By : Analconda13
Setiap pagi aku terbangun pukul 06.30 di kamar tidurku yang luas dan nyaman di rumah mewah dua lantai keluarga kami di kompleks elit Jakarta Selatan. Aku Aurelia Tan gadis berusia dua puluh satu tahun selalu tidur dengan piyama sutra tipis berwarna pastel yang menempel lembut di kulit putih mulusku.
Rambut panjangku yang dicat kecoklatan tergerai di bantal saat aku meregangkan tubuh rampingku merasakan payudara montok alami dan pinggul lebar yang sering membuat teman-teman kampusku iri. Setelah mandi air hangat dan mengoleskan lotion mahal ke seluruh tubuhku agar kulit tetap halus seperti porselen aku turun ke meja makan di lantai bawah.Mama sudah menyiapkan sarapan favoritku bubur ayam spesial, roti panggang dengan selai kacang impor dan segelas susu almond. Papa yang berusia lima puluh delapan tahun dan masih sibuk mengurus bisnis properti kecil-kecilan biasanya sudah duduk di ujung meja sambil membaca koran dan menyeruput kopi hitamnya.
"Pagi sayang. Hari ini kamu kuliah jam berapa? tanyanya lembut dengan mata penuh kebanggaan. Aku tersenyum malu-malu sambil duduk.
"Pagi paa.. Hari ini kebetulan aku ada meeting sama teman kelompok desain sampai sore.
Kehidupan kami cukup harmonis meski agak kaku seperti keluarga Chindo tradisional. Mama selalu sibuk mengurus rumah dan arisan ibu-ibu kompleks sementara Papa bekerja di ruang kerjanya yang penuh dokumen. Aku sendiri jarang keluar malam lebih suka menghabiskan waktu di kamar merancang desain grafis atau menonton drama Korea sendirian. Hidupku terasa nyaman dan terlindungi mobil mewah hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh dua liburan keluarga ke Singapura setiap tahun dan status sosial yang baik di lingkungan elit ini. Semuanya terasa sempurna aman dan jauh dari segala masalah dunia luar.
Beberapa bulan setelah kehidupan rutin yang tenang itu semuanya mulai berubah dengan cepat dan kejam. Suatu malam Papa tiba-tiba collapse di ruang kerjanya saat sedang menelepon klien. Aku ingat suara Mama berteriak histeris memanggil namaku dari lantai bawah. Aku berlari turun dengan kaki telanjang menemukan Papa tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan tubuh kaku. Rumah sakit diagnosis stroke berat biaya operasi darurat ruang ICU dan perawat pribadi semuanya datang seperti badai yang menghancurkan.
Tabungan keluarga habis dalam hitungan hari. Mama menangis setiap malam di samping tempat tidur Papa sementara aku duduk di pojok kamar rumah sakit memeluk lututku sendiri merasa dunia yang dulu aman dan mewah itu mulai retak. Kami hampir tidak punya pilihan lagi. Bisnis Papa macet dan keluarga besar di pihak Mama juga tidak bisa membantu banyak karena masalah mereka sendiri.
Lalu muncul Pak Handoko. Dia adalah tetangga baru yang pindah ke rumah megah di sebelah kanan kami sekitar sebulan sebelum papa terkena serangan stroke. Mantan Bupati katanya orang-orang di kompleks. Pria tinggi besar dengan suara berat yang penuh wibawa kulit sawo matang dan tatapan mata yang selalu terasa menusuk saat kami bertemu di depan pagar. Awalnya aku hanya menyapa sopan saat bertemu di jalan kompleks. Dia tersenyum lebar memanggilku dekk.. Lia.. dengan nada ramah tapi ada sesuatu yang berat di baliknya. Aku selalu buru-buru masuk rumah karena merasa tidak nyaman dengan cara dia melihatku seolah-olah sedang menilai setiap lekuk tubuhku dari balik baju.
Malam itu hujan deras turun tanpa henti. Rumah sakit sudah mengirim tagihan yang membuat Mama hampir pingsan. Aku menerima pesan dari nomor Pak Handoko yang entah bagaimana sudah tersimpan di ponselku.
Kalau kamu lagi butuh bantuan datang saja ke rumah saya malam ini. Saya tunggu.
Mama memohon agar aku pergi matanya bengkak karena menangis. Dia bilang bisa bantu bayar semuanya Lia. Papa tidak boleh lama di ICU.
Dengan hati berdegup kencang dan tubuh gemetar aku memakai gaun hitam sederhana panjang sampai lutut yang basah kuyup oleh hujan saat aku berjalan menyeberangi halaman kecil yang memisahkan rumah kami. Aku menekan bel pintu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Pak Handoko berdiri di sana hanya memakai kaos ketat hitam yang menempel di dada bidang dan perut kekarnya serta celana pendek rumah. Tubuhnya terasa sangat besar dan kuat dibandingkan aku. Aroma whiskey samar-samar keluar dari dalam rumah yang hangat.
