Langsung ke konten utama

Sui Ling Gadis Pulau Kecil 2


Sudah hampir seminggu ini rutinitasku berubah total. Sejak pameran produk baru dimulai aku selalu berangkat kerja siang hari. Pameran itu sendiri baru dibuka menjelang sore dan berlangsung sampai malam. Tapi justru siangnya yang menjadi waktu paling menegangkan karena ada sesuatu yang tidak diketahui siapa pun kecuali aku dan Pak Jarwo.

Hari itu matahari mulai naik saat aku duduk di tepi ranjang. Seragam SPG-ku tergantung rapi di balik pintu. Atasannya putih bersih dan ketat dengan garis biru tua di bagian samping dan lengan. Bagian dadanya terbuka dan tidak memakai kancing. Roknya pendek dan menyatu langsung di bawah. Dari luar memang kelihatan formal dan rapi tapi kalau dipakai tanpa daleman artinya bisa jadi sangat berbeda.

Saat aku masih duduk diam dan belum bersiap sebuah pesan masuk ke layar ponselku. Nama pengirimnya langsung membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Pak Jarwo. Pesannya singkat tapi saat aku baca leherku langsung terasa panas dan tubuhku refleks menegang.

“Hari ini kamu berangkat kerja dari kost langsung pakai seragam SPG. Jangan pakai bra. Jangan pakai daleman sama sekali. Ngerti? Om gak mau ada satu pun yang nutupin. Kamu jalan aja kayak biasa, jangan pura-pura malu. Biar kelihatan alami. Om udah nunggu di dekat halte.

Aku duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponselku. Pesan dari Pak Jarwo memang tidak lagi mengejutkan, tapi tetap saja ada sesuatu dalam diriku yang bergejolak. Ujung-ujung jariku gemetar pelan, seperti tubuhku sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa aku tolak. Pesannya singkat tapi jelas. Aku tahu maksudnya. Tidak ada ruang untuk tanya-tanya. Tidak ada tawar-menawar. Aku harus nurut atau semuanya akan berhenti begitu saja. Uang. Perhatian. Dan sensasi aneh yang diam-diam mulai aku tunggu-tunggu.

Aku menarik napas pelan lalu membaca ulang pesannya. Tanpa sadar pikiranku langsung membayangkan diriku melangkah keluar kamar kost, menyusuri koridor, menuruni tangga, lalu berdiri di tengah jalanan yang mulai ramai. Dari luar aku akan terlihat biasa saja. Tapi hanya aku yang tahu apa yang tidak kupakai di balik seragam itu. Hanya aku yang tahu betapa ringkihnya lapisan yang membungkus tubuhku hari ini.

Seragam yang kupakai memang kelihatan rapi dan wajar di mata orang lain, tapi di baliknya tidak ada satu pun lapisan yang melindungi kulitku. Justru itu yang membuat jantungku berdetak makin kencang. Bukan karena takut, tapi karena rasa campur aduk yang muncul di tubuhku. Antara malu, tegang, dan rasa aneh yang pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang kutunggu-tunggu. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan itu mulai muncul, tapi sekarang aku tahu aku ingin tahu sejauh apa aku bisa menuruti semua ini.

Dengan gerakan pelan dan sedikit ragu, aku mulai melepas baju tidurku yang dari tadi cuma menempel tipis di tubuh. Kainnya lembut dan jatuh begitu saja saat kutarik ke bawah. Mulai dari bahu, lalu turun melewati dada dan perut, sampai akhirnya jatuh ke lantai tanpa suara.

Aku berdiri diam sejenak sambil menatap seragam SPG yang tergantung di balik pintu. Tanganku meraihnya perlahan dan aku menarik napas panjang sebelum mulai memakainya. Aku tahu, begitu seragam ini menempel langsung ke kulitku tanpa bra atau CD, tidak ada lagi jarak antara tubuhku dan dunia luar. Yang ada hanya selembar kain tipis yang dibuat bukan untuk menutupi, tapi justru menarik perhatian.

