Langsung ke konten utama

Aplikasi XBang Oriental 2

Seminggu sudah berlalu sejak malam itu di ruang praktik rumah sakit elite dengan bangunannya yang megah. Rasanya seperti mimpi buruk yang enak sekali. Setiap hari aku bangun tengah malam dengan badan basah keringat. Aku masih ingat jelas suara desahan dr. Caroline yang menggairahkan ketika sedang digilir secara brutal oleh teman-temanku. Ketika pantatnya yang semok kutampar keras sampai dia menjerit. Aroma keringat kami bercampur dengan aroma antiseptik di ruang praktiknya. Cairan lengket masih terasa menetes ke lantai saat itu.

Aku tidak bisa tidur nyenyak lagi. Setiap kali membuka ponsel jempolku langsung menuju telegram gelap itu. Tapi aplikasi XBang Oriental hanya menampilkan pesan statis yang sama. Cooldown aktif. Akses berikutnya tersedia tujuh hari sejak penggunaan terakhir. Aku mencoba bersabar karena rejeki pribumi tidak akan lari. Setiap hari aku tetap membuka aplikasi itu. Hasilnya selalu sama saja. Tidak ada profil baru. Tidak ada notifikasi. Hanya countdown kecil di pojok layar yang berkurang satu per satu hari demi hari. Aku jadi semakin gelisah. Pekerjaan ojol terasa lebih berat dari biasanya. Setiap penumpang cewek yang aku antar ke mall-mall elit sekarang membuatku teringat Caroline. Kulit putih susunya yang glowing. Mata sipitnya yang seksi. Senyum tipisnya yang berubah menjadi erangan liar saat ditampar keras.

Aku jadi sering berhenti dan melamun jorok di pinggir jalan. Aku menyalakan rokok lalu membayangkan lagi apa yang akan terjadi kalau aplikasi ini akhirnya terbuka kembali. Kejantananku sering mengeras di dalam celana hanya karena mengingat payudara montok dokter amoy itu yang bergoyang-goyang setiap kali temanku menggenjot liang kewanitaannya yang sempit. Aroma tubuhnya yang lembut bercampur keringat persetubuhan liar masih terasa di hidungku. Lendir kawin yang meleleh deras dari kemaluannya saat dia melenguh meminta lebih kasar dan brutal. Aku menghela napas panjang sambil mematikan rokok di asbak kecil. "Masih lama.. Masih tiga hari lagi. Kataku pelan sambil menatap layar ponsel yang gelap dan tak merespon ketika kusentuh.

Aplikasi Terbuka Lagi

Hari ketujuh tepat jam 00.10 dini hari. Ponselku bergetar pelan di samping bantal. Notifikasi dari Telegram muncul. Xbang Oriental unlocked. Selamat menikmati petualangan liar minggu ini Dika. Seketika jantungku langsung berdegup kencang. Aku langsung mengambil posisi duduk tegak di kasur busa yang sudah lembab oleh keringat. Kipas angin masih berisik di pojok kamar. Tapi dunia seolah diam sejenak.

Aku langsung membuka aplikasi itu. Layar hitam pekat muncul lagi. Logo OXB merah gelap berkedip pelan. Aku masuk ke home screen. Katalog profil masih berderet ratusan. Beberapa kotak sekarang bertanda New Session atau Cooldown Selesai. Aku menggeser layar dengan pelan. Napasku tertahan. Jari tanganku sedikit gemetar. Aku merasa batangku sudah setengah mengeras hanya karena melihat deretan foto wanita-wanita cantik dengan paras oriental yang seksi. Kulit putih, wajah oriental dan payudara besar mereka terlihat jelas di foto-foto telanjang. Beberapa foto menampilkan liang kewanitaan para wanita chindo seksi yang menganga basah dengan lendir kawin yang mengkilap. Aku langsung membayangkan bagaimana rasanya jika kontolku menghujam masuk ke dalamnya dengan kasar dan brutal sampai mereka melolong minta ampun. Aroma tubuh wanita-wanita seksi berkulit putih seperti porcelen itu seolah sudah tercium di kamar sempitku. Perpaduan antara keringat dingin bercampur gairah membuat kulitku langsung terasa panas. Aku menelan ludah dengan susah payah sambil terus menggulir layar. "Sekarang sudah tiba giliranku lagi. Aku akan buat amoy amoy seksi itu merintih keenakan dan ketagihan kontol pribumi. Kataku pelan dengan suara serak.

Profil pertama yang muncul adalah dr. Caroline Lavinia. Foto profilnya masih sama. Jas dokter putih dengan senyum manis. Tapi ada update di bawahnya. Status terbaru: Minggu lalu aku masih merasa sakit di selangkangan setiap kali berjalan. Tapi aku kangen lagi. Malam ini aku siap di ruang praktek lantai empat. Pintu belakang rumah sakit masih terbuka untuk kalian semua. Rating baru: 9.9 dari 10 dari 4 pengguna bulan ini. Catatan tambahan: Creampie tanpa batas. Tamparan wajah dan bokong wajib. Safeword: stetoskop. Tapi aku tidak akan memakainya. Aku langsung teringat kembali malam minggu lalu saat teman-temanku dan aku bergantian menyetubuhinya di meja praktik itu. Tubuh sintal dan montoknya yang putih glowing benar-benar membuat kami gila. Payudaranya yang besar ukuran 36E bergoyang liar setiap kali batang kami menghujam masuk ke liang kewanitaannya yang sangat sempit. Puting susunya yang merah muda mengeras dan aku sering mencubitnya keras sampai dia melenguh. Pantatnya yang semok dan paha mulusnya yang putih sudah penuh bekas tamparan merah. Setiap kali aku memompa dengan kasar dari belakang dia menjerit dan mengerang meminta lebih brutal. Lendir kawinnya meleleh deras bercampur air mani kami yang menyembur berkali-kali di dalam kemaluannya. Creampie tanpa batas membuat vagina sempitnya penuh dan meluber ke lantai. Aroma keringat tubuhnya yang lembut bercampur bau seks masih terbayang jelas di hidungku. Dia memang suka direndahkan oleh pria pribumi kasar dan malam itu dia benar-benar puas sampai sulit berjalan keesokan harinya. Aku menatap layar ponsel dengan napas yang semakin berat. Batangku sudah keras penuh dan berdenyut-denyut di dalam celana pendekku. Tangan kananku tanpa sadar meremas kejantanan yang hangat. Dokter amoy semok ini emang bikin nagih. Tapi kali ini aku ingin coba yang lain.. Kataku pelan dengan suara serak penuh gairah. Aku menggeser lagi dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Profil berikutnya juga sudah pernah aku lihat sebelumnya.

Nama : Clarissa Tan.
Usia : dua puluh tujuh tahun.
Profesi : corporate lawyer di firma hukum top di Sudirman. 

