Cerita ini murni fiksi dan hanya untuk tujuan hiburan semata. Semua tokoh, peristiwa, nama tempat, atau dialog di dalamnya adalah hasil rekaan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menghina, menghasut kebencian, atau menjelekkan kelompok etnis, ras, agama, atau golongan tertentu.
Segala kesamaan nama atau kejadian dengan peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka. Pembaca diharapkan bijak dalam menyikapi konten ini dan tidak membawa materi cerita ini ke ranah nyata.
By : Analconda13
![]() |
| Lien |
“Eh.. Joni. Elu masih ingat nggak waktu jaman kerusuhan '98 itu ? Tanya Pak Tono yang memakai kaus lusuh sambil menyulut rokok yang ada dimulutnya.
"Mana mungkin lupa sih pak. Itu kan masa paling gila. Yang dagang disini aja pada lari pontang panting malah ada yang sampe ngumpet dikolong meja segala. Sahut Joni yang duduk di atas peti semangka.
"Kalau gua sih waktu itu lagi jaga parkir diujung jalan sana. Tiba tiba aja ada massa datang kagak tau darimana.. terus ngamuk dan mecahin kaca kaca toko. Pokoknya gak peduli punya siapa deh. Kata Sapri tukang parkir yang ikut tertarik dengan topik pembicaraan itu.
"Iya.. !!! Pak Tono menunduk lalu menghisap rokoknya dalam-dalam. "Di ujung gang sana, ada toko obat cina... anaknya cantik, masih sekolah juga. Dengar-dengar dia nggak pernah kelihatan lagi sejak kejadian itu. Kata Pak Tono.
Lien langsung merinding mendengar perkataan pria tua itu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tak tahu mengapa, tapi nama toko obat itu seperti pernah disebut ibunya suatu kali.
“Eeh.. tapi kenapa sih kok mereka ngamuknya nyasar ke orang cina mulu ?!! Tanya Joni sambil memotong buah mangga.
“Yah... waktu itu sih dibilangnya karena kecemburuan ekonomi. Tapi sebetulnya, ya karena gampang dijadikan kambing hitam. Orang tionghoa kan kelihatan beda sama pribumi. Nama-namanya beda, mukanya juga beda.
"Elu tahu nggak, yang parah tuh bukan dijarahnya tapi... suara si tukang parkir pelan lalu terhenti.
Tukang parkir itu melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang menguping lalu berkata pelan. “Ada amoy yang diperkosa…”
"Gila... beneran ?!! suara pemuda penjual jam tangan.
“Iya bang. Emang cakep banget tuh si Ching Ching. Badannya tinggi.. putih.. udah kayak bintang film Mandarin aja. Emang diapain dia sama perusuhnya ?
Si tukang parkir mendesah berat. Suaranya rendah nyaris tak terdengar. "Mau diapain lagi kalau bukan digilir rame-rame. Katanya sih digituin diatas lapak pedagang yang ada dibelakang pasar.
"Kasihan banget ya. Padahal katanya tiga bulan lagi dia mau nikah sama pengusaha. Siapa sangka nasibnya malah begitu…
"Ehh.. bang. kata si pemuda penjual jam tangan menurunkan suaranya sambil mencondongkan badan. Denger denger yang kena di belakang pasar… katanya lebih dari satu ya ?!!
Si tukang parkir tua itu mengangguk perlahan. Setau gue sih ada tiga orang. Semuanya masih sekolah. Yang paling kecil malah katanya masih smp.
“Astaga !! Emang biadap tuh orang !! Pak Tono menyilangkan tangan di dada dan wajahnya terlihat pucat.
"Soalnya gue sempat lihat sendiri kejadiannya. lanjut si tukang parkir dengan nada berat. "Waktu kejadian itu.. gue sempet lari sembunyi ke belakang kios sepatu tapi dari sela-sela tumpukan kardus.. gue lihat sendiri… waktu amoynya diseret. Yang satu sampai jerit-jerit minta tolong... bajunya disobek di tengah jalan.
“Yang mana bang ? Tanya Joni.
“Anaknya koh Acong yang jual piring plastik. Waktu itu anaknya baru smp. Rambutnya dijambak terus diseret sama tujuh orang lelaki kedalam pasar.
Lien menutup mulutnya rapat-rapat. Jantungnya berdebar makin cepat. Tangannya gemetar saat merapikan lembaran nota yang tak perlu.
“Kenapa waktu kejadian itu lu kagak nolongin dia bang ?!! Tanya yang lain lirih.
“Siapa berani ?!! Perusuhnya beringas pada bawa golok !! Jawab si tukang parkir yang suaranya parau. "Waktu kejadian itu semuanya ketakutan. Polisi aja gak keliatan sama sekali. Warga yang ada malah diam saja. Nonton dari jauh. Seolah-olah semua itu sah.
"Denger denger itu yang punya toko emas… anak gadisnya juga kena dijarah katanya… Bisik Pak Tono.
“Iya. Cantik banget dia, kayak artis mandarin. Katanya perusuh datang, nendang pintu, langsung narik anaknya ke gudang. Ibunya cuma bisa teriak-teriak. Nggak lama, anaknya keluar udah nggak sadar. Pas ditinggalin udah berantakan semua. Emang edan tuh perusuh !!
“Sialan… manusia apa itu? Kata Joni menggertakkan giginya. "Emangnya sampai sekarang nggak ada yang ditangkap ya pelakunya ?!!
“Nggak ada. Disapu bersih kayak gak pernah terjadi. Malah ada yang bilang, semua itu dirancang, dibiarkan sama oknum. Biar orang-orang pendatang pada takut. Biar mereka hengkang dari sini.
Lien berdiri perlahan dan berjalan ke rak belakang toko. Ia pura-pura menyusun kardus, padahal ia butuh sembunyi. Kala itu matanya yang sipit terlihat basah dan berkaca kaca sementara dadanya sesak.
"Aku nggak habis pikir,” lelaki itu masih melanjutkan, “gimana rasanya jadi ayah yang dengar anaknya minta tolong… tapi nggak bisa nyelametin. Gimana rasanya hidup setelah itu ? Kata Pak Tono
Dari balik tumpukan kardus, Lien menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa seolah semua suara itu menusuk batinnya. Ia tahu orang tuanya tak pernah bicara tentang kejadian itu. Tapi sekarang, semua potongan cerita yang berserakan mulai membentuk pola. Ia tak tahu kenapa ia merasakan ketakutan dan sekaligus rasa penasaran yang makin menggerogoti pikirannya.
Sambil membungkuk, ia menatap celah rak. Wajah-wajah para pria itu tampak muram, dingin, dan serius. Tidak seperti biasanya. Dan Lien tahu—hari itu, sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Suasana di depan toko makin berat. Matahari mulai naik, tapi udara tetap terasa pengap. Di tengah percakapan muram itu, tiba-tiba seorang tukang parkir lain—berkulit gelap, wajah keras, dan mulut yang biasa nyinyir datang menyela sambil tertawa pelan.
“Halahh... kalian ini sok suci semua. Waktu itu yang penting selamat kan? Lagian, ya... maaf-maaf aja, cewek-cewek cina itu kan emang genit dari sananya.
Beberapa orang langsung menoleh tajam ke arahnya.
“Lu ngomong apa Leman ?!! tanya Pak Tono tajam.
“Ya kenyataan pak. sahut Leman sambil mengangkat bahu. “Amoy amoy itu dari dulu emang suka ngundang. Bajunya ketat-ketat, kalau ketemu dijalan aja gak pernah mau senyum sama kita. Nah, waktu kejadian itu... ya orang-orang udah panas, emosi. Meledak deh.
“Itu bukan alasan buat ngerusak, apalagi ngerusak anak orang !! Bentak si pemuda penjual jam tangan.
“Lagian siapa suruh mereka kaya-kaya semua? Kita kerja keras siang malam, mereka tinggal duduk ngitung duit. Ya pantas aja kalau akhirnya dilabrak,” ujar Leman, sambil menyandarkan badan ke tiang, santai seperti sedang bercerita biasa.
Si tukang parkir tua langsung berdiri, tangannya mengepal. “Kau pikir itu pantas? Diperkosa di depan orang tuanya? Apa itu keadilan menurutmu ?!!
Leman menyeringai. “Kalau nggak ada yang ngelawan, ya jangan salahin yang kuat !!
Pak Tono menatapnya tajam, rahangnya mengeras.
