Langsung ke konten utama

Lukisan Kamasutra

By : Analconda13

Malam itu hujan deras terus mengguyur kawasan kota tua sehingga suasana terasa semakin sepi. Suara gemuruh air di atap rumah besar bergaya Tionghoa kuno di pecinan lama membuat seluruh rumah terasa hangat dan terisolasi dari dunia luar. Levina Tanadi gadis Chindo berusia 20 tahun baru saja selesai mandi air hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Kulit putih halusnya masih memerah karena air panas. Matanya yang sipit lembut dan rambut hitam lurus panjang hingga pinggang terlihat basah mengkilap.

Gadis itu mengenakan piyama tidur sutra tipis berwarna krem yang sangat seksi. Bagian atas piyama itu berupa tank top pendek tanpa lengan dengan tali tipis di bahu sehingga payudaranya yang sedang tapi padat hampir tumpah keluar. Bagian bawahnya hanya celana pendek ketat yang menempel di paha mulusnya dan hanya menutupi separuh bokong bulatnya. Kain sutra tipis itu menempel di kulit tubuhnya yang masih lembab sehingga bentuk puting susunya terlihat samar dan garis pinggul rampingnya sangat jelas. Tubuh kencangnya yang terjaga dari jogging pagi terasa segar dan menggoda.

Levina tinggal bersama kakeknya sejak ibunya pindah ke Surabaya untuk mengurus bisnis keluarga. Kakeknya Tanadi Wijaya seorang tabib tradisional tiongkok berusia 68 tahun masih tegap dan dikenal bijaksana di komunitas pecinan lama. Aroma ramuan herbal yang kakek seduh tadi sore masih menyelimuti lorong rumah dan bercampur dengan bau tanah basah dari luar.

Levina berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Payudaranya yang padat bergoyang lembut di balik tank top tipis setiap kali ia melangkah. Ia merasa sedikit hangat di bagian liang kewanitaannya karena gesekan celana pendek piyama yang ketat. Suasana rumah yang sepi hanya ditemani suara hujan membuatnya merasa gelisah sendiri. Malam itu hujan deras semakin deras mengguyur kota. Kakek Tanadi memanggil Levina dari kamar belakang. 

“Levina..” panggil kakek dari kamar belakang suara kakeknya yang dalam dan tenang terdengar dari lorong.

Levina mengikuti dengan langkah pelan. Kakinya yang telanjang terasa dingin di lantai marmer. Ruangan pribadi kakek penuh rak kayu berisi botol-botol ramuan dupa dan altar kecil keluarga dengan patung dewa. Kakek Tanadi duduk di kursi kayu antik. Matanya yang tajam menatap cucunya dengan tatapan penuh perhatian. 

“Duduklah disini.. tadi sore kakek liat kamu pulangnya kehujanan. Kata kakek.

Levina duduk di depannya lalu menjawab pelan. 

“Iya kek.. dingin banget.. bajuku sampe basah semua.. kebetulan hari ini aku gak bawa payung pas pergi keluar” keluh Levina.

Kakek mengangguk pelan. 

“Ya.. sudah. tidak apa apa. Tapi sebelum tidur lebih baik kamu minum ramuan ini dulu saja” kata kakek.

“Ramuan apa kek?” tanya Levina.

“Ini ramuan kuno dari resep leluhur kita untuk menjaga kesehatan. Dulu ibumu juga sering kakek kasih ramuan ini supaya badannya gak gampang sakit” jelas kakek dengan suara lembut sambil menyodorkan cangkir kecil berisi cairan hangat berwarna kecokelatan yang mengepul.

Levina meminum ramuan itu tanpa curiga. Rasanya pahit dengan sedikit manis di belakang. Hangatnya menyebar nyaman di perut. Beberapa menit kemudian gelombang panas halus mulai merambat dari perutnya ke dada. Puting susunya perlahan mengeras dan menonjol jelas di balik tank top piyama tidur tipis. Ia juga merasakan kelembapan aneh yang mulai muncul di antara kedua pahanya serta liang kewanitaannya menjadi basah perlahan.

Levina menggeser tubuhnya di kursi kayu. Wajahnya sedikit pucat meski pipinya terasa hangat. Hujan deras di luar semakin deras. Suara gemuruh air bercampur angin yang menusuk membuat tubuhnya menggigil sesekali. 

“Kakek... Levina kok agak mual ya? Perutnya panas tapi rasanya seperti mau muntah sedikit” keluhnya pelan dengan suara lemah. Tangannya menekan perut bagian bawah sambil menarik piyama lebih rapat ke tubuh.

Kakek Tanadi Wijaya mengangguk pelan. Ekspresinya penuh perhatian seperti tabib yang sedang mendiagnosa. Ia mendekat dan meletakkan tangan keriputnya yang hangat di dahi Levina sebentar. 