Foto pertamanya menunjukkan blazer ketat hitam di ruang rapat dengan senyum profesional. Foto keduanya menunjukkan dia berlutut di meja rapat yang sama. Tangan diikat dengan dasi Hermes merah. Mulut terbuka lebar dengan dildo besar tepat di depan bibirnya.

Alasan ikut: Aku sering menang setiap kasus di pengadilan tapi aku selalu kalah bila diatas ranjang. Minggu ini aku ingin kalah lagi di ruang rapat lantai tiga puluh lima setelah jam kantor. Jumlah peserta max tujuh orang. Boleh merekam full HD tapi tidak boleh disebar.

Rating: 9.7/10 ( dari 4 pengguna bulan ini )
Review: Deep throatnya enak banget. Tenggorokannya kuat dan dalam. Setiap kali kontol dihujam sampai ke tenggorokan dia hanya bisa mengeluarkan air liur sambil menangis. Suka sekali face-slapping kasar sampai pipinya merah dan air matanya muncrat. Semakin kasar ditampar semakin basah memeknya. Perfect little pain slut.

Aku geser lagi. Michelle Lim. 21 tahun. mahasiswi perguruan tinggi yang terkenal banyak chindonya. Foto barunya: dia di kamar kos mewah dekat kampus, tangan diikat ke kepala ranjang, badan penuh bekas merah dari minggu lalu. Catatan: anak kost lagi pada keluar semua. Kosan kosong. Aku sudah siapin kamera tripod. Mau direkam dari segala sudut. Jumlah: 5 – 7 orang. Aku ingin diisi sampai meluap. Ada satu lagi yang bikin aku berhenti scroll. Profil baru, nomor urut tinggi di leaderboard.

Nama : Vanessa Tanadi Huang
Usia : 26 Tahun.
Profesi: Influencer & model freelance.
follower IG 1.2 juta.
Foto: Pose seksi di yacht pribadi milik ayahnya, bikini putih tipis. Lalu foto eksplisit: dia telanjang di dek yacht yang sama, kaki terbuka lebar, tangan memegang vagina sendiri sambil mata menatap kamera.

Alasan ikut: Aku bosan jadi idola di IG. Aku ingin direndahkan oleh pria-pria yang nggak bakal aku temuin di circle-ku. Malam ini di yacht papaku di dermaga Pantai mutiara. Kapal sudah siap berlabuh. Jumlah peserta: 8–15. Boleh pakai mainan yacht (gelas kristal, tali tambang, dll).”

Rating: New – Belum dicoba tapi katanya vagina paling sempit di app ini.

Aku duduk diam lama, HP di tangan, layar masih menampilkan wajah Vanessa yang tersenyum manja di foto yacht. Dadaku penuh campur excited. Seminggu yang lalu aku pikir malam dengan dokter seksi Caroline adalah puncaknya. Tapi sekarang… app ini kayak memberi aku kunci ke dunia yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Aku langsung tarik napas dalam-dalam. Jariku bergerak lagi ke tombol Paket Gangbang. Countdown di app sudah berhenti di 00:00. Malam ini bebas pilih mangsa.

Aku pilih satu tapi bukan Caroline lagi. dia terlalu familiar. Bukan Clarissa atau Michelle. Aku pilih yang baru: Vanessa Tanadi Huang. Lokasi: yacht di dermaga pantai mutiara. Jumlah peserta: 12 (aku + temen-temen basecamp + beberapa ojol lain yang aku ajak malam ini). Durasi: 4 jam.

Konfirmasi muncul: Pesanan diterima. Vanessa sudah menunggu di dek atas. Kapal bernama Silver Horizon. Pintu gerbang dermaga terbuka. Bawa semangat. Dia sudah basah sejak sore. Aku matiin HP, berdiri dari kasur. Malam ini bakal lebih brutal dari sebelumnya. Dan aku nggak sabar.

Aku mematikan layar HP dengan jempol yang masih gemetar sedikit. Kata-kata konfirmasi dari app itu masih menempel di kepala. Vanessa sudah menunggu di dek atas. Kapal bernama Silver Horizon. Pintu gerbang dermaga terbuka. Bawa semangat. Dia sudah basah sejak sore.

Aku menarik napas dalam-dalam. Bau kipas angin yang berdebu dan kasur lembab di kosanku tiba-tiba terasa terlalu sempit. Malam ini bukan lagi di ruang praktik RS yang dingin dan bersih. Malam ini di yacht mewah di atas air di dermaga yang biasanya hanya aku lewati saat antar penumpang ke pantai. Jam di HP menunjukkan pukul 01:32. Masih ada waktu sekitar 40 menit kalau aku langsung gas. Aku membuka grup WhatsApp basecamp lagi. Jari bergerak cepat meski tangan dingin berkeringat.

"Bro malam ini ada hiburan lagi. Pokoknya lebih hot dari yang kemarin. Yang mau ikutan langsung meluncur ke dermaga pantai. Kali ini maen di dalam Yacht mewah. Gue butuh 11 orang total. Gue plus kalian 4. Sekalian ajak yang lain yang bisa dipercaya. Gratis. brutal. rekam boleh. Dateng jam 02:00 di gerbang dermaga utama. Jangan telat. Serius ini yacht anak orang kaya.

Pesan terkirim. Grup langsung ramai dalam hitungan detik. Lebih ramai dari kemarin.

"Gue pasti ikut. Sekalian ajak dua teman gue yang biasa ngojol malam. Kata Joko.

"Cakep gak tuh amoynya.. soalnya gua masih kebayang bayang sama dokter amoy seksi yang kemarin kita bantai sampe kelenger di ruang prakteknya. Kata Budi menanggapi chatnya.

"Cakep banget bro.. gua udah profil amoynya tadi. Kayaknya anak orang kaya yang lagi gabut pengen dientot sama pribumi. Haha.. Kata Doni.

"Ya udah kita hajar ramean aja.. biar tambah lagi daftar amoy yang ketagihan kontol pribumi.. Kata Asep.

Aku tidak membalas lagi. Cukup. Aku tahu mereka bakal datang. Malam ini bukan cuma kami berlima lagi. Kali ini lebih banyak dan lebih liar. Aku mengganti baju cepat. Kaos hitam polos yang agak ketat. Celana jeans robek di lutut. Jaket hitam yang masih bau keringat minggu lalu. Aku menyemprot body spray murahan lalu mengecek muka di cermin retak. Mata merah dan jenggot tipis. Tapi malam ini aku tidak peduli kelihatan capek. Malah bagus. Mereka suka yang rendahan kayak gini.

Aku keluar kosan. Turun tangga gelap yang bau amis lalu menyalakan motor Supra di gang kecil. Mesin bergetar pelan. Knalpot bolongnya mengorok seperti biasa. Aku menggas ke arah utara. Melewati jalan-jalan Jakarta malam yang mulai sepi. Lampu jalan kuning oranye menyapu wajahku. Angin lembab bercampur bau asap dan garam laut yang mulai tercium semakin dekat ke pantai. Sepanjang jalan pikiranku muter. Vanessa influencer 1,2 juta follower. Badan langsing kulit putih rambut panjang bergelombang senyum manja di setiap story yacht-nya. Dan sekarang dia menunggu di dek atas telanjang atau setengah telanjang basah sejak sore siap direndahkan oleh 12 pria ojol bau keringat.

