Langsung ke konten utama

Draft Tawanan Ojol

By : Analconda13

Suasana malam sebelum aku kabur dari rumah besar kami di kawasan elite Jakarta terasa semakin sempit dan pengap. Aku Trisya Valencia berusia tujuh belas tahun gadis chinese tinggi ramping dengan kulit putih mulus rambut hitam lurus panjang sampai pinggang dan wajah yang sering dipuji cantik oleh teman-teman sekolah. Setiap sore setelah pulang dari sekolah.. pertengkaran yang sama selalu meledak di ruang makan mewah itu sehingga Papa dengan suara tegasnya yang penuh otoritas berulang kali menekankan bahwa aku harus masuk fakultas kedokteran agar masa depanku pasti dan keluarga tidak malu di hadapan kerabat sementara Mama menambahkan dengan nada dingin bahwa aku anak perempuan satu-satunya dan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.

Aku sudah berusaha menjelaskan berhari-hari dengan suara yang semakin parau bahwa aku benci darah.. benci bau rumah sakit dan hanya ingin kuliah desain atau seni saja tapi mereka tidak pernah mendengar malah mengancam memotong allowance mengurungku di kamar dan membatalkan semua kebebasanku. Aku sering mengunci diri di kamar luas yang penuh barang branded lalu berbaring di tempat tidur king-size sambil memeluk bantal sehingga merasakan dada ini sesak dan air mata hangat mengalir pelan di pipi putihku sambil membayangkan hidup bebas tanpa tekanan yang membuatku sesak napas. 

Hari demi hari amarah itu semakin membesar sehingga membuatku semakin diam dan dingin di depan orangtuaku sampai akhirnya pada malam Jumat yang suasananya kembali panas itu jam menunjukkan pukul 01.17 dini hari aku tak sanggup lagi. Hanya mengenakan kaos oversized putih longgar yang menutupi sampai pertengahan paha celana jeans pendek serta ponsel dan powerbank di tangan aku menyelinap keluar rumah tanpa membawa apapun lagi memesan ojol dengan hati berdegup kencang siap meninggalkan segalanya demi mencari udara yang bisa kuhirup dengan bebas.

Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya saat aku menyelinap keluar gerbang rumah dengan jantung berdegup kencang. Aku hanya mengenakan kaos oversized putih longgar serta celana jeans pendek yang kukenakan ditambah ponsel dan powerbank di tangan. Aku memesan ojol tanpa tujuan jelas karena yang penting pergi sejauh mungkin dari rumah yang terasa seperti penjara.

Pengemudinya bernama Faisal. Pria pribumi berbadan tegap dan usianya sekitar akhir dua puluhan membawaku berkeliling hampir empat puluh menit melewati pinggiran jalan tol dan arteri kota yang mulai sepi. Sepanjang perjalanan itu pikiranku terasa kacau. Ada pergumulan antara rasa lega karena terbebas dari tekanan keluarga dan ketakutan malam sepi yang semakin membesar. Ditengah perjalanan menuju titik tujuan yang kubuat seenaknya diaplikasi tiba tiba hujan gerimis turun pelan dan semakin lama semakin deras membasahi tubuhku sehingga Faisal berhenti di pinggir jalan sepi dekat rel kereta api. Aku tak mau turun dan hanya menangis tersedu di boncengan sementara kaos basah menempel ketat di payudaraku.

"Maaf mbak.. sebenarnya mbak ini mau pergi kemana sih ? Daritadi kok ganti ganti tujuan terus.. saya kan jadi bingung mau nganterin kemana.

"Aku juga gak tau mau kemana bang. Saat ini aku tuh bener bener gak punya tujuan.. terserah abang aja mau bawa aku kemana. Yang penting jangan anterin aku pulang kerumah itu lagi.. Sahutku sambil nangis sesenggukan.

"Mana bisa begitu mbak.. kalau mau dianter ya harus ada tujuan diaplikasinya dulu dong. Kalau kayak gini terus mah sama aja mbak mau ngerjain saya.. liat nih bensin motor saya aja sampe mau abis begini gara gara disuruh muter muter gak jelas dijalanan.

"Ya udah kalau abang gak mau. Saya akan turun disini aja.. tapi sebelumnya aku juga mau minta maaf sama abang soalnya tadi aku perginya buru buru dan gak bawa uang sama sekali buat bayar ongkosnya.

