Pagi berikutnya.. sinar matahari yang sudah terik menyusup lewat celah gorden tipis apartemen Dimas. Celine terbangun pelan disaat tubuhnya masih terasa berat dan hangat. Gadis chindo itu bergerak sedikit lalu langsung merasakan nyeri ringan di beberapa tempat seperti garis merah tipis di pergelangan tangan yang sudah memudar menjadi pink pucat. Bekas cengkeraman di paha dalamnya terasa sensitif saat tersentuh selimut dan ada rasa pegal di bahu serta punggung bawah sebagai ingatan dari posisi semalam.
Dimas sudah bangun lebih dulu. Dari dapur terdengar suara air mengalir dan aroma kopi tubruk yang kuat. Celine menarik selimut lebih tinggi sampai menutupi dagunya tapi matanya mengikuti langkah Dimas yang mendekat. Pria itu masuk ke kamar sambil membawa dua gelas kopi. Dia memakai kaos oblong hitam longgar dan celana pendek olahraga. Rambutnya masih acak-acakan namun wajahnya terlihat segar seperti orang yang tidur nyenyak setelah malam panjang.
"Kamu udah bangun sayang ? tanyanya pelan sambil meletakkan gelas di meja samping ranjang.
Dimas duduk di pinggir kasur dan tangannya langsung menyentuh dahi Celine untuk memeriksa suhu.
"Kamu demam enggak ? Setelah permainan semalam kamu pasti merasa lelah sekali ya..
Celine menggeleng dan senyum kecil muncul di bibirnya.
"Enggak demam. Cuma badan berasa kayak abis dipukulin tapi dipukulin yang enak. Sahut Celine sambil menarik tangan Dimas.. membalikkan telapaknya lalu mencium bekas kapalan di jari-jari itu.
"Tangan kamu yang bikin aku jadi begini..
Dimas tertawa pelan dan suaranya tergetar di dada. Dia menarik selimut turun sedikit lalu memeriksa bekas-bekas di pergelangan Celine dengan mata serius. Jempolnya mengusap garis pink itu pelan-pelan.
"Apa masih terasa perih ? Tanya Dimas.
"Sedikit. Tapi aku suka lihatnya. Ucap Celine sambil menatap bekas ikatan itu seperti melihat perhiasan baru.
"Ini seperti tanda khusus yang menunjukkan kalau aku adalah budakmu tuan.. Kata Celine dengan suara yang manja dan pasrah.
Dimas diam sejenak dan matanya menjadi penuh hasrat lagi seperti semalam. Lalu dia membungkuk dan mencium bekas tali itu dengan bibir hangat serta lembut yang kontras dengan kekasaran malam sebelumnya.
"Kamu bukan sekedar budak buatku tapi juga boneka yang bisa kupermainankan sesuka hati.. Kamu harus ingat baik baik hal ini.. Celine..
Mereka minum kopi dalam diam yang nyaman. Celine bersandar di dada Dimas sambil sesekali mengaduk gelasnya. Setelah beberapa menit dia angkat bicara lagi dengan suara kecil tapi jelas.
"Dimas.. aku bener bener suka permainan ini. Aku suka cara kamu memperlakukan diriku tadi malam. Terasa kejam tapi penuh gairah.. Aku pengen coba yang lebih lama. Yang bikin aku enggak bisa mikir apa-apa selain rasa puas dan kenikmatan.
Dimas menoleh dan alisnya naik sedikit.
"Lebih lama gimana ?
Celine menelan ludah dan pipinya memerah lagi.
"Mungkin seharian atau semalaman penuh. Diikat terus enggak boleh lepas kecuali aku yang minta. Tapi aku mau kamu yang atur semuanya seperti makan, minum, mandi dan lainnya. Aku cuma jadi boneka oriental yang nurut sama pemiliknya.
Dimas tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelasnya lalu menarik Celine ke pangkuannya sampai gadis itu duduk menghadapnya dengan kaki melingkar di pinggang. Tangan besarnya memegang pinggul Celine dan jempolnya mengusap bekas merah di sana.