Aku sampai di gerbang dermaga pantai sekitar pukul 01:55. Gerbang besi tinggi yang biasanya dijaga satpam malam ini terbuka lebar. Lampu sorot redup menyala di pojok. Tidak ada satpam. Tidak ada CCTV yang kelihatan aktif. App benar-benar mengatur semuanya. Di kejauhan di dermaga nomor 7 kapal yacht putih panjang bernama Silver Horizon sudah terparkir. Lampu dek atas menyala samar-samar. Suara ombak kecil menampar badan kapal. Musik pelan mungkin R&B slow terdengar samar dari atas dek.

Motor teman-teman mulai berdatangan satu per satu di pinggir dermaga saat malam makin sepi. Joko tiba lebih dulu bersama dua temannya yang badannya besar dan kekar. Kemudian Budi datang sambil membawa tiga ojol tambahan yang mukanya sudah kelihatan mesum dari jauh. Tak lama kemudian Doni dan Asep muncul bareng sambil membawa tas kecil yang mungkin berisi kamera dan kondom cadangan meski aplikasi sudah bilang tidak perlu. Total ada dua belas orang termasuk aku. Kami memarkir motor berjejer rapi di pinggir dermaga lalu meletakkan helm di stang motor masing-masing. Setelah itu kami saling pandang tanpa banyak bicara. Bau keringat bercampur dengan aroma laut yang pekat terasa memenuhi udara malam yang sepi itu.

Aku maju duluan menuju pintu gerbang kecil yang mengarah ke dermaga. Tulisan kecil di aplikasi muncul lagi di layar ponselku. Naik ke dek atas. Vanessa sudah siap menunggu di ruang lounge utama. Mulai kapan saja. Rekam boleh. Safe word anchor tapi dia bilang tidak akan memakai itu. Aku menoleh ke belakang ke arah teman-teman. Mereka semua mengangguk pelan dengan mata sudah gelap penuh nafsu. Kami kemudian naik pelan-pelan menuju kapal. Tangga kayu mengkilap terasa licin di bawah kaki dan bau laut bercampur dengan aroma parfum mahal langsung menyambut kami begitu sampai di atas. Begitu tiba di dek atas pintu lounge kaca geser sudah terbuka setengah bagian. Cahaya lampu kuning hangat menyelinap keluar dari dalam ruangan. Di dalam sana Vanessa berdiri diam di tengah ruangan.

Dia memakai bikini putih tipis yang hampir transparan karena sudah basah oleh keringat atau mungkin cairan lain. Rambut panjangnya terurai bebas dan mata cokelatnya menatap kami berdua belas dengan campuran malu dan tantangan. Bibir tipisnya tersenyum kecil. Tangan kirinya memegang gelas kristal berisi wine merah. Tangan kanannya sudah berada di antara pahanya lalu menggosok pelan dari atas kain bikini yang ketat dan seksi itu.

"Masuk semuanya.. katanya pelan dengan suaranya lembut tapi bergetar. 

"Aku sudah lama nungguin kalian. Ayahku lagi di Singapura. Kapal ini milik kita malam ini.

Dia menaruh gelas kristal di meja marmer lalu berlutut pelan di karpet tebal ruang lounge. Kakinya terbuka sedikit sehingga bikini bawahnya sudah bergeser memperlihatkan garis vagina yang mulus dan basah mengkilap.

“Kalian boleh mulai dari mana aja. bisiknya dengan mata menatap kami satu per satu. 

"Kali ini aku ingin… direndahkan. Tampar aku. Jambak rambutku. Isi mulutku dengan kontol kalian.. isi semuanya.. Rekam kalau mau. Aku tidak bakal nolak.

Kami berdua belas berdiri diam di ambang pintu dengan napas yang semakin berat. Malam ini baru saja dimulai. Dan kali ini di atas air di yacht mewah semuanya akan jauh lebih brutal daripada ruang praktik minggu lalu. Di sana seorang amoy seksi anak pengusaha kaya raya rela menyerahkan dirinya untuk direndahkan oleh sekumpulan pria pribumi kasar dan rendahan seperti kami. Wanita cina seksi yang selama ini hanya bisa kami pandangi dari kejauhan kini bisa kami perlakukan sesuka hati tanpa ada yang bisa melarang.

Vanessa tetap berlutut di tengah ruangan dengan kakinya terbuka selebar bahu. Tangan kanannya masih menggosok pelan di atas kain bikini bawah yang sudah basah mengkilap. Bikini atasnya tipis sekali sehingga putingnya yang kecil terlihat jelas menonjol di balik kain putih basah itu. Rambut panjangnya jatuh ke bahu dan beberapa helai menempel di kulit lehernya yang berkeringat tipis. Dia tidak buru-buru. Matanya menyapu kami satu per satu dari aku yang berdiri paling depan ke Joko yang badannya paling besar ke Doni yang sudah mengusap selangkangan celananya sendiri ke yang lain yang napasnya mulai berat. Dia menarik napas pelan sehingga dada naik turun lalu bicara lagi dengan suara yang hampir berbisik tapi jelas terdengar di ruangan sepi itu.

Vanessa tetap berlutut di tengah ruangan dengan kakinya terbuka selebar bahu. Tangan kanannya masih menggosok pelan di atas kain bikini bawah yang sudah basah mengkilap. Bikini atasnya sangat tipis sehingga puting susunya yang kecil terlihat jelas menonjol di balik kain putih basah itu. Rambut panjangnya jatuh ke bahu dan beberapa helai menempel di kulit lehernya yang berkeringat tipis. Dia tidak buru-buru sama sekali. Matanya menyapu kami satu per satu mulai dari aku yang berdiri paling depan lalu ke Joko yang badannya paling besar kemudian ke Doni yang sudah mengusap selangkangan celananya sendiri dan ke yang lain yang napasnya mulai berat. Dia menarik napas pelan sehingga buah dadanya naik turun lalu bicara lagi dengan suara yang hampir berbisik tapi jelas terdengar di ruangan sepi itu.

“Aku tahu pria pribumi seperti kalian sering berkhayal tentang amoy seksi seperti diriku. Malam ini kalian semua keliatan kotor dan bau keringat. Tapi.. itu justru yang kusukai. Aku biasa dikelilingi parfum mahal dan orang-orang yang sopan… tapi malam ini aku pengen diperlakukan kayak budak napsu rendahan.

Dia berhenti sebentar sehingga jari telunjuknya menyelinap ke bawah kain bikini lalu menggosok klitorisnya pelan sambil mata tetap menatap kami.

"Kalian boleh mulai dari mana aja. Aku tidak bakal bilang berhenti. Safe word-nya anchor… tapi aku janji tidak bakal pakai.