Aku mulai mengenakannya pelan-pelan, menarik bagian atas seragam yang elastis dan melekat ketat di badanku. Saat kain putih itu menyentuh payudaraku yang benar-benar tanpa lapisan, aku langsung bisa merasakan tekanannya. Lembut tapi menempel erat, seperti sengaja menonjolkan bentuknya. Putingku ikut merespons, mengeras sedikit karena gesekan yang terus terasa.

Rok yang menyatu dengan bagian atas seragam itu hanya turun sampai pertengahan pahaku. Saat aku berdiri menghadap cermin, aku melihat bayangan diriku sendiri yang kelihatan lengkap dan siap. Tapi aku tahu, kenyataannya tidak ada satu pun yang benar-benar melindungi bagian dalam tubuhku. Tidak ada bra, tidak ada celana dalam, hanya kulitku yang langsung bersentuhan dengan kain.

Itu yang membuat langkah berikutnya terasa berat, tapi di saat yang sama memicu debar yang sulit dijelaskan. Rasanya aneh tapi juga nyata. Karena kalau aku berjalan keluar sekarang, orang-orang hanya akan melihat seragam formal seperti biasa. Tapi yang mereka tidak tahu, di balik baju itu aku benar-benar… terbuka.

High heels jadi bagian terakhir yang kupakai. Begitu kakiku masuk ke dalam sepatu hak tinggi itu, tubuhku terasa lengkap, tapi bukan dalam arti aman. Justru sebaliknya. Karena setiap bagian dari penampilanku makin menegaskan betapa tipisnya jarak antara kain dan kulit. Tidak ada yang benar-benar menutupi. Napasku jadi sedikit berat saat aku berdiri di depan cermin. Kulihat pantulan diriku sendiri. Rapi, teratur, terlihat siap. Tapi aku tahu, di balik semua itu aku benar-benar telanjang.

Sebelum pergi, aku mengambil botol kecil dari atas meja lalu menyemprotkan parfum ke tubuhku. Satu di leher. Satu di pergelangan tangan. Satu lagi di balik lutut. Aromanya lembut dan langsung menyebar di udara. Rasanya seperti lapisan terakhir dari penampilanku—tidak terlihat tapi bisa dirasakan, apalagi oleh orang yang cukup dekat. Buatku parfum ini bukan cuma wangi. Tapi seperti isyarat diam-diam dari tubuhku sendiri. Seperti cara halus untuk bilang, lihat aku… rasakan aku… tanpa harus bicara.

Aku menatap cermin sekali lagi dan menarik napas dalam. Hari ini rasanya bukan sekadar soal kerja atau rutinitas biasa. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang cuma aku dan satu orang tahu. Sebuah permainan diam-diam yang aku jalani pelan-pelan. Dan tiap detiknya terasa seperti godaan yang sengaja kubiarkan terjadi.

Aku tahu saat aku keluar nanti ada sepasang mata yang sudah menunggu. Mata yang penuh rencana dan hasrat. Dan mungkin ada banyak mata lain yang akan melihat sekilas tanpa sadar apa yang sebenarnya mereka lihat. Karena dari luar aku hanya terlihat sopan. Tapi di balik seragam ini, aku tahu betul aku tidak memakai apa-apa.

Dengan langkah ringan dan dada yang terasa tegang, aku turun dari lantai atas rumah kost. Melewati lorong yang sempit, membuka pagar kecil, lalu berjalan ke trotoar yang mulai ramai. Seragam putih ini menempel ketat di tubuhku, menyerap tiap tiupan angin yang lewat. Bagian bawah roknya cuma sampai pertengahan pahaku, dan itu membuatku terus sadar kalau satu-satunya yang memisahkan tubuhku dari dunia luar cuma sehelai kain tipis.

Waktu aku melewati warung kecil di pinggir jalan, aku langsung mencium bau campuran asap rokok dan kopi hitam. Di depannya ada tiga tukang ojek yang lagi duduk santai. Salah satu dari mereka, yang kurus dan pakai kaos longgar, langsung noleh ke arahku dan nyeletuk keras.

"Buset.. siang-siang udah pamer paha aja, Neng. Emangnya mau kemana sih? Duhh… cakepnya nggak ketulungan.