"Kamu yakin mau melakukan hal itu ? Pastinya akan berat sekali buat gadis secantik kamu.. Diikat seharian dan diperlakukan seperti layaknya sebuah boneka seks. Dimas bertanya dengan suara serius.
Celine mengangguk dan matanya tidak berkedip.
"Aku siap asalkan kamu yang melakukannya.. Aku percaya kamu pasti gak akan biarin aku jadi boneka yang rusak dan gak bisa digunakan lagi.
Dimas menarik napas dalam lalu mencium kening Celine lama sekali.
"Oke.. tapi kita bikin aturan dulu. Kita mulai dari hal yang ringan dulu biar kamu terbiasa. Nanti setelah kamu nyaman baru kita lanjutin ke hal lain yang lebih berat. Kalau kamu merasa nggak nyaman kamu bisa bilang stop kapan saja. Janji ?
"Iya.. aku Janji. Tapi aku yakin aku gak akan pernah bilang stop sama kamu. Celine berbisik lalu mencium bibir Dimas pelan. Ciuman itu berubah jadi lebih dalam dan lidah mereka bertemu lagi tapi kali ini tanpa tergesa seperti sedang menandatangani kesepakatan baru.
Dimas menarik diri sebentar dan matanya menatap Celine dengan intensitas yang membuat gadis itu merinding.
"Baiklah kalau begitu. Kita akan langsung mulai permainannya malam ini. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu buat ambil baju ganti dan barang-barang yang kamu butuhin. Nanti kamu bisa balik lagi ke sini jam 9 malam. Jangan lupa pakai baju yang seksi biar aku makin semangat buat mainin bonekanya.
Celine mengangguk dan jantungnya sudah berdegup kencang lagi.
"Iya Dimas. Aku pasti akan datang tepat waktu.. aku malah udah gak sabar pengen jadi boneka mainan kamu nanti malam.
Dimas tersenyum tipis lalu tangannya naik ke leher Celine dan jempolnya mengusap titik denyut di sana.
"Ingat Celine.. setelah jam 9 malam nanti. Kita akan buat aturan baru. Kamu gak boleh lagi panggil aku Dimas. Kamu harus panggil aku Tuan karena kamu akan jadi budakku sepenuhnya. Sampai aku izinkan berhenti.
Celine menelan ludah dan napasnya tersengal pelan. Kata itu terasa berat di lidahnya tapi juga manis.
"Iya Tuan
Dimas menciumnya lagi kali ini lebih keras dan lebih dalam seperti segel akhir. Saat mereka berpisah Celine merasakan getar di seluruh tubuh berupa antisipasi takut dan hasrat yang bercampur jadi satu.
Hari itu berlalu lambat sekali. Celine pulang ke apartemennya sendiri lalu mandi lama-lama dan memilih baju sederhana seperti kaos longgar serta rok pendek tanpa banyak aksesoris. Dia packing tas kecil berisi charger obat-obatan lotion dan sebotol air mineral. Setiap gerakan terasa penuh makna seperti sedang mempersiapkan diri untuk ritual.
Jam 20:55 malam dia sudah berdiri di depan pintu apartemen Dimas lagi. Jantungnya berdegup kencang. Dia menarik napas dalam lalu mengetuk pintu pelan.
Pintu terbuka. Dimas berdiri di sana sudah berganti baju dengan kemeja hitam lengan digulung sampai siku dan celana jeans gelap. Matanya langsung menangkap Celine dari atas sampai bawah lalu tersenyum tipis.
"Masuk boneka.
Celine melangkah masuk dan pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terdengar final.
Dimas menutup pintu di belakang Celine dengan gerakan pelan tapi tegas. Bunyi kunci yang dikunci dari dalam terdengar seperti penutup bab yang tak bisa dibuka lagi. Cahaya lampu ruang tamu sudah diredupkan dan hanya menyisakan lampu meja kuning hangat di sudut serta beberapa lilin kecil yang menyala di meja makan. Aromanya samar campuran vanila dan kayu cendana yang membuat udara terasa lebih tebal.
