Tak terasa sudah setahun penuh sejak pernikahan kami. Dalam kurun waktu itu aku dan Meilin telah menyalurkan beragam fantasi liar yang tak terhitung banyaknya. Dari malam pertama saat Meilin masih memakai gaun pengantin hingga momen-momen gila kami di rumah maupun di tempat-tempat umum kami semakin terbiasa dengan permainan gelap yang justru membuat hubungan kami semakin erat. Setiap kali fantasi itu tercipta bara di antara kami bukannya padam malah semakin besar seolah kami berdua haus akan sensasi baru yang lebih dalam.
Dan pagi itu di rumah kecil kami nuansa berbeda hadir. Hari Imlek datang dan untuk pertama kalinya kami akan merayakannya lagi bersama keluarga besar Meilin setelah satu tahun hidup sebagai pasangan suami istri. Meja ruang tamu sederhana kami sudah dipenuhi kue-kue khas Imlek. Kue keranjang tersusun rapi kue kacang dengan aroma manis gurih yang menggoda dan lapis legit berwarna-warni. Aku bahkan menambahkan sentuhan kecil. Lampion kertas merah bergambar huruf fu digantung seadanya di dekat jendela. Dekorasi itu mungkin sederhana tapi cukup memberi suasana perayaan.
Dari dalam kamar pintu berderit pelan lalu Meilin keluar. Cheongsam pink penuh bordir bunga-bunga warna-warni yang rumit membalut tubuhnya dengan sempurna menonjolkan payudara montok dan pinggang rampingnya. Bagian dada dan pinggangnya terbuka sedikit memperlihatkan kulit putih mulus sementara roknya melengkung indah di paha jenjangnya. Rambut hitam panjangnya disanggul cantik dengan hiasan bunga dan perhiasan kristal yang bergoyang lembut setiap ia bergerak bibirnya yang merah muda serasi dengan keseluruhan penampilan. Ia tampak seperti sosok dewi oriental yang baru turun dari panggung perayaan Imlek.
Aku yang tengah duduk di sofa sambil memeriksa kotak kue keranjang mendongak. Pandanganku langsung terpaku. Sejenak aku teringat kembali semua malam-malam gila yang kami jalani setahun ini. Meilin dengan kulit putihnya yang kontras tubuhnya yang lentur dan tatapan pasrah penuh gairah setiap kali fantasi liar kami dimainkan. Semua itu mendesak kembali ke kepalaku membuat napasku berat.
"Gimana penampilanku hari ini.. keliatan seksi gak ? Tanya Meilin sambil berputar kecil di depan cermin dekat ruang tamu. Senyumnya manis penuh percaya diri.
Aku menyandarkan punggungku menatap dengan mata yang penuh bara.
"Seksi banget Lin.. bajunya ketat pas dibadan kamu. Jadi keliatan amoy banget kamunya.. Saking seksinya sampai aku pengin batalin semua rencana pergi ke rumah orang tuamu. Suaraku rendah serak penuh nada menahan.
Meilin tersenyum geli meski pipinya merona. "Jangan bercanda zal.. Papa mama sudah menunggu. Apalagi Imlek kali ini kita harus bawa kue-kue itu. Namun tubuhnya sedikit kaku ketika aku berdiri lalu melangkah mendekat dan meraih pinggangnya dari belakang.
Tanganku yang besar melingkari tubuh semok Meilin membuatnya merapat ke dada bidangku. Napasku hangat menyapu leher putihnya membuat bulu kuduknya meremang. Sekilas ia merasa seperti ditarik kembali ke setiap fantasi liar yang kami pernah lakukan dan tubuhnya memberi respon instan.
"Kamu tahu nggak… aku nggak pernah puas setahun ini. Badan kamu yang putih dan seksi ini bikin aku kepengen terus. Ternyata bener kata orang. Amoy kayak kamu tuh makin direndahin makin berasa nikmatnya. Bisikku nadanya bergetar di antara bangga dan lapar.
Meilin menoleh setengah tatapannya campuran antara menggoda dan menahan. "Kalau kamu mau nanti malam aja ya… setelah pulang dari sana. Aku bakal serahin semuanya untukmu.. terserah kamu mau apain aku.. tapi sekarang kita harus berangkat dulu.
Aku terdiam sejenak menahan gejolak lalu melepaskan pelukan itu. Aku mengambil kotak kue keranjang menghela napas panjang dan menatap Meilin lagi dengan sorot penuh janji.
"Baiklah. Tapi jangan salahin aku kalau nanti malam aku bakal lebih buas dari biasanya. Amoy seksi seperti kamu emang selalu bikin pribumi sepertiku jadi lupa diri Lin..
Meilin hanya tersenyum tipis menggandeng tanganku. Bersama-sama kami melangkah keluar membawa kue-kue Imlek dan gairah yang sekali lagi ditunda. Bara yang sudah terbukti setahun penuh tak pernah bisa padam. Mobil melaju perlahan keluar dari gang rumah kecil kami menuju jalan utama. Udara pagi terasa cerah tapi di dalam mobil suasananya berbeda. Lebih tegang penuh dengan percikan gairah yang kami ciptakan sendiri.
Meilin duduk manis di kursi penumpang. Cheongsam pink penuh bordir bunga-bunga warna-warni menempel pas di tubuhnya memperlihatkan paha mulusnya yang putih setiap kali ia menyilangkan kaki. Rambut hitam panjangnya yang disanggul indah bergoyang lembut diterpa angin dari AC wajahnya bercahaya dengan make-up tipis yang menambah kesan segar.
Aku menggenggam setir tapi mataku berkali-kali melirik ke samping. Napasku terasa berat. "Ya ampun Lin… kamu tahu nggak? Kamu duduk di sampingku kayak gini bikin aku pengin banting setir pulang lagi dan nggak usah datang ke rumah orang tuamu.
Meilin terkekeh kecil menutup mulut dengan tangan. "Jangan gila Zal. Papa mama udah nunggu. Ini kan Imlek masa kita nggak datang?
"Terserah acara apa. aku menggeleng sambil menyunggingkan senyum nakal. "Yang aku tahu istriku ini terlalu cantik buat duduk anteng di sebelahku. Cheongsam pink itu… aduh Lin… rasanya aku pengin kamu pakai itu cuma buat aku bukan pamer di depan keluarga besar.
Meilin menoleh menatapku dengan mata bercahaya. Ia tahu betul nada suaminya mulai berubah. Nada khas setiap kali fantasi-fantasi kami muncul. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Kamu selalu gitu. Lihat aku dandan sedikit aja langsung kepikiran macam-macam.
Aku mencondongkan badan sedikit suaraku lebih rendah. "Macam-macam? Aku cuma mikir kamu memang istri paling sempurna buat nemenin aku… buat jadi bagian dari permainan kita. Kamu sadar nggak Lin seandainya ada orang lain yang lihat kamu kayak gini… mereka pasti kepikiran hal yang sama kayak aku.
Pipi Meilin memerah. Ia menunduk sebentar lalu balik menatap dengan berani. "Kalau memang begitu… biarin. Aku kan milikmu. Kalau kamu mau aku terlihat kayak gini di depan orang lain aku siap.
Aku menghela napas panjang setengah terkekeh puas setengah menahan gejolak. Tanganku sempat meninggalkan setir untuk menyentuh paha Meilin hanya sebentar cukup untuk membuat Meilin tersentak kecil.
"Badan seksimu ini emang udah sepantasnya jadi santapan pribumi haus seks seperti aku Lin..
Mobil terus melaju tapi di dalam kabin suasananya sudah panas. Kata-kata yang kami ucapkan bukan sekadar obrolan ringan. Itu adalah fantasi liar yang sudah setahun penuh kami jalani sebuah dunia kecil yang hanya kami berdua pahami.
Meilin menyender ke jendela matanya setengah terpejam senyum nakal tergambar di bibir. "Sabar ya Zal. Nanti malam… setelah pulang dari rumah papa mama. Baru kamu bisa main sepuasnya.
Aku menelan ludah mataku kembali fokus ke jalan tapi tanganku masih terasa hangat di paha Meilin. "Aku tunggu. Dan aku janji malam ini bakal jadi malam Imlek yang nggak akan kamu lupakan.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mobil akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat keluarga besar Meilin tinggal. Jalanan dipenuhi lampion merah yang digantung di sepanjang pintu gerbang rumah-rumah suasana Imlek begitu terasa. Beberapa anak kecil berlarian dengan baju tradisional cheongsam dan changshan tawa mereka bercampur dengan bunyi petasan yang sesekali terdengar di kejauhan.
Rumah orang tua Meilin tampak megah di ujung jalan bercat putih dengan pilar besar dihiasi lampion merah keemasan di teras depan. Di kanan kiri pintu masuk tempelan kertas merah bertuliskan doa keberuntungan melekat rapi sementara aroma harum dupa samar terbawa angin dari altar kecil yang terletak di dalam rumah. Mobilku berhenti tepat di depan halaman di mana beberapa kerabat sudah tampak hilir mudik menyambut tamu.
Begitu turun dari mobil Meilin langsung mencuri perhatian. Cheongsam pink penuh bordir bunga-bunga warna-warni yang ia kenakan berpadu dengan kulit putih mulusnya membuat banyak mata menoleh sekilas. Aku yang berdiri di sampingnya sambil membawa kotak kue keranjang merasa dada berdebar bangga sekaligus cemburu. Aku tahu istrinya cantik tapi di mataku kecantikan itu lebih dari sekadar penampilan. Itu bagian dari fantasi bagian dari dunia kecil yang kami ciptakan bersama.
Di teras Evelina kakak perempuan Meilin sudah menunggu. Rambutnya disanggul rapi wajahnya lembut dengan senyum hangat. Ia menyambut aku dan Meilin dengan pelukan singkat. "Akhirnya datang juga kalian. Papa mama sudah nunggu di dalam tuh. Evelina tampak anggun dengan gaun panjang berwarna marun meski sederhana pesonanya khas wanita matang.
Tak lama muncul pula Ching Ching adik perempuan Meilin. Usianya belasan tahun karena masih duduk dibangku SMA. wajahnya ceria dengan rambut panjang dibiarkan terurai. Ia mengenakan minidress seksi warna merah yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang ramping. Senyumnya cerah saat menyambut. "Cii.. Meilin! bang Rizal! Selamat Tahun Baru Imlek!
Aku menahan diri agar tak terlalu lama menatap. Tapi dalam hati ada desir kecil. Persis seperti yang sering muncul ketika aku membayangkan hal-hal liar. Dua iparku itu dengan pesona oriental yang berbeda-beda kini berdiri begitu dekat.
Meilin menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah sementara Evelina dan Ching Ching berjalan di depan bercakap-cakap ringan. Di ruang tamu yang luas meja besar sudah dipenuhi sajian. Kue keranjang manisan jeruk mandarin dan berbagai hidangan khas Imlek. Suara riang tamu yang lain bercampur dengan denting lagu Imlek berbahasa mandarin dari pengeras suara.
Aku berusaha tersenyum ramah menyalami mertua dan kerabat satu per satu. Namun di sela-sela kesibukan perayaan mataku kerap mencuri pandang ke arah Evelina yang sibuk membantu menyajikan makanan atau Ching Ching yang sesekali tertawa renyah sambil bercanda dengan sepupu-sepupunya. Hatiku bergejolak. Antara menjaga sikap sopan sebagai menantu dan fantasi liar yang diam-diam mulai berbisik di benakku.
