Beberapa menit kemudian aku berdiri di depan cermin lebih lama dari seharusnya. Rok yang kupakai sangat tipis dan jatuhnya pas di tubuh sehingga tidak memberi ruang untuk menyamarkan bekas itu. Aku sadar ketika nanti berjalan di bawah cahaya lampu pameran, noda itu akan terlihat jelas. Bukan hanya noda tetapi juga bentuk samar dari sesuatu yang masih menempel di balik kain tipis itu.
“Kamu udah sampe di pameran kan. Om mau kamu jalan seperti biasa aja dan jangan nutupin apa apa.
Saat aku memasuki area pameran beberapa orang yang duduk di kursi pengunjung langsung melirik. Ada tatapan yang bergerak dari bawah lalu naik perlahan hingga ke wajahku. Aku berusaha tetap tenang dan berpura-pura tidak peduli meskipun pipiku mulai terasa panas. Di kejauhan aku melihat Pak Jarwo berdiri di dekat rak brosur. Wajahnya datar dan tidak menunjukkan senyum, hanya sebuah anggukan tipis seolah ia ingin memastikan bahwa aku melakukan persis seperti yang ia inginkan.
Aku masih berdiri di dekat rak display dengan senyum profesional yang terpaksa kupasang sementara kakiku mulai pegal. Lampu pameran yang begitu terang menusuk mata dan musik promosi yang terus berulang membuat kepalaku sedikit pening. Dari arah keramaian aku kembali melihat sosok yang sudah terlalu akrab. Pak Jarwo berjalan santai mendekat dengan tas kecil tersampir di bahu. Langkahnya tenang dan matanya sesekali berpindah ke barang-barang di stand, seakan ia benar-benar pengunjung yang sedang melihat-lihat. Namun aku tahu tujuannya bukan sekadar itu.
“Produk baru ya mbak ? tanyanya ramah tapi tatapan matanya punya maksud lain.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya Om. Kameranya lebih tajam dan fiturnya juga lengkap banget.
Ia menunduk sedikit lalu berbisik cepat nyaris tak terdengar oleh orang lain.
"Om mau kamu kasih lihat semua foto seksimu. Bilang aja itu contoh hasil jepretan kamera yang kamu jual ini.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi mendekat ke booth, wajahnya penuh rasa penasaran. Aku langsung mengalihkan pandangan dari Pak Jarwo dan menyambutnya dengan senyum profesional.
“Selamat sore pak. Ini type yang paling baru. Kameranya juga sudah dilengkapi sensor buat kondisi yang minim cahaya. Bapak mau lihat hasil jepretan kameranya ? Tanyaku sambil meraih ponsel demo dari meja.
Dia mengangguk lalu aku mulai membuka galeri foto. Degup jantungku langsung terasa lebih kencang karena urutan fotonya memang sudah kusetel seperti permintaan Pak Jarwo. Diawali beberapa foto pemandangan dan produk lalu perlahan bergeser ke gambar-gambar yang lebih pribadi.
Pria itu awalnya mengangguk-angguk sambil memuji ketajaman kamera. Tapi saat jarinya menggeser ke foto berikutnya, matanya melebar sedikit. Di layar, terlihat hasil jepretan kamera ketika aku berpose di kamar mandi hanya dengan handuk merah muda yang dililitkan di tubuhku. Rambutku diikat ke atas, beberapa helai basah menempel di leher dan pipi, membuat penampilanku terlihat semakin seksi. Bibir pria itu terangkat membentuk senyum yang sulit disembunyikan.
Pria itu kembali menggeser layar ponselnya dan muncul foto diriku yang sedang berbaring di atas ranjang. Gaun tidurku tersingkap ke atas sehingga pahaku terlihat jelas. Ekspresi wajahku tampak menggoda seolah aku sengaja mengundang siapa pun yang melihatnya. Ia terkekeh pelan lalu berkata dengan nada puas. "Waduh kalau hasil fotonya begini siapa yang nggak mau beli.
Aku terus berbicara dengan suara tenang sambil menjelaskan fitur kamera dan aku tahu matanya hanya tertuju pada layar bukan padaku. Dari sudut pandangku Pak Jarwo berdiri agak jauh sambil mengawasi dengan ekspresi puas karena aku menuruti permintaannya. Ketika suasana mulai sepi dan pengunjung lain berangsur pergi maka Pak Jarwo berjalan mendekat. Ia berdiri di samping meja pameran sambil pura pura melihat brosur lalu menoleh ke arahku.
