By : Analconda13
Perkenalkan namaku Budi Purnomo. Aku berusia 25 tahun dan sudah hampir tiga tahun bekerja sebagai sopir keluarga Pak Edward. Dia seorang pengusaha Chindo yang sangat kaya raya dan tinggal di kawasan Sunter. Rumahnya mewah sekali dan dilengkapi dengan fasilitas kolam renang di bagian belakangnya. Selain itu koleksi mobil pribadinya juga sangat mengagumkan dan selalu yang terbaru. Namun diantara semua kemewahan itu yang paling sering membuat aku gelisah justru istrinya yang bernama Levina. Bagi pria lajang sepertiku wanita Chindo berusia 28 tahun itu memang sangat mempesona dan terkesan mewah sekali.
Sehari hari penampilannya selalu terlihat modis meskipun sedang dalam keadaan hamil. Dia juga memiliki kulit putih mulus seperti porselen. Rambut panjangnya sedikit bergelombang dan dicat kecoklatan sehingga terlihat seperti wanita glamour kelas atas yang elegan. Selain itu Levina juga memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda. Bahkan sebelum hamil pun dia sudah sering membuat aku susah tidur karena daya tariknya yang kuat.
Sekarang Levina sedang hamil lima bulan. Perutnya mulai membulat indah di balik gaun tidurnya yang tipis dan longgar. Gaun itu selalu menempel di tempat-tempat yang membuat aku sulit mengalihkan pandangan. Suaminya sedang mengerjakan urusan bisnis ke Singapura selama dua minggu ini. Setiap pagi aku mengantar Levina ke dokter kandungan atau ke supermarket. Setiap sore aku menjemputnya pulang. Awalnya semua berjalan biasa saja. Tapi dua minggu terakhir ini Levina mulai berubah. Senyumannya lebih lama dan matanya lebih berani menatapku lewat kaca spion.
Kemarin saat aku membukakan pintu mobil untuknya dia sengaja berdiri agak dekat. Perut bundarnya hampir menyentuh lengan bajuku. Bau parfum mahalnya bercampur dengan aroma tubuh wanita hamil yang manis membuat jantungku berdegup kencang.
"Budi.. sebenarnya kamu capek gak sih jadi sopir.. kan kerjanya bolak balik nganterin aku terus.. tanyanya lembut dengan suara yang agak serak sambil tangannya pelan mengusap perutnya sendiri.
Aku hanya bisa menggeleng kepala sambil berusaha menahan debaran di dada.
Malam Yang Menggairahkan
Malam ini hujan deras mengguyur Jakarta. Pak Edward menelepon dan bilang pesawatnya delay sampai besok pagi. Levina mengirim pesan kepadaku jam sembilan malam.
"Budi malam ini tolong datang kerumahku ya. Ada yang mau aku bicarakan.
Aku memarkir motor di depan garasi samping rumah besar itu. Hujan masih deras mengguyur atap rumah sehingga suaranya memenuhi telinga. Jantungku berdegup kencang saat aku mengetuk pintu samping yang biasa digunakan karyawan. Tak lama pintu terbuka.
Levina berdiri di sana. Dia hanya memakai daster rumah tipis berwarna krem yang panjangnya sampai pertengahan paha. Kainnya sedikit basah dan menempel lembut di kulit putih mulusnya. Perut bundarnya yang lima bulan terlihat jelas. Perut itu menonjol indah dan penuh sehingga garis pinggangnya semakin melengkung. Payudaranya terlihat lebih besar dan berat dari biasanya. Puncaknya samar-samar menembus kain tipis tanpa bra. Rambutnya tergerai basah. Aroma sabun mandi bercampur dengan wangi tubuh wanita hamil yang manis langsung menyerbu hidungku.
“Masuklah Budi. katanya pelan. Suaranya lembut tapi ada getar yang berbeda. Matanya menatapku lekat tidak seperti majikan biasa.
Aku melangkah masuk. Air hujan menetes dari jaketku ke lantai marmer. Ruangan belakang dekat garasi itu temaram karena hanya lampu kecil yang menyala. Levina menutup pintu di belakangku lalu berbalik. Jarak kami sangat dekat sehingga perutnya yang hangat hampir menyentuh perutku.
“Suami saya baru besok pagi sampai dan saya sedang ngidam sesuatu yang tidak biasa” bisiknya sambil tangan kanannya pelan mengusap perut bundarnya sendiri dengan gerakan melingkar yang lambat dan menggoda.
Aku bisa melihat putingnya mengeras di balik kain. Tenggorokanku terasa kering.
“Ngidam apa Bu?” tanyaku dengan suara serak sambil berusaha tetap sopan meski hasrat sudah mulai bangkit di balik celana jeansku.
Levina menggigit bibir bawahnya pelan. Mata sipitnya yang indah menatapku dengan tatapan semakin berani hampir seperti memohon.
“Ngidam yang tidak bisa dipenuhi suami saya” jawabnya dengan suara semakin rendah dan serak. Napasnya terdengar sedikit lebih cepat.
Tangan kirinya masih mengusap perut bundarnya yang kencang dan hangat itu dengan gerakan lambat naik turun. Seolah sedang menunjukkan betapa penuh dan berat rasanya sekarang. Kain daster tipis itu semakin menempel karena gerakannya sehingga memperlihatkan lekuk paha mulusnya yang putih dan garis celah antara kedua pahanya yang samar.
Aku berdiri membeku. Aroma tubuhnya yang harum dan lembut membuatku jadi blingsatan apalagi malam ini kedua pembantu rumahnya sedang pulang kampung sehingga dia hanya sendirian saja dirumah besar itu.