"Nah justru ini yang abang takutin daritadi. Udah minta diajak muter muter gak jelas abis itu kagak dibayar.. yang ada abang bisa tekor ongkos bensinnya dong.. jangan gitulah mbak.. kan Abang juga punya keluarga dikampung yang harus dikasih makan.

"Ya abis mau gimana lagi bang. Sekarang aku bener bener gak bawa uang sama sekali. Nanti kalau semua masalahku dengan keluarga sudah selesai pasti akan aku bayar semua deh ongkosnya. Masa abang ga percaya sih sama aku. Lagian tadi kan abang juga udah tau rumahku dimana waktu pertama kalau jemput aku.

Setelah berdebat cukup lama dipinggiran jalan raya yang sepi itu kemudian perlahan pengemudi ojol pun mencoba membuat kesepakatan.

"Ya udah soal ongkos mending kita omongin nanti aja. Yang penting sekarang kita cari tempat neduh biar gak kehujanan dulu. Soalnya hujan makin deres aja nih. Liat itu baju kamu aja udah basah kayak gitu.. yang ada nanti malah masuk angin lagi.

Aku tak tahu apa yang ada dibenak pengemudi ojol itu. Pasalnya pria itu tadi sempat emosi karena merasa dipermainkan olehku dan tidak dibayar ongkosnya namun perlahan emosinya mulai reda dan malah seperti peduli dengan kondisi dan keadaanku yang sedang terlinta lunta dijalan tanpa tujuan ini.

"Iya bang. Makasih. Tapi beneran aku gak mau pulang kerumah dulu. Aku lebih baik tidur dijalanan daripada pulang ke rumah lagi.

"Loh kenapa begitu mbak.. bukannya hidup kamu udah enak. jadi anak orang berada mana tinggal di rumah gedong lagi. Padahal banyak loh orang diluar sana yang gak punya rumah dan tinggal dikolong jembatan. Kata ojol yang tadi menjemputku di komplek perumahan elite.

"Iya dari luar hidupku emang keliatan enak bang. Padahal didalam rumah itu hidupku penuh tekanan batin. Semuanya serba diatur oleh orangtuaku. Aku juga kan pengen bebas jalanin hidupku sendiri bang.

"Oohh ternyata begitu ya.. terus kamu beneran mau tidur dijalanan malam ini ? Mending kamu pikir pikir lagi mbak..

"Iya bang.. lebih baik aku tidur dijalanan aja. Pokoknya aku gak mau kalau disuruh pulang kerumah lagi.

"Aduh kamu ini masih lugu banget sih. Dijalanan itu banyak orang jahat. Yang ada nanti kamu bisa diapa apain sama mereka apalagi daerah sini kan terkenal rawan banget. Udah mending gini aja.. sekarang kamu ikut abang ke kontrakan dulu. Soal kamu mau pulang kerumah atau nggak nanti baru kita bicarakan lagi.

Ditengah kekalutan pikiran dan hujan yang semakin deras aku terpaksa mengikuti ajakannya ke kamar kost kecilnya di gang sempit pinggir rel kereta.

Aku ragu berat tapi tak punya pilihan karena basah kuyup tak punya uang dan tak tahu harus ke mana. Kami mendorong motor masuk gang lalu masuk ke kamar sempit berukuran 3x3 meter berdinding bata kusam dengan kasur lipat tipis di lantai. Faisal memberiku handuk kecil dan kaos lamanya. Aku mandi air dingin di kamar mandi luar sehingga tubuhku menggigil hebat saat keluar hanya memakai kaos kebesaran yang menutupi sampai pertengahan paha. Rambut basah tergerai dan kulit putihku merona merah. 

Faisal duduk di sampingku, cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. Dia tersenyum tipis, suaranya pelan dan agak serak.

"Tenang aja Trisya. Aku ini pria baik baik kok. Untung aja kamu ketemu sama aku diaplikasi coba kalau sama ojol lainnya. Pasti kamu bakalan dimanfaatin sama mereka. Katanya mencoba mencairkan suasana. 

"Dimanfaatin gimana bang ? Setahuku masih banyak kok pengemudi ojol yang baik dan mau nolongin orang kayak aku.

Iya tapi diantara yang baik itu kan ada juga yang jahat. Ya kayak semacam oknum ojol gitulah. Apalagi malam malam dapat penumpang amoy cakep anak orang kaya kayak kamu dek.. yang ada nanti kamu bisa diculik loh sama oknum ojol.