Ruang tamu rumah besar itu semakin ramai menjelang siang. Lampion merah berayun pelan di langit-langit tinggi menebarkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Meja panjang dipenuhi kue keranjang manisan dan jeruk mandarin sementara dari dapur tercium wangi masakan khas Imlek yang menggoda.
Bagi aku suasana itu bukan sekadar pesta keluarga. Ini seperti panggung penuh godaan. Hampir semua gadis muda yang hadir mengenakan dress ketat dan seksi bernuansa merah. Ada yang mini ada yang selutut dengan belahan tinggi di samping ada pula yang dipadukan dengan renda tipis transparan. Warna merah menyala membungkus kulit putih mulus mereka membuat dadaku semakin panas.
Beberapa gadis muda dari kerabat Meilin bercanda sambil berdiri di dekat meja hidangan. Dress merah pendek mereka naik sedikit tiap kali tertawa dan bergerak. Ada yang menyibakkan rambut panjang ke belakang bahu memperlihatkan leher jenjang yang halus. Ada pula yang duduk bersilang kaki memperlihatkan paha mulus di balik gaun ketat yang hanya menutup seperlunya.
Aku berusaha menjaga ekspresi wajahku tetap tenang di hadapan mertua dan keluarga besar namun mataku tak bisa sepenuhnya lepas. Sekilas pandang yang aku curi dari sudut mata sudah cukup untuk memantik bayangan-bayangan liar di kepalaku. Imajinasi nakal mulai berbisik. Bagaimana rasanya jika tubuh-tubuh putih mulus dan wajah oriental dalam balutan dress cheongsam seksi itu menjadi milikku satu per satu?
Setelah mengamati pemandangan indah para wanita chindo yang menggairahkan itu, aku melangkah keluar ke teras taman rumah yang luas dan asri. Pepohonan hijau memenuhi area itu sehingga suasananya terasa sejuk dan tenang. Hiasan Imlek berupa lampion kecil bergoyang pelan diterpa angin sementara suara ramai dari dalam rumah hanya terdengar seperti dengungan samar di kejauhan. Baru saja aku menuruni dua anak tangga menuju teras tiba tiba suara lembut Meilin memanggil dari belakang.
“Zal.. kamu mau ke mana ?
Aku menoleh dan melihat Meilin berdiri di ambang pintu teras, rambutnya sedikit berantakan terkena angin, matanya yang sipit menatapku dengan ekspresi penasaran yang manis. Aku tersenyum kecil sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana.
“Aku mau keluar sebentar Lin. Jawabku pelan. “Pengen ngerokok dulu di depan. Bentar aja kok.
Meilin mengangguk pelan dan bibirnya melengkung tipis. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arahku. Suaranya terdengar lembut dengan sedikit nada menggoda.
“Jangan lama-lama ya… di dalam lagi rame.
Aku tertawa kecil mengedipkan sebelah mata ke arahnya.
“Iya nggak lama kok..
Meilin hanya tersenyum tanpa menjawab, tapi tatapannya mengikuti langkahku saat aku berjalan menuju bagian depan teras yang lebih tenang dan asri.
Di sisi teras ternyata bukan hanya aku yang mencari udara segar. Beberapa pria pribumi bertubuh legam duduk santai di kursi taman. Mereka jelas para sopir dari tamu-tamu yang datang. Satu orang sedang merokok. Beberapa orang lagi sibuk dengan ponselnya. Dan yang terakhir bersandar sambil menyeruput kopi dari gelas keramik.
Aku duduk di kursi kayu kosong yang ada di balik pohon tak jauh dari mereka. Karena mereka sedang asyik mengobrol kedatanganku tidak diketahui oleh mereka. Awalnya obrolan mereka masih ringan saja. Mereka membicarakan macetnya jalan tadi pagi lalu harga bahan bakar yang naik dan masalah ekonomi keluarga masing-masing. Namun tak lama kemudian obrolan mereka mulai mengarah ke hal yang lebih mesum.
"Eehh.. Din.. Gue perhatiin majikan lu kayaknya tambah bohay aja tuh. Udah pakeannya seksi.. kulitnya juga mulus banget lagi. Padahal setau gue anaknya kan udah tiga ya Din.. tapi masih keliatan seksi kayak gitu. kata Sutrisno yang juga seorang sopir.
"Iyee No.. namanya juga orang kaya. Pasti tiap hari kerjaannya perawatan mulu di salon. Jadi gak heran kalau kulitnya si Enci sampe licin kayak porcelen gitu. kata Sapri sopir lainnya.
"Haha.. omongan lu emang bener bro. Majikan si Udin yang namanya Angelica itu emang seksi banget ya badannya. Gue aja gak tahan kalau udah liat badannya yang semok itu. Kalau gue yang jadi sopirnya mah pasti udah gua culik kali tuh si enci. Gue sekap dikamar kontrakan yang sempit biar bisa gue entotin seharian. kata sopir lainnya dengan penuh semangat.
"Iyee gue tahu lu semua pasti bakal berpikiran mesum kayak gitu. Tapi ngomongnya biasa aja dong.. jangan kenceng kenceng kayak gitu. Nanti kalau si enci sampe ngedenger bisa gawat karir gue sebagai sopir keluarganya. Sahut Udin sambil cengengesan.
"Gue akui si enci majikan lu emang seksi banget bro.. penampilannya gak kalah sama artis dangdut dikampung gue.. hehe.. apalagi kalau liat tetek sama pantatnya yang semok itu.. uuhn.. lelaki mana yang tahan kalau disuguhi enci enci yang badannya kayak gitu. Sahut Tarno.
"Omongan lu semua emang bener bro.. gue juga heran sih kenapa ya amoy amoy dikeluarga majikan kita pada cakep cakep kayak gitu.. seandainya ada satu aja yang mau dijadiin gundik sama kita pasti bakalan tambah betah kita kerja sama mereka. Haha..
"Kalau ngomong ngomong soal gundik mah. Kayaknya si ching ching tuh yang paling cocok buat dijadiin lonte gratisan. Soalnya tampang cinanya keliatan imut banget apalagi kalau lagi pake baju sekolahan. Haha..
"Iya bener.. si Ching Ching emang keliatan imut banget. Tampangnya masih polos kayak amoy perawan yang jarang keluar rumah. Udah gitu sifatnya juga manja kayak anak kecil yang bikin lelaki tambah gemes buat mainin badannya.
"Setuju bro.. selian itu si ching ching tuh badannya proporsional banget buat ukuran amoy sekolahan. Tokednya juga masih keliatan kencang dan padat. Amoy sekolahan kayak gitu pasti enak buat digilir rame rame.. apalagi dientot sambil digendong dan dipompa dari bawah kayak adegan difilm bokep.. Kata Sapri dengan suara agak rendah.
"Haha.. fantasi kalian emang edan semua.. udah bagus dikasih kerjaan sama majikan ehh.. sekarang malah ngebayangin yang enggak enggak. Terus kalau menurut lu gimana No ? lu setuju kagak tuh kalau si ching ching kita jadiin gundik bersama.
"Bukannya gak setuju bro.. tapi selera gue emang agak beda dari kalian. Jujur aja gue tuh lebih tergiur sama si Evelina. Mukanya cakep banget kayak artis mandarin. Udah gitu keliatan dewasa banget apalagi kalau lagi pake gaun pesta yang belahannya tinggi bikin pahanya mulusnya jadi keliatan jelas.
"Kadang gue sering bayangin seandainya gue yang jadi sopirnya. Pas dia baru pulang belanja dari mall pakai baju seksi terus gue ewe kasar di jok belakang mobil sambil nutup mulutnya supaya gak berisik. Haha..
Haha.. bole juga fantasi lu bro... Si evelina emang beda banget sama enci enci lainnya. Penampilannya keliatan anggun dan kalem.. ngomongnya juga lembut berwibawa kayak ibu pejabat. Biasanya yang kayak gitu kalau udah dipancing dikit bakalan liar banget.
"Jangan lupa sama si Meilin juga bro.. dia mah bener-bener amoy favorit gue di keluarga ini. Kalian perhatiin kan muka cinanya si Meilin tuh napsuin banget. Kayak muka amoy-amoy haus seks.. yang kepengen dikontolin pribumi satu kampung. Haha..
Aku duduk diam di balik pohon sambil mendengarkan percakapan mereka. Aku menyangka akan merasa marah ketika nama istriku disebut-sebut dengan cara kotor seperti itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Hatiku malah semakin bergolak dan kejantanan di balik celana mulai mengeras perlahan. Semakin mesum obrolan mereka tentang Meilin semakin terangsang aku mendengarnya.
"Haha.. bener banget tuh.. si meilin juga enak buat dijadiin bacolan. Lagian dia kan satu satunya amoy dikeluarganya yang nikah sama pribumi. Jadi kalau kita jadiin gundik dia udah gak bakalan kaget lagi sama penampakan kontol pribumi yang ukurannya gede gede seperti punya kalian.
Aku merasakan napasku mulai memburu. Darah di tubuhku terasa mendidih mendengar bagaimana mereka membayangkan menggauli istriku dengan cara-cara kotor dan penuh nafsu. Alih-alih marah justru fantasi liar di kepalaku ikut terpicu. Aku diam-diam membayangkan Meilin yang sering berpakaian seksi itu sedang mendesis dan mengerang di bawah tubuh salah satu dari mereka.
Aku makin gak tahan mendengar obrolan mereka. Kejantanan di celanaku sudah keras sekali dan gairah di dalam dada semakin membara. Aku duduk diam sejenak sambil menimbang-nimbang keputusan yang ada di benakku. Setelah beberapa saat akhirnya aku memberanikan diri. Aku bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati para sopir itu dengan tenang.
"Bang.. kalau penasaran sama Meilin bilang aja. Gak usah ngomongin di belakang kayak gitu. kataku dengan suara datar.
Para pria itu langsung tersentak kaget. Wajah mereka memucat seketika begitu menyadari bahwa aku sudah duduk di dekat mereka sejak tadi. Udin hampir menjatuhkan gelas kopinya. Sutrisno dan Sapri saling pandang dengan ekspresi panik.
"Maaf bang.. maaf banget. Kami cuma bercanda aja tadi. Gak bermaksud apa-apa. kata Udin cepat sambil buru-buru berdiri.
"Iya mas.. kami minta maaf. Ngomongnya kelewatan. Tolong jangan dianggap serius. Tambah Tarno dengan suara gemetar.
Aku melihat ketakutan di wajah mereka berlima. Namun justru hal itu membuat birahiku semakin tinggi. Aku tersenyum tipis lalu berkata dengan nada pelan namun jelas.
"Oke aku gak akan permasalahin ucapan kalian tadi. Aku tau sebagai lelaki normal pasti kalian gak akan bisa tahan kalau udah ngeliatin badannya amoy amoy yang mulus itu. Soalnya dulu sebelum menikah aku juga sering kok ngomongin soal amoy sama teman teman kerjaku dikantor seperti yang kalian lakukan tadi. Tapi mungkin karena beruntung aku malah bisa mewujudkan impianku itu. Sahutku.