Doni yang paling muda dan paling tidak sabar maju duluan satu langkah. Kakinya berderit pelan di karpet.

“Gue yang duluan ya bro? tanyanya ke aku dengan suaranya serak. Aku cuma mengangguk kecil dan tidak protes. Doni maju lagi lalu berdiri tepat di depan Vanessa. Dia membuka resleting celana jeans-nya pelan lalu mengeluarkan kontolnya yang sudah keras banget. Vanessa tidak mundur. Malah dia mendongak sehingga bibir tipisnya terbuka sedikit dan lidahnya keluar menyentuh kepala penis Doni dulu. Hanya ujung lidah basah dan hangat. Doni mendesah berat.

“Gila… rasanya beda banget.. ini sih beneran barang mahal.. Gumamnya. Vanessa tidak langsung memasukkannya. Dia menjilat pelan dari bawah ke atas lambat sekali seperti mengecap rasa itu. Matanya melirik ke atas ke Doni lalu ke kami yang lain seolah bilang: lihat nih aku mulai..

Joko maju dari samping. Tangan besarnya langsung ke bikini atas Vanessa. Dia menarik tali bahunya pelan dulu lalu menarik keras sekali sampai kainnya robek kecil di pinggir. Payudara Vanessa yang penuh tapi kencang terbebas sehingga putingnya merah muda dan sudah keras. Bang Joko meremas satu payudara dengan kasar dan jempolnya mencubit puting sampai Vanessa mendesah kecil pertama kali malam itu.

“Lihat nih putingnya langsung keras. katanya ke yang lain dengan suaranya berat.

Aku masih berdiri di belakang dengan napas mulai berat. Aku melihat Vanessa mulai menerima Doni ke mulutnya perlahan. Bibirnya membuka lebar lalu mengambil separuh panjang Doni dulu. Suara isapan kecil terdengar bercampur desahan Doni. Tangan Vanessa naik ke paha Doni lalu memegang supaya stabil sementara tangan kirinya turun lagi ke selangkangannya sendiri lalu menggosok lebih cepat sekarang.

Budi dan Asep maju juga sehingga lingkaran kami semakin rapat di sekitar Vanessa. Mas Budi jongkok di samping. Tangannya meraih rambut panjang Vanessa lalu menarik pelan ke belakang supaya mulutnya terbuka lebih lebar. Doni langsung mendorong lebih dalam sampai Vanessa tersedak kecil. Air mata tipis keluar di sudut matanya tapi dia tidak mundur. Malah dia mendorong kepalanya sendiri ke depan.

Aku maju terakhir lalu berdiri tepat di belakangnya. Tangan kananku menyentuh punggungnya yang mulus lalu turun ke pinggang lalu merasakan kulit hangat dan sedikit berkeringat. Bikini bawahnya aku tarik ke samping pelan sehingga memperlihatkan vagina yang sudah basah mengkilap dan merah karena digosok sendiri tadi. Aku usap dulu dengan jari tengah lalu merasakan licinnya yang hangat. Vanessa menggigil hebat. Mulutnya masih penuh Doni tapi pinggulnya mendorong ke belakang lalu minta lebih.

Aku menarik napas dalam lalu memosisikan kontolku di pintu masuknya. Ujungnya menyentuh bibir vaginanya yang licin hangat sekali. Aku mendorong pelan dulu sehingga masuk satu senti lalu merasakan dinding dalamnya yang sempit membungkus erat. Vanessa mengerang teredam di mulut Doni. Tubuhnya maju mundur kecil lalu mengikuti ritme.

Malam ini baru mulai. Di dek atas yacht yang bergoyang pelan karena ombak kecil dengan musik slow masih mengalir kami mulai melingkari Vanessa perlahan tapi pasti. Belum kasar. Belum brutal. Tapi udara sudah terasa panas dan aku tahu sebentar lagi semuanya bakal lepas kendali.

Yacht bergoyang pelan hampir tak terasa tapi setiap dorongan kecil dari ombak membuat tubuh Vanessa ikut bergoyang maju mundur seperti boneka yang digerakkan oleh tangan-tangan kasar di sekitarnya. Musik R&B masih mengalir tapi sekarang suaranya sudah tenggelam di bawah napas berat desahan bunyi kulit bertemu kulit dan sesekali suara tamparan yang basah.

Aku masih di belakangnya. Sudah masuk setengah panjang lalu merasakan dinding dalam Vanessa yang sempit dan hangat membungkus erat seperti sarung tangan basah. Setiap kali aku menarik mundur sedikit kontolku. Dia mendorong pinggul ke belakang sendiri lalu minta lebih dalam. Aku memegang pinggangnya dengan kedua tangan sehingga jari menekan kulit putih yang sudah mulai memerah karena cengkeraman lalu mendorong sekali keras sampai pangkal. Vanessa menjerit kecil teredam karena mulutnya masih dipenuhi kontolnya Doni tapi suaranya malah jadi lebih tinggi lebih memohon. Doni sudah mulai gerak lebih cepat. Tangannya memegang kedua pipi Vanessa supaya kepalanya tetap stabil.

“Gila… nyepongnya pinter banget.. kontol gua berasa masuk semuanya.. Desisnya. Setiap dorongan membuat pipi Vanessa menggembung. Air liur menetes dari sudut bibirnya ke dagu lalu ke payudara yang sudah merah karena diremas oleh Joko tanpa henti.

Joko sekarang jongkok di samping kiri Vanessa. Dia menarik bikini bawahnya sampai robek total lalu melempar ke lantai. Jari telunjuk dan tengahnya langsung masuk ke vagina Vanessa bersamaan dengan kontolku yang masih di dalam. Vanessa menggelinjang hebat. Kakinya gemetar hampir jatuh kalau tidak ditopang oleh tangan-tangan yang memegang bahu dan pinggangnya.

“Peret banget nih memek. Gumam Bang Joko sambil memutar jarinya di dalam lalu merasakan milikku yang bergerak di samping jarinya. "Pasti bakal kelojotan kalau dijejelin dua kontol sekaligus.

Aku tarik keluar pelan. Aku memberi ruang. Joko langsung posisikan dirinya di belakang. Ia lebih besar dari aku. Dia dorong masuk perlahan tapi pasti. Vanessa menjerit lagi. Kali ini lebih keras. Suaranya pecah di antara isapan Doni. Air matanya sudah mengalir deras. Tapi matanya tetap menatap ke atas ke arah kamera action cam yang Asep pegang dari samping. Lensa merahnya berkedip merekam semuanya.

"Rekam deket mukanya" perintah Asep ke dirinya sendiri sambil zoom. "Ekspresinya bikin penasaran.

