Langsung ke konten utama

Aplikasi XBang Oriental 2

Tak terasa seminggu telah berlalu sejak malam brutal di ruang praktik rumah sakit elite dengan bangunannya yang megah itu. Rasanya seperti mimpi buruk yang nikmat sekali. Setiap hari aku bangun tengah malam dengan badan basah keringat. Aku masih ingat jelas suara desahan dokter seksi Caroline yang menggairahkan ketika sedang digilir secara brutal oleh teman-temanku. Ketika pantatnya yang semok kutampar keras sampai dia menjerit keenakan. Aroma keringat kami bercampur dengan aroma antiseptik di ruang praktiknya. Lendir lengket masih terasa menetes ke lantai saat itu.

Aku tidak bisa tidur nyenyak lagi. Setiap kali membuka ponsel jempolku langsung menuju pesan gelap itu. Tapi aplikasi XBang Oriental hanya menampilkan pesan statis yang sama. Cooldown aktif. Akses berikutnya tersedia tujuh hari sejak penggunaan terakhir. Aku mencoba bersabar karena rejeki seorang pribumi tidak akan lari kemana. Setiap hari aku tetap berusaha membuka aplikasi terlarang itu tapi hasilnya selalu sama saja. Tidak ada profil baru. Tidak ada notifikasi. Yang ada hanya angka countdown kecil di pojok layar yang berkurang satu per satu.. hari demi hari. Aku jadi semakin gelisah. Pekerjaan ojol bahkan terasa lebih berat dari biasanya. Setiap penumpang cewek amoy yang kuantar ke mall-mall elit sekarang membuatku teringat Caroline. Kulit putih susunya yang halus dan glowing. Mata sipitnya yang seksi dan menggoda. Senyum manisnya yang berubah menjadi erangan liar saat ditampar keras.

Saat bekerja.. aku jadi sering berhenti dan melamun jorok di pinggir jalan. Aku menyalakan rokok lalu membayangkan lagi apa yang akan terjadi kalau aplikasi ini akhirnya terbuka kembali. Kejantananku sering mengeras di dalam celana hanya karena mengingat payudara montok dokter amoy itu yang bergoyang-goyang setiap kali temanku menggenjot liang kewanitaannya yang sempit. Aroma tubuhnya yang lembut bercampur keringat persetubuhan liar masih terasa di hidungku. Lendir kawin yang meleleh deras dari kemaluannya saat dia melenguh meminta lebih kasar dan brutal. Aku menghela napas panjang sambil mematikan rokok di asbak kecil. "Sialan !! Masih lama.. Masih tiga hari lagi. Kataku pelan sambil menatap layar ponsel yang gelap dan tak merespon ketika kusentuh.

Aplikasi Terbuka Lagi

Hari ketujuh tepat jam 00.10 dini hari. Ponselku bergetar pelan di samping bantal. Notifikasi dari Telegram muncul. Xbang Oriental unlocked. Selamat menikmati petualangan liar minggu ini Dika. Seketika jantungku langsung berdegup kencang. Aku langsung mengambil posisi duduk tegak di kasur busa yang sudah lembab oleh keringat. Kipas angin masih berisik di pojok kamar. Tapi dunia seolah diam sejenak.

Aku langsung membuka aplikasi itu. Layar hitam pekat muncul lagi. Logo OXB merah gelap berkedip pelan. Aku masuk ke home screen. Katalog profil masih berderet ratusan. Beberapa kotak sekarang bertanda New Session atau Cooldown Selesai. Aku menggeser layar dengan pelan. Napasku tertahan. Jari tanganku sedikit gemetar. Aku merasa batangku sudah setengah mengeras hanya karena melihat deretan foto wanita-wanita cantik dengan paras oriental yang seksi. Kulit putih, wajah oriental dan payudara besar mereka terlihat jelas di foto-foto telanjang. Beberapa foto menampilkan liang kewanitaan para wanita chindo seksi yang menganga basah dengan lendir kawin yang mengkilap. Aku langsung membayangkan bagaimana rasanya jika kontolku menghujam masuk ke dalamnya dengan kasar dan brutal sampai mereka melolong minta ampun. Aroma tubuh wanita-wanita seksi berkulit putih seperti porcelen itu seolah sudah tercium di kamar sempitku. Perpaduan antara keringat dingin bercampur gairah membuat kulitku langsung terasa panas. Aku menelan ludah dengan susah payah sambil terus menggulir layar. "Sekarang sudah tiba giliranku lagi. Aku akan buat amoy amoy seksi itu merintih keenakan dan ketagihan kontol pribumi. Kataku pelan dengan suara serak.

Profil pertama yang muncul adalah dr. Caroline Lavinia. Foto profilnya masih sama. Jas dokter putih dengan senyum manis. Tapi ada update di bawahnya. Status terbaru: Minggu lalu aku masih merasa sakit di selangkangan setiap kali berjalan. Tapi aku kangen lagi. Malam ini aku siap di ruang praktek lantai empat. Pintu belakang rumah sakit masih terbuka untuk kalian semua. Rating baru: 9.9/10 dari 4 pengguna. Catatan tambahan: Creampie tanpa batas. Tamparan wajah dan bokong wajib. Safeword: stetoskop. Tapi aku tidak akan memakainya. Aku langsung teringat kembali malam minggu lalu saat teman-temanku dan aku bergantian menyetubuhinya di meja praktik itu. Tubuh sintal dan montoknya yang putih glowing benar-benar membuat kami gila. Payudaranya yang besar ukuran 36E bergoyang liar setiap kali batang kami menghujam masuk ke liang kewanitaannya yang sangat sempit. Puting susunya yang merah muda mengeras dan aku sering mencubitnya keras sampai dia melenguh. Pantatnya yang semok dan paha mulusnya yang putih sudah penuh bekas tamparan merah. Setiap kali aku memompa dengan kasar dari belakang dia menjerit dan mengerang meminta lebih brutal. Lendir kawinnya meleleh deras bercampur air mani kami yang menyembur berkali-kali di dalam kemaluannya. Creampie tanpa batas membuat vagina sempitnya penuh dan meluber ke lantai. Aroma keringat tubuhnya yang lembut bercampur bau seks masih terbayang jelas di hidungku. Dia memang suka direndahkan oleh pria pribumi kasar dan malam itu dia benar-benar puas sampai sulit berjalan keesokan harinya. Aku menatap layar ponsel dengan napas yang semakin berat. Penisku sudah keras penuh dan berdenyut-denyut di dalam celana pendekku. Tangan kananku tanpa sadar meremas kejantanan yang hangat. Dokter amoy semok ini emang bikin nagih. Tapi kali ini aku ingin coba yang lain.. Kataku pelan dengan suara serak penuh gairah. Aku menggeser lagi dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Profil berikutnya juga sudah pernah aku lihat sebelumnya.

Nama : Clarissa Tan.
Usia : 26 Tahun.
Tinggi badan : 165 cm
Berat badan : 54 kg
Ukuran bra : 34D
Profesi : Corporate lawyer disalah satu          hukum ternama di Sudirman. 