“Kalian tahu gak !! Lanjut Leman yang suaranya makin pelan tapi penuh racun. "Ada amoy yang katanya malah diseret rame-rame ke atas truk. Dimasukin ke dalam, diputer keliling, disuruh buka baju satu-satu. Gitu aja mereka gak berani lawan. Mungkin... ya diam karena pasrah.
“Diam Man. Kau itu makin kebangetan aja !! bentak Pak Sapri lagi dan nadanya meninggi.
“Kenapa? Itu semua realita pak. Jangan munafik. Waktu itu semua ikut arus. Yang nggak ikut malah bisa kena bacok. Kalian sok ingat moral sekarang, tapi waktu itu? Semua cuma bisa mikir nyelametin diri sendiri kan.
Semua yang duduk terdiam. Tak ada yang menjawab. Wajah-wajah mereka menegang. Si tukang parkir tua menunduk dengan rahang mengatup keras.
Lien di balik rak ikut terpaku. Kata-kata Leman menyayat lebih tajam daripada cerita apa pun yang ia baca. Ia melihat, bukan hanya kebiadaban yang menghantui masa lalu, tapi juga kebencian dingin yang masih hidup, bersembunyi di balik tawa dan cemooh. Dunia yang selama ini ia lihat dari balik kaca toko ternyata tak seaman yang ia bayangkan.
Warisan yang Terkubur
Di balik foto itu tertulis: Lilian – Agustus 1998
"Kami besarkan kamu seperti anak sendiri… karena kamu adalah darah Lilian. Tapi kami tidak pernah punya keberanian mengungkap semuanya. Kami pikir itu akan lebih baik... Namun kini semuanya terkuak.
Surat untuk Lilian
Malam itu di kamarnya yang tenang Lien menurut buku harian barunya. Sampulnya biru tua sederhana. Di halaman pertama ia menulis.
Pedagang langsung menoleh cepat, mengangkat telunjuk di depan bibirnya. “Ssst… pelan pelan pak. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya.. soalnya ini masalah yang sensitif banget.
Si pedagang terkekeh pendek. Ia menekan tombol pada pemutar DVD. Gambar di layar melompat-lompat—rekaman buram dari kamera tangan yang goyah.
"Ini nih... yang satu ini terkenal, tuh," katanya. "Katanya anak bos toko elektronik. Liat mobilnya tuh—langsung diseret keluar."
Gambar menunjukkan seorang perempuan muda Tionghoa keluar dari mobil sedan hitam yang ringsek. Ia mengenakan blouse ketat dan rok mini. Di sekelilingnya, kerumunan massa berteriak, dan beberapa tangan meraih dengan kasar.
"Awal-awalnya dia nolak... tapi ya... rame-rame gitu, mana bisa."
Tawa kotor terdengar dari penonton. Seorang dari mereka bersiul rendah.
Lien merasa perutnya mual. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya, meski hatinya berteriak menolak.
Di layar, tubuh perempuan itu direnggut dari mobil, dijambak dan ditarik ke trotoar. Kamera bergetar, lalu menyorot dari jauh—hanya siluet, hanya gerakan kasar dan jeritan. Namun maknanya tak bisa disangkal: pemerkosaan yang dilakukan di ruang terbuka, disaksikan oleh banyak orang, dan kini... ditonton ulang oleh laki-laki asing dengan wajah tanpa empati.
Lien merasakan tenggorokannya tercekat. Dunia terasa sempit. Nafasnya memburu.
"Anjir, yang ini sih... kayak artis," gumam seorang pemuda. “Liat tuh, putih banget.”
Tawa dan komentar mereka menyatu menjadi kabut beracun di kepala Lien. Ia menahan tangis, tapi air matanya jatuh juga. Bukan hanya karena horor yang ditampilkan... tapi karena fakta bahwa tak ada satu pun dari mereka yang merasa itu salah.
Seorang pemuda bertopi yang tadi bicara soal rekaman sadis, kini tertawa pelan sambil menghembuskan asap rokok. Di sebelahnya, temannya—berjaket denim, mata belo dan senyum miring—menimpali dengan nada santai:
“Ada yang lebih parah lagi, Bro. Gue pernah dapet rekaman dari pedagang lain, katanya beneran, tapi udah kayak film. Ada amoy—masih SMA katanya—diseret dari kamarnya, diikat tangan, dijambak... digilir. Gila. Yang nonton rame-rame. Ada yang nyorakin juga. Kayak tontonan.”
Pemuda pertama menyahut cepat. “Oh, yang diseret ke gudang sekolah itu ya? Ada juga yang versi di rumah—bapaknya dipukulin dulu, terus anaknya dicekek sampe gak bisa jerit.”
Mereka tertawa. Tertawa.
Seolah yang mereka bicarakan adalah adegan film laga, bukan sisa tubuh dan jiwa perempuan yang hancur.
Lien hanya bisa berdiri mematung, napasnya tercekat.
“Yang paling gue inget...” lanjut si pemuda bertopi, dengan nada sok tahu, “...yang ceweknya nangis sambil bilang ‘tolong jangan, saya belum pernah’. Terus mereka malah ketawa dan bilang, ‘makanya, ini pengalaman pertamamu!’”
Tawa kembali pecah.
Lien merasa dadanya sesak dan jantungnya menghantam tulang rusuk. Ia ingin berteriak tapi mulutnya terkunci oleh jijik, marah, dan ngeri yang tak bisa dijelaskan.
Ini bukan hanya cerita jahat. Ini adalah cermin dunia yang rusak. Dengan tangan gemetar gadis itu maju satu langkah.
"Cukup !! Suara Lien terdengar kecil tapi tajam seperti belati yang dilempar ke tengah percakapan. Pemuda-pemuda itu berhenti bicara. Beberapa tertawa kecil tapi tidak sepenuh hati.
"Kenapa neng ?!! Tanya pria berjaket denim sambil mendengus.
“Kalian sadar nggak apa yang kalian tonton itu ? Bentak Lien yang membuat mereka langsung terdiam.
"Itu bukan film. Itu rekaman kejahatan. Kejahatan terhadap anak-anak perempuan. Terhadap keluarga dan terhadap manusia. Kata Lien kesal.
"Neng di dunia ini yang kuat bertahan. Yang lemah jadi korban. Udah dari dulu begitu. Kata pria yang memakai jaket denim sambil mencibir.
Lien menggenggam tangannya erat. “Kalau kalian bangga nonton rekaman perempuan diperkosa, berarti kalian bukan kuat. Kalian cuma penakut yang ngumpet di balik tawa karena nggak punya nyali buat merasa bersalah.”
Orang-orang mulai melihat ke arah keributan itu. Tapi Lien tidak peduli. Ia tak lagi merasa kecil. Suaranya naik, bulat dan jelas.
“Kalian adalah alasan kenapa dunia ini tetap gelap. Karena kekejaman gak hanya hidup di masa lalu. Tapi juga di dalam tawa orang-orang kayak kalian.”
"Udah Neng, jangan bikin ribut di sini. Kalau nggak suka, ya jangan nonton. Kata pedagang DVD berusaha meredakan suasana.
Lien menatap layar televisi kecil itu. Gambar beku di sana menunjukkan siluet seorang gadis di trotoar dalam sorotan kamera buram. Dengan tangan gemetar, Lien melangkah maju dan menekan tombol stop di pemutar DVD itu.
“Lu ngapain?” tanya salah satu pemuda.
“Kenapa kalian nonton itu sambil ketawa? Itu bukan hiburan! Itu kekejaman! Itu penderitaan seseorang!”
Pedagang DVD menyeringai, mencoba menutup rasa bersalahnya dengan arogansi. “Santai aja, Neng. Biasa aja. Lagian ini dokumentasi sejarah juga. Biar generasi muda tahu.
Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa sesuatu yang begitu kejam, begitu menyakitkan, justru menimbulkan reaksi seperti itu dalam dirinya?
Malam-malam ia duduk sendiri di kamar, mencoba memahami apa yang terjadi. Tapi tak ada jawaban yang datang. Yang ada hanya perasaan campur aduk—seperti pusaran lumpur—antara empati, ketakutan, dan... sesuatu yang tak bisa ia beri nama.
Apakah ini bagian dari trauma? Apakah tubuhnya menyimpan memori yang tidak ia pahami?
