelpon pak parno.

Sekitar tiga kali tidak diangkat panggilan ku, Aku lalu memutarkan stirku menuju rumah pak parno. Aku seperti rindu dengannya karna sudah hampir 2 Minggu tidak mendengar rayuannya bahkan aku terbayang penis pak parno kini.

Ku parkirkan mobilku di bawah batang besar dekat rumah pak parno. Lalu aku berjalan masuk ke lorong menuju rumah pak parno, terlihat sedang ramai rumahnya dan ada bendera kuning terpasang di sekitar jalan.

"Siapa yang meninggal" gumamku berdiri di dekat rumah pak parno.

Aku melangkah masuk ke perkarangan rumah dan terlihat orang sedang menyalami pak parno.

"Yang tabah ya pak" begitu terdengar sama suara bapak-bapak dan ibu-ibu menyalami pak parno.

Tiba-tiba pak parno melihat ke arahku yang sudah berdiri di dekat pintu.
"Bentar" ucap pak parno seperti berbicara, aku tidak mendengar suaranya tapi dari bibir nya aku bisa mengerti maksutnya.

Kuanggukan kepalaku lalu aku melihat orang mulai keluar dari rumah pak parno satu persatu. Hingga tinggalah beberapa orang yang sedang membereskan karpet dan beberapa piring makanan, terlihat pak parno melangkah ke arahku.

"Siapa yang meninggal pak ?" Tanyaku saat pak parno sudah berada di depanku. Jantung ku berdetak saat pak parno kembali berada di hadapanku, sudah berapa Minggu ini aku sudah tidak pernah melihat nya namun saat ini dia kembali berada di hadapanku.

"Istri bapak ce" pak parno tertunduk lesu di hadapanku.

"Ya ampun serius pak ?" Aku terkejut kalau istrinya yang kutabrak dulu meninggal, ada rasa bersalah dalam hatiku karna mungkin karna aku yang membuat istrinya masuk rumah sakit dan sekarang sudah meninggal dunia.

"Maaf pak, ini salah Nely" aku meraih tangan pak parno meminta maaf kepadanya.

"Eee… ini gak salah ce Nely kok, emang sudah ajalnya" ucap pak parno menggenggam tanganku.

"Tapi pak karna kecelakaan waktu itu jadi istri bapak meninggal" timpalku merasa bersalah.

"Gak.. gak… ce Nely gak salah, emang setiap manusia udah punya ajalnya toh" malah pak parno yang menenangkan ku saat itu yang gelisah karna bersalah.

"Masuk ce" pak parno menarik tanganku masuk. Orang-orang sedang merapikan rumah pak parno kembali melihatku masuk, ada beberapa laki-laki yang menatapku dari bawah hingga ke atas seperti kebingungan kenapa pak parno bisa menggenggam tanganku masuk kerumahnya.

"Duduk ce" ujar pak parno mempersilahkan ku duduk.

Aku duduk di sofa rumah pak parno, kulihat sofa ini dulu adalah tempat pertama kali pak parno memasukan penisnya ke dalam vaginaku, disini aku meraih orgasme oleh penis pak parno.

Kulihat pak parno berbicara dengan beberapa pemuda yang membersihkan rumah pak parno dan memberikan beberapa lembar uang 100 ribu lalu pemuda itu mengangguk dan pergi dari rumah pak parno.

"Minum ce" pak parno memberikan ku segelas air putih dan diletakan nya di atas meja.

"Maaf ya pak" wajahku tertunduk lesu karna masih merasa bersalah akibat kematian istrinya pak parno.

"Gapapa sayang, istri bapak meninggal emang sudah ajalnya" pak parno duduk di sebelah ku dan langsung merangkul ku, jemarinya mengusap lenganku.

"Hemmm…. " Kurebahkan kepalaku di pundak pak parno.

"Maaf ya pak.. Nely salah" kupeluk pinggang pak parno.

Tiba-tiba pak parno langsung mencium bibirku dan langsung kusambut dengan cumbuanku yang sudah rindu dengan sentuhan pak parno.

"Mhhh….slurpp… pakhhh….." pak parno memainkan lidahku dengan kasar, lidah kami saling melilit dan kusedot-sedot lidah pak parno.

Pak parno merebahkanku di sofa dan kini dia sudah berada di atas tubuhku, aku langsung memeluk pak parno dan menerima cumbuannya.

"Ouhhh… pakhhh…. Tunggu ahhh.." desah manja ku terdengar.

"Kenapa sayanghh" wajah pak parno yang berada di atas wajahku tersenyum.

"Pintunya belum di tutup pak, nanti nampak orang" ujarku sambil melihat ke arah pintu.

"Hohoo… iyaaa sampe lupa bapak" pak parno berdiri menuju ke arah pintu dan menguncinya.

Aku pun duduk di sofa dan memperhatikan pak parno datang kembali ke arahku, kulemparkan senyum ke pak parno.

"Pak gak ada orang kan ?" Tanyaku melirik sekitar ruangan rumah pak parno.

"Gak ada ce, udah bapak suruh pulang" pak parno duduk di sebelahku dan langsung mencium bibirku kembali.

Kubalas ciuman pak parno dan kurangkul lehernya, kini aku langsung duduk di atas pangkuan pak parno. Kucium bibir pak parno yang menghitam, terasa nafas dan liurnya yang bau rokok namun tidak kuhiraukan lagi.

"Mmhhh….mmhhhh…." Suara nafasku berat karna nafsuku mulai naik ke otakku.

Pak parno memasukan jemarinya ke balik bajuku dan meraba punggung mulusku, mulutku pun sudah berceceran liur kami berdua. kugigit-gigit bibir pak parno gemas dan kusedot lidahnya masuk ke dalam mulutku.

Mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan sentuhan pak parno, terasa jarinya melepaskan kaitan bra ku dan terasa kini bra itu terlepas dari tempatnya.

"Pakhhh….ouhhhh…." Desahku saat pak parno mengangkat bajuku dan langsung menjilat puting payudara ku, kupeluk erat kepala pak parno menekan wajahnya di payudaraku.

"Aahhhhh….. gelihhh pakhhh…" desahku panjang menerima perlakuan pak parno.

"Slurpp…. Slurpp…. Mhhhh" terdengar suara mulut pak parno dengan rakus melahap payudaraku yang putih mulus terasa putingku digigitnya.

"Ahhh…. Terushhh pakhh…. Gelihh ahhhh…" desah manjaku tak tertahan ketika pak parno tak henti-hentinya menjilati kedua payudaraku.

Kucium kening pak parno dan kuusap manja kepalanya. Bajuku di tarik ke atas oleh pak parno dan seketika kubantu pak parno melepaskan bajuku.

"Mhhhh……pakhhh… slurpp…" kucium bibir pak parno, lalu kujilati kupingnya.

"Nelyhhh kangenhh pakhh" bisikku di kuping pak parno dan langsung kujilati kupingnya hingga ke leher pak parno.

"Ahhhh…. Enakh sayanghh, makin nakal aja cehh… mmhhh" racau pak parno menerima perlakuan ku.

"Plak…." Pantatku di tampar pak parno.

"Awwww….hehe" tawaku ketika pak parno menampar pantatku.

"Plak ..plak …plak…." Kiri kanan bongkahan pantat ku di tampar pak parno dengan keras, terlihat berbekas merah akibat tamparan tangan pak parno.

"Ouh….. pakhhh…..siksa nelyhh… mhhhh" desahku di kuping pak parno.

Terasa jari pak parno mencari- cari lubang anusku dan terasa pak parno berusaha memasukkan telunjuknya kedalam.

"Ihhh… jangan disitu pakhhhh…ahhh " desahku di kuping pak parno, aku yang masih di pangkuan pak parno kini memeluknya erat, jarinya bergerilya di bongkahan pantatku dan lubang anusku.

"Pakhh…. Jangan" kutatap pak parno sayu sambil menarik tangannya ketika jemarinya menerobos sedikit ke lubang anusku.

"Hehe… gak boleh ya bapak coba lubang pantat Cece" tawa pak parno.

"Gak… gak boleh.. jorok pak" kugelengkan kepalaku. Selama ini aku berfikir itu adalah tempat yang jorok dan bukan tempat yang semestinya, tapi kenapa rasanya beda, ada rasa nikmat yang berbeda saat jari itu menusuk-nusuk lubang pantat ku.

"Hehehe nanti ya bapak ajarin dan kasih tau rasanya, kalau gak mau sekarang gapapa" ujar pak parno tertawa sambil meremas payudaraku yang menggantung di hadapan nya.

"Ihhh…. Apaan sih pak… ouhhhhh" seketika aku mengadah ke atas saat pak parno langsung melahap payudaraku.

"Mhhh…. Terushh pak… gelihh ahhhh" desahku keras di ruangan rumah pak parno.

"Ce jangan berisik ya nanti tetangga denger" ucap pak parno menatapku.

Kutatap pak parno sayu dan kuanggukan kepalak.
"Ke kamar bapak yuk" pak parno menggendong ku dan kuanggukan kepalaku seketika kurangkulkan pahaku di pinggang pak parno.

"Ihhh… kuat banget sih pak, aku gak berat ya hihi" tawaku saat pak parno menggendong ku ke kamarnya.

"Haha gak berat kok, tubuh seseksi ini mana ada berat" tawa pak parno menendang sedikit pintu kamar untuk membukanya.

"Mulai gombalan mesum pak parno…huuuu" sambil kucubit hidung pak parno gemas

"Ahhh…….." seketika tubuhku di hempasnya ke kasur, lalu dengan sigap pak parno langsung mencium ku. Kurangkulkan lenganku di leher pak parno dan membalas cumbuannya

"Disini bapak tidur dengan istri bapak ce" ucapnya menatapku sayu sambil tersenyum.

"Ihh… pakhh… jangan gitu, nelyh jadi gak enakhh" desahku tertahan karna saat bersamaan pak parno mencubit ujung puting payudara ku.

"Hehe sekarang kan ce Nely gantiin istri bapak" ucap pak parno menatapku, payudara ku diremas-remas nya.

"Mhhh...Sinihhh pakhh…" kurangkul leher pak parno dan mengarahkan bibirnya ke bibirku, lalu langsung kucumbu pak parno.

Pak parno menjilati daguku dan turun ke leher, tak seinci pun kulit mulusku kini lewat dari liur pak parno. Jemarinya terus mencubit ujung puting ku.

Kupingku di jilatinya, terasa basah kupingku kadang lidahnya menerobos masuk.

"Gelihhh pakhhhs….ahhh…." Desahku menerima rangsangan dari pak parno.

"Bapakhh mau ngentot Cece boleh ?" Bisiknya di kupingku.

"Ahhhh…. Iyahhh pakhh… bolehhh ahh…" desahku menahan geli dari rangsangan pak parno.

"Boleh apahh ?" Bisik pak parno sambil menjilati kupingku.

"Ngentothhh nelyhh pakhh ahhh…" kupeluk kepala pak parno terasa jarinya berada di lubang vaginaku mengusapnya dan sesekali memasukan nya.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Kenapa Cece datang kesinihh.. cupp…" bisik pak parno namun lidahnya terus menjilati kupingku.

"Nelyhh kangen pakhh…ouhh…" terasa jari pak parno menusuk vaginaku, terasa jari itu keluar masuk vaginaku, kurapatkan pahaku.

"Kangenhh apa sayanghh" bisik pak parno.

"Ouhhhh….. bapakhh nakalinhh nelyh yahh" desahku, mataku terpejam akibat perlakuan pak parno.

"Ahhhhh…. Kangenhh kontolhh pakhh parno.. aahhhhh" seketika kugigit pundak pak parno karna tak tahan dengan nafsu yang sudah menguasai tubuhku.

Tiba-tiba jemariku mengarah ke selangkangan pak parno dan mencari-cari penis nya, kumasukan jemari ku kecelana pak parno dan langsung menggenggamnya, terasa hangat penis itu dan besar. Jemariku tak muat menggenggam penis nya tak seperti punya Hendri suami ku yang bisa kugenggam.

Jari pak parno semakin cepat mengobok vaginaku dan aku pun mengocok penisnya, kugigit pundak parno dan mataku terpejam. Aku sudah tidak sadar lagi posisiku sebagai istri, sedang menikmati sentuhan jari kasar pak parno.

"Pakhhh… nelyhh mau pipishh….ahhh…" seketika cairan cintaku terasa akan keluar.

"Plak…plak ..plak …" bunyi kocokan tangan pak parno semakin kencang dan perutku terangkat, orgasme ku seakan mau meledak di vaginaku.

"Sreett…sreett…" tiba-tiba aku mengeluarkan pipis membasahi ranjang pak parno.

Tubuhku lemas seketika menerima orgasme hebat yang sudah lama tak kurasakan, yang tak bisa kurasakan dari suamiku. Malah pak parno yang memberikan nya yang seharusnya aku tidak tidur dengannya.

