Langsung ke konten utama

Draft Lukisan Kamasutra 2

Pagi harinya sinar matahari redup menyusup melalui celah jendela kayu rumah tua bergaya tionghoa di kawasan pecinan lama. Suara klakson becak dan pedagang kaki lima mulai terdengar samar dari luar gang sempit. Levina terbangun dengan tubuh telanjang di tempat tidur kakek dengan kemaluannya yang masih terasa nyeri dan lengket oleh sisa sperma semalam. Ia cepat-cepat mengambil kimono sutra tipisnya yang tergeletak di lantai lalu memakainya dengan tangan gemetar sebelum kakeknya bangun. 

Saat kakek membuka mata Levina sudah berusaha bersikap biasa meski pipinya memerah dan ia tak berani menatap langsung. 

"Pagi kek.. Levina buatkan teh dulu ya.. katanya dengan suara pelan dan sopan seperti biasa seolah malam tadi hanyalah mimpi buruk.

Kakek Tanadi Wijaya bangkit dengan tenang. Tubuh tuanya masih tegap meski usia sudah 68 tahun. Ia tersenyum tipis melihat cucunya yang berusaha berpura-pura normal. 

"Pagi Levina. Hari ini Kakek akan buka toko obat tradisional seperti biasa. Nanti kamu bantu Kakek di depan ya urus pelanggan yang datang. katanya santai sambil mengenakan kaos oblong putih yang sudah lusuh dan celana panjang hitam yang warnanya hampir pudar termakan usia.

Rumah tua mereka yang ada dikawasan pecinan lama sekaligus berfungsi sebagai toko obat tradisional cina kuno di lantai bawah. Rak-rak kayu penuh botol ramuan herbal akar-akaran kering dan dupa wangi. Levina mengangguk patuh meski hatinya berdegup kencang. Ia membantu menyiapkan sarapan sederhana di dapur kecil dan berusaha bersikap seperti cucu biasa. Tapi setiap kali bergerak ia merasakan nyeri halus di antara pahanya. Ingatan akan panggilan Tuan serta tubuhnya yang sudah menjadi milik Kakek membuat wajahnya hangat. Kakek bertindak seolah tak ada yang terjadi semalam sehingga ia berjalan ke arah toko sambil membuka pintu kayu depan dan bersiap menyambut pelanggan pagi di kawasan pecinan yang mulai ramai.

Di lantai bawah rumah tua pecinan. Toko obat tradisional mulai dibuka seperti biasanya. Aroma herbal kering akar ginseng dan dupa wangi langsung memenuhi udara. Kakek Tanadi Wijaya duduk di belakang meja kayu tua dengan tenang. Ia menghitung botol-botol ramuan dan mencatat pesanan di buku tulis bersampul kuning. Levina bergerak hati-hati di antara rak-rak sehingga ia membantu menyusun kantong-kantong obat kecil untuk pelanggan yang mulai berdatangan. Kebanyakan orang tua dari komunitas Tionghoa lama yang datang untuk sekedar mencari obat batuk atau ramuan penambah stamina. Ia berusaha tersenyum sopan dan berbicara seperti biasa. Tapi setiap kali membungkuk atau berjalan baju sutra tipisnya bergesekan dengan kulitnya yang sensitif. Hal itu mengingatkannya pada sperma kakek yang masih terasa lengket di celah vaginanya. Levina sesekali mencuri pandang kearah kakek yang membuat hatinya gelisah karena pria tua itu bersikap sangat normal seolah malam penuh dosa tadi tidak pernah terjadi. Ketika toko sedang sepi sebentar kakek memanggil Levina mendekat dengan suara rendah seperti biasanya.

"Levina.. tolong bantu kakek ambilkan ramuan Yin Yang Tonik yang ada di rak depan. katanya santai. 

Saat Levina membungkuk untuk mengambil botol dari rak bagian bawah. kakek yang duduk di belakangnya perlahan mengulurkan tangan dan mengusap bokong cucunya dari luar gaun tidur dengan gerakan pelan. Levina tersentak kecil sehingga hampir menjatuhkan botol. 

"Kamu harus sering minum ramuan herbal buatan kakek Levina.. supaya pantatmu makin padat dan berisi..

"Kakek... bisiknya panik sambil menoleh dengan wajah langsung memerah. 