“Sini.. Om kasih sesuatu. Ucapnya pelan.
Tangannya merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah stiker berwarna merah terang dengan tulisan besar “Sentuh Gratis Jika Membeli”. Bibirnya tersenyum miring, sementara matanya menatapku seperti menunggu reaksiku. Aku menelan ludah, jantungku langsung berdetak lebih cepat.
"Ayo tempel di sini,” ucapnya pelan sambil menunjuk tepat di bagian dadaku.
Refleks aku mundur setengah langkah. “Om… ini kelihatan banget…”
“Memang itu tujuannya Cel. Jawabnya ringan seakan ini hal biasa. “Biar mereka tertarik.”
Aku ambil stiker kecil yang tadi dikasih Pak Jarwo. Warnanya merah mencolok, tulisannya besar-besar: "Sentuh Gratis Jika Membeli".
Tanganku sedikit ragu waktu mulai menempelkannya di bagian dada seragam SPG-ku. Kain tipis itu langsung ikut menempel, dan tulisan di stiker makin kelihatan jelas karena letaknya pas di atas belahan. Rasanya agak panas dilihatin orang-orang yang kebetulan lewat.
Begitu aku berdiri lagi di depan booth, beberapa pasang mata langsung melirik ke arah dada. Dan seperti yang sudah kuduga, nggak lama kemudian lima orang pengunjung mulai mendekat, senyumnya penuh rasa penasaran.
Salah satu dari mereka nunjuk stiker sambil nyengir.
“Mbak, ini maksudnya sentuh gratis apanya?”
“Maksudnya saya. mas kalau beli nanti boleh pegang saya” kataku sambil senyum tipis
“Beneran kalau beli boleh pegang mbaknya” mereka saling pandang
“Iya tapi jangan bilang siapa siapa cuma untuk 5 pembeli pertama. Kataku pelan
Temannya ikut tanya. “Pegang di mananya, Mbak?”
Aku senyum kecil. “Terserah Mas mau pegang di mana dan yang penting waktunya cuma dikasih dua menit.
Salah satu dari mereka nyengir “Kalau pegang toked boleh gak”
Aku tarik napas sebentar lalu angguk pelan “Iya boleh tapi pegangnya dari luar baju aja ya.
Yang satu lagi ikut nimbrung “Gue juga mau beli, tapi nanti gue minta bonus pegang paha lu ya”
Aku nyengir tipis “Ya boleh… tapi jangan kaget kalau nanti malah keenakan.
Mereka ketawa. Satu orang nanya lagi, “Itu buat produk yang mana?”
Aku tunjuk etalase. “Beli smartphone yang tipe XX69 cuma 700 ribu. Udah dapat bonus sesuai stiker.
Orang itu langsung ambil dompet. “Ya udah, saya beli.
Aku kasih nota. “Bonusnya diambil nanti, setelah pameran selesai. Jam 11 malam nanti aku tunggu di ruangan kosong belakang booth.
Hall pameran mulai lengang. Musik latar terdengar pelan dan sebagian lampu sudah diredupkan sehingga sudut-sudut ruangan tampak lebih gelap. Booth lain banyak yang sudah tutup, kursi kosong berderet, dan sisa sampah brosur berserakan di lantai. Namun di sekitarku masih ada lima orang yang sejak tadi tidak beranjak. Mereka adalah pembeli smartphone yang sudah kuberi janji.
Aku berpura-pura sibuk merapikan display. Tanganku mengatur kembali brosur, memindahkan unit demo, dan merapikan kabel-kabel di meja meskipun semuanya sebenarnya sudah rapi. Ponselku tiba-tiba bergetar di saku rok. Aku menarik napas pelan sebelum melihat layarnya. Ada pesan dari Pak Jarwo.
"Rekam semuanya. Kirim ke om nanti. Anggap saja bukti kalau mereka sudah mendapat jatahnya. Pastikan semua terekam dengan jelas.
