By : Analconda13
Namaku Fania Chen. Seorang gadis chindo berusia 14 tahun. Aku masih bersekolah di SMP swasta yang ada dekat rumah. Jadi setiap hari aku bisa pulang lebih cepat kalau tidak ada kegiatan ekstra. Kulitku putih bersih dan rambutku lurus hitam. Kata mama wajahku sangat imut dengan senyum manis yang menampakkan gigi kelinci. Kadang orang bilang aku terlihat kekanak-kanakan dan aku suka manja terutama kalau soal urusan pelajaran atau saat aku ingin diperhatikan.
Sebagai anak tunggal dari keluarga menengah aku terbiasa dimanjakan sedikit-sedikit. Misalnya kalau aku capek belajar mama suka membuatkan teh hangat atau kue kecil untuk menenangkan pikiranku. Aku tidak malu mengakui itu karena rasanya nyaman dan hangat. Hari ini bahkan perhatian kecil itu tidak bisa menenangkan kepalaku. Matematika tetap menuntut dan aku cuma bisa menunduk berharap waktu cepat berlalu.
Kamarku sendiri nyaman dan rapi. Harum khas anak perempuan yang selalu dirapikan Mama setiap hari. Dindingnya dicat pink pastel lembut sementara rak-rak kecil berderet boneka lucu berjajar rapi. AC kecil di pojok ruangan berdengung pelan sehingga udara jadi sejuk dan membuatku betah duduk berlama-lama meski tangan dan mataku sudah lelah. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Suara Mama memanggil dari bawah terdengar jelas dan hangat seperti biasanya.
“Fan… itu kak Dika udah datang.
Aku menuruni tangga dengan langkah setengah malas. Rambutku masih sedikit berantakan karena baru saja kuberuskan seadanya. Begitu membuka pintu di depan sana berdiri dia kak Dika.
Kak Dika merupakan mahasiswa perantau yang juga bekerja sebagai guru les privatku. Wajahnya biasa saja tapi punya aura tenang yang membuat orang percaya padanya. Kulitnya agak gelap dan rambutnya sedikit ikal tapi rapi. Kemeja putihnya digulung sampai siku dan sorot matanya selalu serius setiap kali membahas pelajaran. Aku menghela napas sedikit tersenyum malu dan mencoba menyingkirkan rasa malasku.
“Selamat sore fan. Udah siap belajar hari ini? tanyanya.
Aku pura-pura senyum.
“Siap kak.
“Kita mau belajar di mana hari ini? tanyanya sambil menenteng tas berisi buku dan alat tulis.
Aku mengerutkan dahi sebentar lalu menjawab.
“Belajar di kamar aja kak. Di sana lebih nyaman karena panas kalau di ruang tengah.
Biasanya aku belajar di ruang tengah duduk di meja kayu besar dekat jendela. Tapi udara hari ini terasa lengket dan pengap sehingga mood belajar turun drastis. Di kamar ada pendingin ruangan yang membuat udara jadi sejuk dan suasananya yang rapi plus boneka-boneka lucu di rak membuatku merasa lebih betah. Meski kak Dika pasti bakal sedikit terganggu dengan kamarku yang manja dan kekanak-kanakan itu.
Kak Dika mengangguk pelan lalu melangkah masuk ke kamar. Matanya melirik sekeliling, terlihat sedikit terkejut tapi berusaha menahan ekspresi. Dinding pink pastel, boneka-boneka lucu berjajar rapi di rak, dan aroma harum khas anak perempuan memenuhi ruangan.
“Wah… kamar kamu… lumayan rapi ya Fan. ucapnya sambil meletakkan tas di meja belajar. Suaranya tenang, tapi aku bisa merasakan ada sedikit senyum menahan di bibirnya.
Aku duduk di kursi, kaki menekuk sedikit, pura-pura manja. “Hehe… makasih kak. Aku kan suka bersih-bersih biar nyaman belajar.
Dika membuka buku pelajaran dan menatapku serius. “Oke hari ini kita mulai dari matematika ya. Ada bab tertentu yang bikin kamu pusing ?
Aku mengangguk, menatap angka-angka yang berserakan di bukuku. “Iya… bab aljabar itu, kak. Rasanya ribet banget.”
