By : Klecho
Namaku Devina. Aku seorang wanita Chindo berusia 38 tahun yang selalu rajin merawat tubuhku dengan baik sehingga bentuknya tetap proporsional. Tidak kurus dan tidak gemuk. Suamiku bernama Hendrik yang lebih tua dua tahun dariku. Ia bekerja di sebuah instansi swasta yang cukup besar. Hendrik sering dinas keluar kota sehingga hanya pulang sekali dalam sebulan. Ia melakukan itu untuk menafkahi keluarga kami.
Aku hanya tamatan SMA dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Hendrik setuju dengan pilihan itu agar aku bisa mengurus rumah dan anak semata wayang kami. Anak kami bernama Daniel. Ia berusia 16 tahun dan sekarang kelas XI di SMA negeri dekat rumah. Daniel anak yang lemah lembut. Ia tidak punya hati untuk menyakiti orang lain dan cukup berprestasi di sekolahnya.
Aku bersyukur memiliki anak seperti Daniel. Ia berbakti kepada orang tuanya sehingga membantu meringankan beban tugasku di rumah. Daniel juga mengerti kenapa papanya jarang di rumah dan tidak mempermasalahkannya.
Sore ini aku sedang menjalankan rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yaitu menyapu halaman rumah. Keadaan ekonomi kami pas-pasan jadi belum mampu mempekerjakan pembantu. Semua pekerjaan rumah harus aku kerjakan sendiri. Kadang jika ada waktu senggang Daniel akan membantu tugas-tugas ringan.
Ketika aku sedang menyapu halaman rumah pada saat yang sama Daniel pulang dari sekolah. Anakku itu sedang dirangkul oleh seseorang. Aku melihat dia pulang bersama kakak kelasnya yang bernama Davin. Davin anak dari pejabat yang kaya raya sehingga warga sekitar sungkan bahkan cenderung takut sama anak itu.
Ketika mereka berdua berjalan mendekat aku terperangah melihat perbedaan fisik mereka. Daniel anakku bertubuh kurus dengan tinggi badan standar orang Indonesia. Berbanding terbalik dengan Davin yang sangat tinggi dan gagah. Jadi perbedaan mereka sangatlah mencolok bahkan jika dilihat dari jauh sekalipun.
Aku memperhatikan mereka terus yang semakin dekat. Saat hendak menyapa mereka aku menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan putraku itu. Kalau diteliti kenapa baju Daniel acak-acakan begitu ya. Astaga tubuh Daniel penuh dengan memar-memar seperti habis dipukul. Lalu aku berlari mendekati mereka yang masih berjalan.
"Loh kamu kenapa Daniel.. kok kamu memar gitu sih. Tanyaku panik.
"Ehm.. oh ini aku tadi.. Daniel mencoba menjawabku namun dia malah tergagap. Ada gerangan apa ini.
"Tadi dia jatuh dari tangga tante. Tiba-tiba Davin memotong anakku berhenti untuk berbicara lebih jauh.
"Beneran kamu tadi jatuh dari tangga. tanyaku ke Daniel memastikan.
"Iya.. gak Bro.. iya kan.. ucap Davin seraya meremas Daniel dengan keras sampai anakku mengernyit seperti menahan sakit. Kayaknya kakak kelas Daniel itu terkesan menekan anakku. Aku heran dengan perlakuan Davin tapi sayang aku tak berani menegurnya.
"Iya.. jawab anakku sambil mengangguk. Gelagat Daniel terlihat seperti ketakutan terhadap Davin ini. Sebagai seorang ibu aku tahu ada yang disembunyikan oleh Daniel.
"Ada-ada saja kamu Daniel.. ya sudah sini mama obatin dulu biar tidak membuat lukamu parah.. ucapku khawatir. Yang menjadi perhatianku sekarang adalah mengobati luka-lukanya dulu baru aku bertanya mengapa dia bisa begini.
"Tahu nih tan.. kok bisa ya.. si Daniel jatuh dari tangga.. udah kayak bocah aja.. haha.. ucap Davin yang langsung tertawa bahak.
Aku tidak tanggapi Davin. Kubiarkan saja dia tertawa-tawa.
"Ya sudah tante saya izin pulang dulu sampai ketemu besok lagi Bro.. pamit Davin lalu ia pergi meninggalkan aku dan Daniel.
Sedari tadi Davin selalu memandangiku dengan aneh. Ah sudahlah mungkin cuma perasaanku saja. Setelah Davin pergi aku langsung bertanya kepada anakku.
"Mama.. mau kamu jujur.. kamu sebenarnya kenapa bisa memar dan luka ini.. tanyaku.
"Ehmmm.. anu maa.. Daniel mulai menjawab.
"Daniel jujur sama mama.. ucapku dengan tegas supaya dia jujur.
"Tadi aku sekolah sparringan sama teman-teman. Jawabnya.
"Sparingan itu apa sayang ? Tanyaku tidak mengerti istilah itu.
"Yaaa.. jadi aku berantem gitu sama teman. jelas Daniel.
"Aduh sayang kamu kok mainnya begituan sih. kataku. Kenapa pula Daniel bermain seperti itu ada-ada saja kelakuan anak zaman sekarang pikirku.
"Habisnya.. aku dipaksa sama Davin. ucapnya.
"Davin tadi dia bilang kamu jatuh dari tangga loh. kataku.
"Iya maa.. aku bohong sama mama.. jawab Daniel.
"Kenapa kamu tadi bohong sama mama.. tanyaku lagi.
"Soalnya aku takut sama Davin ma.. kan mama tahu kalau dia kakak kelas aku. jawabnya sambil menunduk menatap ke bawah. Sudah kuduga dia ditekan oleh Davin.
"Kok takut sama teman kamu sendiri sih ? tanyaku kembali. Sebenarnya aku tidak heran orang yang lebih tua saja sungkan sama pemuda itu.
"Habisnya kalau tidak nurut sama dia nanti aku dikeroyok sama yang lain ma.. jelas Daniel.
"Aduh Daniel memangnya kamu tidak coba lapor ke guru kamu ? tanyaku.
"Bakal percuma ma.. kan mama tahu dia anak orang berpengaruh guru-guru mana yang berani dan dia kan juga anak emas di sekolah maa.. jawab anakku tertunduk lesu. Aku menghela nafas mendengar penuturan Daniel.
"Ya sudah deh yuk masuk rumah kita obatin dulu lukamu ini. ajakku.
"Adduh maa.. sakittt erang anakku kesakitan saat aku mengoleskan krim di bagian tubuhnya yang memar-memar.
"Sebenarnya Davin itu sering ngebully aku ma.. ucap Daniel dengan pelan. Aku kaget dengan fakta ini.
"Terus kamu kenapa malah mainnya sama Davin sih tanyaku tidak mengerti sambil terus mengolesi Daniel.
"Soalnya.. aduh perihhh jawabnya.
"Soalnya dia anak yang populer di sekolah ma.. jadi kalau berteman sama dia kan keren ma.. jelas Daniel.