Yang duduk di sebelahnya ikut ketawa lalu bilang sambil masih mandangin aku, “Paha putih gitu jangan suka dipamerin neng. Nanti kalo ada yang khilaf gimana ? 

Yang ketiga cuma senyum-senyum sambil ngopi. Dia gak ngomong apa-apa, tapi matanya jelas ngikutin langkahku sampai aku lewat di depan mereka.

Aku gak jawab apa-apa. Aku cuma jalan terus sambil pura-pura gak denger, tapi jantungku rasanya makin kencang. Bukannya marah, aku justru makin sadar betapa tipisnya kain yang kupakai… dan betapa semua itu memang bagian dari permainan ini. Ponselku bergetar waktu aku hampir sampai di halte busway. Aku buka layarnya. Pesan dari Pak Jarwo muncul lagi.

“Nanti.kalau sudah di dalam bus, kamu harus berdiri. Pilih posisi di tengah. Biar semua mata bisa lihat. Jangan duduk. Om mau lihat gimana mereka mandangin kamu.

Aku langsung deg-degan. Telapak tanganku dingin walaupun keringat di punggung mulai keluar. Aku nggak bales pesan itu. Cuma aku kunci layarnya, masukin lagi ke tas kecil di bahu.

Aku jalan terus ke halte. Aku pikir aku sendirian tapi ternyata dari kejauhan, pak Jarwo ngikutin diam-diam. Dia pakai topi lusuh dan masker tipis, tangannya terus megang HP barunya yang dia beli dari pameran kemarin. HP itu sekarang dia pakai buat ngerekam aku dari belakang. Dia bilang, dia pengen HP itu penuh sama video-video aku, video yang “nakal dan pribadi”, katanya waktu kami video call terakhir.

Bus datang sekitar lima menit kemudian. Penuh. Aku langsung naik, dan sesuai perintah, aku berdiri di tengah lorong. Di kiri dan kanan, kursi penumpang saling berhadapan. Tanganku menggenggam erat handle grip warna kuning yang menggantung dari rel di atas kepala—pegangan khas di dalam bus Transjakarta. Warnanya mencolok, sedikit kusam karena sering dipakai penumpang. Permukaannya terasa agak lengket, entah karena keringat atau sisa tangan-tangan sebelumnya, tapi aku tetap menggenggamnya kuat untuk menjaga keseimbangan saat bus bergerak pelan.

Rok putih ketat yang kupakai terasa makin naik sedikit tiap kali tubuhku menyesuaikan guncangan bus. Kainnya menempel di pahaku, memperjelas lekuknya. Atasan yang kupakai pun tidak kalah tipis, menyerap keringat dan kini menempel seperti kulit kedua. Setiap gerakan kecilku serasa menarik perhatian, meskipun aku pura-pura tidak sadar.

Begitu aku berdiri, beberapa mata langsung ngelirik ke arahku. Ada yang pura-pura main HP, tapi matanya curi-curi lihat. Ada juga yang dari awal udah ngeliatin terus. Aku bisa rasain baju yang kupakai seolah nggak ngasih ruang buat sembunyi. Semua kayak nempel ke kulit. Aku tahu, mereka pasti bisa lihat bentuknya.

Bus mulai jalan. Setiap bus ngerem atau belok, tubuhku ikut goyang sedikit. Bagian dadaku pun ikut bergerak, makin kelihatan karena aku nggak pakai dalaman.

Belum lama aku berdiri, ponselku bergetar lagi. Pesan dari Pak Jarwo.

“Sekarang, jatuhin sesuatu ke lantai. Lalu ambil pakai tangan, tapi jangan jongkok. Bungkuk. Perlahan. Biar yang di depan dan belakang bisa nikmatin pemandangannya.

Aku diam sebentar dan menarik napas panjang. Tangan kiriku tetap memegang tiang besi sementara tangan kananku pelan pelan membuka layar ponsel. Getaran pesannya masih terasa di jemariku. Aku membaca lagi instruksinya dan dadaku terasa makin sesak.

Aku menggeser sedikit posisi tubuh agar terlihat santai padahal jantungku berdegup kencang. Kamera depan kubuka dan wajahku langsung muncul di layar. Seragam ketat yang kupakai menempel di badan dan setiap lipatannya terlihat jelas. Aku mengatur sudut pengambilan gambar dengan perlahan seolah hanya sedang bermain ponsel seperti orang lain di bus.

