Beberapa hari sudah berlalu sejak hukuman kasar di ranjang kamar Evelyn. Gadis chindo itu mencoba bersikap lebih patuh dihadapan ayah tirinya yang kejam dan penuh kuasa. Setiap hari gadis itu mencoba pulang tepat waktu dan memakai pakaian sopan ketika pergi keluar rumah dan memanggil Khalid dengan sebutan tuan tanpa banyak protes. Tapi di dalam hatinya api pemberontakan masih menyala kecil. Chastity belt sesekali masih dipasang lagi sebagai pengingat hukuman yang telah diterimanya. Hampir setiap malam ketika mamanya sedang tidak ada dirumah karena suatu urusan maka Khalid akan selalu memperlakukan tubuhnya dengan cara kasar sehingga meninggalkan bekas tamparan samar di payudara dan pantatnya. Meskipun terlihat mengerikan tapi Evelyn mulai merasa tubuhnya perlahan berubah. Ia semakin sensitif terhadap sentuhan kasar ayah tirinya meskipun perangainya yang sulit diatur terkadang masih memberontak.
Malam itu Evelyn kembali membuat kesalahan. Beberapa hari sebelumnya gadis itu diam-diam memposting photo dirinya yang berpakaian seksi dan terbuka di akun medsosnya lengkap dengan caption yang agak nakal dan menggoda.
Khalid yang diam diam mengawasi semua kegiatan pribadi anak tirinya menemukan hal memalukan itu ketika sedang santai dirumah. Karuan saja amarahnya langsung meledak. Malamnya pria itu menunggu Evelyn pulang dari kampus lalu langsung menariknya ke ruang tamu tanpa kata-kata.
“Ternyata kamu masih belum kapok juga !! Kata Khalid dengan suara rendah yang mengancam.
"Semua pria bebas memandangi tubuh seksimu dimedsos ? Tubuh yang sudah menjadi milik tuannya ini kamu bagikan seperti pelacur murahan ?
Evelyn tersentak dan wajahnya memucat. "Aku tak bermaksud begitu tuan..
Khalid tidak memberi kesempatan bicara. Tangan besarnya mencengkeram rambut hitam panjang Evelyn dan menariknya turun hingga gadis itu berlutut di lantai marmer dingin. “Malam ini hukumannya akan lebih berat !! Kamu akan belajar bahwa kamu adalah binatang peliharaan di rumah ini. Lepaskan semua pakaianmu. Sekarang.
Dengan tangan gemetar Evelyn melepaskan kaos ketatnya yang berwarna putih.. bra dan celana dalam hingga telanjang bulat. Kulit putih pucatnya berkilau di bawah lampu ruang tamu. Khalid memasang collar kulit tebal dengan cincin besi di lehernya lalu mengaitkan rantai panjang ke collar itu. Ia juga memasang knee pads kulit di lutut Evelyn agar gadis itu bisa merangkak tanpa terlalu sakit tapi bukan berarti hukuman akan ringan.
“Kamu akan merangkak mengelilingi seluruh rumah ini seperti anjing jalang. Ayah akan setubuhi kamu dari belakang sambil kamu berjalan. Setiap kali berhenti atau melambat aku akan tampar bokongmu keras. Mengerti?” kata Khalid dengan suara rendah yang berbahaya.
Evelyn mengangguk lemah dan air mata sudah menggenang di matanya. Khalid menarik rantai collar memaksa Evelyn merangkak di lantai. Tubuh rampingnya merunduk sehingga payudara putihnya bergantung dan bergoyang lembut setiap gerakan sementara bokong bulatnya terangkat tinggi memperlihatkan vagina dan anus yang masih rapat.
Khalid membuka celananya lalu mengeluarkan kontol tebalnya yang sudah setengah keras. Ia berlutut sebentar di belakang Evelyn melumasi kontolnya dengan ludah kemudian mendorong masuk ke vagina gadis itu dengan satu hantaman kuat. Evelyn menjerit pelan dan tubuhnya tersentak ke depan.
“Aaahh… Ayah… pelan pelaaan.. keluh Evelyn dengan suara gemetar.
