Lizzy benar-benar terkurung di dalam kerangkeng sepanjang hari. Hal itu terjadi karena Pak Pardi dan Asep ditemani oleh Puput. Setiap sudut ruangan apartemen Lizzy menjadi saksi atas aksi mesum ketiga orang tersebut di tempat tinggalnya. Siang itu Lizzy hanya termenung diam di dalam kandangnya sementara Pak Pardi dan Asep berbincang tak jauh dari sana.
"Puas banget kang sama service tu gundiknya akang. ucap Asep.
"Hehe kalau udah disebut gundik Sep udah pasti mantap dah. jawab Pak Pardi.
"Tapi ngomong-ngomong itu siapa kang" tanya Asep lagi.
"Namanya Puput Sep. Dia itu istri kedua mantan bos gua dulu" jawab Pak Pardi.
"Berarti majikan lu dong kang" tanya Asep dengan bersemangat.
"Iya Sep. Gua dipecat dari warteg itu karena istri pertama bos gua yang mergokin gua ngentot lu anjing" tunjuk Pak Pardi ke arah Lizzy.
"Beda cerita kalau si Puput ini. Kalau yang nemuin rekaman CCTV itu mana berani dia sama gua. Haha."
"Lu bisa ngentot sama istri bos lu gimana ceritanya kang sampai rela jadi gundik lu lagi" cerca Asep.
"Ceritanya panjang Sep. Intinya lu nikmatin aja lu istri bos gua. Kalau gua mah udah bosan" ujar Pak Pardi.
"Tapi masih lu pake juga kang. Kata lu bosan bosan ahh..
"Yah gimana Sep. Kalau ga ada memek ya terpaksa. Namanya gratis. Kadang gua dikasih duit lagi sama dia. kata Pak Pardi sambil tertawa bangga.
"Kok lu ga pernah cerita si kang sama gua. ucap Asep sedikit kesal.
"Ini kan gua udah cerita sama lu. Sekarang lu nikmatin aja tu. Kalau perlu lu hancurin memeknya" kata Pak Pardi sambil tertawa.
Kata gundik memang sangat pas disandingkan dengan Puput sang mantan majikan Pak Pardi. Dari awal berada di kediaman Lizzy Puput benar-benar melayani Pak Pardi dengan sepenuh hati baik di dapur maupun di kasur. Bukan tanpa alasan Puput bisa berada di sini sudah dua hari. Hal itu karena sang suami alias mantan majikan Pak Pardi akan menikah lagi dengan seorang gadis muda untuk dijadikan istri ketiga. Itu membuat Puput kesal lalu kabur dari rumah.
Tak berselang lama Puput keluar dari dapur membawakan makanan untuk Pak Pardi dan Asep dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Itu adalah perintah Pak Pardi dan Asep sejak awal kedatangan Puput. Semua itu diikuti Puput dengan patuh.
"Lu kapan mau pulang ? tanya Pak Pardi kepada Puput yang bersimpuh di bawah kakinya.
"Saya masih mau di sini pak. ujar Puput dengan kepala menunduk.
"Tapi nanti laki lu nyariin. Gua malas berurusan sama laki lu lagi. ujar Pak Pardi lagi.
"Gapapa Pak. Saya juga sudah malas sama suami saya itu. Jawab Puput.
"Trus lu maunya sama siapa ? tanya Pak Pardi lagi.
"Saya maunya jadi gundik Bapak aja" jawab Puput mantap.
Pak Pardi menatap Lizzy yang termenung sambil mendengar obrolan mereka. Dalam hati Pak Pardi tentu saja tidak butuh Puput lagi karena sudah memiliki penggantinya yaitu Lizzy yang jelas lebih berada dibanding Puput yang hanya seorang istri kedua dan hidup sederhana.
"Yasudah kalau lu emang ga mau lagi sama laki lu. Nanti sore ikut gua" ujar Pak Pardi.
"Baik Pak" ujar Puput.
"Sekarang lu bersih-bersih dan siap-siap" perintah Pak Pardi.
Pak Pardi berniat menjual Puput ke salah satu preman di kawasan kumuh tempat tinggalnya dulu untuk dijadikan pelacur kelas rendah. Apa yang akan terjadi selanjutnya sudah bukan urusannya lagi pikirnya.
"Emang nanti sore mau kemana kang tanya Asep lagi.
"Lu kan dengar sendiri tu gundik udah ga mau sama laki nya jadi kita jual aja ke lokalisasi" jawab Pak Pardi sambil tertawa.
"Serius kang !!? tanya Asep yang terlihat penasaran.
"Yaiyalah Sep. Hitung-hitung bantu dia juga yang bentar-bentar sange" ujar Pak Pardi.
"Wahh kacau lu kang" ucap Asep yang tampak kurang setuju.
"Udah lah Sep. Di sana nanti dia bisa di ewe setiap hari pasti happy lah dia" kata Pak Pardi dengan santai.
Sampai sore hari Pak Pardi Asep dan Puput sudah siap berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan bersama rekan Pak Pardi. Setelah bertemu rekan tersebut Pak Pardi sempat berbincang sebentar lalu meminta Puput untuk berpindah mobil.
"Saya mau dibawa kemana Pak" tanya Puput dengan panik.
"Udah lu ikut aja itu teman saya" jawab Pak Pardi.
"Tapi Pak saya ga kenal sama teman Bapak ini" jawab Puput.
"Nanti juga kenal. Nurut apa kata dia" kata Pak Pardi sambil berjalan menjauh dari Puput.
"Pak jangan tinggal saya Pak" teriak Puput.
Puput ingin berlari dan memohon kepada Pak Pardi agar tidak meninggalkannya. Namun tubuhnya langsung dipegang oleh kedua orang teman Pak Pardi. Bahkan dengan keras Puput memberontak agar bisa lepas dari dekapan kedua pria di sampingnya itu. Namun usahanya berakhir sia-sia.
Sebelum pergi Pak Pardi sempat menoleh ke arah Puput yang sudah tak bertenaga akibat memberontak dan menangis dalam dekapan kedua rekan tersebut. Tatapan putus asa terlihat jelas di mata Puput. Menangis pun sudah tidak ada artinya lagi. Akhirnya Puput mendapat beberapa tamparan di pipi agar patuh dan mau masuk ke mobil.
Pak Pardi sedang santai duduk di teras apartemen. Dia menikmati segelas kopi hangat dan sebatang rokok kretek di tangannya sambil menatap gemerlapnya kota Jakarta pada malam hari. Namun di balik ketenangan yang dirasakannya itu tak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh kontolnya yang sedang di sedot-sedot oleh Lizzy di balik sarungnya.
Lizzy tengah berada di dalam sarung yang dikenakan Pak Pardi. Dia berusaha memuaskan nafsu pria tua itu. Lidahnya bermain-main mengitari kepala kontol Pak Pardi sehingga erangan Pak Pardi tak jarang terlontar akibat service yang diberikan Lizzy.
"Sempurna sekali hidup ini sep.. aaahhh erang Pak Pardi.
"Hehe seandainya dari dulu kita dapat gundik elite kayak gini yah kang. jawab si Asep.
"Itu sep makanya si Puput tadi mending gua jual buat jadi pelacur. Kan udah ada yang ini. jawab Pak Pardi sambil mengelus kepala Lizzy di dalam sarungnya.
"Habit lu kang" haha tawa Asep.
"Sedot trus non. Tuanmu udah mau keluar nihh.. Aaargghh..
Mendengar ucapan Pak Pardi Lizzy semakin bersemangat menyedot kontol Pak Pardi.
Croootttt crooottt aaahhhh desah Pak Pardi.
Semburan mani Pak Pardi langsung habis ditelan Lizzy tanpa tersisa setetes pun. Lizzy kemudian membersihkan kontol Pak Pardi dengan mulutnya sebelum mendapat perintah untuk berpindah ke selangkangan Asep.