“Bu ini tidak biasa” gumamku tapi suaraku justru terdengar lemah sementara di balik celana milikku sudah mulai mengeras tak terkendali.
Levina melangkah setengah langkah lebih dekat sehingga perut bundarnya yang lembut dan hangat akhirnya menyentuh perutku pelan. Aku bisa merasakan kehangatan kulitnya melalui kain tipis.
“Pak Budi kamu pria Jawa yang kuat kan? Badan kamu tegap kulit sawo matang saya lihat dari dulu” bisiknya sambil tangan kanannya naik pelan menyentuh dada bidangku di atas kaos. Jarinya menelusuri otot yang menonjol. “Saya ngidam disentuh pria seperti kamu disentuh kasar tapi hati-hati dengan perut saya ini. Mau bantu saya Pak?
Nafasnya hangat menyapu leherku dan aku melihat putingnya sudah benar-benar mengeras menembus kain daster seperti dua titik kecil yang menggoda.
Aku merasakan tangannya yang halus dan dingin itu menelusuri dada bidangku dengan gerakan lambat. Jari-jarinya menekan pelan otot-otot yang sudah tegang karena kerja berat setiap hari. Kulit sawo matangku kontras sekali dengan jari-jarinya yang putih seperti susu.
“Bu Levina ini bahaya” gumamku lagi tapi tanganku tanpa sadar sudah terangkat dan menyentuh pinggangnya yang masih ramping di samping perut bundar itu.
Perutnya yang hangat dan kencang menekan perutku lebih kuat sekarang. Aku bisa merasakan denyut kecil di dalam sana sehingga hasratku semakin liar.
Levina tersenyum kecil. Bibir tipisnya yang merah alami terbuka sedikit.
“Saya tahu tapi saya butuh ini Pak Budi. Hormon saya sedang kacau. Setiap malam saya bayangkan tangan kasar pria pribumi seperti kamu mengelus perut saya menyentuh payudara saya yang sekarang besar dan penuh ini” katanya sambil menarik tanganku naik pelan ke dadanya.
Aku merasakan payudaranya yang berat dan montok di telapak tanganku melalui kain daster tipis. Payudara itu jauh lebih besar dari sebelum hamil lembut tapi kenyal dengan puting yang sudah sangat keras menusuk telapakku. Aku meremasnya pelan dan hati-hati. Levina langsung mendesah kecil dengan mata setengah terpejam.
“Iya seperti itu” bisiknya serak.
Bau tubuhnya semakin kuat. Campuran parfum mahal sabun mandi dan aroma khas wanita hamil yang manis membuat kepalaku pusing. Tangan kirinya turun pelan ke perutku sendiri dan menyentuh pinggiran celanaku. Sementara perut bundarnya terus bergesekan pelan ke tubuhku seolah menggodaku untuk lebih berani.
Aku merasakan tangan Levina yang lembut itu turun semakin rendah. Jari-jarinya menyusup ke balik pinggiran kaosku dulu lalu berhenti di kancing celana jeans. Napasku mulai tersengal saat merasakan ujung jarinya menyentuh kulit perutku yang keras.
“Bu saya cuma sopir” kataku dengan suara parau tapi tanganku justru semakin berani meremas payudaranya yang penuh itu. Aku merasakan betapa berat dan hangatnya sampai aku merasakan sedikit kelembapan dari ujung puting susunya yang mulai bocor karena tekanan.
Levina mendesah lebih panjang. Tubuhnya sedikit gemetar sehingga perut bundarnya menekan lebih kuat ke tubuhku. Aku bisa merasakan bentuk bulat yang sempurna dan hangat itu sepenuhnya.
“Justru itu yang saya mau Pak Budi. Pria biasa yang kuat yang bisa kasih saya apa yang suami saya nggak bisa” bisiknya tepat di telingaku. Bibirnya hampir menyentuh cuping telingaku.
Tangan kirinya akhirnya membuka kancing celanaku dengan gerakan pelan dan hati-hati lalu ritsletingnya diturunkan perlahan. Aku merasakan udara dingin menyentuh celana dalamku yang sudah sangat tegang. Levina menatap ke bawah sebentar dan melihat tonjolan besar di balik kain dalam sehingga dia menggigit bibirnya lagi.
“Besok pagi suami saya baru pulang. Malam ini perut saya butuh disentuh dan saya butuh ini di dalam” katanya sambil tangannya menyentuh pelan tonjolan itu dari luar kain. Dia mengusap naik turun dengan lembut tapi penuh nafsu.
Levina menatap ke bawah dengan mata yang berkabut nafsu. Jari-jarinya yang halus terus mengusap tonjolan besar di balik celana dalamku dengan gerakan naik turun yang sangat lambat seolah sedang menikmati setiap senti panjang dan ketebalannya. Aku mendesah berat sehingga pinggulkku tanpa sadar maju sedikit dan mendorong ke telapak tangannya.
“Bu Levina besar sekali ya” gumamnya dengan suara manja yang membuat bulu kudukku berdiri. “Pria pribumi memang beda tebal dan panjang.
Tangan kananku masih meremas payudara kirinya dengan lebih berani sekarang. Aku merasakan betapa penuh dan beratnya sampai cairan hangat yang tipis mulai merembes keluar dari puting susunya dan membasahi kain daster tipis itu. Levina mendesah panjang sehingga tubuhnya sedikit melengkung dan membuat perut bundarnya yang hangat dan kencang semakin menekan perutku. Aku bisa merasakan kulit perutnya yang mulus dan elastis itu seolah ada kehidupan kecil di dalam yang ikut berdenyut pelan.