Kakek hanya tersenyum tipis tanpa mengubah ekspresi tenangnya. Jarinya menekan lembut di antara celah bokong Levina sebentar sebelum menarik tangan.


Kamu harus ingat aturan malam tadi. Selama tinggal dirumah ini tubuhmu milik Kakek.. Malam nanti Kakek akan periksa apakah kamu masih paruh atau tidak.. katanya pelan dengan suara hampir tak terdengar oleh pelanggan yang lewat di depan toko. 

Levina berdiri tegak dengan tangan gemetar dan lututnya lemas. Ia merasakan gelombang hangat kembali muncul di selangkangannya meski ia berusaha keras bersikap biasa di depan umum.

Pagi itu toko obat tradisional mulai ramai lagi saat jam makan siang mendekat. Beberapa pelanggan tua datang bergantian sehingga memesan ramuan batuk kering dan obat rematik. Levina berdiri di depan rak dan sibuk memasukkan akar-akaran ke dalam kantong kertas cokelat sambil berusaha memberikan senyum ramah.

Tiba-tiba saat seorang ibu paruh baya sedang berbicara dengan kakek di meja kasir tentang dosis ramuan tidur kakek Tanadi Wijaya mengulurkan tangan. dari balik meja tanpa dilihat orang lain. Tangan keriputnya menyusup pelan ke bawah kimono Levina yang berdiri tepat di sampingnya sehingga jari telunjuknya langsung menyentuh celah vagina gadis itu yang masih agak lembab dari semalam. Levina tersentak kecil sehingga tubuhnya menegang seketika tapi ia cepat menahan napas dan berpura-pura mengatur botol-botol di rak agar tidak mencurigakan.

Jari kakek mengusap bibir vagina Levina dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati sesekali menyentuh klitoris yang langsung bereaksi dengan denyutan kecil. Levina menggigit bibir dalam-dalam hingga hampir berdarah sehingga wajahnya memerah hebat sementara ia berusaha menjawab pertanyaan pelanggan dengan suara yang sedikit gemetar. 

"Iya Bu. Ramuan ini diminum dua kali sehari" katanya. 

Kakek tetap berbicara tenang dengan pelanggan di depannya seolah tangannya tidak sedang bermain di bawah gaun tidur cucunya. Jarinya kini masuk sedikit ke dalam lubang yang masih sempit sehingga mengaduk pelan cairan yang mulai keluar lagi karena sentuhan diam-diam itu. Levina merasakan lututnya lemas sehingga ia harus memegang rak kayu agar tidak goyah. Setiap kali pelanggan menoleh ke arahnya ia tersenyum paksa sementara di bawah sana jari kakek terus menggoda dengan gerakan halus yang membuatnya semakin basah dan panas di tengah toko yang ramai.

Pagi di toko obat tradisional Pecinan terus berjalan dengan ritme yang lambat namun penuh ketegangan tersembunyi. Pelanggan mulai berkurang setelah jam makan siang sehingga meninggalkan suasana toko yang lebih sepi dengan hanya suara angin kecil menyusup melalui pintu kayu yang setengah terbuka dan aroma herbal yang semakin pekat. Levina berdiri di belakang rak dengan tangan masih sedikit gemetar sehingga berusaha membersihkan meja kecil dari sisa kantong-kantong obat yang berantakan. Ia merasakan cairan hangat yang baru saja keluar karena ulah jari kakek tadi masih menetes pelan di paha dalamnya sehingga membuat kimono sutra tipisnya sedikit lengket di bagian bawah. Setiap hembusan napas terasa berat karena ia takut kakek akan melanjutkan lagi tapi sekaligus ada rasa aneh yang membuat perutnya bergejolak. Kakek Tanadi Wijaya duduk tenang di kursinya sehingga mencatat sesuatu di buku tulis kuning sambil sesekali melirik cucunya dengan pandangan yang penuh kepemilikan halus.

Ketika toko benar-benar sepi tanpa pelanggan kakek memanggil Levina dengan suara rendah yang tenang namun tegas. 

"Levina kemari sebentar. Kakek mau periksa sesuatu" katanya. 

Gadis itu mendekat dengan langkah ragu sehingga berdiri di samping meja kayu tua. Tanpa banyak kata tangan kakek kembali menyusup ke bawah kimono sutranya dari samping kali ini lebih berani. Jari-jarinya yang kasar langsung membuka celah vagina Levina dengan lembut tapi pasti sehingga memeriksa kelembaban dan sisa cairan yang ada di dalamnya. 