"Hehe.. iya bang.. kayaknya abang beruntung banget ya bisa nikahin amoy secantik dan seseksi non Meilin. Padahal amoy kan biasanya jarang yang mau dideketin sama pribumi.
"Ya emang beruntung sih tapi engak tau kenapa. Amoy tuh semakin dimiliki malah semakin penasaran.
"Loh penasaran gimana bang. Kan enak tuh tiap malam bisa gituan sama amoy.. kurang puas apalagi coba..
"Yah awalnya aku juga berpikir begitu waktu menikahi Meilin. Tapi lama kelamaan bukannya reda tapi aku malah makin penasaran dan pengen banget liat istriku dipake sama pribumi lain. Yah minimal kayak digerayangi gitulah badannya.
"Waduh kalau soal itu mah gampang banget bos buat mewujudkannya. Serahin aja istrinya bos yang putih dan sipit ke kita sekarang. Biar kita jarah badannya rame rame.. dijamin pasti bos bakalan tambah sange deh..
"Usul kalian kayaknya boleh juga tuh.. hari ini mumpung lagi Imlek.. Aku mau sedikit berbagi kenikmatan dengan kalian semua. Yah itung itung kayak aku ngasih angpau Imlek buat kalian. Yang pasti angpaunya bukan angpau biasa tapi angpau yang gak akan pernah bisa kalian lupakan seumur hidup. Hehe..
"Waduh si bos bisaan aja ngomongnya. Emangnya kita semua mau dikasih bonus apaan nih bos.. jangan jangan bos mau serahin si meilin yang putih dan sipit itu buat kita lagi.. Hehe..
"Jawabanmu tepat sekali.. hari ini aku mau ijinin kalian semua buat nyentuh badan istriku.. karena menurutku sebagai pribumi kita tuh emang harus saling berbagi.. bukan begitu bang ?
Para sopir itu terdiam sejenak. Mereka saling lirik dengan ekspresi tidak percaya. Seolah-olah kata-kataku barusan hanya ilusi telinga mereka saja. Udin mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bertanya dengan suara ragu.
"Hah.. yang bener bang.. jadi Abang mau nyerahin Meilin ke kita gitu..
Aku mengangguk pelan sambil menatap mereka satu per satu. Darah di tubuhku terasa panas dan kejantanan semakin menegang membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Iya aku akan kasih kalian waktu sebentar. Kalian boleh gerayangi badan istriku tapi ingat kalau aku bilang berhenti ya berhenti.. gimana ?
Siang itu udara mulai hangat namun taman belakang rumah keluarga besar Meilin masih teduh karena banyak pepohonan besar. Setelah selesai membuat kesepakatan dengan para sopir aku kembali masuk ke rumah lalu mendekati Meilin yang sedang duduk bersama kerabatnya di ruang tamu. Tanpa banyak bicara aku menyentuh lengannya dan berbisik pelan agar hanya dia yang mendengar.
"Lin kamu bisa ikut aku sebentar ke taman belakang.
Meilin mengerutkan kening dan tampak bingung. “Sekarang? Tapi keluargaku pada kumpul di sini semua Zal..
Aku menatapnya tajam lalu mendekatkan wajah ke telinganya dan berbisik tegas.
“Kalau kamu sayang sama aku kamu harus nurut. Sekarang juga.
Meilin langsung diam dan wajahnya memucat. Ia melirik keluarganya yang sedang asyik mengobrol lalu menghela napas panjang. Dengan ragu ia bangkit dan berkata pelan pada kakaknya. Ci.. Mei mau ke taman belakang sebentar ya sama Rizal.
Ia pun mengikutiku keluar melalui pintu samping menuju taman belakang. Meilin berjalan di belakangku dengan langkah gugup dan tangannya sesekali menarik ujung baju cheongsam seksinya. Begitu kami semakin jauh dari rumah dan mendekati area taman yang sepi ia bertanya dengan suara gemetar.
“Zal… kita mau ke mana sih? Kenapa harus ke taman? Keluargaku bisa curiga kalau aku tiba tiba pergi keluar kayak gini.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku terus berjalan hingga kami tiba di gazebo kecil yang tersembunyi di balik pepohonan. Di sana para sopir Udin Tarno Sutrisno dan yang lainnya sudah menunggu. Mereka langsung tegang begitu melihat Meilin muncul dengan cheongsam seksi yang ketat membalut tubuhnya. Meilin langsung berhenti melangkah dan matanya membelalak ketakutan.
"Zal… kamu ini apa-apaan sih ? Kenapa mereka semua ada di sini? Suaranya bergetar hebat. Aku segera memegang lengannya erat dan mencegahnya mundur.
“Tenang Lin.. kataku dengan nada dingin. “Hari ini aku mau mereka ikut merayakannya Imlek bersama keluargamu. Kamu mau kan layani mereka sebentar aja.”
Meilin menggeleng cepat dan air mata mulai menggenang di matanya. “Nggak… Zal aku nggak mau. Please… ini gila. Keluargaku ada di dalam…
Aku memotong ucapannya dengan suara tegas.
“Kalau kamu sayang sama aku kamu harus nurut. Sekarang juga.
Aku menatap para sopir itu satu per satu lalu berkata dengan suara pelan namun jelas.
"Nah denger baik-baik ya bapak-bapak semua. Di hari Imlek ini istriku mau kasih angpau kenikmatan buat kalian semua.
Para pria itu saling lirik dengan wajah campur antara takut dan tidak percaya. Udin yang paling senior akhirnya maju pertama. Tangannya masih gemetar saat ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi Meilin dengan sangat pelan.
Meilin langsung menolehkan wajahnya ke samping dan suaranya bergetar.
"Jangan sentuh aku… Zall tolong…
Tarno ikut mendekat dari sisi kiri. Ia memegang pergelangan tangan kiri Meilin dengan satu tangan sementara tangan satunya mengelus lengan mulusnya naik turun dengan gerakan pelan. Sutrisno yang paling muda langsung lebih berani. Tangannya menyentuh paha Meilin melalui slit cheongsam yang tinggi lalu mengusap kulit halusnya naik turun dengan perlahan.
"Jadi istri tuh emang harus nurut sama suaminya non.. kalau suami pengen apa ya turutin aja.. itu tandanya non sayang sama suami.. hehe..
"Iya non.. kalau suami bahagia.. nanti rumah tangga non juga bakalan langgeng terus.. Kata sopir lainnya.
Melihat aku tidak melarang sama sekali keberanian mereka perlahan mulai meningkat. Mereka semua saling pandang sebentar dan napas mereka terdengar lebih berat. Udin yang tadinya hanya menyentuh pipi kini memberanikan diri mengusap bibir bawah Meilin dengan ibu jarinya. Tarno terus mengelus lengannya sementara Sutrisno semakin naik tangan mengusap paha mulus Meilin semakin ke dalam melalui belahan cheongsam.
Meilin tubuhnya menegang dan matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ia menatapku dengan pandangan memohon namun aku hanya diam memperhatikan tanpa berkata apa-apa.
Aku tetap diam berdiri di tempat sambil memperhatikan. Para sopir itu mengelilingi Meilin dari segala sisi. Tubuh Meilin semakin tegang dan ia mencoba mundur namun punggungnya sudah menempel ke tiang gazebo.
"Bos gue minta ijin remes tetek bini lu ya..
Udin berdiri di depan Meilin. Ia mengangkat kedua tangannya lalu meremas buah dada Meilin melalui kain cheongsam yang tipis. Jari-jarinya menekan pelan lalu meremas dengan gerakan pelan dan penuh nafsu. Meilin menggigit bibirnya kuat-kuat dan matanya tertutup rapat. Tarno berdiri di belakang Meilin. Tangannya langsung turun ke pinggul lalu meremas pantatnya yang bulat dan kencang. Ia meremas dengan kedua tangan sambil menekan tubuhnya ke depan sehingga Meilin terjepit di antara dirinya dan Udin.
"Pantat non semok banget.. bapak paling suka amoy yang pantatnya montok kayak gini..
Sutrisno yang paling muda berlutut di samping Meilin. Tangannya menyusup masuk melalui slit cheongsam yang tinggi lalu menekan-nekan selangkangan Meilin melalui celana dalam tipisnya. Jarinya menggosok naik turun di atas kain itu dengan gerakan perlahan namun terus-menerus. Meilin mulai menggeleng-gelengkan kepala dan suaranya keluar kecil.
"Tolong... jangan... lepaskan aku...
Namun tak ada yang menghentikan. Udin yang sudah tidak sabar mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Meilin dengan kasar. Ia menciumnya dalam-dalam sambil terus meremas buah dadanya lebih kuat. Lidahnya mencoba masuk ke dalam mulut Meilin yang masih tertutup rapat.
Tarno di belakang semakin berani. Ia mengangkat rok cheongsam Meilin dari belakang lalu meremas pantatnya langsung di kulit tanpa penghalang. Sutrisno terus menekan-nekan selangkangan Meilin dengan jari-jarinya yang semakin basah karena lendir mulai keluar dari kewanitaan Meilin. Tubuh Meilin gemetar hebat di antara mereka semua. Napasnya tersengal-sengal dan air mata sudah mengalir di pipinya. Mereka terus meraba-raba tubuhnya dengan gerakan yang semakin lama semakin berani dan lapar.
Aku mundur selangkah lalu duduk di bangku kayu panjang di dalam gazebo. Dari situ aku bisa melihat semuanya dengan jelas sambil sesekali melirik ke arah rumah utama untuk memastikan tidak ada yang mendekat. Para sopir terus mengelilingi Meilin dengan rapat. Tubuh Meilin yang seksi terjepit di tengah-tengah mereka.
Mereka mulai bergantian melumat bibir Meilin dengan rakus. Udin yang paling dominan memegang kedua pipi Meilin dengan tangan kasarnya lalu menciumnya dalam-dalam. Ia melumat bibir bawah Meilin dengan lambat kemudian menyusupkan lidahnya masuk ke mulut Meilin. Suara kecupan basah terdengar jelas. Meilin mencoba memalingkan wajah namun Udin menahan dagunya kuat sehingga ia tidak bisa menghindar. Ciumannya lama dan basah sampai air liur menetes di dagu Meilin yang putih.
Setelah puas Udin melepaskan bibirnya dan langsung digantikan oleh Tarno. Tarno lebih kasar. Ia menarik Meilin ke arahnya lalu melumat bibirnya dengan ganas. Lidahnya berputar-putar di dalam mulut Meilin sambil tangannya meremas buah dada Meilin dari samping. Meilin hanya bisa mendesah pelan di antara ciuman itu dan tubuhnya semakin lemas.
Sutrisno yang paling muda maju berikutnya. Begitu Tarno melepaskan bibir Meilin Sutrisno langsung menciumnya dengan penuh semangat. Ia melumat bibir Meilin rakus seolah ingin menelan semuanya. Tangan kirinya memegang tengkuk Meilin agar ciuman semakin dalam sementara tangan kanannya menekan selangkangan Meilin melalui celana dalam yang sudah basah.