Dengan tangan kirinya yang bebas dia menarik turun celana dalamku perlahan sehingga melepaskan batang kejantananku yang sudah sangat keras dan menegang. Batang itu melompat keluar tepat di depan perut bundarnya. Batangku yang gelap dan tebal kontras sekali dengan kulit putih mulus perutnya. Levina menatapnya lekat dengan napas tersengal lalu tangannya memegang pangkalnya pelan dan merasakan panas serta denyutannya.
“Ini yang saya ngidamkan Pak Budi. Sentuh perut saya sambil saya pegang ini” bisiknya sambil menggerakkan tangannya naik turun sangat pelan di batangku. Ibu jarinya mengusap ujung yang sudah basah.
Aku berdiri tegang di depannya. Napas berat keluar dari hidungku saat tangan Levina yang lembut dan putih itu memegang batang kejantananku yang besar dan berurat dengan penuh perhatian. Gerakannya naik turun sangat pelan hampir seperti sedang memohon. Setiap kali ibu jarinya mengusap kepala yang sudah licin oleh lendir itu tubuhku bergetar kecil. Kontras warna kulit kami begitu kuat. Kontolku yang sawo matang kehitaman dengan urat-urat menonjol kontras sekali dengan jari-jarinya yang halus seperti porselen.
"Bud.. punya kamu gede banget sih.. bener bener beda jauh sama punya suamiku.. Desah Levina dengan suara manja. Matanya tidak lepas dari milikku yang berdenyut di tangannya sementara perut bundarnya yang besar dan kencang masih menekan paha depanku.
Aku tidak tahan lagi. Tangan kiriku turun pelan ke perutnya dan merasakan kulit yang mulus hangat serta elastis itu. Aku mengelusnya dengan telapak tangan lebar meraba bentuk bulat sempurna dari samping ke depan sehingga merasakan denyut kecil di dalam sana. Levina mendesah lebih dalam. Pahanya sedikit merapat dan aku bisa mencium aroma semakin kuat dari tubuhnya. Campuran manis susu hamil dan kelembapan yang mulai keluar membuat kepalaku semakin pusing.
Tangan kananku masih meremas payudara kanannya dengan lebih berani sekarang. Aku meremas bagian bawah dari pangkal sampai puncaknya sehingga cairan putih tipis keluar lagi dari puting susunya yang keras dan agak gelap karena kehamilan. Cairan itu membasahi jari-jariku.
"Remas lagi Bud.. lebih kerass.. mainin tetek aku sesuka hatimu.. bisiknya sambil mempercepat sedikit gerakan tangannya di batang penisku tapi masih tetap hati-hati seolah takut melukai sesuatu yang sudah sangat tegang ini.
"Oouhh.. Aku menggeram pelan di tenggorokan saat tangan Levina terus memompa batang kejantananku dengan gerakan lambat yang nikmat. Jari-jarinya yang ramping sesekali meremas pangkalnya yang tebal lalu naik ke kepala penis yang sudah licin dan berdenyut. Setiap gerakan membuat urat-urat di batangku semakin menonjol sehingga kontras gelapnya terlihat jelas di atas kulit perutnya yang putih mulus.
"Uuhh.. nikmaattt sekali.. cii.. desahku parau. Tangan kiriku semakin berani mengelus perut bundarnya yang besar itu dari segala arah. Aku mengelus naik turun memutar dan merasakan kekencangan kulit yang meregang karena kehamilan. Aku bisa merasakan tonjolan kecil di sana mungkin kaki atau tangan bayi yang bergerak pelan dan entah kenapa itu justru membuat nafsuku semakin membara.
Tangan kananku meninggalkan payudaranya sebentar lalu turun ke paha dalamnya yang halus. Aku menyusup ke balik daster tipis yang sudah basah oleh keringat dan cairannya sendiri. Jari-jariku menyentuh kemaluannya yang sudah sangat basah dan hangat sehingga bibirnya yang mengembang karena hormon hamil terasa penuh dan licin. Levina langsung menggigil sehingga pahanya sedikit terbuka dan memberiku akses lebih leluasa.
"Iya sentuh di situ Bud.. aku udah lama banget kepengen diginiin sama kamu.. bisiknya dengan suara gemetar. Tangan Levina di batangku semakin mantap tapi tetap pelan sementara ibu jarinya terus mengusap lubang kecil di ujung yang terus mengeluarkan cairan bening.
Aku merasakan panas dan kelembapan memek Levina yang sudah sangat basah di ujung jari-jariku. Bibir luarnya yang mengembang karena hamil terasa penuh licin dan hangat seperti sedang meminta lebih. Dengan perlahan aku mengusap celahnya naik turun sehingga merasakan cairan kental yang keluar semakin banyak setiap kali jari tengahku menyentuh klitorisnya yang sudah membesar dan keras. Levina menggigil hebat sehingga perut bundarnya yang besar itu naik turun mengikuti napasnya yang tersengal dan menekan lebih kuat ke tubuhku.
“Aaaaahh.. Budi jari kamu kasar banget.. aku suka dimainin kayak gini.. desahnya panjang. Suaranya manja dan serak sementara mata sipitnya setengah terpejam penuh kenikmatan.
Tangan kiriku masih mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang sekaligus nafsu. Aku meraba setiap inci kulit putih mulus yang meregang itu dan sesekali menekan pelan untuk merasakan gerakan kecil di dalam. Batang kejantananku yang gelap dan tebal berdenyut liar di tangan kanannya yang terus memompa pelan sehingga cairan praku sudah membuat tangannya basah dan licin. Aku memasukkan ujung jari tengahku sedikit ke dalam memeknya yang sempit meski sudah hamil sehingga merasakan dindingnya yang panas dan berdenyut menyambutku. Levina langsung mendesah keras sehingga pinggulnya maju pelan seolah ingin lebih dalam sementara payudaranya yang berat naik turun di balik daster tipis yang sudah basah oleh keringat dan ASI tipis yang bocor.