"Masih basah… bagus. Kamu mulai patuh ya" bisiknya pelan sambil jarinya bergerak pelan masuk-keluar hanya beberapa sentimeter cukup untuk membuat Levina menggigit bibir kuat-kuat agar tak mengeluarkan suara. 

"Malam nanti Kakek mau lihat kamu siap sepenuhnya. Jangan cuci dulu di bawah sana. Biarkan tetap seperti ini sepanjang hari. Itu aturan baru hari ini" katanya. 

Levina hanya bisa mengangguk lemah sehingga lututnya gemetar hebat dan wajahnya panas membara sementara jari kakek masih berada di dalamnya sebentar lagi sebelum akhirnya ditarik perlahan dan meninggalkan rasa kosong serta semakin basah di antara pahanya.

Malam telah larut ketika lampu-lampu di toko obat tradisional Pecinan sudah dimatikan satu per satu. Kakek Tanadi Wijaya bangkit dari kursi kayunya dengan gerakan tenang sehingga menggenggam tangan Levina yang masih mengenakan kimono sutra tipis itu tanpa melepasnya seharian. 

"Sekarang kamu ikut Kakek ke belakang. katanya pelan tapi tegas dengan suara yang tidak memberi ruang untuk penolakan. 

Levina mengikuti dengan jantung berdegup kencang sehingga kakinya terasa lemas karena seharian penuh godaan diam-diam yang membuat vaginanya tetap lembab dan sensitif. Mereka melewati lorong sempit di belakang rak-rak obat sehingga menuju sebuah ruangan kecil yang jarang digunakan yaitu ruang penyimpanan barang kuno keluarga. Kakek mendorong pintu kayu berukir tua itu terbuka sehingga memperlihatkan tumpukan peti kayu berdebu vas-vas keramik antik dan gulungan-gulungan lukisan tua yang tergantung di dinding atau tergeletak di meja panjang. Bau kayu tua dan dupa lama langsung menyambut mereka.

Kakek Tanadi Wijaya menutup pintu rapat-rapat dan memutar kunci besi tua dengan suara klik yang jelas sehingga mengunci mereka berdua di dalam ruangan temaram yang hanya diterangi satu lampu minyak kecil. Ia berjalan ke meja sehingga membuka salah satu gulungan lukisan kamasutra kuno berwarna pudar yang menampilkan posisi-posisi ekstrim. Seorang wanita muda dibengkokkan tubuhnya secara ekstrem dengan kakinya ditarik ke belakang kepala atau digantung dalam posisi yang sepenuhnya menyerahkan kendali. 

"Mulai hari ini kamu harus belajar melayani Kakek dengan benar. katanya sambil menatap Levina dengan mata yang gelap penuh hasrat. 

"Sekarang coba kamu pilih satu posisi dari gulungan gambar gambar kuno ini. Selanjutnya kamu yang akan memosisikan tubuhmu sendiri untuk Kakek. Ingat tubuh kamu milik Kakek sekarang. Mulai dari yang paling sulit jika kamu berani atau yang sederhana dulu. Tapi malam ini harus selesai dengan Kakek puas. katanya. 

Levina berdiri di tengah ruangan dengan wajah memerah hebat sehingga tangannya gemetar saat melihat lukisan-lukisan vulgar kuno itu. Vaginanya yang masih lengket dari seharian tanpa dicuci berdenyut pelan karena campuran antara ketakutan malu dan rasa panas yang tak bisa ia pungkiri lagi.

Levina berdiri diam beberapa saat di tengah ruangan temaram sehingga matanya berkeliling ragu di antara gulungan lukisan kamasutra kuno yang terbuka. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa di tenggorokan. Akhirnya dengan suara hampir tak terdengar dan pipi membara ia menunjuk salah satu gulungan yang paling sederhana di antara yang ekstrim yaitu posisi di mana wanita berbaring telentang di tepi meja kayu rendah dengan kedua kakinya diangkat tinggi dan ditarik lebar ke arah dada sehingga sepenuhnya membuka dan menyerahkan vagina serta bokongnya kepada pria yang berdiri di depan. 

"Ini… yang ini saja. Aku mau coba yang ini kek. bisiknya gemetar dengan suara pecah karena malu. 