“Sepertinya kamu masuk angin karena hujan deras dan udara lembab malam ini. Ramuan tadi memang agak kuat untuk pertama kali tapi itu bagus untuk mengusir dingin. Biar Kakek pijat sebentar supaya darah mengalir lancar dan mualnya hilang” katanya dengan suara tenang dan meyakinkan.

Efek ramuan semakin terasa di tubuh Levina. Payudaranya terasa penuh dan sensitif. Liang kewanitaannya semakin basah dengan lendir kawin yang mulai keluar. Kakek duduk semakin dekat di samping cucunya.

Kakek Tanadi menuntun Levina berdiri dengan lembut lalu menunjuk ke arah tempat tidur rendah di samping altar keluarga yang diterangi cahaya redup lampu minyak. 

“Buka piyamamu dulu Nak. Biar Kakek bisa pijat dengan benar dari punggung sampai pinggang. Kalau pakai baju obatnya tidak masuk. Ini tradisi lama kita untuk mengobati masuk angin pada perempuan muda. Kakek sudah biasa melakukan ini pada ibumu dulu” ujarnya sambil membantu Levina melepaskan piyama sutra tipis itu dengan gerakan perlahan.

Kain tipis meluncur turun dari bahu Levina sehingga memperlihatkan kulit putih mulusnya yang halus. Payudaranya yang sedang tapi kencang terpapar dengan puting susu cokelat muda yang mulai mengeras karena udara dingin dan efek ramuan. Perutnya yang rata sedikit berkeringat. Levina merasa malu tapi tubuhnya terlalu lemas untuk menolak. Ia hanya bisa menutup dada dengan tangan sambil berbaring telungkup di tempat tidur rendah itu. Punggung rampingnya terpapar sepenuhnya di depan kakeknya.

Kakek Tanadi Wijaya duduk di tepi tempat tidur rendah. Tangan keriputnya yang masih hangat dan kuat mulai menyentuh punggung Levina yang telanjang. Gerakannya lambat dan teratur mulai dari bahu lalu turun ke pinggang sambil menekan titik-titik tertentu dengan tekanan yang pas. 

“Tarik napas dalam-dalam Nak. Biar anginnya keluar” bisiknya pelan sambil jarinya mengusap tulang belakang Levina.

Hujan di luar masih deras. Suara air yang mengguyur atap seolah menutupi detak jantung Levina yang mulai lebih cepat. Setiap kali telapak tangan kakek menyentuh kulitnya gelombang panas dari ramuan semakin menyebar. Mualnya perlahan mereda tapi digantikan oleh rasa aneh yang hangat dan geli di perut bawahnya. Levina menggigit bibir mencoba tetap tenang meski puting susunya semakin keras menekan seprai tipis di bawah tubuhnya.

Perlahan tangan kakek turun lebih rendah. Ia mengusap pinggang Levina lalu ke pinggul rampingnya. 

“Di sini biasanya angin berkumpul pada perempuan muda” katanya dengan suara tenang. Jarinya kini menyentuh kulit lembut di atas bokong Levina sambil memijat dengan gerakan melingkar yang semakin lebar.

Levina merasakan napasnya tersengal pelan. Kelembapan di antara kedua pahanya semakin terasa meski ia berusaha menekan kakinya rapat-rapat. 

“Kakek... rasanya aneh... bukan mual lagi tapi...” gumamnya malu. Suaranya hampir hilang ditelan suara hujan.

Kakek tersenyum tipis di belakangnya. Tangannya tidak berhenti memijat. Kini ia mulai menyentuh sisi luar paha Levina dengan tekanan yang lebih dalam. 

“Itu bagus berarti ramuan dan pijatan sudah bekerja. Balik badanmu sekarang Nak. Kakek perlu pijat bagian depan juga supaya semuanya seimbang. Jangan malu ini hanya pengobatan biasa” katanya dengan suara tenang.

Levina membalik tubuhnya dengan pelan. Payudaranya yang padat dan puting susunya yang mengeras terpapar jelas di depan kakek. Liang kewanitaannya sudah basah dengan lendir kawin karena efek ramuan yang semakin kuat. Kakek mendekatkan tangannya ke perut Levina dan mulai memijat bagian depan dengan gerakan lembut namun dalam.

Levina ragu sejenak karena tubuhnya terasa berat dan panas bercampur dingin udara malam hujan. Dengan napas pendek ia perlahan membalikkan badan hingga berbaring telentang di tempat tidur rendah itu. Piyama sutra yang sudah terlepas sepenuhnya tergeletak di samping sehingga meninggalkan tubuhnya yang polos dan mulus terpapar cahaya redup lampu minyak. Payudaranya yang sedang tapi kencang naik turun mengikuti napasnya. Puting susu cokelat mudanya berdiri tegak karena perpaduan dingin hujan dan efek ramuan yang semakin kuat. Ia menutup mata sebentar. Tangan kanannya secara refleks berusaha menutupi dada sementara kakinya masih saling rapat meski kelembapan di liang kewanitaannya sudah sulit disembunyikan. 