Aku memasukkan jari tengahku lebih dalam lagi ke dalam memek Levina yang hangat dan sangat licin, merasakan dinding dalamnya yang lembut tapi ketat menyusut di sekitar jari kasarku, seolah memeluknya dengan rakus. Cairannya yang kental mengalir deras membasahi telapak tanganku, suara basah kecil terdengar setiap kali jari ku gerakkan perlahan keluar-masuk. Levina menggigit bibir bawahnya kuat, perut bundarnya yang besar itu naik-turun cepat mengikuti napasnya yang semakin memburu, kulit putih mulusnya mulai memerah karena panas nafsu. “Dalam lagi, Pak… ahh… jari kamu tebal,” desahnya dengan suara gemetar, pinggulnya bergerak pelan maju mundur mengikuti irama jariku. Aku menambahkan jari telunjuk, meregangkannya pelan sambil ibu jariku terus menggosok klitorisnya yang keras dan membengkak. Tangan Levina di batangku semakin cepat sedikit, memompa dari pangkal sampai ujung dengan gerakan yang basah dan licin oleh cairanku sendiri, matanya tertuju penuh nafsu pada kontras warna — batang gelap tebalku di tangan putihnya yang halus, ujungnya yang besar hampir menyentuh sisi perut bundarnya. Aku menunduk, mencium lehernya yang harum, menghirup aroma tubuh hamilnya yang manis bercampur keringat, sambil terus memainkan dua jariku di dalam memeknya yang semakin banjir, merasakan dindingnya berdenyut-denyut semakin kuat.
Aku terus menggerakkan dua jariku di dalam memek Levina yang semakin basah dan panas, keluar-masuk dengan irama pelan tapi dalam, merasakan dinding dalamnya yang lembut berdenyut kuat setiap kali jari-jariku menyentuh titik sensitif di depan. Cairannya mengalir deras, membasahi telapak tanganku sampai ke pergelangan, suara “slup… slup…” kecil terdengar jelas di ruangan temaram itu. Levina menggelengkan kepala pelan, rambut hitamnya yang panjang berayun, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan-desahan manja yang semakin tidak tertahankan. “Pak Budi… enak… lebih dalam lagi… ahh,” erangnya serak, perut bundarnya yang besar dan kencang bergoyang pelan mengikuti gerakan pinggulnya yang maju mundur, kulit putih mulusnya yang meregang itu sesekali bergesekan hangat dengan perutku yang bidang. Aku menunduk lebih rendah, mencium payudaranya yang kanan melalui kain daster tipis, lalu mengisap putingnya yang keras dan basah. Rasa ASI manis hangat langsung memenuhi mulutku, membuat nafsuku meledak. Levina menjerit kecil, tangannya memegang kepalaku, menekanku lebih kuat ke dadanya yang penuh. Batangku yang gelap dan tebal berdenyut liar di udara, ujungnya yang licin hampir menyentuh sisi perut bundarnya yang hangat setiap kali dia bergoyang. “Saya mau lihat perut Bu Levina digoyang… mau masukin ini pelan-pelan nanti,” bisikku parau di antara isapan, sambil menambah gerakan jari di memeknya yang semakin longgar dan banjir.
Aku terus mengisap puting Levina dengan rakus, menarik ASI manis hangatnya yang tipis ke dalam mulutku sambil lidahku memutar di sekitar puncak yang keras dan gelap itu. Rasa manisnya bercampur dengan aroma kulitnya membuat kepalaku semakin pusing. Levina mendesah panjang dan gemetar, tangannya menekan kepalaku lebih kuat ke payudaranya yang penuh dan berat, sementara perut bundarnya yang besar terus bergesekan pelan ke tubuhku, kulitnya yang mulus dan hangat terasa semakin panas. Dua jariku masih bergerak ritmis di dalam memeknya yang basah sekali, keluar-masuk lebih dalam sekarang, merasakan dindingnya yang berdenyut kuat dan semakin licin. “Pak Budi… hisap lagi… perut saya panas sekali,” erangnya dengan suara yang sudah pecah, pinggulnya bergerak pelan mengikuti irama jariku. Aku melepaskan putingnya sebentar, melihat cairan ASI menetes tipis dari ujungnya yang basah, lalu beralih ke payudara kirinya, mengisap lebih kuat sambil tangan kiriku mengelus perut bundarnya dengan penuh kasih, meraba setiap lekuk yang kencang dan indah itu. Batangku yang tebal dan gelap sudah berdenyut menyakitkan, ujungnya yang licin sesekali menyentuh sisi perut Levina yang hangat, meninggalkan jejak cairan bening di kulit putih mulusnya. Levina menatap ke bawah dengan mata penuh nafsu, tangannya masih memegang batangku erat, memompa pelan dari pangkal sampai ujung sambil sesekali mengusap kepalanya ke perutnya sendiri.