Ia tahu posisi itu masih memungkinkan baginya untuk bernapas meski tetap sangat terbuka dan rentan. Kakek Tanadi Wijaya tersenyum tipis sehingga mata tuanya berkilat puas melihat pilihan cucunya yang tetap menunjukkan penyerahan.

Tanpa banyak bicara kakek mendekat dan dengan tangan keriputnya yang tegas membantu Levina naik ke meja kayu panjang yang kosong di tengah ruangan. Ia membaringkan tubuh gadis itu telentang lalu mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi sehingga menekuknya ke arah dada hingga lutut hampir menyentuh bahu Levina. Kimono sutra tipis itu terangkat sepenuhnya sehingga memperlihatkan vagina yang masih agak bengkak merah dan lengket oleh sisa cairan seharian. Levina menggigit bibir kuat-kuat sehingga merasakan betapa terbukanya dirinya dalam posisi itu karena lubang vaginanya terpampang jelas di depan kakek dan bahkan bokongnya sedikit terangkat dari meja. Kakek berdiri di antara kaki cucunya yang terbuka lebar sehingga tangannya perlahan membuka celana panjang hitamnya sendiri. 

"Bagus… posisi ini sangat mudah dilakukan untuk seorang pemula sepertimu.. Dan kelebihan lainnya adalah kakek bisa masukin kontol kakek lebih dalam.. katanya pelan sambil mengusap batangnya yang sudah mengeras. 

"Sekarang bernapas pelan Levina. Malam ini Kakek akan warisi kamu teknik bercinta kamasutra yang sangat terkenal itu. katanya.

Kakek Tanadi Wijaya berdiri mantap di antara kaki Levina yang terbuka lebar sehingga batangnya yang sudah tegang dan berurat menekan pelan di bibir vagina cucunya yang masih lengket. Dengan satu tangan ia memegang paha Levina yang gemetar sementara tangan satunya lagi mengarahkan kepala penisnya mengusap naik-turun di celah yang basah itu sehingga menyebarkan cairan alami yang mulai keluar lagi karena posisi sangat terbuka tersebut. Levina menutup mata rapat-rapat sehingga napasnya tersengal pendek-pendek dan merasakan setiap gesekan itu membuat klitorisnya berdenyut serta lubang vaginanya berkontraksi kecil. 

"Kakek… aku takutt.. lakukan pelan pelan aja ya… bisiknya hampir tak terdengar dengan suara penuh malu dan ketakutan bercampur sensasi yang tak bisa ia kendalikan. 

Tubuhnya dalam posisi terlipat itu membuat payudaranya terdorong ke atas sehingga putingnya mengeras di balik kimono sutra yang sudah terbuka lebar.

Perlahan tapi pasti kakek mendorong pinggulnya ke depan. Kepala penisnya yang berbentuk seperti cendawan masuk sedikit demi sedikit ke dalam vagina Levina yang sempit dan masih sensitif dari aktivitas seharian. Levina mengeluarkan erangan kecil yang tertahan sehingga punggungnya melengkung di atas meja kayu saat merasakan batang kakek meregang dinding vaginanya yang basah. Posisi dengan kaki terangkat tinggi membuat penetrasi terasa lebih dalam dari biasanya seolah kakek bisa menyentuh titik paling dalam di dalam dirinya. Kakek berhenti sejenak saat sudah setengah masuk sehingga menikmati denyutan hangat di sekeliling batangnya sambil mengusap paha cucunya dengan lembut. 

"Enak sekali… tubuh kamu semakin pas untuk Kakek" gumamnya dengan suara serak lalu mulai bergerak pelan dan mendorong lebih dalam dengan ritme yang sabar namun tak terhentikan sehingga setiap dorongan membuat meja kayu tua itu berderit pelan di ruangan temaram yang penuh barang antik.

Gerakan kakek semakin mantap meski tetap pelan dan terkontrol. Setiap kali pinggulnya mendorong maju batangnya yang tebal masuk lebih dalam ke dalam vagina Levina sehingga menyentuh titik sensitif di dinding atas yang membuat gadis itu tak bisa menahan erangan kecil yang lolos dari bibirnya. Posisi dengan kaki terlipat tinggi ke dada membuat Levina merasa sangat terbuka dan tak berdaya karena setiap dorongan terasa lebih kuat dan lebih dalam seolah kakek sedang mengklaim setiap inci tubuhnya. Cairan yang sudah menggenang seharian bercampur dengan cairan baru yang keluar deras sehingga membuat suara basah pelan terdengar setiap kali batang kakek keluar-masuk. Levina mencengkeram pinggiran meja kayu dengan tangan gemetar sehingga matanya setengah terpejam dan napasnya tersengal cepat. 