“Kakek... Levina malu sekali” bisiknya hampir tak terdengar. Suaranya gemetar.

Kakek Tanadi Wijaya menatap tubuh cucunya dengan tatapan tenang namun dalam seperti seorang tabib yang sedang memeriksa pasien dengan teliti. Tangan kanannya mulai menyentuh perut rata Levina sambil memijat dengan gerakan melingkar lembut dari pusar ke bawah. Tangan kirinya menyentuh bahu dan lengan gadis itu. 

“Tidak perlu malu Lev.. Tubuh perempuan itu suci dan harus dirawat dengan benar. Kakek hanya memastikan angin dingin tidak masuk lebih dalam. Katanya pelan. Jarinya kini naik perlahan ke dada Levina menyentuh kulit lembut di bawah payudara sebelum akhirnya telapak tangannya menyentuh payudara kiri gadis itu dengan tekanan ringan.

Levina tersentak kecil. Desahan halus lolos dari bibirnya saat jari kakek tanpa sengaja menyapu puting susunya yang sensitif. Panas ramuan membuat setiap sentuhan terasa berlipat ganda sehingga liang kewanitaannya semakin basah dan berdenyut pelan dengan lendir kawin. Kakek melanjutkan dengan suara tenang. 

“Lihat putingmu sudah keras karena dingin dan angin. Biar Kakek pijat di sini juga supaya darah mengalir lancar” katanya.

Tangan kakek Tanadi Wijaya bergerak dengan sangat perlahan dan terampil. Telapaknya yang hangat mengelilingi payudara Levina yang kencang sambil memijat dengan tekanan ringan yang semakin dalam. Jempolnya sesekali menyapu puting susu cokelat muda itu dengan gerakan melingkar kecil. Levina menggigit bibir kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara yang memalukan. 

“Kakek... di situ... rasanya geli sekali. desahnya pelan. Napasnya mulai tersengal sementara hujan di luar terus mengguyur tanpa henti seolah menutupi detak jantungnya yang kencang.

Tubuhnya yang telanjang terasa semakin panas. Perut bawahnya berdenyut pelan dan cairan alami sudah mulai membasahi celah liang kewanitaannya yang masih rapat. Levina mencoba menekan pahanya lebih rapat tapi gerakan itu justru membuat gesekan kecil di klitorisnya yang sensitif sehingga ia semakin gelisah.

Kakek tersenyum tipis. Suaranya tetap tenang dan penuh otoritas seperti sedang memberikan pengobatan biasa. 

“Itu normal Nak. Bagian ini sering menjadi titik penyumbatan energi saat masuk angin. Kakek harus pijat dengan benar supaya ramuan bisa bekerja optimal” katanya.

Tangan kirinya tetap memijat payudara kanan Levina dengan lembut sementara tangan kanannya perlahan turun menyusuri perut rata gadis itu melewati pusar lalu berhenti di atas tulang kemaluan yang halus tanpa bulu. Jarinya mengusap kulit lembut di sana dengan gerakan melingkar yang sangat pelan semakin mendekati celah yang sudah basah. Levina merasakan jari kakek hampir menyentuh bibir liang kewanitaannya sehingga ia menahan napas. 

“Kakek... jangan ke bawah sekali... Levina takut. bisiknya dengan suara gemetar tapi tubuhnya justru sedikit mengangkat pinggul secara tak sadar seolah mengundang sentuhan lebih jauh.

Tangan kakek Tanadi Wijaya terus bergerak semakin berani. Jari telunjuknya yang kasar akhirnya menyentuh bibir luar vagina Levina yang sudah licin oleh cairan alami. Ia mengusap pelan ke atas bawah sehingga menyebabkan Levina tersentak kuat dan langsung menutup kedua pahanya erat-erat. 

“Kakek! Jangan di situ!” seru Levina panik. Tubuhnya yang telanjang langsung bangkit setengah duduk. Tangannya berusaha mendorong tangan kakek menjauh. Wajahnya memerah hebat karena campuran malu shock dan panas ramuan yang masih membakar tubuhnya. 

“Ini bukan pijat lagi... Levina tidak mau! Tolong berhenti Kakek...” suaranya gemetar. Air mata mulai menggenang di mata sipitnya yang indah. Ia mencoba menarik piyama yang tergeletak di samping untuk menutupi tubuhnya tapi kakek dengan cepat menahannya.