Aku menelan ludah dan kepalaku sedikit menunduk. Setelah itu mataku melirik ke arah lima orang yang menunggu. Dua di antaranya sudah duduk di kursi pengunjung sambil menyandarkan tubuh ke meja. Wajah mereka tampak santai dengan senyum tipis seperti menahan sesuatu. Tiga lainnya berdiri agak berjauhan, tangan mereka terlipat atau menyelip di saku celana, tatapan mereka tidak lepas dari arahku. Aku bisa merasakan bagaimana mereka sedang menunggu giliran masing-masing.
Salah satu dari mereka nyeletuk, “Oh… gitu ya? Ya udah, aman berarti.”
Yang lain malah ketawa kecil sambil ngelirik ke temannya, “Yang penting bonusnya dapet.”
Aku nyalain kamera, sengaja pegang agak rendah biar angle-nya cuma nangkep bagian yang diinginkan. “Oke, siapa duluan?” tanyaku sambil pura-pura tenang.
Cowok berbadan jangkung maju duluan. Tangannya ragu sebentar, lalu mulai bergerak. Teman-temannya di belakang langsung nyengir lebar, tapi tetap diam karena sadar mereka bakal dapet giliran juga.
Dia agak kaget, “Buat apaan?”
Aku senyum tipis, nada suaraku dibuat santai. “Buat kenang-kenangan aja. Nanti videonya gue bagi ke kalian semua. Jadi nggak cuma diinget di kepala.”
Cowok gondrong di belakang langsung nyeletuk sambil ketawa, “Wih, mantap. Jadi bisa diputer ulang, ya?”
Aku cuma ngangguk sambil pura-pura merapikan rambut, “Asal janji nggak nyebar kemana-mana. Ini bener-bener buat pribadi.”
Si kurus mulai merekam, posisinya agak miring biar yang terekam cuma badan dari bahu ke bawah. “Oke, udah siap nih,” katanya pelan.
Pemuda pertama berdiri tepat di depanku. Jaraknya begitu dekat sampai aku bisa mendengar napasnya yang sedikit berat. Dia menatap dari ujung kaki sampai ke atas, matanya seperti sedang merekam setiap lekuk yang terbungkus seragam putih ketatku.
Aku refleks menunduk sedikit, pura-pura sibuk membetulkan ujung rok, tapi sebenarnya untuk menghindari tatapan matanya yang terlalu langsung. Meski begitu, aku masih bisa merasakan pandangannya menyapu turun-naik, seperti ingin memastikan semuanya nyata.
Pelan-pelan, pemuda itu mendekat. Matanya tak lepas dari wajahku, menatap dengan intens seolah ingin menyimpan setiap lekuknya. Nafasnya mulai berubah, dia menghirup aroma tubuhku dengan dalam, terhanyut oleh harum yang tak bisa ia tahan. Perlahan dia mengendus leherku, kemudian pundak, lalu rambutku yang terurai, membuatnya seolah lupa diri.
Setelah itu, dia berputar mengelilingi tubuhku, matanya terus menelusuri setiap sudut, seakan mencoba menghafal semua yang ada di hadapannya.
Tangannya mulai bergerak, ragu di awal, tapi lalu menempel di pinggangku. Sentuhannya hangat dan agak gemetar, mungkin karena gugup. Dari pinggang, jemarinya naik pelan ke sisi perut, menelusuri garis lembut di balik kain tipis yang sudah pas menempel di kulitku.
Aku menarik napas pendek, mencoba tetap terlihat santai, sementara telapak tangannya kini berpindah ke punggung bagian bawah. Dorongan kecil dari tangannya membuat tubuhku sedikit condong mendekat, cukup untuk membuat jarak di antara kami hampir hilang.
Aku sempat melirik ke si kurus yang memegang ponsel. Dia sudah mengarahkannya tepat ke area pinggang dan perutku, memastikan frame tetap aman tanpa menangkap wajah siapa pun.
Pemuda itu menelan ludah, matanya masih terpaku padaku. Jemarinya bergerak lagi, kali ini menyapu perlahan ke sisi luar pinggul, menekan lembut, lalu kembali ke pinggang seperti tak mau kehilangan momen.
Di sudut booth, teman-temannya berusaha menahan tawa, tapi tatapan mereka jelas iri. Aku tahu, ini baru giliran pertama, dan detak jantungku sudah terasa kencang.