"Masuklah Lia.. katanya pelan suaranya dalam dan tenang. Tangan besarnya menyentuh punggungku dengan lembut tapi tegas menuntunku masuk dan menutup pintu di belakangku. Ruangan tamu luas itu diterangi lampu temaram sofa kulit cokelat besar terlihat di tengah. Aku berdiri basah dan kedinginannya tanganku saling meremas.
"Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke sini malam-malam begini? tanyanya sambil berjalan ke meja kecil menuang whiskey ke gelas kedua.
"Om tau.. Ayahmu sekarang sedang sakit parah. Om bisa bayar semua biaya rumah sakit.. operasi.. obat dan juga perawat bahkan renovasi rumah kalau perlu. Tapi jujur aja.. om itu bukan orang yang suka memberi bantuan tanpa syarat. Dia menyerahkan gelas whiskey padaku. Tanganku gemetar saat menerimanya.
"Emang syaratnya apa pak ? tanyaku hampir berbisik suaraku kecil sekali. Handoko tersenyum tipis matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah tanpa malu.
Dia mendekat begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. Kamu jawabnya pelan tapi tegas. Selama minimal dua tahun kamu akan menjadi milik saya. Badanmu waktu luangmu dan kepatuhanmu. Kamu harus bersedia datang ke sini kapan saja om mau dan melakukan apa saja yang om perintahkan. Mengerti?
Mendengar perkataannya aku merasa dunia langsung berputar. Wajahku terasa hangat dan lututku lemas. Aku memikirkan papa yang terbaring lema sementara mama yang menangis dan tagihan yang terus menumpuk. Ini adalah awal dari segalanya.
Aku berdiri membeku di tengah ruang tamu yang megah itu tanganku masih memegang gelas whiskey yang belum kusentuh sama sekali. Kata kata Pak Handoko menggantung di udara seperti beban berat yang menekan dada. Kamu akan menjadi milik saya.
Suaraku hilang sejenak. Aku hanya hanya bisa menatap lantai marmer mengkilap di bawah kakiku air hujan dari gaunku menetes pelan membentuk genangan kecil. Pak itu maksudnya apa? tanyaku akhirnya suaraku hampir tidak terdengar gemetar. Saya saya tidak mengerti. Handoko tidak langsung menjawab. Dia mengambil gelas dari tanganku dengan lembut meletakkannya di meja lalu berjalan perlahan mengelilingiku seperti sedang menilai barang berharga.
Aku bisa merasakan tatapannya yang berat menyusuri leherku turun ke dada yang naik-turun karena napas cepat lalu ke pinggul dan kaki yang masih basah. Tubuhnya yang tinggi besar membuat aku merasa sangat kecil dan rapuh di depannya.
"Artinya sangat jelas Lia.. katanya dengan suara rendah yang tenang tapi penuh kuasa.
"Om bisa bantu menyelamatkan ayahmu. Om akan bayar semua biaya rumah sakit hari ini ini juga atau besok lusa sampai ayahmu pulih atau bahkan lebih. Tapi sebagai gantinya kamu harus bayar dengan tubuhmu. Setiap kali om mau. Setiap cara yang om mau. Kamu harus bersedia datang ke rumah ini diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua dan teman-temanmu. Kamu harus patuh. Kamu akan belajar menjadi gadis yang nurut sama om. Aku merasa pipiku panas sekali. Air mata mulai menggenang di mataku.
"Om aku masih perawan.. aku belum pernah melakukan hal seperti itu.. tolong jangan kasih aku syarat seperti ini. bisikku sambil menunduk dalam-dalam tanganku saling meremas gaun basahku. Aku.. akuu bisa kerja.. aku.. bisa cari uang dengan cara lain untuk gantiin uang om yang kupinjam.
Handoko tertawa pelan suara beratnya menggetarkan dada. Dia mendekat dari belakang hingga dadanya hampir menyentuh punggungku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya dan aroma cologne mahal bercampur whiskey. Tangan besarnya yang kasar menyentuh bahuku dengan lembut lalu perlahan turun ke lengan atasku mengusap kulit halusku yang dingin karena hujan.
"Kamu pikir om butuh uangmu bisiknya tepat di telingaku napas hangatnya menyapu daun telingaku dan membuat bulu kudukku berdiri.
"Kamu tau sendiri kan.. om ini mantan bupati. Uang bukan masalah buat om. Yang om inginkan sekarang adalah kamu. Amoy seksi yang katanya sulit ditaklukkan sama pribumi dan kemana mana selalu naik mobil mewah tanpa peduli orang disekitarnya. Jari telunjuknya perlahan menyusuri tulang belakangku dari atas gaun turun perlahan sampai hampir ke pinggang. Aku menggigil hebat.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu Lia.. lanjutnya. Kamu bisa aja pulang sekarang biarkan ayahmu keluar dari ICU karena tidak ada uang. Atau kamu angkat tanganmu dan biarkan saya buka resleting gaunmu malam ini sebagai tanda kesepakatan. Om janji akan ajari kamu secara perlahan lahan. Om tahu kamu masih suci.