Kakek Tanadi tetap tenang. Matanya menatap Levina dengan tatapan dalam yang penuh nafsu tersembunyi. Tangan kirinya memegang pergelangan tangan Levina dengan kuat tapi tidak kasar sementara jari kanannya masih berada di antara pahanya mengusap klitoris gadis itu dengan gerakan sangat pelan. 

“Sst... jangan menolak Nak. Ini bagian dari pengobatan yang sebenarnya. Ramuan ini sudah membangunkan nafsu alami tubuh kamu. Kalau tidak dilepaskan dengan benar kamu bisa sakit nanti. Kakek hanya ingin menjaga kamu seperti dulu menjaga ibumu” katanya dengan suara rendah dan meyakinkan.

Tubuhnya yang masih berpakaian mendekat. Aroma herbal dan tubuh tua yang maskulin menyelimuti Levina. Jari kakek terus mengusap lembut celah basah itu sehingga membuat Levina menggigil hebat meski ia terus menggeleng dan mencoba menutup kakinya. 

“Kakek... please... ini salah... Levina bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi” bisiknya sambil menangis pelan tapi desahan kecil tak bisa ditahan saat jari kakek menyentuh titik sensitifnya lagi.

Levina terus menggelengkan kepala. Air mata mengalir di pipinya yang putih halus. 

“Kakek... hentikan... ini tidak benar... Levina anak cucu Kakek!” katanya dengan suara parau. Kedua tangannya berusaha mendorong dada kakek yang masih berpakaian. Tubuhnya bergetar hebat karena campuran ketakutan dan gelombang panas yang tak terkendali dari ramuan membuatnya lemah. Namun setiap kali ia mencoba menutup kakinya jari kakek Tanadi Wijaya justru semakin lihai mengusap klitorisnya yang sudah membengkak sehingga cairan bening terus mengalir keluar dan membasahi seprai di bawahnya. Desahan kecil yang malu-malu lolos dari bibirnya meski ia berusaha menahan. Pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan mengikuti irama jari kakek.

Kakek Tanadi mendekatkan wajahnya ke telinga Levina. Napasnya yang hangat menyapu kulit leher gadis itu. 

“Kamu sudah basah sekali Nak. Tubuh kamu sendiri yang meminta. Ramuan ini hanya membantu membuka apa yang sudah seharusnya terjadi dalam keluarga kita. Jangan melawan lagi... biarkan Kakek rawat kamu dengan benar” bisiknya dalam suara rendah yang penuh otoritas.

Tangan kirinya yang kuat memegang kedua pergelangan tangan Levina di atas kepalanya sehingga menahan gerakan penolakannya dengan lembut tapi tegas. Sementara itu jari tengah kakek perlahan masuk sedikit ke dalam vagina Levina yang sempit dan panas. Hanya ujung jarinya dulu. Ia mengaduk pelan di dalam sambil ibu jarinya terus memutar di klitoris. Levina menggigit bibir kuat-kuat hingga hampir berdarah. Tubuhnya melengkung. Payudaranya naik turun cepat. 

“Kakek... ahh... jangan... Levina mohon...” erangnya. Suaranya sudah mulai pecah antara penolakan dan kenikmatan yang tak bisa ditahan lagi.

Penolakan Levina mulai melemah meski air matanya masih mengalir. Tubuhnya yang telanjang bergetar hebat di bawah sentuhan kakek. Pinggulnya tanpa sadar bergerak pelan mengikuti irama jari kakek yang semakin dalam mengaduk di dalam vaginanya yang sempit dan licin. 

“Kakek... stop...jangan kek... Levina tidak mau...” bisiknya lemah. Suaranya sudah pecah dan penuh desahan yang tak bisa ditahan lagi.

Tangan kakek yang memegang pergelangan tangannya semakin erat tapi bukan kasar. Hanya cukup untuk membuat Levina tak bisa lepas. Setiap kali jari tengah kakek menyentuh titik sensitif di dalamnya gelombang kenikmatan yang asing dan kuat membuat lutut Levina lemas. Payudaranya yang kencang naik turun cepat. Puting susunya semakin keras dan gelap karena darah yang mengalir deras akibat ramuan.

Kakek Tanadi Wijaya menarik tangannya perlahan lalu berdiri sebentar untuk melepas baju atasnya sehingga memperlihatkan dada tua yang masih tegap dengan bulu-bulu putih tipis. Ia kembali mendekat. Tubuhnya menindih Levina dengan hati-hati. 

“Kamu sudah siap Lev.. Tubuh kamu sudah basah dan panas untuk Kakek. Ini untuk kebaikan kamu... biar nafsu kamu tidak tersesat” katanya dengan suara dalam yang tenang.

Levina merasakan sesuatu yang keras dan panas menyentuh paha dalamnya yaitu batang penis kakek yang sudah tegang sepenuhnya. Ia menggeleng lemah. 