Foto pertamanya menunjukkan blazer ketat hitam di ruang rapat dengan senyum profesional. Foto keduanya menunjukkan dia berlutut di meja rapat yang sama. Tangan diikat dengan dasi Hermes merah. Mulut terbuka lebar dengan dildo besar tepat di depan bibirnya.

Alasan ikut: Aku sering menang setiap kasus di pengadilan tapi aku selalu kalah bila diatas ranjang. Minggu ini aku ingin kalah lagi di ruang rapat lantai tiga puluh lima setelah jam kantor. Jumlah peserta max tujuh orang. Boleh merekam full HD tapi tidak boleh disebar.

Rating: 9.7/10 dari 4 pengguna.
Review : Deep throatnya enak banget. Tenggorokannya kuat dan dalam. Setiap kali kontol dihujam sampai ke tenggorokan dia hanya bisa mengeluarkan air liur sambil menangis. Suka sekali face-slapping kasar sampai pipinya merah dan air matanya muncrat. Semakin kasar ditampar semakin basah memeknya. Perfect little pain slut.

Aku geser lagi. Michelle Lim. 21 tahun. mahasiswi perguruan tinggi yang terkenal banyak chindonya. Foto barunya: dia di kamar kos mewah dekat kampus, tangan diikat ke kepala ranjang, badan penuh bekas merah dari minggu lalu. Catatan: anak kost lagi pada keluar semua. Kosan kosong. Aku sudah siapin kamera tripod. Mau direkam dari segala sudut. Jumlah: 5 – 7 orang. Aku ingin diisi sampai meluap. Ada satu lagi yang bikin aku berhenti scroll. Profil baru, nomor urut tinggi di leaderboard.


Nama : Vanessa Tanadi Huang.
Usia : 26 Tahun.
Tinggi badan : 168 cm
Berat badan : 57 kg
Ukuran bra : 34D
Profesi :Influencer & model freelance.
follower IG 1.2 juta
 
Foto: Pose seksi di yacht pribadi milik ayahnya, bikini putih tipis. Lalu foto eksplisit: dia telanjang di dek yacht yang sama, kaki terbuka lebar, tangan memegang vagina sendiri sambil mata menatap kamera.

Alasan ikut: Aku bosan jadi idola di IG. Aku ingin direndahkan oleh pria-pria yang nggak bakal aku temuin di circle-ku. Malam ini di yacht papaku di dermaga Pantai mutiara. Kapal sudah siap berlabuh. Jumlah peserta: 8–15. Boleh pakai mainan yacht (gelas kristal, tali tambang, dll).”

Rating: New – Belum dicoba tapi katanya vagina paling sempit di app ini.

Aku duduk diam lama, HP di tangan, layar masih menampilkan wajah Vanessa yang tersenyum manja di foto yacht. Dadaku penuh campur excited. Seminggu yang lalu aku pikir malam dengan dokter seksi Caroline adalah puncaknya. Tapi sekarang… app ini kayak memberi aku kunci ke dunia yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Aku langsung tarik napas dalam-dalam. Jariku bergerak lagi ke tombol Paket Gangbang. Countdown di app sudah berhenti di 00:00. Malam ini bebas pilih mangsa.

Aku pilih satu tapi bukan Caroline lagi. Aku ingin coba sesuatu yang berbeda.. Bukan Clarissa atau Michelle. Aku pilih yang baru: Vanessa Tanadi Huang. Lokasi: yacht di dermaga pantai mutiara. Jumlah peserta: 12 (aku + temen-temen basecamp + beberapa ojol lain yang aku ajak malam ini). Durasi: 4 jam.

Konfirmasi muncul: Pesanan diterima. Vanessa sudah menunggu di dek atas. Kapal bernama Silver Horizon. Pintu gerbang dermaga terbuka. Bawa semangat. Dia sudah basah sejak sore. Aku matiin HP, berdiri dari kasur. Malam ini bakal lebih brutal dari sebelumnya. Dan aku nggak sabar.

Aku mematikan layar HP dengan jempol yang masih gemetar sedikit. Kata-kata konfirmasi dari app itu masih menempel di kepala. Vanessa sudah menunggu di dek atas. Kapal bernama Silver Horizon. Pintu gerbang dermaga terbuka. Bawa semangat. Dia sudah basah sejak sore.

Aku menarik napas dalam-dalam. Bau kipas angin yang berdebu dan kasur lembab di kosanku tiba-tiba terasa terlalu sempit. Malam ini bukan lagi di ruang praktik RS yang dingin dan bersih. Malam ini di yacht mewah di atas air di dermaga yang biasanya hanya aku lewati saat antar penumpang ke pantai. Jam di HP menunjukkan pukul 01:32. Masih ada waktu sekitar 40 menit kalau aku langsung gas. Aku membuka grup WhatsApp basecamp lagi. Jari bergerak cepat meski tangan dingin berkeringat.

"Bro malam ini ada hiburan lagi. Pokoknya lebih hot dari yang kemarin. Yang mau ikutan langsung meluncur ke dermaga pantai. Kali ini maen di dalam Yacht mewah. Gue butuh 11 orang total. Gue plus kalian 4. Sekalian ajak yang lain yang bisa dipercaya. Gratis. brutal. rekam boleh. Dateng jam 02:00 di gerbang dermaga utama. Jangan telat. Serius ini yacht anak orang kaya.

Pesan terkirim. Grup langsung ramai dalam hitungan detik. Lebih ramai dari kemarin.

"Gue pasti ikut. Sekalian ajak dua teman gue yang biasa ngojol malam. Kata Joko.

"Cakep gak tuh amoynya.. soalnya gua masih kebayang bayang sama dokter amoy seksi yang kemarin kita bantai sampe kelenger di ruang prakteknya. Kata Budi menanggapi chatnya.

"Cakep banget bro.. gua udah profil amoynya tadi. Kayaknya anak orang kaya yang lagi snage pengen dientot sama pribumi. Haha.. Kata Doni.

"Ya udah kita hajar ramean aja.. biar tambah lagi daftar amoy yang ketagihan kontol pribumi.. Kata Asep.

Aku tidak membalas lagi. Cukup. Aku tahu mereka bakal datang. Malam ini bukan cuma kami berlima lagi. Kali ini lebih banyak dan lebih liar. Aku mengganti baju cepat. Kaos hitam polos yang agak ketat. Celana jeans robek di lutut. Jaket hitam yang masih bau keringat minggu lalu. Aku menyemprot body spray murahan lalu mengecek muka di cermin retak. Mata merah dan jenggot tipis. Tapi malam ini aku tidak peduli kelihatan capek. Malah bagus. Mereka suka yang rendahan kayak gini.