Aku melepaskan payudaranya yang sudah basah oleh ludah dan ASI, lalu berdiri kembali sambil memeluk pinggang Levina pelan. “Bu, duduk dulu di bangku itu,” bisikku parau sambil menuntunnya ke bangku kayu panjang yang ada di ruangan belakang garasi itu. Bangku tersebut cukup lebar dan kokoh, biasa digunakan untuk istirahat karyawan. Levina menurut dengan mata penuh nafsu, aku membantunya duduk perlahan agar perut bundarnya yang besar tidak tertekan. Setelah duduk, aku berlutut di depannya, mengangkat kedua kakinya yang mulus dan meletakkannya di bahuku masing-masing. Daster tipisnya aku angkat sampai ke pinggang, memperlihatkan memeknya yang sudah sangat basah dan mengkilap di bawah cahaya lampu temaram. Perut bundarnya yang besar dan kencang terlihat begitu dominan dari posisi ini, naik-turun mengikuti napasnya yang tersengal. Aku mendekatkan wajahku, menghirup aroma manis-pekat cairan kewanitaannya yang melimpah, lalu menjulurkan lidahku yang lebar dan kasar. Pertama aku menjilat pelan dari bawah ke atas, menelusuri celah basahnya yang panas dalam satu gerakan lambat. Rasa asin-manis langsung memenuhi lidahku. Levina mendesah panjang, tangannya memegang kepalaku sementara perut bundarnya bergoyang pelan di depan wajahku. “Ahh… Pak Budi… jilat lagi… pelan-pelan,” erangnya serak sambil kakinya terbuka lebih lebar di bahuku. Aku menjilat lebih dalam, lidahku menyusup di antara bibir memeknya yang penuh dan licin, mengecap setiap inci dindingnya yang berdenyut panas, sesekali mengisap klitorisnya yang membesar dengan lembut sambil tangan kiriku mengelus perut bundarnya yang hangat dan kencang dari bawah.
Aku menjilat memek Levina dengan lebih dalam dan penuh perhatian. Lidahku yang lebar dan kasar menelusuri setiap lipatan bibir kemaluannya yang mengembang karena kehamilan dari bawah sampai ke klitoris yang sudah sangat membesar dan kencang. Rasa cairannya yang kental asin manis dan hangat memenuhi seluruh lidahku setiap kali aku menyusupkan lidah lebih dalam ke lubangnya yang sempit tapi licin sekali.
Levina mendesah panjang dan gemetar. Tangan kanannya memegang kepalaku erat sambil tangan kirinya mengusap perut bundarnya sendiri dengan gerakan melingkar yang lambat.
"Buddd.. uuhhh.. kamu pinter banget muasin wanita.. lidah kamu bikin aku makin gak tahan.. aaahhh... erangnya serak. Suaranya bergema pelan di ruangan garasi yang temaram.
Perutnya yang besar dan kencang naik turun cepat di depan wajahku. Kulit putih mulusnya yang meregang terasa hangat saat tangan kiriku terus mengelusnya dari bawah dan meraba tonjolan-tonjolan kecil di dalam sana. Aku mengisap klitorisnya pelan-pelan lalu menariknya ke dalam mulutku dan melepaskan bergantian dengan jilatan lebar yang menutupi seluruh memeknya yang banjir. Cairannya mengalir deras ke daguku dan membasahi bangku kayu di bawahnya. Levina membuka pahanya lebih lebar di bahuku sehingga pinggulnya maju sedikit seolah meminta lidahku semakin dalam. Aku memasukkan lidahku sejauh mungkin dan mengecap dinding dalamnya yang berdenyut panas serta lembut sementara hidungku menekan klitorisnya yang sensitif.
Aku melepaskan mulutku dari kemaluan Levina yang sudah banjir dan mengkilap lalu berdiri perlahan di depannya sambil membantu dia turun dari bangku kayu itu.
"Sekarang giliran enci yang melayani saya.. bisikku parau dengan suara serak penuh nafsu.
Levina menatapku dengan mata berkabut. Bibirnya yang merah sedikit terbuka lalu perlahan berlutut di lantai garasi yang dingin di depanku. Perut bundarnya yang besar dan kencang terlihat sangat dominan saat dia berlutut sehingga menekan ke paha depannya sendiri dan membuat posisinya sedikit membungkuk. Aku berdiri tegak di hadapannya. Batang kejantananku yang gelap tebal dan berurat menonjol keras tepat di depan wajahnya yang cantik. Levina mengangkat tangan kanannya yang putih halus lalu memegang pangkal batangku yang panas dengan lembut dan merasakan denyutannya yang kuat.
“Besok sekali pria pribumi memang beda” gumamnya manja sambil menatap batangku lekat lalu menjulurkan lidahnya yang kecil dan pink. Pertama dia menjilat pelan dari bawah ke atas dan menelusuri urat-urat tebal yang menonjol dengan lidahnya yang hangat. Kemudian bibir tipisnya membuka lalu mengulum kepala batangku yang besar dan licin ke dalam mulutnya perlahan. Kehangatan dan kelembapan mulutnya langsung menyambutku. Lidahnya berputar pelan di sekitar kepala sambil dia mengisap lembut. Perut bundarnya yang besar bergoyang pelan setiap kali kepalanya maju mundur. Tangan kirinya memegang paha tegapku untuk keseimbangan sementara tangan kanannya memompa pangkal batangku yang tidak muat masuk ke mulutnya yang kecil.
Levina mengulum kepala batang kejantananku lebih dalam lagi dengan gerakan sangat pelan dan penuh perhatian. Bibir tipisnya yang merah dan lembut meregang lebar mengelilingi ketebalanku yang gelap. Kehangatan mulutnya yang basah membuat lidahnya yang kecil lincah berputar-putar di sekitar kepala. Sesekali lidah itu menekan lubang kecil di ujung yang terus mengeluarkan cairan bening.
Aku mendesah berat sehingga tanganku turun memegang rambut kecoklatannya yang panjang dan halus. Aku tidak menekan rambut itu tapi hanya mengikuti gerakannya.
"Ciii Levina pinter nyepong juga yaa.. pasti enak banget tuh suaminya kalau dilayani seperti ini terus.. gumamku parau sambil menatap ke bawah.