Budi dan dua ojol tambahan sekarang maju ke sisi kanan dan kiri. Mereka pegang tangan Vanessa lalu membukanya lebar. Kemudian mereka arahkan ke selangkangan mereka. Vanessa langsung menggenggam dua sekaligus. Ia mengocok pelan sambil tubuhnya terus digoyang dari belakang oleh Bang Joko. Gerakannya sudah tidak lagi terkontrol. Setiap dorongan Bang Joko membuat seluruh tubuhnya maju. Ia membuat mulutnya menelan Doni lebih dalam. Ia membuat tangannya mengocok lebih cepat.

Aku mundur sebentar. Aku melihat lingkaran itu. Dua belas orang beberapa sudah telanjang dada. Celana diturunkan sampai lutut. Bau keringat oli garam laut dan cairan seks bercampur jadi satu. Bau itu memenuhi ruang lounge yang tadinya wangi parfum mahal. Vanessa sekarang benar-benar tengah-tengah seperti pusat badai.

Doni keluar duluan. Dia tarik keluar dari mulut Vanessa dengan bunyi pop basah. Lalu semprotan pertama langsung mengenai wajahnya dari dahi sampai bibir. Vanessa membuka mulut lebar. Ia menangkap yang bisa ditangkap. Sisanya menetes ke dagu dan payudara. Doni mendesah panjang lalu mundur sambil menggoyang-goyangkan sisa-sisanya ke rambut Vanessa.

Joko tidak lama lagi. Dia dorong beberapa kali keras lalu tarik keluar tepat waktu. Cairan putih kental menyemprot punggung dan bokong Vanessa yang sudah merah karena ditampar berulang-ulang. Dia langsung ganti posisi dengan aku lagi. Kali ini aku masuk dari belakang sambil menampar bokongnya keras sekali. Bunyi plak bergema di ruangan. Vanessa menjerit tapi langsung mendorong pinggul ke belakang lagi.

Satu per satu mereka bergantian. Ada yang masuk ke mulut ada yang ke vagina ada yang ke tangan. Beberapa yang tidak sabar mengocok sendiri di depan wajahnya sampai keluar di rambut di pipi di leher. Vanessa sudah tidak lagi berlutut rapi. Dia sekarang merangkak di karpet. Bokong terangkat tinggi. Kepala ditarik ke belakang oleh rambut. Mulut terbuka menerima siapa saja yang mau masuk.

Di tengah-tengah itu semua dia sempat berbisik. Suara serak hampir hilang.

"Lebih kasar lagi.

Aku dengar kata itu. Jantungku berdegup lebih kencang.

Aku tarik rambutnya keras ke belakang sampai lehernya melengkung.

"Kamu minta sendiri ya" bisikku di telinganya. Lalu aku tampar wajahnya. Tidak terlalu keras tapi cukup membuat pipinya memerah dan matanya berkaca-kaca lagi. Vanessa malah tersenyum kecil. Lidahnya keluar menjilat bibir bawahnya yang seksi.

Malam berlanjut seperti itu. Empat jam terasa seperti empat puluh menit. Yacht terus bergoyang pelan, ombak kecil menampar badan kapal seperti irama yang mengiringi. Kamera Asep berpindah-pindah, merekam dari sudut rendah, dari atas, close-up wajah Vanessa yang sudah penuh cairan, close-up vagina yang sudah merah dan bengkak tapi masih menerima siapa saja.

Saat jam menunjukkan hampir pukul 05:30, langit di luar mulai berwarna abu-abu muda. Kami satu per satu mundur, napas tersengal, badan basah keringat dan cairan berbagai macam. Vanessa masih merangkak di karpet, tubuhnya gemetar kecil, rambut kusut menempel di wajah dan leher, cairan menetes dari dagu, dari antara paha, dari bokong. Tapi matanya… masih hidup. Masih menantang.

Dia angkat kepala pelan, suaranya serak hampir hilang. “Makasih… malam ini aku benar-benar ngelupain semua masalah yang ada dalam hidupku.

Aku jongkok di depannya, menyentuh dagunya pelan—pertama kalinya malam ini ada sentuhan yang lembut. “Kamu oke?”

Dia tersenyum tipis, bibir bengkak. “Lebih dari oke. Aku nunggu cooldown berikutnya.”

Kami tinggalkan dia di lounge itu. Beberapa ojol masih foto-foto terakhir dengan HP masing-masing sebelum turun kapal. Aku yang terakhir keluar. Sebelum menutup pintu geser kaca, aku lihat Vanessa lagi—dia sudah duduk bersandar di sofa kulit putih, kaki terbuka lebar, tangan kanannya kembali menggosok pelan di antara pahanya yang merah dan basah, mata menatap ke arah pintu, seolah menunggu ronde berikutnya.

Aku turun tangga yacht, udara pagi Ancol terasa dingin menusuk kulit yang masih panas. Motor-motor sudah berjejer, temen-temen mulai nyalain mesin satu per satu. Aku naik Supra, helm di tangan, tapi belum aku pakai. HP bergetar pelan di saku celana.

Notifikasi XBang Oriental: Session selesai. Rating Vanessa Ho. updated: 9.8/10 (dari 12 pengguna). Cooldown berikutnya: 6 hari lagi. Apa kamu mau save spot untuk sesi berikutnya?

Aku tatap layar itu lama. Jempolku bergerak ke tombol “Save Spot. Ya. 

Malam ini baru permulaan dari minggu yang panjang. Dan aku tahu, minggu depan bakal lebih gila lagi. Pagi itu Jakarta masih setengah tidur. Langit di atas Ancol berwarna abu-abu pucat, matahari belum benar-benar muncul, cuma menyelinap tipis di balik awan tebal. Aku nyalain motor Supra di pinggir dermaga, knalpotnya ngorok pelan sebelum akhirnya stabil. Temen-temen sudah pada berpencar—ada yang langsung balik ke basecamp, ada yang mampir warung kopi pinggir jalan buat sarapan dulu. Aku sendiri nggak langsung pulang. Aku matiin mesin, duduk di atas jok motor, helm digantung di stang, lalu nyalain rokok.

Asap pertama keluar pelan dari mulutku lalu bercampur embun pagi yang dingin. Badanku masih lengket dan bau keringat campur parfum Vanessa yang manis mahal masih nempel di baju. Setiap tarikan napas ingatan malam tadi langsung balik lagi. Suara desahan yang pecah tamparan yang bergema di lounge yacht cairan yang menetes ke karpet krem mahal itu. Aku menutup mata sebentar sehingga rasanya masih ada getaran halus dari badan Vanessa yang gemetar di bawah tanganku. HP bergetar lagi di saku celana. Aku mengeluarkannya sehingga layar masih menyala dengan notifikasi ShadowBang tadi.

“Spot saved for Vanessa Tanadi Huang – Next session available in 6 days. Would you like to receive early access notification when cooldown ends? 

Aku cuma membaca sekilas lalu mematikan layar. Belum sekarang. Badanku capek dan pikiranku penuh tapi anehnya tidak ada rasa bersalah. Cuma rasa haus yang aneh seperti orang yang baru minum air laut semakin diminum semakin haus.