Dia duduk di sampingku, menyusun buku-buku dan alat tulis rapi di meja, siap memulai sesi belajar. Suasana kamar yang nyaman dan sejuk membuatku merasa lebih santai, walau tetap agak grogi karena kak Dika duduk begitu dekat. Ia membuka bukuku, menghela napas panjang.
Aku manyun di kursi, menggoyang-goyang kaki dengan gelisah. Jari-jariku memainkan ujung pensil sambil sesekali menatap angka-angka di buku yang sama sekali nggak mau masuk ke kepala.
Kak Dika menatapku dengan serius, kemudian mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja. Ritme ketukan itu seolah menggarisbawahi setiap kata yang ingin dia sampaikan. Sorot matanya tajam bikin aku nggak bisa menoleh kemana-mana. Ada campuran kesabaran dan sedikit tegas dalam pandangannya seperti sedang menantangku untuk jangan menyerah.
“Kalau terus menyerah begitu, kamu nggak akan pernah bisa Fan. Ucapnya dengan nada tegas tapi tenang membuat dadaku berdebar sedikit. Kayaknya… kamu butuh hukuman biar lebih semangat belajar.
Aku menatapnya. bingung sekaligus takut. Hukuman? Aku pikir dia bakal marah atau omel panjang lebar tapi ekspresi wajahnya justru datar hampir seperti sedang menghitung strategi. Aku bisa merasakan ketegangan di udara antara rasa penasaran dan sedikit cemas. Tubuhku otomatis menegak meski jari-jari masih menggenggam buku dengan erat. Rasanya sore ini nggak akan sekadar belajar matematika seperti biasanya…
Senyumnya tipis hampir nggak kelihatan. “Setiap jawaban yang salah maka ada konsekuensinya. Biar kamu lebih serius.
Aku menelan ludah. “Konsekuensi apa?”
Dia mencondongkan tubuh. suaranya rendah tapi tegas. “Setiap kali jawabanmu salah maka kamu harus melepas satu item pakaian. Darahku seperti berhenti mengalir sejenak. Aku menatapnya tak percaya dengan apa yang baru kudengar. "Kak… apa ini serius ?
Aku menunduk dan jantungku berdegup kencang. Kata-katanya terdengar tegas sekaligus… menantang. Ada bagian dari diriku yang takut salah tapi ada juga yang penasaran.
“Baiklah. Kataku pelan.
Tak lama kemudian kak Dika menuliskan soal matematika SMP di sebuah kertas. "Sekarang coba kamu kerjakan ini Fan. Katanya sambil menyerahkan kertas itu. Soalnya terlihat sederhana tapi tetap bikin aku mengerutkan dahi.
Jikaberapa nilai
Aku menghela napas sambil memandang angka-angka itu berusaha mengingat cara menyelesaikannya dari pelajaran sebelumnya. Aku menatap kertas itu sampai alisku mengerut."Hmm… kak. ini… ribet banget ya. Keluhku sambil menggigit bibir bawah dan pura-pura bingung.
Kak Dika mencondongkan badan. Matanya
menatap serius ke arah kertas.
"Ribet ? Fan.. ini kan cuma soal sederhana. Ingat yang penting kamu ngerti konsepnya dulu. Aku menunduk mencoba mengingat kembali pelajaran kemarin tapi rasanya kepala ini penuh awan. "Tapi… kak. Aku kok masih nggak ngerti. Ujarku dengan suara yang sedikit gemetar.
Dia menarik napas panjang lalu dengan sabar mulai menjelaskan.
"Oke kita lihat bareng-bareng. Kalau 3x + 5 = 20 maka langkah pertama adalah….
Aku duduk diam, sesekali mengangguk, tapi tetap saja aku suka manja dan sedikit kekanak-kanakan.
Aku sedikit lega, tapi jantungku masih berdegup kencang. Suasana kamar yang sejuk, harum, dan nyaman membuatku merasa aman, meski rasanya setiap kata dari kak Dika seperti tantangan yang bikin aku penasaran.
