Langsung ke konten utama

Fantasi Liar Taksi Online

By : Analconda13

Namaku Vanessa Lenadi, 27 tahun. Aku seorang gadis keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal di kota metropolitan ini. Orang-orang di kantor mengenalku sebagai pegawai yang rapi, ramah, dan bisa diandalkan. Aku selalu datang tepat waktu, berpakaian sopan, dan tidak pernah menimbulkan masalah. Semua itu memang aku tampilkan dengan sengaja, semacam topeng yang kususun rapi. Karena ada bagian lain dari diriku yang tak pernah mereka tahu.

Tubuhku padat berisi dengan lekukan yang jelas terlihat meskipun aku berusaha menutupinya dengan pakaian formal. Kulitku kuning langsat, wajahku oriental, dan menurutku penampilan ini memang pantas menjadi objek fantasi liar para lelaki pribumi di sekelilingku. Aku sering menangkap cara mereka melirik diam-diam, pura-pura sibuk tapi sebenarnya sedang memperhatikanku.

Sejak lama aku sadar kalau aku punya sisi berbeda. Aku suka dilihat. Aku suka jadi pusat perhatian, meski hanya dalam sekilas tatapan. Ada rasa bergetar di kulitku setiap kali seorang pria berusaha menahan pandangannya padaku tapi akhirnya gagal. Aku tahu bagaimana cara membuat momen itu terjadi: kancing atasan yang sengaja tak kukaitkan, rok yang sedikit lebih pendek, atau sekadar menunduk dengan gerakan yang kubuat seolah-olah alami.

Dan aku punya panggung favorit untuk memainkan permainan kecilku: di dalam taksi online. Duduk di kursi belakang, hanya ada aku dan seorang sopir pria yang berusaha menjaga wibawanya. Di balik kaca spion kecil itu, aku bisa merasakan tatapannya, walau ia berpura-pura sibuk menatap jalan. Kadang aku sengaja menyilangkan kaki perlahan, atau menekuk tubuh ke depan saat pura-pura mencari sesuatu di tas. Aku tidak pernah berkata apa-apa. Aku hanya membiarkan situasinya mengalir, menikmati sensasi diam-diam yang terasa lebih panas daripada percakapan langsung.

Bagi sebagian orang, perjalanan pulang kerja mungkin membosankan. Tapi bagiku, setiap kali naik taksi online, selalu ada kemungkinan untuk sebuah petualangan kecil—permainan yang membuatku merasa hidup, sekaligus berbahaya.

Aku sering merasa hidupku terlalu datar. Pagi ke kantor, pulang sore, akhir pekan belanja atau nongkrong dengan teman. Tapi ada satu rahasia kecil yang membuat rutinitasku lebih bergairah: taksi online. Bukan sekadar transportasi, melainkan ruang permainan di mana aku bisa melepas sisi diriku yang tak pernah kutunjukkan pada siapa pun.

Aku masih ingat pertama kali iseng. Sore itu hujan deras, kemejaku sedikit basah dan menempel di kulit. Sopirnya pria paruh baya, pendiam sekali. Aku duduk di belakang sambil membuka laptop. Dengan sengaja kubiarkan kancing atas kemeja tetap terbuka. Sesekali matanya melirik ke kaca spion, lalu buru-buru berpaling. Aku menahan senyum. Rasanya seperti menemukan mainan baru: betapa mudahnya membuat seorang pria salah tingkah tanpa perlu bicara apa pun.

Sejak itu aku jadi ketagihan. Besoknya aku sengaja mengenakan rok span yang agak pendek. Saat duduk di kursi belakang, roknya otomatis naik, dan aku tak berusaha menutupinya. Sopir yang kutemui waktu itu masih muda, mungkin awal tiga puluhan. Tangannya menggenggam setir terlalu kencang, matanya sering berpindah ke spion. Aku menyilangkan kaki pelan-pelan, membiarkan kulit pahaku tersingkap lebih tinggi. Degup jantungku makin cepat setiap kali ia berusaha berpura-pura fokus ke jalan, padahal aku tahu pikirannya melayang.

Beberapa minggu kemudian, aku makin berani. Malam itu aku baru pulang dari pesta kantor, masih hangat oleh alkohol. Sopirnya seorang pria berwajah keras, lebih tua, dan terlihat tegas. Aku duduk agak ke tengah kursi belakang, pura-pura mencari lipstik di tas. Tubuhku menunduk dalam-dalam, belahan dadaku jelas terbuka. Saat itu laju mobilnya mendadak melambat. Aku menahan tawa dalam hati, pura-pura tak sadar. Ada rasa nikmat tersendiri saat tahu aku bisa mempengaruhi seorang pria hanya dengan gerakan kecil.