“Mulai merangkak. Sekarang !! perintah Khalid.
Evelyn mulai merangkak perlahan di lantai ruang tamu. Setiap gerakan maju membuat kontol Khalid menghantam lebih dalam karena ia ikut bergerak di belakangnya. Pinggul Khalid bergerak ritmis sehingga ia menggauli Evelyn dengan hantaman sedang tapi tegas sambil gadis itu merangkak. Rantai collar tertarik pelan dan memaksa leher Evelyn terangkat sedikit.
Mereka melewati ruang tamu menuju dapur. Setiap langkah merangkak membuat payudara Evelyn bergoyang liar sehingga putingnya hampir menggesek lantai marmer dingin sesekali. Kontol besar Khalid yang ukurannya jauh diatas normal itu terus memompa dari belakang dan suara basah daging beradu memenuhi rumah yang sepi.
"Merangkak lebih cepat !! perintah Khalid sambil menampar bokong kanan Evelyn keras. PLAK! meninggalkan jejak tangan merah.
Evelyn meringis dan mempercepat rangkakannya. Mereka memasuki koridor panjang menuju kamar tidur utama. Di sini Khalid menarik rantai lebih kuat sehingga memaksa Evelyn merangkak lebih cepat. Pinggulnya semakin brutal dan menghantam bokong putih gadis itu dengan suara plok-plok-plok yang nyaring. Sperma dan cairan Evelyn menetes ke lantai marmer sehingga meninggalkan jejak basah di belakang mereka.
“Katakan siapa kamu !! Perintah Khalid sambil menjambak rambut Evelyn dari belakang tanpa menghentikan gerakannya.
“Aa.. aaaku… aaahh… peliharaan tuann… aku milik tuaann sepenuhnya… jawab Evelyn dengan suara pecah karena napasnya tersengal akibat merangkak sambil terus digauli kasar.
Mereka terus bergerak keliling rumah melewati ruang makan naik sedikit ke tangga kecil menuju lantai dua di mana Khalid memaksa Evelyn merangkak pelan agar kontolnya tetap tertanam dalam lalu turun lagi ke ruang keluarga. Setiap kali Evelyn melambat karena lelah Khalid menampar bokongnya berulang kali sehingga membuat kulit putihnya semakin merah dan panas. Kadang ia menarik rantai collar kuat hingga leher Evelyn tercekik ringan dan membuat gadis itu tersedak sambil vagina dan anusnya berkedut di sekitar kontol.
Di depan cermin besar di ruang keluarga Khalid menghentikan Evelyn sejenak. Ia memaksa gadis itu melihat pantulan dirinya sendiri yaitu tubuh ramping chindo telanjang merangkak dengan rambut hitam acak-acakan wajah memerah air mata mengalir sementara ayah tirinya yang bertubuh tegap sedang menggaulinya dari belakang seperti binatang.
“Lihat dirimu. Ini yang kamu dapat karena memberontak. Kamu bukan lagi gadis manja. Kamu lubang untuk Ayah !! kata Khalid tegas.
Khalid melanjutkan gerakannya lebih kasar sehingga pinggulnya beradu keras dengan bokong Evelyn. Ia mencondongkan tubuh dan tangan besarnya meraih payudara gadis itu dari belakang lalu meremas dan memilin putingnya sambil terus memompa. Evelyn menjerit dan mengerang campur aduk karena sensasi penuh di vaginanya bercampur rasa malu yang mendalam akibat diperlakukan seperti hewan peliharaan di rumahnya sendiri.
Akhirnya setelah hampir mengelilingi seluruh rumah Khalid menarik rantai collar kuat dan mendorong kontolnya sedalam mungkin. Dengan geraman dalam khas Timur Tengah ia meledak di dalam vagina Evelyn sehingga menyemburkan sperma panas dan kental dalam jumlah banyak hingga menetes deras ke lantai. Ia tetap di dalam beberapa saat dan membiarkan Evelyn gemetar hebat di posisi merangkak dengan napasnya tersengal-sengal.
