Langsung ke konten utama

Draft Kurir Paket Erotis

By : Analconda13

Dulu aku menganggap hidup dikota metropolitan sangatlah nikmat. Karena semua hal yang dibutuhkan bisa didapat dengan muda. Namun setelah beberapa tahun lulus sekolah dan merantau ke kota Surabaya. Barulah aku menyadari kalau kehidupan dikota besar tak seindah yang kubayangkan selama ini. Bagaimana tidak dikota besar ini aku harus tinggal disebuah kamar kontrakan kecil yang pengap dan panas. Selain itu aku juga harus bekerja dari pagi hingga larut malam guna membiayai semua kebutuhanku termasuk membayar biaya kontrakran kamar.

Belakangan ini aku memilih untuk kerja sebagai kurir paket online. Selain pekerjaan lebih santai daripada pekerjaanku sebelumnya yang hanya menjadi kuli bangunan. Aku juga bisa menghilangkan sedikit kejenuhan dalam bekerja karena setiap hari bisa bertemu banyak pelanggan yang membeli barang secara online.
Kuakui akhir akhir ini aku lebih sering mengantar paket untuk kawasan komplek perumahan di Surabaya yang banyak di huni etnis tionghoa. 

Pagi itu cuaca Surabaya memang panas menyengat. Aku memarkir motor di depan pagar rumah mewah yang sudah beberapa kali aku kunjungi untuk mengantar paket. Keringat sudah membasahi jaket ojolku. Paket kali ini lumayan besar dengan plastik hitam tebal. Dari labelnya jelas terbaca nama barang yang cukup asing seperti lingerie dildo dan lainnya.

Aku menekan bel. Tak lama kemudian Pak Pardi muncul dari samping rumah sambil membawa gunting tanaman. Kemeja lusuhnya basah oleh keringat. Wajahnya yang sudah agak tua tapi masih bersemangat nampak tersenyum ramah saat melihatku.

"Eh.. ternyata lu lagi Fahri ? Hari ini paketnya gede banget.. Kata Pak Pardi sambil membuka pagar.

"Iya pak.. ini buat Mbak Evelina. Jawabku.

"COD nggak? Tanya Pak Pardi sambil mengambil paket tersebut.

Aku menggeleng sambil memberikan paket itu. "Udah dibayar online. Bapak langsung terima aja. Kataku.

Dia melirik label paket sebentar lalu tersenyum kecil dengan ekspresi yang agak tahu. "Lagi-lagi yang begituan ya… Mbak Evelina emang sering order online model beginian.

Aku pura-pura polos tapi penasaran. “Beneran ya Pak ? Barangnya… erotis gitu ?

Pak Pardi tertawa pelan. suaranya rendah supaya nggak kedengaran ke dalam rumah. Dia mendekat sedikit sambil memegang paket.

“Iya. Kadang lingerie, kadang alat getar, kadang yang lebih aneh lagi. Saya yang sering terima sih. Majikan saya itu… cantik banget, masih muda tapi suaminya jarang pulang. Kerja di luar kota terus. Kasian juga kadang liar dia kesepian padahal baru lima bulan menikah. 

Aku mengangguk, berusaha menahan senyum. “Cantik banget ya Pak ? Mana masih muda lagi katanya.

Pak Pardi nyengir lebar, matanya berbinar nakal. “Cantik banget bro... Cina.. Kulit putih.. badannya langsing tapi berisi soalnya rajin senam dirumah. Tiap keluar rumah sering banget pake baju seksi... Ya maklumlah namanya juga istrinya orang kaya. Tapi sayang… kalau di rumah sendirian mulu. Makanya sering order barang begini buat nemenin kali. Haha..

Dia mengusap paket hitam itu pelan, lalu melirik ke arah pintu rumah. “Kadang saya mikir, cewek secantik itu kok harus puas sama mainan doang. Tapi ya sudahlah… urusan majikan.

Pak Pardi lalu menepuk bahuku ringan. “Makasih ya Dimas, rajin anter ke sini. Hati-hati di jalan. Besok-besok kalau ketemu lagi kita ngobrol lebih lama.

Wanita chindo yang seksi itu membawa paket masuk ke dalam rumah sementara aku kembali ke motor dengan pikiran yang sudah mulai liar. Bayangan Evelina yang cantik sendirian di rumah besar sering memakai barang-barang dari paket yang aku antar. Itulah awal mula rasa penasaran aku yang kemudian berkembang jadi lebih dalam.

Beberapa hari setelah pertemuan singkat itu aku kembali mendapat order untuk alamat yang sama. Kali ini paketnya lebih besar dibungkus rapi dengan plastik hitam tebal. Dari labelnya aku sudah bisa menebak isinya barang yang pasti bikin orang malu kalau ketahuan orang lain. Jantungku agak berdegup lebih kencang dari biasanya saat aku memarkir motor di depan pagar rumah mewah di kawasan elite Surabaya itu.

Pagi itu cuaca lagi panas sekali. Keringat sudah membasahi jaket kurirku yang warnanya sudah mulai pudar. Aku menekan bel dan menunggu seperti biasa. Biasanya dalam hitungan detik Pak Pardi bakal muncul dengan sapu atau gunting tanaman di tangan. Tapi kali ini hening agak lama.

Baru setelah bel kedua pintu utama terbuka. Evelina keluar sendiri. Kali ini dia memakai daster rumah motif bunga yang longgar tapi bahannya tipis sekali sampai samar-samar kelihatan garis tubuhnya. Rambutnya agak acak-acakan seolah baru bangun. Usianya mungkin baru 27 atau 28 tahunan. Kulitnya putih bersih khas perawatan mahal.. mata sipit yang tajam dan bibirnya penuh dengan warna alami.

“Oh.. kamu lagi.. Katanya pelan dengan suara lembut tapi ada nada mengantuk yang manja. Dia melangkah mendekat ke pagar. Kakinya yang putih dan halus terlihat jelas karena dasternya agak pendek. 

"Pak Pardi lagi ke pasar beli kebutuhan. Kamu namanya siapa ya ?

“Aku Dimas cii... Jawabku sambil berusaha menjaga nada suara tetap biasa meski tenggorokanku terasa kering. Aku ulurkan paket itu. “Ini paketnya. Totalnya sudah dibayar online.”

Evelina mengambil paket itu dengan kedua tangan. Jari-jarinya yang lentik tanpa sengaja menyentuh punggung tanganku sebentar. Dingin. Wangi sabun mandi floral langsung tercium. Dia melirik label paket sekilas lalu tersenyum kecil senyum yang seolah tahu aku sudah menebak isinya.