Kadang aku juga bermain dengan suara. Dalam perjalanan singkat ke mall, aku sengaja berbicara dengan nada rendah, agak serak, seolah kelelahan. Aku bertanya tentang jalan, tentang kemacetan, lalu tertawa kecil pada jawabannya. Sopir itu berkeringat meski AC menyala. Aku bisa merasakannya: kata-kataku, tawaku, dan cara mataku menatapnya lewat kaca spion, cukup untuk membuatnya gelisah.

Semua pengalaman itu membuatku sadar, aku bukan hanya penumpang. Aku adalah sutradara dari permainan kecil ini. Dan semakin sering aku melakukannya, semakin besar pula keinginanku untuk tahu… sampai sejauh mana seorang sopir berani menanggapi godaanku.

Aku selalu mengira permainan ini hanya akan berhenti di tatapan curi-curi lewat kaca spion, atau sopir yang salah tingkah menahan diri. Tapi ternyata, suatu malam, aku bertemu seseorang yang berbeda.

Hari itu aku pulang cukup larut, kantor sudah sepi, jalanan Jakarta juga mulai lengang. Aku memesan taksi online seperti biasa. Mobil yang datang berwarna hitam, bersih, dan ketika aku masuk, aroma parfum maskulin langsung memenuhi kabin. Sopirnya pria sekitar tiga puluhan, wajahnya tenang tapi matanya tajam.

Aku duduk di kursi belakang, memainkan ponsel. Seperti kebiasaanku, aku menyilangkan kaki perlahan, membiarkan roknya tersingkap. Sesekali aku mencondongkan tubuh ke depan, pura-pura mengambil minum dari tas. Biasanya, sopir akan mencuri pandang lalu berpaling cepat. Tapi kali ini berbeda. Ia menatap lewat spion cukup lama, tidak buru-buru menghindar. Tatapannya bukan sekadar iseng—ada semacam keberanian di sana.

Aku pura-pura tak sadar tapi jantungku berdetak lebih cepat. Aku merasakan ketegangan itu makin jelas ketika ia berkata dengan suara rendah : Mbak sering pulang sendirian ya? Jam segini biasanya orang udah di rumah.

Aku menoleh ke arahnya, tersenyum tipis. “Iya… sendirian. Soalnya belakangan lagi banyak kerjaan dikantor.

Ia melirik lagi lewat spion, matanya tidak lepas dariku. “Setau saya jarang ada loh perempuan cina yang berani pulang malam sendirian. Apalagi naik kendaraan umum. Biasanya kan dijemput atau bawa mobil sendiri.

Aku tertawa kecil, mencoba santai. “Hehe… ya memang kebanyakan begitu. Tapi saya kan beda.. lagian kalau tiap kali harus dijemput rasanya ribet juga.

“Ya tetep aja mbak. Malam begini rawan baut perempuan yang pulang sendirian. Karena banyak hal bisa terjadi. Suaranya datar tapi jelas mengandung arti lain.

Aku menegakkan badan sambil menatap balik lewat spion. “Kalau saya takut, saya gak mungkin berani pulang begini kan?”

Dia hanya mengangguk pelan sambil terus mengemudi, seakan-akan masih menimbang ucapanku.

Untuk pertama kalinya, aku merasa bukan aku yang mengendalikan permainan, tapi justru ia. Sensasi itu membuat tubuhku panas dingin. Aku tahu aku seharusnya berhenti, bersikap normal saja. Tapi justru aku semakin ingin tahu: sejauh apa sopir ini berani melangkah.

Aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda malam itu. Biasanya aku yang bermain dengan tatapan dan gerakan kecil, tapi kali ini sopir itu tidak goyah. Justru aku yang merasa diperhatikan, seperti sedang berada di bawah kaca pembesar.

Ia tidak banyak bicara. Hanya sesekali mengajukan pertanyaan ringan: pekerjaanku apa, rumahku di mana, apakah sering pulang larut. Nada suaranya tenang, tapi tatapannya lewat spion membuatku sulit bernapas. Ada sesuatu yang mengunciseolah ia bisa membaca isi kepalaku, seolah ia tahu aku sedang bermain-main dengannya.