"Aduuhhh enak banget non. Yaudah sana kasih service ke Asep" ujar Pak Pardi.
Asep yang tak suka pakai sarung langsung mengeluarkan kontol besarnya. Dengan kasar Asep menarik kepala Lizzy dan membenamkan kontolnya ke dalam mulut Lizzy. Untungnya mulut Lizzy sudah basah karena baru saja mengoral kontol Pak Pardi.
Namun tetap saja mata Lizzy terbelalak mendapat perlakuan yang tiba-tiba seperti itu. Asep juga mengangkat kaki ke kedua pundak Lizzy lalu melipat kakinya agar kepala Lizzy tak bisa bergerak mundur. Jadi kontol Asep tetap berada di bagian terdalam mulut Lizzy.
Di susul dengan mata Lizzy yang mulai berair dan liur yang perlahan keluar dari sela bibir Lizzy. Muka Lizzy pun sudah seperti udang rebus merah merona. Tidak ada tanda-tanda belas kasihan dari Asep. Bahkan dia tertawa melihat Lizzy yang kesusahan tersumpal kontolnya. Sama dengan Asep Pak Pardi juga ikut tertawa melihat Lizzy diperlakukan seperti itu.
"Eh non ingat yah. Jangan pernah melawan sama kita kalau ga mau nasib lu sama kayak Puput tadi pagi. Lu ga mau kan gua kirim ke tempat pelacuran. Trus sampai mati lu akan terus jadi pelacur. Hahah. Kalau lu ga mau berarti lu ikutin semua perintah kita. Sanggup ga sanggup lu harus sanggup. Ga ada kata ga bisa dalam kamus gua. Paham lu."
Sekalipun Lizzy sedang kesulitan akibat kontol Asep merangsek ke dalam kerongkongannya tapi semua kata-kata Pak Pardi sangat jelas di pendengarannya. Tentu saja Lizzy tak mau kalau sampai harus dijual ke tempat pelacuran apalagi harus selamanya menjadi pelacur. Pikiran Lizzy memang takut namun berbeda dengan tubuhnya.
Tubuh Lizzy malah seakan mendapat gejolak yang sangat besar. Sampai tanpa disadari tubuh Lizzy bergetar dalam keadaan seperti ini.
Creeettt creett.. muncrat cairan cinta Lizzy dari memeknya.
"Hahaha bocah edan. Bukan nya takut sep malah croott dia" hahaha kembali Pak Pardi menertawakan Lizzy.
"Iyah kang emang maniak ni amoy" ujar Asep.
Pak Pardi pun bangkit dari duduknya kemudian mengatur posisi untuk mendoggy Lizzy karena kontolnya kembali tegang karena terangsang melihat Lizzy orgasme. Bleessshhhh kontol Pak Pardi seketika sudah bersarang di memek Lizzy. Dengan santai Pak Pardi menggoyang-goyangkan pinggulnya sehingga terdengar desahan keluar dari bibir Lizzy yang sedang tersumbat itu.
"Hmmm hmmm. Waduh sep masih ada suaranya" haha ujar Pak Pardi.
"Hmmm hmmm dong ga seru yah kang" ujar Asep sambil meluruskan kakinya.
"Trus lu maunya gimana sep?" tanya Pak Pardi.
Begini kang biar lebih rame. Tangan Asep memegang kepala Lizzy kemudian dengan beringas Asep menggoyangkan pinggulnya seakan sedang menggenjot memek.
Gloookkk gloookk. Suara mulut Lizzy kini berubah seperti orang yang sedang tersedak tapi ini tersedak kontol.
"Hahaha bias aja lu sepp" ujar Pak Pardi yang juga menambah tempo pada genjotan kontolnya.
Gloookkk gloookk. Sungguh Lizzy tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan Lizzy yang nyaris batuk saja tidak membuat Asep menghentikan sodokan kontolnya. Liur Lizzy sudah berceceran di mana-mana. Namun sepertinya Asep hanya akan berhenti jika sudah ingin crot.
Ditambah sodokan kontol Pak Pardi pada memeknya yang sesekali dihentak begitu dalam membuat tubuh Lizzy kejang-kejang. Sensasi yang dirasakan Lizzy pun semakin teraduk. Di satu sisi Lizzy benar-benar kesulitan bernafas karena sodokan kontol Asep di mulutnya. Di sisi lain kontol Pak Pardi membuahkan kenikmatan pada memeknya.
"Aaaaaaghhhhhh rasain ni peju gua lontee" erang Asep.
"Mampus lu anjinggg binatang" ceracau Asep sebelum satu hentakan kontolnya dan mendiamkan di dalam tenggorokan Lizzy. Hangat semburan peju Asep pun langsung mengalir ke perut Lizzy. Tepat pada saat yang sama Pak Pardi juga mengerang di bawah. Dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun tangan Pak Pardi pun refleks menekan kepala Lizzy agar tetap menelan kontol Asep.
Sundulan kontol Pak Pardi juga sangat terasa di memek Lizzy. Sampai lah Lizzy dan Pak Pardi orgasme bersamaan. Crooottt croottt creett crettt. Pak Pardi yang keluar dua kali malam ini langsung lemas. Segera dia mencabut kontolnya dari memek Lizzy dan masuk ke dalam apartemen. Dia meninggalkan Lizzy dan Asep berdua saja.
Dalam keadaan masih lelah setelah orgasme Asep dengan kasar meminta Lizzy berdiri membelakanginya. Dengan berpegangan pada pagar balkon Lizzy merasa kontol Asep menerobos memeknya dengan mudah. Itu karena memek Lizzy yang sudah basah oleh ulah Pak Pardi dan cairan cintanya sendiri.
Asep tampak bersemangat memompa memek Lizzy sambil diterpa angin malam yang semilir. Dia juga menikmati indahnya pemandangan kota dari atas apartemen itu. Begitu pula dengan Lizzy. Seperti tak habis tenaganya melayani kedua laki-laki kelas bawah itu.
Tubuh Lizzy bergerak menyambut setiap hentakan kontol Asep. Seraya kontol dan memek mereka menyatu Asep menarik wajah Lizzy agar dapat mengecup bibir ranum Lizzy. Jadi lah percintaan di atas balkon itu semakin panas. Asep yang mahir dalam urusan ngentot ini sudah membuat Lizzy mencapai orgasme dua kali. Sementara Asep masih dengan santai menggenjot Lizzy yang sudah tampak kecapekan.
"Capek yah non?" tanya Asep.
"Gapapa bang. Entot Lizzy terus bang.. meskipun capek ternyata Lizzy sangat menikmati permainan Asep.
"Kalau saya genjot sampai pagi sanggup ga non?" hehe seringai Asep.
Lizzy tak dapat menjawab pertanyaan Asep itu. Hanya pandangannya yang memandang bahwa dia sanggup melayani Asep seberapa lama pun.
"Aaaarrrggh.. jerit Lizzy ketika Asep menghentakkan kontolnya dengan keras.
"Kalau ditanya jawab dong non. Atau mau saya robek ini memek non" tanya Asep lagi.
"Siap bang. Lizzy siap melayanin abang sampai pagi" jawab Lizzy.
"Nah gitu dong" hehe.
"Yaudah lu terima ni." Setelah itu Asep langsung menggempur memek Lizzy tanpa ampun.
"Aaahhh ahhhh ahhh aahhhh ampun bang" jerit Lizzy lirih.
"Rasain ni kata nya lu sanggup" erang Asep tanpa mengurangi tempo sodokannya.
"Ampuun bang aghhh creettt creettt." Lizzy kembali mendapatkan orgasme untuk yang ketiga kalinya.
Lemas betis Lizzy kali ini sampai Lizzy hampir terkulai. Namun tubuhnya cepat ditopang oleh Asep dan dengan beringas Asep kembali menggenjot memek Lizzy. Tak ada suara lagi yang keluar dari mulut Lizzy. Pegangan tangannya pada pagar balkon pun sudah terlepas. Namun tubuhnya tetap didorong Asep agar menempel pada pagar jadi Asep masih dengan mudah memompa memek Lizzy.