Setelah Sutrisno selesai giliran jatuh ke Joko. Joko yang bertubuh agak gemuk mencium Meilin dengan rakus dan lidahnya menjelajah mulut Meilin dengan gerakan kasar. Air liurnya banyak sehingga bibir Meilin semakin basah dan licin. Tangan Joko ikut meraba payudara Meilin sambil terus melumat bibirnya. Terakhir giliran Slamet. Ia yang paling tinggi langsung membungkuk lalu melumat bibir Meilin dengan lapar. Ciumannya panjang dan dalam. Ia menghisap bibir bawah Meilin kuat-kuat sampai Meilin mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya.
Mereka berlima bergantian tanpa henti. Setiap kali satu orang melepaskan bibir Meilin yang berikutnya langsung maju dan melumatnya lagi. Bibir Meilin sudah merah membengkak dan basah oleh air liur mereka yang bercampur. Air mata terus mengalir di pipinya setiap kali bibirnya dilepaskan sebentar sebelum dicium lagi oleh pria berikutnya.
Aku duduk tenang di bangku sambil mengawasi mereka semua. Sesekali aku melirik ke arah jalan setapak menuju rumah agar tidak ada keluarga Meilin yang tiba-tiba muncul. Aku hanya diam memperhatikan bagaimana tubuh Meilin gemetar hebat di tengah-tengah kelima pria itu sementara mereka terus bergantian melumat bibirnya dengan semakin lapar dan rakus. Aku tetap duduk di bangku sambil mengawasi dengan tenang. Setelah cukup lama mereka bergantian melumat bibir Meilin aku akhirnya bersuara dengan nada dingin.
"Sekarang cepat berlutut Lin.. dihari Imlek ini aku mau kamu kasih pelayanan khusus untuk para pria pribumi ini.. Hehe..
Kelima pria itu langsung menyeringai. Udin dan Tarno dengan cepat memegang bahu Meilin lalu menekannya ke bawah dengan pelan namun tegas.
"Aduhh.. apa apaan sih.. kasar banget sih kalian.. Meilin mencoba melawan namun tenaganya tidak cukup. Tubuhnya perlahan diturunkan hingga berlutut di lantai gazebo yang dingin.
"Udah non gak usah ngelawan.. tadi kan non denger sendiri suami non yang udah nyerahin non buat jadi hadiah Imlek kita semua..
Meilin sekarang berlutut di tengah-tengah mereka berlima. Wajahnya berada tepat di depan selangkangan para pria. Matanya membelalak ketakutan dan ekspresi wajahnya dipenuhi kepanikan. Udin membuka resleting celananya lebih dulu. Ia mengeluarkan batangnya yang sudah setengah tegang lalu berkata kasar.
"Buruan diisep non.. mumpung keluarga non lagi pada didalam semua.
Meilin menggeleng pelan dan suaranya bergetar.
"Tolong... jangan suruh aku lakukan ini...
Namun aku langsung bersuara dari bangku.
"Nurut aja Lin. Gunakan mulut dan kedua tanganmu. Layani mereka semua.
Meilin semakin panik namun akhirnya menurut. Ia mengangkat kedua tangannya yang halus dan putih. Tangan kanannya menggenggam penis Udin lalu mengocoknya dengan gerakan pelan dan ragu. Tangan kirinya kemudian meraih penis Tarno yang sudah berdiri di sebelahnya dan mulai mengocoknya juga.
"Tangannya alus banget non.. seumur hidup baru kali ini bapak ngerasain lembutnya tangan amoy. Puji Udin sambil mengelus elus lengan Meilin yang putih dan halus.
Kemudian Meilin membuka mulutnya dengan ragu. Ia memasukkan kepala penis Udin ke dalam mulutnya lalu mulai menghisap dengan pelan. Lidahnya bergerak kikuk di sekitar kepala kejantanan itu. Udin mendesis pelan merasakan kehangatan mulut Meilin.
"Kayaknya non Meilin udah terbiasa ya sama aroma kontol pribumi.. hehe..
Sementara itu Joko dan Slamet yang belum disentuh maju lebih dekat. Meilin menggunakan tangannya secara bergantian. Kadang ia mengocok dua penis sekaligus dengan kedua tangan halusnya sementara mulutnya sibuk melayani satu orang. Ketika mulutnya berpindah ke penis Sutrisno tangan kanannya langsung pindah mengocok penis Joko dan tangan kirinya mengocok Slamet.
Mereka berlima berdiri mengelilingi Meilin yang berlutut. Suara kecupan basah dari mulut Meilin bercampur dengan suara tangannya yang mengocok penis mereka naik turun. Meilin terpaksa bergantian. Ia menghisap satu penis dengan mulutnya sambil mengocok dua penis lainnya dengan kedua tangan halusnya. Kadang ia harus memutar kepala ke kiri dan kanan untuk melayani yang lain.
Air liur Meilin mulai menetes banyak dari sudut bibirnya karena ia terpaksa mengisap terlalu dalam. Penis mereka semakin keras dan berdenyut di dalam mulut serta genggaman tangannya. Meilin sesekali tersedak namun ia terus melanjutkan dengan mata tertutup rapat dan air mata yang tak henti mengalir.
Aku duduk diam di bangku sambil terus mengawasi keadaan sekitar gazebo. Aku memastikan tidak ada suara atau gerakan dari arah rumah yang bisa mengganggu. Mereka berlima mendesah dan mengerang pelan karena kenikmatan yang diberikan oleh mulut dan tangan Meilin yang lembut.
Sementara itu Joko dan Slamet yang belum disentuh maju lebih dekat. Meilin menggunakan tangannya secara bergantian. Kadang ia mengocok dua penis sekaligus dengan kedua tangan halusnya sementara mulutnya sibuk melayani satu orang. Ketika mulutnya berpindah ke penis Sutrisno tangan kanannya langsung pindah mengocok penis Joko dan tangan kirinya mengocok Slamet.
Mereka berlima berdiri mengelilingi Meilin yang berlutut di tengah-tengah. Suara kecupan basah dari mulut Meilin bercampur dengan suara tangannya yang mengocok penis mereka naik turun dengan cepat. Meilin terpaksa bergantian melayani mereka. Ia menghisap satu penis dengan mulutnya sambil mengocok dua penis lainnya dengan kedua tangan halusnya. Kadang ia harus memutar kepala ke kiri dan ke kanan supaya semua bisa terlayani.
Air liur Meilin mulai menetes banyak dari sudut bibirnya karena ia mengisap terlalu dalam. Penis mereka semakin keras dan berdenyut di dalam mulut serta genggaman tangannya. Meilin sesekali tersedak namun ia terus melanjutkan dengan mata tertutup rapat dan air mata yang tak henti mengalir di pipinya.
Aku duduk diam di bangku sambil terus mengawasi keadaan sekitar gazebo. Aku memastikan tidak ada suara atau gerakan dari arah rumah yang bisa mengganggu mereka.
Mereka berlima mendesah dan mengerang pelan karena kenikmatan yang diberikan oleh mulut dan tangan Meilin yang lembut. Lama kelamaan gerakan tangan dan mulut Meilin semakin cepat. Napas mereka mulai tersengal-sengal dan tubuh mereka menegang.
Sutrisno yang pertama kali tidak tahan. Ia mendesis keras lalu menarik penisnya keluar dari mulut Meilin. Dengan cepat ia mengocok kejantannya sendiri di depan wajah Meilin. Beberapa detik kemudian air mani panas menyembur keluar dan langsung mengenai pipi serta bibir Meilin.
Tidak lama kemudian Joko dan Slamet juga ikut klimaks. Mereka mengarahkan ujung penis mereka ke wajah Meilin dan menyemprotkan sperma tebal berulang kali. Sperma mereka menempel di dahi Meilin di kelopak matanya dan bahkan di rambutnya. Meilin hanya bisa memejamkan mata sambil tetap mengocok penis Andi dan Budi dengan kedua tangannya.
Andi dan Budi kemudian maju lebih dekat. Mereka berdua mengerang keras saat mencapai puncak. Air mani mereka menyembur deras ke dalam mulut Meilin yang terbuka dan juga ke seluruh wajahnya. Meilin terbatuk kecil karena sebagian sperma masuk ke tenggorokannya namun ia tetap menelan sebagiannya.
Wajah Meilin sekarang sudah penuh tertutup air mani putih kental dari kelima pria itu. Sperma menetes dari dagunya ke buah dadanya yang telanjang. Meilin bernapas dengan susah payah sementara matanya masih tertutup rapat karena lendir kawin yang menempel di kelopak matanya.
Setelah semuanya selesai aku dan Meilin kembali masuk ke dalam rumah. Meilin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang penuh noda sperma dari para sopir kerabatnya. Ia membersihkan wajahnya dengan teliti sampai tidak ada lagi bekas air mani yang menempel di kulitnya.
Setelah selesai membersihkan diri Meilin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar kembali. Ia kemudian duduk di sofa ruang tamu dan mulai berbincang dengan Evelina seperti biasa. Mereka berdua mengobrol tentang berbagai hal ringan seolah-olah tidak ada kejadian apa pun di gazebo tadi.
Aku duduk tidak jauh dari mereka sambil sesekali melirik ke arah Meilin. Wajahnya terlihat tenang dan ia tersenyum kecil saat mendengar cerita dari Evelina. Tidak ada yang menunjukkan bahwa beberapa menit lalu mulut dan wajahnya baru saja disemprot oleh lima penis berbeda.
Evelina terus bercerita dengan antusias sementara Meilin mendengarkan dengan sabar dan sesekali memberi tanggapan. Suasana di dalam rumah kembali tenang dan biasa saja.
Aku melirik ke arah Meilin yang sibuk mengobrol dengan Evelina. Istriku memang cantik luar biasa dengan gaun merah muda oriental yang menempel pas di tubuhnya. Namun kehadiran begitu banyak gadis muda di sekitar rumah ini membuat aku merasakan sensasi yang berbeda. Semuanya mengenakan pakaian seksi dengan dominasi warna merah sehingga darahku berdesir lebih cepat. Bagi aku rumah besar ini bukan hanya tempat perayaan Imlek biasa. Ini seperti lautan godaan yang menguji seberapa jauh aku bisa menahan diri.
Suasana ruang tamu semakin meriah. Gelak tawa dan percakapan keluarga bercampur dengan aroma harum kue keranjang yang masih hangat. Aku duduk di kursi panjang sambil meneguk minuman dan sesekali berbincang ringan dengan kerabat lain.
Tiba-tiba dari arah samping Ching Ching datang menghampiri. Dengan minidress seksi warna merah yang sangat pendek dan ketat di tubuh rampingnya gadis itu tampak segar lincah dan memancarkan pesona muda yang khas. Minidress itu menonjolkan paha mulusnya dan membuatnya terlihat semakin menggoda. Senyum nakalnya muncul saat ia berdiri di depan aku dengan kedua tangan terulur manja.
"Abang Rizal… mana angpaunya? Masak menantu paling ganteng di keluarga ini nggak bawa angpau buat aku ?
Aku terkekeh lalu mengangkat alis sambil menatap adik iparku yang manja itu. "Angpau? Hmm… kayaknya aku harus mikir dulu deh. Gadis cantik kayak kamu ini pacarnya pasti udah ngasih banyak angpau kan?"
Ching Ching langsung manyun lalu mendekat setengah langkah hingga wajahnya lebih dekat. "Ih nggak ada tahu! Aku belum punya pacar.