Iikkhh.. kok abang malah nakut namuti saya gitu sih. Padahal Abang sendiri kan juga ojol. Masa abang mau jelekin profesi Abang sendiri sih.

Bukannya Abang mau jelekin ojol dek. Tapi kenyataannya emang banyak kok teman teman dipangkalan ojol yang otaknya rada mesum gitu. Apalagi kalau abis ketemu amoy dijalanan pasti omongan langsung gak jauh dari urusan selangkangan.

Setelah bercerita ringan tentang kelakuan teman temannya untuk mencairkan suasana kemudian ojol pun memberanikan diri bertanya tentang urusan pribadiku 

"Cerita dong, kenapa sampe nekat kabur malam-malam gini? Papamu kasar ya? Kamu sering dipukul atau gimana ? 

Aku menggeleng pelan, rambut basahku menetes ke bahu. "Bukan kasar fisik... tapi tekanan terus-terusan. Harus jadi dokter, harus ini, harus itu. Aku cuma mau kuliah desain tapi mereka nganggap itu sampah. Malam ini aku udah gak tahan lagi.

Faisal mengangguk-angguk sambil mendengarkan. Sesekali dia menyela dengan kata-kata yang terdengar peduli, tapi matanya sesekali melirik ke bawah, ke kaki putihku yang masih basah.

"Kasian juga ya... cantik-cantik gini malah dipenjara di rumah mewah. Udah lapar belum? Abang masakin mie instan aja, ada stok. Biar hangat perutnya.

Aku mengangguk pelan. "Boleh, Bang... makasih."

Faisal bangkit, menyalakan kompor kecil di sudut kamar, dan tak lama kemudian aroma mie goreng sederhana memenuhi ruangan sempit itu. Kami makan berdua dalam diam yang canggung. Sesekali dia bertanya hal ringan tentang sekolahku, teman-temanku, dan aku menjawab pelan sambil menunduk.

Setelah makan, tubuhku terasa sangat lelah. Faisal menyodorkan bantal tipis dan selimut lusuh.

"Tidur aja di kasur ini. Abang tidur di lantai pakai tikar.

Aku terlalu capek untuk protes. Begitu kepalaku menyentuh bantal, kantuk langsung menyeretku ke dalam tidur yang gelap.

Tengah malam, sekitar pukul tiga dini hari, aku tersentak setengah sadar.

Napasku tertahan. Ada tangan hangat yang berat menyusup di bawah kaos kebesaranku. Jari-jari kasar Faisal sedang merayap pelan di perutku yang rata, lalu naik perlahan ke arah dada. Payudaraku yang masih terbalut hanya kaos tipis tanpa bra terasa disentuhnya dengan gerakan pelan dan penuh nafsu. Ibu jarinya mengusap puncak payudaraku yang mengeras karena dingin dan sentuhan itu.

Aku membeku, tubuhku tegang tapi masih setengah linglung karena baru bangun. Nafas Faisal terdengar berat di belakang tengkukku. Tubuhnya sudah menempel rapat dari belakang, satu tangannya memeluk pinggangku erat sementara tangan yang lain terus menggerayangi payudaraku dengan lebih berani, meremas pelan lalu menggoda putingku.

"Mmhh..." desah kecil keluar tanpa sengaja dari bibirku saat jarinya menjepit pelan.

Faisal berhenti sejenak, tapi tidak menarik tangannya. Malah dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik serak,

"Shh... tidur aja, Trisya. Abang cuma... hangatin kamu.

Tangan itu terus bergerak turun, menyusuri pinggulku yang ramping, mendekati ujung kaos yang sudah naik sampai pinggang. Faisal diam sebentar namun matanya semakin gelap lalu ia mendekat lagi sehingga tangannya lebih kuat menahan lenganku. 

"Aakkhh !! Lepasin bang.. apa apaan sih..

"Udah gak usah pura pura lagi. Abang tau kamu tuh cuma pura pura jadi anak orang kaya yang kabur dari rumah kan ? Padahal sebenarnya kamu tuh cuma seorang lonte cina yang baru selesai melayani pelangganmu di rumah mewah itu kan..

"Lepasin akuu !! Akkh... Jangan nuduh sembarang bang.. aku bukan lonte.. cepat lepasin !!