"Ah kamu Dan ada-ada saja ucapku jengkel mendengar alasan anakku. Bisa-bisanya dia bermain dengan orang seperti Davin demi populer di sekolah.
Kamu mending cari teman yang lebih baik Dan masa kamu rela dibully gini sih saranku.
"Tapi kalau aku tidak berteman sama Davin nanti makin parah perlakuannya ke Daniel ma.. jelas Daniel yang tetap ngotot untuk berteman dengan orang seperti itu.
"Aduh Dan kamu nyari penyakit saja deh ya sudah terserah kamu bagaimana tapi setidaknya kamu harus berani melawan ya Dan ucapku.
"Iya ma.. jawabnya singkat.
Sambil memasang perban untuk Daniel aku teringat kejadian saat bertemu Davin tadi. Menatap anak itu terasa menelanjangi tubuhku. Walaupun jengkel dipandangi mesum begitu namun ada rasa senang dan bangga juga. Di umur yang sudah tidak muda lagi tubuhku masih dilirik oleh anak muda.
Keesokan harinya.
Sekarang aku sedang bersantai sambil menonton TV. Diriku hanya memakai kaos dan rok panjang. Selesai sudah pekerjaan rumah ini saat merehatkan tubuh ini. Sesekali aku mencoba chatting suami menanyakan kapan dia pulang. Karena seharusnya sebentar lagi dia pulang dari dinasnya. Tapi pesan chatku belum dibalas juga dari pagi. Haaahhh mas kamu di mana aku kangen gundahku dalam hati.
Tring tring tring.
Sontak aku terkaget dengan bunyi dering dari handphoneku. Aku tidak mengenal nomor ini. Ah lebih baik aku angkat saja pikirku siapa tahu genting.
Lingkaran cahaya ucapku menyapa duluan.
Tante tante tante Ana teriak seseorang dari sana. Kalau tidak salah ini suara Davin.
Tante ini Davin si Daniel kecelakaan tante kesini sekarang ujar Davin dengan panik.
Hah tanyaku kaget.
Daniel kecelakaan di mana.
Di xxx saya sharelok sekarang ya tan.
Ok-ok ditunggu nak.
Berdetik-detik kemudian aku terima sharelok dari Davin. Lalu aku langsung memesan ojek online. Aku meminta kepada kang ojek untuk ke tempat tujuan secepat mungkin.
Keadaan darurat seperti ini tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Aduh nak kamu kecelakaan apa sih gusarku. Mudah-mudahan kamu tidak kenapa-kenapa Don.
Selama perjalanan aku merasa gundah. Khawatir dengan keadaan anakku. Tak lupa aku kirim pesan ke suamiku berharap dia membaca dan segera pulang ke rumah.
Ketika aku sampai sana setelah membayar kang ojeknya aku langsung menjadi bingung saat melihat tempat yang dikatakan Davin. Apa benar ini tempatnya ya pikirku bingung. Padahal ini hanya terlihat seperti rumah kosong saja. Tapi lokasi ini sudah sesuai dengan apa yang Davin kirimkan tadi. Aneh pikirku kenapa Daniel tidak dibawa ke puskesmas atau rumah sakit ya malah ke rumah ini.
Clek pintu rumah itu terbuka. Terlihat Davin keluar dari rumah itu. Ah ini benar tempatnya dadaku menjadi lega rasanya.
Tan ayo masuk Daniel di dalam sini ajak Davin. Tanpa bertanya aku segera lari ke rumah itu tak sabar menemui anakku. Ketika aku masuk ke dalam aneh kulihat tidak ada siapa-siapa di situ. Hanya ada perabotan rumah yang terlihat.
Vin Danielnya mana tanyaku bingung sambil terus mencari keberadaan anak kandungku.
Tatkala aku hendak menoleh ke Davin tiba-tiba tubuhku terdorong dengan kuat hingga aku terhempas di sofa.
Apaan-apaan ini Davin tanyaku kepada Davin. Namun seketika aku bergidik ketakutan melihat perangai Davin yang dingin menyeramkan. Ia terlihat bengis dan seperti dalam keadaan birahi tinggi terasa dia akan memangsaku.
Menyadari apa yang akan terjadi mataku terbuka lebar dan jantungku berdetak semakin cepat. Oh tidak apakah aku akan diperkosa olehnya.
"Hehehehe.. tawa Davin lalu tersenyum bahagia. Hal itu membuatku semakin takut.
"Ka-kamu mau ngapain ? tanyaku ketakutan. Dia semakin mendekatiku yang berada di sofa. Aku pun menjauh terus hingga mentok di ujung sofa. Aku tak bisa lari ke mana-mana lagi. Diriku bagaikan mangsa yang terperangkap.
"Aku mau entotin tante Vina. jawab dia. Aku pengen tau gimana rasanya enci-enci.. yang badannya mulus kayak Tante.. Terlihat raut mukanya seperti seekor predator yang menatap mangsanya.
"Jangan Vin.. jangan saya ini mama teman kamu jangan apa-apain tante.. ucapku kepadanya.
Tanpa bicara lagi dia menyergap tubuhku. Mulutnya mencoba menciumi mulutku. Aku gerakkan kepalaku ke kiri dan ke kanan menghindari ciumannya. Tapi aku kalah tenaga dengan pemuda ini.
"Ohhhh.. desah keluar dari mulutku saat Davin meremas payudara kiriku dengan keras. Tak ayal mulutku terbuka lalu ia menyergap mulutku.
Aku mendorong tubuh anak SMP yang badannya bongsor itu dengan segenap tenaga yang kupunya hingga dia tersungkur. Belum aku bisa berdiri dengan sempurna dia kembali mendorong tubuhku ke sofa. Lalu ia menahan tubuhku dengan sempurna sehingga aku tidak bisa bergerak lagi.
"Dengar ya.. percuma tante teriak nggak bakal nolongin.. ucap Davin. Ia mencekik leherku dengan kencang hingga aku kesakitan.
"Dan lapor polisi juga percuma tante tahu kan siapa ayah saya lanjut dia mengancam diriku sendiri. Pemandangannya sangat mengerikan.
"Tante nggak mau kan kalau Daniel kenapa-kenapa kali ini dia mengancam dengan membawa-bawa Daniel anakku. Aku menggeleng.
"Tante pasti sudah tahu kan kalau Daniel kemarin sebenarnya bukan jatuh dari tangga lanjut Davin. Aku mengangguk pelan-pelan. Aku mengerti ke mana arah ucapannya.
"Nah tante nggak mau kan kalau Daniel merasakan sakit lebih parah dari yang kemarin ucap dia mengancam keselamatan Daniel.
"Jadi nurut sama Davin ya.
"Tolong Vin apapun yang kamu minta tante akan sanggupi tapi jangan perkosa tante ya please ya tante nggak bakal bilang siapa-siapa kok ucapku berusaha mengubah pikiran Davin.
"Ok kalau begitu apa tante siap kasih nyawa anak tante buat Davin kata dia dengan wajah datar disertai dinginnya. Aku tercekat dengan ucapan Davin. Dia berani membunuh anakku demi tubuhku.