"Makasih ya Dimas. Kamu rajin banget.. selalu cepet anter barang pesananku.. Kata Evelina sambil menatapku agak lama. 

"Emangnya kamu gak capek apa kerja jadi kurir gini.. kan harus panas-panasan tiap hari.

Aku garuk-garuk kepala agak kikuk.

"Namanya kerja lapangan pasti capek lah cii.. tapi mau gimana lagi. Tapi kalau dibandingin sama kerja waktu jadi kuli bangunan mah ini lebih enak cii.. soalnya bisa keliling kota ketemu orang-orang.. 
Jawabku.

Dia mengangguk pelan. Lalu seperti teringat sesuatu dia bilang.

"Yah udah.. aku liat kayaknya kamu capek banget ya.. kamu tunggu di sini dulu ya. Aku ambil minum dingin buat kamu. Hari ini panas banget.. 

Sebelum aku sempat menolak dia sudah berbalik masuk ke dalam. Aku berdiri di depan pagar dengan mata tidak bisa lepas dari kulit punggungnya yang halus dan mulus. Maklumlah namanya juga istri orang kaya udah gitu amoy lagi.. udah pasti badannya selalu dirawat. Beberapa menit kemudian dia kembali membawa sebotol minuman dingin yang menyegarkan. Dia menyodorkannya lewat celah pagar.

“Minum dulu dimas.. itu jaket ojolnya mending dibuka dulu aja kali.. biar keringatnya cepat kering.. Katanya.

Sambil minum aku berusaha mengobrol ringan.

"Ngomong ngomong enci.. Evelina sering pesan barang online ya? Kayaknya barang-barangnya spesial banget ya.. Tanyaku.

Dia mengangkat sebelah alis tapi bukan marah. Malah ada tawa kecil yang tertahan.

“Kamu perhatiin juga ya? Kebanyakan cewek sekarang emang lebih nyaman beli online. Nggak malu-malu lagi.. 
Katanya sambil menatapku dalam. “Kamu sendiri? Punya pacar nggak Dimas?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Aku hampir tersedak es tehnya.

“Belum cii.. Sibuk kerja. Lagian di kontrakan kecil mana ada yang mau.. 
Jawabku.

Evelina menggigit bibir bawahnya sebentar lalu tersenyum tipis.

“Kasian. Padahal… cowok yang rajin kayak kamu pasti banyak yang suka.. 

Dia tidak langsung masuk setelah itu. Kami mengobrol sebentar tentang cuaca Surabaya yang panas macet dan hal-hal ringan sampai akhirnya dia bilang.

“Lain kali kalau anter paket lagi kalau Pak Pardi nggak ada langsung pencet bel aja. Aku jarang keluar rumah.. aku lebih suka santai di rumah sendirian..


Sebelum aku pamit naik motor, dia tambahin pelan. "Hati-hati di jalan ya.. bang.

Sepanjang hari itu aku tidak bisa konsen. Bau parfumnya senyumnya dan cara dia bilang namaku masih nempel di kepala. Malamnya di kontrakan pengap aku malah kepikiran dia dan paket-paket erotis yang sering aku antar.

Malam itu setelah mandi air dingin di kamar kontrakan yang pengap aku tidak bisa tidur. AC rusak lagi dan kipas angin hanya bikin gerah. Pikiranku muter-muter ke Evelina. Senyumnya tadi pagi sentuhan jarinya yang dingin dasternya yang tipis dan paket-paket yang aku antar selama ini.

Aku membuka HP lalu scroll mencari nomornya. Dari aplikasi kurir kadang nomor pelanggan muncul kalau ada catatan khusus. Untungnya nomor Evelina tersimpan. Jari aku gemetar sebentar di atas layar. Sudah jam 11 malam. Berani-beraninya aku mengetik pesan.

"Cii.. Evelina maaf ganggu malam-malam. Ini Dimas kurir yang sering anter paket ke rumah enci. Ketikku lalu langsung kirim.

Lima menit kemudian centang biru. Dia online.

“Iya ada apa Dimas?.. Balasnya. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku menelan ludah lalu mengetik pesan yang sudah aku susun berulang-ulang di kepala.

“Kayaknya enci sering beli barang gituan ya… Emang gak puas sama suaminya? Kirimku nekat. Dia langsung online lagi. Dia mengetik berhenti lalu mengetik lagi. Aku menunggu dengan napas tertahan.

“Maksud abang apa sih? Balasnya. Aku tersenyum kecil merasa agak nakal. Tanganku makin berani.

“Itu loh barang yang suka enci pesen online. Enci kan sering beli baju seksi sama alat bantu seks… hehe. Pasti enci sering pake gituan ya? Ketikku.

Layar HP diam beberapa detik. Centang biru. Dia mengetik lama. Aku membayangkan dia lagi gigit bibir atau pipinya merah di kamar mewahnya.

“Kamu berani sekali ya nanya hal kayak gini. Gimana kamu bisa tahu? Kamu buka paketnya? Balas Evelina.

"Nggak kok cii.. Cuma baca dari nama barang di label paketnya. Aku sering anter jadi kebiasaan baca. Maaf kalau lancang… tapi penasaran aja. Cewek secantik enci.. kok sampe butuh alat bantu. Emang suaminya jarang di rumah ya? Ketikku. Dia balas lebih cepat sekarang.

“Iya sih.. Suamiku sering dinas ke luar kota. Kadang berbulan-bulan. Kamu… nggak takut aku lapor ke kantor kurir kamu?.. 
Balas Evelina.

Aku langsung deg-degan. Tapi dari nada chatnya sepertinya dia tidak marah. Malah ada emoji muka malu-malu.

“Takut sih. Tapi enci kan orangnya kelihatan baik. Lagian… aku cuma nanya jujur. Enci cantik banget masih muda. Pasti banyak yang mau. Tapi kalau suaminya jarang ada… kayaknya wajar lah kalau butuh kepuasan sendiri.. Balasku.

“Hehe kamu ini kurir atau playboy sembunyi-sembunyi? Memang iya… kadang bosan sendirian. Alat-alat itu membantu. Tapi… nggak seenak aslinya sih.. 
Balasnya.

Pesan terakhir itu bikin darahku panas. Aku duduk di kasur kontrakan yang reyot dengan HP di tangan. Aku membayangkan Evelina lagi rebahan di kamarnya yang dingin ber-AC mungkin masih pakai daster tipis yang tadi.