Celine berdiri di tengah ruangan dengan tas kecilnya masih digenggam erat di depan dada. Dimas berjalan mengelilinginya perlahan seperti sedang menilai barang berharga yang baru tiba. Matanya menyusuri dari rambut hitam yang tergerai turun ke kaos longgar yang menempel di dada karena gugup lalu ke rok pendek yang memperlihatkan paha mulus.
Dimas berkata dengan suara rendah dan tenang tanpa nada tanya.
"Taruh tas di lantai.
Celine menurut dan tas jatuh pelan ke karpet. Dia tetap berdiri tegak dengan tangan di samping tubuh sambil menunggu.
Dimas berhenti tepat di depannya dengan jarak hanya satu lengan. Dia mengulurkan tangan dan jari telunjuknya menyentuh dagu Celine lalu mengangkat wajah gadis itu supaya menatap langsung ke matanya.
"Mulai sekarang kamu enggak bicara kecuali aku izinkan. Kamu enggak gerak kecuali aku suruh. Kamu enggak keluar dari posisi yang aku taruh sampai aku bilang boleh. Mengerti?
Celine mengangguk kecil. Bibirnya bergetar tapi suara tidak keluar.
"Jawab dengan kata. Perintah Dimas.
"Iya Tuan. Jawab Celine.
Kata itu terasa berat di lidahnya tapi begitu keluar ada gelombang hangat yang menyebar dari dada ke bawah perut. Dimas tersenyum tipis dan senyum itu membuat lutut Celine lemas.
"Bagus.
Dimas mundur selangkah lalu mengambil sesuatu dari laci meja samping. Dia mengeluarkan tali jute yang sama seperti malam sebelumnya. Kali ini ada dua gulungan lagi plus sehelai kain sutra hitam dan sebuah collar kulit hitam sederhana dengan ring logam kecil di depan. Beberapa saat kemudian Dimas berkata dengan suara rendah dan tegas.
"Jadilah boneka yang patuh. Sekarang aku mau kamu berlutut. Turuti semua perintah tuanmu.
Celine turun pelan ke karpet dan lututnya menyentuh wol tebal yang lembut. Dia menunduk sedikit secara otomatis tapi Dimas segera mengoreksi dengan jari di dagunya.
"Pandang aku !! Selalu pandang aku kalau aku di depanmu kecuali aku suruh tutup mata.
Celine mengangkat wajahnya perlahan dan matanya bertemu langsung dengan mata Dimas yang gelap tenang serta penuh kendali.
Dimas mengambil collar kulit hitam itu lalu mendekatkannya ke leher Celine. Kulit dingin collar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Dia mengencangkan collar itu pelan tapi pasti. Tidak terlalu ketat namun cukup untuk Celine merasakan tekanan ringan di setiap detik. Ring logam kecil di depan terasa dingin saat menyentuh tulang selangkanya. Dimas kemudian memasang carabiner kecil ke ring itu lalu menghubungkannya ke tali yang sudah tergantung di langit-langit. Instalasi sederhana itu dia pasang sendiri beberapa minggu lalu dan tersembunyi rapi di balik plafon palsu. Tali itu menarik leher Celine sedikit ke atas memaksa posturnya tetap tegak dan dada Celine terangkat dengan jelas.
Dimas mundur setengah langkah lalu memandang hasilnya dengan saksama. Matanya menyusuri setiap detail ikatan itu tanpa tergesa. Celine merasakan tatapan itu seperti sentuhan nyata di kulitnya. Napasnya mulai sedikit lebih cepat karena posisi baru ini.
"Bagus. Dimas gumam lagi.
Dimas mulai mengikat tangan Celine dengan gerakan yang sangat perlahan dan teliti. Kali ini dia tidak hanya mengikat pergelangan tangan saja. Dia membuat double column tie dengan tali jute yang kasar. Tangan Celine diikat rapat di depan tubuhnya terlebih dahulu. Dimas menarik tali itu ke atas dengan hati-hati lalu menghubungkannya ke tali yang sama dengan collar di leher. Posisi itu membuat lengan Celine terentang lurus ke atas. Bahunya terbuka lebar dan punggungnya melengkung ringan. Setiap kali Celine menarik napas dalam tali jute itu bergesek pelan di kulitnya dan mengingatkan posisinya yang tak berdaya.