Aku sengaja mencondongkan tubuh lagi, pura-pura mencari sesuatu di tas. Tapi kali ini aku tidak mendapatkan tatapan curi-curi seperti biasanya. Ia menatapku terus dari spion, terang-terangan. Bukan tatapan kikuk atau penuh ragu, melainkan tatapan pria yang sadar betul apa yang sedang kulakukan.

"Pasti capek banget ya mbak kalau abis kerja seharian. Tanyanya tiba-tiba dengan suaranya yang rendah.

Aku terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. “Lumayan capek sih. Tapi mau gimana lagi pak.. namanya juga orang kerja.

"Iya soalnya kelihatan banget… dari cara duduk mbak. Ya udah santai aja. Anggap mobil ini bukan taksi tapi mobil sendiri biar mbaknya lebih nyaman.

Kalimat itu sederhana, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu di baliknya. Ia memberi izin tanpa benar-benar mengatakannya. Dan dalam diam, aku sadar permainan kecilku sudah berubah bentuk. Aku yang biasanya merasa memegang kendali, kini malah seperti sedang diulik pelan-pelan.

Aku melirik ke jendela, melihat pantulan wajahku sendiri di kaca. Pipi sedikit memerah, napas agak cepat. Sensasi itu campur aduk: antara cemas, tertantang, dan… entah kenapa, semakin bergairah.

Sepanjang jalan, tidak ada gerakan yang berlebihan. Hanya tatapan lewat spion, suara rendah, dan jeda hening yang membuat udara di dalam mobil jadi begitu tebal. Setiap kali ia menginjak rem, tubuhku ikut terdorong, dan aku merasa jarak di antara kami semakin sempit meski secara fisik tetap jauh.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar bertanya-tanya: siapa yang sedang menggoda siapa?

Suasana di dalam mobil makin lama terasa kental. Hening, hanya ada suara mesin dan musik pelan dari radio. Aku mencoba memalingkan wajah ke luar jendela, tapi tetap bisa merasakan tatapannya lewat spion. Beberapa menit kemudian, ia memperlambat laju mobil di jalan yang agak sepi. Tangannya mengetuk setir pelan, seperti sedang berpikir. Lalu ia bicara dengan nada santai, tapi menusuk,

“Emangnya mbak sering ya pulang malam sendirian kayak gini ? Emangnya gak ada perasaan takut gitu ?

Aku tersenyum kecil, mencoba terdengar ringan. “Biasa aja sih. Mungkin karena udah biasa makanya jadi gak takut lagi.

Ia tertawa pelan, pendek. “Kalau sopirnya baik sih aman… tapi kalau sopirnya iseng?”
Kata-kata itu membuatku refleks menoleh ke arahnya. Matanya tetap ke depan, tapi sudut bibirnya naik tipis, jelas ia sedang menantiku bereaksi.

Tubuhku merespons lebih dulu sebelum pikiranku sempat menyusul—ada sensasi panas dingin menjalari kulitku. Aku mencoba menahan diri dengan kembali menatap ponsel, tapi jemariku gemetar halus.


Kemudian, tiba-tiba ia menurunkan volume musik, membuat hening terasa lebih pekat. “saya suka liat cara duduknya mbak. Keliatan menggoda dan bikin penasaran. Ia mengucapkannya datar, seolah hanya fakta. Tapi aku tahu, itulah sinyalnya.

Aku terdiam. Jantungku berdetak kencang, tapi bibirku perlahan melengkung membentuk senyum samar. Rasanya seperti garis tipis yang akhirnya disentuh: ia sudah menangkap mainanku, dan sekarang, ia sengaja mengembalikan bola ke tanganku.

Aku meluruskan dudukku sebentar, lalu dengan sengaja kembali menyilangkan kaki lebih pelan dari biasanya. Gerakan kecil itu kubuat seperti jawaban tak terucap. Dan aku bisa melihat dari kaca spion—ia tidak berpaling. Matanya menahan, menatapku penuh arti.

Untuk pertama kalinya, ada sopir yang benar-benar berani menunjukkan bahwa ia paham, bahwa ia siap masuk ke dalam permainanku.

Tatapan itu masih mengunci lewat spion. Rasanya seperti benang tak terlihat yang menarikku semakin dekat. Aku pura-pura sibuk menatap layar ponsel tapi aku tahu jelas kalau dialah yang memimpin suasana saat ini.

"Ada yang salah mbak ? Suaranya pelan seolah hanya basa-basi.
Aku menoleh sambil tersenyum tipis. “Nggak ada apa apa kok pak. Emangnya kenapa ?