"Enci.. pernah coba yang asli dari orang lain? Atau masih setia cuma sama mainan?.. 
Ketikku.

Lagi-lagi jeda. Kali ini lebih lama. Aku menunggu dengan jari kakiku gelisah.

“Kamu kepo banget sih… Belum pernah. Aku takut ketahuan. Tapi… ngobrol sama kamu malam-malam gini malah bikin aku mikir hal-hal aneh.. Balas Evelina.

Aku tersenyum lebar di kegelapan kamar. Percakapan ini baru mulai tapi sudah terasa beda. Evelina yang tadinya cuma pelanggan misterius sekarang lagi chat mesra sama aku kurir paket biasa.

Malam itu kami masih lanjut ngobrol sampai hampir jam 1. Topiknya makin panas pelan-pelan. Dia cerita sedikit tentang kesepiannya aku cerita tentang kehidupan kontrakan yang susah. Tapi di balik kata-kata itu ada ketegangan yang jelas terasa.

Seminggu berlalu sejak chat malam itu. Kami masih saling kirim pesan hampir tiap malam kadang ringan kadang makin panas dan berani. Evelina ternyata suka digoda lewat kata-kata meski dia selalu pura-pura malu. Aku semakin sering mendapat order ke rumahnya.

Suatu sore yang panas aku mendapat order COD lagi ke alamatnya. Paketnya lumayan besar dan ringan. Begitu sampai aku menekan bel. Kali ini Evelina yang langsung keluar. Dia memakai kaos oversized longgar dan celana pendek rambut diikat asal. Senyumnya manis saat melihat aku.

"Ehh.. ternyata kurirnya kamu lagi ya Dimas ? Masuk dulu ini COD kan? Aku ambil uangnya di dalam.. 
Katanya santai sambil membuka pagar lebar.

Aku ragu sebentar tapi akhirnya ikut masuk. Rumahnya mewah dan AC dingin langsung menyambut. Dia mengajak aku ke ruang tamu yang luas dengan sofa empuk dan aroma parfum yang familiar.

“Tunggu sini ya.. Katanya. Tapi sebelum pergi ke kamar dia malah duduk sebentar di sebelahku lalu membuka paket itu di depanku. “Boleh lihat dulu? Aku mau cek barangnya.. 

Plastik hitam robek pelan. Keluarlah lingerie merah menyala model babydoll super seksi transparan di bagian dada dan pinggul dengan tali tipis dan rok pendek yang hampir tidak menutup apa-apa. Evelina mengangkatnya dengan dua jari memperlihatkannya ke aku sambil tersenyum nakal.

"Aku mau coba langsung deh. Mau tau pas apa nggak di badan. Kamu tunggu di sini ya nggak lama kok.. 

Dia berjalan ke kamar utama yang pintunya tidak ditutup rapat. Aku duduk di sofa tapi pikiranku langsung liar. Bayangan dia memakai lingerie merah itu tubuh putih mulusnya yang terbalut kain tipis transparan payudaranya yang montok pinggulnya yang menggoda.

Lima menit berlalu. Aku tidak tahan. Nafsu sudah naik sampai kepala. Diam-diam aku berdiri berjalan pelan mendekati kamar. Pintu sedikit terbuka. Dari celahnya aku bisa lihat Evelina sedang berdiri di depan cermin besar membelakangiku. Lingerie merah itu sudah melekat sempurna di tubuhnya. Kain tipis itu hampir tidak menutup apa-apa putingnya samar terlihat bokongnya yang bulat kencang hampir terekspos. Aku mendorong pintu pelan masuk tanpa suara.
Tiba-tiba aku menyergap dari belakang. Evelina terkejut tubuhnya menegang.

“Dimas?! Kamu.. !! Katanya kaget.

Aku cepat membekap mulutnya dengan satu tangan. Tangan satunya langsung melingkar di pinggang rampingnya dan menarik tubuhnya ke belakang menempel ke dadaku. Dia pura-pura melawan menggeliat tapi gerakannya lemah dan malah bikin pantatnya bergesekan ke selangkanganku yang sudah mengeras.

“Shhh.. Bisikku di telinganya dengan suara parau karena nafsu. Aku mendorong tubuhnya ke tembok di samping cermin. Payudaranya yang montok tertekan ke dinding kamar.

Aku melepaskan bekapan mulutnya sedikit lalu langsung kulumat bibirnya dengan kasar. Ciuman panas lidahku menyusup masuk menjilat dan menghisap bibir bawahnya yang penuh. Evelina mengerang pelan di dalam ciuman.. tangannya mencengkeram lenganku pura-pura mendorong tapi malah menarik lebih dekat.

Tangan kananku turun meremas payudaranya yang montok dan kenyal dari balik lingerie tipis itu. Aku remas kasar jari-jemariku menjepit putingnya yang sudah mengeras. Kain merahnya licin di bawah telapak tanganku.

"Enci seksi banget pake baju ginian.. 
Bisikku serak di sela ciuman sambil terus meremas payudaranya bergantian. “Dari dulu aku bayangin Enci pake ini… sekarang beneran lebih gila dari bayangan.. 

Evelina menggigit bibir bawahku pelan napasnya tersengal.

“Kamu… berani sekali… masuk ke kamar orang… ahh.. Katanya sambil tubuhnya menggeliat saat aku gesekkan tubuhku ke belakangnya. Selangkanganku yang keras menekan bokongnya yang hampir telanjang. Tangan kiriku turun ke paha mulusnya naik pelan ke bawah lingerie. Ruangan yang dingin itu sekarang terasa panas. Napas kami berdua memburu.

Aku semakin tidak bisa menahan diri. Dengan napas memburu aku seret Evelina kasar ke arah meja rias besar yang ada cermin lebar di atasnya. Tubuhnya yang ringan mudah aku tarik. Aku posisikan dia membungkuk di depan meja kedua tangannya terpaksa bertumpu di permukaan meja rias yang dingin.

Dari belakang aku menempelkan tubuhku rapat. Ciuman panas aku jatuhkan di tengkuknya leher putih mulusnya sambil tangan kananku terus meremas payudaranya yang bergoyang-goyang dari balik lingerie merah tipis. Tangan kiriku menjelajah ke bawah mengusap paha dalamnya yang halus.

“Enci… sange ya sekarang?.. 
Bisikku serak di telinganya sambil menggigit pelan cuping telinganya. “Dari tadi pura-pura melawan tapi badannya udah panas gini.. 