Aku keluar kosan. Turun tangga gelap yang bau lembab lalu menyalakan motor Supra di gang kecil. Mesin bergetar pelan. Knalpot bolongnya mengorok seperti biasa. Aku menggas ke arah utara. Melewati jalan-jalan Jakarta malam yang mulai sepi. Lampu jalan kuning oranye menyapu wajahku. Angin lembab bercampur bau asap dan garam laut yang mulai tercium semakin dekat ke pantai. Sepanjang jalan pikiranku muter. Vanessa influencer 1,2 juta follower. Badan langsing kulit putih rambut panjang bergelombang senyum manja di setiap story yacht-nya. Dan sekarang dia menunggu di dek atas telanjang atau setengah telanjang basah sejak sore siap direndahkan oleh 12 pria ojol bau keringat.

Aku sampai di gerbang dermaga pantai sekitar pukul 01:55. Gerbang besi tinggi yang biasanya dijaga satpam malam ini terbuka lebar. Lampu sorot redup menyala di pojok. Tidak ada satpam. Tidak ada CCTV yang kelihatan aktif. App benar-benar mengatur semuanya. Di kejauhan di dermaga nomor 7 kapal yacht putih panjang bernama Silver Horizon sudah terparkir. Lampu dek atas menyala samar-samar. Suara ombak kecil menampar badan kapal. Musik pelan mungkin R&B slow terdengar samar dari atas dek.

Motor teman-teman mulai berdatangan satu per satu di pinggir dermaga saat malam makin sepi. Joko tiba lebih dulu bersama dua temannya yang badannya besar dan kekar. Kemudian Budi datang sambil membawa tiga ojol tambahan yang mukanya sudah kelihatan mesum dari jauh. Tak lama kemudian Doni dan Asep muncul bareng sambil membawa tas kecil yang mungkin berisi kamera dan kondom cadangan meski aplikasi sudah bilang tidak perlu. Total ada dua belas orang termasuk aku. Kami memarkir motor berjejer rapi di pinggir dermaga lalu meletakkan helm di stang motor masing-masing. Setelah itu kami saling pandang tanpa banyak bicara. Bau keringat bercampur dengan aroma laut yang pekat terasa memenuhi udara malam yang sepi itu.

Aku maju duluan menuju pintu gerbang kecil yang mengarah ke dermaga. Tulisan kecil di aplikasi muncul lagi di layar ponselku. Naik ke dek atas. Vanessa sudah siap menunggu di ruang lounge utama. Mulai kapan saja. Rekam boleh. Safe word anchor tapi dia bilang tidak akan memakai itu. Aku menoleh ke belakang ke arah teman-teman. Mereka semua mengangguk pelan dengan mata sudah gelap penuh nafsu. Kami kemudian naik pelan-pelan menuju kapal. Tangga kayu mengkilap terasa licin di bawah kaki dan bau laut bercampur dengan aroma parfum mahal langsung menyambut kami begitu sampai di atas. Begitu tiba di dek atas pintu lounge kaca geser sudah terbuka setengah bagian. Cahaya lampu kuning hangat menyelinap keluar dari dalam ruangan. Di dalam sana Vanessa berdiri diam di tengah ruangan.

Dia duduk di bangku sofa merah yang empuk. Gaun putih strapless ketat dan pendek menempel di tubuhnya. Kain lembut itu merapat sehingga bentuk payudara dan lekuk pinggangnya terlihat jelas. Rambut panjangnya terurai bebas sampai bahu dengan gelombang alami. Mata sipit cokelatnya menatap kami berdua belas dengan campuran malu dan tantangan. Bibir tipisnya tersenyum kecil. Tangan kirinya memegang gelas kristal berisi wine merah. Tangan kanannya sudah berada di antara pahanya lalu menggosok pelan dari atas kain gaun yang ketat dan seksi itu.

"Masuk semuanya.. kunci pintunya.. jangan biarkan aku lepas malam ini.. katanya pelan dengan suaranya yang lembut seolah ingin menyerahkan diri.

Cuma orang bodoh yang mau melepaskan amoy seksi sepertimu nona.. malam ini kamu akan jadi milik kita semua.. Kataku.

"Bagus.. malam ini aku mau pesta yang liar.. 

Dia menaruh gelas kristal di meja marmer lalu berlutut pelan di karpet tebal ruang lounge. Kakinya terbuka sedikit sehingga bikini bawahnya sudah bergeser memperlihatkan garis vagina yang mulus dan basah mengkilap.

“Kalian boleh mulai dari mana aja. bisiknya dengan mata menatap kami satu per satu. 

"Kali ini aku ingin… direndahkan. Tampar aku. Jambak rambutku. Isi mulutku dengan kontol kalian.. isi semuanya.. Rekam kalau mau. Aku tidak bakal nolak.

Kami berdua belas berdiri diam di ambang pintu dengan napas yang semakin berat. Malam ini baru saja dimulai. Dan kali ini di atas air di yacht mewah semuanya akan jauh lebih brutal daripada ruang praktik minggu lalu. Di sana seorang amoy seksi anak pengusaha kaya raya rela menyerahkan dirinya untuk direndahkan oleh sekumpulan pria pribumi kasar dan rendahan seperti kami. Wanita cina seksi yang selama ini hanya bisa kami pandangi dari kejauhan kini bisa kami perlakukan sesuka hati tanpa ada yang bisa melarang.

Aku melangkah maju meninggalkan teman-teman yang masih berdiri di ambang pintu. Sepatu kotorku berbunyi pelan di atas karpet tebal. Vanessa masih berlutut di depan sofa merah dengan kaki terbuka sedikit. Gaun putih strapless-nya sudah naik sedikit sehingga paha mulusnya terlihat jelas di bawah cahaya kuning hangat. Matanya sipit menatap ke arahku penuh penantian. Aku berhenti tepat di depan wajahnya yang orientalnya cantik itu.

Jari-jariku dengan kasar membuka kancing celana jeans lalu menarik ritsletingnya turun. Celana itu longgar di pinggang. Aku menariknya turun bersama boxer hitam sampai ke paha. Kejantanan yang sudah setengah mengeras langsung terlonjak keluar. Batangnya tebal agak bengkok dengan urat-urat menonjol. Ujungnya sudah basah oleh cairan pra-mani. Aku menggenggam batang itu erat lalu memukulkan kepala penisku berulang kali ke wajah Vanessa.

"Ini yang lu mau kan moy? Isep kontol gue sekarang!!

Kataku sambil terus memukul-mukulkan kejantanan itu ke pipi putihnya. Ke hidungnya. Ke bibir tipisnya. Bunyi basah terdengar setiap kali kepala penisku menghantam kulitnya. Vanessa mengerjap. Pipinya memerah. Napasnya memburu. Matanya menatap ke atas menatap wajahku yang kotor dan lelah. Dia tidak menghindar. Justru dia memajukan wajahnya sedikit seolah ingin lebih dekat dengan aroma tubuhku yang bercampur keringat dan body spray murahan.

Teman-teman mulai bergerak mendekat. Joko sudah membuka celananya di sebelah kiri. Budi berdiri di kanan sambil mengocok kejantanan besarnya. Doni dan Asep mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan kamera ke arah wajah Vanessa yang sedang dipukul-pukul oleh batangku. Bau laut dari luar bercampur dengan aroma tubuh kami yang kasar. Lampu kuning membuat keringat di dahi Vanessa mengkilap.