"Maaf pak kasur bapak jadi basah" ucapku lemas menatap pak parno yang berbaring di sebelahku.

"Hehe gapapa sayang, nikmati lah, semuanya untuk ce Nely" ucap pak parno tersenyum.

"Hihi makasih ya pak, tubuh Nely juga boleh bapak nikmati" tanpa sadar aku mengatakan kalau aku pasrah untuk di genjot oleh penisnya, aku tidak memikirkan lagi statusku sebagai seorang istri.

"Beneran ? Bapak boleh ngentot dengan ce Nely tiap hari ?" Ucap pak parno sambil mengarahkan jemarinya yang basah oleh pipisku.

"Hemmmm… iya pak boleh, tapi rahasia ya pak, jangan kasih tau siapa-siapa" bisiku manja

Kemudian Pak parno berdiri dan memposisikan penisnya tepat di lubang vaginaku. Kubuka pahaku lebar-lebar mempersilahkan pak parno memasukan penisnya ke vaginaku, di geseknya penis pak parno di vagina ku atas dan bawah.

"Masukinhhh pakhhh.." tatapku sayu karna nafsuku sudah naik kembali akibat gesekan penis pak parno.

"Apa yang di masukin ?" Tanya pak parno.

"Ouhhh… terushhh…." Pak parno mengobok-obok vaginaku yang sudah basah akibat rangsangan pak parno.

"Kangenhh apa jawabhh ce" pak parno mengigit kupingku.


"Ahh…. Kontolhh bapakkhhh" desahku manjaku semakin terdengar karna di rangsang oleh pak parno.

"Kemana di masukin ?" Ucap pak parno masih menggesek-gesek penis nya.

"Iihhhh… pak parnohhh ahhh.. nakalhhh…" kucubit lengannya karna kesal di permainkan seperti itu.

"Kemana jawab ?" Pak parno belum memasukan penisnya masih mempertahankan penisnya di bibir vagina ku.

"Memekhhh nelyhh pakhhh….." kurangkul pak parno dan seketika aku berada di pangkuan pak parno karna sudah tidak tahan dengan perlakuan pak parno.

"Bapakhh jahathhh….ahhh…" bisiku di kuping pak parno seketika kugoyangkan pinggulku, penis pak parno sudah masuk ke dalam vaginaku.

"Ahhh … memekhh nelyhh sempit" desah pak parno menerima jepitan vaginaku.

"Kontolhh bapakhhh gedehh ahhh…" goyangan ku semakin cepat, penis pak parno terasa penuh di vaginaku.

Tiba-tiba pak parno berbaring dan tinggalah aku yang duduk di atas selangkangan pak parno.

Aku terdiam karena malu, biasanya aku memeluk pak parno jika di pangkuannya namun kini aku duduk di atas penis pak parno yang menancap di vaginaku.

"Kenapa ce ?" Tanya pak parno.

"Malu pakhh…." Jawabku sambil menutup wajahku karna malu dilihat pak parno.

"Hahaha… coba angkat paha ce neli jongkok sedikit" perintah pak parno.

Kuletakkan tanganku di perut pak parno dan aku berjongkok.
"Goyanghh ce" perintah pak parno

Kumajukan sedikit dadaku dan mulai kunaik turunkan pantatku.

"Ouhhhh…. Ahhhhh….." nikmat menjalar di seluruh tubuhku.

Buah dadaku di remas pak parno dengan jemari kasarnya, pentilku pun di remasnya. Kututup mataku karna baru pertama di posisi ini.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Ahhhh…ahhhh… pakhh" tanpa sadar pantatku semakin cepat naik turun mengocok penis pak parno dengan vagina ku

"Ahhh…. Dasar amoy lontehh" celetuk pak parno kubuka mataku menatap pak parno sayu.

"Plak …" di tamparnya pantatku dengan kasar, sedikit sakit namun kurasakan nikmat yang berbeda akibat di kuasai oleh pak parno.

"Ahhhh…..pakhhh…." Desahku keras karna begitu nikmat diposisi ini, jemari pak parno terus meremas kedua payudara ku yang menggantung, kulirik pak parno yang menatapku sambil melemparkan senyum manja ku.

Kurebahkan tubuhku di atas tubuh pak parno, pantatku masuk kugoyangkan.
"Ahhh….pakhhh… enakhhh" desahku memeluk tubuh pak parno.

"Amoyhhh lontehh…" racau pak parno di kupingku.

"Aahhhh… iyahh pakhh… ouhhh… nikamtinhhh tubuh nelyhh" racau ku gak jelas karna sudah melayang-layang rasanya menerima penis pak parno di vaginaku.

Terasa pak parno mengarahkan jarinya ke lubang pantatku dan tangan sebelahnya meremas pantatku, jemarinya perlahan di masukin ke dalam lubang anusku.

"Ahhh…. Janganhhh pakhhh…" ku tepis tangan pak parno namun kalah kuat dengan tenaganya.

"Iihhhhh…. Pakhhh…..gelihhhh" jari itu masuk demi sedikit kelubang anusku.

"Ahhhh… cukuphh pakhh ahhhh…" kini pak parno yang mengangkat pahanya mengocok penisnya ke vaginaku.

Aku memeluk pak parno erat menerima kenikmatan sodokan pak parno dari bawah dan kenapa rasa nikmat lain menjalar di tubuhku saat jari itu menerobos anusku.

"Ihhh… pakhhh… gelihh… ahhhh….." desahku jari itu tertancap dalam anusku dan genjotan pak parno semakin kencang.

Kubenamkam kepalaku di pundak pak parno dan kujilati pundak itu hingga leher pak parno.

"Aaahhhhh… pakkhhh… enakhhh…." Pak parno mengocokan jarinya di lubang anusku, terasa sakit namun karna nikmat yang kurasakan sakit itu jadi bercampur nikmat.

Ada rasa yang beda pada kedua lubangku kini, jari pak parno yang mengocok anusku sementara pahanya naik turun menggejot vaginaku dari bawah.

Mataku terbelalak hanya putihnya saja yang terlihat dan mulutku terbuka merasakan nikmat perlakuan pak parno pada kedua lubangku.

"Ahhh… pakhhh….gelihh ahhhh…nelyhh gak kuathhhh ouhhhh…." Desahku di kuping pak parno.

Pak parno hanya diam dan terus melakukan kegiatan nya pada kedua lubangku.
Keringat ku bercucuran di atas tubuh pak parno kadang kulitku di jilati, masih kupeluk erat tubuh pak parno.

"Ahhhh…ahhhh…pakhhh… mau pipishhh lagi ahhhh…." Desahku di kuping pak parno, jemariku meremas kepala pak parno kuat, mungkin kutarik rambutnya namun pak parno makin mempercepat kocokannya.

"Aahhhhhhhhhh ……." Desahku keras tertahan oleh pundak pak parno, kugigit pundak pak parno kuat-kuat menahan orgasme kedua ku.

"Mhhh…mhhhh… pakhhh… cukuphhh…ahhhh…." Tubuhku lemas terbaring di atas pak parno. Rasanya sudah tak berdaya lagi menerima perlakuan pak parno pada vagina dan lubang pantatku yang di masukin jarinya.

Pak parno mendiamkan tubuhku yang ambruk di atas badannya, di usapnya punggung ku yang penuh keringat.

"Enak ce ?" Tanya pak parno sambil mengecup bibir ku.

"Ahh…bapak nakal, ngapain pantat Nely di tusuk pakai jari bapak" kucubit lengan pak parno karna kesal dengan apa yang pak parno lakukan.

"Aww.. awww sakit hahaa tapi enak kan ?" Tawa pak parno mengecup bibirku kembali

"Gak tau deh pak, Nely lemas" kupejamkan mataku lalu tubuh ku di dorong kesamping oleh pak parno.

Pinggang ku di tariknya kebelakang kini posisiku menungging membelakangi pak parno, pak parno mengarahkan penisnya masuk ke dalam vaginaku.

"Ahhhhhh……." Desahku dengan sekali dorong penis itu sudah masuk kembali ke dalam vaginaku.

Di tariknya lenganku kebelakang dan dengan cepat pak parno memaju mundurkan penisnya. Kepalaku menggeleng ke kiri dan kanan menerima sodokan penis pak parno kembali.

"Plak… plak .. plak …" terdengar bunyi peraduan pantatku dan paha pak parno.

"Cuihhhh….." pak parno meludahi lubang pantat ku dan kembali jarinya di masukan ke pantatku.

"Ihhh… ihhh pakhhh .. jangan lagi ahhhhh" jari itu menerobos masuk kedalam lubang anusku, terasa sakit saat jari itu masuk.

"Cuihhh…. Cuihhh" terasa pak parno meludahi lagi lubang pantatku dan kembali jarinya di masukannya lagi ke dalam lubang pantatku.

"Pakhhhh…. Nakalhhh yaa… ahhhhh" aku mengadah ke atas saat jari lubang anusku sudah licin oleh liur pak parno sehingga jarinya sudah leluasa masuk ke anusku.

"Ahhhh…. Ahhhhhh….. pakhhh…. Gelihhh" sodokan pak parno semakin cepat seiring jarinya yang mengorek-ngorek lubang anusku.

"Lubang pantat ce neli harus di kasih pelajaran, biar muat kontol bapak masuk" ucap pak parno.

Seketika aku mengadah kesamping mendengar ucapan pak parno. Pak parno melepaskan penisnya dan menggosokkan penisnya di lubang pantatku.

"Ehh…. Pak…jangan…." Aku memajukan pantatku namun pinggulku di tahan oleh tangan pak parno.

"Pak… pak… jangan… gak boleh disitu.. ahh …." Terasa penis pak parno menerobos masuk ke lubang pantatku.

"Anjing rapet banget ni bool, bapak pecahin dulu ya perawannya" pak parno berusaha menusuk penisnya kelubang pantatku .

"Pakhhh… ampunhh… janganhhh sakithh pakk…" kupejamkan mataku, kini aku pasrah dengan apa yang pak parno lakukan.

Terasa kepala penis pak parno menerobos masuk ke dalam anusku, kupejamkan mataku terasa air mataku menetes menahan sakit.

"Cuihhh….." pak parno meludahi lagi lubang pantatku dan kembali menerobos masuk kedalam.

Kini penis itu masuk demi sedikit kelubang anusku, air mataku menetes menahan sakit. Sepertinya lubang anusku sobek oleh sodokan penis pak parno yang berusaha masuk.

"Aakkhhhh … sakit pakhhh…" aku mengerang kesakitan.

"Sabar ce, nanti juga enak ahaha" pak parno tertawa sambil mendorong pelan penisnya masuk.

"Akkhhhh….cukup pakhhh.. di memek ajahhh jangan disituhhhh… hikhhss… hiksss…" tak sadar aku menangis menahan sakit akibat penetrasi penis pak parno di anusku.

"Aaaakkkhhhh…. " Teriakku karna dengan sekali dorongan pak parno mendorong penisnya masuk seluruhnya ke lubang pantatku.

"Anjinggg… bangsatt… rapat banget ni bool" racau pak parno.

"Hikss…. Hiksshhhh" aku hanya menangis menahan sakit, kuremas sprei kasur sekuatnya.

"Cuihh….." pak parno meludahi lagi lubang pantatku yang sudah di masuki penisnya.

"Hehe sabar yahh ce, nanti juga enak" pak parno mulai menarik penisnya, terasa lubang pantatku ikut tertarik keluar.

"Mhhhh….. pakhhh…" kugigit bantal dan kubenamkam kepalaku di bantal menahan rasa sakit.

Di dorong lagi penis pak parno lagi dan kini pak parno mulai memaju mundurkan penisnya pelan di lubang penis ku.

"Bangsat lah…. Bool ce Nely emang paling nikmat" racau pak parno menahan kenikmatan lubang anusku.

"Mhhhh….. mhhh…. Pakhh…. Ahhhh" desahku kembali terdengar, rasa sakit itu perlahan berubah sedikit demi sedikit menjadi rasa nikmat.

Lain rasanya kenikmatan yang muncul, beda saat pak parno mengobok-obok vaginaku dengan penisnya, aku tak tau rasa apa ini tapi rasa itu tiba-tiba menaikan nafsuku.

"Aaahhhhhh….. pakhhhh…. Gelihhh ahhhh" desahku mulai terdengar di seisi kamar.

"Hahaha apa kata bapak, nanti juga enak" pak parno mulai memaju mundurkan penisnya agak cepat

Terasa lubang pantatku mengikuti arah penis pak parno, baru pertama kurasakan ada sesuatu yang besar masuk ke dalam anusku, yaitu penis pak parno yang kini mengobok lubang anusku.

"Aahhh .. pakhhh…. Gelihh… nelyhh gak kuathhhh …. Ouhhh…" kini kepalaku mengadah ke atas .

"Ya Tuhan nikmat apa ini, kenapa penis itu terasa nikmat di pantatku" gumamku dalam hati.

Pak parno kini menggenjot lubang anusku dengan cepat, kini penis itu sudah mudah keluar masuk dari lubang anusku.