Dimas mundur selangkah lalu memandang hasil ikatannya dengan sangat lama. Matanya menyusuri tubuh Celine tanpa buru-buru. Celine merasakan tatapan itu seperti sentuhan fisik yang nyata. Tatapan Dimas turun dari leher yang terikat collar ke dada yang naik turun dengan cepat karena napasnya yang semakin berat. Lalu tatapan itu meluncur ke pinggul dan berhenti di paha yang mulai gemetar kecil karena posisi berlutut yang lama.
Setelah puas memandang Dimas berlutut di depan Celine sehingga mata mereka sejajar. Jarinya menyusup perlahan ke bawah rok Celine lalu menyentuh permukaan paha dalam yang mulus. Dia hanya menyentuh saja tanpa melakukan lebih dari itu. Celine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil menahan erangan yang hampir keluar.
"Sudah basah.
Dimas berkata pelan hampir seperti catatan untuk diri sendiri. Jarinya menelusuri garis celana dalam tipis yang sudah lembab dengan lendir kawin. Lalu dia menarik kain celana dalam itu ke samping dengan gerakan yang sangat lambat. Udara dingin langsung menyentuh liang kewanitaan Celine yang paling sensitif. Celine menggelinjang kecil karena sensasi itu tapi tali yang mengikat tubuhnya menahan gerakan itu sepenuhnya.
Dimas terus menggesek pelan dengan ujung jarinya naik turun di sepanjang lipatan basah itu. Dia mengelilingi titik paling peka tanpa benar-benar menyentuhnya. Setiap sentuhan membuat Celine menarik napas tajam dan pinggulnya berusaha bergerak refleks meski terbatas oleh ikatan yang kuat.
Dimas tidak terburu-buru. Dia hanya menggesek pelan dengan ujung jari naik turun mengelilingi tapi tidak menyentuh titik paling peka. Setiap sentuhan membuat Celine menarik napas tajam dan pinggulnya bergerak refleks tapi terbatas oleh ikatan.
"Tenang. Dimas berbisik.
"Kamu baru mulai. Malam ini panjang.
Dia bangkit lalu mengambil kain sutra hitam.
"Sekarang tutup matamu..
Celine menurut dan kain sutra hitam itu melingkari matanya lalu diikat rapat di belakang kepala. Dunia langsung menjadi gelap. Hanya ada suara napas Dimas gesekan tali dan detak jantungnya sendiri yang terdengar sangat keras. Dimas membuka kancing kemejanya pelan dan suara kain bergesek terdengar jelas di keheningan. Lalu dia membuka celananya. Celine mendengar resleting lalu langkah kaki mendekat lagi. Tangan besar Dimas memegang pinggulnya dan mengangkat rok lebih tinggi. Dia membuka paha Celine lebar-lebar lalu masuk pelan hanya ujung dulu sambil membiarkan Celine merasakan tekanan meregang dan penuh. Celine mengerang pelan dan suara itu hampir tidak tertahan. Dimas berhenti di situ tanpa bergerak.
"Ini baru pemanasan boneka. Kamu akan disiksa disini selama berjam-jam. Aku akan main sama kamu sepanjang malam.. istirahat lalu main lagi. Kamu enggak boleh keluar kecuali aku izinkan. Mengerti?
Celine mengangguk cepat dan napasnya tersengal.
Dimas mulai bergerak sangat perlahan. Dia berlutut di depan Celine yang masih terikat dengan posisi berlutut. Kedua tangan Dimas memegang pinggul Celine dengan kuat untuk menjaga keseimbangan tubuh gadis itu. Batang kejantanan Dimas yang sudah keras dan panas menggesek pelan di bibir liang kewanitaan Celine yang basah sebelum dia mendorong ujungnya masuk dengan sangat perlahan.
Hanya kepala penisnya yang masuk terlebih dahulu. Dimas berhenti sejenak di situ sambil membiarkan Celine merasakan sensasi meregangnya liang kewanitaan yang dipenuhi. Lalu dia mendorong lebih dalam dengan gerakan terkontrol. Batangnya menghujam pelan hingga separuh panjangnya masuk ke dalam tubuh Celine. Setiap dorongan membuat tali jute bergoyang pelan. Collar di leher Celine ikut menarik kulitnya ke atas dan lengan yang terentang ke atas tertarik semakin kuat.