Tak terasa waktu berjalan cepat. Sentuhannya yang tadi ragu kini sudah lebih mantap, tapi aku tahu batasnya. Dari awal, aku memang sudah menyetel timer di ponsel, tersembunyi di balik tumpukan brosur di meja. Ponselku bergetar pelan di balik tumpukan brosur di meja. Itu merupakan tanda peringatan pertama. Tak lama kemudian alarm kecil berbunyi pelan, dan hanya aku yang bisa mendengarnya, menandakan waktu dua menit sudah habis.
Aku menarik napas, lalu menepuk pelan lengannya.
“Udah ya, gilirannya selesai,” bisikku sambil tersenyum tipis, seolah ini cuma permainan biasa.
Dia menatapku dengan wajah kecewa, matanya jelas belum puas. Bibirnya bergerak seperti ingin protes, tapi akhirnya hanya menghela napas panjang. Sambil melangkah mundur, tangannya masih sempat meremas pantatku sekali lagi, singkat, seperti enggan melepas.
Di sudut booth, teman-temannya langsung bereaksi. Ada yang menepuk bahunya, ada yang tertawa pelan sambil menggoda. Tapi dia hanya mengangguk pasrah, tahu bahwa aturannya memang begitu.
Aku menoleh ke si kurus yang masih pegang kamera, kasih kode kecil supaya dia tetap siap. Karena sebentar lagi giliran berikutnya bakal mulai.
Pemuda kedua datang dengan langkah yang lebih mantap dan wajah yang penuh hasrat. Tatapannya buas, berbeda jauh dari yang pertama, membuat bulu kudukku berdiri. Aku bisa merasakan getaran ngeri yang bercampur dengan adrenalin memenuhi tubuhku.
Dia langsung mendekat tanpa ragu, seperti ingin memangsa. Tangannya melingkar di pinggangku dengan kuat, menarikku lebih dekat. Bibirnya menekan bibirku tanpa kompromi, kasar tapi penuh nafsu. Aku terkejut ketika tangan kanannya merayapi rambutku, mengelus dengan lembut di sela-sela keinginan yang ganas, sementara tangan kirinya tak segan meremas buah dadaku, menggenggam erat sampai aku hampir tak bisa bernapas.
Aku meringis menahan sakit akibat remasan kuat tangan kekarnya tapi justru ekspresinya semakin beringas. Dengan gerakan penuh nafsu, tangannya mulai menyusup masuk ke dalam seragam SPG putihku, yang menyatu antara atasan dan bawahan, mencoba mencari celah untuk menjamah lebih jauh.
Aku menggeliat sementara dadaku naik-turun dengan cepat. "Aduhh.. Baaang… kok napsu banget sih… suaraku terputus-putus, terdengar manja tapi juga pasrah. Kaki dan pinggulku bergerak gelisah tapi tangannya terus menahanku, membuat aku hanya bisa merintih pelan di bawah tatapannya yang beringas.
"Uuukh… sialaan… gue remes nih tetek lu…desahnya berat sambil menarik napas kasar sementara jemarinya makin menekan seolah nggak mau lepas sedikit pun. Tubuhku terus bergetar antara rasa takut dan terhanyut. Aku tahu aku harus kuat, tapi desakan naluri membuatku sulit menolak dan sialanya semua ini ternyata belum berakhir.
Setelah pemuda itu mundur, tiga orang yang tadi belum kebagian jatah tiba-tiba maju hampir bersamaan. Gerak mereka cepat dan kompak, seolah sudah janjian. Dalam hitungan detik aku sudah berada di tengah lingkaran mereka.
Tubuhku nyaris menempel dengan mereka dari segala sisi. Nafas mereka terdengar berat dan panas di telingaku. Salah satu berdiri tepat di depan, yang lain di belakang, dan satu lagi di sisi kanan. Ruang gerakku nyaris nggak ada, aku hanya bisa memutar kepala mencoba mencari celah.
Tangan-tangan kasar itu mulai bergerak, menyentuh dan merayap setiap jengkal tubuhku dan membuatku sulit fokus. Aku bisa merasakan tatapan mereka yang intens, seperti takut waktu keburu habis.