Khalid menarik kontolnya keluar perlahan sehingga sperma putih kental mengalir deras dari vagina Evelyn yang merah dan bengkak. Ia menarik rantai collar hingga gadis itu berbalik menghadapnya dan masih dalam posisi merangkak.
“Kamu akan jilat lantai yang kamu kotor dengan cairanmu sendiri. Bersihkan jejak pelacur kecil ini !! perintah Khalid.
Evelyn dengan tubuh gemetar dan air mata mengalir menunduk lalu mulai menjilat lantai marmer yang basah oleh campuran sperma dan cairannya sendiri sementara Khalid berdiri di atasnya dengan tatapan kepemilikan yang dingin.
“Malam ini kamu tidur di lantai kamar Ayah dengan collar dan rantai. Besok kita ulangi kalau kamu masih berani memberontak. kata Khalid tegas.
Beberapa hari kemudian setelah mamanya berangkat ke kantor Khalid menyelinap masuk ke dalam kamar Evelyn. Ia melihat gadis itu masih berbaring di tempat tidur dengan seragam kuliah yang belum diganti. Khalid langsung menarik selimutnya kasar dan menyalahkan Evelyn karena kemarin pulang kuliah terlambat tanpa izin.
"Kamu pikir bisa seenaknya pulang malam tanpa laporan ke Ayah. Hari ini kamu dapat hukuman yang lebih berat supaya ingat siapa yang punya kamu" kata Khalid tegas.
Evelyn mencoba protes namun Khalid tidak memberi kesempatan. Ia menarik tangan gadis itu kuat lalu menyeretnya keluar kamar menuju bagian atas rumah yang biasa dipakai untuk menjemur pakaian. Tempat itu terbuka dengan angin cukup kencang dan terlihat dari beberapa sisi tetangga yang agak jauh. Khalid memaksa Evelyn berdiri di depan terali jemuran besi yang kokoh.
Ia mengikat kedua tangan Evelyn ke batang besi jemuran di atas kepala sehingga gadis itu berdiri dengan tangan terentang tinggi. Khalid juga memasang penjepit puting susu di kedua ujung payudara Evelyn yang sudah mengeras karena campuran dingin dan takut. Rantai kecil penghubung kedua penjepit itu ia tarik sesekali agar gadis itu merasakan nyeri yang tajam.
"Lihat tubuhmu terbuka seperti ini di tempat terbuka. Kalau ada yang lewat mereka bisa lihat pelacur Ayah sedang dihukum" kata Khalid sambil tertawa pelan.
Khalid membuka celana lalu mengeluarkan kontolnya yang sudah keras. Ia menarik rok Evelyn ke atas dan merobek celana dalamnya hingga robek. Tanpa pemanasan lagi ia mendorong batangnya menghujam masuk ke dalam liang kewanitaan Evelyn yang masih kering. Gadis itu menjerit keras karena rasa perih seketika.
Khalid memompa dengan gerakan kasar dan brutal. Setiap kali pinggulnya menghantam bokong Evelyn penjepit di puting susunya ikut tertarik sehingga Evelyn semakin menjerit dan tubuhnya menggeliat hebat. Angin sepoi menyapu tubuh telanjangnya yang terikat membuat sensasi semakin kuat. Khalid terus menggenjot tanpa ampun sambil sesekali menampar bokongnya hingga memerah.
Evelyn menjerit jerit dan mengerang tak terkendali. Air matanya mengalir deras karena campuran sakit di puting susunya dan sensasi penuh di kemaluannya yang terus digenjot. Khalid semakin bersemangat melihat reaksi itu. Ia menarik rantai penjepit lebih kuat sambil mempercepat gerakan memompa hingga bunyi aduan daging terdengar nyaring di tempat terbuka itu.
Setelah beberapa menit Khalid melepaskan penjepit puting susu secara tiba-tiba. Rasa darah yang mengalir kembali ke ujung payudara Evelyn membuatnya menjerit lebih keras. Khalid memanfaatkan momen itu dengan mendorong kontolnya sedalam mungkin dan terus menggenjot liar. Akhirnya dengan geraman kasar ia menyemburkan sperma panas kental ke dalam vagina Evelyn hingga meluap keluar dan menetes ke lantai jemuran.