Tetap dalam tindihannya aku membalas seribu bahasa bingung dengan keadaan ini. Namun sebagai seorang ibu aku harus berkorban demi anakku. Aku harus merelakan tubuh ini untuk melindungi Daniel. Maafkan aku Hendrik tubuh ini akan dinodai oleh orang lain.
"Gimana nyawa atau tubuh tante.. kembali Davin bertanya dengan dingin membuyarkan pikiranku yang sedang kalut.
"Ba-baik tante akan menyerahkan tubuh tante tapi kamu jangan pernah lagi menyakiti Daniel ucapku dengan tegas.
Davin tersenyum mendengar permintaanku. "Ok itu hal mudah saya tidak akan menyakiti Daniel lagi. Lalu ia mendekatkan kepalanya ke dalam.
"Dan cukup sekali ini saja kembali aku mengucapkan sebelum bibirku ini dilumat. Namun hanya dijawab dengan senyuman oleh Davin. Harapanku pemuda ini menepati janjinya.
Davin menempelkan ciuman di bibirku. Ia menciumi bibirku. Sekarang ia berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Namun aku tetap bertahan tetap mengatupkan mulut. Dia menarik kepalanya menjauh hingga aku bisa melihat mukanya yang dingin.
"Tan.. ucap dia singkat dengan mata melotot marah terasa sangat menakutkan. Aku pasrah.
Kembali ia menciumi bibirku kali ini aku membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Tak ayal lidahku sekarang dibeli oleh lidah Davin. Lama mulut kami bermain saya didikte oleh Davin pemuda suka membuli anakku. Belum pernah aku bercumbu seperti ini. Rupanya anak muda ini sangat jago permainan lidahnya. Mas Hendrik saja tidak seperti ini.
Davin juga meremas kedua buah dadaku. Tubuhku pun bereaksi karena lama tidak disentuh oleh suamiku. Permainan Davin di mulut dan di dadaku membuatku hanyut lupa dengan segalanya. Kupejamkan mataku.
Terasa satu tangan merayap turun ke bagian bawah tubuhku. Aku merasakan rok panjangku disingkap. Udara dingin menerpa pahaku yang terekspos.
"Ahhh.. Davin.. lirihku ketika telapak Davin mengusap celana dalamku. Terasa telapak tangan dengan usapan lembut mengusap permukaan vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Aku terbuai dengan perlakukannya terasa vaginaku mengeluarkan lendir kawin. Diriku tidak bisa berbohong lagi ada rasa nikmat yang muncul. Astaga apa yang kupikirkan. Tidak tidak aku tidak boleh menikmati ini. Aku hanya melakukan ini demi Daniel.
"Lembab tan. ceritanya nikmatin nih sindir Davin yang membuat wajahku memerah.
Sekarang aku terus dicumbui dengan teman anakku selagi vaginaku yang masih tertutup celana dalam itu dirangsang olehnya. Davin melepaskan ciumannya. Aku pasrah ketika ia mengubah posisiku menjadi bersandar di sofa ini. Aku hanya bisa menatap Davin dengan sayu. Aku ingin Davin menghentikan perbuatannya namun hati kecilku berkata lain. Tak bisa kupungkiri ada rasa birahi sudah tak tahan ingin dipuaskan.
Ia singkirkan meja ruang tamu lalu berlutut di depanku. Ia menyingkap rokku hingga tersangkut di pinggulku. Terpampanglah kedua pahaku yang berisi dan celana dalamku yang sudah basah. Kembali Davin merangsang diriku dengan mengelus-elus pelan lembut paha-pahaku. Bulu kudukku pun berdiri karena rasa geli hinggap di kedua pahaku.
"Paha tante benar-benar mulus.. sejak kenal sama tante aku jadi penasaran dengan tubuh tante. ucap Davin.
Ia lebarkan kedua kakiku hingga semakin terlihat celana dalamku yang sudah basah. Ia menundukkan kepalanya ke selangkanganku. Ia mengendus-ngendus celana dalamku mencoba menghirup bau vaginaku.
"Hmmm.. wangi tan aku suka puji Davin. Tentu saja wangi dan bersih aku selalu merawatnya. Apalagi kata mas Hendrik nanti ketika dia pulang dinas mendapati vaginaku jorok dan bau.
Ohhhh Davinn erangku ketika hidung Davin menyentuh celana dalamku. Terasa batang hidungnya menusuk bagian vaginaku. Ia naik turunkan kepalanya lalu batang hidungnya membelah bibir vaginaku yang masih tertutup celana dalamku sehingga celana dalamku tercetak membentuk bibir vaginaku.
Davinnnn terus aku mendesah-desah merasakan rangsangan yang terasa nikmat di vaginaku. Kemaluan ku semakin banjir mengeluarkan lendir kawin yang lengket. Masih tertutup celana dalam saja sudah senikmat ini apalagi jika bersentuhan langsung. Astaga apa yang kupikirkan lagi padahal aku sedang mau diperkosa tapi malah memikirkan kemungkinan kenikmatan yang kudapat di masa depan. Nampaknya aku malah semakin lupa diri karena rasa enak yang kurasakan sekarang.
Tanpa melepaskannya ia menyingkap celana dalamku ke samping sehingga lubang vaginaku yang sudah basah serta jembut lebatnya terpampang dengan jelas di hadapan Davin.
Dengan punggungku yang tetap bersandar di sofa ia menarik tubuhku turun sehingga pantatku pas di ujung dudukan sofa. Ia tatap nafsu lubang cintaku.
"Ahhhh.. Daviiinnnn desahku lepas dari mulutku saat Davin memasukkan satu jari telunjuknya ke dalam vaginaku.
"Gilaaaa tan.. ini memek masih sempit banget.. memek cina emang top banget.. ucap Davin memujiku liang peranakanku. Kini ia memaju-mundurkan jarinya dengan cepat ke dalam lubang vaginaku. Aku harus menjaga wibawaku tak ingin terlihat menikmati tusukan itu. Maka dari itu aku berusaha keras untuk tidak mendesah-desah.
"Sudahlah.. nggak usah ditahan-tahan lepasin saja tan. Ternyata Davin sadar dengan upayaku yang menahan desahan agar tidak keluar dari mulutku. Jadi percuma saja aku pura-pura lagi.
"Ahhhh desahku lepas kencang dari mulutku. Ia senang tersenyum mendengar nikmatku. Diriku berhasil ditaklukkan oleh pembuli anakku.
"Enak kan tan.. ini baru jari lho belum titit aku yang masuk ke sini.. ucap Davin. Aku tidak tanggapi ucapannya. Ia terus mengerjaiku bahkan dia menambahkan satu jari lagi. Aku pun terpejam menikmati rasa yang nikmat ini. Maafkan mas aku sedang diperkosa tapi aku malah mulai menikmati ini.
"Hmmm.. apa ini kini ada benda lunak basah yang sedang menyentuh vaginaku. Kubuka mataku ternyata lidah Davin sedang menjilati bibir vaginaku. Ohhhh.. ini nikmat sekali ucapku dalam batin. Suamiku tidak pernah melakukan ini sambil berbaring.