Aku menghentikan pukulan itu sejenak. Lalu aku meraih rambut panjang bergelombangnya dengan tangan kiri. Aku menjambaknya agak kasar hingga kepalanya terangkat. Dengan tangan kanan aku mendorong kepala penisku ke bibirnya yang sudah terbuka sedikit.

"Buka mulutnya lebih lebar. Jangan cuma ngeliatin.

Perintahku. Vanessa menurut. Bibir tipisnya terbuka. Lidahnya menjulur keluar. Aku menggesekkan ujung kejantanan di atas lidahnya yang basah. Air liurnya langsung membasahi kepala penisku. Dia mulai mengisap pelan. Bibirnya menutup di sekitar batang. Lidahnya berputar di ujung. Suara hisapan basah terdengar jelas di ruang lounge yang sepi.

Aku menekan kepala Vanessa lebih dalam. Batangku masuk sampai setengah. Tenggorokannya menyempit. Vanessa tersedak pelan. Air matanya keluar sedikit di ujung mata sipitnya. Tapi dia tidak menarik diri. Justru kedua tangannya naik memegang paha jeans-ku yang sudah turun. Dia menghisap lebih dalam lagi. Pipinya mengempis. Lidahnya terus bekerja di bawah batang.

Di belakangku suara ritsleting lain terbuka. Joko sudah berdiri di samping. Dia menempelkan kejantanan besarnya ke pipi kiri Vanessa. Budi melakukan hal yang sama di sisi kanan. Vanessa mengerang pelan di antara hisapan. Matanya bergulir ke kiri dan kanan melihat dua batang lain yang menempel di wajahnya. Aku menarik rambutnya lebih kuat. Lalu aku mulai menggenjot mulutnya pelan-pelan. Batangku masuk keluar dari bibirnya. Setiap kali masuk lebih dalam. Setiap kali keluar air liurnya menetes ke dagu putihnya lalu jatuh ke dada yang masih tertutup gaun.

"Isep lebih kenceng moy. Ini baru permulaan. Kataku sambil terus memompa mulutnya. Vanessa menurut. Hisapannya semakin kuat. Lidahnya semakin aktif. Suara basah dan erangan tertahan memenuhi ruang lounge. Teman-teman lain mulai mengelilingi. Beberapa sudah mengocok kejantanan masing-masing sambil merekam. Beberapa lagi menunggu giliran. Malam di atas Silver Horizon baru saja dimulai dengan Vanessa yang berlutut di tengah kami semua.

Aku menarik batangku keluar dari mulut Vanessa dengan bunyi basah yang kencang. Air liurnya masih menempel di batang dan dagu putihnya. Perempuan chindo yang seksi itu terengah. Pipinya yang putih mulus mulai memerah. Mata sipitnya terlihat berkaca-kaca. Tapi anehnya Vanessa tidak minta berhenti. Justru dia menoleh ke samping kiri ke arah Joko yang sudah berdiri menunggu dengan kejantanan besar mengacung.

"Aku mau cobain semuanya.. Vanessa merangkak sedikit di atas karpet. Tangannya memegang penis Joko lalu dia membuka mulut. Wanita chindo tajir itu mengisap masuk sampai dalam. Kepala penisku masih terasa basah oleh air liurnya tapi sekarang giliran Joko yang merasakan hisapan bibir tipis itu. Vanessa menghisap kencang. Lidahnya berputar di kepala penis Joko dengan gerakan binal. Air liur menetes dari sudut bibirnya yang seksi. Wajah chindonya semakin merah. Setiap kali batang masuk dalam dia terlihat menahan mual. Tenggorokannya bergerak naik turun. Tapi gairah di matanya justru makin menyala.

"Gue suka amoy kayak lu.. kaya tapi gak sombong.. dan yang paling penting.. lu rela dijadiin budak napsu sama pribumi.. 

Joko menjambak rambutnya lalu menggenjot mulutnya beberapa kali. Vanessa mengerang tertahan. Tidak lama kemudian Joko mendesis kasar. 

"Aakkh.. ngentot lu cina !! sepongan lu bikin kontol gue mau muncrat.. uukhh..

Tubuhnya menegang. Dia memompa peju kental langsung ke dalam mulut Vanessa. Vanessa tersedak. Air maninya keluar dari sudut bibirnya tapi dia tetap menghisap sampai habis. Dia menelan sebagian. Sisanya menetes ke dagu lalu jatuh ke dada yang masih tertutup gaun putih.

Begitu Joko mundur Budi langsung maju. Vanessa tidak diberi waktu istirahat. Dia langsung mengarahkan mulutnya ke batang Budi yang sudah sangat keras. Dia menjilat kepala penis itu pelan dulu. Lidahnya memutari lubang kencing. Lalu dia menghisap masuk dalam-dalam. Hisapannya makin kuat. Pipinya mengempis. Suara basah terdengar lebih kencang. Budi tidak tahan lama. Hanya beberapa kali hisapan dalam saja dia sudah menggeram. Dia menahan kepala Vanessa lalu memuncratkan sperma panas ke dalam mulutnya. Vanessa kembali menelan meski wajahnya sudah sangat merah dan napasnya tersengal.

Doni dan Asep bergantian setelah itu. Vanessa berlutut di tengah lingkaran kami. Satu per satu batang masuk ke mulutnya. Dia menjilat. Menghisap. Menelan. Setiap kali ada yang klimaks di dalam mulutnya dia terlihat mual. Perutnya naik turun. Air mata mengalir tipis di sudut mata sipitnya. Tapi dia terus membuka mulut lagi. Gairah di tubuhnya justru makin memuncak. Puting susunya mengeras di balik gaun. Paha mulusnya bergesekan sendiri. Liang kewanitaannya sudah basah sampai membasahi bikini bawah yang bergeser.

Aku berdiri di belakang mengamati. Beberapa teman sudah mengeluarkan peju di mulutnya. Beberapa lagi masih menunggu giliran sambil mengocok batang masing-masing. Vanessa terus berpindah dari satu kejantanan ke kejantanan lain. Mulutnya sudah penuh aroma dan rasa air mani. Wajah orientalnya basah kuyup. Rambutnya acak-acakan karena sering dijambak. Tapi dia tidak berhenti. Setiap kali menghisap dia semakin binal. Lidahnya selalu mencari kepala penis lalu memutari dengan rakus.

Saat giliran salah satu ojol tambahan yang badannya kekar Vanessa menghisap terlalu dalam. Pria itu tidak tahan. Dia memompa peju banyak sekali ke dalam mulutnya. Vanessa tersedak hebat. Sebagian air mani keluar dari hidungnya. Dia batuk pelan. Tapi setelah menelan sisanya dia langsung menoleh ke batang berikutnya dengan mata yang penuh birahi.

Kami semua mengelilinginya. Bau keringat. Bau laut. Bau peju. Semua bercampur di ruang lounge yacht yang mewah itu. Vanessa masih berlutut di tengah. Mulutnya terus bekerja. Wajahnya merah padam. Perutnya terasa mual. Tapi gairah di tubuhnya sudah tidak terbendung lagi.