"Ah… Kakek… terlalu dalam… bisiknya dengan suara pecah dan wajahnya memerah hebat karena malu mendengar suara tubuhnya sendiri yang begitu vulgar di ruangan sunyi itu.

Kakek Tanadi Wijaya menatap wajah cucunya dengan mata gelap penuh kepuasan sehingga tangannya memegang paha Levina lebih kuat agar posisi tetap terbuka lebar. Ia mulai meningkatkan ritme sedikit demi sedikit sehingga dorongannya menjadi lebih panjang dan mantap dan setiap kali ujung batangnya menekan kuat di bagian paling dalam. Tubuh Levina bergoyang pelan mengikuti irama itu sehingga payudaranya naik-turun di balik kimono yang sudah tergeser sepenuhnya. Kakek mengulurkan satu tangan dan meremas payudara cucunya dengan lembut sehingga ibu jarinya memutar puting yang mengeras. 

"Bagus… kamu semakin basah untuk Kakek. Terus rasakan Levina. Malam ini kamu belajar menikmati posisi ini" gumamnya dengan suara rendah yang serak dan napasnya mulai agak berat sementara ia terus bergerak ritmis di dalam tubuh cucunya yang panas dan sempit sehingga semakin mendekatkan keduanya pada pelepasan yang tak terhindarkan.

Setelah beberapa menit bergerak dengan ritme yang semakin dalam dan mantap kakek Tanadi Wijaya perlahan menarik batangnya keluar dari vagina Levina yang sudah basah sekali dan berdenyut. Cairan bening campur putih menetes pelan dari lubang yang sedikit terbuka itu sehingga mengalir ke permukaan meja kayu tua. Levina masih terbaring dengan kaki terlipat tinggi sehingga napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya berkeringat tipis di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Kakek tersenyum tipis melihat kondisi cucunya yang sudah sangat terangsang lalu ia berjalan ke meja samping dan mengambil gulungan lukisan kamasutra lainnya yang lebih rumit. 

"Posisi pertama tadi bagus untuk pemanasan" katanya dengan suara rendah sambil membuka gulungan itu di depan Levina. 

Lukisan di gulungan baru menunjukkan posisi ekstrem karena seorang wanita dibalikkan tubuhnya dengan wajah dan dada menempel ke meja bokong terangkat tinggi kedua tangan ditarik ke belakang dan diikat longgar dengan kain sutra sementara pria berdiri di belakang dengan penetrasi sangat dalam dari arah belakang.

Kakek mendekat lagi dan dengan lembut membantu Levina turun dari posisi sebelumnya lalu memutar tubuh gadis itu hingga berbaring telungkup di meja kayu. Ia menekan punggung Levina agar dada dan pipinya menempel rata ke permukaan meja yang dingin kemudian mengangkat pinggul cucunya tinggi-tinggi sehingga bokongnya terangkat sempurna dan vagina serta anusnya terpampang jelas dari belakang. 

"Lihat gulungan ini dengan baik" bisik kakek sambil menunjukkan lukisan di depan mata Levina. 

"Kamu akan mencoba posisi ini sekarang. Kakek akan masukkan lebih dalam dari belakang dan kamu harus tetap diam menerima. Ini aturan malam ini sehingga tubuh kamu harus belajar posisi-posisi kuno ini satu per satu" katanya. 

Levina menggigit bibir kuat-kuat sehingga wajahnya panas membara karena posisi baru yang membuatnya merasa sangat rendah dan rentan dengan bokongnya terangkat seperti persembahan di depan kakek. Ia merasakan ujung batang kakek kembali menyentuh bibir vaginanya dari belakang sehingga siap untuk memasuki posisi yang jauh lebih dominan dan ekstrem.

Kakek Tanadi Wijaya berdiri mantap di belakang Levina yang sudah dalam posisi baru karena tubuh bagian atas menempel rata ke meja kayu tua dengan pipi dan payudaranya tertekan dingin ke permukaan sementara pinggulnya terangkat tinggi sehingga bokong bulatnya terpampang sempurna di depan kakek. Dengan tangan keriputnya yang tegas ia memegang kedua pinggul Levina dan menariknya sedikit lebih ke belakang sehingga membuat vagina gadis itu terbuka lebar dari arah belakang. Batang kakek yang masih basah oleh cairan cucunya kini menekan bibir vagina yang sudah bengkak dan merah itu. 