"Peret banget ce… kontol bapak enak… ahhh.." racau pak parno.

"Ahhhh…… gelihhh pakhhh… tolonghhh ahhh…" kepalaku menggeleng kekiri dan ke kanan menahan nikmat.

"Mau pipishhh ahhh… pakhhh nelyhh gak kuathhh…." Terasa cairan cintaku yang ketiga mau keluar.

Pak parno terus menggenjot anusku dengan cepat.
"Plak…plak .. plakk…" bunyi peraduan pantatku dengan paha pak parno.

"Ihhh …ihhh…. Mau pipishh…. Ahhh…" seketika cairan cintaku mengucur dari vaginaku dan aku seketika ambruk diikuti pak parno di belakang tubuhku.

Penis pak parno masih tertancap di dalam anusku, pantatku sedikit menungging saat aku tengkurap dan pak parno memeluk ku dari belakang. Tak berapa lama langsung di Hujam kannya kembali.

Aku hanya terbaring lemas tak tau apa yang terjadi, pak parno masih menggenjot lubang anusku. Terasa di regangkan ya kedua pantatku dan penisnya dengan cepat menggenjot anusku.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Ahh… bangsatt… pantat amoy peret.. ahhh.." racau pak parno.

Kesadaran ku terasa sudah melayang jemariku meremas sprei yang sudah terlepas dari kasurnya. Mataku terpejam merasakan penis di anusku keluar masuk dengan cepatnya.

"Ahhhh……. Anjing…. Bapak keluar… ahhh… bangsat" Tiba-tiba terasa cairan sperma menyiram seisi lubang anusku.

Tubuh pak parno ambruk di atas tubuhku, badanku di peluknya dari belakang. Keringat kami bercampur membasahi ranjang pak parno.

Tubuhku terasa melayang, kesadaran ku hilang rasanya setelah mendapatkan orgasme dan baru kali ini pantatku dimasuki penis.

"Plopp" terdengar suara penis pak parno lepas dari lubang anusku dan terasa cairan meleleh keluar dari situ. Pak parno memeluk ku dari belakang, aku yang tidak berdaya lagi hanya bisa menggenggam tangan pak parno yang menggenggam jemariku.

Kuatur nafasku mengembalikan kesadaran ku dari kenikmatan yang barusan kuraih dengan pak parno, kubuka mataku perlahan dan pak parno memeluk ku erat dari belakang, penisnya terasa menempel di punggung ku.

"Pak ?" Ucapku membuka keheningan setelah sekian lama kami terdiam dalam kenikmatan masing-masing

"Iya ce ?" Jawab pak parno yang memeluk ku dari belakang, aku berbicara membelakangi pak parno karna dia memelukku erat dari belakang.

"Apa kita gak berdosa pak ? Istri bapak abis meninggal" ujarku karna Teringat istrinya bahkan baru di kuburkan hari itu.

"Gak kok ce, kan dia udah meninggal, jadi gak berdosa lagi hehe" tawa pak parno mengecup tengkukku.

Kurapatkan lenganku menjepit lengan pak parno yang memeluk ku dari belakang, aku berfikir lagi kalau pak parno akan melakukan apa setelah ini kan dia sudah di pecat ce Jesica dan istrinya sudah meninggal karna ku.

"Bapak kerja apa sekarang?" Tanyaku.

"Eee… sekarang gak ada kerja ce, bapak bingung, bapak mau ngojek tapi bapak gak punya motor" pak parno berbicara sambil mengecup tengkukku yang mulus dan basah oleh keringat kami.

"Bapak yakin sanggup narik ojek ?" Jawabku karna kasihan pak parno harus ngojek.

"Hahaha ya sanggup dong, ngentotin ce nely aja sanggup sampai ce Nely lemas" tawa pak parno

Seketika aku membalikan tubuhku berhadapan dengan pak parno, kutatap wajahnya yang mesum.

"Iihhhh… dasar ya tua-tua mesum, malah Jawabannya lain" jawabku mencubit hidung pak parno.

"Haha lah bener kan, Ce Nely buktinya sampe lemas" pak parno mengusap poniku kesamping memperlihatkan wajahku yang cerah karna habis orgasme 3 kali oleh penis pak parno tadi.

"Dasar, kontol bapak tu yang nakal" sambil kuremas penisnya yang sudah lemas

"Aawww…. Udah nakal ya sekarang" erang pak parno kesakitan akibat kuremas penisnya .

"Yaudah besok kita ke dealer motor ya, kita beli motor utk pak parno narik ojek" ucapku sambil kukecup bibir pak parno

"Haha beneran Ce ? Gak usah deh bapak gak enak" senyum pak parno melihat tingkahku.

"Iyaa beneran, nanti bapak pilih motornya ya" senyumku ke pak parno.

"Mhhh….slurpp…." Tiba-tiba pak parno mencium bibirku.

"Eh pak jam berapa ini ?" Seketika kulihat jam dinding di kamar pak parno sudah jam 14:15

"Yaampun pak aku belum jemput anakku di sekolah" seketika aku bangkit namun di tahan oleh pelukan pak parno.

"Cece disini aja jgn pulang, bapak masih pengen lagi" pak parno memelukku dan mencium bibirku kembali.

"Tapi pak nanti anakku pulang gimana" aku sedikit cemas karna membayangkan Nico dan velin yang menunggu kujemput.

"Telpon aja suami Ce Nely suruh jemput" ujar pak parno

"Tapi pak, dia kan sibuk mana bisa" jawabku yang hendak berdiri lagi namun di tahan oleh pelukan pak parno.

"Bisa, telpon aja dulu" pak parno memaksa ku agar jangan pergi.

"Okey-okey Nely telpon, bentar ya"
Aku mencari tasku yang tidak ada di kamar.

"Tasku di depan pak" ujarku karna Teringat tadi semua barangku tertinggal di ruang tamu pak parno.

"Tunggu ya bapak ambil" seketika pak parno berdiri dan berjalan keluar kamar.

"Duh mau cari alasan apa ya" aku berfikir apa yang mau aku bilang ke Hendri kalau aku tidak bisa jemput anak-anak sekolah.

Tak lama datang pak parno membawakan tasku. kuraih tasku dan langsung kucari ponselku.
"Pak besok aja ya aku kesini lagi" ujarku menatap pak parno sayu.

"Temanin bapak dulu ya hari ini, bapak kangen ngentot dengan ce Nely" pak parno duduk di sebelahku.

"Hemmm… yaudah diam aku mau telpon Koko" ucapku menarik nafas dalam.

"Haloo….." ucapku ketika tersambung dengan Hendri.

"Iya mi ? Kenapa ?" Jawab Hendri

"Pi, mami bisa gak minta tolong jemput velin sama Nico" tanyaku pada Hendri.

"Loh kemana mi, kenapa gak bisa jemput anak-anak ?" Balas Hendri.

"Bini lu sedang muasin kontol gue ko, mhhh" bisik pak parno yang tiba-tiba memelukku dari belakang dan berbisik di kupingku di sebelah nya.

"Eehhh… gak Pi , temen mami ada yang dapat musibah, kecelakaan dan meninggal di tempat" jawabku sambil mendorong tubuh pak parno menjauh, kutatap pak parno sambil mengerutkan kening dan menggeleng kan kepala.

"Ko, memek bini lu sudah gue sodok pakai kontol gue… slurpp…" pak parno kembali menjilat kuping ku dan kini meremas payudara ku.

"Mmmhhhhh….." seketika aku mendesah.

"Mi…mi… gak apa-apa kan ?" Tanya Hendri dari balik telepon.

"Eee… gak Pi, bisa kan Pi, tolong ya" ujarku sambil memegang tangan pak parno yang meremas payudaraku.

"Haha mampus lu ko, bini lu lagi enak muasin kontol gue mhhh…" bisik pak parno di kupingku.

Kepalaku merapat ke arah wajah pak parno menahan geli, kugigit bibir bawahku menahan desahan agar tidak terdengar oleh Hendri.

"Yaudah deh, papi jemput, terus mau pulang jam berapa ?" Tanya Hendri

"Pakhh…." Desahku ketika tiba-tiba pak parno menjilati leherku dan tengkukku.

"Mi ..mi .. halooo .." terdengar suara Hendri di balik telepon

"Eeee … mungkin jam tujuhh… pihh…mhhh" ku gigit bibirku kuat agar tidak mengeluarkan desahan akibat rangsangan pak parno.

"Ko memek bini lu buat gue ya, kontol lu kecil kan, lihat nihh… gue remes teteknya, empuk banget ko.." bisik pak parno di kupingku.

"Yaudah jangan malam-malam mi, hati-hati ya" ucap Hendri.

"Iyaa Pi, bye Pi, love you" langsung kumatikan telepon.

"Bapak gila ya, hampir aja ketahuan" kesalku kepada pak parno yang merangsang ku ketika menelpon dengan suamiku.

"Hahaha ce Nely cepat banget sangeknya padahal lagi nelpon koko" tawa pak parno puas mengerjai ku.

"Eh sudah kumatikan gak ya telpon ku" kuraih hp ku dan kulihat sudah kumatikan.

"Ihhhh…. Awas ya pak…dasar mesum" kucubit-cubit lengan pak parno hingga dadanya.

"Aw..aw..aw.. ampun ampun haha" tawa pak parno terbaring di kasur lalu kutimpa tubuh pak parno sambil masih kucubit seluruh tubuhnya.

"Aw…aw… ampunn… haha sakit sayang" pak parno menghindar dan seketika tubuhku di peluknya dan kami langsung berciuman kembali.




Part 9 : takut

"Plakkk….plakk….plak…..plakk…." Bunyi peraduan pantatku dengan paha pak parno terdengar memenuhi kamar pak parno dan istrinya yang baru saja meninggal.

Pak parno terus menggenjot vaginaku hari itu, kini posisiku menungging membelakangi pak parno. Pak parno dengan semangat menggenjot vagina ku, keringatku sudah bercucuran membasahi kasur tempat persenggamaan kami.

"Aahhh…ahhhh…ahhh… ampunhh pakhh ahhhh…" hanya desah manjaku yang keluar dari bibirku sedari tadi pak parno menggenjot vaginaku. Entah berapa kali aku sudah orgasme aku sudah tidak tau lagi.

Kamar pun semakin gelap karna terasa hari sudah sore, terdengar suara masjid sudah berbunyi menandakan malam akan tiba, namun sedari tadi aku tak henti-hentinya di genjot oleh pak parno.

"Ahhh…ahhh pakhhh… nelyhh lemashhh" aku hanya bisa menggeleng kepala ku karna pak parno terus saja menggenjot vaginaku dengan kasar. Tanganku di tarik ke belakang dan sebelahnya menahan tubuhku yang sedang menungging membelakangi pak parno.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Bentar lagihh ce.. ouhh udah berapa kali bapak bikin keluar masih sempit aja memek ce Nely.. ahh.." ucap pak parno sambil terus menggenjot vaginaku.

"Ahhhh… iyaaa pakhh…. Memekhh nelyhh utk bapakhh…" balasku tak sadar lagi posisiku adalah seorang istri yang berselingkuh dengan mantan satpam sekolah anakku.

"Ouuuhhhhhh….." desahku saat pak parno menarik penisnya lepas dari vaginaku.

"Ughhh….." tiba-tiba pak parno langsung menancapkan penisnya ke lubang anusku.

"Aakkhhh……sakithhh…..pelan pakhhh…masihhh sakithh…." Kulirik pak parno kebelakang keningku mengkerut karna kesal pak parno memasukan penisnya ke lubang pantat ku dengan kasar.

"Anjingggghhh bool amoy peret bener" racau pak parno, bibirnya menganga merasakan kenikmatan pada penisnya akibat jepitan anusku.

"Plakkk……" di tampar nya pantatku dengan keras meninggalkan berkas merah.

"Aahhhh…. pakkhhh…." Entah kenapa malah aku mendesah ketika pak parno mengasari tubuhku.

"Ihhh…. Gelihhh… ahhhh…." Pak parno menggenjot anusku dengan pelan.

"Cuihhh…." Di ludahinya lubang anusku yang tertancap penis pak parno.

Aku hanya menutup mataku rapat merasakan nikmat yang di berikan pak parno. Inilah yang tak pernah kudapatkan selama ini dari Hendri suamiku, aku rela di kasarin oleh pak parno bahkan aku rela pak parno menancapkan penisnya di lubang anusku yang selama ini tak pernah aku fikirkan lubang itu di masuki oleh penis.

kenapa nikmat sekali rasanya di lubang itu, terasa lubang anusku tertarik keluar masuk mengikuti penis pak parno yang keluar masuk dari lubang itu.

"Ahhh… gelihh…. Pakhhhh" desahku manja merasakan nikmat genjotan pak parno.

"Tok…tok..tok.." tiba-tiba terdengar pintu rumah pak parno ada yang mengetuk

Seketika pak parno menghentikan genjotannya dan melirik ke arah luar pintu kamar diikuti kepalaku juga melihat pak parno.