"Aaarrgghhhh." Asep makin beringas dan sesekali mendorong kontolnya dalam-dalam. Croottt crooott.
Asep menyemburkan maninya di dalam memek Lizzy. Karena sudah klimaks Asep pun melepas tubuh Lizzy yang seketika langsung terkulai lemas tak bergerak. Karena Asep yang cukup lelah pun menyeret tubuh Lizzy ke dalam untuk dimasukkan ke kandang. Lizzy yang setengah sadar pun merasa tubuhnya diseret karena Lizzy sudah tidak dapat berdiri. Juga sepeninggalan Asep Lizzy pun tertidur di dalam kandang yang kecil itu dengan tubuh yang meringkuk.
Kebinalan lizzy dimulai
Sudah hampir dua bulan aku kembali menjadi Lizzy yang dulu. Sekarang aku tinggal di sebuah apartemen di pusat kota. Aku kembali beraktivitas kuliah dan menjalani hari-hari dengan ceria walaupun sesekali aku tetap terbayang dengan kejadian yang pernah menimpaku. Dulu aku menjadi budak seks untuk pembantuku sendiri dan aku pun terlena menikmati semuanya.
Aku juga rutin melakukan masturbasi sendiri. Aku mencoba mencari kenikmatan dari alat-alat seperti dildo yang aku beli online dari luar negeri. Mulai dari yang berukuran kecil sampai ukuran jumbo. Tapi tetap saja ini sangat berbeda dengan kontol sungguhan. Terlepas dari itu aku juga suka dengan perlakuan kasar dari orang-orang yang kelasnya jauh di bawahku.
Mengenai tato yang ada di tubuhku aku hanya mengubah yang bergambar wajah Pak Yanto di paha bagian depanku. Aku tak mau mengingat Pak Yanto yang sudah tiada jadi aku merubahnya menjadi gambar yang lain. Sementara di bagian dada kanan dan kiri aku tetap membiarkannya. Bahkan kadang aku sange sendiri melihat tato yang bertuliskan hinaan akan diriku ini.
Ditambah sekarang aku pun kerap mengunjungi tempat-tempat kumuh untuk melihat aktivitas orang-orang di sana. Tentu saja mataku selalu tertuju kepada bapak-bapak yang bekerja atau ngongkrong di kampung yang kumuh ini. Hal ini aku lakukan karena benar aku rindu dekapan kasar bapak-bapak perkasa dan kasar.
Sore ini aku yang baru saja keluar dari kampus berniat untuk berkunjung di kawasan pinggir kota. Salah satu tempat yang aku tahu dari internet bahwa di sana mayoritas penduduknya adalah pemulung dan pengemis. Juga banyak preman yang menyebar di kota Jakarta bertempat tinggal di sana. Terengar mengerikan memang namun hasratku seakan meledak kalau membayangkan situasi di sana.
Belum sampai di lokasi yang aku tuju pandanganku menangkap sesosok bapak-bapak yang sedang beristirahat di pinggir jalan. Tampak tak asing dan aku kembali mengingat siapa dan di mana aku bertemu bapak itu. Itu kan Pak Pardi. Aku teringat malam itu aku dan Pak Pardi lah yang menolongku walaupun tubuhku sebagai imbalannya. Aku menepikan mobilku dan keluar menghampirinya sekedar meyakinkan saja agar aku tak salah orang.
"Permisi pak.. sapa ku sembari mendekat.
"Oh iyaa non ada apa yah ? tanya bapak itu.
"Ini pak Pardi yah?" tanyaku.
"Benar tapi non siapa yah?" tanya nya kebingungan.
"Ini saya pak yang malam itu datang ke warteg yang bapak bantu pinjamkan handphone. paparku.
"Oh iya saya ingat.. jawab Pak Pardi dengan yakin.
Aku melirik ke arah sekitar Pak Pardi. Tampak sebuah karung tepat di sampingnya yang sekilas terlihat berisikan botol-botol minuman bekas. Sepertinya Pak Pardi sekarang berganti menjadi pemulung. Dengan tanpa ragu aku duduk di samping Pak Pardi.
"Kenapa sekarang bapak ga di warteg itu lagi?" tanyaku.
"Gapapa non. hehe.. jawab Pak Pardi.
"Oh gitu.. aku tersenyum simpul kepada Pak Pardi.
Cukup lama aku mengobrol dengan Pak Pardi sampai hari pun mulai gelap. Dengan sopan aku pamit kepada Pak Pardi. Awalnya aku menawarkan untuk mengantarnya pulang namun ditolaknya dengan alasan dia ingin melanjutkan mencari botol-botol bekas lagi. Sebelum pulang aku menyisipkan beberapa lembar uang ke saku Pak Pardi lalu aku berlalu meninggalkan Pak Pardi dan menuju apartemenku untuk mengistirahatkan badan yang sedari pagi beraktivitas.
POV PARDI
Siapa sangka kalau aku bertemu kembali dengan wanita malam itu. Wanita yang menghancurkan hidupku dalam sekejap sehingga aku harus jadi gembel seperti ini. Keindahan tubuhnya benar-benar membuat aku lupa diri malam itu. Kini aku kembali teringat pada malam di mana aku menggauli seorang wanita yang aku sendiri tak tahu datangnya dari mana. Dia terlihat seperti wanita yang sedang ketakutan sekaligus kelaparan.
Naluriku sebagai pria miskin dan buruk rupa ini tentu melihat itu sebagai kesempatan. Tanpa aku sadar di pojok atas warteg tersebut ada cctv untuk memantau aktivitas di dalamnya. Apa yang aku lakukan malam itu terekam jelas di cctv. Naasnya aku yang hanya bekerja sebagai tukang cuci piring dan penjaga warteg pada malam hari langsung dipecat oleh pemilik warteg tersebut.
Ditambah istriku yang juga bekerja di situ tentu saja tahu dan langsung murka terhadapku. Bahkan yang tak terfikirkan olehku istriku sampai meminta cerai karena hal itu. Dia mengusir aku dari rumah hingga saat ini aku terluntang-lantung di jalan. Aku mencari rezeki dengan mengumpulkan botol bekas dan tidur di bawah kolong jembatan beralaskan kardus bekas. Namun siapa sangka hari ini aku malah dihampiri oleh wanita itu. Yang aku baru tahu namanya adalah Lizzy.
"Woi kang" seseorang mengagetkanku dari belakang dan membuyarkan lamunanku.
"Nanti lu gua gorok yah sep" kataku dengan kesal sambil menoleh ke belakang.
"Haha sorry deh kang. Habis aku liat kang pardi kayak melamun" ujarnya.
"Ah emang dasar lu nya aja yang usil" ujarku.
"Lagi mikirin apa si kang?" tanya Asep.
"Ga mikir apa-apa kok" jawabku datar.
"Mentang-mentang tadi di samperin cewek cantik eh langsung kemana-mana kali ni pikiran lu kang" ledek Asep sambil tertawa.
"Sok asik lu. Emang tadi lu liat gua didatengin tu cewek?" tanyaku.
"Liat lah kang. Mulus gitu. Bening euy" tawa Asep.
Asep ini adalah salah satu temanku yang juga seorang pemulung. Dia berusia sekitar 30an. Asep juga seorang duda yang ditinggal istri karena tak sanggup hidup susah. Asep ini termasuk pemalas. Dia juga pecandu narkoba dan sering nyopet di pasar-pasar hanya untuk beli narkoba.