“Jangan... Kakek... please... Levina masih perawan...” tapi suaranya hampir tak terdengar lagi tergantikan oleh erangan kecil saat kepala penis kakek menggesek bibir vaginanya yang licin mengoleskan cairannya ke sana kemari dengan gerakan pelan.

Kakek mencium leher Levina lembut. Lidahnya menjilat kulit halus itu sambil terus menekan pelan ke arah masuk. Belum memasukkan sepenuhnya hanya menggoda dan membuat Levina semakin gila karena campuran takut dan hasrat yang ramuan bangkitkan.

Kakek Tanadi Wijaya terus menggesekkan kepala penisnya yang besar dan panas di celah vagina Levina yang sudah sangat licin. Gerakannya lambat dan terkontrol naik turun menyapu klitoris gadis itu berulang kali sehingga membuat tubuh Levina melengkung dan pinggulnya bergetar tak terkendali. 

“Ahh... Kakek... jangan... Levina takut...” erang Levina dengan suara lemah. Air matanya masih mengalir tapi kedua kakinya kini terbuka sedikit lebih lebar tanpa sadar.

Penis kakek terasa sangat panas dan tebal di bibir vaginanya yang sempit. Setiap gesekan membuat cairan bening Levina semakin banyak keluar membasahi batang tua itu. Kakek mencium leher dan tulang selangka Levina dengan lembut. Lidahnya menjilat kulit putih halus cucunya sambil berbisik. 

“Tenang saja Lev.. Kakek akan masuk pelan-pelan. Ini untuk menyembuhkan kamu... biar semuanya seimbang” katanya.

Dengan gerakan sangat perlahan kakek mulai menekan pinggulnya ke depan. Kepala penisnya yang bulat dan besar perlahan merenggangkan bibir vagina Levina yang masih perawan. Masuk hanya beberapa senti saja sebelum berhenti. Levina menjerit kecil. Tangannya mencengkeram bahu kakek kuat-kuat. 

“Sakit... Kakek! Keluarkan... Levina mohon!” Tubuhnya menegang hebat. Vagina sempitnya berkontraksi di sekitar kepala penis kakek tapi ramuan membuat rasa sakit itu cepat bercampur dengan kenikmatan aneh yang membakar dari dalam.

Kakek tidak mundur. Ia tetap diam di posisi itu membiarkan Levina terbiasa dengan tekanan besar di dalamnya sambil mencium bibir cucunya dengan lembut untuk menenangkan. 

“Napas yang dalam Nak... sebentar lagi enak. Kakek akan buat kamu merasa sangat baik malam ini” bisiknya dalam suara serak. Pinggulnya mulai bergerak sangat pelan maju mundur hanya beberapa milimeter semakin dalam sedikit demi sedikit setiap kali Levina mengeluarkan desahan yang semakin lemah.

Kakek Tanadi Wijaya terus mendorong pinggulnya dengan sangat perlahan dan sabar. Setiap gerakan maju hanya menambah kedalaman beberapa milimeter saja. Levina merasakan vagina sempitnya diregangkan secara paksa oleh batang penis kakek yang tebal dan berurat. Rasa sakit tajam bercampur dengan panas ramuan yang membuat klitoris dan dinding dalamnya berdenyut nikmat. 

“Ahh... sakit... Kakek... terlalu besar... erangnya dengan suara pecah. Air matanya mengalir deras di pipi tapi tangannya yang mencengkeram bahu kakek tidak lagi mendorong menjauh malah seperti mencari pegangan. Pinggul Levina bergetar hebat. Kakinya yang terbuka lebar sedikit mengunci di pinggang kakek tanpa sadar.

Kakek berhenti sejenak saat sudah setengah masuk membiarkan cucunya terbiasa dengan tekanan penuh di dalamnya. Napasnya yang berat menyapu leher Levina. 

“Bagus... kamu menerima Kakek dengan baik” bisik kakek dengan suara serak penuh kepuasan.

Ia mulai bergerak lagi mundur sedikit lalu mendorong lebih dalam. Kali ini berhasil masuk hampir sepenuhnya hingga pangkalnya menekan bibir vagina Levina. Gadis itu menjerit kecil bercampur desahan panjang. Tubuhnya melengkung hebat. Payudaranya bergoyang di depan dada kakek. Rasa penuh yang menyakitkan perlahan berubah menjadi kenikmatan yang dalam dan asing setiap kali kakek menarik dan mendorong dengan irama sangat pelan. Levina menggeleng lemah. 

“Kakek... ini salah... kita tidak boleh...” tapi suaranya sudah lebih lembut hampir seperti erangan nikmat. Vaginanya tanpa sadar berkontraksi kuat di sekitar batang penis kakek seolah memeluknya.