Aku menarik Vanessa dari posisi berlutut. Tanganku memegang lengannya kasar lalu aku dorong dia duduk di single sofa merah besar di tengah ruang lounge. Sofa itu empuk dan lebar. Tubuhnya tenggelam sedikit di atasnya. Gaun putih strapless-nya sudah bergeser naik sampai paha. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya masih basah oleh air liur dan sisa peju.

Doni segera bergerak ke belakang sofa. Dia menarik kedua tangan Vanessa ke atas kepala. Kedua pergelangan putinya digenggam jadi satu. Doni mengeluarkan tali tambang dari tas kecil yang dibawanya tadi. Tali itu dililitkan erat di sekitar pergelangan tangan Vanessa lalu diikatkan ke sandaran sofa. Vanessa tidak melawan. Napasnya memburu. Matanya sipit menatap ke arahku penuh campuran takut dan gairah.

Aku maju berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka. Aku menunduk. Tanganku memegang dagu Vanessa lalu aku lumat bibirnya dengan buas. Bibirku menekan kencang. Lidahku masuk ke dalam mulutnya yang masih berbau air mani. Aku hisap lidahnya. Aku gigit bibir bawahnya pelan sampai dia mengerang. Ciuman itu kasar dan dalam. Air liur kami bercampur. Vanessa membalas meski tangannya sudah terikat.

Setelah itu aku turun ke wajahnya. Aku cium pipinya. Kucium pelipisnya. Lalu kucumbui leher putihnya yang panjang. Lidahku menjilat dari bawah telinga sampai ke lekuk leher. Aku hisap kulitnya sampai meninggalkan jejak merah. Vanessa mendongak. Lehernya terekspos. Napasnya semakin berat. Aku terus turun. Tanganku naik meremas buah dadanya yang masih tertutup gaun putih ketat. Aku remas kencang. Bentuk payudaranya terasa bulat dan kenyal di genggamanku. Puting susunya sudah mengeras di balik kain. Aku cubit pelan melalui kain itu. Vanessa menggeliat di sofa. Kakinya terbuka lebih lebar.

Aku berdiri tegak lagi. Aku melotot menatap wajah orientalnya yang memerah. Tangan kananku terangkat lalu aku tampar pipinya. Bunyi tamparan keras terdengar di ruang lounge. Kepala Vanessa sedikit terhentak ke samping. Pipinya memerah lebih dalam. Matanya berkaca-kaca tapi dia tidak menjerit. Dia hanya terengah sambil menatapku.

"Ini yang lu mau kan? Digilir dan diperkosa sama pribumi?

Kataku sambil menatapnya dari atas. Vanessa menelan ludah. Bibirnya yang bengkak karena ciuman buas itu terbuka sedikit. Dia mengangguk pelan. Suaranya serak saat menjawab.

"Iya… itu yang aku mau…

Katanya. Di belakangku teman-teman sudah semakin dekat. Beberapa sudah mengocok batang masing-masing sambil menunggu. Doni masih berdiri di belakang sofa menjaga tali yang mengikat tangan Vanessa. Bau keringat dan laut semakin pekat. Malam di atas Silver Horizon terus berjalan lebih brutal.

Aku berlutut di depan sofa merah. Tanganku memegang kedua paha Vanessa lalu membuka lebar sampai lututnya hampir menyentuh sandaran sofa. Gaun putih strapless-nya sudah terdorong naik sampai pinggang sehingga kemaluannya yang mulus langsung terbuka di depan mataku. Cairan bening sudah membasahi bibir liang kewanitaannya. Bau tubuhnya yang manis bercampur dengan aroma laut langsung tercium.

Aku menunduk. Lidahku keluar lalu kujilat dari bawah ke atas sepanjang celah basah itu. Vanessa langsung menggelinjang di atas sofa. Pinggulnya terangkat. Erangan pelan keluar dari mulutnya. Aku jilat lagi lebih dalam. Lidahku masuk ke liang kewanitaannya. Aku hisap bibir kemaluannya. Aku putar lidah di klitorisnya yang sudah mengeras. Vanessa menggeliat lebih kencang. Tangannya yang terikat di atas kepala menarik tali tambang. Kakinya gemetar di genggamanku.

Aku terus menjilat. Air liurku bercampur dengan lendir kawinnya. Suara basah terdengar setiap kali lidahku bergerak. Vanessa mendongak. Matanya terpejam. Mulutnya terbuka. Napasnya tersengal. Dia mengerang lebih keras saat aku menghisap klitorisnya kencang. Tubuhnya berguncang di atas sofa merah. Gaun putihnya semakin kusut di sekitar pinggang.

Setelah beberapa saat aku berdiri. Aku merunduk di depan sofa. Tanganku masih memegang kedua pahanya agar tetap terbuka mengangkang lebar. Kejantanan yang sudah sangat keras kutekan di mulut kemaluannya yang basah. Aku dorong masuk sekali hentak. Batangku menghujam dalam. Vanessa menjerit pelan. Liangnya sempit dan panas menyelimuti seluruh batang. Aku diam sejenak merasakan keketatan itu. Lalu aku mulai menggenjot kasar.

Pinggulku bergerak maju mundur kencang. Setiap hentakan membuat sofa berguncang. Paha Vanessa tetap kutahan terbuka. Aku merojok dalam-dalam. Bunyi kulit bertemu kulit terdengar jelas. Vanessa mengerang tanpa henti. Payudaranya yang masih tertutup gaun putih bergoyang setiap kali aku menghujam. Rambutnya berantakan di sandaran sofa. Wajahnya memerah. Air mata keluar tipis di sudut mata sipitnya.

Aku genjot lebih cepat. Lebih dalam. Setiap kali batangku keluar lendir kawinnya ikut terbawa lalu masuk lagi dengan bunyi basah. Vanessa menggelinjang hebat. Kakinya gemetar di tanganku. Suaranya pecah menjadi erangan dan desisan. Di belakangku teman-teman menonton sambil mengocok batang masing-masing. Beberapa sudah mendekat menunggu giliran. Aku terus memompa kemaluannya tanpa ampun di atas sofa merah itu.

Aku genjot semakin kencang. Batangku menghujam dalam-dalam ke liang kewanitaan Vanessa yang sempit. Tubuhku menegang. Aku mendesis kasar lalu memompa peju kental ke dalamnya. Sperma panas memenuhi rahimnya. Aku diam sejenak merasakan denyutan terakhir sebelum menarik batangku keluar. Cairan putih ikut keluar dari kemaluannya yang sudah bengkak lalu menetes ke sofa merah.

Aku mundur. Joko langsung menggantikan posisiku. Dia berdiri di antara paha Vanessa yang masih terbuka. Kejantanan besarnya ditusukkan masuk sekali hentak. Vanessa menjerit. Joko mulai menggenjot kasar. Setiap hentakan membuat sofa berguncang. Tangan kanannya terangkat lalu menampar pipi Vanessa berulang kali. Bunyi tamparan bercampur dengan erangan. Kepala Vanessa terhentak ke kiri dan kanan. Pipinya semakin merah. Joko terus memompa tanpa ampun sambil terus menampar wajah orientalnya.