Aku mengangkat ponsel dan memasang senyum tipis. Senyum itu sebenarnya lebih mirip usaha menahan gugup. Di belakangku tampak deretan kursi dan orang orang yang duduk saling berhadapan. Beberapa sempat melirik ke arahku. Aku menahan napas sejenak lalu menekan tombol foto. Tidak ada kilatan lampu sehingga hampir tidak ada yang menyadarinya.

Aku segera memeriksa hasilnya. Wajahku terlihat jelas dengan senyum kecil yang kaku. Garis leher baju sedikit terbuka dan memperlihatkan bagian dadaku secara samar. Latar belakang bus juga masuk dalam bingkai. Penumpang kursi lampu putih neon semua tampak nyata.

Dengan jempol yang bergetar aku mengirim foto itu. Detik detik setelahnya terasa sangat panjang. Aku tetap berdiri dengan wajah datar dan berpura pura biasa. Namun telapak tanganku sudah penuh keringat.

Aku menahan napas sebentar lalu tanpa banyak pikir aku membuka kamera depan. Aku pura pura main HP sambil tetap berdiri tenang di tengah lorong bus yang mulai padat.

Tanganku perlahan mengangkat ponsel sejajar dada. Di layar wajahku langsung muncul. Tatapanku kosong tapi aku tahu yang paling mencolok bukan itu. Seragam putihku yang tipis sudah basah keringat setelah berjalan menuju halte tadi. Cahaya dari jendela membuat bentuk di baliknya terlihat makin jelas.

Aku memiringkan sedikit kamera hingga pas di sudut yang bisa menunjukkan semuanya. Wajahku datar dengan senyum kecil setipis benang. Lekuk dadaku yang ketat menempel di kain tipis. Di belakangku deretan penumpang duduk dan berdiri rapat. Suasananya ramai dan terlihat jelas di layar.

Klik.

Foto itu langsung kukirim ke Pak Jarwo. Hasilnya sesuai dengan yang dia minta. Wajahku, tubuhku, seragam yang terlalu menempel dan bukti bahwa aku benar benar melakukannya di tengah keramaian. Beberapa detik kemudian tanda centang dua berubah biru. Balasannya datang cepat.

Ck.. ckck.. edan kamu non. Cewek chindo sipit putih seksi kayak kamu cocok banget dijadiin tontonan di tengah keramaian. Lihat tuh fotonya, muka cina baju ketat berdiri cuek di antara orang banyak. Padahal kalau mereka sadar apa yang kamu lakukan barusan, pasti langsung pada nelen ludah. Kamu itu hiburan kelas atas.

Aku buru buru mengunci layar dan jantungku makin cepat. Rasanya seperti ditonton terus tapi anehnya aku tidak berhenti. Aku tidak minta ini tapi aku juga tidak menolak. Beberapa orang di depanku mulai sering melirik. Mungkin karena cahaya dari jendela membuat baju putihku terlihat lebih transparan. Aku berusaha tetap tenang dan pura pura tidak sadar padahal seluruh tubuhku tegang.

Ponselku bergetar lagi. "Ambil satu lagi. Tapi sekarang dari atas seragammu. Aku mau lihat bukti jelas kalau kamu benar benar tidak pakai daleman. Habis itu satu lagi dari bawah.

Aku diam sesaat. Jantungku berdetak makin cepat. Bibirku kugigit pelan saat membaca pesannya dua kali. Tapi tanpa sadar tanganku sudah bergerak. Seragamku hari ini baju SPG putih ketat tanpa kancing. Tidak ada kerah dan potongannya menyatu dari atas sampai bawah seperti body suit yang sangat menempel. Kainnya tipis dan makin melekat karena keringat.

Perlahan aku menarik bagian leher baju itu ke bawah dengan jari. Tidak banyak hanya cukup untuk membuat celah kecil di bagian dada atas. Wajahku tetap tenang dan tubuhku tegak saat kamera kuarahkan dari atas. Di layar terlihat jelas dadaku dari celah yang kubuka. Kulitku langsung menempel di balik kain putih itu tanpa bra atau lapisan apa pun.