Ia menghela napas pendek. “Soalnya… sejak tadi saya ngerasa kayak lagi dipancing pancing gitu sama mbak. Kalimat itu membuat dadaku menghangat. Aku bisa memilih menyangkal tapi bagian diriku yang lain justru tertantang.

Aku miringkan kepala sedikit agar bisa menatapnya melalui spion. Ahhh masa sih pak.. emang bapak merasa kepancing ya sama aku. Nada suaraku kuatur ringan tapi jelas penuh maksud.

Sekilas aku lihat rahangnya mengeras, seperti menahan sesuatu. Mobil melaju lebih pelan dari sebelumnya. “Berani juga, ya,” gumamnya, setengah tertawa. “Nggak takut sopirnya salah paham?”

Aku menggigit bibir, lalu menjawab lirih, “Kalau memang salah paham… mungkin justru itu yang saya tunggu.”

Kalimat itu menggantung di udara, membuat ruang kabin seakan menyempit. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri, jantungku memukul keras. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengucapkan apa yang biasanya hanya kupendam sebagai fantasi.

Ia tidak langsung membalas, hanya menatapku lekat lewat spion. Ada jeda panjang yang membuatku semakin gelisah sekaligus bergairah. Lalu, dengan suara lebih rendah dari sebelumnya, ia berkata:
“Kalau begitu… jangan nyalahin saya loh kalau nanti saya jadi nekat.

Mobil masih melaju, tapi sekarang setiap detik terasa seperti menghitung mundur sesuatu yang akan segera terjadi. Udara di dalam mobil terasa semakin berat. Kata-kata terakhirnya masih menggema di kepalaku: "Kalau begitu… jangan nyalahin saya loh kalau nanti saya jadi nekat. Aku duduk diam, pura-pura menatap ponsel, padahal tanganku sedikit bergetar.

Beberapa menit kemudian, mobil melambat. Aku mengangkat kepala, melihat jalanan yang mulai sepi, hanya ada lampu jalan berderet dan bayangan pepohonan. Tanpa berkata apa-apa, ia menyalakan lampu sein dan menepikan mobil ke pinggir jalan.

Jantungku melonjak. “Kenapa berhenti disini pak ? Tanyaku sambil berusaha terdengar tenang.

Ia mematikan mesin sebentar, lalu menoleh setengah badan ke arahku. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajahnya jelas, tatapannya gelap tapi tidak liar—lebih seperti seseorang yang ingin memastikan aku benar-benar sadar dengan permainan yang sedang kubuka.

“Dari tadi Mbak bikin saya nggak tenang nyetir,” katanya pelan. “Kalau terus kayak gini… takutnya mobil kita yang celaka.” Ia tersenyum samar, lalu tangannya terulur ke sandaran kursi penumpang belakang, nyaris menyentuh bahuku.

Aku membeku sejenak, tubuhku panas dingin. Itu bukan sentuhan langsung, hanya gerakan kecil, tapi cukup membuatku kehilangan napas. Ada jarak tipis antara kami, dan aku tahu aku bisa saja mundur, menarik diri. Tapi aku tidak melakukannya.

Sebagai gantinya, aku mencondongkan tubuh sedikit, hanya beberapa sentimeter lebih dekat, lalu menatapnya balik. Aku tak perlu bicara apa-apa—gerakan kecil itu saja sudah cukup jadi jawaban.

Matanya menajam, seolah menangkap sinyal itu dengan jelas. Tangannya akhirnya bergerak lebih dekat, menyentuh ringan ujung lengan bajuku. Hanya sekejap, tapi sentuhan singkat itu terasa seperti listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku menahan senyum, menunduk sebentar untuk menyamarkan rona merah di wajahku. Dalam hati aku tahu: ini baru permulaan.

Sentuhan ringannya tadi masih membekas di kulitku, seakan menyalakan sesuatu yang lama kupendam. Aku duduk membeku beberapa detik, jantungku berdegup begitu keras sampai rasanya bisa terdengar di kabin mobil yang sunyi.

Ia menarik tangannya perlahan, seolah memberi waktu bagiku untuk menolak. Tapi aku tidak bergerak mundur. Justru aku menegakkan tubuh, lalu menyilangkan kaki lagi dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya, membiarkannya melihat. Itu jawaban paling jelas yang bisa kuberikan.