Evelina menggigit bibirnya kuat mencoba menahan erangan. Tapi saat jari-jariku menyentuh bagian dalam pahanya yang sudah basah dia tidak bisa bohong lagi. Tubuhnya gemetar pelan pinggulnya malah mundur sedikit menggesek ke tonjolan keras di celanaku.

“Aku… ahh… Dimas… kamu nakal sekali.. 
Katanya dengan suara sudah mulai parau campur antara malu dan kenikmatan.

Aku mundur selangkah lalu jongkok tepat di belakangnya. Posisinya sekarang menungging sempurna di depan cermin. Aku bisa lihat jelas wajahnya yang memerah dan matanya yang mulai sayu dari pantulan cermin. Tangan aku naik menyingsingkan bagian bawah lingerie merah itu ke pinggangnya. Bokongnya yang bulat putih dan kencang langsung terpapar di depan wajahku. Celana dalam tipisnya sudah basah di tengah.

“Plak !! Aku tepuk pantatnya sekali keras. Bunyinya nyaring di kamar yang sepi. Evelina tersentak erangan kecil keluar dari mulutnya.

“Dimas !! Katanya.

Aku tepuk lagi pelan-pelan bergantian di kedua sisi bokongnya yang semakin memerah. Lalu aku tarik celana dalam tipis itu ke samping membuka kemaluannya yang sudah licin dan membengkak. Tanpa basa-basi lagi aku majukan wajahku dan langsung menjilatnya dari belakang. Lidahku menyapu pelan dari bawah ke atas menikmati rasa manis asin yang sudah melimpah. Evelina langsung menggelinjang hebat pinggulnya goyang tak terkendali.

“Ahh…! Dimas… jangan di situ… ahh fuck.. 
Desahnya.

Aku tidak peduli. Lidahku semakin dalam menjilat klitorisnya yang mengeras menghisap pelan lalu menjulur masuk ke dalam lubangnya yang panas dan basah. Tangan aku memegang kedua sisi bokongnya kuat-kuat menjaga dia tetap menungging di depanku. Sesekali aku tepuk lagi pantatnya sambil terus menjilat tanpa henti. Dari cermin aku bisa lihat wajah Evelina sudah tidak bisa ditahan lagi. Matanya setengah terpejam mulutnya terbuka pipinya merah padam. Tubuhnya gemetar setiap kali lidahku menyentuh titik sensitifnya.

“Enak ya Ci…? Kamu basah banget… udah lama nggak dijilatin begini ya?.. 
Gumamku di sela-sela jilatan dengan suara serak berat.

Evelina cuma bisa mendesah panjang tangannya mencengkeram pinggir meja rias sampai buku-bukunya memutih. Pinggulnya kini malah mendesak ke belakang mencari lidahku lebih dalam.

Melihat pantulan wajahnya di cermin meja rias bikin aku semakin gila. Wajah orientalnya yang cantik mata sipit yang sekarang sudah sayu penuh nafsu bibirnya yang basah terbuka dan rambut yang mulai acak-acakan membuat darahku mendidih. Evelina kelihatan sangat seksi dan rapuh di posisi menungging itu.

Aku makin berani. Dengan tangan kiri aku angkat sebelah kakinya yang kanan tinggi-tinggi menumpukannya di pinggir meja rias. Posisinya sekarang benar-benar terbuka lebar di depanku. Kemaluan yang pink dan sudah banjir basah terpapar sempurna.

Aku langsung menyerang lagi dengan lebih kasar. Lidahku menjilat vaginanya dengan kuat naik turun kasar dari klitoris sampai ke lubangnya. Aku hisap jilat dan kadang gigit pelan bibir vaginanya yang bengkak. Evelina langsung menggelinjang hebat.

“Ahh…! Dimas… pelan… ahh sialan… enakkk.. Desahnya panjang dengan suara sudah pecah.

Sambil terus menjilat aku masukkan satu jari tengahku ke dalam vaginanya yang panas dan licin. Lubangnya langsung menggigit jariku erat. Aku colok-colok pelan dulu lalu semakin cepat dan kasar. Jari kedua menyusul masuk membuat suara slosh slosh yang basah dan mesum memenuhi kamar.

Evelina mendongakkan kepalanya ke atas lehernya melengkung indah. Mulutnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan keenakan yang tidak bisa ditahan lagi.

“Uhh… ahh… iya… di situ… jangan berhenti.. Desahnya.

Pinggulnya goyang liar mengikuti gerakan jariku yang keluar-masuk cepat. Dari cermin aku bisa lihat jelas wajahnya mata setengah terpejam alisnya bertaut dan pipinya merah padam. Payudaranya yang montok bergoyang-goyang setiap kali tubuhnya bergetar.

Aku angkat wajahku sebentar napasku juga sudah tersengal. Jari-jariku masih terus colok-colok di dalamnya dengan ritme cepat.

“Sange banget ya Ci? Lihat muka Enci di cermin… seksi banget.. Kataku serak sambil menepuk pelan klitorisnya dengan ibu jari.

Evelina cuma bisa mendesah keras tubuhnya semakin gemetar. Cairannya semakin banyak mengalir di jariku dan menetes ke paha mulusnya. Kakinya yang aku angkat sudah gemetar hebat tapi aku tahan kuat-kuat supaya dia tetap terbuka lebar untukku.

Aku kembali menunduk lidahku ikut bantu menjilat klitorisnya dengan kasar sambil jari-jariku terus mengaduk di dalam vaginanya yang semakin sempit dan berdenyut. Desahannya semakin keras dan liar. Kepalanya mendongak lagi tubuhnya tegang seperti mau meledak. Tepat saat lidahku sedang menjilat klitorisnya dengan rakus dan dua jariku mengaduk-aduk di dalam vaginanya yang basah tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan pelan.

Krekk… Pak Pardi berdiri di ambang pintu mata tuanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Evelina yang masih menungging dengan satu kaki diangkat lingerie merah tersingkap dan aku yang jongkok di belakangnya dengan wajah basah cairannya.

“Waduhhh.. Gumam Pak Pardi pelan dengan suara campur kaget dan excited. “Enci kok nggak ajak-ajak saya sih.. 

Dia cepat menutup pintu di belakangnya dan mengunci dari dalam. Suasana kamar yang sudah panas semakin tegang. Aku menoleh sebentar tapi jariku masih tetap di dalam kemaluan Evelina yang berdenyut. Aku tersenyum nakal nafsu masih memuncak.