Satu pria mendekapku dari belakang, napasnya hangat saat menciumi pundakku. Tangannya menyibak rambutku dan ujung bibirnya menyentuh leherku dengan lembut tapi penuh nafsu.
"Akkhh… udah.. lepasin aku.. suaraku terputus-putus dengan napas memburu. Aku mencoba menarik tangan yang mencengkeramku tapi genggaman itu malah semakin kuat.
"Dua menit mana cukup ? Badan semulus ini harus dinikmati lebih lama. Kata temannya.
Di depanku pria itu terus menarik wajahku makin dekat, bibirnya melumat bibirku dengan kasar dan rakus hingga nafasku tersengal. Dari samping tangan lain meremas dadaku dengan kuat tanpa memberi kesempatan untuk mengelak. Tubuhku terkunci rapat di antara genggaman mereka yang keras dan tak memberi ruang bergerak.
Sementara itu pria yang tadi sudah puas kini berdiri sedikit menjauh. Ia menggenggam ponsel dengan erat lalu mengangkatnya ke arahku. Matanya berkilat penuh nafsu sambil mengikuti setiap detail gerakan tubuhku. Cahaya layar ponselnya menyorot wajahku yang terperangkap di tengah himpitan. Suasana jadi lebih menekan ketika aku sadar setiap ekspresi, setiap tarikan napas, semua terekam jelas untuk mereka simpan dan nikmati.
Hasrat Yang Belum Terpuaskan
Suara dari depan booth terdengar samar, tapi di belakang sini suasananya makin panas dan menekan. Kelima pemuda itu sebenarnya sudah dapat jatahnya sesuai kesepakatan, tapi nyatanya mereka belum puas. Mereka mulai ribut minta waktuku ditambah.
Sebelum sempat kujawab, mereka langsung bergerak bersamaan, menyergapku dari segala arah. Tubuhku terhimpit di tengah lingkaran mereka, hampir nggak punya ruang buat bergerak. Tangan-tangan itu bergerak cepat dan berani, menjamah ke mana-mana tanpa memberi kesempatan untuk mundur.
"Remes terus bro… kapan lagi kita bisa ngobok-ngobok cina seksi kayak gini. Ucap temannya sambil tertawa rendah sementara matanya nggak lepas dari tubuhku.
"Aduh… pelan-pelan bang… gantian pegangnya… suaraku nyaris bergetar tapi mereka malah tertawa. Malah sengaja makin ngeremas, seolah mau ngetes sampai sejauh mana aku bisa tahan.
"Udah cici diem aja.. biar kita puas dulu. salah satu dari mereka nyaris nyentuh telingaku sambil ngomong begitu. Napasnya panas di kulitku. Aku yang berdiri ditengah cuma bisa meringis, badanku gemetar, tapi entah kenapa kakiku malah terasa makin lemas waktu genggaman mereka makin kuat.
Belum puas dengan posisi itu, salah satu dari mereka memberi isyarat cepat dan tiba-tiba aku didorong ke arah meja kayu usang di pojok booth. Mereka seperti nggak mau memberi kesempatan aku kabur.
Tubuhku setengah diseret, setengah terdorong, sampai punggungku menempel di permukaan meja yang dingin dan agak goyah. Kaki-kakiku menjuntai ke bawah, nyaris kehilangan pijakan. Dua orang langsung memegang kedua lenganku erat, menahannya di atas permukaan meja, sementara yang lain berdiri rapat di depanku, tatapannya penuh nafsu dan rasa ingin memiliki.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, bercampur dengan suara napas mereka yang berat dan tergesa, seakan waktu yang tersisa terlalu singkat untuk memuaskan keinginan mereka.
Di saat suasana makin memanas dan aku nyaris nggak bisa bergerak, tiba-tiba terdengar suara berat dari arah pintu belakang booth. “Eh, udah… udah, cukup!”
Pak Jarwo muncul dengan langkah cepat, matanya menyapu tajam ke arah mereka. Tapi bukannya langsung bubar, kelima pemuda itu malah saling pandang lalu mulai berdebat dengannya. Nada suara mereka rendah, tapi aku bisa menangkap maksudnya—mereka belum mau pergi dengan tangan kosong.
Pak Jarwo menghela napas, lalu membungkuk sedikit sambil berbisik, entah menyampaikan apa. Salah satu dari mereka tersenyum tipis, lalu yang lain ikut mengangguk. Sepertinya sebuah kesepakatan sudah terjadi.