Aku diam cukup lama. Air mata akhirnya jatuh ke pipiku. Pikiranku berputar-putar wajah Papa yang pucat di ICU tangis Mama tagihan yang terus menumpuk dan masa depan keluarga kami yang hancur jika aku menolok. Tangan Pak Handoko masih menempel di pinggangku sekarang menunggu dengan sabar tapi penuh tekanan. Dengan suara yang hampir pecah aku akhirnya berbisik Baiklah Pak Tangan Handoko langsung bergerak ke resleting belakang gaunku menariknya perlahan ke bawah dengan suara kecil yang terdengar sangat jelas di ruangan sunyi itu. Suara resleting gaun hitamku ditarik perlahan oleh tangan besar Pak Handoko terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan bercampur dengan detak jantungku yang menggelegar.
Aku merasakan kain gaun yang basah itu melonggar di punggungku udara hangat rumahnya menyentuh kulit telanjangku yang selama ini selalu tertutup. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat berusaha menahan air mata yang terus menggenang. Tangan kiriku secara refleks memegang bagian depan gaun agar tidak langsung jatuh tapi Pak Handoko dengan lembut namun tegas menarik kedua tanganku ke bawah. Jangan ditahan bisiknya tepat di belakang telingaku suaranya rendah dan penuh kendali. Biarkan saya lihat apa yang sekarang menjadi milik saya. Gaun hitam itu meluncur turun perlahan dari bahuku melewati lekuk payudaraku yang montok lalu jatuh ke lantai dengan suara pelan.
Aku berdiri hanya memakai bra hitam sederhana dan celana dalam matching yang basah karena hujan. Kulit putih mulusku terasa sangat kontras dengan tubuh besar sawo matang Pak Handoko di belakangku. Aku merasa telanjang rentan dan sangat malu. Tangan kananku secara otomatis berusaha menutupi dada tapi Pak Handoko segera menangkap pergelangan tanganku dengan satu tangan besarnya menahannya di samping tubuhku.
Bagus gumamnya napasnya hangat menyapu bahuku. Kulitmu memang seputih ini. Payudaramu besar sekali untuk tubuh ramping seperti kamu. Aku merasa pipiku terbakar. Tak ada pria yang pernah melihatku seperti ini sebelumnya. Bahkan mantan pacarku dulu hanya sampai ciuman dan sentuhan di atas baju saja. Kini tangan kiri Pak Handoko bergerak perlahan dari pinggangku naik ke perut datarku lalu semakin ke atas.
Jari-jarinya yang hitam dan kasar menyentuh kulit halus di bawah payudaraku membuat tubuhku menggigil hebat. Pa.. Pak pelan-pelan bisikku dengan suara gemetar hampir menangis.
"Tentu Lia. Gadis secantik kamu memang harus diperlakukan dengan lembut. Jawabnya sambil tersenyum tipis. Tapi kamu harus belajar menikmati juga.
Tangan besarnya akhirnya menangkup payudara kananku dari luar bra. Aku terkesiap kecil saat merasakan tekanan hangat dan kuat itu. Jempolnya mengusap pelan puncak payudaraku yang masih tertutup kain tipis membuat putingku mengeras tanpa bisa kucegah. Sensasi aneh yang asing dan menakutkan sekaligus terasa hangat di selangkanganku. Aku menutup mata rapat-rapat berusaha mengusir pikiran itu. Handoko mendekatkan tubuhnya lebih rapat lagi hingga aku bisa merasakan tonjolan keras di balik celana pendeknya menekan pantatku yang hanya tertutup celana dalam tipis. Tubuhnya terasa hangat dan berat.
"Sepertinya kamu belum terbiasa.. katanya pelan sambil meremas payudaraku lebih berani kali ini kedua tangannya bekerja meremas keduanya bergantian.
"Kamu gak usah takut Lia.. sebentar lagi om akan buat kamu merasa nyaman.. dan juga basah tentunya..
Hmmmm.. Aku menggeleng cepat tapi suaraku tak keluar. Aku hanya bisa menunduk melihat tangan sawo matangnya yang besar kontras sekali dengan kulit putih payudaraku. Dia terus meremas dengan lembut tapi penuh nafsu sesekali menarik pelan putingku melalui bra hingga aku tak bisa menahan desahan kecil yang malu-malu keluar dari bibirku.
"Bagus.. suara seperti itu yang om mau dengar bisiknya puas. Sekarang buka mata kamu lia.. Lihat diri kamu di cermin itu. Aku membuka mata perlahan.
Di dinding sebelah kanan ada cermin besar. Aku melihat bayangan kami berdua aku yang kecil putih dan hampir telanjang berdiri gemetar di depan pria besar berusia empat puluh delapan tahun yang memelukku dari belakang tangannya sedang meremas payudaraku dengan posesif. Itu adalah gambar yang membuatku malu setengah mati tapi juga membuat sesuatu di dalam diriku bergetar aneh. Aku berdiri di depan cermin besar itu dengan napas yang tersengal-sengal melihat bayangan diriku sendiri yang begitu asing. Kulit putih mulusku yang biasanya selalu tertutup rapi kini hampir telanjang hanya tersisa bra hitam dan celana dalam yang masih basah.
