Langsung ke konten utama

Evelyn My Naughty Wife


"Wahhhh…. Ini beneran Vin?” Teriak istriku saat dia membuka kado pemberian ku. Hari ini adalah hari anniversary pernikahan kami yang pertama. Aku memberikan kado berupa tiket paket berlibur berdua ke Pulau Dewata, Bali. Sejak honeymoon setelah pernikahan kami, memang kami belum sempat berlibur berdua, terlihat sekali kebahagiaan di raut wajah istriku. Evelyn, istriku ini memiliki wajah khas oriental, dengan postur tubuh yang sangat proporsional. Dengan segala kesempurnaannya itulah, bukan hal aneh bila istriku menjadi incaran banyak lelaki saat masih kuliah dulu. Wajah cantik, kulit halus, serta ukuran payudara menjadi aset utama istriku ini. “Vin, thanks ya udah ngasih surprise ini. Sebagai gantinya, lyn bakal nurutin semua permintaan mu deh, apapun itu” kata istriku sambil memeluk ku. “Bener nih mau ngabulin apa aja permintaanku? Kalau gitu aku minta selama di Bali nanti kamu hanya boleh pakai pakaian dalam seksi yang dulu pernah aku belikan dibalik pakaian mu” aku mengajukan permintaanku, sambil kuremas pelan bongkahan pantat nya yang seksi itu. “Siap pak boss, tapi jagain istrimu ini baik2 lho ya. Jangan salahin lyn lho kalau sampai banyak pria yang pdkt ke lyn. Hihihih” tawa istriku sambil melepas pelukannya. Setelah berkata begitu, istriku  segera berlari kecil menuju kamar kami untuk berkemas menyambut liburan besok. Malam itu pun kami habiskan untuk menyiapkan segala keperluan untuk liburan besok.

Akhirnya pagi datang juga, ku paksa membuka mata ini walaupun aku masih sangat mengantuk. Kulihat sisi kiri, istriku sudah tidak ada, samar2 terdengar suara gemericik air dari shower, pasti dia sedang mandi. Tidak lama berselang air shower pun berhenti dan istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang terbilang cukup kecil, hanya cukup untuk menutupi payudara dan vaginanya. Walaupun setiap hari melihat tubuh bugil istriku tetap saja tidak pernah ada kata cukup untuk menikmati tubuh seksinya. 

Aku bangkit dari tidurku dan menghampirinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Segera kucium bibirnya, walaupun pertama sempat menolak kucium dengan alasan aku belum gosok gigi, akhirnya dia pasrah menerima ciumanku dan akhirnya lidah kamipun saling bertemu. Sambil berciuman, tanganku pun tidak mau ketinggalan, segera kuarahkan tangan kanan ku untuk meremas pantat kirinya, dan tangan kiriku meremas payudara 34b nya yang masih terbungkus handuk kecil. 

“Uhhh… Stop Vin… kita harus segera bersiap lho” istriku mengingatkanku sambil mendesah menahan nikmat yang kuberikan. “Ah kamu lyn, mulut sih bilang stop tapi ini selangkangan kok basah banget” aku sengaja memancingnya ketika menyadari bahwa vaginanya sudah basah sekali. Tiba2 muncul ide nakal di kepala ku. Aku segera menuju lemari dan mengambil vibrator wireless berbentuk kapsul yang biasa kami gunakan untuk variasi ketika bercinta. “Lyn, ingetkan janji mu yang kemarin kalau mau ikutin permintaanku?” Dia hanya mengangguk tanpa menjawab, terlihat sekali bahwa dia sedang dilanda birahi tinggi. “Aku mau kamu pakai ini sampai kita tiba di Bali nanti” kataku sambil menggesekan vibrator ke vaginanya. Dia tidak menjawab, hanya mendesah desah sambil mencengkeram dan mendorong tangan ku agar vibrator yang telah basah itu masuk ke dalam vaginanya. 

Aku terus menggodanya dengan hanya menggesekkan vibrator itu ke klitorisnya. Ketika sedang asyik bermain dengan vagina istriku, tiba2 mataku tidak sengaja melihat jam dinding, dan aku langsung terkejut begitu menyadari bahwa waktu tidak mendukung untuk melanjutkan aktivitas ini. Akhirnya aku menyudahi foreplay pagi ini dan meletakkan vibrator di atas tempat tidur, dan segera bergegas ke kamar mandi meninggalkan istriku yg sedang horny berat. Ketika akan masuk kamar mandi, sekilas aku melihat istriku mengambil vibrator tadi. 

Akupun segera mandi sambil tersenyum membayangkan istriku sedang bermasturbasi. Ketika selesai mandi, kulihat istriku sudah siap untuk berangkat. Pagi ini dia menggunakan tank top hitam berbelahan dada rendah dipadukan dengan rok mini berwarna putih, terlihat juga tali bra berwarna merah di kedua bahunya. Aku hafal dengan tali bra merah berenda itu, itu pasti bra merah transparan yang dulu pernah kubelikan untuknya. Aku jadi bertanya dalam hati apakah dia juga memakai celana dalam merah transparan yang merupakan 1 set dari bra yang dipakainya. Setelah merapikan diri dan hendak berangkat, tiba2 istriku memasukkan sesuatu ke kantong celana ku dan segera berlari keluar kamar. Aku yang penasaran segera melihat apa yang diberikannya, ternyata remote vibrator. Aku menebak2 apakah istriku benar2 meletakannya di dalam celana dalam nya, tepat di belahan vaginanya. Dengan iseng coba kutekan tombol on sambil berjalan keluar kamar. 

Alangkah kaget aku mendapati istriku yang cantik ini sedang berdiri sambil berpegangan pada meja makan sambil  gemetar. “Ahh sayank nakal…” desah istriku sambil memasang muka cemberut. Akupun mematikan vibratornya dan menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam mobil agar bisa segera berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara kami segera boarding untuk mendapatkan tiket kursi pesawat. Semua berjalan tanpa masalah bagiku. Tetapi tidak begitu bagi Evelyn, istriku. Saat di bandara tidak jarang aku sengaja menyalakan sesaat vibratornya, hal ini tentu menjadikan penderitaan tersendiri bagi istriku yang tetap berusaha bersikap sewajarnya. 

Akhirnya kami tiba di tempat pemeriksaan badan untuk bisa masuk ke ruang tunggu bandara. Aku berada di depan istriku, aku pun lolos tanpa ada kendala. Namun saat istriku diperiksa, sensor detektor logam berbunyi dan terpaksa istriku harus dikeluarkan dari antrian untuk diperiksa ulang. Tetapi detektor tetap berbunyi menandakan adanya logam, dan yang membuatku khawatir adalah lokasi detektor berbunyi, di daerah selangkangan istriku. Kebahagianku dari pagi hari mendadak menjadi kecemasan yang amat sangat mengingat bahwa kemungkinan logam nya ada di dalam vibrator yang sedang ada di vagina istriku. Dan parahnya lagi entah bagaimana bisa petugas yang memeriksa istriku adalah seorang laki2. 