Aku menggas motor pelan keluar dermaga. Gerbang besi yang tadi terbuka lebar sekarang sudah tertutup rapat lagi sehingga satpam malam sudah balik jaga dengan mukanya biasa saja seolah tidak tahu apa yang baru terjadi di dalam. Aku melewati jalan tol dalam kota yang masih sepi sehingga angin pagi menusuk lewat jaket tipis. Pikiranku muter ke Vanessa. Apa dia masih di yacht sekarang? Apa dia sudah mandi lalu membersihkan bekas kami dari tubuhnya? Atau apa dia masih duduk di sofa kulit putih itu dengan tangannya kembali ke antara paha lalu mengulang sendiri apa yang kami lakukan tadi malam?

Aku sampai kosan sekitar jam 06:45. Tangga gelap masih bau amis seperti biasa. Aku membuka pintu kamar pelan sehingga kasur busa langsung menyambut dengan bau lembab dan keringat lama. Aku membuang badan ke kasur tanpa ganti baju lalu cuma melepas sepatu dan jaket. Kipas angin di pojok masih berisik tapi aku tidak peduli. Mataku langsung ke langit-langit retak sehingga pikiran melayang lagi.

Aku membuka Telegram gelap itu. XBang Oriental masih menunjukkan countdown kecil. 5 hari 23 jam 58 menit. Di bawahnya ada tab baru yang muncul setelah session tadi malam. Replay & Highlights. Aku klik.

Layar berubah jadi galeri kecil. Ada thumbnail-thumbail pendek, durasi 15–30 detik, diambil dari berbagai sudut—kebanyakan dari action cam Asep, beberapa dari HP temen-temen yang sempat rekam diam-diam. Aku geser satu per satu.

Thumbnail pertama: close-up wajah Vanessa saat Doni keluar di mukanya. Matanya setengah terpejam, bibir terbuka menangkap tetesan, ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Thumbnail kedua: aku sendiri dari belakang, tangan memegang pinggangnya, dorongan keras sampai bokongnya bergoyang. Bunyi tamparan “plak!” terdengar jelas meski cuma preview.

Thumbnail ketiga: Bang Joko dan aku masuk bareng—dia dari belakang, aku dari depan lewat mulut. Tubuh Vanessa melengkung seperti busur, tangan meraih udara kosong.

Aku nggak play videonya. Belum sanggup. Cuma lihat thumbnail aja sudah bikin darahku berdesir lagi. Aku matiin HP, taruh di dada, lalu tutup mata.

Tidur nggak datang langsung. Setiap kali mata terpejam, adegan demi adegan balik lagi. Aku bangun lagi jam 10 siang, badan panas, keringat dingin. Aku mandi air dingin lama banget, gosok badan kasar seolah mau hapus bau malam tadi. Tapi nggak hilang. Malah semakin kuat di ingatan.

Siang itu aku balik ojol seperti biasa. Penumpang pertama cewek kantoran, rambut pendek, pakai kemeja putih rapi. Dia duduk di belakang, tangan pegang pinggangku pelan. Biasanya aku nggak mikir apa-apa. Tapi hari ini… setiap sentuhan kecil bikin aku ingat tangan Vanessa yang gemetar memegang paha Doni. Aku ngegas lebih kencang dari biasa, nyoba buang pikiran itu. Malam harinya, aku buka app lagi. Countdown masih jalan: 5 hari 14 jam. Tapi ada notifikasi kecil di pojok:

“New message from Vanessa Ho (private chat unlocked after session rating 9.8/10)

Aku buka. Pesan singkat, dikirim jam 08:47 pagi tadi:

“Mas Dika,  

Aku masih basah setiap kali inget tadi malam. Badanku sakit di mana-mana, tapi aku suka.  

Kalau kamu mau… aku bisa buka pintu yacht lagi besok malam. Cuma kamu. Tanpa yang lain. Aku pengen rasain lagi, tapi pelan-pelan. Biar aku bisa ingat setiap detiknya. Balas kalau kamu mau.  

Aku baca pesan itu tiga kali. Jantung berdegup pelan, tapi beda dari kemarin. Bukan nafsu liar yang membabi buta. Ini… lebih dalam. Lebih berbahaya. Jempolku bergerak ke keyboard. Aku ketik satu kata dulu:

"Mau. Lalu kirim. Pesan terkirim. Dua centang biru langsung muncul. Beberapa menit kemudian. balasan datang:

“Besok malam jam 22:00. Dermaga yang sama. Aku tunggu di dek bawah kali ini. Bawa rokokmu. Aku suka baunya di badanmu. Jangan mandi dulu ya. Biar aku cium aroma aslimu.

Aku taruh HP di samping bantal. Napasku pelan-pelan jadi lebih berat. Minggu ini memang panjang. Dan sekarang, malam besok bakal jadi milik kami berdua saja. Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi. Tapi aku tahu satu hal: Aku nggak bakal nolak.

Hari itu berlalu lambat sekali. Seperti sengaja ditarik-tarik supaya aku semakin gelisah. Pagi aku ojol seperti biasa tapi pikiranku tidak pernah benar-benar di jalan. Setiap penumpang cewek yang naik aku cuma bisa membandingkan dengan Vanessa. Bau parfumnya yang manis cara dia berbisik jangan mandi dulu ya atau senyum kecil di foto profilnya yang sekarang terasa lebih hidup setelah malam di yacht. Aku sering berhenti di lampu merah lebih lama dari yang seharusnya. Aku menyalakan rokok lalu menarik dalam-dalam supaya asapnya mengisi paru-paru dan mengusir bayangan itu sebentar.

Siang aku mampir ke warteg dekat basecamp. Aku makan nasi campur ayam goreng tapi rasanya hambar. Bang Joko lewat lalu bertanya. Malem ini lu kemana lagi Dik? Yacht lagi? Aku cuma menggeleng kepala sambil tersenyum tipis. Sendiri dulu Bang. Istirahat. Dia tertawa ngakak lalu menepuk bahuku keras. Hati-hati ntar kecanduan beneran. Aku tidak menjawab. Dia tidak tahu seberapa benar kata-katanya.

Menjelang malam aku pulang ke kosan lebih awal. Aku mandi cuma basah-basahan saja tanpa pakai sabun banyak-banyak. Aku ingat pesan Vanessa. Jangan mandi dulu ya. Biar aku cium aroma aslimu. Jadi aku cuma menggosok ketiak dan selangkangan pakai sabun mandi. Sisanya aku biarkan saja. Bau keringat kemarin masih samar-samar nempel campur bau oli motor dan asap rokok. Aku memakai kaos hitam yang sama kemarin celana jeans robek di lutut dan tidak ganti kaos kaki. Semuanya sengaja supaya asli.

Jam 20:30 aku duduk di kasur dengan HP di tangan. Countdown XBang Oriental masih jalan tapi sekarang tidak terlalu penting. Aku membuka chat pribadi sama Vanessa. Pesan terakhir darinya tadi pagi:

"Jangan lupa bawa rokok. Aku suka liat kamu nyalain satu batang pas lagi di dalam aku. Dek bawah, pintu samping kiri kapal. Aku sudah siapin wine dan musik. Jangan telat. Aku mulai kangen sejak tadi siang.