Matanya menyipit sedikit, lalu ia tersenyum tipis. Kali ini tangannya kembali bergerak—lebih berani. Ia meraih sandaran kursi belakang, jari-jarinya menyentuh lenganku, kemudian turun perlahan ke pergelangan tangan. Gerakannya tenang, penuh kontrol, seolah ia tahu aku tidak akan menyingkir.

Aku menelan ludah, suara napasku lebih berat. Dalam hati, ada suara kecil berteriak bahwa ini terlalu jauh. Tapi bagian lain dari diriku… justru haus akan momen ini.

“Mbak…” suaranya rendah, nyaris berbisik. “Dari tadi saya tahan. Tapi kalau Mbak duduknya kayak gitu… saya bisa salah paham beneran.”

Aku menoleh padanya, menatap lurus ke matanya. Bibirku sedikit terbuka, tapi yang keluar hanya bisikan pendek, “Mungkin memang itu maksud saya.”

Jawaban itu seperti melepaskan kunci. Tangannya bergeser lebih berani, dari pergelangan ke telapak, menggenggam jemariku sebentar sebelum melepas. Gerakan sederhana, tapi jelas sekali: ia tidak lagi menunggu izin, ia sedang mencobanya langsung.

Udara di kabin makin panas. Aku bisa merasakan pipiku berdenyut, napasku tak beraturan. Di dalam ruang kecil itu, aku sadar satu hal: aku bukan lagi sekadar penggoda. Malam ini, aku juga sedang digoda balik—dan aku sama sekali tidak berniat menghentikannya.

Tangannya yang tadi hanya menggenggam jemariku kini bergerak lebih berani. Ia memutar tubuhnya sedikit, lalu meraih lengan atasku. Sentuhan itu mantap, tidak lagi sekadar coba-coba. Aku bisa merasakan kekuatan pada genggamannya, membuatku menelan napas dalam-dalam.

“Jujur aja mbak. katanya rendah. Matanya menatapku lekat lewat spion. “Dari tadi sengaja kan ?

Aku tersenyum samar tidak menyangkal. Justru aku menyilangkan kaki sekali lagi, kali ini tanpa menutupinya sama sekali. Gerakan itu membuat rokku tersingkap lebih tinggi. Kulihat matanya bergerak cepat bukan hanya lewat spion tapi kini ia berani menoleh langsung.

Tangannya meninggalkan lenganku, lalu meraih ke samping—menyentuh lututku yang terbuka. Sentuhan itu membuatku tersentak kecil, tapi aku tidak menggeser tubuhku. Justru aku biarkan jari-jarinya bertahan, lalu perlahan naik beberapa sentimeter.

Udara di mobil serasa habis. Napasku cepat, kepalaku sedikit pening, entah karena tegang atau karena terlalu menikmati. Aku sadar sepenuhnya: aku bisa menghentikan ini dengan satu kata. Tapi aku tidak ingin.

Aku menoleh ke arahnya, menatap wajahnya yang kini lebih dekat. “Kalau kamu udah sadar dari awal…” bisikku pelan, “…kenapa baru sekarang berani?”

Ia tersenyum tipis, jari-jarinya bergerak lagi—lebih tinggi, lebih panas. “Saya pengen tahu… sampai mana Mbak mau.”

Degup jantungku menghantam keras. Kata-kata itu, ditambah sentuhannya, membuatku merasa terjebak dalam pusaran antara takut dan nikmat. Dan anehnya, aku tidak ingin keluar.

Untuk pertama kalinya sejak aku mulai permainan ini, kendali bukan lagi sepenuhnya di tanganku. Dan justru itu yang membuatku semakin terbakar.

Tangannya masih bertahan di pahaku, hangat dan mantap. Aku menggigit bibir, mencoba menahan napas yang mulai tak teratur. Mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi, hanya lampu jalan yang redup menemani. Ruang kecil ini kini terasa seperti dunia yang terputus dari luar.

Ia menoleh lebih jauh, tubuhnya bergerak ke belakang, mendekatiku. Sandaran kursinya berderit pelan ketika ia sedikit memutar posisi. Jarak kami menyempit drastis—aku bisa mencium aroma parfumnya, bisa merasakan hembusan napasnya yang panas di kulitku.

“Mbak tahu kan,” suaranya berat, bergetar halus, “begitu saya mulai… nggak gampang berhenti.”

Aku menatapnya, mata kami bertemu. Alih-alih mundur, aku justru merapatkan tubuhku ke arahnya. Gerakan kecil itu membuat bahu kami bersinggungan, lalu lengannya menempel di samping tubuhku. Sensasi panas menjalar, membuat bulu kudukku meremang.