Lien mulai mencari. Ia membaca artikel, mendengarkan podcast para penyintas, dan perlahan, ia mulai memahami: reaksi tubuh terhadap trauma tidak selalu logis, tidak selalu sesuai dengan moral yang tertanam. Kadang tubuh menyimpan luka dalam bentuk gairah, bukan karena suka, tapi karena kebingungan. Karena sistem saraf tak lagi tahu bedanya antara ancaman dan hasrat.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Lien menangis—bukan karena marah, bukan karena takut—tapi karena ia merasa begitu bingung dan sendirian di tengah dunia yang tidak tahu cara menolong perempuan seperti dirinya.
Hari itu langit mendung, dan udara di kawasan Pecinan terasa lebih sunyi dari biasanya. Lien duduk sendirian di toko keluarganya—toko kelontong kecil yang menjual barang-barang rumah tangga, dupa, dan beberapa makanan kering. Biasanya jam-jam seperti ini ia sibuk mencatat stok, tapi siang itu matanya kosong. Fikirannya jauh melayang. Bayangan rekaman yang pernah ia lihat masih mengendap di benaknya, seperti bekas luka yang tak sembuh.
Tiba-tiba suara "ceklak" dari pintu lipat toko membuatnya menoleh. Tak ada siapa pun di depan, hanya sebuah kantong plastik hitam tergantung di gagang pintu. Seperti sengaja digantungkan dengan tergesa-gesa. Lien berdiri pelan, rasa curiga merayapi dadanya. Ia menoleh kanan kiri, jalanan sepi. Ia mengambil kantong itu dan membawanya masuk ke dalam.
Ketika dibuka, bau plastik panas bercampur debu menyengat hidungnya. Di dalamnya ada sebuah amplop coklat tua dan cakram DVD polos. Jantung Lien berdebar. Ia membuka amplop itu perlahan. Isinya hanya satu lembar kertas dengan tulisan tangan kasar:
"Berhenti cari tahu. Jangan sok pahlawan. Kalau hidupmu masih berharga, kubur yang kamu tahu sekarang juga.
Tak ada nama. Tak ada tanda tangan. Tapi pesannya jelas.
Tangan Lien gemetar saat mengambil DVD itu. Ia tahu ia tidak seharusnya memutarnya. Tapi rasa penasaran lebih kuat dari ketakutannya. Ia mengunci pintu toko, menurunkan setengah tirai kayu, lalu membawa cakram itu ke pemutar DVD lama milik ayahnya di gudang belakang.
Suara mesin menyala pelan. Layar monitor menyala biru. Tak ada menu. Tak ada intro. Hanya langsung masuk ke gambar.
Lien mulai takut pada dirinya sendiri.
Dalam upayanya mencari pemahaman ia masuk ke forum-forum online tempat orang-orang berbagi cerita artikel bahkan rekaman dari masa lalu yang tak pernah diberitakan di media arus utama. Tapi bukan hanya fakta yang ia temukan di sana.
Ada ruang-ruang gelap di forum itu. Tempat orang-orang menyamarkan identitas dan membahas peristiwa 1998 bukan sebagai luka sejarah tapi sebagai fantasi kolektif yang aneh dan tak pantas. Mereka membicarakan gadis-gadis Tionghoa yang tak bisa lari rumah toko yang dibakar bersama penghuninya dan seragam sekolah putih biru yang robek oleh kekacauan.
Dan yang membuat Lien lebih takut lagi adalah bahwa sebagian dari narasi-narrasi itu memicu sesuatu dalam dirinya.
Ia tidak tahu apakah itu rasa takut rasa marah atau rasa ingin tahu yang melenceng. Tapi itu nyata. Dan itu tumbuh. Semakin banyak ia membaca semakin ia tenggelam dalam kabut perasaan yang tidak bisa ia beri nama.
Malam-malam ia menatap bayangannya sendiri di cermin dan bertanya Apa aku rusak Atau ini bagian dari luka yang belum sembuh.
Di antara perasaan bersalah dan keinginan untuk memahami Lien mulai sadar ia sedang berdiri di tepi jurang dan setiap langkah bisa membawanya menuju kegelapan atau mungkin menuju kebenaran yang sangat menyakitkan.
Malam itu hujan turun pelan mengaburkan suara-suara dari luar. Lien duduk di depan laptop jari-jarinya gemetar saat membuka kembali forum yang belakangan rutin ia kunjungi. Forum itu mengklaim diri sebagai ruang bebas berbagi sejarah alternatif tapi ia tahu sebenarnya itu tempat orang-orang menyembunyikan wajah dan mengeluarkan sisi tergelapnya. Tak lama kemudian Lien menemukan satu postingan baru yang langsung membuat dadanya penuh sesak.
Judulnya Pengalaman Tak Terlupakan Saat Kota Terbakar.
Saat dibuka isinya penuh dengan pengakuan gelap kalimat-kalimat yang seharusnya tak pernah ditulis apalagi dibaca. Beberapa pengguna anonim menulis dengan nada ringan bercerita tentang bagaimana mereka ikut masuk ke rumah toko di kawasan Pecinan atau menemukan gadis-gadis Tionghoa yang sembunyi di bawah ranjang lalu memperkosanya beramai-ramai tanpa ampun. Beberapa dari mereka bahkan menertawakan kejadian itu. Mereka menyamarkan kebiadaban dalam eufemisme.
Dapat jatah. Panen dadakan. Masa pesta rakyat.
Lien menutup mulutnya sementara matanya membelalak. Di sela-sela kalimat itu ia bisa merasakan hawa dingin kebencian yang membungkus kekerasan. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah yang ada hanyalah tawa dan kebanggaan. Ia ingin menutup laptop itu. Tapi jemarinya malah menggulir layar ke bawah.
Seseorang dengan username SingaJkt_98 menulis Mereka pikir bisa sembunyi Haha. Amoy-amoy itu akhirnya minta ampun juga. Tapi dasar mereka tetap jual mahal sampai akhir.
Lien menggigit bibir dan matanya mulai panas. Bukan hanya karena marah tetapi juga karena sesuatu dalam dirinya mulai goyah sebab realitas ini terlalu berat baginya.
Selama ini ia mengira yang jahat hanya segelintir orang. Sekarang ia melihat betapa banyak yang ikut serta atau setidaknya ikut menertawakan. Yang paling menakutkan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa bersalah.
Pandangan Lien tertuju pada salah satu postingan dengan ratusan komentar. Judulnya samar namun terasa seperti umpan beracun: Siapa yang masih ingat Mei 98? Waktu kita semua jadi raja.
Tangan Lien dingin seperti es bergerak sendiri menekan klik. Halaman itu terbuka seketika dan deretan komentar masuk cepat menumpuk di layar seperti peluru. Satu per satu kalimat muncul kasar penuh amarah dan kesombongan liar.
Lien memegangi dadanya. Rasanya jantungnya berdebar terlalu keras dan hampir meledak seakan tiap kata itu langsung menusuk kulitnya.
[BantaiSampaiPuas]: Gue inget ada amoy pake kacamata gemeteran di bawah meja kasir tokonya. Kita seret paksa keluar. Dia jerit jerit ketakutan. Gue yang pertama nancep. Temen-temen gue nungguin giliran sambil ketawa. Suara erangannya gak bakal gue lupa seumur hidup.
[Amuk_Massa]: Sumpah gua pengen balik ke masa itu. Bebas banget !! Siapa yang bisa tahan liat amoy-amoy putih mulus ditelanjangin ditengah jalan.
[JilmekAmoy]: Ada yang punya footage original dari pasar jambu ? Katanya di sana banyak yang digiring ke belakang toko. Ada amoy cewek SMA cakep banget yang diseret rame rame sama massa sampe bajunya robek semua. Gue denger video aslinya setengah jam. Tapi gue cuma punya potongan 2 menit.
[Asap_Kerusuhan]: Gua cuma sempat nonton yang di dekat perempatan jalan. Ada enci enci seksi nangis sambil tutupin dada. Gila sih. Mukanya oriental banget. Cantik udah kayak bintang iklan sabun.
[Pesta_Penjarah]: Kalian kayaknya serius banget nyari rekaman asli. Mau barter file? Gue punya full footage. Tapi hati-hati kalau sampe beneran nonton, kalian ga akan pernah bisa balik jadi orang biasa lagi.
[Komentar Lain]: Gue masih simpen kasetnya cuma belum pernah berani muter lagi. Ada satu yang masih kecil banget, masih pake seragam putih biru. Yang nangisnya itu lho... aduh..
[Balasan dari pengguna lain]: Jangan di-publish sembarangan. Yang kayak gitu sekarang bisa bikin kita ditangkep tapi kalau lo punya... PM gue ya.