"Pak ada yang ngetuk pintu ?" Tanyaku kepada pak parno.

"Iya… kayaknya ada yang datang" ucap pak parno, penisnya masih tertancap dan tangan pak parno masih berada di kedua bongkahan pantatku.

"Lepas pak, aku takut" ucapku sedikit menarik tubuhku kedepan namun di tahan oleh pak parno.

"Tunggu" kata pak parno mendiamkan penisnya di dalam anusku.

"Eh… nanti ketahuan pak, Nely takut" aku cemas takut ketahuan apa yang aku lakukan di dalam rumah pak parno.

"Tok…tok…tok…" kembali terdengar kembali pintu di ketuk oleh seseorang.

"Aahhhh… janganhh pakhh…" desahku ketika pak parno kembali menggenjot anusku.

"Ganggu aja, nanggung ce.." pak parno kembali menghujam anusku dengan cepat.

"Ahhh…. Ahhh….. mhhhhh…" aku langsung menutup mulutku dengan bantal takut orang yang di luar mendengar desahanku.

"Mhhhh…..mhhh….." kugigit bantal kuat-kuat agar meredam desahanku.

Terasa dorongan cairan dari dalam vaginaku akan keluar dan terasa juga pak parno semakin cepat menggejot anusku.

"Plak ..plak..plak …" hanya suara peraduan pantatku dan paha pak parno terdengar.

"Aaahhhhhhh……." Aku menggigit kuat bantal saat cairan cintaku menyembur dari vaginaku.

"Ahh… bapakhh mauu keluarhhh" erang pak parno dan tiba-tiba tubuhnya ambruk di atas tubuhku.

Terasa cairan sperma menyembur ke dalam anusku tertahan oleh penis pak parno yang masih tertancap di anusku.
Pak parno memelukku dari belakang terasa hembusan nafasnya sengal di belakang leherku.

Aku memejamkan mataku, tubuhku sudah tidak punya tenaga lagi menghadapi pak parno, kepalaku rasa melayang-layang pandangan ku kabur. Rasanya ingin pingsan saat itu, tangan pak parno terasa mengalir ke perutku memeluk ku dari belakang.

Terasa penis pak parno lepas dari anusku, penis itu lemas dan cairan sperma pak parno keluar mengikuti penis itu yang tercabut dari lubang pantatku.

"Tok…tok..tok…" terdengar sama kembali suara pintu diketuk, seketika mengembalikan kesadaran ku.

"Eh pak.. Nely takut.. ada yang datang" seketika aku duduk dan kulihat pak parno masih terbaring.

"Pak…. Bangun dong, ada yang ngetuk pintu tuhhh…" ku goyangkan tubuh pak parno.

"Aduhh… siapa sih ganggu aja, lagi ngentot loh.." racau pak parno duduk.

"Bentar ya sayang, cuphh" pak parno mengecup bibirku.

Terlihat pak parno beranjak dari ranjang dan menggunakan pakaiannya kembali sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya menatap pak parno mengerutkan kening

"Ayooo pak, malah senyum-senyum, Nely takut tau" gerutuku karna pak parno malah berlama-lama.

"Hehe sabar sayang, ni bapak mau keluar" ucap pak parno memakai bajunya.

Aku pun memakai pakaianku dan berdiri mendekat ke pintu mengintip, terlihat pak parno membuka pintu.

"Assalamualaikum pak" nampak seseorang perempuan menggendong anak kecil sedang berdiri di depan pintu.

"Waalaikum salam, eh Fitri, masuk nak" ucap pak parno mempersilahkan masuk wanit itu.

Nampak juga seorang laki-laki ikut masuk di belakang wanta itu, lalu mencium tangan pak parno.

"Heri, apa kabar ? Sehat kamu ?" Sapa pak parno kepada laki-laki itu sambil menepuk-nepuk pundak pria itu.

"Sehat pak, maaf ya kami baru bisa datang, kabarnya mendadak kalau ibuk sudah meninggal" ucap pria itu.

Ternyata mereka adalah anak pak parno, yang perempuan adalah anak kandung pak parno sementara yang laki-laki adalah menantunya. Terlihat mereka duduk di sofa, untung aja tadi sudah di bawa pak parno barang-barang ku ke kamar.

"Duhhhh gimana aku keluar dari sini ya…hmmmmm" gumamku dalam hati, aku mulai gelisah karna takut kini dirumah pak parno kedatangan anak dan menantunya.

"Pakkk…. Hikss…hikss… Fitri minta maaf, selama ibuk dirumah sakit Fitri gak pernah datang hikss…" terdengar suara wanita itu menangis.

"Dan sekarang ibuk sudah tiada pak… hikss….. Fitri menyesal gak bisa lihat wajah ibu terakhir kalinya.. hiksss…." Wanita itu terus meracau dalam tangisnya.

"Sudah-sudah fit, itu sudah ajalnya ibuk mu, kita hanya bisa sabar ya" terdengar suara pak parno menenangkan anaknya.

"Sebentar ya bapak ambilkan minum" pak parno beranjak ke dalam tapi bukannya ke dapur malah masuk ke kamar.

"Pak… gimana aku keluar?" Bisikku ketika pak parno sampai dikamar.

"Mmmhhhh..mmmhhhh……" tiba-tiba pak parno langsung menyambar bibirku.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Pakhh….. lepashhh…." Jemarinya meremas payudaraku.

"Pak… lepashh…. Gila ya pak itu ada anak bapak di depan" kudorong tubuh pak parno sambil berbisik takut terdengar suaraku oleh anaknya.

"Hihi bapak kangen" tawa pak parno berbicara pelan.

"Ihhh… pak parno ini gak ada puasnya ya, padahal udah seharian loh gitu begituan" ketusku sambil berbisik pelan dan melirik ke luar.

"Abis memek ce Nely ngangenin" ucap pak parno sambil berbisik dikuping ku.

"Ahhh… pakhh…. Jangan sekaranghh.. Nely takuthh" suaraku parau karena pak parno sambil mengendus leherku dan berbisik tepat di kupingku.

"Hehe… tunggu ya bapak kedepan dulu" pak parno berlalu namun kutarik tangannya

"Pak keluarin Nely dari sini" tatapanku sayu keningku mengkerut karna takut ketahuan oleh anak dan menantunya.

"Bentar ya… gak ada pintu lain loh.. cuma bisa lewat depan" ucap pak parno sambil mengelus pipiku.

"Ihhh…. Takut pak, cepat ya.. Koko juga pasti nyariin ni, udah jam 7 malam pak" ucapku tertunduk lesu.

"Iyaa…iya… cup.." pak parno mencium bibirku kembali.

Kulihat pak parno berjalan kedapur dan mengambil seteko air putih dan 3 buah gelas. Saat melewati kamar lagi pak parno melemparkan senyum, aku hanya membalas dengan mengerutkan kening.

"Cepat" ucapku pelan tanpa bersuara tapi kuyakin pak parno mengerti.

Kembali aku bersandar di balik pintu mengintip ke arah depan mendengar obrolan mereka di ruang tamu.

"Halooo Farid, udah gede ya, mirip sama bapaknya haha" tawa pak parno menggendong anak yang di pangku Fitri anaknya.

"Salim sama kakek Farid" perintah pria itu.

Terlihat pak parno menggendong cucunya yang masih kecil.
"Jam berapa berangkat tadi her ?" Tanya pak parno pada menantunya.

"Jam 10 pagi pak, baru sampai terminal jam 6 tadi" balas Heri menantu pak parno.

"Lama juga ya, aman kan di jalan ?" Tanya pak parno.

"Aman pak, Farid pun gak rewel cuma Fitri aja nangis terus" jawab Heri sambil mengelus punggung Fitri yang menutup wajahnya dengan tangan.

Terdengar Fitri masuk sesegukan menangis. Tiba-tiba terdengar getaran hp ku, ternyata Hendri menelpon.

"Duhhhh gimana ini" aku mulai panik karna saat ini gak mungkin aku bisa mengangkat telponnya.

Ku lirik lagi kedepan berharap pak parno kembali kesini namun sepertinya mereka sedang asik berbincang. Aku terduduk di ranjang pak parno, ranjang yang sudah berantakan akibat percumbuan kami dari siang tadi. Kulihat hp yang sedang berdering, Hendri terus menelpon ku, sudah 3 kali panggilan dari Hendri namun tak kunjung ku angkat.

"Maaf Pi .. mami gak bisa angkat" gumamku memandang ponselku yang terus berdering.

"Ayok sini fit, Farid" terdengar suara pak parno

Seketika aku berdiri di balik pintu, takut terlihat. Terdengar langkah kaki pak parno dan anaknya Fitri melewati kamar.

"Kok kamar bapak berantakan ?" Tanya fitri sepertinya dia melirik ke dalam kamar tempat kami sudah melakukan persetubuhan hebat dari siang tadi.

"Eee… iya fit bapak udah lama gak rapiin sibuk jaga ibuk dirumah sakit" terang pak parno sepertinya mencari alasan.

"Sini Fitri rapiin ya" Fitri melangkah kan kakinya masuk, terlihat tubuh Fitri masuk sedikit ke dalam kamar namun langsung di tarik pak parno keluar.

"Eh… gak usah nak, bapak nanti rapiin sendiri, kamu pasti capek kan, mending istirahat dulu ya, lihat tu Farid udah ngantuk" ucap pak parno.

"Emmm… yaudah deh pak, besok Fitri rapiin ya kamar bapak" terdengar kembali suara Fitri anaknya pak parno.

Jantungku berdegup kencang karna sempat saja Fitri melihat ke balik pintu yang ada aku yang sedang mematung menyembunyikan tubuhku.
"Ya ampun… kenapa jadi gini sih" gumamku dalam hati merasakan panik dan cemas.

"Iya nak, makasih ya. Nah… kamu istirahat disini ya, ini kamar mu dulu kan hehe" terdengar tawa pak parno.

"Iya pak, Fitri rindu rumah dan rindu ibuk juga… hikss…." Terdengar suara Isak tangis Fitri kembali pecah.

"Yaudah jangan sedih lagi ya, kamu istirahat dulu nak" ucap pak parno dan kemudian terdengar suara pintu kamar tertutup.

Tiba-tiba pak parno langsung masuk kamar dan langsung kupeluk pak parno.
"Takut pak" ucapku berbisik dan kubenamkam wajahku di dada pak parno, pak parno mengelus punggungku menenangkan ku.

"Pak keluarin Nely dari sini" tatapku sayu sambil berbisik.

"Iya bentar ya tunggu menantu bapak masuk kamar, dia masih duduk di depan" bisik pak parno.

"Tidur sini ajalah sama bapak ya" ucap pak parno sambil memeluk pinggang ku.

"Iiii…***k mau, nanti suamiku nyariin" aku menggeleng kan kepala, tubuh kami rapat dalam pelukan saat itu.

"Kalau gak bisa keluar gimana ?" Tanya pak parno pelan.

"Iii…. Pokoknya pak parno harus keluarin Nely" rengekku manja karna aku takut ketahuan oleh anak dan menantunya pak parno dan takut di cari suamiku Hendri.

"Mmhhhh…. Slurppp…." Tiba-tiba pak parno mencium bibirku, kubalas saat itu ciuman pak parno. Di sedot-sedot nya bibirku dan ku buka rongga mulutku agar pak parno bebas mengakses bibirku.

"Mhhhhmm… pakhh…" nafasku semakin berat entah kenapa nafsuku naik padahal saat ini dirumah ada menantu dan anak pak parno.

"Ahhh…. Pakhh…" desahku pelan terdengar saat pak parno menjilati leherku.

"Ahhh… nantihhh ketahuanhh… udahh…." Desahku namun aku memeluk leher pak parno.

"Bapakhh sangek lagi Nely" bisik pak parno di kupingku.

"Ihhh…. Nanti ajahh pakhh…" bisikku pelan.

"Sepong kontol bapakh yaahh.." bisik pak parno di telingaku.

"Gak… gakhh… mauu…" kugelengkan kepalaku dan kutatap pak parno sayu.

"Bentar aja ya, gak kuat ni kontol bapak pengen di sedot bibir Nely" bisik pak parno pelan.

"Pakh…. Ayo keluarin Nely, Nely takut pak" rengekku sambil menggelengkan kepala.

"Sepong bentar ya" namun pak parno malah memelorotkan celananya.

Kutatap mata pak parno tajam, menandakan aku tidak mau namun di balas dengan senyum oleh pak parno. Dianggukannya kepalanya menyuruhku untuk segera menghisap penisnya yang sudah menggantung bebas.

"Yaudah bentar aja ya pak, abis itu janji keluarin Nely" ucapku sambil menunduk dan menurunkan tubuhku hingga berjongkok di hadapan penis pak parno.

Kugenggam penis itu dengan jemari ku dan mulai ku elus lembut, terlihat cairan mulai keluar dari kepala penis pak parno menandakan nafsunya sudah naik akibat elusan ku.