Tubuh besar Pak Handoko berdiri persis di belakangku dadanya bidang menempel di punggungku tangan sawo matangnya yang besar dan kasar masih meremas payudaraku dengan gerakan pelan tapi penuh nafsu. Setiap kali jempolnya mengusap putingku yang sudah mengeras aku merasakan getaran aneh yang menjalar dari dada hingga ke selangkanganku.
"Kamu cantik sekali.. bisiknya tepat di telingaku suaranya rendah dan bergetar seperti sedang menahan diri. Lihat sendiri Lia.. Payudara amoy yang montok ini sekarang ada di tangan om.
Aku ingin memalingkan muka tapi tangan kanannya naik ke daguku memaksa kepalaku tetap menghadap cermin. Matanya menatap pantulan mataku dengan tatapan lapar yang membuat lututku semakin lemas. Dengan gerakan ahli jari-jarinya berpindah ke kaitan bra di punggungku. Aku merasakan kaitan itu terbuka satu per satu klik klik hingga bra longgar. Aku secara refleks menekan bra ke dada dengan kedua tangan berusaha menutupi.
"Jangan ditutup.. perintahnya lembut tapi tegas. Lepaskan sendiri. Tunjukkan sama om.. Air mataku jatuh lagi. Dengan tangan gemetar aku perlahan menurunkan tali bra dari bahuku lalu melepaskannya sepenuhnya. Payudaraku yang besar dan kencang langsung terbebas bergoyang pelan karena gerakanku. Putingku yang pink muda sudah mengeras sempurna menonjol karena sentuhan dan udara dingin. Aku melihat di cermin betapa kontrasnya payudara putihku dengan tangan besar sawo matang Pak Handoko yang kembali menangkupnya dari belakang kali ini tanpa penghalang kain.
Ahh.. desahku kecil tanpa bisa kutahan saat ia meremas lebih kuat. Kulitnya kasar kontras dengan kehalusan kulitku membuat setiap remasan terasa sangat intens. Jari-jarinya memilin putingku pelan-pelan menarik sedikit lalu melepaskan berulang-ulang. Sensasi panas dan geli bercampur di dada membuat selangkanganku terasa aneh seperti ada sesuatu yang meleleh di dalam sana.
"Ternyata kamu sensitif sekali.. gumam Handoko puas. Bibirnya menyentuh bahuku mencium pelan lalu menggigit ringan kulitku hingga aku menggigil. Masih perawan tapi tubuhmu sudah bereaksi begini. Bagus. Salah satu tangannya perlahan turun dari payudaraku menyusuri perut datarku yang halus melewati pusar lalu berhenti di pinggiran celana dalamku. Jari telunjuknya mengusap garis pinggang celana dalam itu bermain-main di sana seolah menunggu reaksiku. Aku menggigit bibir kuat-kuat berusaha menahan desahan yang ingin keluar.
"Om.. aku takut bisikku dengan suara parau. Ini salah.. aku tidak seharusnya di sini.
"Tapi kamu tetap di sini jawabnya sambil tersenyum di cermin. Karena kamu tahu ayahmu butuh pertolongan om. Sekarang buka kaki sedikit Lia.. Biarkan saya periksa apakah kamu sudah basah.
Tangan besarnya menekan pelan di antara pahaku dari luar celana dalam mengusap selangkanganku dengan tekanan yang lembut tapi pasti. Aku terkesiap keras tubuhku menegang. Sensasi hangat dan basah yang memalukan itu memang sudah terasa di sana meski aku berusaha keras menyangkalnya.
Aku menggigil hebat saat telapak tangan besar Pak Handoko menekan pelan di antara pahaku dari luar celana dalam tipis yang masih basah oleh hujan. Tekanan itu lembut tapi penuh maksud jari tengahnya mengusap naik-turun mengikuti garis intimku dengan gerakan yang sangat perlahan seolah sedang mengeksplorasi sesuatu yang rapuh. Sensasi hangat yang memalukan langsung menyebar dari titik sentuhannya. Aku bisa merasakan kain celana dalamku semakin lembab bukan hanya karena hujan lagi. Pak jangan di situ bisikku dengan suara gemetar hampir menangis.
Kedua tanganku mencengkeram lengannya yang berotot berusaha menarik tangannya menjauh tapi tenaganya terlalu kuat. Tubuhku justru bereaksi sebaliknya pinggulku sedikit bergetar tanpa bisa kucegah.
Ssssttt.. diamlah gumamnya di telingaku suaranya dalam dan menenangkan seperti sedang membujuk anak kecil.
"Kamu sudah basah Lia. Lihat sendiri di cermin. Tubuhmu jujur sekali meskipun mulutmu bilang takut.