Dengan alasan keamanan, petugas tersebut meminta kami untuk ikut ke sudut ruangan untuk pemeriksaan lanjutan. Di sudut ruangan tersebut terdapat sebuah ruang kecil untuk pemeriksaan yang disatu sisi luar nya terdapat cermin kaca besar, cermin ini dibuat untuk satu sisi agar dari sisi dalam ruang bisa melihat keluar, namun tidak sebaliknya. Petugas bertubuh gemuk tersebut masuk ke ruangan itu dan memanggil istri ku. 

Ketika kami akan masuk ke ruangan, petugas tersebut meminta agar aku menunggu di luar dengan alasan kami akan dimintai keterangan bergantian. Aku menunggu di luar ruangan dengan penuh rasa cemas dan khawatir tentang keadaan istriku. Membayangkan istriku dengan vibrator di vaginanya di dalam ruang tertutup bersama seorang petugas gemuk yang tidak kami kenal, bahkan namanya pun tidak sempat aku tanyakan membuat aku khawatir, cemburu, namun juga bergairah. Aku berusaha mendekatkan wajahku ke kaca untuk mengintip bagian dalam ruangan, namun tetap saja aku hanya bisa melihat bayangan diriku sendiri. 

Setelah menunggu sekitar 40 menit, terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan kami tumpangi akan segera berangkat. Aku pun mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang pemeriksaan, tetapi baru akan mengetuk tiba2 pintu terbuka dan istriku keluar dari ruangan tersebut. Aku sempat terkejut melihat penampilan istriku, dia terlihat lelah dengan rambut yang tidak terlalu rapi. “Kamu gapapa Lyn? Dia ganggu kamu? Kenapa kamu diperiksa? Apa yang salah?” aku mencecar dia dengan pertanyaan2 yang menggangguku sejak menunggu tadi. “Nanti Lyn ceritain di pesawat aja, keburu ketinggalan pesawat lho” dia enggan menjawab pertanyaanku sambil menarik lenganku menuju ke arah jembatan masuk ke pesawat. Aku yang melihat Lyn sedih jadi tidak mau bertanya dulu tentang apa yang dia alami barusan. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan tadi, aku merasa ada yang aneh dengan pakaian istriku, namun aku belum bisa menemukan apa yang aneh.

Setelah sampai di kursi kami, Lyn langsung meminta selimut ke pramugari, dan itu memang kebiasannya selalu meminta selimut di dalam pesawat karena dia sering merasa kedinginan. Kondisi pesawat kali ini terbilang cukup sepi karena memang ini bukan waktu liburan. Kami mendapat kursi yang agak belakang, dan diantara kami hanyalah kursi kosong. Setelah pesawat take off, kulihat Lyn sedang melamun menatap ke luar jendela. Dan saat itulah aku baru menyadari sesuatu yang kurasa aneh sejak tadi, di kedua bahu Lyn tidak terlihat adanya tali bra merah nya. Aku yang penasaran terpaksa harus berpura2 untuk membuat gerakan agar bisa menyentuh bagian dadanya. Dan ternyata AKU TIDAK MERASAKAN ADANYA BRA ! Perasaanku benar2 kacau memikirkan bagaimana bra merah transparan yang tadinya dipakai istriku sekarang sudah tidak ada di tempatnya. 

Apa yang dilakukan petugas gemuk itu pada istriku? Ketika sedang diselimuti rasa cemburu itulah tiba2 Lyn menyandarkan kepalanya ke bahuku. “Vin, maafin Lyn ya” katanya sambil merangkul tangan kiri ku. “Kenapa Lyn? Apa yang sebenarnya terjadi?” aku berusaha terlihat tenang. “Lyn akan cerita apa yang terjadi di ruang pemeriksaan tadi, tapi jangan marah ke Lyn ya” jawabnya. Aku hanya mengangguk tanpa berkata apapun. “Setelah masuk ke ruang itu, Pak Tono bilang kalau dia curiga Lyn menyimpan sesuatu di dalam rok, karena itu dia meminta Lyn membuka rok.” Akhirnya kuketahui bahwa nama petugas gemuk itu adalah Tono. “Terus Lyn buka rok gitu aja?” tanyaku berharap istriku ini tadi menolak membuka rok nya. “Sorry Vin, tadi Lyn bener2 takut jadinya terpaksa Lyn menuruti, apalagi dia bilang kalau Lyn menolak dia akan panggil polisi.” “Menurut Lyn akan lebih malu kalau sampai ada polisi juga yang tahu ada vibrator di dalam CD Lyn” lanjutnya. Tanpa aku sadari penisku telah ereksi hanya dengan mendengarkan bahwa istriku membuka roknya di hadapan lelaki yang tidak kami kenal, terlebih dengan vibrator di vaginanya. “Hanya buka rok aja kan?  Lalu kok lama banget tadi pemeriksaannya?” Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Lyn terdiam sebentar, lalu “setelah Lyn buka rok, Pak Tono bukannya bebasih Lyn, dia malah melototin seluruh tubuh Lyn, dan dia kaget saat tahu ada vibrator di CD ini” sambil Lyn menuntun tanganku ke arah CD nya yang ternyata sudah sangat basah. Akhirnya segala rasa cemas dan amarahku dikalahkan oleh rasa cemburu dan nafsuku. 

Aku dengan perlahan mengusap CD nya dan kurasakan masih ada vibrator disana. “Lalu bra kamu?” tanyaku lagi. “Seperti tidak puas melihatku seperti itu, Pak Tono bilang bahwa dia curiga Lyn menyembunyikan seusatu di dalam bra, dan dia maksa Lyn untuk membuka baju dan bra untuk dia periksa” “Maafin Lyn ya, Lyn hanya ingin pemeriksaan itu cepat selesai, jadi Lyn menuruti semua keinginannya” lanjutnya sambil sesekali mendesah menikmati rangsangan yang dia terima di selangkangannya. “Dan saat selesai pemeriksaan, dia bilang bahwa bra Lyn akan dia sita. Karena itu Lyn terpaksa nda pakai bra sekarang” “Ya sudah gapapa, hanya itu khan yang terjadi di dalam sana?” aku bertanya kembali. “Sebenarnya dia juga sempat meremas dada Lyn, sambil menggerak2an vibrator nya. Tapi hanya sebatas itu kok.” jawabnya dengan santai saat tangan kanannya sudah berhasil mengeluarkan penisku. “Vin suka ya istrinya digituin sama orang lain?” Aku tidak menjawab pertanyaannya, dalam hati memang ada gairah yang meledak2 mengetahui tubuh indah istriku dijamah orang lain. 