Pemandangan itu sangat menggairahkan. Wanita Chindo cantik dan kaya ini berlutut di depanku sehingga perut bundarnya yang besar dan kencang menekan ke paha depannya sendiri. Posisinya menjadi sedikit membungkuk. Payudaranya yang penuh dan berat bergoyang pelan di balik daster tipis setiap kali kepalanya maju mundur. Hanya separuh batangku yang masuk ke mulutnya. Sisanya yang tebal dan berurat digenggam tangan putihnya yang ramping. Tangan itu memompa pelan dari pangkal sambil mulutnya mengisap kuat. Suara slurp glup basah terdengar ritmis. Air liurnya menetes dari sudut bibirnya ke dagu dan sebagian menetes ke perut bundarnya yang mulus.
Levina menatap ke atas ke mataku dengan tatapan penuh nafsu. Mata sipitnya berkaca-kaca lalu dia mengeluarkan batangku sebentar untuk bernapas.
"Punya kamu gede banget Bud.. aku susah banget buat masukin semuanya.. bisiknya serak sambil menjilat seluruh batang dari bawah ke atas dengan lidahnya yang basah. Kemudian dia kembali mengulumnya dalam-dalam sehingga kepalanya maju lebih jauh kali ini sampai kepala batangku menyentuh tenggorokannya.
Aku tidak tahan lagi dengan kenikmatan mulutnya yang lembut. Dengan napas tersengal aku menarik batangku keluar dari mulut Levina yang sudah basah oleh air liur.
“Sekarang coba enci duduk di lantai.. kataku parau sambil memegang lengannya.
Levina menurut dengan mata penuh nafsu. Dia perlahan duduk di lantai garasi yang dingin sehingga punggungnya bersandar ke kaki bangku kayu. Kakinya agak terbuka karena perut bundarnya yang besar dan kencang membuat posisinya sedikit membungkuk ke depan. Aku berdiri tegak di depannya lalu mengangkangi wajahnya. Lututku berada di sisi tubuhnya. Batangku yang tebal basah dan berdenyut kini tepat di depan wajahnya yang cantik dan mendongak.
"Isepin lagi cii.. tapi aku yang pegang kendalinya sekarang.. Aku memegang kepalanya dengan kedua tangan kuat sehingga jari-jariku menahan sisi kepalanya agar tetap bersandar ke bangku di belakangnya. Tanpa banyak kata aku mendorong pinggulkku ke depan dan memompa mulutnya dengan kasar. Suara gluk gluk gluk basah dan kasar langsung terdengar saat kepala batangku yang besar masuk dalam-dalam ke mulut dan tenggorokannya.
Sleepp.. Sleepp.. Aku genjot mulutnya dengan irama kuat keluar masuk kasar sehingga pinggulkku menghantam wajahnya pelan tapi penuh nafsu. Air liurnya menetes deras dari sudut bibirnya mengalir ke dagu leher dan sebagian menetes ke perut bundarnya yang putih mulus dan besar. Levina mendengus dan terbatuk kecil. Matanya berkaca-kaca karena kedalaman tapi tangannya memegang paha tegapku erat seolah meminta lebih. Perutnya yang hamil bergoyang pelan setiap kali aku menghantam sehingga kulit putihnya semakin memerah.
"Enak banget kan ciii.. diginiin sama pribumi.. digenjot kasar sampe kehabisan napas.. cepat atau lambat enci emang mesti belajar tunduk sama pribumi.. kan enci udah numpang hidup dimari.. desisku sambil terus memompa lebih dalam dan menahan kepalanya kuat dengan kedua tangan agar tetap di posisi duduk di lantai.
Aku menarik batang kejantananku yang sudah basah penuh air liur keluar dari mulut Levina dengan suara basah lalu membantunya berdiri perlahan.
“Sekarang coba cii Levina duduk di bangku angkang kakinya lebar lebar. perintahku parau sambil menuntun tubuhnya yang gemetar.
Levina menurut dengan napas tersengal. Dia duduk di pinggir bangku kayu yang lebar itu lalu mengangkang lebar kedua kakinya yang mulus. Perut bundarnya yang besar dan kencang menonjol ke depan sehingga memeknya yang sudah banjir terbuka sempurna di depanku. Aku berdiri di antara pahanya lalu memegang batang kejantananku yang tebal dan gelap. Aku menggesekkan kepalanya yang licin ke celah memeknya yang panas dan mengembang beberapa kali. Tanpa menunggu lama aku mendorong pinggulkku ke depan dan memasukkan batangku kasar ke dalam kemaluannya yang sempit meski sudah hamil.
“Aahhh” Levina menjerit kecil saat kepala batangku yang besar membelah dinding memeknya dengan paksa dan masuk dalam-dalam sampai pangkal.
Aku langsung menggenjot kasar keluar masuk dengan irama kuat dan cepat sehingga pinggulkku menghantam paha dalamnya yang putih dengan bunyi plak plak plak yang keras. Perut bundarnya yang besar bergoyang hebat setiap kali aku tusuk dalam dan naik turun mengikuti hantaman kasarku. Kedua tanganku memegang pinggangnya kuat sesekali naik mengelus dan meremas perutnya yang kencang sambil terus menggenjotnya tanpa ampun.
“Enak.. memek enci ketat banget meski hamil” desisku sambil mempercepat gerakan sehingga batangku yang gelap keluar masuk cepat dari memeknya yang sudah banjir cairan putih kental.
Aku menghentikan hantaman kasarku sebentar. Batangku masih tertanam dalam di dalam memek Levina yang berdenyut dan banjir.
“Ganti posisi ya cii.. bisikku parau sambil menarik keluar batangku yang sudah licin penuh cairannya.
Levina mendesah kecewa tapi matanya masih penuh nafsu. Aku membantunya berdiri lalu memutar tubuhnya menghadap bangku.
“Sekarang coba enci posisi condong ke depan sambil pegang bangku. kataku.