Aku memaksakan diri melihat ke cermin besar itu lagi. Gambar yang kulihat membuat pipiku terbakar malu aku yang nyaris telanjang sepenuhnya kulit putih mulusku berkilau karena keringat tipis dan sisa air hujan payudaraku yang besar bergoyang pelan setiap kali napas tersengal sementara tangan sawo matang Pak Handoko yang besar menutupi bagian intimku dari depan. Jari-jarinya terus bergerak pelan mengusap kain yang menempel di bibir vaginaku sesekali menekan titik kecil di atas yang membuat lututku hampir goyah.
“Ahh…!” desah kecil keluar dari bibirku tanpa izin saat jarinya menekan lebih kuat di titik sensitif itu. Aku langsung menggigit bibir bawahku keras, berusaha menahan suara itu.
Handoko tertawa pelan di belakangku, napasnya hangat menyapu leherku. “Kamu sensitif di klitorismu ya? Bagus. Itu artinya kamu akan cepat belajar menikmati.
Tangan kirinya masih meremas payudara kiriku dengan lembut, memilin putingku secara bergantian, sementara tangan kanannya terus bermain di antara pahaku. Dia tidak langsung memasukkan tangan ke dalam celana dalamku, hanya mengusap dari luar dengan tekanan yang semakin teratur. Setiap kali jarinya naik dan menekan klitorisku, gelombang aneh yang panas dan geli menjalar ke perut bawahku. Aku merasa ada cairan hangat yang keluar lebih banyak, membasahi kain tipis itu.
"Om Handoko… tolong… aku malu… kataku dengan suara pecah, air mata mengalir di pipiku. “Ini pertama kali… aku belum pernah disentuh orang lain di sana…
“Aku tahu.. jawabnya lembut, hampir seperti kasihan, tapi matanya di cermin penuh nafsu. “Makanya saya pelan-pelan. Malam ini saya hanya mau kenal tubuhmu dulu. Besok baru kita bicara lebih jauh.
Dia menarik tangannya sedikit, lalu dengan gerakan yang sangat perlahan, jemarinya menyusup ke balik pinggiran celana dalamku dari samping. Aku merasakan kulit jarinya yang kasar langsung menyentuh bibir vaginaku yang licin dan panas. Aku terkesiap keras, tubuhku menegang sepenuhnya.
“Basah sekali… bisiknya puas. "Lihat Lia.. Cairan kamu sudah membasahi jari saya.
Aku langsung menegang seluruh tubuhku saat jemari Pak Handoko yang kasar dan tebal menyusup ke dalam celana dalamku, menyentuh langsung kulit halus dan lembab bibir vaginaku. Sensasi itu begitu asing, begitu intim, hingga napasku terhenti sejenak. Kulit jarinya terasa panas dan kasar kontras sekali dengan kelembutan daerah intimku yang belum pernah disentuh siapa pun.
“P-Pak…!” suaraku keluar seperti erangan kecil yang pecah. Aku mencoba menutup pahaku, tapi tangan kirinya yang masih memegang pinggulku menahanku tetap terbuka. Jari tengahnya bergerak sangat perlahan, mengusap naik-turun sepanjang celah vaginaku yang licin, menyebar cairan yang keluar tanpa bisa kucegah.
“Jangan ditutup.. bisiknya tegas di telingaku. “Buka sedikit lagi Lia.. Biarkan om mainin punya kamu.
Aku gemetar hebat, tapi patuh. Dengan malu yang membakar wajahku, aku sedikit merenggangkan kaki. Pak Handoko mendengus puas. Jarinya sekarang bergerak lebih leluasa, mengusap dari bawah ke atas, lalu berhenti di titik kecil yang paling sensitif. Dia menekannya pelan dengan gerakan memutar yang sangat lambat, membuat lututku goyah dan aku hampir jatuh jika bukan karena tubuhnya yang menopangku dari belakang.
"Aaakkhh... aaahhhh om.. itu terlalu.. desahku tanpa bisa kutahan. Setiap putaran jarinya mengirim gelombang panas yang aneh ke perut bawahku membuat otot-otot di dalam sana berkontraksi tanpa sadar. Aku bisa mendengar suara basah kecil yang memalukan setiap kali jarinya bergerak. Cairanku semakin banyak membasahi jarinya dan menetes sediak ke paha dalamku. Kamu sangat basah Aurelia katanya dengan suara rendah yang penuh kepuasan. Ini baru disentuh sediak saja sudah banjir begini. Tubuh Chindo manis ini memang ternyata sangat nakal.
Dia terus memainkan klitorisku dengan gerakan melingkar yang perlahan tapi stabil sesekali menekan lebih kuat hingga aku mengeluarkan suara kecil yang memalukan. Tangan kirinya masih meremas payudara ku memilin putingku secara bergantian seolah ingin menguasai seluruh tubuhku sekaligus. Aku melihat semuanya di cermin wajahku yang merah mata yang berkaca-kaca mulut yang sediak terbuka sambil mendesah pelan dan tangan besar pria dua puluh lima tahun lebih tua dariku yang sedang memainkan tubuhku seperti alat musik.