“Sini gabung aja Pak.. 
Kataku tanpa ragu dengan suara masih serak. “Enci lagi basah banget nih.. 

Pak Pardi menggaruk kepalanya yang sudah agak botak tapi matanya jelas lapar melihat tubuh majikannya yang hampir telanjang. Dia mendekat sambil melepas kaos lusuhnya.

“Gak nyangka saya… Enci kok bisa berani berbuat kayak gini sih.. Katanya sambil geleng-geleng kepala tapi senyumnya melebar. “Emang nggak takut ketahuan suaminya apa?.. 

Evelina yang masih tersengal kepalanya mendongak menjawab dengan suara parau penuh nafsu.

“Udah kamu jangan banyak tanya… Kalau mau gabung langsung aja.. 

Pak Pardi tidak perlu disuruh dua kali. Dia langsung mendekat dari samping tangan kasar dan kecokelatan langsung memegang dagu Evelina lalu melumat bibirnya dengan ganas. Ciuman mereka kasar dan lapar lidah Pak Pardi masuk ke mulut majikannya yang masih mendesah.

Aku kembali fokus ke bawah. Aku terus mainin kemaluannya dengan jari-jariku sekarang tiga jari sekaligus colok-colok semakin cepat dan dalam. Suara basah slosh slosh semakin keras. Lidahku sesekali masih menjilat klitorisnya yang sudah sangat bengkak.

Evelina sekarang benar-benar kehilangan kendali. Tubuhnya digerayangi dua pria sekaligus. Dari samping Pak Pardi meremas payudaranya yang montok dengan kasar sambil terus menciuminya dalam-dalam. Kadang tangan Pak Pardi turun ke putingnya menjepit dan memilinnya.

Dari belakang aku terus mengaduk vaginanya tanpa henti. Evelina menggelinjang hebat desahannya teredam di dalam ciuman Pak Pardi tapi pinggulnya tetap mendesak ke jariku minta lebih.

“Uhh… ahh… kalian berdua… gila.. 
Erangnya saat Pak Pardi melepas ciuman sebentar untuk menarik napas.

Pak Pardi tersenyum mesum bibirnya turun ke leher Evelina menghisap dan meninggalkan bekas merah.

“Enci emang paling enak kalau lagi begini… saya udah lama nunggu kesempatan kayak gini.. Katanya.

Aku merasakan dinding vaginanya semakin menjepit jariku kuat-kuat. Evelina sudah di ambang klimaks. Tubuhnya tegang kakinya gemetar hebat di tanganku. Dinding vaginanya semakin menjepit jariku denyutannya semakin cepat dan cairannya sudah banjir membasahi tanganku.

“Kayaknya si Enci udah gak tahan nih bro.. 
Kataku sambil menoleh ke Pak Pardi dengan napas tersengal. “Udah basah banget. Mending langsung kita genjot aja.. 

Aku berdiri buru-buru membuka resleting celana seragamku. Kontolku sudah keras banget menonjol keluar dengan ujungnya yang basah oleh precum. Pak Pardi juga ikut melepas celananya memperlihatkan miliknya yang sudah tegang meski agak lebih tua.

Tapi Evelina tiba-tiba menggeleng pelan suaranya masih parau karena nafsu.

“Tunggu bentar… Aku mau isepin punya kalian dulu.. 

Dia turun dari meja rias berlutut di lantai kamar di antara kami berdua. Lingerie merahnya sudah acak-acakan payudaranya hampir keluar dari kain tipis dan paha dalamnya mengkilap basah. Wajahnya memerah mata sipitnya penuh gairah.
Baru saat itu aku sadar betul siapa Evelina sebenarnya.

Dia memegang kontolku dengan tangan kanannya yang lembut lalu kontol Pak Pardi dengan tangan kirinya. Tanpa ragu dia mendekatkan mulutnya ke kontolku dulu. Lidahnya menjilat ujungnya pelan lalu langsung menyedotnya masuk ke dalam mulut hangatnya yang basah.

“Uhh… Enci.. Erangku sambil memegang kepalanya.

Evelina mengisap dengan rakus kepalanya maju mundur lidahnya berputar di batang dan kepala kontolku. Suara isapan basahnya terdengar mesum. Sesekali dia keluarkan kontolku menjilat seluruh batangnya sampai ke bawah lalu pindah ke kontol Pak Pardi mengisapnya bergantian dengan sama rakusnya. Sambil mengisap dia mendongak menatap kami berdua bergantian. Matanya penuh nafsu yang tidak ditutup-tutupi lagi.
Aku akhirnya berani bertanya.

“Enci… emang biasanya gini?.. 

Evelina melepaskan kontol Pak Pardi sebentar napasnya tersengal ada benang liur menghubungkan bibirnya dengan kepala kontol yang sudah basah.

“Iya… Aku hiperseks.. Katanya dengan suara serak sambil terus mengocok kontol kami berdua pelan. “Gairahku suka meledak-ledak… kadang cuma karena angin sejuk atau liat cowok lewat aja udah basah. Tapi selama ini aku tahan diri… suamiku jarang ada dan aku nggak mau cari masalah. Makanya aku sering beli mainan online… tapi nggak pernah cukup.. Dia tersenyum nakal lalu kembali menenggak kontolku dalam-dalam sampai masuk ke tenggorokannya.

“Sekarang… kalian berdua sekaligus… aku nggak mau tahan lagi.. Pak Pardi mengelus rambutnya sambil mendesah.

“Enci emang liar ya di balik kelihatan anggun.. Evelina semakin semangat. Dia mengisap lebih cepat bergantian antara kontolku dan Pak Pardi kadang mencoba memasukkan keduanya bersamaan ke mulutnya yang penuh. Air liurnya menetes ke payudaranya yang montok. Tubuhnya menggeliat sendiri satu tangannya turun ke kemaluannya mengusap klitorisnya yang masih basah.

Kami berdua berdiri di depannya menikmati mulut panas dan rakus Evelina yang ternyata sangat terampil. Pak Pardi sudah tidak tahan lagi. Matanya penuh nafsu liar yang sudah lama terpendam. Dia menarik Evelina berdiri kasar lalu menyeretnya ke ranjang mewah king-size yang ada di tengah kamar.

“Gue duluan bro.. Katanya padaku dengan suara serak. “Udah lama gua pengen ngentotin si Enci..

Dengan kekuatan tangan kasar tukang kebun dia membanting tubuh Evelina ke atas kasur. Tubuh wanita itu terpental di spring bed empuk lingerie merahnya semakin acak-acakan.

