Namaku Lusi. Aku gadis keturunan Chinese berusia 16 tahun sekarang dan masih sekolah di salah satu SMA swasta ternama di kota ini. Orang-orang sering bilang wajahku mirip boneka karena mataku besar bening dan kulitku putih mulus seperti porselen. Aku punya sifat ceria serta manja sekali terutama sama orang yang dekat denganku.
Sejak kecil orang tuaku sudah bercerai. Aku tinggal bersama ayah saja karena ibu memilih pergi. Menurut ayah ibu berselingkuh dengan pria lain lantaran tak tahan melihat kondisi ekonomi keluarga yang hancur. Dulu ayah memang pengusaha sukses tapi usahanya bangkrut karena suatu masalah besar sehingga rumah tangga mereka semakin runyam dan tak harmonis lagi.
Ibu akhirnya lebih tertarik pada salah satu teman bisnis ayah dulu dan ia benar-benar tak peduli lagi pada keluarga kami. Ayah sebenarnya orang baik dan selalu memperhatikanku serta merawatku dengan penuh kasih sayang. Tapi sejak aku berumur 15 tahun perilaku ayah mulai berubah. Ia semakin sering pergi minum-minum bersama teman-temannya di luar dan selalu pulang larut malam. Aku sering merasa kesepian sendirian di rumah menunggunya datang.
Usaha baru yang sudah ayah rintis bertahun-tahun akhirnya gagal lagi sehingga membuatnya semakin menderita. Aku sebagai anak sudah berusaha menasihatinya supaya ia tak terlalu memikirkan masalah itu tapi nasihatku tak pernah digubris. Padahal aku sangat kasihan melihat penderitaan batin ayah yang harus mengurus rumah tangga seorang diri tanpa istrinya.
Semakin lama ayah sepertinya semakin stres dengan segala permasalahannya hingga sikapnya berubah drastis. Belakangan ini ia menjadi sangat posesif terhadapku dan selalu membatasi semua kegiatanku di luar rumah. Bahkan aku dilarang punya hubungan dekat dengan laki-laki manapun. Setiap hari ia memantau ke mana aku pergi dan apa yang aku lakukan sampai aku merasa semakin tertekan. Aku tak mengerti kenapa ayah tiba-tiba jadi begini padahal dulu ia sangat percaya padaku dan memberiku kebebasan penuh. Aku coba tetap ceria di depannya meski hati kadang sedih dan aku masih manja memeluknya setiap ia pulang supaya ia tahu aku tetap butuh kasih sayangnya. Tapi malam-malam sendirian itu makin sering membuatku memikirkan hal-hal yang dulu tak pernah terlintas di kepalaku saat aku masih SMA kelas 2 ini.
Suatu hari ketika ulang tahunku yang ke-17 sudah mendekat aku meminta izin pada ayah supaya boleh merayakannya bersama beberapa teman di sebuah kafe kecil. Tapi ayah langsung melarang dan bilang kita cukup merayakan di rumah saja. Aku kecewa sekali mendengar keputusannya tapi karena kesal aku akhirnya menuruti kemauannya meski dengan hati agak kesal.
Siang itu sepulang sekolah ayah menjemputku seperti biasa lalu kami langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ayah bilang ia mau keluar sebentar untuk membelikan kue ulang tahun buatku sekaligus beberapa makanan buat pesta makan malam nanti. Aku langsung senang karena ternyata ayah mau menepati janjinya padaku. Setelah mandi aku segera berganti pakaian dan karena hari itu hari ulang tahunku aku berusaha berpenampilan sebaik mungkin meski hanya merayakan berdua dengan ayah. Aku memilih gaun malam yang cukup indah dengan bagian atas agak terbuka sehingga memperlihatkan dada dan punggungku yang putih mulus.
Gaun itu adalah pemberian ayahku sebagai hadiah ulangtahunku dan aku pun segera memakainya. Walaupun tidak terlalu pas dibadan namun aku merasa cukup senang sekali karena mendapatkan hadian sebuah gaun malam yang sangat indah.
Setelah ayah pulang ke rumah kami langsung merayakan ulang tahunku di sana.
"Wah ternyata kamu cantik sekali kalau memakai gaun malam seperti ini" ucap ayah sambil memandangiku dari atas sampai bawah.
"Iya Pa terima kasih hadiah gaunnya. Aku senang sekali bisa punya gaun malam seindah ini" ujarku sambil tersenyum manja.
"Kalau melihatmu begini Papa jadi ingat mama kamu dulu waktu pertama kali kami bertemu di sebuah pesta pernikahan. Tapi sayangnya mamamu ternyata tidak setia sampai membuat keluarga kita menderita" ucapnya dengan suara pelan.