Aku menatap kertas itu lagi, jari-jari kugenggam pensil erat. “Oke… kita mulai dari mana dulu, kak?” tanyaku pelan, masih menunduk.
Kak Dika mencondongkan badan, menunjuk angka-angka di kertas. “Lihat, Fan. Kita punya Langkah pertama kita harus hilangkan angka 5 dari persamaan.
Aku mengerutkan alis, mencoba mengingat trik yang pernah diajarkan. “Hilangkan… maksudnya dikurangin, kan, kak?”
“Betul,” katanya sambil tersenyum tipis. “Jadi Hasilnya.
“Eh… awabku ragu sambil menatapnya berharap dia nggak marah karena salah.
“Persis. Ucapnya, matanya berbinar sedikit bangga. “Sekarang langkah kedua, kita bagi 3 supaya dapat nilai
Aku menulis perlahan di kertas. kak. aku benar kan?”
Kak Dika mengangguk sambil menepuk ringan meja di dekatku, seolah memberi semangat. “Betul banget, Fan. Lihat? Nggak sesulit yang kamu bayangkan kan?”
Aku tersenyum malu-malu sampai gigi kelinciku terlihat. “Hehe… iya, kak. Tapi aku masih takut salah sama soal lain…
Dia tertawa kecil tapi sabar. “Tenang, kita kerjakan pelan-pelan. Kakak ada di sini buat bantu kamu.
Aku menunduk lagi tetapi kali ini rasa takut sedikit berkurang. Rasanya nyaman dan aman belajar di kamar sejukku dekat Kak Dika meski aku tetap tidak bisa lepas dari sifat manja dan kekanak-kanakanku yang muncul setiap kali aku bingung menghadapi soal. Soal berikutnya terasa jauh lebih sulit sehingga aku menatap kertas sambil mengernyit. Jari-jariku menekan pensil terlalu kuat.
"Kak ini kok susah banget ya.
Keluhku dengan suara sedikit gemetar. Tanganku gemetar saat menulis sehingga pensil terasa licin karena telapak tanganku basah oleh keringat. Aku mencoba fokus dan berusaha mengingat rumus yang tadi baru saja dipelajari namun kepalaku benar-benar kosong. Beberapa menit kemudian aku menyerah lalu menarik napas panjang dan mendorong kertas itu ke arahnya.
"Kak kayaknya salah.
Bisikku pelan. Dia menatap hasil pekerjaanku dengan dingin. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris lalu menggeleng pelan.
"Salah. Kamu tahu konsekuensinya.
Aku menunduk sehingga bibirku bergetar bingung. Jantungku berdegup kencang sementara tanganku refleks meraih ikat rambut dan melepaskannya. Rambutku langsung jatuh terurai menutupi sebagian wajahku.
"Ini boleh kan.
Tanyaku lirih sambil menunduk. Dia langsung menggeleng dengan tegas.
"Itu bukan pakaian. Coba kamu lepas yang lain.
Pipi ini panas sekali seperti terbakar. Aku menggigit bibir lalu dengan berat hati meraih sweater tipis yang menempel di tubuhku. Perlahan aku menariknya ke atas sehingga terasa seret karena keringat yang menempel di kulit. Tersisa kaus putih ketat di dalam dan kainnya menempel erat pada tubuhku yang mulai terasa gerah.
Dia tidak berkata apa-apa dan hanya menatapku dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Tatapannya membuatku semakin gelisah.
"Sekarang kita lanjut soal berikutnya.
Katanya pendek dengan suara datar tanpa emosi. Aku menunduk lagi lalu menatap kertas soal di depanku. Tanganku semakin gemetar ketika menggenggam pensil. Rasanya campur aduk antara malu takut dan ada sesuatu yang lain yang membuat dada ini berdebar tidak karuan. Aku mencoba serius mengerjakan soal berikutnya meski otakku terasa berisik sekali. Setiap kali aku melihat angka di kertas yang muncul justru tatapan Kak Dika dan peraturan hukuman konyol itu.
Aku menuliskan jawaban dengan cepat dan berharap jawaban kali ini benar. Setelah selesai kertas itu kutaruh di depannya dengan tangan yang masih gemetar. Dia mengambil kertas itu. membacanya sebentar lalu mengangkat alis. "Salah lagi..
Dadaku langsung terasa sesak, napas tercekat. Aku menunduk lebih dalam, dan tangan ini refleks bergerak meraih rok biru sekolah yang masih kukenakan. Suaraku keluar sangat pelan dan nyaris tidak terdengar. "Harus… harus lepas lagi ?
"Yaa.. jawabnya tegas tanpa ragu sedikit pun.
Tanganku gemetar ketika mulai membuka kancing rok satu per satu. Bunyi kecil dari kancing yang terlepas membuat jantungku berdetak makin keras. Kain itu akhirnya melorot turun, jatuh menumpuk di lantai, menyisakan diriku yang kini hanya duduk dengan kaus putih ketat dan celana pendek tipis di dalam. Udara kamar terasa dingin menusuk kulit, tapi tubuhku justru panas, wajahku memerah tak karuan.
Dika menatap sekilas, matanya singgah hanya sebentar sebelum kembali menunduk menulis soal baru. “Kerjakan lagi. katanya pendek. Aku menggigit bibir, perasaan bercampur aduk. Rasanya seperti terjebak dalam sebuah permainan yang tidak bisa kuakhiri. Soal ketiga kini ada di depanku. Aku mencoba sekuat tenaga, mencoret-coret kertas dengan garis bantu agar lebih mudah. Tapi logikaku kembali mentok, pikiranku tidak bisa fokus. Saat kertas itu berpindah ke tangannya, aku bahkan sudah bisa menebak apa jawabannya.
"Salah lagi.
“Kalau malu.. maka kamu harus belajar yang benar. Suaranya dingin tapi anehnya bikin tubuhku merinding.
Kali ini aku menatapnya, berusaha mencari belas kasihan. "kak… jangan suruh aku buka lagi ya. Please.. Dia mencondongkan badan dan suaranya terdengar rendah. "Dari awal aturannya kan sudah jelas fan.. Kalau berhenti sekarang maka semua usahamu akan sia-sia. Kalau lanjut… mungkin kamu akan belajar lebih cepat.
Aku menggigit bibir. Dengan tangan yang lemah, aku meraih ujung kaus putihku, menariknya ke atas. Tubuhku kini hanya terbalut pakaian dalam. Aku menunduk dalam-dalam, wajahku panas seperti terbakar. Kak Dika meletakkan pulpen di meja, menatapku lama. “Sekarang… kita lihat seberapa kuat kamu bertahan.”
Tanganku sudah gemetar hebat ketika mencoba soal berikutnya. Pandanganku kabur bukan karena sulitnya angka-angka tapi karena aku terlalu sadar kalau tubuhku hampir telanjang di depannya. Aku menyerahkan kertas itu dengan hati-hati. Jantungku serasa mau copot menunggu reaksinya. Kak Dika hanya melirik sebentar, lalu menggeleng. “Masih salah..
Aku menelan ludah. “kak… aku udah… nggak ada lagi yang bisa dilepas. Suaraku bergetar nyaris berbisik. Dia menyandarkan tubuh ke kursinya. Menatapku dari atas ke bawah dengan wajah tetap dingin. “Masih ada.. Aku tahu maksudnya. Wajahku langsung panas dan darahku berdesir ke seluruh tubuh.
Aku terdiam. Bibirku terbuka tapi tak ada kata yang keluar. Yang ada hanya rasa panas yang makin menguasai tubuhku. Tiba-tiba tangannya meraih pergelangan tanganku. Menariknya perlahan menjauh dari dadaku. Aku tersentak dan ingin melawan tapi lemah. Dada itu akhirnya terbuka di hadapannya dan aku bisa merasakan tatapannya menusuk kulitku.
Aku menutup mata sementara wajahku bersemu merah. "kak…
Dia hanya bergumam rendah. "Kamu bahkan lebih indah dari yang kubayangkan.
Dan untuk pertama kalinya. Jemari lelaki itu menyentuh kulit dadaku. Sentuhannya terasa lembut tapi membuat tubuhku hampir terlonjak. Rasanya campur aduk: malu, takut tapi juga ada sesuatu yang membuatku tak bisa berhenti bergetar.
Aku membeku ketika jemari kak Dika menyentuh buah dadaku yang belum berkembang sempurna. Awalnya hanya sapuan ringan tapi kemudian gerakannya lebih berani. Menelusuri dengan perlahan dan begitu lembut lalu meremas payudaraku secara perlahan alhasil tubuh telanjangku spontan melengkung seperti tersengat listrik.
"Kaak… Suaraku pecah antara memohon dan menahan desahan.
Dia tersenyum tipis, masih menatapku lekat. "Itu artinya kamu belajar menerima konsekuensi.
Perlahan tangannya turun menyapu pinggangku lalu meraba paha. Aku langsung menegang tetapi tubuhku justru bergetar hebat. Kulitku terasa semakin panas ketika jemarinya bermain di bagian dalam pahaku dan makin dekat ke tempat paling rahasia. Aku menggigit bibir kuat-kuat sehingga mencoba menahan suara. Tapi begitu jemarinya hampir menyentuh pusat kelemahanku sebuah desahan lolos juga.
"Ahh. Wajahku terbakar sehingga malu setengah mati. Aku menutup mata dan berharap lantai menelan tubuhku saat itu juga. Tapi tubuhku sendiri malah semakin berkhianat karena aku bisa merasakan cairan hangat mulai membasahi bagian bawahku. Kak Dika mendekatkan bibirnya ke telingaku sehingga suaranya terdengar rendah dan pelan hampir seperti mantra yang menempel di kulitku.
"Kamu sadar Fan. Tubuhmu sudah lebih jujur daripada mulutmu.
Aku hanya bisa menggeleng lemah. Air mataku tertahan di sudut mata dan bercampur dengan rasa asing yang terus mengalir deras. Ada takut yang membuat dadaku sesak tetapi ada juga kenikmatan yang menyeretku semakin dalam. Aku tidak tahu harus melawan atau pasrah. Tangannya yang hangat bergerak turun perlahan dari pinggang sehingga jemarinya menyusuri sisi tubuhku hingga berhenti di pangkal pahaku. Seketika seluruh tubuhku menegang. Nafasku tercekat otot-ototku kaku sementara jantungku berdegup begitu keras seakan hendak pecah. Aku menggigit bibir kuat-kuat sehingga mencoba menahan suara yang nyaris lolos. Tapi setiap sentuhan itu justru membuatku semakin sulit menolak. Kulitku seperti terbakar dan panasnya menjalar dari satu titik ke seluruh tubuh.
Kak Dika tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya menatap wajahku yang memerah seakan sedang menikmati setiap reaksi kecil yang tak bisa kusembunyikan. Tatapan itu membuatku semakin gelisah sekaligus membuatku tak berdaya.
"Kak jangan jangan di situ.
Bisikku lirih sehingga suaraku bergetar dan lebih terdengar seperti permohonan yang tak punya tenaga. Tapi Kak Dika tidak berhenti. Jemarinya tetap bergerak pelan menyusuri bagian dalam pahaku yang tegang kaku. Setiap sentuhan kecil itu seperti menyulut api yang merambat cepat di bawah kulit sehingga membuatku sulit bernapas. Aku menggigit bibir sekuat mungkin dan berusaha menahan suara. Tapi tubuhku lebih jujur daripada kata-kataku. Saat jemarinya akhirnya mencapai titik paling tersembunyi aku tak kuasa menahan diri. Tubuhku terlonjak kecil nafas tersengal dan dari bibirku lolos suara yang seharusnya tidak kudengar sendiri.
"Ahh. Desah itu pecah begitu saja meski aku ingin menyimpannya rapat. Kak Dika terdiam sejenak sehingga wajahnya begitu dekat dan matanya menatapku intens seakan menikmati seluruh ketidakberdayaanku. Sementara aku hanya bisa terkulai antara malu takut dan rasa asing yang semakin menelan diriku bulat-bulat.
"Basah sekali fan…ini tandanya kamu pengen.. Katanya dengan nada rendah yang membuatku makin malu.
Aku tidak sanggup menjawab dan hanya bisa terdiam karena perasaan malu bercampur dengan rasa yang sulit dijelaskan. Tubuhku masih gemetar dan nafasku berantakan hingga akhirnya perlahan menjadi lebih teratur. Keringat dingin membasahi pelipisku sementara bagian bawahku masih berdenyut dan meninggalkan sensasi aneh yang belum pernah kualami sebelumnya. Aku menunduk dalam dan tidak berani menatap wajahnya. Yang terdengar hanya suara nafasku sendiri yang kacau sementara dia tetap berdiri tenang di depanku.
“Fan… ucap kak Dika dengan suara rendah hampir seperti berbisik. “Itu baru langkah pertama,” lanjutnya pelan.
Aku mendongak perlahan dan menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Langkah… pertama? tanyaku ragu.
Dia mengangguk lalu melangkah mendekat dan tangannya terulur menyentuh pipiku. Usapannya lembut namun cukup menekan sesuatu di dalam dadaku hingga membuatku merasa sesak oleh perasaan yang sulit kuungkapkan.
“Kamu sudah tahu rasanya dan sekarang tubuhmu bisa belajar lebih jauh. Aku bisa mengajarimu bukan hanya soal angka tapi juga soal dirimu sendiri. kata kak Dika dengan tenang.
Aku menggigit bibir antara takut dan penasaran. “Kak… apa maksudnya?” tanyaku pelan.
Dia tidak menjawab dengan kata-kata dan sebagai gantinya tangannya turun ke daguku lalu bergerak perlahan ke leherku sambil menelusuri garis kulitku. Aku merinding dan nafasku tercekat lalu aku merasakan sesuatu menekan pahaku. Aku tersentak dan menunduk hingga baru sadar kalau ada tonjolan keras dari balik celana panjangnya yang menekan ke arahku.
“Kak… itu…” suaraku tercekat.
Tatapannya menajam. “Itu bagian dari pelajaran berikutnya. Kamu sudah tahu bagaimana rasanya disentuh dan sekarang kamu akan belajar apa artinya menerima laki-laki,” ucap kak Dika dengan nada tegas.
Aku terdiam dan darahku berdesir liar. Bagian dari diriku menjerit ingin kabur namun bagian lain yang baru saja meledak dalam klimaks tadi malah ingin tahu rasanya.
Dia meraih tanganku lalu meletakkannya di atas tonjolan itu. Tanganku refleks menegang dan hampir saja menarik diri namun dia menahan jemariku.
“Rasakan Fan, ini untukmu. Tubuhmu yang memanggilnya,” katanya pelan.
Aku menelan ludah dan jari-jariku bergetar di atas kain yang keras menekan. Rasa malu bercampur dengan rasa ingin tahu yang menyesakkan dadaku. Tubuhku kembali panas sementara aku masih setengah lemas.
“Kalau kamu siap maka aku akan menunjukkan padamu pelajaran terakhir malam ini. Ucapnya lagi.
Aku masih menggenggam benda panas itu dengan tangan bergetar. Rasanya asing dan menakutkan namun membuat tubuhku merespons dengan cara yang tidak kumengerti. Kak Dika menunduk dan tatapannya menusukku.
“Fan.. tubuhmu sudah siap. Kamu sendiri yang menginginkan ini sejak tadi dan sekarang waktunya belajar menerima. Katanya dengan suara dalam.
Dia tersenyum samar dan usapannya kembali turun di pahaku lalu mendekati bagian paling intimku.
"Awalnya mungkin sakit tapi setelah itu kamu akan mengerti nikmatnya. Percaya deh sama aku. Ucapnya pelan.
Aku menggigit bibir dan tubuhku refleks menegang ketika jari-jarinya menyentuh lembabku yang masih berdenyut setelah ledakan pertama tadi. “Lihat? Kamu sudah siap dari tadi,” katanya lirih.
Aku tidak bisa menjawab dan hanya terdiam ketika dia mendorong tubuhku untuk berbaring di sofa. Aku pasrah dan kakiku terbuka tanpa kusadari sementara udara dingin menyentuh kulitku yang telanjang. Aku menutup wajah dengan lenganku karena malu setengah mati.
Lalu aku merasakan ujung keras itu menyentuh pintu masukku dan tubuhku tersentak. “Ka…k, jangan buru-buru… aku takut…” ucapku panik.
Dia menunduk dan membisik di telingaku. “Tarik napas biar pelan-pelan. Kamu akan baik-baik saja,” katanya menenangkan.
Tekanan pertama membuatku meringis dan rasa nyeri menusuk seketika hingga tubuhku kaku. “Ahhh… sakit Pak…” seruku tertahan.
Tangannya mengusap rambutku untuk menenangkanku. “Sabar Fan, sebentar lagi tubuhmu akan menyukainya. Percayalah.. ucapnya lembut.
Dengan sabar dia menekan lagi sedikit demi sedikit. Aku menggigit bibir dan air mata menetes tanpa bisa kutahan namun di balik perih itu muncul sensasi lain yang aneh dan hangat hingga membuat tubuhku bergetar.
Akhirnya sesuatu dalam diriku menyerah dan aku merasakan tubuhku benar-benar menerima dirinya sepenuhnya.
Aku terengah antara sakit dan kagum. "Kak… rasanya… aku nggak bisa jelasin… ucapku terbata.
Dia tersenyum lalu mulai bergerak perlahan. “Itu artinya kamu sudah belajar Fan. Kamu sudah jadi muridku sepenuhnya,” katanya mantap.
Setiap gerakan membuatku meringis sekaligus mengerang dan rasa sakit pelan-pelan diganti oleh gelombang panas yang semakin kuat. Aku tahu sejak malam ini pelajaran yang kuterima dari Pak Dika tidak akan pernah sama lagi.
Aku masih menggenggam sandaran sofa dan kuku-kuku jariku hampir menancap karena menahan rasa sakit yang belum sepenuhnya pergi. Tubuhku kaku dan nafasku pendek-pendek.
Kak Dika menunduk di atas tubuhku dengan wajah serius namun tatapannya hangat. “Pelan-pelan fan, rasakan aku di dalammu. Jangan lawan dan biarkan tubuhmu mengikuti,” ucapnya menenangkan.
Dia mulai bergerak sangat pelan pada awalnya dan gesekan itu membuatku meringis lagi. Tapi kali ini ada sensasi baru yang merayap di balik rasa perih seperti arus hangat yang menyalakan tubuhku dari dalam.
“Aaahh… kak… rasanya aneh… gumamku lirih.
Dika tersenyum kecil lalu bibirnya menyambar leherku sambil menjilat kulitku yang basah oleh keringat. “Aneh yang enak kan? Biarkan saja, kamu akan terbiasa,” ucapnya pelan.
Gerakannya bertambah dalam dan aku terpekik hingga kakiku otomatis melingkar di pinggangnya seakan tubuhku sendiri tidak mau melepaskannya. “Ohh… sakit… tapi… ahhh… ada rasanya lagi…” seruku putus-putus.
Dika mulai memompa lebih teratur dan setiap dorongan membuat tubuhku sedikit terangkat dari sofa. Rasa panas itu makin jelas dan perlahan menggantikan perih yang tadi mendominasi. Nafasku kacau dan tubuhku dipenuhi keringat namun aku tidak ingin dia berhenti.
“Kak… jangan berhenti… terusin…” ucapku lirih.
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku dan membuat pipiku semakin panas karena malu.
Lalu dia menghentakkan tubuhnya lebih keras, membuatku terpekik keras, “Ahhhhhh…!!!
"Kak… aku nggak kuat… aku udah… udah mauu keluar lagi… suaraku serak, bibirku bergetar.
Aku hanya bisa terengah dengan bibir terbuka tanpa kata sementara lendir hangatku sudah bercampur basah di pangkuannya. Tangannya meremas buah dadaku dan mulutnya melumat leherku sementara tubuhku terus dipaksa menari di atasnya.
Gelombang demi gelombang datang lagi tanpa berhenti dan aku bahkan tidak tahu sudah berapa kali klimaks. Yang kutahu hanya satu bahwa aku tidak bisa lagi melawan permainan ini. Aku sudah benar-benar jadi miliknya.
Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan cairanku sendiri. Nafasku terengah dan mataku berair namun aku tidak bisa berhenti bergerak di atas pangkuannya. Tangan Dika menahan pinggangku sambil mengatur ritme naik turun dengan kekuatan yang tidak bisa kutolak. Aku seperti boneka hidup di pelukannya dan hanya bisa mengikuti arah yang dia mau.
“Kak… aku… nggak ada tenaga lagi… bisikku lirih nyaris tercekik oleh desahan.
Dia menempelkan bibirnya di telingaku dan suaranya terdengar dalam penuh kendali. “Jangan pakai tenaga. Cukup pasrah. Biar tubuhmu sendiri yang belajar dan menikmati. ucapnya tegas.
Kepalaku jatuh di bahunya, rambutku berantakan menempel di wajahnya. Aku hanya bisa mengerang, setengah menangis, setengah tertawa, karena tubuhku ternyata jauh lebih liar dari yang pernah kubayangkan.
“Bagus fan… bisiknya serak sambil meremas pinggulku makin dalam. “Sekarang kamu sudah tahu… tubuhmu nggak bisa lagi menolak aku.
Aku tak sanggup membantah. Yang bisa kulakukan hanya melingkarkan tanganku di lehernya, memeluk erat, membiarkan diriku dipenuhi lagi dan lagi… Sampai aku benar-benar lupa siapa diriku sebelumnya. Punggungku sudah basah oleh keringat dan dadaku bergerak naik turun tidak terkendali. Setiap hentakan dari bawah membuat tubuhku bergetar hebat. Aku sudah kehilangan hitungan karena tidak tahu berapa kali aku mencapai titik itu. Sementara Dika masih saja kuat dan belum juga menyerah.
"Kak.. aakhhh.. aaakku uudaaah gaaakk kuat lagi.. desahku hampir menangis.
Dia menggenggam kepalaku lalu memaksaku menatap matanya. Sorotnya tajam dan penuh api tetapi ada juga kepuasan aneh di sana.
"Kamu harus kuat. Tunggu sampai aku juga selesai. Katanya tegas. Aku terlonjak ketika ia menekan pinggulku lebih keras ke bawah, menghantam dalam-dalam. Suaraku pecah menjadi jeritan.
Tangan Dika mencengkeram pinggangku erat, tubuhnya tegang. Aku bisa merasakan setiap detiknya—gerakannya makin cepat, makin kasar, napasnya berat menahan letupan terakhir.
“Fan… aku… nggak tahan lagi… Bisiknya parau.
Dan tiba-tiba tubuhnya menegang keras. Aku merasakan semburan hangat menyembur deras di dalam liang kemaluanku. Semburan itu terasa berulang kali memenuhi setiap rongga yang sudah basah kuyup.
“Ahhhhhh…!!!” Aku ikut menjerit sementara tubuhku otomatis meremas dan menelan semuanya. Sensasinya sungguh tak terbayangkan membuatku ikut kembali meledak meski aku sudah tak sanggup lagi.
Kami berdua terhuyung, saling berpelukan erat, napas terengah-engah. Aku masih duduk di pangkuannya, merasakan detak jantungnya yang berpacu gila di dadaku, sambil tubuhku sendiri gemetar tak terkendali.
"Sekarang kamu benar-benar milikku fan…
Aku tidak mampu menjawab. Lidahku kelu dan kepalaku kosong. Yang bisa kulakukan hanya menutup mata rapat-rapat. Menyerahkan diriku sepenuhnya, pasrah menerima kenyataan itu. Di balik kepasrahanku. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya yang masih berdenyut. Menempel erat denganku membuatku tak bisa berpaling.
Tubuhku gemetar tanpa bisa kukendalikan. Jantungku berdegup kencang dan cepat seolah ingin meloncat keluar dari dadaku. Aku mencoba mengangkat tanganku tapi rasanya berat sekali. Otot-ototku juga terasa seperti kehilangan tenaga. Akhirnya aku hanya terkulai di pangkuannya membiarkan wajahku menempel di bahunya yang basah oleh keringat. Kehangatan kulitnya bercampur dengan aroma tubuhnya yang pekat menyelimutiku tanpa celah.
.png)
.jpg)
Anak murid dijebol prewinya..moga jadi slave/kekasih..
BalasHapus