Asep pernah cerita kalau dulu dia sempat punya pacar anak orang kaya. Segala kebutuhan Asep terpenuhi baik materi maupun kebutuhan biologisnya. Sementara Asep yang tampangnya burik ini hanya bermodalkan kontol besarnya saja untuk menundukkan sang pacar. Namun setelah dirasa bosan Asep malah meninggalkan pacarnya tersebut karena hamil dan meminta tanggung jawab. Asep ditolak mentah-mentah oleh orang tua pacarnya. Jadi sekarang Asep tak peduli lagi pada kekasihnya itu. Apalagi sekarang Asep mendengar kabar bahwa mantannya stress karena ditinggal olehnya.
"Emang siapa si kang cewek tadi?" tanya Asep lagi.
"Mana saya tau. Tadi dia cuma nanya jalan aja sih" jawabku singkat.
"Hehe" Asep hanya terkekeh.
Hari pun mulai gelap dan aku mengajak Asep kembali ke kolong jembatan yang letaknya tak jauh dari tempat kami sekarang. Sambil berbual-bual Asep terus mempertanyakan soal Lizzy yang tadi menghampiriku. Sampai akhirnya aku menceritakan kejadian sebenarnya kepada Asep.
"Serius kang lu pernah ngentot tu cewek tanya Asep bersemangat.
"Hmmm jawabku malas karena tahu akan banyak lagi pertanyaan dari Asep ini.
"Wahh boleh juga tu kang hehe ucap Asep.
"Boleh apa tu tanyaku.
"Yah kali aja tadi si amoy itu sange maka nya kesini nyariin lu kata Asep.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Asep.
"Liat besok deh kang pasti tu amoy datang lagi yakin gua dah ujar Asep dengan yakin.
"Udah ah gua capek males mikir yang enggak-enggak.
Sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata. Ucapan Asep tentang Lizzy yang mencariku masih terngiang-ngiang. Apa benar Lizzy memang mencariku untuk minta di genjot lagi. Apa benar Lizzy siap menggantikan Lastri mantan istriku. Sepanjang malam aku memikirkan hal itu.
Sampai hari yang semula gelap kembali menjadi terang. Dengan mata yang kurang tidur aku kembali harus berkeliling mencari rongsokan untuk dapat makan hari ini. Namun aku juga tak sabar menanti sore hari sambil berharap Lizzy akan kembali datang lagi. Waktu berjalan begitu lambat namun pada akhirnya aku sudah berada di tempat kemarin dan hari pun sudah sore.
Sore pak Pardi sapa lembut suara wanita di belakangku.
"Eh non Lizzy ngangetin aja kataku seraya menoleh ke belakang.
"Maaf pak kalau Lizzy ngangetin ujarnya.
"Hehe gapapa non eh ngomong-ngomong non kesini pakai apa tanya ku sembari melirik sekitar.
Lizzy hari ini ga bawa mobil pak jadi tadi pakai taksi jawabnya.
Disini rada panas non kita pindah kesana aja yuk tunjukku ke arah kolong jembatan yang juga sepi dari pandangan orang yang lewat.
"Oh iya boleh pak.
Kami pun berjalan ke arah bawah jembatan. Sengaja aku berjalan ke ujung dimana tempatnya sedikit gelap dan sudah ada beberapa kardus bekas yang menjadi tempat gelandangan sepertiku istirahat.
Lizzy dan pak Pardi pun duduk di atas kardus dan saling berhadapan. Sambil ngobrol-ngobrol kecil tangan kasar pak Pardi mulai meraba paha Lizzy yang mana tindakan itu tidak mendapat penolakan dari Lizzy. Sehingga tangan pak Pardi berangsur-angsur bergerak ke atas menuju selangkangan Lizzy.
"Pak.. Lizzy menatap pak Pardi.
"Ini kan yang non mau hehe.. pak Pardi.
Baru saja tangan pak Pardi ingin menyentuh memek Lizzy tangannya malah ditahan oleh Lizzy.
"Kenapa non. pak Pardi.
"Gapapa pak Lizzy cuma takut di tempat terbuka seperti ini. Lizzy.
"Aman kok non ini daerah bapak. pak Pardi.
"Baik pak. Lizzy sambil melepaskan tangan pak Pardi.
Setelah tangan pak Pardi dilepaskan oleh Lizzy tangannya kembali bergerak menyentuh memek Lizzy. Pak Pardi merasakan bulu-bulu halus di sekitar memek Lizzy. Dia juga mencoba mendorong jari tengahnya tepat ke lubang memek Lizzy.
"Aahhh pelan-pelan pak" desah Lizzy.
"Non nikmati aja jangan banyak bacot udah kayak perawan aja" pak Pardi.
Tidak puas dengan satu jari pak Pardi menambah satu jari lagi untuk menusuk memek Lizzy. Jelas saja Lizzy merasa kesakitan karena memeknya yang masih kering langsung ditusuk dengan jari pak Pardi. Belum lagi tangan pak Pardi yang kotor sepulang dari mulung.
Lizzy pun dibuat tak berdaya dengan gesekan dua jari pak Pardi pada memeknya. Pak Pardi menyingkap rok Lizzy sampai ke pinggang. Kini terpampang jelas memek Lizzy yang memang dari semula tidak memakai celana dalam.
"Berarti non emang pengen di kentot yah sampai ga pakai celana dalam hehe" pak Pardi.
Lizzy diam saja mendengar pertanyaan pak Pardi barusan.
"Jawab dong non hehe" pak Pardi.
"Iya pak" Lizzy sambil menunduk malu.
"Lonte aja ga mau loh non ngentot sama saya lah ini kok non malah nyerahin memek non cuma-cuma ke saya haha" pak Pardi.
"Hmm" Lizzy.
"Non budeg yah harus gitu saja nanyanya dua kali" pak Pardi.
"Hmm karena kontol pak Pardi enak" Lizzy.
"Nah gitu dong kalau ditanya langsung jawab haha" pak Pardi.
Pak Pardi kemudian mendekatkan wajahnya ke memek Lizzy untuk menghirup aromanya dalam-dalam. Lidahnya mulai menyapu permukaan memek Lizzy membuat sang gadis mendesah ulah permainan lidah pak Pardi. Sesekali lidah pak Pardi mencari celah agar bisa masuk ke memek Lizzy.
"Ahhhh trus pak" lirih Lizzy.
Mendengar rintihan Lizzy pak Pardi pun merespon sekaligus mengejeknya.
"Apanya non yang diterusin" tanya pak Pardi sambil tertawa kecil.
"Jilatin memek Lizzy lagi pak please" ujar Lizzy.
"Oh kalau itu mah pasti hak hak" tawa pak Pardi yang langsung kembali menjilati permukaan memek Lizzy. Sampai bosan pak Pardi berpindah ke buah dada Lizzy untuk menenun. Secara bergantian pak Pardi melumat gunung kembar milik Lizzy. Sementara tangan pak Pardi tetap bermain di selangkangan Lizzy.
Hiruk pikuk orang yang terus terdengar dari atas jembatan tak dihiraukan oleh dua insan berbeda kasta ini. Lizzy sudah terbuai oleh nafsu. Sampai-sampai ketika pak Pardi menyosor mulutnya Lizzy dengan suka rela membalas lumatan bibir pak Pardi. Walaupun di awal bibir keduanya bertemu mata Lizzy sempat membelalak mungkin karena aroma mulut pak Pardi yang tidak enak. Entah sudah berapa lama pak Pardi tidak gosok gigi.
Namun berlandaskan nafsu yang semakin tinggi perlahan Lizzy sedikit demi sedikit menikmati lumatan pak Pardi. Bahkan Lizzy harus menelan liur pak Pardi untuk sekedar bernapas karena pak Pardi cukup lama melumat bibir Lizzy tanpa jeda.
"Ahhh.. enak banget bibir non gurih manis hehe.. pak Pardi.