Jari-jarinya naik lebih tinggi, berhenti sesaat, lalu menekan lembut seakan menguji reaksiku. Aku terhela napas pendek, hampir seperti keluhan kecil. Ia menangkapnya, lalu bergerak lebih berani. Kini tubuhku condong ke arahnya, dadaku hampir menempel di lengannya.

Udara di dalam mobil kian tipis. Aku bisa merasakan denyut jantungku menabrak keras, bercampur dengan ritme napasnya. Saat akhirnya wajahnya mendekat, jarak kami hanya tinggal sejengkal, aku sadar satu hal: aku benar-benar telah melewati garis yang selama ini hanya kubayangkan dalam fantasi.

Dan yang lebih mengguncangku—aku tidak ingin berhenti.

Wajahnya semakin dekat, hingga aku bisa merasakan panas napasnya di pipiku. Ada jeda sesaat—seperti sebuah pertanyaan tanpa kata—dan aku menjawabnya hanya dengan membiarkan tubuhku tetap di tempat, bahkan sedikit condong maju.

Detik berikutnya, jarak itu hilang. Sentuhan pertama terasa menghentak, membuatku terdiam kaku beberapa detik sebelum akhirnya aku melebur ke dalamnya. Rasanya seperti pintu yang selama ini kutahan rapat akhirnya didobrak dari dua sisi sekaligus: hasratku yang menuntut, dan keberaniannya yang tak lagi ditutupi.

Tangannya kini tak hanya berhenti di pahaku. Ia bergerak lebih jauh, menarikku mendekat hingga tubuhku menempel erat pada dirinya. Sandaran kursi berderit pelan, ruang sempit itu dipenuhi oleh gesekan kulit, kain, dan desah napas yang bercampur.

Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungku, tapi justru semakin liar. Sensasi bersinggungan begitu nyata karena dadaku yang tertekan di lengannya, pinggulku yang tak sengaja terdorong ke arahnya setiap kali mobil sedikit bergoyang oleh kendaraan lain yang lewat.

Ia berbisik di telingaku, suaranya rendah, penuh sengatan:
“Jadi ini yang Mbak cari selama ini?”

Aku tersenyum samar, meski napasku hampir putus. “Mungkin… atau lebih dari itu.”

Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke api. Ia menarik tubuhku lebih rapat, dan aku tidak lagi sekadar jadi pemain yang menggoda dari jauh. Malam itu, di kursi belakang sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan sepi, aku benar-benar menjadi bagian dari permainan yang selama ini hanya kubayangkan.


Dan rasanya jauh lebih berbahaya… sekaligus jauh lebih nikmat daripada fantasi manapun yang pernah kumiliki. Mobil bergoyang ringan ketika ia meraih tubuhku lebih dalam ke arahnya. Ruang sempit di kursi belakang membuat gerakan kami terbatas, tapi justru itu yang membuatnya terasa semakin intens. Setiap gesekan terasa berlipat ganda, setiap hembusan napas seperti bara api yang disulut tepat di kulitku.

Aku menekan tubuhku ke dadanya, merasakan bagaimana genggamannya semakin kuat. Sandaran kursi berderit keras setiap kali aku bergeser, seolah menjadi saksi bisu atas apa yang kami lakukan. Di luar sana, jalan sepi dengan lampu jalan redup, tapi di dalam kabin ini dunia terasa mendidih.

Napas kami beradu, tak lagi teratur. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku larut. Tak ada lagi permainan jarak atau tatapan spion—kini semuanya nyata, terang, dan tak terbantahkan.

Tangan kasarnya menjelajah lebih berani, menuntunku untuk merapat hingga hampir tak ada ruang tersisa di antara kami. Aku menggigit bibir, menahan suara yang ingin lolos, tapi justru itu membuat tubuhku semakin menegang. Rasanya seperti aku benar-benar kehilangan kendali, tapi anehnya, di situlah letak kenikmatannya.

Aku tahu betul apa yang sedang terjadi: fantasi lamaku akhirnya terwujud. Di dalam mobil asing, dengan pria yang bahkan tak kukenal namanya. Semua risiko—bahaya ketahuan, rasa malu, atau penyesalan—membaur jadi satu dengan gelombang sensasi yang terus meninggi.

Di telingaku, ia kembali berbisik, suaranya rendah dan bergetar:
“Saya nggak akan lupa malam ini… Mbak juga nggak, kan?”