"Udah lu tenang aja moy.. Abang pasti akan lepasin kamu kalau Abang udah puas.. hehe.. lagipula kamu kan masih hutang ongkos ojol sama abang. Karena kamu gak punya uang jadi kamu harus bayar dengan tubuhmu yang putih ini.. Kata oknum ojol sambil menatapku dengan penuh napsu.

"Aku nggak mau.. Jangan bang. tolong lepasin !! Nanti aku akan bayar ongkosnya.. kataku dengan suara bergetar. Hatiku kalut takut dan marah pada dirinya sendiri karena sudah nekat kabur bersama ojol yang kini berusaha melecehkanku.

Aku tak bisa bergerak leluasa lagi karena tubuh Faisal yang berat dan tegap benar-benar menindihku di kasur tipis yang hanya beralaskan seprai lusuh. Kedua tanganku masih ditahan kuat di atas kepala oleh satu tangannya yang besar sementara tangan kanannya terus bergerak liar di bawah kaos kebesaran yang sudah naik sampai dada. Jari-jarinya yang kasar memilin putingku bergantian menarik dan memutarnya hingga rasa perih bercampur panas aneh menjalar ke perutku. "Bang… tolong… lepasin… aku nggak mau… rintihku lagi dengan suara pecah dan bergetar sementara air mata terus mengalir di pipi putihku. Tapi Faisal hanya mendengus pelan dan napasnya panas serta berat di leherku. Bibirnya menggigit kulit halus di bawah telingaku meninggalkan bekas merah yang terasa panas lalu turun ke tulang selangkaku sambil menghisap kuat.

Aku masih berusaha meronta sehingga pinggulgku bergerak ke kiri dan kanan mencoba melepaskan diri tapi semakin aku melawan semakin kuat ia menekan selangkangannya yang sudah sangat keras ke paha dalamku. Celana dalam hitam tipisku sudah basah bukan hanya karena gerimis tadi. Jari tengah Faisal terus menggosok klitorisku dengan gerakan melingkar yang semakin cepat dan kasar sesekali menekan kuat hingga tubuhku mengejang tanpa bisa kucegah. "Ahh… jangan di situ… bang… please…" desahku tak sengaja keluar campur antara tangis dan suara yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya. Sensasi panas yang tak diinginkan mulai menyebar dari bawah perutku sehingga membuat lututku lemas meski pikiranku berteriak menolak.

Faisal melepaskan tanganku sebentar hanya untuk menarik kaosnya yang kukenakan sampai ke atas kepala dan membuangnya ke samping. Tubuhku yang polos kini terpampang di depannya dengan payudara sedang yang kencang kulit putih mulus yang masih agak dingin serta celana dalam hitam yang sudah tembus basah di tengah. Aku langsung berusaha menutupi dada dengan kedua tangan tapi ia menarik kedua pergelangan tanganku lagi dan menekannya ke kasur. 

"Gak usah ditutupin.. bukannya amoy amoy kayak lu paling suka pamerin badan putihnya kalau lagi di mall.. bisiknya serak sementara matanya gelap penuh nafsu. Mulutnya turun langsung ke payudaraku mengisap puting kiri dengan kuat sambil lidahnya berputar di ujungnya. Aku menggigit bibir bawah sampai terasa sakit mencoba menahan desahan yang ingin keluar tapi saat ia menggigit pelan dan menghisap lebih dalam suara kecil lolos dari tenggorokanku.

Tangan Faisal yang bebas kini menarik celana dalamku ke bawah dengan kasar hingga ke mata kaki. Aku menendang-nendang lemah tapi ia membuka kedua kakiku lebar-lebar dengan lututnya. Udara dingin langsung menyapa bagian intimku yang sudah licin dan panas. Aku merasa sangat malu dan tak berdaya. "Bang Faisal… jahan bang.. aku masih perawan… jangan… tolong… pintaku sekali lagi dengan suara kecil yang hampir hilang. Faisal mengangkat wajahnya dari payudaraku lalu tersenyum tipis yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melepaskan celana pendeknya sendiri sehingga batangnya melompat keluar besar berurat dan kepalanya sudah mengkilap basah. Ia menggosok-gosokkan kepala kontolnya yang panas di bibir vaginaku yang licin naik turun pelan sambil menekan klitorisku setiap kali lewat.