Lien menutup laptop dengan cepat. Kepalanya pening dan ruangan terasa sesak. Napasnya terengah. Ia merasa seperti sedang tenggelam bukan di dalam air tapi di dalam lumpur pikiran manusia yang tak tahu batas kemanusiaan. Dan yang paling menyakitkan: ia tahu video itu nyata. Ia pernah melihat salah satunya. Ia tahu, korban-korban itu bukan tokoh fiksi. Mereka adalah gadis-gadis sungguhan. Seperti Lilian. Seperti... dirinya sendiri.
Sore itu setelah pulang sekolah Lien langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Ia tak sempat berganti seragam. Laptopnya sudah menyala sebelum dia sempat melepaskan dasi seolah tubuhnya bergerak sendiri, otaknya dikaburkan oleh kabut yang pekat. Kabut dari rasa ingin tahu yang bercampur takut dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Lien masuk ke forum gelap itu lagi. Dunia anonim tempat ia merasa takut sekaligus jijik dan tertarik. Satu postingan baru muncul paling atas dan judulnya membuat Lien penasaran.
Lien menggigit bibir. Ia tahu ini akan buruk dan mengerikan tapi ia tetap mengekliknya.
Komentar-komentar dan potongan gambar buram bermunculan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini kata-katanya jauh lebih kasar, lebih brutal tapi yang lebih menyakitkan adalah lebih rasis bahkan beberapa diantaranya memposting foto foto wajah korbannya untuk dikomentari sesama anggota forumnya.
Komentar demi komentar muncul, cepat, seperti peluru yang menembus dada.
[BayanganGelap]: Yang di foto nomor enam mukanya paling cakep bro. Muka cinanya keliatan kalem banget, malah itu yang bikin perusuh pada penasaran. Gue yakin waktu itu pasti banyak yang rebutan. Nggak mungkin lepas !!
Lien membaca kalimat itu sambil menahan napas. Rasanya perutnya mual. Wajah gadis di foto nomor enam tiba-tiba terasa begitu nyata, seolah sedang memohon lewat layar agar dibebaskan dari tatapan mata-mata kejam para komentator.
[LemparBatu]: Bener banget, bro. Yang mukanya kalem malah paling banyak dicari. Soalnya kalau nangis keliatan makin lemah. Dulu orang-orang pada bilang: ‘Cari amoy yang paling bening duluan!’ Gue inget banget gimana orang-orang dijalanan teriak teriak kayak kesurupan.
Lien teringat rekaman video yang ia lihat siang tadi di lapak DVD bajakan. Suara jeritan perempuan, kepulan asap, dan teriakan massa kini berdengung di kepalanya.
[SeretKeluar98]: Gue inget amoy yang di foto enam juga. Dia waktu itu pulang naik mobil, tapi dicegat massa di tengah jalan. Mobilnya digedor-gedor, kacanya dipukul pake kayu sama batu. Begitu pintunya kebuka, langsung rame rebutan narik dia keluar. Orang-orang dorong-dorongan kayak mau liat dia dihukum bareng-bareng. Dia cuma nangis kayak udah pasrah mau diapain.
Lien menggigit bibir bawahnya. Ada rasa sakit, rasa marah, sekaligus rasa bersalah entah pada siapa. Setiap kalimat yang ia baca seolah menguliti luka yang selama ini berusaha ia tutupi.
[AmarahPribumi]: Nggak ada belas kasihan waktu itu. Mau masih anak sekolah juga tetep dihajar. Biar tau rasa. Amoy-amoy itu sok kaya, sok cantik. Mei 98 nunjukin siapa yang punya kota. Gue nggak akan lupa ekspresi mukanya amoy nomor enam waktu itu… kayak udah pasrah mau mati.
Tiba-tiba Lien teringat akan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Dasi yang melonggar di lehernya kini terasa mencekik. Ia menatap pantulan wajahnya di layar: pucat, mata sembab, dan seolah menjadi salah satu wajah yang mereka bicarakan.
Lien menghapus air matanya yang jatuh satu per satu. Suaranya tercekat, hanya sanggup berbisik ke dirinya sendiri: Kenapa kalian begitu benci…?
Tapi layar hanya terus menampilkan komentar-komentar baru. Kata-kata kebencian tak henti mengalir, memenuhi halaman seperti hujan yang tak berhenti menetes. Lien menahan napas saat membaca komentar baru yang muncul di layar. Jantungnya berdegup makin keras, seolah ingin melarikan diri dari dadanya.
[ApiJalanan]: Gue denger amoy yang ada di foto nomor enam itu katanya sekretaris direktur perusahaan besar di daerah sigma. Badannya katanya tinggi, kulit putih mulus, muka oriental banget. Katanya sih tiap hari bajunya rapi, kayak orang kantoran. Makanya waktu ketangkep banyak yang kaget soalnya nggak nyangka kalau cewek kantoran banyak yang kejebak juga.
[LumutHitam]: Bener tuh bro. Gue juga pernah denger. Dia kabarnya kerja di perusahaan multinasional. Waktu itu dia lagi mau pulang kerja naik mobil sedan mewah tapi malah kejebak kerusuhan.
[SeretKeluar98]: Justru karena dia keliatan orang kantoran, makin bikin massa penasaran. Waktu kayak gitu nggak ada bedanya lo siapa. Mau anak sekolah, mau sekretaris direktur, sama aja dihajar rame-rame.
Lien menelan ludah, kerongkongannya terasa kering. Di kepalanya muncul bayangan seorang perempuan muda berjas hitam, rambut terikat rapi, wajahnya pucat ketakutan. Ia mencoba mengusir bayangan itu, tapi malah makin jelas.
[AmarahPribumi]: Gue inget cerita orang. Katanya waktu itu dia sempet teriak-teriak bilang dia orang pribumi, bukan cina. Suaranya gemetar, kayak orang udah putus asa. Tapi massa malah makin ngamuk. Soalnya dari matanya sipit sama kulitnya putih, udah ketahuan banget dia cina. Orang-orang teriak, ‘Jangan ngaku-ngaku!’ Terus langsung ditarik rame-rame ke tengah jalan. Katanya makin dia nangis bilang dia pribumi, makin banyak yang narik bajunya, makin banyak yang dorong-dorong dia. Waktu itu, nggak ada belas kasihan.
Lien mengusap air mata yang kini menetes deras. Semua kata-kata itu terasa seperti cambuk yang mencabik-cabik dadanya. Kalau aku yang ada di sana… apa aku juga akan mereka perlakukan begitu.. ?!! pikir Lien dengan ngeri. Tapi komentar demi komentar terus bergulir di layar dan tak ada tanda akan berhenti.
[SisiGelap98]: Kita cuma ngambil balik hak kita. Mereka enak-enak dagang emas, lebih kaya dari kita. Jadi wajar waktu rusuh kita semua bakalan ambil yang berharga termasuk anak gadisnya.
[Penikmat_Amoy]: Ada satu yang lari keluar dari jendela ruko. Kaki dan tangannya luka kena kawat duri. Tapi dia tetap lari. Sayangnya waktu di gang belakang dia jatuh. Satu orang yang nemu duluan lalu sisanya ikut gabung. Waktu kami selesai, dia udah gak teriak lagi. Mungkin udah mampus !!
[LaskarPribumi]: Kita masuk toko emas dari pintu samping pasar. Semua udah hancur. Tapi di ruang belakang ada dua orang cewek. Satu tua, satu muda. Yang muda cuma bisa gemetar sambil panggil ‘Mama, Mama’. Tapi mamanya udah diem dari tadi. Yang muda langsung kita banting kelantai, dipegangin tangannya sama anak anak buat digilir didalam toko emasnya.
[TukangRusuh]: Gue masih inget jelas bau di lantai dua ruko itu. Kayak campuran parfum remaja, asap, dan bensin. Amoynya ada yang sempet ngomong pake bahasa cina waktu digiring ke luar. Suaranya kecil memelas banget tapi itu yang bikin kita semua tambah napsu buat ngejarah badannya yang putih mulus.
[SeretKeluar98]: Waktu itu gue liat sendiri. Amoynya digiring keluar sambil dijambak kasar. Ada yang maksa dia ngomong pake bahasa cina, suruh ngaku dia bukan orang sini. Gue inget banget dia cuma bisa bilang ‘wo bu yao… wo bu yao…’ sambil nangis. Tapi orang-orang malah makin napsu buat ngerjain dia.