Tidak lama Joko juga klimaks di dalam. Dia menarik batang keluar lalu mundur. Giliran Doni maju. Dia merunduk di depan sofa. Tangannya meraih bagian depan gaun putih Vanessa lalu merobeknya kasar dari dada ke bawah. Kain putih itu koyak. BH-nya tersingkap ke bawah. Buah dada Vanessa langsung mencuat keluar. Puting susunya sudah mengeras. Doni meremas keduanya kasar dengan kedua tangan. Dia menunduk lalu mengenyot puting kanan dan kiri bergantian. Lidahnya memutar. Giginya menggigit pelan. Vanessa menggelinjang hebat di atas sofa. Desahannya semakin kencang.

Doni lalu mendorong kejantanan masuk ke liang kewanitaannya yang sudah basah oleh peju sebelumnya. Dia menggenjot kasar sambil terus meremas payudara itu.

"Akkhh.. terus masukin lebih dalam.. aku mau yang kasar..

Kata Vanessa dengan suara serak. Tubuhnya tersentak setiap kali batang Doni menghujam.

Doni mengumpat sambil memompa lebih kasar.

"Anjinggg.. peret banget memek cina lu.. uukhh.. jadi lu mau dientot lebih kasar? Aakkhh.. nikmatin nih kontol pribumi!!

Bentaknya. Pinggulnya bergerak sangat cepat dan dalam. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa tersentak-sentak di atas sofa merah. Payudaranya bergoyang bebas. Rambutnya berantakan. Erangannya pecah menjadi jeritan tertahan. Tali di pergelangan tangannya berbunyi setiap kali dia menarik. Doni terus merojok tanpa belas kasihan sambil mengumpat dan meremas buah dada Vanessa yang sudah penuh bekas gigitan.

Doni memompa beberapa kali lagi lalu tubuhnya menegang. Dia mendesis kasar sambil memuncratkan peju ke dalam liang kewanitaan Vanessa. Batangnya berdenyut beberapa saat sebelum dia tarik keluar. Cairan putih kembali menetes dari kemaluan yang sudah bengkak itu.

Doni mundur. Seorang ojol tua bernama Pak Tatang maju menggantikan. Rambutnya sudah beruban. Perutnya agak buncit. Kejantanan yang tidak terlalu besar tapi masih mengeras ditusukkannya masuk ke dalam Vanessa. Dia mulai menggenjot. Gerakannya lambat karena faktor usia. Setiap hentakan terasa dalam tapi tidak cepat. Vanessa mengerang pelan. Wajahnya menunjukkan rasa kurang puas. Pinggulnya bergerak sendiri seolah ingin lebih kencang.

Vanessa menatap Pak Tatang lalu dengan sengaja mengumpat.

"Akkhh.. pribumi goblok!! lu gak tau cara ngentotin amoy..

Katanya dengan suara serak penuh tantangan. Matanya sipit menatap sinis ke arah pria tua itu.

Pak Tatang langsung terpancing. Matanya memerah. Tangannya naik mencekik leher Vanessa kencang. Jari-jarinya menekan sisi lehernya sampai napas Vanessa tersengal. Punggung Vanessa tertekan kuat ke sandaran sofa merah. Kedua tangan yang masih terikat di atas kepalanya dipegang erat oleh Asep dari belakang sofa.

"Cina sialan!! Jadi lu mau maen kasar hah!!?

Bentak Pak Tatang. Dia mulai menggenjot kasar. Pinggulnya bergerak cepat dan dalam meski usianya sudah tidak muda. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa tersentak. Sofa berguncang. Bunyi kulit bertemu kulit terdengar kencang. Vanessa menggelinjang. Matanya membelalak karena cekikan di lehernya. Mulutnya terbuka. Desahan tertahan keluar bercampur dengan suara tersedak pelan.

Pak Tatang terus merojok sambil mempertahankan cekikannya. Payudara Vanessa yang sudah telanjang bergoyang hebat. Gaun putih yang koyak semakin kusut di pinggangnya. Asep memegang pergelangan tangan Vanessa lebih kuat agar tetap terangkat. Bau keringat pria tua bercampur dengan aroma peju dan laut memenuhi ruang lounge. Vanessa terus digentot kasar di atas sofa merah itu dengan leher yang dicekik dan tangan yang tetap terikat.

Pak Tatang menggenjot lebih kasar. Pinggulnya bergerak cepat meski napasnya sudah tersengal. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa tersentak di atas sofa. Cekikan di lehernya masih kuat. Vanessa menggelinjang. Matanya berkaca-kaca. Desahannya tertahan karena jari-jari yang menekan lehernya.

Tidak lama kemudian tubuh Pak Tatang menegang. Dia mendesis panjang lalu memompa peju ke dalam liang kewanitaan Vanessa. Batangnya berdenyut beberapa kali sebelum dia tarik keluar. Cairan putih kembali keluar dari kemaluan yang sudah basah kuyup.

Pak Tatang naik ke atas sofa. Dia mengangkangi badan Vanessa yang masih terikat. Lututnya menekan di samping pinggang Vanessa. Kejantanan yang masih setengah keras diarahkan tepat ke wajah orientalnya. Tangannya mengocok batang itu cepat. Kepala penisku menggesek bibir dan pipi Vanessa. Beberapa detik kemudian dia mengerang puas.

"Uukhh.. gue pejuin nih muka cina lu.. perek!!

Umpatnya sambil memuncratkan air mani kental ke wajah Vanessa. Sperma panas menyembur ke dahi. Ke pipi. Ke hidung. Ke bibir tipisnya. Sebagian masuk ke mulut yang terbuka. Sebagian lagi menetes ke dagu lalu jatuh ke payudara yang sudah telanjang. Wajah Vanessa basah kuyup oleh peju. Matanya terpejam. Napasnya masih tersengal karena cekikan yang baru saja dilepas.

Pak Tatang terus mengocok sisa pejunya sampai habis menempel di wajah itu. Asep masih memegang kedua tangan Vanessa di atas kepala. Teman-teman lain berdiri mengelilingi sofa sambil menunggu giliran berikutnya. Bau peju semakin pekat di ruang lounge Silver Horizon.

Asep maju ke depan sofa. Tangannya meraih rambut panjang Vanessa lalu menjambaknya kasar. Dia menarik gadis itu turun dari sofa ke atas karpet tebal. Vanessa terhuyung. Kedua tangan yang masih terikat diarahkan ke depan menopang tubuhnya. Dia diposisikan menungging. Lututnya menekan karpet. Pantatnya terangkat tinggi. Gaun putih yang sudah koyak tersingkap ke pinggang. Kemaluannya yang basah dan bengkak terbuka jelas dari belakang.