Aku tak bisa bergerak leluasa lagi karena tubuh Faisal yang berat dan tegap benar-benar menindihku di kasur tipis yang hanya beralaskan seprai lusuh. Kedua tanganku masih ditahan kuat di atas kepala oleh satu tangannya yang besar sementara tangan kanannya terus bergerak liar di bawah kaos kebesaran yang sudah naik sampai dada. Jari-jarinya yang kasar memilin putingku bergantian menarik dan memutarnya hingga rasa perih bercampur panas aneh menjalar ke perutku. "Bang… tolong… lepasin… aku nggak mau… rintihku lagi dengan suara pecah dan bergetar sementara air mata terus mengalir di pipi putihku. Tapi Faisal hanya mendengus pelan dan napasnya panas serta berat di leherku. Bibirnya menggigit kulit halus di bawah telingaku meninggalkan bekas merah yang terasa panas lalu turun ke tulang selangkaku sambil menghisap kuat.

Aku masih berusaha meronta sehingga pinggulku bergerak ke kiri dan kanan mencoba melepaskan diri tapi semakin aku melawan semakin kuat ia menekan selangkangannya yang sudah sangat keras ke paha dalamku. Celana dalam hitam tipisku sudah basah bukan hanya karena gerimis tadi. Jari tengah Faisal terus menggosok klitorisku dengan gerakan melingkar yang semakin cepat dan kasar sesekali menekan kuat hingga tubuhku mengejang tanpa bisa kucegah. "Ahh… jangan di situ… bang… please…" desahku tak sengaja keluar campur antara tangis dan suara yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya. Sensasi panas yang tak diinginkan mulai menyebar dari bawah perutku sehingga membuat lututku lemas meski pikiranku berteriak menolak.

Faisal melepaskan tanganku sebentar hanya untuk menarik kaosnya yang kukenakan sampai ke atas kepala dan membuangnya ke samping. Tubuhku yang polos kini terpampang di depannya dengan payudara sedang yang kencang kulit putih mulus yang masih agak dingin serta celana dalam hitam yang sudah tembus basah di tengah. Aku langsung berusaha menutupi dada dengan kedua tangan tapi ia menarik kedua pergelangan tanganku lagi dan menekannya ke kasur. "Jangan ditutup… kamu terlalu cantik untuk ditutup" bisiknya serak sementara matanya gelap penuh nafsu. Mulutnya turun langsung ke payudaraku mengisap puting kiri dengan kuat sambil lidahnya berputar di ujungnya. Aku menggigit bibir bawah sampai terasa sakit mencoba menahan desahan yang ingin keluar tapi saat ia menggigit pelan dan menghisap lebih dalam suara kecil lolos dari tenggorokanku.

Tangan Faisal yang bebas kini menarik celana dalamku ke bawah dengan kasar hingga ke mata kaki. Aku menendang-nendang lemah tapi ia membuka kedua kakiku lebar-lebar dengan lututnya. Udara dingin langsung menyapa bagian intimku yang sudah licin dan panas. Aku merasa sangat malu dan tak berdaya. "Bang Faisal… aku masih perawan… jangan… tolong…" pintaku sekali lagi dengan suara kecil yang hampir hilang. Faisal mengangkat wajahnya dari payudaraku lalu tersenyum tipis yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melepaskan celana pendeknya sendiri sehingga batangnya melompat keluar besar berurat dan kepalanya sudah mengkilap basah. Ia menggosok-gosokkan kepala kontolnya yang panas di bibir vaginaku yang licin naik turun pelan sambil menekan klitorisku setiap kali lewat.

Faisal terus menggesekkan kejantanan yang tebal dan panas itu di sepanjang celah kewanitaanku sehingga lendir kawinku semakin banyak keluar dan membuat kepala kontolnya semakin licin. Setiap kali kepalanya melewati klitorisku rasa panas itu semakin kuat dan membuat pinggulgku bergetar kecil tanpa bisa kuhentikan. 

"Baaang… cukup… aku takut… kataku dengan suara gemetar sambil mencoba memejamkan mata rapat-rapat. Tapi Faisal malah mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kamu sudah basah banget Trisya… badanmu jujur meski mulutmu bilang tidak" bisiknya serak penuh nafsu.