[AmarahPribumi]: Bener, bro. Yang gue inget, mereka dipaksa ngomong cina kayak buat ngatain diri sendiri. Biar makin dipermalukan. Gue masih kebayang mukanya waktu itu, takut setengah mati. Padahal mereka selalu ngerasa lebih tinggi dari kita
Lien membaca sambil membeku. Suhu tubuhnya serasa turun beberapa derajat. Tulang punggungnya terasa dingin, seolah ada bayangan hitam berdiri di belakangnya.
Satu komentar lain muncul, membuat matanya langsung membesar
[HancurTotal98]: Ada amoy yang badannya udah telanjang. Dia masih nyoba nutupin badannya pake tangan. Gue injek mukanya biar diem. Pas udah gak nangis lagi, gue ewe sambil cekik lehernya.
[RejengBerantai_98]: Gue inget amoy itu udah berdarah di selangkangan gara gara dijebolin perawannya sama teman gue. Tapi gue tetep masuk. Gue tempelin pisau ke lehernya biar gak banyak gerak. Temen gue rekam semua. Anjir !! peret banget memeknya dan itu yang paling gue suka.
[ApiDanNafsu]: Api di pasar bikin suasana makin panas. Gue sempet goyangin amoy sambil liat toko-toko kebakar. Rasanya kayak dunia lagi kiamat tapi gue menang.Lien memejamkan mata tapi suara-suara itu tetap berdengung di kepalanya. Ia ingin menutup laptop tapi juga ingin membaca lebih jauh. Mencari tahu siapa mereka dan membongkar semua kebiadapannya. Tapi juga... entah kenapa sebagian dirinya merasa... hanyut dalam gairah.
Lien merasa terjebak didalam gairah asing
Terjebak di antara kemarahan dan kekaburan hasrat. Antara harga diri dan kehancuran batin. Antara ingin melawan dan rasa bersalah karena tak segera menutup mata. Lien menatap layar laptopnya yang memantulkan cahaya pucat ke wajahnya. Di forum tempat ia kini merasa separuh dirinya hidup, muncul satu postingan baru dengan judul tidak mencolok dan hanya tertulis :
[TopengRusuh]: Ini salah satu yang paling langka. Gue inget bus ini ngebelok ke jalan kecil yang sepi terus berhenti agak lama. Si amoy-nya awalnya mau loncat tapi ditarik lagi. Sopir sama kondekturnya malah ikut nyicipin.
[PenumpangGelap]: Gue sempet naik bus itu juga. Waktu rame orang pada ngejar ke dalam. Si cewek cuma bisa peluk tasnya, tapi tasnya malah dibuang keluar jendela. Gak ada yang bantu yang ada malah disorakin rame rame.
[LangitTanpaHukum]: Yang bikin rekaman ini serem adalah suaranya. Cewek itu nangis pelan banget. Kayak gak berani nangis kenceng. Mungkin takut makin parah.
Lien menutup tangannya di depan layar karena tak sanggup membaca lebih jauh. Tangannya gemetar tapi di sela-sela rasa takut dan jijik, ada bagian dari dirinya yang terasa seperti... tenggelam. Lien ingin mengerti tapi justru semakin ia cari, semakin ia kehilangan arah. Lien tahu bahwa video itu nyata. Bukan rekayasa dan yang lebih mengerikan ternyata ada orang yang menyimpannya bahkan membagikannya seolah itu hal biasa.
Seminggu telah berlalu.
Lien semakin jauh terseret. Forum yang dulu membuatnya mual kini menjadi tempat ia kembali setiap malam. Rasa takut, rasa bersalah, dan rasa penasaran telah melebur menjadi satu. Ia membaca tanpa henti. Ia menyimpan salinan-salinan tangkapan layar, menandai nama-nama pengguna yang dianggapnya paling rasis dan kadang ia hanya duduk di depan layar, menatap kosong sambil mendengarkan detak jantungnya sendiri.
Malam itu Lien memutuskan sesuatu yang lebih menegangkan. Dia membuat sebuah akun baru dengan username sederhana dan nyaris seperti ejekan terhadap dirinya sendiri: GadisPecinan_98. Untuk pertama kalinya Lien tidak hanya membaca postingan yang ada. Dia mengetik pelan sebuah komentar dengan kalimat yang membuat jemarinya gemetar.
"Aku gadis keturunan cina. Aku gak tahu kenapa tapi aku gak bisa berhenti baca cerita-cerita kalian. Setiap kata bikin aku merasa seperti aku ada di sana... dan kadang aku gak tahu harus takut atau... ingin tahu lebih dalam. Lien menekan “kirim
Detik-detik berikutnya terasa seperti seabad. Tapi sesuai harapannya dan balasan pun mulai bermunculan.
[PemburuMemek]: Wah.. jarang ada yang berani ngaku kayak kamu di sini. Kamu beneran amoy ?
[BiangRusuh]: Jangan main-main nona. Kalau kamu merasa benar "dari sisi sana. kamu harus siap tahu semua versi ceritanya. Termasuk yang gak pernah ditulis di buku sejarah.
[SisaAsap98]: Lucu !! Biasanya yang kayak kamu tuh marah kalau denger peristiwa 98. Tapi kamu malah... tertarik ?!! Sebenarnya kamu sedang mencari jawaban atau pengakuan ? Atau malah kamu pengen ngerasain jadi korbannya !!
[PenjarahToko]: Jangan pura-pura naif. Kamu tahu kenapa kami cerita di sini. Tapi kamu tetap datang, tetap baca, dan sekarang menulis. Jadi siapa yang lebih haus sebenarnya ?!!
Lien menatap layar dan wajahnya tidak berekspresi tapi di dalam dirinya ada badai yang mengamuk. Ia tak tahu apakah ia sedang menyelidiki... atau sedang membiarkan dirinya hilang. Tapi satu hal pasti: forum itu menggigit balik.
Malam itu lebih hening dari biasanya. Suara jam dinding berdetak pelan menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu masih berjalan. Lien kembali duduk di depan layar laptopnya. Tatapan matanya kosong. Tangannya sudah beberapa kali mengetik dan menghapus pesan. Tapi kali ini, ia tak mundur. Ia ingin tahu. Sampai sejauh mana mereka berani, sampai sejauh mana kebencian mereka dan sampai di mana dirinya bisa bertahan dari hujatan rasis yang vulgar.
Dengan jantung yang berdebar kemudian Lien membuka forum gelap itu lagi. Disebuah ruang diskusi yang paling aktif lalu gadis itu membuat sebuah postingan baru.
Judul: Kalau aku amoy yang ada ditahun '98 itu... apa yang akan kalian lakukan padaku ?
Pesan pembukanya terkesan singkat tapi cukup untuk mengundang badai birahi dari para anggota forumnya.
[GadisPecinan_98]: Aku tahu kalian suka cerita tentang kami. Para gadis keturunan tionghoa. Jadi coba kalian bayangkan hal ini: aku di pojok toko, sendiri. Aku tidak lari. Aku tidak menjerit. Aku hanya... menatap kalian. Apa yang akan kalian lakukan ?!!
Butuh waktu beberapa menit. Lalu balasan pertama muncul dan disusul puluhan balasan lainnya.
[LangitLiar]: Jadi kamu mau tahu rasanya jadi bagian dari sejarah ? Jangan salahkan kami kalau kamu nggak kuat dengan jawabannya.
[TukangJarah98]: Kalau kamu benar dari golongan itu... berarti kamu sudah berhutang dan forum ini adalah tempat kami menagih !!
[AmukanRakyat]: Pojok toko ? Sendiri ? Itu artinya kamu sudah pasrah. Jangan harap bisa selamat !! Ingat pada hari itu nggak ada yang namanya belas kasihan !!
[PestaRusuh]: Kamu tahu apa yang terjadi pada yang nggak bisa lari ? Mereka bukan diselamatkan. Mereka diam karena tahu... mereka bagian dari hadiah.
Lien membaca satu per satu. Kata-kata itu menusuk. Tapi ia tak menoleh. Tak menutup layar. Sebaliknya Lien malah membalas
[GadisPecinan_98]: Mungkin amoy seperti aku memang layak mendapatkannya. Tapi aku ingin dengar dari kalian. Teruskan. Jangan tahan !! Aku mau tahu seberapa besar hasrat dan kebencian kalian !!
Sekali Lien menekan tombol "Kirim, seolah pintu neraka baru saja terbuka. Notifikasi balasan langsung meledak. Satu demi satu muncul. Terasa lebih brutal, lebih vulgar dan lebih sadis daripada sebelumnya.