Asep berdiri di belakangnya. Dia merunduk ke depan. Satu tangan masih menjambak rambut Vanessa. Tangan satunya memegang pinggang. Kejantanan yang sudah keras ditusukkan masuk sekali hentak ke liang kewanitaan yang sempit. Vanessa mengerang kencang. Batangnya menghujam dalam. Asep mulai menggenjot kasar. Pinggulnya bergerak cepat dan dalam. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa tersentak ke depan. Kedua tangannya yang terikat menopang badan agar tidak jatuh.

Bunyi kulit bertemu kulit terdengar kencang di ruang lounge. Asep merojok tanpa ampun. Jambakannya semakin kuat membuat kepala Vanessa terangkat. Rambutnya berantakan. Payudaranya yang sudah telanjang bergoyang hebat setiap kali batang masuk dalam. Vanessa mendesah dan mengerang. Wajahnya yang masih basah oleh peju Pak Tatang menunduk ke karpet. Lendir kawin dan sisa air mani keluar setiap kali Asep menarik batang lalu menghujam lagi.

Asep terus memompa dalam posisi berdiri merunduk. Napasnya berat. Bau keringatnya bercampur dengan aroma peju di wajah Vanessa. Teman-teman lain berdiri mengelilingi sambil mengocok batang masing-masing menunggu giliran. Vanessa tetap menungging di atas karpet dengan tangan terikat menopang tubuh. Asep menggenjotnya kasar tanpa henti.





Seorang ojol paruh baya berlutut di depan wajah Vanessa yang sedang menungging. Dia memegang dagu gadis itu lalu memaksa mulutnya terbuka. Kejantanan yang sudah keras didorong masuk. Vanessa terpaksa mengulum batang itu. Bibirnya menutup di sekelilingnya. Lidahnya bergerak meski napasnya tersengal karena posisi menungging dan jambakan Asep.


Asep menggenjot lebih kasar dari belakang. Pinggulnya menghantam pantat Vanessa kencang. Setiap hentakan membuat tubuh gadis itu terdorong ke depan menuju batang yang ada di mulutnya. Tangan Asep terangkat lalu menampar keras pantat Vanessa berulang kali. Bunyi tamparan keras bercampur dengan erangan dan suara hisapan basah.

"Cina tajir kayak lu mesti belajar muasin pribumi!!

Kata Asep sambil terus menampar dan merojok dalam-dalam. Pantat Vanessa memerah. Bekas telapak tangan terlihat jelas di kulit putihnya. Vanessa mengerang tertahan di antara hisapan. Mulutnya penuh. Air liurnya menetes ke karpet.

Asep mempercepat genjotannya. Tubuhnya menegang. Dia mendesis kasar lalu menarik batang keluar. Tangannya mengocok cepat. Peju kental langsung muncrat ke pantat Vanessa. Sperma panas menyembur ke kulit yang sudah memerah. Sebagian menetes ke celah pantat lalu turun ke paha. Asep terus mengocok sampai habis. Sisa air mani menempel di pantat Vanessa yang masih terangkat tinggi.

Ojol paruh baya di depan tetap memaksa mulut Vanessa mengulum batangnya. Asep berdiri di belakang sambil mengatur napas. Teman-teman lain semakin dekat menunggu giliran berikutnya di atas karpet ruang lounge.

Ojol paruh baya menarik batangnya keluar dari mulut Vanessa. Dia berbaring telentang di atas karpet tebal. Kejantanan yang basah oleh air liur mengacung ke atas. Asep yang masih berdiri di belakang mendorong Vanessa ke arah pria itu.

"Duduk di atasnya sekarang.

Perintah Asep sambil menjambak rambut Vanessa. Vanessa merangkak maju. Kedua tangan yang masih terikat menopang badan. Dia mengangkat tubuh lalu menurunkan diri. Liang kewanitaannya yang basah dan bengkak menelan batang ojol paruh baya itu sampai dalam. Vanessa mengerang pelan saat rasa penuh kembali memenuhi perutnya.

Dia mulai melonjak-lonjak. Badan seksi yang masih memakai gaun putih sobek bergerak naik turun. Payudaranya yang sudah telanjang bergoyang hebat setiap kali dia turun menghujam. Gaun koyak itu tersingkap di pinggang. Kulit putihnya mengkilap oleh keringat. Pantatnya yang masih basah peju Asep menampar perut ojol setiap kali dia duduk penuh.

Ojol paruh baya mendesah panjang.

"Kee… goyang lebih cepat lonte!!

Katanya sambil memegang pinggang Vanessa. Dia mencoba mengangkat pinggul dari bawah tapi tenaganya terbatas. Vanessa menurut. Lonjakannya semakin cepat. Bunyi basah terdengar setiap kali kemaluannya menelan batang sampai pangkal. Erangannya bercampur dengan desahan ojol di bawahnya. Rambutnya berayun. Wajahnya yang masih kotor oleh peju menengadah. Tubuhnya terus bergerak naik turun di atas karpet ruang lounge Silver Horizon.

Vanessa terus melonjak di atas ojol paruh baya itu. Pinggulnya tidak hanya naik turun tapi juga berputar-putar seperti sedang mengebor. Liang kewanitaannya yang basah memutar di sekeliling batang. Setiap gerakan membuat bunyi basah semakin kencang. Kedua tangannya yang masih terikat diangkat ke atas kepala. Asep berdiri di belakang memegang pergelangan tangan itu erat agar tetap terangkat.

Vanessa mendesah kencang.

"Akhhh.. aaahhh.. sodok lebih dalam bang.. entot lebih kasar..

Katanya dengan suara pecah. Tubuhnya berguncang. Payudaranya bergoyang bebas. Gaun putih sobek semakin kusut di pinggang.

Ojol di bawahnya menggeram. Tangannya memegang pinggang Vanessa lalu mengangkat pinggul dari bawah sambil menghujam ke atas.

"Akhhh.. iyaaa.. gue entot lu lebih kasar.. mampus lu cina.. puasin nih kontol pribumi gue..

Bentaknya. Setiap hentakan dari bawah bertemu dengan lonjakan Vanessa. Batangnya masuk sangat dalam. Vanessa menggelinjang hebat. Matanya terpejam. Mulutnya terbuka. Erangannya semakin tinggi.

Tidak lama kemudian tubuh Vanessa menegang. Liangnya meremas batang ojol kencang. Dia menjerit pelan lalu klimaks. Cairan membasahi batang dan perut pria di bawahnya. Tubuhnya gemetar hebat. Kekuatannya habis. Dia terkulai lemas di atas dada ojol paruh baya. Napasnya tersengal. Wajahnya yang kotor peju menempel di dada pria itu. Kedua tangannya masih terikat dan dipegang Asep di atas kepala. Pinggulnya masih berdenyut pelan sisa orgasme.

Nandang maju lalu menarik tali yang mengikat tangan Vanessa. Dia menyeret gadis itu keluar dari ruang lounge menuju bagian belakang kapal yang terbuka. Angin laut langsung menyapu wajah dan tubuh Vanessa yang hampir telanjang. Gaun putih sobek masih tersangkut di pinggang. Bau asin ombak bercampur dengan aroma peju di kulitnya.