Aku baca lagi, jantung mulai berdegup pelan tapi berat. Beda dari malam kemarin yang liar dan rame. Ini lebih tenang, lebih intim, tapi justru bikin perut mules campur excited. Aku balas singkat:

“Jam 22:00 tepat. Aku bawa rokok. Tunggu aku. Dua centang biru langsung muncul. Dia online. Tapi nggak balas lagi. Mungkin sengaja biar aku semakin gelisah.

Jam 21:15 aku keluar kosan. Motor Supra aku dorong pelan keluar gang biar nggak berisik. Mesin nyala di ujung jalan, lalu aku gas ke utara lagi, ke arah pantai mutiara. Malam ini Jakarta hujan gerimis tipis, jalan licin, lampu jalan memantul di genangan air. Angin bawa bau tanah basah dan garam laut. Sepanjang jalan aku ngerokok dua batang berturut-turut, nyalain satu dari puntung yang lain. Asapnya aku hembus ke udara malam, rasanya seperti ritual kecil sebelum masuk ke dunia yang lain.

Sampai dermaga sekitar pukul 21:50. Gerbang besi terbuka lagi sama seperti kemarin. Tapi malam ini tidak ada motor lain berjejer. Cuma Supra-ku yang aku parkir di pinggir. Lampu sorot dermaga redup. Yacht Silver Horizon masih parkir di tempat yang sama. Tapi kali ini lampu dek atas mati. Yang menyala cuma lampu kecil di dek bawah kuning hangat samar-samar.

Aku naik tangga kayu pelan-pelan. Sepatu ketsku basah karena gerimis. Ia meninggalkan jejak kecil di dek. Pintu samping kiri sudah terbuka setengah seperti yang dia bilang. Aku dorong pelan.

Di dalam ruangan kecil mungkin kamar tamu atau lounge pribadi. Lampu kuning redup dari lampu dinding. Musik jazz pelan mengalir dari speaker kecil di pojok. Bau wine merah dan lilin wangi vanila samar-samar. Di tengah ruangan Vanessa duduk di sofa kulit panjang berwarna krem. Kakinya disilang rapi.

Dia pakai kimono sutra hitam tipis. Tali pinggangnya longgar. Ia memperlihatkan garis dada dan perut mulus di bawahnya. Rambutnya terurai basah mungkin baru mandi. Tapi dia tidak pakai make-up tebal. Wajahnya polos. Bibir merah alami. Mata cokelatnya menatapku langsung. Di meja kecil depannya ada dua gelas wine setengah isi sebotol merah tua dan asbak kosong.

"Mas Dika. Katanya pelan. Suaranya lembut tapi ada getar kecil. "Kamu tepat waktu..

Aku berdiri di ambang pintu sebentar. Aku tidak langsung masuk. Mataku menyapu tubuhnya. Bekas merah di leher dan paha masih samar terlihat meski sudah dioles sesuatu. Dia tersenyum tipis lalu bangkit pelan. Kimono bergeser sedikit memperlihatkan paha dalamnya yang mulus.

"Aku sudah siapin semuanya. bisiknya sambil melangkah mendekat. "Malam ini cuma kita berdua. Tidak ada kamera tidak ada yang lain. Cuma kamu dan aku.

Dia berhenti tepat di depanku. Jarak cuma satu langkah. Aku bisa cium aroma parfum mahalnya bercampur wine. Tapi dia malah mendekat lebih dekat lagi. Hidungnya hampir menyentuh leherku lalu menghirup dalam-dalam.

"Enak.. bau keringatmu masih ada. Bau rokok juga. Dia angkat muka. Mata bertemu mata. "Aku kangen ini..

Tangan kanannya naik pelan ke dada ku, jari-jarinya menyusuri kaos hitam yang lembab karena gerimis. Aku nggak gerak dulu. Biarin dia yang mulai. Dia tarik napas pelan lalu berbisik di telingaku:

“Masuk dulu. Tutup pintu. Malam ini aku pengen pelan-pelan… biar aku jadi pelayan kamu.. 

Aku dorong pintu sampai tertutup rapat. Kunci otomatis berderit kecil. Yacht bergoyang pelan karena ombak kecil. Malam baru dimulai dan kali ini tidak ada yang buru-buru. Pintu tertutup rapat di belakangku. Suara kunci otomatis berderit kecil lalu hilang ditelan musik jazz yang pelan. Piano lembut double bass rendah saxophone yang sesekali menyelinap seperti hembusan napas. Ruangan kecil ini terasa lebih hangat daripada lounge atas kemarin. Karpet tebal menyerap langkah. Lampu kuning redup dari dinding membuat bayangan kami memanjang lembut.

Vanessa berdiri tepat di depanku. Kimono sutra hitamnya tergeser sedikit di bahu kiri. Ia memperlihatkan garis tulang selangka dan mulai dari lengkung payudara. Dia tidak buru-buru. Matanya menatapku dari bawah ke atas seperti sedang membaca setiap detail. Kaos hitam yang lembab gerimis jeans robek bau rokok yang masih menempel di rambut dan leherku.

Dia angkat tangan kanan. Jari telunjuknya menyentuh bibirku pelan.

"Malam ini gak usah buru buru. bisiknya. Aku pengen nikmatin semuanya..

Aku ngangguk kecil. Dia tarik tanganku lalu membawaku ke sofa panjang. Kami duduk berdampingan. Lutut kami bersentuhan. Dia ambil gelas wine dari meja lalu minum seteguk kecil. Kemudian dia menawarkan ke aku. Aku ambil lalu minum pelan. Rasa merah tua sedikit asam hangat di tenggorokan. Dia taruh gelas kembali lalu condong ke depan. Hidungnya kembali mendekat ke leherku.

"Hmm masih ada bau keringat kemarin. gumamnya sambil menghirup dalam. "Dan rokok. Aku suka. Bikin aku ingat kamu bukan dari circle-ku.

Tangan kirinya naik ke paha dalamku. Ia menyusuri celana jeans pelan naik-turun seperti sedang menggambar pola. Aku tarik napas pelan lalu biarin dia yang memimpin. Dia angkat muka. Bibirnya hampir menyentuh bibirku tapi tidak langsung cium. Malah dia berbisik.

"Ceritain ke aku apa yang kamu rasain pas malam kemarin di atas dek. Pas kamu dorong dari belakang.. pas aku mengerang tapi malah minta lebih.

Aku tarik napas dalam. Suaraku serak sedikit. 

"Rasanya kayak punya kekuasaan yang tidak pernah aku punya sebelumnya. Kamu yang biasanya di atas sana di IG di yacht mewah tiba-tiba merangkak di karpet minta ditampar dan dihina. Dia tersenyum kecil. Mata setengah terpejam.

"Dan kamu suka itu?