Klik. Foto pertama langsung kukirim. Degup jantungku makin kencang. Tapi instruksinya belum selesai. Aku lalu pura pura membungkuk seolah sedang merapikan tas kecil di kakiku. Rok ketat yang menyatu dengan atasan ikut tertarik. Dari situ aku bisa menyelipkan kamera ke arah bawah tepat di sela pahaku. Sudutnya sempit tapi cukup. Di layar terlihat jelas bagian dalam rok yang ketat itu. Paha bagian atas kosong tanpa celana dalam. Hanya kulitku langsung di balik kain tipis yang nyaris transparan.

Klik. Aku kirim lagi fotonya. Detik detik setelahnya jantungku serasa mau meledak. Tapi anehnya aku tetap tenang. Mataku lurus ke depan sementara tubuhku berdenyut dari dalam.

Aku sadar aku sudah terlalu jauh. Tapi aku juga sadar aku tidak benar benar mau berhenti. Ponselku bergetar lagi. Pesan dari Pak Jarwo muncul cepat.

"Sekarang yang duduk di depan kamu itu yang gempal. Aku lihat tadi di fotomu. Kayaknya dari tadi curi curi pandang ya. Goda dia. Bikin dia salah tingkah. Bikin dia kepancing. Kalau kamu nurut dan berhasil menjalankan perintah maka Om akan langsung memberikan imbalannya.

Aku angkat sedikit kepala sambil pura pura melihat sekeliling. Tapi sebenarnya aku sedang mencari tatapan itu. Dan benar saja pria gempal berkaus abu abu duduk persis di bangku depan menghadap ke arahku. Matanya cepat menghindar waktu aku membalas menatap tapi dari bahasa tubuhnya aku tahu dia sudah melirik berkali kali.

Tanganku tetap menggenggam handle grip kuning di atas kepala. Aku geser posisi kaki sedikit untuk memberi jarak antar paha lalu tubuhku kucodongkan pelan pura pura menyesuaikan keseimbangan. Gerakan kecil itu cukup membuat seragam putih ketatku ikut tertarik dan makin menempel di badan.

Aku sengaja membuang pandang ke jendela seolah tidak sadar. Tapi dari sudut mataku aku jelas melihat pria itu kembali menoleh. Tatapannya sekarang tidak sebentar. Lalu perlahan aku pura pura mengusap pelipis dengan punggung tangan. Gerakanku membuat bagian dada ikut naik turun. Senyum tipis muncul di bibirku bukan ditujukan ke siapa siapa hanya ke arah kosong. Tapi cukup untuk menciptakan kesan seolah aku tahu dan aku sengaja.

Dia langsung membetulkan posisi duduknya. Tangannya mencengkeram lutut. Matanya tidak bisa berbohong. Ada gelisah yang mulai muncul di wajahnya. Ponselku kembali bergetar. Pesan masuk dari Pak Jarwo.

"Bagus terusin. Sedikit lagi. Bikin dia tidak tahan.

Aku menarik napas pelan. Suasana di dalam bus masih sama. Tidak terlalu padat tapi cukup penuh sampai tidak ada kursi tersisa. Sebagian besar penumpang berdiri diam sibuk dengan ponsel atau menatap kosong ke jendela. AC menyala cukup kencang membuat udara di dalam bus terasa dingin menusuk kulitku yang hanya tertutup seragam tipis ini. Tapi semua itu terasa kabur. Fokusku hanya satu. Pria gempal yang duduk tepat di depanku.

Tatapannya sudah tidak seagresif tadi mungkin mencoba menyembunyikan rasa bersalah. Tapi aku tahu dia masih mengintip dari balik sudut matanya. Dan saat itulah aku mulai bergerak.

Pelan pelan aku angkat sedikit satu kakiku pura pura meregangkan betis. Tumitku terangkat dan lututku naik sedikit. Gerakan itu terlihat wajar bagi siapa pun yang melihat sekilas tapi aku tahu betul posisi berdiriku sekarang membuat rok putih ketatku tertarik naik beberapa sentimeter.