“Aduh… kasar banget Pak.. Jerit Evelina tapi suaranya campur antara kaget dan kegembiraan. Pak Pardi naik ke ranjang langsung menindih tubuh Evelina dengan berat.

“Enci… Enci hiperseks kayak lu emang doyan diperkosa kan? Bentaknya kasar sambil mencengkeram kedua pergelangan tangan Evelina di atas kepalanya. Evelina menggigit bibir bawahnya matanya berkaca-kaca tapi pinggulnya malah menggeliat di bawah tubuh Pak Pardi.

“Iya… ahh… aku suka yang kasar.. 

Pak Pardi langsung melumat bibirnya dengan ganas ciuman kasar dan penuh nafsu. Tangan kirinya meremas payudara Evelina dengan brutal menjepit putingnya keras sampai wanita itu mendesah kesakitan bercampur kenikmatan di dalam mulut Pak Pardi. Aku berdiri di samping ranjang mengocok kontolku pelan sambil menonton. Pak Pardi kemudian turun ke bawah membuka paksa kedua paha Evelina lebar-lebar. Kemaluan yang sudah basah kuyup terpapar jelas merah dan mengkilap.

“Lihat nih bro… memek Enci udah banjir banget.. Kata Pak Pardi sambil menepuk-nepuk kemaluan Evelina dengan telapak tangannya yang kasar. Plak plak plak.
Evelina menggelinjang hebat.

“Pak… masukin… aku udah gak tahan.. 

Pak Pardi tidak buang waktu. Dia posisikan kontolnya yang tegang di depan lubang Evelina lalu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat.

“Arghhh.. Evelina menjerit keras tubuhnya melengkung ke atas. Pak Pardi langsung menggenjotnya dengan ritme kasar dan cepat. Suara benturan daging plak plak plak memenuhi kamar mewah itu. Setiap hentakan membuat payudara Evelina bergoyang liar.

Pak Pardi menindihnya lebih dalam satu tangannya mencengkeram leher Evelina pelan sambil terus menggenjotnya tanpa ampun.

“Enak ya Enci? Memek lu enak banget… selama ini cuma mainan doang ya?.. 
Desisnya sambil terus menghujam. Evelina cuma bisa mendesah liar.

“Iya… ahh… lebih enak… genjot aku lebih keras Pak.. 

Aku mendekat ke sisi ranjang memegang kepala Evelina dan memasukkan kontolku ke mulutnya lagi. Sekarang dia disodomi dari dua arah sekaligus Pak Pardi menggenjot vaginanya dengan kasar dari depan sementara aku mengocok mulutnya dari samping. Tubuh Evelina yang hiperseks benar-benar kebakaran nafsu. Dia menggelinjang hebat di antara kami berdua desahannya teredam oleh kontolku di mulutnya.

Pak Pardi semakin bernafsu. Dia duduk di tengah ranjang menarik tubuh Evelina kasar ke pangkuannya. Dia angkat kedua kaki wanita itu tinggi-tinggi hingga bertumpu di pundaknya. Posisi ini membuat kemaluan Evelina terbuka lebar dan dalam. Tanpa aba-aba Pak Pardi langsung menghunjamkan kontolnya lagi dengan hentakan kasar dan dalam.

Plak! Plak! Plak! Genjotannya sangat kuat setiap kali masuk sampai pangkal. Tubuh Evelina terguncang hebat payudaranya bergoyang-goyang liar di balik lingerie yang sudah koyak di beberapa bagian.

“Ahh…! Pak… terlalu dalam… arghh.. 
Jerit Evelina tapi pinggulnya malah mendongak menyambut setiap hentakan.

Sementara itu aku naik ke ranjang kangkangi wajah Evelina dari atas. Aku pegang kepalanya dengan kedua tangan lalu memasukkan kontolku ke mulutnya yang sudah basah liur. Aku genjot mulutnya dengan kasar mendorong masuk sampai tenggorokan.

“Uhh… enak mulut Enci.. 
Erangku sambil menggoyang pinggulku maju mundur. Evelina sekarang benar-benar diisi dari dua lubang. Mulutnya penuh kontolku vaginanya dihajar Pak Pardi dengan ritme ganas. Suara isapan basah dari mulutnya bercampur dengan suara benturan daging dari bawah.

Aku lihat wajah orientalnya yang cantik dari atas. Mata sipitnya berkaca-kaca air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya tapi ekspresinya penuh kepuasan.

“Baru tau gue.. Kataku sambil terus menggenjot mulutnya kasar. “Cina seksi kayak Enci ternyata napsunya gede juga ya… sampe doyan diperkosa kayak gini.. 

Evelina cuma bisa mendesah mmmhh mmmhh di antara kontolku. Tubuhnya menggelinjang hebat. Pak Pardi tertawa kasar sambil terus menggenjotnya tanpa ampun.

“Iya bro… Enci ini memang kelihatan anggun di luar tapi di dalam ranjang dia jalang banget.. Kata Pak Pardi sambil menepuk-nepuk paha Evelina keras. Dia semakin cepat menghujam kontolnya keluar-masuk dengan suara basah yang mesum.

Posisi ini membuat Evelina benar-benar tak berdaya. Kakinya yang putih mulus tergantung di pundak Pak Pardi tubuhnya terguncang setiap kali dua kontol kami menghajar lubangnya. Cairannya semakin banyak mengalir membasahi ranjang mewah itu.

Evelina sudah di ambang klimaks. Tubuhnya tegang vaginanya menjepit kontol Pak Pardi kuat-kuat sementara mulutnya mengisap kontolku semakin rakus. Evelina akhirnya tidak tahan lagi. Tubuhnya menegang hebat vaginanya menjepit kontol Pak Pardi seperti ingin mematahkan. Kepalanya mendongak mulutnya yang masih penuh kontolku mengeluarkan erangan tertahan yang panjang dan liar.

“Aaahhh…! Aku… keluar..!! Dia klimaks dengan hebat. Seluruh tubuhnya kejang-kejang cairan beningnya menyembur keluar membasahi kontol Pak Pardi dan ranjang. Pinggulnya bergetar tak terkendali matanya melotot ke atas air liur menetes dari sudut mulutnya. Pak Pardi tertawa kasar sambil terus menghujam beberapa kali lagi sebelum akhirnya pelan-pelan menghentikan gerakannya.