"Ya sudah tidak perlu dipikirin lagi Pa. Yang penting sekarang kan masih ada aku di sini yang bisa menemani Papa di rumah" ujarku sambil mendekat dan memeluk lengannya.
"Iya Lin. Papa tahu kamu sayang keluarga tapi Papa merasa sangat kesepian sekali sekarang karena tidak ada istri yang mendampingi. Selain itu Papa juga malu sama rekan bisnis karena ditinggal pergi istri seperti ini" ucapnya sambil menatapku dalam-dalam.
"Sudahlah Pa tak usah dipikirkan lagi. Aku mau kok melakukan apa saja asalkan Papa bisa bahagia dan tak kesepian lagi" ujarku dengan nada lembut.
"Apa benar kamu bersedia melakukan apa saja untuk Papa" tanyanya sambil memegang bahuku pelan.
"Iya Pa. Asalkan aku mampu melakukannya maka aku akan melakukannya untuk Papa" jawabku sambil menatap matanya penuh keyakinan.
Setelah berbicang bincang dan menyantap semua makanan yang ada lalu kamu pun mulai merayakan pesta ultah itu dengan suasana gembira.
“Lin kamu tahu tidak jika melihat kue ultah seperti ini. Papa jadi ingat waktu makan sepotong kue bersama mama mu dulu. Tapi sayang papa sudah tidak bisa melakukannya lagi sekarang bersama mamamu.
“ohh masih bisa koq pa.. sekarang biar kau yang temani papa makan kuenya. Ujarku
Aku pun menyuapi Papa dengan sepotong kue tapi Papa bilang dulu dia makan kue seperti ini dengan cara yang lebih romantis. Supaya Papa senang dan bahagia aku langsung menuruti keinginannya lagi.
Kami mulai memakan sepotong kue itu tapi dengan cara berbeda. Aku menggigit ujungnya dulu lalu Papa juga menggigit dari sisi lain. Kami saling berhadapan dengan jarak sangat dekat seperti orang yang mau berciuman. Aku merasa sedikit risih tapi demi membuat Papa bahagia aku lanjutkan saja.
Perlahan kami memakan masing-masing bagian ujung kue yang dipotong agak memanjang. Semakin lama potongan kue itu makin mengecil sampai akhirnya bibir kami bersentuhan lembut. Saat potongan kue terakhir habis tanpa kuduga Papa langsung mencium bibirku dengan lembut. Aku terkejut sekali karena selama ini aku belum pernah dekat dengan laki-laki apalagi sampai berciuman. Dadaku terasa bergetar hebat meski itu Papa sendiri tapi perasaan aneh di dalam tubuhku terus bergejolak dan membuatku seperti melayang.
Ternyata berciuman itu rasanya nikmat sekali pikirku dalam hati.
Tanpa kusadari tangan Papa sudah melingkar di pinggangku dan bibir kami terus berpagutan. Papa begitu pandai menciumiku sampai aku lupa diri. Lidah kami saling berkaitan dan rasanya sangat nikmat membuat tubuhku panas serta lemas. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati sensasi itu demi melihat Papa tersenyum bahagia malam ini.
Bersamaan dengan itu salah satu tangan ayahku meraba raba bagian punggungku dan sentuhan tanganya terasa membakar gairah dalam diriku. Tangannya yang lain berusaha membelai rambut panjangku dengan lembut hingga membuatku merasa begitu nyaman. Beberapa saat kemudian ayahku mendekap tubuhku lebih erat lagi dan kami terus berpagutan tanpa henti hingga membuatku semakin bergairah. Saat itu dadaku terasa begitu sesak akibat dorongan birahi dalam diriku dan nafasku pun terasa makin memburu karena tak kuasa menahan gairah liar yang timbul.
Kini aku dikejutkan dengan salah tangan ayahku yang menelusup masuk kebagian bawah gaun malamku. Bagian bawah gaun itu memang berbentuk handkerchief hingga nampak bergelombang dan tidak rata dibagian bawahnya hingga memberikan kesan anggun dan seksi pada diriku.
“lus kamu benar benar cantik malam ini. Kamu mirip sekali dengan ibumu ketika masih muda dulu. Ujarnya sambil membelai lembut rambutku.
Aku terdiam dan kami saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat. Kurasakan deru nafas ayahku semakin berat dan sepertinya dirinya sudah tenggelam dalam luapan nafsu birahi yang sudah tak tertahankan lagi.