Pak pardi pun berdiri sejenak untuk melorotkan celana lusuhnya. Tanpa basa-basi dia mendorong kontolnya ke mulut Lizzy yang langsung disambut oleh Lizzy. Namun lagi-lagi hidung Lizzy kembali terpa aroma yang tidak sedap berasal dari selangkangan pak Pardi. Kepala Lizzy yang ingin bergerak mundur pun ditahan oleh tangan kekar pak Pardi. Jadi Lizzy harus menahan aroma tidak enak itu selama mengoral kontol pak Pardi.
"Sorry yah non agak bau sedikit kontol bapak soalnya udah seminggu ga mandi hehe" pak Pardi.
"Hmmmm hmmm glokkk glokkk" Lizzy.
"Kalau dilihat dari tatapannya kayaknya non suka yah kontol bau gini haha" pak Pardi.
Lizzy tampak kewalahan dengan kontol bau pak Pardi. Rasa mual sekali namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain tetap mengemut kontol pak Pardi. Ditambah pak Pardi juga menambah ritme goyangannya yang membuat bulu jembut pak Pardi bertabrakan dengan hidung Lizzy.
Pak Pardi yang menyadari hal itu malah semakin bersemangat menggenjot mulut Lizzy. Ekspresi Lizzy seperti sedang menahan untuk tidak muntah sungguh indah bagi pak Pardi. Bahkan pak Pardi beberapa kali menahan kepala Lizzy ketika seluruh kontolnya tertelan mulut Lizzy.
"Glokkkkk glokkk aaahhh ampun pak" Lizzy.
"Tahan dong non saya suka banget lama-lama di tenggorokan non" pak Pardi.
"Iyah pak nanti Lizzy tahan. Lizzy.
"Ya udah siap yah hehe.. pak Pardi sambil mendorong kontolnya sampai ke pangkal sementara tangannya menahan kepala Lizzy.
Muka Lizzy kini sudah sangat basah oleh liurnya sendiri. Air mata menetes di sudut matanya namun Lizzy tetap tak berontak sama sekali. Dia pasrah dan nurut terhadap pak Pardi. Isi perut Lizzy seakan ingin meloncat keluar dan mukanya pun menjadi sangat merah. Namun hal itu tidak membuat pak Pardi kasihan. Tangannya tetap menahan kepala Lizzy.
"Aaaahhhhh sange banget saya liat muka kamu non" pak Pardi.
"Hrhrrrhhhrrh... Lizzy sambil menatap pak Pardi.
"Hebat banget emang mulut non ssssseeeerrrrrr.... seeerrrrr... pak Pardi.
Mata Lizzy terbelalak merasakan kontol pak Pardi mengeluarkan kencing yang langsung menuju ke perutnya. Belum kelar kaget Lizzy yang dikencingi pak Pardi tiba-tiba dia tersedak. Liurnya berhamburan dari sela-sela bibirnya dan dari hidung Lizzy juga berhamburan air kencing pak Pardi.
Dalam kondisi seperti ini sudah seharusnya pak Pardi melepaskan kontolnya dari mulut Lizzy. Namun bukan melepas malah semakin pak Pardi menekan kepala Lizzy lebih dalam. Lizzy yang merasa sudah tidak sanggup lagi pun meraih paha pak Pardi dan mendorongnya. Namun tenaga Lizzy tak cukup kuat untuk melepaskan kepalanya dari cengkraman pak Pardi.
"Tahan dikit lagi non jangan dilawan hehe.. pak Pardi.
Lizzy yang diperintahkan untuk tidak melawan pun seketika diam dan melepaskan tangannya dari paha pak Pardi. Untuk bernapas saja sudah susah bagi Lizzy saat ini. Pak Pardi pun mengendorkan pegangannya di kepala Lizzy. Dia menarik kontolnya keluar sampai ke leher lalu mendorongnya kembali masuk. Hal itu dilakukan berulang kali. Pak Pardi memang senang menggenjot kontolnya di mulut Lizzy.
"Glokkk.. glokkk.. Lizzy.
"Ahhhh ahhhh enak banget mulutmu non aaaaarrggghhhhh.. pak Pardi. "Crooott.. croott.. kontol pak Pardi menyemburkan lahar putih di mulut Lizzy sebelum dia menarik keluar kontolnya.
Lizzy yang sudah berantakan sekali ini menelan semua mani pak Pardi agar dia kembali dapat menghirup udara segar. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Lizzy melirik pak Pardi yang sudah berbaring di sampingnya. Lizzy membersihkan wajahnya dengan tissue basah yang dibawanya.
Dengan cepat Lizzy merapikan pakaiannya dan berniat pergi dari tempat itu karena di luar hari pun sudah gelap. Lizzy melihat ke arah pak Pardi lagi. Namun sepertinya pak Pardi langsung tertidur setelah crot barusan. Baru berapa langkah Lizzy dikejutkan dengan suara seorang pria dari belakangnya. Namun itu bukan suara pak Pardi.
"Mau kemana non buru-buru amat ? hehe..
Dengan ragu Lizzy menoleh ke belakang. Ternyata seorang laki-laki yang juga seorang pemulung ini yang menyapanya. Lizzy hanya tersenyum simpul ketika bertatapan dengan pria itu lalu dengan cepat berbalik badan ingin pergi.
Rencana pak pardi 1
Pemandangan yang sungguh tidak kontras terlihat di sebuah apartemen mewah. Seorang gadis berusia 20 tahun dengan kalung anjing yang melingkar di lehernya serta tanpa pakaian di tubuh terlihat sedang sibuk bersih-bersih. Sementara di sofa tempat sang gadis mengepel ada dua orang pria pribumi yang sedang santai sembari sesekali melecehkan sang gadis.
Pemandangan yang sungguh tidak kontras terlihat di sebuah apartemen mewah. Seorang gadis berusia 20 tahun dengan kalung anjing yang melingkar di lehernya serta tanpa pakaian di tubuh terlihat sedang sibuk bersih-bersih. Sementara di sofa tempat sang gadis mengepel ada dua orang pria pribumi yang sedang santai sembari sesekali melecehkan sang gadis.
"Kayaknya lu emang pantas jadi babu deh njing hehe.. ujar pak Pardi.
"Apalagi kalau bugil gini kan kang persis kayak babu yang siap pakai haha" sahut Asep. "Cuihhh tu sekalian lu bersihin tapi pakai mulut haha" suruh pak Pardi kepada Lizzy.
Tanpa pikir panjang Lizzy pun berlutut dan menjilati lantai yang di ludahi pak Pardi.
"Haha liat sep lucah qua aja udah erak bagi dia haha. Siniin mulut lu" cuihhh Asep meludahi mulut Lizzy kemudian dilanjutkan dengan Asep memadamkan rokoknya di mulut Lizzy yang penuh ludahnya itu.
Namun terlihat Lizzy sudah tak keberatan dengan semua perintah kedua majikannya itu. Entah karena sudah terbiasa atau memang Lizzy sudah tidak punya pilihan lain selain menuruti semua kemauan majikannya itu.
"Terima kasih tuan.. ujar Lizzy yang kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan apartemen.
"Eh njing bukannya hari ini jadwal bapak lu kirim duit hah" tanya pak Pardi pada Lizzy.
"Iyah tuan hari ini" jawab Lizzy.
"Yaudah sekarang lu telpon bapak lu minta dikirim sekarang aja gua udah bokek nih" suruh pak Pardi sembari memberikan handphone kepada Lizzy untuk menelpon papa nya.
Tuuuutt tuuuuutt.
"Halo sayang.. terdengar suara Toni dari ujung telepon.
"Hallo pah apa kabar ? tanya Lizzy.
"Kabar baik sayang biar papa tebak kenapa kamu telpon sekarang hehe" jawab Toni.
"Papa bisa aja. jawab Lizzy dengan lembut.
"Sekarang kamu dimana sayang. tanya Toni.
"Ini Lizzy lagi di kampus pah ini juga udah mau mulai kelasnya. jawab Lizzy lagi.
"Yasudah nanti papa kirim uang bulanan kamu yah sayang. Jaga diri baik-baik bulan depan mungkin mama sama papa bakal balik ke Indo" jawab Toni lagi.