“Emang beneran doyan diperkosa pribumi lu ya Ci.. 
Katanya dengan nada mengejek tapi penuh nafsu. “Baru sebentar aja udah kelojotan gini. Memek lu banjir banget.. 

Evelina masih tersengal-sengal tubuhnya lemas setelah orgasme kuat. Tapi kami berdua belum selesai. Pak Pardi menarik kontolnya keluar lalu membalik tubuh Evelina kasar ke posisi doggy. Wanita itu sekarang berlutut di atas ranjang mewah bokongnya yang bulat dan memerah terangkat tinggi kepalanya ditundukkan.

Aku langsung berlutut di belakangnya. Tangan aku memegang pinggul rampingnya yang putih lalu mendorong kontolku masuk ke dalam vaginanya yang masih berdenyut dan sangat licin setelah klimaks tadi.

“Uhh… enak banget.. Erangku sambil mulai menggenjotnya dari belakang dengan ritme kuat. Setiap hentakan membuat bokongnya bergoyang dan beradu dengan pangkal pahaku. Plak! Plak! Plak!

Sementara itu Pak Pardi berlutut di depan wajah Evelina. Dia pegang kepala wanita itu dengan kedua tangan lalu menyodok kontolnya masuk ke mulut Evelina dalam-dalam. Sekarang Evelina benar-benar dihajar dari dua arah lagi. Aku menggenjot kemaluannya dengan kasar dari belakang dalam posisi doggy sementara Pak Pardi mengocok mulutnya dari depan.

Gluck gluck gluck suara tenggorokan Evelina yang penuh terdengar mesum setiap kali Pak Pardi mendorong dalam. Aku remas bokongnya kuat-kuat sesekali menepuknya keras sambil terus menghujam.

“Enci… memek lu nendang-nendang banget… masih sange ya setelah klimaks tadi?.. 

Evelina cuma bisa mendesah mmmhh mmmhh dengan mulut penuh kontol Pak Pardi. Air matanya mengalir lagi tapi bokongnya malah didorong ke belakang menyambut setiap hantaman kontolku.
Pak Pardi tersenyum puas sambil menggenjot mulutnya lebih dalam.

“Bagus… jalangnya Enci Evelina keluar semua hari ini.. 

Aku semakin cepat menggenjotnya dari belakang tangan kiriku meraih ke depan meremas payudaranya yang bergoyang-goyang. Suara benturan daging dan erangan basah memenuhi kamar mewah itu.
Aku sudah tidak kuat menahan lagi. Genjotan kasar di vaginanya yang panas dan licin ditambah pemandangan bokong Evelina yang bergoyang setiap kali aku menghantam membuatku sampai di puncak.

“Uhh… Enci… aku mau keluar..! 
Erangku.

Dengan beberapa hentakan terakhir yang sangat kuat aku klimaks di dalam vaginanya. Kontolku berdenyut hebat menyemburkan cairan panasku jauh ke dalam rahimnya. Evelina mendesah panjang tubuhnya kembali gemetar merasakan kepuasanku memenuhinya. Aku mundur pelan napasku tersengal. Spermaku langsung menetes keluar dari vaginanya yang masih terbuka.
Pak Pardi yang melihat itu langsung bertindak. Dia jambak rambut Evelina kasar dari belakang menariknya berdiri. Wanita itu meringis kesakitan bercampur kenikmatan.

“Ayo sini Enci.. Dia seret Evelina ke meja rias lagi. Wanita itu disuruh berdiri sambil menungging ke arah meja kedua tangannya bertumpu di permukaan meja rias menghadap cermin besar.

Pak Pardi berdiri tepat di belakangnya. Dia pegang kedua pundak Evelina kuat-kuat sebagai pegangan lalu mengarahkan kontolnya yang masih keras ke vaginanya yang sudah penuh campuran cairan kami.
Dengan satu dorongan kuat Pak Pardi memasukinya lagi dari belakang.

“Ahh..! Evelina menjerit pelan tubuhnya maju ke depan karena hantaman itu.

Pak Pardi langsung menggenjotnya dengan ganas dalam posisi berdiri. Tangan kasarnya mencengkeram pundak Evelina erat menarik tubuh wanita itu ke belakang setiap kali dia mendorong maju. Suara plak plak plak kembali terdengar keras di kamar.

Dari cermin pemandangannya sangat mesum. Evelina menungging dengan lingerie yang sudah hancur wajahnya penuh air mata dan air liur mulutnya terbuka mendesah sementara Pak Pardi di belakangnya menggenjot tanpa ampun otot-otot tangannya tegang mencengkeram pundaknya.

“Enak ya Ci? Digenjotin berdiri gini.. 
Desis Pak Pardi sambil terus menghujam dalam-dalam. Setiap hentakan membuat payudara Evelina bergoyang hebat di depan cermin. Evelina cuma bisa mendesah liar.

“Iya Pak… lebih dalam… genjot aku… aku jalangnya kalian.. Aku duduk di pinggir ranjang masih setengah keras menikmati pemandangan di depanku sambil mengocok kontolku pelan. Pak Pardi semakin cepat tangannya pindah ke pinggul Evelina menariknya kasar setiap kali menghantam.

Evelina semakin bergairah. Meskipun sedang diperkosa kasar oleh Pak Pardi dia malah aktif bergerak. Pinggulnya yang bulat dan putih mulai maju mundur dengan ritme sendiri mendorong ke belakang setiap kali Pak Pardi menghujam sehingga kontol tukang kebun itu masuk semakin dalam sampai ke dasar.

Dia juga memutar-mutar pinggulnya secara sensual menggoyang seperti sedang menari di atas kontol Pak Pardi. Gerakan itu membuat sensasi semakin gila dinding vaginanya menggesek seluruh batang dan kepala kontol dengan sempurna. Plak plak plak suara benturan semakin basah dan kencang.

"Aaahh… Paaakk.. !! Erang Evelina panjang dengan suara manja dan penuh nafsu. 

"Kontol bapak enak banget… gede… panjang… gak kayak punya suami saya… ahh… lebih dalam Pak.. !!

Pak Pardi tertawa puas sambil mencengkeram pundak Evelina lebih kuat lalu ikut mendorong lebih ganas.

"Emang jalang lu ciii… selama ini enci cuma pura-pura jual mahal kan ? Padahal aslinya doyan kontol pembantu gini.. Katanya sambil menepuk bokong Evelina keras. Plaak !!