(Gambar hanya mulustrasi)

Kubuka mulutku dan kujulurkan lidahku menjilat lubang penis pak parno, terasa asin menjalar kelidahku, lalu jilatanku kuturunkan ke bawah sejajar dengan urat penis pak parno yang besar.

"Aahhhh…. Mantap bener jilatan ce Nely… bangsatt…." Erang pak parno merasakan nikmat oleh perlakuan ku.

"Jangan berisik pak" kutatap pak parno sayu sambil jemariku memaju mundurkan penis pak parno.

"Hehe iyaaa.. mulut ce Nely enak kalau nyepong penis bapak" puji pak parno.

"nanti ketahuan pak, Nely takut" bisikku pelan namun jemariku tetap mengocok kan penis pak parno.

"Iyaa.. jilat lagi sayang" pak parno memegang kepalaku dan mengarahkannya ke arah penisnya.

Seketika ku keluarkan lidahku dan kembali menjilat penis pak parno, kujilati dari kepalanya hingga turun ke bawah dan sampai ke dua buah testisnya.

Penisnya yang lebat penuh bulu kujilat hingga terlihat basah oleh air liurku, sambil tanganku terus mengocok batang penis pak parno.

"Hisap telor bapak ce" perintah pak parno.

Kutatap sayu ke pak parno dan kuarahkan lidahku ke kedua testisnya yang mengkerut penuh bulu, kujilati lalu kumasukan ke mulutku dan kusedot-sedot hingga nampak pipiku mengempis seiring sedotanku pada testis pak parno.

Tanganku mengocok penis pak parno dengan cepat sementara bibirku menyedot penis pak parno, terasa bulu penisnya menggelitik rongga mulutku.

"Ahhhh…..bangsatt enak banget ce"racau pak parno.

"Ahhhh… tutup pintu pak" perintahku yang melihat pintu masih terbuka sedikit takut terdengar oleh anak dan menantu pak parno.

Kaki pak parno mendorong pintu dan kini tertutup rapat. Kembali kukocokan penis pak parno dan kujilati testis pak parno hingga ke bawahnya bahkan sedikit lagi sampai ke anus pak parno, terlihat pak parno sedikit mengangkang kan kakinya mempersilahkan ku untuk menjilati seluruh daerah penisnya.

Kujilati kembali ke atas hingga kepala penis pak parno dan langsung kumasukan penis itu kemulutku.

"Ouuuhhhhh……." Erang pak parno merasakan kenikmatan. Seketika kucubit paha pak parno dan kutatap pak parno sayu, kukerutkan keningku sambil kugelengkan kepalaku yang mulutku sedang kumasukan penis pak parno.

"Hehe iyaaa… abis enak banget sepongan ce Nely, udah pintar banget nyepongnya" puji pak parno tersenyum menatapku yang sedang menelan setengah penisnya, karna gak muat seluruhnya masuk ke mulutku.

"Glokk…. glokk…glokk….." ku percepat kepalaku memaju mundurkan penis pak parno di mulutku. Penis itu terasa menyentuh ujung kerongkongan ku.

Bahkan lidahku kini kumainkan di dalam menjilati setiap inci kulit penis pak parno dan jemariku kuarahkan ke testis pak parno meremasnya lembut.

"Bangsaatttt…. Bangsaattt…. Ahhhh" racau pak parno pelan merasakan kenikmatan. Tak kuperdulikan racauan pak parno lagi, kini kupercepat kepalaku.

Liurku menetes jatuh ke lantai dari mulutku yang penuh oleh penis pak parno. Pak parno kini memegangi kepalaku membantuku untuk memaju mundurkan kepalaku, terasa penis itu masuk seperti aku sedang menelan daging besar bulat-bulat lalu keluar lagi, sehingga penis itu keluar masuk kerongkongan ku.

Mataku pun terbelalak hanya tersisa putih nya saja, karna pak parno kini dengan kuat memaksakan penisnya masuk seluruhnya kemulutku.

"Glokk…glokkk…glokkk…" suara mulutku yang di di masuki penis pak parno dengan kasar.

"Ahhh….. anjinggg…. Enakhhh…. Mulut amoy… bangsatt….akkkhhhhh" teriak pak parno dan dengan sekali hentakan dalam terasa sperma pak parno menerobos masuk ke kerongkongan ku.

Ku mundurkan kepalaku namun tertahan oleh tangan pak parno yang menahan kepalaku di selangkangan nya.

"Mmhhhh……….." kugelengkan kepalaku namun pak parno masih terus menahan kepalaku dan dengan terpaksa sperma itu tertelan sebagian masuk ke dalam perutku.

"Ahhhhh……….ahhh……" kutarik nafas dalam-dalam saat pak parno melepaskan genggaman nya di kepalaku, kujulurkan lidahku mengeluarkan semua sperma pak parno yang tersisa.

"Ahhh… cuihhh…." Kuludahkan semua sperma itu bersama air liurku dan kulap mulutku menggunakan tangan.

"Bangsatt… ahhh…. Mulut Ce Nely enak" racau pak parno, aku hanya terduduk di bawah kaki pak parno sambil meludah kelantai mengeluarkan sisa sperma yang terasa aneh di mulutku.

Kulirik ke arah wajah pak parno yang masih memejamkan matanya, sepertinya pak parno benar-benar kenikmatan dengan apa yang kulakukan tadi.

"Pak…bapak…." Terdengar suara Heri memanggil dari depan pintu.

Aku langsung terkejut dan berdiri memeluk pak parno.
"Pak takuttt…." Kupeluk pak parno erat dan di balas dengan pelukan pak parno pada tubuhku.

"Iya her ?" Teriak pak parno.

"Bapak gak kenapa-kenapa kan ?" Tanya heri.

"Ohhhh… gak her, bapak cuma teringat ibuk" ucap pak parno memberi alasan.

"Udah ya bapak kedepan dulu.. muah…" kecup pak parno pada keningku.

"Pak… ayooo keluarin Nely, Nely udah di telpon suami terus" bisikku sambil merengek ke pak parno.

"Sabar, menantu bapak masih ada di depan, sabar yaa…" bisik pak parno menenangkan ku.

"Cepat ya pak" rengekku pada pak parno yang membuka pintu dan meninggalkan ku di kamar.

Aku duduk di tepi ranjang dan kulihat lelehan sperma pak parno dan air liurku yang berceceran di lantai. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08:15 malam dan kuraih ponselku, ada 20 panggilan masuk dari Hendri dan beberapa pesan WA yang tak berani kubuka. Hanya beberapa pesan terakhirnya saja yang terbaca di layar depan ponselku.

"Kenapa belum pulang ?" Pesan WA Hendri.

"Mami gak biasanya seperti ini" isi pesan WA terakhir Hendri.

"Maafin mami Pi…, mami gak bisa pulang, terjebak di kamar pak parno" seketika kututup wajahku dengan kedua tanganku.

Pikiranku kalut waktu itu, gelisah ingin segera keluar dari kamar itu, namun sudah 30 menit pak parno juga belum kembali ke kamar. Aku berjalan ke arah pintu kutempelkan kupingku ke arah pintu terdengar suara pak parno dan menantunya sedang berbincang.

Kubuka sedikit pintu untuk mendengarkan percakapan mereka. Terdengar lah suara pak parno sedang berbincang- dengan Heri.

"Bapak ikut aja ke tempat Heri , dari pada sendiri disini pak, nanti bapak kesepian" ucap Heri.

"Oalahhh.. yooo Ndak toh, bapak senang disini, nak Heri tenang aja ya" balas pak parno.

"Tapi bapak udah gak sanggup lagi kerja, nanti siapa yang urus bapak" tanya Heri.

"Kata siapa bapak gak sanggup, ni masih kuat haha" tawa pak parno terdengar.

"Yaudah deh kalau bapak gak mau ikut, ya Heri bisa apa pak hehe" balas Heri.

Kumundurkan langkahku ke ranjang.
"Hmmmmmm….." kutarik nafas dalam, dalam hatiku ingin segera keluar dari situ. Tiba-tiba terbayang anak-anakku dan suamiku dirumah yang sedang menunggu mami nya pulang dan Hendri pasti cemas menunggu ku.

Tak terasa mataku terpejam karna kelelahan karna dari siang tadi tak henti-hentinya pak parno menggenjot lubang vaginaku dan anusku, mulai terasa sakit pada lubang pantatku yang terbuka karna sodokan penis pak parno. Terasa lengket juga dari pantat hingga pahaku mungkin karna sperma pak parno yang sudah mengering dan tak lama aku tertidur di ranjang pak parno.

"Ce… ce Nely.. bangun" pak parno menggoyangkan tubuhku.

Kubuka mataku perlahan terlihat pak parno sudah berbaring di sebelahku, wajahnya berada tepat di hadapanku.

"Hah… jam berapa ini pak ?" Tanyaku terkejut melihat sekitar.

"Jam setengah 12 ce" terasa tangan pak parno mengarah ke payudaraku dan meremasnya.

"Ehh.. pak.. ayo keluar" jemariku menggenggam lengan pak parno sambil menatap matanya sayu.

"Tidur sini saja ya sama bapak" jawab pak parno sambil jemarinya terus meremas payudaraku.

"Ahhh…. Gak pakhh.. suamiku nyariin dari tadi" aku teringat pesan Hendri yang kubaca terakhir sebelum aku tertidur.

"Ayok pak antar aku keluar" ujarku sambil memegang lengan pak parno yang berada di payudaraku.

"Cium bapak dulu" senyum pak parno kepadaku.

"Bentar aja ya pak ?" Ucapku pelan.

"Iya sayang" jawab pak parno.

Lalu kurangkul leher pak parno dan mendekat kan wajahnya ke wajahku, ku buka mulutku dan langsung di sambut dengan lidah pak parno yang menerobos ke dalam mulutku, seketika bibirku bawahku di sedot oleh bibir pak parno dan menjilati sekitar daguku.

"Mmmhhhh……." Lenguhku manja menerima ciuman pak parno.

"Sluurppp … slurppp…. " Bunyi peraduan bibir kami, liur kami bercampur dan tangan pak parno meraba payudaraku dan di remasnya.

"Pakhh…." Desahku di sela cumbuan bibir kami.

"Ahhhh……" desahku terdengar manja.

Kedua wajah pak parno ku pegang dan kutatap matanya sayu.
"Udah ya pak, besok Nely kesini lagi" bisikku pelan, mataku sayu. Sebenernya pak parno berhasil menaikkan nafsu birahiku kembali namun saat itu fikiranku takut karna di sebelah ada anak dan menantunya dan Hendri yang dari tadi menelpon ku.

"Bener yaaa, bapak masih pengen ngentotin ce Nely" bisik pak parno.

"Besok ya pak, kita lakukan lagi" ucapku memelas agar pak parno mau mengantar ku keluar dari rumahnya.

"Lakukan apa haha?" Tanya pak parno sambil tertawa kecil.

"Iyaaa itu.. kayak tadi siang" jawabku malu-malu

"Iyaaa itu apa ce ?" Pak parno mengerutkan keningnya mempermainkanku

"Ihhhhh… iyaaaa…kita ngentot lagi pak" jawabku kesal sambil mencubit lengan pak parno.

"Aww…awwww… sakit… ampun..hahaa" tawa pak parno.

"Sssttt … jangan keras-keras pak" jawabku berbisik karna takut terdengar anak pak parno.

"Hihi iyaaa… abis Cece cubit bapak, sakit tau" balas pak parno.

"Yaudah yuk pak kita keluar" sambil mengangguk mengajak pak parno keluar rumahnya.

"Eee… sebenarnya bapak pengen ngentotin Cece sampe pagi, tapi yaudah deh nnti ce Nely di cariin pula sama suami" balas pak parno

"Iiihhh… pak parno gak puas apa seharian ini gituin Nely" jawabku kesal.

"Kalau ngentotin ce Nely 1 Minggu pun bapak kuat haha" tawa pak parno.

"Ihhhh… pak parno mesum…, yuk pakkk…." Rengekku manja.

"Yaudah yuk… yukk… cup" pak parno mengecup bibir ku dan duduk dari ranjangnya.

Aku pun berdiri lalu merapikan pakaianku, kuraih tasku yang berserak di lantai. Pak parno membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya, diliriknya kiri kanan.

"Yuk" pak parno menggenggam tanganku keluar kamar. Kuikuti langkah pak parno yang menarik tanganku hingga sampailah di pintu depan dan pak parno langsung membuka pintu depan.

Aku langsung melangkahkan kakiku keluar rumah pak parno dan pak parno mengantarku sampai ke mobil. Kurogoh tasku mencari kunci mobil dan segera menekan remotnya.

Ketika hendak membuka pintu mobil pak parno mendorong ku sehingga aku tersandar di mobil.