[LangitLiar]: Gua bakal jambak rambut lo, seret ke lantai. Lo teriak pun orang-orang cuma nonton. Karena lo amoy. Barang langka. Saat itu lo bukan manusia lagi. Lo cuma barang jarahan !!
[TukangJarah98]: Lo sipit belaga suci. Padahal lo semua babi rakus. Dulu toko lo gue jarah. Sekarang gue mau lo jadi lonte digilir sampe mampus !!
“Gua pernah liat mata kayak lo. Nangis… tapi tetep diliatin. Gua bakal pastiin lo ngerasain rasanya badan lo dipegang rame-rame sampe lo nggak tau kontol siapa yang ada di dalem memek cina lo !!
[MeiBrutal98]: Lo bilang lo layak ? Bagus !! Gua bakal iket tangan lo di rak toko. Biar semua orang yang lewat bisa liat. Biar yang lain juga nyobain. Biar lo nggak lupa lo siapa. Amoy = Hadiah. Dan lo hadiah buat kita semua.
Mata Lien bergetar membaca setiap baris. Lambungnya seperti diremas. Keringat dingin membasahi leher. Namun ia tidak memalingkan muka. Ada sesuatu yang membuatnya terus membaca, meski napasnya pendek-pendek.
Ia menaikkan tangannya ke bibir, menggigit ujung kukunya. Setiap kata terasa seperti tamparan di wajahnya—pilu, jijik, sekaligus memancing rasa yang tak ia pahami. Jantungnya memukul-mukul dadanya, seolah menuntutnya berhenti. Tapi ia tidak berhenti dan tangannya mengetik balasan:
Dan dalam waktu singkat balasan datang dengan cepat seperti air bah membuat jantung Lien beerdeg kencang.
[PribumiMengamuk]: Puas? Cina sipit kayak lo nggak cukup buat matiin dendam kita. Habis lo, kita bakal cari amoy lain. Pecinan penuh stok lonte buat diganyang !!
[BajinganPasar]: Setelah lo, gua bakal cari yang lain. Tapi gua bakal inget muka lo. Gua bakal save nama lo. Lo bakal jadi legenda di forum ini. ‘Amoy yang ngajak sendiri.
Tapi Lien tetap menatap layar. Ia tidak mengalihkan pandangannya dan tidak mematikan laptopnya. Ada kilatan aneh di matanya—campuran ngeri, rasa tertantang, dan gairah yang terlalu dalam.
Jari-jarinya bergerak lagi. Mengetik. Padahal ia tahu, setiap balasan hanya akan memanggil lebih banyak kebencian.Namun di dalam sunyi kamarnya, Lien justru berbisik seakan bicara pada layar:
"Terus saja. Aku ingin..
[OborPecinan]: Gue mau lebih banyak lagi. Lo harus jadi hadiah buat semua yang dulu bakar toko-toko lo. Cina sipit kayak lo cuma barang jarahan !!
Lien terpaku menatap layar laptop. Dadanya berdegup kencang, napasnya terputus-putus. Jemarinya gemetar di atas keyboard. Wajahnya pucat, matanya basah tapi tak berkedip. Kata-kata kasar itu terus terngiang di kepalanya. Ia menelan ludah, perutnya mual. Tapi meski tubuhnya gemetar, Lien tak menutup layar. Pelan-pelan, ia mengetik balasan.[JarahPecinan]: Nggak ada hitungan, Amoy! Semakin banyak makin bagus. Biar lo nangis darah, babi sipit. Gue mau liat muka lo pas lo sadar lo nggak bakal bisa lari, pas badan lo digilir puluhan orang, satu-satu numpang puas. Lo pikir cukup sepuluh orang? Nggak cukup. Gue mau lo diseret keluar toko, dijambak rambut lo, baju lo disobek sampe lo telanjang. Biar semua orang di Pecinan nonton lo dijadiin barang rusuh. Lo semua kudu ngerasain sakitnya diganyang, biar lo inget selamanya kalau cina sipit kayak lo nggak pernah punya tempat di sini!
[AnjingRusuh]: Gue bilang satu pasar aja kurang. Lo harus dinikmatin kayak jarahan. Lo tuh babi sipit, pantas dihabisin rame-rame !!
[LumpurMei]: Banyakin aja. Seratus, dua ratus, gue nggak peduli. Lo itu cuma amoy babi !! Badan lo yang putih itu harus dipake buat lunasin dendam rusuh kita !!
“Semua orang bakal antre buat lo. Biar tiap jengkal badan lo ninggalin bekas sperma. Biar lo nggak pernah lupa rasa takut. Lo bakal jadi cerita turun-temurun di kampung kami.
[GangbangDiaspal]:
“Lo pikir bisa milih jumlah? Kalau rusuh kejadian lagi, lo bakal diseret kayak bangkai. Nggak peduli lo pingsan atau masih sadar. Orang-orang bakal terusin sampe lo nggak keliatan lagi kayak manusia.”
Lien meremas sisi laptopnya. Wajahnya kini benar-benar pucat. Suaranya tercekat di tenggorokan, seolah kata-kata berikutnya terlalu mengerikan untuk diucapkan.
"Apa yang salah denganku…? pikirnya.
[GadisPecinan_98]: Emang… ada amoy yang digilir orang sebanyak itu waktu kerusuhan ?!!
[DobrakPecinan]: Jangan pura-pura nggak tau! Banyak Amoy di Pecinan dulu diperkosa belasan, puluhan orang. Lo mau bukti? Tanya aja yang selamat, kalau masih berani ngomong!
[JarahPecinan]: Waktu rusuh, siapa aja ikutan. Preman, orang kampung, tukang dagang. Semua dapet jatah. Lo babi sipit, lo kira nggak mungkin? Banyak yang digilir sampe pingsan!
[GedorRumah]: Emang lo pikir dulu aman? Banyak Amoy yang digilir rame-rame. Nggak peduli siapa lo. Badan lo buat barang puas massa. Lo semua cuma barang rampasan di mata kita waktu itu.
[JarahPecinan]: Waktu rusuh, siapa aja ikutan garap. Preman, tukang sayur, anak kampung. Amoy kayak lo digilir sampe pingsan. Memek dijarah !! Bo’ol lo didobrak, dijadikan lubang buat pelampiasan!
[TukangJarah98]:
"Karena seru nona. Karena lo nggak tau rasanya ngejarah badan amoy waktu lagi chaos. Semua orang bebas. Nggak ada hukum. Nggak ada polisi. Lo bisa lakuin apa aja yang lu suka !!
[LangitLiar]: Dan yang kayak lo… yang nanya-nanya sambil deg-degan gini… biasanya paling pengen ngerasain rasanya.
[GadisPecinan_98]: Tapi sampai sekarang aku masih ragu sama omongan kalian. Apa bener mereka diperkosa oleh orang sebanyak itu ?!!
“Bener. Lo pikir kenapa banyak keluarga Tionghoa trauma sampe sekarang? Ada yang kabur ke luar negeri. Ada yang diem aja, malu, nggak mau cerita ke siapa-siapa. Malah banyak amoy yang hilang nggak ketemu kuburnya.”
Lien membeku. Dadanya naik-turun cepat, seperti dicekik udara dingin. Jari-jarinya bergetar hebat. Rasa takut menancap tajam di dadanya… tapi juga sesuatu yang gelap, samar, yang menyeret pikirannya ke jurang tak terjelaskan. Ia mengusap wajahnya, pelipisnya basah oleh keringat dingin. Suara hujan di luar terdengar makin keras, seperti ribuan jari mengetuk kaca jendela. Lalu, sebelum otaknya sempat menyusun logika, jarinya kembali mengetik:
[GadisPecinan_98]: Emangnya kalo aku beneran amoy… kalian mau berbuat apa sama aku…?!!
Pesan itu terkirim. Layar laptop menampilkan tanda “sedang mengetik…” beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Lalu balasan muncul — cepat, liar, membekukan darahnya.
[TukangJarah98]:
“Mau kita buru kayak hewan. Kita tarik lo dari tempat ngumpet lo. Kita paksa lo lihat kota kebakar lagi… sambil lo teriak teriak minta ampun.
[LangitLiar]: Gue mau lo ngerasain gimana rasanya jadi cerita kita !! Biar lo tau gimana rasanya diburu sama banyak orang yang membenci lo dan gak ada satu pun yang mau nolong lo.