Khalid masih berdiri di belakang sambil menahan tubuh Evelyn yang gemetar hebat dengan tangan masih terikat di terali besi. Napas gadis itu tersengal-sengal dan kakinya lemas.
"Hukuman belum selesai. Kamu akan tetap terikat di sini sampai Ayah puas. Kalau berani berteriak lagi Ayah tambah hukumanmu" kata Khalid tegas.
Beberapa saat kemudian Khalid menarik kontolnya keluar perlahan dari liang kewanitaan Evelyn. Campuran sperma putih kental dan cairan orgasme gadis itu mengalir deras menetes ke lantai jemuran. Tubuh Evelyn masih tergantung lemas dengan tangan terikat tinggi di terali besi dan penjepit puting susu masih mencengkeram kedua ujung payudaranya yang merah membara.
Khalid melepaskan penjepit itu satu per satu. Evelyn mendesis kesakitan saat darah kembali mengalir ke puting susunya yang sangat sensitif. Ia mengusap bokong gadis itu yang memerah bekas tamparan lalu mundur selangkah dan memperhatikan Evelyn yang telanjang sepenuhnya dengan tangan masih terentang di atas.
"Hukuman sudah selesai untuk sekarang. Tapi Ayah akan biarkan kamu tetap terikat telanjang di sini selama dua jam penuh. Angin dan sinar matahari akan mengajari kamu untuk tidak memberontak lagi" kata Khalid tegas.
Evelyn mencoba memohon dengan suara lemah namun Khalid hanya tersenyum dingin. Ia memastikan ikatan di kedua tangan Evelyn cukup kuat lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Gadis itu kini sendirian di area terbuka atas rumah dengan tubuh telanjang yang masih berkeringat dan basah oleh cairan di antara pahanya.
Waktu berlalu perlahan selama dua jam. Angin sepoi terus menyapu kulit Evelyn yang halus sehingga ia menggigil kedinginan. Puting susunya yang baru dilepas penjepit terasa panas dan berdenyut. Sperma Khalid yang tersisa di dalam vaginanya sesekali menetes pelan ke lantai setiap kali angin membuat tubuhnya bergoyang. Sinar matahari menyinari kulit putihnya yang sudah memerah di beberapa bagian bekas remasan dan tamparan. Rasa malu yang mendalam membuat Evelyn menangis pelan sepanjang waktu itu. Kakinya gemetar lemas dan otot lengannya pegal karena posisi tangan terentang tinggi.
Setelah dua jam berlalu Khalid kembali ke tempat jemuran. Ia melihat Evelyn yang kepalanya tertunduk lemas dengan rambut hitam acak-acakan menutupi wajahnya. Khalid mendekat lalu melepaskan ikatan di kedua tangan gadis itu satu per satu. Tubuh Evelyn langsung ambruk ke pelukannya karena kakinya terlalu lemah untuk berdiri. Ia memeluk tubuh telanjang yang gemetar itu sebentar sambil tangannya mengusap punggung Evelyn.
"Kamu sudah belajar pelajaran hari ini. Tubuh ini milik Ayah sepenuhnya. Kalau masih berani pulang terlambat lagi hukumannya akan lebih lama dan lebih berat" kata Khalid tegas.
Khalid kemudian menggendong Evelyn yang lemas kembali ke dalam rumah. Ia membawa gadis itu ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya yang kotor oleh sperma dan keringat. Setelah itu Khalid membaringkan Evelyn di lantai kamarnya sendiri dengan collar dan rantai pendek masih terpasang di leher gadis itu.
"Malam ini mamamu masih diluar kota untuk urusan kantornya. kamu tidur telanjang di lantai dekat tempat tidur Ayah. Besok pagi Ayah akan periksa apakah kamu sudah cukup patuh. Kata Khalid tegas.
Evelyn hanya bisa diam dengan tubuh lelah dan pikiran yang kacau sambil menatap lantai.