"Mmmhhhh….. mhhhhh….." tiba-tiba pak parno mencium bibirku kembali, lalu kubalas cumbuan pak parno. Kusedot-sedot bibir pak parno dan dengan cepat jemarinya meremas payudaraku.

"Aahhh….. pakhhhh…mmmhhh…slurppp" desahanku terdengar, untung saja malam itu sudah sepi. Pintu rumah warga sudah tertutup semua sehingga tak ada yang mendengar desahanku.

"Ahhh…. Udah ya pakhh…. Ahhh…" di sela desahanku yang sedang di kuasai nafsu kembali.

"Mhhh….mmhhh…." Aku berusaha bernafas setelah cumbuan pak parno.

"Besok kita ngentot lagi ya ce" tatap pak parno sayu.

"Ehhh… iyaaa pak… cupp." Ku kecup bibir pak parno sambil mengangguk pelan.

Aku kemudian membuka pintu mobil dan kurebahkan pantatku di kursi mobil. Kubuka kaca mobil dan kulihat pak parno kembali.

"Nely pulang dulu ya pak" ucapku sambil tersenyum ke pak parno.

"Aahhh….." seketika pak parno meremas payudaraku.

"Iihhhh… udah pak …. Nakal banget tangannya" sambil menepis tangan pak parno.

"Hahaha tetek ce Nely lembut banget, pengen bapak remas terus" tawa pak parno.

"Ihhhh… udahh… besok lagi.. besok bapak puas remas-remas payudara Nely" balasku sambil tersenyum genit.

"Yaudah Nely pulang dulu, suami Nely udah nyariin ni dari tadi" sambil kutarik rem tangan dan segera memundurkan mobil.

"Yaudah hati-hati yaaa… salam sama memek ce Nely, kontol bapak kangen hahaha" tawa pak parno.

"Ihhh… gak mau… katanya gak boleh masuk lagi punya bapak hihi" sambil kujulurkan lidah mengejek pak parno.

"Nely pulang ya, bye" sambil kumundurkan mobil dan meninggalkan pak parno. Kulihat dari spion mobil pak parno masih memandangi mobilku yang sudah menjauh meninggalkan nya.

Terasa sakit di lubang pantatku kini, karna baru pertama ini di masuki oleh penis. Penis pak parno yang besar bisa masuk ke lubang pantatku yang sempit dan kenapa rasanya enak sekali saat pak parno menggenjot lubang pantatku.

"Ahhhh… entahlah" gumamku sambil kugelengkan kepalaku, yang jelas hari itu aku puas telah mencapai puncak kenikmatan berkali-kali oleh penis pak parno.

Dan sekarang yang jadi fikiran adalah bagaimana aku cari alasan supaya tidak di marahi Hendri suamiku. Hari sudah menunjukkan pukul 01:00 malam, mobilku sudah terparkir di depan ruko ku. Kulirik ponsel ku masih terbaca pesan terakhir Hendri tadi.

"Emmmm….. apa yang harus aku bilang ni sama Hendri, ya ampun" ku ketuk kepalaku ke stir mobil mencari alasan yang pas untuk di sampaikan ke Hendri.

Tiba-tiba gerbang ruko terbuka, keluarlah Hendri dari pintu ruko, dilihatnya ke arah mobil ku tajam seperti sedang menahan emosi dan seketika dia berjalan ke arah mobil.

"Tok…tok…tok…" Hendri langsung mengetuk kaca mobil ku.

"Dari mana kamu ? Kenapa baru pulang" gertak Hendri, terlihat dirinya sedang di kuasai emosi.

"Eee…. Itu Pi… maaf tadi mami gak izin dulu sama papi" kutundukan wajahku karna tak berani menatap matanya yang sedang emosi.

"Izin apa ? Kamu sudah berani pulang malam ya, gak ingat lagi sama anakmu, istri macam apa kamu pulang jam segini" bentak Hendri keras.

Aku hanya terdiam tidak berani menjawab karna kepalaku juga sakit dan tubuhku lemas seharian bersenggama dengan pak parno.

"Sini… keluar kamu" tiba-tiba Hendri membuka pintu mobil dan menarik tanganku keluar.

"Akkkhhh… sakit Pi" teriakku kesakitan di paksa Hendri keluar dari mobil.

"Masuk ke dalam" perintah Hendri dengan nada emosinya.

"Iii…iya Pi" jawabku terbata melangkahkan kaki ku ke dalam rumah.

Hendri kemudian memarkirkan mobilku ke garasi dan aku sudah masuk ke dalam rumah. Aku hanya berdiri di depan pintu sambil menunduk tidak berani melangkah ke dalam, kutunggu Hendri yang keluar dari garasi.

"Masuk… kamu…" Hendri menarik tanganku kasar dan menarikku naik ke lantai 2 dan seketika aku di dorong nya ke sofa.

Aku hanya tertunduk lesu terasa air mataku menetes melalui pipiku karna perlakuan kasar Hendri.

"Maaf Pi…. Hiksss.. hikssss…" aku terisak, air mataku tak dapat lagi kutahan.

"Eh kamu tu sadar diri gak ya ? Istri macam apa pulang jam segini" bentak Hendri keras kepadaku yang tertunduk ketakutan akan emosi Hendri.

Seumur pernikahan kami tidak pernah Hendri emosi seperti ini, ya ini salahku juga karna aku berada di rumah pak parno dan bahkan aku sudah selingkuh dengannya, aku biarkan penis itu mengobok-obok lubang vagina dan anusku.

"Jawab !!!" bentak Hendri yang melihatku tertunduk ketakutan.

"Ee…. Pii… jangan bentak mami Pi.. mami takut… hiksss…hiksss…" aku mencoba meredam emosi Hendri.

"Alahhh…. Kalau kamu gak suka tinggal disini lagi bilang !!! Bisa aku usir kamu malam ini" sepertinya Hendri benar-benar di kuasai emosi malam itu.

"Ee…. Gak Pi… jangan…" seketika kupeluk kaki Hendri.

"Sudah pii… mami jelasin… jangan bentak mami ya… hikss….. hiksss…." Aku menangis memeluk paha Hendri kubenamkam wajahku ke pahanya.

Seketika Hendri terdiam, kulihat wajahnya namun dia membuang wajahnya dari tatapanku. Tangannya di lipat di dadanya dan seakan tidak memperdulikan ku yang memeluknya memohon untuk tidak membentak ku lagi.

"Pii…. Please dengarin mami… hiksss..hikss…" aku kembali memohon pada Hendri agar mendengar alasanku, ya tentu aku akan berbohong lagi pada Hendri.

Kebohongan yang terus kulakukan menutupi kelakuanku yang sudah selingkuh dengan mantan satpam sekolah anakku.
Hendri terus diam dan tidak melihatku yang di bawahnya sedang menangis.

"Tadi mami keluar kota nganterin orang tua teman mami" ucapku membuka keheningan namun Hendri hanya diam saja.

"Tadi temen mami meninggal Pi, orang tuanya minta bantuan untuk nganter ke kampungnya karna hanya ada mami temannya yang datang disitu" kujelaskan kebohongan lagi kepada Hendri agar dia percaya bahwa aku tidak melakukan hal yang macam-macam di luar sana.

"Mami kira Deket, ternyata jauh karna mami gak tau daerahnya. Terus karna bawa mobil jadi mami gak sempat pegang hp" ucapku lagi meyakinkan Hendri.

Namun Hendri masih tetap tidak menatapku yang berbicara di bawahnya, dia tetap membuang muka ke samping.

"Mami sampai disana sudah jam 8 malam, gak ada istirahat langsung pulang ke sini Pi, karna mami takut papi pasti marah" terang ku lagi pada Hendri, kulihat Hendri mulai melihatku ke bawah.

"Maaf salah mami gak ngabarin papi
.. hiksss…" segukku masih menahan tangis karna emosi Hendri malam itu.

Kami terdiam setelah itu tidak ada sepatah katapun muncul dari Hendri, aku berharap dia terima alasan kebohongan ku. Padahal aku dari siang tadi menikmati genjotan penis pak parno hingga malam ini aku sebenarnya terkurung dirumahnya tidak bisa pulang.

"Yaudah sana kamu, aku mau tidur" Hendri menggoyangkan kaki nya agak kulepas dari pelukan ku dan akupun melepas pelukan pada paha Hendri sambil tersungkur lesu di lantai. Kulihat Hendri berjalan ke arah kamar dan menutup pintu.

Aku tertunduk lesu rasa pegal pada badanku dan sakit pada lubang anusku masih terasa akibat persetubuhan hebat kami dari siang tadi namun aku takut akan emosi Hendri padaku.

Akupun beranjak kekamar mandi untuk membersihkan badanku. Kuguyur seluruh tubuhku dengan air hangat yang keluar dari shower, aku melamun saat air mengguyur tubuhku. Terbayang penis pak parno yang keluar masuk vaginaku dan anusku tadi, kugelengkan kepala menghilangkan fikiran itu.

Setelah mandi aku lihat pintu masih tertutup rapat, aku takut masuk kamar malam ini. Masih takut akan emosi Hendri yang masih meledak saat ini dan aku pun membaringkan tubuhku di sofa.

"Nely apakah kamu sudah siap dengan konsekuensinya" terlintas di fikiranku kejadian ce Jesica yang di ceraikan suaminya karna selingkuh dengan Agus.

"Tapi kan Agus itu yang jahat, kenapa dia sampai ngirim video ke ko Aseng, harusnya sih biarin aja selingkuh di belakang ko Aseng..hmmmmm…" gumamku dalam hati.

"Berarti selama pak parno menjaga rahasia dan aku juga menjaga rahasia. Keluargaku akan tetap baik-baik saja" otakku terus berfikir tentang apa yang sudah aku lakukan, aku bisa kehilangan semua yang kumiliki jika ini ketahuan.

"Benar, itu kesalahan Agus yang terlalu bernafsu ingin memiliki ce Jesica seutuhnya" aku menyalahkan perbuatan Agus karna sudah membuat keluarga ce Jesica hancur.

"Berarti selama rahasia antara aku dan pak parno terjaga, penis pak parno tetap bisa bebas masuk dalam vaginaku dan keluargaku akan baik-baik aja" aku membenarkan perbuatanku sendri setelah apa yang aku lakukan adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Tak lama mataku terpejam dan aku tertidur di sofa tanpa selimut, hanya bantal sofa yang menjadi penopang leherku.

"Miii…… bangun mii….." terdengar suara velin membangun ku pagi itu.

"Mami kenapa tidur disini ?" Tanya velin.

"Eee… gak sayang, mami tadi malam nonton terus ketiduran hehe" ku peluk velin yang berdiri di sampingku.

"Ehhh… kamu gak sekolah sayang ?" Tanyaku pada velin.

"Enggak mi, kan tanggal merah hehe" tawa velin mengingat kan bahwa hari itu adalah tanggal merah jadi anak-anak tidak ada yang sekolah.

"Ya ampun aku sampai lupa hari" gumamku dalam hati.

"Eeeehhhhh….." kureganggkan tubuhku terasa pegal-pegal seluruh badanku dan pantatku masih sedikit terasa sakit

"Duhh… ngapain sih sampai masukin penis bapak ke pantatku, sakit bener lagi gak hilang-hilang" aku berdiri sambil menunggingkan sedikit pantatku karna terasa sakit.

Sudah tiga hari aku tidak datang kerumah pak parno, karna aku menebak kalau menantu dan anaknya masih ada dirumah.
Aku WA pak parno pun katanya masih ada anak dan menantu nya dan aku bilang kalau aku blm mau kesana kalau mereka masih ada.

Pagi itu aku sedang mempersiapkan peralatan dan buku-buku anakku yang akan berangkat sekolah, Hendri sampai saat ini juga belum menegurku dan aku juga tidak bisa berkata apa-apa karna aku tidak tau lagi caranya untuk membuat Hendri percaya padaku.

"Hmmmmmmm…….." aku menarik nafas dalam-dalam.

"Mau sampai kapan Pi kita gak teguran" gumamku memikirkan hubungan ku dengan suamiku yang tidak seperti biasanya. Namun terlintas pikiranku untuk bertemu pak parno yang tertahan karna masih ada anak dan menantunya.

Aku kemudian mencari ponselku yang terletak di atas meja lalu mencari kontak pak parno.

"Sudah pulang pak anak bapak ?" Ku kirim pesan pada pak parno.

"Kalau sudah Nely mau kesitu pak" timpalku mengirim pesan lagi ke pak parno.

Namun tidak ada balasan dari pak parno dan aku melanjutkan kegiatanku mempersiapkan anakku yang mau berangkat sekolah.

"Ayookkk velinnn… nicoo… lama bener mandinya" teriakku dari kamar memanggil anakku.

"Iyaaaa miii….." terdengar suara kedua anakku dari kamar mandi.

Pagi itu aku pakai kemeja putih dan celana Levis pendek, aku tatap wajahku di cermin. aku memandangi tubuh ku, ku bayangkan saat pak parno memelukku dari belakang dan meremas kedua bongkahan payudara ku.