Lien menatap layar. Tulisan itu seperti luka yang terbuka, menganga, meneteskan rasa ngeri. Jari-jarinya gemetar begitu keras hingga hampir tak mampu mengetik. Di luar, kilat menyambar, menerangi kamar gelapnya sekejap. Lalu gelap lagi — lebih gelap dari sebelumnya.
Gairah Lien semakin membara, membakar saraf-sarafnya. Dadanya terasa sesak, seolah jantungnya menabrak tulang rusuk. Jemarinya tak berhenti bergetar. Tadi ia masih berniat mencari kebenaran soal Lilian, kakaknya yang hilang waktu kerusuhan. Tapi sekarang… Ia bahkan tak peduli lagi.
Pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan kotor. Wajah-wajah liar. Tangan-tangan kasar. Suara rintih dan jerit. Semuanya berbaur jadi satu adukan rasa takut, jijik, dan anehnya… gairah yang mendesak dari dalam dirinya.
Dengan tangan gemetar, Lien membuka folder foto pribadinya. Ia memilih satu foto selfie di kamarnya, dengan keadaan rambut panjang terurai, wajah sedikit miring, bibir basah terbuka sedikit. Matanya yang sipit menatap kamera dengan sorot memelas. Sebelum bisa menahan diri, ia klik Send.
Foto itu meluncur ke chat forum. Seketika muncul notifikasi Image uploaded successfully. Jantung Lien seperti meledak. Bagaimana bisa dia semudah itu mengirimkan identitas aslinya kepada gerombolan binatang buas. Ada rasa panik tapi juga rasa puas yang luar biasa.
Ia mengetik dengan napas terengah terbakar oleh gairah asing yang semakin meledak dalam dirinya.
Tak butuh waktu lama, sejumlah balasan datang membanjiri layar:
LangitLiar]: Kita nggak bakal lupa muka lo. Muka cina lo. Nggak bakal kelupaan. Bahkan kalo lo ngumpet ke kota lain, ganti nama. Kita bakal nemu lo. Karena rasa takut lo sendiri yang bakal narik lo balik ke kita.”
Lien menunduk. Air mata menetes di pipinya, panas, berkilat dalam cahaya layar. Tapi jarinya masih bergerak, seperti dikendalikan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut. Ia mengetik dengan napas terengah:
[GadisPecinan_98]: Kenapa kalian semua pengen aku kayak gitu…? Kalian nggak kasian…?”
[TukangJarah98]: Kita nggak peduli !! Gak kasian sama sekali.
[RakusMaut]: Cina sipit seperti Lo emang cocok banget jadi korban. Biar lo tau rasanya ketakutan kayak cewek-cewek yang kena jarah waktu kerusuhan.
Lien menutup mulutnya, menahan isak. Tangannya bergetar di atas keyboard. Kamar terasa sempit. Napasnya seperti tak bisa masuk penuh ke paru-paru.
Tapi ia tak menutup laptop. Dan entah kenapa, ia mengetik lagi.
[GadisPecinan_98]: Kalo aku nangis, apa kalian bakal berhenti…?
Balasan muncul cepat, seperti pisau yang menusuk:
[LangitLiar]: Gue malah makin nafsu liat lo nangis. Gua bakalan rojok kasar memek lu pake gagang sapu biar lu makin kesakitan. Makin kenceng lu ngejerit makin kenceng gue sodokin memek lu.
[TukangJarah98]: Nggak bakal berhenti. Nangis lo malah bikin kita makin gila. Kita bakal genjot semua lubang dibadan lu secara bersamaan sampe lu kagak bisa nangis lagi.
[RakusMaut]: Lo nangis darah pun kita lanjut. Sekali jatuh ketangan kita maka tubuh lu akan jadi milik kita selamanya. Kita bakal gunain badan lu buat puasin napsu penjarah penjarah yang berkeliaran dijalan.
Lien menatap huruf-huruf di layar, rasanya seperti tercekik. Tapi jemarinya tetap terpaku di keyboard. Karena kini, rasa takut dan gairah gelap itu sudah menelannya bulat-bulat. Lien menatap layar dengan mata merah, napasnya tersengal. Jemarinya mengetik dengan cepat, seolah tak sempat dipikir ulang:
[GadisPecinan_98]: Aku tidak takut. Kalian semua cuma penipu Buktinya mana kalo kalian beneran pernah perkosa perempuan cina waktu kerusuhan ?!!
Forum hening beberapa detik. Lien menggigit bibir, jantungnya berpacu keras. Lalu notifikasi muncul satu demi satu.
[TukangJarah98 mengirim video]
[LangitLiar mengirim video]
[RakusMaut mengirim video]
Thumbnail video-videonya saja sudah membuat Lien merinding: gambar perempuan berwajah oriental, baju tersingkap atau terlepas, tubuh penuh luka. Jeritan samar-samar terdengar saat Lien memencet salah satu video.
Ia melihat sekelompok pria menyeret seorang gadis muda bermata sipit ke dalam sebuah bus tua yang dipenuhi penumpang. Kamera bergetar hebat. Banyak suara laki-laki tertawa, sementara gadis itu menjerit ketika bajunya disobek paksa. Tubuhnya ditindih bergantian diatas bangku bus.
Lien menutup mulutnya, tubuhnya gemetar. Tapi matanya tetap terpaku ke layar.
Kali ini di atas jembatan layang. Gadis berambut panjang, digiring sekumpulan lelaki. Roknya ditarik kasar. Kakinya ditendang hingga terjatuh. Lalu tubuhnya digilir di lantai beton jembatan, sementara kendaraan melaju di bawahnya.
Lien merasakan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Gairahnya meledak tak tertahankan Suara jeritan gadis itu seolah langsung menembus dadanya, mencengkram jantungnya ketika gerombolan perusuh itu secara bergantian menggilir tubuh putihnya diatas aspal jalanan.
“Tolong… tolong… ada orang… tolong aku…”
Namun kerumunan justru makin riuh. Seorang pria mengangkat tangan ke kamera, berkata dengan napas terengah:
“Liat ini, rekam baik-baik. Biar anak cucu tau. Cina-cina nggak bakal aman di negeri ini!”
Klik. Video ketiga.
Sebuah pasar tradisional. Kios-kios penuh dagangan. Gadis-gadis berwajah oriental, sebagian menangis, sebagian hanya menatap kosong, ditelanjangi dan digilir puluhan lelaki di lorong sempit. Orang-orang menonton, beberapa bahkan merekam dengan ponsel atau handycam.
Lien menahan muntah. Tapi rasa panas di dadanya makin menjadi. Ada rasa takut, jijik… dan keinginan untuk terus melihat.
Hampir seketika balasan muncul di forum:
[TukangJarah98]:
“Biar lo ngerti. Biar lo tau kita nggak cuma cerita doang.”
[LangitLiar]:
“Biar lo kebayang rasanya. Karena lo penasaran, kan? Lo yang nanya. Sekarang lo nggak bisa pura-pura nggak tau.”
[RakusMaut]:
“Kita mau lo tau: kalau rusuh kejadian lagi, lo yang bakal ada di video kayak gitu.”
[LangitLiar]: Gimana, cantik? Masih bilang kita cuma penipu ?”
TukangJarah98]: Setelah nonton semua video itu Lo bakal keinget suara jeritannya cewek di video. Lo bakal mimpiin mata sipitnya yang kosong. Dan lo bakal kebangun tengah malem, keringetan, sambil mikir: ‘Giliran gua kapan?’”
Lien menelan ludah. Tubuhnya lemas. Ia tak sanggup mengetik. Tapi kemudian muncul pesan lain, lebih menusuk:
[TukangJarah98]: Sekarang lu jawab. Lu mau diperkosa dengan cara apa?”
Lien terpaku. Kepalanya pening. Seolah seluruh dunia berputar. Jari-jarinya gemetar di atas keyboard.
Tapi balasan muncul secepat kilat:
[RakusMaut]: Lu mau di jalan rame-rame? Di dalem mobil? Di pasar? Di kantor polisi kayak beberapa cewek waktu itu?
[LangitLiar]: Gua mau lu diikat di jembatan. Biar mobil lewat di bawah sambil nonton. Lo jerit-jerit di atas sana.”
[TukangJarah98]: Atau lo mau di kereta, kayak video yang gua kirim? Biar semua penumpang ngeliat lo digilir.
Lien terisak. Air matanya mengalir. Tapi di sela tangis, ia masih mengetik.
[GadisPecinan_98]: Kenapa… kalian mau ngelakuin hal itu sama aku ?!!
[LangitLiar]: Karena lu amoy. Karena muka lu manis banget. Karena liat lu takut bikin kita makin keras.”