Aku pura-pura terkejut sambil menatap Ching Ching dengan mata yang sengaja dibuat nakal. Suaraku sengaja dibuat serius meski sebenarnya aku sedang menahan senyum.
"Masa? Gadis secantik kamu manis begini… masa nggak ada cowok yang ngejar? Pasti di sekolah banyak cowok yang ngantri kan ?
Ching Ching tersenyum lebar hingga pipinya merona halus. Ia menjawab sambil sedikit menggoyangkan bahunya dengan gaya manja yang khas.
"Banyak sih… tapi aku nggak mau. Aku pilih-pilih. Lagian cowok-cowok disekolah itu pada ngebosenin.
Jawaban itu membuat aku menghela napas pendek sambil menahan senyum. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang lincah dan manja sehingga hatiku bergetar pelan. Meski aku sudah memiliki Meilin sebagai istri rasa penasaran terhadap Ching Ching yang penuh energi muda ini sulit untuk aku tepis begitu saja.
Dalam hati aku sempat membayangkan bagaimana rasanya memeluk tubuh mungilnya yang manja itu. Aku membayangkan mencium aroma segar dari kulitnya yang begitu dekat. Namun semua khayalan itu aku pendam rapat-rapat. Di tengah keluarga besar ini aku hanya bisa menjaga sikap dan menutupi gejolak yang mulai berdenyut di dalam diri.
"Ya sudah. Akhirnya aku tersenyum sambil merogoh saku celana lalu mengeluarkan sebuah amplop merah. Aku menyerahkannya kepada Ching Ching dengan gerakan santai.
"Ini buat kamu. Sekolah yang rajin ya.. jangan manja-manja terus.
Ching Ching bersorak kecil dengan suara riang. Ia menerima angpau itu dengan kedua tangan lalu tanpa ragu menepuk pelan lengan aku beberapa kali.
"Makasih Abang Rizal… memang paling baik deh.
Senyum manisnya dan tingkah manjanya yang polos itu membuat aku semakin sulit menahan perasaan. Di balik wajah ramah yang aku tampilkan pikiranku masih bergejolak dengan berbagai bayangan yang tidak berani aku ungkapkan di tempat ini.
Di tengah keramaian keluarga besar yang memenuhi rumah orang tua Meilin aku sempat mengalihkan pandangan. Aku memperhatikan Evelina yang duduk tidak jauh dari sana. Kakak iparku itu tampak berbeda dari biasanya. Meski ia mengenakan gaun merah sederhana dengan potongan elegan yang cukup menonjolkan lekuk tubuhnya sorot matanya terlihat murung. Ia seakan sedang jauh dari suasana meriah perayaan Imlek di sekitarnya.
Aku ingat cerita Meilin beberapa waktu lalu tentang rumah tangga Evelina yang sedang di ambang retak. Suaminya ketahuan berselingkuh dengan sekretaris kantor sehingga tak heran jika aura Evelina terasa redup meski sekujur tubuhnya masih memancarkan pesona seorang wanita matang.
Ketika keluarga asyik berkumpul dan ramai di ruang tamu aku melihat Evelina keluar pelan-pelan dari dalam rumah. Ia membawa secangkir teh hangat lalu duduk sendirian di teras belakang. Angin sore yang sejuk menyapu rambut hitam panjangnya sehingga membuatnya tampak semakin sendu. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Aku berjalan santai lalu menepuk pundaknya ringan.
"Ci.. Evelina kok sendirian di sini? Lagi nggak enak badan?
Evelina tersenyum tipis lalu menoleh sebentar ke arahku.
"Nggak apa-apa cuma lagi pengen nyari udara segar aja.
Aku duduk di kursi sebelahnya dan menatap wajah Evelina yang cantik dengan riasan tipis. Ada garis lelah yang terlihat di wajahnya namun justru membuatnya tampak semakin matang dan menggoda. Bagi aku pesona Evelina berbeda dari Meilin maupun Ching Ching. Ada daya tarik seorang wanita berpengalaman yang lembut namun menyimpan kekuatan tersendiri.
"Padahal di dalam lagi ramai dan semua orang keliatan gembira. ucap aku sambil tersenyum. "Tapi kalau ci.. Evelina murung gini rasanya kok sayang banget. Nggak cocok loh wajah cantik dipasangin sama wajah murung gini.
Evelina menunduk lalu mengaduk tehnya perlahan dengan sendok kecil.
"Hidup nggak selalu bisa senyum Zal. Ada kalanya… ya berat aja dijalanin.
Suaranya terdengar lirih namun aku bisa menangkap perasaan yang terselip di balik kalimat itu.
Aku menatap Evelina beberapa detik lamanya. Entah mengapa ada dorongan aneh yang muncul di dada. Evelina dengan tubuh langsing meski sudah memiliki dua anak kulit putih mulusnya yang masih terawat serta tatapan mata lembutnya terasa begitu dekat sekaligus jauh.
"Kalau Kakak butuh teman cerita. ucap aku pelan dengan nada hangat. "Aku siap kok dengerin. Kadang ngomong sama orang luar keluarga bisa bikin lega.
Evelina menoleh lalu menatap aku dengan senyum tipis yang lebih tulus. Ada kerlip kecil di matanya seolah ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran adik iparnya.
"Kamu ini ya… selalu bisa bikin orang merasa dihargai. Aku jadi ngerasa nyaman kalau lagi ngobrol sama kamu.
Angin sore bertiup lagi dan membawa aroma wangi Evelina yang samar. Wangi lembut khas wanita dewasa itu membuat aku sulit mengalihkan perhatian. Aku sadar harus tetap menjaga sikap namun di dalam hati rasa penasaran dan dorongan yang sudah lama aku pendam kembali mengusik.
Suasana di teras belakang sore itu terasa makin hening. Riuh tawa keluarga dari ruang tengah masih terdengar samar namun seolah jauh sekali. Hanya ada aku dan Evelina yang duduk bersebelahan dengan jarak yang terasa semakin menyempit.
Aku menatap wajah Evelina dalam-dalam. Wajah cantik oriental itu masih tampak terawat meski bayang-bayang duka jelas terlihat di balik matanya. Bibirnya yang tipis bergerak pelan saat ia mulai menceritakan luka yang selama ini ia pendam. Ia bercerita tentang bagaimana ia tahu suaminya berselingkuh dengan sekretaris kantor dan tentang rasa dikhianati yang membuat hatinya nyaris hancur.
Aku mendengarkan dengan penuh perhatian sesekali mengangguk untuk memberi gestur bahwa aku benar-benar peduli. Namun di dalam hati aku menyimpan api yang berbeda yaitu rasa tertarik yang sudah lama aku pendam sejak pertama kali bertemu Evelina. Ia anggun tinggi berisi dengan kulit putih bersih sehingga memancarkan daya tarik seorang wanita matang yang sulit ditolak.
Ketika Evelina mulai terdiam dan menunduk sambil memainkan cangkir tehnya aku mengambil jeda sejenak lalu bicara dengan nada lembut namun penuh arti.
"Kalau aku boleh jujur cii.. bisik aku pelan. "Menurutku selingkuh itu harus dibayar selingkuh. Supaya adil. Supaya cici nggak cuma jadi korban.
Evelina mendongak kaget lalu menatap aku lekat-lekat. Matanya melebar seolah tak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu… bilang apa Zal?
Aku mengangguk mantap meski nada suaraku tetap tenang dan lembut.
"Iya. Kalau dia berani mengkhianati cici kenapa cici harus diam saja? Cici juga punya hak untuk balas kan? Untuk bikin dia tahu rasanya disakiti.
Evelina terdiam cukup lama. Hatinya bergejolak antara marah terluka dan penasaran. Kata-kata aku terus terngiang di kepalanya. Logikanya menolak namun di sisi lain ia merasa ada benarnya.
Dengan suara bergetar ia berbisik pelan.
"Tapi… aku harus selingkuh sama siapa? Aku nggak mungkin sembarangan.
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat lalu menatap mata Evelina tanpa ragu.
"Sama aku.
Evelina tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya langsung memerah entah karena malu kaget atau ada bagian dirinya yang tergerak. Tatapannya tak bisa lepas dari mata aku yang begitu yakin dan hangat. Aku melanjutkan dengan suara rendah nyaris seperti bisikan.
"Aku nggak cuma mau jadi pendengar Cici. Aku mau bantu Cici ngelepasin semua sakit hati itu. Biar Cici juga bisa ngerasain bahwa ada lelaki lain yang bisa bikin cici dihargai dimanja dan dibahagiain.
Evelina menggigit bibirnya pelan. Tubuhnya bergetar tipis. Rasanya salah namun juga sulit mengabaikan godaan itu. Selama ini aku selalu sopan ramah dan perhatian. Dan sekarang ketika hatinya sedang rapuh kata-kata dari adik iparnya ini terdengar sangat masuk akal sekaligus berbahaya.
Evelina kembali menunduk dan menatap jemarinya yang gelisah di pangkuan. Pikirannya bercampur aduk antara marah pada suaminya malu karena ucapan aku dan sesuatu yang hangat mulai merambat di dadanya.
Aku memanfaatkan keheningan itu. Aku mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat dengan nada lembut penuh bisikan yang menusuk batin Evelina.
"Ci… kenapa harus terus ngandelin lelaki yang udah jelas nggak sayang sama cici lagi? Padahal Cici itu cantik banget. Banyak lelaki yang pasti rela ngelakuin apa aja buat bisa deket sama Kakak. Jujur aja aku sendiri… sering mikir kenapa dia bisa tega nyakitin wanita secantik Kak Evelina.
Evelina mendongak perlahan. Tatapan matanya bergetar namun ada kilatan penasaran di sana.
"Kamu… jangan bercanda Zal. Aku ini sudah ibu-ibu punya anak. Mana mungkin ada yang…
"Jangan ngomong gitu Kak" potong aku dengan suara mantap. "Justru itu… Kakak makin mempesona. Dewasa anggun kulit putih Kakak masih terawat tubuh Kakak juga…
Aku sengaja menahan sejenak kalimatku sambil menatap Evelina dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuatnya merona malu.
"… Cici itu lebih menarik daripada gadis-gadis muda di luar sana.
Evelina menghela napas dalam. Jantungnya berdetak lebih kencang. Kata-kata aku menusuk ke bagian hatinya yang selama ini haus akan pengakuan. Selama bertahun-tahun bersama suaminya ia tak pernah lagi mendengar pujian tulus seperti ini.
"Kak…" bisik aku lagi dengan suara yang makin rendah dan intim. "Jangan biarin dia terus bikin Kakak ngerasa nggak berharga. Kalau dia bisa selingkuh sama sekretarisnya kenapa Kakak nggak bisa milih seseorang yang bener-bener ngeliat Kakak apa adanya? Yang bener-bener menginginkan Kakak.
Evelina menelan ludah. Tubuhnya semakin gelisah. Ia tahu seharusnya ia menghentikan obrolan ini tapi setiap kata yang keluar dari mulutku terdengar seperti racun manis yang membuatnya goyah dan merasa hidup kembali.
"Zal…" panggil Evelina akhirnya dengan suara pelan. "Aku… aku nggak tahu harus gimana. Rasanya salah tapi aku juga nggak mau terus-terusan jadi perempuan yang disia-siakan.