"Mmmhhhhh……." Seketika tanganku meremas payudara ku sendiri dan entah kenapa nafsuku begitu naik pagi itu.

Lalu kubuka beberapa kancing kemejaku dan kutarik kesamping menampilkan pundakku yang mulus. Lalu kuambil ponselku dan aku mengambil beberapa foto selfie.

Aku buka WA dan mencari pesan pak parno, ternyata pesan tadi belum di baca olehnya.

"Pak Nely kangen di masukin itu bapak" sambil ku kirimkan foto selfie ku ke pak parno.

"Mii…. Udah siap" tiba-tiba anakku sudah berbaris di belakang ku dan langsung ku kancingkan kemeja ku lagi.

"Ayok… jagoan mami, kita sekolah" teriakku girang sambil memegang kedua tangan anakku.

Ketika turun ke toko aku lihat Hendri sedang menulis nota pelanggan yang belanja, aku tertunduk dan saat itu aku hendak melewati nya saja tanpa berkata apapun padanya.

"Mi…" tegur Hendri.

Aku seketika terkejut karna Hendri sudah mulai menegurku, lalu ku palingkan wajah ke Hendri dan kulemparkan senyum ku.

"Hati-hati ya, sini papi cium dulu" tangan Hendri terbuka dan aku segera mendekat kearahnya dan masuk dalam pelukannya.

"Mmmuahh… maafin papi ya mi" bisik Hendri lembut, dirinya sudah kembali seperti biasa, Hendri yang lembut yang sayang padaku.

"Tapi pi, mami sudah di nikmati oleh lelaki lain, bahkan anus mami sudah di masuki oleh penis yang selama ini belum pernah papi sentuh" lamunku sambil kutatap wajah Hendri.

"Mmuah… iya Pi, mami yang minta maaf" kukecup pipi Hendri sambil aku tersenyum padanya.

"Mami… jalan dulu ya Pi.. bye" aku meninggalkan Hendri sambil memegang kedua tangan anakku.

"Hati-hati mi… love you" teriak Hendri dari dalam toko.

Nampak om Flores sedang merokok diluar dan memperhatikan kami, kutatap matanya tajam dan berjalan menuju mobilku.
"Cium juga dong ce hehe" tawanya mesum.

"Nihh…." Sambil ku monyongkan bibirku pada om Flores.

"Ouhhh…. Gak kerasa ce haha" ucapnya sambil tertawa

"Mau yang asli ?" Tanyaku pada om Flores

"Iya iya mau hihi" om Flores mendekat ke arahku.

"Besok yah… wekkk.. haha" ku ejek om Flores dan aku tertawa karna lucu melihat wajah om Flores yang sedang pengen menjamah tubuhku.

Aku berjalan ke arah mobilku setelah mengantarkan anakku ke dalam kelas dan bergegas hendak menuju rumah pak parno. Ku hidupkan mobilku dan ku arahkan menuju rumah pak parno.

Kini sampailah aku di bawah pohon besar dimana aku sering parkir mobil, aku bergegas turun dan berjalan melewati lorong arah kerumah pak parno.

"Tok…tok…tok.." ku ketuk pintu rumah pak parno yan tertutup rapat.

"Tok ..tok…tok…" ku ketuk kembali karna tidak ada jawaban dari dalam.

"Pak…. Di dalam ya" teriakku sambil mengintip ke dalam rumah dari celah jendela.

"Hmmmm … kemana ya pak parno" gumamku saat berdiri di depan rumah pak parno.

"Cklekk…" tak lama terdengar pintu terbuka dan keluar lah seorang pria dari balik pintu rumah pak parno.

"Maaf ce, nyari siapa ya ?" Ujar pria tersebut.

Aku ingat dia adalah menantu pak parno yang bernama Heri, ternyata dia masih di sini.
"Ee…. Pak parnonya ada ?" Tanyaku pelan menanyakan pak parno.

"Ohh… pak parno sedang ziarah sama Fitri anaknya, dari pagi tadi berangkat. Silahkan masuk dulu" tawar Heri mempersilahkan aku berangkat.

"Eee… lama gak ya mas ?" Tanyaku pada pria itu.

"Gak tau juga ya ce, bentar kok paling" jawabnya sambil membuka pintu lebar mempersilahkan ku masuk.

"Heri, menantunya pak parno" Heri menjulurkan tangannya.

"Nely" jawabku menyambut tangannya untuk bersalaman.

"Bentar yahh.. aku ambilin minum" Heri berlalu ke belakang.

Aku kemudian berlalu duduk di sofa yang pernah menjadi tempat persetubuhan ku dengan pak parno.

Tak lama Heri datang membawa dua gelas teh
"Silahkan di minum" ujarnya menawarkan teh tersebut.

"Ce Nely siapa nya pak parno ya ?" Tanya Heri yang duduk di seberang ku

"Eee .. siapanya ya, Nely cuma org tua dari anak di tmpt pak parno kerja" terangku.

"Ohhh tak kirain keluarganya haha, tapi gak mungkin juga, mana ada tampang pak parno darah-darah cina nya hahaha" tawa Heri keras mengejek mertuanya sendiri.

"Husss gak boleh gitu, mertua mu loh mas haha" aku pun ikut tertawa kecil mendengar ejekan Heri pada pak parno

"Haha iyoo lohhh… hitam dekil begitu haha" timpal Heri sambil tertawa

Kudengar aksen Heri ini seperti orang Jawa, ada medok-medoknya mungkin dia berasal dari suatu daerah di Jawa sana.

"Hahaha iyaaa juga yah.. enak bener mas ngejekin mertua sendri, aku Kadu lohh ntar" ejekku pada Heri sambil tersenyum. Kulihat Heri dari tadi memandang pahaku yang mulus karna waktu itu aku menggunakan celana pendek sepaha.

"Jangan tohhh cee… bisa mampus mas di hajar bapak nanti hahaha" Heri tertawa terbahak-bahak, aku pun ikut tertawa dengan candaannya mengejek pak parno.

"Mas dari jauh ya ?" Aku menanyakan asal Heri.

"Iyooo ce, mas dari kampung, tukang angkut sawit ke mobil" terang Heri menjelaskan asalnya dan kerjaan dia di kampung.

"Eee maksutnya angkut sawit gimana mas ?" Aku tau buah sawit tapi aku tidak pernah tau kalau ada orang yang kerjanya ngangkat buah sawit.

"Bukannya pakai mesin ya ngangkatnya ?" Tanyaku kembali penasaran.

"Yooo gak tohh… buah sawit e mas pikul haha" sambil Heri memainkan ponselnya.

Tiba-tiba Heri duduk di sebelahku dan menunjukkan fotonya sedang memikul sawit.
"Ini ce ada fotonya mas lagi mikul sawit" Heri menggeser layar hpnya menunjukkan beberapa foto

"Ehhhh….., itu beneran dipikul ? Gak berat ?" Tanyaku penasaran namun terasa duduk Heri terlalu rapat ke tubuhku sehingga lenganku menempel pada dadanya.

"Berani banget ni menantu pak parno" gumamku dalam hati.

"Ringan kok...Ndak berat.. mas udah biasa mikul" terang Heri yang tubuhnya semakin di rapatkan ke lenganku. Terasa dada nya semakin menempel ke lenganku yang terhalang oleh kemeja.

"Ini beratnya bisa 70 kg loh ce" timpalnya menjelaskan kembali.

"Ihh… berat banget, setengahnya berat Nely nih hihi" tawaku kecil membandingkan berat sawit itu dengan tubuhku.

"Emang berat ce Nely berapa ?" Tanya Heri menatapku, seketika mata kami bertemu dan aku langsung menunduk malu.

"Eee… berapa ya, terakhir nimbang 47 kg deh kalau gak salah mas" jari telunjuk ku arahkan ke dagu mengingat berapa berat badanku

"Yoooo ringan itu, biso mas pikul ce Nely hahaa" tawa Heri yang dari tadi tidak memundurkan tubuhnya dari lenganku.

"Hahaha masak sih, emang bisa ?" Ucapku menantang.

"Ya ampun Nely kok malah nantangin sih" keningku kukerutkan karna salah bicara.

"Aaaaahhh……." Tiba-tiba aku terkejut Heri langsung mengangkat badanku.

Aku di bopongnya di atas pundak nya, kini kepalaku berada di belakang punggung Heri dan pahaku di genggamnya erat.

Aku langsung terangkat naik di pundak Heri kepalaku mengadah ke bawah.
"Hahaha ampun mas" ku pukul-pukul pinggang Heri.

"Kuat kan mas, udah biasa mikul ce hihi" tawanya bangga, entah bangga bisa membopong tubuhku atau bangga akan dirinya aku tidak tau.

"Hahaha iya iya kuat, lepasin dong ahhh….." terasa paha mulusku di elusnya oleh jari kasar Heri.

"Tar ya, biasanya mas kalau mikul sawit bawa nya ke mobil jauh, ini mas praktekin" Heri membawa tubuhku berjalan ke pintu depan dan menendangnya hingga pintu itu tertutup rapat dan menguncinya.

"Eh… kok di tutup mas" aku yang msih berada di atas pundak Heri bingung dengan apa yang Heri lakukan.

"Tar di lihat orang mas lagi mikul ce Nely gak enak lohh haha" ucap Heri tertawa.

"Haha iyaaa mangkanya turunin dong, biar gak di lihat orang" ujarku sambil memukul-mukul punggungnya.

"Ini mas praktekin gimana mas mikul buah sawit" Heri melangkah kan kakinya ke kamar, yang berseberangan dengan kamar pak parno.

"Ihhh kok kesini mas ?" Tanyaku heran kenapa Heri membawaku ke kamar.

"Iyaaa anggap aja tadi mas jalan dari bawah batang sawit terus berjalan ke mobil mikulin sawitnya haha" tawa Heri tangannya sudah mengelus pahaku yang mulus dari tadi.

"Ahhh….. mashh… emang buah sawit di elus gitu yahh…." Aku bertanya seakan-akan polos tidak tau apa yang Heri akan lakukan.

"Hihi yooo gak toh, mana ada sawit di elus" tawa Heri namun kini dia meraba bongkahan pantat ku.

"Lahh…. Itu kenapa paha Nely di elushhh….." nafsuku seakan naik ke ubun-ubun saat pantatku di remas oleh Heri.

"Hihi… ini sawitnya empuk bener yahh" Heri meremas pantatku dengan kasar dan jarinya terasa menusuk-nusuk ke tengah pantatku.

"Ahhhh…..turunin dulu mashhhh" terasa nafasku berat saat jari itu dengan kasar meremas pantatku.

Lalu Heri menurunkan ku namun dia menghempaskan ku ke atas kasur.

"Ehhh…awww sakithh " aku terkejut dengan perlakuan Heri yang melemparkan ku ke kasur.

"Gitu lohh ce Nely kalau abis mikul sawit ya di masukin ke mobil" terang Heri sambil mendekat ke arah ranjang.

"Eeee yaaaa Nely gak di lempar juga lohh… sakit tau mas emangnya Nely sawit beneran" ketusku kesal karna di lempar Heri ke kasur.

Kulihat tubuh Heri berkeringat karna mungkin abis mengangkat ku.
"Terus abis itu di udah ?" Tanyaku bagaimana kelanjutan nya saat dia bekerja memikul sawit.

"Mmmmm…. Abis itu ya disusun" Heri langsung meletakkan jarinya di payudaraku dan meremasnya dari balik kemeja ku.

"Ouhhhhhhhhh……" lenguhku menerima perlakuan Heri.

"Mhhh…. Masshhh" aku menggigit bibir bawahku saat menerima remasan Heri pada payudaraku.

"ahhhh….mashhhh… tungguhhh" payudara ku di cengkramnya kuat, terasa remasan Heri begitu kuat sehingga terasa sedikit perih namun nafsuku langsung naik merasakan perlakuan Heri.

"Nahhh terus sangking mas rajin, kadang sawitnya mas ciumin" langsung wajah Heri berada di samping leher ku mencium leherku.

"Ihhh…… gelihhh masss ahhhh…." Rasa geli menjalar di tubuhku saat bibir Heri mencium leher dekat kupingku.

"Mmhhh…. Slurpp…." Langsung Heri menjilati daun telingaku.

"Aaahhhhhh….. mashhh" lenganku langsung memeluk leher Heri. Mataku terpejam menerima rangsangan yang Heri berikan.

"Ahhhh…. Aku bukanhhh sawithhh mashhh ahhh…." Desahku manja kegelian di jilati oleh Heri.

"Terushhh…." Bisik Heri di kupingku.

"Ouhhhh……gelihhh janganhhh bisikhh disitu ahh…." Kurangkul leher Heri kuat-kuat menahan rasa geli.

Lalu Heri mengarahkan wajah nya di atas wajahku, jarak wajah kami hanya beberapa senti. Heri tersenyum kepadaku

"Bilang ajahh mas modus kan ?" Ucapku sambil memeletkan lidahku.