[TukangJarah98]: Dan lu sendiri yang dateng ke sini. Lu yang nyari kita. Artinya lu mau, kan?”
Lien memejamkan mata, menahan napas. Suara detak jantungnya terdengar begitu keras di telinganya. Dan di lubuk hatinya yang terdalam, ia tahu: dirinya sudah terperangkap terlalu jauh di dunia gelap ini. Lien masih terisak ketika notifikasi lain bermunculan. Deretan nama anggota forum mengirim link dan file video baru.
[TukangJarah98 mengirim video]
[LangitLiar mengirim video]
[RakusMaut mengirim video]
Thumbnail-nya saja membuat tangan Lien langsung dingin. Salah satu video memperlihatkan kerumunan besar orang berteriak sambil membawa kayu, linggis, dan botol.
Dengan jari gemetar Lien mengeklik salah satu video. Gambar langsung berguncang hebat. Kamera seperti direkam sembunyi-sembunyi. Terdengar jeritan “Bakar! Bakar!” dan umpatan rasis.
“Bangsat Cina!”
“Amoy cuma buat dipake rame-rame!”
Di layar, pagar besi sebuah rumah mewah roboh dihantam linggis. Massa tumpah ke halaman. Barang-barang rumah dilempar ke jalan: TV, kulkas, lemari. Api mulai menjilat gorden.
Lalu kamera beralih ke halaman depan rumah. Seorang wanita Tionghoa—usia sekitar 40-an—terguling di atas paving block, baju koyak, tubuhnya dicekik dan ditindih beberapa pria bergantian. Suara tangisnya parau, hampir tak keluar.
“Cina lonte! Enak nggak, hah?!” teriak salah satu pria sambil menampar wajahnya keras-keras.
Di sela jeritan tiba tiba terdengar suara anak menangis histeris dari dalam rumah. Lien menutup mulutnya. Air matanya tumpah deras tapi ia tetap beru untuk menonton.
Seorang gadis belasan tahun, tubuh kurus, rambut panjang acak-acakan, dipegangi oleh dua orang di atas ranjang. Tangannya ditahan di atas kepala. Ada belasan pria mengelilinginya, beberapa sudah telanjang dari pinggang ke bawah. Gadis itu meraung, kakinya menendang liar tapi tubuhnya tak bergerak di bawah cengkeraman tangan-tangan kasar.
"Anjing nih amoy! Liat nih! Biar tau rasanya jadi barang jarahan !! Teriak salah seorang pria sambil tertawa keras.
Tiba-tiba kamera beralih ke kamar mandi. Pintu terbuka setengah. Seorang gadis lain, lebih muda, mungkin masih awal remaja, setengah telanjang, dipaksa membungkuk di bawah pancuran air. Dua pria menggenjotnya dari belakang. Gadis itu terisak, suaranya nyaris hilang.
“Lonte cina kayak lo cuma pantas di WC!” kata salah seorang pria sambil menampar bokongnya.
Suara-suara pria lain bersahutan saling tertawa dan meneriakkan umpatan rasis.
Lien merasa seolah dunia berputar. Pandangannya kabur oleh air mata. Tapi ia tidak mematikan video. Dadanya naik-turun cepat. Jari-jarinya bergetar hebat.
Di sela kebisingan suara video, muncul satu pesan baru di forum:
[TukangJarah98]: Lu mau digilir kayak yang di video? Di halaman? Atau di kamar? Atau di WC ?!!
[LangitLiar]: Lu pilih sendiri, Nona. Biar kita wujudin buat lu. Lo mau dihalaman depan, ditonton satu kampung, atau lu mau diem-diem di kamar kayak anak itu?”
[RakusMaut]: Bilang aja. Mau digilir berapa orang? 5? 10? Seratus juga bisa. Biar lo mampus keenakan.
Lien menatap layar dan air matanya jatuh tanpa henti tapi ada denyut aneh yang berdebar di pangkal pahanya seakan ingin melawan rasa ngeri yang mencekiknya. Ia mengetik, suaranya dalam kepala hampir tak dikenali sendiri:
Balasan muncul secepat kilat.
[TukangJarah98]: Nggak bakal. Makin kenceng lo jerit, makin kita keroyok. Kita bakalan gilir memek lu sampe ledes dan lu cuma bisa menggeliat geliat kesakitan karena gak bisa melawan.
[LangitLiar]: Asal lu tau aja nona. Jeritan lo tuh bakal jadi hiburan buat pribumi. Lo gak bakalan bisa berhenti ngejerit karena semalaman badan lu bakal kita garap habis habisan. toked lu kita remesin dan memek lu kita colokin pake jari tangan rame rame.
[RakusMaut]: Meskipun lu nangis darah sekalipun, kita semua bakalan tetep gantian ngegilir tubuh putih lu. Karena lu amoy dan karena itu udah jadi nasib lo.
Lien memeluk tubuhnya, gemetar hebat. Pandangan kosong ke layar yang masih memutar suara tangis dan jeritan perempuan Tionghoa. Dan ia sadar sebuah bagian dari dirinya telah tenggelam terlalu dalam di kegelapan malam itu. Gairah Lien makin meledak ketika notifikasi lain muncul.
[LangitLiar mengirim video]
Thumbnail video hanya menampilkan tangga sempit, lampu temaram, dan bayangan orang berdesakan. Tapi judul file membuat jari Lien langsung dingin:
“Anak pengusaha konveksi digilir di ruko sampe rooftop.”
Dengan dada berdegup keras, Lien mengeklik video. Adegan langsung menampilkan kerumunan perusuh di sebuah ruko. Pintu rolling door terangkat setengah, sebagian bengkok. Para pria masuk sambil menendang rak kain, melempar gulungan tekstil ke lantai.
Di tengah keributan, tampak seorang gadis muda. Usianya tak lebih dari tujuh belas. Tubuhnya kecil, rambut panjang kusut, wajah berlumur air mata. Sisa seragam putih abu-abu robek di bahunya, sedikit menyingkap dadanya. Dia meraung ketika para pria kasar menyeretnya menaiki tangga.
“Naik! Naik, lonte Cina!” teriak salah satu perusuh sambil menjambak rambut gadis itu.
Gadis itu jatuh berkali-kali. Kakinya seperti terkilir dan tertatih tatih ketika berjalan. Tapi para perusuh terus mendorongnya ke lantai dua. Kamera mengikuti dari belakang dalam posisi berguncang hebat.
Di lantai dua, gadis muda itu dijatuhkan ke lantai keramik. Beberapa pria menindihnya, tangan mereka merobek sisa kain bajunya. Jeritannya melengking dan memantul di dinding.
“Ampun… jangan… !! suaranya parau dan hampir tak terdengar.
Salah seorang pria mengangkat gagang sapu plastik sambil tertawa.
“Pake ini dulu bro. Biar lubangnya makin lebar!”
Lien memekik pelan. Dadanya terasa penuh sesak. Namun entah kenapa, rasa panas yang aneh merambat di dalam tubuhnya. Dadanya terasa penuh, putingnya menegang di balik kaos tipis yang ia kenakan. Napasnya tersengal.
Gagang sapu itu didorong ke arah kemaluan tubuh gadis tersebut. Gadis itu menjerit panjang, tubuhnya melengkung. Para pria di sekitarnya tertawa keras, saling sorak.
Alih-alih memalingkan mata, Lien justru menonton lebih dekat. Tangannya meremas sisi meja. Di antara rasa takut dan jijik, ada denyut gairah yang semakin kuat, membuat pangkal pahanya berdenyut.
Video berlanjut. Gadis itu diseret lagi ke tangga. Kamera terus merekam.
Mereka membawanya ke lantai tiga. Di sana, para pria makin liar. Beberapa sudah membuka celana. Gadis itu terisak, suara tangisnya hanya sesak.
“Nangis lo makin enak diliat!” bentak seorang pria sambil menampar pipinya.
.png)




yang begini perlu lanjutan suhu
BalasHapussemoga lanjutannya lien memposisikan dirinya jadi korban trus jadi binal, daripada jadi cerita sadis/kejam
BalasHapusAmoy dan kerusuhan emang gak bisa dipisahkan
BalasHapusMungkin Lien mau ngerasain nikmatnya digangbang pribumi seperti cicinya
BalasHapusWaduh nekat juga nih si Lien. Emangnya gak takut diculik apa sama alumni 98.
BalasHapusJadi gak sabar nunggu Lien digilir sama perusuh.
BalasHapus