Dua minggu sesi hukuman di jemuran baju Evelyn mulai merasa semakin tertekan. Tubuhnya sering nyeri tapi yang lebih buruk adalah rasa malu yang kini bercampur dengan sensasi aneh yang ia sendiri takut akui. Tubuhnya mulai bereaksi lebih cepat terhadap perintah kasar Khalid. Ia berusaha menahan diri tapi malam itu ia kembali membuat kesalahan kecil. Ia lupa membersihkan bekas makeup di kamar mandi dan meninggalkan ponselnya terbuka dengan chat lama yang masih tersimpan. Khalid menemukannya saat malam sudah larut.
Tanpa banyak kata Khalid langsung membawa Evelyn ke ruang keluarga yang luas di lantai dasar. “Kamu masih belum belajar benar” katanya dengan suara rendah sambil melepaskan ikat pinggang kulitnya. “Malam ini hukuman sederhana tapi memalukan. Kamu akan dihukum di tempat terbuka supaya kamu ingat bahwa rumah ini bukan lagi tempatmu bersembunyi.
Evelyn dipaksa telanjang bulat di tengah ruang keluarga. Khalid mengikat kedua tangannya di belakang punggung dengan tali shibari merah lalu memaksa gadis itu berlutut di atas karpet tebal dengan dahi menempel lantai dan bokong terangkat tinggi yaitu posisi sujud yang sudah sangat familiar. Ia memasang nipple clamps berat di puting Evelyn yang sensitif lalu merantainya ke collar di leher sehingga setiap gerakan kecil menarik putingnya dengan kejam. Lalu Khalid mengambil cane bamboo tipis dan mulai menghukum bokong dan paha belakang Evelyn dengan pukulan ritmis yang keras.
SWISH—CRACK!
Setiap cambukan meninggalkan garis merah tipis yang langsung membengkak di kulit putih pucat gadis itu. Evelyn menjerit tertahan dan tubuhnya tersentak setiap kali cane mendarat. “Satu… dua… tiga…” ia menghitung dengan suara pecah karena air mata sudah mengalir ke karpet. Bokongnya yang bulat semakin merah dan penuh welts sehingga sensasi panas membara menyebar ke seluruh tubuhnya.
Khalid sedang mengangkat cane untuk pukulan kesepuluh ketika pintu ruang keluarga terbuka pelan.
Ibu Evelyn yaitu seorang wanita berusia 42 tahun bernama Linda Setiadi masih cantik dengan garis wajah Tionghoa yang halus dan tubuh yang mulai agak montok berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak. Ia baru pulang dari acara sosial dan masih memakai dress malam yang elegan. Tangannya menutup mulut saat melihat pemandangan di depannya yaitu putrinya yang telanjang terikat bokong penuh garis merah nipple clamps menggantung dan Khalid berdiri di belakangnya dengan cane di tangan sementara kontolnya sudah setengah keras di balik celana training.
Sesaat ruangan hening mencekam.
“Mama…” suara Evelyn pecah penuh malu dan ketakutan. Ia mencoba menutupi tubuhnya tapi ikatan di belakang punggung membuatnya tak bisa bergerak. Air matanya semakin deras.
Linda menelan ludah dan wajahnya memucat. Ia tahu betul situasi keluarga mereka. Setelah suaminya meninggal bisnis keluarga hampir bangkrut. Pernikahan dengan Khalid Al-Mansour adalah satu-satunya penyelamat karena rumah mewah ini uang untuk kuliah Evelyn serta biaya hidup mewah mereka semua bergantung pada pria Timur Tengah itu. Kalau ia protes sekarang semuanya bisa hancur dalam sekejap.
Khalid menoleh perlahan ke arah Linda dan cane masih di tangannya. Matanya tajam tapi suaranya tetap tenang dan berwibawa. “Linda. Masuk dan tutup pintunya. Ini urusan disiplin di rumahku.
Linda ragu sesaat dan tangannya gemetar di gagang pintu. Ia melihat putrinya yang sedang menangis tersedu bokong merah penuh bekas cambuk tubuh ramping chindo yang dulu ia manjakan kini terpampang telanjang dan dihukum seperti budak. Tapi ia juga melihat kekayaan keamanan finansial dan masa depan yang Khalid berikan. Akhirnya dengan suara pelan dan hampir tak terdengar ia berkata.