Dari tempatnya duduk pria gempal itu pasti bisa melihat celah di antara pahaku. Dan karena seragam SPG putih ini satu potong tanpa daleman yang terlihat bukan sekadar paha.

Aku sengaja menahan posisi itu sebentar sambil tetap pasang wajah datar dan mata lurus ke depan. Tanganku masih menggenggam handle grip kuning di atas kepala.

Dari sudut mataku aku melihat pria itu membeku. Matanya terpaku. Tangannya mencengkeram keras di pangkuan dan tubuhnya sedikit condong ke depan seperti ingin memastikan apa yang dilihat barusan bukan halusinasi.

Ponselku kembali bergetar.

Gila kamu keterlaluan non. Tapi itu justru yang bikin Om makin gila. Cewek cina sipit putih seksi berdiri menantang di tengah bus dan diam diam memamerkan isi dalemannya ke orang asing.

Lihat itu yang duduk di depan kamu pasti sudah keras banget di balik celananya. Dan Om yakin bukan cuma dia semua cowok di situ pasti pengen menjamah paha cina putih mulus yang kamu pamerkan barusan. Tapi sayangnya mereka cuma bisa lihat saja.

Halte Berikutnya.

Bus terus melaju dan tak lama kemudian suara otomatis dari speaker di langit langit terdengar pelan namun jelas.

Halte berikutnya Gunung Sahari. Next stop Gunung Sahari.

Aku mendongak sebentar membaca ulang tulisan yang berkedip di layar LED merah di depan. Bus mulai melambat. Lampu lampu jalan berganti dengan papan nama halte yang makin dekat. Beberapa orang di dekat pintu mulai bergerak tapi jumlah penumpang yang masuk jauh lebih banyak dari yang turun. Aku berdiri di bagian tengah posisi yang kurang ideal karena setiap kali halte berikutnya datang aku selalu terdorong dari berbagai arah.

Bus makin padat. Orang orang berdesakan masuk. Ruang gerak nyaris tidak ada. Aku tetap berdiri sambil berpegangan pada handle grip di atas. Tubuhku condong sedikit ke depan karena tekanan dari belakang. Semua sibuk sendiri. Ada yang sibuk main ponsel ada yang pasang wajah kosong menatap jendela dan beberapa tampak pura pura tidur. Tidak ada yang benar benar memperhatikan sekitarnya. Tapi aku sadar betul siapa yang berdiri di belakangku. Pak Jarwo.

Tubuhnya begitu dekat. Nafasnya terasa hangat di belakang kepalaku. Dan lebih dari itu aku bisa merasakan sesuatu dari tubuhnya menekan perlahan ke arah pantatku. Keras panas dan terlalu sengaja untuk bisa disebut kebetulan. Dia tidak bicara. Tapi dari caranya berdiri dari jarak yang terlalu sempit meski ada celah lain di samping kami aku tahu ini bukan karena kehabisan tempat. Tanganku mencengkeram grip lebih erat. Jantungku berdebar pelan tapi teratur. Tubuhku diam tapi pikiranku mulai liar.

Tiba tiba aku merasakan sesuatu menyentuh pinggangku. Awalnya pelan seperti sengaja disamarkan di tengah dorongan orang orang yang berdempetan. Tapi aku tahu betul itu bukan sentuhan sembarangan. Tangan kanan Pak Jarwo. Jemarinya menyentuh sisi pinggangku lalu perlahan bergerak turun menyusuri lekuk tubuhku yang tertutup rok ketat. Sentuhannya sampai ke bagian bawah punggung berhenti sebentar di atas pantatku lalu menekan pelan. Cukup untuk membuat tubuhku menegang.

Tangan itu meluncur lagi ke bawah melewati lipatan rok lalu menyentuh pahaku. Kulitnya kasar dan hangat kontras dengan kulitku yang putih halus. Gerakannya pelan tapi mantap seolah ingin aku merasakan setiap sentuhannya.

Aku tetap diam. Tidak bicara dan tidak menepis. Tapi napasku mulai berat dan genggaman tanganku di handle grip makin kuat.