Setelah itu tidak ada pertanyaan2 lagi, kami hanya saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Hingga akhirnya tubuh Lyn meregang menandakan dia telah mencapai orgasmenya. Tidak lama kemudian, akupun mencapai orgasme ku. Untung tadi Lyn meminta selimut yang bisa kami jadikan kain penutup tubuh bagian bawah kami. Setelah Lyn membersihkan diri dengan tissue, akupun hendak melakukan hal yang sama. Namun aku menyadari sesuatu. Di jari tanganku, ada bau yang khas, dan itu jelas bukan bau cairan wanita, aku yakin itu bau sperma. Bagaimana bisa ada sperma di dalam CD Lyn? Apakah benar yang terjadi di ruang pemeriksaan hanya sebatas yang diceritakan Lyn?

Point of View : Evelyn


“Baliii…” seruku sambil merentangkan tangan menikmati angin sepoi2 khas Pulau Dewata ini saat kami keluar dari pintu pesawat. Seolah2 semua beban dan perasaan bersalah kepada Alvin, suamiku hilang seketika. Yah, sejak keluar dari ruang pemeriksaan di bandara tadi pikiranku dipenuhi dengan rasa bersalah, tapi yang membuatku jengkel pada diriku sendiri rasa bersalah itu tanpa disertai dengan rasa penyesalan. Jujur kejadian di ruang pemeriksaan tadi benar2 sesuatu yang baru dalam hidupku, dan ternyata aku sangat menikmatinya. “Woiii Lyn…..” teriak suamiku. Aku yang kaget mendengar teriakannya langsung menoleh ke arahnya yang berada di belakangku. “Apa sih Vin teriak2?” sahutku sambil memasang wajah cemberut karena suamiku ini telah mengganggu kesenanganku. Dia tidak menjawab, hanya memelototkan matanya untuk memberi kode kepadaku. Kuperhatikan tatapannya ternyata ke arah kedua payudaraku, akupun spontan menurunkan pandanganku ke arah payudaraku. Dan…… “Upsss…. Kok Vin ga ingetin Lyn sih.” reflek aku segera menyilangkan kedua tanganku di bagian payudaraku. Aku benar2 lupa kalau aku sedang tidak memakai bra. Kuperhatikan tank top ku tidak bisa menyembunyikan keberadaan kedua putingku ini, walau memang hanya terlihat samar namun jika diperhatikan pasti akan ketahuan kalau aku sedang tidak menggunakan pelindung apapun di balik tank top ku ini. Apalagi dengan merentangkan tangan seperti tadi, pasti tonjolan putingku semakin terlihat jelas. Ahhh hal itu benar2 membuatku malu, tapi….. entah kenapa bagian vagina ku tiba2 merasa basah membayangkan ada orang yang mengetahui bahwa aku tidak menggunakan bra. Alvin tertawa saja melihat reaksi kaget dan maluku. 

Melihat suamiku tertawa seperti itu seolah2 aku merasa telah dimaafkan, aku tahu bahwa Alvin sangat mencintaiku dan tidak sanggup melihatku bersedih. Dalam hatiku aku berkata bahwa aku harus segera melupakan petualangan ku tadi demi suamiku dan diriku sendiri tentunya. Saat akan memasuki ruang kedatangan, tiba2 suamiku menarik lenganku untuk memperlambat jalanku. Aku yang tidak mengerti alasannya hanya menurut saja, setelah kami berada paling belakang tiba2 “Lyn, lepasin dulu vibratornya, aku ga mau kejadian seperti tadi terulang lagi.” Ucapan suamiku ini benar, tapi entah kenapa pikiranku justru kembali melayang mengingat kejadian tadi. 

“Ga mungkin Lyn lepasin vibratornya di tempat terbuka gini Vin, lagipula Lyn sudah janji untuk pakai vibrator ini terus kan.” aku sendiri kaget bagaimana bisa aku spontan menjawab seperti itu. “Lagipula kan kalau di bagian kedatangan tidak ada pemeriksaan badan yang ketat.” lanjutku mencoba memberikan penjelasan yang logis. Aku tidak mau suamiku mengganggap diriku “nakal”, dan memang diriku bukanlah wanita seperti itu. “Oke” jawabnya singkat. Aku pun bergegas memasuki ruang kedatangan dan menuju tempat pengambilan bagasi. 1 menit kutunggu, 3 menit kutunggu tetap saja koper kami belum terlihat. “Ah itu diaaa…” teriakku dalam hati ketika melihat tas kami. Ketika tas kami lewat di depan ku, aku pun segera membungkuk untuk mengambilnya dikarenakan memang posisinya hanya setinggi lutut. Tiba2 saat membungkuk aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku, dan saat aku mengangkat kepalaku, di depanku ternyata telah berdiri seorang pemuda berusia sekitar 16 tahunan yang juga sedang menunggu kopernya. Kulihat dia sedang menatap tajam ke arah dadaku yang terekspos dikarenakan bagian leher tank top ku yang terbuka. Tatapannya seolah2 sedang menelanjangiku! “Apa dia tahu aku tidak pakai bra? Apa dia bisa melihat belahan payudaraku? Apa dia bisa melihat putingku?” pikirku. Aku ingin menegurnya, namun apa yang aku lakukan selanjutnya justru sebaliknya. Setelah mengambil tas, aku justru membungkuk lagi sambil berpura2 memeriksa kondisi tas kami. “Parahhh!” aku pun mengutuk diriku sendiri, tapi… aku benar2 menikmati sensasi ini. “Ayo Lyn, aku sudah dapat taxinya.” tiba2 aku dikejutkan panggilan suamiku dari arah pintu keluar. Aku segera berdiri, menatap anak muda di depanku dan tersenyum kepadanya lalu berlari kecil ke arah suamiku. ================================ Akhirnya kami berdua telah sampai di hotel kami di Nusa Dua. Hotel ini lebih cocok disebut sebagai private villa dikarenakan hanya menyediakan 20 villa2 kecil yang saling terpisah. Di setiap villa tersedia kolam renang kecil, namun juga tersedia kolam renang besar dilengkapi dengan jacuzzi di tengah area hotel. Begitu memasuki kamar villa, kulihat Alvin segera merebahkan diri di tempat tidur. Aku yakin dia pasti sangat kelelahan karena hanya sebentar saja dia sudah tertidur dengan kaki masih menggantung di bibir tempat tidur. Karena menganggur, aku berencana untuk berenang di kolam renang di dalam villa kami. Aku segera bangkit dan melepaskan tank top, rok mini, serta CD ku. Saat melepas CD ku kulihat vibrator yang sejak pagi kupakai dalam keadaan basah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mengingat kejadian gila yang telah terjadi sepanjang hari ini. Kubuka koper kami, dan kuambil bikini 2 piece yang memang telah aku siapkan untuk liburan kali ini. Kupakai bikini itu, sambil melihat kaca besar yang ada di tepi ruang kamar tidur, aku menatap tubuhku yang setengah bugil ini dengan rasa bangga. Payudara 34b dengan puting merah muda mengacung ku pasti akan membuat pria manapun menginginkan tubuh ku ini. Tanpa kusadari tanganku telah meremas2 payudaraku membuat putingnya semakin mengeras, tapi segera kuhentikan kegiatanku itu. 