“…Maafkan aku Evelyn. Mama… tidak bisa apa-apa.
Linda menutup pintu di belakangnya dan berdiri di sudut ruangan dengan tangan masih menutup mulut sementara mata tak berani menatap langsung. Air mata menggenang di matanya tapi ia tidak berani bergerak maju atau protes.
Khalid tersenyum tipis dan puas dengan reaksi istrinya. Ia kembali menoleh ke Evelyn. “Lihat? Bahkan ibumu mengerti siapa yang berkuasa di sini. Sekarang lanjutkan menghitung. Kamu berhenti di sembilan.
CRACK! Cane mendarat lagi di bokong Evelyn lebih keras dari sebelumnya. Gadis itu menjerit keras dan tubuhnya tersentak hebat hingga nipple clamps menarik putingnya dengan kejam. “S-sembilan…!
Linda hanya berdiri diam di sudut dan tubuhnya gemetar. Ia melihat Khalid meletakkan cane lalu membuka celananya mengeluarkan kontol tebalnya yang sudah keras penuh. Pria itu berlutut di belakang putrinya memegang pinggul Evelyn yang ramping lalu mendorong kontolnya masuk ke vagina gadis itu dengan satu hantaman kasar.
Evelyn menjerit lagi karena campuran rasa sakit dan pleasure yang memalukan. “Aaahh… Ayah… tidak di depan Mama…
Khalid mulai menggauli Evelyn dengan ritme kasar dan dalam sehingga pinggulnya beradu keras dengan bokong yang sudah penuh welts. Setiap hantaman membuat tubuh Evelyn bergoyang maju mundur payudara bergantung dan bergoyang liar serta rantai nipple clamps bergoyang menarik putingnya. Suara basah daging beradu memenuhi ruangan.
“Katakan kepada ibumu siapa kamu sekarang” perintah Khalid sambil terus memompa kasar dan tangan besarnya sesekali menampar bokong Evelyn yang sudah merah.
Evelyn menangis tersedu dan suaranya pecah di antara erangan. “Mama… aku… aku milik Ayah… aku peliharaannya… ahh… tolong… sakit tapi… aku tidak bisa lawan…
Linda hanya bisa menunduk dan air mata mengalir di pipinya. Ia tidak berani mendekat tidak berani berbicara. Hanya berdiri di sana menyaksikan putrinya yang dulu ia sayangi kini digauli kasar oleh suaminya di tengah ruang keluarga sehingga tubuh putih ramping itu bergoyang setiap kali Khalid menghantam dari belakang.
Khalid semakin brutal dan menarik rambut Evelyn ke belakang dengan satu tangan sambil pinggulnya terus bergerak ganas. Ia menatap Linda sesekali dengan tatapan dominan seolah mengingatkan bahwa ini adalah harga yang harus dibayar untuk kehidupan mewah mereka. Akhirnya dengan geraman dalam ia menyemburkan sperma panasnya jauh di dalam vagina Evelyn dan membiarkan cairan kental itu menetes keluar saat ia menarik kontolnya.
Evelyn ambruk ke karpet tubuhnya gemetar hebat bokong merah penuh welts vagina bengkak menetes sperma dan nipple clamps masih menggigit putingnya. Ia menangis tanpa suara dan terlalu malu untuk menatap ibunya.
Khalid berdiri mengancingkan celananya kembali lalu berjalan mendekati Linda. Ia menyentuh bahu istrinya pelan tapi tegas.
“Ini yang terbaik untuk disiplin keluarga kita. Kamu mengerti kan Linda?” tanya Khalid.
Linda hanya mengangguk pelan dan suaranya hampir hilang. “Ya… aku mengerti.
Khalid tersenyum dingin. “Bagus. Sekarang bantu bersihkan putrimu. Besok hukuman dilanjutkan.
Ia meninggalkan ruangan dan meninggalkan ibu serta anak di ruang keluarga yaitu Linda yang diam menangis sambil perlahan mendekati Evelyn dan Evelyn yang telanjang terikat serta hancur karena malu yang tak terperi.

Komentar
Posting Komentar