"Suka. Tapi malam ini beda.

"Beda gimana? 

Aku pegang dagunya pelan lalu angkat mukanya supaya mata bertemu mata. "Malam ini aku pengen liat kamu yang minta..

Dia menggigil kecil. "Aku sudah minta sejak kamu masuk pintu tadi.

Dia bangkit pelan lalu berdiri di depanku. Tangan kanannya memegang tali kimono lalu menarik perlahan sampai simpul terlepas. Kain sutra hitam jatuh ke lantai seperti air mengalir sehingga meninggalkan dia telanjang sepenuhnya. Kulit putihnya bercahaya samar di bawah lampu kuning. Bekas merah di leher paha dan bokong masih samar terlihat sebagai tanda malam kemarin. Putingnya sudah mengeras dan napasnya naik turun pelan.

Dia berlutut di depanku. Tangannya bergerak ke resleting jeansku lalu membukanya pelan. Aku mengangkat pinggul sedikit supaya dia bisa menurunkan celana dan boxer sekaligus. Milikku sudah keras sejak tadi. Dia memegangnya pelan dan jempolnya mengusap ujung yang sudah basah sedikit. Dia tidak langsung memasukkannya ke mulut. Malah dia condong lalu mencium pelan dari pangkal ke ujung. Lidahnya menyentuh ringan seperti mengecap.

"Aku pengen rasain aroma aslimu dulu. bisiknya sambil menghirup dekat pangkal. Lalu dia mengangkat muka dan mata menatapku. 

"Nyalain rokokmu. Aku mengambil sebungkus dari saku jaket yang tergeletak di sofa lalu mengambil satu batang dan menyalakannya dengan korek. Asap pertama aku hembuskan pelan ke atas. Vanessa tersenyum lalu condong lagi. Mulutnya membuka lebar lalu mengambil ujungku pelan sambil matanya tetap menatap ke atas. Aku menghisap rokok dalam lalu hembuskan asap ke arahnya. Asap mengepul tipis dan menyentuh wajahnya yang sedang menelan lebih dalam. Dia mendesah teredam. Tangan kanannya turun ke selangkangannya sendiri lalu menggosok pelan klitorisnya sambil mulutnya bergerak maju mundur lambat.

Kami begitu selama beberapa menit. Aku merokok pelan dan dia mengulum kontolku dengan ritme yang sama dengan hembusan asapku. Setiap kali aku hembuskan asap dia mendorong kepalanya lebih dalam sampai tersedak kecil lalu menarik mundur sehingga air liur menetes ke dagu.

Akhirnya aku mematikan rokok di asbak. Tangan kananku bergerak ke rambutnya lalu menarik pelan ke belakang supaya mulutnya lepas. Dia mendongak dengan bibir bengkak dan mata berkaca-kaca.

"Apa bisa dimulai sekarang ? Kataku pelan.

Dia bangkit lalu mendorong aku supaya rebah di sofa. Lalu dia naik ke atas dengan lutut di kedua sisi pinggulku. Tangan kirinya memegang batang penisku lalu mengarahkannya vaginanya yang sudah basah mengkilap. Dia turun pelan senti demi senti. Matanya terpejam dan mulut terbuka kecil mengeluarkan desahan panjang.

"Pelan… ya. bisiknya.

Aku memegang pinggangnya lalu membiarkan dia yang mengatur ritme. Dia naik turun lambat dan setiap gerakan seperti gelombang kecil di yacht yang bergoyang pelan. Dada kami hampir bersentuhan dan napasnya hangat di leherku. Aku mencium lehernya pelan lalu lidah menyentuh bekas merah di sana. Dia menggigil sehingga gerakannya jadi sedikit lebih cepat.

“Tampar aku… pelan aja. pintanya.

Aku menampar pipi kirinya ringan cukup membuat suara kecil dan pipinya memerah tipis. Dia mendesah lebih keras sehingga pinggulnya bergerak lebih dalam.

“Keras sedikit lagi…

Aku menampar lagi kali ini lebih berat. Matanya terbuka air mata tipis keluar tapi senyumnya muncul. “Lagi…

Kami terus begitu. Naik turun tamparan ringan berganti ciuman dalam tangan saling meremas dan napas semakin berat. Yacht bergoyang lebih terasa sekarang sehingga ombak malam mulai naik.

Akhirnya dia berbisik di telingaku dengan suara serak. "Keluarin semuanya didalam.. Aku mau rasain hangatnya..

Aku memegang pinggulnya erat lalu mendorong penisku beberapa kali lebih dalam dan lebih cepat. Dia menjerit kecil teredam di bahuku sehingga tubuhnya menggigil hebat. Aku ikut keluar di dalamnya hangat lama dan setiap denyut terasa jelas. Dia menekan tubuhnya ke dadaku napas tersengal dan kakinya gemetar. Kami diam begitu lama masih terhubung dan napas saling bercampur. Yacht bergoyang pelan dan musik jazz masih mengalir samar.

Akhirnya dia mengangkat muka lalu mencium bibirku pelan. Pertama kalinya malam ini ada ciuman sungguhan. “Makasih… ini yang aku butuhin.

Aku cuma mengangguk lalu memeluk pinggangnya sebentar. Kami pisah pelan. Dia mengambil kimono dari lantai lalu memakainya longgar. Aku bangkit menarik celana dan memakai jaket. Badan masih panas lengket dan bau seks bercampur wine. Dia mengantar aku ke pintu samping. Sebelum membuka dia memegang tanganku.

"Minggu depan… kalau cooldown selesai aku mau lagi. Tapi kali ini… mungkin campur lagi sama yang lain. Kamu mau ?

Aku menatap matanya.

“Mau. Dia tersenyum tipis.

"Aku tunggu notif app-nya.

Aku keluar ke dek. Gerimis sudah berhenti sehingga udara malam dingin menusuk. Aku turun tangga yacht lalu naik motor Supra yang masih basah embun. Mesin menyala pelan lalu aku menggas meninggalkan dermaga kecil itu. Sepanjang jalan pulang angin malam membawa bau garam dan sisa parfum Vanessa. Pikiranku kosong tapi badan masih bergetar kecil. Aku sampai kosan jam hampir 02:00. Aku menjatuhkan diri ke kasur tanpa ganti baju sehingga Aroma tubuhnya masih nempel di kulit. HP bergetar sekali. XBang Oriental: Session pribadi dengan Vanessa Tanadi Huang selesai. Rating updated: 9.9/10 (private). Cooldown global: 4 hari lagi. Early access untuk sesi berikutnya sudah disave.

Aku mematikan layar lalu menaruhnya di dada. Malam ini selesai. Tapi minggu yang panjang ini masih jauh dari akhir.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Barang Jarahan 3

Nasib Fenny Yang Malang

Aplikasi XBang Oriental

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Ai Ling Budak Napsu Pribumi

Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Basement Rahasia Putri Konglomerat

Draft Amarah Para Buruh 23

Boneka Oriental