Bus bergoyang. Orang orang tetap sibuk sendiri. Jemarinya bergerak lebih berani menyusuri pahaku perlahan ke atas mendekati bagian yang lebih dalam dan sensitif yang terbuka karena rok mini ini.

Aku menggigit bibir menunduk pura pura tidak merasa apa apa. Tapi jantungku berdebar kencang. Aku mulai gelisah. Aneh sekali tubuhku tidak menolak. Bahkan ada bagian dari diriku yang pasrah.

Dari belakang dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. Napasnya terasa hangat. Bau tubuhnya bercampur dengan aroma parfumku yang lembut.

Jangan bereaksi bisiknya pelan nyaris tak terdengar. Nikmati saja. Kamu akan dapat semuanya nanti.

Ucapannya membuatku gemetar. Tapi bukan karena takut. Suaranya dalam berat dan terlalu dekat. Tangannya masih menyentuhku naik turun perlahan menyusuri pahaku sesekali berhenti dan memberi tekanan lembut di titik titik sensitif. Aku menarik napas pelan. Seluruh tubuhku tegang. Tapi aku tidak bergerak dan tidak melawan.

Kupikir aku akan marah. Tapi kenyataannya aku mulai menerima. Mungkin karena uang. Mungkin karena tekanan. Atau mungkin karena ada bagian dari diriku yang sudah terlalu dalam terjebak dalam permainan ini.

Sekarang aku hanya bisa diam menunggu bus berhenti. Sambil berharap semuanya cepat selesai atau justru tidak berhenti.

Pak Jarwo semakin berani. Di tengah keramaian penumpang dia bergerak makin rapat sampai tidak ada lagi jarak di antara tubuh kami. Di antara riuh suara mesin dan percakapan samar aku menangkap bunyi crkk yang pelan tapi jelas di telingaku. Suara resleting yang ditarik ke bawah.

Tubuhku refleks menegang. Lalu aku merasakan dorongan yang lebih padat dari arah belakang menempel di pantatku. Tekanannya bergeser pelan setiap kali bus berguncang. Awalnya singkat lalu menjadi gerakan yang teratur.

Aku menunduk pura pura sibuk dengan ponsel di tangan meski genggamanku di handle grip makin kuat. Panas di tubuhku makin terasa. Tekanan itu berpindah pindah seolah dia mencari posisi paling pas agar aku merasakannya.

Semakin lama tekanannya semakin kuat. Irama gerakannya membuatku sulit berpura pura tidak sadar. Aku bisa mendengar suara napasnya di belakangku berat teratur dan semakin panas. Tangan kanannya mendekap pinggangku dari belakang menahanku agar tetap dekat.

Gerakannya makin intens seolah dia mencari puncak dari permainan ini. Tekanan di tubuhku bergerak cepat membuat napasku ikut tersengal. Bus tetap melaju berguncang di atas jalanan sementara orang orang di sekeliling kami sibuk dengan dunia masing masing. Tak satu pun tahu apa yang sedang terjadi di ruang sesak ini.

Tiba tiba tekanan itu berhenti. Aku sempat mengira dia menyerah. Ternyata tidak. Pak Jarwo hanya mengubah posisi. Tubuhnya sedikit mundur memberi jarak tipis tapi aku masih bisa merasakan hangat napasnya di leherku.

Suara gesekan resleting berganti bunyi lain. Ritme cepat dan berulang seperti seseorang sedang mengocok sesuatu dengan genggaman penuh. Tangan kanannya bergerak di samping pinggangku tersembunyi sebagian oleh tubuhku dan tas selempang. Tapi gerakan naik turun itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Degup jantungku menghantam keras. Entah dorongan apa yang membuatku perlahan menoleh. Dari celah sempit di antara bahu kami aku menangkap wajahnya. Matanya menyipit, rahangnya menegang, bibirnya terbuka sedikit mengeluarkan napas berat yang terputus putus.

Gerak tangannya makin cepat jelas sedang memeras sesuatu dari dalam genggamannya. Sekilas tatapan kami bertemu singkat lalu aku buru buru kembali menghadap ke depan seolah takut semua orang menyadarinya.