Levina menurut sehingga dia membungkuk ke depan sambil memegang pinggiran bangku kayu dengan kedua tangan. Perut bundarnya yang besar menggantung dan bergoyang pelan ke bawah. Aku berdiri di belakangnya lalu mengangkat daster tipisnya sampai ke pinggang sehingga memperlihatkan pantatnya yang putih mulus dan memeknya yang sudah merah serta terbuka karena genjotan tadi. Aku memegang pinggulnya yang ramping dengan kedua tangan lalu mendorong batangku yang tebal kembali ke dalam memeknya dari belakang dengan satu hantaman kuat.
“Aahhh dalam sekali Bud.. jerit Levina.
Aku mulai menggenjotnya lagi dengan irama kasar sehingga pinggulkku menghantam pantatnya yang lembut dengan bunyi plak plak plak yang keras dan cepat. Perut bundarnya yang besar bergoyang kuat ke depan belakang setiap kali aku tusuk dalam-dalam. Payudaranya yang penuh bergantung dan bergoyang liar di balik kain. Tangan kiriku meraih ke depan mengelus dan memegang perutnya yang hangat serta kencang itu sementara tangan kananku sesekali menepuk pantatnya pelan.
“Enak dari belakang gini cii.. perut enci jadi goyang semua.. desisku sambil terus memompa kasar sehingga batangku keluar masuk cepat dari memeknya yang semakin longgar dan basah.
Aku menghentikan hantaman dari belakang lalu menarik batangku yang licin keluar dari memek Levina dengan suara basah slup. Napas kami berdua sudah tersengal-sengal.
“Sekarang saya pangku ci Levina” kataku parau sambil duduk di bangku kayu yang lebar itu. Aku menarik Levina ke arahku lalu membantunya naik ke pangkuanku menghadap aku langsung. Kakinya mengangkang lebar di sisi pinggangku sehingga perut bundarnya yang besar dan kencang menekan perut bidangku dengan hangat. Kami saling berhadapan sangat dekat. Wajahnya yang cantik dan memerah tepat di depanku sementara mata sipitnya penuh nafsu. Aku memegang pinggulnya dengan kedua tangan kuat lalu membimbingnya turun perlahan. Kepala batangku yang tebal dan gelap kembali menyentuh bibir memeknya yang sudah sangat basah lalu aku dorong pinggulkku ke atas sambil Levina menurunkan tubuhnya.
“Aahhh besar sekali pelan-pelan.. Bud.. erangnya panjang saat batangku masuk dalam-dalam ke memeknya dari bawah dan meregang dindingnya yang panas serta licin sampai pangkal. Posisi ini membuat perut bundarnya yang besar menempel sempurna ke perutku sehingga kulit putih mulusnya kontras jelas dengan kulit sawo matangku yang gelap. Aku mulai menggerakkan pinggulkku naik turun pelan dulu lalu semakin kuat sehingga menggenjotnya dari bawah sambil tanganku memegang pinggulnya. Perut Levina bergoyang berat di antara tubuh kami setiap kali aku tusuk dalam. Payudaranya yang penuh bergesekan ke dada bidangku. Levina memeluk leherku dengan kedua tangan sehingga wajahnya menempel di bahuku sambil mendesah-desah di telingaku.
“Iya seperti ini Budi genjot saya sambil perut saya nempel ke badan kamu” katanya.
Aku memeluk pinggang Levina erat masih di posisi pangkuan lalu berdiri tegak sambil mengangkat tubuhnya tanpa mencabut batangku dari dalam memeknya.
"Sekarang kita coba gaya lain yang lebih nikmat cii.. desisku kasar.
Levina terkesiap sehingga kedua kakinya otomatis melingkar kuat di pinggangku dan tangannya memeluk leherku erat. Aku berdiri penuh di tengah ruangan garasi lalu memegang bokongnya yang putih mulus dengan kedua tangan kuat. Aku mulai menggenjotnya dengan posisi berdiri sambil mengangkat tubuhnya naik turun. Batangku yang tebal masuk keluar kasar dari memeknya yang banjir sehingga setiap hantaman membuat tubuh Levina naik turun seperti boneka. Perut bundarnya yang besar dan kencang terjepit di antara tubuh kami bergoyang dan bergesekan kuat ke perut bidangku setiap kali aku tusuk dalam-dalam.
“Ahh.. Budi dalam sekali.. perut saya berasa kayak dikocok kocok... ahh nikmaatttnyaa.. jerit Levina. Suaranya pecah karena posisi ini sangat intens. Aku mengangkat dan menurunkannya dengan kekuatan penuh sehingga pinggulkku menghantam ke atas dengan kasar dan bunyi plak plak plak basah memenuhi ruangan. Keringat kami bercampur. Kulit putih mulus Levina yang basah kontras tajam dengan kulit sawo matangku yang gelap dan tegap. Payudaranya yang penuh bergoyang liar di depan wajahku sehingga ASI tipis menetes dari puting susunya yang keras. Aku semakin kuat mengangkatnya hampir seperti full standing fuck sehingga batangku menusuk sangat dalam sampai ke dasar memeknya yang sudah longgar karena genjotan berulang.
Aku terus menggenjot Levina dengan posisi standing carry yang berat ini. Otot-otot lenganku dan pahaku menegang keras mengangkat tubuhnya naik turun tanpa henti. Setiap hantaman batangku yang tebal dan gelap menusuk sangat dalam ke memeknya sehingga Levina menjerit-jerit kecil di telingaku.
"Aaaahhh.. Buuudi... Daleeem banget masuknyaa... erangnya putus-putus. Aku mempercepat gerakan lalu mengangkat pantatnya lebih tinggi dan menurunkannya kasar sehingga batangku menghantam dasar memeknya berulang kali dengan bunyi basah yang mesum.