Kini tatapan mata ayahku mulai berubah dan dipenuhi nafsu dan ia pun kembali melumat bibirku dengan lebih buas dari sebelumnya.
“hmmm.. aku mengguman ketika ayahku terus melumat bibirku hingga membuatku sedikit kewalahan.
Aku berusaha menikmati proses percumbuan terlarang ini walaupun dalam hatiku berusah untuk menolaknya. Namun gairah yang meluap dalam diriku berhasil mengalahkan segalanya hingga aku semakin terjatuh dalam gelombang birahi yang sangat luar biasa ini.
Tangan ayahku semakin lincah meraba raba bagian dalam pahaku yang masih tertutup oleh gaun malam. Sesekali ia menekan nekan bagian selangkanganku hingga menimbukan sensasi yang tak pernaah kurasakan sebelumnya. Tak lama kemudian tangannya menelusup masuk kedalam celana dalamku dari arah atasnya dan membuatku penasaran hal gila apalagi yang akan dilakukannya padaku.
Tangan kekar ayahku meraba raba permukaan bibir kemaluanku yang tertutup oleh bulu bulu tipis nan menggoda. Rabaan telapak tangannya terasa semakin membakar gairah dalam diriku dan membuatku semakin lupa diri. rasa nikmat yang kursakan akibat jamahan tangannya membuatku mendesah pelan dan aku pun sedikit mendengakkan kepalaku keatas sambil memejamkan kedua mataku.
Hal ini segera dimanfaatkan oleh ayahku untuk mencumbui bagian leherku yang jenjang dan indah. Kulit leherku yang mulus nampak menarik perhatiannya dan ia pun segera menciumi dan menjilati leherku dengan penuh nafsu. Cumbuannya semakin mengganas dan sepertinya tak satupun bagian tubuhku yang lepas dari jamahan tanganya.
“eemmhhh.. aku mendesah lagi karena tak kuasa menahan deraan birahi yang semakin liar dalam diriku. Ayahku begitu pandai merangsang tubuhku hingga membuatku semakin terlena dalam buain kenikmatan. Aku seakan tak peduli lagi dengan perlakuannya pada diriku yang semakin menggila dan sepertinya ia sangat menikmati percumbuan terlarangi ini.
“kita pindah ke kamar aja ya. Ucap ayahku pelan
“terserah papa aja. ucapku sambil mengangguk pelan sebgai tanda persetujuan untuk melanjutkan pemainan itu.
Dengan santainya papaku langsung memapah tubuhku dalam gendongan kedua tangannya yang kekas dan berotot. Tangan kanannya menahan bagian punggungku dan tangan kirinya menahan kadua kakiku yang agak agak tertekuk.
Sambil berjalan dan menggendong tubuhku kemudian ia kembali melumat bibirku dengan mesra dan aku pun membalasnya sambil memejamkan mataku. Tak terasa kami sudah tiba didalam kamar setelah itu ia pun meletakkan tubuhku diatas ranjang dengan perlahan.
Sambil berdiri dipinggiran ranjang lalu ayahku mulai membuka pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya sudah terlihat polos dihadapanku. Jantungku berdebar kencang ketika menyaksikan ayahku membuka seluruh pakaiannya. Bersamaan dengan itu aku mulai membayangkan tak lama lagi diriku akan mereguk sebuah kenikmatan bersamanya malam itu.
sambil berbaring aku menatap kearahnya dengan tatapan yang sayu dan memelas dan rupanya ekspresi wajahku itu malah semakin membakar birahinya. Dengan tak sabar ayahku mencoba naik keatas ranjang namun aku berusaha mengingatkannya.
“pa.. pintunya gak dikunci dulu. Ujarku
“ahh gak usah. Lagian Cuma kita berdua yang ada dirumah ini. Siapa juga yang mau mengintip. Jawabnya dengan santai
Ayahku naik keranjang dan mulai mencumbuiku lagi dan perlahan ia menyingkap bagian bawah gaun malam kukearah atas. Kedua paha mulusku kembali menjadi sasaran pelampiasan nafsunya dan bersamaan dengan itu ia pun mulai melucuti celana dalam yang kukenakan.
Kedua pahaku direntangkan hingga agak melebar hingga ayahku dapat melihat jelas kemaluanku yang tersaji dihadapannya. Melihatku tergolek pasrah diatas ranjang dengan kedua paha yang mengangkang membuat ayahku samakin tak tahan lagi. Ia sama sekali tak peduli lagi dengan kenyataan bahwa aku adalah putri kandungnya sendiri. Karena yang ada dipikirannya saat itu adalah keinginan untuk menikmati tubuhku sepuasnya.