Sensasi itu datang dari segala arah. Gesekan tali kasar di kulit pergelangan dan lengan Celine. Tekanan penuh batang Dimas di dalam liang kewanitaannya. Dingin kain sutra yang menutup matanya. Serta panas tubuh Dimas yang menempel erat di depannya. Dimas memompa dengan irama lambat dan dalam. Setiap kali batangnya menghujam masuk sampai pangkal pinggul mereka saling menempel. Lalu dia menarik batangnya keluar hampir sepenuhnya sebelum mendorong masuk lagi dengan ritme yang sama.
Celine mengerang pelan setiap kali batang penis pria pribumi itu menghujam dalam. Tubuhnya yang terikat membuatnya hanya bisa menerima setiap dorongan tanpa bisa bergerak banyak. Dimas terus memompa dengan tenang sambil memperhatikan setiap reaksi Celine. Tangan besarnya masih memegang pinggul gadis itu dengan erat untuk mengontrol kedalaman dan kecepatan.
Tiba-tiba Dimas berhenti total di tengah dorongan. Dia menarik batang kejantanan keluar sepenuhnya dari liang kewanitaan Celine yang sudah sangat basah. Celine merintih kecewa dan pinggulnya bergerak kecil mencoba mencari batang itu lagi meski ikatan menahannya kuat. Dimas tertawa pelan.
"Sabar cantik.. sekarang kamu bener bener terlihat seperti boneka oriental yang haus seks.
Dia bangkit lalu meninggalkan Celine dalam posisi itu terikat buta dan basah sambil menunggu. Langkah kakinya menjauh ke dapur. Suara gelas dan air mengalir terdengar lalu dia kembali. Dimas membawa botol air dingin lalu menempelkannya ke bibir Celine.
"Minum dulu.. boneka cina sepertimu harus punya tenaga lebih untuk melayani tuan pribuminya..
Celine meneguk air itu dengan pelan dan air dingin langsung mengalir deras ke tenggorokannya. Sensasi dingin itu sangat kontras dengan panas yang membara di seluruh tubuhnya. Beberapa tetes air lolos dari bibirnya lalu menetes ke dada yang terangkat karena ikatan. Dimas menunggu sampai Celine selesai minum lalu meletakkan botol air tersebut di samping.
Setelah itu Dimas kembali ke posisinya di depan Celine. Dia berlutut dengan kedua kaki mengapit paha gadis itu yang terbuka lebar. Tangan besarnya memegang pinggul Celine dengan kuat untuk mengunci posisinya. Batang kejantanan Dimas yang sudah sangat keras dan berdenyut menggesek pelan di bibir liang kewanitaan Celine yang basah sekali. Lalu tanpa banyak kata dia mendorong batangnya masuk dengan lebih keras dan lebih dalam.
Batangnya menghujam kuat hingga separuh panjangnya langsung masuk ke dalam liang kewanitaan yang licin dan panas. Celine menjerit kecil karena sensasi penuh yang mendadak itu. Dimas tidak berhenti. Dia menarik pinggul Celine ke arahnya lalu mendorong batangnya lebih dalam lagi sampai pangkal kejantanan menempel rapat di bibir kemaluan gadis itu.
Dimas mulai memompa dengan irama yang lebih cepat dan kasar. Setiap kali batangnya menghujam masuk tubuh Celine bergoyang hebat. Tali di leher dan lengan ikut menarik kulitnya sehingga gesekan tali jute terasa semakin kuat di kulit. Payudara Celine bergoyang naik turun mengikuti setiap hantaman. Dimas memegang pinggulnya semakin erat sambil terus menggenjot liang kewanitaan itu tanpa ampun. Bunyi kecipak lendir kawin terdengar basah dan jelas setiap kali batangnya keluar masuk.