"Udah om.. cukup.. tolong brenti.. bisikku sambil menangis pelan. Saya saya tidak tahan rasanya aneh sekali.
"Bukan aneh Lia.. jawabnya sambil mencium leherku dari belakang lidahnya menjilat kulitku pelan. Itu namanya kenikmatan. Tubuhmu sedang belajar bahwa kamu sebenarnya suka disentuh kasar oleh pria seperti om. Tiba-tiba ujung jarinya berhenti di lubang vaginaku yang masih perawan. Dia menekan pelan di sana tidak memasukkan hanya menggoda dan memutar di permukaan. Aku merasakan otot-ototku berkedut seolah ingin menarik jarinya masuk sendiri. Rasa malu dan sensasi hangat bercampur aduk di kepalaku.
"Om bisa rasakan punya kamu masih sangat sempit. gumamnya. Masih perawan betul. Besok malam kalau kamu datang lagi om akan mulai mengajari lubang kecil ini bagaimana melayani kontol om.
Dia menarik tangannya keluar dari celana dalamku perlahan. Jarinya mengkilap oleh cairanku. Tanpa malu dia mengangkat jari itu ke depan wajahku. Lihat ini perintahnya. Ini bukti kamu sudah mulai menjadi budak nafsu saya. Aku menatap jari tengah Pak Handoko yang diangkat ke depan wajahku dengan perasaan malu yang membakar seluruh tubuh. Jari itu mengkilap basah oleh cairan bening yang keluar dari tubuhku sendiri. Bau samar yang manis dan intim tercium tipis di udara. Aku ingin memalingkan muka tapi tangan kirinya memegang daguku dengan lembut namun tegas memaksa aku terus melihat.
"Lihat baik-baik lia.. bisiknya pelan suaranya dalam dan penuh kepuasan. Ini cairanmu. Baru disentuh beberapa menit saja sudah sebanyak ini. Tubuhmu ternyata sangat haus sentuhan.
Aku menggigit bibir bawahku keras hingga terasa sakit. Air mata masih mengalir pelan di pipiku tapi ada sensasi panas yang aneh di perut bawahku yang tak mau hilang. Jari itu masih basah mengkilap di bawah cahaya lampu temaram. Pak Handoko menggerakkan jarinya perlahan di depan mataku membuat cairan itu memanjang seperti benang tipis sebelum putus.
"Sekarang buka mulutmu.. perintahnya lembut tapi tak bisa dibantah. Aku menggeleng pelan suaraku hampir hilang.
"Om.. jangan itu kotor.
"Bukan kotor katanya sambil tersenyum tipis. Ini milikmu. Dan mulai sekarang segala yang keluar dari tubuhmu adalah milik om juga. Buka mulutmu amoy cantik. Jangan buat om mengulang perintah.
Dengan tubuh gemetar dan hati yang berdegup kencang aku perlahan membuka bibirku. Pak Handoko memasukkan ujung jarinya yang basah ke dalam mulutku dengan sangat perlahan. Rasa asin-manis yang aneh langsung menyentuh lidahku. Aku ingin muntah karena malu tapi ia menahan jarinnya di sana mengusap pelan lidahku. Isap pelan bisiknya. Rasakan rasa tubuhmu sendiri yang sudah basah karena tangan saya.
Aku menutup mata rapat-rapat sambil mengisap jarinnya dengan ragu. Lidahku tanpa sadan bergerak membersihkan cairanku sendiri dari jarinya. Pak Handoko mendengus pelan suara puas yang dalam. Ia mendorong jarinnya lebih dalam sedikit hingga menyentuh bagian belakang lidahku lalu menariknya keluar perlahan sambil mengusap bibir bawahku.
"Bagus amoy cantik.. pujinya sambil mengusap rambutku lembut. Kamu patuh. Itu langkah pertama yang baik. Tangan kanannya kembali turun ke pinggangku. Kali ini ia tidak ragu lagi. Dengan gerakan yang perlahan tapi pasti ia menarik pinggiran celana dalamku ke bawah. Kain tipis itu meluncur melewati pinggul lebarku melewati bokong kencangku lalu jatuh ke mata kaki.
Aku sekarang benar-benar telanjang di depannya. Udara hangat ruangan menyentuh vaginaku yang basah dan panas membuatku merasa sangat rentan. Pak Handoko mundur setengah langkah menatap tubuhku dari atas ke bawah tanpa malu. Matanya berhenti lama di antara pahaku yang mulus dan masih mengalirkan cairan.
"Putar badanmu.. perintahnya. Om mau lihat pantat seksimu juga.
Aku berbalik perlahan dengan kaki gemekar. Aku bisa merasakan tatapannya yang berat menyusuri punangku pinggang rampingku lalu berhenti di bokongku yang bulat dan kencang. Tangan besarnya langsung menyentuh meremas satu sisi bokangku dengan kuat hingga dagingku tertekan di antara jarinnya.