 “Segarnyaaa…” gumamku ketika tubuhku yang hanya berbalut bikini hitam ini sudah terendam air seluruhnya. Akupun sempat berenang sebentar, setelah merasa agak capek, akupun keluar dari kolam renang dan duduk di bangku panjang di samping kolam renang. Entah apa yang kupikirkan, tiba2 aku merasa horny. Tanpa kuperintahkan tangan kananku sudah menangkup dan meremas lembut payudara kananku. Seolah tidak cukup hanya bermain dengan payudaraku, tangan kiriku bergerak masuk ke dalam CD ku. Kurasakan vaginaku telah benar2 basah. Akupun menggesek2an jari tengahku di klitorisku. “Ahh… Uhhhhhh… Pak Tono…” aku mendesah tak karuan, dan kenapa aku menyebut nama petugas bandara gemuk itu??? Apa yang kulakukan??? Aku masturbasi sambil membayangkan pria selain suamiku yang memuaskanku??? Aku ingin mengusir bayangan Pak Tono, tapi tetap saja selalu muncul bayangan penis hitamnya di pikiranku. Akal sehatku pun akhirnya mengalah kepada nafsuku. Aku memejamkan mataku sambil mengingat setiap detil kejadian di ruang pemeriksaan tadi pagi. ==================================

*Ceklekk* kudengar pintu yang baru saja kumasuki telah ditutup dan dikunci. Ruangan ini seperti ruangan untuk interogasi yang sering kulihat di televisi, ruangan dengan meja ditengahnya dan kaca besar di sisi nya. Walaupun sempat cemas ketika diminta masuk ruangan sendirian dan meninggalkan suamiku di luar ruangan, aku akhirnya lega ketika melihat suamiku ada di seberang sisi kaca. Namun aku melihat suamiku seperti kebingungan, seolah dia tidak bisa melihatku. “Silahkan duduk Bu…..” kata petugas yang ternyata sudah duduk di sisi seberang meja. “Evelyn” jawabku seraya duduk di kursi kayu yang tersedia. Setelah itu dia bertanya2 tentang segala identitasku. Akupun mulai tenang karena kuperhatikan petugas bandara ini cukup profesional. Tapi ternyata dugaanku ini hanya bertahan beberapa menit hingga tiba2 

"Silahkan Bu Evelyn berdiri dan melepas rok Ibu, karena saya curiga Ibu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di balik rok Ibu.” Aku yang tadinya berusaha bersikap sopan dan tenang pun langsung meledak penuh emosi. “Maksud Bapak apa? Lyn harus buka rok di hadapan banyak orang seperti ini?” maki ku sambil menunjuk kaca besar di sisi ruangan. “Jangan berani macam2 ya Pak, atau Lyn akan laporkan Bapak ke polisi.” ancamku. “Jadi kalau hanya dihadapan saya saja Ibu mau?” jawabnya sambil tersenyum mesum. “Baik kalau Bu Evelyn keberatan, saya bisa panggil polisi bandara dan mengatakan bahwa Ibu berusaha menyembunyikan sesuatu di balik rok Ibu, jadi kami berdua akan bersama2 memeriksanya.” lanjutnya dengan tetap berpura2 sopan. Aku hanya bisa tertunduk, kepalaku bagai dihantam palu besar, benar2 tidak bisa kugunakan untuk berpikir. “Bagaimana kalau polisi tahu ada vibrator di dalam CD ku? Bagaimana kalau ternyata ada wartawan dan memberitakan aku sedang di periksa petugas bandara dengan keadaan vibtator di dalam CD ku?” pikirku. Aku menatap ke suami ku yang masih tampak bingung dan berteriak dalam hati agar semoga suami ku itu segera menolongku. “Jangan khawatir Bu Evelyn, kaca itu hanya bisa dilihat satu sisi yaitu dari dalam sini. Jadi suami Ibu tidak bisa melihat ke dalam sini.” katanya seolah dia paham kekhawatiranku. “Baiklah, saya akan panggil polisi agar proses pemeriksaan bisa lebih cepat.” Dia bangkit dari kursinya dan melewatiku menuju pintu seolah2 akan memanggil polisi. Aku yang dalam keadaan terpaksa akhirnya menahan tangannya dan “Baiklah, Lyn hanya perlu melepas rok ini saja khan Pak?” Petugas gemuk dan jelek itu tersenyum seolah telah memenangkan sesuatu yang sangat berharga. Dia dengan santainya duduk di atas meja di hadapanku sambil berkata “Sementara ini yang mencurigakan hanya bagian selangkangan Ibu.” Dia mengatakan itu sambil memberikan penekanan pada kata “selangkangan” sambil tersenyum mesum. 

Akupun mundur beberapa langkah, dan dengan tangan gemetar akupun mengarahkan tangan ke arah resleting rok ku di bagian belakang. *Sreeettt* akhirnya kubuka juga resleting rok ku, namun aku masih menahan rok ku dengan tanganku sambil melihat ke arah kaca untuk meyakinkan bahwa Alvin tidak bisa melihat apa yang terjadi disini. Setelah cukup yakin bahwa Alvin tidak bisa melihat ke dalam sini, akupun melepaskan genggaman tanganku pada rok miniku. Rok ku pun langsung meluncur jatuh hingga ke mata kaki. Aku benar2 malu akan keadaanku, seorang istri yang berdiri di hadapan pria tua yang bukan suaminya hanya dengan menggunakan CD mini merah dengan vibrator di dalamnya. Aku hanya bisa menundukkan kepala, aku terlalu malu untuk melihat petugas itu. *Krikkk* Suara itu pelan tapi seolah meremukkan semua tulangku, suara itu… pasti suara karena dia memotret ku menggunakan HP nya. “Apa yang Bapak lakukan?” teriakku. Lagi2 dia menjawab dengan ringan “Ini hanya untuk dokumentasi hasil pelaporan pemeriksaan Bu, semua barang bukti harus difoto.” Aku yang merasa tidak ada gunanya berdebat dengan dia terpaksa hanya diam dengan harapan pemeriksaan ini cepat selesai. Namun ternyata itulah kesalahan terbesar di dalam pemeriksaan ini. Petugas itu mengartikan bahwa diamnya diriku sebagai bentuk kepasrahanku. 