"Oke pah nanti Lizzy sambung lagi yah pah Lizzy ingin menyudahi obrolan dengan Toni" ujar Lizzy.
"Oke sayang love you.. ujar Toni dan langsung mematikan teleponnya.
"Ini tuan.. Lizzy pun kembali memberikan handphone nya kepada pak Pardi karena memang dari awal pak Pardi tinggal di apartemen ini. Lizzy dilarang untuk menggunakan semua fasilitas yang dimilikinya termasuk kamar handphone laptop dan lain-lain. Sebagai gantinya Lizzy hanya diberikan sebuah kandang yang sekarang menjadi tempat Lizzy beristirahat.
"Tadi katanya bapak lu mau balik ke sini benar itu ? tanya pak Pardi.
"Iyah tuan bulan depan. sahut Lizzy.
"Waduh balik ke kolong jembatan lagi bisa-bisa kita kang. ujar Asep.
"Ahhh.. lu sep ga bakal kita balik ke kolong lagi. sahut pak Pardi.
Terdengar handphone Lizzy berbunyi yang artinya uang bulanan Lizzy sudah berhasil masuk. Dengan senyum kedua pria pribumi di hadapan Lizzy pun tersenyum dan tertawa lepas. Hahaha.
"Sana lu.. kaki pak Pardi menerjang dada Lizzy untuk menyuruh Lizzy pergi dari hadapannya.
POV LIZZY
Sudah tiga bulan lebih aku hidup sebagai budak seks pak Pardi dan Asep. Tak seharipun terlewatkan segala bentuk pelecehan dan penghinaan yang mereka lakukan. Sementara tubuhku tetap menjadi sasaran nafsu binatang mereka. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi semenjak hari itu aku tidak pernah bisa lagi menikmati semua fasilitas yang diberikan oleh papahku. Aku sudah tidak tahu lagi dengan kehidupan di luar. Kini hidupku benar-benar untuk mengabdi kepada pak Pardi dan Asep. Seperti tak ada bosannya setiap hari aku harus melayani kedua majikanku itu. Sekarang hal itu membuat aku benar-benar menjadi wanita penggila kontol. Namun hanya kontol dari laki-laki kelas bawah lah yang membuat aku bernafsu.
"Woi anjing !! teriak Asep dari luar yang mengagetkan aku yang sedang termenung di bawah shower.
"Iyah tuan.. jawabku dengan cepat sambil membuka pintu kamar mandi.
Terlihat Asep yang sudah bugil dengan kontol yang mengacung tegak berdiri di depan kamar mandi. Tanpa permisi Asep langsung bergabung untuk mandi bersamaku. Jadi sekarang aku harus melayani Asep di bawah shower kamar mandi ini.
Aku pun dengan seksama mulai menyervice kontol Asep dengan mulutku. Lidahku dengan lembut menyapu seluruh permukaan batang kontol Asep. Dibantu oleh guyuran air dari shower tak sedikit pun aroma apek selangkangan Asep tercium olehku. Kembali terfikir bagaimana bau badan Asep tidak berubah sedikit pun sementara kini dia sudah hidup dengan layak di apartemenku.
"Glokk.. glokkk.. tangan Asep menekan kepalaku agar seluruh kontolnya bisa tertelan habis.
"Cuihhh" Asep meludahi mulutku dan kembali menyodok kontolnya dalam-dalam.
Puas dengan menyodok mulutku kini Asep mengangkat tubuhku untuk bertumpu di dinding. Kemudian Asep mengarahkan kontol besarnya ke anusku dan blesshhh. Sekejap saja kontol Asep sudah berada di dalam anusku. Mulai lah Asep menggoyangkan pinggulnya.
Mulut Asep pun tak tinggal diam. Dia palingkan wajahku dan langsung melumat bibirku dengan rakus. Plokk plok terdengar suara kontol Asep yang beradu dengan pantatku. Juga ditambah dengan bunyi air dari shower membuat suasana menjadi sedikit ricuh.
"Anjing lu emang pantes dientot kayak gini.. gumam Asep.
"Aaahhh sodokan Asep ahhhh.. desahku yang tengah menikmati.
"Anjing mau pipis tuan.. desahku lagi. "Creeett... creettt... akupun orgasme.
"Aarrggg.. arrgghh.. erang Asep yang akan klimaks. "Crooottt crooottt" disusul dengan tubuh Asep yang kejang-kejang.
Masih dengan posisi yang sama Asep menarik kontolnya dan melepaskan pegangannya pada tubuhku yang masih lemas karena baru saja orgasme. Lututku bergetar dan akhirnya tubuhku terjatuh karena sungguh lemah.
Asep melanjutkan mandinya sementara aku tersimpuh di bawah kakinya. Syyuuurr syyyuurr air hangat menerpa kepalaku karena Asep mengencingiku. Tak ketinggalan wajahku juga menjadi sasaran kencing Asep.
"Buka mulut lu anjing !! perintah Asep.
Aku pun menuruti perintah Asep untuk menampung kencingnya dengan mulutku lalu menelannya. Terakhir Asep meminta aku menjilati belahan pantatnya sebelum dia keluar dari kamar mandi sehingga aku bisa melanjutkan mandi sendirian.
"Ini makanan lu !! ujar pak Pardi sambil melemparkan bungkusan ke lantai balkon.
Siang ini Lizzy sedang dijemur oleh pak Pardi di balkon dengan panas matahari yang sangat terik. Rantai pendek dipasangkan ke pagar balkon sehingga Lizzy tak dapat menghindar dari terik matahari. Seperti orang kelaparan Lizzy langsung menunduk untuk makan pemberian pak Pardi. Terlihat lahap Lizzy makan dengan gaya seperti anjing. Tak perduli dengan apa yang sedang dimakan yang terpenting sekarang perut Lizzy tidak kelaparan.
Pak Pardi pun berlalu ke dalam untuk bersantai di ruangan yang adem. Dia menikmati pemandangan Lizzy yang sedang makan di balkon. Tampak kepuasan dari wajah pak Pardi dengan semua yang terjadi.
"Senyum-senyum bae kang.. ejek Asep.
"Haha tu sep si anjing lahap banget makan padahal itu tadi bekas gua kunyah-kunyah terus gua lepehin lagi tapi enak banget kayaknya tu anjing makannya hahah" ujar pak Pardi.
"Dihh apa ga bau jigong lu itu kang.. sahut Asep sambil tertawa.
"Ya biarin lah sep itu aja dia udah kayak bersyukur banget dikasih makan haha.. jawab pak Pardi.
"Tapi kadang gua kasihan juga kang sama ni amoy udah kayak hidup segan mati tak mau. ujar Asep.
"Yaelah sep bahasa lu udah kayak orang bener aja. ejek pak Pardi.
"Haha biasa aja lu kang tapi kalau dipikir-pikir kalau dia juga puas kenapa harus kasihan yah kang.
"Nah itu lu tau ingat sep dia yang datang ke gua dan dia yang nyerahin diri nya ke kita. ucap pak Pardi.
"Hehe.. iyah sih kang.
"Maka nya ga usah kasihan-kasihan lu buntingin cewek lu terus lu tinggalin aja ga ada lu kasihan hahaha."
"Haha.. tawa Asep yang tak tahu harus ngomong apa lagi.
"Trus rencana lu gimana lagi kang sama tu anjing ? tanya Asep.
"Gimana apanya sep kalau emang hidup udah enak gini ga bakal gua lepas tu anjing. Kapan lagi dapat memek terus bisa hidup tenang banyak duit haha.. jawab pak Pardi.
"Lu ikuti aja rencana gua sep. Nanti kalau orang tua tu anjing balik kesini kita bakal tetap bisa nikmati tu anjing. Pokoknya aman deh.. ujar pak Pardi meyakinkan Asep.