Aku tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahku hingga hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
"Nggak salah cii.. Kadang… kita juga berhak bahagia. Dan aku… mau banget jadi orang yang bikin cici bahagia lagi.
Evelina masih diam. Tatapannya menerawang jauh ke halaman belakang yang dipenuhi lampion merah namun pikirannya penuh dengan kalimat-kalimat aku yang terus terngiang. Kata-kata itu seperti bisikan yang menembus pertahanan hatinya yang sudah rapuh.
Aku sengaja membiarkan keheningan itu beberapa detik lalu kembali mendekat. Aku duduk sedikit miring hingga bahuku hampir bersentuhan dengan bahu Evelina. Hembusan napasku terasa hangat di sisi wajahnya sehingga membuat wanita itu menunduk bingung harus bersikap bagaimana.
"Cii… suara aku nyaris berbisik. "Lihat aku sebentar.
Dengan ragu Evelina menoleh. Saat itu juga aku menangkap sorot matanya yang penuh kegelisahan tapi juga haus akan perhatian. Aku tersenyum lembut lalu berkata.
"Laki-laki yang punya istri secantik cici Evelina tapi masih tega selingkuh… itu bodoh. Kalau aku yang jadi suami cici aku bakal jaga Kakak sebaik mungkin. Aku nggak akan pernah berpaling.
Ucapan itu seperti menghantam dinding terakhir yang Evelina pertahankan. Pipinya memerah bibirnya bergetar dan tanpa sadar tangannya meremas ujung rok yang dipakainya. Ada dorongan aneh dalam dirinya dorongan yang selama ini ia tekan mati-matian.
Aku melihat reaksinya lalu perlahan mencondongkan wajah lebih dekat. Aku tidak langsung menyentuhnya hanya cukup dekat hingga Evelina bisa merasakan getaran kehadiranku.
"Aku tahu cici masih bingung. Tapi aku juga tahu… jauh di dalam hati cici ada rasa yang sama dengan aku.
Evelina menggigit bibirnya. Suaranya terdengar lirih penuh dilema.
"Zal… ini nggak boleh. Aku… aku masih istri orang.
Aku menatapnya dalam dengan nada tegas tapi tetap hangat.
"Justru karena dia udah nggak menghargai cici makanya aku ada di sini. Biar cici tahu masih ada lelaki yang benar-benar menginginkan cici. Aku nggak mau lihat ci Evelina terus terluka.
Lalu tanpa menunggu izin aku menyentuh punggung tangan Evelina yang gemetar. Sentuhan sederhana itu membuat Evelina terkejut namun ia tidak menepis. Justru jemari kami saling bertaut perlahan seolah tubuhnya memilih lebih jujur daripada pikirannya.
Evelina menutup mata sejenak sambil mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Ia tahu dirinya berada di batas tipis antara salah dan benar. Tapi ada perasaan hangat dan perasaan dihargai yang selama ini ia rindukan. Dan semua itu muncul dari aku.
Evelina menarik napas panjang. Matanya masih menunduk namun genggaman tanganku yang hangat membuatnya sulit melepaskan. Jemari aku perlahan mengusap punggung tangannya seolah menyalurkan keyakinan yang ia butuhkan.
"Zal…" suaranya lirih nyaris hanya berupa bisikan. "Aku takut…
Aku tersenyum tipis lalu menundukkan wajahku agar sejajar dengan Evelina.
"Takut apa? Takut merasa bahagia lagi? Kak lihat aku…
Aku menunggu sampai Evelina menoleh. Matanya basah penuh dilema.
"Aku nggak akan nyakitin cici. Aku cuma mau Kakak sadar… Cici berhak dicintai. Berhak dimanja. Berhak diinginkan. Aku bisa kasih itu semua.
Evelina menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Aku semakin mendekat lalu tanganku bergerak naik menyentuh perlahan lengan Evelina yang mulus di balik kain tipis dress merahnya. Wanita itu memejamkan mata sambil menahan gejolak yang semakin kuat.
"Kalau Kakak masih sayang sama dia… aku mundur. Tapi kalau Kakak sebenarnya sudah lelah disakiti…"
Aku menundukkan kepalaku hingga bibirku hanya sejengkal dari bibir Evelina.
"Biarkan aku yang ada di sisi Kakak.
Detik itu Evelina tidak lagi menarik diri. Ia justru membiarkan aku semakin mendekat. Ada air mata jatuh di pipinya tapi diiringi dengan senyum getir yang penuh kelegaan. Perlahan ia membisik.
"Aku… lelah Zal… Aku nggak mau terus-terusan sendirian.
Mendengar itu aku segera meraih wajahnya dengan kedua tangan lalu menatapnya penuh hasrat dan kasih yang bercampur. Aku menempelkan keningku ke keningnya kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Evelina terkejut dan tubuhnya kaku sesaat tapi kemudian ia menyerah. Ia membalas ciuman itu dengan penuh kerinduan yang selama ini ia pendam.
Ciuman kami semakin dalam. Evelina memejamkan mata sementara dadanya naik turun dengan cepat. Aku tahu saat itu Evelina sudah benar-benar menyerah. Aku memanfaatkan kesempatan itu sambil tanganku tetap menggenggam jemarinya erat seolah mengikat janji tak terlihat di antara kami.
Di balik suara tawa keluarga yang masih ramai di ruang tamu teras belakang rumah itu menjadi saksi ketika seorang wanita yang hancur hatinya akhirnya menemukan pelarian pada lelaki lain. Dan aku tanpa ragu mengambil kesempatan itu.
Aku menatap dalam mata Evelina lalu kembali menempelkan bibirku kali ini lebih berani. Evelina sempat menarik napas terputus namun ia tidak lagi menolak. Tubuhnya justru condong ke depan membiarkan aku merengkuhnya semakin dekat.
Genggaman tangan tadi perlahan bergeser. Aku menelusuri lengan putih Evelina hingga ke bahunya. Jari-jariku menyusuri kulit halus yang terbuka di balik gaun tipis merahnya. Sentuhan itu membuat Evelina bergidik seolah ada aliran listrik yang bergetar di tubuhnya.
"Zal…" suaranya bergetar di antara desahan. "Kita… di rumah orangtuaku…
Aku hanya tersenyum kecil lalu bibirku bergerak turun ke lehernya. Aku mencium lembut aroma wangi Evelina yang begitu memabukkan.
"Tenang saja… kita hanya ngobrol di sini. Mereka pikir aku cuma nemenin Kakak biar nggak sendirian.
Evelina memejamkan mata sambil menggigit bibir menahan gelora yang semakin kuat. Tangannya tanpa sadar meremas lengan aku sementara aku semakin berani mengusap punggungnya pelan lalu turun ke pinggang merasakan lekuk tubuh Evelina yang padat namun anggun.
"Cantik banget… aku nggak ngerti kenapa suamimu bisa ninggalin wanita seindah ini. bisik aku di telinganya.
Ucapan itu langsung menembus pertahanan Evelina. Bibirnya bergetar matanya kembali berkaca-kaca namun kali ini bukan karena sedih melainkan karena perasaan yang sudah lama terkubur kini tersulut lagi. Ia menunduk lalu meraih wajah aku dengan kedua tangannya. Tanpa ragu Evelina mencium balik lebih dalam dan lebih panas hingga aku merasakan tubuh wanita itu mulai meleleh dalam dekapanku.
Suasana di dalam rumah masih ramai dengan suara tawa keluarga tapi di teras belakang keheningan justru membuat kami makin hanyut. Aku menempelkan tubuhku lebih dekat merasakan kehangatan Evelina yang menekan dada aku. Tanganku kini berani bergerak mengusap punggung wanita itu dengan penuh nafsu tertahan.
Evelina akhirnya berbisik lirih di telinga aku.
"Aku… nggak bisa lagi nahan Zal…
Evelina menatap aku dengan wajah merah padam. Matanya berkilat antara bimbang dan berani. Nafasnya terengah-engah dan bibirnya masih basah karena ciuman barusan. Setelah beberapa detik hening ia menggigit bibir bawahnya lalu berbisik dengan suara serak.
"Kalau memang mau… aku tunggu kamu di kamar lantai atas.
Kalimat itu membuat darahku berdesir kencang. Jantungku berdetak begitu keras seakan tubuhku tak sabar menuruti ajakan itu. Aku menahan senyum puas lalu mengangguk pelan.
"Percaya sama aku. Hari ini kamu yang menang. Biar sakit hati itu terbayar.
Aku berdiri di depan Evelina dengan sorot mata penuh percaya diri.
"Aku ajari cara biar hubungan suami istri nggak membosankan" ucap aku pelan tapi tajam. "Aku sama Meilin sering main begini di rumah. Fantasi. Roleplay. Dan malam ini… aku mau kamu coba.
Evelina mengernyit. Wajahnya semakin merah dan sorot matanya campuran antara bingung dan penasaran.
"Roleplay? Maksudmu apa Zal?" tanyanya ragu.
Aku mencondongkan tubuh lalu membisik di telinga Evelina dengan nada menggetarkan.
"Kita pura-pura. Anggap aku bukan Rizal adik iparmu tapi pria pribumi liar yang menyergapmu di rumah besar ini. Di tengah acara Imlek keluarga aku seret kamu ke kamar. Siapa yang bisa nolak? Cantik seksi sendirian…
Evelina terdiam lalu menelan ludah. Kata-kata itu terdengar berbahaya tapi juga membuat jantungnya berdebar cepat.
"Tapi… kalau ada yang tahu gimana?" bisiknya gugup.
Aku tersenyum miring.
"Justru itu yang bikin mendebarkan. Kita sembunyi-sembunyi. Kita curi waktu di tengah keramaian. Rasanya akan jauh lebih nikmat.
Evelina menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan lalu menurunkannya lagi. Napasnya terdengar berat dan tubuhnya gemetar namun sorot matanya jelas tak bisa menolak rasa penasaran yang semakin kuat.
"Jadi… kamu mau apa sekarang?
"Gini aturannya" kata aku mantap. "Kamu jalan duluan di lorong lantai atas seolah-olah mau ke kamar sendiri. Lalu aku datang dari belakang aku bekap kamu dan aku seret masuk ke kamar. Mulai dari situ… biar fantasi ini berjalan. Seru kan? Disergap dipaksa ditaklukkan."
Beberapa detik hening lalu Evelina menggigit bibir bawahnya. Wajahnya panas dan matanya berkilat antara takut dan berani. Akhirnya ia mengangguk kecil.
"Baiklah… kita coba.
Aku mundur beberapa langkah. Evelina bangkit dari kursi lalu gaun merah ketatnya bergoyang mengikuti lekuk tubuhnya yang anggun. Ia berjalan ke pintu dan melangkah ke lorong lantai dua yang sunyi.
Lorong itu hanya diterangi lampu gantung temaram. Suara langkah tumit Evelina terdengar jelas sementara jantungnya berdentum seakan bisa didengar sampai ke bawah. Ia tahu kapan saja aku akan menyergapnya. Sensasi itu membuat tubuhnya gemetar antara panik tegang dan gairah yang tak terbendung. Dan benar saja. Dalam sekejap sebuah tangan kuat membekap mulutnya.
"Mmmmphh!"