Aaakkkhh.. Celine menjerit kecil setiap dorongan. Tubuhnya menegang hebat dan otot liang kewanitaannya menggenggam batang Dimas dengan kuat. Gairahnya semakin memuncak dan dia sudah sangat dekat dengan klimaks. Namun setiap kali Celine merasa akan meledak Dimas langsung menghentikan gerakannya. Dia menahan batangnya dalam-dalam tanpa bergerak sama sekali lalu menariknya keluar perlahan sampai hanya ujungnya yang tersisa di dalam.
Celine merintih frustrasi dan pinggulnya bergerak kecil mencoba mencari batang itu lagi tapi ikatan membuat gerakannya sangat terbatas. Dimas hanya tersenyum tipis sambil membiarkannya menggantung di ambang kenikmatan. Setelah denyut tubuh Celine agak reda dia kembali memompa dengan keras dan cepat. Batangnya menghujam dalam-dalam berulang kali sambil sesekali meremas buah dada Celine yang montok.
Dia terus mengulangi permainan edging itu berkali-kali. Membawa Celine ke ambang klimaks lalu menghentikan segalanya secara tiba-tiba. Setiap kali penantian itu semakin lama dan kenikmatan yang tertahan semakin menyiksa. Tubuh Celine sudah gemetar hebat dan lendir kawinnya mengalir deras membasahi paha dalamnya.
Dimas berbisik pelan di telinga Celine.
"Kamu belum boleh keluar boneka. Siksaan birahi malam ini masih panjang.
Dimas terus mengulangi permainan itu berkali-kali sepanjang malam. Dia membawa Celine ke ambang kenikmatan lalu menghentikan gerakan secara tiba-tiba sehingga gadis itu selalu menggantung di tepi klimaks. Setiap kali Celine merintih dan memohon tubuhnya gemetar hebat karena birahi yang tertahan.
Malam itu berlalu dalam siklus panjang berupa kenikmatan penantian dan kenikmatan lagi. Dimas selalu memastikan kondisi Celine tetap aman. Dia sesekali memberi air minum memeriksa napasnya dan memastikan gadis itu masih bisa mengucapkan kata safe word kalau diperlukan. Tapi Celine tidak pernah mengucapkannya. Dia hanya mengeluarkan erangan dan permohonan pelan yang terpotong karena kenikmatan yang menyiksa.
Setelah beberapa lama Dimas melepaskan ikatan sebagian lalu mengganti posisi. Dia membaringkan Celine di lantai karpet dengan frog tie. Kedua paha Celine ditekuk dan diikat rapat ke betisnya sehingga lutut terbuka lebar dan liang kewanitaannya terpampang jelas. Tangan Celine tetap diikat ke atas dan terhubung dengan collar di leher. Posisi ini membuat pinggul Celine terangkat sedikit dan dia benar-benar tak berdaya.
Dimas berlutut di antara paha Celine yang terbuka lebar. Dia memegang pinggul gadis itu dengan kedua tangan lalu mengarahkan batang kejantanan yang sudah keras dan berdenyut ke liang kewanitaan yang basah sekali. Batangnya menghujam masuk dengan satu dorongan kuat hingga pangkal. Celine menjerit karena sensasi penuh yang mendadak. Dimas mulai memompa dengan irama sedang lalu semakin cepat. Setiap kali batangnya keluar masuk bunyi kecipak lendir kawin terdengar basah dan jelas. Payudara Celine bergoyang mengikuti setiap hantaman dan tali di tubuhnya bergesek di kulit. Dimas menggenjot semakin dalam sambil meremas buah dada Celine dengan kasar. Dia membawa Celine hampir ke puncak lalu berhenti lagi sambil menarik batangnya keluar.
Beberapa saat kemudian Dimas mengangkat tubuh Celine yang lemas lalu memindahkannya ke kasur. Kali ini dia mengikat Celine dalam posisi hogtie. Tangan dan kaki Celine diikat ke belakang dan dihubungkan sehingga tubuhnya melengkung seperti busur. Kepala Celine terangkat sedikit karena collar dan blindfold masih menutup matanya. Posisi ini membuat pantat Celine terangkat ke atas dan liang kewanitaannya terbuka sempurna.