"Lihat gulungan ini baik-baik" katanya pelan sambil mendorong pinggulnya maju perlahan. 

Kepala penisnya yang tebal masuk dengan suara basah pelan sehingga meregang dinding vagina Levina dari sudut yang baru dan jauh lebih dalam dibanding posisi sebelumnya. Levina mengeluarkan erangan tertahan yang panjang. 

"Ahh… Kakek… terlalu… dalam sekali…" katanya. 

Tubuhnya menegang sehingga jari-jarinya mencengkeram pinggiran meja kayu kuat-kuat saat merasakan batang tua itu menyentuh titik paling sensitif di dalamnya dengan setiap inci yang masuk.

Kakek mulai bergerak dengan ritme lambat namun kuat sehingga menarik pinggul Levina ke belakang setiap kali ia mendorong maju dan penetrasi terasa sangat penuh dan dalam. Suara kulit beradu pelan bercampur dengan bunyi cairan yang semakin banyak keluar dari vagina Levina sehingga memenuhi ruangan temaram. Posisi ini membuat bokong Levina bergoyang setiap dorongan dan ia merasakan betapa tak berdayanya dirinya karena tidak bisa melihat wajah kakek dan hanya bisa merasakan setiap sentakan kuat dari belakang. Kakek mengulurkan satu tangan ke depan sehingga meremas payudara Levina yang tertekan ke meja sambil terus bergerak lebih cepat sedikit demi sedikit. 

"Bagus… posisi ini membuat kamu milik Kakek sepenuhnya" gumamnya dengan suara serak penuh kepuasan dan napasnya mulai berat. 

"Rasakan saja Levina. Biarkan Kakek isi kamu dalam-dalam seperti ini setiap malam" katanya.

Gerakan kakek semakin intens dan kuat seiring waktu berlalu. Ritme yang tadinya lambat dan terkontrol kini berubah menjadi dorongan-dorongan panjang dan mantap yang lebih cepat. Setiap kali pinggul kakek menghantam bokong Levina dari belakang terdengar suara plak plak yang basah dan ritmis memenuhi ruangan kecil itu. Batangnya yang tebal masuk keluar dengan dalam sekali di posisi ini sehingga ujungnya berulang kali menekan kuat titik sensitif di dalam vagina Levina hingga gadis itu tak bisa menahan erangan yang semakin keras dan putus-putus. 

"Ahh… Kakek… ahh… terlalu kuat…" desah Levina dengan suara pecah karena pipinya tertekan ke meja kayu dan air mata tipis mulai menggenang di sudut matanya akibat campuran rasa penuh nyeri halus serta kenikmatan yang tak mau ia akui. 

Bokongnya bergoyang hebat setiap hantaman sehingga cairan beningnya menyembur kecil setiap kali batang kakek ditarik hampir keluar sebelum didorong kembali dengan kuat.

Kakek Tanadi Wijaya memegang pinggul Levina lebih erat sehingga jari-jarinya meninggalkan bekas merah di kulit putih cucunya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga membuat dorongannya semakin dalam dan brutal dan napasnya yang berat terdengar di telinga Levina. 

"Kamu milik Kakek… terima semuanya" gumamnya serak sambil terus menghantam tanpa henti. 

Satu tangannya meraih rambut Levina pelan sehingga menarik kepalanya sedikit ke belakang agar punggungnya melengkung lebih dalam dan posisi itu membuat vagina cucunya semakin terbuka serta mudah ditembus. Levina merasakan gelombang panas yang semakin kuat di perut bawahnya sehingga lututnya lemas di atas meja dan tubuhnya mulai bergetar tak terkendali setiap kali kakek menghantam paling dalam. Ruangan temaram itu dipenuhi suara napas berat erangan tertahan dan bunyi basah percintaan yang semakin liar sementara gulungan lukisan kamasutra kuno di meja samping seolah menyaksikan adegan itu dengan diam.