Aku hanya bisa tersenyum samar, napasku terengah, tubuhku masih melekat padanya. “Percaya deh…” bisikku. “…malam ini akan terus kuingat.”

Tubuhku masih menempel erat padanya, napasku terputus-putus. Mobil berhenti di pinggir jalan, lampu kota redup memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan samar yang membuat ruang kabin terasa semakin tertutup. Seolah dunia di luar telah lenyap, hanya menyisakan aku, dia, dan permainan berbahaya yang baru saja benar-benar dimulai.

Tangannya bergerak lebih berani. Dari pahaku, ia menelusuri jalur yang membuatku menggigil, lalu menahan jemariku dengan genggaman mantap. Ia tak hanya menyentuh, tapi seakan menuntun arahku, membuat tubuhku mengikutinya. Sandaran kursi berderit lagi saat aku terhimpit lebih rapat, dadaku mendesak ke bahunya, dan aku merasakan betul getaran yang muncul di antara kami.

Aku mencoba membuka mulut untuk berkata sesuatu, tapi yang keluar hanya desah napas. Ia menoleh, wajahnya begitu dekat, matanya menelanku bulat-bulat. Tidak ada lagi pura-pura, tidak ada lagi tatapan curi-curi. Semuanya jelas, gamblang, seakan kami berdua sama-sama menyerahkan kendali pada arus yang mengalir begitu deras.

“Dari tadi kamu bikin saya penasaran. bisiknya di telingaku, suara rendahnya bergetar di kulitku. “Sekarang… kamu tanggung sendiri akibatnya.

Aku menelan ludah, jantungku berdentum kencang. Aku tahu aku sedang berada di batas tipis—antara rasionalitas yang menyuruhku mundur dan dorongan liar yang justru mendorongku makin dekat. Bibirku gemetar saat kujawab pelan, hampir tak terdengar. Lakukan saja apa yang kau mau..

Seolah itu adalah isyarat terakhir, ia menarikku lebih rapat hingga tak ada lagi ruang di antara kami. Tubuh kami kini benar-benar bersatu, setiap inci terasa saling menempel, panas tubuhnya mengalir ke kulitku. Napas kami berbaur, membakar udara di dalam mobil yang sudah sumpek.

Aku merasakan bagaimana ruang sempit ini menjadi panggung untuk sebuah rahasia yang takkan diketahui siapa pun. Setiap gerakan kecil, setiap gesekan kain, setiap sentuhan jemarinya yang semakin tak terkendali, membuatku terhanyut. Aku tak lagi memikirkan apa pun—tidak kantor, tidak teman-teman, bahkan tidak reputasiku. Yang ada hanya detik ini, momen yang terasa seperti ledakan hasrat setelah sekian lama terpendam.

Di balik kaca jendela, lampu jalan terus berganti, mobil lain lewat tanpa tahu ada permainan berbahaya yang sedang terjadi di sini. Aku menutup mata, membiarkan diriku terseret arus. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyadari satu hal: fantasi yang selama ini hanya kubangun dalam bayangan kecil… kini sudah menjelma jadi nyata.

Dan aku sama sekali tidak ingin menghentikannya.

Mobil itu terasa semakin sempit dan semakin panuh kehangatan. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, berpacu dengan ritme napasnya yang berat di telingaku. Jemarinya kini bergerak tanpa ragu, menuntunku masuk lebih dalam pada situasi yang tak mungkin lagi ditarik mundur. Tubuhku, yang semula hanya berniat menggoda, kini sudah terbawa arus yang jauh lebih deras.

Aku setengah duduk, setengah rebah di kursi belakang. Ia merunduk, memburu bibirku dengan buas yang selama ini hanya kutebar sebagai percikan. Sekarang percikan itu berubah jadi api yang membakar habis sisa kewarasan. Ciumannya keras dan dalam membuatku kehilangan kendali. Aku meremas bajunya, seakan ingin memastikan ia benar-benar ada di sini bersamaku, nyata dan bukan sekadar fantasi.

Ruang kabin mobil bergetar oleh gerakan kami. Bangku berguncang hebat, seatbelt bergoyang, dan kaca jendela berembun oleh panas napas yang beradu. Setiap sentuhan, setiap desakan tubuh, membuatku semakin jauh tenggelam. Aku bisa merasakan bagaimana dirinya menekan begitu erat sambil menghujam kuat kuat batang penisnya. Tubuhnya dan tubuhku kini tak hanya bersinggungan tapi sudah menyatu dalam ritme yang tak lagi bisa ditahan.