Dimas naik ke kasur lalu berlutut di belakang Celine. Dia memegang pinggul gadis itu dengan kuat dari belakang lalu mengarahkan batang kejantanan ke liang kewanitaan yang sudah sangat licin. Batangnya menghujam masuk dalam sekali hingga penuh. Dimas mulai menggenjot Celine dengan ritme yang lebih brutal. Setiap dorongan membuat tubuh Celine bergoyang dan tali ikatan menarik kulitnya. Bunyi tabrakan kulit dan kecipak lendir kawin memenuhi ruangan. Dimas memompa semakin cepat dan kasar sambil sesekali menepuk pantat Celine pelan.
Celine hanya bisa mengerang dan melenguh karena kenikmatan yang bertubi-tubi. Setelah berjam-jam permainan edging yang panjang Dimas akhirnya tidak menghentikan gerakannya lagi. Dia menggenjot Celine dengan kuat dan dalam tanpa henti. Batangnya menghujam cepat dan keras sampai akhirnya Celine mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang hebat dalam ikatan. Liang kewanitaannya menggenggam batang Dimas dengan kuat sambil air mani keluar deras. Air mata membasahi kain blindfold karena pelepasan yang sangat intens.
Celine melolong panjang saat gelombang kenikmatan itu menyapu seluruh tubuhnya. Dimas terus memompa beberapa kali lagi sebelum akhirnya menyemburkan air mani panasnya ke dalam liang kewanitaan Celine.
Saat akhirnya tali dilepas satu per satu Celine jatuh ke pelukan Dimas dengan tubuh gemetar dan napas tersengal. Dia menangis pelan bukan karena sedih melainkan pelepasan total. Dimas memeluknya erat lalu mencium kening pipi dan bibirnya.
"Kamu bener bener boneka yang luar biasa.
Celine hanya bisa mengangguk lemah sambil bersembunyi di dada Dimas.
"Terima kasih Tuan.
Dimas tersenyum dan suaranya kembali lembut.
"Sekarang kamu boleh panggil aku Dimas lagi. Permainan kita sudah selesai malam ini.. besok pagi baru kita lanjutin lagi.
Dimas membaringkan tubuh Celine dengan lembut di kasur setelah semua ikatan dilepas satu per satu. Mereka berbaring bersama dengan tubuh saling menempel erat. Kulit Celine yang masih hangat dan lembab menempel sempurna di dada Dimas.
Aftercare berlangsung sangat pelan dan penuh perhatian. Dimas mengambil botol minyak arnica lalu menuang sedikit ke telapak tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut dia mengoleskan minyak itu ke bekas merah tali di pergelangan tangan Celine. Jarinya mengusap pelan mengelilingi garis-garis pink itu untuk meredakan nyeri dan memperlancar peredaran darah. Dia melanjutkan ke lengan ke bahu lalu ke bekas tali di paha dalam dan pinggul Celine. Setiap usapan dilakukan dengan penuh kasih sayang seolah sedang menyembuhkan setiap jejak permainan tadi.
Celine mendesah pelan merasakan sensasi hangat minyak yang menenangkan. Tubuhnya yang tadi tegang kini mulai rileks dalam pelukan pria itu. Dimas menarik selimut hangat menutupi tubuh mereka berdua lalu memeluk Celine dari belakang dengan erat. Dada Dimas menempel rapat di punggung Celine. Satu tangannya memeluk perut gadis itu sementara tangan satunya lagi mengusap rambut Celine dengan lembut.
Mereka berpelukan tanpa akhir dalam diam yang nyaman. Hanya terdengar napas mereka yang pelan dan saling menenangkan. Sesekali Dimas mencium tengkuk Celine dengan lembut. Celine balas merapatkan tubuhnya semakin dalam ke pelukan pria itu.
Tak terasa di luar jendela apartemen sinar matahari jakarta mulai terang benderang. Pagi sudah datang dengan cahaya keemasan yang menyusup lewat celah gorden. Tapi di dalam kamar itu waktu seolah masih milik mereka berdua saja. Pintu yang terbuka lebar semalam masih terasa belum akan ditutup dalam waktu dekat.

Komentar
Posting Komentar