Kakek tersenyum tipis di lehernya. Tangan kanannya turun memijat payudara Levina sambil terus bercinta dengan gerakan lambat dan dalam. 

“Sst... biarkan saja Nak. Malam ini kamu sepenuhnya milik Kakek” katanya.

Setiap dorongan kakek yang pelan dan dalam membuat Levina semakin sulit bernapas. Rasa penuh di dalam vaginanya yang diregangkan lebar oleh penis kakek yang tebal kini sudah hampir sepenuhnya berubah menjadi gelombang kenikmatan yang panas dan dalam. 

“Ahh... Kakek... pelan... terlalu dalam... erangnya dengan suara serak. Kepalanya terlempar ke belakang. Rambut hitam panjangnya tersebar di atas seprai. Meski mulutnya masih mengucapkan penolakan pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti irama kakek. Vaginanya berkontraksi kuat setiap kali batang tua itu menyentuh titik paling sensitif di dalamnya. Air matanya masih mengalir tapi bibirnya kini terbuka mengeluarkan desahan-desahan kecil yang semakin sering dan manja.

Kakek Tanadi Wijaya mencium leher dan payudara Levina bergantian. Lidahnya menjilat puting yang sudah sangat keras sambil terus bercinta dengan gerakan steady dan dalam.

Perlahan Levina mulai menyerah. Tangannya yang tadinya mencengkeram bahu kakek kini melingkar di lehernya bukan untuk mendorong menjauh lagi melainkan seperti memeluk. 

“Kakek... ahh... rasanya aneh... enak sekali...” bisiknya malu-malu dengan suara gemetar. Wajahnya memerah hebat karena pengakuan itu.

Kakek tersenyum puas mempercepat sedikit iramanya. Setiap dorongan kini lebih kuat dan penuh hingga pangkal penisnya menampar bibir vagina Levina dengan suara basah kecil. 

“Ya... itu dia Nak. Kamu memang diciptakan untuk Kakek. Biarkan tubuh kamu menikmati” bisik kakek serak di telinganya sambil tangan kanannya turun ke klitoris Levina memutarnya dengan lembut.

Levina menggigit bahu kakek pelan. Pinggulnya kini aktif mengangkat diri untuk menyambut setiap penetrasi. Desahannya semakin keras dan tak terkendali di tengah suara hujan deras yang masih mengguyur malam itu.

Desahan Levina semakin keras dan tak terkendali. Tubuh rampingnya yang berkeringat kini bergerak selaras dengan irama kakek. Setiap kali penis kakek yang tebal menghunjam dalam-dalam ia merasakan gelombang kenikmatan yang membuat jari kakinya menekuk dan matanya berkunang-kunang. 

“Kakek... ahh... lebih dalam... Levina... Levina tidak tahan...” erangnya dengan suara manja yang sudah berubah. Nada penolakan tadi hampir hilang sepenuhnya. Pinggulnya kini naik turun aktif menyambut setiap dorongan kakek dengan rakus. Vaginanya memeluk batang tua itu kuat-kuat seolah tak ingin melepaskan.

Kakek Tanadi Wijaya tersenyum puas. Tangannya memegang pinggul Levina lebih erat membantu gerakan cucunya yang semakin liar sambil terus menghunjam dengan ritme yang stabil dan dalam. 

“Kakek... enak sekali... Levina mau lagi...” bisik Levina di telinga kakek. Suaranya sudah penuh nafsu dan malu yang bercampur. Ia mencium leher kakek dengan bibir gemetar. Lidahnya tanpa sadar menjilat kulit tua itu.

Kakek mempercepat gerakannya sedikit. Setiap hantaman kini lebih kuat hingga suara basah terdengar di antara deru hujan. Tangan kakek turun ke bokong Levina meremas bulatnya yang kencang sambil menariknya lebih rapat ke pangkal penisnya. 

“Bagus cucu Kakek... sekarang kamu sudah menjadi budak seks Kakek. Malam ini Kakek akan isi kamu sepenuhnya” bisik kakek dengan suara serak penuh kepuasan. Penisnya berdenyut di dalam vagina Levina yang semakin basah dan panas siap membawa gadis itu semakin dalam ke dalam kenikmatan terlarang.

Gerakan kakek semakin kuat dan teratur. Setiap hantaman penisnya yang tebal menghunjam hingga pangkal menekan rahim Levina dengan dalam. Levina sudah tak bisa menahan lagi. Pinggulnya naik turun liar menyambut setiap dorongan dengan rakus. Vaginanya berkontraksi kuat di sekitar batang kakek. 