"Ohhhh.. Davin erangku keenakan ketika lidah Davin menekan-nekan klitorisku yang sudah keras. Mulutnya pun mengecupi menyedot menggigit klitorisku. Rasa nikmat pun semakin menguasai tubuhku. Hendrik kenapa kamu tidak pernah melakukan ini padaku. Ohhhh.. ini sangat nikmattttttt.
Kini aku seorang ibu rumah tangga mendesah-desah nikmat karena jari-jari teman anakku keluar masuk ke lubang vaginaku dengan cepat. Jangan lupa mulutnya juga bekerja di vaginaku. Tak ayal rasa orgasme pun datang mendekati diriku.
Tak lama.
"Davinn.. tante.. dapet.. ohhhhhhh.. aku melolong panjang merasakan kenikmatan orgasme. Ini sungguh-sungguh nikmat.
Aku mendapatkan orgasme hanya dengan mulut dan jari-jari Davin. Duniaku berasa berputar merasakan puncak kenikmatan ini. Tubuhku bergetar-getar tidak karuan. Vaginaku juga mengeluarkan cairan orgasme dengan deras membasahi sela-sela pantatku.
"Hh.. hhh.. hhh.. deru nafasku berat.
"Enak tan.. jilmeknya tanya Davin vulgar sambil terus mengecupi pahaku yang mulus. Aku hanya diam.
"Tan.. galak Davin.
"He-eh singkatku.
"He-eh apa jawab teriak Davin menggeleggar.
"Iya enak Davin jawabku dengan takut. Tapi memang benar enak kok.
"Apanya yang enak ? lanjut Davin bertanya. Kali ini dia sudah tenang.
"Vagina tante Vin.. tante belum pernah ngerasain dijilat-jilat gitu.. jawabku jujur tak ingin lagi dibentak olehnya.
"Hahaha.. masa sih tan.. oh iya ini memek namanya.. coba ngomong tan.. pinta Davin.
"Memek.. ucapku geli. Tentu saja aku malu berbicara seperti itu dengan orang lain. Sebenarnya aku sudah biasa berbicara vulgar dan jorok bersama mas Hendrik biasa berkata seperti itu untuk menambah panas permainan kasur. Namun kali ini aku melakukannya dengan paksa.
"Haha.. biasain ya tan.. perintahnya.
Rasa bersalah saat mendekatiku karena mendapatkan orgasme bukan dari suamiku. Batinku berkecamuk tidak karuan. Batinku berkata maafkan aku mas semua kulakukan ini demi Daniel. Daniel maafkan ibumu nak ibu lakukan ini agar kamu tidak kenapa-kenapa.
Davin menegakkan tubuhnya sehingga aku melihat celana abu-abunya yang mengelembung besar. Aku menelan ludahku membayangkan besar kemaluan Davin. Lagi-lagi aku berpikir yang tidak-tidak. Walau begitu rasa keingintahuan terus hinggap dalam otakku. Nampaknya karena orgasme terpuaskan membuatku ingin segera disetubuhi.
"Davin please sudah ya Vin kamu sudah bikin tante bisa orgasme jangan setubuhi mama temanmu ini jangan perkosa tante mohonku kepada Davin. Meski penasaran dengan ukuran kemaluan Davin tetap saja ini salah. Aku tidak boleh mengkhianati janji suciku dengan mas Hendrik.
Davin tidak mempedulikan permohonanku. Dengan cepat ia melepas seluruh celana abu-abunya serta celana dalam. Lalu terpampanglah kemaluannya.
Astaga. Besar sekali. Panjang pula. Berurat.
Terbelalak tidak percaya anak seumurannya memiliki kemaluan sebesar itu. Milik mas Hendrik hanya setengah dari itu. Dan besarnya juga sangat jauh. Kepala penisnya sudah banjir dengan air mazi hingga tetesan jatuh ke vaginaku yang berada tepat di bawahnya.
Kemudian ia berlutut di depan selangkanganku lalu ia meletakkan penis besar di atas permukaan vaginaku. Buk bunyinya terasa berat dan keras ketika penis itu jatuh di atas vaginaku.
Aku bisa merasakan betapa keras dan panasnya penis Davin yang berada di atas vaginaku. Berbeda dengan milik mas Hendrik yang tidak sekeras ini.
"Kenapa tan kontol aku besar kan ? tanya Davin dengan bangganya. Ia menangkap mataku yang memandang takjub kemaluannya. Harus kuakui kemaluan dia memang jauh lebih besar daripada yang dimiliki mas Hendrik. Namun tak kujawab pertanyaan Davin aku tidak ingin dia besar kepala.
"Jawab !! geram Davin marah karena aku hanya diam.
"Iya besar jawabku takut.
"Apanya yang besar lanjut Davin.
"Pe-penis kamu jawabku.
"Bukan penis tapi kontol !! kembali Davin mengucapkan dengan geram marah.
"Iya kontol kamu besar Vin.. lirihku.
"Haha.. begitu dong jangan dilawan lagi nanti tante bakal sakit hati sekarang nikmatin saja ya anjur Davin. Tidak tidak aku sedang diperkosa. Aku tidak boleh terbuai dengan kenikmatan ini.
Davin menggesekkan kepala penis di bagian vaginaku sesekali kepala penisnya menyundul klitorisku yang sudah keras. Ia juga menggesekkan batang tititnya di klitorisku dengan begitu aku merasakan urat-urat besarnya yang berdenyut-denyut kuat. Diriku mengerang-erang nikmat.
Dirasa cukup basah Davin melesakkan kepala titit ke dalam lubang vaginaku.
Sempit bangetttt ini memekkkk erang Davin. Berkali-kali ia selipkan dan keluarkan kepala penis di lubangku. Sepertinya dia ingin memancing birahiku.
Aku mengerang keras merasakan lubang vaginaku yang saat ini ditembusi oleh kepala kontol Davin. Dengan perlahan penis Davin semakin masuk ke dalam vaginaku. Selama itu aku menutup mukaku dengan kedua telapak tangan.
"Bless.. aku dan Davin mendesah bersamaan saat pertemuan intim kami sudah sempurna.
Aku dapat merasakan denyut urat-urat penis Davin yang sekarang tertancap dengan sempurna. Tak hanya itu aku bisa merasakan penis Davin menyentuh bagian liang vaginaku yang belum pernah disentuh oleh mas Hendrik. Penis Davin memang luar biasa menurutku.
Sudah menguasai diri kusingkirkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahku. Kulihat Davin terpejam sambil menganga. Nampaknya dia sedang menikmati liang vaginaku yang masih sempit ini.
Sekilas aku melihat cincin perkawinanku di jari manisku. Setitik air mata keluar dari mataku. Aku menangis karena aku baru saja mengkhianati mas Hendrik dengan membiarkan orang lain masuk.
"Sudahlah jangan nangis tan anggap saja tante melakukan ini demi Daniel ucap Davin mencoba menenangkanku.