Aku akhirnya hanya bisa menundukkan kepalaku membiarkan lelaki mesum itu memotret diriku dari berbagai sisi. Aku terus menunduk dan memejamkan mata ku hingga aku dikagetkan oleh sebuah sentuhan di CD ku, tepat di vibrator yang berada di antara lipatan vaginaku. “Jangan kurang ajar pada Lyn, dasar pria mesum.” makiku sambil mendorong tubuhnya untuk menjauh dari ku. “Hehehehe… Aku mesum? Apa Ibu Evelyn yang seksi ini tidak mesum? Ibu memakai CD mini yang transparan dengan vibrator di dalamnya ini tidakkah lebih mesum dari diriku?” ejeknya. “Wah kalau aku panggil polisi dan wartawan kesini rasanya bakal asyik nih… Amoy cantik mulus memakai vibrator di ruang pemeriksaan bandara ditemani 3 pria sekaligus.” lanjutnya. Kembali aku harus terdiam mendengar ucapannya yang sudah mulai bersifat melecehkanku. Dan dia kembali tertawa penuh kemenangan melihatku menundukkan kepala lagi. Dia kembali mendekatiku sambil terus mengucapkan kata yang melecehkanku. “Ahhhh….” desahku ketika petugas gemuk itu kembali memainkan jari2nya dari luar CD ku. Tidak dapat kupungkiri bahwa sentuhan2nya membuat ku terangsang, namun aku tetap berusaha menjaga kesetiaanku pada suamiku. “Aku tidak akan terangsang oleh pria selain suamiku, terlebih lagi oleh pria tua, gemuk dan jelek seperti dia.” aku terus mengucapkan itu dalam hati untuk menahan gejolak birahi yang perlahan namun pasti mulai menguasai diriku. 

Tiba2 petugas itu melepaskan tangannya dari selangkanganku dan kembali duduk di meja. Ketika itu juga aku sempat merasa ada yang hilang dari tubuhku, seolah tidak rela kehilangan kenikmatan yang baru saja aku terima. “Bu, itu ukuran susu ibu kok besar sekali, saya curiga Bu Evelyn menyembunyikan sesuatu di balik baju Ibu.” katanya mulai berani mengucapkan kata2 vulgar. Aku yang sudah sangat terangsang, tanpa diperintah 2 kali langsung membuka tank top biru yang kukenakan. Dia kembali mendekatiku sambil memuji tubuhku yang sudah setengah bugil ini. Tanpa meminta ijin, dia langsung meremas payudara kiri ku yang masih terbungkus bra dengan kasar hingga membuatku merintih dan mendesah. Alvin, suamiku selalu lembut saat bermain dengan kedua payudaraku ini, namun remasan kasar ini memberikan sensasi yang berbeda, sangat berbeda, dan aku benar2 menikmatinya. 

Kurasakan tangan kirinya telah berada di punggungku, tepatnya di kaitan bra ku. Dengan sekali gerakan dia berhasil membuka pengait kain pelindung atasku yang terakhir, namun aku segera menahan cup bra ku. “Pak, Lyn akan menuruti semua kemauan Bapak asal dengan satu catatan.” aku mencoba mengajukan penawaran, karena percuma saja aku melawan keingingan pria mesum ini. “Apa?” tanyanya sambil tangan kirinya mengusap2 pantatku. “Lyn tidak mau sampai intercourse Pak.” jawabku cepat sambil mengatur nafas yang mulai terasa berat. “Interkos? Maksudmu ML? Ngomong gitu aja kok repot.” ejeknya. “Oke tapi Ibu harus menuruti semua perintahku.” lanjutnya. Aku hanya mengangguk tanda memberikan persetujuan. Akupun melepaskan tanganku dari payudaraku sehingga bra itu pun lepas dan jatuh di lantai. Tiba2 petugas mesum itu mengambil bra merahku itu lalu menghirup dan menciuminya. “Mulai sekarang panggil aku Tono aja Bu.” katanya sambil tersenyum mesum. Dia berjalan mendekati kaca persis tepat di depan suamiku yang masih tampak gelisah. “Sini Bu, aku mau grepe2 Ibu di depan suami Ibu.” serunya membuat aku terkejut dengan keinginannya. Tapi aku terpaksa berjalan mendekatinya karena aku yakin suamiku tidak bisa melihat apa yang terjadi di ruangan mesum ini. 

Pria gemuk itu mendorongku hingga aku menungging dengan berpegangan ke kaca persis di hadapan suamiku. Belum sempat rasa malu ku hilang, tiba2 kurasakan suatu benda tumpul di antara kedua pangkal pahaku. Reflek aku melihat ke bawah dan alangkah terkejutnya diriku melihat sebuah penis hitam dengan ukuran yang besar, lebih besar dari milik suamiku. “Pak Tono… ahhh.. apaa yang ahh… Bapak lakukan? Ahhh…” erangku merasakan nikmat di daerah selangkanganku ketika dia mulai menggerakkan pinggulnya. Penis hitamnya dan vaginaku yang sudah sangat basah dan gatal hanya dipisahkan selembar kain segitiga mungil dan vibrator. Sesekali pria gemuk itu menampar pantatku, memberikan sebuah pengalaman baru padaku bahwa hal itu juga memiliki kenikmatan tersendiri. Aku benar2 telah dikuasai nafsuku sekarang. Aku, Evelyn sedang “disetubuhi” oleh pria selain suamiku di hadapan suamiku sendiri. Tiba2 Alvin mendekatkan wajahnya ke kaca seolah ingin mengintip apa yang terjadi disini. Melihat itu aku bukannya takut, tetapi justru semakin bernafsu. “Vin, lihat nih Lyn disetubuhi Pak Tono lhooo. Sorry ya Vin, tapi ini benar2 nikmat.” aku mulai menggumam tidak karuan. Setelah beberapa menit di”setubuhi”, aku benar2 sudah tidak tahan dan tanpa sadar tanganku sudah menarik CD ku ke samping sehingga vibrator yang sejak pagi berada di vaginaku terjatuh. Aku berharap agar aku benar2 mendapat sebuah persetubuhan sesungguhnya. Tapi tiba2 

“Ohhh…. Bu.. aku… keluar…!”. Kurasakan cairan hangat menyembur tempat di bibir vaginaku. Ketika itu juga perasaanku kacau, apakah harus bersyukur atau menyesal karena tidak bisa mencicipi penis hitam itu. Akhirnya akal sehatku berhasil membuat keputusan benar, aku tersenyum karena berhasil bertahan hingga akhir. Akupun bergegas merapikan kembali CD ku tanpa membersihkan lelehan sperma yang masih terasa hangat itu, karena di ruangan ini tidak tersedia tissue. Aku memaki rok miniku lagi secepatnya. Saat hendak memakai bra, aku tidak menemukan bra merahku, dan ternyata bra ku sedang dipegang oleh Pak Tono.

“Ini saya simpan untuk barang bukti pemeriksaan Bu.” katanya sambil tertawa. Aku yang ingin segera keluar dari ruangan mesum inipun langsung memakai tank top ku. Setelah merapikan rambut ku, aku langsung berjalan ke arah pintu, namun tiba2 Pak Tono menahanku, dengan posisi memeluk ku dari belakang dia mencoba memasukkan tangannya ke dalam rok ku langsung menuju CD ku. Belum sempat aku berontak, kurasakan dia mengembalikan vibratorku ke tempat yang “seharusnya”. 