"Iyah kang gua ikut kata lu aja dah.. jawab Asep.
Dengan saling bertatapan pak Pardi dan Asep pun tertawa menang. Lizzy yang mendengar tawa mereka sempat melirik ke arah dalam apartemennya namun kemudian melanjutkan makan karena takut keburu dieksekusi kedua majikannya itu.
Tunduk.
Sebuah pesawat telah mendarat dari luar negeri. Terlihat di tengah-tengah penumpang seorang pria tengah sibuk dengan beberapa koper di kedua tangannya. Sementara tak jauh di depan pria yang kesulitan itu ada seorang wanita dengan tampang bahagia diapit oleh dua pria pribumi. Tak ada paksaan atas apa yang sedang terjadi begitu pula dengan pria yang tampak begitu capek dengan barang-barang bawaannya.
POV TONI
Entah bagaimana semua ini bisa terjadi. Bahkan sekarang aku merasa seperti kacung dari dua pria yang tengah merangkul istriku Liana. Kedua pria itu adalah Maman dan Amir. Dua orang TKI yang kini sudah berkuasa atas semua yang aku miliki termasuk Liana. Lebih miris lagi mereka menempatkan aku di kelas ekonomi di pesawat sementara mereka menikmati kelas VIP di dalam pesawat. Semua barang yang ada bersamaku ini tak lain dan tak bukan adalah milik Maman dan Amir.
Entah bagaimana semua ini bisa terjadi. Bahkan sekarang aku merasa seperti kacung dari dua pria yang tengah merangkul istriku Liana. Kedua pria itu adalah Maman dan Amir. Dua orang TKI yang kini sudah berkuasa atas semua yang aku miliki termasuk Liana. Lebih miris lagi mereka menempatkan aku di kelas ekonomi di pesawat sementara mereka menikmati kelas VIP di dalam pesawat. Semua barang yang ada bersamaku ini tak lain dan tak bukan adalah milik Maman dan Amir.
Setelah menemukan mobil yang akan mengantar kami ke rumah semua koper sudah aku susun di bagasi belakang mobil. Ketika aku hendak masuk mobil dengan angkuh Maman tak mengizinkan aku masuk mobil. Dia meminta aku untuk menggunakan ojek saja.
"Eeh eeh mau ngapain?" tanya Maman.
"Yah mau masuk bang" jawab ku.
"Hahah emang lu pantes semobil sama kita?" tanya Amir.
"Naik ojek aja deh pah. Kan banyak itu" sambung Liana sambil menunjuk ke arah depan yang banyak tukang ojek.
Dengan menunduk aku pun melangkah mundur. Mobil yang ditumpangi Liana pun mulai menjauh. Mau tak mau aku pun memesan ojek yang tak jauh dari tempat aku ditinggalkan.
Bermula beberapa bulan yang lalu ketika baru pulang dari Indonesia aku mendapati di kediaman kami ternyata Liana memperkerjakan dua orang pribumi. Entah apa yang mereka kerjakan sementara aku dan Liana tinggal di sebuah apartemen yang cukup lengkap fasilitasnya. Aku tak ingin ambil pusing dengan hal itu mengingat Liana memang sosok wanita manja yang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah.
Liana memang terlahir dari keluarga yang sangat kaya. Sedari kecil hidupnya sudah bergelimang harta. Bolak balik keluar negeri rasanya sudah menjadi kebiasaan dari keluarga Liana. Tak heran jika Liana memang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah karena dia sudah terbiasa mewah dari dulu.
Sampai lah ketika masa kuliah aku bertemu dengan Liana yang sangat cantik dan manis. Aku sempat minder awal-awal kenal dengannya apalagi mengingat keluargaku bukan apa-apa dibandingkan dengan keluarganya. Layaknya pria sejati yang sudah menemukan cintanya aku mengesampingkan rasa minderku dan berupaya mendekati Liana. Yang pada akhirnya sampai dengan saat ini aku berhasil mempersuntingnya sebagai istriku.
Kehidupan ku setelah menikah pun tak lepas dari campur tangan keluarga Liana. Sampai dengan memiliki bisnis besar seperti sekarang ini semua itu berkat bantuan dari keluarga besar Liana. Karena dari pihak keluargaku sendiri bukanlah orang yang kelebihan uang. Benar keluargaku bukan orang susah namun juga bukan orang yang bergelimang harta.
Hanya rasa cintaku yang aku miliki untuk membahagiakan Liana dan Lizzy. Begitu pula sebaliknya Liana pun tetap mencintaiku selama Liana bahagia aku pun merasa bahagia. Sampai pada akhirnya aku memergoki Liana tengah bercinta di kediaman kami pada malam itu.
Aku tersentak dari tidurku. Entah mimpi buruk apa yang baru saja aku alami. Dengan nafas yang masih tersengal aku menjangkau air minum yang berada di buffet samping ranjang. Baru aku sadari Liana tak ada di sampingku. Mungkin dia ke kamar mandi pikirku positif. Setelah hampir lima menit Liana tak kunjung kembali ke ranjang yang membuat aku memutuskan untuk mengeceknya di kamar mandi. Namun hasilnya Liana tidak ada di sana.
Tanpa fikir panjang aku keluar dari kamar untuk mencari.
keberadaan liana, sebelum menuju tempat terakhir yang aki fikir liana pasti berada di sana, samar-samar telingaku menangkap suara dari arah dapur, cengan pelan-pelan aku mengendap untuk melihat bersama siapa liana skrang dan apa yang sedang ia lakukan. emosi ku seakan meledak ketika melihat liana yang tengah
sibuk membuat makanan dengan keadaan bugil, di tambah di belakang liana berdiri maman yang kontol nya tengah kluar masuk memek liana, sementara amir tengah duduk di meja makan dengan tertawa-tawa melihat liana yang gelisah dengan birahi nya sendiri. gimana? makin enak kan kontol gua, Tanya maman.
iyah tuan, enak sekali, anjing suka tuan, jawab liana.
haha, kaloo suka yang hot dong goyang nya, ejek armir.
tu dengar ga lu kata amir? ujar maman yang berpura pura menarik kontol nay kluar.
aaahhh, dengar tuan, desah liana yang dengan cepat menjemput kontol maman agar menyundul bagian terdalm memek nya
haha, gini ni mir, kalau udah ketemu kontol, bias lupa diri dia, ejek maman, haha.
bagaimana bisa liana terjerat dalam permainan kedua begundal ini? apalagi seperti nya liana la yang sangat menikmati persetubuhan ini, rela bangun tengah malam untuk memasakan kedua pembantu nya di tambah memdapat perlakukan seperti ini, kalua liana tidak suka sudah pasti dia akan merontak, apalagi sekarang aku sedang ada di rumah.
masak yang enak yah noi, jangan kayak kemarin, u sendiri kan yang dapat hukumannya, ujar amir
kata kita hukuman mir, lah emang cia udah jiwa binatang. pasti lah dia nikmati, jawab maman.
hahaha, lya juga yah bang, kan kita juga yang udah didik
dia jadi binatang, sahur amir, haha.
aaahhh, aaahhh, anjing mau kluar tuan, desah liana yang sedari tadi terus memaju mundurkan pinggul nya untuk dapat terus merasakan kegagahan batang kontol maman.
aaaaahhh, Jleebb, hahaha, maman menarik kontol nya kluar dri meki llana,
sermentera orgasme sudah berada di depan mata membuat liana haru terkulai di lantai karna kedua lutut nya lemas, sedangkan orgasme tak kunjung ia dapati liana yang sedang birahi pun meraih kaki maman dan menjilati nya dengan semangat.
tuan, tolong izinkan anjing hina ini klimax tuan, iba liana.
ni lo jilatin dulu ssampai bersih, maman menyodor kan telapak kai nya di depan wajah llana.