Ya aku melakukan ini semua demi anakku. Ini semua demi Daniel. Aku sebagai ibunya harus melindungi anakku. Ya itulah alasan pembenaranku.
Melihatku sudah tenang dengan tangannya Davin memegang kedua pahaku. Lalu ia menggerakkan pinggulnya dengan pelan merojok pelan liang nikmatku dengan tititnya. Hasilnya desahku membahana di ruang tamu ini merasakan batang berurat Davin menggesek nikmatnya dinding vaginaku. Pintu rahimku disundul-sundul oleh kepala penisnya.
"Ah.. ah ah desahku di setiap tumbukan kemaluan besar Davin di vaginaku.
Semakin lama genjotan penis Davin semakin cepat memuaskan. Rasa nikmat yang timbul pun semakin tidak terkira tak pernah aku merasakan rasa enak seperti ini.
Dengan Hendrik saja tidak pernah seenak ini. Maaf mas aku sudah berusaha tapi diriku malah mulai menikmati hujaman titit orang lain di vaginaku yang seharusnya hanya milikmu. Rasa bersalah mulai memudar dalam benakku.
Sambil terus menggenjot diriku pembuli Daniel ini menyingkap kaos lebar yang kupakai. Lalu ia meremas kedua buah dadaku yang masih tertutup oleh BH. Kemudian ia turunkan kedua cup BH-ku sehingga payudaraku bebas tanpa dihalangi apapun lagi. Kini kedua buah dadaku bergerak tidak karuan akibat gempuran Davin di tubuhku.
Davinn pelann ah ah sakit ia remas kedua payudaraku dengan keras hingga aku kesakitan.
Kira-kira sudah 20 menitan dia menggumuliku terasa aku bisa mencapai orgasme untuk kedua kalinya untuk hari ini. Kali ini kugapai puncak nikmat dengan disetubuhi sempurna oleh orang yang membuli anakku.
Davinn pelann tante mau orgasme akhhhh desahku panjang ketika orgasme mencapai diriku. Punggungku melengkung ke atas.
Daniel.. lihat gw bikin nyokap lu ngecrit sama titit gw racau Davin. Mendengar nama anakku sekilas rasa bersalah kembali hadir. Namun rasa puas itu kalah dengan rasa nikmat orgasme yang kurasakan ini.
"Davinn awhhhhh aku orgasme.
"Ohhh ngejepit bangsat desah Davin karena liang vaginaku meremas batang penisnya ketika aku sedang orgasme hebat. Aku pejamkan mataku merasakan orgasme yang luar biasa ini. Ini adalah orgasme terbaik yang pernah kurasakan. Anak ini benar-benar hebat.
Davin menarik diri dari tubuhku hingga penis besarnya terlepas dari jepitan lubang vaginaku. Aku merasakan diriku kosong melompong ketika penis Davin tercabut dari tubuhku.
"Lihat tan titit saya jadi lengket sama lendir tante nih kubuka mataku melihat sekujur penis Davin terbalur cairan putih yang merupakan lendir orgasme ku.
"Hh... hh.. hh.. nafasku berat.
Nikmat orgasme pun berkelanjutan angsur memudar. Pikiran rasionalku pun kembali. Tersadar apa yang baru saja terjadi. Baru saja aku mendapatkan orgasme dengan orang lain yang bukan suamiku. Kulihat kakak kelas sekaligus tukang bully anakku itu bersiap kembali untuk memacu birahi menggunakan tubuhku.
"Davin sudah ya cukup ya plis ucapku pelan memohon berharap dia menghentikan kegilaan ini.
"Belum saya saja belum keluar.
"Inget dengan janji tante kalau tidak ucap Davin menggantungkan ucapannya. Tanpa diberitahu aku tahu maksudnya.
Harapanku untuk menyudahi ini semua pun sirna. Percuma aku melawan lagi yang malah membahayakan Daniel bahkan suamiku. Mau tak mau aku pasrah dengan nasibku ini membiarkan tubuhku dinikmati oleh Davin.
"Pelan Davinn.. okhhh gedeee.. desahku ketika penis besar Davin kembali memasuki diriku.
Tanpa ancang-ancang Davin langsung menyetubuhi dengan beringas. Desahan aku dan Davin saling bersahutan suaranya memenuhi ruangan ini bahkan seluruh rumah ini.
Bermenit-menit lamanya akhirnya Davin mendapatkan orgasmenya.
"Okhnnnn tante sayaaaa mauuu keluarrr teriak Davin kencang. Mendengar itu aku sadar akan konsekuensinya kalau anak ini berejakulasi di dalam vaginaku. Ya hamil aku bisa hamil oleh pemuda ini.
"Please okhhh ja-jangan di dalamm nhghhh nanti tante nggh hamil mohonku di sela-sela genjotan ganas Davin. Aku tak mau mengandung anak dari orang yang sering menyakiti anakku.
Tapi teman anakku ini tidak menghiraukan permohonanku. Ia malah semakin beringas menggenjoti diriku sendiri. Hasilnya aku sendiri akan kembali mendapatkan orgasme lagi. Tiba-tiba Davin melolong hebat.
"Fuck gww hamilinn luu !!
Tubuhnya bergetar hebat. Aku merasakan liang rahimku disemprot cairan panas. Pada saat yang sama aku juga mendapat orgasme ku. Kembali aku merasakan kenikmatan puncak.
Davinn sialann kamuu !! hardikku keras bersamaan dengan orgasme ku.
Oh tidak aku dibuahi oleh teman anakku. Terasa liang rahimku disembur berkali-kali lahar panas Davin. Rahimku terasa penuh dan hangat.
Davin ambruk menindih tubuhku tanpa melepaskan kemaluan besarnya yang masih berdenyut-denyut. Saking banyaknya aku merasakan sperma Davin keluar mengalir dan turun membasahi lubang anusku.
Hanya deru nafas yang terdengar di ruangan ini. Aku terpejam lelah dengan penis Davin masih tertancap sempurna dalam vaginaku.
Handphoneku berbunyi. Kulihat mas Hendrik menelponku. Astaga kupersiapkan diriku untuk mengangkat telepon dari suamiku.
"Ma.. ma.. terdengar suara suamiku dari handphone ini. Mendengar suara mas Hendrik rasa bersalah semakin memuncak. Terasa pipiku kembali basah karena air mata.
"Iya pa.. ucapku berusaha tenang agar suamiku tidak tahu kalau aku sedang menangis.
"Daniel kecelakaan ma ? tanyanya panik.
"Oh nggak pa.. tadi cuma candaan teman Daniel saja bohongku ke Hendrik. Dalam hati berkali-kali aku meminta maaf kepada suamiku.
"Ya ampun masa candaan sampai bilang kecelakaan begitu sih bikin jantungan saja ujar suamiku heran. Rupanya dia percaya dengan kata-kataku.
"Iya paa.. namanya candaan anak zaman sekarang sudah aneh-aneh.
Sudah ya pa.. mama.. mau bersih-bersih rumah dulu lanjutku berbohong. Padahal mas istrimu ini mau membersihkan tubuhnya karena habis diperkosa oleh teman anakmu.