Aku menggigit bibir, mencoba menahan suara yang keluar, tapi semakin kutahan, semakin keras ia menghujam penisnya. Batang itu terasa menusuk sangat dalam membuatku menggeliat tak berdaya. Getaran dari tubuhnya menular, membuatku gemetar dari ujung kaki hingga tengkuk. Sesekali aku melirik kaca depan—takut ada orang lewat, takut ada yang curiga namun justru rasa takut itu membuat semuanya terasa lebih liar, lebih intens, lebih hidup.

Di satu titik, aku benar-benar melupakan dunia luar. Rasanya hanya ada kami berdua, terkunci dalam sebuah rahasia yang takkan pernah bisa dibocorkan. Aku tak lagi peduli apakah mobil ini bergoyang terlalu mencolok, atau apakah ada bayangan orang yang lewat. Aku hanya tahu aku tak ingin berhenti.

Dan saat akhirnya tubuhku mencapai titik yang selama ini hanya kubayangkan dalam diam, aku tak bisa lagi menahan suara. Sebuah desah pecah dari bibirku, panjang, dalam, mengguncang seluruh ruang kabin. Ia menahanku lebih rapat, seakan tak rela melepaskan, dan aku membiarkan semuanya tumpah—tanpa kendali, tanpa malu.

Mobil itu jadi saksi. Malam itu jadi rahasia. Dan aku tahu, setelah ini, tak ada jalan kembali. Aku sudah menemukan sesuatu yang akan selalu kucari lagi… dan lagi. Sunyi perlahan menyusup ke dalam kabin setelah badai itu reda. Napas kami masih tersengal, berat, seperti baru saja berlari jauh tanpa henti. Kaca jendela dipenuhi embun, dan kursi belakang masih bergetar tipis dari sisa gerakan kami barusan.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, tubuhku masih panas, kulitku basah oleh keringat yang bercampur dengan napasnya. Sesekali ia membelai punggungku dengan gerakan pelan, jauh berbeda dari tadi. Aku bisa mendengar jantungnya berdetak kencang di dada, hampir seirama dengan milikku.

“Vanessa…” suaranya rendah, masih parau, seolah baru diperas habis.
“Hmm?” sahutku lirih, bibirku masih terbuka untuk menghirup udara.

Ia tertawa pendek, setengah tak percaya. “Saya kira tadi cuma main-main… godaan doang. Ternyata…,” napasnya keluar panjang, “ternyata Mbak beneran…”

Aku tersenyum samar, menyembunyikan wajahku di lekukan bahunya. “Aku juga nggak nyangka. Biasanya cuma sampai sebatas bikin orang penasaran.”

Ia menoleh, menatapku dengan mata yang masih menyala. “Dan sekarang?”

Aku balas menatapnya, mencoba menahan senyum nakal yang hampir pecah. “Sekarang… mungkin aku jadi ketagihan.”

Suasana jadi hening kembali, tapi kali ini rasanya berbeda karena ada sesuatu yang seakan menggantung di udara. Mobil itu seolah menjadi saksi, sementara di luar sana kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Namun di dalam ruang sempit ini kami baru saja menyimpan sebuah rahasia bersama. Aku menarik napas panjang sambil merapikan rambutku yang sedikit kusut lalu menegakkan duduk.

“Kita harus pergi sebelum ada yang curiga. kataku mencoba terdengar tenang padahal tubuhku masih bergetar.

Dia hanya mengangguk dan tangannya sempat menyentuh pahaku sebentar sebelum kembali memegang setir. Mesin mobil dinyalakan dan suara derumnya membuat semua yang baru saja terjadi terasa benar-benar nyata.

Tapi saat mobil perlahan melaju, ia menoleh sekilas padaku. “Vanessa… kalau kamu mau… kita bisa ketemu lagi. Nggak cuma malam ini.

Aku tersenyum tipis, menatap jalanan malam yang berkelip di luar jendela. “Mungkin,” jawabku pelan, sengaja dibiarkan samar. Karena bagian dari kesenangan ini, bagiku, justru ada pada permainan: memberi sinyal, menunda, dan membiarkan rasa penasaran tumbuh semakin liar. Dan aku tahu, ini baru permulaan dari petualangan yang lebih panjang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Amarah Para Buruh 2

Jebakan Minimarket 3

Draft Amarah Para Buruh 23

Amarah Para Buruh 13

Amarah Para Buruh 20

Amarah Para Buruh 17

Amarah Para Buruh 14

Amarah para buruh 22