Ayahku mendekatkan wajahnya kearah kemaluanku lalu ia mulai menciumi dan menjilati bibir kemaluanku dengan penuh nafsu.
“aaahhh… aku mendesah lagi karena sensasi nikmat yang diberikan oleh ayahku ketika lidahnya menyapu kemaluanku dengan lincahnya.
Puas mencumbui bagian selangkanganku lalu ia mengarahkan batang kemaluannya pada liang kewanitaanku. Aku mencoba memejamkan mataku guna menikmati proses penetrasi batang itu pada kemaluanku. Berkali kali ia mencoba namun selalu gagal tapi ayahku tak mau meyerah dan terus mencoba hingga akhirnya ia berhasil membenamkan kepala penisnya.
Ia berulang kali menarik dan mendorong batangnya hingga semakin lama batang itu melesak semakin dalam dan berhasil merenggut kegadisanku yang telah kurawat selama ini. Awalnya aku merasa cukup sakit ketika batang itu menyodok kemaluanku namun perlahan lahan rasa sakit itu dan tergantikan dengan rasa nikmat dalam diriku.
Ayahku terus memompa tubuhku diatas ranjang dengan gaun malam yang masih melekat ditubuhku. Sepertinya ayahku sengaja tak melepaskan gaun malam itu dari tubuhku karena ia merasa lebih bergairah ketika menyaksikan diriku memakain pakaian seksi tsb.
Cukup lama ayahku menyetubuhiku diatas ranjang lalu ia berhenti sejenak dan menarik keluar batang kemaluannya. Aku sedikit bertanya tanya hal apa lagi yang akan dilakukan ayahku tapi belum sempat berpikir lebih jauh. kini tubuhku sudah dibalikan olehnya hingga menelungkup diatas kasur. Ia memegang pinggangku dan sedikit mengangkatnya keatas hingga posisiku sedikit menungging. Bagian bawah gaun malamku kembali disingkap olehnya dan kurasakan batangnya kembali menerobos masuk dalam liang kewanitaanku.
“jleb… kali ini batang itu dapat masuk lebih mudah karena kemaluanku sudah semakin basah akibat rangsangan bertubi tubi yang dilakukan oleh ayahku tadi.
Kepalaku tertumpu diatas ranjang dalam posisi badanku yang menungging kearah ayahku. Perlahan batang itu mulai kembali beraksi dan mengaduk aduk liang kewanitaanku dengan irama yang tak beraturan.
“arghhh… aku mengerang menahan sedikit rasa sakit yang timbul akibat posisi persetubuhan yang belum pernah kulakukan tsb. dalam posisi meungging sepertinya batang ayahku terasa menancap cukup dalam hingga menimbulkan rasa sakit pada diriku.
“enghh… pelan pelan pa.. ujarku sambil menggigit bagian bawah bibirku sendiri. Sensasi nikmat bercampur rasa sakit melanda diriku dan membuatku menggelinjang. Kedua tangan ayahku yang kekar begitu kuat menahan pinggangku hingga aku kesulitan untuk bergerak dan sepertinya ia semakin mempercepat genjotannya.
Tubuhku tersentak sentak tak karuan dalam posisi agak menungging sementara ayahku terus menggenjotku tanpa ampun. Kedua tangaku berupaya menggapai kain sprei penutup ranjang dan mulai sibuk meremasinya sambil berusaha menahan setiap gempuran ganas ayahku.
Rupanya ayahku masih belum puas dan mengajak untuk berganti posisi.
“sekarang kamu yang diatas lus. ujar ayahku sambil menarik tanganku.
Kali ini ia yang berbaring diranjang sementara aku berusaha menduduki batangnya. Kubuka pahaku dengan lebar sambil menggenggam batang ayahku yang masih menegang keras. Perlahan kucoba mengarahkan batang itu pada liang kewanitaanku sementara tubuhku mulai kuturunkan kebawah. Batang itu berhasil masuk sedikit demi sedikit walaupun agak seret dan akhirnya batang itu berhasil masuk semuanya.
“arghh.. aku mengerang ketika batang itu menancap sangat dalam dan memberikan sensasi luar biasa pada diriku.
“ayo lus kamu yang gerakin sekarang. ucap ayahku
Karena sudah sangat terangsang maka aku pun menuruti perkataan ayahku dan mulai menaik turunkan tubuhku.
“ohhh enak sekali lus.. nikmattnya.. ujar ayahku sambil memamndangi kedua payudaraku yang bergerak naik turun. Tak hanya itu lalu ayahku meremas remas buah dadaku dengan cukup kasar hingga aku meringis dihadapannya.