Selesai menutup telepon aku berdiri merapikan diri seadanya saja. Ingin segera meninggalkan tempat terkutuk ini.
"Davin kamu harus pegang janji kamu. ucapku masih tersedu-sedu.
Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Apakah aku baru saja membiarkan diriku diperkosa olehnya dengan tujuan yang fana.
"Kamu kan tadi janji tidak akan membuli Daniel lagi.. tidak menyakiti Daniel lagi. sergahku marah sambil tetap tersedu-sedu.
"Ya aku janji gak bakal nyakitin Daniel lagi tapi ada syaratnya.
Apa syaratnya ? pikiranku menebak kalau dia pasti akan meminta diriku menjadi pemuas hasratnya.
"Aku ingin tante Vina memuaskan Davin kapanpun Davin mau tante harus mau ucap dia. Benar dugaanku.
"Kamu kenapa tega melakukan ini Vin ?
"Nggak ada alasan khusus sih aku cuma mau punya budak seks saja ucap Davin dengan biasa seolah tidak ada yang salah dengan hal itu.
Lalu aku teringat akan sesuatu.
"Polisi.. lirihku.
"Apa ? singkatnya Davin seakan malas mendengar rengekku.
"Kalau tante hamil bagaimana ? ucapku bingung sambil memegang perutku.
"Ya sudah rawat anak Davin ujar Davin biasa. Mendengarnya aku menjadi pucat pasi. Tapi daripada aku benar hamil olehnya lebih baik aku segera pulang dan membeli obat anti hamil.
"Tapi tunggu sebentar ujar Davin sambil memasang celananya kembali. Dia melihatku dengan dalam. Hal itu membuat diriku bergidik ngeri.
"Apa Davin ? tanyaku pelan berharap dia tidak meminta yang aneh-aneh lagi.
"Saya pengen tante hamil anak saya mendengar permintaan itu aku bagai tersambar petir. Anak muda ini ingin aku hamil olehnya.
"Dan itu bukan permintaan tapi perintah kalau tidak ucap Davin menggantung.
"Kalau tidak kenapa ? tanyaku penuh cemas.
"Ya tahu lah nanti kenapa kalau tante tidak patuh sama Davin ujar Davin dengan misterius. Kuduga pasti ada urusan dengan Daniel. Mengetahui siapa ayah Davin aku tidak mau mengambil risiko. Aku tidak ingin Daniel dan Hendrik celaka.
"Terus suami tante gimana tanyaku bingung.
"Itu urusan tante bukan urusanku galak Davin. Aku kembali menangis sejadi-jadinya dipaksa hamil oleh pemuda ini.
Hari sudah sore menjelang malam aku pulang diantar oleh Davin menggunakan mobilnya. Selama perjalanan aku hanya diam seribu bahasa. Davin kubiarkan mengelus pahaku. Pikiran berkecamuk bingung bagaimana menyiasati keadaan ini.
Sebelum turun dari mobil aku pastikan diri sudah rapi dan tidak terlihat sedih lagi. Tak ingin Daniel curiga dengan apa yang telah kulakukan selama ini.
"Sebelum aku turun dari mobil Davin berpesan padaku.
"Inget ya Tan ikuti perintah Davin kalau ngelanggar nanti orang-orang tercinta tante yang akan menanggung akibatnya.
Aku terhuyung lemah berjalan menuju rumahku sendiri. Pesan Davin terngiang-ngiang dalam pikiranku. Hamil aku akan hamil lagi. Di usia segini aku akan hamil anak orang lain. Ketika masuk aku dapati Daniel sedang makan di meja makan. Dia berwajah bingung.
Mama.. dari mana tumben pulang jam segini tanya anakku heran.
Tadi mama habis ada acara dadakan Dan. bohongku.
Di mana ma.. lagi anakku bertanya.
Ya ada lah dah ya ma.. capek mau istirahat kataku ingin segera pergi dari hadapan Daniel.
Baru jam segini mama.. tapi kalau mama.. memang capek lebih baik istirahat saja.
Biar Daniel yang beres-beres malam ini ucap Daniel dengan penuh perhatian. Aku jadi terharu. Kamu memang anak yang berbakti Don. Maka dari itu ibu merelakan segalanya untuk melindungimu.
Di dalam kamar aku merenung. Aku baru saja berbicara dengan anakku ketika sperma temannya masih tertanam di dalam rahim. Aku yakin benih-benih temannya sedang berusaha memberikan dia seorang adik. Hatiku semakin terasa sakit dengan kenyataan ini.
"Pa.. Papa.. kapan pulang tanyaku sambil berusaha menahan tangis.
Maaf maa.. aku dinasnya diperpanjang ucap mas Hendrik pelan.
Mendengar itu batinku berteriak oh mas aku membutuhkan dirimu mas anakmu juga membutuhkanmu.
Tapi aku harus mengerti kalau saat ini suamiku membanting tulang demi menafkahi keluarga. Biarlah tubuhku dinikmati oleh Davin demi melindungi Daniel.
Dengan suara bergetar.
Begitu ya pa.. baiklah paa.. kalau begitu papa.. hati-hati ya di sana jangan lupa makan dan istirahat yang cukup.
"Sekali lagi papa minta maaf ya maa.. papa janji nanti akan langsung pulang kalau ada kesempatan ucap dia berjanji kepada aku.
"Iya paa.. aku tunggu ya. ucapku dengan pipi dialiri air mata.
"Iya dek sudah ya sudah malam titip salam ke Daniel.
"Iya paa.. mama.. sayang papa..
"Papa juga sayang mama.. ucap suamiku mesra.
Clek. Aku pun tersungkur memeluk diriku sendiri di atas kasur milikku dan mas Hendrik. Menangis meratapi nasibku. Padahal saat ini aku membutuhkan dia namun takdir berkata lain.
Lama aku menangis di kasur kawin ku dengan Hendrik. Tapi aku harus kuat. Aku harus kuat demi Daniel. Biarlah mas Hendrik berjibaku di sana demi mencari nafkah untukku dan Daniel.
Hari-hari selanjutnya aku jalani dengan murung. Termasuk di minggu pagi yang cerah ini. Hanya dengan memakai daster pendek selutut aku mengelap kaca jendela rumah dengan lemah. Daniel menangkap keadaanku yang terlihat murung.
"Mama kenapa ? ada masalah ya Daniel lihat dari kemarin mama.. seperti tidak bersemangat kayak ada sesuatu. tanya Daniel.
"Kamu tahu nggak sih nak kalau belum lama ini mama dipaksa bersetubuh oleh temanmu. ucapku dalam hati. Tidak mungkin aku berkata seperti itu.
"Mama.. nggak apa-apa kok sayang cuma lagi capek aja.
"Bener maa ? tanya Daniel memastikan. Melihat dia memperhatikanku dengan khawatir aku menjadi iba. Tidak mungkin aku memberitahu dia kalau aku menjadi budak seks temannya. Oh aku tahu.
"Sebenarnya bapak nggak jadi pulang minggu ini bapak diperpanjang dinasnya jawabku dengan lesu. Ya ini adalah jawaban yang tepat.