Beberapa detik kemudian suara itu berubah. Bukan hanya desahan napas tapi erangan tertahan yang keluar dari tenggorokannya. Enggh lirihnya nyaris tenggelam oleh riuh penumpang. Lalu sensasi itu datang. Hangat basah merembes di bagian belakang rok seragamku. Kain tipis langsung menyerapnya dan rasa lembapnya menempel di kulit.

Aku ingin bergerak tapi tubuhku justru menahan posisi. Napasku pendek pendek. Tangan kirinya masih mencengkeram pinggangku seolah menegaskan agar aku tetap di tempat. Keramaian di sekeliling kabur. Yang tersisa hanya denyut jantungku dan rasa hangat yang melekat.

Suara pengeras di langit langit bus terdengar mengumumkan halte berikutnya. Aku tidak segera bergerak. Aku masih berdiri diam membiarkan rasa hangat dan lembap itu menempel di belakang rokku.

Pak Jarwo mengendurkan genggamannya tapi aku tahu ia masih berdiri tepat di belakangku. Napasnya belum teratur. Aku melirik sekilas ke kaca jendela yang memantulkan bayangan kami. Jarak tubuh terlalu dekat untuk sekadar berdiri di bus penuh.

Saat bus berhenti dorongan penumpang membuatku ikut terdorong. Aku melangkah pelan mencoba menutupi noda samar yang mulai terasa dingin oleh hembusan angin dari pintu terbuka.

Begitu kakiku menginjak trotoar aku sadar setiap langkah membuat kain rok itu menempel lepas di kulit meninggalkan rasa yang sulit kulupakan. Bahkan ketika pintu bus menutup di belakangku bayangan napas panas dan sentuhannya masih melekat seolah belum benar benar selesai.

Begitu sampai di lokasi pameran aku langsung menuju pintu belakang untuk masuk lewat akses staf. Rasanya setiap tatapan orang yang kulalui menempel lebih lama dari biasanya. Aku tidak yakin apakah mereka hanya melihat seragam putih ketat ini atau karena sesuatu yang lain. Begitu ada kesempatan aku melipir ke toilet staf. Ruangan itu sepi hanya terdengar suara tetesan air dari kran yang tidak tertutup rapat.

Aku berdiri di depan cermin menarik napas pelan lalu memutar tubuh. Di sanalah aku melihatnya. Bagian belakang rok putihku yang tipis tampak sedikit transparan di bawah cahaya lampu. Ada noda samar dengan bentuk yang tidak bisa disalahartikan.

Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba mengusapnya dengan tisu tapi serat kain yang basah malah semakin menempel di kulit. Saat tisu itu menyentuhnya aroma khas yang hangat dan samar menusuk hidungku. Bau yang tidak asing dan langsung membangkitkan bayangan kejadian di bus tadi.

Sentuhan tisu yang dingin bercampur dengan sisa hangat cairan itu membuat tubuhku refleks menegang. Tanpa sadar aku memejamkan mata. Bayangan napas berat Pak Jarwo di belakangku kembali terngiang. Seolah meski aku sudah di sini ia masih berdiri di belakangku menunggu. Beberapa detik kemudian ponselku menyala. Bukan dari chat kali ini dari aplikasi m-banking. Layar menampilkan pop up kecil di atas:

[Notifikasi: m-BCA]
Dana masuk Rp300.000 dari: Jarwo Hadi
.

Angkanya tidak besar tapi entah kenapa rasanya seperti disiram sesuatu yang panas. Bukan soal nominalnya tapi soal cara aku mendapatkannya. Tanganku tetap di atas wastafel. Wajahku tidak berubah tapi tubuhku berdenyut halus. Sadar tidak sadar aku menggigit bibir bawah pelan. Aku tahu ini sudah kelewat batas. Tapi aku juga tahu aku belum mau berhenti. Dan yang paling gila ternyata aku malah menunggu. Menunggu perintah selanjutnya dari Pak Jarwo.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Jebakan Minimarket 4

Draft Pengantin Brutal 4

Amarah Para Buruh 2

Jebakan Minimarket 3

Draft Amarah Para Buruh 23

Amarah Para Buruh 13

Amarah Para Buruh 20

Amarah Para Buruh 17

Amarah Para Buruh 14

Amarah para buruh 22