Suara desahan kenikmatan kami berdua mulai mengisi ruangan kamar itu.
“plak plak plak plak.. suara benturan dua alat kelamin terdengar cukup jelas dan semakin membakar birahi kami berdua. Ayahku masih belum puas lalu ia mencengkeram erat pinggangku sambil menghentak hentakan pinggulnya dari arah bawah hingga tubuhku semakin terlonjak lonjak diatas tubuhnya.
“aahhh sshh… emmh… enakkk pa… terusin… ouh…. Ssh…. Diriku semakin liar dan tak terkendali dan tak peduli lagi dengan keadaan disekitarku. Aku berusaha mempercepat lonjakan tubuhku hingga membuatku keringatku mengucur deras. Udara diruangan itu terasa semakin panas akibat gejolak nafsu dalam diriku yang baru pertama kalinya merasakan sebuah kenikmatan birahi seperti ini. Cukup lama kami bertahan dalam posisi seperti itu dan harus kuakui kalau stamina ayahku begitu luar biasa hingga mampu bertahan sangat lama. Ayahku terus menghentak hentak tubuhku dari arah bawah dan kurasakan batangnya menusuk sangat dalam pada liang kewanitaanku.
“ahhh.... sudah tubuhmu memang nikmat sayang.. lebih nikmat dari mama mu. ujar ayahku
Keringatku terus mengucur deras hingga rambutku semakin basah dan sepertinya ayahku pun merasakan hal yang sama. Pergumulan panas itu terasa benar benar nikmat hingga membuat kami lupa diri dan seperti tak mau berhenti melakukannya.
Dengan tubuh yang terlonjak lonjak aku mencoba untuk terus bertahan, rambut panjangku yang semula rapi kini mulai terlihat berantakan akibat mengayun kesana kemari mengikuti irama hentakan tubuhku yang tak pernah berhenti.
Beberapa saat kemudian ayahku menghentikan hentakan pinggulnya namun aku masih terus melonjak lonjak diatas tubuhnya yang sedang berbaring. Karena melihat diriku yang mulai letih maka ia pun memutuskan untuk beraganti posisi lagi. Ia berusaha bangun dan mendorong tubuhku hingga telentang diranjang.
Gaun malamku kembali disingkap lalu batangnya kembali menembus liang kewanitaanku yang sudah basah. Ia segera mendekap tubuhku dengan kuat sambil mencumbui bagian leherku dan aku pun hanya bisa pasrah mengikuti kemauannya. Ayahku mulai menggenjotku lagi dan kali ini genjotanya terasa sangat bertenaga bahkan sangat cepat hingga tubuhku benar benar tak berdaya dalam cengkramannya.
“aarrhhh… paa aku sudah gak tahan lagi… ouh.. emhh… kemudian dalam waktu singkat tubuhku terasa bergetar hebat. Otot tubuhku terasa menegang dan membuatku tak berdaya mengendalikan diriku sendiri. Selama beberapa saat tubuhku melejang lejang dalam dekapan ayahku dan bersamaan dengan itu cairan cintakupun mengalir deras keluar. Akhirnya aku berhasil mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dan rasanya sangat puas sekali.
Ayahku terus menggenjotku dengan cepat dan tak lama kemudian ia pun terlihat sedikit menegang.
“enggh.. ayahku melenguh panjang sambil menarik keluar batangnya dari dalam kemaluanku. Dengan tergesa gesa ia berdiri dan mengangkangi tubuhku sambil mengarahkan kepala penisnya kewajahku.
“crott cret.. cret.. berkali kali spermanya berhamburan keluar membasahi wajahku.
Wajah ayahku terlihat puas sekali setelah mencapai orgasmenya kemudian ia berbaring diranjang sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal.
“ternyata kamu pintar sekali memuaskan laki laki sayang. Ujar ayahku sambil membelai rambutku.
Aku terdiam sambil berusaha menikmati sisa sisa kenikmatan yang baru saja kudapatkan tadi. Aku sedikit merasa menyesal karena telah jatuh dalam permainan birahi yang terlarang ini namun disisi lain aku merasa beruntung karena bisa berbakti pada ayahku yang sudah merawatku sejak kecil seorang diri.
Batinku terus bergejolak antara menghentikan skandal terlarang ini atau terus melanjutkannya namun kenikmatan yang kudapat mala mini telah membuatku ketagihan dalam bercinta hingga sulit bagiku untuk menghentikannya apalagi ayahku semakin sering menggodaku ketika kami sedang berduaan saja dirumah.



Komentar
Posting Komentar