Ia menahan pinggulgku dengan satu tangan yang kuat lalu mulai mendorong pelan. Kepala kontolnya yang besar dan tebal mulai meregangkan bibir vaginaku yang masih sangat sempit. Rasa perih langsung menyengat kuat dan membuatku menjerit kecil. "Ahhh… sakit… keluarin baang…!" jeritku pelan sementara kuku jariku mencengkeram lengannya kuat-kuat. Faisal berhenti sebentar tapi hanya untuk mengusap klitorisku lagi dengan jempolnya yang kasar sambil mendorong perlahan masuk lebih dalam inci demi inci. Tubuhku yang ramping menegang hebat dan vaginaku mencengkeram batangnya yang besar dengan sangat ketat. Rasa penuh dan sakit bercampur menjadi satu sehingga air mataku mengalir semakin deras di pipi putihku.

Faisal mulai bergerak pelan keluar masuk dengan ritme yang hati-hati tapi semakin dalam setiap dorongannya. Setiap kali ia memompa masuk lebih jauh payudaraku bergoyang pelan dan desahan kecil keluar dari mulutku meski aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Suara kereta api lewat di luar menggetarkan dinding kamar kecil itu dan menutupi napas kami yang semakin berat. Tubuhku yang tadinya meronta kini mulai lemas hanya sesekali menggeliat lemah saat ia menyentuh titik sensitif di dalam liang kewanitaanku yang membuat gelombang panas tak terkendali naik ke kepalaku.

Faisal terus menggesekkan kejantanan yang besar dan hangat itu di sepanjang celah kewanitaanku sehingga lendir kawinku semakin banyak keluar dan membuat kepala penisnya semakin licin. Setiap kali kepala penisnya melewati klitorisku rasa panas itu semakin kuat dan membuat pinggulku bergetar kecil tanpa bisa kuhentikan.

 "Bang… udah cukup… please brenttii.. kataku dengan suara gemetar sambil mencoba memejamkan mata rapat-rapat. Tapi Faisal malah mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kamu udah basah banget Trisya… badanmu gak bisa bohong meski mulutmu bilang tidak. bisiknya serak penuh nafsu.

Ia menahan pinggangku dengan satu tangan yang kuat lalu mulai mendorong pelan. Kepala penisnya yang besar dan berbentuk seperti jamur mulai meregangkan bibir vaginaku yang masih sangat sempit sehingga rasa perih langsung menyengat kuat dan membuatku menjerit kecil. "Ahhh… sakiiitt… keluarin bang… !! jeritku pelan sementara kuku jariku mencengkeram lengannya kuat-kuat. Faisal berhenti sebentar tapi hanya untuk mengusap klitorisku lagi dengan jempolnya yang kasar sambil mendorong perlahan masuk lebih dalam inci demi inci. Tubuhku yang ramping menegang hebat dan vaginaku mencengkeram batangnya yang besar dengan sangat ketat. Rasa penuh dan sakit bercampur menjadi satu sehingga air mataku mengalir semakin deras di pipi putihku.

Faisal mulai bergerak pelan keluar masuk dengan ritme yang hati-hati tapi semakin dalam setiap dorongannya. Setiap kali ia memompa masuk lebih jauh payudaraku bergoyang pelan dan desahan kecil keluar dari mulutku meski aku berusaha menahannya sekuat tenaga. Suara kereta api lewat di luar menggetarkan dinding kamar kecil itu dan menutupi napas kami yang semakin berat. Tubuhku yang tadinya meronta kini mulai lemas hanya sesekali menggeliat lemah saat ia menyentuh titik sensitif di dalam liang kewanitaanku yang membuat gelombang panas tak terkendali naik ke kepalaku.

Semakin lama gerakannya semakin cepat dan kuat sehingga setiap tabrakan pangkal kontolnya ke bibir vaginaku menghasilkan suara basah yang memalukan. Payudaraku bergoyang liar dan putingku yang keras terasa panas setiap kali dada bidangnya menindihku. 


"Ampun Bang… jangan kasar kasar !! Aduhhh sakiittt baangg.. ahh… rintihku putus asa dengan suara yang sudah bercampur desahan. Faisal malah mempercepat laju pinggulnya dan memompa lebih brutal sehingga batangnya menghujam dalam-dalam berulang kali dan membuat dinding vaginaku yang sensitif tergesek kasar. Sensasi panas itu semakin membesar di perutku dan lututku mengejang tak terkendali.