“Heheheh…. Nyaris lupa ya Bu?.” ejeknya. Aku cuek saja menanggapinya. “O iya Bu, tentang BH nya tenang saja lain kali pasti saya kembalikan. Sekalian mungkin saya mau diskusi mengenai foto dan video hasil pemeriksaan barusan.” lanjutnya sambil menunjukkan HPnya. Ucapannya barusan benar2 seolah membuat duniaku menghitam. Aku langsung keluar dari ruangan dan ternyata suamiku sudah ada persis di depan pintu. Melihat wajah Alvin yang cemas, aku segera mengambil keputusan. Keputusan untuk menceritakan kejadian barusan kepadanya, tetapi aku rasa harus ada beberapa atau mungkin tepatnya banyak yang harus aku sortir. Aku juga tidak berniat melaporkan kejadian barusan kepada pihak kepolisian, bagaimana mungkin aku melaporkan pelecehan yang aku alami tetapi aku sendiri juga menikmatinya. ============================== “Ahhhhh…. Pak Tono…” erangku saat aku mendapatkan orgasmeku. Perlahan aku membuka mata sambil berusaha mengatur nafasku, dan alangkah kagetnya diriku mendapati Alvin sedang duduk membelakangiku di tepi kolam renang. “Gawatttt… Apa Alvin tahu kalau tadi Lyn masturbasi sambil membayangkan disetubuhi Pak Tono?” kataku dalam hati. Tiba2 Alvin menoleh padaku sambil tersenyum. “Mau renang bareng?” ajaknya. Akupun bangkit dari kursi dan segera menghampirinya tanpa merapikan bikiniku yang sudah tidak pada tempat seharusnya. “Love you” hanya itu yang bisa kubisikan padanya.

Tidak terasa sudah 1 jam lebih aku dan Lyn bermain air di kolam renang villa pribadi kami. Mungkin lebih tepat kalau disebut “bermesraan” daripada “bermain air”, yah sejak istriku itu ikut masuk ke kolam renang kami nyaris tidak berenang sama sekali. Kami hanya berciuman dan saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Aku yang sempat shock mendengar istriku menyebut nama lelaki lain saat dia bermasturbasi akhirnya kembali harus mengalah pada nafsuku. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan melihat istriku yang baru saja bermasturbasi berjalan ke arahku dengan menggunakan bikini yang sudah tidak berguna sebagaimana seharusnya. Akhirnya kami sudahi acara bermesraan kami itu tanpa bersetubuh, yah aku memang sengaja menahan diri karena aku sudah merencanakan untuk menuntaskannya nanti semalaman. “Lyn, buruan mandi, aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” kataku ketika menyadari hari sudah mulai sore. “Kemana Vin?” jawabnya singkat sambil tetap memelukku. “Namanya juga surprise, masa diberitahu duluan. Yang pasti dandan yang cantik ya Lyn.” jawabku sambil tersenyum.  “Emang Lyn nda cantik ya kalau nda dandan?” dia memasang wajah cemberut. “Hahahah… You always be my angel.” rayuku yang langsung membuatnya tersipu. “Lyn maunya dimandiin!” tawarnya lagi. Segera kuajak istriku ini keluar dari kolam renang dan langsung kugendong dia menuju ke arah kamar mandi. Sesampainya sampai di kamar mandi, segera kubuka bikininya dan kuajak dia ke arah shower. Entah sejak kapan istriku ini juga telah melepas boxer ku. Kusabuni seluruh bagian tubuhnya, tidak terlewat sedikitpun. Harus kuakui ada daerah2 tertentu yang lebih lama “kusabuni”, daerah mana lagi kalau bukan payudara dan vagina istriku ini. “Vin, masukkin donk, Lyn udah nda tahan lagi nih.” ucapnya sambil menuntun penisku ke arah vaginanya. 

Namun aku tidak mau terlambat dan membuat rencana yang sudah aku susun sejak sebulan lalu menjadi berantakan. “Eitss… Belum waktunya Lyn.” jawabku sambil menahan pinggulku. Namun rasa isengku tiba2 muncul, aku ingin menggodanya. Sambil memeluknya dari belakang, kugesekan penisku ke bibir vaginanya, tangan kiri bermain di klitorisnya, dan tangan kanan bermain di putingnya. Tidak lama kemudian, kurasakan tubuh Lyn mengejang dan vaginanya mengeluarkan banyak cairan. Dia berhasil mendapatkan orgasmenya. “Vin jahat ah, godain Lyn terus. Lihat aja nanti pasti Lyn balas.” kembali dia berpura2 memasang wajah cemberut. Aku hanya bisa tertawa melihat reaksinya. Setelah mengatur nafasnya beberapa saat, dia keluar dari kamar mandi, dan aku pun melanjutkan acara mandiku. ============================== Saat sudah selesai mandi, kulihat istriku sudah selesai bersiap. Malam ini dia terlihat sangat cantik dan seksi. Istriku yang seksi dengan rambut diikat ke belakang telah menggunakan mini dress berwarna pink. Bukan hanya mini menurutku, tapi sangat mini, panjang bagian bawahnya mungkin hanya sekitar 15cm dari pangkal pahanya. Aku yakin bila dia membungkuk, bagian selangkangannya pasti akan terlihat. Bagian belakang dress itu bertipe backless, seolah memamerkan mulusnya punggung istriku itu. Dengan dress seperti itu, istriku terpaksa harus tidak memakai bra karena akan tidak cocok bila terlihat bra di bagian punggung mulusnya. Melihat pemandangan ini menambah daftar panjang penderitaan bagi penisku seharian ini. Melihat aku yang sedang terpana, Lyn justru sengaja menggodaku, dia menghadap ke arahku sambil kedua tangannya meremasi kedua payudaranya. “Hihihihi… Ini baru awal dari pembalasan Lyn lho, masa udah mau nyerah.” godanya saat melihat aku yang sudah tidak tahan hendak mengurut penisku sendiri. Gengsi, akupun segera memakai pakaianku. Kemeja lengan panjang warna putih kupadukan dengan celana panjang warna hitam. Aku berjalan ke arah pintu, dan saat melewatinya dengan tiba2 kucolek payudara kirinya dan segera berlari sambil tertawa lepas. “ALVIN CURANG!” teriaknya. Diapun segera berlari kecil mengejarku. Kuperhatikan goyangan payudaranya saat berlari ke arahku, benar2 sanggup untuk meruntuhkan iman setiap lelaki.  Ketika sudah di depan pintu villa pribadi kami, kuhentikan langkah kami. “Lyn, biar lebih surprise, aku tutup mata kamu ya?” pintaku sambil menunjukkan secarik kain hitam yang memang telah aku siapkan. 