Tiba-tiba tubuh Levina menegang hebat. Perut bundarnya yang besar menekan kuat ke perutku sehingga otot-otot dalam memeknya menyusut dan berdenyut liar menggenggam batangku.
"Buddd... Aaaku.. mau keluar ahh.. ahhhh.. jeritnya panjang dan pecah. Klimaks Levina datang dengan sangat kuat. Tubuhnya kejang-kejang di pangkuanku sehingga memeknya menyembur cairan hangat yang deras membasahi batangku paha dan lantai garasi. Perut bundarnya bergetar hebat. Kulit putih mulusnya memerah total sampai ke leher. Payudaranya mengejang sehingga ASI tipis menyembur kecil dari puting susunya yang keras dan membasahi dada bidangku. Levina menjerit tanpa kendali. Matanya terpejam rapat mulutnya terbuka lebar dan seluruh tubuhnya gemetar hebat di gendonganku sambil memeluk leherku erat seperti takut jatuh. Aku terus memompa pelan tapi dalam selama klimaksnya sehingga memperpanjang orgasmenya yang intens sampai cairannya terus mengalir deras dan suaranya menjadi erangan lemah yang manja.
Aku merasakan Levina masih gemetar hebat di gendonganku setelah klimaksnya yang kuat sehingga memeknya berdenyut-denyut liar menggenggam batangku.
“Sekarang ganti posisi terakhir cii.. saya mau keluar” desisku kasar sambil menurunkan tubuhnya perlahan. Aku membaringkan Levina di bangku kayu yang lebar itu dengan posisi telentang sehingga kepalanya bersandar nyaman dan perut bundarnya yang besar menonjol ke atas. Aku mengangkat kedua kakinya tinggi lalu meletakkannya di bahuku dan mendekat. Aku memasukkan batangku yang sudah sangat tegang kembali ke memeknya yang masih banjir dan panas dengan satu hantaman dalam.
Dalam posisi ini aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Perut Levina yang besar bergoyang setiap kali aku tusuk. Payudaranya yang montok bergoyang liar dan wajahnya yang cantik oriental penuh kenikmatan. Aku mulai menggenjotnya dengan irama cepat dan kuat sehingga pinggulku menghantam pantatnya keras plak plak plak dan batangku keluar masuk dalam-dalam sampai pangkal.
“Budi.. kontolmuu.. beeerasa masuk sampeee... keeedalam peeerutku.. aaahh.. erang Levina lagi sambil tangannya memegang perutnya sendiri.
Aku semakin cepat sehingga otot pahaku menegang dan rasa panas di pangkal batangku semakin membara.
"cii saya minta ijin mau keluar di dalam ya.. sekalian mau nengokin anak enci yang ada didalam.. desisku parau.
Levina mengangguk lemah sambil mendesah. Beberapa hantaman kemudian klimaksku datang dengan sangat kuat. Aku mendorong batangku sedalam mungkin lalu menekannya ke dasar memeknya dan meledak hebat.
“Aaaahhh” Aku mendengus panjang saat sperma panasku menyembur deras ke dalam rahim Levina. Pulsa demi pulsa tebal mengisi memeknya yang sudah penuh. Tubuhku kejang sehingga pinggulkku menekan kuat sambil terus menyemburkan banyak sekali cairan panas ke dalamnya. Levina mendesah panjang merasakan banjir hangat di dalam perutnya sehingga perut bundarnya naik turun cepat mengikuti denyutanku. Aku terus mendorong pelan sambil klimaks sehingga mengeluarkan setiap tetes sperma ke dalam memeknya yang berkedut sampai cairan putih kental mulai meluber keluar di sekitar batangku.
Aku masih berdiri di depan bangku kayu sambil bernapas berat setelah melepaskan sperma panasku ke dalam memek Levina. Batang kejantananku yang masih setengah tegang perlahan keluar dari liang kewanitaannya yang penuh cairan. Campuran air mani dan lendir kawinnya mengalir keluar dari celah memek yang merah dan mengembang lalu menetes ke lantai garasi.
Levina terbaring lemas di bangku dengan perut bundarnya naik turun cepat. Kulit putih mulusnya basah oleh keringat. Payudaranya yang besar masih bergoyang pelan dengan puting susu yang keras dan basah oleh ASI tipis.
Dia membuka mata perlahan lalu tersenyum lemah kepadaku.
“Budi… kamu hebat sekali. Aku puas banget” katanya dengan suara serak dan lelah.
Aku membantu Levina berdiri pelan. Tubuhnya masih gemetar sehingga aku memapahnya menuju pintu penghubung ke dalam rumah. Kami berjalan pelan menuju kamar mandi utama di lantai bawah. Aku membukakan pintu kamar mandi untuknya.
Levina masuk ke kamar mandi lalu menyalakan air shower. Dia melepas daster tipisnya yang sudah basah dan penuh noda sehingga tubuh telanjangnya yang hamil terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar mandi. Perut bundarnya yang besar terlihat sangat indah dengan kulit yang mengkilap karena keringat dan cairan.
Aku meninggalkan Levina di kamar mandi lalu kembali ke garasi. Aku mengambil selang air dan ember lalu mulai mencuci mobil milik Pak Edward yang terparkir di sana. Air hujan sudah berhenti tapi malam masih sepi. Aku menyiram mobil dengan air lalu menggosoknya pelan sambil pikiranku melayang ke kejadian tadi. Batang kejantananku masih terasa lengket dan sensitif di dalam celana.

Mantap...moga makin kerap aja..biar udah melahirkan haha
BalasHapus