Sempurna.. gumangnya. Besok saya akan ajari kamu banyak hal. Tapi malam ini saya hanya mau kamu pulang dengan ingatan bahwa tubuh ini sudah bukan milikmu lagi. Ia menarikku ke pelukannya dari belakang lagi tubuh panasnya menempel sempurna di punangku. Kontolnya yang sudah sangat keras terasa menekan bokongku dari balik celana pendeknya. Tebal panas dan berdenyut. Kamu pulang sekarang bisiknya di telingaku sambil mencium leherku. Besok malam jam semban aku akan buat kamu klimaks lagi dengan lidah saya. Aku hanya bisa mengangguk lemah suaraku hilang total.
Hari berikutnya.
Sepanjang hari berikutnya aku seperti hidup dalam kabat. Kuliah terasa hampa aku hampir tidak bisa berkonsentrasi saat meeting kelompok desain. Setiap kali aku duduk aku merasakan bekas sentuhan Pak Handoko di tubuhku payudaraku yang masih agak sensitif dan area intimku yang terasa lembab setiap kali ingatan malam tadi muncul. Aku bolak-balik ke toilet hanya untuk menenangkan diri. Mama bertanya kenapa aku terlihat pucat tapi aku hanya bilang capek karena khawatir dengan Papa. Padahal dalam hati aku terus mengulang kata-kata Pak Handoko rok pendek tanpa celana dalam.
Malam harinya pukul setengah semban aku berdiri di depan cermin kamar. Setelah mandi lama sekali aku memakai rok hitam pendek yang biasanya aku pakai untuk jalan santai panangannya hanya sepuluh senti di atas lutut. Di bawahnya aku benar-benar tidak memakai apa-apa. Angin kecil saja sudah terasa menyapu vaginaku yang licin. Aku memakai kemeja putih biasa dan bra tapi rasanya tetap telanjang. Jantungku berdegup kencang saat aku keluar rumah diam-diam lewat pintu samping. Mama sudah tidur di samping Papa yang masih di rumah setelah pulang dari ICU. Aku menekan bel rumah Pak Handoko tepat jam semban. Pintu langsung terbuka seolah dia sudah menunggu. Pak Handoko berdiri di sana memakai kaos polo hitam ketat dan celana training tipis. Senyumnya lebar dan penuh kemenangan saat melihatku. Masuk Non Aurelia katanya dengan suara berat. Begitu pintu tertutup tangan besarnya langsung memeluk pinggangku dari samping dan menarikku ke dalam pelukannya. Kamu datang. Bagus. Artinya kesepakatan kita masih berlaku. Dia mencium leherku langsung dalam dan basah sambil tangannya turun meraba rok pendekku.
Jarinya menyusup ke bawah rok dari belakang langsung menyentuh bokongku yang telanjang. Tidak pakai celana dalam patuh sekali bisiknya puas sambil meremas bokongku kuat. Kamu sudah basah lagi Aku hanya bisa mengangguk malu wajahku tertanam di dada bidangnya yang hangat. Handoko menuntunku ke ruang keluarga yang lebih privat ada sofa panang dan lampu temaram. Dia duduk di sofa lalu menarikku duduk di pangkuannya menghadapnya rok pendekku naik sampai pinggang. Vaginaku yang telanjang langsung menempel di tonjolan keras di balik celana trainingnya. Kamu pikirkan saya seharian ini tanyanya sambil mengusap paha dalamku perlahan naik ke atas. Ya Pak jawabku pelan suaraku gemekar. Handoko tersenyum. Tangan kanannya naik ke dadaku membuka kancing kemeja satu per satu dengan sabar.
Begitu kemeja terbuka dia menurunkan bra-ku hingga payudaraku terbebas. Dia langsung menunduk mencium payudara kananku lalu menghisap putingku dengan lembut tapi kuat. Lidahnya berputar di sekitar puting yang sudah mengeras sesekali menggigit pelan hingga aku mendesah kecil. Ahh Pak Sambil menghisap tangan kirinya turun ke bawah rok. Karena aku tidak memakai celana dalam jarinya langsung menyentuh vaginaku yang sudah sangat basah. Kali ini dia tidak main-main. Dua jarinya mengusap celahku naik-turun beberapa kali lalu perlahan mendorong ujung jarin tengahnya masuk ke dalam lubangku yang sempit. Nghh aku menggigit bahunya karena sensasi penuh yang asing itu. Jarinya tebal dan panang masuk sangat perlahan hanya sampai satu ruas dulu lalu berhenti membiarkan dinding vaginaku menyesuaikan.
"Sempit sekali masih sangat perawan gumamnya di antara putingku. Santai saja Lia.. Biarkan jarin om masuk pelan-pelan.