Evelina terpekik tertahan dan matanya membelalak. Tubuhnya ditarik kasar ke belakang hingga punggungnya menempel pada dada aku. Satu tangan aku mencengkeram pinggangnya lalu menyeretnya masuk ke kamar terdekat.
Pintu ditutup cepat. Klik! Suara kunci terkunci membuat suasana makin nyata. Evelina terengah-engah dengan punggungnya terdorong ke dinding. Nafasnya pendek-pendek dan matanya menatap aku dengan sorot campur aduk. Aku menempelkan tubuhku ke tubuhnya. Satu tangan masih menutup mulut Evelina. Napasku kasar dan berdesis di telinganya.
"Amoy kayak kamu memang pantas dipaksa ditaklukkan sama pribumi kayak aku…
Tubuh Evelina menegang tapi ia tak melawan. Ia tahu ini hanya permainan namun sensasi yang menekan membuatnya benar-benar hanyut. Aku mencondongkan wajahku makin dekat. Mataku menatap Evelina tanpa kedip dan senyum miring muncul di wajahku.
"Kamu tahu nggak Lin…" bisik aku dengan suara serak. "Bukan cuma aku. Banyak pria pribumi yang berfantasi tentang ini. Tentang menaklukkan wanita cina cantik seksi putih… kayak kamu.
Evelina menelan ludah. Tubuhnya makin merinding. Kata-kata aku itu begitu tajam menusuk rasa bersalah sekaligus membakar sisi gelap yang diam-diam ia pendam.
"Amoy kayak kamu. lanjut aku dengan suara makin rendah. "Bukan cuma buat dipandang. Tapi layak buat diseret.. dipaksa dan ditaklukkan. Dan sekarang aku yang akan wujudin fantasi itu.
Evelina terdiam dengan wajah makin merah padam. Nafasnya terengah-engah dan dadanya naik turun dengan cepat. Ia tahu semua ini hanya roleplay sebuah permainan yang mereka ciptakan sendiri. Tapi saat aku membisikkan kata-kata itu fantasi tersebut terasa begitu nyata dan begitu liar sampai tubuhnya bergetar tak terkendali. Aku meraih pergelangan tangannya lebih keras lalu menekannya ke dinding.
"Aku mau kamu ngerasain sendiri Lina.. Gimana rasanya kalau fantasi itu beneran kejadian. Kamu ditaklukkan diambil dan dihabiskan…
Suara tawa dan percakapan keluarga masih samar terdengar dari bawah seolah menjadi pengingat betapa berbahayanya permainan ini. Tapi justru itu yang membuat Evelina semakin terhanyut. Kakinya terasa lemas dan matanya berkaca-kaca oleh campuran tegang dan gairah.
"Zal…" suaranya lirih hampir seperti rintihan. "Aku… aku nggak tahan lagi…
Aku tersenyum puas karena aku tahu Evelina sudah tenggelam sepenuhnya dalam atmosfer fantasi yang aku ciptakan. Aku menempelkan tubuh Evelina ke dinding kamar. Tangan kiriku menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala sementara mulutku menyusup dekat ke telinga wanita itu.
"Sekarang permainannya mulai Linaa… bisik aku rendah dan penuh tekanan. "Anggap aku bukan Rizal. Anggap aku cuma pria pribumi liar yang masuk ke rumah ini nemuin kamu sendirian di kamar lalu… aku ambil semua yang aku mau.
Evelina menggigil. Tubuhnya menegang tapi bukan untuk melawan melainkan karena atmosfer fantasi yang semakin menelan dirinya.
"Aku seret kamu masuk aku bekap biar nggak teriak" desis aku sambil menempelkan telapak tanganku ke mulut Evelina meniru adegan dramatis itu. "Kamu berusaha kabur tapi tubuhmu terlalu lemah… dan akhirnya kamu cuma bisa pasrah. Wanita cina anggun cantik yang harus ditaklukkan pria pribumi. Begitu kan?
Evelina mengangguk kecil di balik tanganku dengan mata terpejam dan napas terengah. Ia membiarkan dirinya ditarik ke ranjang. Aku mendorongnya hingga jatuh ke atas kasur lalu meraih kedua kakinya dan menahannya terbuka.
"Lihat diri kamu Lina… aku menunduk sambil menatap tubuh Evelina yang sudah tak berdaya di hadapanku. "Wanita cina seksi tubuhmu mahal tapi sekarang kamu mainannya pribumi. Dan aku nggak akan berhenti sampai kamu benar-benar menyerah.
Evelina bergetar dan suara lirih lolos dari bibirnya.
"Zal… aku… aku siap… jalani permainannya…
Dengan gerakan kasar namun tetap terkendali aku menindih tubuh Evelina. Aku menekan tangannya ke kasur sambil menatapnya dengan sorot liar. Fantasi itu kini sepenuhnya menjadi nyata adegan seorang wanita yang dipaksa ditaklukkan dan dihancurkan tapi semua masih dalam ikatan permainan fantasi liar yang kami sepakati. Aku mencengkeram lebih keras.
"Ingat Lina… malam ini kamu bukan kakak iparku. Kamu cuma seorang budak wanita yang harus ditundukkan. Wanita cina yang akhirnya jatuh ke tangan pribumi. Dan aku bakal pastikan kamu ngerasain semuanya sampai habis.
Aku makin menekan tubuh Evelina ke ranjang. Napasku panas menghujam wajah wanita chindo itu. Tanganku kasar menelusuri setiap lekuk tubuh Evelina seolah ingin memastikan bahwa peranannya sebagai budak napsu pribumi benar-benar terasa nyata.
"Waaanita cina sepertimu… gumam aku dengan nada rendah dan keras. "Nggak pantas terlalu angkuh. Begitu dipaksa oleh pribumi semua runtuh. Lihat sekarang kamu nggak lagi istri orang kaya. Kamu cuma mainan di bawah tubuhku.
Evelina menggeliat. Tubuhnya bergetar hebat. Ada rasa malu ada rasa terhina tapi semua bercampur jadi arus gairah yang menenggelamkan dirinya.
"Zal… jangan bilang gitu… tapi… kenapa aku jadi makin panas begini…
Aku menekan lebih brutal lalu menggigit pelan bahu Evelina hingga wanita itu melenguh keras. Tanganku mencengkeram pinggangnya dan menariknya kasar memperlakukannya seperti benar-benar hendak dihancurkan.
"Karena jauh di dalam hati kamu suka kan?" desis aku di telinganya. "Suka jadi tawanan suka dipaksa. Fantasi semua pria pribumi ada di tubuhmu Lin. Mereka semua pasti pengen nyoba rasanya punya wanita cina seksi kayak kamu… dan malam ini aku wujudkan itu.
Evelina terengah-engah. Kedua tangannya mencoba meraih selimut tapi segera aku tekan lagi. Tubuhnya tak bisa lari dan tak bisa melawan.
"Aku… aku pasrah… Zal… lakukan… aku mau dibawa sampai habis…
Aku makin liar. Aku menunduk menggigit leher Evelina meninggalkan jejak-jejak merah yang membuatnya terlihat semakin seperti wanita yang benar-benar dipaksa tunduk. Aku menggerakkan pinggulku keras tanpa memberi jeda sehingga membuat Evelina berteriak tertahan.
"Lawan aku kalau bisa!" tantang aku dengan nada suara setengah menggeram. "Tapi kamu tahu kamu nggak bisa. Kamu cuma bisa pasrah menikmati bagaimana aku menghancurkanmu di kamar ini. Wanita cina anggun tapi sekarang sudah jadi budak birahi pribumi.
Evelina menjerit kecil. Tubuhnya gemetar hebat di bawah dominasi brutal itu. Antara rasa sakit malu dan kenikmatan semuanya meledak jadi satu. Fantasi itu kini mengikat kami berdua dalam permainan yang semakin dalam konsensual tapi begitu terasa nyata seolah Evelina benar-benar ditaklukkan saat itu.
Aku merubah posisi dengan cepat. Dengan satu gerakan kuat aku mendorong tubuh Evelina hingga berbalik menghadap ke bawah. Seketika jemari kuatku meraih rambut hitam panjangnya lalu menjambaknya keras ke belakang. Kepala Evelina terangkat paksa sehingga tubuhnya melengkung indah membentuk busur yang menggoda. Napasnya langsung terengah tak beraturan.
"Lihat dirimu sekarang Cici cantik.. Desisku dengan suara tajam penuh ejekan. "Wanita anggun istri orang kaya… tapi di tangan pribumi sepertiku kamu cuma kayak lonte cina murahan. Lonte cina yang rela dibikin hina.
Evelina mengerang keras. Tubuhnya bergetar hebat menahan sensasi sakit yang bercampur dengan kenikmatan luar biasa.
"Aaaahh… Zal… jaaaangan bilang gitu… aaaku… aku…suaranya bergetar putus-putus tapi justru semakin membuat dirinya larut dalam permainan itu.
Aku menarik rambutnya lebih keras hingga kepalanya terpaksa menoleh ke samping. Napasku yang hangat membelai telinganya sementara tangan kananku mencengkeram pinggangnya dengan kasar. Batang kejantananku menghujam dalam dan brutal ke dalam liang kewanitaannya yang sudah banjir lendir kawin.
"Dengar eranganmu sendiri cici cantik… kayak lonte cina yang nggak mau berenti diewe pribumi.. Kamu bisa aja bilang jijik sama pribumi tapi tubuhmu teriak sebaliknya.
"Aaaahhh…!"
Evelina menjerit kecil. Pinggulnya refleks bergoyang mengikuti setiap hentakan keras yang aku berikan. Batangku terus menghujam tanpa ampun masuk keluar dari liang kewanitaannya yang licin oleh lendir kawin. Rambutnya yang ditarik keras membuat tubuhnya semakin tertekuk dada membusung tinggi dan desahannya semakin liar tak terkendali. Aku tertawa rendah kasar dan penuh hinaan. Suara tawa itu bergema pelan di dalam kamar sementara pinggulku terus memompa dengan ritme brutal.
Evelina hanya bisa mengerang panjang. Tubuhnya yang sudah berkeringat semakin licin dan setiap kali batangku menghujam dalam ia merasakan gelombang kenikmatan yang membuatnya sulit berpikir jernih. Pinggulnya bergerak sendiri mengikuti irama kasar aku meski mulutnya masih berusaha mengeluh. Aku mencondongkan tubuhku lebih rendah hingga dada aku menempel di punggungnya yang basah. Bibirku menyentuh telinganya lalu aku berbisik dengan suara serak.
"Bagus… semakin basah saja kau. Lonte cina yang pura-pura anggun di depan keluarga tapi di sini menggoyang pinggulnya sendiri minta digenjot lebih keras. Liat nih lendir kawinmu sudah banjir membasahi kontolku..
"Apa rasanya hah? Jadi mainan pribumi? Semua orang lihat kamu anggun… padahal di ranjang kamu gak lebih dari sekedar budak pemuas napsu. Wanita amoy yang pantas dihina.. dipaksa dan dipakai sampai habis.
Desahan Evelina makin parah. Bibirnya gemetar mencari udara.
"Aku… aku nggak kuat… Zal… aku… terus… jangan berhenti…
Aku menunduk lalu menggigit keras bahu Evelina dari belakang. Tanganku makin mencengkeram kuat di rambutnya sementara tubuhku menghajar tanpa belas kasihan. Setiap ejekan yang keluar dari mulutku menancap dalam membuat Evelina kehilangan kontrol dan tenggelam total dalam peranannya.