Vanessa diposisikan berdiri menghadap laut luas. Kedua pergelangan tangannya dibuka lalu diikat terpisah pada besi pengaman di pinggiran kapal. Tangannya terentang ke samping. Tubuhnya menempel di railing. Pantatnya terdorong ke belakang. Laut malam terbentang di depan matanya. Lampu dermaga terlihat jauh di kejauhan.

Tiga ojol langsung berdiri di belakangnya. Yang pertama mendorong kejantanan masuk ke liang kewanitaan yang sudah longgar dan basah. Dia menggenjot dalam posisi berdiri. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa terdorong ke railing. Payudaranya yang telanjang bergoyang. Erangannya terbawa angin laut.

Setelah beberapa saat pria itu klimaks di dalam. Dia mundur. Ojol kedua segera menggantikan. Batangnya menghujam masuk. Genjotannya kasar dan cepat. Bunyi kulit bertemu kulit bercampur dengan suara ombak. Vanessa menggelinjang. Kakinya gemetar. Tali di pergelangan tangannya berbunyi setiap kali tubuhnya tersentak.

Ojol kedua juga memuncratkan peju ke dalam lalu mundur. Giliran yang ketiga. Dia memegang pinggang Vanessa erat lalu merojok dalam-dalam. Genjotannya paling kencang. Setiap hentakan membuat railing berguncang pelan. Vanessa mendesah kencang menghadap laut. Tubuhnya basah oleh keringat dan sisa peju. Ojol ketiga akhirnya menegang. Dia memompa air mani terakhir ke dalam liang kewanitaan Vanessa sampai penuh.

Ketiga pria itu berdiri di belakang mengatur napas. Vanessa tetap terikat di railing dengan tangan terentang. Pantatnya basah kuyup. Peju menetes dari kemaluannya lalu jatuh ke lantai dek. Angin laut terus berhembus membawa bau asin dan bau seks di malam itu.

Kontolku sudah berdiri keras lagi. Aku berdiri di belakang Vanessa yang masih terikat di railing. Tanganku mengangkat sebelah kaki kanannya setinggi pinggang. Posisinya terbuka lebar. Tubuhnya terlihat seperti anjing betina yang sedang kencing menghadap laut. Aku pegang pahanya erat lalu mendorong batang masuk sekali hentak ke liang kewanitaan yang sudah basah dan longgar.

Aku menggenjot kasar. Setiap hentakan membuat tubuh Vanessa tersentak ke depan. Kaki yang diangkat gemetar di genggamanku. Payudaranya bergoyang bebas. Erangannya kencang terbawa angin laut. Aku merojok dalam-dalam sambil terus memegang pahanya agar tetap terangkat tinggi.

Vanessa menggelinjang hebat. Tubuhnya menegang. Dia menjerit pelan lalu klimaks lagi. Cairan membasahi batangku dan menetes ke dek. Liangnya meremas kencang. Aku terus memompa beberapa kali lagi sampai tubuhku juga menegang. Aku mendesis lalu memuncratkan peju kental ke dalamnya. Sperma panas memenuhi rahimnya sekali lagi.

Aku melepas kaki Vanessa. Tubuhnya langsung lemas. Dia ambruk ke besi railing. Pinggangnya tertahan di pinggiran kapal. Tubuh bagian atasnya menjuntai keluar ke arah laut. Rambutnya terjuntai. Tangan yang terikat menahan sebagian beban. Napasnya tersengal hebat.

Aku mendekatkan mulut ke telinganya. Suaraku pelan tapi jelas.

"Kali ini udah cukup amoy seksi.. lain kali kalau kamu mau lagi. Gue bisa lakuin lebih kasar. Gue bisa aja lemparin lu ke laut.. biar lu merasa jadi barang rongsokan yang gak berguna sama sekali.

Bisikku sambil menatap punggungnya yang basah keringat dan peju di bawah cahaya lampu dek yang redup.

Kami semua sudah puas. Satu per satu kami merapikan celana dan jaket. Helm dipasang kembali. Tidak ada yang berbicara banyak. Hanya napas yang masih berat dan bau keringat yang tertinggal di dek.

Aku mendekati Vanessa yang masih terkulai di railing. Tanganku membuka simpul tali tambang di kedua pergelangan tangannya. Ikatan itu dilepas. Tali jatuh ke dek. Tangan Vanessa langsung lunglai di samping tubuhnya. Dia tidak bergerak. Hanya napas pelan yang masih terlihat.

Aku menatap terakhir ke arahnya. Dia terkulai lemas di belakang kapal. Tubuhnya menjuntai. Gaun putih sobek hanya tersisa di pinggang. Wajah orientalnya basah kuyup oleh sperma. Payudara. Perut. Paha. Semua penuh bekas peju yang sudah mengering sebagian. Rambutnya kusut. Matanya terpejam.

Kami turun dari Silver Horizon satu per satu. Tangga kayu dilalui tanpa suara. Motor-motor Supra dan yang lain sudah menunggu di pinggir dermaga. Mesin dinyalakan bergantian. Knalpot bolong mengorok di malam yang sepi. Kami saling angguk lalu gas pelan keluar gerbang dermaga.

Aku memimpin di depan. Angin malam menyapu wajah. Bau laut perlahan digantikan bau aspal dan asap. Di belakangku suara motor teman-teman mengikuti. Tidak ada yang menoleh lagi ke kapal putih yang masih terparkir di dermaga.

Vanessa tertinggal sendirian di dek belakang. Ikatan sudah dilepas. Tubuhnya lemas. Gaun sobek. Wajah dan seluruh badannya penuh sperma. Hanya suara ombak kecil yang menampar badan kapal di malam itu.

Aku keluar ke dek. Gerimis sudah berhenti sehingga udara malam dingin menusuk. Aku turun tangga yacht lalu naik motor Supra yang masih basah embun. Mesin menyala pelan lalu aku menggas meninggalkan dermaga kecil itu. Sepanjang jalan pulang angin malam membawa aroma laut dan sisa parfum Vanessa. Pikiranku kosong tapi badan masih bergetar kecil. Aku sampai kosan jam hampir 03:00. Aku menjatuhkan diri ke kasur tanpa ganti baju sehingga Aroma tubuhnya masih nempel di kulit. HP bergetar sekali. XBang Oriental: Session pribadi dengan Vanessa Tanadi Huang selesai. Rating updated: 9.9/10 (private). Cooldown global: 7 hari lagi. Early access untuk sesi berikutnya sudah disave.

Aku mematikan layar lalu menaruhnya di dada. Malam ini selesai. Tapi minggu yang panjang ini masih jauh dari akhir.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amarah Para Buruh 14

Amoy Pengundang Birahi

Draft Kurir Paket Erotis

Draft Kisah Tragis Amoy Pecinan

Kenangan Bersama Sopir Keluargaku 2

Pemburu Amoy Pecinan 3

Teman Sekolah Anakku Yang Brutal

Amoy Pengundang Birahi 2

Amarah Para Buruh 9

Draft Acara Imlek Dirumah Kakek