"Haha, siopoo toh yang tahan berduaan dengan amoy seksi kayak ce Nely, dirumah yang kosong gini" ujarnya semakin mendekatkan bibirnya.

"Mmhhhhh……mmhhhhhhhh" seketika Heri menciumi bibirku dan kusambut dengan merangkul lehernya dan membalas ciuman Heri.

"Ahh…boleh ?" Ucap Heri melepaskan ciumannya.

"Mmhh… boleh apa mashh ?" Kugigit bibir bawahku dan tatapanku sayu menahan nafsu yang sudah menjalar di seluruh tubuhku.

"Ngentotin ce Nely ?" Tanya Heri yang tangannya berada di kancing kemejaku sambil membuka kancingnya satu persatu.

Kuanggukan kepalaku sambil tersenyum.
"Sekali ini aja yahh…" ucapku lembut menatap Heri.

"Mmhhhh….. slurppp…." Tiba-tiba Heri menjilat bibirku dengan kasar, lidahku tertarik keluar di sedot oleh bibirnya

"Aahhhhhh…….." desahku saat lidahku di sedot-sedot nya keluar dari bibirku seakan mau di telan.

Kancing bajuku sudah lepas semua dan menampilkan payudaraku yang putih mulus terhalang oleh bra.

Mas Heri dengan rakus menjilati bibirku, terasa liurnya belepotan di wajahku, jilatannya beralih ke dagu, pipiku hingga lubang hidungku pun di sedot-sedot nya. Tercium olehku bau liur Heri namun semakin membangkitkan nafsuku.

Tanganku di tariknya ke atas berada di atas kepalaku sendiri, menampilkan tubuhku yang sudah terlepas dari kancing kemejaku.

"Kasarhhh bangethh masshhh ahhhhh…." Bibirku digigit Heri terasa sakit namun entah kenapa aku malah ingin terus di kasarin olehnya.

"Baru kali ini mas ngentot dengan amoy" ujarnya saat melepas bibir ku.

"Yanghh benerhhh ?" Ku keluarkan desahan manjaku.

"Waduhh…. Ndak tahan pengen nyodok memek amoy" tiba-tiba Heri menjilati leherku.

"Ouhhhhh……. Mashhh……" aku mengadah ke atas membuka leherku selebar-lebarnya untuk di jilati oleh Heri.

"Tungguhhh…." Ku dorong kepala Heri.

"Jangan di merahin yah mashhh" kutatap Heri sayu agar jangan meninggalkan bekas merah pada tubuhku.

"Ahhhh…. Mau di entot aja banyak aturan luhhhh…" Heri mengigit kulit leher ku. Terasa jilatan nya kasar sesekali kulitku di gigitnya.

"Aahhhh….. mashhh… " aku mencakar pundak Heri karna begitu nikmat rasanya tubuhku di perlakukan dengan kasar oleh Heri.

Bra ku di dorongnya ke atas sehingga menampilkan kedua gundukan payudaraku yang putih mulus di hadapan wajah Heri.


(Gambar hanya mulustrasi)

"Aaakkkhhh……sakithhh….." putingku tiba-tiba digigit Heri kuat. Jemariku langsung meremas rambutnya.

"Ahhhhhh……..mashhhh….." terasa payudara ku hendak masuk seluruhnya ke mulut heri.

"Masshhh…… terushhh…." Tanpa sadar aku memerintahkan Heri untuk terus menggigit putingku.

Kini kemejaku di tariknya ke atas dan di lemparkannya entah kemana dan braku pun di bukanya dan di lemparkannya entah kemana. Heri bergegas membuka pakaiannya kini dia telanjang dan aku pun tak mau kalah kubuka celanaku dan celana dalamku.

Kuraih tangan Heri dan Heri kini naik mengangkangi perutku, nampak menggantung penis Heri di atas tubuhku. Nampak penisnya begitu besar dan berurat.

"Gede gak ce Nely ?" Tanya Heri sambil mengocok penisnya di hadapanku.

Aku tak menjawab hanya menganggukkan kepalaku.
"Hisap" perintahnya

kini penis itu tepat di wajahku. Wajahku di kangkanginya mengarahkan penisnya ke mulutku seketika aku membuka mulutku dan pinggul Heri terasa mendorong penis itu masuk.

Heri mulai memaju mundurkan pinggulnya, mulutku terasa terbuka lebar menerima penis itu masuk sedalam-dalamnya ke mulutku.

"Aahhhhhhhhh……ahhhhhhh" kutarik nafas dalam-dalam saat Heri melepas penisnya dari mulutku.

"Asuuu…. Asu… mulut mu kok wenak tenan moy" Heri kembali mendorong penisnya masuk dan seketika mulutku terbuka menerima penis itu masuk

Heri menekan pinggulnya sedalam-dalamnya berusaha memasukan penis itu ke kerongkongan ku.

"Eeekkkkhhhhh…." Ku tepuk-tepuk paha Heri yang mengangkangi ku karna aku kehabisan nafas namun tak di hiraukan olehnya.

"Aaahhhh…… eehekkk…eehekkk…" aku menarik nafas dan terbatuk karna kehabisan nafas menerima penis itu masuk sedalam-dalamnya ke mulutku.

"Nely gak bisa nafas mas" ucapku sambil mengelap bibirku yang berlepotan liurku sendiri akibat menghisap penis Heri.

Heri tiba-tiba membalikan tubuhnya dan kini kepalanya berada di selangkangan ku. Di elusnya vaginaku dengan jari kasarnya.

"Ahhhhh…. Mashhhhh" desahku menerima gesekan jari Heri pada vaginaku.

"Sambil di hisap" perintah Heri mendorong pinggulnya mengarahkan penisnya ke arah mulutku, seketika aku menggenggam penis itu dan memasukannya kemulutku.

Heri tiba-tiba menjilati vaginaku dengan rakus.
"Sluurppp. ..slurppppp….slurppppl" terdengar Heri menghisap semua carian yang membasahi vaginaku, kemudian lidahnya masuk ke dalam vaginaku dan di goyangkannya dengan cepat.

"Mmmmmhhhhh….mmhhhhhhh…mmhhhhh" desah ku tertahan oleh penis Heri yang ada di dalam mulutku.

Terasa lidah itu masuk ke dalam mengorek vaginaku dan dengan cepat pula jilatannya seketika pinggulku terangkat mengikuti jilatan pada vaginaku.

Aku pun tak mau kalah ku percepat hisapanku pada penis Heri, ku maju mundurkan kepalaku dengan cepat dan kukocokan jemari ku pada penis Heri.

"Ahhhh……gelihh…. Mau pipishhh masss…. Ahhhhh……." Kulepas penis Heri dari mulutku pinggul ku terangkat tinggi.

Heri semakin cepat menggoyangkan lidahnya di vaginaku.
"Mau pipishhh ahhh…. Ihhhh…. Masss" seketika tubuhku mengejang dan cairan menyemprot dari vaginaku dan langsung di sedot oleh Heri masuk ke dalam mulutnya.

Terasa kering cairan cintaku yang baru saja keluar di sedot habis oleh Heri masuk ke dalam mulutnya lalu terlihat dia menelan semua cairan itu.

"Ahhhh….ahhh…. Nely lemashh mashh" seketika aku terbaring mataku tertutup, fikiranku melayang entah kemana merasakan kenikmatan orgasme yang baru kurasakan.

Heri membalikan tubuhnya sejajar denganku dan tubuhku di dorongnya membelakangi ku.
"Tak masukin ya ce Nely ?" Heri sudah menggesekkan penisnya di ujung lubang vaginaku dari belakang.

Kubuka kaki ku lebar mempersilahkan penis Heri masuk.
"Iya mashh, pelann yahh" desahku bersiap di masuki penis Heri yang besar.

"Engghhhh….." lenguhku ketika Heri menghentakkan penisnya masuk dari belakang.

"Ahhhh…. Sempit banget asuuu…." Lenguh Heri menerima kenikmatan jepitan vaginaku.

"Pelanhhh mashhh…." Aku melirik Heri yang berada di punggung ku dan seketika dia memeluk perutku dan mulai menggenjot penisnya.

Tangan Heri menarikku dan memelukku dari belakang sementara penisnya mulai maju mundur di vaginaku.
"Aahhhh…..ahhhhh…… mhhhh ouhh" desahku saat penis itu mulai menggenjot vaginaku.

"Plakkk….plak….plak…." Terdengar bunyi peraduan pantatku dan paha Heri Dengan hentakan keras Heri menggenjot penisnya.

"asuuh… ahhh… peret bener dahh… bangsatt…" racau Heri tak karuan.

Aku memeluk lengan Heri kuat dan mengarahkan jemarinya ke payudaraku dan dengan kasar Heri meremasnya, terasa memerah payudaraku oleh remasan Heri yang keras.

Seketika tubuhku di tariknya dan kini posisiku menungging membelakangi Heri.
Heri langsung menancapkan penisnya ke vaginaku dengan kuat.

"Aaaahhhhhh………" kepalaku mengadah ke atas dan terasa jemari Heri mengepal rambutku dengan tangan dan menariknya ke belakang.

"Plakk….plakk….plak…." Terdengar keras hentakan paha Heri beradu dengan pantatku.

Keringat sudah membasahi tubuhku yang telanjang memperlihatkan punggung ku yang putih mulus mengkilap karna keringat

Heri berusaha mencari bibirku, tangannya mencengkram leherku dan aku menjulurkan lidahku untuk di jilati oleh Heri.

"Ahhh….ahhh…ahhh….mhhh…." Desahku terdengar keras tak dapat ku tahan, Heri dengan keras terus menggenjot vaginaku.

"Ahhh…. Perethh benerhhh…" racau Heri

Tanganku keduanya di tarik ke belakang dan Heri dengan cepat menghujam kan penisnya.

"Aahhhhh….ahhh…….ahhhhhh….." aku hanya mengadah, payudara ku menggantung kedepan karna tubuhku di tarik ke belakang.

Seketika tubuhku di dorong Heri dan aku tersungkur ke depan lalu dengan cepat dia membalikan badanku dan menancapkan penisnya kembali.

Kutatap mata Heri sayu dan kugigit bibir bawahku.

"Pelukhhh…." Erangku manja meminta Heri memelukku.

Seketika Heri menjatuhkan tubuhnya di atas badanku dan pahaku langsung melingkar di pinggang Heri.

Pinggul Heri mulai maju mundur menggenjot vaginaku kembali

"Enakhhh ce ?" Bisiknya di kupingku.

"Ahhhh…. Iyahhh enakhhh" lenguhku, lenganku melingkar di leher Heri dan Heri dengan kuat memeluk ku.

"Udh berapa kontolhh yang mssukhhh kesini.. ahhh" racau Heri di kupingku.

"Ahhhh….ahhhh…. Tigahh… mmhhhhh." Tanpa sadar aku menjawab karna kini cairan cintaku mendesak keluar dari vaginaku.

"Bangsatthhh…. Lontehh juga nih amoyhhh" Heri makin cepat menggenjot penisnya.

"Nelyhh bukan lontehh ahhhh" aku mencakar pundak Heri dan cengkraman pahaku makin kuat di pinggulnya.

"Terushh….ouhh… mashh keluarhhh" Heri makin mempercepat sodokannya

"Di luarhh mashhh ahhh……." Aku semakin kuat mencakar pundak Heri karna orgasme ku sebentar lagi akan sampai.

"Aaaakkkkhhhhhh….." erang Heri kuat.

Heri mengangkangi wajahku dan menyemprotkan spermanya ke wajahku.
Tubuhku pun kejang mendapatkan orgasme.

"Mmhhhh….. kok di wajah sih….ahhhh…" ketusku mengelap sperma Heri.

"Wajah amoy emang mantep di pejuin haha" tawa Heri yang terbaring lemas di sampingku.

"Ihhh lengket tauu….niiihhh…" aku mengelap sperma Heri ke wajahnya juga.

"Hahaha ihhh kok di lap ke wajah mas ce Nely" tawa Heri sambil nafasnya ngos-ngosan

"Aaahhhhh…. Lemashhh mashhhh….." aku menutup mata sementara kubiarkan spermanya mengering di wajahku.

"Sama mas juga… hmmmmmm…." Terasa tangan Heri menjalar ke payudaraku.

"Iihhhhh….. udahhh…. Ni lengket wajah Nely nih kena spermanya mas Heri" ketusku menepis tangannya.

"Ni…ni…ni…. " Aku oleskan sperma nya ke wajahnya juga.

"Hahaha eit eit ndk kena" Heri menahan tangan ku agar tidak mengenai wajahnya.

"Huuu dasar, Nely mau ke kamar mandi nnti pak parno datang" ucapku mengumpulkan semua pakaianku dan pergi ke kamar mandi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Pengantin Brutal 5

Sheryl Budak Napsu Gurunya

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Aplikasi XBang Oriental 2

Rahasia Seorang Istri

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Majikanku Kena Rampok

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku