Tapi anehnya tubuhku justru bereaksi sebaliknya. Setiap kali ingatan itu datang, ada getaran halus di antara pahaku seolah otakku kehilangan kendali. Aku menggeliat gelisah di tempat tidur sambil menggigit bibir karena rasa malu tapi juga ada hasrat yang tak bisa kubenarkan.
Aku menelan ludah dan jantungku berdegup liar. Kata-katanya membuat tubuhku semakin tak karuan meski akal sehatku berteriak. Dengan wajah memerah aku mengangguk pelan.
Senyum penuh napsu muncul di wajah Raka. Tangannya mencengkeram pinggangku lebih keras lalu menarik tubuhku menempel erat.
Tiba tiba ruangan itu terasa sunyi. Hanya terdengar suara pendingin udara yang mendesis pelan. Aku masih berdiri di depan rak minuman tapi tubuhku sudah terjepit oleh badan Raka yang begitu dekat. Dadanya menekan punggungku dan tangannya bebas merayap di pinggang lalu naik perlahan ke perutku. Aku terperangkap di antara tubuhnya dan rak yang penuh botol plastik hingga tak ada ruang untuk mundur.
"Bang.. jangan di sini. Aku malu kalau dilihat orang.. Bisikku gemetar sambil mencoba menahan tangannya.
Raka terkekeh kasar dan mulutnya terasa dekat sekali dengan telingaku.
"Justru itu Lus. Sensasinya bakal beda kalau kita main di tempat umum kayak gini. Siapa pun bisa lihat kamu. Amoy cina yang pura-pura belanja tapi sebenarnya pengen dijarah habis-habisan. bisiknya dengan nada tajam.
Aku menggigit bibir dan wajahku terasa panas tapi herannya tubuhku malah merespons sentuhannya. Tangannya semakin berani menyusuri lekuk pahaku yang terekspos karena celana pendek. Aku menepis pelan tapi usahaku begitu lemah hingga malah terlihat seperti membiarkan.
"Kamu tahu nggak Lus. Betapa seksinya kamu malam ini. Pakai kaos ketat pamerin badanmu yang putih ini kayak umpan. Kamu pikir aku bakalan diam aja ?!! Ucap Raka sambil menempelkan dadanya ke punggungku.
Jantungku berdegup kencang sementara napasku tercekat. Aku tahu ini gila. Aku tahu ini salah namun tubuhku justru terbakar oleh kata-katanya. Gairahku juga semakin memuncak menelan rasa takut.
Tangan Raka kini menelusuri pahaku lebih dalam membuat lututku hampir lemas. Ia menunduk sedikit matanya menatap wajahku dari samping. Senyumnya terlihat tajam dan puas.
Aku menutup mata sejenak mencoba menahan desahan yang nyaris lolos dari bibirku. Tanganku mencengkeram rak di depanku hingga botol-botol bergetar pelan. Aku ingin berkata tidak padanya tapi entah kenapa suaraku malah tenggelam.
Kemudian Raka menempelkan bibirnya ke telingaku lalu berbisik lebih keras penuh perintah. "Malam ini kamu akan kembali menjadi budakku. Kalau ada orang lewat biarin aja. Biarkan mereka tahu siapa kamu yang sebenarnya. Tunjukin kalau kamu memang amoy cina yang haus seks. Katanya dengan nada tajam. Kata-katanya membuat tubuhku bergetar lebih hebat. Aku tahu aku di ambang kehilangan kendali.
Suara bel pintu tiba-tiba terdengar dari arah depan toko. Tubuhku sontak menegang. Aku hampir meloncat menjauh tapi Raka justru menahan lebih erat. Dadanya menempel ke punggungku dan tangannya masih mencengkeram pinggangku.
"Bang.. itu ada orang datang. Bisikku panik dengan wajah memanas setengah ingin kabur.
Aku bisa melihat dari ujung lorong seorang lelaki paruh baya melangkah masuk. Ia berjalan pelan sambil menenteng kantong kain kosong. Ia tampak hendak membeli sesuatu dan matanya menelusuri rak-rak.
Raka tertawa rendah lalu menunduk lagi di telingaku.
"Tenang… dia nggak bakal sadar kalau kita lagi main. Lagian bukannya makin menegangkan kalau ada yang lihat. Bisiknya sambil merapatkan tubuhnya.
Aku menggeleng cepat tapi suaraku gemetar ketika mencoba memohon.
"Bang.. tolong jangan di sini. Nanti dia bisa lihat kita. Kataku nyaris menangis.
Raka justru makin berani. Tangannya naik ke dadaku lalu meremas pelan dari balik kaos putih ketat yang kupakai. Bibirnya menyusuri leherku dan napasnya panas menusuk kulit. Aku terhuyung berusaha menahan suara desahan agar tidak lolos.
Pelanggan itu kini sudah berada di rak sebelah hanya beberapa meter dariku. Aku bisa mendengar suara plastik berkeresek saat ia mengambil barang. Tanganku mencengkeram kuat pada botol minuman di rak depan. Jantungku berdegup begitu keras sampai kupikir lelaki itu bisa mendengarnya.
"Lihat Lus.. Bisik Raka dengan suara rendah namun penuh desakan. "Kamu pasti lagi deg-degan kan ? Tubuhmu berasa panas banget. Aku tahu kamu takut ketahuan tapi bagian tubuhmu yang lain justru makin basah. Katanya sambil merapatkan badannya lagi.
Aku menahan napas wajahku merah padam. Ada ketakutan dan ada rasa malu yang menusuk namun bersamaan dengan itu tubuhku bergetar hebat hingga gairah itu malah membanjiriku. Pelanggan paruh baya itu sempat menoleh sebentar ke arah lorong tempatku berdiri. Aku buru-buru menunduk pura-pura memilih botol minuman tapi tanganku masih terkunci oleh genggaman Raka di pinggang. Tiba tiba Ia berbisik lagi tapi kali ini jauh lebih keras dan hampir membuatku meringis.
Aku hampir pingsan oleh rasa malu sekaligus nikmat yang bertarung di dalam diriku. Lelaki paruh baya itu hanya sekilas menoleh lalu kembali menunduk meneliti rak berisi makanan instan. Ia tampak acuh seolah tidak melihat apa pun yang janggal.
Tubuhku sedikit lega tapi sebelum bisa bernapas panjang Raka justru menekan tubuhnya lebih rapat ke belakangku. Aku hampir menjerit tertahan ketika merasakan desakan tonjolan celananya yang keras menempel di lekuk pantatku.
"Lihat tuh.. dia nggak peduli sama sekali.
Tangannya menyusup ke bawah kaos ketatku. Jari-jarinya panas menyentuh kulit perutku lalu naik perlahan sampai dada. Aku mendesah tertahan dan bahuku bergetar. Aku mencoba menepis tapi usahaku lemah hingga lebih terlihat seperti pura-pura menolak.
"Mas jangan. Nanti… nanti kedengeran. Ucapku hampir tak bersuara.
Mendengar perkataan itu Raka malah terkekeh di telingaku. "Bukannya kamu suka ?!! Buktinya kamu aja balik lagi kesini. Udah gitu sengaja pakai baju seksi lagi. Yang pasti hari ini aku gak bakalan lepasin kamu.. Katanya pelan namun menusuk.
Aku menggigit bibirku kuat-kuat mencoba menahan suara ketika jarinya meremas dadaku dari balik bra tipis. Nafasku tercekat dan kepalaku menunduk sampai hampir menyentuh rak. Pelanggan di lorong sebelah masih terdengar mondar-mandir menurunkan satu dua barang ke dalam kantong kainnya.
"Denger baik baik ya. Kalau seandainya dia mendekat. Aku bakal tetap terus grepein badanmu. Salah sendiri punya badan seksi dan mulus kayak gini. Dan kamu nggak bakalan bisa hentiin semua ini. Ucap Raka dengan nada lebih berani.
Tubuhku langsung gemetar hebat. Setengah karena takut setengah lagi karena gairah yang semakin tak tertahan. Aku tahu malam itu aku sudah benar-benar terjebak dalam permainan berbahaya ini dan anehnya aku sama sekali tak ingin keluar. Pelanggan itu berjalan makin dekat. Lorong hanya dipisahkan satu rak tipis. Jantungku hampir meledak. Tapi Raka malah makin nekat. Tangannya meremas buah dadaku dengan keras dari balik kaos sementara tubuhnya menekan pantatku tanpa jarak.
Aku menggigit bibir kuat-kuat menahan agar suara tidak lolos. Tapi setiap gesekan dari pinggul Raka membuatku nyaris merintih. Ia tahu dan justru menunduk berbisik kasar di telingaku.
"Diam Lus. Kalau kamu bersuara dia bakal tahu. Tapi aku rasa kamu justru suka kalau ketahuan ya. Katanya dengan tawa kecil.
Aku menggeleng cepat dengan wajah memerah tapi tubuhku berkhianat. Pinggulku justru sedikit bergerak mengikuti dorongannya. Raka terkekeh rendah dan napasnya panas di leherku. Tiba-tiba pelanggan itu berdeham pelan di lorong seberang lalu mengambil sekotak susu dari rak paling atas. Aku menahan napas dan tubuhku kaku. Tapi Raka dengan sengaja menurunkan resleting celananya lalu mendesakkan miliknya di celah pantatku hanya terhalang kain tipis celana pendekku.
Uuhh.. Aku hampir pingsan oleh rasa takut dan gairah yang bercampur jadi satu.
"Mas tolong jangan di sini. Bisikku nyaris menangis.
Raka menjawab dengan tawa kecil.
"Kenapa nggak. Kamu kan suka tantangan. Lihat kita hampir ketahuan tapi kamu malah makin panas. Ucapnya penuh puas.
Tangannya merayap turun menyusup di balik celana pendekku. Jari-jarinya langsung menemukan kelembapan yang sudah tidak bisa kusembunyikan lagi. Aku mendesah keras lalu buru-buru menutup mulut dengan tangan sendiri agar tak terdengar.
"Basah banget.. Raka berdesis puas. "Di tempat umum dengan pelanggan cuma beberapa langkah dari sini kamu beneran amoy nakal yang nggak bisa menahan nafsu. katanya sambil menekan tubuhku lebih rapat.
Aku terhuyung dan tubuhku gemetar hebat hampir roboh ke rak. Pelanggan itu masih ada hanya beberapa meter tapi dunia di sekelilingku seakan menghilang. Aku hampir tidak sanggup menahan diri ketika tiba-tiba suara langkah berhenti. Pelanggan itu menoleh perlahan dan matanya sempat menyipit seakan curiga ada yang aneh. Jantungku seketika berhenti berdetak. Wajahku memanas sementara tubuhku sudah setengah terperangkap dalam dekapan Raka.
Tanganku refleks meraih rak pura-pura sibuk membaca label barang padahal tubuhku bergetar keras. Tapi Raka sama sekali tidak mundur. Ia justru semakin menekan dari belakang napasnya kasar dan tangannya masih bercokol di dalam celana pendekku. Tatapan pelanggan itu turun sebentar. Matanya seperti menangkap sesuatu yang tak seharusnya. Wajahnya terdiam beberapa detik lalu kembali menatap wajahku. Aku nyaris pingsan menahan malu dan takut. Bibirku terbuka tanpa suara. Raka malah terkekeh rendah lalu membisikkan di telingaku dengan nada penuh tantangan.
Namun bisikan itu justru terdengar begitu erotis di telinga Raka. Ia semakin nekat dan jari-jarinya bergerak lebih cepat didalam celana hingga membuat tubuhku merinding hebat. Pelanggan itu terlihat makin kikuk. Tangannya sudah memegang barang yang ingin dibeli tapi seolah enggan beranjak. Matanya terpaku ke arah kami.
Aku menutup wajahku dengan satu tangan ingin menenggelamkan diri dari rasa malu. Tapi tubuhku mengkhianati. Pinggulku sedikit terangkat mengikuti ritme dorongannya. Raka tersenyum miring ke arah pelanggan itu lalu dengan suara cukup keras untuk terdengar ia berkata.
Pelanggan itu membelalakkan mata seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya memerah tapi tidak bergerak pergi. Justru ia menatapku lebih lama seolah terperangah.
Pelanggan itu sempat berdehem dan wajahnya masih agak tegang lalu bertanya pelan sambil melirik ke arahku yang tubuhnya masih ditahan Raka di lorong sempit.
"Ehh mas jaga sikap dong. Masa di tempat umum main grepein cewek kayak gitu. ucapnya dengan nada keberatan.
"Saya bukan grepein dia pak. Tapi saya lagi geledah badannya soalnya saya curiga dia ngambil sesuatu. Sahut Raka dengan santai.
"Eh emang bener Mas. Cewek ini nyolong barusan. Tanya pelanggan itu dengan nada heran.
Raka langsung menyeringai lalu tangannya menekan pinggangku makin kuat.
"Iya Mas. Saya sendiri yang liat. Dia selipin barang kedalam celananya.. Udah jelas-jelas maling. Padahal muka imut badan seksi begini eeh.. ternyata kelakuannya kayak gitu. Katanya sambil menahan tubuhku agar tidak bergerak.
Pelanggan itu melirikku dari atas sampai bawah. Tatapannya penuh penilaian lalu ia terkekeh kecil. "Nggak nyangka ya. Cina seksi begini ternyata bisa nyuri juga. Ucapnya dengan nada mengejek.
Aku hanya bisa menunduk dengan wajah panas menahan malu. Raka menahan kepalaku agar tetap mendongak memaksaku menatap ke arah pelanggan.
"Daripada nyuri Mbak mending sekalian aja jadi jablay. Kalau emang butuh duit tinggal buka paha. Nggak usah repot-repot maling di minimarket" katanya sambil terkekeh.
Aku tercekat dan bibirku bergetar ingin membantah tapi suaraku hilang. Ia mencondongkan tubuhnya hampir sejajar dengan wajahku. Senyumnya melebar penuh nafsu.
"Kalau kamu jadi jablay beneran aku pasti jadi pelanggan tetapmu. Tiap hari aku setor peju ke rahimmu sampai penuh. Gimana lebih enak kan daripada nyuri barang receh. Ucapnya sambil menatap tajam.
Kata-kata kasar itu menghantam telingaku dan membuat tubuhku makin bergetar antara malu takut tapi juga ada aliran panas yang sulit kuingkari. Aku akhirnya memberanikan diri membuka suara meski suaraku bergetar.
"Pak saya bukan pencuri. Kataku lirih nyaris memohon.
Pelanggan itu langsung menyipitkan mata dan mulutnya miring mengejek.
"Hah mana ada sih pencuri yang ngaku. Semua maling juga kalau ditanya pasti bilang bukan saya. Sahutnya dengan nada meremehkan.
Aku tersentak. Wajahku semakin panas dan napasku tersengal. Raka di sampingku terkekeh rendah lalu menempelkan tubuhnya di punggungku dan menoleh ke arah pelanggan.
"Udah lah Pak nggak usah berdebat terus. Mendingan bapak sekalian aja bantu saya geledah badannya biar ketahuan jelas dia nyimpen barang curian di mana" ucap Raka dengan santai.
Pelanggan itu mengangkat alisnya lalu tatapannya berubah liar.
"Geledah badannya" katanya sambil tertawa pendek. "Heh kalau cara geledahnya begitu saya paling jago Mas"
Tangannya mulai bergerak mendekat ke arahku. Aku mundur setengah langkah tapi pinggangku langsung dicengkeram keras oleh Raka menahanku agar tetap di tempat. Tubuhku bergetar hebat dan jantungku berdetak kencang tak karuan.
Pelanggan itu menatapku dengan senyum sinis.
"Kamu tenang aja Neng. Kalau bener nggak nyuri ya ketahuan. Tapi kalau sampe ada barang yang nyelip di badanmu ya siap-siap aja dihukum. Ucapnya sambil melirik penuh maksud.
Tubuhku kaku ketika Raka menekan bahuku hingga aku bersandar ke rak minuman dingin. Mataku membulat apalagi ketika bapak pelanggan itu makin mendekat. Ia melipat tangan di dada sambil mengamati tubuhku.
"Pak saya bukan pencuri. Suaraku bergetar hampir berbisik.
Bapak itu terkekeh.
"Heh mana ada maling ngaku. Apalagi maling seksi kayak kamu. Daripada nyuri mending jadi jablay aja. Kalau kamu mau tiap hari gue setor peju dijamin nggak bakal kekurangan duit. Katanya sambil menelanjangiku dengan tatapan.
Pipiku panas bukan cuma karena malu tapi ada sesuatu di dalam diriku yang bergetar aneh dan berbahaya. Raka tersenyum miring. "Udah nggak usah banyak alasan !! Sekarang badanmu mau kita periksa. Biar semuanya jelas.. Bener kan pak ? Katanya sambil menoleh.
Bapak itu mengangguk cepat dengan mata berbinar. "Betul. Pencuri harus digeledah seluruh badan. Satu-satu dari atas sampai bawah. Ucapnya mantap.
Tanganku refleks ingin menutup dada dan pahaku tapi Raka langsung menepisnya.
"Jangan berontak. Ini konsekuensinya. Kamu yang bikin permainan ini jadi panas. bisiknya kasar di telingaku.
Aku gemetar ketika tangannya mulai menelusuri pinggangku lalu masuk ke dalam kaos ketatku. Bapak itu makin mendekat sambil mengawasi dengan napas berat.
"Waduh.. ternyata amoy tuh badannya mulus banget ya. Daripada nyuri mending jadi lonte aja non. Pasti banyak lelaki yang pengen antri buat nyicipin. Hehe.. Katanya sambil terkekeh.
"Hmmm iya apalagi di balik bra-nya tuh. Sana bang angkat aja biar jelas. Katanya bernafsu.
Aku menjerit kecil ketika kaos ketatku yang berwarna putih terangkat paksa. Udara dingin minimarket langsung mengenai kulitku dan mata mereka langsung menatap dengan buas.
"Waduh.. jarang banget loh ada pencuri yang sipit dan mulus kayak gini.. biasanya yang ketahuan mencuri kan yang badannya dekil. Hehe..
Raka mulai menurunkan tangannya ke celana pendek hitamku dan meraba kasar sepanjang pinggang hingga ke pangkal paha.
"Harus dicek sampai sini juga siapa tahu dia sembunyikan barang kecil di dalam celananya. Kata Raka datar.
“Betul bang. Sahut bapak itu cepat lalu mendekat dengan tatapan yang melecehkan.
“Waduh.. bang. Ternyata paha amoy licin banget ya.. Kayaknya dia cuma pura pura mencuri aja disini. Padahal sebenarnya pengen ngerasain digeledah kayak gini.
"Mana ada maling yang ngaku ? Amoy nakal seperti kamu emang mesti diberi pelajaran. Kata pelanggan itu sambil menyeringai.
“Betul pak. Nggak usah ribut lagi. Mending kita periksa aja langsung. Ayo bantu saya geledah badannya.
Senyumnya bengis, matanya menatap tajam ke arahku. Tubuhnya menekan dari depan, mendorongku semakin dalam ke rak display besi yang berguncang keras setiap kali ia menghajar. Suara hentakan tubuh dan napas berat bercampur jadi satu dengan suara barang jatuh di sekitarku.
Aku mengerang parau dan tanganku meraba rak mencari pegangan. Setiap gerakannya membuatku tersentak sehingga dadaku naik turun cepat. Wajahku panas bercampur keringat dan air mata. Raka berdiri di samping sambil tertawa rendah karena ia menikmati pemandangan kacau di depannya.
"Ayo Lus jangan pura-pura lagi. Badanmu sendiri yang minta diperlakukan kayak gini" katanya sambil menepuk pipiku keras.
Aku hanya bisa terengah dan tubuhku bergetar hebat. Aku terperangkap antara rasa malu dan gelombang panas yang makin sulit kutahan. Rak di belakangku terus berderak seakan siap roboh kapan saja.
Tiba-tiba tubuhku diputar kasar olehnya. Aku yang masih berdiri menghadapnya dibalik sehingga kini memunggunginya. Nafasku tercekat dan tubuhku terdorong ke depan. Kedua tanganku spontan berpegangan kuat pada tepian rak display di depanku agar tidak jatuh. Punggungku kini menghadap tepat ke arahnya sementara dadaku menempel setengah ke rak yang berderak pelan menahan beban.
Pinggulku ditarik mundur secara paksa. Tubuhku langsung tersentak saat hentakan-hentakan brutal kembali menghajar dari belakang. Suara dentuman tubuh kami bercampur dengan derak besi rak yang berwarna putih sehingga seluruh lorong terasa bergemuruh.
Barang-barang di rak berguncang hebat. Bungkus makanan botol dan kotak kecil berjatuhan menimbulkan suara gaduh di sekitarku. Kepalaku terhentak ke kanan dan ke kiri tanpa kendali karena mengikuti irama dorongan yang makin cepat. Rambutku berantakan menutupi sebagian wajahku dan keringat bercucuran hingga menetes ke rak yang kupegang erat-erat.
Nafasku tersengal dan dadaku naik turun liar sementara tubuhku bergetar hebat menahan hantaman yang datang tanpa henti. Jemariku mencengkeram tepian rak semakin kuat sehingga buku-buku jariku memutih karena tekanan. Kakiku goyah dan lututku gemetar namun genggamanku di rak tetap menahan agar tubuhku tidak ambruk.
Setiap hentakan membuatku terangkat sedikit dari lantai lalu terhempas kembali sehingga rak bergetar semakin keras. Suara barang berjatuhan napas berat dan erangan kecil bercampur jadi satu memenuhi lorong minimarket yang kacau.
Dorongan itu makin lama makin cepat dan makin keras hingga rak di depanku bergetar seakan akan roboh. Tanganku mencengkeram kuat tapi tubuhku tak bisa lagi mengikuti irama yang begitu liar. Nafasku terputus-putus mataku berair dan kepalaku terhentak ke depan setiap kali tubuhku diguncang.
Keringat bercampur air mata mengalir di wajahku dan rambutku menempel berantakan di pipi. Suara eranganku pecah jadi desahan panjang yang tidak lagi bisa kutahan. Setiap hentakan membuat tubuhku menegang lalu lemas kembali berulang-ulang hingga kakiku hampir tidak sanggup menopang.
Barang-barang terus berjatuhan. Sebagian menimpa kepalaku dan berserakan di lantai sehingga menambah riuh suasana. Lorong minimarket kini kacau balau penuh suara berderak napas kasar dan lenguhan yang tidak bisa dipadamkan.
Pelanggan itu akhirnya meraung pendek dengan wajah menegang. Cengkeramannya di pinggangku semakin dalam. Tubuhnya menghantamku sekali lagi dengan keras sebelum ia terdiam. Hanya napas beratnya yang terdengar memburu di belakangku.
Aku terkulai dengan kedua tanganku masih berpegangan pada rak yang hampir roboh. Kakiku gemetar hebat tubuhku basah oleh keringat dan nafasku terengah-engah. Tapi ada sensasi panas yang membakar di seluruh tubuhku.
Tubuh pelanggan itu akhirnya menjauh perlahan. Napasnya masih memburu berat. Cengkeramannya di pinggangku dilepaskan sehingga meninggalkan bekas merah di kulit. Ia mundur setengah langkah sambil tertawa rendah karena puas dengan apa yang baru saja terjadi.
Aku masih terkulai membungkuk di depan rak. Kedua tanganku gemetar hebat dan masih berpegangan erat pada tepian kayu agar tidak jatuh. Nafasku tersengal keringat menetes deras dan rambutku berantakan menutupi wajahku. Rak di depanku hampir roboh sementara barang-barang berserakan di lantai sehingga lorong minimarket tampak porak poranda.
"Kayaknya hukuman ini masih belum cukup untuk pencuri cantik sepertimu" gumam pelanggan itu sambil menyeka keringatnya. Ia menoleh ke samping dan matanya melirik Raka yang sejak tadi hanya menyaksikan dengan senyum miring.
Raka terkekeh pendek lalu melangkah mendekat. Tangannya meraih rambutku dan menarik kepalaku ke atas dengan kasar.
“Udah puas pak? Kalau gitu sekarang giliran saya yang kasih hukuman buat amoy nakal ini” katanya dingin.
Aku mendesah lemah. Tubuhku masih goyah dan lututku hampir tak sanggup menopang. Namun genggaman Raka di rambut membuatku kembali terangkat sehingga dipaksa menatap wajahnya yang penuh nafsu.
Raka menyeret tubuhku sedikit ke tengah lorong minimarket tepat di antara rak-rak yang sudah berantakan. Dengan satu tarikan kasar di rambut ia memaksaku turun hingga kedua telapak tanganku menempel di lantai yang dingin. Lututku sempat goyah tapi ia mendorong punggungku sampai aku benar-benar membungkuk rendah. Rambut panjangku jatuh terurai dan sebagian menutupi wajahku yang panas serta basah oleh keringat.
“Begini lebih pas” suaranya terdengar puas penuh dominasi. “Kamu lihat sendiri Lus semua orang bisa tahu kamu udah nggak lebih dari mainan.
Aku merasakan udara dingin lantai menusuk kulitku sementara posisiku begitu terbuka. Kedua kakiku dipaksa mengangkang dan bertumpu kuat agar tidak terjatuh. Rasa malu membakar wajahku dan seluruh tubuhku terasa hina karena diposisikan seperti itu seolah benar-benar dipajang tanpa daya.
Tiba-tiba plak! Tamparan keras mendarat di pantatku. Suaranya menggema di lorong sempit sehingga membuatku tersentak dan menjerit pendek. Raka tertawa puas mendengar reaksiku lalu menampar sekali lagi lebih keras. Sensasi perih bercampur hangat menyebar di kulitku sehingga membuatku menggigil antara sakit dan gairah yang tak tertahan.
Kedua tangannya kemudian mencengkeram pinggangku erat dengan posisinya tepat berdiri di belakangku. Dengan hentakan kasar ia menarik pinggulku sedikit ke belakang menundukkan tubuhku makin rendah lalu tanpa peringatan menghujam keras.
“Aaahh!” pekikku pecah sehingga tubuhku tersentak keras ke depan dan telapak tanganku terpeleset sedikit di lantai licin karena keringat. Rak-rak di samping berderak dan beberapa barang jatuh berserakan menambah kekacauan. Nafasku tersengal dada naik-turun cepat dan rambutku bergoyang liar ke kanan dan ke kiri setiap kali hentakan itu menghantamku dari belakang.
Raka semakin brutal. Tarikan tangannya di pinggang membuat tubuhku terdorong maju lalu ditarik mundur lagi mengikuti irama hentakannya. Suara langkahnya menjejak lantai bercampur dengan derak rak sementara desahanku makin lama makin tidak terkendali.
Aku merasakan diriku begitu rapuh tapi juga tak mampu melawan. Seluruh badanku hanya bisa mengikuti arah gempuran itu sementara genggamanku di lantai semakin erat. Kukuku sampai mencakar ubin dingin demi menahan tubuhku agar tidak terjerembab.
Raka mulai menghujam pelan seolah ingin mempermainkan tubuhku yang sudah lelah. Namun setiap detik gerakannya bertambah cepat semakin dalam dan semakin menghantam hingga membuatku merangkak tanpa kendali. Kedua telapak tanganku menekan lantai licin lututku bergeser maju dan pinggulku tetap ditarik mundur olehnya agar tetap terbuka.
“Merangkak Lus… kayak anjing” suara Raka berat dan penuh tawa puas. Tangannya mencengkeram pinggangku kuat-kuat sambil terus menghajar dari belakang.
Aku terdorong maju sedikit demi sedikit melewati lorong minimarket yang sempit. Rak-rak di sampingku berderak kaleng dan botol berguling jatuh sehingga sebagian mengenai lenganku. Rambutku terurai ke lantai dan wajahku hampir menyentuh ubin dingin setiap kali tubuhku tersentak. Nafasku terengah dada naik turun tak terkendali sementara suara desahan dan erangan bergema di ruang sempit itu.
Batang hitam berurat itu terus menghantam dari belakang tanpa memberi jeda. Raka sengaja mengaduk-aduk bagian terdalamku sehingga membuat tubuhku bergetar hebat. Setiap hentakan membuatku maju lagi bergerak merangkak ke depan seolah tubuhku hanyalah mainan yang bisa diarahkan sesukanya.
Lorong minimarket itu makin terasa panjang dan sempit. Setiap kali aku bergerak maju suara dug dug dug hentakan Raka bergema bercampur dengan suara benda-benda jatuh di rak. Rasa malu sakit dan kenikmatan bercampur jadi satu sehingga membuat tubuhku terasa makin tak berdaya di bawah kendalinya.
Lorong sempit itu jadi jalur panjang penuh derak dan denting. Setiap kali Raka menghentak dari belakang tubuhku terdorong maju tanpa kendali. Telapak tanganku bergeser di lantai licin kedua kakiku menyeret maju sementara pinggulku tetap ditarik mundur olehnya agar tak lepas dari gempuran.
Aku merangkak dengan posisi berdiri membungkuk ke depan dan menungging. Rambut panjangku terurai ke bawah dan sebagian menempel di ubin yang dingin serta kotor. Nafasku memburu dada naik turun dan keringat bercampur dengan debu yang menempel di kulitku. Setiap hentakan membuatku semakin merosot ke depan mendekati ujung lorong seolah tubuhku digiring paksa hanya dengan dorongan kasar dari belakang.
Rak di kiri dan kanan bergetar keras saat bahuku beberapa kali membentur tepian kayu. Barang-barang kecil jatuh bergelinding botol plastik terinjak dan bunyinya pecah di bawah telapak tanganku yang berusaha menjaga keseimbangan. Tapi aku tetap merangkak maju terus karena pinggangku terus digenggam erat dan ditarik sesuai irama brutal Raka.
Kepalaku terhentak ke kanan kiri mengikuti ritme hentakan pandanganku berkunang dan bibirku terbuka lebar mengeluarkan erangan lirih yang tak bisa kutahan. Semakin jauh aku bergerak di lorong itu semakin terasa betapa posisiku begitu rendah dan begitu dipaksa tunduk. Namun tubuhku tetap merespons terus maju sambil menahan derasnya guncangan dari belakang.
Raka akhirnya menghentikan dorongan maju yang memaksa tubuhku merangkak. Ia menahan pinggangku di satu titik dan menekanku tetap menungging di lantai lorong. Kedua tangannya mencengkeram kuat lalu batangnya yang sudah basah dan licin kembali menghujam masuk dengan keras sehingga menimbulkan suara kecipak berulang yang menggema di ruang sempit itu.
Setiap hentakan terasa lebih dalam dan lebih berat sehingga membuat tubuhku terlonjak ke depan meski telapak tanganku menahan di lantai. Aku melenguh panjang tubuhku bergetar dan napasku patah-patah. Raka ikut mengerang dan desahannya kian berat sementara sorot matanya memanas.
Saking nikmatnya kepala Raka mendongak ke atas sehingga urat-urat lehernya menegang. Rahangnya terkatup kuat sementara gerakannya justru makin liar dan makin dalam. Suara hantaman pinggul yang bertubrukan dengan pantatku berpadu dengan kecipak basah sehingga menciptakan irama brutal yang memenuhi lorong minimarket yang sumpek itu.
Pelanggan Itu Kembali Bergabung
Pelanggan yang tadi sempat mundur kini kembali terangsang. Aku melihatnya menarik napas kasar lalu menjatuhkan tubuhnya duduk mengangkang di lantai tepat di depanku yang masih menungging dengan tubuh terguncang hebat. Dari belakang Raka tak berhenti menghantam sehingga setiap hentakannya membuat nafasku tersengal dan tubuhku maju mundur tanpa kendali.
Pria itu meraih batangnya sendiri menggenggam erat sambil mengocok pelan. Tatapannya panas menusuk ke arahku dan menelusuri wajahku yang sudah berantakan oleh peluh serta rambut panjang yang menjuntai. Dengan suara berat ia berbisik “Isepin Non…”
Aku mendongak sehingga wajahku kini tepat sejajar dengan selangkangannya. Batangnya yang keras digenggamnya lalu diarahkan ke bibirku. Nafasku kacau tapi dorongan kasar dari belakang memaksa tubuhku terus terdorong maju. Ujung batangnya menyentuh bibirku dan rasa asin serta hangat langsung menyeruak. Aku membuka mulut perlahan mengulum meski kepalaku terus terdorong ke depan setiap kali Raka menghujam lebih keras dari belakang.
Pelanggan meringis nikmat dan jemarinya menahan belakang kepalaku agar tidak bisa mundur. “Bagus… begitu…” desisnya napasnya memburu. Lidahku bergerak lincah di sekeliling batangnya meski tersendat-sendat karena tubuhku terus terhentak ke depan.
Raka terkekeh rendah di belakang dan genggamannya di pinggangku makin kuat seolah sengaja menghantam lebih dalam agar aku makin kewalahan. Suara kecipak basah dari belakang berpadu dengan suara isapanku yang makin keras sehingga menciptakan irama liar yang memenuhi lorong sempit minimarket itu bersama erangan dua pria yang tak terbendung.
Pelanggan di depanku makin tak terkendali. Genggamannya di belakang kepalaku menekan lebih kuat dan batangnya mendorong makin dalam ke mulutku. Isapanku bercampur dengan hentakan kasar Raka dari belakang sehingga membuat kepalaku maju mundur cepat seolah menyesuaikan irama mereka berdua. Suara erangan pria itu semakin berat tubuhnya menegang lalu tiba-tiba hentakannya terhenti.
“Ahhh… keluar Non…!” desisnya parau.
Sekejap kemudian mulutku dipenuhi semburan panas dan kental. Aku tersedak sehingga cairan itu memancar deras ke lidah dan tenggorokanku lalu menetes keluar melewati bibirku yang masih melumat. Aku meringis sebagian terpaksa kutelan dan sebagian lagi bercucuran membasahi dagu serta rambut panjangku yang terurai ke lantai. Pelanggan itu jatuh terduduk napasnya terengah sementara tangannya melepas genggaman di kepalaku.
Aku belum sempat mengatur napas ketika dorongan Raka dari belakang makin brutal. Pinggulku ditarik kuat dan hentakannya makin dalam serta cepat.
“Hhh… badan lo enak banget Lus…” geramnya.
Tubuhku gemetar hebat dan sensasi panas merambat dari perut bawahku hingga ke seluruh tubuh. Aku tak kuasa menahan sehingga suara lenguhan panjang lolos dari bibirku.
“Uhhh… aku… aku keluar…!” jeritku sehingga tubuhku melengkung ke depan dan telapak tanganku menghantam keras lantai dingin lorong minimarket itu. Tubuhku bergetar liar orgasme menerjangku habis-habisan membuat nafasku terputus-putus dan mataku berkunang.
Raka justru semakin menggila dan menghujam tanpa henti seakan ingin menyalurkan semua tenaganya.
“Anjing… gue nggak tahan lagi!” raungnya. Dengan hentakan terakhir yang menghujam dalam tubuhnya menegang keras. Suara erangannya membelah lorong lalu semburan panas memancar deras memenuhi liangku hingga aku meringis merasakan hangatnya menumpahi dalam tubuhku.
Kami bertiga terkulai dengan napas berat bercampur bau keringat dan cairan yang memenuhi udara sempit minimarket. Lantai dingin rak yang berantakan dan tubuhku yang masih gemetar jadi saksi betapa liarnya permainan itu berakhir.
Begitu Raka menghela napas panjang tubuhnya masih menempel di punggungku yang lelah ia langsung menarik diri lalu terkekeh kecil. Dengan suara serak ia menoleh ke arah gudang kecil di ujung lorong.
Yang lain Ikut Bergabung
“Andi! Bimo! Cepet sini ada yang enak banget!” teriaknya lantang.
Dari gudang terdengar suara berisik gesekan kursi dan langkah terburu-buru. Tak lama kemudian Andi dan Bimo muncul dengan wajah penuh penasaran. Begitu melihatku yang masih menungging di lantai lorong rambut kusut menutupi wajah tubuh bergetar lemas dengan cairan hangat mengalir di antara pahaku tatapan mereka langsung berubah liar. Senyum nakal muncul di bibir keduanya.
Sementara itu pelanggan yang tadi sudah puas berusaha bangkit dengan napas masih memburu. Celananya belum sepenuhnya terpasang saat ia berjalan pincang ke arah pintu kaca minimarket. Dengan tangan gemetar ia mendorong pintu yang memang tidak terkunci lalu menjulurkan kepala keluar sambil melambai heboh.
“Bro sini! Cepet!” teriaknya terbata suaranya serak bercampur sisa gairah.
Di luar seorang tukang parkir berkaus lusuh dengan tubuh kekar terbakar matahari langsung menoleh penasaran. Di sampingnya seorang pemuda berjaket ojol ikut menoleh dan matanya menyipit begitu melihat apa yang terjadi di dalam. Keduanya saling pandang sejenak lalu melangkah cepat mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Dari posisiku di lantai aku bisa melihat jelas wajah mereka menempel di kaca pintu. Tatapan haus itu menusukku sehingga membuatku semakin merinding. Tukang parkir itu menyeringai lebar sementara si ojol terlihat menelan ludah keras-keras jelas terangsang dengan pemandangan yang mereka saksikan.
Raka hanya terkekeh rendah melangkah mendekat ke pintu lalu menariknya lebih lebar. Udara malam langsung menyeruak masuk membawa aroma jalanan bercampur asap kendaraan.
“Masuk lo berdua…” kata Raka dengan nada licik sambil memberi isyarat dengan tangannya. “Malam ini belum kelar.
Andi dan Bimo terkekeh saling pandang dengan senyum geli. Dua pria baru itu pun akhirnya melangkah masuk sehingga mata mereka langsung mengarah padaku yang masih menunduk di lantai. Tubuhku gemetar sadar betul kalau giliran berikutnya sudah menunggu.
Tukang parkir itu masuk lebih dulu dengan langkahnya santai tapi tatapannya liar.
“Wah rame amat di dalem…” katanya sambil terkekeh matanya tak lepas dariku yang masih terengah di lantai.
Pemuda ojol mengikuti di belakang menutup pintu kaca pelan. Ia sempat melirik kanan kiri lalu mendekat sambil berbisik
“Gila… ini beneran? Gue kira tadi cuma halu pas liat dari kaca.
Andi menepuk bahu tukang parkir tertawa kecil.
“Santai aja bro. Malam ini kita lagi ada… hiburan spesial.
“Ya ampun mana dapet beginian gratis pula” tukang parkir menimpali dengan senyum penuh nafsu.
Raka yang masih berdiri dekatku mengangkat dagunya menunjuk ke arahku.
“Nih liat sendiri. Amoy cantik ini udah siap main sama siapa aja. Tinggal kalian mau ikutan atau cuma nonton.”
Si ojol menelan ludah lagi dan kali ini wajahnya terlihat makin memerah.
“Asli gue udah nggak kuat nahan. Baru ngeliat tadi aja rasanya udah mau meledak.
Tukang parkir yang dari tadi berdiri di sampingnya tiba-tiba menyipitkan mata. Wajahnya penuh ragu.
“Lah… bukannya ini anaknya penjual bakmi di Jalan Mangga?” katanya setengah tak percaya matanya tak lepas menatapku yang masih menunduk di lantai.
Aku sontak gemetar mendengarnya. Rasa malu dan panas bercampur jadi satu sehingga membuat pipiku terbakar.
Si ojol menoleh cepat.
“Serius Bang? Yang di dekat perempatan itu?
Tukang parkir mengangguk pelan masih menatapku dengan ekspresi antara kaget dan takjub.
“Iya… gue sering liat dia kalau beli jajan sore-sore. Nggak nyangka… anak itu polos banget mukanya. Kalem pendiem. Siapa sangka bisa kayak gini…
Andi menyeringai lebar dan matanya berkilat nakal.
“Justru itu yang bikin makin panas kan? Muka kalem badan kecil gini tapi ternyata doyan juga.
Bimo ngakak keras menepuk bahu tukang parkir.
“Udah lah Bang. Kadang yang keliatan polos malah yang paling liar. Buktinya ada depan mata.
Aku hanya bisa menunduk makin dalam dan tubuhku bergetar. Tatapan mereka menusukku dari segala arah dan semakin lama basa-basi itu berlangsung semakin aku sadar kalau sebentar lagi tubuhku akan jadi rebutan.
Tukang parkir masih berdiri terpaku dan matanya tak lepas dari tubuhku. Wajahnya antara bingung terkejut tapi juga jelas-jelas terangsang.
“Gila… nggak kebayang sama sekali. Gue kira anak bakmi itu nggak pernah neko-neko…” gumamnya.
Si ojol meneguk ludah dan langkahnya maju setengah.
“Bang kalo dilihat-lihat… malah makin bikin penasaran. Boleh kan nyoba dulu?” tanyanya suara bergetar karena nafsu.
Raka yang berdiri di belakangku hanya terkekeh pendek.
“Coba aja. Malam ini semua bisa kebagian.
Aku terperangah dan tubuhku makin gemetar. Kedua pria itu saling pandang sebentar lalu tukang parkirlah yang pertama mendekat. Tangannya kasar penuh bekas kapalan tiba-tiba menyentuh pipiku. Aku reflek mengangkat wajah dan menatap matanya sekilas. Ada ragu di sana tapi lebih kuat nafsu yang sudah nggak terbendung.
“Anjrit…” desisnya pelan sambil mengusap rambutku yang berantakan. “Beneran lo mau kayak gini?
Aku tak sanggup menjawab. Aku hanya bisa terengah dan tubuhku masih terasa panas serta lelah setelah digempur Raka tadi. Tiba-tiba si ojol ikut berjongkok di sampingku dan matanya liar menelusuri dada serta wajahku. Tangannya langsung meraih bahuku mengusap pelan lalu turun ke lenganku.
“Halus banget… asli bikin nagih” katanya sambil mendekatkan wajah.
Aku merinding dan tak tahu harus lari atau pasrah. Dua pasang tangan asing kini mulai berani menelusuri tubuhku satu di pipi dan rambut satu lagi di bahu dan lengan. Si tukang parkir yang dari tadi cuma membelai rambutku akhirnya nggak tahan lagi. Dengan kasar ia membuka resleting celananya sendiri lalu mengeluarkan batangnya yang sudah keras.
“Nih Non… coba pake mulutmu” ucapnya serak nadanya antara memaksa dan menantang.
Si ojol tak mau kalah. Ia juga buru-buru menurunkan celananya dan wajahnya memerah menahan nafsu.
“Gue juga. Ayo cepetan…” katanya dengan napas terburu-buru.
Aku terbelalak mundur sedikit tapi tangan mereka berdua langsung menahanku. Tukang parkir meraih tengkukku menekan pelan agar aku berlutut di lantai. Si ojol ikut menahan pundakku. Tubuhku lemas akhirnya aku jatuh berlutut tepat di depan dua batang keras yang berdiri tegak di hadapanku.
“Pilih yang mana duluan?” ejek si tukang parkir sambil menggeser batangnya dekat ke wajahku.
Aku gemetar dan bibirku terbuka sedikit tanpa sadar. Si ojol sudah tak sabar sehingga ia mendorong pelan kepalaku ke arahnya.
“Mulut manis begini sayang kalo diem aja” desisnya.
Dengan terpaksa aku mengulum salah satunya dan merasakan keras serta panas menyesaki mulutku. Suara isapan dan desahan langsung terdengar. Sementara itu yang satunya lagi menunggu giliran dan tangannya tak henti mengusap kepalaku agar jangan berhenti.
“Anjir… enak banget” tukang parkir mendesis puas.
“Gantian bro jangan lama-lama” si ojol menyahut dengan suara serak matanya merah penuh nafsu.
Aku hanya bisa megap-megap dan mulutku sibuk bergantian mengoral batang mereka berdua sementara dari belakang aku bisa merasakan tatapan Raka dan yang lain makin panas menyaksikan semuanya.
Mulutku terus dipaksa bergantian melayani mereka. Kadang batang tukang parkir yang tebal menghujam masuk begitu dalam sampai aku nyaris tersedak lalu ditarik keluar dan segera digantikan batang si ojol yang lebih panjang tapi tak kalah keras. Suara isapan dan desahan bercampur jadi satu memenuhi ruangan sempit itu.
Tukang parkir sudah kelihatan nggak tahan. Tubuhnya menegang dan tangannya makin kuat menekan kepalaku.
“Sial… gue udah mau keluar!” geramnya. Dalam sekali dorongan batangnya mengisi mulutku penuh lalu meledak dengan semburan panas yang deras. Cairannya langsung tumpah ke dalam tenggorokanku dan sebagian mengalir keluar membasahi bibir serta daguku.
Aku terbatuk mataku berair tapi belum sempat menarik napas lega si ojol langsung menarik kepalaku ke arahnya.
“Sekarang gue… telan semua!” desisnya kasar. Ia menghujam cepat-cepat dan dalam hitungan detik tubuhnya pun kaku. Semburan hangat lain memenuhi mulutku lagi lebih banyak sampai aku hampir tak sanggup menelan semuanya.
“Anjir badan mulus gini… Cina seksi ternyata gampang juga dijinakin.
Keduanya mengerang panjang dan wajah mereka puas setengah mabuk. Aku terduduk lemas di lantai dagu dan bibirku belepotan cairan napasku tersengal-sengal. Dari belakang kudengar tawa rendah Raka dan teman-temannya jelas mereka menikmati tontonan itu.
Setelah puas tukang parkir dan si ojol mundur sebentar. Mereka terengah sambil merapikan celana. Aku terduduk lemas di lantai tubuh masih bergetar dan dagu belepotan cairan yang belum sempat aku bersihkan. Suasana jadi hening beberapa detik hanya tersisa suara napas berat yang tak beraturan.
Raka yang sejak tadi berdiri dengan senyum licik akhirnya membuka suara. Ia menepuk bahu Andi dan Bimo sambil terkekeh.
“Amoy tuh paling enak dipake rame-rame. Satu-satu nggak bakal cukup.
Tukang parkir yang masih duduk bersandar di dinding ikut menimpali sambil menyeringai.
“Bener juga. Dapetin amoy emang nggak gampang. Mereka kan biasanya jaga diri banget. Tapi kalo udah dapet ya mesti dibagi-bagi biar semua bisa ngerasain.
Si ojol mengangguk cepat dan matanya masih terpaku padaku yang lunglai di lantai.
“Asli gue nggak nyangka bisa nyicipin beginian. Rasanya bikin ketagihan.
Andi dan Bimo saling pandang lalu terkekeh puas.
“Giliran kita lagi bro. Jangan keburu capek dulu Amoy masih bisa dipanasin” kata Andi sambil melangkah mendekat ke arahku.
Aku hanya bisa menunduk dan tubuhku gemetar sementara mereka semua kini makin berani. Tatapan lapar tak pernah lepas dariku.
Ronde Kedua Yang Melelahkan
Andi yang sudah tak sabar langsung maju. Tangannya kasar mendorong bahuku hingga aku terjatuh telentang di lantai keramik dingin. Nafasku memburu tubuhku lemas tapi kedua pahaku ditarik lebar tanpa ampun.
“Buka moy. Memek lu udah jadi milik pribumi sekarang !!” desis Andi dengan suara berat penuh nafsu.
Aku sempat mencoba merapatkan kaki tapi cengkeramannya terlalu kuat. Ia berlutut tepat di antara pahaku yang terbuka paksa dan wajahnya menunduk dengan tatapan liar. Tanpa basa basi batangnya yang keras langsung menghujam masuk dengan satu hentakan.
“Arghh!” teriakku refleks saat tubuhku tersentak kuat.
Andi menggeram puas. Kedua tangannya menekan pinggangku keras agar aku tidak bisa bergerak. Tubuhku terguncang setiap kali ia menghantam dan hentakannya kasar membuat punggungku menghantam lantai berulang. Suara kecipak cepat memenuhi ruangan bercampur dengan lenguhan kasar dari mulut Andi.
“Uukkhh.. Sialan !! Nih memek bener bener bikin gue ketagihan” erangnya sambil terus menghajar dalam-dalam.
Aku hanya bisa memejamkan mata. Tanganku meremas lantai dan tubuhku pasrah saat ia terus memompa beringas. Andi masih menghantam dengan kasar sambil menoleh ke teman-temannya.
“Jangan diem aja bro.. amoy tuh lebih nikmat kalau dipake barengan” katanya setengah terengah.
Bimo segera maju lalu duduk tepat di atas dadaku. Ia menjepitkan batangnya di antara payudaraku sambil menggoyang pinggul pelan.
“Anjir lembut banget nih tetek. Bakpau daging import emang beda rasanya. gumamnya puas.
Raka sudah tak memakai celana ketika ia maju. Ia menekan lututnya di sisi kepalaku hingga wajahku terjepit di antara pahanya yang kokoh. penisnya yang sudah keras menjuntai bebas lalu menepuk pipiku berulang kali. Sentuhan hangat itu meninggalkan bekas lembab di kulitku seolah menandai kepemilikan sementara tatapan matanya tajam penuh nafsu membuat tubuhku semakin gemetar.
"Ayo isepin !! Belajar jadi amoy yang patuh sama pribumi !! Perintahnya sambil menekan batang itu ke bibirku.
Aku hanya bisa megap megap, tubuhku terjepit di antara mereka semua sementara hentakan Andi dari bawah makin brutal. Andi menghantam semakin keras di bawah, wajahnya memerah menahan nafas.
"Gantian bro. Lu jangan mau enaknya sendiri. seru Raka sambil terus memompa batangnya ke mulutku.
Bimo ikut terkekeh sambil menggoyangkan pinggul di dadaku. "Santai aja nanti kita bisa rotasi kok. Katanya sambil menarik rambutku pelan agar kepalaku menengadah.
Aku terengah dengan napas pendek pendek ketika tubuhku masih bergetar hebat. Andi menarik batangnya keluar dengan kasar dari liang kemaluanku hingga terasa panas yang menyakitkan bercampur dengan sisa kenikmatan. Aku hampir tak sempat mengatur napas ketika Raka langsung merangsek dari bawah. Ia menekan pinggulku kuat kuat dan menghujam batangnya masuk keras hingga membuatku menjerit. Tubuhku terguncang hebat, punggungku melengkung tanpa sadar sementara kedua tanganku mencengkeram lantai keramik dingin.
Belum sempat aku menguasai diri tiba tiba Bimo bergerak cepat naik ke kepalaku. Lututnya menekan lantai di sisi wajahku lalu ia memaksa mulutku terbuka. Batangnya yang keras dan basah didorong masuk begitu dalam hingga napasku tercekik. Aku meronta kecil tapi tangannya menahan kepalaku agar tidak bisa mengelak. Hawa panas dari tubuh mereka menekan dari segala arah. Aku terjebak di antara dorongan kasar Raka yang menghantam dari bawah dan paksaan Bimo yang terus memasukkan batangnya ke dalam mulutku.
Mataku berair karena sulit bernapas dan suara erangan mereka menggema di sekelilingku. Ruangan minimarket yang sepi berubah menjadi arena penuh hentakan dan desahan. Dadaku naik turun cepat, tubuhku terasa seperti terbelah dua, dan rasa malu yang menyesakkan bercampur dengan gelombang nikmat yang terus menghantamku tanpa ampun.
Sementara itu tukang parkir dan Reno si ojol ikut maju. Mereka berlutut di samping kanan dan kiri tubuhku, masing masing meraih tanganku yang lemas lalu menempelkannya ke batang mereka yang keras berdenyut. "Anjir tangan lu alus bener moy.. belum apa apa kontol gue udah mau muncrat begini. Desis tukang parkir sambil menggenggam telapak tanganku ke batangnya.
Reno menelan ludah keras keras, wajahnya tegang. "Asli enak banget dikocokin sama amoy. Katanya sambil mengarahkan tanganku untuk mengocok batangnya pelan.
Tubuhku bergetar saat rongga mulut, kemaluan dan kedua tanganku dipaksa melayani mereka bergiliran tanpa henti. Posisinya tetap sama tetapi mereka terus berotasi tanpa memberi jeda. Ruangan minimarket penuh dengan erangan dan hentakan serta tawa puas pria pria kasar itu.
Aku merasa begitu terhina karena harus melayani mereka ramai ramai di lantai keramik yang dingin. Nafasku tersengal dan wajahku panas bukan hanya karena lelah tetapi juga karena malu. Aku sadar sedang dikeroyok dan diperlakukan kasar tanpa ampun seolah aku hanyalah mainan. Hati kecilku menjerit tetapi tubuhku berkhianat.
Bayangan diriku sebagai amoy oriental berkulit putih mulus yang biasa dipandang sopan di jalanan Pecinan kini justru tergolek liar diperas nafsu pria pribumi kasar. Fantasi yang dulu hanya berputar di kepalaku kini nyata terjadi dan membuat dadaku berdebar tak karuan. Aku menggigit bibir ketika gairahku bangkit begitu kuat hingga kedua tanganku refleks mengocok batang tukang parkir dan Reno lebih cepat. Suara erangan mereka meninggi tubuh mereka bergetar keenakan dan aku sendiri merasa makin terbakar.
Di bawah Raka terus menghantam dengan keras dan setiap sodokan membuat pinggulku menentak ke atas secara refleks. Tubuhku bergerak liar mengikuti ritmenya karena hentakan itu begitu dalam dan kuat. Nafasku tersengal dan dada terasa sesak tetapi tubuhku tak bisa menahan gairah yang memuncak bersamaan dengan rasa hina yang menempel di kulit.
Bimo masih menekan kepalaku ke batangnya dengan kasar dan Raka tak memberi jeda. Gerakan Raka semakin cepat dan kuat sehingga pinggulnya menekan tubuhku dengan kekuatan yang hampir tak tertahankan. Tubuhku bergetar hebat dan ototku menegang setiap kali hentakan itu menghantam bagian terdalam. Aku menutup mata dan menggigit bibir sambil napasku pendek pendek dan jantungku berdetak kencang.
Akhirnya Raka mencapai puncaknya dan badannya mengejang sehingga setiap hentakan terakhir membuat seluruh tubuhnya tegang. Aku merasakan gelombang energi itu menyebar ke sekeliling dan desahnya memenuhi ruangan membuat udara di minimarket seolah ikut panas. Tubuhnya bergetar satu kali lagi dan perlahan ia mundur sambil menarik napas panjang sementara wajahnya menunjukkan kepuasan yang jelas. Aku masih terengah dan tubuhku bergetar karena kelelahan serta sensasi yang luar biasa sementara Bimo masih menahan belakang kepalaku agar mulutku tidak bergerak terlalu jauh.
Bimo menarik keluar batangnya dan langsung maju tanpa menunggu aba-aba. Tangannya meraih kedua kakiku hingga tertekuk lalu ia menunduk menempelkan tubuhnya di atasku. “Sekarang giliran gue. katanya dengan napas berat.
Aku hanya bisa meringis karena tubuhku masih telentang di lantai ketika batangnya langsung menusuk masuk dengan hentakan keras. Pinggangku terkunci kuat olehnya sehingga aku tidak bisa bergerak leluasa. Bimo menggeram lalu mulai menghajar cepat membuat seluruh tubuhku berguncang hebat.
Raka yang tak sabar segera mengambil posisi di belakang kepala, menjambak rambutku agar wajahku menoleh ke arah batangnya yang masih menegang setelah klimaks. “Jilat sampe bersih moy. Lu tau kan betapa berharganya peju pribumi. Perintahnya dengan suara keras.
Sementara itu, si ojol dan tukang parkir saling lirik. Mereka bergeser lebih dekat, menunggu giliran. Salah satunya berkata sambil terkekeh, “Ayo cepetan gantian, biar kita juga bisa ngerasain memeknya..
Tubuhku yang masih terguncang tiba-tiba dibalik kasar. Bimo menarik pinggangku hingga aku tengkurap di lantai, sementara wajahku menempel dingin ke ubin. Ia segera menindih dari belakang dan tanpa jeda menghujam lagi, hentakannya semakin liar karena posisinya kini lebih leluasa.
“Astaga… makin dalam gini enaknya, Amoy!” geramnya sambil menekan pinggangku keras.
Raka yang tadi menjambak rambutku kini malah duduk di depan wajahku. Ia menekan kepalaku agar mulutku langsung menelan batangnya. Nafasnya memburu, tubuhnya sedikit bergetar saat aku terpaksa menuruti.
Si ojol dan tukang parkir pun tak mau kalah. Mereka berlutut di sisi kanan dan kiri, masing-masing meraih tanganku lalu menekankan batang mereka di telapak tangan. Mereka menggiring gerakan tanganku maju mundur, memaksa agar aku mengocok mereka bergantian dengan cepat.
“Anjir, asli gila! Kayak mimpi bisa dapet Amoy kayak gini,” desis tukang parkir sambil mendesah berat.
Aku merasa tubuhku benar-benar terkepung. Dari belakang Bimo menghajar tanpa ampun, dari depan Raka menjejalkan batangnya ke mulutku, sementara kedua tanganku sibuk mengocok milik ojol dan tukang parkir yang berdenyut panas.
Dalam hatiku ada rasa terhina, tapi bersamaan dengan itu gairahku malah memuncak. Tubuhku bergoyang tak terkendali mengikuti hentakan, dan setiap sentakan pinggulku membuat Bimo menggeram makin puas.
Bimo di belakangku makin beringas, hentakannya dalam dan cepat membuat tubuhku terguncang hebat. Raka di depanku mendorong kepalaku makin dalam hingga batangnya membuatku hampir tersedak. Desahan kasar mereka memenuhi ruangan, bercampur dengan erangan berat tukang parkir dan ojol yang masih bertahan sambil menahan klimaks meski tanganku mengocok batang mereka semakin cepat.
“Uhh… nggak kuat lagi gue, anjrit!” geram Raka sambil menarik rambutku. Dengan satu hentakan terakhir tubuhnya menegang lalu meledak, cairannya menyembur deras memenuhi mulutku. Aku terpaksa menelan sebagian, sisanya tumpah berceceran di dagu dan leherku.
Melihat itu, Bimo di belakang juga meraung panjang. “Sial, gue keluar juga!” Ia menghujam sekali keras lalu menekan pinggangku kuat-kuat. Tubuhnya menegang dan semburan panasnya menghantam dalam-dalam membuatku terpekik tak berdaya. Aku tergeletak lemas di lantai, napasku terengah. Raka dan Bimo mundur sambil terkekeh puas, membiarkan tubuhku masih terbuka tak berdaya.
Tukang Parkir Dan Ojol
Aku masih merangkak di lantai dan tubuhku lemas setelah dihajar Bimo dari belakang. Cairan hangat masih menetes di antara pahaku. Kedua tanganku gemetar menopang tubuh sementara pinggulku masih terangkat tanpa daya. Raka dan Bimo mundur sambil terkekeh puas sehingga membiarkan aku tetap dalam posisi doggy yang terbuka.
“Sekarang giliran kita bro. Kita bikin nih cina gak bisa ngelupain nikmatnya kontol pribumi” kata tukang parkir sambil melirik ojol.
Tukang parkir langsung bergerak mendekat lalu menarik pinggangku kasar agar tetap bertahan dengan pantat terangkat. Sementara itu ojol berlutut di depanku meraih rambutku dan memaksa wajahku mendongak. Batangnya yang keras sudah tepat di depan bibirku siap dijejalkan masuk.
“Amoy kayak gini sayang kalau nggak dimaksimalin” bisik tukang parkir dengan suara berat sambil menyiapkan diri menancap dari belakang sementara mulutku dipaksa menerima batang ojol dari depan.
Aku masih bertumpu dengan tangan dan lutut di lantai. Tubuhku gemetar lemas tapi pantatku tetap terangkat. Tukang parkir berlutut di belakang kedua tangannya mencengkeram pinggangku lalu langsung menghujam masuk keras.
“Aarrghh gila ketat banget!” desisnya sambil menghentak tanpa ampun.
Tubuhku tersentak maju setiap kali batangnya menancap dalam-dalam. Di depanku ojol meraih rambutku kasar lalu menjejalkan batangnya ke dalam mulutku. Nafasku terhenti sesaat karena mulutku dipaksa penuh.
“Hisep yang dalam Amoy… ayo!” sergahnya pinggulnya maju mundur menghajar wajahku.
Aku terjebak di tengah dipompa brutal dari belakang sementara mulutku dipaksa melayani di depan. Suara kecipak hentakan dan erangan mereka bercampur memenuhi ruangan.
Tukang parkir makin menghajar liar setiap hentakan membuat pinggulku bergetar sementara tangannya menekan punggungku agar aku tetap merangkak. Di saat yang sama ojol memegang kepalaku dengan kedua tangannya mendorong batangnya makin dalam hingga membuatku tersedak.
“Anjir rasanya mantap banget bro” tukang parkir menggeram di belakang.
“Gue juga udah nggak kuat nahan ini” sahut ojol sambil terus menggempur mulutku.
Aku hanya bisa pasrah dan tubuhku terguncang dari dua arah. Rasa terhina bercampur dengan gairah yang meledak-ledak sehingga membuat tubuhku bergetar hebat saat mereka mengeroyokku bersamaan.
Tubuhku masih merangkak di lantai ketika tukang parkir menghajar dari belakang. Cengkeramannya di pinggangku makin kuat dan hentakannya semakin cepat hingga akhirnya ia meraung panjang.
“Arghhh… gue keluar juga moy!” desisnya dengan napas terengah.
Ia menekan pinggangku dalam-dalam dan menghujam sekali keras. Semburan panasnya muncrat deras di dalam sehingga membuatku terpekik tak berdaya. Badanku ikut bergetar saat ia menahan tubuhku erat lalu perlahan ia menarik batangnya keluar dan mundur sambil terengah.
Aku masih tertinggal di posisi merangkak. Kedua tanganku lemas menahan beban tubuh di lantai dingin. Paha dan pinggulku terbuka lebar nafas tersengal-sengal dan tubuhku bergetar akibat permainan brutal barusan.
Ojol segera maju mengambil giliran. Ia meraih bahuku membalik tubuhku kasar hingga aku terbaring telentang. Kaki-kakiku ditarik dan dilipat ke arah dada sehingga membuat posisiku terbuka penuh.
“Sekarang giliran gue moy. Gue nggak bakal kasih ampun” katanya dengan tatapan panas.
Batangnya langsung menancap dalam sekali hentakan sehingga membuat tubuhku terlonjak dan mulutku mengerang keras. Kakiku masih tertekuk menempel di dadaku sementara pinggulku ia tekan kuat-kuat agar tak bisa menghindar.
“Anjiir.. masih peret aja nih memek. Padahal udah dihajar abis-abisan sama lu pada” desisnya sambil menghajar cepat tanpa jeda.
Tubuhku terguncang hebat tiap kali ia menghantam dan punggungku berulang kali terbentur lantai dingin. Aku mengerang panjang antara sakit lelah dan gairah yang makin tak terbendung. Tanganku refleks meraih lengannya bukan untuk menolak tapi agar aku bisa menahan laju hentakannya yang semakin brutal.
“Lihat tuh mukanya. Kayak lagi keenakan diewe sama lu” tukang parkir terkekeh sambil duduk di samping. Napasnya masih terengah setelah mencapai klimaks tadi.
Tukang ojol semakin menggila. Keringat menetes dari dahinya jatuh ke dadaku dan napasnya memburu kasar. Batangnya keluar masuk cepat sehingga membuat suara kecipak basah menggema keras di ruangan itu. Pinggulku refleks ikut terangkat mencari irama meski aku merasa terhina karena tubuhku pasrah dikeroyok bergiliran.
“Arghhh… gue udah nggak tahan lagi !! raungnya.
Tubuhku terkulai telentang di lantai setelah satu hentakan keras menancap dalam dan tubuhnya menegang kaku. Aku menjerit ketika semburan spermanya memancar deras di dalam sehingga membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Ia menekan pinggangku agar tidak bergerak sambil terus mengerang panjang sampai hentakannya melambat.
Aku tetap telentang di lantai dengan kaki tertekuk di dada. Nafasku terengah dan rambutku berantakan sementara tubuhku basah oleh keringat. Ojol perlahan menarik batangnya keluar sambil masih terengah sehingga meninggalkanku terbuka dan bergetar.
Aku mencoba meluruskan kakiku karena terlalu pegal ditekuk sejak tadi dan tubuhku masih gemetar hebat setelah digempur bertubi-tubi. Nafasku tersengal dan keringat membasahi seluruh kulitku.
Ojol mundur sambil terkekeh puas lalu menjatuhkan diri duduk di lantai. Tubuhnya basah keringat dan dadanya naik turun cepat. Tukang parkir menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menyalakan rokok sehingga bau asap bercampur dengan aroma tubuh basah dan keringat memenuhi ruangan. Raka dan Bimo sudah lebih dulu duduk menyandar. Wajah mereka merah karena lelah tapi jelas menunjukkan kepuasan.
“Bener bener gak tahan gue kalau maen sama amoy” kata Tukang parkir sambil tertawa kecil.
Aku sendiri hanya bisa berbaring dan rambutku berantakan menutupi wajah. Rasa lelah dan pegal bercampur dengan degup jantung yang belum juga tenang. Tapi di sela-sela itu ada getaran aneh di tubuhku gairah yang seolah belum padam meski sudah begitu dikuras.
Ruangan menjadi hening sesaat hanya terdengar suara napas berat masing-masing. Semua tampak menikmati jeda singkat itu menunggu tenaga pulih sebelum giliran berikutnya.
Obrolan mereka masih diselingi tawa tetapi mata tukang parkir tiba-tiba kembali terpaku ke arah tubuhku. Batangnya perlahan bangkit lagi dan semakin keras karena kulitku yang putih menyatu dengan lantai keramik putih minimarket.
“Ayo kita lanjutin lagi. Gue masih belom puas nikmatin badan lu yang putih ini” katanya sambil bangkit berdiri.
Ia menghampiri lalu menjambak rambutku kasar dan menarik kepalaku ke atas hingga aku terpaksa bangun. Tubuhku masih goyah tapi cengkeramannya membuatku tak bisa melawan.
“Berdiri !! Cina kayak lu emang perlu dilatih buat muasin pribumi” katanya sambil menyeringai buas. Matanya menelanjangiku lagi tanpa berkedip.
Aku terhuyung bangun dengan kaki gemetar. Tanpa banyak bicara ia menyeretku ke arah lemari pendingin es krim di sudut ruangan. Tubuhku terhuyung lalu dadaku membentur pintu kacanya yang dingin sehingga kontras dengan panas tubuhku yang masih terbakar.
Kaca lemari mulai berembun karena kulitku yang telanjang menempel di atasnya. Aku menelungkup dengan dada terhimpit dan napasku terengah. Rambutku masih dijambak ke belakang sehingga membuat wajahku terangkat. Dari kaca itu aku bisa melihat bayangan tubuhku sendiri. Bayangan seorang perempuan Cina yang tampak hina telanjang pasrah dan diperlakukan kasar di tempat umum.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh dari belakang. Tubuhku langsung tegang dan jari-jariku mencengkeram sisi lemari. Tukang parkir berdiri rapat menekanku sehingga pinggulnya menghantam keras dan membuat nafasku tersengal. Suara tawanya kasar di telingaku. Aku menggelinjang mencoba menahan tapi begitu hentakan pertama masuk begitu dalam mulutku terbuka menjerit tertahan. Tubuhku terdorong ke depan tapi kaca dingin menahanku.
“Badan amoy yang putih gini emang paling cocok buat dijadiin pelampiasan” kata Tukang parkir.
Tukang parkir menggenggam pinggangku kuat dan hentakannya makin keras. Lemari es ikut bergetar setiap kali ia menghujam. Aku bisa merasakan betapa brutalnya setiap dorongan sehingga perutku tertekan ke kaca payudaraku melebar dan embun kaca menempel di kulitku.
Aku menggeliat dan air mataku menetes. Bukan hanya sakit tapi juga sensasi liar yang menjalar tanpa bisa aku cegah.
Aku hanya bisa merintih wajahku merah dan nafasku tidak beraturan. Belum sempat aku pulih dari hantaman bertubi itu tukang parkir menarik batangnya keluar dengan kasar lalu menepuk bokongku keras.
“Memek cina seketat gini bikin gue ketagihan” katanya sambil terengah.
Tubuhku langsung goyah ketika ia menarik batangnya keluar begitu saja. Ada kekosongan mendadak yang menusuk sehingga membuat rahimku seakan berteriak minta diisi lagi. Aku hampir roboh kalau saja genggamannya di pinggangku tidak masih menahan.
Aku menoleh sedikit bingung dan napasku masih tersengal.
“K-kenapa…” suaraku nyaris tak terdengar lebih mirip isakan.
Tukang parkir hanya menyeringai dan keringatnya menetes deras dari pelipis.
“Tenang aja gue belum kelar Moy. Gue cuma pengen bikin lo makin gila nungguin gue masukin lagi” katanya.
Tangannya menepuk-nepuk bokongku keras dan penuh kuasa. Lalu ia menggesek-gesekkan batangnya yang masih keras di celahku sengaja membuat tubuhku menggeliat tanpa sadar. Setiap gesekan meninggalkan rasa panas yang menjalar tapi tetap tak kunjung menusuk ke dalam.
Aku menggeliat dan tanganku gemetar menekan kaca. Tubuhku bergetar antara malu sakit dan haus akan dorongan yang tadi tiba-tiba hilang.
“Jangan… jangan mainin aku kayak gini…” suaraku tercekat tapi tubuhku justru mendorong pinggulku ke belakang mencari-cari lagi.
Tukang parkir tertawa rendah kasar.
“Nah gitu dong. Badan lo sendiri yang minta kan? Baru sebentar ditarik keluar udah kayak kecanduan.
Ia lalu kembali menempelkan ujungnya di bukaan yang masih basah menekan pelan tapi tidak menembus. Nafasnya memburu sementara aku hampir menangis karena disiksa menunggu.
Ujung batangnya terus digesekkan di celahku sehingga membuatku hampir gila menunggu. Setiap kali aku mendorong pinggulku ke belakang dia justru mundur sengaja mempermainkanku.
“Udah nggak tahan ya Moy? Nih badan lo udah kayak nagih dihajar lagi” bisiknya kasar di telingaku.
Aku menggeliat dan air mataku jatuh entah karena frustasi atau karena kenikmatan yang terlalu dalam.
“Masukin… jangan mainin aku…” suaraku pecah penuh malu tapi tubuhku berkhianat.
Tawa tukang parkir pecah rendah dan mengejek.
“Gue suka banget liat amoy rapih kayak lo akhirnya minta-minta kayak gini.
Tanpa aba-aba ia menghantam masuk penisnya dengan keras dalam dan brutal lebih dalam dari sebelumnya. Tubuhku langsung melenting dan kaca berembun itu bergetar keras saat dadaku menghantamnya. Jeritanku pecah nyaring bercampur dengan desah napasnya yang berat.
Dorongannya kini lebih liar dan menghantam tanpa ampun. Pinggulku ditarik maju mundur dengan paksa bokongku bertepuk keras tiap kali bertubrukan dengan pangkal batangnya. Aku terjepit tak berdaya hanya bisa pasrah pada hantaman yang seolah ingin merobek tubuhku dari dalam.
“Anjir ini baru puas! Memek cina seketat gini kudu dihajar sampe ampe jebol” teriaknya parau suaranya bergetar menahan ledakan.
Aku hanya bisa merintih dan tubuhku panas. Lututku hampir menyerah tapi genggamannya di pinggangku makin kuat sehingga memastikan aku tak lari. Setiap hentakan terasa lebih brutal dan lebih dalam sampai seluruh tubuhku bergetar hebat tercabik antara malu sakit dan kenikmatan yang tak terbendung.
Tubuhku menegang tiba-tiba dan gelombang panas merambat deras dari perut ke seluruh tubuh. Aku menjerit kecil kepalaku terhentak ke kaca yang berembun dan lututku bergetar hebat. Puncak itu menyeretku tanpa ampun sehingga membuatku menggeliat dan meremas udara kosong seolah mencari pegangan.
“Ahhh.. aku… aku nggak tahan lagi!” isakku sehingga tubuhku bergetar liar saat gelombang klimaks merobekku habis-habisan.
Tukang parkir menahan hentakan terakhirnya lalu mendesis kasar di telingaku.
“Rasain tuh badan lo udah kebiasa dihajar. Baru gue bikin lo pecah gitu aja udah keliatan rusak.
Ia menarik batangnya keluar tiba-tiba masih keras dan berdenyut basah dengan cairan hangat. Tepukan keras mendarat di bokongku sehingga membuatku meringis.
“Udah cukup gue dulu. Nih gantian lo hajar Bro” katanya sambil menoleh pada si ojol yang dari tadi menunggu dengan napas berat.
Si ojol melangkah maju dengan tatapan penuh nafsu.
“Amoy rumahan kayak gini ini emang enak buat digilir rame-rame.
Tubuhku masih gemetar lemah tapi sebelum aku bisa menarik napas tangannya yang kasar sudah meraih rambutku memaksa wajahku menempel lagi ke kaca. Penisnya yang keras menekan kasar ke liang kemaluanku yang masih basah berdenyut setelah klimaks barusan.
“Gila moy… pantatmu ini udah kayak nagih digarap. Tadi baru dihajar sekarang udah basah lagi” desisnya di telingaku.
Aku ingin menyangkal tapi suara yang keluar dari bibirku justru hanya desahan panjang. Saat itu juga aku merasakan hentakan pertamanya keras dalam dan membuat tubuhku terangkat sedikit dari kaca lalu kembali terhempas.
“Ahh—!” suaraku pecah tak bisa kutahan.
Pantulan di kaca menunjukkan wajahku meringis bercampur dengan ekspresi nikmat yang tak bisa kusembunyikan. Tangan si ojol makin erat di pinggangku tubuhnya menempel rapat di punggungku sementara hentakannya makin teratur dan makin menghujam.
“Anjing… tambah peret aja nih memek cina !! Pantesan aja lu semua pada gak mau berhenti.
Setiap dorongan membuat dadaku menghantam kaca, dingin bercampur panas tubuhku. Bayangan perempuan yang sedang dilumat tanpa ampun memantul jelas di sana. Aku ingin menutup mata tapi jambakan di rambutku tidak mengizinkan. Aku dipaksa menatap diriku sendiri, dipermalukan dan ditelanjangi, tapi di saat bersamaan aku tidak bisa mengingkari bagaimana tubuhku bergetar mencari irama dorongan itu.
Ya ampun, aku tenggelam. Tapi kenapa aku malah takut jika ini berhenti.
Hentakannya makin menggila, tubuhku dipompa tanpa jeda. Napasku sudah tidak teratur, dada naik turun cepat, keringat bercampur dengan dinginnya kaca pendingin di bawahku. Tiba tiba si ojol menarik rambutku lebih keras lalu dengan kasar ia membuka penutup kaca lemari es krim di depanku.
Sebelum sempat aku bereaksi, kepalaku ditekan masuk ke dalam lemari pendingin yang penuh kabut dingin. Uap es langsung menyelimuti wajahku, rasa beku menusuk kulitku, membuat nafasku tercekat. Tapi di saat bersamaan tubuhku tetap bergetar mengikuti hentakan brutalnya dari belakang.
"Lonte cina kayak lu pasti suka ya diewe kasar sambil disiksa kayak gini. teriaknya sambil menghantam lebih keras lagi.
Aku berusaha menjerit tapi suaraku teredam di dalam ruang sempit kaca itu. Dada menekan tepi lemari, perutku tergencet, sementara batangnya menghujam tanpa ampun. Tubuhku serasa ditarik dua arah, dingin yang menusuk wajahku dan panas yang membakar di dalam tubuhku.
Tangannya meremas pinggulku kuat lalu sekali sekali menepuk bokongku sampai terdengar bunyi keras. Aku bergetar, tubuhku seperti terbakar habis. Sensasi brutal itu membuatku tidak lagi mampu membedakan apakah aku ingin lari atau justru bertahan selamanya di posisi itu.
Tubuhku hampir tidak sanggup lagi menahan. Si ojol tiba tiba mengangkat dan menekuk kaki kananku lalu menaruhnya di atas kaca lemari display es krim. Posisi itu membuat tubuhku makin terbuka, keseimbangan badanku bener bener tergantung penuh pada cengkeraman tangannya di pinggang. Kurasakan hentakannya juga makin brutal dan keras seolah ingin merobekku dari dalam.
"Ahhh.. desisnya kasar dengan napas memburu.
Di saat bersamaan tangannya menekan kepalaku lebih dalam ke dalam lemari pendingin. Pipi dan dahiku menempel di permukaan es sehingga dingin menusuk tulang sementara tubuhku diguncang panas di belakang. Kontras itu membuatku hampir kehilangan kesadaran.
Raka mendekat dan tangannya langsung meraih buah dadaku yang berguncang liar setiap kali hentakan itu masuk begitu dalam. Jemarinya meremas keras mempermainkan puting susuku sambil terkekeh.
“Ini baru hukuman yang pas buat amoy sipit pencuri kayak kamu. Dihajar sampai nggak bisa nafas sambil teteknya diginiin” katanya.
Aku hanya bisa terisak bercampur desahan dan tubuhku melengkung tak berdaya. Setiap kali batang ojol itu menghantam lebih keras badanku maju mundur tak terkendali sementara tanganku gemetar mencengkeram tepi lemari kaca yang dingin.
“Aakk.. Udah mau tumpah nih. Lu siap siap nerima peju gue moy !!” teriak si ojol. Hentakannya semakin gila dan tubuhnya menempel kuat di belakangku sehingga membuatku tidak punya ruang sedikit pun untuk lari.
Tubuhku bergetar keras ketika hentakan si ojol makin tidak beraturan makin dalam dan makin kasar. Kakinya masih mengangkat sebelah kakiku di atas lemari es krim sehingga membuatku terentang penuh terbuka lebar tanpa daya. Kepalaku ditekan lebih keras ke kaca dingin sampai napasku terpotong-potong bercampur kabut uap dari permukaan yang beku.
“Ahhh gila moy gue udah nggak tahan lagi” teriaknya parau dengan suara penuh ketegangan.
Seketika tubuhnya menegang dan pinggulnya menghujamku begitu dalam hingga aku melengkung tajam. Ledakan hangat itu membanjir deras memenuhi rongga terdalamku. Aku menjerit pelan tubuhku bergetar hebat setengah shock dan setengah tak kuasa menahan nikmat yang mengguncang.
“Rasain nih Amoy sipit. Rahim lo sekarang jadi tempat gue nanem benih” desisnya sambil menghantam dengan sisa tenaga terakhir memastikan semuanya tumpah di dalam.
Aku hanya bisa terengah tubuhku lemas dan lututku gemetar. Raka yang masih meremas dadaku tertawa rendah dengan suara penuh ejekan.
“Bagus kayak gini baru pas. Amoy gatel pencuri akhirnya dijadiin penampung peju. Liat mukanya udah pasrah banget tapi badannya malah minta lebih.
Aku menggigil setengah malu setengah diliputi sensasi aneh yang membuatku tak bisa berhenti bergetar. Tubuhku seolah masih berdenyut merespon setiap sisa detakan di dalam diriku.
Tubuh si ojol akhirnya melemah dan genggamannya di rambutku pelan-pelan lepas. Ia mundur dengan napas terengah sementara sisa cairannya masih menetes dari dalam tubuhku mengalir hangat di antara pahaku. Aku terkulai menempel di kaca dada naik turun tak beraturan dan wajahku basah oleh keringat serta air mata.
Raka tertawa rendah di belakang.
“Baru dua ronde aja udah ambruk gini. Masih kuat kan Non?
Aku menggigil dan bibirku bergetar tanpa kata. Tubuhku masih berdenyut dan panasnya belum reda.
Tiba-tiba lenganku ditarik kasar. Tubuhku terhempas jatuh ke lantai sehingga ubin dingin langsung menyentuh kulitku yang telanjang. Sebelum sempat bangkit rambutku dijambak lagi dan kepalaku dipaksa menengadah. Mulutku terbuka lebar menahan erangan dan nafasku terpotong-potong.
Suara tukang parkir parau di telingaku.
“Udah cukup manisnya. Sekarang kita bikin lo bener-bener jadi mainan.
Aku ditarik ke tengah lorong dan dipaksa merangkak. Lututku menekan ubin keras tanganku rapuh menopang badan. Rambutku masih ditarik sehingga tubuhku diposisikan doggy di lantai telanjang pasrah dan siap dipakai lagi.
Posisi Doggy Dilantai
Rambutku dijambak kuat hingga kepalaku menengadah dengan mulut ternganga. Nafasku memburu dan tubuhku sudah telanjang bulat. Kulitku panas bercampur dinginnya lantai minimarket. Lututku menekan keras ke ubin tanganku bertumpu rapuh sementara tubuhku diposisikan doggy di lantai benar-benar diserahkan.
Andi berdiri di belakangku tubuhnya menunduk dan batangnya menekan ujung bibir vaginaku yang basah berdenyut. Sentuhan pertama itu membuatku bergetar. Sementara itu Bimo berlutut di depanku wajahnya menatap puas sambil menepuk pipiku.
“Ayo buka mulutmu” ucap Bimo dengan senyum tipis. Aku membuka bibir sambil terengah.
“Bagus. Kalau mau jadi budak harus nurut sama tuannya” bisik Bimo sambil mendorong masuk. Batangnya memenuhi rongga mulutku terasa keras dan panas sehingga membuat lidahku terjepit.
Tubuhku terhimpit di antara mereka. Dari belakang Andi menghujam dengan hentakan penuh tenaga.
“Uuhh nikmatnya” desis Andi sambil mencengkeram pinggangku.
Setiap dorongan membuat tubuhku terdorong ke depan dan mulutku semakin dalam menelan batang Bimo. Aku tersedak air mataku menetes tapi rasa itu justru membuatku semakin bergairah.
Di kanan dan kiriku Raka dan tukang parkir ikut turun tangan. Mereka jongkok di samping dan masing-masing meremas buah dadaku dengan rakus hingga aku menjerit tertahan dengan mulut penuh. Putingku dicubit dipelintir dan diremas sampai tubuhku melengkung tak berdaya.
Raka menunduk ke telingaku suaranya kasar dan mengejek.
“Lihat dirimu amoy gatel dua lubang dipakai barengan tetek digarap juga. Ini yang kamu cari kan biar semua tahu kamu nggak bisa hidup tanpa kontol pribumi.
Tubuhku berguncang di antara mereka. Setiap kali Andi menghantam dari belakang buah dadaku bergoyang keras terjepit dalam remasan tangan Raka dan tukang parkir. Setiap kali Bimo mendorong lebih dalam ke tenggorokanku aku hanya bisa mendesah tercekik mataku berair tapi tubuhku justru semakin liar menanggapinya.
Aku seperti diperas dari semua sisi dari depan dari belakang dan dari samping. Brutal keras dan kasar tapi darahku mendidih seakan tubuhku sendiri yang menuntut lebih.
Tubuhku sudah tidak karuan lagi. Lututku gemetar menahan beban tapi genggaman kuat di pinggang membuatku tidak bisa lari. Andi di belakang makin buas setiap hentakannya keras dan dalam menghantam sampai perutku seperti ditusuk dari dalam. Aku terhuyung ke depan dan mulutku makin dalam dipaksa menelan batang Bimo. Air liur bercampur lendir menetes ke daguku lalu jatuh ke lantai.
Aku tercekik dengan mata basah tapi justru tubuhku yang malah semakin panas. Punggungku melengkung dan pantatku bergetar menahan serangan sementara tangan Raka dan tukang parkir tidak berhenti menyiksa buah dadaku. Putingku diremas dan dicubit sampai rasanya nyaris meledak.
Andi sambil makin menekan pinggangku ke arah batangnya. Bimo ikut menepuk pipiku dengan batangnya yang masih menjejali mulutku.
“Nggak nyangka ya amoy yang keliatan alim kayak gini ternyata doyan diperkosa rame-rame” kata Bimo sambil menyeringai.
Desahan erangan dan benturan tubuh terdengar memenuhi lorong sempit itu. Barang-barang di rak bergetar dan sebagian jatuh berserakan di lantai. Aku makin terhimpit dan tubuhku dipaksa menerima semuanya sekaligus. Dalam hatiku aku hampir menjerit. Ya ampun tubuhku bener-bener udah nggak kuat lagi. Rasanya ingin meledak saja.
Raka mendekat ke telingaku lagi dan menggertakkan giginya sambil meremas lebih keras.
“Ngaku Lus kamu udah ketagihan dipakai barengan kayak gini kan. Lihat badanmu sendiri udah minta dikoyak sampai habis” ucap Raka dengan suara penuh ejekan.
Andi di belakang semakin brutal dan hentakannya berderak hingga membuatku berteriak tercekik dengan mulut penuh. Tubuhku sudah di ambang pinggangku serasa patah dan dadaku sakit ditekan tapi di balik semua itu rasa nikmat aneh menyeruak begitu gila sampai membuatku hampir kehilangan kesadaran.
Aku bisa merasakan klimaks itu mendekat kuat brutal dan memaksa seperti gelombang yang siap menghantam lalu menenggelamkanku habis-habisan.
Andi tiba-tiba menggeram keras dan tubuhnya menegang di belakangku. Cengkeramannya di pinggang semakin kuat lalu satu hentakan terakhir menghujam begitu dalam hingga aku hampir menjerit tercekik dengan mulut masih dijejali batang Bimo. Tubuhku ikut tersentak lalu kurasakan panas menyembur deras di dalam membanjiri rongga tubuhku.
Andi menahan napas panjang dadanya membungkuk menindih punggungku sebentar sebelum akhirnya ia mundur perlahan. Batangnya terlepas dengan bunyi basah yang memalukan. Pahaku bergetar dan cairan hangat mengalir turun di sela kakiku. Aku nyaris roboh kalau saja rambutku tidak masih dijambak keras oleh Bimo di depan.
Raka langsung menyeringai.
“Bagus Andi sekarang biar giliran yang lain” kata Raka sambil menatapku.
Tukang Parkir Yang Tak Pernah Puas
Aku hanya sempat menarik sedikit napas ketika tiba-tiba tukang parkir maju. Tubuhnya yang lebih kekar langsung meraih pinggangku kasar dan menarik pantatku ke arahnya. Sekali dorong batang tebalnya sudah menembus masuk tanpa basa basi.
Aku terpekik tertahan dan tubuhku tersentak ke depan. Bimo langsung mendorong lebih dalam ke mulutku hingga aku kembali tercekik. Kedua ujung tubuhku dijejali tanpa ampun sementara di samping Raka masih meremas buah dadaku sampai nyeri bercampur nikmat.
Aku hanya bisa mengerang dan tubuhku dipaksa menanggung serangan bergantian brutal serta tanpa ampun. Cairan yang masih mengalir dari Andi bercampur dengan hentakan baru tukang parkir sehingga sensasi di dalamku makin gila panas dan nyaris membakar.
Tubuhku bergetar hebat setiap kali hentakan tukang parkir menghantam dari belakang. Rasanya lebih keras dan lebih kasar dibanding Andi tadi seolah ia sengaja ingin menghancurkan tubuhku dari dalam. Cairan yang masih menetes membuat setiap gesekan terasa licin tapi justru semakin mempercepat hentakannya.
Aku ingin menolak tapi suaraku hanya keluar dalam bentuk erangan panjang yang tercekik karena mulutku masih dijejali Bimo. Air mata menetes di pipi bukan karena sakit tapi karena tubuhku sama sekali tidak bisa bohong. Pinggangku malah ikut bergerak mengikuti iramanya seperti sudah kehilangan kendali.
“Ughh… aaahhh” suaraku teredam sambil gemetar.
Kurasakan buah dadaku diperas dan diremas keras dari samping oleh Raka. Putingku ditarik hingga tubuhku melengkung ke depan. Gairah itu makin membuncah hingga membuatku menjerit dalam hati.
Kenapa aku begini kenapa rasanya malah makin enak batinku berteriak. Tapi justru semakin ia menghujam semakin tubuhku memohon lebih. Punggungku melengkung dan pantatku terangkat tinggi mengikuti setiap tusukan brutalnya.
"Liat tuh Raka amoynya udah nggak tahan. Badannya minta dihajar lebih keras desis tukang parkir dengan napas memburu.
Raka tertawa kecil di sampingku sambil masih menjambak rambutku.
“Emang dasar cina gatel. Dibilang hukuman malah dinikmatin. Nih badan udah ngaku duluan” kata Raka dengan nada meremehkan.
Aku memejamkan mata dan seluruh tubuhku panas serta menggigil bersamaan. Sensasi itu makin menumpuk hingga membuatku seperti terombang-ambing di antara malu takut dan kenikmatan yang semakin tak tertahankan. Aku bisa merasakan puncak itu semakin dekat sehingga tubuhku menegang setiap kali ia menghantam dalam-dalam.
Tukang parkir menghujamku semakin brutal. Hentakannya makin dalam dan makin cepat seolah ingin merobek seluruh tubuhku dari belakang. Pegangannya di pinggangku begitu kuat sampai aku tidak bisa lari meski tubuhku bergetar hebat menahan terjangan itu. Napasnya makin memburu makin dekat dan makin liar.
“Uhh sial gue nggak tahan lagi” geram tukang parkir sambil menjambak rambutku ke belakang. Sekali hentakan terakhir yang keras tubuhnya menegang dan aku merasakan hangat yang menyembur deras memenuhi rongga tubuhku. Aku sendiri menjerit panjang tubuhku ikut kejang dan klimaks menyambar seperti badai. Seluruh tubuhku lemas dan gemetar sampai hampir roboh ke lantai.
Tukang parkir menggeram puas lalu melepaskan tubuhku yang basah oleh keringat dan cairan. Aku terengah-engah dadaku naik turun cepat tapi belum sempat beristirahat Bimo sudah maju mengambil giliran. Ia menarikku kasar dan membalik tubuhku hingga aku telentang di lantai yang dingin.
Telentang Pasrah Dilantai
“Sekarang giliran gue” kata Bimo sambil meraih kedua kakiku lalu mengangkatnya tinggi dan menyandarkannya ke pundaknya. Posisi itu membuat pinggulku terangkat sehingga tubuhku terbuka sepenuhnya untuknya. Aku menggeliat dengan wajah memerah dan nafasku tercekat.
“Lihat nih Lus posisi kayak gini bikin lo nggak bisa lari. Tinggal pasrah dihajar” ucap Bimo dengan suara rendah penuh nafsu.
Ia menekan batangnya ke arahku lalu masuk dengan sekali dorongan keras. Tubuhku melengkung seketika dan erangan panjang meluncur dari bibirku. Dadaku naik turun cepat dan buah dadaku berguncang keras ketika Bimo mulai menghentak tanpa ampun sambil menekan kakiku tetap di pundaknya supaya aku tidak bisa bergerak kemana-mana.
Bimo menghajar tubuhku makin keras. Setiap hentakan membuat pinggulku terangkat tinggi lalu jatuh terbanting ke lantai. Kakiku masih terkunci di pundaknya sehingga posisiku benar-benar pasrah tanpa bisa lari.
“Akhirnya bisa gue rasain juga” desis Bimo penuh nafsu.
Tangannya meraih dadaku dan meremasnya kasar sampai aku meringis. Ia tidak berhenti di situ tangannya menampar buah dadaku berulang kali hingga kulitnya memerah. Suaranya nyaring bercampur dengan desahan napasku yang terputus-putus.
Aku menggeliat hebat dan tubuhku melengkung mengikuti setiap genjotannya yang brutal. Hentakannya cepat dan dalam hingga tubuhku terdorong maju mundur di lantai yang keras.
“Lus.. lo keliatan makin seksi aja kalau dihajar kayak gini” kata Bimo sambil kembali meremas keras buah dadaku. Jari-jarinya mencubit putingku sampai aku berteriak lirih.
Tamparannya kembali mendarat di dadaku kali ini lebih keras hingga aku tersentak. Air mataku menetes tapi tubuhku justru semakin panas dan eranganku semakin tidak terkendali.
Bimo tertawa kasar dan keringatnya menetes ke wajahku.
“Lihat diri lo sekarang jablay murahan yang malah keenakan ditampar dan dihajar” ucap Bimo sambil menatapku puas.
Bimo menghajar tubuhku tanpa ampun. Hentakannya semakin cepat dan semakin dalam sampai tubuhku terhentak keras ke lantai tiap kali ia menancapkan batangnya. Aku menjerit suaraku pecah jadi erangan panjang bercampur tangis dan dadaku terus diremas serta ditampar hingga panas berdenyut.
"Gue udah nggak tahan Lus raung Bimo dengan wajah menegang. Ia menekan kakiku makin keras di pundaknya dan menghajar dengan hentakan terakhir yang brutal.
Tubuhnya bergetar hebat lalu semburan hangat muncrat deras ke dalam tubuhku. Cairan itu memenuhi kemaluanku hingga terasa menumpuk dan meluap sehingga menetes ke paha serta lantai dingin di bawah.
Aku sendiri menegang dan tubuhku melengkung kaku saat klimaks menyambar. Gelombang nikmat itu membuatku kejang-kejang sehingga suaraku pecah jadi jeritan panjang yang memalukan. Kakiku bergetar di pundaknya tanganku mencakar lantai tapi tubuhku justru semakin tenggelam dalam rasa itu.
Bimo menunduk dan masih menghentak pelan beberapa kali untuk memastikan semuanya masuk lalu ia menggeram puas.
“Anjing !! Lo emang barang paling enak Lus” kata Bimo dengan napas terengah.
Pesta Selesai
Tubuhku ambruk lemas. Dadaku naik turun cepat dan putingku masih perih memerah akibat cubitan serta tamparannya. Cairan panas bercampur keringat mengalir hingga membuat seluruh tubuhku lengket dan berantakan.
Begitu Bimo melepaskan kakiku dari pundaknya tubuhku langsung terhempas ke lantai. Aku terkapar telentang dengan napas tersengal berat. Dada naik turun cepat seperti habis lari jauh. Seluruh tubuhku gemetar lemas tak berdaya. Keringat bercampur cairan menetes deras dari sela pahaku hingga mengotori lantai dingin minimarket itu.
Tanganku mencoba menutupi dada yang memerah karena remasan dan tamparan tadi tapi rasanya sia-sia. Putingku masih berdenyut sakit perih sekaligus hangat seolah menuntut disentuh lagi. Kakiku terbuka lebar dan paha terasa pegal tapi aku tidak punya tenaga untuk merapatkannya.
Air mataku mengalir pelan entah karena malu sakit atau sisa kenikmatan brutal yang baru saja meluluhlantakkan tubuhku. Aku hanya bisa menggeliat kecil dengan bibir bergetar tanpa kata.
Bimo sendiri terduduk sebentar di sampingku masih terengah sambil menatap puas tubuhku yang porak poranda.
"Habis lo sekarang Lus ampe lemes gitu" kata Bimo sambil tertawa rendah. Ia menepuk kasar pahaku sebelum bangkit berdiri.
Tubuhku masih terkapar di lantai dingin ketika akhirnya Bimo menarik napas panjang lalu bangkit. Cairan putihnya menetes dari batang yang mulai melemas hingga mengenai pahaku. Ia menyeringai puas lalu menarik celananya kembali ke atas.
"Udah cukup gue puas banget" ucap Bimo sambil menepuk keras bokongku sekali sebelum menjauh.
Tukang parkir yang pertama tadi sudah lebih dulu duduk di sudut sambil merapikan celananya. Ia mengambil botol minum dari rak yang jatuh lalu menenggak sekali sebelum berdiri dan keluar tanpa banyak kata. Wajahnya masih tampak puas.
Raka yang sejak tadi mengawasi menyusul menutup resleting celananya. Ia menunduk sebentar dan menepuk pipiku ringan sambil tersenyum miring.
"Kamu hebat Lus tahan juga" kata Raka dengan nada puas. Lalu ia berdiri meraih beberapa barang yang jatuh berserakan dan mengangkatnya kembali ke rak.
Bimo ikut membantu menegakkan rak yang sempat bergeser.
"Ayo rapihin dulu ntar ketahuan orang" ujar Bimo sambil mengembalikan bungkus mie instan botol minuman dan beberapa barang kecil yang berserakan akibat hentakan brutal tadi.
Aku masih lemas. Perlahan aku mengangkat tubuh dan duduk bersandar ke rak. Cairan lengket di paha membuatku meringis kecil. Dengan tangan gemetar aku meraih kaos ketatku yang sempat terlepas ke lantai lalu memakainya lagi. Kaos itu menempel kencang di kulit yang masih basah oleh keringat. Setelahnya aku meraih celana pendekku dan menariknya perlahan ke pinggang.
Begitu semuanya selesai suasana minimarket tampak seperti semula. Rak sudah rapi dan barang kembali ke tempatnya. Raka berdiri sambil menatapku matanya penuh arti lalu berbisik pelan.
"Jangan lupa… kamu sekarang milik kita" ucap Raka dengan suara rendah.
Aku menunduk wajahku merah dan jantungku masih berdebar. Tak ada kata keluar hanya napas berat yang tersisa.
Satu per satu mereka meninggalkan tempat. Tukang parkir lebih dulu melangkah keluar sambil menguap panjang seolah baru saja selesai bekerja keras. Bimo menyusul menepuk pundak Raka sambil tertawa kecil.
"Mantap bro. Gue bener bener puas banget malam ini. Lain kali kalau dia masih mau kita bawa pasukan lebih banyak lagi" kata Bimo lalu keluar menuju parkiran.
Raka masih tinggal sebentar. Ia menutup pintu minimarket dan memastikan tidak ada orang yang melihat. Setelah itu ia berjalan mendekat ke arahku yang masih duduk bersandar di rak. Tangannya menyingkap rambutku yang berantakan lalu ia berbisik.
"Inget Lus sekarang kamu nggak cuma pembeli di sini kamu bagian dari kami" kata Raka sambil tersenyum miring. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkanku sendirian.
Aku menunggu beberapa saat dan memastikan tidak ada yang tersisa. Nafasku masih berat tubuhku pegal luar biasa terutama di antara pahaku yang masih lengket dan berdenyut. Dengan susah payah aku berdiri menarik napas dalam lalu berjalan pelan menuju pintu.
Di luar udara malam terasa dingin menampar kulitku. Aku merapatkan kaos ketat dan celana pendekku yang sudah kembali kupakai meski rasanya kusut dan menempel basah di tubuh. Setiap langkah pulang terasa berat kakiku goyah seakan habis dilindas sesuatu.
Jalan Pecinan yang sepi hanya ditemani suara deru motor di kejauhan. Aku melangkah cepat tapi pikiranku penuh campur aduk malu takut namun juga ada sisa sensasi aneh yang membuat dadaku berdegup lebih cepat.
Begitu tiba di rumah aku langsung masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Tubuhku aku rebahkan di kasur masih dengan pakaian kusut itu. Air mata menetes tapi bibirku justru menggigit lembut seolah otakku tidak bisa membedakan mana penderitaan dan mana kenikmatan. Malam itu aku tertidur dalam keadaan lelah total dengan tubuh masih menyimpan jejak mereka bertiga.



Makin terjebak permainan sex sama cowo berbeda ras..menikmati
BalasHapusmasih bisa di lanjut gan
BalasHapusMakin di update makin keren
BalasHapus