"Wah kenapa Bu tanya Daniel kembali. Terlihat ada rasa kecewa dari wajahnya. Sama nak ibu juga kecewa tapi mau bilang apa lagi.
"Nggak tahu Don ya namanya juga pekerjaan pasti ada risikonya.
"Iya sih tapi ibu tenang saja jangan khawatir kan ada Daniel yang nemenin ibu di sini ucap Daniel yang membuatku tenang dan bahagia. Demi dia aku harus kuat menghadapi cobaan ini.
"Iya sayang makasih ya sudah perhatian sama ibu ucapku terharu. Lalu aku peluk anakku Daniel pun membalas pelukannya dengan erat.
"Oh iya Bu nanti Davin mau main ke sini. Mendengar kabar buruk itu aku langsung melepaskan pelukanku dan menatap dekat Daniel.
"Mm-mau ngapain dia ke sini.
"Katanya mau main saja sih ma..
"Oh kamu kenapa masih main sama dia sih kan dia jahat sama kamu sergahku kecewa dengan Daniel yang masih berteman dengan Davin.
"Dia sudah minta maaf ma.. lagi pula dia entah kenapa berubah jadi baik sama Daniel.
"Serius dia minta maaf sama kamu ? kagetku.
"Iya ma.. kemarin di sekolah tiba-tiba dia minta maaf sama Daniel terus dia juga traktir aku banyak Bu. Ternyata Davin benar-benar memegang janjinya denganku. Kalau begini aku memang harus hamil juga olehnya.
"Kamu yakin masih mau berteman sama dia ? tanyaku memastikan.
"Iya ma.. gak apa-apa ya ma.. lagipula Daniel kan gak punya banyak teman apalagi dia kan kakak kelas terus dihormati sama orang-orang lagi jelas Daniel.
Seandainya dia tahu kalau perubahan Davin adalah karena pengorbanan ibunya.
"Baiklah Dan.. kalau memang sekarang Davin jadi berteman baik dengan kamu mama tidak ada masalah kalau dia main ke rumah. ucapku dengan berat tidak ingin mengecewakan anak semata wayangku.
Makasih ma.. mama.. cantik deh. gombal anakku karena mendapat keinginannya.
Dasar gombal.
Ya sudah sana mama.. mau bersih-bersih lagi.
Hari ini terasa berjalan sangat lamban. Rasa hatiku sangat gundah sebab sebentar lagi teman Daniel akan datang ke rumah. Ya teman Daniel yang telah memperkosaku dan memaksaku hamil.
Ketika aku sedang mencuci pakaian di halaman belakang kulihat Daniel mendekatiku.
"Maa.. ini si Davin sudah datang. ucap anakku. Lalu orang yang kubenci itu muncul dari dalam rumah.
"Halo tante.. ucap Davin seraya tersenyum manis. Karena dia berdiri di belakang Daniel dia mengelus selangkangannya di depanku. Seolah-olah menunjukiku atau menggodaku. Aku teringat dengan kemaluan besarnya yang sudah memberikan aku kenikmatan. Kubuang pikiran itu.
Iya anggap saja rumah sendiri ya jangan sungkan ya Davin. ucapku mencoba seramah mungkin kepada orang yang kubenci ini. Aku harus tenang dan tegar agar Daniel tidak curiga.
Kemudian mereka berdua pergi ke dalam rumah. Sebelum mereka masuk kudapati Davin menoleh ke belakang melihat aku yang masih mencuci pakaian. Lalu ia tersenyum iblis padaku hal itu membuatku bergidik takut.
Dengan adanya Davin di rumahku aku menjadi tidak tenang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Diriku was-was akan terjadi sesuatu. Namun setidaknya aku bisa tenang karena Daniel tidak kenapa-kenapa lagi. Dan juga menurutku Davin tidak senekat itu melakukan hal yang gila ketika ada Daniel.
Namun sayang dugaanku itu salah. Ya saat ini aku sedang dipeluk Davin dari belakang. Dia menyergapku ketika aku sedang mencuci piring. Dari belakang ia meremas kedua dadaku yang masih tertutup daster.
Nghhhh Vin byyyy erangku ketika Davin mengendus tengkukku. Geli rasanya.
"Byyyy.. tante mohon jangan di sini ada Daniel nanti ketahuan ucapku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Davin. Tapi anak muda ini terlalu kuat.
Davin pernah bilang apa ucap Davin dingin di telingaku. Terasa hembusan nafasnya di tengkuk leherku. Aku langsung mengendurkan rontaanku.
"Tante mohon jangan di sini Vin tante takut Daniel nanti tahu. desakku kepada Davin.
Sudah tidak apa-apa percaya sama Davin ya ucap Davin dengan tenang namun tetap membuat takut diriku sendiri.
Sekilas aku memikirkan keselamatan Daniel. Mau tak mau aku ikuti kemauan dia. Ia pun menuntunku ke kamar mandi ruang tengah. Davin langsung menyuruhku bersimpuh di depannya. Aku mengerti apa yang dia mau. Ia mau aku memberikan oral seks.
"Buka Tan !! perintah Davin.
Kupandangi selangkangan Davin. Seperti kemarin gundukan di celana jeans itu terlihat besar. Aku buka celana jeansnya serta celana dalamnya.
Kini wajahku hanya berjarak beberapa senti dari batang penis Davin yang masih terbaring namun tetap lebih besar dari milik mas Hendrik ketika sudah ereksi. Diriku masih penasaran mengapa anak seumurnya memiliki kemaluan sebesar ini. Dan juga uratnya bertebaran di sekujur batang penisnya dan terlihat besar-besar seperti berotot. Aku tidak yakin apakah aku bisa memasukkan semuanya ke dalam mulutku.
Aku mendongak menatap Davin dengan iba berharap belas kasihan.
Ayo isep singkat Davin. Nampaknya percuma kalau aku menolak. Teringat dengan ucapan Davin kemarin lebih baik aku melayani dia. Tanpa membuang waktu lagi kuraih batang penis Davin. Terasa panas dan keras meski masih belum ereksi dengan sempurna. Satu telapak tangan tidak bisa menutupi lingkaran penis Davin. Aku ingin segera menuntaskan ini semua dengan cepat agar Daniel tidak curiga.
Cuuh kuludahi batang penisnya. Clek cleek cleek lalu aku naik turun kedua tanganku mengocok penis Davin. Sekali aku sertai kocokan dengan gerakan memutar. Urat-urat yang besar itu sangat terasa di telapak tangan.
Lama kelamaan penis semakin tegang. Davin pun mendesah-desah akibat kocokan.
Di isep dong tan pinta Davin.
Aku sudah sering memberikan suamiku oral seks. Dan dia selalu memuji kemampuanku dalam memberi BJ. Jadi sudah tidak ada lagi masalah untuk urusan ini namun kali ini penis yang akan dimasukkan ke dalam mulutku sangatlah besar.