Diapun hanya mengangguk menunjukkan persetujuannya. Kututup matanya dengan kain hitam itu, dan kuikatkan di bagian belakang kepalanya. *Cuppp* kucium ringan tengkuknya yang terbuka. Akupun mulai menuntun istriku berjalan menuju ke arah pantai yang berada di belakang hotel kami. Aku memang telah memesan venue khusus untuk romantic dinner sekaligus menikmati keindahan sunset Pulau Dewata yang memang sudah terkenal ini. Sunset disini memang lebih lambat dibandingkan di kota asalku, berdasarkan info yang kudapatkan dari receptionist hotel perkiraan sunset adalah antara pukul 6 hingga 7 malam waktu setempat. Ketika sudah mendekati area pantai, terasa angin bertiup lebih kencang dibandingkan ketika masih di dalam area hotel. Sekilas kulihat bagian bawah mini dress istriku sedikit berkibar ditiup angin. Mengingat mini dress yang sangat terbuka itu membuat aku khawatir, khawatir istriku sakit dan khawatir bagian bawah dress nya terangkat tertiup angin. Akhirnya kucoba menawarkan kepada istriku untuk kembali ke villa guna berganti pakaian terlebih dahulu, namun istriku menolak. “Kalau hanya angin segini sih Lyn kuat kok Vin. Tenang aja Lyn akan baik2 aja.” ucapnya lembut. Beberapa kali kami berpapasan dengan karyawan hotel. “Have a nice day.” sapa mereka. “Pelayanan hotel bintang 5 memang berbeda, semua karyawan mereka benar2 ramah.” batinku. Kulihat dari arah depan, ada satu lagi karyawan hotel yang menuju ke arah hotel di belakang kami. Tiba2 “Kyaaa…” pekik istriku sambil memegang erat bagian bawah dress pink nya. 

Rupanya angin nakal yang baru saja berhembus telah membuat bagian bawah dress istriku terangkat. Sayangnya ketika aku menoleh, istriku sudah menurunkannya lagi, membuat aku gagal mengetahui model dan warna CD nya. Ketika menoleh ke arah depan lagi, kulihat karyawan di depan kami masih terkejut sambil tangan kanannya menutup mulutnya. Dia pasti terkejut melihat dress istriku terangkat tadi, pasti dia sangat menikmati apa yang dia liat, bidadari cantik dengan dress menggoda yang bagian bawah dress nya terangkat. Akupun menyapanya ketika sudah dekat dengannya. “Sore Pak.” sapaku sambil tersenyum. Tapi dia masih hanya terdiam. Aku hampir saja tertawa melihatnya. “Anggap yang tadi BONUS untuk Bapak.” ucapku lagi. Entah setan apa yang merasuki diriku sehingga tiba2 bicara begitu, aku sendiri tidak percaya dengan mulutku sendiri. Kulihat istriku yang masih dengan mata tertutup hanya tersenyum manis. ================================  Akhirnya kami sampai di sebuah gazebo kecil di tepi pantai, lengkap dengan sebuah meja kecil yang tertutup kain dan 2 kursi kosong berhadapan. Bunga dan lilin di tengah meja seolah tidak ingin ketinggalan melengkapi pemandangan indah petang ini. Perlahan kubuka ikatan kain hitam yang sejak tadi menyembunyikan kedua mata indah milik istriku yang cantik ini. Aku benar2 penasaran seperti apa reaksi yang ditunjukkan istriku begitu melihat ini semua. 

“Happy anniversary Lyn.” ujarku lembut. “……….” istriku terdiam ketika ikatan penutup matanya telah terlepas. Aku yang kebingungan, mencoba mencari tahu dengan menatap ke arah wajahnya. Kulihat matanya berkaca2 seolah ingin menangis. “Kenapa Lyn? Lyn nda suka ya? Ada yang salah? Maaf.” ujarku cepat sambil menyeka air mata yang mulai menetes keluar dari matanya. “Ahh… Alvin bodoh ah. Merusak suasana. Padahal khan Lyn lagi bahagia dengan surprise ini.” serunya sambil menjitak kepalaku. Belum sempat aku merespon, “Thanks ya suamiku.” dan kemudian kurasakan bibirku telah diciumnya. Aku hanya bisa memeluknya. “Love you Lyn.” kataku dalam hati. ============================== Kini kami sudah duduk berhadapan menunggu sunset dan makanan kami keluar. Segelas champagne sudah berada di tangan kami masing2. Kami mengobrol banyak hal, terutama tentang masa lalu hubungan kami berdua. Aku benar2 bahagia bisa melihat istriku ini tertawa lepas. Kulihat dua orang karyawan sedang menuju ke arah kami sambil membawa makanan yang sudah kami pesan. Dari kejauhan, kulihat kedua karyawan itu adalah pria yang masih sangat muda, mungkin sekitar 18 tahunan. Ketika kulihat ke arah istriku, kulihat dia tersenyum kepadaku. Tapi senyuman itu… bukan senyuman  yang biasanya… senyuman itu seperti senyuman nakal yang merencanakan sesuatu. Otakku langsung berpikir apa yang sebenarnya istriku rencanakan, dan anehnya sebagian kecil otakku berharap istriku yang cantik ini sedikit menggoda kedua karyawan yang akan datang ini. Aku segera menggelengkan kepala seolah dengan begitu bisa mengusir pergi pikiran kotor itu. 

"Selamat menikmati.” ucap kedua karyawan itu sesaat setelah meletakkan semua pesanan kami di atas meja. Tiba2 terdengar “Wahh… Jatuh.” seru istriku dan kulihat sebuah garpu terjatuh di atas pasir. Ternyata istriku tidak sengaja menjatuhkan garpunya dan hendak mengambil garpu kotor itu. “Tidak apa Bu, biar saya ambil dan akan segera saya ganti yang baru.” ucap salah satu pemuda itu sambil membungkuk untuk mengambil garpu itu. Istriku yang sudah lebih dulu menunduk segera disusul oleh pemuda itu. Kulihat pemuda yang lain agak terbelalak melihat ke arah istriku, akupun segera meposisikan tubuhku berusaha untuk melihat apa yang pemuda itu lihat. Dan apa yang kulihat benar2 mengejutkanku, aku dapat melihat dress bagian atas istriku tertarik ke bawah dan seluruh payudaranya bisa terlihat jelas dari atas sini. Iya, seluruh payudaranya, bahkan hingga puting mancungnya bisa terlihat dengan jelas. Dan parahnya lagi aku yakin pemuda itu juga bisa melihat apa yang baru saja kulihat. 