“Kakek... ahh... Levina mau... mau keluar...” erangnya dengan suara manja dan pecah. Matanya setengah terpejam. Bibirnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan panjang yang tak lagi malu. Keringat membasahi tubuh putih mulusnya. Payudaranya bergoyang hebat di depan dada kakek setiap kali ia terdorong ke belakang.

Kakek Tanadi Wijaya memegang pinggul cucunya erat mempercepat irama. Batang penisnya berdenyut panas di dalamnya siap meledak kapan saja.

Tiba-tiba gelombang orgasme pertama melanda Levina dengan hebat. Tubuhnya menegang kaku. Vaginanya memijat penis kakek dengan kontraksi kuat berulang-ulang. Cairan beningnya menyembur keluar membasahi pangkal penis kakek dan seprai di bawahnya. 

“Kakek!!! Ahhhhh... keluar... Levina keluar!!!” jeritnya keras. Suaranya pecah penuh kenikmatan. Jari kakinya menekuk. Seluruh tubuhnya bergetar hebat seperti tersengat listrik.

Kakek tidak berhenti. Terus menghunjam dalam-dalam melalui orgasme cucunya memperpanjang kenikmatan itu hingga Levina hampir kehilangan kesadaran. Napasnya tersengal-sengal. Air mata kenikmatan mengalir di pipinya sementara vaginanya masih berdenyut kuat memeluk penis kakek yang belum meledak.

Kakek Tanadi Wijaya terus menghunjam dengan ritme kuat dan dalam saat orgasme Levina masih berlangsung. Vagina cucunya yang berkontraksi hebat memijat batang penisnya dengan sempurna sehingga membuatnya semakin sulit menahan diri. 

“Bagus... cucu Kakek... remas Kakek erat-erat” erang kakek dengan suara serak di telinga Levina.

Ia memegang pinggul gadis itu lebih kuat menariknya rapat setiap kali mendorong hingga pangkal penisnya menampar bibir vagina Levina dengan suara basah yang mesum. Beberapa detik kemudian tubuh kakek menegang. Dengan satu hantaman dalam yang terakhir ia menyemburkan sperma panasnya langsung ke dalam rahim Levina. Jet demi jet cairan kental tua itu memenuhi vagina gadis itu meluap keluar di sekitar batang penis karena terlalu penuh. Levina menggigil hebat merasakan panasnya. Desahannya berubah menjadi erangan panjang yang lemah.

Kakek tetap tertanam dalam-dalam beberapa saat membiarkan sperma tuanya meresap ke dalam tubuh cucunya sambil mencium kening Levina dengan lembut. Napas keduanya masih tersengal-sengal bercampur dengan suara hujan deras di luar yang tak kunjung reda. Levina terbaring lemas di bawah tubuh kakek. Matanya setengah terpejam. Wajah cantiknya memerah dan basah oleh keringat serta air mata. Vaginanya masih berdenyut pelan di sekitar penis kakek yang mulai melunak. Sperma kental yang meluap keluar perlahan mengalir ke celah bokongnya. 

“Kakek... apa yang kita lakukan...” bisik Levina lemah. Suaranya penuh kebingungan dan sisa kenikmatan. Tangannya masih melingkar longgar di leher kakek.

Kakek Tanadi Wijaya perlahan menarik penisnya yang masih setengah tegang keluar dari vagina Levina. Segumpal sperma kental berwarna putih susu langsung mengalir keluar dari celah yang baru saja diregangkan lebar membasahi paha dalam gadis itu dan seprai di bawahnya. Levina menggigil pelan merasakan cairan hangat itu keluar. Sensasi penuh yang tadi ada kini berganti dengan rasa kosong dan lengket yang aneh. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Napasnya masih tersengal. Tubuh telanjangnya berkeringat dan lemas tak berdaya. 

“Kakek... kita... kita benar-benar melakukannya...” gumamnya pelan. Suaranya serak dan penuh kebingungan. Tangannya tanpa sadar menyentuh perut bawahnya yang masih terasa panas.

Kakek duduk di tepi tempat tidur. Tangannya yang keriput mengusap lembut paha Levina yang basah oleh campuran cairan mereka. Matanya menatap tubuh cucunya dengan kepuasan yang dalam. 

“Ya Nak. Mulai malam ini kamu resmi menjadi budak seks Kakek. Tubuh kamu sekarang milik Kakek sepenuhnya untuk dirawat untuk dinikmati dan untuk diisi kapan saja Kakek mau” katanya dengan suara tenang tapi tegas nada seorang majikan yang sudah mengambil kepemilikan.

Ia mengambil kain bersih dari samping tempat tidur dan perlahan membersihkan sperma yang meluap di vagina Levina. Gerakannya lembut seperti sedang merawat sesuatu yang berharga. Levina hanya bisa diam. Pipinya memerah hebat. Tidak berani menatap mata kakek. Di dalam hatinya rasa malu yang besar bercampur dengan sisa kenikmatan yang masih berdenyut pelan di tubuhnya membuatnya tak tahu harus berkata apa.