Evelina semakin liar. Dia menunduk menatap cermin melihat sendiri wajahnya yang sudah hancur karena kenikmatan. Pinggulnya terus berputar dan maju mundur dengan cepat seolah ingin menelan seluruh kontol Pak Pardi ke dalam tubuhnya.

"Iyaaa.. Pak… aku suka yang kasar… suka dikentotin sama pembantu… ahh.. genjot terus pakk… jangan berhenti.. 

Dari posisi menungging di depan meja rias tubuhnya bergoyang hebat. Payudaranya yang montok bergoyang liar di depan cermin putingnya mengeras. Cairan campuran sperma aku dan cairannya sendiri menetes ke lantai setiap kali Pak Pardi menghujam.

Aku berdiri mendekat memegang rambut Evelina dari samping dan memasukkan kontolku lagi ke mulutnya yang terbuka lebar karena desahan. Sekarang dia kembali diisi dua lubang sekaligus mulut vagina dan tangan Pak Pardi yang meremas payudaranya kasar dari belakang.

Evelina benar-benar seperti binatang dalam nafsu. Pinggulnya terus berputar dan mendesak ke belakang menikmati setiap inci kontol Pak Pardi yang lebih besar dan panjang dari suaminya. Pak Pardi semakin cepat.. napasnya memburu.

"Anjiingg... Memek lu berasa kayak ngisep ngisep kontol gue cii.. 

Pak Pardi semakin cepat menggenjot Evelina dari belakang. Napasnya memburu kasar tangannya mencengkeram pundak wanita itu begitu kuat sampai meninggalkan bekas merah. Pinggulnya bergerak liar menghantam bokong Evelina tanpa henti.

“Uuuhhh… Eeenci… Bapak mau keluar nihh.. Desisnya serak.

Tiba-tiba Pak Pardi menarik kontolnya keluar dari vagina majikannya yang sudah penuh cairan. Evelina sempat mendesah kecewa karena kosong tapi Pak Pardi langsung menarik tubuhnya turun dari meja rias.

“Berlutut dilantai cii !!! Aaakh.. Cepat.. gue mau keluarin dimuka lu..

Evelina langsung patuh berlutut di lantai kamar yang dingin.. mukanya terlihat memelas dan mendongak ke atas. Wajah orientalnya yang cantik sudah kacau riasan luntur.. bibir bengkak.. keringat kenikmatan dan rambut acak-acakan. Lingerie merahnya sudah hampir robek total.

Pak Pardi berdiri di depan wanita itu.. kakinya mengangkang. Dia kocok penisnya yang besar dan panjang dengan tangan kanan secara kuat dan cepat. Ujungnya sudah mengkilap basah.. campuran lendir kawin Evelina dan precum.

“Gue pejuin… Nih muka cina lu cii..!! 
Erang Pak Pardi dengan suara parau penuh nafsu. Beberapa detik kemudian tubuhnya menegang. Sperma panasnya muncrat keras keluar dari kontolnya.

Splurt… Splurt… Splurt… Semprotan putih kental pertama mengenai dahi dan mata Evelina. Semprotan kedua mengenai hidung dan bibirnya. Semprotan berikutnya mengenai pipi dan dagu. Pak Pardi terus mengocoknya sambil mendesah keras mengarahkan muncratan terakhir ke mulut Evelina yang terbuka.

Wajah cantik Evelina sekarang benar-benar belepotan sperma Pak Pardi. Cairan putih kental menetes dari alis.. pipi dan dagunya. Beberapa masuk ke mulutnya dan dia tanpa ragu menjilat bibirnya menelan sebagian dengan tatapan masih penuh gairah.

“Haha… Enak ya Enci? Muka majikan yang anggun dilecehin sama tukang kebun.. 
Kata Pak Pardi sambil masih mengocok pelan kontolnya yang mulai melunak meneteskan sisa sperma ke payudara Evelina.

Evelina menatap ke atas lidahnya keluar menjilat sperma yang menetes di sekitar bibirnya. Suaranya manja dan nakal.

“Iya Pak… hangat.… Kentaal… aku suka.. 

Setelah Pak Pardi selesai muncrat di wajah Evelina suasana kamar yang panas dan penuh aroma seks perlahan mulai reda. Evelina masih berlutut sebentar lalu tubuhnya ambruk lemas ke lantai. Dia tergeletak di depan meja rias napasnya tersengal-sengal seluruh tubuhnya berkilau keringat. Wajahnya belepotan sperma putih kental yang menetes ke dada dan lingerie robeknya. Matanya setengah terpejam ekspresi campur antara kepuasan dan kelelahan total.

Aku dan Pak Pardi saling pandang sebentar. Tanpa banyak kata kami mulai merapikan pakaian. Aku menarik resleting celana seragam kurirku membersihkan tangan sekilas dengan tisu di meja. Pak Pardi memakai kembali kaos lusuhnya sambil tersenyum puas masih melihat ke arah Evelina yang tergeletak.

“Terima kasih ciii… enak banget hari ini.. 
Gumam Pak Pardi pelan sambil mengusap rambut wanita itu sekali sebelum berdiri.

Evelina cuma mendesah lemah tanpa menjawab tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak. Sperma masih menetes pelan dari vaginanya dan wajahnya. Kakinya terbuka sedikit memperlihatkan bekas genjotan kami berdua.

Kami berdua keluar dari kamar pelan-pelan menutup pintu di belakang kami. Di ruang tamu suasana rumah mewah itu terasa sunyi lagi. Pak Pardi mengambil sapu seperti biasa pura-pura sedang bekerja. Aku mengambil helm dan tas kurirku.

“Bro ini rahasia kita ya.. 
Kataku pelan sebelum keluar rumah.

Pak Pardi cuma nyengir lebar.

“Tenang aja. Si Enci juga pasti nggak mau suaminya tahu.. 

Aku naik motor masih merasakan adrenalin dan aroma Evelina yang menempel di badan. Sepanjang perjalanan balik ke kontrakan pikiranku penuh dengan apa yang baru saja terjadi. Dari pelanggan misterius yang sering order barang erotis sekarang jadi wanita chindo hiperseks yang bebas kami berdua perkosa habis-habisan di rumah mewahnya sendiri.

Komentar

  1. masa cuma pada seronde hu... cina tajir gitu harus dipake beberapa ronde biar ga mubazir... ehehe.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amarah Para Buruh 14

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Pemburu Amoy Pecinan 2

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Pemburu Amoy Pecinan 3

Amarah Para Buruh 9

Amarah Para Buruh 4

Draft Barang Jarahan