“Ehemmm…” aku pura2 bersuara untuk menghentikan tatapan cabul pemuda itu. Dan rupanya usahaku berhasil, pemuda itu segera berpura2 menatap ke arah laut. Tidak berselang lama, kulihat istriku sudah kembali ke posisi duduk lagi. Tapi… kenapa pemuda yang hendak mengambil garpu yang jatuh tadi belum berdiri?? Belum rasa penasaranku terjawab, pemuda itu telah berdiri kembali. Kuperhatikan wajahnya bersemu merah, entah apa penyebabnya. Setelah semua persiapan beres, kedua pemuda itupun pamit meninggalkan kami berdua. Kualihkan pandanganku pada istriku, dan sekali lagi kulihat senyuman nakalnya, dia mengambil HP nya dan terlihat sedang mengetikkan sesuatu. Aku yang tidak mengerti maksudnya tiba2 mendengar HP ku berbunyi tanda ada BBM yang masuk. Kuraih HP ku, sebelum sempat membaca pesan BBM, kudengar istriku berbisik “Ini masih lanjutan pembalasan karena Vin godain Lyn terus.” Aku tetap berusaha bersifat cool dengan cuek terhadap bisikan nakalnya, paling tidak itu yang terjadi hingga aku membaca pesan BBM yang sudah kuduga memang dari istriku. “Lyn wears no panties.” begitu pesan yang kubaca. Pikiranku langsung melayang, menebak2 apa yang telah terjadi barusan. Apakah pemuda tadi berhasil melihat paha dan bahkan vagina istriku saat dia masih di bawah meja? Apakah itu berarti payudara dan vagina istriku dinikmati oleh pandangan dua orang pemuda yang tidak dia kenal sekaligus? Melihatku bingung, Lyn hanya tertawa terbahak2. Dan apa yang dia lakukan selanjutnya makin membuatku meledak. 

Kurasakan telapak kakinya menyentuh bagian penisku yang masih terbungkus boxer dan celana panjang. Ini benar2 gila… Memang situasi disini sangat sepi, karena aku memesan tempat khusus disini, tetapi godaan yang dia berikan ini benar2 sudah gila. Kalau saja aku tidak mempedulikan kemungkinan ada karyawan hotel yang kemari aku pasti sudah langsung memperkosanya disini juga dan sekarang juga. Tapi akal sehatku berhasil memenangkan perang batin ini. Seolah tidak mau kalah, aku segera melepas sepatuku dan mengarahkan kaki kananku ke arah  selangkangan istriku yang menggoda ini. 

Aku masih belum percaya sepenuhnya bahwa istriku tidak menggunakan apa2 lagi di balik mini dress nya itu. Namun keraguan itu hilang seketika saat aku dapat merasakan vagina istriku yang hangat dan basah tersentuh oleh jari kakiku. Evelyn, istriku benar2 tidak menggunakan apapun untuk menutupi tubuhnya selain mini dress berwarna pink itu. Lalu… apakah itu juga berarti karyawan hotel yang kami temui saat perjalanan menuju kemari juga telah melihat vagina istriku ini? Godaan demi godaan yang diberikan istriku ini benar2 membuat aku terbuai. Bahkan aku tidak sadar bahwa matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Mengingat hawa yang mulai dingin, aku pun berinisiatif untuk menghentikan kegilaan yang kaki kami lakukan. 

Aku mengajak dia untuk segera mulai makan, aku khawatir dinginnya angin pantai akan membuat istriku sakit. Akhirnya kami menghabiskan makanan kami dengan cepat, bahkan terbilang sangat cepat dibandingkan dengan kegiatan kaki kami di bawah meja tadi. Setelah memastikan diri kami telah rapi, kamipun berjalan bersama dengan kulingkarkan tanganku ke pinggangnya meninggalkan area pantai. 

“Vin, berendam di jacuzzi yuk.” suara merdunya terdengar lagi. Aku pun mengangguk setuju karena memang kami sudah tidak ada rencana lain lagi, dan kupikir akan sangat nyaman kalau berendam air hangat di jacuzzi. 
"Kita pulang ke villa dulu, ganti pakaian renang.” ajakku sambil iseng meremas pantatnya yang bulat. “Ga boleh ya Lyn berendam pakai ini?” tanyanya sambil menarik bagian dada dress nya ke depan, menampakkan belahan payudaranya. 

"Hihihih… Pasti mikir aneh2 ya. Hayo mikir apa?” lanjutnya ketika melihat wajahku yang masih bingung dengan pertanyaannya. “Ya iya donk kita ganti pakaian renang Vin, mana mungkin Lyn berendam di tempat umum dengan dress begini, apalagi Lyn tidak pakai apa2 lagi dibalik dress ini.” ejeknya sambil tertawa. Sialnya dia sengaja memberikan penekanan pada kalimat “tidak pakai apa2 lagi di balik dress ini” yang tentunya membuatku membayangkan indahnya tubuhnya hanya terbalut dress mini yang basah.

Kami segera berganti pakaian renang ketika sudah sampai di dalam villa. Ternyata istriku ini menggunakan bikini yang berbeda dari yang dia gunakan tadi siang. Kali ini dia menggunakan bikini 2 piece berwarna merah menyala. Bagian atas bikini itu terlihat tidak sanggup melindungi seluruh payudara istriku yang indah itu, sedangkan bagian bawah bikininya benar2 mungil membuat vagina istriku seperti hendak mengintip. Bikini ini hanya diikatkan tali2 tipis, bagian atas bikininya terikat di leher dan punggung istriku, sedangkan bagian bawah bikininya terikat di kedua sisi pinggulnya. Kami segera mengambil dan menggunakan bath robe untuk menutupi sementara tubuh kami. “Ayo Vin…” seru istriku yang terlihat bersemangat.

Kondisi kolam renang malam itu terbilang sangat sepi. Hanya terlihat 2 anak kecil ditemani ibunya di kolam renang khusus anak2, seorang pria di tempat jacuzzi dan seorang wanita duduk di kursi santai di tepi kolam. Kamipun berjalan pelan menuju tempat jacuzzi yang berada di pojok kolam renang. “Evelyn??? Alvin???” teriak pria yang sedang berendam di jacuzzi sambil melambaikan tangan ke arah kami. Aku dan istriku saling berpandangan, seolah saling bertanya bagaimana bisa ada yang mengenal kami disini. Kamipun mendekat untuk memastikan siapa penyapa kami. Akhirnya aku dapat melihat dan mengenali pemilik suara tadi. Dia adalah….. DAVID SETIAWAN, mantan pacar istriku sebelum akhirnya menjadi pacarku ketika masih kuliah dulu. Seketika itu juga moodku seolah hancur. Memang tidak ada perselisihan diantara kami, hubungannya dengan istriku pun tidak buruk, mereka putus secara baik2 dan hal itu diterima oleh keduanya. Kami memang masih sering bertemu karena memang tempat tinggal kami di kota yang sama.  Tapi aku kurang begitu suka dengan dia. Aku tidak suka cara dia menatap istriku. Aku tidak suka cara dia bercanda dengan istriku. Aku tidak suka dengan keisengannya yang terkadang mencolek anggota tubuh istriku. AKU CEMBURU…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Budak Napsu Sopir Bus Antarkota

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Preman Tanah Abang

Draft Pemburu Amoy Pecinan

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Rahasia Dibalik Seragam Sekolah

Draft Arisan sosialita Yang Brutal

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7