Faisal tiba-tiba menarik kontolnya keluar dengan bunyi basah yang memalukan lalu membalik tubuhku dengan mudah seperti boneka sehingga kini aku berada dalam posisi doggy dengan lutut di kasur dan bokongku terangkat tinggi. Wajahku tertelungkup di bantal tipis dan rambut hitam panjangku acak-acakan. "Bang… jangan dari belakang…" mohonku lemah tapi Faisal sudah memegang pinggulku yang ramping dengan kedua tangan kuat lalu mendorong masuk lagi dalam satu gerakan mulus hingga pangkal. Aku menjerit kecil merasakan penetrasi yang jauh lebih dalam dari posisi ini. Ia mulai menggenjot pinggulnya dengan keras sehingga suara plok-plok basah memenuhi kamar kecil itu bercampur suara kereta api yang lewat di luar.

Tangan Faisal meraih rambutku menariknya pelan hingga punggungku melengkung. Satu tangannya meremas payudaraku dari bawah sambil terus menghantam dari belakang dengan ritme cepat dan kuat. Setiap tabrakan membuat bokong putihku bergoyang dan terasa panas. Klitorisku bergesekan tidak langsung dengan setiap gerakan sehingga gelombang kenikmatan yang tak diinginkan semakin tinggi. "Ahh… aaahh… baaaang.. udaaah brentii… please .. aaampunn.. desahku tanpa henti sementara air liurku hampir menetes karena mulutku terus terbuka. Tubuhku mulai berkhianat sehingga pinggulku malah bergerak mundur menyambut dorongannya yang brutal.

Faisal menarikku lagi kali ini membalik tubuhku dan mendudukkanku di pangkuannya dalam posisi cowgirl. Kontolnya masih tertanam dalam saat aku duduk di atasnya. 

"Gerakkan pinggulmu Trisya !! Perintahnya serak sambil meremas kedua bokongku. Aku menggeleng lemah tapi tangannya memaksa pinggulku naik turun. Awalnya pelan dan canggung tapi semakin lama semakin cepat karena sensasi penuh di dalam vaginaku yang terus bergesekan dengan batangnya yang besar. Payudaraku bergoyang liar di depan wajahnya. Faisal mengisap dan menggigit putingku bergantian sambil tangannya menepuk bokongku pelan sehingga mendorongku semakin liar.

Napas kami berdua sudah tersengal-sengal. Aku merasakan kontolnya semakin membesar dan berdenyut di dalamku. "Aakhh.. guee maaaauuu... keluar amoyy cantik… geram Faisal di telingaku. Ia memeluk pinggangku erat lalu menggoyang pinggulnya dari bawah dengan kuat dan cepat. Aku hanya bisa memeluk lehernya menjerit kecil setiap kali ia menghantam paling dalam. Tubuhku mengejang hebat sehingga vaginaku mencengkeramnya kuat-kuat saat gelombang orgasme pertama yang tak terduga menyapu diriku. "Ahhhhh…!" jeritku panjang sementara cairanku menyembur membasahi pangkal kontolnya.

Faisal mendengus keras. Dengan beberapa dorongan terakhir yang sangat dalam dan brutal ia menekan pinggulku ke bawah sekuat tenaga. Panas sperma kentalnya menyembur deras jauh di dalam rahimku denyut demi denyut memenuhiku hingga meluap keluar di sela-sela pertemuan kami. Ia mengerang panjang di leherku tubuhnya kejang beberapa kali sambil terus menyemburkan sisa-sisanya. Aku merasakan panas itu membanjiri dalamku sehingga membuat perutku terasa penuh dan hangat.

Aku terbaring lemas di kasur tipis tubuhku masih bergetar hebat akibat orgasme paksa yang baru saja menyapu diriku. Sperma Faisal yang hangat dan kental masih terasa membanjiri dalam rahimku meluap pelan keluar dari vaginaku yang terasa perih dan penuh. Napasku tersengal-sengal payudaraku naik turun cepat dan kulit putihku basah oleh keringat serta air mata. Tapi bukannya puas rasa malu dan jijik justru membuncah. Air mataku yang tadinya hanya mengalir pelan kini pecah menjadi tangisan sesenggukan yang tak terbendung. 

"Hiks… hiks… kenapa… kenapa abang tega lakuin ini sama aku… isakku keras sementara tubuhku gemetar hebat sambil mencoba menutupi dada dan selangkanganku dengan kedua tangan yang lemah.

"Karena lu amoy dan lu cantik.. badan lu yang putih ini emang udah kodratnya buat muasin pribumi kayak gue.. Sahut Faisal seenaknya.