Mereka kembali menatapku dengan sorot mata penuh maksud. Aku bisa merasakan udara di belakang booth jadi lebih berat. Dari cara mereka memandang, aku tahu apa yang mereka inginkan… dan dari cara Pak Jarwo berdiri menyamping, aku juga paham dia memberi isyarat untuk tidak melawan.
Agar suasana nggak makin ribut dan menarik perhatian orang luar, Pak Jarwo menatapku singkat lalu memberi isyarat dengan dagunya. “Udah, ikutin aja,” katanya pelan tapi tegas. Aku mengerti maksudnya.
Dengan langkah pelan yang terasa ragu aku kembali menuju meja kayu pendek di pojok booth. Permukaan meja itu dingin ketika punggungku menyentuhnya namun hawa ruangan justru terasa makin panas. Aku membaringkan tubuhku seperti sebelumnya dan menatap ke atas dengan napas yang mulai tidak teratur.
Kelima pemuda itu bergerak maju mendekat dan posisi mereka membentuk lingkaran rapat di sekelilingku. Tubuh-tubuh mereka berdiri kokoh menutup pandanganku dari segala arah. Tatapan mata mereka tertuju penuh padaku sementara tangan mereka sibuk dengan gerakan yang sama. Gerakan itu mengocok naik turun tanpa henti dan semakin cepat hingga menimbulkan suara halus dari gesekan kulit. Aku bisa melihat jelas urat-urat di lengan mereka menegang dan otot dada mereka ikut bergerak setiap kali napas berat keluar.
Suasana di booth berubah pekat, udara yang sempit terisi oleh aroma keringat bercampur gairah. Dari posisi terbaring aku merasakan tekanan psikologis seolah seluruh ruang hanya menyisakan mereka dan diriku. Sensasi itu membuatku paham dengan jelas apa yang akan terjadi selanjutnya meski tubuhku masih kaku di atas meja kayu.
Sambil berdiri mengelilingiku yang telentang di atas meja kayu mereka bergerak mantap dengan ritme yang makin teratur. Masing-masing sibuk dengan gerakan tangannya sendiri mengocok batang yang sudah tegang penuh. Urat di lengan menonjol dan napas berat keluar berulang kali memenuhi ruang sempit itu.
Sorot mata mereka tajam buas dan liar seakan tubuhku sudah menjadi sasaran yang tak mungkin lagi lolos. Pandangan itu membuat kulitku merinding sekaligus panas seolah setiap inci tubuhku sudah berada dalam genggaman mereka.
Suara gesekan tangan di kulit yang tegang bercampur dengan desahan singkat yang makin cepat. Hawa ruangan jadi padat dan berat seakan terisi hanya oleh nafsu yang memuncak. Aku bisa merasakan tekanan itu menutup semua celah seakan tidak ada lagi jalan keluar.
Tak lama kemudian satu per satu dari mereka mulai mengeluarkan erangan tertahan seolah puncak kenikmatan sudah di depan mata. Tubuh-tubuh itu maju mendekat bahkan ada yang hampir bersamaan sehingga ruang di sekitarku semakin sempit dan pengap.
Aku hanya bisa terbaring pasrah dengan dada naik turun menahan napas yang memburu. Tatapan mereka tertuju penuh pada wajahku. Gerakan tangan mereka makin cepat mengocok batang masing-masing, suara gesekan bercampur dengan desahan yang berat memenuhi udara di belakang booth. Urat-urat di lengan mereka menonjol jelas setiap kali genggaman itu naik turun dengan ritme yang semakin liar.
Beberapa detik terasa berjalan lambat padahal semuanya berlangsung cepat. Mereka terus mendekat hingga nyaris menempel mengelilingiku dari segala arah. Aku bisa merasakan hawa panas tubuh mereka dan mencium aroma khas bercampur keringat serta gairah yang pekat. Tekanan udara di ruang sempit itu seakan dipenuhi hanya oleh gerakan tangan yang terus mengocok batang dan rasa menunggu muncratnya peju yang sudah di ujung.