Dia mulai menggerakkan jarinya keluar-masuk dengan gerakan sangat lambat hanya setengah ruas dulu sambil ibu jarinya menekan klitorisku dengan gerakan memutar. Sensasia itu jauh lebih kuat dari malam kemarin. Aku merasa pusing napasanya menjadi pendek-pendek dan tanpa sadan pinggulku mulai bergerak pelan mengikuti irama jarinya. Lihat kamu sudah mulai goyang sendiri katanya sambil tertawa pelan. Besok malam saya akan masukkan dua jari sekaligus. Lalu sebentar lagi kontol saya yang akan mengisi lubang kecil ini. Dia menambah kecepatan sediak jarinya keluar-masuk lebih dalam sekarang.
Suara basah.. slup.. slup..terdengar jelas di ruangan sunyi itu. Aku memeluk lehernya erat tubuhku gemekar hebat merasa akan meledak karena sensasia yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Pak Handoko terus menggerakkan jarinya di dalam vaginaku dengan irama yang perlahan tapi semakin dalam. Jari tengahnya yang tebal sekarang sudah masuk hampir sampai pangkal keluar-masuk dengan suara basah yang memalukan. Setiap kali ia mendorong masuk ibu jarinya menekan klitorisku dengan gerakan memutar yang teratur.
Sensasi itu semakin kuat semakin panas membuat seluruh tubuhku bergetar di pangkuannya. Ahh.. om pelan.m aku.. aku.. merasa aneh desahku di telinganya suaraku sudah parau dan gemekar. Aku memeluk lehernya lebih erat kuku jariku menekan bahunya. Payudaraku yang basah oleh air liurnya bergoyang setiap kali pinggulku tanpa sadan bergerak maju mundur mengikuti jarinya.
"Kamu tidak perlu menahan lia.. bisiknya sambil menghisap puting kiriku lebih kuat lidahnya berputar cepat. Biarkan saja datang. Kamu sudah dekat.
Dia menambah satu jari lagi. Dua jari tebalnya sekarang meregang lubang vaginaku yang sempit. Rasa penuh dan sediak perih bercampur dengan kenikmatan yang semakin membara. Jarin-jarinya melengung di dalam menyentuh dinding atas vaginaku yang sensitif setiap kali keluar-masuk. Kecepatannya bertambah sediak tetap terkontrol tapi cukup untuk membuat otot-otot di perut bawahku berkedut keras.
Sensasi itu datang seperti gelombang yang naik perlahan. Pertama panas di perut bawahku semakin membesar. Lalu kakiku menegang jari-jariku mencengkeram bahunya kuat-kuat. Napasanya menjadi pendek-pendek hampir seperti terengah. Vaginaku semakin berdenyut di sekitar jarin-jarinya mengeluarkan cairan semakin banyak hingga membasahi celana trainingnya. Pak saya ada yang mau keluar ahh suaraku naik satu oktaf hampir menjerit kecil. Keluarlah Aurelia.
"Biarkan kamu klimaks di jari om.. perintahnya tegas sambil mempercepat gerakan jarinya. Ibu jarinya menekan klitorisku lebih kuat dan cepat. Gelombang itu akhirnya datang dengan hebat. Tubingku menegang total. Vaginaku berkontraksi kuat sekali di sekitar dua jarinya berdenyut-denyut hebat. Gelombang kenikmatan yang belum pernah kurasakan melanda seluruh tubuhku. Aku menjerit pelan di bahunya suaraku pecah dan gemekar.
Lendir hangat keluar deras dari dalam vaginaku membasahi tangan Pak Handoko dan pangkuannya. Pinggulku bergetar tak terkendali seperti keang nikmat yang tak bisa kuhentikan. Ahhhhh... Om.. aku.. aku.. akuu.. Aku klimaks untuk pertama kalinya dalam hidupku di pangkuan pria empat puluh delapan tahun yang hampir tak kukenal dengan jarin-jarinya yang masih bergerak pelan di dalam vaginaku memperpanjang gelombang orgasme itu hingga tubuhku lemas total.
Setelah gelombang terakhir reda aku ambruk di dadanya napasanya tersengal-sengal tubuhku berkeringat dingin. Air mata malu mengalir lagi di pipiku. Aku merasa kotor tapi juga anehnya puas. Vaginaku masih berdenyut pelan di sekitar jarin-jarinya yang masih tertanam dalam.
Pak Handoko mencabut jarinnya perlahan lalu mengusap cairanku yang banyak di paha dalamku. Dia mengangkat kepalaku dengan lembut memaksa aku melihat matanya. Klimaks pertama kamu sangat indah katanya dengan suara puas dan berat. Dan ini baru permulaan Lia.. Besok malam saya akan buat kamu klimaks lagi dengan lidah saya. Mendengar perkataannya yang merendahkan Aku hanya bisa menunduk malu tubuhku masih lemas di pangkuannya rok pendekku sudah basah kuyup dan pikiranku kacau antara rasa bersalah yang dalam dan kenikmatan yang baru saja kucicipi untuk pertama kalinya.
.webp)

Daun muda...bakal dientot
BalasHapus