Levina terbaring diam. Matanya menatap langit-langit kamar yang redup dengan tatapan kosong. Sperma kakek masih terasa hangat dan lengket di dalam vaginanya sesekali mengalir keluar pelan saat ia menggerakkan pinggul sedikit. Rasa malu yang luar biasa membanjiri dadanya membuat tenggorokannya tercekat. 

“Kakek... ini salah besar... Levina adalah cucu Kakek... bagaimana bisa...” bisiknya lemah. Suaranya hampir hilang. Air mata kembali mengalir di pipinya yang putih tapi tubuhnya masih terasa lemas dan sensitif. Setiap hembusan angin dingin dari celah jendela membuat putingnya mengeras lagi. Ia mencoba menutup kakinya tapi gerakan itu justru membuat lebih banyak sperma keluar mengingatkannya pada apa yang baru saja terjadi.

Kakek Tanadi Wijaya tersenyum tipis sambil terus mengusap paha Levina dengan kain bersih. 

“Tidak ada yang salah Nak. Ini tradisi keluarga kita yang sudah lama tersembunyi. Mulai malam ini kamu bukan lagi cucu biasa. Kamu adalah budak seks pribadi Kakek. Artinya tubuh kamu harus selalu siap untuk Kakek kapan saja di mana saja di rumah ini. Kamu akan tidur telanjang setiap malam memakai hanya kalung budak yang Kakek berikan dan memanggil Kakek dengan Tuan saat kita berdua. Kalau melanggar Kakek akan hukum dengan cara yang lebih keras” katanya dengan suara tenang tapi penuh otoritas. Tangannya naik menyentuh payudara Levina dan memilin putingnya pelan sebagai penekanan.

Levina menggigit bibir. Tubuhnya tersentak kecil karena sentuhan itu masih sangat sensitif. Ia ingin menolak tapi kata-kata protesnya tertelan oleh rasa lelah dan sisa kenikmatan yang masih berdenyut di antara pahanya.

Levina menatap kakeknya dengan mata yang masih berkaca-kaca. Bibirnya bergetar tapi tak ada kata-kata yang keluar. Kata budak seks pribadi dan Tuan terngiang-ngiang di kepalanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Tubuhnya masih telanjang. Kulit putih mulusnya berkilau oleh keringat dan sisa sperma yang mengering di paha dalamnya. Ia mencoba duduk tapi kakek dengan lembut menekan bahunya agar tetap berbaring. 

“Kakek... Levina tidak bisa... ini terlalu berat...” gumamnya pelan. Suaranya lemah dan penuh keraguan.

Di dalam hatinya rasa malu bertarung dengan sensasi aneh yang masih tersisa. Vaginanya yang baru saja diisi terasa nyeri tapi juga hangat dan puas sehingga membuatnya bingung dengan dirinya sendiri.

Kakek Tanadi Wijaya mengangguk pelan. Tangannya yang keriput mengusap rambut hitam panjang Levina dengan gerakan menenangkan. 

“Kamu tidak perlu jawab sekarang Nak. Tubuh kamu sudah bicara tadi. Besok pagi Kakek akan berikan kalung budak pertama untuk kamu pakai setiap hari di rumah. Selama di rumah ini kamu harus telanjang atau memakai pakaian tipis yang Kakek izinkan saja. Kakek akan ajari kamu cara melayani dengan benar mulai dari pagi sampai malam” katanya dengan suara rendah yang tegas. Matanya menatap langsung ke mata sipit Levina.

Ia lalu bangkit mengambil kimono sutra tipis Levina dan melemparkannya ke samping tempat tidur. 

“Sekarang tidurlah di sini bersama Kakek. Malam ini kamu tidur telanjang tanpa selimut. Besok kita lanjut pelajaranmu. katanya.

Levina hanya bisa menelan ludah. Tubuhnya yang lemas tak kuasa menolak lagi. Ia meringkuk pelan di tempat tidur merasakan sperma kakek yang masih tersisa di dalamnya perlahan mengalir keluar sementara suara hujan deras di luar terus mengguyur malam yang baru saja mengubah hidupnya selamanya.

Komentar

  1. kakek beruntung...kalau mati pun ngak rugi...hahahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Pengantin Brutal 5

Sheryl Budak Napsu Gurunya

Rahasia Seorang Istri

Aplikasi XBang Oriental 2

Nasib Fenny Yang Malang

Draft Kisah Tragis Keluarga Majikanku

Draft Amarah Para Buruh 23

Majikanku Kena Rampok

Aku Jadi Objek Fantasi Liar Suamiku

Ai Ling Budak Napsu Pribumi