tanpa ragu-ragu lidah liana sudah bermain di telapak kaki maman, Jari-jari kakı maman pun tak luput dari emutan liana, amir meraih spatula yang di gunakan untuk mengaduk makanan yang sedang di masak liana, dan tanpa kasihan amir menampar gunung kerbar liana dengan spatula yang panas itu secara bergantian.
hhhmmmm, hhmmm, suara liana tertahan oleh jari kaki maman yang tengah memaksa masuk kedalam mulut nya. rasa paras pun mendarat di puncak kedua gunung kembar nya, namun liana sebenar nya menikmati setiap siksa derita yang di berikan oleh amir dan maman.
hahaha, panas dikit ga ngaruh kan lo? Tanya amir.
liana yang tadi nya meringis kepanasan malah menggeleng yang menandakan tidak keberatan dengan perlakukan amir dan maman sekali lagi dengan Iseng amir malah menempelkan spatula panas itu ke memek liana, reflek tubuh llana menggelinjang kepanasan.
hahaha, akal lu emang ga habis-habis mir, kata maman.
haha, masih banyak ide kok bang tenang aja, jawab amir.
enakan mana main sama kita atau sama laki lu lonte ? Tanya maman
enak sama tuan, desah liana di sela-sela menjilati kaki maman
hhahah, jadi lu lebih suka kita jadiin binatang gini dri pada main sama laki lo hah? Tanya amir.
iyaa tuan, anjing suka jadi peliharaan tuan, jawab liana dengan yakin.
aku yang sedari awal sudah melepas celana dan mengeluarkan kontolku yang sudah tegang atas tontonan yang seharus nya bukan untuk aku nikmati mendengar itu semua, sungguh tak dapat berkata apa-apa, ntah sejak kapan liana menjadi sebinal ini, bahkan lebih memilih menjadi peliharaan dua pembatu yang jelas status social nya di bawah kami daripada menjadi istri yang baik-baik.
"kalau gitu lu bilang sama laki lu noh, ujar maman.
belum habis rasa kagetku dengan semua ini, malah mendengar maman mengatakan hal barusan, apa benar mereka tahu dengan keberadaan apa mereka sengaja mempertanyakan hal-hal yang bersifat merendahkan ku, atau apa mereka mengetahui kalua aku menikmati pertunjukan yang sedang mereka lakonin? dilambah lagi liana pun seoalah-olah benar-benar patuh dengan kedua pembantu yang baru beberapa hari aku kenal ini skandal apa yarg sucah di lakukan lara selama aku tidak ada di sisi nya untuk bernafaspun seakan aku tak mampu sekarang gejolak yang arta di dalam diriku seakan. memberontak.
papah? sejak kepan papah disint? Tanya liana dengan suara yang parau dengan cepat aku meraih ujung celana yang sedang aku
duduki untuk menutup kontol ku yang sedang keras dan legang, dlam posisi duduk aku sulit untuk memuka celana yang sudah aku lepas, sungguh malu aku terhadap liana yang mengetahui bahwa aku sungguh bernatsu ketika melihat dia di setubuhi orang lain.
mamah? dengan berat aku menalen ke arah liana yang masih bugil, dan sekilas aku melirik ke arah dapur di mana tampak maman dan armir sedang tersenyum mengejek ku yang sedang kikuk dengan siluusi saat ini,
Ingin aku marah dan mengusir kedua pembantu itu. Namun entah kenapa bibirku terasa kelu untuk meluapkan emosiku. Sampai Liana dengan lembut menarik tanganku ke arah kamar meninggalkan kedua pembantu yang tengil itu.
"Ingat lima menit" jerit Amir seraya tertawa.
"Apa maksudnya semua ini Mah?" tanyaku dengan bibir gemetar.
"Nanti Mamah jelaskan di dalam ya Pah" ujar Liana yang sudah membuka pintu kamar.
"Apa-apaan ini Mah?" tanyaku kesal pada Liana.
Dengan lembut Liana memelukku dan mengusap kontolku yang tegang. Dengan lembut dia menjilat telingaku. Pelan-pelan Liana mulai membangkitkan birahiku. Kontolku pun pelan-pelan dikocok oleh tangan lembutnya. Tak berselang lama aku pun klimaks hanya dengan kocokan tangan Liana.
"Mahh" desahku.
"Sekarang Papah mengerti kenapa aku bisa seperti ini?" tanya Liana berbisik di telingaku.
Tapi Liana langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirku seakan memberi isyarat agar aku diam.
"Papa terlalu lemah Pah. Hanya Bang Maman dan Bang Amir yang bisa puaskan Mamah" tegas Liana.
"Toh Papa juga menikmati kan ketika Mamah disetubuhi mereka. Buktinya kontol Papa sangat keras" tanya Liana mengintimidasi ku.
Aku tak mampu menjawab pertanyaan Liana yang seakan merendahkanku. Tapi aku juga tak dapat pungkiri bahwa apa yang dikatakan Liana adalah kebenaran nyata. Sejak melihat kejadian Liana dimess dengan Pak Yanto aku merasa memiliki orientasi seks yang menyimpang. Hasratku begitu memuncak bila melihat anak atau istriku dikerjain oleh orang-orang yang berstatus lebih rendah dariku.
"Kalau begitu Mamah boleh kan Pah ngentot dengan Bang Maman dan Bang Amir?" tanya Liana.
Setelah itu Maman dan Amir mengerjain Liana di atas ranjang tidur dengan berbagai gaya dan fantasi mereka yang di luar akal sehatku. Maman dan Amir bahkan mengencingi tubuh Liana secara bersamaan di atas ranjang sehingga basah dan tentu saja bau pesing.
Tak tinggal adegan Maman mendepak Liana sampai muntah-muntah. Amir terus menghajar anus Liana dengan brutal. Maman dan Amir juga memasukkan kontol mereka secara bersamaan ke dalam memek Liana. Terakhir Liana harus menjilati tubuh Maman dan Amir termasuk lubang anus kedua pembantu itu.
"Haha sudah sah ini laki bini jadi gundik kita Bang" ujar Amir.
"Haha gimana bininya ga ketagihan Mir. Tuh liat kontol lakinya sebesar kelingking kita doang" ujar Maman sambil mengejekku.
"Yok Bang habis ngewe ku terus tidur. Tidak lupa mandi kucing dulu" kata Amir seakan menyanyi.
"Hahaha.. bisa ae lu mir.. kata Maman seraya berjalan keluar kamar dan diikuti Amir.
Liana sudah tak bergerak di atas ranjang yang basah dan pesing itu. Mungkin dia kelelahan melayani dua pembantuku. Aku masih tidak percaya dengan yang baru saja terjadi. Dengan kaki yang gemetar aku berjalan keluar kamar untuk merebahkan diri di sofa. Sambil memikirkan bagaimana ke depannya mataku mulai berat dan akhirnya aku tertidur.
Mulai dari hari itu kehidupan aku dan Liana berubah. Hari-hariku tetap sibuk dengan berbagai pekerjaan sementara Liana sibuk melayani dua majikannya di apartemen. Semula aku mempekerjakan Maman dan Amir untuk meringankan tugas Liana mengurus rumah. Malah kini Liana yang harus melayani kedua majikannya itu mulai dari mencuci pakaian mereka memasak untuk mereka sampai melayani Maman dan Amir kapan pun mereka mau.
Liana juga sekarang lebih patuh kepada kedua majikannya itu daripada aku suaminya. Selama tiga bulan sampai saat ini aku tidak pernah lagi bercinta dengan Liana. Maman dan Amir hanya mengizinkan Liana untuk mengocok kontolku saja kalau aku sedang bernafsu. Dengan bodohnya aku malah terbuai dengan segala aturan yang dibuat oleh Maman dan Amir.
"Pak sudah sampai pak.. suara tukang ojek.
"Oh iya.. ujarku yang tersadar dari lamunan sepanjang perjalanan dari bandara.


Udah jadi green hat /cuckold...hahaha
BalasHapus