Kujulurkan lidahku menjilati batang keras ini. Urat-urat besarnya kutelusuri dengan lidahku yang basah. Tak ayal Davin mengerang enak. Mendengar itu aku malah senang membuktikan aku bisa memuaskan pria.
Aneh pikirku harusnya aku tak menikmati melakukan ini. Namun aku ketagihan menjilat urat-urat besar di sekujur titit Davin. Lidahku terus menjilati sisi-sisi batang penisnya.
"Ishhh.. penismu besar sekali sih Vin ucapku memujinya agar dia senang.
"Kontol tan.. kontol ucap Davin sedikit marah.
"Iya.. iya.. kontol deh.. kontol kamu besar banget ucapku sambil terus mengurutkan kontolnya dengan kedua tangan.
"Hehehe.. suka ya.
"Iya suka.. eh astaga aku secara tidak sadar menjawab seperti itu. Mukaku terasa panas dan merah malu.
"Kalau begitu di sepong dong. pintanya.
Tak segan lagi kubuka mulutku lebar-lebar untuk menampung tititnya. Happ mulutku hanya menampung seperempat. Dengan kepala penisnya berada di dalam mulutku kutatap sayu mata Davin. Lidahku menjilat kepala tititnya yang besar mengilik lubang kencingnya. Pre-cum Davin pindah ke lidahku dan kutelan.
"Ohhh tante seksi banget sih. ucap Davin. Upayaku untuk terlihat sensual berhasil. Harus kupertahankan agar dia cepat ejakulasi.
Kumaju mundurkan kepalaku mengocok kemaluan besarnya dengan mulutku. Dengan kepala penisnya berada di dalam mulutku kutatap sayu mata Davin. Sedangkan tangan kedua mengocok batangnya yang tidak masuk ke dalam mulutku.
Selama menghisap titit Davin aku berkonsentrasi untuk tidak memikirkan Daniel dan mas Hendrik. Aku tidak ingin rasa bersalah hinggap di pikiranku. Yang ada di dalam pikiranku adalah memuaskan titit Davin dengan cepat.
Tapi aku penasaran apa yang terjadi kalau Daniel tahu bila mulut ibunya disumpal oleh titit temannya di rumah sendiri. Membayangkan itu aku bergidik. Entah bergidik ngeri atau terangsang sepertinya aku merasakan kedua-duanya. Harus kuakui selama menghisap titit besar ini celana dalamku terasa lembab. Vaginaku mengeluarkan cairannya kembali ingin dijejali oleh kemaluan besar ini. Aku terlanjur menikmati ini.
Bermenit-menit sudah lewat aku mengoral titit ini terasa semakin besar dan berdenyut kuat. Berarti sebentar lagi titit ini akan mengeluarkan isinya.
Oghhh aku mau keluarrr telen tan telan pejuku erang Davin keras. Lalu kutahan kepala penisnya di dalam mulutku.
Gila enak banget tannn aku keluarrr oghhhh.
Terasa dinding tenggorokanku berkali-kali terpa cairan panas. Aku mengernyit di setiap semburan sperma Davin di dalam mulutku menghantam dinding atas mulut. Saking banyaknya aku harus menelannya. Karena terlalu derasnya sperma Davin yang keluar tak ayal ada yang keluar dari mulutku membasahi bibir dan daguku.
Aku tidak menyangka spermanya menjadi sangat banyak dan begitu kental. Apalagi enak. Aku sebenarnya jarang menelan sperma mas Hendrik bahkan aku terkadang menolaknya. Seumur hidup sperma mas Hendrik tidak sekental dan tidak sepekat Davin.
Davin menarik tititnya dari mulutku. Dengan tangan aku membersihkan sisa sperma yang tertinggal di sekujur titit.
Kamu memang pinter muasin laki-laki tan ucapnya seraya membelai kepalaku. Aku tersipu mendengar pujiannya.
Aku nggak nyangka tante enak juga nyepongnya ucap Davin sambil merapikan celananya. Sejujurnya aku senang mendengar pujian itu. Maaf mas Hendrik ada lelaki lain yang memuji kehebatan istrimu ini dalam menghisap kelamin.
Hari ini aku mejuhin mulut tante saja lain kali aku ngecrot di memek tante lagi ya ucap Davin. Aku hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Aku sudah pasrah menerima keadaanku ini. Selama Daniel tidak kenapa-kenapa aku serahkan raga ini untuk Davin. Sampai hamil pun aku terima.
Oh iya nanti tolong WA-in nomor rekening tante ya ucap Davin.
Untuk apa tanyaku tidak mengerti.
Dia tidak menjawab pertanyaanku hanya senyuman yang kuterima. Apa dia akan melakukan sesuatu.
Setelah bersih-bersih aku dan Davin keluar secara bersamaan dari kamar mandi. Dan sialnya aku melihat Daniel yang terbelalak kaget melihat kami.
Loh ibu sama Davin habis ngapain di kamar mandi ucap Daniel yang memergoki kami.
Eh anu tad-tadi aku terbata-bata tidak tahu harus menjawab apa. Tidak menyangka akan menjadi begini.
Tadi kloset kamar mandi mampet Don jadi gw minta tolong sama nyokap lu jawab Davin mengelabui temannya. Pintar juga Davin menurutku itu alasan yang masuk akal.
Oalah begitu toh pantes timpang banget gw tungguin dari tadi ucap anakku. Melihat Daniel percaya aku menjadi tenang.
Bu itu di bibir ibu ada cairan putih itu apaan seketika jantungku berhenti. Ternyata sperma Davin ada yang tertinggal di sela-sela bibirku.
Oh ini tadi ibu habis makan kue isi krim kujawab sambil kuseka sperma Davin dengan jari. Lalu kumasukkan jari tersebut ke dalam mulutku. Kuemut bibirku seolah menggoda anakku kalau aku menghabiskan sesuatu yang enak.
"Hmmm.. enak tapi sudah habis Dan godaku. Ini terpaksa kulakukan agar Daniel percaya.
"Akkh.. ibu gak bagi-bagi Daniel deh pelit rengek anakku.
"Hihihi kapan-kapan ibu beliin deh ucapku. Kalau saja dia tahu krim putih ini adalah sperma temannya. Seandainya dia tahu yang kumaksud dengan kue isi krim adalah titit teman lebih tepatnya pembulinya. Dan seandainya dia tahu saat ini lambung ibunya penuh dengan peju kental temannya. Tapi kalau dia tahu dia juga harus mengerti alasan sperma orang yang membulinya ada di dalam tubuhku yaitu demi melindungi dirinya.
Dah yuk Don kita main lagi ajak Davin ke Daniel. Lalu mereka pergi meninggalkan diriku. Aku sadar sejak dari kamar mandi aku selalu menyebut titit bukan penis. Nampaknya aku mulai terbiasa berbicara vulgar di depan orang lain selain dengan mas Hendrik.
Ada apa dengan diriku sendiri. Harus kembali mengingatkan diriku semua ini kulakukan demi Daniel. Aku tidak boleh terbuai. Kembali aku melanjutkan rutinitasku dengan lambung penuh dengan peju kental Davin.



Komentar
Posting Komentar