Faisal bangkit sedikit bertumpu pada satu siku. Wajahnya masih memerah napasnya berat tapi matanya menyipit dingin saat melihat aku menangis. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan lalu meraih daguku kasar memaksa aku menatapnya. 

"Dasar lonte.. pakai pura pura nangis segala.. Tadi aja badan lu goyang goyang sendiri waktu diewe.. katanya dengan suara rendah yang mengancam. Aku menggeleng kuat-kuat dan air mata semakin deras. "Aku… aku nggak mau… tolong… lepasin aku bang.. aku mau pulang… rintihku di sela isakan.

Ia tertawa pelan suara tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. Tangan besarnya masih memegang pinggangku posesif dan jarinya menekan bekas remasan di kulit putihku. "Pulang ke mana? Bukannya lu sendiri yang nekat kabur dari rumah nggak bawa apa-apa. 

"Lu udah seenaknya naik ojol dan gak mau bayar ongkosnya. Dan sekarang lu minta dilepasin begitu aja ?!! Lu pikir gue akan kasian sema cerita drama dikeluarga lu itu !!? Katanya dengan suara semakin pelan tapi tajam. "Dengar ya amoy cantik. Malam ini lebih baik lu nurut sama gue. Kalau lu mau melawan lagi. Nangis teriak-teriak atau coba kabur dari sini… maka gue akan kasih hukuman yang lebih berat. Gue bisa aja berbuat lebih kejam dari sebelumnya.

Aku membeku mendengar ancamannya. Faisal mendekatkan wajahnya sampai napasnya terasa di pipiku. 

"Kalau gue mau. Malam ini juga gue bisa entotin lu berkali kali sampe lu gak bisa jalan lagi. Gue bakal entot lu sampe mampus terus gua buang mayat lu ke sungai dekat rel kereta itu. Lu itu udah kabur dari rumah !! Gak bakalan ada nyariin lu !! Dan keluarga lu gak akan peduli lagi sama lu !!

Ketakutan menyergapku seperti hawa dingin yang menerpa ditengah malam. Tubuhku yang tadinya masih hangat setelah persetubuhan paksa itu kini menggigil hebat. Aku tidak berani bicara lagi. Hanya isakan kecil yang keluar dari mulutku. Saat Faisal melepaskan pegangannya aku langsung meringkuk ketakutan di sudut kamar kontrakan kecil yang kumuh dan berantakan itu. Punggungku menempel ke dinding tembok yang kasar dan dingin lututku ditekuk ke dada dan kedua tangan memeluk kaki erat-erat berusaha menutupi tubuh polosku yang masih basah dan berantakan. Rambut hitam panjangku menutupi sebagian wajah tapi aku tetap bisa melihat Faisal yang duduk di kasur sambil memandangku dengan tatapan puas dan mengancam.

"Bagus amoy cantik.. mulai sekarang lebih baik lu diam dan nurut sama gue.. katanya pelan sambil merokok. Asap rokoknya mengepul di kamar sempit.

"Gue ingetin sekali lagi sama lu.. jangan coba coba teriak atau kabur dari sini !! Karena gue gak akan segan segan untuk perkosa badan amoy lu yang putih ini dengan cara yang lebih kasar lagi !! Gue akan entot lu sampe ngejerit jerit biar mampus sekalian. Terus gue akan lemparin lu ke sungai !!

Aku hanya bisa meringkuk semakin kecil di sudut kamar bahuku terguncang hebat karena tangis yang tak berhenti. Vaginaku masih terasa perih dan lengket oleh campuran lendir kawin kami. payudaraku penuh bekas gigitan dan remasan merah. Di luar suara kereta api lewat lagi menggetarkan dinding dan membuatku semakin merasa sendirian dan tak berdaya. Malam ini rasanya tak akan pernah berakhir dan aku tak tahu apa yang akan terjadi saat matahari terbit nanti.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Draft Amukan Massa Ditengah Resepsi

Lizzy Amoy Peliharaan Pembantu 7

Draft Preman Tanah Abang

Draft Budak Napsu Ojol Jalanan 2

Draft Budak Napsu Tetanggaku.

Draft Kisah Tragis Dibalik Pudarnya Kajayaan Pertokoan Glodok

Draft Kuentot majikan cinaku yang sedang hamil

Draft Aku Rela Dijadikan Budak Seks Saat Hamil

Draft Aksi Keji Komplotan Dul Petot

Draft Sugar Daddy Yang Brutal.