"Bagus… gitu terus. Jadi lonte cina untuk pribumi kayak aku. Menjeri.. meronta tapi tetap pasrah. Itu tempatmu sekarang.
Evelina hanya bisa meraung. Tubuhnya benar-benar luluh tenggelam dalam fantasi yang kami bangun brutal kasar tapi sepenuhnya kami jalani bersama. Aku semakin mempererat jambakan tanganku di rambut Evelina. Aku menarik kepalanya ke belakang hingga leher putihnya terekspos. Napas panasku menyapu kulitnya yang sudah basah oleh keringat. Tubuh wanita itu bergetar hebat namun bukan lagi karena malu melainkan karena nafsu yang membakar habis kendalinya.
"Zal… lebih keras… aku mau lebih kasar… jangan berhenti…" suara Evelina pecah penuh desah dan rintihan.
Aku tertawa rendah. Ejekan tajam keluar begitu saja dari mulutku.
"Apa? Ulangi lagi biar aku jelas dengarnya. Katakan keras-keras siapa kamu sekarang.
Evelina menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca tapi ia menuruti.
"Aku… aku mau kamu lebih keras… lebih kasar… aku mau dipaksa!
"Lonte cina manja ya? Anggun di depan keluarga tapi di sini ngemis biar diperlakukan kayak sampah" hina aku sambil menghentak lebih brutal sehingga tubuh Evelina tersentak keras.
"Ulang lagi! Biar aku puas dengarnya.
"Aahhh… aku… aku cuma lonte…! Lonte cina buat kamu Zal… paksa aku lebih keras… hancurkan aku…!"
Evelina berteriak. Tubuhnya makin liar mengikuti irama kasar itu.
Aku tertawa puas lalu menampar pantat Evelina keras hingga bunyinya memenuhi seluruh kamar.
"Bagus! Itu baru jawaban yang jujur. Ternyata nggak perlu jauh-jauh cari pelampiasan.. kakak ipar sendiri ternyata paling doyan dihina.
Tubuh Evelina makin melengkung. Desahannya jadi semakin liar. Ia mengulang-ulang permintaannya dengan suara yang terputus-putus di antara erangan.
"Lebih keras Zal… lebih kasar lagi… aku butuh itu… aku butuh kamu hancurin aku…
Aku menarik rambutnya lebih keras lalu berbisik di telinganya dengan nada dingin dan menusuk.
"Kalau gitu aku bakal bikin kamu lupa siapa dirimu. Di sini kamu bukan kakak ipar. Kamu cuma budak pribumi. Mainan hina yang cuma berguna kalau dipaksa.
Setiap kata yang keluar dari mulutku dan setiap hentakan membuat Evelina tenggelam lebih dalam. Batas antara fantasi dan kenyataan semakin mengabur dan ia menyerahkan seluruh dirinya pada peran itu. Aku semakin beringas. Hentakanku makin dalam dan cepat seolah ingin benar-benar menghancurkan tubuh Evelina. Rambutnya masih dijambak kuat wajahnya dipaksa menengadah dengan mulut terbuka dan napas terengah-engah.
"Lonte cina! Rasain ini! Kau minta lebih keras kan? Nih aku kasih sampai kau jera!" bentak aku dengan suara berat penuh kuasa.
Evelina menjerit tertahan. Tubuhnya bergetar liar.
"Aaaahh… iya…! Aku lonte… lonte cina buat kamu Zal! Paksa aku… lebih dalam lagi… aku nggak tahan…!" desahnya pecah penuh kepasrahan bercampur kenikmatan.
Aku menampar bokongnya sekali lagi dengan keras hingga meninggalkan bekas merah.
"Ulangi! Katakan siapa dirimu!
"Aku lonte… lonte hina… aku cuma budak pribumi…!"
Evelina meraung. Tubuhnya benar-benar lepas kendali. Cairannya mengalir deras membasahi sambungan mereka dan suaranya liar tanpa malu lagi.
Hentakan terakhir aku begitu dalam hingga membuat Evelina melengkungkan punggungnya setinggi mungkin.
"Zaaaal… aku keluar…!!!"
Evelina teriak panjang. Tubuhnya bergetar hebat tak mampu menahan lagi.
Aku sendiri akhirnya meledak. Aku melepaskan seluruh luapan birahi dengan raungan kasar di telinganya. Aku mendorong Evelina kuat-kuat menjatuhkannya ke ranjang lalu menahan tubuhnya agar tetap melekat. Cairan panas aku memenuhi Evelina bercampur dengan alirannya yang tak kalah deras.
Keduanya terengah-engah. Kamar besar itu dipenuhi aroma keringat nafsu dan suara detak jantung yang berpacu. Evelina masih terisak kecil tubuhnya bergetar namun wajahnya terlihat begitu lega. Matanya kosong puas sekaligus hancur.
Aku membisikkan ejekan terakhir di telinganya dengan nada dingin tapi menusuk.
"Bagus… begitulah akhir dari lonte cina kalau ditaklukkan pribumi.
Tubuh Evelina masih tergeletak lemas di ranjang. Keringat membasahi kulit putihnya yang berkilau di bawah cahaya lampu kamar. Napasnya masih tersengal-sengal dada naik turun dengan cepat dan rambutnya terurai berantakan di bantal. Sesekali ia masih mengerang kecil setiap denyutan sisa kenikmatan membuat tubuhnya tersentak ringan.
Aku berdiri di tepi ranjang sambil menatap puas hasil dari persetubuhan brutal yang baru saja kami mainkan. Senyum miring masih tersisa di wajahku. Aku menepuk paha Evelina pelan namun dengan nada merendahkan seolah memperlakukannya bukan sebagai kakak ipar melainkan benar-benar seorang budak fantasi.
"Aku sudah bilang kan… wanita kelas atas sepertimu cuma butuh diperlakukan begini. Kalau pribumi yang main baru kau bisa keluar segila itu.
Evelina menutup wajahnya dengan lengannya. Wajahnya masih memerah dan tubuhnya bergetar karena campuran malu dan puas. Suaranya terdengar parau ketika menjawab tapi penuh kepasrahan.
"Ya ampun… aku… aku nggak sanggup lagi Zal… tapi aku nggak bisa bohong… rasanya… terlalu nikmat. Aku benar-benar hanyut.
Aku mendekat lalu menarik lengannya agar wajah Evelina menatapku. Dengan kasar aku kembali menempelkan bibirku ke bibirnya menciumnya rakus lalu melepaskannya dengan gumaman rendah.
"Ingat… ini baru permulaan. Kalau kau mau balas dendam sama suamimu kita akan ulang lagi… setiap kali kau butuh aku yang akan buat kau lupa rasa sakit itu.
Evelina terdiam. Matanya masih basah tapi dalam sorotnya ada kobaran baru campuran antara dendam kepuasan dan rasa candu. Ia menggenggam tanganku menggigit bibirnya lalu berbisik nyaris tak terdengar.
"Kalau begitu… jangan berhenti Zal. Aku nggak mau hanya sekali. Aku ingin… lebih.
Suasana kamar masih tegang dan udara terasa pekat oleh sisa birahi. Namun di luar suara riuh keluarga besar yang masih merayakan Imlek terdengar samar. Kontras yang tajam di balik tawa dan bunyi petasan tersembunyi rahasia panas yang baru saja kami ciptakan. Tubuh Evelina akhirnya sedikit tenang meski wajah dan kulitnya masih memerah. Ia bangkit perlahan meraih gaun merahnya yang sudah kusut dan setengah melorot. Tangannya gemetar ketika mencoba merapikan pakaiannya lalu ia menoleh ke arah aku yang masih duduk santai di pinggir ranjang sambil tersenyum puas.
"Kita harus… kita harus kelihatan normal kalau keluar nanti" ucap Evelina lirih. Suaranya masih berat karena desahan yang belum lama padam.
Aku hanya terkekeh rendah lalu mendekat dan membantu menata rambut Evelina yang kusut. Aku sengaja membisikkan kata-kata yang membuatnya kembali merinding.
"Kalau ada yang liat penampilan cici sekarang. Pasti semuanya akan curiga kalau cici baru aja abis dientot habis habisan. Haha..
Evelina buru-buru menutup mulutku dengan jari telunjuknya berusaha menahan aku agar tidak menggodanya lagi.
"Udahh cukup Zal. Jangan bercanda lagi.. nanti kalau kita lama lama berduaan dikamar ini bisa ketahuan sama yang lain.
Namun mata beningnya tidak bisa menyembunyikan bara yang masih tersisa. Aku akhirnya ikut merapikan kemejaku sendiri sambil mengancingnya pelan dan tertawa kecil.
"Santai aja cici cantik. Mereka semua kan lagi makan dan sibuk ngobrol di bawah.. aku jamin nggak akan ada yang curiga sama kita. Lagipula… siapa yang akan menyangka kalau seorang wanita amoy seanggun cici yang selalu menjaga imagenya didepan semua orang bisa berbuat senekat ini ?
"Iya Zal... Kamu emang bener. Aku sendiri gak menyangka kalau aku bisa berbuat seperti ini. Menyerahkan tubuhku sama adik iparku sendiri buat diperkosa habis habisan.
Evelina hanya bisa menghela napas panjang sambil mencoba menegakkan punggungnya. Ia menatap cermin dan memastikan riasannya tidak terlalu berantakan lalu menepuk pipinya sendiri agar tampak lebih segar. Dalam hatinya ia masih bergetar antara rasa bersalah puas dan candu yang mulai tumbuh.
"Itu karena selama ini cici gak pernah sadar kalau sebenarnya didalam diri amoy seperti cici secara alaminya memang punya hasrat pengen dientot kasar sama pribumi.. Jujur aja ciii.. Meilin juga dulunya sama seperti cici.. pura pura anggun didepan semua orang tapi nyatanya suka diewe kasar sama pribumi seperti aku.
Zaall.. jadi maksudmu.. Meilin juga sering kamu perlakukan kasar seperti ini.
Beberapa menit kemudian kami berdua melangkah keluar dari kamar. Lorong rumah besar itu masih sepi. Hanya terdengar suara anak-anak yang tertawa di halaman depan dan dentuman petasan dari jauh. Evelina berjalan sedikit di depan dengan langkah hati-hati agar tak ada yang menaruh curiga.
Begitu sampai ke ruang utama kami langsung disambut aroma kue keranjang serta suara musik Imlek dan tawa keluarga besar. Meilin sedang bercengkerama dengan sepupu-sepupunya tanpa sadar apa yang baru saja terjadi di lantai atas. Aku pun langsung masuk ke keramaian itu dengan wajah tenang seolah tak ada apa-apa.
Evelina duduk kembali bersama para kerabat dekat dan sepupunya. Ia mencoba larut dalam obrolan ringan. Namun dalam hatinya kenangan di kamar tadi masih membekas begitu kuat. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi setelah ini.
.webp)

Makasih Part 5 nya suhu
BalasHapusWow Rizal udah masang impian
Hahahahahaa
Rizal bakal menjebak cici/adik Meilin?
BalasHapusApa mungkin 3P Rizal Meilin evelina? Haha mantap mantap
BalasHapus