Gerakan kakek yang semakin cepat dan kuat membuat tubuh Levina semakin tak terkendali. Setiap hantaman dalam dari belakang membuat batang tebalnya menekan titik paling sensitif di dalam vagina cucunya berulang kali sehingga mengirim gelombang kenikmatan yang semakin tajam dan tak tertahankan ke seluruh tubuhnya. Levina menggigit bibirnya kuat-kuat hingga hampir berdarah tapi erangan kecil yang manja tetap lolos dari mulutnya. 

"Kakek… ahh… aku… aku tidak tahan lagi…" desahnya dengan suara gemetar dan pecah sehingga pinggulnya tanpa sadar mulai bergerak mundur menyambut setiap dorongan kakek. 

Tubuhnya bergetar hebat sehingga dinding vagina yang basah sekali berkontraksi kuat di sekeliling batang kakek seolah ingin menahan dan mengisapnya lebih dalam. Cairan hangatnya semakin banyak keluar sehingga membasahi paha dalamnya dan menetes ke meja kayu tua setiap kali kakek menghantam paling dalam.

Kakek Tanadi Wijaya merasakan kontraksi kuat di dalam tubuh Levina dan tersenyum puas di balik napasnya yang berat. Ia mempercepat ritme sehingga tangannya memegang pinggul cucunya lebih erat sambil terus menghantam dengan dorongan panjang dan kuat. 

"Ya… lepaskan saja Levina. Biarkan kamu mencapai puncak untuk Kakek" bisiknya serak di telinga cucunya dengan suara penuh kepemilikan. 

Levina merasakan gelombang panas yang sangat kuat mulai naik dari perut bawahnya sehingga lututnya lemas total dan penglihatannya mulai kabur. Tubuhnya menegang hebat sehingga napasnya tersengal pendek-pendek dan otot-otot vaginanya berkontraksi liar di sekeliling batang kakek. Ia hampir mencapai klimaks karena hanya tinggal beberapa dorongan lagi yang akan mendorongnya jatuh ke dalam pelepasan yang intens dan memalukan di depan kakeknya sendiri.

Gelombang kenikmatan yang sudah lama menumpuk akhirnya meledak dengan hebat di dalam tubuh Levina. Saat kakek menghantam paling dalam untuk kesekian kalinya tubuh gadis itu menegang seketika seperti busur yang ditarik penuh. 

"Kakek… ahhhh!!" erangannya pecah dan panjang sehingga tak lagi bisa ditahan dan bergema pelan di ruangan temaram yang penuh barang kuno. 

Vagina Levina berkontraksi liar dan kuat di sekeliling batang kakek sehingga berdenyut-denyut hebat seolah ingin memerasnya habis-habisan. Cairan hangat menyembur deras dari dalamnya sehingga membasahi batang kakek dan menetes deras ke meja kayu serta lantai. Pinggulnya bergetar tak terkendali sehingga bokongnya bergoyang kecil mengikuti sisa hantaman kakek sementara seluruh tubuhnya kejang-kejang karena orgasme yang intens dan memalukan itu. Air mata tipis mengalir di pipinya yang merah membara karena campuran antara rasa malu yang dalam dan pelepasan yang tak pernah ia rasakan sekuat ini sebelumnya.

Kakek Tanadi Wijaya tidak berhenti meski merasakan kontraksi kuat dan cairan panas yang membasahi batangnya. Ia terus mendorong dengan ritme yang mantap sehingga menikmati setiap denyutan vagina cucunya yang masih bergetar hebat. 

"Bagus sekali… kamu orgasme untuk Kakek" gumamnya dengan suara serak penuh kepuasan sehingga tangannya mengusap punggung Levina yang basah keringat dengan lembut. 

Tubuh Levina masih lemas dan bergetar di atas meja sehingga napasnya tersengal-sengal dan pikirannya kabur karena sisa kenikmatan yang baru saja melanda. Kakek perlahan memperlambat gerakannya tapi tidak menarik diri sepenuhnya sehingga membiarkan batangnya tetap terbenam dalam di dalam vagina yang masih berkontraksi pelan. Ia menatap bokong Levina yang basah dan merah karena hantaman tadi sehingga tersenyum tipis. 

"Pelajaran hari ini belum selesai. Kakek masih mau lanjut dengan posisi lain setelah kamu istirahat sebentar" katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Draft Tawanan Ojol

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Budak Napsu Ojol Jalanan

Draft Kisah Tragis Amoy Siantar

Pengantin Brutal 5

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 5

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 6

Draft Hukuman Ayah Tiri 2

Draft Velin Mahasiswi Teladan