Lalu dalam sekejap. Ahhh… hhh… SPG Lontee… dasar cina sialan… ahhh… muka sipit lo… enak banget gua pejuinn… hhh… ahhh…! Crott.. Crett.. Crett.. semburan sperma hangat yang putih dan kental menghantam kulit wajahku, membuat mataku spontan terpejam. Terasa begitu licin dan panas, cairan itu meninggalkan jejak yang mengalir pelan. Aku menarik napas pendek, terkejut oleh intensitasnya, sementara suara erangan mereka memenuhi telingaku secara bergantian satu demi satu.
Setelah semua pemuda mundur aku masih terbaring di meja kayu dengan napas yang belum teratur. Kulit wajahku terasa hangat sebagai sisa dari apa yang baru saja terjadi. Dari sudut mata aku melihat Pak Jarwo melangkah maju. Ia sudah tanpa celana dan tubuhnya semakin dekat dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dalam diam ia naik ke atas meja dan kini posisinya tepat di atasku. Kedua lututnya menahan beban tubuh sementara matanya menatap lurus ke mataku tanpa berkedip. Tangannya bergerak cepat mengocok kontolnya sendiri. Suara gesekan dan tarikan napas berat terdengar jelas di antara kami. Urat di lengannya menegang dan wajahnya tampak kaku menahan rasa.
Udara di sekitar semakin pekat. Aku bisa merasakan setiap detik yang berlalu makin menekan. Gerakan tangannya makin cepat seolah tubuhnya sedang mengejar satu titik puncak. Aku tahu sebentar lagi batang itu akan muncrat dan melepaskan peju yang sejak tadi ia tahan. Semua yang ada di ruangan terasa terhenti menunggu momen itu pecah. Beberapa saat kemudian suara erangan berat keluar dari mulut Pak Jarwo.
"Ahhh… anjiinggg… hhh… uuhhh… gila… m-muka… cina… sipit… ahhh… nggak kuat… hhh… ini… paling… enak… hhhaaahhh… buat… buang… pejuuu… ahhh… iyaaa… iyaaa… ahhh… mampus… hhhaaahhh… ahhh… ahhh… gua keluarin semuaaa… ahhh… ahhh… gila… nggak tahan… anjinggg…! suaranya berat, napasnya memburu, diselingi desis panjang. “Hhh… muncrat… ahhh… Lanjutnya sambil tubuhnya menegang sebentar lalu mengendur pelan dengan helaan puas.
Aku bisa merasakan ada lendir hangat jatuh di wajahku lalu menyebar perlahan di kulit. Sensasinya membuatku refleks menarik napas pendek. Pak Jarwo tidak berkata apa-apa, ia hanya terdiam beberapa detik sambil menahan sisa gejolak di tubuhnya. Setelah itu ia mengendurkan bahu dan kembali menatapku dari atas.
Begitu selesai aku langsung bangkit pelan. Kakiku terasa berat saat melangkah menuju kamar mandi di belakang booth. Aku membuka pintu dengan cepat lalu berdiri di depan wastafel. Air dingin kutepukkan ke wajah berulang kali, berusaha menghapus sisa kejadian barusan walau rasa hangatnya masih tertinggal di kulit. Cermin di depan wastafel memantulkan wajahku yang tampak kusut. Aku menarik napas panjang lalu merapikan rambut dengan jari. Setelah itu aku membenarkan pakaian yang agak berantakan dan menambahkan sedikit bedak supaya wajah terlihat normal kembali.
Tanpa banyak bicara aku pamit singkat pada Pak Jarwo. Langkahku meninggalkan arena pameran terasa lebih cepat dari biasanya. Jalanan menuju kos terasa datar saja seakan tidak ada apa pun yang baru saja terjadi.
Sesampainya di kamar kos aku menjatuhkan tubuh ke kasur dengan lelah. Ponsel di meja tiba-tiba bergetar. Layar menampilkan notifikasi dari aplikasi m-banking. Saldo bertambah tiga ratus ribu rupiah. Mataku menatap angka itu beberapa detik sebelum akhirnya senyum tipis muncul di bibir. Aku sendiri tidak tahu apakah itu karena lega atau karena sadar ini mungkin bukan terakhir kalinya.
%20(6).png)
gas terus
BalasHapusdamn nice update suhu
BalasHapusDicoli / dipeju rame-rame....bukkake fest
BalasHapus